Anda di halaman 1dari 44

I.

KELOMPOK
A. Pengertian Kelompok
Webster, kelompok adalah sejumlah orang/ sekumpulan bersama satu
unit yang dikenal.
Gibb, ada 3 ukuran umum dalam pengertian kelompok:
a. objek/ orang yang jadi perhatian bersama dalam suatu tempat
tertentu mempunyai kebebasan sebebas-bebasnya.
b. Suatu perkumpulan yang mempunyai kualitas umum dapat bersifat
homogeitas.
c. Suatu kelompok yang ditandai oleh interaksi anggota-anggotanya
sehingga ada hubungan antara anggota kelompok dan ada unsur
psikologisnya.
Bruce Shertzer dan Shelly C Stone; kelompok yang paling tepat dalam
bimbingan konseling adalah kelompok ketiga dari Gibb, secara psikologis
saling interaksi antara anggota kelompok untuk mencapai tujuan
umumnya.
Cattle;

kelompok

adalah

berkumpulnya

beberapa

individu

dalam

hubungan mereka membentuk kelompok itu.


Margaret E Bennet ;dorongan untuk mencapai tujuan kelompok atau
individu :
a. cohesiveness; yaitu kekuatan internal dari anggota-anggota secara
bersama dan pengaruh dapat mengusahakan anggotanya untuk
perubahan dan kemajuan bersama.
b. Lecomotion; daya gerak suatu grup untuk mencapai tujuan baik
dari

pengaruh

leadership

(pimpinan)

maupun

followership

(pengikut) kelompok tersebut.


Ciri-ciri kelompok menurut Loeser :
a. ada interaksi dinamis antara anggotanya
b. mempunyai tujuan umum dari kelompoknya
c. ada hubungan antara besarnya kelompok dengan fungsi kelompok

d. ada kemauan dan persetujuan


e. ada kesanggupan untuk self direction
Kelompok yang baik cirinya :
a. semangat tinggi
b. ada kerjasama yang lancer
c. adanya saling percaya
Pengertian kelompok : kelompok adalah berkumpulnya individu-individu
yang mempunyai hubungan psikologis antara anggota satu dengan
lainnya, mempunyai tanggungjawab bersama untuk mencapai tujuan, baik
tujuan untuk individu maupun kelompok itu sendiri.
Dalam kelompok sering terjadi proses self guidance (bimbingan terhadap
diri sendiri) disebabkan dari sentuhan proses sosial dari anggota yang
lain, timbul karena kesempatan saling memberikan informasi mengenai
dirinya masing-masing yang menyangkut masalah yang dihadapinya.
Dasar pembentukan kelompok
1. efisiensi; masalah yang hamper sama antara individu dikumpulkan
menjadi satu kelompok sehingga hemat waktu, tenaga dan biaya.
2. paedagogis ; suasana kehidupan kelompok, individu lebih dapat
menempatkan diri dengan sebaik-baiknya.
3. psikologis; hakekat manusia sebagai mahluk individu dan sosial.
Sifat kepemimpinan dalam kelompok :
a. Laisez fair; anggota diberi kebebasan sepenuhnya
b. Otokratis; pemimpin yang paling berkuasa dan tunggal
c. Demokratis; peranan pimpinan dan partisipasi anggota tertampung
demi tercapainya tujuan.
B. Kerumunan dan Kelompok
Kerumunan : berkumpulnya sejumlah orang yang masing-masing
tidak

mempunyai

hubungan.satu

sama

lain.

berkumpulnya sejumlah orang yang saling berkaitan


satu

Kelompok

: berkumpulnya sejumlah orang yang saling berkaitan


satu sama lain

Adanya suatu kelompok tidak harus diawali dengan adanya


kerumunan. Suatu kelompok dapat segera terjadi, yaitu apabila sebelum
orang-orang yang bersangkutan berkumpul terlebih dahulu kepada
mereka telah diberitahukan tujuan yang akan dicapai dan peranan mereka
masing-masing. .
Sebaliknya, dapat pula terjadi suatu kelompok berubah menjadi
kerumunan atau sekedar kumpulan orang-orang, yaitu apabila ikatan
antara para hadirin itu menjadi hilang.
Kerumunan

Kelompok

Kumpulan orang-orang
C. Faktor Pengikat dalam Kelompok
Faktor-faktor pengikat dalam kelompok;:
a. interaksi antara orang-orang yang ada di dalam kumpulan atau
kerumunan itu.
b. Ikatan emosional sebagai pernyataan kebersamaan
c. Tujuan atau kepentingan bersama yang ingin dicapai
d. Kepemimpinan yang dipatuhi dalam rangka mencapai tujuan atau
kepentingan bersama.
e. Norma yang diakui dan diikuti oleh mereka yang terlibat di dalamnya.

II. JENIS-JENIS KELOMPOK


Jenis-jenis Kelompok
(a) Kelompok primer dan sekunder. Kelompok primer dicirikan oleh
kontak akrab yang kontinyu, seperti dalam keluarga dan kelompok
bermain pada anak dikampung. Kelompok sekunder dibentuk atas
dasar minat yang dikejar bersama, seperti satuan kelas di sekolah
dan kelompok pecinta alam dalam kalangan mahasiswa. Kelompok
atau grup yang dibentuk untuk kepentingan kegiatan bimbingan
bersifat kelompok sekunder.
(b) Sociogroup

dan

psychogroup.

Dalam

kelompok

yang

pertamtekanannya terletak pada hal yang harus dikerjakan


bersama; dalam kelompok yang kedua tekanannya terletak pada
hubungan antarpribadi.
(c) Kelompok yang terorganisasi dan kelompok yang tidak
terorganisasi. Dalam kelompok yang terorganisasi terdapat
diferensiasi antara peranan-peranan yang dipegang oleh anggota/
peserta kelompok,kelompok

yang tidak terorganisasi setiap

anggota bergerak lepas yang satu dari yang lain. Kelompok yang
dibentuk untuk kepentingan kegiatan bimbigan adalah kelompok
terorganisasi, lebih-lebih karena dibentuk di bawah pengawasan
tenaga bimbingan.
(d) In group dan out group. Dalam kelompok yang pertama para
anggota merasa terikat satu sama lain dan menunjukkan loyalitas
satu sama lain. Anggota out group adalah mereka yang bukan
anggota kelompok tertentu; di antara mereka tidak terdapat rasa
loyalitas, rasa simpati, dan rasa keterikatan, bahkan mungkin
terdapat rasa antipati dan rasa beci.
(e) Kelompok yag keanggotaannya bebas serta atas dasar
sukarela dan kelompok yang keanggotaannya diwajibkan. Di
antara kelompok/grup yang dibentuk untuk kegiatan bimbingan ada
yang dibentuk atas dasar sukarela, misalnya kelompok konseling;
dan ada yang dibentuk atas dasar kewajiban sebagai siswa yang

bersekolah di institusi pendidikan tertentu, misalnya satuan kelas


pada waktu tertentu menerima bimbingan karier.
Di bawah ini disebutkan sejumlah kelompok yang memiliki cirri
khusus dan dikenal dengan istilah-istilah tertentu, yaitu:
(a) Kelompok bimbingan (a group guidance). Istilah ini khusus
digunakan di institusi pendidikan sekolah dan menunjuk pada
sejumlah siswa dan mahasiswa yang dikumpulkan bersama untuk
kegiatan bimbingan.
(b) Kelompok konseling (counseling group).

Kelompok ini dibentuk

untuk keperluan konseling di bawah tanggung jawab seorang


konselor professional. Dalam kelompok ini berlangsung suatu
proses konseling; maka seluruh anggota kelompok itu diberi nama
para konseli (counseless), yang berkomunikasi dengan konselor
dan dengan anggota-anggota lain dalam kelompok.
(c) Kelompok-T (training group). Dalam kelompok ini perhatian
difokuskan pada proses kelompok itu sendiri dan mencakup studi
tentang dinamika kelompok melalui pengalaman kongkret dalam
interaksi satu sama lain di dalam kelompok.
(d).Kelompok pertemuan (encounter group). Kelompok ini dirancang
untuk memberikan pengalaman mendalam di dalam berkomunikasi
dengan orang lain, sehingga para anggota lebih paham akan diri
sendiri dan akan keunikan orang lain.
(e) Kelompok marathon (marathon group). Kelompok ini bertemu lama
satu atau dua hari dalam kontak antarpribadi yang intensif dan
berlangsung terus menerus tanpa banyak kesempatan untuk
beristirahat.
(f) Kelompok bantuan diri (self help group). Kelompok ini terdiri dari
orang yang menyadari telah ketagihan obat bius dan/atau alkohol.
Mereka berkumpul bersama dengan orang lain yang senasib dan
saling memberikan dukungan dalam usaha melepaskan diri dari
belenggu ketagihan.
(g) Kelompok terapi (therapy group). Kelompok ini terdiri atas orang
yang mengalami gangguan serius dalam kesehatan mental dan/
atau menunjukkan gejala perilaku neurotik, bahkan mungkin

psikotik. Kelompok terapi beranggotakan terbatas dan di bentuk


atas prakarsa seorang ahli psikoterapi atau psikologis klinis, yang
bertanggung jawab langsung terhadap proses terapi dalam
kelompok.
Dua Jenis Kelompok dalam Layanan Bimbingan dan Konseling
Kelompok
Kelompok bebas: anggota-anggota kelompok bebas melakukan
kegiatan kelompok tanpa penugasan tertentu, .
kelompok
kepada

bebas
seluruh

memberikan
anggota

kesempatan

kelompok

untuk

menentukan arah dan isi kehidupan kelompok itu.


