Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
Congenital talipes Equinovarus merupakan suatu kelainan bawaan yang sering ditemukan pada bayi
baru lahir, mudah didiagnosis, tapi koreksi sepenuhnya sulit dilakukan. Sering ditemukan karena
ketidaktahuan keluarga penderita, sehingga kelainan menjadi terbengkalai. Clubfoot adalah istilah umum yang
digunakan untuk menggambarkan deformitas secara umum dimana kaki berubah dari posisi yang normal.
Clubfoot sering disebut juga Congenital talipes Equino Varus. CTEV adalah deformitas yang meliputi flexi
dari pergelangan kaki, inversi dari tungkai, adduksi dari kaki depan, dan rotasi media dari tibia. Tanpa terapi,
pasien dengan clubfoot akan berjalan dengan bagian luar kakinya, yang mungkin menimbulkan nyeri dan
atau disabilitas. Meskipun begitu, hal ini masih menjadi tantangan bagi keterampilah para ahli bedah ortopedik
akibat adanya kecenderungan kelainan ini menjadi relaps, tanpa memperdulikan apakah kelainan tersebut
diterapi secara operatif maupun konservatif. Salah satu alasan terjadinya relaps antara lain adalah kegagalan
ahli bedah dalam mengenali kelainan patoanatomi yang mendasarinya. Clubfoot seringkali secara otomatis
dianggap sebagai deformitas equinovarus, namun ternyata terdapat permutasi dan kombinasi lainnya, seperti
Calcaneovalgus, Equinovalgus dan calcaneovarus yang mungkin saja terjadi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
CTEV (Congenital Talipes Equino Varus) sering disebut juga clubfoot adalah
deformitas yang meliputi flexi dari pergelangan kaki, inversi dari tungkai, adduksi dari kaki
depan, dan rotasi media dari tibia. Talipes berasal dari kata talus (ankle) dan pes (foot),
menunjukan suatu kelainan pada kaki (foot) yang menyebabkan penderitanya berjalan pada
ankle-nya. Sedang Equinovarus berasal dari kata equino (seperti kuda) dan varus (bengkok ke
arah dalam atau medial).
EPIDEMIOLOGI
Insidens CTEV yaitu 1 dari setiap 1000 kelahiran hidup. Lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki
daripada perempuan (2:1). 50% bersifat bilateral.
ETIOLOGI
Sampai saat ini masih banyak perdebatan dalam etiopatologi CTEV. Banyak teori
telah diajukan sebagai penyebab deformitas ini, termasuk faktor genetik, defek sel
germinativum primer, anomali vaskular, faktor jaringan lunak, faktor intrauterine dan faktor
miogenik. Telah diketahui bahwa kebanyakan anak dengan CTEV memiliki atrofi otot betis,
yang tidak hilang setelah terapi, karenanya mungkin terdapat hubungan antara patologi otot
dan deformitas ini. Beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab clubfoot antarlain:
1. Teori kromosomal, antara lain defek dari sel germinativum yang tidak dibuahi
dan muncul sebelum fertilisasi.
2. Teori embrionik antara lain defek primer yang terjadi pada sel
germinativum yang dibuahi yang mengimplikasikan defek
terjadi antara masa konsepsi dan minggu ke-12 kehamilan.
3. Teori otogenik, yaitu teori perkembangan yang
terhambat, antara lain hambatan temporer dari
perkembangan yang terjadi pada atau sekitar minggu ke-7
sampai ke-8 gestasi. Pada masa ini terjadi suatu
deformitas clubfoot yang jelas, namun bila hambatan ini
2

terjadi setelah minggu ke-9, terjadilah deformitas clubfoot


yang ringan hingga sedang.
4. Teori fetus, yakni blok mekanik pada perkembangan akibat
intrauterine crowding.
5. Teori neurogenik, yakni defek primer pada jaringan
neurogenik.
6. Teori amiogenik, bahwa defek primer terjadi di otot.
ANATOMI
Deformitas

