Anda di halaman 1dari 11

ANDI MUHAMMAD NOVIAN NURTANIO

A311 11 009
AKUNTANSI SYARIAH
AKAD IJARAH DAN HAWALAH
PENGERTIAN AKAD IJARAH
Menurut Sayyid Sabiq dalam Fikih Sunah, al Ijarah berasal dari kata al Ajruh yang berarti
al Iwadhu (ganti/kompensasi). Ijarah dapat didefinisikan sebagai akad pemindahan hak guna
(manfaat) atas suatu barang atau jasa, dalam waktu tertentu dengan pembayaran upah sewa
(ujrah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri. Jadi ijarah
dimaksudkan untuk mengambil manfaat atas suatu barang atau jasa (mempekerjakan seseorang)
dengan jalan penggantian (membayar sewa atau upah sejumlah tertentu).
Aset yang disewakan (objek ijarah) dapat berupa rumah, mobil, peralatan dan lain
sebagainya. Karena yang ditransfer adalah manfaat dari suatu aset, sehingga segala sesuatu yang
dapat ditransfer manfaatnya dapat menjadi objek ijarah. Dengan demikian, barang yang dapat
habis dikonsumsi tidak dapat menjadi objek ijarah, karena mengambil manfaatnya berarti
memilikinya. Bentuk lain dari objek ijarah adalah manfaat dari suatu jasa yang berasal dari suatu
jasa yang berasal dari hasil karya atau dari pekerjaan seseorang.
JENIS AKAD IJARAH
A.

Berdasarkan Objek yang Disewakan


Berdasarkan objek yang disewakan, ijarah dapat dibagi 2, yaitu:
1. Manfaat atas aset yang tidak bergerak seperti rumah atau aset bergerak seperti mobil,
motor, pakaian dan sebagainya.
2.

B.

Manfaat atas jasa berasal dari hasil karya atau dari pekerjaan seseorang.

Berdasarkan Exposure Draft PSAK 107


Berdasarkan Exposure Draft 107, ijarah dapat dibagi menjadi 3, namun yang telah dikenal
secara luas adalah 2 jenis ijarah yang disebutkan pertama, yaitu:
1.

Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset atau jasa, dalam
waktu tertentu dengan pembayaran upah atau sewa (ujrah), tanpa diikuti dengan
pemindahan kepemilikan atas aset itu sendiri.

2.

Ijarah muntahiya bit Tamlik (IMBT) merupakan ijarah dengan waad (janji) dari
pemberi sewa berupa perpindahan kepemilikan objek ijarah pada saat tertentu (ED
PSAK 107).

DASAR SYARIAH
A.

Sumber Hukum Akad Ijarah

1. Al-Quran, sebagaimana firman Allah SWT


Apakahmereka yang membagi-bagi rahmat Tuhan-mu? Kami telah menentukan antara
mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian
mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat
mempergunakan yang lain. Dan rahmat Tuhan-mu lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan. (QS. Az-Zukhruf: 32)
2. As-Sunah
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda: berbekamlah kamu,
kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada tukang bekam itu. (HR. Bukhari dan
Muslim) Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah bersabda: berikanlah upah pekerja sebelum
keringatnya kering. (HR. Ibnu Majah)
Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya (HR. Abd ar-Razzaq dari
Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudri)
BERAKHIRNYA AKAD IJARAH
1.

Periode akad sudah selesai sesuai perjanjian, namun kontrak masih dapat berlaku
walaupun dalam perjanjian sudah selesai dengan beberapa alasan, misalnya
keterlambatan masa

panen jika menyewakan lahan untuk

pertanian,

maka

dimungkinkan berakhirnya akda setelah panen selesai.


2.

Periode akad belum selesai tetapi pemberi sewa dan penyewa sepakat menghentikan
akad ijarah.

3. Terjadi kerusakan aset.


4.

Penyewa tidak dapat membayar sewa.

