Anda di halaman 1dari 1

Untuk menebang pohon jati dan memotongnya, diadakan upacara yang khusuk

penuh dengan suasana hening mencekam. Mula-mula sebuah kain sutra berwarna
merah dilipitkan di sekeliling pohon jati. Hal itu dilakukan apabila pohon tersebut
merupakan pilihan raja. Berbagai uba rampe juga disiapkan atas permintaan
tokoh kebatinan yang ditunjuk. Setelah itu, sang tokoh segera menghaturkan
sembah dan berkomat-kamit membacakan mantra. Tidak berapa lama kemudian, 2
buah telapak tangannya bergetar sehingga badannya ikut bergoyang-goyang serta
peluhnya bercucuran keluar.
Akhirnya setelah tenang kembali, tokoh kebatinan tersebut melemparkan 3 butir
telur ke bagian pohon yang akan ditebang tadi. Di samping itu, juru kunci atau
penjaga desa itu juga melepaskan seekor ayam jantan putih mulus yang segera
berlari-lari ke semak-semak di depannya.

Upacara itu diperkuat lagi dengan penaburan kembang di sekitar pohon, sehingga
ikut pula mengenai sesaji yang terdiri dari tumpeng beraneka warna, golong
kencana, ketan salak, pisang emas, pisang raja, telur rebus, telur mentah yang
masing-masing berjumlah 9. Persembahan yang enak tersebut semata-mata untuk
mohon restu kepada Tuhan dengan perantaraan leluhur Tanah Jawi. Di samping
yang berupa makanan, tersedia pula benang lawe dan sebesek bunga telon.
Kini, dilanjutkan dengan selamatan kepung tumpeng. Tumpeng ini dinikmati
oleh para blandong (penebang kayu) dengan harapan agar danyang alas, danyang
Kalisari, asu ajak sekancane, macan ula sabrayate, kalajengking, gegremetan lan
sapanunggalane, aja pada ganggu marang aku kabeh sakancaku Yang berarti
Wahai penunggu hutan dan desa Kalisari, serigala dan gerombolannya, ular,
kalajengking, dan segala macam binatang melata jangan mengganggu kepada
rombonganku.

Kemudian, dari sepuluh jenis kayu jati di atas, yang kalau dilihat sepintas
kelihatannya sama, yang paling umum digunakan adalah jenis kayu jati yang
berasal dari satu pohon dengan cabang 2 (uger-uger); cabang 3 (trajumas) dan
cabang 5 (pandawa). Cabang 3 untuk bagian kerangka blandar dan cabang 5
untuk penyangga atau tiang utama (soko guru).
Pemilihan jenis-jenis kayu semacam itu sudah mendarah daging atau melembaga
di kalangan masyarakat Jawa. Tapi kalau ditinjau dari sudut yang rasional, kita bisa
melihat dari cara tumbuhnya pohon. Misalnya pohon jati yang bercabang 3, pohon
semacam ini biasanya kuat dan tangguh menghadapi serangan angin topan dan
tumbuh subur. Yang bercabang 3 saja sudah sedemikian tangguhnya, apalagi yang
bercabang 5. Sedangkan untuk pohon jati yang kualitasnya biasa-biasa saja, orang
cenderung menggunakannya untuk membuat kandang kuda (gedongan atau istal).