bentuk

kaki

dikarakterisasi

dengan

komponen-

komponen anatomis
sebagai berikut:
Adduksi midtarsal
Inversi pada sendi subtalar (varus/talocalcaneal)
Plantarfleksi sendi talocruralis (equinus)
Kontraksi jaringan di sisi medial kaki
Tendo Achilles memendek
Gastrocnemius kontraktur dan kurang berkembang
Otot-otot evertor sisi lateral tungkai bawah kurang berkembang
Kombinasi deformitas equinus pergelangan kaki dan sendi subtalar,
inversi hindfoot dan adduksi mid-forefoot disebabkan oleh displacement
dari sisi medial dan plantar serta rotasi medial sendi
talocalcaneonavicular
Schlicht (1963) melaporkan suatu penelitian CTEV yang dilakukannya
pada bayi-bayi yang lahir mati atau mati segera sesudah lahir. Dilakukan
diseksi kaki, yang semuanya menunjukkan deformitas dengan derajat
yang berat. Dikatakan bahwa tulang-tulang mengalami distorsi,
khususnya talus, calcaneus, navicularis, cuboid dan metatarsal, tetapi
yang paling parah adalah talus. Tidak hanya terjadi malformasi tulang,
tetapi jaringan-jaringan lain yang berhubungan dengannya juga
mengalami distorsi. Pada semua kaki yang didiseksinya, talus
memperlihatkan distorsi facet pada permukaan superior, oleh karena itu
tidak pas masuk dalam lekukan tibia-fibula. Inilah penyebab terpenting
persistensi deformitas equinus. Talus dan calcaneus pada kaki deformitas
berat sering lebih kecil daripada normal, sehingga kakipun terlihat lebih
3

kecil. Bentuk konveks pada sisi lateral kaki disebabkan bukan saja oleh
tarikan otot sisi medial kaki dan tungkai bawah yang kontraktur,tetapi
juga karena subluksasi sendi calcaneocuboid, ligamen dan kapsul yang
teregang

KLASIFIKASI
Klasifikasi clubfoot:
Typical Clubfoot Merupakan kaki pengkor klasik yang hanya menderita kaki pengkor saja
tanpa disertai kelainan lain. Umumnya dapat dikoreksi setelah lima kali pengegipan dan
dengan manajemen ponseti mempunyai hasil jangka panjang yang baik atau memuaskan.
untreated clubfoot ditemukan pada anak berusia dibawah 2 tahun dan tidak pernah
menerima penanganan apapun.
treated clubfoot ditemukan pada anak yang menderita kasus ini dan telah ditangani dengan
metode Ponseti dan telah melewati fase sampai tuntas.
Recurrent typical clubfoot dapat terjadi baik pada kasus yang awalnya ditangani dengan
metode ponseti maupun dengan metode lain tetapi menunjukkan deformitas. Umumnya
diakibatkan pelepasan brace yang terlalu dini. Rekurensi supinasi dan equinus paling sering
terjadi. Awalnya bersifat dinamik namun dengan berjalannya waktu menjadi fixed.
Rigid atau Resistant atypical clubfoot ini ditemukan pada anak yang sebelumnya tidak
mendapatkan pengobatan apapun dan tidak ditangani dengan metode Ponseti yang tepat .
Biasanya ini syndromic dan membutuhkan operasi jika diperlukan.
Syndromic clubfoot
Selain kaki pengkor ditemukan juga kelainan kongenital lain. Jadi kaki pengkor merupakan
bagian dari suatu sindroma. Metode ponseti tetap merupakan standar penanganan, tetapi
mungkin lebih sulit dengan hasil kurang dapat diramalkan. Hasil akhir penanganan lebih
ditentukan oleh kondisi yang mendasarinya daripada kaki pengkornya sendiri
Neglected clubfoot ini ditemukan pada anak yang berusia diatas 2 tahun dan tidak/
mendapatkan sedikit penanganan dan biasanya telah terjadi kontraktur berat pada jaringan
lunak serta deformitas dari tulang. Penanganan dengan metode Ponseti mungkin berhasil
tetapi beberapa darinya membutuhkan pembedahan.
Complex clubfoot kasus yang telah ditangani dengan teknik Ponseti seta berbagai metode
tetapi mengalami komplikasi dikarenakan faktor patologi ataupun scarring.
4

