Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kehamilan merupakan suatu fase yang ditunggu-tunggu kehadirannya
oleh banyak pasangan suami istri karena melalui fase ini mereka akan
mempunyai seorang buah hati pelengkap kehidupan rumah tangga mereka.
Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilkan
kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir.
Tidak semua hasil kehamilan dan persalinan akan menggembirakan
pasangan suami istri. Ibu hamil bisa menghadapi kegawatan dengan derajat
ringan sampai berat yang dapat memberikan bahaya terjadinya
ketidaknyamanan, ketidakpuasan, kesakitan, kecacatan bahkan kematian bagi
janin, salah satu kemungkinannya karna kurangnya zat gizi yang diterima
janin dari ibu yang mengandungnya.
Kekurangan zat gizi saat kehamilan akan memnyebabkan janin
mengalami konsekuensi kurang menguntungkan dalam kehidupan berikutnya.
Ahli kesehatan dr. Rifsia Ajani (2015) mengatakan, pada periode tiga bulan
awal (trimester pertama), ibu hamil harus menjaga asupan makanan guna
menjaga janin dari cacat lahir ataupun mengalami kematian janin sebelum
sempat dilahirkan.

Intra Uterine Fetal Death (IUFD) merupakan kematian janin yang


berkaitan dengan ekspulsi komplet atau ekstraksi hasil konsepsi dari Ibu, pada
durasi yang tidak dapat diperkirakan di dalam masa kehamilan, dan
merupakan terminasi kehamilan yang tidak diinduksi (Cousens, 2011).
Sedangkan menurut Kamus istilah kebidanan (2005), IUFD adalah kematian
janin dalam kehamilan sebelum terjadi proses persalinan pada usia kehamilan
28 minggu ke atas atau BB janin lebih dari 1000 gram ( Kamus istilah
kebidanan, 2005).
Kematian janin di dalam kandungan (IUFD) karena beberapa factor
antara lain gangguan gizi dan anemia dalam kehamilan. Hal tersebut menjadi
berbahaya karena suplai makanan yang di konsumsi ibu tidak mencukupi
kebutuhan janin, sehingga pertumbuhan janin terhambat dan dapat
mengakibatkan kematian. Begitu pula dengan anemia, karena anemia adalah
kejadian kekurangan FE maka jika ibu kekurangan Fe dampak pada janin
adalah irefersibel. Kerja organ organ maupu aliran darah janin tidak
seimbang dengan pertumbuh janin (IUGR) (http://bit.ly/fxzulu).
Di berbagai negara berkembang di dunia, angka kematian janin semakin
bertambah seiring dengan tingkat kesejahteraan rakyat dan kualitas pelayanan
kesehatan di negara tersebut. Pelaporan angka insidensi kematian janin juga
masih terbatas dan belum terdokumentasi dengan baik. Padahal laporan
tersebut dapat menjadi acuan atau rujukan yang berguna dalam memperbaiki
kinerja tenaga kesehatan maternal yang ada (MacDorman, 2009).

Angka insidensi kematian janin di dunia diperkirakan mencapai rentang


2,14 3,82 juta jiwa (Cousens, 2011). Sedangkan menurut data WHO (2011),
jumlah kematian janin dalam kandungan di dunia mencapai 12 per 1.000
kelahiran hidup. Wilayah Asia Tenggara angka kematian janin dalam
kandungan mencapai 22 per 1.000 kelahiran hidup. Tahun 2009 di Indonesia
kejadian kematian janin dalam kandungan tercatat 15 per 1.000 kelahiran
hidup.
Menurut Sarah dan Donna (2007) dalam studi yang dilakukannya
mengatakan peningkatan usia maternal akan meningkatkan risiko IUFD.
Wanita diatas usia 35 tahun memiliki risiko 40-50% lebih tinggi akan
terjadinya IUFD dibandingkan dengan wanita pada usia 20-29 tahun. Risiko
terkait usia ini cenderung lebih berat pada pasien primipara dibanding
multipara. Selain itu, kebiasaan buruk (merokok), berat maternal, kunjungan
antenatal care, faktor sosioekonomi juga mempengaruhi resikoterjadinya
IUFD (Sarah and Mcdonald, 2007).
Survey pendahuluan yang telah dilakukan di RSAM Dr Ahmad Mochtar
Bukittinggi didapatkan angka kematian janin dalam kandungan pada tahun
(2014) sebanyak 11 kasus, sedangkan pada tahun (2015) tepatnya sampai
bulan Oktober 2015, angka kematian pada janin dalam kandungan mencapai
25 kasus (rekam medis RSAM,2015).

Peningkatan angka kejadian IUFD diprediksi masih akan terus terjadi,


baik yang disebabkan oleh gaya hidup penderita yang tidak baik (komsumsi
junk food, pola istirahat yang tidak baik dan lain-lain), maupun akibat
penatalaksanaan yang kurang baik dari petugas kesehatan (sosialisasi
pencegarahan primer, sekunder dan tersier) yang masil belum optimal.
Pelaporan angka insidensi kematian janin juga masih terbatas dan belum
terdokumentasi dengan baik. Padahal laporan tersebut dapat menjadi acuan
atau rujukan yang berguna dalam memperbaiki kinerja tenaga kesehatan
maternal yang ada (MacDorman, 2009).
Penatalaksanaan keperawatan yang dapat dilakukan yaitu memberikan
pendidikan kesehatan kepada pasien mengenai perkembangan kesehatan
pasien, memberikan pendekatan yang menenangkan, Dukungan mental
emosional perlu diberikan kepada pasien.Sebaiknya pasien selalu didampingi
oleh orang terdekatnya.Yakinkan bahwa kemungkinan besar dapat lahir
pervaginam. Pilihan cara persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun
ekspektatif, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya sebelum
keputusan diambil (POGI, 2006).
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengetahui asuhan
keperawatan pada pasien dengan IUFD (Intra Uterin Fetal Death) di ruang KB
IGD RSUD Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi.