Anda di halaman 1dari 46

1

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pakan merupakan faktor yang terpenting untuk menunjang pengembangan populasi
ternak ruminansia, disisi lain peternak masih juga dihadapi oleh masalah penyediaan bahan
pakan yang sifatnya mengikuti musim. Hijauan merupakan pakan utama ternak
ruminansia yang biasanya tersedia secara melimpah pada musim penghujan, sedangkan
pada musim kemarau sangat sulit diperoleh sehingga perlu

dicari

alternatif

untuk

menggantikan hijauaan.
Limbah pertanian masih merupakan pengganti hijauan sebagai pakan utama ternak
perah terutama pada saat musim kemarau. Kualitas limbah pertanian di Indonesia sangat
rendah yaitu tinggi kandungan lignoselulosa yang membatasi kecernaan nutrisi limbah dan
rendah kandungan protein serta mineral. Degradasi lignin di dalam rumen sangat terbatas dan
hanya sebagian kecil mikroba rumen yang mempunyai kemampuan mentransformasi
senyawa lignin tidak terkondensasi atau berbentuk monoaromatik menjadi senyawa lain yang
mudah terhidrolisasi. Sehingga polisakarida tidak dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon
untuk sintesis energi maupun sintesis protein mikroba rumen. Oleh karena itu dibutuhkan
bakteri pada pakan berupa bakteri lignochloritik.
Ternak ruminansia memiliki keistimewaan pada alat pencernaanya, yaitu memiliki
rumen yang digunakan sebagai tempat fermentasi dan membantu pemecahan pakan berserat
kasar tinggi dan berkualitas rendah. Ternak ruminansia dapat memanfaatkan sumber
karbohidrat berasal dari hijauan yang tidak dapat dimanfaatkan ternak non-ruminansia.
Sumber karbohidrat tersebut berupa selulosa, hemiselulosa dan pektin yang berikatan dengan
lignin yang ada pada dinding sel tanaman pakan dan berfungsi memperkuat struktur sel
tanaman. Adanya struktur tersebut dalam tanaman menjadikannya sebagai sumber utama
serat kasar yang juga dibutuhkan bagi ternak ruminansia, yang mana dapat merangsang
perkembangan organ rumen ternak dalam mencerna pakan agar lebih optimal.
1.2. Tujuan
Pembuatan paper ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui Pengaruh Pemberian Serat Kasar Dalam Pakan Terhadap Konsumsi &
Daya Cerna Ternak Ruminansia.
2. Mengetahui Pengaruh Pemberian Bakteri Lignochloritik Dalam Pakan Terhadap
Konsumsi & Daya Cerna Ternak Ruminansia.

II. ISI
2.1. Mengetahui Pengaruh Pemberian Serat Kasar Dalam Pakan Terhadap Konsumsi &
Daya Cerna Ternak Ruminansia
Kebiasaaan pemberian pakan kepada kambing yang hanya menggunakan hijauan saja
tidak efektif untuk memberikan efek maksimal untuk pertumbuhan ternak. hal tersebut terkait
dengan kurangnya energi dan juga protein yang terdapat dalam hijauan tersebut. Penggunaan
pakan komplit telah banyak dikembangan mengingat pakan komplit sangat praktis digunakan
sehingga lebih efisien. Pakan komplit tersebut terdiri dari beberapa bahan baku lokal yang
rata-rata berasal dari limbah pertanian ataupun limbah agroindustri dimana jumlah produksi
limbah tersebut sangat melimpah dan tentunya masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku
pakan. Pakan komplit dibentuk dan diberikan sebagai satu-satunya pakan yang mampu

mempenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi tanpa tambahan substansi lain kecuali air.
Penyusunan ransum komplit dilakukan dalam hal pemenuhan kebutuhan nutrisi seperti
protein, energi, dan elemen yang lain sehingga kebutuhan nutrisi tersebut bisa dimaksimalkan
untuk pertambahan bobot badan dan produktivitas ternak ruminansia.
Tingkat konsumsi yang tinggi akan menurunkan daya cerna bahan kering dan bahan
organik ransum akibat penambahan jumlah bahan makanan yang dimakan mempercepat arus
makanan dalam usus sehingga mengurangi daya cerna. Ternak yang diberikan ransum basal
hay oat yang ditambahkan suplemen barley-urea dan bji-bijian faba memiliki tingkat
konsumsi dan daya cerna yang tinggi jika dibandingkan dengan pemberian hay oat tanpa
suplemen serat kasar yang merupakan sumber karbohidrat bagi ternak ruminansia. Belum
banyak diketahui jumlah imbangan serat kasar yang tepat dalam pakan agar dapat dicerna
secara optimal untuk memenuhi kebutuhan ternak ruminansia.
Menurut hasil dan penelitian oleh Hendra,dkk (2014) untuk mengetahui tingkat
konsumsi pakan serat kasar dengan berbagai perlakuan didapatkan bahwa pakan dengan serat
kasar tinggi menyebabkan ternak lebih lama untuk memakan dan ruminansi dan laju
degradasi dalam retikulo-rumen melambat. Namun, pengaruh yang berbeda ditunjukkan pada
perlakuan perlakuan P1 dengan kandungan SK pakan 12% yang ternyata dihasilkan nilai
konsumsi terendah. Hasil penelitian pada perlakuan P1 menunjukkan nilai konsumsi yang
paling rendah. Selain perbedaan serat kasar pakan, kandungan protein kasar pakan dapat
menjadi penyebab perbedaan konsumsi. Kandungan protein dan serat kasar dalam pakan
yang digunakan sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan. Menurunnya tingkat konsumsi
dapat disebabkan oleh rendahnya kualitas pakan yaitu rendahnya kandungan protein. Selain
itu, konsumsi protein kasar dibawah 7% dapat berakibat pada melambatnya pencernaan
dalam rumen karena kurangnya pasokan nitrogen bagi bakteri sehingga terhambatnya
pertumbuhan bakteri.
Konsumsi pakan ternak ruminansia juga dapat dibatasi oleh jumlah nutrisi yang
tersedia untuk metabolisme ternak. Dijelaskan oleh Hendra,dkk (2014), pada tingkat
metabolik, konsumsi pakan merupakan respon kurangnya energi dalam tubuh ternak, untuk
memenuhi kebutuhan energinya ternak akan mulai makan dan berhenti bila kebutuhan
energinya tercapai. Rendahnya kandungan SK akan memudahkan penetrasi mikroba rumen
(bakteri, protozoa dan jamur) untuk mencerna nutrien pakan (Pamungkas dkk., 2013).
Tingkat konsumsi juga dapat dibatasi oleh kebutuhan energi dari hewan, sehingga hal ini
menyebabkan serat mempunyai hubungan yang positif terhadap tingkat konsumsi, dimana

kenaikan tingkat serat akan menurunkan tingkat kecernaan dan hewan akan mengkonsumsi
lebih banyak agar dapat memenuhi kebutuhan energi.
Penelitian yang dilakukan Hendra,dkk (2014) untuk mengetahui tingkat konsumsi &
daya cerna ternak ruminansia pada pemberian pakan serat kasar dapat disimpulkan bahwa
peningkatan level serat kasar tertinggi dari 17% hingga 22% pada imbangan pakan hijauan
dan konsentrat 15% : 85% memiliki tingkat konsumsi pakan yang relatif sama. Sedangkan
level serat kasar terendah hingga 12% meskipun memiliki tingkat kecernaan pakan yang
tinggi, namun dapat menurunkan konsumsi ternak sehingga level serat kasar 17%
menunjukkan tingkat konsumsi dan kecernaan yang terbaik.
2.2. Mengetahui Pengaruh Pemberian Bakteri Lignochloritik Terhadap Konsumsi &
Daya Cerna Ternak Ruminansia
Degradasi lignin di dalam rumen sangat terbatas dan hanya sebagian kecil mikroba
rumen yang mempunyai kemampuan mentransformasi senyawa lignin tidak terkondensasi
atau berbentuk monoaromatik menjadi senyawa lain yang mudah terhidrolisasi. Sehingga
polisakarida tidak dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon untuk sintesis energi maupun
sintesis protein mikroba rumen. Disisi lain bioakumulasi pestisida pada tanaman terjadi
selama proses lignifikasi sehingga jumlah residu tertinggi terdapat pada jerami dan
menurunkan keamanan jerami sebagai pakan ternak.
Mikroba didalam rumen terdiri dari tiga macam yaitu bakteri, jamur dan protozoa.
Sebagian besar bakteri dan jamur mempunyai kemampuan mendegradasi selulosa. Namun
mikroba rumen mempunyai kemampuan yang terbatas dalam mendegradasi lignin. Sementara
selulosa secara alami berikatan dengan lignin, sehingga pemanfaatan lignoselulosa menjadi
terbatas. Oleh sebab itu, berbagai teknologi diperlukan untuk mempertahankan ketersediaan
pakan terutama pada musim kemarau yang panjang, meningkatkan kualitas pakan atau
mengoptimumkan kerja rumen. Salah satunya yaitu dengan memanfaatkan mikroorganisme.
Mikroorganisme yang dimanfaatkan ini dapat berupa probiotik.
Probiotik adalah suatu produk yang mengandung satu atau campuran berbagai macam
mikroorganisme yang berfungsi sebagai pencerna serat dalam pakan dan dapat berinteraksi
positif dengan mikroba rumen ternak target. Bakteri lignochloritik adalah salah satu bakteri
probiotik. bakteri lignochloritik yaitu bakteri yang mempunyai kemampuan yang tinggi
dalam mendegradasi lignin dan residu organochlorin. Setiap mikroba juga mempunyai
kemampuan biodegradasi lignin yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh komposisi dan
struktur lignin pada dinding 3 sel tanaman serta kemampuan oksidatif enzim lignolitik yang

dihasilkan mikroba. Bakteri lignochloritik mempunyai sifat fakultatif anaerob dan


pertumbuhan yang tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai probiotik dan dapat
diintroduksikan ke dalam rumen untuk meningkatkan kemampuan rumen dalam mencerna
bahan lignoselulosa (Prihartini, 2011). Probiotik bakteri lignochloritik ditambahkan dalam
rumen agar dapat menetralkan pH rumen, dapat membantu bakteri rumen dalam
mendegradasi lignin dan organochlorin sehingga limbah pertanian (jerami padi) bisa
dikonsumsi lebih banyak lagi terutama pada musim kemarau dan dapat meningkatkan sintesis
microbial.
Probiotik bakteri lignochloritik mempunyai

