Anda di halaman 1dari 7

wacana arsitektur (di) indonesia dalam 100 tahun

Esai ini adalah sebuah untaian menyoroti perkembangan (atau mungkin dapat dikatakan
sebagai perulangan) beberapa gagasan yang senantiasa hadir dalam wacana arsitektur (di)
Indonesia selama 100 tahun. Dapat dikatakan bahwa sejak pelembagaan arsitektur sebagai
sebuah disiplin dan profesi, wacana mengenai praktek dan teori arsitektur di Indonesia tidak
berkembang seperti yang terjadi pada (misalnya) Eropa dan Amerika, meskipun kita jelas-jelas
dipengaruhi olehnya. Meskipun arsitek dan pengamat arsitektur di Indonesia mendapatkan
asupan lewat buku-buku serta karya-karya dari belahan benua yang lain, ada beberapa hal
(gagasan) yang tetap tinggal dan tidak beranjak dari perhatian. Beberapa gagasan tersebut
kadang kala tidak tampil sebagai yang terutama, dan tidak mendominasi, namun senantiasa hadir
dan melandasi berbagai upaya.
1.
Wacana Arsitektur di Indonesia baru hadir kira-kira pada seputar kedatangan H.P. Berlage ke
Indonesia memunculkan karakter karya dan pemikiran H. Maclaine-Pont dan Thomas Karsten,
yang juga bersamaan dengan rangka bergulirnya Politik Etis, serta bergulirnya kebangkitan
nasionalisme di kalangan bumiputra.
Sebelum ini, wacana mengenai arsitektur maupun mengenai arsitektur (di) Indonesia belum
hadir, atau paling tidak belum dibahas sebagai sebuah wacana akademik maupun professional.
Masyarakat Hindia Belanda sebelum peristiwa Kebangkitan Nasional dianggap belum
sepenuhnya terdiferensiasi.
2.
Wacana yang diungkapkan pada awal abad ke-20 tersebut adalah mengenai identitas kultural/
etnisitas, terutama yang terkait dengan etnis Jawa. Dapat dikatakan ketertarikan ilmuwanilmuwan Belanda (arkeologi) berpusat pada temuan-temuan arkeologis berupa candi-candi dan
pencarian Majapahit, dan belum banyak menyentuh kelompok etnis yang lain, sehingga Jawa
terasa sangat dominan.
Di masa ini kental dengan dikotomi antara Eropa/ Belanda (sebagai sebuah unit identitas) dan
Pribumi (di sisi yang lain), serta ada Timur Jauh (yang terkecualikan dari keduanya). Ini
merupakan fenomena global yang juga berlaku secara local.
Jawa/ Hindia/ Tradisional diasosiasikan dengan lokal, versus Internasional/ Eropa/ Modern.
Tropikalitas masuk di dalam perbincangan mengenai lokal, tidak sebagai isu utama tapi
sebagai salah satu parameter menentukan. Isu mengenai tropikalitas ini akhirnya melekat hingga