Sebagian besar deformitas terjadi ditarsus. Pada saat lahir, tulang tarsal, yang hampir
seluruhnya masih berupa tulang rawan, berada dalam posisi fleksi, adduksi, dan inversi yang
berlebihan. Talus dalam posisi plantar fleksi hebat, collumnya melengkung ke medial dan
plantar, dan kaputnya berbentuk baji. Navikular bergeser jauh ke medial, mendekati
malleolus medialis dan berartikulasi dengan permukaan medial caput talus. Calcaneus
adduksi dan inversi dibawah talus. Sendi-sendi tarsal secara fungsional saling tergantung.
Pergerakan satu tulang tarsal akan menyebabkan pergeseran tulang tarsal disekitanya.
Pergerakan sendi ditentukan oleh kelengkungan permukaan sendi san oleh orientasi dan
struktur ligamen yang mengikatkanya. Tiap-tiap sendi mempunyai pola pergerakan yang
khas. Oleh karena itu, koreksi tulang tarsal kaki pengkor yang inverse serta bergeser jauh ke
medial, harus dilakukan dengan menggeser navicular, cuboid, dan calcaneus ke arah lateral
secara bertahap dan simultan, sebelum mereka dapat dieversi keposisi netral. Pergeseran ini
mudah dilakukan karena ligamenta tarsal dapat diregangkan secara bertahap. Koreksi tulang
tarsal kaki pengkor yang telah bergeser hebat memerlukan pengertian yang baik mengenai
anatomi fungsional talus. Banyak alhi ortopedik menangani kaki pengkor dengan asumsi
yang salah bahwa sendi subtalar dan Chopart mempunyai sumbu rotasi yang tetap, yang
berjalan miring dari anteromedial superior ke posterolateral inferior, melalui sinus tarsi.
Mereka percaya bahwa dengan mempronasikan kaki pada sumbu ini akan mengkoreksi
calcaneus yang varus dan kaki yang supinasi. Padahal tidaklah demikian. Mempronasikan
kaki pengkor pada sumbu ini justru akan menyebabkan forefoot lebih pronasi lagi dan
akibatnya akan memperberat cavus dan menekan calcaneus yang adduksi pada talus.
Akibatnya calcaneus varus tetap tidak terkoreksi.

DIAGNOSIS
Kelainan ini mudah didiagnosis, dan biasanya terlihat nyata pada waktu lahir (early diagnosis
after birth). Pada bayi yang normal dengan equinovarus postural, kaki dapat mengalami
dorsifleksi dan eversi hingga jari-jari kaki menyentuh bagian depan tibia. Passive
manipulationdorsiflexion Toe touching tibia normal.
Berupa deformitas pada :

Adduksi dan supinasi (varus) kaki depan (forefoot) pada sendi mid dorsal

Equinus kaki belakang (heel) pada sendi ankle

Varus kaki belakang (hindfoot) pada sendi subtalar

Subluksasi sendi talonavikulare

Deviasi medial seluruh kaki terhadap lutut

Inversi tumit

Sebelum ossifikasi tulang navicular pada umur ke dua atau tiga, hanya 3 element
pertama yang ditemukan pada gambaran radiografi

Pemeriksaan Radiologi
Cara yang paling sederhana yaitu membuat foto AP dan lateral pada plantar. Pertama
diperlukannya

pengertian

anatomi

pada

kaki

untuk

mengetahui

abnormalitas

kenaekaragaman kaki dalam menentukan kelainan. Beberapa garis dan sudut digambar
pada dorsoplantar dan lateral radiografi kaki untuk dapat menentukan kelainan. Sudut
kite dan sudut metatarsal talus pertama (talus-first metatarsal, TFM) merupakan sudut
yang sangat berguna dalam menetukan kecatatan clubfoot (Gambar 1). Pada gambaran
radiografi plantar CTEV, didapati sudut kite anteroposterior talocalcaneal mempunyai
sudut kurang dari 20 derajat, sudut lateral kurang dari 35 derajat, sedangkan sudut TFM
lebih dari 15 derajat