5. Salah satu pihak meninggal dan ahli waris tidak berkeinginan untuk meneruskan akad
karena memberatkannya. Kalau ahli waris merasa tidak masalah maka akad tetap

berlangsung. Kecuali akadnya adalah upah menyusui maka bila sang bayi atau yang
menyusui meninggal maka akadnya menjadi batal.
PERLAKUAN AKUNTANSI (PSAK 107)
A. Akuntansi Untuk Pemberi Sewa (Mujir)
1.

Biaya perolehan, untuk objek ijarah baik aset berwujud maupun tidak berwujud, diakui
saat objek ijarah di peroleh sebesar biaya perolehan. Aset tersebut harus memenuhi
syarat sebagai berikut:
a.

Kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan


dari aset tersebut, dan

b.

Biaya perolehannya dapat diukur secara andal.

Jurnal:
Dr. Aset Ijarah

XXX

Kr. Kas/Utang
2.

XXX

Penyusutan, jika aset ijarah tersebut dapat disusutkan/diamortisasi maka penyusutan


atau amortisasinya diperlakukan sama untuk aset sejeis seama umur manfaatnya (umur
ekonomisnya). Jika aset ijarah untuk akad jenis IMBT maka masa manfaat yang
digunakan untuk menghitung penyusutan adalah periode akad IMBT.
Jurnal:
Dr. Biaya Penyusutan

XXX

Kr. Akumulasi Penyusutan

XXX

3. Pendapatan Sewa, diakui pada saat menfaat atas aset telah diserahkan kepada penyewa
pada akhir periode pelapor. Jika manfaat telah diserahkan tapi perusahaan belum
menerima uang, maka akan diakui sebagai piutang pendapatan sewa dan diukur sebesar
nilai yang dapat direalisasikan.
Jurnal:
Dr. Kas/ Piutang Sewa
Kr. Pendapatan Sewa

XXX
XXX

4. Biaya perbaikan Objek Ijarah, adalah tanggungan pemilik, tetapi pengeluarannya dapat
dilakukan oleh pemilik secara langsung atau dilakukan oleh penyewa atas persetujuan
pemilik.
a.

jika perbaikan rutin yang dilakukan oleh penyewa dengan persetujuan pemilik
maka diakui sebagai beban pemilik pada saat terjadinya.

Jurnal:
Dr. Biaya Perbaikan

XXX

Kr. Utang
b.

XXX

Jika perbaikan tidak rutin atas objek ijarah yang dilakukan oleh penyewa diakui
pada saat terjadinya.

Jurnal:
Dr. Biaya Perbaikan

XXX

Kr. Kas/Utang/Perlengkapan

XXX

c. Dalam ijarah muntahiyah bit tamlik melalui penjualan secara bertahap, biaya
perbaikan objek ijarah yang dimaksud dalam huruf (a) dan (b) ditanggung pemilik
maupun penyewa sebanding dengan bagian kepemilikan masing-masing atas objek
ijarah.
Jurnal:
Dr. Biaya Perbaikan

XXX

Kr. Kas/Utang/perlengkapan
5.

XXX

Perpindahan Kepemilikan Objek Ijarah dalam Ijarah Muntahiyah bit Tamlik dapat
dilakukan dengan cara:
a.

Hibah, maka jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai beban.

Jurnal:
Dr. Beban Ijarah
Dr. Akumulasi Penyusutan
Kr. Aset Ijarah

XXX
XXX
XXX

b.

Penjualan sebelumnya berakhirnya masa, sebesar sisa cicilan sewa atau jumlaah
yang disepakati, maka selisih antara harga jual dan jumlah tercatat objek ijarah
diakui sebagai keuntungan atau kerugian.

Jurnal:
Dr. Kas/Piutang

XXX

Dr. Akumulasi Penyusutan

XXX

Dr. Kerugian

c.

XXX

Kr. Keuntungan

XXX

Kr. Aset Ijarah

XXX

Penjualan setelah selesai masa akad, maka selisih antara harga jual dan jumlah
tercatat objek ijarah diakui sebagai keuntungan atau kerugian.

