Anda di halaman 1dari 16

Pemeriksaan Penunjang Sistem Respirasi

MAKALAH

oleh
Kelompok 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

Pemeriksaan Penunjang Sistem Respirasi

MAKALAH

Oleh
Dutya Intan Larasati

142310101100

Candra Widhi Kurnia S

142310101116

Nanda Ema Avista

142310101120

Rommyatun Zainiyah

142310101126

Koyyimatus Solehah

142310101146

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015
PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Pemeriksaan
Diagnostik pada Sistem Respirasi dengan tepat waktu. Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Klinik IIB.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh
karena itu, penulis menyampaikan terimakasih kepada.
1. Ns. Ratna Sari Hardiani, Skep., M.Kep selaku dosen PJMK mata kuliah
Kepearwatan Klinik IIB.
2. Teman-teman mahasiswa Universitas Jember, yang telah membantu, memberi
dorongan dan semangat.
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Kami juga menerima segala kritik dan saran dari semua pihak demi
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah
pengetahuan pembaca.

Jember, September 2015


Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL...............................................................................

HALAMAN JUDUL..................................................................................

ii

PRAKATA..................................................................................................

iii

DAFTAR ISI...............................................................................................

iv

BAB 1. PENDAHULUAN.........................................................................

1.1 Latar Belakang.....................................................................


1.2 Tujuan Penulisan..................................................................
1.3 Implikasi Keperawatan..................................................................
BAB 2. PEMBAHASAN............................................................................
2.1 Definisi Pemeriksaan Diagnostik.....................................................
2.2 Jenis Pemeriksaan Diagnostik pada Sistem Respirasi.....................
BAB 3. PENUTUP.....................................................................................
3.1 Kesimpulan........................................................................................
3.2 Saran..................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................

Bab 1. Pendahuluan

1.1 Latar belakang


Pemeriksaan diagnostik adalah penilaian klinis tentang respon individu,
keluarga, dan komunikan terhadap suatu masalah kesehatan. Melalui pemeriksaan
ini dapat mengetahui masalah respon klien terhadap status kesehatan atau
penyakit. Prosedur diagnostik membantu dalam pengkajian klien dengan
gangguan pernapasan penting untuk mengklarifikasi kapan pemeriksaan
diagnostik diperlukan, sehingga tindakan yang dilakukan pada pasien akan lebih
terarah dan berguna. Selain itu dimaksudkan untuk tidak merugikan klien karena
harus mengeluarkan biaya untuk hal-hal yang sebenarnya dapat dihindari.
Pemeriksaan diagnostik ini tidak mudah dilakukan. Karena membutuhkan
ketelitian saat melakukannya. Kesalahan yang biasanya terjadi, yaitu kesalahan
pengumpulan data, kesalahan dalam interpretasi dan analisis data, kesalahan
dalam pengelompokan data, kesalahan dalam pernyataan diagnostik.
1.2 Tujuan
1.2.1

Untuk mengetahui tentang pemeriksaan diagnostik;

1.2.2

untuk mengetahui jenis pemeriksan diagnostik.

1.2.3

Implikasi Keperawatan

BAB 2.KAJIAN TEORI


2.1 Definisi Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik adalah penilaian klinis tentang respon individu,
keluarga dan komunikan terhadap suatu masalah kesehatan dan proses kehidupan
aktual maupun potensial. Hasil suatu pemeriksaan laboratorium sangat penting
dalam membantu diagnosa, memantau perjalanan penyakit serta menentukan
prognosa.
2.2 Jenis Pemeriksaan Diagnostik pada Sistem Respirasi
2.2.1 PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Dada

