Anda di halaman 1dari 12

PENCEMARAN AIR

Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air
seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan
air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu
bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan.
Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia. Pemanfaatan terbesar
danau, sungai, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum,
sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai
objek wisata. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga
mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai
pencemaran.
Pencemaran air merupakan masalah global utama yang membutuhkan evaluasi dan
revisi kebijakan sumber daya air pada semua tingkat (dari tingkat internasional hingga sumber
air pribadi dan sumur). Telah dikatakan bahwa pousi air adalah penyebab terkemuka di dunia
untuk kematian dan penyakit, dan tercatat atas kematian lebih dari 14.000 orang setiap harinya.
Diperkirakan 700 juta orang India tidak memiliki akses ke toilet, dan 1.000 anak-anak India
meninggal karena penyakit diare setiap hari. Sekitar 90% dari kota-kota Cina menderita polusi
air hingga tingkatan tertentu, dan hampir 500 juta orang tidak memiliki akses terhadap air
minum yang aman. Ditambah lagi selain polusi air merupakan masalah akut di negara
berkembang, negara-negara industri/maju masih berjuang dengan masalah polusi juga. Dalam
laporan nasional yang paling baru pada kualitas air di Amerika Serikat, 45 persen dari mil
sungai dinilai, 47 persen dari danau hektar dinilai, dan 32 persen dari teluk dinilai dan muara mil
persegi diklasifikasikan sebagai tercemar.
Air biasanya disebut tercemar ketika terganggu oleh kontaminan antropogenik dan
ketika tidak bisa mendukung kehidupan manusia, seperti air minum, dan/atau mengalami
pergeseran ditandai dalam kemampuannya untuk mendukung komunitas penyusun biotik,
seperti ikan. Fenomena alam seperti gunung berapi, ledakan alga, kebinasaan ikan, badai, dan
gempa bumi juga menyebabkan perubahan besar dalam kualitas air dan status ekologi air.
Secara spesifik Michael (1990) mendefinisikan pencemaran air adalah penyimpangan sifat-sifat
air dari keadaan normal, bukan dari kemurniannya. Banyak air tawar yang tercemar berat oleh
sisa-sisa pembuangan kotoran dan cairan pembuangan limbah rumah tangga ke dalam sungai.
Cairan pembuangan adalah sisa-sisa pembuangan dalam suatu bentuk cairan yang dihasilkan
oleh proses industri dan kegiatan rumah tangga. Pencemaran air oleh cairan ini berupa zat-zat
racun, bahan-bahan yang mengendap atau deoksigenasi (Michael, 1990).

Secara garis besar, ada dua tipe polutan yang masuk ke dalam perairan yaitu:
pertama, zat yang memperkaya perairan sehingga merangsang pertumbuhan
mikroorganisme dan alga, dan yang kedua adalah materi-materi yang bersifat racun
sehingga dapat membunuh mikroorganisme yang hidup dalam air. Zat yang
memperkaya perairan pada umumnya sampah organik yang dibuang oleh manusia dan
terbawa ke perairan, kotoran dan deterjen.
Menurut Solihin dan Darsati (1993) pencemaran air dapat diklasifikasikan menjadi tiga
tipe yaitu;
Pencemaran kimia berupa senyawa karbon dan senyawa anorganik.
Pencemaran fisika yang dapat berupa materi terapung dan materi tersuspensi,
Pencemaran biologi yang dapat berupa mikroba phatogen, lumut, tumbuh-tumbuhan
air.
Sumber-sumber Pencemaran Air atau kontaminan tertentu menyebabkan
pencemaran dalam air, mencakup spektrum yang luas dari bahan kimia, patogen, dan
perubahan fisik atau sensorik seperti suhu tinggi dan perubahan warna. Sementara
beberapa bahan kimia mungkin timbul secara alami (missalnya kalsium, natrium, besi,
mangan, dll) konsentrasi suatu zat biasanya dijadikan tolok ukur dalam menentukan
apakah suatu zat merupakan komponen alami dari air, ataukah merupakan kontaminan.
Konsentrasi suatu zat yang melebihi rata-rata cukup untuk mengklasifikasi bahwa air
tersebut sudah tercemar. Kandungan zat-zat yang mengurangi kadar oksigen mungkin
berasal dari bahan-bahan alami, seperti materi tanaman (misalnya daun dan rumput)
atau bahan kimia buatan manusia. Bahan alami dan antropogenik lainnya dapat
menyebabkan kekeruhan yang menghambat cahaya dan mengganggu pertumbuhan
tanaman, serta mengganggu sistem kerja insang dari beberapa spesies ikan. Banyak
zat kimia adalah beracun. Mikroorganisme patogen dapat menghasilkan penyakit yang
menular melalui air dan dapat menjangkiti manusia ataupun hewan. Perubahan kimia
fisik air meliputi keasaman (perubahan pH), konduktivitas listrik, suhu, dan eutrofikasi.
Eutrofikasi adalah peningkatan konsentrasi nutrisi kimia dalam ekosistem. Tergantung
pada tingkat keparahannya eutrofikasi berefek negatif terhadap lingkungan seperti
anoksia (berkurangnya oksigen) dan pengurangan kualitas air. Eutrofikasi
mempengaruhi populasi ikan dan hewan lainnya. Beberapa kontaminan penyebab
pencemaran air adalah:

