Anda di halaman 1dari 23

ARTIKEL

MODERNISASI SISTEM PEMILIHAN KEPALA DAERAH: MENYOAL


PATOLOGI PILKADA SERENTAK
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Politik
Dosen Pengampu:
1; Puji Lestari S.Pd., M.Si.
2; Iwan Hardi Saputro S.Pd.

Disusun Oleh:
Hafid Priawitantio
NIM.3301413095

PRODI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN


JURUSAN POLITIK DAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2015MODERNISASI SISTEM PEMILIHAN KEPALA DAERAH: MENYOAL


PATOLOGI PILKADA SERENTAK
Hafid Priawitantio
NIM.3301413095
Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang

ABSTRAK
Modernisasi sistem pemilihan kepala daerah dalam perkembangannya telah mengalami
dinamika perubahan yang mempengaruhi tatanan demokrasi di Indonesia. Perubahanperubahan dalam sistem pilkada ini mencakup juga dari segi aturan, mekanismenya,
hingga patologi yang menyertainya. Modernisasi sistem pemilihan kepala daerah dari
semenjak pilkada tidak langsung sampai era reformasi hingga dicanangkannya sistem
pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat yang dimulai atas dikeluarkannya
UU No. 32 tahun 2004 hingga era Pilkada serentak saat ini, selalu diwarnai oleh
kecurangan ataupun penyelewengan dari masyarakat, elit, hingga kandidat. Jadi kendati
sistem ataupun mekanisme pilkada telah mengalami modernisasi, permasalahan selalu
ada dan cenderung kumat saat menjelang, pelaksanaan, hingga pasca
penyelenggaraan pilkada itu sendiri. Terkhusus dalam proses modernisasi pilkada
langsung termasuk hingga pilkada serentak ini, ada beberapa penyakit yang muncul
dalam pelaksanaannya. Berikut patologi yang dibahas dalam tulisan ini, antara lain: (1)
Fenomena Golongan Putih; (2) Budaya Money Politic; dan (3) Kecurangan lainnya
seperti Netralitas penyelenggara pemilu yang dipertanyakan, manipulasi suara,
penggelembungan suara, black campaign, manipulasi logistik, hingga keberpihakan
anggota KPPS terhadap salah satu calon kandidat. Berdasarkan data yang ditemukan
dari berbagai sumber pustaka maupun media, menunjukkan bahwa masalah/ kecurangan
yang penulis sebut sebagai patologi ini tetap aktual dan masih banyak terjadi di pilkada
serentak 2015. Sistem pemilihan kepala daerah yang diselenggarakan di tiap-tiap daerah
dalam menentukan pucuk pimpinan daerah Provinsi dan Kabupaten/ Kota pada
dasarnya harus benar-benar bersih, jujur, serta amanah sehingga nanti pemilihan kepala
daerah yang dilakukan secara langsung dan demokratis dapat menjadi dasar agar siapa
saja yang terpilih nantinya benar-benar legitimate, serta dapat membawa kebaikan
dalam bidang pembangunan demi kemajuan suatu daerah.
Kata Kunci: Modernisasi, Patologi, Pilkada Serentak

ABSTRACT
Modernization of local elections system in its proress has made dynamic changes
affecting the democratic order in Indonesia. Changes in the local election system

includes also in terms of the rules, the mechanism, to the accompanying pathology.
Modernization of the system of local elections since the elections are not directly up to
the introduction of the reform era system of local elections directly by the people who
started on the issuance of Law Number 32 in 2004 up to the current era of simultaneous
local elections, always there by fraud or misappropriation of the public, the elite, and
also the candidate. So in spite of the election system or mechanism has undergone
modernization, there are always problems and tend to "recurrent" when approaching,
implementation and post-implementation of the election itself. Especially in the process
of modernization direct election including also simultaneously local election , there are
some "disease" which appeared in its implementation. Here pathology are discussed in
this paper, among others: (1) The phenomenon of the blank voters ; (2) Culture of
Money Politics; and (3) Cheating such as neutrality of the electoral administration that
"questionable", the manipulation of vote,black campaign, manipulation logistics, and
also partiality KPPS members toward one candidate. Based on the data found from a
variety of published sources and media, indicating that the problem / cheating authors
call this pathology remains actual and still a lot going on in of simultaneous local
elections 2015. System of local elections held in each region in determining the 'helm'
leadership of provincial and district / city basically to be completely clean, honest, and
trustworthy so that the next local elections are conducted directly and democratically
could be the basis for anyone who is elected will actually legitimate, and can bring
good in the field of development for the progress of a region.
Keywords: Modernization, Pathology, simultaneous local elections

A; Pendahuluan

Sejak dilakukannya perubahan Undang-Undang Dasar 1945, sistem


ketatanegaraan Indonesia turut mengalami perubahan. Salah satu dampak dari
perubahan tersebut adalah perubahan sistem pemilihan kepala daerah (pilkada)
yang dilakukan secara langsung. Perubahan ini menjadi krusial dan membawa
konsekuensi untuk meletakkan kembali kedaulatan berada ditangan rakyat
secara murni. Sehingga rakyat khususnya masyarakat di daerah memiliki peran
dan kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusankeputusan di bidang penyelenggaraan pemerintahan daerah dan membawa
kehidupan masyarakat menjadi lebih demokratis.
Menurut Hill (2006:5) dalam Mutiarin (2012:3), demokrasi memiliki
asumsi menghasilkan sistem perumusan kebijakan yang lebih partisipatif dan
karena itu memberi legitimasi yang lebih kuat terhadap kebijakan yang diambil.
Pendapat tersebut dapat dikatakan sejalan dengan positif effect dari demokrasi
langsung atau dalam hal ini pemilihan kepala daerah secara langsung dimana
3

memberikan kesempatan yang besar bagi rakyat untuk berperan aktif dalam
proses politik secara partisipatif ikut menentukan suatu produk politik melalui
pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah secara langsung, selain itu juga
kepala daerah yang terpilih tentu akan mendapat legitimasi yang lebih kuat atas
jabatan politiknya karena dipilih secara langsung oleh konstituennya dalam hal
ini secara langsung oleh rakyat.
Pemilihan umum kepala daerah secara langsung merupakan sarana
sekaligus upaya mewujudkan sistem demokrasi secara utuh serta sebagai
langkah merealisasikan kedaulatan rakyat. Kendati dalam perjalanannya muncul
sejumlah persoalan yang mengiringinya, namun hal itu haruslah dipandang
sebagai tantangan sekaligus bagian dari proses pematangan dalam rangka
mewujudkan pemerintahan daerah yang lebih demokratis.
Konstitusi Republik Indonesia, pasal 18 ayat 4 Undang-Undang Dasar
1945, menjelaskan bahwa Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing
sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara
demokratis, dan menyertai itu juga pasal 1 ayat 2 juga menjelaskan bahwa
kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang
Dasar. Di era kekinian, makna demokratis dan kedaulatan rakyat tersebut
dijabarkan lebih jelas lagi dalam nilai instrumental lainnya yakni dalam UndangUndang nomor 1 tahun 2015 khususnya terkait dengan sistem pemilihan kepala
daerah (Pilkada), dalam konsiderannya1 bahwa demokratis yang dimaksud
adalah demokrasi yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Hal ini
juga membawa konsekuensi dengan pelaksanaan pemilihan Gubernur, Bupati,
dan Walikota yaitu dengan dipilih secara langsung oleh rakyat, dengan tetap
melakukan beberapa perbaikan mendasar atas berbagai permasalahan pemilihan
langsung yang selama ini telah dijalankan.
1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 dalam konsiderannya huruf a dan b,
menyebutkan bahwa:

