Anda di halaman 1dari 7

10

JURNAL MATRIX VOL. 3, NO. 1, MARET 2013

OPTIMALISASI PEMBAKARAN BAHAN BAKAR CAIR PADA KETEL


UAP PIPA API DI PT CANNING INDONESIAN PRODUCTS (C I P )
DENPASAR BALI
I Nengah Ludra Antara
Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Bali
Bukit Jimbaran , P.O Box 1064 Tuban, Badung Bali
Phone : +62-361-7019, Fax: +62-361-701128
Abstrak : Pada dasarnya Ketel Uap pipa api terdiri dari sebuah bejana tekanan yang berisi air, dan sejumlah pipa
yang merupakan laluan bagi gas panas, Energi panas dipindahkan dari gas panas tersebut ke air dalam bejana.
Panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar tidak seluruhnya dapat digunakan dalam pembentukan uap,
karena sebagian panas tersebut ada yang hilang sebagai kehilangan kalor seperti digambarkan dalam diagram
neraca panas. Dalam mengoptimalkan proses pembakaran bahan bakar harus diperhatikan komponen
komponen burner. Sehingga kerugian kerugian pembakaran dapat diminimalisasikan. Harus diadakan
pemanasan awal untuk meningkatkan efisiensi termis. Terjadinya pembakaran yang tidak sempurna disebabkan
jeleknya pencampuran udara dan bahan bakar pada burner. Untuk mengoptimalkan Campuran bahan bakar
dengan udara pada sistem burner dengan bantuan blower sehingga embusan udara ke ruang bakar dapat bergerak
dengan sempurna. Sebagai acuan pembakaran bahan bakan dengan udara yang sempurna seperti tabel 1. Uji
Ketel Uap menggunakan metode tidak langsung adalah British Standard, yaitu metode optimalisasi yang juga
dikenal dengan metode kehilangan panas atau efisiensi, yang dapat dihitung dengan mengurangkan bagian
kehilangan panas dari 100 menjadi 13 untuk bahan bakar minyak jenis solar.
Kata kunci : Optimalisasi, Jenis bahan bakar solar dan sistem pembakaran
Abstract : Basically Boiler fire tube consists of a pressure vessel containing water, pipes which pass the hot gas,
and the heat energy transferred from the hot gas to the water in the vessel, the heat generated from the
combustion of the fuel is not fully used in formation of steam because some heat is lost as heat balance depicted
in the diagram. In optimizing fuel combustion process, we should pay attention to the components of the burner
where the burning process in the combustion chamber (the kitchen), so that the combustion losses can be
minimized by preheating held to improve thermal efficiency, the incomplete combustion caused by bad air
mixing and fuel to the burner. To test the boiler we used indirect methods, namely British Standard, the
optimization method or also known as the method of heat loss or efficiency, which can be calculated by
subtracting the portion of heat loss from 100 to 13 for diesel fuel types.
Key words: optimization of fuel, diesel fuel type and combustion systems
I. PENDAHULUAN
Ketel Uap adalah bejana tertutup yang panas
pembakarannya dialirkan ke air sampai terbentuk air
panas atau uap. Air panas atau uap pada tekanan
tertentu kemudian digunakan untuk mengalirkan panas
ke suatu proses. Air adalah media yang berguna dan
murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses. Jika
air dididihkan sampai menjadi uap, volumenya akan
meningkat sekitar 1.600 kali, menghasilkan tenaga
yang menyerupai bubuk mesiu yang mudah meledak,
sehingga Ketel Uap merupakan peralatan yang harus
dikelola dan dijaga dengan sangat baik.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi begitu berkembang sangat pesat. Adanya
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut
memengaruhi adanya pertumbuhan industri-industri
yang sangat pesat pula di tanah air. Ketel Uap adalah
salah satu dari sekian banyak peralatan dalam siklus

energi thermal yang bertujuan untuk mengubah air menjadi uap


yang berguna. Uap yang dihasilkan tersebut kemudian dapat
membangkitkan tenaga mekanik atau menyuplai panas bagi
keperluan industri ( manufacturing proses). Bentuk Ketel Uap
secara garis besar merupakan suatu bejana tertutup. Kalor dari
pembakaran bahan bakar dipindahkan ke air melalui ruang bakar
dan bidang-bidang pemanas. Energi dalam (intenal energi) air
akan meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur dan
tekanan.. Pada suatu tingkat keadaan tertentu air akan berubah
menjadi uap (menguap). Sumber kalor untuk Ketel Uap dapat
berupa bahan bakar dalam bentuk padat, cair atau gas. Bahkan
dewasa ini sumber kalor dengan menggunakan energi listrik yang
banyak dikembangkan. Kalor atau panas yang dihasilkan dari
pembakaran bahan bakar dipindahkan ke air atau ke uap
melalui bidang pemanas.
Pada dasarnya ketel uap pipa api terdiri dari
sebuah bejana tekanan (ketel) berisi air (tangki) dan
sejumlah pipa yang merupakan laluan bagi gas panas

Copyright JURNAL MATRIX 2013

I NENGAH LUDRA ANTARA : OPTIMALISASI PEMBAKARAN BAHAN BAKAR CAIR.

dan energi panas dipindahkan dari gas panas tersebut


ke air dalam bejana (Syamsir Muin, 1988: 327). Panas
yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar tidak
seluruhnya digunakan dalam pembentukan uap,
karena sebagian panas tersebut ada yang hilang
sebagai kehilangan kalor. Diketahuinya besar kalor
yang dihasilkan pada saat pengoperasian ketel uap,
maka dapat diketahui efisiensi dan
panas
pembentukan uap dari tiap - tiap ketel yang dihasilkan.
Sedangkan sistem pembakaran bahan bakar pada
semua peralatan digunakan untuk menyediakan bahan
bakar untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan.
Sistem yang diperlukan pada pembakaran bahan bakar
tergantung pada jenis bahan bakar yang digunakan
pada system tersebut. Dalam hal ini jenis bahan bakar
antara lain bahan bakar padat, bahan bakar cair dan
bahan bakar gas.
Pressure geuge

Pluit bahaya

11

Beef (CB) dengan merk CIP yang ukuran kalengnya


325, 140, dan 270 gram, CBS dengan merk Pronas
yang ukuran kalengnya 200, 340, 325, 140 dan 270
gram ,CBBW dengan merk BW yang
ukuran
kalengnya 270 gram, Sosis Sapi Murni (Sopini), Beef
Lever Paste (BLV) dan daging beku. Produk-produk
ini masih bertahan sampai saat sekarang dan tetap
eksis sesuai dengan permintaan pasar. Untuk memasak
product dipakai uap yang didapat dari Ketel Uap Pipa
Api itu sendiri.
2.2 Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 2
Start

Study

Valve

Pengamatan &
Pengumpulan Data
Furnace

Pipa gas

Oil Pump
Blower

Gambar 1. Ketel Uap Pipa Api

Data Frimer: - Proses


Pembakaran
pada
Ketel Uap, - Nilai
Panas Pembakaran, Konsumsi
Bahan
Bakar,
- Efisiensi
Ketel Uap, - Neraca
Panas

Data Skunder: - Sistem


Pembakaran Bahan Bakar
Cair
(Solar),&
Mekanismenya
,Pemanasan Awal Udara
Pembakaran, - Pembakaran
yang Tak Sempurna, PengendaliaUdara
Berlebihan