1. Mikroorganisme patogen, bakteri coliform merupakan bakteri yang umum digunakan sebagai
bakteri indicator adanya pencemaran air, meskipun Bakteri coliform bukan merupakan
penyebab sebenarnya dari penyakit. Mikroorganisme lain yang kadang-kadang ditemukan di
permukaan air dan menyebabkan masalah kesehatan manusia meliputi: Burkholderia

pseudomallei, Cryptosporidium

parvum, Giardia

lamblia, Salmonella,Novovirus dan

virus

lainnya serta beberapa jenisCacing parasit.


2. Kontaminan kimia
Kontaminan kimia bisa termasuk termasuk zat organik dan anorganik. Polutan air organik
meliputi: Deterjen, By Product desinfektan, limbah pengolahan makanan yang dapat mencakup
zat-zat lemak dan minyak, Insektisida dan herbisida, sejumlah besar organohalides dan
senyawa kimia lainnya, Minyak hidrokarbon, termasuk bahan bakar (bensin, solar, bahan bakar
jet, dan minyak bakar) dan pelumas (oli motor), dan produk sampingan pembakaran bahan
bakar, serpihan dari kegiatan penebangan pohon dan semak, senyawa volatil organik (VOC)
seperti pelarut industri dari penyimpanan yang tidak tepat., bifenil Polychlorinated (PCB),
Trichloroethylene, Perklorat, Berbagai senyawa kimia yang ditemukan dalam produk kebersihan
pribadi dan produk kosmetik. Polutan air anorganik meliputi: Limbah industri (terutama sulfur
dioksida), Amonia dari limbah pengolahan makanan, Limbah kimia sebagai produk sampingan
industry, Pupuk yang mengandung nutrisi nitrat dan fosfat, Logam berat dari kendaraan
bermotor, sedimen dari buangan lokasi konstruksi, penebangan, dan situs pembukaan lahan.
Item makroskopik kasat mata yang disebut floatables atau sampah laut saat ditemui di laut
lepas, dapat mencakup item seperti: Sampah (misalnya kertas, plastik, atau makanan sampah)
dibuang oleh orang-orang di tanah, bersama dengan disengaja atau pembuangan sampah,
yang dicuci oleh curah hujan ke saluran badai dan akhirnya dibuang ke air permukaan, Kapal
Karam.
Sementara jika ditinjau dari asal polutan dan sumber pencemarannya, pencemaran air dapat
dibedakan antara lain:
1 Limbah Pertanian
Limbah pertanian dapat mengandung polutan insektisida atau pupuk organik. Insektisida dapat
mematikan biota sungai. Jika biota sungai tidak mati kemudian dimakan hewan atau manusia,
orang yang memakannya akan keracunan. Untuk mencegahnya, upayakan agar memilih
insektisida yang berspektrum sempit (khusus membunuh hewan sasaran) serta bersifat
biodegradabel (dapat terurai oleh mikroba) dan melakukan penyemprotan sesuai dengan
aturan. Jangan membuang sisa obet ke sungai. Sedangkan pupuk organik yang larut dalam air
dapat menyuburkan lingkungan air (eutrofikasi). Karena air kaya nutrisi, ganggang dan
tumbuhan air tumbuh subur (blooming). Hal yang demikian akan mengancam kelestarian
bendungan. bemdungan akan cepat dangkal dan biota air akan mati karenanya.
2. Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga yang cair merupakan sumber pencemaran air. Dari limbah rumah tangga
cair dapat dijumpai berbagai bahan organik (misal sisa sayur, ikan, nasi, minyak, lemek, air
buangan manusia) yang terbawa air got/parit, kemudian ikut aliran sungai. Adapula bahan-

