Anda di halaman 1dari 30

Diagram Conteks Siklus Produksi

Penjelasan :

Siklus pendapatan, yang memberikan informasi tentang


produk
apa
yang
dipesan
dan ramalan penjualan
(kuantitas), yang akan digunakan oleh bagian produksi
untuk menyusun rencana produksi dan jumlah persediaan.
Sebaliknya siklus produksi memberikan informasi kepada
siklus pendapatan tentang produk apa saja yang telah
selesai dibuat dan jumlah produk yang tersedia untuk
dijual.

Informasi tentang bahan baku dikirim ke siklus


pembelian dalam bentuk surat permintaan pembelian ,
sebaliknya siklus pembelian juga memberikan informasi
tentang bahan baku yang dibeli dan pengeluaran lain yang
terhasuk dalam overhead pabrik.

Informasi tentang kebutuhan tenaga kerja dikirimkan


ke system manajemen sumber daya manusia/penggajian
yang nantinya akan memberikan data tentang tersedianya
tenaga kerja dan biayanya.Informasi tentang harga pokok
produksi dikirimkan ke siklus buku besar dan pelaporan

Pengertian Siklus Produksi


Siklus Produksi adalah serangkaian aktifitas bisnis dan kegiatan
pengolahan data yang berkaitan dengan proses pembuatan produk dan
terjadi secara terus-menerus. Keberadaan system informasi akuntansi
sangat penting dalam siklus produksi, dengan system informasi akuntansi
membantu menghasilkan informasi biaya yang tepat dan waktu kerja
yang jelas untuk dijadikan masukan bagi pembuat keputusan dalam
perancanaan produk atau jasa yang dihasilkan, berapa harga produk
tersebut, dan bagaimana perencanaan penyerapan dan alokasi sumber
daya yang diperlukan, dan yang sangat penting adalah bagaimana

merencanakan dan mengendalikan biaya produksiserta evaluasi kinerja


terhadap produktifitas yang dihasikan.
Kegiatan Siklus produksi
Peranan akuntan perusahaan dalam kegiatan siklus produksi
umumnya berada pada siklus akuntansi biaya, namun peranan lain tetap
dituntut kepada mereka untuk saling berkoordinasi dengan siklus lain.

Arus informasi yang yang masuk ke siklus produksi dari siklus lain, yaitu:

Siklus pendapatan menyediakan informasi mengenai


order customer dan perkiraan penjualanuntuk
digunakan dalam perencanaan produksi dan
persediaan.

Siklus pengeluaran menyediakan informasi untuk


memperoleh bahan mentah dan mengontrol
pengeluaran lain yang termasuk overhead pabrik.

Siklus penggajian menyediakan informasi tentang


biaya karyawan dan ketersediaannya,

Arus informasi yang datang dari siklus pengeluaran adalah

Siklus pendapatan menerima informasi dari siklus produksi


tentang barang jadi yang tersedia untuk dijual.

Siklus pengeluaran menerima informasi tentang kebutuhan akan


bahan mentah.

Siklus penggajian menerima informasi tentang tersedianya tenaga


kerja.

Buku besar dan sistem pelaporan menerima informasi tentang


harga pokok produksi.

Peran SIA dalam Siklus Produksi

Bauran produk
apa yang ingin diproduksi

Produk

Penetapan harga produk


HPP sampai produk selesai dibuat

Berapa

Alokasi dan perencanaan sumber daya (contoh apakah membuat


atau membeli)
Apakah jita akan
membeli produk lalu dijual / membuat / memproduksi sendiri lalu
dijual

Manajemen Biaya
Merencanakan / mengalokasikan biaya - biaya yang timbul.

PROSEDUR SIKLUS PRODUKSI


Fungsi ketiga dari SIA adalah untuk memberikan informasi yang
berguna untuk mengambilan keputusan. Dalam siklus produksi, informasi
biaya adalah dibutuhkan oleh para pemakai internal dan eksternal.
Kebanyakan sistem akuntansi biaya awalnya telah didesain untuk
memenuhi permintaan pelaporan keuangan.
PENGENDALIAN SIKLUS PRODUKSI
Fungsi kedua dari SIA dirancang dengan baik adalah untuk
memberikan pengendalian yang cukup untuk memastikan bahwa tujuantujuan tersebut terpenuhi :
1. Semua produksi dan perolehan aktiva tetap diotorisasi dengan baik.
2. Persediaan barang dalam proses dan aktiva tetap dijaga keamanannya.
3. Semua transaksi siklus produksi yang valid dan sah akan dicatat.
Aktivitas Siklus Produksi
Terdapat empat aktivitas dasar dalam siklus produksi, yaitu :
1. Desain Produk
Langkah pertama dalam siklus
produksi adalah desainproduk, tujuan aktivitas ini adalah untuk
merancang sebuah produk yang memenuhi permintaan dalam hal
kualitas, ketahanan, dan fungsi, dan secara simultan meminimalkan biaya

produksi.Aktivitas desain produk menciptakan dua dokumen utama, yaitu


pertama, daftar bahan baku yang menyebutkan nomor bahan baku,
deskripsi, serta jumlah masing-masing komponen bahan baku yang
digunakan dalam satu unit produk jadi. Kedua, daftar operasi yang
menyebutkan kebutuhan tenaga kerja dan mesin yang diperlukan untuk
memproduksi produk tersebut. Peran akuntan harus terlibat dalam desain
produk karena 65 hingga 80 persen biaya produk ditentukan pada tahap
proses produksi ini. Para akuntan dapat memberikan informasi yang
menunjukkan bagaimana berbagai desain dapat mempengaruhi biaya
produksi suatu lini produk-produk yang berkaitan dengan meningkatkan
jumlah komponen bersama yang digunakan dalam masing-masing
produk. Dengan memberikan data mengenai biaya perbaikan dan jaminan
yang terkait dengan produk yang ada dapat berguna untuk mendesain
produk yang lebih baik.
2. Perencanaan dan Penjadwalan
Langkah kedua dalam siklus produksi adalah perencanaan dan
penjadwalan, tujuan dari langkah ini adalah mengembangkan rencana
produksi yang cukup efisien untuk memenuhi pesanan yang ada dan
mengantisipasi permintaan jangka pendek tanpa menimbulkan kelebihan
persediaan barang jadi.Terdapat dua metode perencanaan produksi yang
umum
digunakan
adalah Perencanaan
sumber
daya
produksi
(manufacturing resource planning = MRP-II) dan Sistem produksi Just-intime (JIT). MRP-II adalah kelanjutan dari perencanaan sumber daya bahan
baku yang mencari keseimbangan antara kapasitas produksi yang ada
dan kebutuhan bahan baku untuk memenuhi perkiraan permintaan
penjualan. Sistem MRP-II sering disebut sebagai push manufacturing,
karena barang diproduksi sebagai ekspetasi atas permintaan pelanggan.
Sedangkan Just-in-time (JIT)memperluas prinsip sistem pengendalian
persediaan untuk seluruh proses produksi. Tujuan produksi JIT adalah
meminimalkan atau meniadakan persediaan bahan baku, barang dalam
proses, dan barang jadi. JIT sering kali disebut sebagai pull manufacturing,
karena barang diproduksi sebagai tanggapan atas permintaan pelanggan.
Jadi hanya berproduksi sebagai tanggapan atas pesanan pelanggan.
Jadwal Induk Produksi (master production schedule - MPS)
menspesifikasikan seberapa banyak produk akan diproduksi selama
periode
perencanaan
dan
kapan
produksi
tersebut
harus
dilakukan. Permintaan bahan baku mensahkan pengeluaran jumlah bahan
baku yang dibutuhkan dari gudang ke lokasi pabrik, tempat bahan
tersebut dibutuhkan. Dokumen ini berisi nomor perintah produksi, tanggal
pembuatan, dan berdasarkan pada daftar bahan baku, nomor baarang
serta jumlah semua bahan baku yang dibutuhkan. Perpindahan
selanjutnya dari bahan baku di sepanjang pabrik akan didokumentasikan
dalam dalam kartu perpindahan, yang mengidentifikasikan bagian
bagian yang di pindahkan, lokasi perpindahannya serta waktu
perpindahan.Peran akuntan dalam aktivitas ini memastikan bahwa SIA
mengumpulkan dan melaporkan biaya secara konsisten dengan teknik
perencanaan produksi perusahaan. Para akuntan juga
membantu

perusahaan memilih antara MRP-II atau JIT untuk melihat manakah yang
lebih tepat untuk perencanaan dan penjadwalan produksi perusahaan.
3. Operasi Produksi
Langkah ketiga dalam siklus produksi adalah produksi
aktual dari produk. Cara aktivitas ini dicapai sangat berbeda di berbagai
perusahaan, perbedaan tersebut berdasarkan jenis produk yang
diproduksi dan tingkat otomatisasi yang digunakan dalam proses
produksi. Penggunaan berbagai bentuk Teknologi Informasi dalam proses
produksi, seperti mesin yang dikendalikan oleh komputer, disebut
sebagai computer-intergrated manufacturing (CIM) untuk mengurangi
biaya produksi.Para akuntan tidak diminta untuk menjadi ahli dalam
setiap segi CIM, tetapi mereka harus memahami bagaimana hal tersebut
mempengaruhi SIA. Salah satu pengaruh CIM adalah pergeseran dari
produksi massal ke produksi sesuai pesanan.
Walau sifat proses produksi dan keluasan CIM dapat berbeda
diberbagai perusahaan, namun setiap perusahaan membutuhkan data
mengenai empat segi berikut yaitu bahan baku yang digunakan, jam
tenaga kerja yang digunakan, operasi mesin yang dilakukan serta biaya
overhead produksi lainnya yang terjadi.
4. Akuntansi Biaya
Langkah terakhir dalam siklus produksi adalah
akuntansi biaya.
Terdapat tiga tujuan dasar dari sistem akuntansi biaya yaitu :

Memberikan informasi untuk perencanaan, pengendalian, dan


penilaian kinerja dari operasi produksi. SIA didesain untuk
mengumpulkan data real-time mengenai kinerja aktivitas produksi
agar pihak manajemen dapat membuat keputusan tepat waktu.

Memberikan data biaya yang akurat mengenai produk untuk


digunakan dalam menetapkan harga serta keputusan bauran
produk. SIA mengumpulkan biaya berdasarkan berbagai kategori
dan kemudian membebankan biaya tersebut ke produk & unit
organisasi tertentu .

Mengumpulkan dan memproses informasi yang digunakan untuk


menghitung persediaan serta nilai harga pokok penjualan yang
muncul di laporan keuangan perusahaan.

Sebagaian besar perusahaan menggunakan


perhitungan biaya pesanan dan proses untuk membebankan
biaya produksi. Perhitungan biaya pesanan membebankan biaya ke
batch produksi tertentu, atau pekerjaan tertentu dan digunakan
ketika produk atau jasa yang dijual terdiri dari bagian-bagian yang dapat

di identifikasikan secara terpisah. Sebaliknya, Perhitungan biaya


prosesmembebankan biaya ke setiap proses, dan kemudian menghitung
biaya rata-rata untuk semua unit yang diproduksi. Digunakan
ketika produk atau jasa yang hampir sama diproduksi dalam jumlah
massal dan unit terpisah tidak dapat dengan mudah diidentifikasi.
Pilihan perhitungan biaya berdasarkan pesanan atau proses
hanya mempengaruhi metode yang digunakan untuk membebankan
biaya-biaya tersebut ke produk, bukan pada metode pengumpulan
data. Kedua sistem tersebut membutuhkan akumulasi dan
mengenai empat jenis biaya :
a.
Bahan Baku
Ketika produksi dimulai, pengeluaran permintaan bahan baku
memicu debit barang dalam proses untuk bahan baku yang dikirim ke
bagian produksi..
b.
Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)
Kartu waktu kerja adalah sebuah dokumen kertas yang digunakan
untuk mengumpulkan data mengenai aktivitas pekerja. Dokumen ini
mencatat jumlah waktu yang digunakan seorang pekerja untuk setiap
tugas pekerjaan tertentu. Para pekerja memasukkan data ini dengan
menggunakan terminal online di setiap bengkel kerja pabrik.
c.
Mesin dan Peralatan
Ketika perusahaan mengimplementasikan CIM untuk
mengotomatisasi proses produksi, proporsi yang lebih besar dari biaya
produksi berhubungan dengan mesin dan peralatan yang digunakan untuk
membuat produk tersebut.
d.
Overhead Pabrik
Yaitu semua biaya produksi yang tidak secara ekonomis layak untuk
ditelusuri secara langsung ke pekerjaan atau proses tertentu.
Untuk Aktiva tetap SIA juga dapat mengumpulkan informasi
mengenai gedung, pabrik, dan peralatan yang digunakan dalam siklus
produksi. Aktiva tetap harus diberi kode garis untuk memungkinkan
pembaruan yang cepat dan periodik atas database aktiva tetap. Informasi
minimum yang seharusnya dijaga mengenai aktiva tetapnya yaitu Nomor
identifikasi, Nomor seri, Lokasi,Biaya, Tanggal perolehan, Nama dan
alamat pemasok,Umur yg diharapkan, Nilai sisa yang diharapkan,Metode
penyusutan, Beban penyusutan ke tanggal,Perbaikan dan Kinerja service
pemeliharaan.