kemampuan yang tinggi pada

pertumbuhan, produksi dan aktivitas enzim. Probiotik mempunyai kemampuan yang tinggi
dalam aktivitas degradasi lignin dan organochlorin pada kondisi an aerob. Aktivitas degradasi
probiotik lignochloritik juga tidak antagonis dengan aktivitas mikroba rumen. Sehingga
probiotik bisa digunakan sebagai probiotik rumen. Oleh karena itu perlu dilakukan uji
aplikasi pada ternak ruminansia secara in vivo, dimana pemberian probiotik pada ternak
diharapkan dapat meningkatkan kecernaan lignoselulosa sehingga meningkatkan pasok
nutrisi untuk ternak sekaligus mendegradasi residu pestisida pakan selanjutnya akan
meningkatkan produksi, kualitas dan keamanan produksi ternak.
Pada hasil penelitian Prihartini (2011), bahwa pemberian probiotik meningkatkan
kecernaan zat nutrisi di dalam rumen terutama polisakarida sebagai sumber energi ternak
ruminansia sehingga meningkatkan proporsi asam propionat untuk produksi susu dan
probiotik dengan kemampuannya mensintesis NH3 menjadi protein meningkatkan sintesis
protein mikroba rumen selanjutnya meningkatkan produksi susu. Hasil ini sesuai dengan hasil
penelitian in-vitro dimana pemberian probiotik meningkatkan produksi gas, degradasi BO
dan efisiensi sintesis protein mikroba rumen. Produksi gas yang tinggi dengan degradasi BO
yang tinggi menunjukkan hal ini menunjukkan bahwa BO didegradasi menjadi VFA sebagai
sumber energi pada ternak, disamping itu produksi gas juga merupakan parameter aktivitas
mikroba rumen dalam mendegradasi pakan. Sehingga didapatkan hasil bahwa penambahan
probiotik pada pakan konsentrat sebesar 1 % meningkatkan produksi ternak ruminansia
khususnya ternak sapi perah yang diperoleh produksi susu 30-40 % perhari, meningkatkan
kadar lemak sampai 4,1 % serta menurunkan residu pestisida organochlorin pada susu sapi
perah 80-100 %.

III. KESIMPULAN

1. Pemberian pakan serat kasar pada tingkat konsumsi dan daya cerna ternak dapat
disimpulkan bahwa peningkatan level serat kasar tertinggi dari 17% hingga 22% pada
imbangan pakan hijauan dan konsentrat 15% : 85% memiliki tingkat konsumsi pakan
yang relatif sama. Sedangkan level serat kasar terendah hingga 12% meskipun
memiliki tingkat kecernaan pakan yang tinggi, namun dapat menurunkan konsumsi
ternak sehingga level serat kasar 17% menunjukkan tingkat konsumsi dan kecernaan
yang terbaik.
2. Penambahan probiotik pada pakan konsentrat sebesar 1 % meningkatkan produksi
ternak ruminansia khususnya ternak sapi perah yang diperoleh produksi susu 30-40 %
perhari, meningkatkan kadar lemak sampai 4,1 % serta menurunkan residu pestisida
organochlorin pada susu sapi perah 80-100 %.

DAFTAR PUSTAKA

Pamungkas, D., Mariyono, Antari R. dan Sulistya T.A. 2013. Imbangan Pakan Serat dengan
Penguat yang Berbeda dalam Ransum Terhadap Tampilan Sapi Peranakan
Ongole Jantan. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner: 107-115.
Permana, H., Chuzaemi, S., Marjuki., Mariyono. 2014. Pengaruh Pakan dengan Level Serat
Kasar Berbeda Terhadap Konsumsi, Kecernaan dan Karakteristik VFA Pada
Sapi Peranakan Ongole. Jurnal Agripet vol 11(2): 50-60.
Prihartini, I., Khotimah, K. 2011. Produksi Probiotik Rumen Berbasis Bakteri Lignochloritik
dan Aplikasinya Pada Ternak Sapi Perah. Jurnal Gamma vol 7(1): 27-31

2.1. Tujuan
1. Untuk mengetahui nomenklatur bahan pakan dan nama alat yang digunakan serta
fungsinya
2. Mengetahui dan mempermudah mengklasifikasikan suatu bahan pakan berdasarkan
spesifiknya.
3. Untuk mengetahui cara uji fisik dan sifat-sifat fisik suatu bahan pakan.
4. Untuk mengetahui kandungan zat makanan, serat kasar, protein kasar, kadar air,
kadar abu, lemak kasar dengan menggunakan analisa proksimat.
5. Untuk menentukan atau mengetahui kadar asam lemak bebas dalam suatu bahan
pakan.
6. Untuk menentukan besarnya energy bruto dari suatu bahan pakan dan besarnya
gross energy dengan menggunakan bomb kalorimeter.
2.2. Manfaat
1. Mengetahui nama dan fungsi alat-alat dalam laboratorium.
2. Mampu membedakan nama dan ciri spesifik bahan pakan.
3. Memahami sifat-sifat bahan pakan, sehingga mempermudah dalam
pengangkutan, pengolahan dan menjaga homogenitas dan stabilitas saat
pencampuran.
4. Mampu mengetahui zat makanan dan zat gizi pada suatu bahan makanan
ternak.
5. Mampu mengukur kadar asam lemak bebas dalam suatu bahan pakan.

6. Mampu menentukan besarnya energi bruto dari suatu bahan pakan.

III. TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Nomenklatur Hijauan, Bahan Pakan dan Pengenalan Alat


Umumnya bahan makan ternak sebagian terdiri dari bahan-bahan makanan yang
bearsal dari tanaman-tanaman, terutama sisa-sisa atau hasil limbah dari berbagai perusahaan
zat-zat makan yang ada didalam bahan makanan tersebut dalam tubuh hewan dalam diubah
menjadi daging, susu, telur wol, energy, dan lainnya. Untuk itu hewan ternak perlu mendapat
ransum yang sempurna. Untuk tujuan tersebut perlu pengetahuan yang mendalam mengetahui
pengertian pakan dan ilmu makanan ternak, antara lain, komposisi, tumbuhan, hewan, prosesproses dalam tubuh hewan, metabolism dan kebutuhan hewan akan zat makanan untuk hidup,
pertumbuhan dan produksi (Anggorodi,1999).
Menurut Tillman (1993) umumnya makanan ternak mengandung sebagian serat kasar
misalnya hijauan kering yang dicerna lebih lambat dan lebih sedikit dibandingkan dengan
biji-bijian. Oleh karena itu, bahan makanan tersebut digolongkan menjadi hijauan kasar.
Bahan pakan ternak terdiri dari hijauan dan konsentrat, serta dapat digolongkan ke dalam dua
kelompok besar yaitu bahan pakan konvensional dan bahan pakan inkonvensional. Bahan
pakan konvensional adalah bahan pakan yang lazim digunakan sebagai bahan pakan ternak,
seperti hijauan, leguminosa, butiran, dan feed additive. Sedangkan bahan pakan
inkonvensional adalah bahan pakan yang tidak lazim diberikan pada ternak, seperti limbah
industri kue dan roti, bulu, darah, dan kulit nanas.
Alat alat yang digunakan di dalam analisis kimia atau analisis bahan pakan yang di
perkenalkan di dalam praktikum tersebut yang biasa digunakan terdiri dari alatalat untuk
membuat reagen kimia. Menurut Jacobs (1962), pengenalan alat analisis proksimat terdiri
dari 14 macam alat yaitu :
a.

Timbangan massa berfungsi untuk menimbang bahan yang akan dianalisis.

10

b.

Cawan seng berfungsi untuk tempat sampel bahan yang akan di


oven.

c.

Timbangan analitik berfungsi untuk menimbang suatu bahan pakan


yang akan diuji digunakan dalam analisa kadar air.

d.

Waterbath sebagai pemanas.

e.

Oven berfungsi untuk mensterilkan alat sebelum digunakan dan


bahan pada analisa serat kasar pengering.

f.

Pendingin tegak yang digunakan untuk uji Serat Kasar.

g.

Penjepit untuk menjepit kertas saring cawan pada saat keluar


masuk dari desikator.

h.

Corong buchner, sebagai alat analisa serat kasar.

i.

Sokhlet digunakan sebagai alat analisa kadar lemak.

j.

Alat destruksi atau pemanas listrik sebagai analisa kadar protein


kasar.

k.

Alat destilasi

l.

Alat tanur, analisa Serat Kasar, analisa Kadar abu

m.

Alat titrasi

n.

Bom kalorimeter, menguji total energi bahan pakan


Jacobs (1962), menyatakan bahwa bom kalori meter merupakan alat untuk

mengukur besarnya energi yang terdapat dalam bahan pakan, bom kalori meter memiliki
bagian bagian seperti bom, statif, adigator, bucket, jucket danh lubang oksigen. Alat dalam
menganalisa bahan makanan ini dimaksudkan sebagai pendukung langsung untuk melakukan
suatu analisa. Pengenalan alat dilakukan agar nantinya dapat mendukung acara praktikum
yaitu mengenai analisis fisik, analisa kadar abu, kadar air, serat kasar, lemak kasar, protein
kasar, FAA dan Gross Energy.
3.2. Uji Fisik Bahan Pakan
Pertumbuhan, produksi, reproduksi dan hidup pokok hewan memerlukan zat gizi.
Makanan ternak berisi zat gizi. Fungsi-fungsi zat gizi memungkinkan bahan pakan digunakan
dalam penyusunan ransum secara sederhana (Jaelani, 2007). Secara umum sifat fisik bahan
pakan tergantung dari jenis dan ukuran partikel bahan. Sekurang-kurangnya ada enam sifat
fisik pakan yang penting yaitu berat jenis, kerapatan tumpukan, luas permukaan spesifik,
sudut tumpukan daya ambang, dan factor higroskopis (Jaelani, 2007). Penyediaan bahan
pakan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ternak (Soejono, 2002).

11

Menurut Khalif (1997), bahan pakan mempunyai beberapa sifat fisik, yaitu sudut
tumpukan, BJ, daya ambang, higroskopis, LPS, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan
tumpukan. Metode yang digunakan untuk mengetahui kualitas pakan adalah uji fisik, kimia
maupun uji mikroskopis. Uji fisik misalnya sudut tumpukan, yaitu sudut yang yang dibentuk
oleh pakan yang diarahkan pada bidang datar, tujuannya untuk mengetahui sudut yang
dibentuk pakan. Uji fisik lannya adalah daya ambang berarti semakin cepat bahan pakan yang
menempuh jarak tertentu. LPS adalah luas permukaan spesifik yang digunakan untuk
mengetahui luas permukaan tertentu. Sedangkan BJ merupakan perbandingan antara berat
bahan dengan volume ruang yang ditempati oleh bahan tersebut (Gaman dan Sherington,
1992).
Sudut tumpukan merupakan kriteria kebebasan bergerak suatu partikel pakan dalam
tumpukan, dimana semakin tinggi sudut tumpukan maka kebebasan partikel untuk bergerak
semakin berkurang. Sudut tumpukan dalam pengolahan pakan mempunyai peranan dalam
menentukan flow ability, efisiensi dalam pengangkutan, pemindahan bahan serta mekanik,
dan ketepatan dalam penimbangan yang berhubungan dengan flow ability (Khalil,1997).
Berat jenis merupakan perbandingan antara massa bahan terhadap volume dan
memegang peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan
dan penyimpanan. Variasi dalam nilai BJ dipengaruhi oleh kandungan nutrisi bahan,
distribusi ukuran partikel dan karakteristik permukaan partikel. BJ berpengaruh terhadap
homogenitas penyebaran partikel dan stabilitas suatu campuran pakan (Jaelani, 2007).
3.3. Analisis Proksimat
Menurut Anggorodi (1994), banyaknya air yang terkandung dalam bahan pakan
diketahui bila bahan pakan tersebut dipanaskan atau dikeringkan pada suhu 105C. Oleh
karena itu terjadi penguapan air maka ukuran berat dari bahan makanan tersebut menjadi
berkurang. Bahan pakan dipanaskan hingga ukuran beratnya tetap. Ukuran berat sebelum
dipanaskan dikurangi sesudahnya adalah ukuran berat air.
Pemanasan sampel dengan suhu 1050C akan terjadi penyusutan bobot bukan hanya
kehilangan air. Asam-asam organik yang mudah menguap akan menghilang dan terhitung
sebagai air. Beberapa jenis gula terurai pada suhu diatas 700C, dibawah tekanan 1 atmosfer
dan suhu tinggi, beberapa senyawa organik dapat mengalami dekomposisi oleh oksidasi.
Produk oksidasi tersebut antara lain adalah air. Praktikum penetapan kadar air suhu oven
yang digunakan juga sama yaitu 1050 C (Amrulah, 2003).

12

Menurut Anggorodi (1979), zat-zat mineral sebagai suatu golongan dalam bahan
pakan atau jaringan hewan ditentukan dengan membakar zat organic, dan kemudian
menimbang sisanya yang disebut abu. Penentuan demikian menjelaskan mengenai zat khusus
yang terdapat pada bahan pakan, dan abunya dapat mengandung karbon yang berasal dari zat
organic sebagai karbonat bila terdapat terlalu banyak zat mineral pembentuk bara. Abu hasil
pembakaran dapat digunakan sebagai titik tolak untuk determinasi prosentase zat tertentu
yang terdapat dalam bahan pakan.
Secara garis besar protein dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Protein berbentuk
bulat (globular protein) adalah albumin, glutein, prolamin, atau gliadin, histon, dan protamin;
Protein berbentuk serat kasar (fibrous protein) adalah kalogen, elastin, dan keratin; Protein
gabungan (conjucted protein) adalah nucleo protein, muloid, dan muko protein, glikoprotein,
lipoprotein, dan kromoprotein. Klasifikasi tersebut mempunyai klasifikasi pengaruh yang
khas terhadap sifat dari setiap protein, seperti daya larut dalam air, larutan garam, basa, dan
larutan-larutan etanol (Tillman,1991).
Tillman (1984), menyatakan bahwa serat kasar merupakan salah satu nutrien yang
terdiri dari selulosa, hemi selulosa agnin dan glirisida. Yang lain berfungsi sebagai pelindung
dan bangunan tumbuh-tumbuhan. Menurut Anggorodi (1994), serat kasar merupakan yang
tidak dapat larut dalam H2SO4 0,3 N dan didalam NaOH 1,5 N yang berturut-turut dimasak
selama 30 menit. Analisisis proksimat membagi karbohidrat manjadi dua komponen yaitu
serat kasar dan BETN.
Lemak kasar merupakan campuran beberapa senyawa (lemak, minyak, lilin, asam
organic, pigmen sterol, vitamin ADEK) yang larut dalam pelarut lemak (ether, petroleum
ether, petroleum bensin dan lainnya) (Raharjo, 2004). Penentuan lemak kasar dapat dilakukan
menurut Sochlet (metode langsung dan tidak langsung), dimana metode langsung berprinsip
bahwa lemak dapat diekstraksi dengan ether atau pelarut lemak lainnya. Menurut Soxhlet,
bila pelarutnya diuapkan maka yang tertinggal adalah lemak kasar. Sedangkan metode tidak
langsung berprinsip bahwa lemak dapat di ekstraksi dengan ether atau pelarut lainya.
Istilah lemak kasar (Determination of Extract Ether) ekstraksi bahan makanan dengan
menggunakan pelarut lemak yang biasanya adalah eter. Beberapa pengarang menyebutkan
bahwa ekstraksi eter adalah lemak atau lipid. Lemak eter adalah zat yang mengandung
senyawa yang larut dalam eter, termasuk lipida dan zat yang tidak mengandung asam lemak
(Jacobs,1962).

13

3.4. Free Fatty Acid (FFA)


Kandungan asam lemak bebas (Free Fatty Acid/ FFA) merupakan salah satu faktor
penentu jenis proses pembuatan metal ester (Hasjmy, 2007). Penetapan asam lemak bebas
berprinsip bahwa lemak bebas yang terdapat paling banyak pada minyak tertentu (Sutardi,
2004). Analisis ini diperhitungkan banyaknya zat yang larut dalam basa atau asam di dalam
kondisi tertentu. Asam lemak bebas tidak mengurangi fungsi antioksidan dan melindungi
ternak.
Asam lemak hanya terdapat pada lamak saja. Lemak yang padat pada suhu kamar
terdiri dari asam lemak jenuh (Anggorodi.1979). Lemak dan minyak secara praktis dapat
menunjukan adanya FFA pada bahan yang sudah di ekstrasi dari bahan pakan tertentu
sebagaian besar asam lemak bebas mempunyai gugus kalori dan sebuah ikatan alfatik
(Haryono, 1989).
Apabila penambahan terlalu banyak kadar lemak bebas, akan merusak mesin karena
asam lemak mudah bereaksi dengan bagian metan yang akhirnya menyebabkan karat
(Sudarmadji, 1997). Asam lemak dengan grup-grup fungsional seperti epoksi dan hidroksi
sulit sekali untuk diesterifikasi tanpa merusaknya terlebih dahulu. Katalisis ester yang sulit
dilakukan dengan metode kimiawi tersebut menjadi sederhana dengan pemanfaatan teknologi
enzimatik lipase (Sulistyo, 1999).
3.5. Gross Energy (GE)
Penetuan nilai energi yang umum adalah istilah energi bruto, energi dapat dicerna,
energi metabolisme, atau energi netto. Energi bruto suatu bahan makanan yang dapat
ditentukan dengan membakar sejumlah bahan sehingga diperoleh hasil oksidasi dengan yang
berupa CO2, air dan gas lainnya (Sutardi, 2002). Bom kalorimeter digunakan untuk mengukur
panas yang ditimbulkan oleh pembakaran tersebut, yang terdiri dari suatu bejana yang ditutup
dimana bahan dibakar (Anggorodi, 1994).
Energi membuat seekor hewan mampu melakukan suatu proses-proses produksi atau
suatu pekerjaan (Askar, 1995). Analisa kadar energi adalah suatu usaha untuk mengetahui
kadar energi bruto dari suatu bahan pakan. Dalam analisis biasanya ditentukan energi bruto
lebih dulu dengan cara membakar sejumlah bahan pakan sehingga diperoleh hasil-hasil
oksidasi yang berupa karbondioksida, air, dan gas (Kartadisastra, 1994).

14

Gross energy adalah sejumlah panas yang dilepaskan oleh satu unit bobot bahan
kering pakan bila dioksidasi sempurna. Kandungan GE biasanya dinyatakan dalam satuan
Mkal GE/ kg BK. Gross Energi didefinisikan sebagai energi yang dinyatakan dalam panas
bila suatu zat dioksider secara sempurna menjadi CO 2 dan air. Tentu saja CO2 dan air ini
masih mengandung energi, akan tetapi dianggap mempunyai tingkat nol karena hewan sudah
tidak bisa memecah zat-zat melebihi CO2 dan air. Gross Energi diukur dengan alat bomb
kalorimeter. Besarnya energi bruto bahan pakan tidak sama tergantung dari macam nutrien
dan bahan pakan (Sutardi, 2004).