bahan anorganik seperti plastik, alumunium, dan botol yang hanyut terbawa arus air. Sampah
bertimbun, menyumbat saluran air, dan mengakibatkan banjir. Bahan pencemar lain dari limbah
rumah tangga adalah pencemar biologis berupa bibit penyakit, bakteri, dan jamur. Bahan
organik yang larut dalam air akan mengalami penguraian dan pembusukan. Akibatnya kadar
oksigen dalam air turun dratis sehingga biota air akan mati. Jika pencemaran bahan organik
meningkat, kita dapat menemui cacing Tubifex berwarna kemerahan bergerombol. Cacing ini
merupakan petunjuk biologis (bioindikator) parahnya pencemaran oleh bahan organik dari
limbah pemukiman. Di kota-kota, air got berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau yang
menyengat. Di dalam air got yang demikian tidak ada organisme hidup kecuali bakteri dan
jamur. Dibandingkan dengan limbah industri, limbah rumah tangga di daerah perkotaan di
Indonesia mencapai 60% dari seluruh limbah yang ada.
3. Limbah Industri
Adanya sebagian industri yang membuang limbahnya ke air. Macam polutan yang dihasilkan
tergantung pada jenis industri. Mungkin berupa polutan organik (berbau busuk), polutan
anorganik (berbuaih, berwarna), atau mungkin berupa polutan yang mengandung asam
belerang (berbau busuk), atau berupa suhu (air menjadi panas). Pemerintah menetapkan tata
aturan untuk mengendalikan pencemara air oleh limbah industri. Misalnya, limbah industri harus
diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai agar tidak terjadi pencemaran. Di laut, sering
terjadi kebocoran tangker minyak karena bertabrakan dengan kapal lain atau karang. Minyak
yang ada di dalam kapal tumpah menggenangi lautan dalam jarak ratusan kilometer. Ikan,
terumbu karang, burung laut, dan hewan-hewan laut banyak yang mati karenanya. Untuk
mengatasinya, polutan dibatasi dengan pipa mengapung agar tidak tersebar, kemudian
permukaan polutan ditaburi dengan zat yang dapat menguraikan minyak.
4. Penangkapan Ikan Menggunakan racun

Beberapa penduduk dan nelayan ada yang menggunakan tuba (racun dari tumbuhan
atau potas (racun) untuk menangkap ikan tangkapan, melainkan juga semua biota air.
Racun tersebut tidak hanya hewan-hewan dewasa, tetapi juga hewan-hewan yang
masih kecil. Dengan demikian racun yang disebarkan akan memusnahkan jenis makluk
hidup yang ada didalamnya. Kegiatan penangkapan ikan dengan cara tersebut
mengakibatkan pencemaran di lingkungan perairan dan menurunkan sumber daya
perairan.
Pencemaran air bersumber dari limbah, baik darat, udara, maupun dari aktivitas yang
berlangsung di perairan itu sendiri. Secara terperinci sumber pencemaran di perairan
sebagai berikut :

Air hujan mengalirkan limbah dari daratan seperti limbah rumah tangga, pertanian,
industri dan lain-lain ke sungai, danau atau laut.

