Anda di halaman 1dari 5

Resume Video Arsitektur

Indonesian Desain dari BCI

dari

Eko

Prawoto

Oleh : - Marselinus David R (I0212049)


Saputra (I0212071)

-Rio

- Rifki Candra Ardani (I0212069)


(I0212082)

-Valentinus

dan

Hendra
Boris

Dari kedua video tersebut, banyak hal yang dapat dipelajari untuk
berasitektur. Tetapi pada resume ini kami lebih memfokuskan cara/metode
masing-masing arsitektur dalam merancang sebuah bangunan.
1. Arsitektur dari Eko Prawoto
Video ini berisi tentang cara/pemikiran bapak Eko Prawoto dalam
mendesain bangunan rumah tinggal, dimana secara garis besar beliau
lebih mementingkan bagaimana sebuah rumah tinggal memiliki nilai
kehidupan yang diwujudkan dari manusia yang hidup dan menyatu
dengan bangunan tersebut. Beliau juga lebih mementingkan
bangunan tersebut dapat menyatu dengan lingkungan sekitar dan
dapat berefek pada lingkungan sekitar tanpa mengesankan kontras
yang dapat membuat ketegangan social. Selain itu, beliau juga
memposisikan diri dalam sebuah proses berarsitektur sebagai sebagai
seorang penyeimbang/koordinator dalam sebuah forum diskusi.
Dimana forum diskusi tersebut berisi pengguna, lingkungan dan para
pakarpakar yang ahli dibidang masing-masing (ahli geologi, ahli seni,
dan lain-lain)
Berikut adalah hal-hal yang dapat diambil dari video tersebut.

Beliau berpandapat bahwa


Berasiktektur tidak harus sekedar style tetapi beranjak dari
budaya
Contohnya pada sebuah karya yang telah dibangunnya
Karya tersebut dibuat dengan memperhatikan manusia yang tinggal
didalamnya dengan memperhatikan nilai budaya, sejarah, nilai-nilai
social dan lingkungan sekitar.

Pendapat Sitok Srengenge


Sebuah rumah adalah sebuah bentuk keinginan/kerinduan manusia
akan masa lalu atau asal mulanya dulu. Seperti layaknya Bayi yang
dari awal berada dalam naungan (Rahim) dalam naungan tersebut,
bayi merasa nyaman karena merasa terlindungi (induk). Sedangkan
saat lahir/terpisah dari induk/ibunya bayi yang sudah besar tersebut
merasa kurang nyaman/ingin memiliki nanungan seperti saat masih
bayi dalam Rahim. Naungan tersebut tidak lain adalah

perlindungan. Sehingga sebuah rumah sudah selayaknya dilihat


sebagai sesuatu yang memiliki nilai penting, bukan hanya sekedar
ingin membangun rumah tanpa menyadari nilai dari rumah itu
sendiri.
Pendapat bapak Eko Prawoto
Dari pembicaraan dengan bapak Sitok Srengenge, beliau
berpendapat bahwa membangun tempat tinggal harusnya
sekali/dua kali seumur hidup. Dan arsitek layaknya bidan yang
membantu persalinan (bayi) tetapi bayi milik orangtuanya (pemilik
rumah). Sehingga sangatlah penting sebuah perancangan tidak
hanya dirancang berdasarkan pemikiran seorang arsitek saja, tetapi
penghuninya tetap ikut andil dalam perancangan tersebut.
Dari sini timbul sebuah permasalahan, bagaimana menemukan
nilai rasa dari pemilik dengan rumah?
Quote Bapak Eko Prawoto tahun 2007
Terlalu banyak arsitek yang terobsesi untuk menunjukkan dirinya.
Dimana aku ingin menunujukkan apa yang hidup disana
Bapak Eko Prawoto dalam mendesain rumah tinggal milik Butet
Kertaradjasa
Beliau mengamati kondisi lingkungan sekitar, apapun itu seperti
daun, pohon dan lain-lain. Dari situ beliau mendapatkan ilmu-ilmu
atau inspirasi yang sangat banyak yang dapat diaplikasikan dalam
sebuah bangunan seperti detail bangunannya. alam/lingkungan
sekitar adalah sebuah sarana komunikasi/info yang sangat banyak
apabila kita mau menelusurinya lebih dalam. Dari hal inilah yang
dapat mendukung sebuah konsep bangunan seharusnya menyatu
dengan lingkungan sekitar. Dimana banyak elemen bangunan
tersebut menggunakan prinsip/apa yang telah dikatakan oleh
lingkungan sekitar/material dari lingkungan sekitar.
Beliau juga berpendapat sebuah bangunan arsitektur harus dapat
berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Seperti contohnya
sebuah detail arsitektur yang dapat mengkomunikasikan sejarah
perjalanan hidup pemilik rumah tersebut atau bangunan tersebut
dapat menceritakan tentang bagaimana bangunan tersebut
dibangun dan lain-lain.
Beliau juga berpendapat bahwa Arsitektur tidak semata-mata
membentuk gaya baru tetapi harus tetap berlandaskan tradisi.
Karena tradisi adalah suatu jejak pemikiran panang dari orangorang
terdahulu dan merupakan bagian dari kita yang tidak mungkin
dipungkiri kalau diri kita tidak dapat terlepas dari tradisi tersebut.

Dari sini merupakan bekal/dasar beranjaknya arsitektur yang pada


zaman sekarang kebanyakan berbeda dari tradisi yang ada, tetapi
malah mengambil tradisi lain. Memang pengambilan tradisi ini tidak
dapat dihindarkan, tetapi kedua tradisi dapat dimix menjadi satu
agar tradisi asli tersebut tetap ada.
Beliau berpendapat, sebuah karya arsitektur yang telah
diaplikasikan akan membawa dampak ekonomi bagi semua orang
baik ekonomi maupun social. Dari efek kedepan ini, tentu saja efek
tersebut dapat dibentuk dari bangunan arsitektur itu sendiri
sehingga efek tersebut dapat berdampak positif bagi lingkungan
sekitar. Contohnya bangunan rumah tinggal milik bapak Butet
Kertaradjasa. Beliau menggunakan pengrajin, tukang dan
komponen-komponen tradisional untuk membangun sebuah rumah
tinggal. Dimana rumah tinggal ini memiliki efek menyuport
komponen-komponen tradisional tersebut untuk bertahan dalam
apresiasi masyarakat yang mulai berkurang pada saat itu.
Beliau juga berpendapat bahwa kenyamanan hunian tradisional
adalah sebuah kefleksibelan dalam sebuah fungsi ruang, beliau
mencontohkan apabila sebuah ruang tersebut biasa dipakai untuk
membaca maka ruangan tersebut adalah ruang baca.
Bapak Butet Kertaradjasa berpendapat
Sebuah hunian baiknya dapat menyatu dengan pemiliknya.
Beliau mencontohkan tradisi mengadakkan upacara selametan
ketika rumah tersebut dibangun, sehingga dari sini pemiliknya akan
merasa seperti membangun rumah tersebut dari awal atau seperti
memiliki anak. Dan dari sini akan timbul rasa cinta terhadap hunian
tersebut.
Pendapat beliau saat gempa jogja 2006
ini bukan semata-mata persoalan membangun rumah namun lebih
merupakan membangun kehidupan
Bagaimana caranya kembali membangun kehidupan yang sempat
hancur karena gempa, itu lebih penting dari pada membangun
rumah
Pada saat ini, kondisi semua rumah sudah rata dengan tanah dan
mungkin hanya tersisa beberapa komponennya saja. Sedangkan
manusia butuh tempat untuk bernaung, dari keinginan dan
semangat inilah warga bantul saat itu bersatu untuk membangun
rumah mereka masing-masing dengan memanfaatkan semua yang
ada seperti puing-puing rumah dan menyesuaikkan kebutuhan
ruang.
Dari sini beliau berpendapat bahwa arsitektur itu hanya sebuah
media untuk memperbaiki kehidupan. Dan arsitektur itu sendiri

dapat berupa sebuah kekuatan komunitas dimana dalam komunitas


memiliki aspek kebersamaan yang perlu dijaga dan dipertahankan,
agar arsitektur itu sendiri dapat menjadi media untuk memperbaiki
kehidupan.
2. Video Indonesian Design oleh BCI

Dalam garis besar, video ini menceritakkan konsep bangunan dari


beberapa arsitek. Dimana bangunan tersebut memiliki konsepnya
masing-masing dan dibuat saat era langgam arsitektur modern
masuk/booming di Indonesia dengan berbagai macam bahan
fabrikasi dan beberapa memakai improvisasi desain dari masingmasing arsitek. Bangunan yang diceritakan adalah bangunan yang
bersifat komersial, karena pada era dan video itu, bangunan
didesain menggunakan improvisasi arsitek dengan orientasi
mendatangkan/mewadahi aktifitas banyak orang (baik penduduk
lokal maupun penduduk interlokal). Berikut adalah ringkasan video
tersebut:
Apartemen Boutique Pantai Mutiara karya Ir. B. Sardjono Sani
M.Arch
Mengedepankan konsep bangunan yang menolak kebiasaan
dalam merancang yang mengikuti tipologi. Desain apartemen ini
juga
berorientasi
pada
memajukkan
tingkat
ekonomi
kota/kawasan
tersebut
dengan
dapat
mewadahi
aktifitas/mendatangkan penduduk baru/lama dalam bangunan
tersebut. Desain yang ada juga menggunakan material material
baru seperti atap yang dapat menimbulkan kesan yang berbeda
saat siang dan malam hari.
Villa the Rock karya Ir. Gregorius Antar (Yori)
Desain Villa ini memperhatikan tipologi site, dimana site berada
di sebuah batu karang yang memilik kontur. Beliau
memanfaatkan batu karang dan kayu besi yang berada disekitar
site tersebut untuk mempercantik fasad, sehingga bangunan
terlihat menyatu dengan site dan terlihat alami.
Studio Video Puri Karnos karya Ir. Boy Irawan
Konep studio ini adalah memperlihatkan aktifitas didalam
(produksi video) menjadi fasad bangunan. Selain itu aspek
modern minimalis menjadi satu pendekatan utama dalam konsep
tampilan bangunan. Pembentukkan massa bangunan dibuat
terkesan monumental untuk memperlihatkan bahwa bangunan
tersebut ada di Indonesia. Karena sebelumnya belum pernah
dibuat bangunan untuk produksi video di Indonesia.
Top Down Construction karya Ir. Davy Sukamta
Teknologi yang mengedepankan konstruksi untuk mengatasi
desain yang menekankan efektifitas bangunan. Seperti

contohnya efektifitas lahan, energy, waktu pembangunan dan


lain-lain.