Gambar 1. Pengukuran sudut Kite. Sudut kite anteroposterior


talocalcaneal dan sudut talus-first metatarsal (TFM) dengan
weight-bearing positions. Sudut kite merupakan titik pertemuan
dari dua garis dimana garis pertama (a) ditarik pada axis
longitudinal dari talus dan biasanya bertemu pada metatarsal
pertama; dan garis kedua (b) ditarik pada axis longitudinal dari
calcaneus dan biasanya bertemu pada metatarsal keempat. Dan
sudut yang terbentuk dari kedua pertemuan garis ini berkisar
antara 20 sampai 40 derajat; sudut yang kurang dari 20 derajat
mengindikasikan suatu posisi varus pada kaki belakang. Sudut
TFM ditentukan pada garis yang telah dibuat tadi yaitu garis (c)
yang ditarik pada axis longitudinal pada metatarsal pertama dan
pada garis pertemuan (a). nilai dari sudut ini normalnya berkisar
antara 0 sampai dengan -20 derajat; nilai positif
mengindikasikan adanya adduksi pada kaki depan.

Gambar

2.

talocalcaneal

Sudut

Kite

dengan

lateral

weight-bearing

positions yang mana ditarik garis axis


longitudinal
sehingga

pada

talus

membentuk

dan

suatu

calcaneus
titik temu

dengan garis parallel. Normalnya sudut ini


berikisar anatara 35 sampai dengan 50
derajat; sudut yang kurang dari 35 derajat menunjukkan kelainan bentuk berupa equines
pada tumit.

Sebagai tambahan pengukuran, terdapat hal-hal lain yang normal pada bayi
umumnya, tetapi terganggu pada kelainan clubfoot ini, sebagai contoh pada gambaran
anteroposterior kaki normal menunjukkan hubungan yang paralel dengan tulang
metatarsal, dimana pada kelainan clubfoot malah bertemu di proximal. Begitupula pada
penentuan sudut kite talocalcaneal anteroposterior jika ditarik garis sudut ini normalnya
akan bertemu pada metatarsal pertama dan keempat; pada kelainan clubfoot garis ini

malah ditemukan lebih ke arah lateral dari titik temu seharusnya. Sangatlah penting
untuk mengetahui dan memastikan secara akurat dari sudut-sudut berikut agar dapat
dilakukan teknik reposisi yang tepat pada kaki, karena perubahan posisi walau hanya
sedikit saja dari gambaran anteroposterior dan lateral yang telah ditentukan, dapat
merubah keseluruhan hubungan tulang satu antar tulang lainnya. Bila memungkinkan,
proyeksi didapati dengan posisi yang mendapatkan tumpuan berat badan, atau weightbearing positions. Pada bayi yang belum bisa melakukan posisi tersebut, gambaran
anteroposterior

didapatkan

dipertemukan.

Pada

dengan

gambaran

cara

lateral

bayi

diposisikan

weight-bearing

duduk

dengan

lutut

positions

juga

tidak

memungkinkan, maka sendi lutut diflexikan serta kaki dipegang kearah dorsoflexi.

PENATALAKSANAAN
KOREKSI CLUBFOOT DENGAN GIPS PONSETI
Kebanyakan kelainan clubfoot dapat dikoreksi secara konservatif dengan berbagai
manipulasi serta gips. Derajat pengoreksian dapat ditentukan dari garis serta sudut yang
didapatkan pada gambaran radiografi. Jika sudah dilakukan koreksi secara konservatif
dan tidak juga memberikan hasil yang sempurna, maka pembedahan merupakan pilihan
selanjutnya. Komplikasi tersering pada pembedahan adalah koreksi berlebihan, yang
dapat menyebabkan rockerbottom atau kecatatan kaki yang datar.

