Anda di halaman 1dari 26

Benigna Prostat

Hiperplasia(BPH)

Prostat adalah
suatu kelenjar
pada pria yang
terletak diantara
tulang kemaluan
dan poros usus.
Akibat rangsangan
hormone
testosteron yang
diproduksi testis,
prostat
menghasilkan
cairan semen.
Prostat
mengelilingi
saluran kemih
bagian atas,

Hypertropy

Prostat adalah
hyperplasia dari kelenjar
periurethal yang kemudian
mendesak jaringan prostat
yang asli ke perifer dan
menjadi simpai bedah
(Jong,Wim de 1998)

Benigna

Prostat Hypertropy
adalah pembesaran jinak
kelenjar prostat,
disebabkanoleh karena
hyperplasia dari beberapa
atau semua komponen
prostat meliputi jaringan
kelenjar/jaringan
fibromuscular yang
menyebabkan penyumbatan
uretra pars prostatika(Lab/UPF
Ilmu Bedah RSUD Dr.Sutomo
1994)

PATOFISIOLOGI

Manifestasi klinik
Iritatif
o Sering miksi(frekuensi)
o Terbangun untuk miksi pada
malam hari(nokturia)
o Perasaan ingin miksi yang
sangat mendesak(urgensi)
o Nyeri pada saat miksi
(disuria)

Obstruktif
o Pancaran lemah
o Rasa tidak lampias sehabis
miksi
o Kalau mau miksi harus
menunggu lama(hesitancy)
o Harus mengedan(straining)
o Kencing terputusputus(intermittency)
o Waktu miksi memanjang
yang akhirnya menjadi
retensio urin dan inkontinen
karena overflow

Skor Madsen-Inversen dalam Bahasa


Indonesia
Pertanyaan
Pancaran

0
Normal

Mengedan saat berkemih

Tidak

Harus menuggu saat akan Tidak


kencing
Buang air kecil terputus- Tidak
putus
Kencing tidak lampias
Tidak
tahu

1
Berubah-ubah

3
Lemah

4
Menetes

Ya
Ya
Ya
Berubah-ubah Tidak
lampias

Inkintinensia

1 kali
retensi

Ya

Kencing sulit ditunda

Tidak ada Ringan

Sedang

Berat

Kencing malam hari

0-1

3-4

>4

Kencing siang hari

> 3 jam
sekali

Setiap 2-3 jam Setiap 1-2


sekali
jam sekali

<1 jam
sekali

>1 kali
retensi

SKORJumlah nilai :
0= baik sekali
INTER
1=baik
NASIO
2=kurang baik
NAL
3=kurang
GEJAL4=buruk
GEJALA
5=buruk sekali

PROST
AT
WHO(I
NTERN
ATION
AL
PROST
ATE
SYMPT
ON
SKORE,
IPSS).

Pertanyaan

Jawaban dan Skor


Tidak
sama
sekali

Keluhan pada bulan terakhir

<1
sampai 5
kali

>5
sampai
15 kali

Lebih dari
15 kali

15 kali

Hampir
selalu

Adakah anda merasa bulibuli tidak kosong setelah


buang air kecil

Berapa kali anda hendak


buang air kecil lagi dalam
waktu 2 jam setelah buang
air kecil
Berapa kali terjadi air
kencing berhenti sewaktu
buang air kecil
Berapa kali anda tidak dapat
menahan keinginan buang
air kecil
Berapa kali arus air seni
lemah sekali sewaktu buang
air kecil
Berapa kali terjadi anda
mengalami kesulitan
memulai buang air kecil
(harus mengejan)
Berapa kali anda bangun
untuk buang air kecil
diwaktu malam
Andaikata hal yang anda
alami sekarang akan tetap
berlangsung seumur hidup,
bagaimana perasaan anda

1x

2x

3x

4x

5x

Sangat
senang

Cukup
senang

Biasa
saja

Agak tidak Tidak


senang
menyenangk
an

Sangat
tidak
menyena
ngkan

Adapun Derajat berat BPH menurut Sjamsuhidajat (2005) dibedakan menjadi 4 stadium:

Stadium I
Ada obstruktif tapi kandung kemih
masih mampu mengeluarkan
urine sampai habis.
Stadium II
Ada retensi urine tetapi kandung
kemih mampu mengeluarkan
urine walaupun tidak sampai
habis, masih tersisa kira-kira 60150 cc. Ada rasa ridak enak BAK
atau disuria dan menjadi nocturia.
Stadium III
Setiap BAK urine tersisa kira-kira
150 cc.
Stadium IV
Retensi urine total, buli-buli penuh
pasien tampak kesakitan, urine
menetes secara periodik (over
flowin kontinen).