kini dalam wacana arsitektur (di) Indonesia, dan dipakai dalam perspektif historiografi kita,
misalnya dalam membaca arsitektur kolonial pada masa VOC yang dinilai sebagai sesuatu yang
kurang tropis/ belum tropis.
Seiring dengan proyek-proyek yang dikaitkan dengan Politik Etis, pembentukan Dewan Kota
dan berbagai program sosial juga terkait pada pembedaan ini. Pada sejarah kolonial Inggris
ternyatakan sebagai white mans burden, gagasan bahwa masyarakat kulit putih difitrahkan
untuk membimbing masyarakat pribumi menuju era modern.
Di sana banyak proyek yang digagas dengan pemikiran sosialis, yang mencoba menghimpun
masyarakat pribumi/ non-kulit putih ke dalam masyarakat kulit putih (inklusif). Penghapusan
kebijakan segregasi etnis (wijkenstelsel) digantikan dengan penataan kota berdasarkan golongan
ekonomi (yang sebenarnya, pada kenyataannya masih mencerminkan segregasi masyarakat
colonial, namun secara normatif sudah dihilangkan). Thomas Karsten muncul sebagai sosok
yang menyokong ini lewat rancangan-rancangan perkotaan dan arsitekturnya. Artikel
Djadjadiningrat mengenai persahabatan dan kerja sama antara Thomas Karsten, Stutterheim
(arkeolog), dengan Sri Mangkunegara VII memperlihatkan wacana mengenai pertukaran budaya
dalam dikotomi semacam ini. Sri Mangkunegara VII digambarkan sebagai sosok yang terdidik
secara barat namun mewakili sebuah entitas budaya dan tradisi besar, namun berpandangan
terbuka dan berada di ujung depan perubahan sosial budaya bagi masyarakat yang menjadi
kawulanya. Rencana Mangkunegara untuk merenovasi beberapa bagian Keraton supaya sesuai
ternyata tidak selalu didukung oleh arsiteknya Karsten dan kadang mendapat kritik dari
Stutterheim bahwa gagasan-gagasan sultan dianggap akan menghilangkan ke-Jawa-an.
Persahabatan dan kerja sama mereka nampak seperti diplomasi budaya.
3.
Pada era awal kemerdekaan, tema dan dikotomi ini berlanjut dengan sedikit modifikasi pada
komposisi parameternya. Gagasan mengenai state dan kedaulatan menjadi sentral dan
kebutuhan akan sebuah identitas yang merangkum keluasan teritori menjadi sangat sangat
penting. Era ini seringkali diasosiasikan dengan preferensi-preferensi Sukarno dalam seni rupa
dan arsitektur, serta intervensinya dalam mengubah ruang kota, terutama Jakarta.
Sukarno secara aktif membentuk dikotomi yang baru, untuk memilih yang internasional/
modern (yang diasosiasikan dengan megah, permanen, monumental) dengan yang
tradisional. Etnisitas dan identitas yang bersifat provinsial didorong masuk ke ranah privat, dan
tidak ditampilkan resmi. Asosiasi bahwa Indonesia harus mengadopsi yang internasional
dan modern ditekankan berulang-ulang tanpa melihat bahwa yang internasional dan
modern dapat juga berarti yang barat/ Eropa. Strategi kebudayaan ini dilakukan juga
paralel oleh negara-negara baru merdeka lain, seperti Brasil (yang sangat menginspirasi), serta
negara-negara Asia lain (India).

Pada era ini Sukarno tidak banyak menyinggung lokal karena tidak masuk dalam komposisi
yang diusulkannya, namun justru arsiteknya Silaban yang menyisipkan komponen tropis
sebagai sesuatu parameter penting dari lokalitas dan juga nasional. Tropikalitas Silaban tidak
dikaitkan sebagai sesuatu yang simbolik sebenarnya meskipun bisa tampak demikian karena
berangkat dari kredo arsitektur fungsionalis, bahwa setiap bangunan harus bekerja dengan
baik. Bekerja dengan baik dapat diartikan memiliki respon yang sesuai terhadap intensinya
(fungsinya, bagaimana penggunaannya) dan juga terhadap lingkungan fisiknya (dalam hal ini
iklim dianggap faktor yang sangat penting dan menentukan).
Yang simbolik bagi Silaban adalah justru ruang (arsitektural) yang dihasilkan dari perhatian
terhadap fungsi dan lingkungan itu, ruang tropis yang disebut sebagai emperan dipandang
sebagai sebuah ruang yang generik, yang dapat ditemukan pada rumah-rumah tradisional/
vernakular di Indonesia dan memiliki peran sentral dalam kehidupan sosial masyarakat
Indonesia. Silaban menyebutkan ini tanpa membandingkannya dengan negara-negara lain,
meskipun jelas-jelas banyak negara memiliki iklim dan tradisi menghuni yang mirip. Pada
dekade 19050-1960 wacana arsitektur modern memang sedang mengalami perubahan besar,
Arsitektur Modern digiring untuk menjadi lebih kontekstual dan sensitif terhadap berbagai
kondisi dan situasi, termasuk pada saat paham-paham modernis diimplimentasikan pada negaranegara non Eropa/ Amerika.
Namun dekade 1960an merupakan era yang penuh gejolak dalam politik global dikarenakan
Perang Dingin. Identitas negara-negara di dunia terbagi-bagi ke dalam dua kubu besar, dengan
sebuah kubu alternatif berada diantaranya. Indonesia dalam hal ini memiliki wajah yang
berganti-ganti.
4.
Pada era Orde Baru, nampak identitas provinsional diutamakan namun didominasi oleh citra
Jawa sebagai sebuah puncak pencapaian kebudayaan di Indonesia. Arsitektur di Indonesia pada
kurun waktu tiga dekade didominasi pada perumusan bentuk atap (bersama ornamentasi) dalam
menampilkan identitas nasional sekaligus citra otoritas. Bentukan-bentukan atap
mencerminkan afirmasi atas kategorisasi yang diberlakukan oleh rezim politik yang
menyederhanakan entitas-entitas etnisitas dan budaya ke dalam kotak-kotak administratif
provinsi.
Yang menarik pada era ini terjadi pada awal dekade 1990 sewaktu ada keinginan untuk
memerdekakan arsitektur lewat penjelajahan, yang seakan dapat dibaca sebagai sebuah
upaya untuk meninggalkan beban tradisi dan untuk dapat lebih bebas menentukan tantangan dan
permasalahan masing-masing. Beberapa upaya untuk menggagas kelanjutan pernyataan tersebut
dihubungkan dengan perhatian pada isu-isu perkembangan wilayah perkotaan dan permasalahan
manajemen lingkungan, serta krisis sosial yang dihadapi era pembangunan ekonomi yang pesat.