Kelompok

tugas:

pada

dasarnya

menyelesaikan

diberi

suatu

tugas

untuk

pekerjaan,

baik

pekerjaan itu ditugaskan oleh pihak di luar


kelompok itu maupun tumbuh di dalam
kelompok itu sendiri.

III. PENGERTIAN BIMBINGAN KELOMPOK & KONSELING


KELOMPOK
1. Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan
dalam suasana kelompok.
Gazda

juga

menyebutkan

bahwa

bimbingan

kelompok

diselenggarakan untuk memberikan informasi yang bersifat personal,


vokasional, dan sosial.
Tujuan yang hendak dicapai oleh kelompok tersebut ialah
menerima informasi. Lebih jauh, informasi itu akan dipergunakan untuk
menyusun rencana dan membuat keputusan, atau untuk keperluan lain
yang relevan dengan informasi yang diberikan. Pemberian informasi itu
kepada sejumlah siswa (misalnya siswa satu kelas) dan individu-individu
lainnya menelaan anggota kelompok itu.

Siapakah yang memberikan informasi? Bisa guru, atau


konselor,atau narasumber dari luar sekolah.
Si pemberi informasi itulah yang dalam hal ini disebut pemimpin
kelompok.
Dari gambaran di atas tampak adanya beberapa hal yang
menunjukkan homogenitas dalam kelompok.
Pertama : para anggota kelompok homogen (yaitu siswa-siswa
satu kelas atau satu tingkat kelas yang sama).
Kedua : masalah yang dialami oleh semua anggota kelompok
adalah sama, yaitu memerlikan informasi yang akan
disajikan itu.
Ketiga

: tindak lanjut dari diterimanya informasi itu juga sama,


yaitu

untuk

menyusun

rencana

dan

membuat

keputusan.
Keempat: reaksi atau kegiatan yang dilakukan oleh para anggota
dalam proses pemberian informasi (dan tindak lanjutnya)
secara relative sama (seperti mendengarkan, mencatat,
bertanya). Cirri homogenitas inilah yang ikut menandai
layanan bimbingan kelompok dan membedakannya dari
konseling kelompok.
2. Konseling Kelompok
Konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling
perorangan yang dilaksanakan di dalam suasana kelompok.
Ada konselor (yang jumlahnya mungkin lebih dari seorang) dan
ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahnya paling kurang
dua orang).
Terjadi

hubungan konseling dalam suasana yang diusahakan

sama seperti dalam konseling perorangan, yaitu hangat, terbuka, permisif,


dan penuh keakraban. Di mana juga ada pengungkapan dan pemahaman
masalah klien, penelusuran sebab-sebab timbulnya masalah, upaya
pemecahan masalah (jika perlu dengan menerapkan metode-metode
khusus), kegiatan evaluasi dan tindak lanjut.

Pengertian konseling kelompok :


1. Pendapat dari Gazda, Duncan, dan Meadows (dalam Cull & hardy,
1974) bahwa konseling kelompok adalah proses hubungan
antarpribadi yang dinamis (dalam kelompok), yang memusatkan
pada tingkah laku sadar dan mempergunakan fungsi terapi yang
bersifat permisif, orientasi realitas, katarsis, saling percaya, saling
memelihara,

saling

mengerti,

saling

menerima

dan

saling

mendukung.
2. Dinkmeyer dan Munro (1971) mengemukakan bahwa konseling
kelompok adalah suatu proses dalam kelompok yang bernilai
khusus untuk aspek diagnostik dan terapeutik dalam memecahkan
masalah.
3. Prayitno (1995) mengemukakan bahwa konseling kelompok adalah
proses kegiatan dalam kelompok melalui interaksi sosial yang
dinamis diantara anggota kelompok untuk membahas masalah
yang dialami setiap anggota kelompok sehingga ditemukan arah
dan cara pemecahan yang paling tepat dan memuaskan.
Dari ketiga rumusan pengertian konseling kelompok di atas dapat
diketahui ciri-ciri khas konseling kelompok yaitu:
1. Interaksi yang dinamis adalah suasana dalam konseling kelompok
menunjukkan

saling

urun

pendapat,

berbagi

wawasan

dan

pengalaman, menghargai, dan berbagi rasa di antara anggota


kelompok karena terjalinnya hubungan yang akrab, hangat, terbuka,
dan bergairah sehingga terjadi perubahan yang positif dalam diri
masing-masing kelompok. Perubahan yang dimaksudkan adalah
perubahan tentang pemahaman tentang diri sendiri, pengembangan
diri sendiri, keterampilan social dan kemampuan membina hubungan
antarpribadi, kemampuan mengarahkan diri sendiri, kemampuan
membuat keputusan dan memecahkan masalah.
2. Fungsi penyembuhan (terapeutik), adalah terbebasnya setiap
anggota kelompok dari rasa takut untuk dikecam atau dikritik oleh
orang lain (anggota kelompok lain dan pemimpin kelompok), sehingga
ia

bebas

menyatakan

ide-ide

dan

kecemasan-kecemasan,

kekecewaan-kekecewaan, melakukan katarsis, menjelajahi diri sendiri

secara psikologis dan mengekspresikan kebahagiaannya. Fungsi


terapeutik ini terjadi karena terpenuhinya kebutuhan psikologis masingmasing anggota seperti kebutuhan untuk merasa dimiliki, dihargai,
dibanggakan, dihormati, dan dipahami dalam suasana kelompok yang
saling menghargai, bebagi, menghormati, empati dan dialog yang
hangat serta ramah.
3. Pembahasan masalah pribadi, konseling kelompok membahas
masalah yang dikemukakan masing-masing anggota kelompok. Oleh
karena itu konseling kelompok memungkinkan anggota kelompok
untuk memahami dirinya sendiri seluas dan sedalam-dalamnya,
menganalisis dirinya, dan menerima dirinya sendiri, mengambil
keputusan memecahkan masalah dalam dirinya sehingga dapat
menerima dirinya dalam arti tidak bermasalah (Gustad dan Belkin,
1975).
Di antara layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok
terdapat banyak persamaan, disamping perbedaannya.
Kelompok yang sama
Terhadap satu kelompok yang sama dapat diselenggarakan baik
bimbingan kelompok maupun konseling kelompok. Apabila kedua
layanan itu hendak dilaksanakan terhadap satu kelompok yang sama,
bimbingan kelompok hendaknya dilaksanakan terdahulu. Dengan
demikian penyelenggaraan konseling kelompok akan mendapatkan
kondisi kelompok yang lebih berkompeten berkat kegiatan bimbingan
konseling.
Pemimpin Kelompok yang sama
Layanan

bimbingan

kelompok

dan

konseling

kelompok

dapat

diselenggarakan oleh pemimpin kelompok (konselor) yang sama.


Penyelenggaraan bimbingan kelompok dan konseling kelompok
terhadap satu kelompok oleh pemimpin kelompok yang sama akan
membawa keuntungan tersendiri, dalam arti dinamika kegiatan
kelompok semakin dapat dimantapkan dengan pola dan suasana yang
lebih efektif dan efisien serta berkelanjutan.

Perbedaan
Perbedaan yang paling pokok di antara bimbingan kelompok dan
konseling kelompok adalah materi pembahasannya.
Bimbingan kelompok :
topik-topik umum , berorientasi pada pengembangan wawasan,
penghayatan, aspirasi dan sikap terhadap materi topik-topik yang yang
dibahas.
Konseling kelompok : masalah pribadi
orientasi konseling kelompok adalah terbahas dan terentaskannya
masalah pribadi anggota kelompok yang bersangkutan.
Perbedaan dari ciri-ciri sebagai berikut:
(1) bimbingan

kelompok

diberikan

kepada

semua

siswa

dan

mahasiswa, sedangkan konseling kelompok dimaksudkan bagi


mereka

yang

menghadapi

persoalan

yang

membutuhkan

penanganan khusus melalui suatu proses konseling bersama.


(2) Bimbingan kelompok mengupayakan perubahan dalam sikap dan
perilaku secara tidak langsung, melalui penyajian informasi yang
menekankan pengolahan kognitif oleh para peserta sehingga
mereka

dapat

menerapkan

sendiri.