IV. MATERI DAN CARA KERJA


4.1. Materi
4.1.1. Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
4.1.1.1 Nomenklatur Hijauan
Bahan-bahan yang digunakan pada nomenklatur hijauan adalah :
1. Rumput raja (Pennicetum purpuroides)
2. Rumput gajah (Pennicetum purpureum)
3. Setaria lampung (Setaria splendida)
4. Setaria ancep (Setaria spachelata)
5. Rumput benggala (Panicum maximum)
6. Jagung (Zea mays)
7. Padi (Oryza sativa)
8. Daun pepaya (Carica papaya)
9. Rami (Boehmeria nivea)
10. Daun singkong (Manihot utilissima)
11. Daun pisang (Musa parasidiaca)
12. Daun nangka (Arthocarpus integra)
13. Daun waru (Hibiscus tileaceus)
14. Murbei (Morus indica L.)
15. Lamtoro (Leucaena glauca)
16. Kaliandra (Calliandra calothyrtus)
17. Daun gamal (Glirisida maculate)

15

18. Daun dadap (Erytrina lithospermae).


4.1.1.2 Nomenklatur Konsentrat
Bahan-bahan yang digunakan dalam nomenklatur konsentrat adalah:
1. Tepung jagung
2. Limbah soun
3. Bekatul
4. Millet
5. Molasses
6. Onggok
7. Bungkil kelapa
8. Bungkil kedelai
9. Tepung kedelai
10. Tepung udang
11. Tepung ikan
12. Tepung kerang
13. Tepung udang
14. Tepung tulang
15. Tepung cangkang keong
16. Tepung tulang ikan
17. Kapur
18. Phospat alam
19. CuSO4
20. Urea
4.1.1.3 Pengenalan Alat
Alat-alat yang digunakan untuk pengenalan alat adalah :
1. Autoclaf
2. Destilator
3. Destructor
4. Kompor listrik
5. Kondensor
6. Desikator
7. Vakum penyedot
8. Water bath
9. Oven
10. Bomb calorimeter
11. Bucket
12. Thermometer
13. Tanur suhu 600C
14. Beker glass
15. Gelas ukur
16. Pipet tetes
17. Pipet ukur
18. Corong
19. Erlenmeyer
20. Labu Kjeldahl

16

21.
22.
23.
24.

Timbangan analitik
Cawan porselin
Neraca ohauss
Buret dan statif.

4.1.2. Uji Fisik Bahan


4.1.2.1. Daya ambang
1. Bahan: Dedak 1 gram
2. Alat-alat:
a. Stopwach
b. Nampan
c. Timbangan analitik
4.1.2.2. Sudut tumpukan
1. Bahan: Dedak 200 gram
2. Alat-alat:
a.

Mistar siku-siku

b.

Corong

c.

Besi penyangga

d.

Timbangan analitik

4.1.2.3 Luas permukaan spesifik (LPS)


1. Bahan: Dedak 1 gram
2. Alat-alat:
a. Kertas millimeter blok
b. Spidol
c. Timbangan analitik
4.1.2.2. Berat jenis
1. Bahan: Dedak
2. Alat-alat:
a.

Gelas ukur 100 ml

b.

Timbangan analitik

4.1.3. Analisis Proksimat

17

4.1.3.1 Analisis Kadar Air


Bahan : Dedak 2 gr
Alat :
a. Cawan Porselin
b. Desikator
c. Oven
d. Timbangan analitik
e. Tang penjepit
4.1.3.2 Analisis Kadar Abu
Bahan : Dedak 2 gr
Alat :
a. Cawan porselin
b. Desikator
c. Tanur
d. Timbangan analitik
e. Tang penjepit
4.1.3.3. Kadar Protein Kasar
a.

Labu Kjeldhal

b. Alat penyuling
c. Erlenmeyer 125 ml
d. Mikro buret
e. Pipet 10 ml
f. Kompor listrik
g. Timbangan
h. H2SO4 Pekat
i. NaOH 40%
j.

HCl 0,1 N

k. Asam borat
l.

Indikator methyl red

m. Katalisator (0.5% se; 3.5% CuSO4 dan 96% K2SO4)

18

4.1.3.4. Kadar Lemak Kasar


Bahan:
a. Dedak 1 gr
b. Petroleum Benzen, Ether, Dietil Ether

Alat:
a. Labu penampung
b. Alat pendingin (kondensor)
c. Oven
d. Timbangan analitik
e. Wather bath
f. Desikator
g. Alat ekstraksi soxlet

4.1.3.5. Kadar Serat Kasar


a. Cawan porselin
b. Kertas saring wathman
c. Corong tegak
d. Pendingin tegak
e. Desikator
f. Oven
g. Tanur
h. Tang penjepit
i. Alat pemanas bunsen
j. Pompa vacum
k. Timbangan analitis
l. Kompor listrik
m. H2SO4 0,3 N
n. NaOH 1,5 N
o. Aceton
p. Aquadest

19

4.1.4. Free Fatty Acid (FFA)


Alat yang digunakan adalah :
1. Erlenmeyer
2. Buret
3. Pipet Tetes
Bahan yang digunakan adalah :
1. Dedak
2. 50ml Alkohol 96%
3. 2ml Indikator PP
4.

NaOH 0,1 N

4.1.5. Gross Energy


Bahan : Dedak
Alat yang digunakan adalah :
1.

Kertas whatman

2.

Bomb kalorimeter

3.

Bucket

4.2. Cara Kerja


4.2.1. Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
4.2.1.1 Nomenklatur Bahan Pakan
1. Bahan pakan diamati satu-persatu.
2. Dicatat data-data mengenai bahan pakan tersebut.
3. Bahan pakan tersebut difoto.
4. Data dimasukkan ke dalam bagan.
4.2.1.2 Pengenalan Alat
1. Alat diamati satu-persatu.
2. Alat kemudian difoto
3. Alat kemudian dicatat nama serta fungsinya.
4.2.2 Uji Fisik

20

4.2.2.1. Daya Ambang


1. Bahan ditimbang sebanyak 1 gr.
2. Nampan dan stopwatch disiapkan.
3. Bahan dijatuhkan dari ketinggian 1 m.
4. Waktu tempuh dicatat.
4.2.2.2 Sudut Tumpukan
1. Bahan dan alat disiapkan.
2. Corong dipasang.
3. Bahan dituangkan.
4. Diameter bahan diukur.
5. Tinggi bahan diukur.
6. Data kemudian dicatat.
4.2.2.3 Luas Permukaan Spesifik (LPS)
1. Bahan ditimbang sebanyak 1 gr.
2. Bahan diratakan dalam millimeter block
3. Luas bahan pakan diukur dan dicatat.
4.2.2.4 Berat Jenis
1. Gelas ukur 100 ml ditimbang.
2. Sampel bahan pakan disiapkan.
3. Sampel pakan dituangkan ke dalam gelas ukur.
4. Gelas ukur yang berisi bahan pakan ditimbang.
4.2.3 Analisis Proksimat
4.2.3.1 Analisis Kadar Air
1. Cawan porselin dioven selama 1 jam dalam suhu 1050 C.
2. Masukkan cawan ke dalam desikator.
3. Cawan ditimbang.
4. Sampel ditimbang sebanyak 2 gr, lalu dimasukkan ke dalam cawan.
5. Sampel dioven selama minimal 8 jam dalam suhu 1050 C.
6. Sampel dikeluarkan dan dimasukkan dalam desikator.
7. Sampel ditimbang.

21

4.2.3.2 Analisis Kadar Abu


1. Cawan porselin dan sampel bahan sisa analisis kadar air ditimbang.
2. Cawan dan bahan kemudian ditanur dalam suhu 6000 C sampai menjadi abu.
3. Cawan dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam oven sampai suhu turun.
4. Cawan dimasukkan ke dalam desikator.
5. Cawan dan sampel kemudian ditimbang.
4.2.3.3 Kadar Protein Kasar
A. Destruksi
1. Bahan ditimbang sebanyak 0,1 gr.
2. Ditambah katalisator secukupnya dan 0,1 ml H2SO4 pekat.
3. Sampel didestruksi hingga berwarna jernih.
B. Destilasi
1. Destilator disiapkan.
2. Hasil destruksi yang sudah dingin dimasukkan ke dalam destilator.
3. Erlenmeyer disiapkan.
4. Ditambah 10 ml NaOh 40%.
C. Titrasi
1. Hasil destilasi dititrasi dengan HCl 0,1 N.
2. Sampel dititrasi hingga berubah warna.
4.2.3.4 Analisis Kadar Lemak Kasar
1. Kertas saring dioven.
2. Kertas saring lalu dimasukkan ke dalam desikator.
3. Sampel ditimbang sebanyak 1 gr.
4. Sampel dimasukkan ke dalam kertas saring, lalu dilipat dan diikat.
5. Diletakkan dalam cawan porselin, kemudian dioven.
6. Setelah dioven kemudian dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam desikator.
7. Sampel ditimbang.
8. Sampel kemudian diekstraksi.
9. Sampel kemudian dianginkan.
10. Sampel kemudian dioven.
11. Sampel kemudian dimasukkan ke dalam desikator.
12. Sampel akhir ditimbang.

22

4.2.3.5 Kadar Serat Kasar


1. Bahan ditimbang sebanyak 2 gr.
2. Ditambahkan 50 ml H2SO4 0,3 N.
3. Dididihkan selama 30 menit.
4. Ditambahkan 25 ml NaOH 1,5 N.
5. Dididihkan selama 30 menit.
6. Kertas saring disiapkan.
7. Cairan dalam Erlenmeyer kemudian disaring.
8. Kertas saring dicuci dengan 50 ml H2O panas; 50 ml H2SO4 0,3 N.
9. Kertas saring kemudian dicuci kembali dengan 50 ml H2O panas dan 25 aseton.
10. Kertas saring dimasukkan ke dalam cawan dan dioven.
11. Kertas saring kemudian ditanur.
12. Setelah ditanur, kertas saring dimasukkan ke dalam oven untuk menurunkan
suhu.
13. Kertas saring dimasukkan ke dalam desikator.
14. Kertas saring ditimbang.
4.2.4 Free Fatty Acid (FFA)
1. Bahan ditimbang sebanyak 7,5 gr.
2. Ditambahkan alkohol 96%.
3. Sampel direfluk.
4. Ditambahkan indikator PP.
5. Dititrasi dengan NaOH 0,1 N.
4.2.5 Gross Energy (GE)
1. Kertas saring dioven, kemudian dimasukkan ke dalam desikator.
2. Sampel ditimbang.
3. Dibungkus dengan kertas saring.
4. Sampel yang dibungkus kemudian diikat.
5. Sampel dipasang pada bom calorimeter.
6. Diisi oksigen hingga 20 atm.
7. Dimasukkan ke dalam bucket.
8. Tombol ignition dan signalator ditekan.
9. Dicatat temperaturnya.