1
1

Menimbang: a. bahwa untuk menjamin pemilihan Gubernur, Bupati,


dan Walikota dilaksanakan secara demokratis sebagaimana
b.
bahwa kedaulatan
rakyat
sebagaimana
dimaksud
diamanatkan
dalam Pasal
18 dan
ayat demokrasi
(4) Undang-Undang
Dasar
Negara
Republikhuruf
dalam
Indonesia
a, perlu
Tahun
ditegaskan
1945 maka
dengankedaulatan
pelaksanaan
rakyat
pemilihan
serta
demokrasi Bupati,
Gubernur,
dari rakyat,
dan Walikota
oleh rakyat,
secara
danlangsung
untuk rakyat
oleh wajib
rakyat,
dihormati
dengan

Hal tersebut juga yang mendasari salah satu bentuk modernisasi sistem
pemilihan kepala daerah hingga kini di era Pilkada Serentak yang diharapkan
dapat membawa dampak yang lebih efektif dan efisien baik dari segi
mekanisme, maupun dari segi pembiayaan. Namun dibalik itu semua
pelaksanaan pilkada serentak juga tidak lepas dari patologi atau masalahmasalah yang menyertainya. Dilihat dari modernisasi sistem pemilihan kepala
daerah itu sendiri, dalam perkembangannya selalu diwarnai oleh kecurangan
ataupun penyelewengan dari masyarakat, elit, hingga kandidat. Jadi kendati
sistem ataupun mekanisme pilkada telah mengalami modernisasi, permasalahan
selalu ada dan cenderung kumat saat menjelang, pelaksanaan, hingga pasca
penyelenggaraan pilkada itu sendiri.
Sistem pemilihan kepala daerah yang diselenggarakan di tiap-tiap daerah
dalam menentukan pucuk pimpinan daerah Provinsi dan Kabupaten/ Kota pada
dasarnya harus benar-benar jauh dari segala macam kecurangan seperti golput,
money politics, patronase dan klientalisme, manipulasi suara, keberpihakan
penyelenggara, maupun black campaigne dan harus benar-benar bersih, jujur,
serta amanah sehingga nanti pemilihan kepala daerah yang dilakukan secara
langsung dan demokratis dapat menjadi dasar agar siapa saja yang terpilih
nantinya benar-benar legitimate, serta dapat membawa kebaikan dalam bidang
pembangunan demi kemajuan suatu daerah sehingga apa yang menjadi tujuan
bangsa selama ini seperti halnya yang tercantum dalam pembukaan UndangUndang Dasar 1945 alinea ke-4 (empat) 2, dapat tercapai dan terealisasi untuk
kemajuan daerah yang terbingkai dalam nuansa kebangsaan Indonesia.
Tantangan besar dalam mencapai tujuan bangsa tersebut salah satunya adalah
bagaimana menciptakan pemilu yang berkualitas, dimana pemilu yang
berkualitas tersebut salah satu indikatornya ialah minim atau bahkan bebas dari
segala patologi yang menciderai demokrasi, sehingga pemilu yang berkualitas
akan menghasilkan pemimpin-pemimpin daerah yang berkualitas pula yang
nantinya akan membawa daerah pada pembangunan yang lebih baik.
B; Melihat dimensi historis sistem pemilihan kepala daerah di Indonesia

Modernisasi sistem pemilihan sistem pemilihan kepala daerah


merupakan perjalanan politik panjang yang diwarnai tarik menarik antara
2 Tujuan Negara Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke4, yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan ikut melaksanaan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.

kepentingan elit politik dan kehendak publik, kepentingan pusat dan daerah atau
bahkan termasuk juga kepentingan nasional. Perubahan-perubahan dalam
modernisasi sistem pilkada ini mencakup juga dari segi mekanismenya, aturan,
hingga patologi yang menyertainya.
1; Pasca kemerdekaan
Pasca kemerdekaan dapat dilihat awalnya berdasarkan Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1945 tentang Peraturan mengenai Kedudukan Komite
Nasional Daerah, pemilihan kepala daerah dilakukan oleh pemerintah pusat.
Sementara menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang
Penetapan aturan-aturan Pokok mengenai Pemerintahan sendiri di daerahdaerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri,
Kepala Daerah Propinsi diangkat oleh Presiden dari calon-calon yang
diajukan oleh DPRD. DPRD berhak mengusulkan pemberhentian seorang
kepala daerah kepada pemerintah pusat. Namun sejak Undang-Undang No. 1
Tahun 1957 hingga Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974, ketentuan
pilkada tidak mengalami perubahan, yaitu mengikuti ketentuan sebagai
berikut3:
1; Kepala Daerah dipilih oleh DPRD.
2; Kepala Daerah tingkat I diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.
3; Kepala Daerah tingkat II diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Dalam
Negeri dan otonomi daerah, dari calon-calon yang diajukan oleh DPRD
yang bersangkutan.
2; Era Reformasi
Setelah reformasi bergulir, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22
Tahun 1999, pilkada dilakukan dengan menggunakan sistem demokrasi tidak
langsung dimana Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah dipilih oleh
DPRD dengan penegasan asas desentralisasi yang kuat. Dalam UU No. 22
Tahun 1999 DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar
dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah, Rekruitmen Kepala Daerah
sepenuhnya berada pada kekuasaan DPRD. Sementara pemerintah pusat
hanya menetapkan dan melantik Kepala Daerah berdasarkan hasil pemilihan
yang dilakukan oleh DPRD setempat.
Menurut UU No. 22 Tahun 1999, pemerintan daerah terdiri dari kepala
daerah dan perangkat daerah. DPRD berada di luar pemerintah daerah, yang
berfungsi sebagai badan legislatif pemerintah daerah untuk mengawasi
3 Dikutip dari Suharizal, 2012: Hal. 16 dalam Hutapea, Bungasan. 2015. Dinamika
Hukum Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia. (Artikel dalam Jurnal). Hlm. 5.