Berkaitan dengan hal tersebut di dalam Ketel


Uap di samping air merupakan sumber utama dalam
menghasilkan uap yang diproses melelui sistem
pemanasan, dalam
mnghasilkan suatu sumber
pemanasan bahan bakarlah sebagai sumber untuk bisa
menghasilkan panas baik bahan bakar padat, cair
Pembahasan
maupun gas yang prosesnya melelalui ruang bakar
atau furnace. Pada saat diadakan pratekan PT
Canning Indonesia Products (CIP) di Denpasar Bali,
saat proses pembakaran bahan bakar dapur terdengar
Simpulan
suara meledak-ledak di ruang bakar (furnace) tersebut.
Berdasarkan hai itu, timbul suatu pertanyaan apa yang
menyebakan ada suara yang meledak ledak pada
saat terjadinya proses pembakaran bahan bakar
Finish
didalam ruang bakar. Secara teori timbulnya suara
pada saat pembakaran disebabakan oeleh sistem
Gambar 2. Tahapan
pebakaran tidak bagus (sempurna). Untuk itu
diangakat
permasalahan
tersebut
melelalui
pembakaran bahan bakarnya, dengan judul :
Optimalisasi Sistem Pembakaran Cair Pada Ketel Uap 2.3 Perbadingan Hasil Uji
Pipa Api di PT. Canning Indonesia Products (CIP) A. Proses Pembakaran pada Ketel Uap
Ada lima faktor penting yang dapat dikontrol
di Denpasar Bali.
yang menyangkut pengontrollan pada Ketel Uap.
Factor itu adalah: tekanan uap, jumlah bahan bakar,
II. METODE PENELITIAN
jumlah udara pembakaran, perpindahan gas buang,
2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT Canning dan suplay feed water. Setiap uap pengontrolan Ketel
Indonesian Products (CIP ) Denpasar Bali. Uap harus diperkenalkan membandingkan, dan
Perusahan ini merupakan pengalengan ikan, dengan mengkordinasikan keempat faktor terakhir. Tekanan
mempruduksi bermacam Corned di antaranya Corned uap harus dipertahankan tetap setiap saat dan biasanya

12

tekanan uap sebagai master kontrol impulse. Drop


tekanan uap menyebabkan bertambahya laju
pembakaran begitu pula sebaliknya naiknya tekanan
uap menyebabkan berkurangnya laju pembakaran.
Umumnya pengontrolan Ketel Uap ditekankan pada
pengontrolan Ketel Uap itu sendiri dan pengontrolan
pembakaran. Sistem monitor aliran bahan bakar, aliran
udara, tekanan steam header, pengontrollan aliran
bahan bakar dan aliran udara pembakaran ke furnace
bertujuan untuk mempertahankan tekanan steam
header pada nilai set yang dikehendaki dan
perbandingan udara-udara bakar yang sesuai.
B. Nilai Panas Pembakaran
Nilai panas (kalor) definisikan sebagai energi
panas yang dilepaskan saat terjadi oksidasi unsurunsur kimia yang terdapat dalam bahan bakar. Hight
Heating Value (HHV) adalah energi kimia tertinggi
yang dilepaskan oleh bahan bakar selama terjadinya
proses pembakaran.
HHV = _HCO + _HH2O + _HSO2 + _HCO2
Berdasarkan analisis termodinamika kimiawi dengan
temperatur reaksi T2=453K dan temperatur referensi
T1=298,15K, maka didapat:
HHV = (24, 284C + 79, 883H2 + 13.874, 815S)
106Btu/lb
HHV = nilai kalor tertinggi yang dapat dilepaskan
dari pembakaran
,C = jumlah karbon yang dikandung dalam 1kg bahan
bakar
H2 = jumlah hidrogen yang dikandung dalam 1 kg
bahan bakar
S = jumlah sulfur yang dikandung dalam 1 kg bahan
bakar
C. Konsumsi Bahan Bakar
Konsumsi bahan bakar Ketel Uap merupakan
hubungan dengan beban Ketel Uap dan efisiensinya,
sedangkan konversi energi di dalam Ketel Uap
berlangsung dari panas pembakaran bahan bakar
menjadi panas sehingga dapat :
untuk produksi uap
: mst (h2-h1)
untuk pemanasan ulang uap : mrh (h4 - h3)
terbuang dari blowdown
: mbld (h5 - h1)
terbuang sebagai rugi-rugi yang lain.
Jadi neraca energi Ketel Uap dituliskan dengan
persamaan:
(
)
(
)
Mfuel =
.

LHV = HHV 1040(9H +W)Btu/lb


W = massa air dalam bahan bakar (dasar kering)
H = fraksi elemen hidrogen (dasar kering)
1040 = panas penguapan air, Btu/lb.
Harga panas pembakaran tergantung pada jenis bahan
bakar. ( LILIK ANIFAH 090208-2 J. FIS. DAN APL.,
VOL. 5, NO. 2, JUNI 2009 )
D. Efisiensi Ketel Uap
Perhitungan efisiensi Ketel Uap terdapat dua macam:
1. Metode Perhitungan Efisiensi Netto
Metode ini dengan cara menghitung semua energi
yang digunakan pada Ketel Uap, perumusan ini
banyak digunakan di Eropa, dinyatakan dengan ,
=
X 100%
2. Metode Perhitungan Efisiensi Bruto
Dengan cara menghitung semua energi yang hilang,
definisi ini banyak digunakan di Amerika Serikat.
Efisiensi Ketel Uap dinyatakan dengan
=
100%
dengan rugi panas meliputi DGL(Dry Gas Losses),
ML (Moisture Losses), MCAL(Moisture Incombustion
AirLosses), UCL (Uncombustion Carbon Losses) dan
RUL (Ratiation and Unaccounted for Losses).
E. Neraca Panas
Proses pembakaran dalam Ketel Uap dapat
digambarkan dalam bentuk diagram alir energi.
Diagram ini menggambarkan secara grafis tentang
cara energi masuk dari bahan bakar diubah menjadi
aliran energi dengan berbagai kegunaan dan menjadi
aliran kehilangan panas dan energi. Panah tebal
menunjukan jumlah energi yang dikandung dalam
aliran tiap - tiap komponen. Neraca panas merupakan
keseimbangan energi total yang masuk Ketel Uap
terhadap yang meninggalkan Ketel Uap dalam bentuk
yang berbeda. Gambar berikut memberikan gambaran
berbagai kehilangan yang terjadi untuk pembangkitan
steam.

GAS
BUANG
Udara lebih &
tak terbakar

BAHAN
BAKAR
MASUK
Bahan
bakar

Blowdown

Konveksi

HHV
= panas pembakaran tinggi, energi/massa,
Mfuel
= konsumsi bahan bakar,
b
= efisiensi termal Ketel Uap.
Konsumsi bahan bakar seringkali juga dinyatakan
dengan heat rate, yaitu dinyatakan dalam energi yang
dikandung dalam bahan bakar untuk setiap satuan
waktu. Konversi HHV (nilai kalor tertinggi) menjadi
LHV(nilai kalor terendah) dapat dilakukan dengan
mengetahui jumlah air yang terbentuk dalam
pembakaran, sebagai hasil hydrogen dengan oksigen
dan air kandungan bahan bakar.

JURNAL MATRIX VOL. 3, NO. 1, MARET 2013

Gambar 3. Diagram Neraca Panas

I NENGAH LUDRA ANTARA : OPTIMALISASI PEMBAKARAN BAHAN BAKAR CAIR.