v
v
v
v
v
v

Tujuan Siklus Produksi


Adapun tujuan siklus produksi :
Semua produksi dan perolehan aktiva tetap diotorisasi dengan baik.
Persediaan barang dalam proses dan aktiva tetap dijaga keamanannya.
Semua transaksi siklus produksi yang valid dan sah akan dicatat.
Semua transaksi siklus produksi dicatat dengan akurat.
Catatan yang akurat dipelihara dan dilindungi dari kehilangan.
Aktivitas siklus produksi dilakukan secara efisien dan efektif.
Ancaman dan Prosedur Pengendalian yang dilakukan dalam
setiap aktivitas produksi

Proses /
Aktifitas
Desain Produk

Ancaman

Perencanaan
dan
penjadwalan

Kelebihan produksi atau


kekurangan produksi
Investasi yang tidak
optimal dalam aktiva
tetap
Pencurian dan
perusakkan persediaan
dan aktiva tetap

Operasi
produksi

Desain produk yang


kurang baik

Akuntansi
Biaya

Kesalahan pencatatan
dan memasukkan data
mengakibatkan data
biaya yang tidak akurat.

Ancaman
umum

Hilangnya data,
Kinerja yang kurang
baik

Prosedur Yang Dapat di


Terapkan Dalam
Perbaiki informasi
tentang pengaruh desain
produk atas biaya.
Data terinci mengenai
biaya jaminan dan
produk.
Sistem perencanaan
produksi yang lebih baik
Tinjau dan setujui
perolehan aktiva tetap;
pengendalian anggaran
Batasi akses fisik ke
persediaan dan aktiva
tetap
Dokumentasikan semua
perpindahan persediaan
sepanjang proses
produksi
Identifikasi semua aktiva
tetap
Dokumentasi yang
memadai dan tinjau
semua transaksi yang
melibatkan pembuangan
aktiva tetap
Pengendalian edit entri
data; penggunaan
pemindai kode garis jika
memungkinkan;
rekonsiliasi jumlah yang
tercatat dengan
perhitungan fisik secara
periodik
Buat cadangan dan
perencanaan pemulihan
dari bencana; batasi
akses ke data biaya.
Pelaporan yang lebih baik
dan tepat waktu.

Keterkaitan siklus produksi dengan siklus lainnya dalam proses


bisnis(dengan siklus pendapatan,pengeluaran,siklus SDM,dan
sistem buku besar dan pelaporan)

Sistem informasi siklus pendapatan memberikan


informasi(pesanan pelanggan dan prediksi penjualan) yang digunakan
untuk merencanakan produksi serta tingkat persediaan. Sebaliknya
sistem informasi siklus produksi mengirimkan informasi ke siklus
pendapatan mengenai barang jadi yang telah dibuat dan tersedia untuk
dijual.informasi mengenai kebutuhan bahan baku dikirim ke sistem
informasi siklus pengeluaran dalam bentuk formulir permintaan
pembelian. Sebagai gantinya sistem informasi siklus pengeluaran
memberikan informasi mengenai perolehan bahan baku dan informasi
pengeluaran lain yang dimasukan kedalam overhead pabrik. Informasi
mengenai tenaga kerja yang dibutuhkan akan dikirim ke siklus sumber
daya manusia,yang selanjutnya akan memberikan data mengenai biaya
dan ketersediaan tenaga kerja. Terakhir mengenai informasi mengenai
harga pokok penjualan akan dikirim ke sistem informasi buku besar dan
pelaporan.
Contoh Kasus
PT Gadjah Sakti adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang
percetakan dengan menggunakan metode harga pokok pesanan. Pada
bulan September 2004 perusahaan mendapat pesanan untuk mencetak
kartu undangan sebanyak 2400 lembar dari PT Restu dengan harga yang
dibebankan adalah Rp. 2000 per lembar ,- . Pada bulan yang sama
perusahaan juga menerima pesanan sebanyak 100 spandoek dari PT
Insani dengan harga Rp. 200.000 per buah. Pesanan dari PT Restu diberi
nomor KU-01 dan pesanan dari PT Insani diberi nomor SP-02.
Data Kegiatan dan Produksi
1.
Pada tanggal 4 September 2004 dibeli bahan baku dan penolong
dengan cara kredit yakni sebagai berikut :
Bahan baku
Kertas untuk undangan
1.350.000
Kain putih 600 meter

Rp. 4.125.000

Bahan penolong
Bahan penolong X1
Bahan penolong X2

Rp. 300.000
Rp. 170.000

Rp.

2.
Dalam pemakaian bahan baku dan penolong untuk mem proses
pesanan KU-01 dan SP-02 diperoleh informasi sebagai berikut :
Bahan baku kertas dan bahan penolong X2 digunakan untuk memproses
pesanan no KU-01, sedangkan bahan baku kain dan bahan penolong X1
dipakai untuk memproses pesanan no SP-02

3.
Untuk penentuan biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh
departemen produksi menggunakan dasar jam tenaga kerja langsung
dengan perhitungan sbb;
Upah langsung untuk pesanan KU-01 180 jam a. Rp.5000 dan upah
langsung untuk pesanan SP-02 menghabiskan sebanyak 1000 jam a.
Rp.5000,-. Se- dangkan untuk upah tidak langsung adalah Rp. 2,9 juta.
Untuk gaji karyawan Bagian pemasaran dikeluarkan sebesar Rp.
7.500.000,- dan gaji karyawan administrasi dan umum Rp. 4.000.000,4.
Pencatatan Biaya Overhead Pabrik. Perusahaan dalam hal ini
menggunakan tarif BOP sebesar 160 % dari biaya tenaga kerja langsung,
baik pesanan KU-01 dan SP-02.
Biaya overhead pabrik sesungguhnya terjadi dalam kaitannya dengan
pesanan di atas, adalah sebagai berikut
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya

pemeliharaan gedung
depresiasi gedung pabrik
depresiasi mesin
pemeliharaan mesin
asuransi gedung pabrik dan msn

Rp.

500.000
Rp. 2.000.000
Rp. 1.500.000
Rp. 1.000.000
Rp. 700.000

5.
Pencatatan harga pokok produk jadi. Berdasarkan informasi untuk
pesanan no KU-01 telah selesai dikerja kan
6.
Pencatatan harga pokok produk dalam proses. Berdasarkan
informasi diketahui bahwa untuk pesanan no SP-02 masih dalam proses
penyelesaian.
7.
Pencatatan harga pokok produk yang dijual. Pesanan no KU-01 telah
diserahkan kepada pemesan. Dan dari penyerahan tersebut pemesan
akan membayar dengan cara kredit.
Ancaman yang kemungkinan akan timbul pada kasus diatas yaitu
kemungkinan adanya kesalahan dalam pencatatan dan masukan data
yang kemungkinan tidak akurat. Prosedur pengendalian terbaik adalah
dengan mengotomasikan pengumpulan data dengan menggunakan
pemindai kode garis,pembaca kartu dan alat lainnya. Ketika semua hal
itu tidak memungkinkan untuk dilakukan,terminal on line haras digunakan
untuk entri data. Passwor dan ID pemakai harus digunakan untuk akses
hanya ke pegawai yang berhak saja.
Sumber: http://tkristyana.mhs.uksw.edu/2013/07/penjelasan-siklusproduksi.html
http://joejoe.blogdetik.com/2011/12/23/siklus-produksi/
http://cnuraini.mhs.uksw.edu/2013/06/tugas-6-ppb.html

BAB II
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PRODUKSI
2.1
Sistem
Sistem adalah kumpulan komponen
komponen yang didalamnya juga
terdapat subsistem
subsistem yang lebih kecil yang saling berkaitan satu dengan
yang lainnya dan saling berinteraksi untuk mencapai tujuan. Didalam
suatu sistem
tersebut terdapat proses yang ter
diri dari masukan/
input
, proses itu sendiri, dan
keluaran/
output
. Penjelasan sistem di
atas didukung oleh Romney dan Steinbart
(2012), Sistem merupakan kumpulan dua atau lebih komponen yang
saling
terkait dan berinteraksi untuk mencapai tujuan. Sistem h
ampir selalu terdiri dari
subsistem
subsistem yang lebih kecil, yang masing
masing memiliki fungsi
tersendiri untuk mendukung sistem yang lebih besar. Selain itu dalam
Wilkinson
et al (2000), Sistem merupakan gabungan dari bagian
bagian fungsi yang salin
g
berinteraksi satu sama lain yang secara bersama
sama mencapai tujuan yang
dinginkan. Setiap sistem memiliki sebuah ikatan yang memisahkan
mereka pada
lingkungan. Sistem yang terbuka menerima
input
(masukan) dari lingkungannya
dan menyediakan
output

(kelu
aran) kepada lingkungan.
2.2
Karakteristik Sistem
Suatu sistem memiliki sifat
sifat khusus atau karakteristik. Menurut
Jogiyanto (1997), karakteristik atau sifat
sifat yang dimiliki oleh suatu sistem
adalah sebagai berikut:
10
1.
Komponen Sistem (
components
)
Suatu
sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang
artinya saling bekerjasama membentuk satu kesatuan.
2.
Batas Sistem (
boundary
)
Batas sistem merupakan daerah yang membatasi antara suatu sistem
dengan
sistem yang lainnya atau dengan lingku
ngan luarnya. Batas sistem
menunjukkan ruang lingkup (
scope
) dari sistem tersebut.
3.
Lingkungan Luar Sistem (
environments
)
Lingkungan luar dari suatu sistem adalah apapun itu di luar batas dari
sistem
yang mempengaruhi operasi sistem.
4.
Penghubung Sistem (
interface
)
Penghubung merupakan media penghubung antara satu subsistem
dengan
subsistem yang lainnya. Dengan penghubung satu subsistem dapat
berintegrasi dengan subsistem yang lainnya membentuk satu kesatuan.
5.
Masukan Sistem (
input
)

Masukan sistem adalah


energy yang dimasukkan ke dalam sistem. Masukan
dapat berupa masukan perawatan (
maintenance input
) dan masukan sinyal
(
signal input
).
Maintenance input
adalah energy yang dimasukkan supaya
sistem tersebut dapat beroperasi.
Signal input
adalah energy yang d
iproses
untuk didapatkan keluaran.
6.
Keluaran Sistem (
output
)
Keluaran adalah hasil dari energy yang diolah dan diklasifikasikan menjadi
keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.
11
7.
Pengolahan Sistem (
process
)
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah
atau sistem itu sendiri
sebagai pengolahnya. Pengolah yang akan mengubah masukan menjadi
keluaran.
8.
Sasaran sistem (
objectives
)
Sasaran dari sistem sangat menentukan masukan yang dibutuhkan sistem
dan
keluaran yang akan dihasilkan sistem. Suatu sistem dika
takan berhasil bila
mengenai sasaran dan tujuannya.
2.3
Informasi
Suatu sistem yang kurang mendapatkan informasi akan menjadi luruh,
kerdil dan akhirnya berakhir. Oleh karena itu, informasi sangat penting
bagi suatu
sistem dalam organisasi. Informasi adalah d
ata yang diolah menjadi bentuk yang

lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya. Informasi juga
dapat
diartikan sebagai data yang telah diproses untuk menyediakan makna
untuk user
(Romney dan Steinbart, 2012).
Sumber dari informasi adalah data. D
ata adalah kenyataan yang
menggambarkan suatu kejadian
kejadian dan kesatuan nyata. Kejadian
kejadian
(
event
) adalah sesuatu yang terjadi pada saat tertentu, seperti perub
ahan dari suatu
nilai (
transaction
). Kesatuan nyata (
fact dan entity
) adalah berupa s
uatu objek
nyata, seperti tempat, benda dan orang yang benar
benar ada.
12
2.3.1
Kualitas
I
nformasi
Informasi dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk pengambilan
keputusan jika kualitas dari informasi tersebut adalah baik. Terdapat tiga
hal
yang
menentukan kualitas informasi, yaitu informasi harus akurat (
accurate
),
tepat pada waktunya (
timely basis
) dan relevan (
relevance
).
Akurat, berarti informasi harus bebas dari kesalahan
kesalahan dan
tidak bias atau menyesatkan. Akurat juga berarti informas
i harus jelas
mencerminkan maksudnya. Informasi harus akurat karena dari sumber
informasi sampai ke penerima informasi kemungkinan banyak terjadi