jalannya pemerintahan. Di masa ini, kepala daerah dipilih sepenuhnya oleh


DPRD, tak lagi ada campur tangan Pemerintah Pusat. Berbeda dengan
sistem sebelumnya, yaitu kepala daerah diangkat oleh Presiden atau Menteri
Dalam Negeri, yang diajukan atau diusulkan oleh DPRD. Jika kita lihat
perbandingan Pilkada pada masa reformasi dan jaman orde baru, dapat
dikatakan pemilihan kepala daerah di era reformasi lebih demokratis. Namun
fakta menunjukkan bahwa kewenangan DPRD dan fraksi-fraksi sangat kuat
dan mengakibatkan penyalahgunaan wewenang seperti maraknya politik
uang di tingkat DPRD.
3; Rezim Undang-Undang No. 32 Tahun 2004
Lahirnya UU N0. 32 Tahun 2004 membawa perubahan yang
fundamental dalam hal pemilihan kepala daerah. Kepala daerah menurut UU
22 Tahun 1999 dipilih dan bertanggung jawab kepada DPRD, sedangkan
menurut UU No. 32 tahun 2004 Kepala daerah dan wakil kepala daerah
diplih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat di daerah yang
bersangkutan4. Pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah dapat
dicalonkan baik oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta
Pemilu yang memperoleh sejumlah kursi tertentu dalam DPRD dan atau
memperoleh dukungan suara dalam Pemilu Legislatif dalam jumlah tertentu.
Pelaksanaan Pilkada langsung ini telah menutupi kekurangan yang ada pada
undangundang sebelumnya. Sebagai implementasi dari amandemen UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia telah terjadi perubahan sistem
penyelenggaraan pemerintahan negara dimana Presiden dipilih secara
langsung oleh rakyat, demikian juga Kepala Daerah juga dipilih secara
langsung oleh rakyat. Dalam pelaksanaannya Pilkada langsung menurut UU
No. 32 Tahun 2004 tetap melibatkan partai politik, bedanya dengan UU No.
22 Tahun 1999, partai politik berada diluar parlemen dan dijadikan sebagai
legalisasi pencalonan. Cara ini digunakan untuk menghindari adanya dealdeal partai politik di DPRD dan menghindari adanya praktik KKN.
4; Dikotomi pilkada menurut UU No. 22 Tahun 2014 hingga UU No. 8
Tahun 2015
Setelah berjalan kurang lebih 9 tahun pemilihan umum secara langsung
kembali menjadi perdebatan dengan lahirnya UU No. 22 Tahun 2014 tentang
Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota yang pada intinya mengembalikan
pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Lahirnya UU No. 22 Tahun 2014
merupakan koreksi atas kekurangan pelaksanaan Pilkada yang dilaksanakan
4 Lihat pasal 24 UU No. 32 Tahun 2004.
7

secara langsung. Berdasarkan evaluasi atas penyelanggaran pemilihan


gubernur/wakil gubernur, bupati/ wakil bupati, walikota/wakil walikota
secara langsung sejauh ini menunjukkan fakta bahwa biaya yang dikeluarkan
oleh Negara dan oleh pasangan calon untuk penyelenggarakan dan
mengikuti Pemilihan gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati dan
walikota/wakil walikota secara langsung sangat besar dan berpotensi pada
peningkatan korupsi. Seperti yang penulis kutip dari nasional.tempo.co
bahwa Kementerian Dalam Negeri mencatat sekitar 330 atau sekitar 86,22%
kepala daerah tersangkut kasus korupsi5. UU No. 22 Tahun 2014 telah
mengakibatkan terjadinya perubahan mekanisme Pilkada secara langsung
oleh rakyat menjadi tidak langsung melalui DPRD.
Penyempurnaan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang
mengatur Pemilihan gubernur, bupati dan walikota melalui DPRD Propinsi
dan DPRD Kabupaten/Kota dimaksudkan untuk menempatkan mekanisme
Pemilihan gubernur, bupati dan walikota secara demokratis dan menguatkan
tata kelola pemerintahan daerah yang efisien dan efektif dalam konstruksi
sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan
asas desentralisasi. Menurut Pasal 3 UU No.22 Tahun 2014, Gubernur dipilih
oleh anggota DPRD Provinsi secara demokratis berdasar asas bebas, terbuka,
jujur, dan adil. Sedangkan Bupati dan walikota dipilih oleh anggota DPRD
Kabupaten/ Kota secara demokratis berdasar asas bebas, terbuka, jujur, dan
adil.6 Lahirnya UU tersebut menjadi polemik ditengah-tengah masyarakat
yang selama ini menganggap DPRD hanya akan merampas hak rakyat, dan
banyaknya anggapan bahwa selama ini anggota dewan hanya menikmati
tanpa bekerja, sehingga membawa kurangnya tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap kinerja mereka. (Susanto, 2014: 84)7
Namun secara diakronis, sejalan dengan perkembangannya Pilkada
berdasarkan UU No. 22 Tahun 2014 telah mendatangkan pertentangan dari
pihak-pihak yang lebih menginginkan penyelenggaraan Pilkada secara
langsung. Dengan derasnya penolakan dari berbagai elemen masyarakat dan
dirasa bahwa adanya kepentingan yang mendesak, sehingga Presiden
Republik Indonesia saat itu yakni Susilo Bambang Yudhoyono,
5 wawancara Tempo dengan Kementerian Dalam Negeri 2014, Gamawan Fauzi, 23
Juli 2014: dikutip dari
http://nasional.tempo.co/read/news/2014/07/24/078595388/menteri-gamawan-86persen-kepala-daerah-korupsi.
6 Lihat UU Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota.
7 Susanto, Didi. 2014. Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Langsung
berdasarkan Pancasila. (Artikel dalam Procceding Seminar Nasional). Hlm. 84.

