Anda di halaman 1dari 4

TUGAS KEWIRAUSAHAAN

KEWIRAUSAHAAN MENURUT PANDANGAN ISLAM

Disusun Oleh:
Dwi Setiyo Kartiningdiah (201310410311240)
Farmasi A

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015

KEWIRAUSAHAAN MENURUT PANDANGAN ISLAM


Berwirausaha berarti melakukan aktifitas kerja keras, dalam konsep islam
kerja keras haruslah dilandasi dengan iman. Bekerja dengan berlandaskan iman
mengandung makna bahwa bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan
senantiasa mengingat dan mengharap ridha Allah SWT dalam dinilai sebagai ibadah.
Ada perbedaan yang sangat mencolok antara seorang wirausaha yang
beragama dengan yang tidak beragama, atau beragama hanya sekedar simbol.
Wirausaha yang beragama menjadikan agamanya sebagai bimbingan dan pedoman
dalam bekerja sehingga dia terbebaskan dari apa yang disebut "al-ghayahtubarriru
al-washilah" (tujuan menghalalkan segala cara). Baginya, agama adalah persyaratan
yang tidak bisa dipisahkan sama sekali dari pekerjaan yang ditekuni. Lain halnya
dengan orang-orang yang tidak beragama atau beragama sekedar hiasan bibir. Dalam
melakukan kegiatan muamalah mereka menggunakan prinsip Karl Marx, yaitu
mencapai tujuan dengan menghalalkan segala cara. Keadaan tersebut merupakan
akibat hilangnya "moral agama" yang menjadi fundamental values (nilai yang amat
mendasar). (Dr. Thohir Luth, M.A, 2001)
Seorang wirausaha harus dapat menumbuhkan etos kerja secara Islami karena
pekerjaan yang ditekuninya bernilai ibadah, termasuk menghidupi ekonomi keluarga.
Nilai spiritual yang berkualitas dalam bekerja berupa "berkah" sangat penting untuk
kehidupan, bahkan lebih penting dari segala-segalanya.
Menurut Dr. Thohir Luth, M.A (2001) adapun etos kerja secara Islami tersebut
adalah:
a. Niat ikhlas karena Allah semata
b. Kerja keras (al-jiddu fi al- 'amal)
c. Memiliki cita-cita yang tinggi (al-himmah al- 'aliyah)
Allah adalah pemberi rizqi yang sebaik- baiknya, implikasinya Allah memang
merupakan sumber rizqi, tetapi rizqi itu tidak mungkin diperoleh tanpa bekerja.
Sebagaimana firman Allah Q.S An-Najm: 39 :

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya,
Dalam konsep Islam kegiatan yang berkaitan dengan kewirausahaan harus memiliki
beberapa point penting, yang dipaparkan berikut ini :
a. Mencapai target hasil : profit materi dan benefit non-materi
Seorang pengusaha islam membentuk suatu usaha baru dengan tujuan yang
tidak hanya mencari profit (qimah madhiyah atau nilai materi) setinggi
tingginya, tetapi harus juga memperoleh dan memberikan benefit (manfaat)

non-materi kepada internal usahanya dan eksternal (lingkungan masyarakat),


seperti terciptanya suasana persaudaraan, kepedulian sosial, dan sebagainya.
b. Menegakkan Keadilan dan Kejujuran
Keadilan dan kejujuran merupakan hal yang sangat dijunjung dalam Islam
sebagai pengusaha dalam melayani membelinya. Sikap jujur dan adil pada
hakikatnya akan melahirkan kepercayaan (trust) dari pihak pelanggan.
c. Ihsan dan Jihad dalam Bekerja
Islam tidak semata-mata memerintah kerja dan berusaha, tetapi juga
memerintahkan bekerja dengan profesional dan bersungguh-sungguh.
Hendaknya seorang muslim bekerja dengan ketekunan, kesungguhan,
konsisten, dan kontinue. Ihsan dalam bekerja bukan perkara sunat, bukan
keutamaan, bukan pula urusan spele dalam pandangan Islam, tetapi suatu
kewajiban agama bagi setiap muslim.
d. Prinsip Kehati-hatian
a. Hati-hati dalam Bersumpah
Rasulullah SAW berpesan : Jauhilah oleh kalian semua sumpah -sumpah
dalam berdagang, karena ia akan membuat laris dagangan, tetapi akan
menghilangkan keberkahan laba.
b. Hati-hati dalam Berpromosi
Rasulullah SAW berpesan : Meyakinkan pembeli dengan berbohong adalah
haram (H.R. Ath Thabrani).
Fungsi dan Peran Wirausaha
a. Fungsi Wirausaha untuk Diri Sendiri
Seorang muslim secara syar'i sangat dituntut untuk bekerja dan berusaha
untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Seorang muslim harus memiliki
kekuatan, merasa cukup dengan yang halal, menjaga dirinya dari kehinaan
meminta-minta, menjaga air mukanya agar tetap jernih, dan membersihkan
tangannya agar tidak menjadi tangan yang dibawah (meminta-minta).
Karenanya Islam mengharamkan meminta-minta jika bukan karena kebutuhan
pembebasan yang terpaksa. Dalam sebuah hadits dikemukakan:
"Sesungguhnya meminta-minta tidak boleh, kecuali bagi tiga kelompok :
orang faqir yang betul-betul faqir, orang yang berutang yang tidak bisa
membayar, dan orang tidak mampu yang harus membayar diyat." [H.R. Abu
Daud dari Annas dalam kitab zakat (1641)]
b. Fungsi Wirausaha untuk Keluarga
Seorang muslim hendaknya bekerja untuk keluarganya. Sebagaimana
dikemukakan di dalam sebuah hadits :

"Laki-laki (suami) adalah pemimpin pada keluarganya, ia akan ditanyai


tentang kepamimpinannya. Wanita (istri) adalah pemimpin dirumah suaminya
dan ia akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Seorang hamba adalah
pemimpin pada harta tuannya, dan ia akan ditanya tentang
kepemimpinannya." [Hadits disepakati Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar.
Bukhari: 2/317, Muslim (1829)]
c. Fungsi Wirausaha untuk Masyarakat
Sesungguhnya masyarakat memiliki sumbangsih bagi seorang wirausaha, baik
sebagai tenaga kerja, penyedia tempat, maupun sebagai konsumen bagi
produk yang dihasilkannya. Untuk itu seorang wirausaha juga harus
memberikan sesuatu yang baik kepada para pekerja, upah yang layak,
hubungan tali silaturahmi yang baik, pemeliharaan terhadap lingkungan
sekitar tempat usaha dan memberikan pelayanan yang baik terhadap
konsumen dengan barang-barang yang halal. Sehingga dengan terpenuhinya
semua itu usaha yang dijalani selain memiliki dampak yang positif di dunia,
juga mempunyai dampak positif di akhirat.
d. Fungsi Wirausaha untuk Memakmurkan Bumi
Berwirausaha dalam Islam dituntut untuk memiliki tujuan memakmurkan
bumi Allah. Bahkan memakmurkan bumi merupakan salah satu tujuan utama
syariah Islam yang ditegakkan dalam Al- Quran. Q.S. Huud ayat 61:

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata:
"Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain
Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu
pemakmurnya [726], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian
bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya)
lagi memperkenankan (do'a hamba-Nya)."