gangguan (
noise
) yang dapat merubah atau merusak informasi tersebut.
Tepat pada waktunya, berarti informasi ya
ng datang pada penerima
tidak boleh terlambat, informasi yang sudah usang tidak akan mempunyai
nilai
lagi, karenanya informasi merupakan landasan di dalam pengambilan
keputusan apabila pengambilan keputusan terlambat maka akan
berakibat fatal
untuk organis
asi.
Relevan, berarti informasi tersebut mempunyai manfaat untuk
pemakainya,relevansi informasi untuk tiap
tiap orang berbeda.
2.3.2
Nilai
I
nformasi
Nilai dari informasi (
value of information
) ditentukan dari dua hal,
yaitu manfaat dan biaya mendapatkannya. Suatu informasi dikatakan
bernilai
bila manfaatnya lebih efektif dibandingkan dengan biaya
mendapatkannya.
Kegunaan informasi adalah untuk mengurangi hal ketidakpastian dalam
proses
13
pengamb
ilan keputusan tentang sesuatu keadaan. Sebagian besar informasi
tidak dapat ditaksirkan keuntungannya dengan suatu nilai uang, tetapi
dapat
ditaksir nilai efektivitasnya. Pengukuran nilai investasi biasanya
dihubungkan
dengan analisis cost effectiveness a
tau cost
benefit.
2.4
Sistem informasi
Akuntansi memiliki berbagai segi pengertian. Dilihat dari penjabaran
kegiatan akuntansi, akuntansi merupakan sebuah sistem informasi itu
sendiri.
Akuntansi menggunakan berbagai susunan tahap operasi untuk
menghasilkan
in

formasi yang diinginkan. Rangkaian tahap tersebut meliputi pencatatan


datadata
ekonomi/ pengumpulan data (
data collection
), penyimpanan data (
data
maintenance
), dan pendistribusian informasi keuangan yang bersifat kuantitatif
(
information generation
).
Akun
tansi juga merupakan pemuas kebutuhan setiap organisasi yang
berupa informasi keuangan itu sendiri. Beberapa hal dalam informasi
keuangan
secara instan merefleksikan hasil kegiatan perusahaan dalam periode
akuntansi
tertentu. Informasi keuangan juga menyaj
ikan status aset dan ekuitas pada masa
tertentu. Informasi inilah yang diinginkan berbagai pihak pengguna
informasi
akuntansi, baik pengguna internal maupun eksternal, untuk digunakan
dengan
berbagai tujuan.
Dari penjelasan mengenai sistem informasi dan ak
untansi di atas, dapat
disimpulkan bahwa Sistem Informasi Akuntansi merupakan suatu struktur
dalam
sebuah perusahaan yang menggunakan sumber daya fisik dan komponen
22
lain
lain
Tujuan penting dari sistem perhitungan biaya manapun
adalah untuk
menentukan biaya dari barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu
kegiatan
bisnis. Sistem perhitungan biaya sebaiknya ekonomis untuk dioperasikan
dan
membebankan sejumlah biaya ke setiap produk sedemikian rupa
sehingga
mencerminkan dengan waja
r biaya dari sumber daya yang digunakan untuk
memproduksi produk tersebut.
Menurut Carter dan Usry(2004) sistem
perhitungan biaya dibedakan menjadi dua jenis, yakni sebagai berikut :
A.
Sistem Perhitungan Biaya berdasarkan Pesanan (

Job Order Costing


)
Suatu
bisnis yang didalam operasinya didasarkan atas proses,
memproduksi suatu produk yang sangat banyak dan berbeda satu dengan
yang
lainnya, produk khusus atau yang dibuat menurut pesanan termasuk
didalam
kategori ini termasuk juga bisnis yang menyediakan prod
uk yang berbeda kepada
setiap pelanggan. Dalam sistem perhitungan ini, biaya produksi
diakumulasikan
untuk setiap pesanan yang terpisah, tiap
tiap pesanan diidentifikasikan secara
terpisah sehingga mudah untuk dibedakan.
Perhitungan biaya berdasarkan pesan
an mengakumulasikan biaya bahan
baku langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead yang dibebankan ke
setiap
pesanan. Sebagai hasilnya perhitungan biaya berdasarkan pesanan dapat
dipandang dalam tiga bagian yang saling berhubungan. Akuntansi bahan
baku
mem
elihara catatan persediaan bahan baku, membebankan bahan baku
langsung
ke pesanan, dan membebankan bahan baku tidak langsung ke overhead.
Akuntansi tenaga kerja memelihara akun
akun yang berhubungan dengan beban
23
gaji, membebankan tenaga kerja langsung ke p
esanan, dan membebankan tenaga
kerja tidak langsung ke overhead. Akuntansi overhead mengakumulasi
biaya
overhead, memelihara catatan terinci atas overhead, dan membebankan
sebagian
dari overhead ke setiap pesanan.
B.
Sistem Perhitungan Biaya Berdasarkan Prose
s(
Process Costing
)
Dalam perusahaan manufaktur, produksi dapat terjadi di beberapa
departemen. Setiap departemen melakukan suatu operasi tertentu yang
mengarah
pada penyelesaian produk. Pada sistem perhitungan biaya berdasarkan
proses,
bahan baku, tenaga