Air buangan dari kota-kota dan daerah industri melalui saluran pembuangan.
Bahan-bahan pencemar melalui udara seperti debu, asam-asam organik dan anorganik,
dan lain-lain.

Parameter dan Pengujian Pencemaran Air


Pencemaran air dapat dianalisis melalui beberapa kategori metode: fisik, kimia dan
biologi. Sebagian besar melibatkan pengumpulan sampel, diikuti oleh tes analitis khusus.
Beberapa metode dapat dilakukan langsung di tempat, tanpa pengambilan sampel, seperti
suhu. Instansi pemerintah dan organisasi penelitian telah telah diatur, divalidasi metode
pengujian analitis standarnya untuk memfasilitasi komparabilitas hasil dari peristiwa pengujian
yang berbeda. Sampling air untuk pengujian fisik atau kimia dapat dilakukan dengan beberapa
metode, tergantung pada keakuratan yang dibutuhkan dan karakteristik kontaminan. Banyak
kejadian kontaminasi yang tajam dibatasi dalam waktu, paling sering dalam hubungan dengan
peristiwa hujan. Untuk alasan ini pengambilan sampel sering tidak sepenuhnya representatif
untuk diukur tingkat kontaminannya. Para ilmuwan dalam mengumpulkan jenis data biasanya
menggunakan perangkat auto-sampler yang memompa air baik pada waktu tertentu atau debit
tertentu. Sampling untuk pengujian biologis melibatkan pengumpulan tumbuhan dan / atau
hewan dari sekitar air permukaan yang diuji. Tergantung pada jenis penilaian, organisme dapat
diidentifikasi untuk biosurveys atau mereka dapat dibedah untuk uji biologis dalam penentuan
toksisitas. Adapun macam pengujian yang mungkin dilakukan dalam penentuan pencemaran air
antara lain:
1. Pengujian kimia
Sampel air dapat diperiksa menggunakan prinsip-prinsip kimia analitik. Banyak metode
pengujian yang diterbitkan tersedia untuk senyawa organik dan anorganik. Parameternya
berupa:
DO (Dissolved Oxygen)
Yang dimaksud dengan DO adalah oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal
dari udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk
yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya termasuk mikroorganisme
seperti bakteri. Agar ikan dapat hidup, air harus mengandung oksigen paling sedikit 5 mg/ liter
atau 5 ppm (part per million). Apabila kadar oksigen kurang dari 5 ppm, ikan akan mati, tetapi
bakteri yang kebutuhan oksigen terlarutnya lebih rendah dari 5 ppm akan berkembang.
BOD (Biochemical Oxygent Demand)