23

10. Tombol combustion ditekan.


11. Temperatur dicatat kembali.
12. Bom calorimeter dikeluarkan.
13. CO2 dikeluarkan.
14. Ignition wire diukur panjangnya.
15. Bom kalorimeter kemudian dicuci dengan akuades.
16. Air cucian ditampung.
17. Air cucian diambil 10 ml.
18. Air cucian ditetesi methyl orange 2 tetes.
19. Air cucian dititrasi menggunakan Na2CO3 hingga berubah warna.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil
5.1.1 Nomenkaltur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat
5.1.1.1 Konsentrat
Tabel 1. Bahan Pakan Konsentrat
Nama

Asal

Proses

Sumber

Bagian

Onggok

Singkong
(ubi)

Digiling,
dikeringkan

Sumber
energi

Umbi

Dedak
padi

Padi

Digiling

Sumber
energi

Kulit ari

Tepung
udang

Udang

Digiling,
dikeringkan

Sumber
protein

Utuh

Bungkil
kedelai

Kedelai

Digiling,
dikeringkan

Sumber
protein

Biji

Grade
PK 80,7%
SK 0,4%

PK 13,6%
SK 12%
PK 75%
Abu 4,5%

PK 44,9%
SK 5,36%

Gambar

24

Jagung
pipilan

Jagung

Dikeringkan

Sumber
energi

Biji

Molases

Tebu

Digiling,
diekstraksi

Sumber
energi

Batang

PK 8,5%
TDN 65%

Tepung
kerabang
telur

Cangkang
telur

Digiling,
dikeringkan

Sumber
mineral

Cangkang

Tepung
kerang

Kerang

Digiling

Sumber
mineral

Cangkang

Tepung
cangkang
keong

Keong

Sumber
mineral

Cangkang

Digiling

PK 14,5%

PK 7,6%
Kalsium 36%

PK 2 3%
Ca 24 30%

PK 12 15%
Ca 24 30%
PK 55%

Tepung
ikan

Ikan

Digiling,
dikeringkan

Sumber
protein

Utuh

Air 10%
Abu 4%

Tepung
limbah
soun

PK 0,5%

Digiling,
dikeringkan

Sumber
energi

Mi

Tanaman
millet

Dikeringkan

Sumber
energi

Biji

Kapur

Batuan
kapur

Digiling

Sumber
mineral

Batuan

Ca 20 25%

CuSO4

Batu
batuan
alam

Dipecah,
dihaluskan

Sumber
mineral

Batu
batuan

Cu 18%

Biji millet

Soun

SK 63%

PK 8,4%
SK 6,0%

25

Feed
addictive

Pabrik

Pabrik

Vitamin
tambahan

Vit. A 6 juta
Vit. D 1,2 juta

5.1.1.2 Hijauan
Tabel 2. Bahan Pakan Hijauan
Nama Ilmiah
(Asal)

Gambar

Bagian

Proses

Tingkat

Defo-

Kede-

liasi

Grade

Sumber

wasaan
Jerami Padi
(Oriza sativa)

Aerial

Daun nangka
(Arthocarpus
integra)

Dikeringkan

Tua

PK 33 %
SK 3,4 %

Sumber
energi

Daun dan
batang
muda

Dilayukan

Muda

PK 2 3%
SK
12 14%

Sumber
energi

Daun papaya
(Carica
papaya)

Daun dan
batang
muda

Dilayukan

Muda

SK
9 12%
PK 16 %

Sumber
energi

Daun rami
(Boehmeria
nivea)

Daun dan
batang
muda

Dilayukan

Muda

PK > 18%
SK < 18%

Sumber
energi

Daun pisang
(Musa
paradisiaca)

Daun muda

Dilayukan

Muda

PK 14,4%

Sumber
energi

26
Daun waru
(Hibiscus
tileateus)

Daun dan
batang
muda

Dilayukan

Muda

PK 18%

Daun dadap
(Erithrima
lithospermae)

Daun dan
batang
muda

Dilayukan

Muda

PK 2%
SK
12 14%

Sumber
energi

Daun murbei
(Morus indica
L.)

Daun dan
batang
muda

Dilayukan

Muda

PK 18%
SK
12 14%

Sumber
energi

Sumber
energi

Sumber
energi

Rumput gajah
(Pennisetum
purpureum)

Aerial

Segar

Dewasa

40 - 60
hari

PK 8 9%
SK
8 12%

Rumput raja
(Pennisetum
purpuroides)

Aerial

Segar

Dewasa

40 - 60
hari

SK
18 20%

Sumber
energi

Aerial

Segar

Dewasa

40 - 60
hari

SK
10 13%

Sumber
energi

Daun gamal
(Gliricida
mocullata)

Daun

Dilayukan

Muda

PK > 20%

Sumber
protein

Daun lamtoro
(Leucaena
glauca)

Daun

Dilayukan

Muda

PK > 20%
EK 8%

Sumber
protein

Rumput
benggala
(Panicum
maximum)

27
Kaliandra
(Caliandra
calotircus)

Daun

Dilayukan

Muda

PK 20%
SK
9 10%

Setaria ancep
(Setaria
spacellata)

Aerial

Segar

Muda

40
60 hari

PK
7 12%
SK
17 19%

Sumber
energi

Aerial

Segar

Muda

40
60 hari

PK
7 12%
SK
17 19%

Sumber
energy

90-100
hr

PK 7-8%
SK13-14%

Sumber
energi

Setaria
lampung
(Setaria
splendida)

Daun
Jagung
(Zea mays)

Aerial

Layukan

Tua

5.1.1.3 Pengenalan Alat


TABEL 3. Pengenalan alat
No

Nama

Gambar

Fungsi
Untuk mengoven bahan/alat

Oven

Seperangkat
sochlet

untuk memanaskan

Untuk menganalisis lemak,


mengekstrasi
Untuk mendestruksi bahan

Destruktor

pakan

Sumber
protein

28

Untuk memanaskan
4

Labu kjhedal

Untyuk menganalisis abu pada


suhu 6000C, mengabukan
5

Tanur

Untuk menimbang bahan


6

Timbangan
analitik
Untuk menstabilkan suhu setelah

Desikator

dioven menyerap panas

Penyedot
8

Filler

Bucket (Gross
energy)

Untuk menganalisis gross energy


bahan pakan

Untuk mengoven
10

Oven
Mensterilisasikan

11

Autoclaft
Untuk mengukur cairan

12

Gelas ukur

29

13

Becker glass

Untuk menampung cairan dari


gelas ukur

14

Pipet ukur

Mengukur larutan

Untuk menimbang bahan pakan


15

Neraca ohaus

Untuk menampung bahan


16

Erlenmeyer

Memindahkan larutan
17

Pipet tetes

18

Water bath

19

Kondensor

20

Kompor listrik

Untuk pengencer

Untuk pendingin agar uap tidak


keluar

Untuk memanaskan

30

21

22

23

Cawan porselin

Tempat sampel

Untuk menyangga dan menahan

Statif

tabung titrasi

Menjepit peralatan yang telah

Penjepit besi

dioven

5.1.2 Uji Fisik


5.1.2.1 Berat Jenis
Berat sampel + gelas ukur = 114,7
Berat gelas ukur
Berat jenis

(A)

= 144,3 (B)
= BA
Volume

= 144,3 114,7
= 0,296 gr /ml

100
5.1.2.2 Luas Permukaan Spesifik
LPS = Luas cm/gr
Berat
= 47 cm2 = 47 cm/gr

31

1 gr
5.1.2.3 Daya Ambang
DA = jarak/waktu
=

1/0,9

= 1,11 cm
5.1.2.4 Sudut Tumpukan
Tinggi

= 8,7 cm

Diameter = 20 cm
Tg

= 2t
d
= 2(8,7)
20
= 0,87 = 41,02

5.1.3 Analisis Proksimat


5.1.3.1 Kadar Air
Berat cawan

= 19,5 gram (x)

Berat sampel

= 2,3 gram

(y)

Berat setelah di oven = 21,35 gram (z)


Kadar Air

= x + y- z x 100%
y
= 19,5 + 2,3 21,35 x 100%
2,3
= 20,43 %

% BK

= 100% - 20,43 % = 79,57 %

32

5.1.3.2 Kadar Abu


Berat cawan

= 19,52 gram (x)

Berat sampel

= 0,21 gram (y)

Berat tanur

= 19,75 gr

Kadar Abu

(z)

= z x x 100%
y
= 19,75 19,52 x 100%
0,21
= 10,5 %

5.1.3.3 Kadar Protein Kasar


ml titran

= 1,32 ml

N HCl

= 0,1

Berat sampel

= 0,1 gram

Kadar Protein

mltitran NHCl 0,014 6,25


BeratSampel

= 1,32 x 0,1 x 0,014 x 6,25 x 100%


0,1
= 11,5%
5.1.3.4 Kadar Lemak Kasar
Berat sampel = 1 gr
Berat Oven 1 = 1,29 gr
Berat Oven 2 = 1,21 gr
Kadar Lemak = oven 1 oven 2 x 100%
Sampel
= 1,29 1,21 x 100%

x 100%

33

1
= 8%

5.1.3.5 Kadar Serat Kasar


Berat kertas saring

= 0,65 gr (a)

Berat sampel

= 1 gr (x)

Berat oven

= 22,15 gr (y)

Berat tanur

= 21,35 gr (z)

Kadar serat kasar

= y z a x 100%
x
= 22,15 21,35 0,65 x 100%
1
= 15 %

5.1.4 Free Fatty Acid

FFA

Sampel
= 7,05 gram
ml NaOH
= 6,94 ml
= ml titrasi x N x berat molekul x 100%
1000 x berat sampel
= 6,94 x 0,1 x 278 x 100%
1000 x 7,05
= 2,73 %

5.1.5 Gross Energy


Sampel = 0,5 gram
Panjang kawat = 12 cm
Sisa kawat = 0,4 cm
ml titrasi = 3,96 ml
ta = suhu konstan = 30,4o
tc1 = awal pembakaran = 30,6o
tc = akhir pembakaran = 31,1o

34

E1

= Volume air cucian x ml titrasi


10
= 75 x 3,96
10
= 29,7

E2 = ( panjang kawat sisa kawat ) x 2,3


= ( 12 0,4 ) x 2,3
= 11,08 cm
r1 = tc1 ta
5
= 30,6 30.,5
5
= 0,1
5
= 0,02
Tb = 0,6 x ( Ta + Tc )
= 0,6 x ( 5 + 5 )
= 0,6 x 10
=6

T = ( tc ta )
= ( 31,1 30,5 )
= 0,58
Hg = ( 2423 x T ) E1 E2 E3
BK x berat sample
= ( 2423 x 0,58 ) 29,7 0,21 11,08
0,79 x 0,5
= 3454,05
GE = Hg x Koreksi Benzoat
= 3454,05 x 0,985 = 3402,23