(toraks)

merupakan

bagian

ideal

untuk

pemeriksaan

radiologi.Parenkim paru- paru yang berisi udara memberikan resistensi yang kecil
terhadap jalannya sinar x, sehingga parenkim memberikan bayangan yang sangat
memancar. Bagian yang lebih padat udara akan sukar ditembus sinar x,sehingga
bayangannya lebih padat. Benda yang lebih padat akan memberikan kesan
berwarna lebih putih dari pada bagian yang berbentuk udara jika dilihat pada
lembar hasil radiologi dada.
Klien pada umumnya sudah terbiasa dengan pemeriksaan radiologi
rutin.Namun belakangan ini, terdapat suatu peningkatan kesadaran tentang
pemajanan berlebihan terhadap radiasi. Hendaknya klien diberikan penjelasan
yang lengkap tentang tipe pemeriksaan yang akan dilakukan dan manfaatnya
dalam hubungannya dengan risiko akibat pemajanan terhadap radiasi.
Pemeriksaan radiologi memberikan informasi mengenai :
1. Status sangkar iga, termasuk tulang rusuk, pleura, dan kontur diafragma dan jalan
napas atas.
2. Ukuran, kontur, dan posisi mediastinum dan hilus paru, termasuk jantung, aorta,
nodus limfe, dan percabangan bronchial.
3. Tekstur dan tingkat penyebaran udara dari parenkim paru.
4. Ukuran, bentuk, jumlah, dan lokasi lesi pulmonal, termasuk kavitasi, area
fibrosis,dandaerahkonsolidasi.
Pemeriksaan ronsen atau radiologi dada diindikasikan untuk :

1. Mendeteksi perubahan paru yang disebabkan oleh proses patologis, seperti tumor,
2.
3.
4.
5.

inflamasi, fraktur, akumulasi cairan atau udara.


Menentukan terapi yang sesuai.
Mengevaluasi kesangkilan pengobatan.
Menetapkan posisi selang dan kateter.
Memberikan gambaran tentang suatu proses progresif dari penyakit paru.
Pemeriksaan ronsen dada sebaiknya dilakukan di bagian radiologi.Pemeriksaan
sinar-X standar lebih dipilih dengan posisi berdiri, meskipun posisi duduk atau
berbaring dapat dilakukan. Pemajanan standar untuk pemeriksaan ini adalah

1. Posterio-anterior (PA)-sinar-X menjalar melalui punggung ke bagian depan tubuh


2. Lateral-sinar-X menembus bagian samping tubuh (biasanya sebelah kiri)
Selain pemeriksaan standar mungkin diperlukan juga pemajanan spesifik untuk
melihat bagian-bagian spesifik dada. Pemajanan tersebut termasuk :
1. Oblique-film sinar-X diarahkan miring dengan sudut spesifik
2. Lordotis-film sinar-X dimiringkan dengan sudut 45 derajat dari bawah

untuk

melihat kedua apeks paru


3. Dekubitus- film sinar-X diambil dengan posisi pasien berbaring miring (kiri atau
kanan)

untuk

memperlihatkan

cairan

bebas

dalam

dada.

Prosedur
Pemeriksaan ronsen dada dilakukan dengan posisi berdiri atau duduk tegak
menghadap film sinar-X.Hantaran gelobang sinar-X ditembuskan dari arah
posterior (posisi PA).Radiograf biasanya diambil saat inspirasi penuh, yang
menyebabkan diafragma bergerak ke arah bawah.Radiograf yang diambil saat
ekspirasi kadang dilakukan untuk mengetahui tingkat gerakan diafragma atau
untuk membantu dalam pengkajian dan diagnosa pneumotoraks.
Perawatan praprosedur
Jelaskan klien tentang pemeriksaan ini.Pemeriksaan ini tidak menimbulkan nyeri
dan pemajanan pada radiasi adalah minimal.Klien harus melepaskan semua
perhiasan dan pakaian dalamnya lalu mengenakan gaun.Kaji status kehamilan
klien (untuk klien wanita); wanita hamil seharusnya tidak boleh terpajan pada
radiasi.