Chance of recurrence up to 4 or 5 yrs of age FAB for 23 hrs a day for 3 months and night splint
till 2-3 yrs of ageAfter the last cast TA lengthening

Menentukan letak kaput talus dengan tepat


Tahap ini sangat penting [3]. Pertama, palpasi kedua malleoli (garis biru) dengan ibu jari dan
jaritelunjuk dari tangan A sementara jari-jari dan metatarsal dipegang dengan tangan B.
Kemudian[4], geser ibu jari dan jari telunjuktangan A ke depan untuk dapat meraba caput
talus (garis merah) di depan pergelangan kaki. Karena navicular bergeser ke medial dan
tuberositasnya hampir menyentuh malleolus medialis, kita dapat meraba penonjolan bagian
lateral dari caput talus (merah) yang hanya tertutup kulit di depan malleolus lateralis. Bagian
anterior calcaneus dapat diraba dibawah caput talus. Dengan menggerakkan forefoot dalam
posisi supinasi kearah lateral, kita dapat meraba navicular bergeser -- meskipun sedikit -didepan caput talus sedangkan tulang calcaneus akan bergerak ke lateral di bawah caput talus.

[3]

[4]

Manipulasi
Tindakan manipulasi adalah melakukan abduksi dari kaki dibawah caput talus yang
telahdistabilkan. Tentukan letak talus. Seluruh deformitas kaki pengkor, kecuali equinus
ankle,terkoreksi secara bersamaan. Agar dapat mengoreksi kelainan ini, kita harus dapat
menentukanletak caput talus,yang menjadi titik tumpu koreksi.
Mengoreksi (memperbaiki) cavus
10

Bagian pertama metode Ponseti adalah mengoreksi cavus dengan memposisikan kaki depan
(forefoot) dalam alignment yang tepat dengan kaki belakang (hindfoot ). Cavus, yang
merupakan lengkungan tinggi di bagian tengah kaki [ 1 garislengkung kuning], disebabkan
oleh pronasiforefoot terhadap hindfoot. Cavus ini hampir selalu supel pada bayi baru lahir
dan dengan mengelevasikan jari pertama dan metatarsal pertama maka arcus longitudinal
kaki kembali normal [2 dan3]. Forefoot disupinasikan sampai secara visual kita dapat melihat
arcus plantar pedis yangnormal -- tidak terlalu tinggi ataupun terlalu datar. Alignment
(kesegarisan) forefoot danhindfoot untuk mencapai arcus plantaris yang normal sangat
penting agar abduksi -- yangdilakukan untuk mengoreksi adduksi dan varus -- dapat efektif.

Langkah-langkah Pemasangan Gips


Dr. Ponseti merekomendasikan penggunaan bahan gips karena lebih murah dan molding lebih
presisi dibanding dengan fiberglass.
Manipulasi Awal Sebelum gips dipasang, kaki dimanipulasi lebih dahulu. Tumit tidak
disentuh sedikitpun agar calcaneus bisa abduksi bersama-sama dengan kaki [4].
Memasang padding Pasang padding yang tipis saja [5] untuk memudahkan molding.
Pertahankan kaki dalam posisi koreksi yang maksimal dengan cara memegang jari-jari dan
counter pressure pada caput talus selama pemasangan gips.
11

Pemasangan Gips Pasang gips di bawah lutut lebih dulu kemudian lanjutkan gips sampai
paha atas. Mulai dengan tiga atau empat putaran disekeliling jari-jari kaki [6] kemudian ke
proksimal sampai lutut [7]. Pasang gips dengan cermat. Saat memasang gips diatas tumit,
gips dikencangkan sedikit. Kaki harus dipegang pada jari-jari, gips dilingkarkan di atas
jari-jari pemegang agar tersedia ruang yang cukup untuk pergerakan jari-jari.