Konseling

kelompok

mengupayakan perubahan dalam sikap dan perilaku secara


langsung, dengan membicarakan bersama suatu topic tertentu
pada taraf pengolahan kognitif dan penghayatan efektif.
(3) Bimbingan kelompok menggunakan kelompok yang besar, dari
satu satuan kelas atau satu kelompok instruksional sampai
beberapa satuan kelas atau beberapa kelompok instruksional
yang digabung untuk keperluan bimbingan kelompok. Konseling
kelompok berlangsung dalam kelompok kecil.
(4) Bimbingan kelompok lebih bersifat instruksional dan ini akan
tampak dalam cara konselor membimbing kelompok itu. Konseling
kelompok lebih bercirikan komunikasi antarpribadi di antara
anggota kelompok serta menggali lebih dalam di budi dan hati
masing-masing peserta; hal ini akan tampak pula dalam cara

10

konselor mendampingi kelompok itu dan dalam tuntutan yang


harus dipenuhi oleh para peserta, misalnya menjaga rahasia.
Kesamaan konseling kelompok & konseling individu:
(1) Tujuan yang dicapai, yaitu konseli lebih memahami diri sendiri dan
lebih mampu mengatur kehidupannya sendiri.
(2) Suasana dalam berkomunikasi dan berinteraksi, yaitu suasana
yang memungkinkan keterbukaan, pengungkapan pikiran dan
perasaan secara bebas dan leluasa, serta saling menerima
berdasarkan saling menghargai.
(3) Kompetensi konselor, yang untuk sebagian berakar pada corak
kepribadian dan untuk sebagian lagi bersumber pada keterampilan
konselor membina suasana kebersamaan (maintenance function)
dan mengarahkan proses konseling supaya efisien dan efektif
(task function), antara lain dengan menggunakan teknik-teknik
konseling yang verbal dan nonverbal.
(4) Taraf kesehatan mental konseli, yaitu tergolong kelompok orang
yang normal yang menghadapi tuntutan dan tantangan serta bisa
mengalami kesulitan-kesulitan dalam usahanya mengembangkan
diri secara optimal.
(5) Jaminan akan kerahasiaan pembicaraan dalam wawancara
konseling, baik yang individual maupun yang secara kelompok.
(6) Bahan pembicaraan menyangkut bidang akademik, bidang jabatan,
dan bidang pribadi-sosial.
Perbedaan

konseling kelompok & konseling individual tampak

dalam hal-hal sebagai berikut:


(1) Dalam konseling kelompok terdapat kesempatan luas untuk
berkomunikasi dengan teman-teman sebaya mengenai segala apa
yang merisaukan hati. Dalam konseling individual komunikasi
terbatas pada interaksi dengan konselor.
(2) Dalam konseling kelompok para anggota tidak hanya menerima
bantuan psikologis, tetapi mereka juga saling memberikan bantuan.
Dalam konseling individual unsur saling memberi tidak ada.

11

(3) Dalam memimpin suatu kelompok konseling, konselor mengemban


tugas yang lebih berat karena harus membagi perhatiannya dan
mengikuti jalannya pembicaraan bersama secara seksama, supaya
proses konseling berjalan sesuai tuntutan suatu proses konseling.
Dalam konseling individual tugas konselor lebih ringan.
(4) Dalam konseling kelompok para konseli ikut bertanggung jawab
terhadap pembinaan persatuan kelompok (group maintenance role)
dan terhadap kelancaran proses konseling (group task oriented
role
(5) Konseling kelompok dan konseling individual dapat sangat
bermanfaat bagi seseorang, namun orang yang satu lebih tertolong
dalam konseling individual dan yang lain lebih tertolong dalam
konseling kelompok.

Konseling Kelompok sebagai Pelayanan Bimbingan yang Khas


Konseling dapat dipandang dari berbagai sudut ;
sebagai komunikasi antarpribadi (relationship),
sebagai proses yang dilalui (process),
sebagai pertemuan tatap muka (face to face relationship),
sebagai serangkaian kegiatan yang bersifat membantu
secara psikologis.
Ciri-ciri terapeutik adalah hal-hal yang melekat pada interaksi
antarpribadi dalam kelompok dan membantu untuk memahami diri dengan
lebih baik dan menemukan penyelesaian atas berbagai kesulitan yang
dihadapi.
Erle M. Ohlsen dalam bukunya Group Counceling (1977), interaksi
dalam kelompok konseling mengandung banyak unsur terapeutik, yang
paling efektif bila seluruh anggota kelompok:
(1) memandang kelompoknya sebagai kelompok yang menarik;
(2) merasa diterima oleh kelompoknya;
(3) menyadari apa yang diharapkan dari mereka dan apa yang dapat
mereka harapkan dari orang lain;
(4) merasa sungguh-sungguh terlibat;

12

(5) merasa aman sehingga mudah membuka diri;


(6) menerima tanggung jawab terhadap peranannya dalam kelompok;
(7) bersedia membuka diri dan mengubah diri serta membantu
anggota lain untuk berbuat yang sama;
(8) menghayati partisipasinya sebagai bermakna bagi dirinya;
(9) berkomunikasi sesuai dengan isi hatinya dan berusaha menghayati
isi hati orang lain;
(10) bersedia menerima umpan balik dari orang lain, sehingga lebih
mengerti kekuatannya dan kelemahannya;
(11) mengalami rasa tidak puas dengan dirinya sendiri, sehingga mau
berubah dan menghadapi ketegangan batin yang menyertai
suatu proses perubahan diri; dan
(12) bersedia menaati norma praktis tertentu yang mengatur interaksi
dalam kelompok .

Erle M. Ohlsen (1977), Don C. Dinkmeyer dan James J. Muro (1979),


serta Gerald Corey (1981), tujuan umum dari pelayanan bimbingan dalam
bentuk konseling kelompok sebagai berikut:
(1) Masing-masing konseli memahami dirinya dengan lebih baik dan
menemukan dirinya sendiri. Berdasarkan pemahaman diri itu dia
lebih rela menerima dirinya sendiri dan lebih terbuka terhadap
aspek-aspek positif dalam kepribadiannya.
(2) Para konseli mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu
sama lain, sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan
dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas untuk
fase perkembangan mereka.
(3) Para konseli memperoleh kemampuan mengatur dirinya sendiri dan
mengarahkan

hidupnya

sendiri,

mula-mula

dalam

kontak

antarpribadi di dalam kelompok dan kemudian juga dalam


kehidupan sehari-hari di luar lingkungan kelompoknya.
(4) Para konseli menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan
lebih mampu menghayati perasaan orang lain. Kepekaan dan
penghayatan ini akan membuat mereka lebih sensitif juga terhadap
kebutuhan psikologis dan alam perasaan sendiri.

13

(5) Masing-masing konseli menetapkan suatu sasaran yang ingin


mereka capai, yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang
lebih konstruktif.
(6) Para konseli menyadari dan menghayati makna dari kehidupan
manusia sebagai kehidupan bersama, yang mengandung tuntutan
menerima orang lain dan harapan akan diterima oleh orang lain.
(7) Masing-masing konseli semakin menyadari bahwa hal-hal yang
memprihatinkan bagi dirinya kerap juga menimbulkan rasa prihatin
dalam hati orang lain. Dengan demikian, dia tidak akan merasa
terisolir lagi, seolah-olah hanya dialah yang mengalami ini dan itu.
(8) Para konseli belajar berkomunikasi dengan seluruh anggota
kelompok secara terbuka, dengan saling menghargai dan saling
menaruh perhatian. Pengalaman bahwa komunikasi yang demikian
dimungkinkan, akan membawa dampak positif dalam kehidupan
dengan orang lain yang dekat padanya.
Manfaat konseling kelompok ;.
Bagi konseli,memenuhi beberapa kebutuhan psikologis:
1) kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman sebaya
dan diterima oleh mereka;
2) bertukar pikiran dan berbagai perasaan;
3) menemukan nilai-nilai kehidupan sebagai pegangan;
4) kebutuhan untuk menjadi lebih independen serta lebih mandiri. ndiri.
Bagi konselor sendiri,
1) kesempatan untuk mengobservasi perilaku para konseli yang
sedang berinteraksi satu sama lain;
2) membuktikan dirinya sebagai orang yang bersedia melibatkan diri
dalam seluk-beluk kehidupan orang muda dengan ikut berbicara
sebagai partisipan dalam diskusi dan bukan sebagai orang yang
ingin berkuasa;
3) meyakinkan para konseli akan kegunaan layanan konseling,
sehingga diantara para konseli ada yang ingin melanjutkan
hubungan dengan konselor dalam wawancara konseling individual;

14

4) dapat melayani lebih banyak orang daripada bila hanya tersedia


kesempatan untuk berkonseling secara individual.

Kelemahan-kelemahan konseling kelompok.


1) Ada siswa yang tidak mampu berinteraksi dalam suatu kelompok
secara memuaskan.
2) Mereka membutuhkan lebih dahulu pengalaman berkomunikasi
dengan konselor sendiri dalam wawancara konseling individual
sebelum siap memasuki kelompok konseling.
3) Ada anggota kelompok belum siap atau belum bersedia untuk
sebegitu terbuka dan jujur, lebih-lebih bila hal-hal yang akan
dikatakan terasa memalukan bagi dirinya sendiri.
4) Persoalan pribadi satu-dua anggota kelompok mungkin kurang
mendapat perhatian dan tanggapan sebagaimana mestinya, karena
perhatian kelompok terfokus pada suatu masalah umum atau
karena perhatian kelompok terpusat pada persoalan pribadi konseli
yang lain;
5) Bagi konselor sendiri pun lebih sulit memberikan perhatian penuh
pada masing-masing konseli dalam kelompok.
6) Di Indonesia konselor dapat menghadapi kendala budaya (faktor
usia,otoritas,status sosial).

IV.TUJUAN BIMBINGAN KELOMPOK DAN KONSELING


KELOMPOK
Tujuan bimbingan kelompok menurut Margaret E. Bennet:
1. Melengkapi kesempatan belajar dalam mencapai pengarahan diri
dengan memperhatikan aspek pendidikan, jabatan, personal-personal,
melalui:
a. membantu orientasi situasi dan menggunakan kesempatan sebaikbaiknya di sekolah.