Jenis gangguan-gangguan yang ada pemeriksaan radiologi:


a) Kanker laring
b) Pneumonia
c) TB paru
d) Abses paru
e) Bronchitis kronik
f) Enfisema paru
g) Asma
2.2.2 PEMERIKSAAN SPUTUM
Pemeriksaan sputum bersifat mikroskopis dan penting untuk diagnosis etiologi
berbagai penyakitpernapasan. Pemeriksaan mikroskopis dapat menjelaskan
organisme

penyebab

penyakit

pada

berbagai

pneumonia

bacterial,tuberkulosa,serta berbagai infeksi jamur. Pemeriksaan etiologi eksfoliatif


pada sputum dapat membantu diagnosis karsinoma paru-paru.Waktu terbaik
pengumpulan sputum adalah setelah bangun tidur karena sekresi abnormal
bronkus cendrung berkumpul pada waktu tidur.
Pemeriksaan sputum biasanya diperlukan jika diduga adanya penyakit
paru.Membran mukosa saluran pernapasan berespons terhadap inflamasi dengan
meningkatkan

keluaran

sekresi

yang

sering

mengandung

organisme

penyebab.Perhatikan dan catat volume, konsistensi, warna dan bau sputum.


Pemeriksaan sputum mencakup pemeriksaan :
1. Pewarnaan Gram, biasanya pemeriksaan ini memberikan cukup informasi tentang
organisme yang cukup untuk menegakan diagnosis presumtif.
2. Kultur sputum mengidentifikasi organisme spesifik untuk menegakkan diagnosa
defmitif. Untuk keperluan pemeriksaan ini, sputum harus dikumpulkan sebelum
dilakukan terapi antibiotik dan setelahnya untuk menentukan kemanjuran terapi.
3.

Sensitivitas berfungsi sebagai pedoman terapi antibiotik dengan mengidentifikasi


antibiotik yang mencegah pertumbuhan organisme yang terdapat dalam sputum.
Untuk pemeriksaan ini sputum dikumpulkan sebelum pemberian antibiotik.
Pemeriksaan kulturdan sensitivitas biasanya diinstruksikan bersamaan.

4.

Basil tahan asam (BTA) menentukan adanya mikobakterium tuberkulosis, yang


setelah dilakukan pewarnaan bakteri ini tidak mengalami perubahan warna oleh
alkohol asam.

5.

Sitologi membantu dalam mengidentifikasi karsinoma paru. Sputum mengandung


runtuhan sel dari percabangan trakheobronkhial; sehingga mungkin saja terdapat
sel-sel malignan. Sel-sel malignan menunjukkan adanya karsinoma, tidak
terdapatnya sel ini bukan berarti tidak adanya tumor atau tumor yang terdapat
tidak meruntuhkan sel.

6.

Tes kuantitatif adalah pengumpulan sputum selama 24 sampai 72jam.


Pengumpulan sputum
Sebaiknya klien diinformasikan tentang pemeriksaan ini sehingga akan dapat
dikumpulkan sputum yang benar-benar sesuai untuk pemeriksaan ini. Instruksikan
pasien untuk mengumpulkan hanya sputum yang berasal dari dalam paru-paru.
(Karena sering kali jika klien tidak dijelaskan demikian, klien akan
mengumpulkan saliva dan bukan sputum). Sputum yang timbul pagi hari biasanya
adalah sputum yang paling banyak mengandung organisme produktif.Biasanya
dibutuhkan sekitar 4 ml sputum untuk suatu pemeriksaan laboratorium.
Implikasi keperawatan untuk pengumpulan sputum termasuk:

1.

Klien yang kesulitan dalam pembentukan sputum atau mereka yang sangat
banyak membentuk sputum dapat mengalami dehidrasi, perbanyak asupan cairan
klien.

2.

Kumpulkan sputum sebelum makan dan hindari kemungkinan muntah karena


batuk.