Molding gips
Koreksi tidak boleh dilakukan secara paksa dengan menggunakan gips. Gunakanlah
penekanan yang ringan saja. Jangan menekan caput talus dengan ibu jari terus menerus, tapi
tekan-lepas-tekan berulangkali untuk mencegah pressure sore. Molding gips di atas caput
talus sambil mempertahankan kaki pada posisi koreksi [1]. Perhatikan ibu jari tangan kiri
melakukan molding gips di atas caput talus sedangkan tangan kanan molding forefoot (dalam
posisi supinasi). Arcus plantaris dimolding dengan baik untuk mencegah terjadinya flatfoot
atau rocker-bottom deformity. Tumit dimolding dengan baik dengan membentuk gips di
atas tuberositas posterior calcaneus. Malleolus dimolding dengan baik. Proses molding ini
hendaknya merupakan proses yang dinamik, sehingga jari-jari harus sering digerakkan untuk
menghindari tekanan yang berlebihan pada satu tempat. Molding dilanjutkan sambil
menunggu gips keras.
12

Lanjutankan gips sampai paha Gunakan padding yang tebal pada proksimal paha untuk
mencegah iritasi kulit [2]. Gips dapat dipasang berulang bolak-balik pada sisi anterior lutut
untuk memperkuat gips disisi anterior [3] dan untuk mencegah terlalu tebalnya gips di fossa
poplitea, yang akan mempersulit pelepasan gips.
Potong gips Biarkan gips pada sisi plantar pedis untuk menahan jari-jari [4] dan potong gips
dibagian dorsal sampai mencapai sendi metatarsophalangeal. Potong gips dibagian tengah
dulu kemudian dilanjutkan kemedial dan lateral dengan menggunakan pisau gips. Biarkan
bagian dorsal semua jari-jari bebas sehingga dapat ekstensi penuh. Perhatikan bentuk gips
yang pertama [5]. Kaki equinus, dan forefoot dalam keadaan supinasi.
Ciri dari abduksi yang adekuat Pastikan abduksi kaki cukup adekuat terlebih dulu agar kita
dapat melakukan dorso fleksi kaki 0 sampai 5 derajat dengan aman sebelum melakukan
tenotomi.
Tanda terbaik abduksi yang adekuat adalah kita dapat meraba processus anterior calcaneus
yang terabduksi keluar dari bawah talus.
Kaki dapat diabduksi sekitar 60 derajat terhadap bidang frontal tibia.
Calcaneus neutral atau sedikit valgus. Hal ini ditentukan dengan meraba bagian posterior
dari calcaneus.
Ingat ini merupakan deformitas tiga dimensi dan deformitas ini dikoreksi bersamaan.
Koreksi dicapai dengan mengabduksi kaki dibawah caput talus. Kaki samasekali tidak boleh
dipronasikan.

Hasil akhir
Setelah pemasangan gips selesai, kaki akan tampak over-koreksi dalam posisi abduksi
dibandingkan kaki normal saat berjalan. Hal ini bukan suatu over-koreksi. Namun merupakan
koreksi penuh kaki dalam posisi abduksi maksimal. Koreksi kaki hingga mencapai abduksi
yang penuh, lengkap dan dalam batas normal ini, membantu mencegah rekurensi dan tidak
menciptakan over-koreksi atau kaki pronasi.

13

Brace
14

Pada akhir penggipan, kaki dalam posisi sangat abduksi sekitar 60-70. Setelah gips terakhir
dipai selama 5 minggu. Selanjutnya memakai brace untuk mempertahankan kaki dalam posisi
abduksi dan dorsofleksi. Brace berupa bar (batang) logam direkatkan pada sepatu yang
bertelapak kaki lurus dengan ujung terbuka.
Transfer Tendon Tibialis Anterior
Indikasi transfer dilakukan jika anak telah berusia 30 bulan dan mengalami relaps yang kedua
kalinya. Indikasinya adalah varus yang persisten dan supinasi kaki saat berjalan dan terdapat
penebalan kulit di sisi lateral telapak kaki. Dan pastikan ahwa seriap deformitas yang
menetap telah dikoreksi dengan dua atau tiga gips. Biasanya varus dapat terkoreksi
sedangkan equines mungkinmasih ada. Jika kaki mudah didorsofleksi sampai 10 hanya
dilakukan tendon transfer saja.
Perawatan pasca pembedahan
Biasanya pasien dirawat inap semalam. Lepas gips setelah 6 minggu. Anak dapat berjalan
dengan kaki menumpu berat badan sesuai toleransi. Penderita tidak perlu menggunakan
brace. Periksa pasien 6 bulan kemudian untuk menilai efek dari transfer tendo. Pada beberapa
kasus diperlukan fisioterapi untuk memulihkan kembali kekuatan dan cara berjalan yang
normal.