15

b. Problem hubungan interpersonal grup studi dan membantu memilih


pengalaman kelompok dalam kehidupan disekolah.
c. Problem pertumbuhan grup studi
d. Grup studi dan penerapan metode yang benar mengenai interest,
abilitics, personality.
e. Grup studi pengetrapan efisien metode mengajar.
2. Melengkapi penyembuhan yang tepat melalui:
a. perspektif kemajuan problem manusia
b. pelepasan emotional tention.
3. memajukan obyek bimbingan secara ekonomis dan efektifitas
memungkinkan approach individu menyeluruh.
4. melengkapi konseling individual dan memberikan hal-hal yang lebih
efektif.
Tujuan Konseling Kelompok
Dinkmeyer dan Munro (1971) adalah salah seorang pakar yang
paling sempurna penguraiannya tentang tujuan konseling kelompok
dibandingkan dengan pendapat Mahler dan Marsyal (1969). Oleh karena
itu pendapat Dinkmeyer dan Munro lebih disukai untuk dikemukakan
dalam buku ini yaitu:
1. menolong masing-masing anggota kelompok mengetahui dan
mengerti tentang dirinya sendiri.
2. sebagai hasilnya adalah dia mengerti dirinya sendiri untuk
mengembangkan peningkatan penerimaan diri dan perasaan
sebagai pribadi yang berharga.
3. mengembangkan berbagai keterampilan sosial dan kemampuan
hubungan

antarpribadi,

sehingga

masing-masing

anggota

kelompok memiliki tugas-tugas perkembangan dalam bidang sosial


pribadi mereka.
4. mengembangkan
memecahkan

kemampuan

masalah

dan

mengarahkan
membuat

diri

keputusan

sendiri,
serta

mentransferkan kemampuan itu dalam kegiatan belajar dikelas


maupun dalam kehidupan sosial yang lebih luas.

16

5. mengembangkan kesensitifan terhadap kebutuhan orang lain


sehingga dapat meningkatkan tanggung jawab terhadap tingkah
laku sendiri.
6. belajar menjadi pendengar yang penuh empati, mendengarkan
tidak saja yang dikatakan oleh orang lain tetapi juga perasaanperasaan yang menyertai apa yang dikatakan itu.
7. menolong masing-masing anggota kelompok merumuskan tujuantujuan khusus bagi dirinya sendiri yang dapat diukur dan diamati
dalam bentuk tingkah laku.
TUJUAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umum layanan bimbingan kelompok dan konseling
kelompok adalah berkembangnya kemampuan sosialisasi siswa,
khususnya kemampuan komunikasi peserta layanan. Dalam kaitan
ini,

sering

terjadi

kenyataan

bahwa

kemampuan

bersosialisasi/berkomunikasi seseorang sering terganggu oleh


perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang tidak objektif,
sempit dan terkungkung serta tidak efektif. Melalui layanan
bimbingan kelompok dan konseling kelompok hal-hal yang
mengganggu atau menghimpit perasaan dapat diungkapkan,
dilonggarkan, diiringkan melalui berbagai cara; pikiran yang suntuk,
buntu, atau beku dicairkan dan didinamikkan melalui berbagai
masukan dan tanggapan baru; persepsi dan wawasan yang
menyimpang dan/atau sempit diluruskan dan diperluas melalui
pencairan pikiran, penyadaran dan penjelasan; sikap yang tidak
objektif, terkungkung dan tidak terkendali, serta tidak efektif digugat
dan didobrak; kalau perlu diganti dengan yang baru yang lebih
efektif.

Melalui

kondisi

dan

proses

berperasaan,

berpikir,

berpersepsi dan berwawasan yang terarah, luwes dan luas serta


dinamis kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi dan bersikap
dapat

dikembangkan.

Khususnya

untuk

layanan

konseling

kelompok, selain bertujuan sebagaimana bimbingan kelompok,


juga

bermaksud

mengentaskan

masalah

klien

dengan

memanfaatkan dinamika kelompok.

17

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus bimbingan kelompok dan konseling kelompok
pada dasarnya terletak pada:
a. Bimbingan kelompok bermaksud membahas topik-topik
tertentu yang mengandung permasalahan aktual (hangat)
dan menjadi perhatian peserta. Melalui dinamika kelompok
yang intensif, pembahasan

topik-topik itu mendorong

pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan


sikap yang menunjang diwujudkannya tingkah laku yang
lebih efektif. Dalam hal ini kemampuan berkomunikasi,
verbal maupun nonverbal, ditingkatkan.
b. Konseling kelompok terfokus pada pembahasan masalah
pribadi individu peserta kegiatan layanan. Melalui layanan
kelompok yang intensif dalam upaya pemecahan masalah
tersebut para peserta memperoleh dua tujuan sekaligus:
(1) terkembangkannya perasaan, pikiran, persepsi, wawasan
dan sikap terarah kepada tingkah laku khususnya dalam
bersosialisasi/ komunikasi, dan
(2) terpecahkannya masalah individu yang bersangkutan
dan diperolehnya imbasan pemecahan masalah tersebut
bagi individu-individu lain peserta layanan konseling
kelompok.

V. ASAS ASAS BIMBINGAN KELOMPOK DAN KONSELING


KELOMPOK
Kerahasiaan, kesukarelaan, dan keputusan diambil oleh klien
sendiri merupakan tiga etika dasar konseling (Munro, Manthei dan Small)
dalam kegiatan layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok.
1. Kerahasiaan
Segala sesuatu yang dibahas dan muncul dalam kegiatan kelompok
hendaknya menjadi rahasia kelompok yang hanya boleh diketahui oleh
anggota kelompok dan tidak disebarluaskan ke luar kelompok. .

18

2. Kesukarelaan
Kesukarelaan

anggota

pembentukan

kelompok

kelompok
oleh

dimulai

konselor

sejak

awal

(pemimpin

rencana

kelompok).

Kesukarelaan terus-menerus dibina melalui upaya pimpinan kelompok


mengembangkan

syarat-syarat

kelompok

yang

efektif

dan

penstrukturan tentang layanan bimbingan kelompok dan konseling


kelompok. Dengan kesukarelaan itu anggota kelompok akan dapat
mewujudkan peran aktif diri mereka masing-masing untuk mencapai
tujuan layanan.

3. Asas-Asas Lain
Dinamika kelompok dalam bimbingan kelompok dan konseling
kelompok semakin intensif dan efektif apabila semua anggota
kelompok secara penuh menerapkan asas kegiatan dan keterbukaan.

VI. KOMPONEN BIMBINGAN KELOMPOK DAN KONSELING


KELOMPOK
Dalam layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok
berperan dua pihak, yaitu pemimpin kelompok dan peserta atau anggota
kelompok.
1. Pemimpin Kelompok
Pemimpin kelompok adalah konselor yang terlatih dan berwenang
menyelenggarakan praktik konseling profesional.
a. karakteristik Pemimpin Kelompok
untuk menjalankan tugas dan kewajiban profesionalnya, pimpinan
kelompok adalah seorang yang:
1) mampu membentuk kelompok dan mengarahkannya sehingga
terjadi dinamika kelompok dalam suasana interaksi antara
anggota kelompok yang bebas, terbuka dan demokratik,
konstruktif,

saling

mendukung

dan

meringankan

beban,

19

menjelaskan,
nyaman,

memberikan

pencerahan,

menggembirakan,

dan

memberikan

membahagiakan;

rasa
serta

mencapai tujuan bersama kelompok. Dalam suasana demikian


itu, obyektifitas dan ketajaman analisis serta evaluasi kritis yang
berorientasi nilai-nilai kebenaran dan moral dikembangkan
melalui sikap dan cara-cara berkomunikasi yang jelas dan lugas
tetapi santun dan bertatakrama, dengan bahasa yang baik dan
benar.
2) Berwawasan luas dan tajam sehingga mampu mengisi,
menjembatani, meningkatkan, memperluas dan mensinergikan
konten bahasan yang tumbuh dalam aktifitas kelompok.
3) Memiliki kemampuan hubungan antarpersonal yang hangat dan
nyaman, sabar dan memberi kesempatan, demokratik dan
kompromistik (tidak antagonistic) dalam mengambil kesimpulan
dan keputusan, tanpa memaksakan dalam ketegasan dan
kelembutan, jujur dan tidak berpura-pura, disiplin dan kerja
keras.
b. Peran pemimpinn kelompok
Dalam

mengarahkan

suasana

kelompok

melalui

dinamika

kelompok, pimpinan kelompok berperan dalam:


1) Pembentukan kelompok dari sekumpulan (calon) peserta (terdiri
atas 8-10 orang), sehingga terpenuhi syarat-syarat kelompok
yang mampu secara aktif mengembangkan dinamika kelompok,
yaitu:

Terjadinya

hubungan

antaranggota

kelompok,

menuju

keakraban di antara mereka.

Tumbuhnya tujuan bersama di antara anggota kelompok,


dalam suasana kebersamaan.

Berkembangnya itikad dan tujuan bersama untuk mencapai


tujuan kelompok.

Terbinanya kemandirian pada diri setiap anggota kelompok,


sehingga mereka masing-masing mampu berbicara dan
tidak menjadi yes-man.