Jurnal:
Dr. Kas

XXX

Dr. Kerugian

XXX

Dr. Akumulasi Penyusutan

XXX

d.
1)

Kr. Keuntungan

XXX

Kr. Aset Ijarah

XXX

Penjualan objek ijarah secara bertahap, maka:


Selisih antara harga jual dan jumlah tercatat sebagian objek ijarah yang telah
dijual diakui sebagai keuntungan atau kerugian.

Jurnal:
Dr. Kas

XXX

Dr. Kerugian

XXX

Dr. Akumulasi Penyusutan XXX


Kr. Keuntungan
Kr. Aset Ijarah

XXX
XXX

Seluruh beban maupun keuntungan/kerugian yang timbul akibat penjualan ijarah


tersebut diakui sebagai beban/keuntungan/kerugian pada periode berjalan.

Keuntungan/kerugian yang timbul tidak dapat diakui sebagai pengurangan atau


penambahan dari beban ijarah.
6.

Penyajian, pendapatan ijarah disajikan secara neto setelah dikurangi beban-beban


yang terkait, misalnya beban penyusutan, beban pemeliharaan dan perbaikan, dan
sebagainya.

7.

Pengungkapan, pemilik mengungkapkan dalam laporan keuangan terkait transaksi


ijarah dan ijarah muntahiya bit tamlik, tetapi tidak terbatas pada:
a.

Penjelasan umum isi akad yang signifikan yang meliputi tetapi tidak terbatas

pada:
1)

Keberadaan waad pengalihan kepemilikan dan mekanisme yang digunakan

(jika ada waad pengalihan kepemilikan);


2)

Pembatasan-pembatasan, misalnya ijarah lanjut;

3) Agunan yang digunakan (jika ada);


b.

Nilai perolehan dan akumulasi penyusutan untuk setiap kelompok aset ijarah.

c.

Keberadaan transaksi jual dan ijarah (jika ada).

B. Akuntansi Untuk Penyewa (Mustajir)


1.

Beban Sewa, diakui selama masa akad pada saat manfaat atas aset telah diterima.

Jurnal pencatatannya:
Dr. Beban Sewa
Kr. Kas/Itang

XXX
XXX

Untuk pengakuan sewa diukur sejumlah yang harus dibayar aas manfaat yang telah
diterima.
2.

Biaya pemeliharaan objek ijarah, yang disepakati dalam akad menjadi tanggungan
penyewa diakui sebagai beban pada saat terjadinya. Sedangkan dalam ijarah
muntahiya bit tamlik melalui penjualan objek ijarah secara bertahap, biaya
pemeliharaan objek ijarah yang menjadi beban penyewa akan meningkat sejalan
dengan peningkatan kepemilikan objek ijarah.

Jurnal:
Dr. Beban Pemeliharaan Ijarah

XXX

Kr. Kas/Utang/Perlengkapan

XXX

Jurnal pencatatan atas biaya pemeliharaan yang menjadi tanggungan pemberi sewa tapi
bayarannya terlebih dahulu oleh penyewa.
Dr. Piutang

XXX
Kr. Kas/Utang/Perlengkapan

XXX

3. Pemindahan kepemilikan, dalam ijarah muntahiya bit tamlik dapat dilakukan dengan
cara :
a.

Hibah, maka penyewa mengakui aset dan keuntungan sebesar nilai wajar objek
ijarah yang diterima.

Jurnal:
Dr. Aset Nonkas (Eks Ijarah)

XXX

Kr. Keuntungan
b.

XXX

Pembelian sebelum masa akad berakhir, maka penyewa mengakui aset sebesar
pembayaran sisa cicilan sewa atau jumlah yang disepakati.

Jurnal:
Dr. Aset Nonkas (Eks Ijarah)
Kr. Kas
c.

XXX

XXX

Pembelian setelah masa kad berakhir, maka penyewa mengakui aset sebesar
pembayaran yang disepakati.

Jurnal:
Dr. Aset Nonkas (Eks Ijarah)
Kr. Kas
d.

XXX

XXX

Pembelian objek ijarah secara bertahap, maka penyewa mengakui aset sebesar
biaya perolehan objek ijarah yang diterima.