III. PEMBAHASAN
3.1 Sistem Pembakaran pada Ketel Uap
Sistem pembakaran merupakan suatu
kelompok komponen yang berfungsi untuk melakukan
pembakaran bahan bakar pada suatu sistem Ketel Uap.
Antara komponen komponen yang satu dan yang
lainnya saling mendukung pada waktu terjadinya
pembakaran bahan bakar pada ruang bakar (furnace).
Secara umum ada tiga
jenis bahan bakar yang digunakan pada ketel uap,
yaitu: padat, cair, dan gas. Di PT. Canning Indonesian
Products (C I P ) Denpasar Bali, jenis Ketel Uap
yang digunakan untuk memproduksi uap adalah Ketel
Uap Pipa Api dengan spesifikasi :
Type
: Approyal
Seria No
:15027, year of manut
1986
Max Working:
:10 Bar, Kessel und
Apparteben der Buderus Aktiengesellaschaft
Max Heat
: Capacity 2,09 MW
Max Steam
:3,2 Ton/H
Water Content
: Up to NW 7,1 M3
Made in
: Germany
Bahan bakar yang digunakan adalah bahan bakar cair
yaitu minyak solar jenis diesel dengan berat jenis 0,83
s/d 0,85 kg/cm3 dan suhu didih 250oC s/d300oC
dengan titik nyala 65oC s/d 70oC. Jadi sistem
pembakarannya, bahan bakar jenis solar yang
ditampung pada tangki diisap oleh pompa oli (oil
pump) dan saring melalui filter yang bertekanan di
ukur oleh pressure gauge. Apabila terjadi tekanan
yang berlebihan kelebihan tekanan akan dialirkan
kembali ke tangki penampung melalui pressure relief
valve. Bahan bakar tekanannya telah disesuaikan
dengan tekanan kerja akan dialirkan ke way oil
solenoid valve yang berfungsi untuk membuka dan
menutup aliran bahan bakar, selanjutnya aliran bahan
bakar solar ini akan dialirkan ke spill back burner
barrel assembly (nozzle). Bersamaan dengan itu udara
yang berasal dari luar akan diisap melalui tarikan
blower kemudian bahan bakar solar dikabutkan
dengan bantuan spill back burner barrel assembly,
maka terjadilah percampuran bahan bakar dengan
udara didalam burner. Untuk mengatahui campuran
bahan bakar dengan udara dapat dilihat pada pressure
gauge sedangkan sisa bahan bakar yang tak terbakar
akan dialirkan kembali ke tangki penampungan
melalui check valve.
3.2 Pemanasan Awal
Pemanasan
awal
udara
pembakaran
merupakan sebuah alternatif terhadap pemanasan air
umpan. Dalam rangka untuk meningkatkan efisiensi
termis sebesar 1%, suhu udara pembakaran harus
dinaikkan 200C. Hampir kebanyakan burner minyak
bakar solar yang digunakan dalam sebuah plant Ketel
Uap tidak dirancang untuk suhu pemanas awal udara
yang tinggi. Burner yang modern dapat tahan
terhadap pemanas awal udara pembakaran yang lebih
tinggi, sehingga dapat dimungkinkan untuk

13

dipertimbangkan. Unit seperti itu sebagai penukar


panas pada gas buang keluar, sebagai suatu alternatif
terhadap economizer. Jika suhu air umpan tinggi
dimungkinkan proses penguapan berjalan teratur,
maka dapat menghemat pemakian bahan bakar.
3.3 Pembakaran yang Tak Sempurna
Pembakaran yang tidak sempurna dapat
timbul dari kekurangan udara atau kelebihan bahan
bakar atau buruknya pendistribusian bahan bakar. Hal
ini nyata terlihat dari warna atau asap dan harus segera
diperbaiki. Dalam sistem pembakaran minyak solar,
adanya CO atau asap (hanya untuk sistem pembakaran
minyak) dengan udara normal atau sangat berlebih
menandakan adanya masalah pada sistem burner.
Terjadinya pembakaran yang tidak sempurna
disebabkan jeleknya pencampuran udara dan bahan
bakar pada burner. Jeleknya pembakaran minyak
dapat diakibatkan dari viskositas yang tidak tepat,
ujung burner yang rusak, karbonisasi pada ujung
burner dan kerusakan pada diffusers atau pelat
spinner.
3.4 Pengendalian Udara Berlebihan
Pada tabel 1 di bawah diberikan jumlah
teoritis udara pembakaran yang diperlukan untuk
berbagai jenis bahan bakar. Udara berlebih diperlukan
pada seluruh praktik pembakaran untuk menjamin
pembakaran yang sempurna. Untuk memperoleh
variasi pembakaran dan untuk menjamin kondisi
cerobong yang memuaskan untuk beberapa bahan
bakar. Tingkat optimal udara berlebihan untuk
efisiensi Ketel Uap yang maksimum terjadi bila
jumlah kehilangan yang diakibatkan pembakaran yang
tidak sempurna dan kehilangan yang disebabkan oleh
panas dalam gas buang diminimalkan. Tingkatan ini
berbeda-beda tergantung rancangan tungku, jenis
burner, bahan bakar dan variabel proses. Hal ini dapat
ditentukan dengan melakukan berbagai uji dengan
perbandingan bahan bakar dan udara yang berbedabeda seperti tabel 1 berikut ini :
DATA PEMBAKARAN TEORITISBAHAN BAKAR
BOILER BIASA
(Badan Produktivitas Nasional, pengalaman lapangan)
Bahan bakar
kg udara yang Persen
CO2
diperlukan/kg
dalam gas buang
bahan bakar
yang
dicapai
dalam praktek
Bahan
bakar
padat
Bagas
Batubara
(bituminus)
Lignit
Sekam Padi
Kayu
Bahan
bakar
cair
Minyak Bakar
LSHS