20

Terbinanya kemandirian kelompok, sehingga kelompok ini


berusaha dan mampu tampil beda dari kelompok lain.
Berbagai keterampilan, termasuk penggunaan permainan

kelompok,

perlu

diterapkan

pemimpin

kelompok

dalam

pembentukan kelompok.
2) Penstrukturan, yaitu membahas bersama anggota kelompok
apa, mengepa dan bagaimana layanan bimbingan kelompok
dan/ atau konseling kelompok dilaksanakan.
3) Pentahapan kegiatan bimbingan kelompok atau konseling
kelompok.
4) Penilaian segera (laiseg) hasil layanan bimbingan kelompok
atau konseling kelompok.
5) Tindak lanjut layanan.
2. Anggota Kelompok
a. Besarnya Kelompok
Kelompok yang terlalu kecil, misalnya 2-3 orang akan
mengurangi

efektifitas

bimbingan

kelompok

atau

konseling

kelompok.
Sebaliknya, kelompok yang terlalu besar juga kurang efektif. .
Kekurang-efektifan kelompok akan mulai terasa jika jumlah anggota
kelompok melebihi 10 orang.
b. Honogenitas/ Heterogenitas Kelompok
Dalam hal ini anggota kelompok yang homogen kurang efektif
dalam bimbingan kelompok dan konseling kelompok. Sebaliknya,
anggota kelompok yang heterogen akan menjadi sumber yang
lebih kaya untuk pencapaian tujuan layanan. Peranan Anggota
Kelompok
1) Aktivitas Mandiri
Peran

anggota

kelompok

dalam

layanan

bimbingan

kelompok dan konseling kelompok bersifat dari, oleh dan untuk


para anggota kelompok itu sendiri. Masing-masing anggota
kelompok beraktifitas langsung dan mandiri dalam bentuk:

Mendengar, memahami dan merespon dengan tepat dan


positif (3-M).

21

Berpikir dan berpendapat.

Menganalisis, mengkritisi dan berargumentasi.

Merasa, berempati dan bersikap.

Berpartisipasi dalam kegiatan bersama.

2) Aktifitas

mandiri

masing-masing

anggota

kelompok

itu

diorientasikan pada kehidupan bersama dalam kelompok.


Kebersamaan ini diwujudkan melalui:

Pembinaan

keakraban

dan

keterlibatan

secara

emosional antar anggota kelompok.

Kepatuhan terhadap aturan kegiatan dalam kelompok.

Komunikasi

jelas dan

lugas dengan

lembut dan

bertatakrama.

Saling

memahami,

memberi

kesempatan

dan

membantu.

Kesadaran bersama untuk menyukseskan kegiatan


kelompok.

VII. KETERAMPILAN DASAR BAGI


PEMIMPIN KELOMPOK
(PK)
A. Mendengar aktif
B. Merefleksi
C. Menjelaskan dan bertanya
D. Menggunakan suara
E. Menggunakan mata
F. Menyimpulkan
G. Memberikan uraian dan informasi
H. Menberikan dorongan dan sokongan
I. Mengatur suasana kelompok
J. Menjadi model dan membuka diri sendiri
K. Mengidentifikasi yang bersekutu

22

A. Mendengar Aktif
Mendengar aktif meliputi 3M
merespon

pembicaraan

yaitu mendengar, memahami dan

masing-masing

anggota

kelompok.

Mendengar aktif menuntut kemampuan mendengarkan isi, suara, dan


bahasa tubuh orang yang sedang berbicara. (Corey & Corey, 1987). .
B. Merefleksi
Merefleksi artinya mengulang kembali dengan ringkas dan jelas
ungkapan atau komentar klien, yang menyangkut pendapatnya tentang
isi dan perasaannya tentang masalah yang sedang dibahas.
Teknik refleksi dapat dipergunakan kepada seorang, beberapa atau
semua anggota kelompok. Refleksi terhadap semua anggota kelompok
dapat menggambarkan pemahaman pemimpin kelompok tentang apa
yang terjadi dalam kelompok.
1. Menolong anggota kelompok yang sedang berbicara agar lebih
menyadari dan memahami dengan jelas apa yang sedang
dibicarakan dalam kelompok.
2. menolong anggota kelompok menyadari dan memahami dengan
jelas perasaan seorang atau sejumlah anggota kelompok agar
dapat melakukan empati.
3. menimbulkan kesan positif terhadap pemimpin kelompok karena ia
menunjukkan pemahaman tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi
dalam kelompok (perasaan, ide dan harapan).
Contoh refleksi perasaan:
Klien : saya kurang yakin dapat berpartisipasi dalam kelompok ini.
Saya kurang menyenangi kegiatan dalam kelompok, namun
saya ingin mencoba, agar terjadi perubahan dalam diri saya.
Kons : Nampaknya anda merasa ingin mengikuti kegiatan kelompok,
namun ada perasaan takut-takut.
Contoh 2
Klien 1. Mencari pekerjaan, berat bagi saya. Saya benci pergi
ketempat-tempat dimana saya harus mengemis untuk diterima
bekerja apapun juga.

23

Klien 2. Ya, itu juga saya rasakan. Berhari-hari saya diam saja
dirumah. Saya takut membayangkan untuk berhadapan
dengan resepsionis yang sombong.
Kons.

:Anda berdua berpendapat bahwa untuk mencari pekerjaan


adalah suatu yang sangat sulit, karena mengalami perasaan
harga diri direndahkan.

C. Menjelaskan dan Bertanya


Kemampuan mengklarifikasi dan bertanya merupakan keterampilan
pemimpin kelompok yang diperlukan dalam kelompok. Keterampilan ini
membantu seorang anggota kelompok agar memahami dengan jelas
pembicaraannya, dan juga untuk memberikan pemahaman yang jelas
bagi anggota kelompok lainnya. Ada beberapa teknik memberikan
penjelasan yang dapat dilakukan yaitu dengan bertanya, mengulangi,
dan memanfaatkan anggota lain untuk menjelaskan (mengklarifikasi).
Contoh dengan memakai teknik bertanya.
Ki : saya tidak setuju kalau kita harus menerima proposal itu. Terlalu
banyak hal yang tersembunyi
Ko : dapatkah anda mengatakan kepada kami apa yang anda
maksudkan dengan yang anda katakana itu?
Contoh dengan teknik mengulangi
Ki : pada saat-saat tertentu saya berfikir bahwa saya akan gila, namun
saya sadar bahwa saya sedang terguncang dan bingung karena
perceraian saya. Ibu saya berkata: bagaimana anak-anakmu?. Carla
yang berumur delapan tahun menangis tadi malam. Inilah kehidupan
dan pikiranku. Saya telah memiliki jalan keluar. Saya tidak mengerti
bagaimana mungkin suami saya dapat berbuat seperti itu.
Ko : Ki, anda telah berbicara banyak. Saya ingin menjelaskan tentang
perasaan anda sekarang. Beri tahu saya kalau saya salah. Sebagian
pembicaraan anda tentang perceraian anda yang baik-baik saja dan
sebagian lagi menyatakan bahwa anda egois.
Menggunakan Suara
Keterampilan pengaturan suara merupakan suatu kemampuan
yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan keterampilan
lainnya bagi pemimpin kelompok, namun kebanyakan dilupakan.

24

Keterampilan ini menyangkut kemampuan mengatur suara yang dapat


mempengaruhi suasana dan iklim kelompok.
Suara yang kuat dan mendominasi menggambarkan pemimpin
kelompok dapat berhasil dalam banyak hal dalam membimbing
kelompok dibandingkan dengan suara yang lemah.
D. Menggunakan mata
Pemahaman menggunakan mata dalam memimpin kelompok
sangatlah penting.
Pandangan mata dapat digunakan dengan empat cara:
1. Melihat sekilas isyarat nonverbal masing-masing anggota kelompok
2. mengarahkan komentar seorang anggota kelompok kepada
kelompok
3. mendorong untuk berbicara
4. menghentikan anggota kelompok berbicara

E. Menyimpulkan
Kesimpulan

yang

ringkas

dan

padat

dapat

membantu

menyempurnakan pemahaman mereka.