Meskipun demikian wacana ini tidak berlanjut seperti yang diharapkan karena tersedot oleh
permintaan industri yang cepat. Berbagai kritik yang diarahkan pada gagasan penjelajahan ini
terutama ditujukan pada (pertama-tama) isu tanggung-jawab kultural dan nasionalisme, lalu
(kedua) pada keraguan respon bentuk-bentuk lintas geografis terhadap iklim (dan budaya)
lokal. Rata-rata kritik ini dilayangkan dengan nuansa konservatif bagaikan sebuah gravitasi
kuat menarik wacana arsitektur kembali ke pada era sebelumnya.
5.
Pada era pasca Orde Baru, ternyata wacana penjelajahan ini bergeser menjadi upaya
peningkatan ketrampilan teknis tektonika, yang sangat bersifat praksis. Tidak banyak gagasan
dan wacana yang diarahkan pada penteorian, kalaupun ada diarahkan pada isu konservatif yang
tersisa mengenai tanggung jawab dan keberpihakan profesi terhadap isu-isu sosial
kemasyarakatan, yang sebenarnya kalau mau jujur adalah sesuatu yang eksternal terhadap
arsitektur itu sendiri (dan dengan sendirinya bersifat politis).
Sejauh ini proyek-proyek publik masih berada di luar jangkauan kebanyakan arsitek-arsitek yang
terlibat aktif dalam wacana arsitektur, namun hal ini perlahan-lahan terbuka lewat kompetisi.
Kesempatan untuk berkiprah dalam kompetisi proyek-proyek publik ini membuka kembali
benturan wacana yang sudah lebih dulu ada pada era Orde Baru dan perkembangan wacana
penjelajahan.
Bangunan-bangunan institusional digagas dalam bentuk-bentuk baru yang internasional
meskipun pada mulanya diharapkan dapat memuaskan keinginan untuk menjaga kewibawaan
dan identitas nasional seperti pada masa lampau. Kompromi-kompromi diadakan. Wacana
yang terjadi adalah negosiasi langgam.
Pada saat yang bersamaan, pada tempat-tempat turistik seperti Bali, kebutuhan akan identitas
adalah persoalan ekonomi karena merupakan daya tarik wisatawan mancanegara (maupun lokal).
Jadi keinginan untuk menjaga tradisi entah bagaimanapun caranya selalu ada bahkan
dalam bentuk hukum normatif. Hal ini juga subur bersamaan dengan semakin besarnya otonomi
bagi pemerintahan daerah sehingga merasa perlu untuk kembali memunculkan sentiment
etnisitas dan lokalitas dalam ekspresi publik lembaga-lembaga yang bermarkas di daerah.
Pada era ini tropikalitas kembali muncul, sedikit banyak telah dipengaruhi oleh apa yang terjadi
di Bali dan berbagai kawasan turis di Asia Tenggara. Publikasi arsitektur di tingkat regional
dipelopori oleh Tan Hock Beng dan Robert Powell (National University of Singapore) pada
tahun 1990an (dan bergulir hingga kini) mengangkat wacana ini dalam perspektif jangkauan
layanan arsitek di kawasan ini dengan memandang tajam ke tempat-tempat seperti: Bali,
Singapura, Phuket, Bangkok, dan berbagai kawasan tujuan wisata lainnya. Tampilnya arsitek
sohor Srilanka Geoffrey Bawa lewat jaringan elit seni rupa dan kaum jet set serta munculnya

grup hotel Aman di Asia Tenggara menjadikan wacana arsitektur yang tadinya terkotak kerangka
negara menjadi cair dan melebar ke regional.
Beberapa pemikiran dari arsitek-arsitek seperti Sumet Jumsai (Thailand) bahkan mencoba
merangkum wacana arsitektur dengan sumber-sumber kultural yang kaya dari kawasan Asia
Tenggara, dan menjelaskan asal-usulnya dengan ideograf-ideograf antropologis. Penelitian
arkeologi dan antropologi pun nampak muncul sebagai rujukan bagi wacana arsitektur di
kawasan ini, terlepas dari pengalaman-pengalaman masing-masing.
Baru belakangan hal ini akhirnya bertemu dengan isu-isu yang lebih kini (dan universal) seperti
lingkungan hidup (dan energi) serta bertumbukan dengan keterbukaan informasi yang
ditawarkan oleh internet.
Wacana arsitektur (di) Indonesia sejauh ini memang seakan terlihat tua letih, tidak terbangun,
mengapung dengan ban karet, dan menggerutu sewaktu-waktu

Abstract
AbstractThe study starts from the view of the tectonic Kenneth Frampton in his essay entitled
"rappel l'ordre, the Case for the Tectonic?". Problems Frampton expressed concern over the
background of the development architecture Postmodern era is dragged into the commodification
of architecture due to the growing market ideology. Frampton think that to survive in essential of
architecture should be made attention to the order of construction in the architectural tectonics.
Given these statements it is tectonic, Frampton is one of the discourse in the realm of
architecture that can be used as stepping stones and essential of values without intervention one
of mahsab. To get a pretty clear description of the tectonics in an effort to keep a work of
essential of architecture discussion will examine the tectonic understanding of the Frampton
frame of reference. The discussion will also review the understanding of tectonics on the
development of contemporary architecture today. Keywords: commodification of architecture,
market ideology, essential of architecture WACANA TEKTONIK Tektonik dalam Dictionary Art
Terms (Smith, 1984: 184), disebut berkaitan dengan bangunan atau konstruksi (tectonic is
pertaining to building or construction). Pengertian ini masih sangat umum dan belum
menjelaskan secara rinci keterkaitan antara tektonik dengan bangunan serta konstruksi. Goerd
Peschken (1999) dalam esainya Schinkel's Tectonics menyebutkan bahwa istilah tektonik
berasal dari kata Yunani yang merujuk pada pelaksana pembangunan atau tukang kayu.
Dijelaskan bahwa istilah tektonik pada awalnya merupakan interpretasi arsitektur klasik terhadap
konstruksi penyangga beban. Lebih jauh pemahaman Peschen tentang tektonik tidak lepas dari
pemikiran Karl Freidrich Schinkel (1781-1841) yang menyatakan bahwa tektonik merupakan
ekspresi arsitektural yang muncul sebagai konsekuensi prinsip mekanika yang teraplikasi dalam
bangunan (Peschken, 1999: 1). Menurut Peschken, Schinkel memahami tektonik sebagai piranti