3,3
10,7
8,5
4,5
5,7

10-12
10-13
9 -13
14-15
11,13

13,8
14,1

9-14
9-14

14

JURNAL MATRIX VOL. 3, NO. 1, MARET 2013

vi

JUMLAH UDARA BERLEBIH UNTUK BERBAGAI


BAHAN BAKAR
(Badan Produktivitas Nasional, pengalaman lapangan)
Bahan bakar
Jenis Tungku atau
Udara
Burners
Berlebih
(persen
berat)
Batubara halus Tungku dengan pendingin
air
lengkap
untuk
penghilangan kerak pada
15-20
kran atau abu kering
Tungku dengan pendingin
air
sebagian
untuk
15-40
penghilangan abu kering
Batubara
Spreader stoker
30-60
Water-cooler
vibrating30-60
grate stokers
Chain-grate and traveling15-50
grate stokers
Underfeed stoker
20-50
Bahan bakar Burner minyak, jenis
15-20
minyak
register
Burner multi-bahan bakar
20-30
dan nyala datar
Gas alam
Burner tekanan tinggi
5-7
Kayu
Dutch over (10-23 persen
melalui grate) dan jenis
20-25
Hofft
Bagas
Semua tungku
25-35
Black liquor
Tubgku
pemanfaatan
kembali untuk proses draft
30-40
dan soda-pulping

Tabel 1. Pembakaran Bahan bakar dan Jumlah Udara


Pengendalian udara berlebih pada tingkat yang
optimal selalu mengakibatkan penurunan
dalam kehilangan gas buang; untuk setiap penurunan 1
persen udara berlebihan terdapat
kenaikan efisiensi kurang lebih 0,6 persen.
3.5 Metode Dalam Menentukan efisiensi
(oftimalisasi) Pada Ketel Uap
Dalam standar acuan untuk Uji Ketel uap di
Tempat dengan menggunakan metode tidak langsung
adalah British Standard, BS 845:1987 dan USA
Standard ASME PTC-4-1 Power Test Code Steam
Generating Units. Metode optimalisasi juga dikenal
dengan metode kehilangan panas atau efisiensi, yang
dapat dihitung dengan mengurangkan bagian
kehilangan panas dari 100 sebagai berikut:
Efisiensi Ketel Uap (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v +
vi + vii)
Kehilangan yang terjadi dalam Ketel Uap adalah
kehilangan panas yang diakibatkan oleh:
i
= Gas cerobong yang kering
ii = Penguapan air yang terbentuk karena H2 dalam
bahan bakar
iii = Penguapan kadar air dalam bahan bakar
iv = Adanya kadar air dalam udara pembakaran
v
= Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu
terbang/ fly ash

= Bahan bakar yang tidak terbakar dalam abu


bawah/ bottom ash
vii = Radiasi dan kehilangan lain yang tidak terhitung
Walau demikian, rasio penguapan akan tergantung
pada jenis Ketel Uap, nilai kalor bahan bakar dan
efisiensi,dengan perhitungan:
Jenis Ketel Uap: Berbahan bakar minyak
Analisis ultimate minyak bakar:
C: 84 persen, H2: 12,0 persen, S: 3,0 persen, O2:
1 persen
GCV Minyak bakar
: 10200 kkal/kg
Persentase Oksigen
: 7 persen
Persentase CO2
: 11 persen
Suhu gas buang (Tf)
: 220 0C
Suhu ambien (Ta)
: 27 0C
Kelembaban udara
: 0,018 kg/kg
udara kering
1. Mengitung kebutuhan udara teoritis
AAS = [(11,43 x C) + [{34,5 x (H2 O2/8)} +
(4,32 x S)]/100 kg/kg minyak bakar
= [(11,43 x 84) + [{34,5 x (12 1/8)} + (4,32 x
3)]/100 kg/kg minyak bakar
= 13,82 kg udara/kg minyak baka
2. Menghitung persen udara berlebihan yang dipasok
(EA)
Udara berlebih yang dipasok (EA)
= (O2 x 100)/(21-O2)
= (7 x 100)/(21-7)
= 50 %
3. Menghitung massa udara sebenarnya yang dipasok /
kg bahan bakar (AAS)
AAS/kg bahan bakar = [1 + EA/100] x Udara
Teoritis (AAS)
= [1 + 50/100] x 13,82
= 1,5 x 13,82
= 20,74 kg udara/kg minyak bakar
4. Memperkirakan seluruh kehilangan panas
i. Persentase kehilangan panas karena gas kering
(
)
%
cerobong( ) =
m = massa CO2 + massa SO2 + massa N2 + massa
O2
0,84 x 44 0,03 x 64 20,74 x 77
=
+
+
(0,07 x 32)
12
32
100
m = 21,35 kg / kg minyak bakar
Jadi =

x 100

= 9,29 %
Dapat juga digunakan sebuah metode yang lebih
sederhana: Persentase kehilangan
panas yang disebabkan oleh gas kering cerobong
i=

m (total massa gas buang) = massa udara


sebenarnya yang dipasok + massa bahan bakar
yang dipasok
m = 20,19 + 1 = 21,19

I NENGAH LUDRA ANTARA : OPTIMALISASI PEMBAKARAN BAHAN BAKAR CAIR.

15

Uap.
= 9,22 %

ii. Kehilangan panas karena penguapan kadar air


karena adanya H2 dalam bahan bakar

9 x H2 {584 + 0,45 (Tf Ta )}


GCV bahan bakar
dimana H2 = persen H2 dalam bahanbakar
( )=

9 x 12 {584 + 0,45(220 27)}


=
10200
= 7,10 %

iii. Kehilangan panas karena kadar air dalam udara


=

=
= 0,317 %

9.29% Kehilangan panas karena gas buang

x 100

iv. Kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan


lain yang tidak terhitung
Untuk boiler kecil diperkirakan kehilangan
mencapai 2 %
5. Menghitung efisiensi Ketel Uap
dan rasio
penguapannya
Efisiensi Ketel Uap (n) = 100 - (i + ii + iii + iv + v +
vi + vii)
i = Kehilangan panas karena gas buang kering (9,29
%)
ii = Kehilangan panas karena penguapan air yang
terbentuk karena adanya H2 dalam bahan bakar (
7,10 %)
iii = Kehilangan panas karena kadar air dalam udara (
0,317 %)
iv = Kehilangan panas karena radiasi dan kehilangan
lain yang tidak terhitung ( 2 %)
= 100- [9,29+7,10+0,317+2]
= 100 18 = 82 % ( 83% s/d 81 % perkiraan)
v, vi dan vii = nilai bahan bakar terbakar pada abu
terbang, tidak terbang dan kehilangan nilai yang
lainnya (0%).
Rasio penguapan = Panas yang digunakan untuk
pembangkitan uap/ panas yang ditambahkan ke uap
= 10200 x 0,82
= 83 % (bandingkan dengan rasio penguapan untuk
dapat dimanfahatkan Ketel Uap yang berbahan bakar
minyak 83 s/d 81).
Sehingga diketahui neraca panas dan energi yang
lengkap untuk setiap aliran, yang dapat memudahkan
dalam mengidentifikasi opsi-opsi untuk meningkatkan
efisiensi atau mengoftimalkan bahan bakar pada Ketel