Jurnal:
Dr. Aset Nonkas (Eks Ijarah)
Kr. Kas
Kr. Utang
4.

XXX
XXX
XXX

Jika suatu entitas/penyewa menyewakan kembali aset ijarah lebih lanjut pada pihak
lain atas aset yang sebelumnya disewa, ia perlakuan akuntansi untuk pemilik dan
akuntansi penyewa dalam PSAK ini.

5.

Pengungkapan, penyewa menungkapkan dalam laporan keuangan terkait transaksi


ijarah dan ijarah muntahiya bit tamlik, tetapi idak terbatas pada :

a.
b.

Penjelasan umum isi akad yang signifikan yang meliputi tetapi tidak terbatas pada :
Keberadaan transaksi jual dan ijarah dan keuntungan atau kerugian yang diikuti
(jika ada transasksi jual dan ijarah).

AKUNTANSI HAWALAH
Secara bahasa hawalah atau hiwalah bermakna berpindah atau berubah. Dalam hal ini terjadi
perpindahan tanggungan atau hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah para fukoha
hawalah adalah pemindahan atau pengalihan penagihan hutang dari orang yang berhutang
kepada orang yang menanggung hutang tersebut.Menurut ED PSAK 110, Hawalah adalah
pengalihan utang dari satu pihak kepada pihak lain. Yang terdiri atas hawalah muqayyadah dan
hawalah muthlaqah. Sementara menurut istilah para ulama, hal ini merupakan pemindahan beban
utang dari muhil (orang yang berutang) menjadi tanggungan muhalalaih (orang yang
berkewajiban membayar utang).
Secara sederhana, hal ini dapat dijelaskan bahwa A (muhal) memberi pinjaman kepada B
(muhil), sedangkan B masih mempunyai piutang kepada C (muhalalaih). Begitu B tidak mampu
membayar utang nya pada A, ia lalu mengalihkan beban utang tersebut kepada C. dengan
demikian, C yang harus membayar utang B kepada A, sedangkan utang C sebelumnya pada B
dianggap selesai.
- Hawalah muqayyadah
Hawalah di mana muhil adalah pihak yang berutang sekaligus berpiutang kepada
muhalalaih.
Hawalah muthlaqah
Hawalah dimana muhil adalah pihak yang berutang, tetapi tidak berpiutang pada
muhalalaih. Dalam hawalah ini dikenal juga yang nama nya hawalah bil ujrah, yaitu
hawalah yang berlaku pengenaan fee atau ujrah.
LANDASAN SYARIAH

Pengalihan penagihan hutang ini dibenarkan oleh syariah dan telah dipraktekkan oleh kaum
Muslimin dari zaman Nabi Muhammad ZAW sampai sekarang. Dalam al-Qur'an kaum
Muslimin diperintahkan untuk saling tolong menolong satu sama lain, lihat al-Qur'an : 5: 2.
Akad hawalah merupakan suatu bentuk saling tolong menolong yang merupakan
manifestasi dari semangat ayat tersebut.
As Sunnah
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw.
Bersabda, Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman. Dan
jika salah seorang dari kamu diikutkan (di-hawalahkan-) kepada orang yang mampu/kaya,
terimalah hawalah itu.
Sebagian ulama berpendapat bahwa perintah untuk menerima hawalah dalam hadist
tersebut menunjukkan wajib. Oleh sebab itu, wajib bagi yang mengutangkan (muhal)
menerima hawalah. Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwa perintah itu menunjukkan
sunnah. Jadi, sunnah hukumnya menerima hawalah bagi muhal.
KARAKTERISTIK
- Hawalah yang dimaksud meliputi pengalihan utang syariah.
- Dalam hal hawalah dilakukan dengan pengalihan utang syariah maka hanya boleh
dilakukan dengan hawalah muthlaqah di mana tidak ada hubungan utang piutang antara
muhal alaih dengan muhil sebelum transaksi hawalah.
- Entitas keuangan syariah yang bertindak sebagai muhalalaih boleh mendapatkan ujrah
(fee) atas ketersediaan membayar utang muhil
- Jika hawalah telah dilakukan, maka hak pengalihan muhal berpindah kepada muhalalaih,
PENGAKUAN DAN PENGUKURAN
Akuntansi Pihak yang Mengalihkan Utang
-

Pihak yang mengalihkan utang (muhil) kepada pihak yang menerima pengalihan utang
(muhal alaih) menghentikan pengakuan utang kepada pihak berpiutang sebelumnya
(muhal) dan mengakui utang baru kepada muhal alaih pada saat selesainya pengalihan
utang.