kerja dan overhead pabrik umumnya dibebankan ke


departemen produksi; tetapi, jika suatu departemen dibagi menjadi
beberapa pusat
biaya, perhitungan biaya berdasarkan proses tetap dapat digunakan,
selama unit
unit produk yang dihasilkan dalam pusat biaya se
lama periode tersebut masih
bersifat homogen.
Perhitungan biaya berdasarkan proses lebih praktis dikarenakan secara
umum dalam perhitungan biaya berdasarkan proses membutuhkan
pencatatan
yang lebih sedikit, dan pencatatan yang lebih sedikit berarti mudah u
ntuk
dioperasikan. Dalam perhitungan biaya berdasarkan proses, biaya yang
dibebankan hanya ke departemen produksi oleh karenanya jarang sekali
memiliki
lebih dari lima sampai sepuluh departemen produksi dalam satu fasilitas
manufaktur, dimana masing
masing
hanya membutuhkan satu catatan terpisah
untuk setiap departemen.
Suatu produk dapat berpindah di berbagai departemen dalam suatu
manufaktur dengan berbagai cara; ada tiga bentuk aliran produksi fisik
yang
24
berhubungan dengan perhitungan biaya berdasarkan p
roses adalah
a.
Aliran Produk Berurutan (
Sequential Product Flow
)
Dalam aliran produk berurutan, setiap produk diproses dalam urutan
langkah
langkah yang sama.
b.
Aliran Produk Paralel (
Parallel Product Flow
)
Dalam aliran produk parallel, bagian tertentu dari p
ekerjaan secara simultan
dan kemudian disatukan dalam satu atau lebih proses final untuk
diselesaikan
dan ditransfer ke barang jadi.
c.
Aliran Produk Selektif (
Selective Product Flow

)
Dalam aliran produk selektif, produk berpindah ke departemen
departemen
ber
beda dalam suatu pabrik, bergantung pada produk final yang dihasilkan.
2.5.1
Fungsi yang terkait dalam siklus produksi
Siklus produksi di dalam perusahaan melibatkan fungsi penjualan,
fungsi
produksi,
fungsi
perencanaan dan pengawasan produksi, , fungsi gudang, dan
fungsi akuntansi biaya
; yakni
(Mulyadi
,
200
1
)
:
1.
Fungsi penjualan, dalam perusahaan yang berproduksi secara massa,
order
produksi umumnya ditentukan bersama dalam rapat bulanan antara
fungsi
pemasaran dan fungsi produksi. Fungsi penjualan melayani order dari
langganan berdasarkan persediaan produk jadi yang ada di gudang.
2.
Fungsi produksi, fungsi ini bertanggung jawab atas pembuatan perintah
produksi bagi fungsi
fungsi yang ada di bawahnya yang
akan terkait dalam
pelaksanaan proses produksi guna memenuhi permintaan produksi dari
fungsi
penjualan.
Dalam perusahaan yang besar, fungsi produksi biasanya dibantu
oleh fungsi perencanaan dan pengawasan produksi dalam pembuatan
order
produksi tersebut.
Order produksi tersebut dituangkan dalam bentuk tertulis
dalam dokumen yang disebut surat order produksi. Surat order produksi
ini
dilampiri dengan surat kebutuhan bahan dan daftar kegiatan produksi.
Fungsi
ini bertanggung jawab atas pelaksanaan produksi s
esuai dengan surat order
produksi dan daftar kebutuhan bahan serta daftar kegiatan produksi yang

melampiri surat order produksi tersebut.


3.
Fungsi perencanaan dan pengawasan produksi,
fungsi ini merupakaan fungsi
staff yang membantu fungsi produksi dalam mer
encanakan dan mengawasi
kegiatan produksi. Perencanaan produksi diwujudkan dalam perhitungan
rencana kebutuhan bahan dan peralatan yang akan digunakan untuk
memproduksi pesanan yang diterima dari fungsi penjualan. Rencana
produksi
dituangkan oleh fungsi in
i dalam dokumen daftar kebutuhan bahan dan daftar
kegiatan produksi.
4.
Fungsi gudang,
fungsi ini bertanggung jawab atas pelayanan permintaan
bahan baku, bahan penolong dan barang lain yang digudangkan. Fungsi
ini
juga bertanggung jawab untuk menerima produk
jadi yang diserahkan oleh
fungsi produksi.
5.
Fungsi akuntansi biaya
, fungsi ini bertanggung jawab untuk mencatat
konsumsi berbagai sumber daya yang digunakan untuk memproduksi
pesanan. Pencatatan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan
biaya
overh
ead pabrik untuk pesanan tertentu dilakukan
oleh fungsi ini dalam kartu
6
harga pokok produk. Biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi
dicatat oleh fungsi ini dalam kartu biaya.
2.5.2
Dokumen yang Digunakan
Dokumen yang digunakan dalam siklus produksi ada
lah
(Mulyadi, 200
1
)
:
1.
Surat order produksi, dokumen ini merupakan surat perintah yang
dikeluarkan oleh departemen produksi yang ditujukan kepada bagian
bagian
yang terkait dengan proses pengolahan produk untuk memproduksi
sejumlah
produk dengan

spesifikasi, cara produksi, fasilitas produksi, dan jangka waktu


seperti yang tercantum dalam surat order produksi tersebut.
2.
Daftar kebutuhan bahan
, dokumen ini merupakan daftar jenis dan kuantitas
bahan baku yang diperlukan untuk memproduksi pr
oduk sepert
i yang
tercantum dalam surat order produksi.
3.
Daftar kegiatan produksi
, dokumen ini merupakan daftar urutan jenis
kegiatan dan fasilitas mesin yang diperlukan untuk memproduksi
produk
seperti yang tercantum dalam surat order produksi.
4.
Bukti permintaan dan p
engeluaran barang gudang
, dokumen ini digunakan
oleh fungsi produksi untuk meminta bahan baku dan bahan penolong
untuk
memproduksi produk yang tercantum dal surat order produksi, dokumen
ini
juga berfungsi sebagai bukti pengeluaran barang dari gudang.
5.
Bukti pengembalian barang gudang
, dokumen ini digunakan untuk
mengembalikan bahan baku dan bahan penolong ke fungsi gudang, ini
dikarenakan adanya sisa bahan baku dan bahan penolong yang tidak
dipakai
dalam proses produksi.
6.
Kartu jam kerja
, dokumen ini men
catat jam kerja tenaga kerja langsung yang
dikonsumsi untuk memproduksi produk yang tercantum dalam surat order
produksi.
7.
Laporan produk selesai
, dokumen ini berfungsi untuk memberitahukan
selesainya produksi pesanan tersebut kepada fungsi perencanaan dan
pengawasan produksi, fungsi gudang, fungsi penjualan dan fungsi
akuntansi
persediaan dan fungsi akuntansi biaya.
8.
Bukti memorial (
journal voucher
), dokumen ini digunakan sebagai dasar