mengeluarkan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 1


Tahun 2014 yang kemudian di Sah-kan menjadi Undang-Undang No. 1
Tahun 2015, dimana intinya mengembalikan mekanisme pemilihan kepala
daerah yang sebelumnya melalui DPRD menjadi Pilkada secara langsung
oleh rakyat dan dilaksanakan secara Serentak. Beberapa pakar juga
mencatat bahwa jika Pilkada dipilih melalui DPRD dapat menimbulkan
ketidakpercayaan masyarakat terhadap kepala daerah tersebut dan Pilkada
melalui DPRD juga merupakan wujud kemunduran Indonesia sebagai negara
demokrasi. Seperti juga yang dijelaskan dalam konsideran UU No. 1 Tahun
2015 Butir c, bahwa mekanisme pemilihan kepala daerah secara tidak
langsung melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah telah mendapatkan
penolakan yang luas oleh rakyat dan proses pengambilan keputusannya telah
menimbulkan persoalan.
Ketentuan di dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
No. 1 Tahun 2014 yang telah ditetapkan menjadi UU No. 1 Tahun 2015
dirasakan masih terdapat beberapa inkonsistensi dan menyisakan sejumlah
kendala jika dilaksanakan, oleh karenanya perlu disempurnakan dan
melahirkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015. Beberapa
penyempurnaan atau perubahan yang dilakukan dalam UU No. 8 Tahun 2015
ini sebagian besar bersifat teknis, dari mulai penyingkatan jangka waktu
tahapan Pilkada, penghapusan mekanisme Uji Publik, hingga penjadwalan
ulang Pilkada serentak.
Pilkada serentak yang pertama dilakukan pada tanggal 9 Desember 2015
lalu, dari pilkada serentak yang sudah dilakukan tersebut ada beberapa fakta
yang dapat dilihat dalam pelaksanaannya, antara lain:
a; Tiga Periode Masa Peralihan Pilkada Serentak
- Desember 2015, untuk kepala daerah yang habis masa jabatan di
tahun 2015, serta yang habis di bulan Januari Juni 2016. Mereka
-

yang dipilih di tahun 2015, akan bersaing lagi di tahun 2020;


Februari 2017, untuk kepala daerah yang habis masa jabatan di
bulan Juli Desember 2016, dan yang habis di tahun 2017.
Mereka yang dipilih di tahun 2017, akan bersaing lagi di tahun
2022;
Juni 2018, untuk kepala daerah yang habis masa jabatan di tahun
2018 dan 2019. Mereka yang dipilih di tahun 2018, akan bersaing
lagi di tahun 2023

b; Sebanyak 269 Daerah di Pilkada Serentak 2015

Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU), ada 9


provinsi, 224 kabupaten, dan 36 kota yang mengikuti pilkada
serentak tahun ini. Provinsi Sumatera Utara menjadi penyumbang
terbanyak, dengan 23 kabupaten/kota yang terjun di Pilkada Serentak
2015.
c; Pilkada Total Serentak, Tahun 2027

Berdasarkan UU No.8 Tahun 2015, masih 12 tahun lagi menunggu


untuk pilkada yang benar-benar serentak dilaksanakan di Indonesia Walikota Sabang hingga Walikota Merauke dipilih di hari yang sama.
d; Ada badan peradilan khusus Pilkada

UU No.8 Tahun 2015 memandatkan pendirian badan peradilan


khusus untuk menangani sengketa pilkada. Hingga saat ini, memang
belum terlihat wujudnya seperti apa, dan Mahkamah Konstitusi akan
menangani sengketa pilkada sampai badan peradilan khusus ini
terbentuk.

C; Menelisik Patologi Pilkada Serentak 2015


Dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah, dalam perkembangannya
tidak lepas dari masalah yang penulis sebut sebagai suatu patologi sosial.
Menurut Kartini Kartono, patologi sosial adalah semua tingkah laku yang
bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan,
moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin,
kebaikan dan hukum formal (Kartono 2006: 1 dalam Ismaya 2014: 155).
Modernisasi sistem pemilihan kepala daerah dari semenjak pilkada tidak
langsung sampai era reformasi hingga dicanangkannya sistem pemilihan kepala
daerah secara langsung oleh rakyat yang dimulai atas dikeluarkannya UU No. 32
tahun 2004 hingga era Pilkada serentak saat ini, selalu terdapat patologi yang
menciderai pelaksanaan demokrasi di Indonesia ini. Terkhusus dalam proses
modernisasi pilkada langsung termasuk hingga pilkada serentak ini, ada
beberapa penyakit yang muncul dalam pelaksanaannya. Berikut patologi yang
dimaksud, antara lain:
1; Fenomena Golongan Putih (Golput)

10

Tidak selamanya putih itu suci. Mungkin analogi tersebutlah yang dapat
menggambarkan fenomena Golput dalam suatu pemilihan umum/ pemilihan
kepala daerah. Fenomena Golongan Putih atau yang lebih santer dengan
sebutan Golput merupakan salah satu bentuk apatisme dari kegiatan politik.
Hal yang paling erat terkait dengan problematika tersebut, yaitu kesadaran
politik serta budaya politik.
Menanggapi hal tersebut secara realistis-faktual sebenarnya juga tidak
boleh gegabah menghakimi masyarakat sebagai biang keladi penyebab
kurang partisipasinya masyarakat dalam suatu pemilihan umum terkhusus
pemilihan kepala daerah. Jika menganalis dari sudut pandang lain, ada
beberapa faktor selain itu yang menjadi penyebab munculnya Golput.
Seperti misalnya, minimnya kinerja aparatur pemerintahan sehingga
menimbulkan krisis kepercayaan dari masyarakat terhadap pemerintah dalam
hal ini penulis menyebutnya sebagai bentuk sinisme politik, selain itu
sosialisasi politik setengah hati, dianggap setegah hati karena banyak
sosialisasi politik yang justru hanya digunakan sebagai topeng kepentingan
belaka, baik berupa politik pencitraan ataupun kampanye terselubung
lainnya yang dilakukan para suprastruktur maupun infrastruktur politik,
disisi lain juga kesejahteraan rakyat yang begitu rendah juga menjadi
penyebab rendahnya partisipasi masyarakat sehingga lebih memilih menjadi
Golput karena beranggapan buat apa memikirkan soal politik dan lebih baik
memikirkan hidupnya sendiri, parahnya lagi, apatisme politik masyarakat
kini kian diperparah kembali oleh pengetahuan masyarakat yang buruk
tentang politik, buruk dalam arti pengetahuan masyarakat yang sempit
mengenai politik, entah itu persepsi maupun aplikasi politik, hak dan
kewajiban sebagai warga negara dalam kancah perpolitikan, bahkan terkait
juga dengan ketidaktahuan tentang kapabilitas ataupun sosok calon kepala
daerah yang harus dipilihnya yang membawa sikap skeptis hingga berujung
bersikap pasif.
Menghubungkan benang merah kepada persoalan pilkada serentak 2015
penulis menganalisis bahwa penyebab lain selain yang telah disebutkan
diatas, yaitu bahwa masih adanya orang / warga negara yang mempunyai hak