. Tanyakan kepada anggota kelompok apakah ada diantara merka
yang kurang dapat menangkap pokok-pokok penting pembicaraan itu
perlu elakukan kesimpulan.
Kesimpulan

merupakan

pokok

yang

merupakan

kunci

pembicaraan. Dan menjembatani kegiatan kelompok sekarang dengan


kegiatan berikutnya.
Pada saat mengakhiri kegiatan kelompok.
F. Memberi Uraian/Informasi
Pada saat tertentu pemimpin kelompok perlu memberikan informasi
atau ceramah kepada semua anggota kelompok. Dalam konseling
kelompok yang menyangkut permasalahan pendidikan misalnya,
pemimpin kelompok perlu menguasai masalah pendidikan, dan perlu
melakukan minilecture. Untuk itu pemimpin kelompok harus tampik
sebagai berikut:

Melakukan pembahasan yang menarik

Memberikan materi yang relevan

25

Pembahasan dengan waktu 5-8 menit

Menampilkan gairah

Memberikan informasi yang akurat, benar dan objektif

G. Memberikan Dorongan dan Sokongan


Konselor perlu belajar memberikan dorongan dan sokongan
kepada orang lain. Sebagai pemimpin kelompok konselor harus
mampu memberikan dorongan dan sokongan, karena kemampuan itu
sangat penting, untuk menolong anggota kelompok yang menghadapi
kecemasan kalau menghadapi situasi baru, berbagi ide, atau berbagi
perasaan dengan sesama anggota kelompok. Juga untuk menolong
anggota kelompok yang sering berhadapan dengan masalah untuk
tampil didepan orang lain, dan kadang-kadang takut salah dan
dianggap bodoh.
Contoh
Kons : Ibu Sri (klien), ibu harus menceritakan kepada kami semua
permasalahan ibu dengan mertua. Kelihatannya ibu sulit dan takut
berbagi hal-hal yang ersifat pribadi dengan kami. Saya yakin bahwa
anggota kelompok akan mendengarkan masalah ibu tanpa mengkritik.
Kami disini bukan untuk mengkritik, tetapi untuk mencoba dan
berusaha saling membantu dan menyokong satu sama lain.
H. Mengatur Suasana Kelompok
Pengaturan suasana kelompok artinya konselor membina suasana
ramah, hangat, saling menghargai, menyayangi, membutuh dan
menyenangkan serta rindu terhadap kelompok. Jika konselor terlalu
agresif akan menimbulkan suasa perlawanan dan ketegangan dalam
kelompok. Jika konselor membiarkan anggota kelompok menyerang,
mengkritik anggota kelompok lain maka suasana negatif mulai
mendominasi. Jiak konselor membangun suasana berbagi, maka
suasana kelompok yang positif akan terbentuk.Ko nselor harus
bertanya kepada dirinya sendiri tentang hal-hal yang berikut:
1. Akankah kelompok menjadi serius atau social?

26

2. akankah suasana kelompok menjadi konfrontatif atau suportif?


3. akankah suasana kelompok formal atau informal
4. akankah suasana kelompok berorientasi tugas ataukah lebih
santai?
Berikut ini contoh-contoh yang memperlihatkan cara mengatur
suasana kelompok yang berbeda
1. Suasana Serius
Konselor : marilah kita mulai. Sebelum mulai marilah kita lebih
dekat dan tidak terlalu menyebar. Saya ingin anda menjauhkan
makanan dan minuman sekarang juga (anggota kelompok
melakukannya).
2. Suasana Sosial
Konselor : mari kita mulai (anggota kelompok menyebar sambil
terus makan). Saya senang memulai kegiatan dengan masingmasing memperkenalkan diri. Ceritakan tentang diri anda, yang
menurut anda penting dan menyenangkan.
3. Suasana Konfrontatif
Konselor : hari ini merupakan hari pertama kegiatan konseling
kelompok untuk remaja yang tertangkap minum-minuman keras.
Yodi

telah

mengatakan

bahwa

dia

tidak

perduli

dengan

permasalahan ketagihannya minum-minuman keras.Yodi saya kira


anda mempunyai masalah yang serius. Dalam kelompok ini ini kita
akan berusaha saling menolong satu sama lain dan meyakini
bahwa semua orang jujur dengan diri mereka sendiri (dengan suara
konfrontatif). Siapa saja diantara kamu yang merasa bahwa Yodi
bermasalah?.
4. Suasana Mendukung
Konselor : Jojo, saya mengharap anggota kelompok dapat
membantumu untuk menilai keadaan dirimu, meskipun kamu
merasa tidak bermasalah. Perasaanmu itu mungkin dirasakan juga
oleh anggota kelompok lainnya. Saya yakin diantara anggota
kelompok yang masalahnya sama dengan yang kamu alami.
Tujuan kegiatan kelompok ini adalah menolongmu, dan saya
mengharap anggota kelompok berusaha saling menolong dengan
cara mendengarkan, berbagi dan menolong mencari pemecahan

27

masalh yag dialami anggota kelompok. Oleh karena itu diharapkan


ada diantara kamu yang mengemukakan permasalahannya dengan
sukarela

dan

terbuka

untuk

dibahas

dan

dipikirkan

cara

penyelesaiannya.
5. Suasana Formal
Konselor : saya Yati. Saya dari jurusan bimbingan dan konseling.
Hari ini saya akan melayani anda sebagai pemimpin kelompok ini.
Sebelum kita memulai kegiatan kelompok, saya merasa lebih baik
jika menyampaikan peraturan-peraturan yang harus dilakukan
selama kegiatan kelompok. Pertama, saya mengharapkan anda
memperkenalkan diri masing-masing yang menyangkut nama
anda, dimana anda tinggal dan bekerja, dan mengapa anda ingin
mengikuti kegiatan konseling kelompok ini.
6. Suasana Tugas
Konselor : baiklah kita mulai kegiatan kita ini. Kita mempunyai
banyak masalah yang akan kita bahas dan kita mempunyai waktu
satu setengah jam menyelesaikannya. Pertama siapa yang akan
mengemukakan masalahnya?
I. Menjadi Model dan Membuka Diri
Sebagai seorang konselor hendaknya anda terampil menemukan
anggota kelompok yang dapat anda pergunakan sebagai model atau
pemberi contoh dan memiliki keterbukaan. Keterampilan ini juga
sangat berguna untuk mengetahui anggota kelompok yang memiliki
kemampuan lebih dalam berbagi, bekerjasama dan memberikan
masukan. Bahwa cara yang terbaik untuk mengajarkan tingkah laku
yang di inginkan adalah dengan memberi model atau contoh dari
anggota kelompok maupun dari konselor. Gaya komunikasi konselor
yang efektif, kemampuan konselor mendengarkan, memberikan
sokongan kepada anggota kelompok, menjadi model bagi anggota
kelompok untuk meniru dan bahkan dapat melebihi kemampuan
konselor sendiri.

J. Mengidentifikasi yang Bersekutu

28

Keterampilan ini sangat berguna untuk mengetahui anggota


kelompok yang bersekutu dengan konselor dalam kelompok. Konselor
hendaknya mampu memperkirakan anggota kelompok yang dapat
bekerjasama dan membantu dalam kelompok. Anggota kelompok ini
nampaknya suka bekerja sama dan membantu dalam kelompok.
Anggota kelompok ini anda butuhkan untuk memulai diskusi dan
latihan dalam kelompok atau sewaktu anda membutuhkan orang-orang
yang akan memainkan peran tertentu atau mengambil resiko. Ada
beberapa hal penting yang harus diperhatikan untuk mengidentifikasi
anggota kelompok yang menjadi pengikut anda:

Ada anggota kelompok yang mudah bekerja sama dan


nampaknya mereka menjadi pengikut anda..

Kadang-kadang anggota kelompok yang terbaik untuk


menjadi pengikut anda merupakan anggota yang pendiam
dan cenderung tidak menonjol pada awal-awal kegiatan
kelompok. Namun setelah dua atau tiga kali pertemuan
mereka menunjukkan kemampuan bekerja sama dan
menolong kelompok mencapai tujuan kelompok.

Terjadi dalam beberapa kelompok yang tidak membutuhkan


anggota

bersekutu,

namun

ada

kelompok

yang

memerlukannya, namun anda hendaknya berhati-hati untuk


menentukan anggota yang mampu bersekutu dengan anda.

VIII. SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI OLEK KONSELOR


DAN PARA KONSELI DALAM MENJALANI BIMBINGAN KELOMPOK
DAN KONSELING KELOMPOK
1. Di Pihak Konselor
konselor
pendidikan

harus

memenuhi

akademik,

sejumlah

kepribadiannya,

syarat

yang

keterampilan

menyangkut
berkomunikasi

dengan orang, dan penggunaan teknik-teknik konseling. Teknik tambahan

29

yang mewujudkan tugasnya membina kesatuan (maintenance function)


dan menjaga proses dalam kelompok (task function), antara lain:
Memberikan umpan balik konstruktif kepada salah seorang

(a)

anggota tentang dampak perhatiannya atau perilakunya terhadap


anggota/ peserta lain dalam kelompok.
(b)

Memberikan perlindungan kepada seorang anggota yang ternyata


merasa terancam oleh kritikan dari pihak teman dan menampakkan
gejala menjadi terlalu gelisah. Misalnya, konselor mengatakan:
saya kira kita kurang mengindahkan perasaan Tuti. Kalau kita
hanya melontarkan kritik negatif terhadapnya, Tuti akan merasa
ditolak.

(c)

Memberikan umpan balik terhadap apa yang terjadi dalam


kelompok, baik yang menyangkut kebersamaan maupun yang
menyangkut

kemajuan

dalam

proses.

Misalnya,

konselor

mengatakan: saya menyaksikan bahwa kelompok ini semakin


merasa bebas dan mampu menciptakan suasana persahabatan.
Nah, ini baik sekali! Namun, kita sedikit menyimpang dari topik
yang sedang kita bicarakan; maka sebaiknya kita kembali ke jalan
sebenarnya.

Kalau

saya

ringkas

apa

yang

sudah

kita

diskusikan.; yang harus kita tinjau kemudian ialah..