35

5.2. Pembahasan
5.2.1

Nomenklatur Bahan Pakan dan Pengenalan Alat


Praktikum pengenalan alat bertujuan untuk menetukan tetapan hasil analisis kimia

yang akurat. Penggunaan alat-alat laboratorium antara lain untuk penimbangan, penyaringan,
pengukuran volume cairan, pemijaran, dan pengabuan, serta pengeringan (Sudarmadji, 1997).
Sedangkan menurut Hartati (2002), penggunaan alat-alat laboratorium antara lain sebagai alat
penimbangan, pengukuran volume cairan, melarutkan zat padat, penyaringan, pemijaran,
serta pengabuan. Penimbangan menggunakan toimbangan, penyaringan menggunakan kertas
saring, dan corong bunche, pengaturan volume cairan mengunakan gelas ukur, pipet ukur,
pipet volume, labu ukur, dan buret. Pemijaran menggunakan tanur dan cara sederhana
pengeringan menggunakan oven.
Pengeringan biasanya dipakai untuk menentukan kadar air atau dilakukan pada zat
kimia padat yang akan ditimbang untuk standardisasi. Alat yang digunakan adalah oven yang
dilengkapi dengan thermometer, thermostat, dan pengatur waktu pengeringan yag
dikehendaki. Alat yang digunakan untuk menyimpan bahan yang sudah dikeringkan adalah
desikator yang kedap udara, di dalamnya terdapat zat yang dapat menyerap uap air selama
penyimpanan bias diabaikan (Sudarmadji, 1997).
Fungsi dari alat-alat laboratorium berbeda satu sama lain, begitu pula dengan cara
penggunaannya harus sesuai dengan ketentuan agar hasil dari penggunaan itu baik. Seperti
timbangan yang digunakan dalam laboratorium terdiri dari berbagai jenis dan merk, yang
perlu diketahui adalah kapasitas dan ketelitian timbangan yang akan digunakan apakah
timbangan halus atau kasar (Sudarmadji, 1997). Jenis timbangan yang akan dipakai
tergantung dari tujuannya, misalnya untuk penentuan kadar abu dan kadar air harus
digunakan neraca analitis dengan ketelitian 0,1 mg, sedangkan untuk menimbang bahan
kimia yang akan dibuat menjadi larutan jenuh cukup menggunakan timbangan yang lebih
kasar.

36

Hijauan pakan merupakan bahan pakan yang sangat mutlak diperlukan baik secara
kuantitatif maupun kualitatif sepanjang tahun dalam system produksi ternak ruminansia
(Abdullah, 2005). Secara garis besar, bahan pakan hijauan digolongkan ke dalam empat
kelompok bahan pakan, yaitu graminae, leguminosa, browse, dan limbah pertanian. Hal itu
tidak sesuai dengan pernyataan Sutardi (2012) dimana terdapat empat sumber hijauan pakan
yaitu: 1). Kelompok graminae (kelompok rumput), 2). Kelompok leguminosa, baik menjalar
maupun pohon, 3). Cyperaceae, yaitu kelompok rumput teki-tekian, dan 4). Kelompok
browse untuk rambanan.
Nomenklatur internasional telah membagi makanan ternak dalam delapan kelas,
meliputi:
*. Kelas 1: Forage kering dan roughage diantaranya semua jenis hay, jerami kering, dry
powder, dry scover, dan semua bahan makanan kering yang berisi 18% atau lebih serat kasar.
*. Kelas 2: Semua tumbuhan yang diberikan secara segar sebagai hijauan segar.
*. Kelas 3: Silase, semua bahan makanan yang dicacah dan difermentasi.
*. Kelas 4: Makanan sumber energi seperti semua biji-bijian, hasil buah-buahan, umbiumbian yang kandungan proteinnya <20%.
*. Kelas 5: Makanan sumber protein, makanan yang mempunyai kandungan protein > 20%.
*. Kelas 6: Makanan sumber mineral.
*. Kelas 7: Makanan sumber vitamin.
*. Kelas 8: Makanan sumber aditif.
(Sutardi, 2012).
Pertumbuhan ternak akan relatif lambat jika peternak hanya mengandalkan pemberian
hijauan. Optimalisasi pertumbuhan ternak bisa dicapai dengan pemberian konsentrat yang
bisa diperoleh dari limbah industri pertanian, termasuk dari proses pengolahan produk
perkebunan (Guntoro, 2008). Berdasarkan kandungan gizinya, konsentrat dibagi menjadi tiga
golongan yaitu, konsentrat sebagai sumber energi, protein, dan mineral.
5.2.2 Uji Fisik Bahan Pakan
5.2.2.1 Berat Jenis

37

Praktikum penentuan berat jenis dilakukan dengan cara menimbang gelas ukur
kosong dan menimbang sampel yang dimasukkan ke dalam gelas ukur kosong dan
menimbang sampel yang dimasukkan ke dalam gelas ukur 100 ml tanpa dipadatkan. Berat
jenis dapat dihitung dengan selisih berat ukur yang berisi sampel dan berat gelas ukur yang
kosong dibagi dengan volume sampel. Hal ini sesuai dengan pernyataan Jaelani dan Firahmi
(2007), bahwa menghitung berat jenis adalah bobot bahan pakan (gram) dibagi dengan
volume.
Perbedaan nilai berat jenis selain dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik permukaan
partikel, juga dipengaruhi oleh kandungan nutrisi bahan, distribusi ukuran partikel, dan
karakteristik permukaan partikel. Berat jenis berpengaruh terhadap homogenitas penyebaran
partikel dan stabilitas suatu campuran pakan. Perbedaan nilai berat jenis selain dipengaruhi
oleh perbedaan karakteristik permukaan, juga dipengaruhi oleh kandungan nutrisi bahan
pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Khalil (1999), yang menyatakan bahwa adanya variasi
dalam nilai berat jenis dipengaruhi oleh kandungan nutrisi bahan, distribusi ukuran partikel,
dan karakteristik ukuran partikel. Bahan pakan yang memiliki perbedaan berat jenis cukup
besar akan menghasilkan campuran tidak stabil dan mudah terpisah kembali (Chung dan Lee,
1995).
Dilihat dari nilai berat jenis dari kelima kelompok menunjukkan bahwa semua nilai
dibawah 1 yang berarti lebih kecil dari volume. Besarnya berat jenis (density) bahan pakan
penting diketahui karena apabila suatu bahan pakan mempunyai densitas rendah yaitu
perbandingan antara berat bahan pakan dengan volume lebih besar berarti intake pakan
meningkat (Sudarmadji, 1997). Sedangkan menurut Retnani (2011) menyatakan bahwa,
semakin tinggi berat jenis maka akan semakin meningkat kapasitas ruang penyimpanan dan
memudahkan pengangkutan.
5.2.2.2 Luas Permukaan Spesifik (LPS)
Hasil luas permukaan spesifik dapat dihitung dengan luasan permukaan sampel yang
dimilimeter blok dan dibagi berat sampel. Sutardi (2003) menyatakan, luas permukaan
spesifik berperan untuk mengetahui tingkat kehalusan dari bahan pakan tanpa diketahui
distribusi, ukuran komposisi partikel secara keseluruhan. Jaelani dan Firahmi (2007)
menyatakan, keefisiensian dalam suatu proses penanganan, pengolahan, dan penyimpanan
dalam industry pakan tidak hanya membutuhkan informasi tentang komposisi kimia dan nilai
nutrisi saja, tetapi juga menyangkut sifat fisik sehingga kerugian akibat kesalahan
penanganan bahan pakan dapat dihindari.

38

5.2.2.3 Daya Ambang


Daya ambang diperoleh dengan cara menjatuhkan sampel dari ketinggian 1 meter dan
dicatat waktu tempuhnya. Daya ambang dapat digunakan dalam proses pencampuran pakan.
Menurut Khalil (1999), bahan pakan berupa tepung hijauan dengan ukuran partikel halus
mempunyai daya ambang sebesar 1,98 m/s. Sedangkan tepung hijauan dalam bentuk pellet
memiliki daya ambang 10,9 m/s. Dedak dan tepung jagung merupakan jenis pakan
berbebentuk tepung dengan ukuran partikel halus.
Penentuan daya ambang suatu bahan pakan bertujuan untuk pemindahan dan
pengangkutan bahan pakan. Bertujuan juga untuk perataan pakan ketika pemberian pakan
kepada ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutardi (2003), bahwa perhitungan daya
ambang bertujuan untuk efisiensi pemindahan atau pengangkutan yang menggunakan gaya
gravitasi dan daya ambang berbeda akan terjadi pemisahan partikel.
Daya ambang adalah jarak yang ditempuh oleh suatu partikel bahan bila dijatuhkan
dari ketinggian tertentu dalam waktu tertentu. Rata-rata hasil perhitungan adalah 1,83 m/s.
Daya ambang yang terlalu lama akan menyulitkan dalam proses pencurahan bahan karena
dibutuhkan waktu yang lama (Jaelani, 2007).
5.2.2.4 Sudut Tumpukan
Sudut tumpukan atau angle of repose didefinisikan sebagai sudut yang dibentuk oleh
permukaan bidang miring bahan yang dicurahkan membentuk gundukan dengan bidang
horizontal. Sudut tumpukan merupakan kriteria kebebasan bergerak suatu partikel pakan
dalam tumpukan. Semakin tinggi tumpukan, maka semakin kurang bebas suatu partikel
bergerak dalam tumpukan. Sudut tumpukan berperan antara lain dalam menentukan
flowability, efisiensi pada pengangkutan, atau pemindahan secara mekanik, ketepatan dalam
penimbangan, dan kerapatan kepadatan tumpukan (Thomson, 1993).
Menurut Retnani (2011), nilai sudut tumpukan pada ransum penelitian termasuk
dalam ransum yang mudah mengalir yaitu pada kisaran sudut tumpukan 30 -38 . Ransum
bentuk padat memiliki sudut tumpukan berkisar 20 dan 50 . Saenab (2010) menyatakan
bahwa, sudut tumpukan akan mempengaruhi flowability atau daya air suatu bahan terutama
akan mempengaruhi kecepatan dan efisiensi proses pengosongan silo secara vertikal dan saat
pemindahan dan pencampuran pakan.
Retnani (2011) menyatakan bahwa besarnya sudut tumpukan sangat dipengaruhi
oleh ukuran, bentuk, dan karakteristik partikel, kandungan air, berat jenis, dan kerapatan
tumpukan. Ukuran partikel mempengaruhi sudut tumpukan, yaitu semakin kecil ukuran
partikel maka semakin tinggi sudut tumpukannya. Sudut tumpukan merupakan faktor yang