3. Instruksikan klien untuk berkumur dengan air sebelum mengumpulkan spesimen


untuk mengurangi kontaminasi sputum.
4. Instruksikan klien untuk mengingatkan dokter segera setelah spesimen terkumpul
sehingga spesimen tersebut dapat dikirim ke laboratorium secepatnya.
Jenis gangguan-gangguan yang ada pemeriksaan sputum:
a)
b)
c)
d)

Pneumonia
TB paru
Abses paru
Asma

2.2.3 BRONKOSKOPI
Merupakan teknik yang memungkinkan visualisasi langsung trakea dan cabangcabang utamanya. Cara ini paling sering digunakan untuk memastikan diagnostik,
tetapi

dapat

juga

dilakukan

untuk

membuang

benda

asing.Setelah

bronkoskopi,pasien tidak boleh makan atau minum- minuman selama 2-3 jam
sampai timbul refleks muntah.Jika tidak, pasien mungkin akan mengalami aspirasi
ke dalam trakeobronkhial.
Pemeriksaan bronkhoskopi dilakukan dengan memasukkan bronkhoskop ke
dalam trakhea dan bronkhi.Dengan menggunakan bronkoskop yang kaku atau
lentur, laring, trakhea, dan bronkhi dapat diamati.Pemeriksaan diagnostik
bronkoskopi

termasuk

abnormalitas,

biopsi

pengamatan
jaringan,

dan

cabang

trakheobronkhial,

aspirasi

sputum

terhadap

untuk

bahan

pemeriksaan.Bronkhoskopi digunakan untuk membantu dalam mendiagnosis


kanker paru.
Bronkhoskopi mungkin dilakukan untuk tujuan diagnostik atau tujuan
terapeutik.Tujuan diagnostik mencakup pemeriksaan jaringan, evaluasi lanjut
tumor untuk memungkinkan bedah reseksi, pengumpulan spesimen jaringan untuk
keperluan diagnosa, dan evaluasi tempat perdarahan. Sementara bronkhoskopi
terapeutik dilakukan untuk tujuan mengangkat benda asing, mengangkat sekresi
yang

kental

dan

banyak,

pengobatan

atelektasis

pascaoperatif,

dan

menghancurkan dan mengangkat lesi.


Perawatan praprosedur
Jelaskan prosedur pada klien dan keluarga dan dapatkan izin tindakan dari klien.
Instruksikan klien untuk tidak makan dan minum 6 jam sebelum pemeriksaan.
Informasikan pada klien bahwa tenggoroknya mungkin akan sakit setelah
bronkhoskopi, dan mungkin terjadi kesulitan menelan pada awal setelah
pemeriksaan. Klien diberikan anestesi lokal dan sedasi intravena untuk menekan
refleks batuk, dan menghilangkan ansietas.Pemeriksaan membutuhkan waktu 30
sampai 45 menit.Selama prosedur klien berbaring terletang dengan kepala

hiperekstensi. Perawat memantau tanda vital,berbicara pada atau menenangkan


klien, dan membantu dokter sesuai kebutuhan.
Perawatan pascaprosedur
Setelah prosedur, tanda vital dipantau per protokol institusi.Amati klien terhadap
tanda distres pernapasan, termasuk dispnea, perubahan frekuensi pernapasan,
peng-gunaan otot aksesori pernapasan, dan perubahan bunyi napas. Tidak ada
pemberian apapun melalui mulut sampai refleks batuk dan menelan kembali pulih,
yang biasanya sekitar 1 sampai 2 jam setelah prosedur. Bila klien sudah dapat
menelan, berikan sehirup air.Bunyi napas dipantau selama 24 jam.Adanya bunyi
napas tambahan atau asimetris harus dilaporkan pada dokter.Dapat terjadi
pneumotoraks setelah bronkoskopi.