(d)

Mengenai saat-saat diam secara konstruktif, bila pada suatu saat


tidak ada konseli yang berbicara. Misalnya, konselor mengatakan:
untuk mulai mengungkapkan sesuatu tentang diri sendiri memang
sulit. Nah, seandainya saya mulai menceritakan sedikit tetang diri
saya pada waktu saya ikut dalam konseling kelompok di fakultas.
Perasaan saya pada waktu itu ialah ..Selama pertemuan
kelompok biasanya

Rangkaian penjelasan pendahuluan yang harus diberikan kepada


seluruh anggota kelompok pada awal pertemuan pertama meliputi
hal-hal sebagai berikut:
(a)

Tujuan kegiatan kelompok; lamanya kegiatan ini; frekuensi


pertemuan serta tempat dan waktu untuk berkumpul; materi
atau persoalan yang akan dibahas bersama.

30

(b)

Prosedur yang akan diikuti dan aturan-aturan main, misalnya


anggota berhak untuk berbicara dan didengarkan tanpa
mengalami tekanan dari siapapun juga.

(c)

Kebebasan anggota untuk mengundurkan diri kalau kegiatan


ini ternyata tidak sesuai baginya dan memberitahukan
keputusannya kepada konselor.

(d)

Kemungkinan dan kesempatan untuk berwawancara secara


individual dengan konselor selama periode waktu kegiatan
kelompok berlangsung atau sesudah selesai.

(e)

Kewajiban

para

peserta

untuk

menjaga

kerahasiaan

mengenai apa yang dikatakan oleh para anggota kelompok


selama pertemuan berlangsung.
(f)

Jaminan bahwa tidak akan dipasang alat-alat perekam audio


atau audiovisual, tanpa sepengetahuan dan tanpa seizing
semua peserta.

(g)

Kerelaan para konseli untuk menepati waktu pertemuan dan


melibatkan diri dengan sungguh-sungguh dalam kegiatan
kelompok.

(h)

Kemungkinan besar bahwa keikutsertaan dalam kelompok


akan menggangu ketenangan hidupnya, dalam arti kadangkadang

akan

merasa

gelisah,

tegang,

dan

terkejut.

Pengalaman seperti itu tidak menyenangkan, tetapi proses


perubahan diri biasanya membawa perasaan semacam itu
sebagai suatu fase yang harus dilalui.
(i)

Tata cara ikut bertanggung jawab atas kesatuan kelompok


(group maintenance role)

(j)

Cara diadakan evaluasi sesudah kegiatan kelompok selesai.

2. Di Pihak Para konseli


Keberhasilan dalam konseling juga tergantung dari kadar motivasi
para konseli dan kesediaannya untuk melibatkan diri. Konseli diharapkan
mampu membina kebersamaan (maintenance function) dan mencari
penyelesaian atas masalah yang dihadapi bersama (task function). Untuk
itu para konseli harus memberikan sumbangan dengan memegang

31

peranan-peranan tertentu (roles). Beraneka peranan itu tidak perlu


semuanya dipegang oleh peserta, tetapi tersebar diantara para konseli.
Contoh relevanbagi peranan yang menunjang kebersamaan dalam
kelompok adalah mendorong seseorang untuk bicara, menerima gagasan
orang lain meringankan ketegangan dengan mengajak ketawa (asal
wajar), memberikan

bombongan

(sanjungan) kepada teman, dan

menyatakan rasa puas dalam berpartisipasi di dalam kelompok. Contoh


relevan peranan yang menunjang kemajuan kelompok adalah meringkas,
memberikan sumbangan pikiran, menghubungkan ungkapan yang satu
dengan ungkapan yang lain, minta penjelasan atas suatu pernyataan, dan
menunjukkan kelebihan atau kekurangan dalam pembicaraan. Contoh
peranan negatif dan tentunya harus dihindari adalah menyerang secara
verbal, menertawakan dan mengejek, memusatkan perhatian pada dirinya
sendiri, mendominasi pembicaraan, mencari simpati dan rasa kasihan,
berkelakar yang tidak wajar, dan mengisolasikan diri dengan berdiam diri
saja.

IX. DINAMIKA KELOMPOK


Dinamika kelompok adalah kekuatan-kekuatan yang berinteraksi
dalam kelompok pada waktu kelompok melakukan kegiatan-kegiatan
untuk mencapai tujuan. Dinamika kelompok merupakan sinergi dari
semua factor yang ada dalam suatu kelompok; artinya merupakan
pengerahan secara serentak semua faktor yang dapat digerakkan dalam
kelompok itu. Dengan demikian, dinamika kelompok merupakan jiwa yang
menghidupkan dan menghidupi suatu kelompok (Prayitno, 1995:23).
Kelompok kohesif adalah kelompok yang stabil, produktif
mengerjakan tugas atau tujuan yang diharapkan, dan bersifat menarik
bagi anggotanya. Lakin (1976, dalam Gazda, 1984:56) mendeskripsikan

32

kelompok kohesif sebagai ekspresi kolektif dan pemilikan pribadi,


kekohesifan di perlihatkan dengan:
1) Mengikat anggota secara emosional pada tugas-tugas
satu sama lain.
2) Memastikan stabilitas yang tinggi dan anggota bahkan
dalam menghadapi keadaan yang mengecewakan, dan
3) Mengembangkan sebuah batasan pembagian dan
referensi antar anggota kelompok yang memperbolehkan
adanya toleransi yang lebih untuk membedakan tujuan
dan anggota kelompok.
Peran anggota kelompok dalam dinamika kelompok:
(a)

Membantu terbinanya suasana akrab

(b)

Mencurahkan perasaan dalam melibatkan diri

(c)

Membantu tercapainya tujuan

(d)

Mematuhi atusan kelompok

(e)

Aktif dalam kegiatan kelompok

33

X. TAHAP PENYELENGGARAAN
BIMBINGANKELOMPOK DAN KONSELING KELOMPOK
Tahap Penyelenggaraan
Layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok
diselenggarakan melalui empat tahap kegiatan, yaitu:
a. Tahap Pembentukan, yaitu tahapan untuk membentuk kerumunan
sejumlah individu menjadi suatu kelompok yang siap mengembangkan
dinamika kelompok dalam mencapai tujuan bersama.
b. Tahap Peralihan, yaitu tahapan untuk mengalihkan kegiatan awal
kelompok ke kegiatan berikutnya yang lebih terarah pada pencapaian
tujuan kelompok.
c. Tahap Kegiatan, yaitu tahap "kegiatan inti" untuk membahaas topiktopik tertentu (pada bimbingan kelompok) atau mengentaskan masalah
pribadi anggota kelompok (pada konseling kelompok).
d. Tahap Pengakhiran, yaitu tahapan akhir kegiatan untuk melihat
kembali apa yang sudah dilakukan dan dicapai oleh kelompok, serta
merencanakan kegiatan selanjutnya.

Rincian tahap-tahap tersebut adalah sebagaimana tertera pada baganbagan berikut:

34

Bagan 1
Tahap I : Pembentukan
TAHAP I
PEMBENTUKAN

Tema : -

Tujuan:
1. Anggota memahami
pengertian dan kegiatan
kelompok dalam rangka
BKp dan/ atau KKp.
2. Tumbuhnya suasana
kelompok
3. tumbuhnya minat anggota
mengikuti kegiatan
kelompok
4. tumbuhnya saling
mengenal, percaya,
menerima, dan membantu
diantara para anggota.
5. tumbuhnya suasana bebas
dan terbuka
6. dimulainya pembahasan
tentang tingkah laku dan
perasaan dalam
kelompok.

1.
2.
3.
4.

pengenalan diri
pelibatan diri
pemasukan diri

Kegiatan:
1. Mengungkapkan
pengertian dan tujuan
kegiatan kelompok dalam
rangka pelayanan BKp
dan/ atau KKp.
2. menjelaskan (a) cara-cara,
dan (b) asas-asas kegiatan
kelompok.
3. saling memperkenalkan
dan mengungkapkan diri.
4. teknik khusus.
5. permainan penghangatan/
pengakraban.

PERANAN PEMIMPIN KELOMPOK


menampilkan doa untuk mengawali kegiatan
Menampilkan diri secara utuh dan terbuka
Menampilkan penghormatan kepada orang lain, hangat, tulus, bersedia
membantu dan penuh empati.
Sebagai contoh
Bagan 2

35

Tahap II : Peralihan

TAHAP II
PERALIHAN

Tema : Pembangunan jembatan antara tahap pertama dan tahap ketiga

Tujuan:
1. Terbebaskannya
anggota dari perasaan
atau sikap enggan,
ragu, malu atau saling
tidak percaya untuk
memasuki tahap
berikutnya.
2. makin mantapnya
suasana kelompok dan
kebersamaan.
3. makin mantapnya
minat untuk ikut serta
dalam kegiatan
kelompok

1.
2.
3.
4.

