Anda di halaman 1dari 4

Strategi Pengembangan Jaringan Jalan,

Berlatar belakang permasalahan yang ada di sekitar kita, melihat dari tingginya pertumbuhan
penduduk di Indonesia juga ditambah perkembangan ekonomi membuat semakin besar
pertumbuhan kendaraan bermotor. Banyaknya pembangunan yang ada di wilayah padat
penduduk menyebabkan semakin sempit pula ruang gerak bagi masyrakat untuk melakukan
aktifitasnya. Lebih dari 80% lalu lintas angkutan baik barang maupun penumpang bertumpu
pada infrastruktur jalan. Semua hal tersebut menjadi tantangan Indonesia untuk
mengembangkan infrastruktur jalan. Diketahui bahwa tingginya lalu lintas barang yang
terjadi banyak sekali menggunakan jalan, dari sungai, rel, laut, dan udara, jalan mendapati
92% lalu lintas barang menggunakan jasa jalan. Dan untuk penumpang sendiri sebesar 84%,
tingginya penggunaan jalan sangat mempengaruhi perpindahan dan jasa logistik di Indonesia.
Semua hal tersebut menuntut Indonesia untuk meningkatkan keterpaduan sistem transportasi
darat menggunakan jalan dan rel untuk mengurangi kemacetan dan beban di jalan.
Pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi, mempengaruhi ruang gerak bagi perpindahan
barang logistik, sehingga waktu tempuh menuju suatu tempat semakin berkurang, hal tersebut
membuat biaya jasa logistik di Indonesia semakin mahal. Saat ini biaya logistik Indonesia
masih dibilang cukup besar; 24% dari GDP dibandingkan dengan Malaysia, Jepang, dan
Amerika. Dimana ongkos logistik Indonesia 72% nya dari transpportasi darat, karena dalam
transportasi darat memiliki waktu tempuh yang lebih lama, sehingga merupakan salah satu
faktor tingginya biaya logistik menggunakan transportasi darat. Ada tahapan penguatan
sistem logistik nasional dalam jangka waktu 2011-2015, dimulai dengan penguatan sistem
logistik domestik, integrasi jejaring logistik ASEAN, dan Integrasi jejaring logistik global.
Peran logistik terutama di darat menuntut Indonesia untuk meningkatkan infrastruktur jalan
agar mampu bersaign dengan jasa logistik secara global dengan negara lain.
Di Indonesia jalan dibagi dalam 3 status jalan, Jalan Nasional, Jalan Provinsi, dan Jalan
Kabupaten/Kota. Dengan masing-masing panjang jalannya sebesar, 47.965 km untuk jalan
Nasional, 46.486 km untuk Jalan Provinsi, dan 389.365 km untuk Jalan Kabupaten/Kota.
Jalan Kabupaten/Kota yang paling panjang dan paling banyak digunakan oleh masyarakat,
kemantapan jalan tersebut hanya 57%, dan hal tersebut merupakan kewenangan dari
pemerintah Kota/Kabupaten. Sehingga pentingnya peran pemerintah daerah untuk peka
mengatasi permasalahan jalan di Indonesia ini.

Di daerah Metropolitan yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, dan juga mobilisasi
masyarakat yang tinggi pula sudah seharusnya memiliki sistem transportasi yang baik, dan
infrastruktur yang memadai. Banyak sekarang Metropolitan di Indonesia masih banyak
mengalami permasalahan trasnportasi. Bisa dilihat dari kualitas pelayanan angkutan umum
yang tidak memadai sehingga memicu masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi
dan semakin menciptakan kepadatan kendaraan bermotor, dan muncullah macet. Rasio
panjang jalan juga masih rendah yaitu sebesar 6% yang tidak menunjang pertumbuhan
kendaraan bermotornya. Di wilayah Metropolitan Indonesia bangunan dan gedung yang ada,
tidak terencana dengan baik tata ruangnya sehingga masih bisa menghambat pembangunan
infrastruktur jalan dan sulit untuk berkembang. Tingginya Urbanisasi karena ekonomi yang
terpusat di wilayah Metropolitan juga ditambah pusat kegiatan yang terpusat sehingga tingkat
perjalanan kommuter semakin tinggi dan jumlah perjalan terus meningkat secara drastis.
Kurangnya disiplin lalu lintas oleh pengguna jalan sehingga sistem lalu lintas tidak lagi
efektif untuk mengurangi masalah yang ada. Masalah masalah yang disebutkan itu masih
dalam gambaran yang kasar, belum sampai kedetail masalahnya. Sehingga lagi-lagi menuntut
Indonesia untuk segera mencari strategi pengembangan jaringan jalan di wilayah
metropolitan.
Pengembangan jaringan jalan di Indonesia terutama wilayah jalan metropolitan bisa sebagai
berikut;