dasar untuk menghasilkan ekspresi arsitektural (he understood in terms of tectonics as the
merely mechanical basis for architectural expression). Schinkel meletakkan dasar pemahaman
tersebut sebagai upayanya mengeksplorasi bentuk arsitektur Abad Pertengahan, di luar konsep
Romanticism dan Gothic yang masih berkembang pada masa hidupnya. Berdasarkan pemikiran
Schinkel, terlihat bahwa pengertian tektonik terkait dengan dampak yang muncul pada tampilan
karya 1Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang. Jl. Prof Soedarto
Tembalang Semarang, Telp. 024-76480668 (gusbharot@yahoo.co.uk) 2Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang. Jl. Prof Soedarto Tembalang Semarang,
Telp. 024-76480668 (abdulmalik@operamail.com). arsitektur sebagai konsekuensi rangkaian
elemen konstruksi yang terjalin di dalamnya. Dalam Websters New World Dictionary and
Thesaurus, tektonik disebut sebagai karya seni yang memiliki guna (konstruktif); terlebih utama
lagi pada keahlian dalam mencipta suatu benda yang di dalamnya memiliki keindahan dan
kegunaan (the constructive arts in general; especially, the art of making things that have both
beauty and usefulness). Istilah tektonik di dalam pustaka ini lebih mengaitkan antara kegiatan
penciptaan dengan karya ciptanya. Selama suatu karya mengandung keindahan dan kegunaan
sebagai hasil suatu proses kegiatan penciptaan tertentu, maka tektonik merupakan istilah yang
dapat dikenakan untuk mewakilinya. Walaupun penjelasan yang diberikan dalam pustaka ini
cukup ringkas namun makna yang terkandung di dalamnya cukup luas. Pertama, istilah tektonik
tidak hanya berkaitan dengan bangunan, akan tetapi seluruh karya cipta yang mengandung nilai
estetika dan kegunaan. Kedua, istilah tektonik merangkul pula kegiatan penciptaan yang
menghasilkan karya yang indah dan memiliki guna tersebut. Secara ringkas dapat ditarik benang
merah bahwa istilah tektonik dalam pustaka ini berkaitan dengan kegiatan penciptaan dan produk
ciptaannya. Dalam esai bertajuk Contemporary Tectonics, Ana Maria Leon (1998) mengutip
dan menggunakan pernyataan Eduard Sekler dalam esainya Structure, Construction, and
Tectonics di tahun 1973 (Frampton, 1995: 19) sebagai landasan pemahamannya terhadap istilah
tektonik. Menurut Sekler, tektonik merupakan sifat ekspresi yang terungkap akibat resistansi
statistika dari konstruksi bentuk yang ada, sehingga ekspresi yang dihasilkan tidak hanya sekadar
dipahami dalam lingkup struktur dan konsrtruksi saja (a certain expressivity arising from the
statistical resistance of constructional form in such a way that the resultant expression could not
be accounted for in terms of structure and construction alone). Melalui pengertian tersebut
istilah tektonik berkaitan dengan dua hal, yaitu: konstruksi bentuk dan ekspresi yang tampil
sebagai konsekuensinya. Pengertian ini mengimplikasikan adanya makna yang muncul dari
ekspresi suatu obyek, sehingga lingkup pengertian ini juga menyertakan pengertian dari ranah
bahasa, yaitu semiotika. Makna yang muncul dari ekspresi suatu obyek atau bangunan sebagai
konsekuensi gubahan bentuk konstruksinya saja akan mengimplikasikan keberadaan makna
sintaktis. Menurut Charles Morris (Broadbent, 1995: 126-127) sintakstis (syntactic) merujuk
pada penggabungan tandatanda (seperti halnya kata-kata yang ditata dalam sebuah kalimat)
tanpa memperhatikan rujukan khusus (makna) atau hubungannya pada fungsi yang ada termasuk
menghindari dampak interpretasinya. Lanjut Morris, sintaktis merupakan
Item Type:
Conference or Workshop Item (Paper)
Subjects:

N Fine Arts > NA Architecture

Divisions:

Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering


Faculty of Engineering > Department of Architecture Engineering

ID Code:

3164

Deposited By:

arsitek Agus Pramono arsitek

Deposited On:

07 Jan 2010 15:24

Last Modified: 07 Jan 2010 15:24