pencatatan depresiasi aktiva tetap berwujud, amortisasi sewa dan aktiva


tidak
berwujud, dan pembebanan biaya
overhead
pabrik kepada produk
berdasarkan tarif yang ditentukan di muka.
9.
Bukti kas keluar, dokumen ini digun
akan untuk mencatat biaya
biaya yang
dibayar lewat kas.
2.5.3
Catatan akuntansi yang digunakan dalam siklus produksi
Catatan akuntansi yang digunakan dalam siklu
s produksi adalah
(Mulyadi, 200
1
):
1.
Jurnal pemakaian bahan baku
Jurnal ini merupakan jurnal khusus
yang digunakan untuk mencatat harga
pokok bahan baku yang digunakan dalam produksi.
2.
Jurnal umum
Jurnal ini mencatat tentang transaksi pembayaran gaji dan upah,
depresiasi
28
aktiva tetap, amortisasi aktiva tidak berwujud, dan terpakainya persekot
biaya.
3.
Regis
ter bukti kas keluar
Register bukti kas keluar mencatat biaya overhead pabrik, biaya
administrasi dan umum serta biaya pemasaran yang berupa pengeluaran
kas.
4.
Kartu harga pokok produk
Catatan ini merupakan buku pembantu yang merinci biaya produksi
(biaya
ba
han baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya
overhead
pabrik) yang
dikeluarkan untuk pesanan tertentu. Kartu harga pokok produk
merupakan rincian
rekening control barang dalam proses buku besar.
5.

Kartu biaya
Catatan ini merupakan buku pembantu yang merinci biaya
overhead
pabrik, biaya administrasi dan umum, dan biaya pemasaran.
2.5.4
Jaringan prosedur yang membentuk sistem produksi
dan akuntansi
biaya
Jaringan prosedur yang membentuk sistem produksi
dan akuntansi b
iaya
dalam perusahaan
manufaktur(Mulyadi,200
1
):
1.
Prosedur order produksi
Dalam prosedur ini dilakukan koordinasi pengolahan bahan baku menjadi
produk jadi dengan dikeluarkannya Dokumen Surat Order Produksi oleh
fungsi
produksi berdasarkan order dari pelanggan yang diterima fungsi
penjualan.
Prosedur order produksi dapat dibagi
menjadi prosedur order produksi khusus
29
yang berdasarkan pesanan dan prosedur order produksi berulangkali yang
berproduksi massa untuk memenuhi persediaan.
2.
Prosedur permintaan dan pengeluaran barang gudang.
Prosedur ini digunakan oleh fungsi produksi untuk
meminta bahan baku
dari fungsi gudang. Namun jika perusahaan tidak memiliki fungsi gudang
bagi
persediaan maka dilakukan prosedur permintaan pembelian bahan baku.
Biasanya
permintaan bahan baku didasarkan pada daftar kebutuhan bahan baku
yang dibuat
fungsi
perencanaan dan pengawasan produksi.
3.
Prosedur pencatatan jam kerja
dan pencatatan biaya tenaga kerja langsung
Surat order produksi yang dikeluarkan oleh Departemen Produksi biasanya
dilampiri dengan daftar kebutuhan bahan baku dan daftar kegiatan
produksi
(
operation list
). Daftar kegiatan produksi ini berisi kegiatan yang diperlukan

untuk memproduksi sejumlah produk seperti yang tercantum dalam surat


order
produksi, yang meliputi urutan proses pengolahan mesin yang digunakan,
dan
taksiran waktu kerja karya
wan dan mesin. Pelaksanaan kegiatan seperti yang
tercantum dalam daftar kegiatan produksi tersebut memerlukan prosedur
pencatatan jam tenaga kerja langsung yang dikonsums
i dalam pengolahan order
produks
i yang bersangkutan.
Selain itu prosedur ini juga digu
nakan untuk
mencatat biaya tenaga kerja langsung yang dikonsumsi untuk
mengerjakan order
produksi tertentu atau yang dikeluarkan dalam periode waktu tertentu.
4.
Prosedur produk selesai
dan pembebanan biaya
overhead
pabrik
Order produksi yang telah selesai di
kerjakan perlu diserahkan dari fungsi
produksi ke fungsi gudang. Prosedur produk selesai merupakan prosedur
30
penyerahan produk selesai dari fungsi produk
s
i ke fungsi gudang.
Selain itu
prosedur ini juga digunakan untuk mencatat biaya
overhead
pabrik yang
di
bebankan kepada pesanan tertentu berdasarkan tariff yang ditentukan di
muka
dan total harga pokok produk selesai yang ditransfer dari fungsi
produksi ke
fun
31
Gambar 2.2 Prosedur Order Produksi (Mulyadi, 2001)
35
2.5.5
Ancaman dan pengendalian dalam siklus produksi
Dalam siklus produksi terdapat amcaman
ancaman yang dapat
mengganggu jalannya kegiatan dalam s
iklus produksi. Ancaman
-

ancaman
tersebut dapat dicegah dan diatasi dengan menerapkan
prosedur pengendalian.
Tabel 2.2
menjelaskan ancaman dan pengendalian yang dapat dilakukan (Romney
dan Steinbart,2012)
.
Tabel 2.2 Tabel Ancaman Dan Pengendalian Dalam
Siklus Produksi
Proses /
Aktifitas
Ancaman
Prosedur Yang Dapat di
Terapkan Dalam
Desain Produk
Desain produk yang
kurang baik.

Perbaiki informasi
tentang pengaruh desain
produk atas biaya.

Data terinci mengenai


biaya jaminan dan
produk.
Perencanaan
dan
penjadwalan

Kelebihan produksi
atau kekurangan
produksi

Investasi yang tidak


optimal dalam aktiva
tetap

Sistem perencanaan
produksi yang lebih baik

Tinjau dan setujui


perolehan aktiva tetap;
pengendalian anggaran
Operasi
produksi
Pencurian dan
perusakkan persediaan
dan aktiva tetap

Batasi akses fisik ke


persediaan dan aktiva
tetap

Dokumentasikan semua
perpindahan persediaan
sepanjang proses
produksi

Identifikasi semua
aktiva tetap

Dokumentasi yang
memadai dan tinjau
semua transaksi yang
melibat
kan pembuangan
aktiva tetap
36
Akuntansi
Biaya
Kesalahan pencatatan
dan memasukkan data
mengakibatkan data
biaya yang tidak akurat.

Pengendalian edit entri


data

Penggunaan pemindai
kode garis jika
memungkinkan

Rekonsiliasi jumlah
yang tercatat dengan
perhitungan fisik secara
periodik
Ancaman
umum

Hilangnya data

Kinerja yang kurang


baik

Buat cadangan dan


perencanaan pemulihan
dari bencana; batasi

akses ke data biaya.

Pelaporan yang lebih


baik dan tepat waktu.
2.6
Metodologi Pengembangan Sistem
2.6.1
System
Development Life Cycle
(SDLC)
Daur pengembangan sistem SDLC melalui beberapa tahap (Romney dan
Steinbart, 2012). Tahap pertama adalah analisis sistem. Dalam tahap ini
dibutuhkan informasi untuk melakukan pembelian, pengembangan, dan
modifikasi sistem. Taha
p kedua adalah rancangan konseptual. Dalam tahap ini
kebutuhan pengguna diidentifikasi dan dievaluasi melalui alternatif
rancangan.
Tahap ketiga, pengembang menerjemahkan rancanganan konseptual ke
dalam
spesifikasi menggunakan kode dan uji program komputer
, rancangan dokumen
input dan output, membuat file dan database, mengembangkan prosedur,
dan
membangun pengendalian dalam sistem baru. Tahap ini disebut desain
fisik.
Tahap keempat adalah implementasi dan percakapan. Dalam tahap ini
sistem
mulai diterapkan
. Standard dan pengendalian sistem baru dibangun, dokumentasi
37
sistem telah lengkap. Tahap terakhir adalah tahap operasi dan
pemeliharaan.
Selama tahap ini, review dan modifikasi sistem dilakukan jika ada masalah
yang
timbul dari sistem baru.
2.6.2
Prototyping
Prototyping adalah pendekatan untuk merancang sistem dan
mengembangkan model kerja yang disederhanakan dari suatu sistem
(Romney
dan Steinbart, 2012:643). Dengan menggunakan pendekatan prototyping,
pertama
kali pengembang sistem hanya memperoleh gambaran u
mum tentang kebutuhan
pengguna. Pengembang tidak mencoba untuk mendapatkan spesifikasi
lengkap
sistem dari pengguna dan tidak berencana untuk mengembangkan sistem
sekaligus. Sebaliknya, pengembang dengan cepat mengembangkan
prototipe yang

berisi sistem bar


u atau model kerja skala kecil dari keseluruhan sistem bagi
pengguna. Proses ini berlanjut hingga pengguna merasa puas dengan
sistem yang
baru (Turban, Rainer, dan Potter, 2001).
2.6.2.1
Langkah
langkah mengembangkan
prototype
Menurut Romney dan Steinbart terdapat langkah
langkah dalam
mengembang
prototype
, antara lain :
1.
M
engidentifikasi persyaratan sistem dengan bertemu pengguna untuk
menyepakati ukuran dan lingkup sistem, serta memutuskan sistem apa
saja
yang harus disertakan
dan dikecualikan.
2.
Mengembangkan
prototype
awal yang memenuhi persyaratan sistem
38
pengguna. Pengembang mendemonstrasikan
prototype
dan meminta pendapat
pengguna sebagai umpan balik tentang yang pengguna suka atau tidak
suka
dari
prototype
tersebut.
3.
Pengemban
g menggunakan umpan balik dari pengguna untuk memodifikasi
sistem dan mengembalikannya kembali pada pengguna. Proses ini terus
berlanjut hingga pengguna puas karena sistem tersebut telah memenuhi
kebutuhannya.
4.
Menggunakan sistem, sebagian dari seluruh
prot
otype
dimasukkan ke dalam
sistem yang berfungsi secara penuh sebagai
prototype

operasional.
Prototype
nonoperasional atau buangan dapat disingkirkan. Persyaratan sistem yang
diidentifikasi selama proses pembuatan
prototype
dapat digunakan untuk
mengembangk
an sistem yang baru.
2.6.2.2
Saat penggunaan
prototyping
Prototyping
tepat digunakan ketika ada ketidakpastian dalam tingkat yang
tinggi, pertanyaan yang harus diajukan tidak jelas, sistem informasi
akuntansi
tidak dapat divisualisasikan dengan jelas, atau terdapat potensi kegagalan
yang
besar. Menurut Romney dan Steinbart
, kondisi yang mendukung penggunaan
prototyping
yaitu :
1.
Kebutuhan pengguna tidak dipahami atau kebutuhan pengguna berubah
dengan cepat.
2.
Persyaratan sistem sulit ditetapkan.
3.
Input dan output sistem belum diketahui.
39
4.
Tugas yang harus dilakukan tidak terstrukt
ur dengan baik.
5.
Pendesain tidak mengetahui secara pasti tentang teknologi yang akan
digunakan.
6.
Sistem yang dikembangan sangat penting dan sangat dibutuhkan segera.
7.
Tingginya resiko pengembangan sistem yang salah.
8.
Reaksi pengguna menjadi pertimbangan pentin
g dalam pengembangan.
9.
Banyaknya strategi desain yang harus diuji.
10.
Staff desain memiliki sedikit pengalaman dalam mengembangkan sistem
atau
aplikasi.
2.6.2.3

Kelebihan dan kelemahan


prototyping
Menurut Romney dan Steinbart, penggunaan
prototyping
memiliki
kelebiha
n dan kelemahan. Kelebihannya antara lain :
1.
Penjelasan yang lebih baik atas kebutuhan pengguna karena keterlibatan
pengguna dalam pengembangan
prototype
.
2.
Keterlibatan dan kepuasan pengguna yang tinggi karena kebutuhan
pengguna
terpenuhi dan kecil resiko
sistem informasi akuntansi tidak digunakan.
3.
Waktu pengembangan lebih cepat karena pengguna dapat segera
mengevaluasi sistem.
4.
Kecil kesalahan yang terjadi karena pengguna menguji setiap versi
prototype
sehingga kesalahan dapat dideteksi dan dieliminasi lebi
h awal.
5.
Lebih banyak peluang untuk melakukan perubahan. Pengguna dapat
memberikan masukan hingga sistem sesuai dengan yang mereka
inginkan.
40
6.
Lebih murah dibanding pendekatan lainnya.
Pendekatan
prototyping
ini juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu :
1.
Waktu
pengguna yang signifikan. Pengembangan
prototype
akan berhasil jika
pengguna banyak terlibat untuk memberikan umpan balik.
2.
Penggunaan sumber daya sistem yang tidak efisien. Pengembangan
prototype
tidak selalu mencapai keefisienan sumber daya.