39

mempengaruhi homogenitas campuran. Perbedaan keragaman ukuran partikel maka semakin


tinggi sudut tumpukannya (Axe, 1995).
5.2.3 Analisis Proksimat
Hasil analisis proksimat sangat penting dan akurasinya sangat berguna dalam
formulasi ransum terhadap mutu pakan jadi yang dihasilkan dari sistem analisis proksimat
dapat diketahui adanya enam faksi. Menurut (Bahar, 1999) analisis proksimat untuk
menentukan kandungan protein kasar, serat kasar, lemak dan abu serta dilakukan analisa
kecernaan invitro meliputi kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik.
5.2.3.1 Kadar Air
Penetapan kadar air kelompok 1 menghasilkan jumlah 20,43%. Hal ini cukup
mencengangkan bila dilihat dari segi sampel yang merupakan dedak kering. Hasil kadar air
yang tinggi dapat menggambarkan bahwa bahan pakan akan mudah rusak. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Haryanto (1992), yang menyatakan bahwa kadar air merupakan
banyaknya air yang terkandung dalam satuan persen. Kadar air juga merupakan karakteristik
yang sangat penting dalam bahan pangan karena air dapat mempengaruhi penampakan,
tekstur, serta ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pangan tersebut. Kadar air
memudahkan bakteri, kapang, dan khamir untuk berkembang biak sehingga akan terjadi
perubahan pada bahan tersebut.
Saenab (2010) menyatakan bahwa kadar air merupakan tolak ukur untuk mengetahui
kualitas suatu bahan apabila persentase kadar air rendah, maka kualitas bahan pakan tersebut
meningkat. Industry bahan pakan ternak dibutuhkan bahan pakan yang berkadar air rendah,
yaitu dibawah 15%. Hal tersebut berhubungan dengan waktu penyimpanan, sedangkan untuk
kandungan bahan kering merupakan hasil kurang atau berbanding terbalik dengan kadar
airnya.
Menurut Sutardi (2012), bahan yang dikeringkan pada suhu 105 C, diasumsikan
bahan kering atau bahan dasar kering adalah memiliki kadar air dibawah 12%. Beberapa
faktor yang mempengaruhi kadar air dari salah satunya metode pengeringan, dan kandungan
air dari suatu bahan pakan. Pakan dapat disimpan bila memiliki kandungan air sebesar 14%.
5.2.3.2. Kadar Abu
Penetapan kadar abu dapat dilakukan dengan metode pengabuan kering. Menurut
Sudarmadji (1997), untuk menghindari adanya berbagai komponen abu yang mengalami
dekomposisi atau bahkan menguap pada suhu tinggi, maka pengabuan disesuaikan dengan
bahan. Komponen abu pada analisis proksimat tidak memberikan nilai makanan yang penting

40

karena abu tidak mengalami pembakaran sehingga tidak menghasilkan energi (Soejono,
1990).
Kadar abu suatu bahan pakan ditentukan dengan pembakaran bahan tersebut pada
suhu tinggi (500 -600 C). Pada suhu tinggi bahan organik yang ada akan terbakar dan
sisanya merupakan abu (Nahm, 1992). Abu terdiri dari unsur mineral, namun bervariasi
kombinasinya sesuai unsure mineral dalam bahan pakan. Penetapan kadar abu berakhir
setelah sampel yang ditanur berubah warna menjadi putih seperti abu.
Hasil praktikum menunjukkan bahwa kadar abu dedak adalah 10,5%. Hal tersebut
sesuai dengan pernyataan Amrullah (2003) yang menyatakan bahwa, kadar abu pada
umumnya 8-15%. Menurut Tillman (1993), kadar abu dalam bahan pakan hanya untuk
menentukan BETN.

5.2.3.3. Kadar Protein Kasar


Protein merupakan salah satu zat makanan yang berperan dalam penentuan
produktivitas ternak. Jumlah protein dalam pakan ditentukan dengan kandungan nitrogen
bahan pakan melalui metode kjeldahl yang kemudian dikali dengan faktor protein.Penentuan
kadar protein melalui metode kjeldahl dilakukan melalui tahap sebagai berikut :
1.

Proses destruksi (oksidasi), perubahan n protein menjadi amonium sulfat ((NH 4)2 SO4).
Sampel dipanaskan dengan asam sulfat (H2SO4) pekat dan katalisator yang akan
memecah semua ikatan N dalam bahan pakan menjadi amonium sulfat kecuali ikatan
N=N, NO, dan N2. CO dan H2O terus menguap. SO2 yang terbentuk sebagai hasil reduksi
dari sebagian asam sulfat juga menguap. Dalam reaksi ini digunakan katalisator selenium
(Hg/Cu). Destruksi dihentikan jika larutan barwarna hijau jernih.
Zat organik (basal) + H2SO4

2.

CO2 + H2O + (NH4)2 SO4 + SO2

Proses Destilasi (Penyulingan). Setelah larutan menjadi hijau jernih, labu destruksi
didinginkan kemudian larutan dipindahkan ke labu destilasi dan diencerkan dengan
aquades. Pengenceran dilakukan untuk mengurangi reaksi yang hebat jika larutan
ditambah alkali. Penambahan alkali (NaOH) menyebabkan (NH 4)2SO4 akan melepaskan
amoniak (NH3). Hasil sulingan uap NH3 dan air ditangkap oleh larutan H 2SO4 yang
terdapat dalam labu erlenmeyer dan membentuk senyawa (NH 4)2SO4 kembali.
Penyulingan dihentikan bila semua N sudah tertangkap oleh asam sulfat dalam labu
erlenmeyer.

41

NH3 + H2SO4
3.

(NH4)2SO4 + H2SO4

Proses titrasi, kelebihan H2SO4 yang tidak digunakan untuk menangkap N dititrasi
dengan NaOH. Titrasi dihentikan jika larutan berubah dari biru ke hijau. (Suparjo,2010)
Protein kasar kenapa disebut protein kasar karena tidak selalu N berbentuk protein,

dapat berupa urea, asam nukleat fungsi katalisator didalam destruksi adalah mempercepat
reaksi tapi tidak ikut bereaksi sedangkan fungsi destruksi adalah meregangkan ikatan N
dalam bahan pakan. H2SO4 fungsinya adalah meregangkan protein N dalam bahan
pakan.H2SO4 memakai 1,5 ml karena kalau kurang dari 1,5 ml maka akan lama hasil
destruksi dan makin sedikit. Fungsi destilasi merupakan menguapkan dan menangkap ikatan
N, fungsi asam borat adalah menangkap N sedangkan NAOH untuk menguapkan ikatan N,
dan destilasi dihentikan saat larutan 60ml karena diasumsikan semua N sudah ditangkap asam
borat dan proses terakhir adalah titrasi yaitu fungsinya mengetahui jumlah H2SO4 yang tidak
berikatan dengan N.
Hasil praktikum protein kasar didapat 11,5% praktikum ini menggunakan katalisator
untuk mempercepat reaksi tetapi tidak ikut bereaksi. Menurut (Apriati, 1989) katalisator
adalah suatu bahan nyang mempengaruhi laju reaksi kimia tetapi pada akhirnya keluar tanpa
mengalami perubahan. Selain katalisator digunakan pula larutan NaOH dengan konsentrasi
10% ternyata mampu meningkatkan kecernaan bahan organik dari 20-23% tanpa pemberian
NaOH menjadi 63%.
5.2.3.4 Kadar Serat Kasar
Soejono (1999) menyatakan bahwa serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat dan
didefinisikan sebagai fraksi yang tersisa setelah didigesti dengan larutan asam sulfat standard
an sodium hidroksida pada kondisi yang terkontrol. Metode pengukuran kandungan serat
kasar pada dasarnya mempunyai konsep yang sederhana. Langkah pertama metode
pengukuran kandungan serat kasar adalah menghilangkan semua bahan yang larut dalam
asam dengan pendidihan dalam asam sulfat. Bahan yang larut dalam alkali dihilangkan
dengan pendidihan dalam larutan sodium alkali. Residu yang tidak larut dikenal sebagai serat
kasar.
Serat kasar merupakan ukuran yang cukup baik dalam menentukan serta dalam
sampel. Pada ternakruminansia, fraksi ini sangat terbatas nilai nutrisinya sehinga pengukuran
serat kasar hanya merupakan pedoman proporsional dalam pakan yang digunakan oleh ternak
(Suparjo, 2010). Serat kasar yang terdapat dalam pakan sebagian besar tidak dapat dicerna
pada ternak non-ruminansia, namun digunakan secara luas oleh ternak ruminansia. Sebagian

42

berasal dari dinding sel tanaman dan mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin.
Tingginya serat kasar ini umumnya didominasi oleh lignoselulosa yang sulit dicerna (Mc
Donald et al., 2000).
Kandungan serat kasar suatu bergantung dari defoliasi suatu bahan pakan. Hal ini
sesuai dengan pernyataan dari Sutardi (2012), bila defoliasi terlalu tua, kandungan serat kasar
dalam hijauan semakin tinggi dan serat kasar tersebut dapat berikatan dengan lignin sehingga
disebut senyawa lignaselulosa yang tidak tercerna. Serat kasar sangat penting dalam
menentukan nilai gizi suatu pakan. Dengan demikian persentase kadar serat kasar dapat
dipakai untuk menentukan kemurnian bahan pakan atau efisiensi suatu proses (Sudarmadji,
1989).
5.2.3.5 Kadar Lemak Kasar
Menurut Soejono (1990) istilah lemak kasar menggambarkan bahwa zat dimaksud
bukan hanya mengandung senyawa yang tergolong ke dalam lemak, tetapi termasuk senyawa
lain. Kandungan lemak dalam bahan pakan dapat ditentukan dengan metode Soxhlet. Pada
praktikum kali ini, ekstraksi menggunakan petroleum benzene. Proses ekstraksi selesai
setelah sampel berubah warna menjadi bening karena diasumsikan semua lemak sudah
terekstraksi.
Lemak kasar adalah campuran berbagai senyawa yang larut dalam pelarut lemak
seperti kloroform, eter, dan benzene. Oleh karena itu lemak kasar lebih tepat disebut ekstrak.
Disebut lemak kasar karena merupakan campuran dari beberapa senyawa larut dalam lemak
(Anggorodi, 1997). Selain mengandung lemak sesungguhnya ekstrak eter juga mengandung
wax, asam organic, alcohol, vitamin ADEK, dan pigmen.
Defisiensi lemak pada ransum akan mengakibatkan gangguan pencernaan, penurunan
efisiensi pakan, gangguan reproduksi dan laktasi, kulit bersisik, bulu rontok, pertumbuhan
suboptimal, dan kematian. Kelebihan lemak pada ransum akan mengakibatkan lemak tubuh
menjadi lunak dan karkas menurun (Tillman, 1993).
5.2.4 Free Fatty Acid (FFA)
Asam lemak bebas yaitu nilai yang menunjukkan jumlah asam lemak bebas yang ada
di dalam lemak atau jumlah yang menunjukkan beberapa asam lemak bebas yang ada di
dalam lemak atau jumlah yang menunjukkan berapa banyak asam lemak bebas yang terdapat
dalam lemak setelah dihidrolisa. Menurut Sutardi (2012), penetapan asam lemak bebas
berprinsip bahwa lemak bebas yang terdapat paling banyak minyak tertentu. Dalam analisis
ini diperhitungkan banyaknya zat yang terlarut dalam asam atau basa didalam kondisi

43

tertentu. Kebanyakan asam lemak memiliki gugus kaboksil (COOH) dan sebuah ikatan
alifatik.
Hal ini terjadi karena adanya beberapa factor, salah satunya adalah suhu kamar,
minyak, dan faktor lemak jenuh. Menurut Danuwarsa (2006), trigliserida dapat berbentuk
padat atau cair, bergantung pada komposisi asam lemak yang menyusunnya. Sebagian besar
minyak nabati berbentuk cair karena mengandung sejumlah asam lemak tidak jenuh,
sedangkan lemak hewani pada umumnya berbentuk padat pada suhu kamar karena banyak
mengandung asam lemak jenuh.
Kandungan kadar FFA yang tinggi pada suatu bahan pakan dapat menyebabkan
ketengikan. Menurut Mustari dkk. (2000), bau tengik misalnya disebabkan oksidasi dari
asam-asam lemak. Terjadinya perubahan warna pada bahan pakan menandakan bahwa pakan
tersebut menurun kualitasnya.
5.2.5 Gross Energy (GE)
Energi diperlukan untuk kelangsungan makhluk hidup ternak, diantaranya untuk: 1).
Kerja secara mekanis dari aktivitas muskular yang esensial, 2). Kerja secara kimiawi seperti
pergerakan zat terlarut melawan gradien konsentrasi, dan 3). Sintesis dari konstituen tubuh
seperti enzim dan hormone. Energi diperlukan untuk mempertahankan fungsi-fungsi tubuh
seperti (respirasi, aliran darah, dan fungsi system syaraf). Selain itu energi juga diperlukan
untuk pertumbuhan dan pembentukan produk (susu, daging, telur) (Mujnisa, 2008).
Energi total atau gross energy pakan adalah jumlah energi kimia dalam pakan. Energi
ini ditentukan dengan mengubah eneri kimia menjadi energi panas yang dihasilkan.
Konversinya dijalankan dengan membakar sampel pakan dan mengukur panas yang terjadi.
Panas ini diketahui sebagai energi total atau panas pembakaran dari pakan.
Gross energy didefinisikan sebagai energi yang dinyatakan dalm panas bila suatu zat
dioksidasi secara sempurna menjadi CO2 dan air. Tentu saja karbon dioksida dan air ini masih
mengandung energi, akan tetapi dianggap mempunyai tingkat nol karena hewan sudah tidak
bisa memecah zat-zat melebihi karbon dioksida dan air. Gross energy diukur dengan alat bom
kalorimeter. Apabila N dan S terdapat dalam senyawa sampingan krbon, H, dan O (C, H, O),
unsure-unsur tersebut akan timbul sebagai oksida nitrogen dan sulfur pada waktu senyawa itu
dioksidasi dalam bom kalorimeter.

44

VI. KESIMPULAN DAN SARAN


6.1. Kesimpulan
1. Pemberian nomenklatur dimaksudkan untuk menghindari kesamaan nama antara jenis
pakan yang satu dengan pakan yang lain. Pemberian nama terbagi menjadi enam faset
2.

yaitu ; asal, bagian, proses, umur, defoliasi dan grade.


Kualitas sifat fisik suatu bahan tergantung dari berat jenis (density), luas permukaan

3.

spesifik, daya ambang dan susut tumpukan.


Analisis proksimat dapat digunakan untuk menghitung kadar komposisi bahan pakan

4.

tetapi tidak dapat memberikan penjelasan kualitas suatu bahan.


Hasil dari analisis proxsimat, Free Fatty Acid, dan Gross Energy dapat digunakan dalam
penyusunan ransum.

6.2. Saran
1. Alat yang akan dipakai sebagai wadah bahan yang akan ditimbang harus dikeringkan
2.
3.
4.
5.
6.

terlebih dahulu.
Harus lebih teliti dalam pengukuran daya ambang.
Harus lebih teliti dalam melakukan analisis proksimat khususnya analisis kadar lemak.
Perlu diperhatikan cara menentukan batas tinggi cairan yang diukur dalam proses titrasi.
Pendinginan dalam desikator jangan terlalu lama.
Selama menimbang dan mengambil sesuatu dari oven atau tanur harus mengunakan alat

7.
8.

penjepit.
Harus lebih teliti dalam melakukan perhitungan.
Penetesan indikator tidak boleh terlalu banyak.

45

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Luki dkk. 2005. Reposisi Tanaman Pakan dalam Kurikulum Fakultas
Peternakan. Loka Karya Nasional Tanaman Pakan Ternak.
Amrullah, I. K. 2003. Nutrisi Ayam Petelur. Lembaga Satu Gunung Budi. Bogor.
Anggorodi. 1979. Ilmu makanan Ternak Umum. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Apriati, L. 1989. Palatabilitas dan Kecernaan Berbagai Staw Mix dari Rumput Gajah pada
Sapi Peternakan Fries Holland . Karya Ilmiah. IPB.Bogor.
Axe, D. E. 1995. Factors Affecting Uniformity of A Milk. Mailinkrodt Feed Ingredients.
Mundelain.
Chung, D. S, and C. H. Lee. 1985. Grain Physical and Thermal Properties Related to Drying
and Aeration. ACIAR Proceeding No. 71. Australia.
Danuarsa. 2006. Analisis Proksimat dan Asam Lemak pada Komoditas Kacang-Kacangan.
Buletin Teknik Pertanian vol. 11, no. 1.
Guntoro, Suprio. 2008. Membuat Pakan Ternak dari Limbah Pekebunan. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Hartati, Sri. 2002. Nutrisi Ternak Dasar. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Jaelani, A. dan N. Firahmi. 2007. Kualitas Sifat Fisik dan Kandungan Nutrisi Bungkil Inti
Sawit dari Berbagai Proses Pengolahan Crude Palm Oil (CPO). Laporan Penelitian.
Fakultas Pertanian Universitas Islam Kalimantan.
Kartadisastra, H.R. 1994. Beternak Kelinci Unggas. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Khalil. 1997. Pengolahan Sumber Daya Bahan Makanan Ternak Bahan Kuliah
Pascasarjana. IPB Bogor.
Khalil. 1999. Pengaruh Kandungan Air dan Ukuran Partikel terhadapSifat Fisik Pakan Lokal :
Sudut Tumpukan, Kerapatan Tumpukan, Kerapatan Pemadatan Tumpukan, Berat
Jenis, Daya Ambang, dan Faktor Higroskopis. Media Peternakan 22 (1) : 1 11.
Mc Donald, P. et al. 2002. Animal Nutrition. Prentice Hall.
.
Nahm, K. H. 1992. Particial Guide to Feed, Forages, and Water Analysis. Yoo Han Rob.
Korea Republika.
Raharjo, dkk. 2004. Bahan Kualitas Ilmu Bahan Makanan Ternak. Fakultas Ppeternakan
Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.
Retnani, dkk. 2011. Uji Fisik Ransum Broiler Starter Berbentuk Crumble Berperekat Tepung
Tapioka, Bentonik, dan Onggok. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan.
Saenab, dkk. 2010. Evaluasi Kualitas Pelet Ransum Komplit yang Mengandung Produk
Sampingan Udang. Jurnal JITV. Vol. 15 (1): 31-39.
Soejono, M. 1990. Petunjuk Laboratorium Analisis dan Evaluasi Pakan. Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Sudarmadji, S. 1997. Prosedur untuk Analisa Bahan Pakan dan Pertanian. Liberty.
Yogyakarta.

46

Sulistyo, J., Y.S. Soeka, E. Triana dan R.N.R. Napitupulu. 1999. Bioprocessing of fermented
coconut oil by application of enzilmatic technology. Berita biologi 4 (5): 273-279
Suparjo, 2010. Analisis Bahan Pakan Secara Kimia Wianalisi Proksimat dan Analisis Serat.
Laboratorium Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Jambi.
Sutardi, T.R. 2004. Ilmu Bahan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Jenderal
Soedirman. Purwokerto.
Sutardi, T.R., E. Aris, dan S. Rahayu. 2003. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Fakultas
Peternakan Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Sutardi, T. R. 2012. Ilmu Bahan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Jenderal
Soedirman. Purwokerto.
Thomson, F.M. 1993. Hand Book of Powders Science and Technology 391, 393, eds, M. E.
Fayed and L. Otten. New York.
Tillman, A.D. 1993. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Tillman, A. D., dkk. 2005. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Yuli, Retnani, dkk. 2009. Pengaruh Jenis Kemasan dan Lama Penyimpanan Terhadap
Serangga dan Sifat Fisik . Jurnal Ilmiah Ilmu Peternakan. Bogor.