BOD adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses
mikrobiologis yang benar -benar terjadi dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk
menentukan beban pencemaran akibat air buangan dan untuk mendesain sistem pengolahan
secara biologis. Dengan tes BOD kita akan mengetahui kebutuhan oksigen biokima yang
menunjukkan jumlah oksigen yang digunakan dalam reaksi oksidasi oleh bakteri. Sehingga
makin banyak bahan organik dalam air, makin besar B.O.D nya sedangkan D.O akan makin
rendah. Air yang bersih adalah yang B.O.D nya kurang dari 1 mg/l atau 1ppm, jika B.O.D nya di
atas 4 ppm, air dikatakan tercemar.
COD (Chemical Oxygent Demand)
COD adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis
yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana pengoksidasi K2,Cr2,O7 digunakan sebagai sumber
oksigen. Pengujian COD pada air limbah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan
pengujian BOD yaitu : Sanggup menguji air limbah industri yang beracun yang tidak dapat diuji
dengan BOD karena bakteri akan mati dan waktu pengujian yang lebih singkat, kurang lebih
hanya 3 jam
TSS (Total suspended Solid)
TSS adalah jumlah berat dalam mg/liter kering lumpur yang ada dalam limbah setelah
mengalami penyaringan dengan membran berukuran 0,45 mikron. Air alam mengandung zat
padat terlarut yang berasal dari mineral dan garam-garam yang terlarut ketika air mengalir di
bawah atau di permukaan tanah. Apabila air dicemari oleh limbah yang berasal dari industri,
pertambangan dan pertanian, kandungan zat padat tersebut akan meningkat. Jumlah zat padat
terlarut ini dapat digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran air. Selain jumlah, jenis zat
pencemar juga menentukan tingkat pencemaran dan juga berguna untuk penentuan efisiensi
unit pengolahan air .
pH
pH adalah drajat keasaman suatu zat. pH normal adalah 6-8. Tujuan metode pengujian ini
untuk memperoleh drajat keasaman (pH) dalam air dan air limbah dengan menggunakan alat
pH meter
Total organik karbon (TOC) , Total Carbon (TC), Inorganic Carbon (IC)
TOC adalah jumlah karbon yang terikat dalam suatu senyawa organik dan sering
digunakan sebagai indikator tidak spesifik dari kualitas air atau kebersihan peralatan pabrik.
Total Carbon (TC) semua karbon dalam sample, Total Inorganic Carbon (TIC) sering disebut
sebagai karbon anorganik (IC), karbonat, bikarbonat, dan terlarut karbon dioksida (CO 2); suatu

material yang berasal dari sumber non-hidup. Dalam menganalisa TOC, TC, dan IC kita bisa
menggunakan TOC analyzer.
Parameter Logam
Spektroskopi penyerapan atom adalah teknik untuk menentukan konsentrasi elemen logam
tertentu dalam sampel. Teknik ini dapat digunakan untuk menganalisa konsentrasi lebih dari 70
jenis logam yang berbeda dalam suatu larutan. beberapa logam yang berbahaya diantaranya :
Hg (merkuri) , Ar (arsen), Cd (kadmium), Pb (timbal)
2. Parameter Fisika
Perubahan yang ditimbulkan parameter fisika dalam air limbah yaitu: padatan, kekeruhan,
bau, temperatur, daya hantar listrik dan warna. Padatan terdiri dari bahan padat organik
maupun anorganik yang larut, mengendap maupun suspensi. Akibat lain dari padatan ini
menimbulkan tumbuhnya tanaman air tertentu dan dapat menjadi racun bagi makhluk
lain.Pengukuran daya hantar listrik ini untuk melihat keseimbangan kimiawi dalam air dan
pengaruhnya terhadap kehidupan biota.Warna timbul akibat suatu bahan terlarut atau
tersuspensi dalam air, di samping adanya bahan pewarna tertentu yang kemungkinan
mengandung logam berat. Bau disebabkan karena adanya campuran dari nitrogen, fospor,
protein, sulfur, amoniak, hidrogen sulfida, carbon disulfida dan zat organik lain.Temperatur air
limbah akan mempengaruhi kecepatan reaksi kimia serta tata kehidupan dalam air. Perubahan
suhu memperlihatkan aktivitas kimiawi biologis pada benda padat dan gas dalam air.
3. Parameter Biologi;
Parameter biologi meliputi ada atau tidaknya pencemaran secara biologi berupa
mikroorganisme, misalnya, bakteri coli, virus, bentos, dan plankton. jenis- jenis mikroorganisme
di air yang tercemar seperti : Escherichia coli, Entamoeba coli, dan Salmonella thyposa

Dampak Pencemaran Terhadap Kehidupan di Air


Pada akhir abad XX ini, limbah kegiatan industri dikatakan telah mengancam
seluruh.negeri. Hal ini disebabkan karena melalui mekanisme alam seperti tiupan angin,
aliran air sungai, daya rambat di tanah melalui difusi limbah tersebut dapat menyebar
ke mana-mana (Syah, 1995). Buangan di perairan menyebabkan masalah kehidupan
biota dalam bentuk keracunan bahkan kematian. Gangguan terhadap biota perairan
telah menimbulkan dampak penurunan kualitas dan kuantitas biota perairan (ikan dan
udang). Kelebihan pupuk yang dialirkan ke rawa atau ke danau dapat menimbulkan
suburnya enceng gondok. Selain itu, erosi lumpur yang terbawa ke laut kemudian
diendapkan mengakibatkan tertutupnya permukaan karang yang pada akhirnya
menyebabkan kematian karang.