Sistem klasifikasi yang seharusnya itu dapat di aplikasikan secara klinis serta
memberikan gambaran prognosa. Tidak ada satu ketentuan yang dipegang sebagai
pedoman dalam penentuan klasifikasi CTEV ini.

15

Harrold Walker adalah yang pertama mebagi sistem derajat secara sederhana.
tabel

Dimeglio dan pirani juga membagi sistem menjadi 2

Penatalaksanaan CTEV beragam mulai dari non operatif casting dan strecthing
peregangan sampai ke complete peritalarnsurgical releasenatau dengan hangging foot
procedure.
Ponseti mempunyai hasil yang sempurna dengan pengaplikasian quential cast selama 57 hari interval untuk 3-4 minggu. Setelah itu, splintage baru dipergunakan dan
dimodifikasi dengan tambahan Dennis Browne splint untuk 3-6 bulan kedepan, dan
diikuti dengan splintage setap malam selama up to 4 tahun pada kasus yang berat. Para
ahli mempercayai bahwa kecacatan ini diakibatkan oleh faktor sekunder yang
menyebabkan perputaran (twisting) calcaneus, navicular, dan cuboid di sekitar talus, dan
proses manipulasi yang telah dijelaskan diatas dipercayai dapat menyebabkan (tension)
tegangan dan relaksasi pada jaringan yang ketat tersebut sehingga dapat memperbaiki
kecacatan. Perbaikan ini memerlukan beberapa langkah yang berutan, tidak bisa
langsung. Seperti cacat pada cavus dapat dilakukan reduksi dorsofleksi dari metatarsal
pertama. Posisi equnus dan supinatus dari kaki belakang dapat dilakukan manipulasi
yang diatas sampai dengan terjadinya perbaikan flexi pada metatarsal pertama. Setelah
itu selesai dilakukan maka midfoot telah unlock, kemudian dapat disusul dengan
pengoreksian selanjutnya dengan menggunakan uncovered lateral talar head as a
fulceum (titik tumpuan). Kaki depan diabduksi secara perlahan allowing divergence
(penyimpangan) of the talus dan calcaneus. Setelah calcaneus mengalami totasi
eksternal ini dapat dilakukan dorsoflexi dalam memperbaiki equinus deformity. Pada 70%
kasus diperlukannya achilles tenotomy untuk mencapai perbaikan equinus yang
sempurna.
Metode non-operative lain yang dapat digunakan ialah dengan Dennis Browne splint,
stretching, adhesive strapping and physiotherapy.

ResiduL or reccurent equinus dengan atau tanpa varus


Ini dapat dikaitkan dengan pembebasan yang tak sempurna dan membutuhkan evaluasi
kembali untuk memastikan apakah cacat pada kaki belakang, kaki depan atau keduanya.