11

pilih tapi tidak terdaftar sebagai calon pemilih, karena adanya kelalaian dari
petugas atau kurangnya sosialisasi, selain itu jika pun terdaftar sebagai calon
pemilih namun tapi tidak ikut pada saat hari H, dengan berbagai alasan,
misalnya terdaftar sebagai pemilih namun bekerja jauh dari tempat terdaftar
pemilih dengan tempat bekerja, misal terdaftar di Surakarta, namun bekerja
di semarang ataupun sedang menempa pendidikan diluar daerahnya dan
kurang mendapatkan waktu untuk kembali ke daerah asal, penyebab lainnya
ialah pembatasan sosialisasi/kampanye sebagaimana yang diatur Peraturan
Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 7 Tahun 2015 telah menyebabkan
sosialisasi tentang keberadaan Pilkada beserta calon kepala daerah jauh
melorot.
Terkait hubungannya dengan pilkada serentak 2015 ini. Dapat dilihat
hasil pengamatan dari berbagai sumber bahwa tingkat partisipasi warga
dalam menggunakan hak pilihnya di pilkada serentak 2015 masih tergolong
rendah. Sebagai data temuan antara lain, tim riset Lembaga Survei Kebijakan
Publik (LSKP) yang dikutip dari www.koran-sindo.com mencatat Salah
satunya di Kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), partisipasi pemilih
hanya 47% berdasarkan hitung cepat Jumlah golput di Samarinda lebih besar
daripada yang datang memilih di TPS, yakni 53%. Terjadi kenaikan golput di
Samarinda karena pada Pilkada 2010 jumlahnya hanya 40%. 8 Selain itu
berdasarkan data Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol)
Mojokerto, menunjukkan bahwa pemilih golput di Mojokerto mencapai
31,26% angka tersebut naik 8,03% dibanding dengan Pilkada 2010 yang
hanya mencapai 23,23%.9 Fakta lainnya menyebutkan juga ada beberapa
daerah yang tingkat golputnya menurun dibanding pilkada 2010 lalu, seperti
contohnya, Komisi Pemilihan Umum Surabaya yang penulis kutip dari
republika.co.id menyatakan angka golput pada Pemilihan Kepala Daerah
(Pilkada) 2015 di Surabaya sekitar 48% dan lebih rendah jika dibandingkan

8 Hasil hitung cepat Lembaga Survei Kebijakan Publik (LSKP) edisi 10 Desember
2015: dikutip dari http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=3&date=2015-1210
9 Dikutip dari http://nasional.tempo.co/read/news/2015/12/11/058726961/angkagolput-pilkada-mojokerto-diprediksi-naik-8-persen

12

dengan Pilkada 2010 yakni 52%.10 Selain itu di Semarang, seperti yang
dikatakan oleh Ketua KPU Semarang Henry Wahyono pada rabu 16
Desember 2015, bahwa Jumlah warga yang tidak menggunakan hak pilih
(Golput) pada Pilkada Kota Semarang mencapai 34%. persentase itu naik
dibandingkan Pilkada tahun 2010 lalu. Saat itu, partisipasinya hanya 60
persen atau dapat dikatakan tingkat golputnya mencapai sekitar 40%.11
Selain perbandingan data diatas terkait persentase angka golput di
pilkada 2010 dengan pilkada serentak 2015, data lain menunjukkan
partisipasi yang masih rendah dari pemilih dalam pilkada serentak 2015 ini,
seperti dikutip dari www.koran-sindo.com hasil hitung cepat Lingkaran
Survei Indonesia (LSI), mencatat partisipasi pemilih hanya 57,6% atau
golput mencapai 42,4%. Angka yang kurang lebih sama juga terjadi di
Pilkada Kediri, Jatim, dengan partisipasi pemilih hanya 56,3%. Di Kota
Batam, tercatat partisipasi pemilih yang lebih rendah, yakni 50,24%. Golput
di daerah ini mencapai 49,7% atau hampir setara dengan jumlah pemilih
yang menggunakan suaranya. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, LSI
juga mencatat tingkat partisipasi pemilih yang tergolong rendah, yakni
59,81%. Bahkan, pada beberapa daerah ditemukan partisipasi pemilih yang
di bawah 50% dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT).

2; Budaya Politik Uang (Money Politic)


Praktik politik uang (vote buying) telah lama menjadi persoalan serius
dalam setiap pemilihan umum terkhusus pemilihan kepala daerah di
Indonesia. Dalam memandang persoalan ini penulis menilai praktik politik
uang dalam setiap proses pemilihan kepala daerah sudah masuk dalam tahap
masif, vulgar, dan membudaya. Masif karena praktik politik uang ditemukan
10 Wawancara dengan Komisioner Divisi Hukum, Pengawasan, dan SDM KPU
Surabaya Purnomo Satriyo Pringgodigdo pada 10 Desember 2015: dikutip dari
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/pilkada/15/12/10/nz5383336-angkagolput-pilkada-di-daerah-ini-sampai-48-persen
11 hasil wawancara dengan Ketua KPU Semarang Henry Wahyono pada 16
Desember 2015: dikutip dari
http://en.metrotvnews.com/read/2015/12/16/460895/golput-di-pilkada-semarangcapai-34-persen

13

secara meluas di hampir semua provinsi maupun kabupaten/ kota di


Indonesia. Vulgar karena dilakukan secara terang-terangan baik saat
kampanye hingga menjelang hari pencoblosan. Dan membudaya karena
seolah-olah sudah menjadi hal biasa dalam pelaksanaan pesta demokrasi
khususnya dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah, dimana para
calon baik melalui tim suksesnya, pendukung maupun melalui pribadinya
sendiri telah banyak ditemukan

yang melakukan vote buying ataupun

patronase dan klientalisme politik, dimana yang penulis maksud adalah


seperti pendapat dari Aspinall dan Sukmajati (2013) dalam Rifan (2015)
yang dikutip dari http://sinarharapan.co/12 dimana menyebutkan, salah satu
pola

praktik

patronase

yakni

patronase

prapemilihan.

Patronase

prapemilihan, antara lain dengan cara yang umum yaitu memberi imingiming berupa uang dalam amplop, barang, sembako, pemberian bantuan
tempat ibadah, ataupun pemberian bantuan sosial lain yang dilakukan
sebelum pemilihan, ataupun mengenai vote buying sebagaimana yang
disampaikan Etzioni-Halevy adalah pertukaran dukungan politik dengan
keuntungan material pribadi (Heidenheimer, dkk.,1989: 287 dalam Nurdin:
5)13
Terkait hubungannya dengan Pilkada serentak 2015, masih banyak
praktik politik uang yang ditemukan. Seperti data yang ditemukan oleh
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang dikutip dari tempo.co bahwa
Bawaslu menemukan adanya praktek money politic di puluhan daerah yang
menggelar Pemilihan Kepala Daerah 2015 secara serentak. Komisioner
Bawaslu menyatakan ada 27 daerah dengan 29 kasus yang ditemukan adanya
praktek politik uang pada masa tenang sebelum pelaksanaan pilkada serentak
9 Desember 2015.14 Termasuk diantaranya di Kota Banjarmasin, Kalimantan