Akibat pencemaran itu kehidupan dalam air dapat terganggu dengan


mematikan binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan dalam air karena oksigen yang
terlarut dalam air akan habis dipakai untuk dekomposisi aerobik dari zat-zat organik
yang banyak terkandung dalam air buangan.
Dampak pencemaran air yang disebabkan oleh limbah pemukiman mendatangkan akibat atau
dampak diantaranya:

Berkurangnya jumlah oksigen terlarut di dalam air karena sebagian besar oksigen
digunakan oleh bakteri untuk melakukan proses pembusukan sampah.
Sampah anorganik ke sungai, dapat berakibat menghalangi cahaya matahari sehingga
menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan air dan alga, yang menghasilkan
oksigen.
Deterjen sangat sukar diuraikan oleh bakteri sehingga akan tetap aktif untuk jangka
waktu yang lama di dalam air, mencemari air dan meracuni berbagai organisme air.
Penggunaan deterjen secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air
sungai atau danau yang merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok
(Eichhornia crassipes).
Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan
permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya
matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis.
Tumbuhan air (eceng gondok dan ganggang) yang mati membawa akibat proses
pembusukan tumbuhan ini akan menghabiskan persediaan oksigen.
Material pembusukan tumbuhan air akan mengendapkan dan menyebabkan
pendangkalan.

Pencemaran yang tidak disebabkan oleh sifat racun dari bahan-bahan pencemar
adalah :
1. Kandungan lumpur yang meningkat di dalam air mengurangi jumlah cahaya yang
masuk yang diperlukan untuk berfotosintesis. Unsur hara yang masuk berlebihan ke
ekosistem perairan dapat menyebabkan pertumbuhan yang sangat cepat dari algae
atau tanaman air, sehingga menyebabkan berkurangnya bentuk kehidupan lainnya
seperti ikan dan kerang-kerangan.
2. Buangan air panas meskipun tidak langsung membunuh biota air, dapat merubah
kondisi dari lingkungan hidupnya. Akibatnya, satu jenis akan tumbuh dan berkembang
lebih cepat sedang yang lain justru dapat terhambat. Kelakuan ikan yang selalu
berpindah (migration) dapat berubah disebabkan adanya perubahan suhu yang relatif
cepat pada jarak yang pendek.

3. Lumpur erosi sebagai akibat pengelolaan tanah yang kurang baik dapat diendapkan di
pantai-pantai dan mematikan kehidupan karang atau merusak tempat berpijak biota
perairan.
4. Senyawa organik di dalam proses penguraiannya dapat mengambil zat asam dari air
terlalu banyak, sehingga membahayakan kehidupan di tempat itu.
5. Air sungai yang mengalir berlebihan ke perairan pantai dapat membentuk lapisan yang
menghalangi pertukaran massa air dengan lapisan air yang lebih subur dari bawah.
Pencemaran limbah ke lingkungan perlu diperhatikan dan diantisipasi dengan
baik, lebih-lebih terhadap air sungai, karena air sungai dipakai penduduk untuk
berbagai keperluan. Pencemaran sungai oleh air buangan ditinjau dari sudut
mikrobiologi antara lain : pencemaran bakteri patogen dan non patogen serta bahan
organik. Banyaknya bahan organik akan merangsang pertumbuhan mikroorganisme
menjadi pesat. Hal ini mengakibatkan pemakaian oksigen akan cepat dan meningkat,
akibatnya kadar oksigen terlarut dalam air akan menipis dan menjadi sedikit sekali,
yang akhirya mengakibatkan mikroorganisme dan organisme air lainnya yang
memerlukan oksigen mati. Ekologi air akan berubah drastis. Keadaan menjadi
anaerobik, sehingga air sungai busuk, dan tidak sehat bagi pertumbuhan
mikroorganisme flora dan fauna air itu. Lingkungan hidup yang demikian ini sudah rusak
dan tidak layak lagi bagi kebutuhan hidup kita (Ardhana, 1994).
Penanggulangan Pencemaran Air
Penanggulangan dan usaha pemecahan masing-masing masalah tentu harus berbeda.
Sebagai contoh misalnya:
1.
Usaha reboisasi atau penghijauan serta pengelolaan daerah air sungai (DAS)