BAB III
16

KESIMPULAN
CTEV (Congenital Talipes Equino Varus) sering disebut juga clubfoot adalah
deformitas yang meliputi flexi dari pergelangan kaki, inversi dari tungkai, adduksi dari kaki
depan, dan rotasi media dari tibia (Priciples of Surgery, Schwartz). Taliper berasal dari kata
talus (ankle) dan pes (foot), menunjukan suatu kelainan pada kaki (foot) yang menyebabkan
penderitanya berjalan pada angke-nya. Sedang Equinovarus berasal dari kata equino
(meng.kuda) dan varus (bengkok ke arah dalam/medial). Insidens CTEV yaitu setiap 1 dari
1000 kelahiran hidup. Lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki dari pada perempuan (2:1).
Beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab clubfoot. Pertama, adalah kuman
plasma primer merusak talus menyebabkan flexi plantar yang berkelanjutan dan inversi pada
tulang tersebut, dan selanjutnya diikuti dengan perubahan pada jaringan lunak pada sendi dan
kompleks mukulotendinous. Teori lainnya kelainan jaringan lunak primer beserta
neuromuskular akibat perubahan tulang sekunder. Klinisnya, anak dengan CTEV mempunyai
hipotrofi arteritibialis anterior dalam penambahan terhadap atrofi dari muskular sekitar betis.
Klasifikasi clubfoot :
Typical Clubfoot Merupakan kaki pengkor klasik yang hanya menderita kaki pengkor saja
tanpa disertai kelainan lain. Umumnya dapat dikoreksi setelah lima kali pengegipan dan
dengan manajemen ponseti mempunyai hasil jangka panjang yang baik atau memuaskan.
Positional clubfoot sangat jarang ditemukan, sangat fleksibel dan diduga akibat jepitan
intrauterin. Pada umumnya koreksi dapat dicapai dengan satu atau dua kali pengegipan.
Delayed treated clubfoot ditemukan pada anak berusia 6 bulan atau lebih.
Recurrent typical clubfoot dapat terjadi baik pada kasus yang awalnya ditangani dengan
metode ponseti maupun dengan metode lain. Relaps lebih jarang terjadi dengan metode
ponseti dan umumnya diakibatkan pelepasan brace yang terlalu dini. Rekurensi supinasi dan
equinus paling sering terjadi. Awalnya bersifat dinamik namun dengan berjalannya waktu
menjadi fixed.
Alternatively treated typical clubfoot termasuk kaki pengkor yang ditangani secara operatif
atau pengegipan dengan metode non-Ponseti.
Atypical clubfoot kategori ini pada biasanya berhubungan dengan penyakit lain. Mulailah penanganan
dengan metode ponseti. Koreksi umumnya lebih sulit.
Rigid atau Resistant atypical clubfoot dapat kurus atau gemuk. Kasus dengan kaki yang
gemuk lebih sulit ditangani. Kaki tersebut umumnya kaku, pendek, gemuk dengan lekukan
17

kulit yang dalam pada telapak kaki dan dibagian belakang pergelangan kaki, terdapat
pemendekan metatarsal pertama dengan hiperekstensi sendi metatarsophalangeal. Deformitas
ini terjadi pada bayi yang menderita kaki pengkor saja tanpa disertai kelainan yang lain.
Syndromic clubfoot
Selain kaki pengkor ditemukan juga kelainan kongenital lain. Jadi kaki pengkor merupakan
bagian dari suatu sindroma. Metode ponseti tetap merupakan standar penanganan, tetapi
mungkin lebih sulit dengan hasil kurang dapat diramalkan. Hasil akhir penanganan lebih
ditentukan oleh kondisi yang mendasarinya daripada kaki pengkornya sendiri
Tetralogic clubfoot --seperti pada congenital tarsal synchondrosis.
Neurogenic clubfoot -- berhubungan dengan kelainan neurologi seperti meningomyelocele.
Acquired clubfoot --seperti pada Streeter dysplasia.
Clubfoot bukan merupakan malformasi embrionik. Kaki yang pada mulanya normal
akan menjadi clubfoot selama trimester kedua kehamilan. Clubfoot jarang terdeteksi pada
janin yang berumur dibawah 16 minggu.

DAFTAR PUSTAKA

18

1. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Edisi 3, 2009. Jakarta : PT.
Yarsif Watampone
2. Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. EGC. Jakarta.
3. Salter, Robert B. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal system.
Edisi 3, 2008. Jakarta : FKUI RSCM

19