12 Rifan, Ali. 2015. Suvenir Pilkada, Patronase, dan Klientalisme Politik. Dikutip
dari
http://sinarharapan.co/news/read/150519210/suvenir-pilkada-patronase-danklientalisme-politik.
13 Nurdin, Ali. 2014. Politik Uang dan konsolidasi Demokrasi Indonesia. Banten:
Universitas Mathlaul Anwar Banten .
14 Wawancara dengan Komisioner Bawaslu, Nasrullah pada 9 Desember 2015

14

Selatan bahwa ada salah seorang Ketua Kelompok Penyelenggara


Pemungutan Suara (KPPS) yang tertangkap tangan sedang membagikan
uang kepada masyarakat.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Bawaslu, terdapat 13 daerah yang
ditemukan adanya pembagian uang oleh salah satu pasangan calon, seperti di
Kaur (Bengkulu), Gowa (Sulawesi Selatan), Rokan Hulu (Riau), Kepulauan
Konawe dan Muna (Sulawesi Tenggara), Semarang (Jawa Tengah), serta
Lampung Selatan, Pesawaran, dan Way Kanan (Lampung). Di Semarang
misalnya, menurut laporan Bawaslu Jawa Tengah yang dikutip dari tatv.co.id
terdapat dugaan politik uang di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten,
Kecamatan Giriwoyo Kabupaten Wonogiri, Kelurahan Pedurungan Kidul,
Kota Semarang, dan Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen. Menurut
Bawaslu, nominal uang yang dibagikan kepada masyarakat terkait dengan
dugaan praktik politik uang itu berkisar Rp.20 ribu hingga Rp.50 ribu, hal
tersebut juga tidak jauh berbeda dengan pilkada 2010 di Kota Semarang
dimana juga ditemukan praktik politik uang seperti yang dikemukakan
Panwas Kecamatan Semarang Timur bahwa ditemukan salah satu tim sukses
kandidat walikota membagikan beberapa amplop berisi uang Rp.10Ribu
serta membagikan kupon gratis masuk wahana permainan 15 untuk dibagikan
ke masyarakat sebagai vote buying
Praktek money politic dalam Pilkada 2015 juga tidak hanya dilakukan
dalam bentuk pembagian uang saja. Di Muaro, Jambi, dan Kuantan
Senggigi, Riau, ditemukan adanya pembagian sembako oleh salah satu
pasangan calon. Terdapat pula pembagian sarung yang dilakukan oleh salah
satu pasangan calon di Surabaya (Jawa Timur) serta Bangka Tengah dan
Bangka Barat (Bangka Belitung). Selain itu, Bawaslu juga menemukan

kepada tempo.co: dikutip dari


http://pilkada.tempo.co/read/news/2015/12/09/304726342/pilkada-serentak-politikuang-ditemukan-di-27-daerah
15 Wawancara dengan anggota Panwas Kecamatan Semarang Timur, Oentung
Kristowardhono, 19 April 2010: dikutip dari
http://www.edisicetak.joglosemar.co/berita/politik-uang-warnai-pilkada-semarang13384.html

15

adanya pembagian kaos dan kalender oleh salah satu pasangan calon di
Bengkayang, Kalimantan Barat.
Data tersebut di atas memberi indikasi bahwa politik uang telah menjadi
semacam penyakit kronis atau patologi dalam perpolitikan Indonesia pasca
Orde Baru. Politik uang bukan hanya terjadi pada pemilu legislatif,
melainkan juga pada pemilihan umum presiden dan wakil presiden, serta
pemilihan kepala daerah baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota,
bahkan pemilihan kepala desa. Hampir dalam setiap momen pemilu lokal
maupun nasional kasus politik uang senantiasa muncul dan menjadi
perbincangan publik (Bunte dan Ufen, 2009: 127; Erb, 2005: 31 dalam
Nurdin: 1).

3; Kecurangan lain dalam Pilkada


Teror kecurangan/ penyimpangan dalam pelaksanaan pemilihan kepala
daerah telah menjadi permasalahan yang biasa muncul dalam setiap
penyelenggaraannya, yang mana termasuk juga dalam penyelenggaraan
pilkada serentak tahun 2015 ini. Pemilihan Kepala Daerah (Gubernur,
Bupati/ Walikota) yang berlangsung di berbagai daerah sekarang ini juga
memiliki banyak catatan tentang kecurangan dan penyimpangannya.
Pelaksanaan demokrasi di daerah ini tidak jarang hanya menjadi ajang
perebutan kekuasaan dan pertaruhan kepentingan sejumlah kalangan.
Penyakit seperti Netralitas penyelenggara pemilu yang dipertanyakan,
manipulasi suara, penggelembungan suara, keberpihakan anggota KPPS
terhadap salah satu calon kandidat, manipulasi logistik, money politic, black
campaign, hingga kontroversi anggaran, secara diakronik telah menjadi
patologi klasik dalam setiap digelarnya pesta demokrasi seperti pemilihan
kepala daerah. Banyaknya pelanggaran yang terjadi tersebut berujung pada
sengketa hasil pilkada di mana calon yang kalah akan mengajukan gugatan
di lembaga peradilan.
Aktualitas pelanggaran dan penyimpangan tersebut kembali muncul
dalam gelaran Pilkada serentak 2015 ini. Seperti yang dikutip melalui

16

www.pikiran-rakyat.com pada 9 desember 2015 bahwa terjadi upaya


penggelembungan suara untuk memenangkan salah satu pasangan calon
telah terjadi di pilkada Karawang. Indikasi tersebut terlihat dari
ditemukannya puluhan formulir C6 atau undangan untuk pemilih dari tong
sampah di Dusun Kepuh, Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang
Barat.16 Selain itu Diindikasikan juga terjadi kecurangan yang melibatkan
pelaksana dan pengawas pilkada di provinsi Jambi. Dengan penemuan
perbedaan jumlah suara sah pada pemilihan gubernur di Kota Sungaipenuh
sebelumnya sebanyak 50.520 sementara jumlah suara sah pemilihan
walikota sebanyak 51.421. Di mana, terdapat selisih cukup mencolok
sebanyak 901 suara. Selain itu juga terjadi kecurangan yang diduga
dilakukan salah satu pasangan calon ditemukan di kecamatan Pondoktinggi,
Sungaibungkal, Kumun Debai, dan Tanah Kampung. Di empat kecamatan
ini pihak penyelenggara membuka kotak suara tanpa pemberitahuan dan izin
saksi dari pasangan calon wali kota-wakil wali kota Sungaipenuh.
(http://www.rmol.co).
Selain penggelembungan suara dan manipulasi suara juga terjadi
pelanggaran lainnya, seperti yang dikutip dari FAJAR Koran, bahwa terdapat
pasangan calon yang menyiasati masa tenang dengan berbagai aktivitas
kampanye terselubung. Di Selayar dan Gowa, misalnya, kandidat tetap turun
ke lapangan pada masa tenang. Strategi ini antara lain diterapkan calon
bupati Selayar, Saiful Arif dan calon bupati Gowa Tenri Olle Yasin Limpo.
Tak kalah bahayanya adalah keberpihakan petugas Kelompok Penyelenggara
Pemungutan Suara (KPPS) terhadap pasangan calon tertentu. Kasus ini
sudah ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan dan Majene, Sulawesi Barat.
Seorang anggota KPPS di Desa Tamannyeleng, Kecamatan Barombong,
Gowa terbukti memihak saat membagikan undangan memilih. Dalam
undangan itu, pelaku yang bernama Kasma menyelipkan selebaran yang
berisi pernyataan mantan Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo yang mengajak
warga memilih nomor 5, Adnan Purichta Ichsan-Abd Rauf Kr Kio (AKio).
Selain itu di Majene, Sulawesi Barat, empat anggota KPPS ditemukan tidak
16 Dikutip dari http://www.pikiran-rakyat.com/politik/2015/12/09/353077/dugaanpenggelembungan-suara-di-pilbup-karawang pada 9 Desember 2015.