untuk mengurangi intensitas dan volume erosi.


2.
Pembatasan penangkapan dengan berbagai cara (musim penangkapan, mata
jaring, jenis alat-alat penangkapan tertentu dan lain-lain).
3.
Pengaturan dan pembatasan bahan-bahan pembuangan industri dengan segala
sanksinya bagi masalah pencemaran laut dan wilayah pesisir pantai.
4.
Memonitor segala perubahan komposisi biotik dan abiotik dan ekosistem laut
yang menunjukkan telah terjadinya pencemaran, kerusakan, dan gangguan.
Selain cara penanggulangan yang telah disebutkan di atas, kita juga dapat melakukan
penanggulangan lain seperti di bawah ini:
1.
Menjaga kelangsungan ketersediaan

air dengan tidak merusak atau


mengeksploitasi sumber mata air agar tidak tercemar.
2.
Tidak membuang sampah ke sungai. Hal ini dapat dikarenakan tidak adanya
fasilitas pembuangan sampah yang layak dan mencukupi terutama di kota-kota besar.

Sering kita melihat penumpukan sampah di daerah-daerah yang bukan merupakan


tempat pembuangan sampah.
3.
Menciptakan tempat pembuangan sampah yang cukup dan memadai. Hal ini
mutlak dilakukan agar sistem pembuangan sampah dapat berjalan dengan baik dan
lancar. Sampah menjadi kontribusi tertinggi dalam pencemaran air. Jika masalah
sampah dapat segera teratasi maka pencemaran air pun juga akan teratasi dengan
cepat.
4.
Mengurangi intensitas limbah rumah tangga.
5.
Melakukan penyaringan limbah pabrik sehingga yang nantinya bersatu dengan
air sungai bukanlah limbah jahat perusak ekosistem. Hal ini telah diregulasi oleh
pemerintah. Ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengatasi pencemaran ini.
namun komitmen seluruh perusahaan penyumbang limbah ini juga sangat dibutuhkan
agar semua pihak dapat turut menjaga kelestarian lingkungan yang ada.
6.
Pembuatan sanitasi yang benar dan bersih agar sumber-sumber air bersih
lainnya tidak tercemar.
Sedangkan untuk menyikapi pencemaran air, dapat dilakukan beberapa cara sebagai berikut:
1. Program pengendalian pencemaran dan pengrusakan lingkungan
2. Mengurangi beban pencemaran badan air oleh indutri dan domestik.
3. Mengurangi beban emisi dari kendaraan bermotor dan industri.
Program rehabilitasi dan konservasi SDA dan lingkungan hidup
1.
Mengoptimalkan pelaksanaan rehabilitasi lahan kritis.
2.
3.
4.

Menanggulangi kerusakan lahan bekas pertambangan, TPA, dan bencana.


Meningkatkan konservasi air bawah tanah.
Rehabilitasi dan konservasi keanekaragaman hayati.
Untuk menekan dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran air ini kita dapat melakukan

usaha pencegahan pencemaran air. usaha pencegahan pencemaran air ini bukan merupakan
proses yang sederhana, tetapi melibatkan berbagai faktor sebagai berikut:
1.
Air limbah yang akan dibuang ke perairan harus diolah lebih dahulu sehingga

memenuhi standar air limbah yang telah ditetapkan pemerintah.