A.
B.

Tujuan bronkoskopi diagnostic adalah:


Untuk memeriksa jaringan atau mengumpulkan sekresi
Untuk menentukan lokasi dan keluasan proses patologi dan untuk mendapatkan

C.

contoh jaringan guna menegakkan diagnosis


Menentukan apakah suatu tumor dapat direkresi atau tidak melalui tindakan

bedah
D. Untuk mendiagnosa tempat pendarahan
Jenis gangguan-gangguan yang ada pemeriksaan bronkoskopi:
a)

Kanker laring

: langsung dibawah anastesi umum yaitu metoda primer untuk

mengevaluasi laring. Pertumbuhan tumor dapat mengenai ketiga area dan


b)

penampilannya dapat beragam.


Pneumonia
: sputum dapat dikumpulkan melalui bronkoskopi serat optic
pada pasien yang tidak dapat mengeluarkan sputum atau mengalami pneumonia

c)

setelah minum antibiotic atau ketika dirawat di RS.


Abses paru

2.2.4 ANALISA GAS DARAH


Pengukuran pH darah dan tekanan oksigen dan karbondioksida harus dilakukan
saat menangani pasien dengan masalah pernapasan dan dalam menyesuaikan
terapi oksigen yang diperlukan.Tekanan darah arteri menunjukan derajat
oksigenasi darah dan tekanan karbondioksida arteri, menunjukan keadekuatan
alveolar.

Pemeriksaan gas darah arteri membantu dalam mengkaji tingkat dimana paru-paru
mampu untuk memberikan oksigen yang adekuat dan membuang karbondioksida
serta tingkat dimana ginjal mampu untuk menyerap kembali atau mengekskresi
ion-ion bikarbonat untuk mempertahankan pH darah yang normal.Analisa gas
darah serial juga merupakan indicator sensitive tentang apakah paru mengalami
kerusakan setelah terjadi trauma dada.Gas-gas darah arterididapatkan melalui
fungsi arteri didapatkan melalui fungsi arteri pada arteri radialis, brachialis atau
femoralis atau melalui kateter arteri indwelling.
Jenis gangguan-gangguan yang ada pemeriksaan Analisa Gas Darah(AGD):
a) Bronchitis krnik
=Dapat menunjukan Hipoksia dengan Hiperkapnia
b) Enfisema Paru
= - Mengkaji fungsi ventilasidan pertukaran gas pulmonary
- Menunjukan hipoksia ringan dengan hiperkapnia
c) Asma
= Menunjukan hipoksik selama serangan akut
d) Embolisme paru
= Menunjukan hipoksia dan hiperkapmia

Tabel nilai normal Gas Darah Arteri.


Tes
Po2

Rentang

normal

dewasa
80-100 mmHg

Interpretasi
Meningkat

menandakan

pemberian o2 yang berlebihan


Menurun
= mengindikasikan
penyakit CAL, bronchitis kronis,
Ca bronchus dan paru-paru, cystic
fibrosis, RDS, anemia, ateletaksis

PCO2

atau

35-45 mmHg

penyebab

lain

yang

menyebabkan hipoksia.

pH

7.35-7,45

Meningkat = mengindikasikan
kemungkinanCAL ,

pneumonia,

efek

penggunaan

anastesi

dan

opioid(asidosis respiratori)

Menurun

hiperventilasi

mengindikasikan
atau

alkalosis

respiratori
HCO3

21-28 MLq/L

Meningkat
alkalosis

menandakan

metabolism

atau

respiratori.
Menurun = menandakan asidosis
metabolism atau respiratori

Meningkat = mengindikasikan
kemungkinan asidosis respiratori
sebagai

SaO2

kompensasi

awal

dari

alkalosis metabolism
95-100%

Menurun

mengindikasikan

kemungkinan alkalosis respiratori


sebagai

kompensasi

awal

dari

asidosis metabolism

Menurun

mengindikasikan

kerusakan kemampuan hemoglobin


untuk mengantarkan O2 kejaringan
Referensi :

- ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN


PERNAPASAn PENERBIT: SALEMBA MEDIKA
- KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH, VOL.2 EDISI 8

4. ASUHAN KEPERAWATAN
4.1 Pengkajian Pasien Gangguan Pulmonal
4.1.1 Riwayat Kesehatan
Sebelum

melakukan

pengkajian

fisik,

maka

perawat

perlu

mengumpulkan data riwayat kesehatan. Perawat perlu mengkaji tanda-tanda


distress pernafasan akut sebelum mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Tanda-tanda
distress pernafasan antara lain pasien payah, gelisah, tidak dapat mengikuti
percakapan dan pernafasan gaduh. Bila mendapat pasien seperti ini, segera beri
bantuan bila mungkin lakukan wawancara dengan keluarga untuk mengetahui
masalah/riwayat kesehatan sekarang dan sewaktu pasien sudah tenang,
pengumpulan riwayat kesehatan lengkap dapat dilakukan.
Pengumpulan data riwayat kesehatan dimulai dengan mengamati factorfaktor umum yang mempengaruhi fungsi pernafasan, seperti usia, jenis kelamin,
dan keadaan lingkungan tempat tinggal pasien. Kemudian ajukan pertanyaan yang
berkaitan dengan masalah pernafasan. Data riwayat kesehatan yang dikumpulkan
meliputi : keadaan kesehatan sekarang, kesehatan dulu, kesehatan keluarga,
system fisiologis, perkembangan, pola pemeliharaan kesehatan, serta pola
berhubungan peran (morton, 1996).
Pertanyaan dasar yang berkaitan dengan keadaan kesehatan sekarang
antara lain meliputi pertanyaan tentang keadaan pernapasan (napas pendek), nyeri

dada, batuk, sputum. Pertanyaan untuk mengetahui keadaan kesehatan dulu


meliputi jenis gangguan kesehatan yang baru saja dialami, cidera dan
pembedahan. Untuk mengetahui keadaan kesehatan keluarga dapat diajukan
pertanyaan misalnya adakah anggota keluarga yang menderita empisema, asma,
alergi dan tuberkulosa.
Karena system pernapasan berkaitan dengan system-sistem yang lain
maka untuk pasien yang mengalami gangguan pernafasan perlu diberi pertanyaan
mengenai keadaan system yang lain yang mungkin menunjukkan gejala yang
berkaitan dengan masalah utama, misalnya demam, menggigil, lemah, keringat
dingin malam hari merupakan gejala yang berkaitan dengan tuberkulosa.
Status perkembangan juga merupakan factor yang harus menjadi
pertimbangan dalam mengumpulkan data riwayat kesehatan. Misalnya ibu yang
melahirkan bayi premature perlu ditanya apakah sewaktu hamil mempunyai
masalah-masalah resiko dan apakah usia kehamilan cukup. Ini penting karena bayi
premature dapat memiliki gangguan perkembangan system pernafasan sewaktu
lahir. Pada usia lanjut perlu ditanya apakah ada perubahan pola nafas, cepat lelah
sewaktu naik tangga, sulit bernafas sewaktu berbaring, atau apakah bila flu
sembuhnya lama. Ini penting diajukan karena pasien usia lanjut mudah
mengalami gangguan pernafasan karena adanya keterbatasan dinding dada dan
kelemahan otot pernafasan. Perubahan system imunitas juga menyebabkan usia
lanjut mudah mengalami flu dan infeksi
Data pola pemeliharaan kesehatan diperoleh dengan memberi pertanyaan
pada pasien tentang pekerjaan, obat yang tersedia di rumah, pola tidur-istirahat
dan stress.
Untuk mengetahui pola peranan-kekerabatan maka pasien ditanya
adakah pengaruh dari gangguan/penyakitnya terhadap dirinya dan keluarga, serta
apakah gangguan yang dialami mempunyai pengaruh terhadap peran sebagai
istri/suami, dan dalam melakukan hubungan seksual.
Referensi: Priharjo, Robert. 1996. Pengkajian Fisik Keperawatan. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC

Setiawati, Santun. 2007. Panduan Praktis Pengkajian FisikKeperawatan.


Jakarta : Trans Info Medika.