17

netral. Seorang di antaranya terang-terangan mendukung salah satu


kandidat.17
Ada beberapa faktor yang menyebabkan masalah tersebut hampir selalu
terjadi dalam penyelenggaraan pilkada langsung, yaitu antara lain seperti tidak
profesionalnya penyelenggara pemilu/ pilkada, pengetahuan yang minim dari
masyarakat, kurang tegasnya aparat atau lembaga peradilan dalam memberikan
sanksi, lemahnya hukum atau aturan yang mengatur setiap permasalahan
pilkada, fanatisme berlebihan, faktor ekonomi yang lemah sehingga masyarakat
mau menerima dan terlibat dalam money politic, atau bahkan disebabkan dari
aturan perundang-undangan itu sendiri seperti kurangnya partisipasi masyarakat
dalam pilkada serentak ini yang banyak pihak menyebutkan disebabkan karena
adanya regulasi peraturan KPU No. 7 tahun 2015 yang membatasi ruang gerak
pasangan calon dengan dibatasinya pembuatan baliho atau spanduk, kecuali
melalui KPU. Hal tersebut berakibat pada kurangnya sosialsiasi terkait hal ihwal
setiap kandidat di pilkada serentak ini yang berujung pada adanya golongan
putih.
Walaupun begitu data di atas tetap menunjukkan bahwa masih banyak
patologi serius dalam pilkada serentak 2015 yang harus tetap menjadi perhatian
dan dipikirkan resolusinya untuk menciptakan pemilihan kepala daerah yang
partisipatif, dan dapat menanamkan pendidikan politik bagi calon pemimpin
daerah dan masyarakat ke dalam dua hal, yakni pembentukan hati nurani politik
dan pertanggungjawaban ethis-politik berasaskan keadilan, kebaikan dan
kebenaran. Kartono, 2009 menjelaskan bahwa secara implisit kedua hal tersebut
mewajibkan setiap insan politik untuk berkelakuan baik, tidak bersikap
manipulatif dan eksploitatif serta juga tidak dibenarkan mengutamakan
kepentingan pribadi dan golongan sendiri.

D; Penutup
1; Simpulan
17 Hakim, Arsyad dkk. 2015. Pilih yang Benar, Bukan yang Bayar. Dikutip dari FAJAR
Koran pada 8 Desember 2015 dalam https://sy4280.wordpress.com/tag/pilkada-9desember-2015/

18

Perkembangan pilkada di Indonesia cukup dinamis mulai dari


Indonesia jaman Hindia Belanda sampai dengan sekarang. Dinamika hukum
pemilihan kepala daerah berubah-ubah seiring berkembangnya tuntutan
masyarakat dan pengaruh iklim politik pada tiap masa. Perubahan sistem
pemilihan kepala daerah di Indonesia ditandai dengan diberlakukannya
beberapa peraturan mengenai pemerintahan daerah. Dilihat dari sejarahnya,
pilkada di Indonesia dilaksanakan dengan sistem sebagai berikut:
1; Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945, pemilihan kepala
daerah dilakukan oleh dewan.
2; Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 Kepala Daerah
dipilih oleh Pemerintah Pusat dari calon-calon yang diajukan oleh
DPRD. DPRD berhak mengusulkan pemberhentian seorang kepala
daerah kepada pemerintah pusat.
3; Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, pilkada dilakukan
dengan menggunakan sistem demokrasi tidak langsung dimana Kepala
Daerah dan wakil Kepala Daerah dipilih oleh DPRD dengan penegasan
asas desentralisasi yang kuat.
4; Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, pemilihan kepala
daerah dipilih langsung oleh rakyat.
5; Berdasarkan UU No. 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati
dan Walikota, pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD.
6; Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2015 tentang penetapan pemilihan kepala
daerah dipilih langsung oleh rakyat dan dilaksanakan secara serentak.
7; Berdasarkan Undang-Undang No.8 Tahun 2015 pemilihan kepala daerah
dipilih langsung oleh rakyat dan dilaksanakan secara serentak.
Jika dilihat lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan tentang
Pilkada sejak pasca kemerdekaan sampai dengan sekarang, terkait dengan
pilkada langsung serentak, UU No.1 Tahun 2015 sebagaimana diubah UU
No.8 Tahun 2015 mampu menciptakan pemerintahan yang demokratis dan
sebagai langkah merealisasikan kedaulatan rakyat serta telah memberikan

19

ruang bagi rakyat untuk memilih kepala daerah secara langsung sesuai
pilihannya sehingga diharapkan akan melahirkan pemimpin-pemimpin
daerah yang memiliki rasa tanggung jawab kepada rakyat yang telah
memilihnya. Melalui Pilkada langsung diharapkan akan melahirkan
pemimpin-pemimpin daerah yang aspiratif dan lebih akuntabel.
Dinamika hukum Pilkada di Indonesia selama lebih dari dasawarsa
telah memberikan peranan politik yang cukup berarti, namun disisi lain
selalu ada beberapa penyakit yang muncul dalam pelaksanaannya,
Terkhusus dalam proses modernisasi pilkada langsung termasuk hingga
pilkada serentak ini, penulis dapat simpulkan bahwa ada beberapa masalah
yang selalu muncul dalam pilkada langsung dan kembali aktual dalam
pilkada serentak 2015 ini, kecurangan atau masalah tersebut antara lain,
Netralitas penyelenggara pemilu yang dipertanyakan, manipulasi suara,
penggelembungan suara, keberpihakan anggota KPPS terhadap salah satu
calon kandidat, manipulasi logistik, money politic, black campaign, hingga
kontroversi anggaran. Patologi tersebut penulis menyimpulkan disebabkan
oleh beberapa faktor, yaitu antara lain seperti tidak profesionalnya
penyelenggara pemilu/ pilkada, pengetahuan yang minim dari masyarakat,
kurang tegasnya aparat atau lembaga peradilan dalam memberikan sanksi,
lemahnya hukum atau aturan yang mengatur setiap permasalahan pilkada,
fanatisme berlebihan, faktor ekonomi yang lemah sehingga masyarakat mau
menerima dan terlibat dalam money politic, atau bahkan disebabkan dari
aturan perundang-undangan itu sendiri.
2; Rekomendasi
Modernisasi sistem Pilkada di Indonesia selama ini telah
memberikan berbagai dinamika baik dari segi mekanisme, aturan, hingga
setiap permaslahannya. Namun resolusi sebagai penyempurnaan untuk
mengatasi kekurangan Pilkada kedepannya harus tetap dilakukan seperti
diantaranya, perlu adanya pengaturan proses rekrutmen pilkada langsung
yang bersih dan transparan sehingga tujuan Pilkada langsung untuk
mencapai kedaulatan rakyat dapat tercapai, memperbaiki kualitas
penyelenggaraan pilkada termasuk integritas penyelenggara KPUD,