100%

Bahan

BOILER

jadi =

7.1% Kehilangan panas karena penguapan air


0.31%
Kehilangan panas karena kadar air
9.29%
0

Kehilangan panas karena radiasi


Kehilangan nilai pembakaran yg tak terhitung

83%

Pemanfahatan panas

Gambar 4. Kehilangan panas

IV. SIMPULAN DAN SARAN


4.1 Simpulan
Dari pembahasan di atas dapat diambil suatu
simpulan: Ketel Uap air merupakan sumber untuk bisa
mendapat uap dengan jalan melakukan proses
pemanasan. Jadi, untuk mendapatkan pemanasan
perlu ada bahan bakar sehingga bahan bakar dibakar
di ruang bakar (furnace) dengan campuran udara yang
diembuskan oleh blower. Dari permasalahan di atas
kerugian kerugian pada sistem Ketel Uap tidak bisa
ditutupi tetapi bisa ditekan seminim mungkin dengan
jalan memperhatikan, proses pembakaran pada Ketel
Uap ada lima faktor penting yang dapat dikontrol yang
menyangkut pengontrolan pada Ketel Uap, antara lain
tekanan uap, jumlah bahan bakar, jumlah udara
pembakaran, perpindahan gas buang, suplay feed
water, terkontrolnya nilai kalor (panas), dan konsumsi
bahan bakar sesuai dengan jenis bahan bakar
digunakan. Untuk mengoptimalkan pembakaran
diperlukan pemanasan awal yang dapat meningkat
efisiensi termis sebesar 1%, mengatasi pembakaran
tak sempurna yang mengakibatkan pemanasan
berkurang sehingga menimbulkan polusi karena asap
yang dikeluarkan dari hasil pembakaran bahan bakar
minyak jenis solar ini akan mengeluar asap yang
berlebihan dan segera diatas pada sistem buenernya.
Pengendalian udara berlebihan dapat mempengaruhi
efisiensi Ketel Uap. Untuk mengatasinya dengan jalan
panas dalam gas buang diminimalkan dan sistem
pembakaran yang sempurna sesuai dengan standar
data pembakaran (seperti tabel diatas). Secara
perhitungan optimalisasi bahan bakar cair jenis solar
dapat dilakukan dengan menghitung kebutuhan udara
secara tioritis, udara berlebih yang dipasok, massa
udara sebenarnya yang dipasok, kehilangan panas, dan
efisiensi Ketel Uap itu sendiri.
4.2 Saran
Dalam menjaga umur ketel supaya tetap
ekssis dalam operasinya, yang utama diperhatikan
adalah sistem perawatannya. Di dalam proses
terjadinya pembakaran didalam ruang bakar (dapur)

16

melalui burner perlu diperhatikan secara kontinyu


sesui dengan petunjuk dari Onewr Books pabrikan
sehingga kerugian kurigian pada pembakaran dapat
diminimalisasi. Khusus pada PT. Canning Indonesian
Products (C I P ) Denpasar Bali, lingkungan
didalam pabrik tetap harus dijaga demi kenyaman
lingkungan disekitarnya.
Daftar Pustaka
[1] Darmasetiawan, Martin, 2004, Teori dan
Perencanaan Instalasi Pengolahan Air, Yayasan
Suryono, Bandung
[2] EL Wakil, M. M, Power Plant Technology ,
Mc Graw Hill Ltd. New York.
[3] Jackson, J. James, Steam Boiler Operation.
Prentice-Hall Inc., New Jersey. 1980.
[4] L. A. De Bruinj, Ketel Uap , Penerbit PT.
Bhatara Karya Aksara , Jakarta
[5] Lilik Anifah, 090208-2 J. FIS. dan APL., VOL.
5, NO. 2, JUNI 2009
[6] Onewr Books, PT. Canning Indonesian Products
(C I P ) Denpasar Bali, Maentenant Steam
Boiler
[7] Slilalahi Abel, Ir. Ketel Uap Pipa Air Babcock
Teori Dan Praktek , Penerbit ITN, Malang.
[8] Silalahi Abel, Ir. Ketel Uap Feed Water And
Water Boiler Penerbit ITN, Malang.
[9] Soemarjo, Ketel Uap, IKIP Malang 1981
[10] Shields, Carl D. Boilers. McGraw Hill Book
Company, U.S, 1961.
[11] Syamsir A. Muin, Peswat Pesawat Konversi
Energi I, CV. Rajawali, Jakarta 1988

JURNAL MATRIX VOL. 3, NO. 1, MARET 2013