Pengalihan utang diselesaikan apabila muhal alaih telah menyelesaikan seluruh utang
muhil kepada muhal dan antara muhal dan muhil sudah tidak ada lagi hubungan utang
piutang.

Perlakuan akuntansi untuk transaksi antara muhal alaih dengan muhil setelah pengalihan
utang sesuai dengan akad yang digunakan yang diatur dalam PSAK yang relevan.

Ujrah (fee) yang dibayarkan kepada muhal alaih diakui sebagai beban pada saat
terjadinya pengambilalihan utang jika utang harus dilunasi dalam jangka pendek sejak
pengalihan, namun diakui secara garis lurus selama periode pelunasan untuk utang jangka
panjang.

Biaya transaksi hawalah yang dikeluarkan diakui sebagai beban pada saat terjadinya.

Biaya transaksi yang harus diselesaikan atau dibayarkan kepada muhal alaih, termasuk
tetapi tidak terbatas pada biaya legal dan biaya administrasi.

Utang kepada muhal alaih di hentikan pengakuannya pada saat diselesaikan.

Akuntansi Pihak yang Menerima Pengalihan Utang


- Pihak yang menerima pengalihan utang (muhalalaih) mengakui piutang dari muhil pada
saat pembayaran kepada pihak muhal sebesar jumlah utang yang di ambil alih.
- Pengambilalihan diselesaikan apabila muhalalaih telah menyelesaikan seluruh utang
muhil kepada muhal dan antara muhal dan muhil sudah tidak ada lagi hubungan utang
piutang.
- Perlakuan akuntansi untuk transaksi antara muhal alaih dengan muhil setelah pengalihan
utang sesuai dengan akad yang digunakan yang diatur dalam PSAK yang relevan.
- Ujrah (fee) yang diterima diakui sebagai pendapatan pada saat terjadinya
pengambilalihan utang, jika piutang dari muhil akan dilunasi dalam jangka pendek sejak
pengalihan, namun diakui secara proporsional dengan jumlah piutang yang dapat
ditagih
untuk piutang jangka panjang.
- Penghasilan dalam bentuk ujrah dari pengalihan utang muhil kepada muhal diakui
sekaligus pada saat penyelesaian dan tidak diakui sesuai dengan jatuh tempo atau

penerimaan angsuran dari muhil, di mana penghasilan tersebut tidak terkait dengan
penyelesaian piutang dari muhil.
- Jika terdapat bukti obyektif atas penyelesaian piutang dari muhil yang mengakibatkan
jumlah yang dapat tertagih lebih rendah dari jumlah tagihan maka harus dibuat
penyisihan piutang dari muhil sesuai dengan PSAK yang relevan.
- Piutang kepada muhil dihentikan-pengakuannya pada saat diselesaikan.
PENYAJIAN
Entitas keuangan syariah menyajikan piutang dari muhil terpisah dari piutang lainnya dalam
neraca sebesar jumlah yang belum dilunasi. Piutang dari muhil disajikan secara terpisah dari
piutang lainnya atau pos lainnya untuk membedakan piutang yang timbul dari penyaluran
secara internal dan piutang pihak lain yang dialihkan.
PENGUNGKAPAN
Entitas keuangan syariah mengungkapkan terkait pengalihan utang, tetapi tidak terbatas, pada:
(a) Jumlah dan saldo utang yang dialihkan pada tanggal pelaporan
(b) Persentase utang yang dialihkan terhadap total piutang
(c) Kebijakan manajemen risiko atas utang yang dialihkan
(d) Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk utang yang dialihkan.