20

membuat konstruksi berfikir yang sama dan cara tafsir yang sama bahwa
tindak pidana politik uang, maupun kecurangan lainnya adalah kriminal,
sehingga siapapun pasangan calon kepala daerah termasuk pendukung
hingga masyarakat, masing-masing dapat menerima dan mengawasi dengan
cara yang sama terhadap segala jenis patologi yang muncul dalam pilkada
serentak, melakukan perbaikan secara menyeluruh hal-hal fundamental
dalam sistem politik, demokrasi dan kedaulatan dalam penyelenggaraan
pemilihan umum di daerah hingga penataan regulasi komprehensif,
sehingga tidak ada celah salah tafsir dan multi tafsir terhadap undangundang paket politik.
Selain itu untuk meningkatkan partisipasi politik, solusinya adalah
dengan terus memberikan pendidikan politik dan sosialisasi pilkada baik
kepada pemilih pemula, masyarakat, hingga penyelenggara pemilu yang
dapat dilakukan oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, ormas,
maupun lembaga pendidikan dengan mengedepankan netralitas,
transparansi, serta informasi yang mudah dipahami melalui berbagai media.
E; Daftar Rujukan
Hutapea, Bungasan. 2015. Dinamika Hukum Pemilihan Kepala Daerah di
Indonesia. (Artikel dalam Jurnal). Jakarta: Jurnal Rechtsvinding. Hlm. 5.
Ismaya, Erik Aditya. 2014. PILKADA LANGSUNG: Pilihan Demokrasi yang
Menjadi Patologi dalam Kerangka Ideologi. (Artikel dalam Procceding
Seminar

Nasional

Pilkada

berdasarkan

Pancasila).

Semarang:

Universitas Negeri Semarang. Hlm. 155.


Kartono, Kartini. 2009. Pendidikan Politik sebagai Bagian dari Pendidikan
Orang Dewasa. Bandung: Mandar Maju. Hlm. 97.
Mutiarin, Dyah. dkk. 2012. Analisis Dampak Positif dan Negatif Dalam
Pemilukada Langsung Bagi Kualitas Pelayanan Publik di Daerah.
Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hlm.3.
Nurdin, Ali. 2014. Politik Uang dan konsolidasi Demokrasi Indonesia. Banten:
Universitas Mathlaul Anwar Banten. Hlm. 5.
Susanto, Didi. 2014. Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Langsung
berdasarkan Pancasila. (Artikel dalam Procceding Seminar Nasional
21

Pilkada

berdasarkan

Pancasila).

Semarang:

Universitas

Negeri

Semarang. Hlm. 84.

Peratutan Perundang-undangan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati
dan Walikota.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang
Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota Menjadi Undang-Undang.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur,
Bupati Dan Walikota
Internet
Hakim, Arsyad dkk. 2015. Pilih yang Benar, Bukan yang Bayar. 8 Desember
2015. Dikutip dari FAJAR Koran dalam
https://sy4280.wordpress.com/tag/pilkada-9-desember-2015/ (diakses
pada 4 Januari 2015).
Joglosemar.co. Politik Uang Warnai Pilkada Semarang. 19 April 2010. dikutip
dari

http://www.edisicetak.joglosemar.co/berita/politik-uang-warnai-

pilkada-semarang-13384.html (diakses pada 3 Januari 2015).


Koransindo.com. Hasil hitung cepat Lembaga Survei Kebijakan Publik (LSKP).
edisi 10 Desember 2015. dikutip dari http://www.koransindo.com/news.php?r=0&n=3&date=2015-12-10 (diakses pada 1
Januari 2015).

22

MetroTV News. Golput di Pilkada Semarang. 16 Desember 2015. Dikutip dari


http://en.metrotvnews.com/read/2015/12/16/460895/golput-di-pilkadasemarang-capai-34-persen (diakses pada 2 Januari 2015).
Nasional.tempo.co. Angka Golput Pilkada Mojokerto. 11 Desember 2015.
Dikutip dari
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/12/11/058726961/angka-golputpilkada-mojokerto-diprediksi-naik-8-persen (diakses pada 2 Januari
2015).
Nasional.tempo.co. Persentase Kepala Daerah yang Melakukan Korupsi. 23 Juli
2014. Dikutip dari
http://nasional.tempo.co/read/news/2014/07/24/078595388/menterigamawan-86-persen-kepala-daerah-korupsi (diakses pada 30 Desember
2015).
Pikiran-rakyat.com. Dugaan Penggelembungan Suara di Pilbup Karawang. 9
Desember

2015.

Dikutip

dari

http://www.pikiran-

rakyat.com/politik/2015/12/09/353077/dugaan-penggelembungan-suaradi-pilbup-karawang (diakses pada 4 Januari 2015).


Replubika.co.id. Angka Golput Pilkada di Daerah Ini Sampai 48 Persen. 10
Desember 2015. Dikutip dari
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/pilkada/15/12/10/nz538333
6-angka-golput-pilkada-di-daerah-ini-sampai-48-persen (diakses pada 2
Januari 2015).
Rifan, Ali. Suvenir Pilkada, Patronase, dan Klientalisme Politik. 2015. Dikutip
dari

http://sinarharapan.co/news/read/150519210/suvenir-pilkada-

patronase-dan-klientalisme-politik (Diakses pada 3 Januari 2015).


Tempo.co. Pilkada Serentak Politik Uang Ditemukan di 27 Daerah. 9 Desember
2015. Dikutip dari
http://pilkada.tempo.co/read/news/2015/12/09/304726342/pilkadaserentak-politik-uang-ditemukan-di-27-daerah (diakses pada 3 Januari
2015).

23