2.
Menggunakan bahan yang dapat mencegah dan menyerap minyak yang tumpah
di perairan.
3.
Tidak membuang air limbah rumah tangga langsung ke dalam perairan. Hal ini
untuk mencegah pencemaran air oleh bakteri.
4.
Limbah radioaktif harus diproses dahulu agar tidak mengandung bahaya radiasi
dan barulah dibuang di perairan.

Mengeluarkan atau menguraikan deterjen atau bahan kimia lain dengan


menggunakan aktifitas mikroba tertentu sebelum dibuang ke dalam perairan umum.
6.
Semua ketentuan di atas bila tidak dapat dipenuhi dapat dikenakan sanksi.
5.

Banyak cara yang dilakukan pemerintah untuk menangani pencemaran air bersih ini. namun
semua itu tidak ada artinya bila kita sendiri sebagai masyarakat tidak mendukung teciptanya
lingkungan yang bersih dan nyaman. Semua itu tergantung pada kesadaran kita masing-masing
untuk menjaga lingkungan. Kita dapat menanamkan sikap cinta lingkungan sejak dini di
lingkungan keluarga. misalnya saja melakukan kerja bakti membersihkan rumah sebulan sekali,
mencontohkan langsung kepada anak bahwa kita harus membuang sampah di tempatnya,
jangan menggunakan air lebih dari kebutuhan, mengajarkan kepada anak untuk menanam
tanaman di sekitar rumah.
Selain itu kita juga dapat membuat daerah resapan air di sekitar rumah dengan cara
membuat lubang-lubang kecil di sekitar rumah yang kemudian di isi dengan sampah organik
seperti daun-daun kering sehingga nantinya akan menjadi kompos dan dapat menambah unsur
hara di dalam tanah. Selain itu juga dapat meningkatkan aktivitas organisme yang ada di dalam
tanah seperti cacing untuk membuat ruang resapan air. Dengan begitu air yang tertampung
akan semakin banyak dan diharapkan kualitas air akan bertambah. Tindakan yang nyata akan
lebih

berguna

daripada

hanya

ceramah

tanpa

diimbangi

dengan

perbuatan.

Selain itu, ada beragam tindakan lain selain tindakan preventif yang bisa kita lakukan. Berikut
ini beberapa tindakan yang dapat kita lakukan oleh masyarakat sebagai Cara mengatasi
pencemaran air , yaitu:

Gunakan air dengan bijaksana. Kurangi penggunaan air untuk kegiatan yang kurang
berguna dan gunakan dalam jumlah yang tepat.
Kurangi penggunaan detergen. Sebisa mungkin pilihlah detergen yang ramah
lingkungan dan dapat terurai di alam secara cepat.
Kurangi konsumsi obat-obatan kimia berbahaya. Obat-obatan kimia yang berbahaya
seperti pestisida, dan obat nyamuk cair merupakan salah satu penyebab rusaknya
ekosistem air
Tidak menggunakan sungai untuk mencuci mobil, truk, dan sepeda motor.
Tidak menggunakan sungai untuk wahana memandikan hewan ternak dan sebagai
tempat kakus.
Jangan membuang sampah rumah tangga di sungai/danau. Kelola sampah rumah
tangga dengan baik dan usahakan menanam pohon di pinggiran sungai/danau.
Sadar akan kelangsungan ketersediaan air dengan tidak merusak atau
mengeksploitasi sumber mata air agar tidak tercemar.
Mengoptimalkan pelaksanaan rehabilitasi lahan kritis yang bertujuan untuk
meningkatkan konservasi air bawah tanah

Menanggulangi kerusakan lahan bekas pembuangan limbah B3.


Beberapa langkah di atas merupakan cara mengatasi pencemaran air secara
sederhana yang dapat dimulai dari diri sendiri. Sebenarnya tidak terlalu susah untuk
mengatasi pencemaran air apabila kita menyadari bahwa air merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari kehidupan dan setiap orang wajib untuk menjaga dan
melestarikan ekosistem air.