Pembangunan jalan lingkar guna mengalihkan arus menerus agar tidak terkontsentrasi
pada titik tertentu. Konsep jalan lingkar adalah untuk mengurangi titik temu antar
kendaraan sehingga kendaraan yang digunakan dapat menghindari kawasan

perkotaan.
Pengembangan jaringan TOL guna penambahan kapasitas jaringan jalan perkotaan.
Spesifikasi jalan TOL yang tinggi akan memberikan pelayanan yang lebih baik
kepada pengguna jalan dengan spesifikasi km/1000 penduduk, sehingga semakin
besar spesifikasi maka akan semakin besar kenyamanan yang diberikan untuk

pengguna jalan.
Pengembangan jalan simpang tak sebidang (fly over/underpass) guna mengurangi
kemacetan di persimpangan. Pembangunan flyover-underpass adalah suatu alternatif
yang dapat dilakukan untuk mengatasi kepadatan kendaraan pada suatu titik akibat
adanya pertemnua 4 titik jalan raya yang berbeda arah ataupun antara jalan raya
dengan kereta api. Dengan kata lain pembangunan flyover atau simpang tak sebidang

ini dapat mengurangi tingkat konflik dan mengurangi arus masuk pada persilangan
sebidang.
Di Indonesia muncul kebijakan dan strategi yang dirancang oleh kementrian PUPR dengan
arah kebijakan untuk pembangunan transportasi dan infrastruktur jalan yang lebih baik dan
cepat. Arah kebijakan tersebut masuk kedalam Agenda NAWA CITA, yaitu membangun
Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara
Kesatuan dan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya asing di pasar profesional. Arah
kebijakan juga berujung dengan sasaran nya yaitu meningkatnya dukungan konektivitas bagi
penguatan daya saing dan meningkatnya kemantapan jalan nasional dan jalan provinsi untuk
menghubungkan daerah-daerah pinggiran dengan perkotaan. Kebijakan dan strategi Ditjen
Bina Marga berlangsung dalam periode 2015 2019. Dengan harapannya, 2019 mendapati
kemantapan jalan nasional sebesar 98%, jalan Provinsi 70% dan waktu tempuh di koridor
utama bisa mencapai 2,2 jam/100 km.
Kebijakan dan Strategi yang dirancang tersebut didukung dengan program pembangunan dan
pemeliharaan Struktur TA, dengan pembuatan jalan bebas hambatan sepanjang 1.000 km,
pembagunan jalan nasional 2.650 km, pemeliharaan jalan nasional 47.017 km, pembangunan
FO/UP pada perlintasan KA dan kota Metropolitan 15.000 m, dan dukungan jalan subNasional 500 km dengan alokasi dana sebesar Rp. 278 Triliun.

KESIMPULAN

Tingginya pertumbuhan penduduk sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan


kendaraan bermotor, meningkatkan kebutuhan finansial dan perekonomian,
meningkatnya sifat konsumtif masyarakat, dan juga meningkatkan sistem mobilisasi
barang dan jasa (Kondisi Logistik Indonesia) sehingga menuntut untuk segera

meningkatkan sistem transportasi yang efektif dan efisien serta infrastruktur jalan.
Pembaharuan jalan untuk kawasan Metropolitan sangat dibutuhkan dengan semakin
terpusatnya bisnis dan ekonomi negara, hal tersebut bisa didukung dengan
pembangunan Jalan Bebas Hambatan, Jalan Lingkar, dan Jalan Simpang Tak

Sebidang.
Kebijakan dan Strategi dari pemerintah harus didukung dan dijalani bersama
pemerintah daerah dan masyrakat pengguna jalan, untuk kebaikan bersama dan
menuju Indonesia yang lebih baik.
Indradjati Rachmatullah
Teknik Sipil/1306416121
Perancangan Geometrik Jalan

REFERENSI
Strategi Pengembangan Jaringan Jalan di Wilayah Aglomerasi, Direktorat Jenderal Bina
Marga, Kementrian PUPR
https://id.wikibooks.org/wiki/Manajemen_Lalu_Lintas/Jaringan_jalan
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/123219-R210818-Identifikasi%20permasalahanLiteratur.pdf