Kegiatan:
1. menjelaskan kegiatan
yang akan ditempuh pada
tahap berikutnya.
2. menawarkan sambil
mengamati apakah para
anggota sudah siap
menjalani kegiatan pada
tahap selanjutnya (tahap
ketiga).
3. Membahas suasana yang
terjadi.
4. meningkatkan
kemampuan keikutsertaan
anggota.
5. kalau perlu kembali ke
beberapa aspek tahap
pertama (tahap
pembentukan)

PERANAN PEMIMPIN KELOMPOK


menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka.
tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung atau
mengambil alih kekuasaan atau permasalahan
mendorong dibahasnya suasana perasaan
membuka diri, sebagai contoh, dan penuh empati

36

Bagan 3
Tahap III : Kegiatan
TAHAP III
KEGIATAN
(dalam bimbingan dan kelompok)
Kelompok Bebas

Tema: Kegiatan pencapaian tujuan (pembahasan topik)

Tujuan:
1. terungkapnya hanya
secara bebas topik
yang dirasakan,
dipikirkan atau
dialami oleh anggota
kelompok.
2. terbahasnya topik
secara mendalam dan
tuntas.
3. ikut sertanya seluruh
anggota secara aktif
dan dinamis dalam
pembahasan, baik
yang menyangkut
unsur-unsur tingkah
laku, pemikiran
ataupun perasaan

Kegiatan:
1. masing-masing
anggota secara bebas
mengemukakan topik
bahasan.
2. menetapkan topic
yang akan dibahas
terlebih dahulu.
3. anggota membahas
topic secara mendalam
dan tuntas
4. kegiatan selingan

PERANAN PEMIMPIN KELOMPOK


1. sebagai pengatur lalu lintas yang sabar dan terbuka
2. aktif tetapi tidak banyak bicara.
3. memberikan dorongan dan penguatan serta penuh empati

Bagan 4

37

Tahap III : Kegiatan


TAHAP III
KEGIATAN
(dalam bimbingan kelompok)
Kelompok Tugas

Tema : Kegiatan Pencapaian tujuan (penyelesaian tugas)

Tujuan:
1. terbahasnya topiktopik yang ditugaskan
secara mendalam dan
tuntas.
2. ikut sertanya seluruh
anggota secara aktif
dan dinamis dalam
pembahasan, baik
yang menyangkut
unsur-unsur tingkah,
pemikiran ataupun
perasaan.

Kegiatan:
1. pemimpin kelompok
mengemukakan suatu
topik untuk dibahas
oleh kelompok.
2. Tanya jawab antara
anggota dan pemimpin
kelompok tentang halhal yang belum jelas
yang menyangkut
topic yang
dikemukakan
pemimpin kelompok
3. anggota membahas
topik tersebut secara
mendalam dan tuntas
4. kegiatan selingan

PERANAN PEMIMPIN KELOMPOK


1. sebagai pengatur lalu lintas yang sabar dan terbuka
2. aktif tetapi tidak banyak bicara

38

Bagan 5

Tahap III : Kegiatan


TAHAP III
Tema : Kegiatan pencapaian tujuan, yaitu pembahasan masalah klien
KEGIATAN
(dalam konseling kelompok)
Pembahasan
Tujuan:
Kegiatan: Masalah Klien
1. terbahasnya dan
1. setiap anggota kelompok mengemukakan
terentaskannya
masalah pribadi yang perlu mendapat bantuan
masalah klien
kelompok untuk pengentasannya.
(yang menjadi
2. kelompok memilih masalah mana yang hendak
anggota
dibahas dan dientaskan pertama, kedua, ketiga,
kelompok)
dst.
2. ikutsertanya
3. Klien (anggota kelompok yang masalahnya
seluruh anggota
dibahas) memberikan gambaran yang lebih
kelompok dalam
rinci masalah yang dialaminya.
menganalisis
4. seluruh anggota kelompok ikut serta membahas
masalah klien
masalah klien melalui berbagai cara, seperti
serta mencarai
bertanya, menjelaskan, mengkritisi, memberi
jalan keluar dan
contoh, mengemukakan pengalaman pribadi,
pengentasannya
menyarankan
5. Klien setiap kali diberi kesempatan untuk
merespon apa-apa yang ditampilkan oleh
rekan-rekan kelompoknya.
6. kegiatan selingan

PERANAN PEMIMPIN KELOMPOK


1. Sebagai pengatur lalu lintas yang sabar dan terbuka
2. aktif tetapi tidak banyak bicara
3. mendorong, menjelaskan, memberi penguatan, menjembatani dan
mensinkronisasi, memberi contoh (serta, jika perlu melatih klien)
dalam rangka mendalami permasalahan klien dan mengentaskannya.

39

Bagan 6
Tahap IV : Pengakhiran
TAHAP IV
PENGAKHIRAN

Tema : Penilaian dan tindak lanjut

Tujuan:
1. terungkapnya kesan-kesan
anggota kelompok tentang
pelaksanaan kegiatan.
2. terungkapnya hasil
kegiatan kelompok yang
telah dicapai
3. terumuskannya rencana
kegiatan lebih lanjut.
4. tetap dirasakannya
hubungan kelompok dan
rasa kebersamaan
meskipun kegiatan
diakhiri.

1.
2.
3.
4.
5.

Kegiatan:
1. PK mengemukakan
bahwa kegiatan akan
segera diakhiri.
2. PK dan anggota
kelompok
mengemukakan kesan
dan hasil-hasil
kegiatan
3. membahas kegiatan
lanjutan
4. mengemukakan pesan
dan harapan

PERANAN PEMIMPIN KELOMPOK


tetap mengusahakan suasana hangat, bebas, dan terbuka
memberikan pernyataan dan mengucapkan terima kasih atas
keikutsertaan anggota
memberikan semangat untuk kegiatan lebih lanjut
penuh rasa persahabatan dan empati
memimpin doa mengakhiri kegiatan
Persamaan dan perbedaan antara bimbingan kelompok dan
konseling kelompok dalam tahap penyelenggaraan adalah sebagai
berikut: (bagan 7)

40

Bagan 7
Persamaan dan Perbedaan Pelaksanaan
Tahap-tahap Kegiatan dalam Bimbingan Kelompok dan Konseling
Kelompok
TAHAP I
PEMBENTUKAN
TAHAP iI
PERALIHAN
TAHAP III
KEGIATAN

BIMBINGAN
KELOMPOK
KELOMPOK
BEBAS

KONSELING
KELOMPOK
KELOMPOK
BEBAS

KELOMPOK
TUGAS

MASALAH
PRIBADI

TOPIK UMUM

TAHAP IV
PENGAKHIRAN

Isi Layanan
Berkenaan dengan isi bimbingan kelompok dan konseling
kelompok perlu diperhatikan hal-hal berikut:
a. bimbingan kelompok membahas materi topik-topik umum,
baik topik tugas ataupun topik bebas. Topik tugas adalah

41

pokok bahasan yang datangnya dari pemimpin kelompok dan


ditugaskan kepada kelompok untuk membahasnya; sedangkan
topik bebas adalah pokok bahasan yang datangnya atau
dikemukakan secara bebas oleh para anggota kelompok. Satu
persatu anggota kelompok mengemukakan topic secara bebas,
kemudian dipilih mana yang akan dibahas pertama, kedua dan
seterusnya.
b. Konseling kelompok membahas masalah pribadi yang
dialami oleh masing-masing anggota kelompok. Satu
persatu anggota kelompok mengemukakan masalah pribadinya
secara bebas, kemudian dipilih mana yang akan dibahas dan
dientaskan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.
Waktu dan Tempat
Layanan bimbingan kelompok dan konseling kelompok dapat
diselenggarakan pada sebarang waktu, sesuai dengan kesepakatan
antara pemimpin kelompok dan para anggota kelompok, baik terjadwal
maupun tidak terjadwal. Seiring dengan waktunya, bimbingan kelompok
dan konseling kelompok diselenggarakan di tempat-tempat yang cukup
nyaman bagi para peserta, bak didalam ruangan maupun di luar ruangan.
Mereka duduk (biasanya membentuk lingkaran) di kursi atau bersila
mengikuti kondisi yang ada.
Waktu penyelenggaraan untuk setiap kali penyelenggaraan (satu
sesi) layanan bimbingan kelompok atau konseling kelompok sekitar 1-2
jam. Pertemuan pertama (sesi pertama) bimbingan kelompok/ konseling
kelompok biasanya memakan waktu yang lebih lama untuk tahap
pembentukan, dan sesi-sesi berikutnya lebih didominasi oleh tahap
kegiatan.
Banyaknya sesi untuk penyelenggaraan layanan bimbingan kelompok
atau konseling kelompok tergantung pada keperluan dan kesempatan
yang tersedia. Untuk pencapaian tujuan yang lebih lengkap dan
meyeluruh, dapat diselenggarakan kegiatan kelompok marathon, yaitu
kegiatan bimbingan kelompok dan atau konseling kelompok dengan
jumlah sesi (3-8 sesi) secra terus menerus dengan selingan istirahat
seperlunya. Dengan kegiatan marathon ini yang diselenggarakan satu hari

42

penuh atau lebih, banyak topik dan masalah dapat dibahas dan atau
diupayakan pengentasannya. Sedapat-dapatnya semua topik dan
masalah dikemukakan atau dialami masing-masing anggota kelompok
dapat dilakukan dan diupayakan pengentasannya.

DAFTAR PUSTAKA
1) Elida Prayitno 2005, Layanan Bimbingan dan Konseling
kelompok, FIP Universitas Negeri Padang
2) Prayitno, 1995; Bimbingan Kelompok dan Konseling
Kelompok, FIP Universitas Negeri Padang
3) Prayitno, 2004; Layanan Bimbingan Kelompok dan
konseling kelompok, jurusan bimbingan dan konseling
kelompok, FIP Universitas Negeri Padang
4) W.S Winkel, M.M Sri Hatuti, 2004; Bimbingan dan
Konseling di Institusi Pendidikan, Yogyakarta: Media Abadi

43

44