KOMPLIKASI

Infeksi saluran kemih


Gagal ginjal akut atau kronis
Hernia dan hemoroid
Stasis urine dalam vesika urinaria akan
membentuk batu endapan yang menambah
keluhan iritasi dan hematuria.
Stasis urin dalam vesika urinaria menjadikan
media pertumbuhan mikroorganisme, yang
dapat menyebabkan sistisis dan bila terjadi
refluks menyebabkan pyelonefritis
(sjamsuhidajat, 2005)

PE
ME
RIK
SA
AN
PE
NU
NJA
NG

A
n
a
m
n
es
a
Pe
m
er
ik
sa
an
Fi
si
k

Kumpulan gejala pada BPH dikenal dengan


LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms)
antara lain: hesitansi, pancaran urin lemah,
intermittensi, terminal dribbling, terasa ada
sisa setelah miksi disebut gejala obstruksi
dan gejala iritatif dapat berupa urgensi,
frekuensi serta disuria.

Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan


suhu
Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual
untuk mengetahui adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis
Rectal touch / pemeriksaan colok dubur
Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya
epididimitis
Penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose
meatus, striktur uretra, batu uretra, karsinoma maupun
fimosis

PE
ME
RIK
SA
AN
PE
NU
NJA
NG

Pe
me
rik
sa
an
La
bo
rat
ori
um

Pe
me
rik
sa
an
Ur
of
ow
me
tri

melemahnya pancaran urin. Secara


obyektif pancaran urin dapat diperiksa
dengan uroflowmeter dengan penilaian :

Pemeriksaan darah lengkap, faal ginjal,


serum elektrolit dan kadar gula digunakan
untuk memperoleh data dasar keadaan
umum klien.
Pemeriksaan urin lengkap dan kultur.
PSA (Prostatik Spesific Antigen) penting
diperiksa sebagai kewaspadaan adanya
keganasan.
Salah
satu gejala dari BPH adalah

Flow rate maksimal > 15 ml / dtk = non


obstruktif.
Flow rate maksimal 10 15 ml / dtk = border
line.
Flow rate maksimal < 10 ml / dtk = obstruktif.

PE
ME
RIK
SA
AN
PE
NU
NJA
NG

Pe
me
rik
sa
an
Im
ag
in
g
da
n
Ro
nt
ge
no
lo
gi
k

BOF (Buik Overzich ) :Untuk melihat


adanya batu dan metastase pada tulang.
USG (Ultrasonografi), digunakan untuk
memeriksa konsistensi, volume dan
besar prostat juga keadaan buli buli
termasuk residual urin. Pemeriksaan
dapat dilakukan secara transrektal,
transuretral dan supra pubik.
IVP (Pyelografi Intravena)
Digunakan untuk melihat fungsi exkresi
ginjal dan adanya hidronefrosis.
Pemeriksaan Panendoskop
Untuk mengetahui keadaan uretra dan
buli buli.

PENATALAKSANAAN
Menurut Sjamsuhidjat (2005) dalam
penatalaksanaan pasien dengan BPH tergantung pada
stadium-stadium dari gambaran klinisa

Stadium I
Pada stadium ini biasanya belum memerlukan
tindakan bedah, diberikan pengobatan konservatif,
misalnya menghambat adrenoresptor alfa, seperti
alfazosin dan terazosin
Stadium II
Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan
pembedahan biasanya dianjurkan reseksiendoskopi
melalui uretra (trans uretra).
Stadium III
Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan
dan apabila diperkirakan prostat sudah cukupbesar,
sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam
Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah
membebaskan penderita dari retensi urin total
dengan memasang kateter atausistotomi.

PE
NA
TAL
AK
SA
NA
AN

Ob
ser
va
si

Me
dik
a
m
en
tos
a

Kurangi minum setelah makan malam,


hindari obat dekongestan, kurangi kopi,
hindari alkohol,tiap 3 bulan kontrol
keluhan, sisa kencing dan colok dubur

Penghambat alfa (alpha blocker)


Penghambat 5-Reduktase (5-Reductase

inhibitors)

Terapi KombinasiTerapi kombinasi


antara penghambat alfa dan
penghambat 5-Reduktase

Fitoterapi

PE
NA
TAL
AK
SA
NA
AN

Ter
api
Be
da
h

Ter
api
Inv
asi
f
Mi
ni
m
al

TURP (Trans Uretral Resection


Prostatectomy)
Prostatektomi Suprapubis
Prostatektomi Retropubis
Prostatektomi Peritoneal
Prostatektomi retropubis radikal
Trans Uretral Mikrowave Thermotherapy (TUMT)
Yaitu pemasangan prostat dengan gelombang
mikro yang disalurkan ke kelenjar
prostatmelalui antena yang dipasang
melalui/pada ujung kateter.
Trans Uretral Ultrasound Guided Laser Induced
Prostatectomy (TULIP)
Trans Uretral Ballon Dilatation(TUBD)

Pengkajian, Klasifikasi data, Diagnosa


Keperawatan dan Perencanaan

1.

Pengkajian
Riwayat kesehatan
Pengkajian fisik
Kaji pemeriksaan diagnostik
Kaji tingkat pemahaman dan
pengetahuan klien dan keluarga
tentang keadaan dan prosespenyakit,
pengobatan dan cara perawatan
dirumah.

Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul


adalah sebagai berikut
Pre Operasi :
Obstruksi akut / kronis berhubungan

dengan obstruksi mekanik,


pembesaran prostat,dekompensasi
otot destrusor dan ketidakmapuan
kandung kemih unmtuk berkontraksi
secara adekuat.
Nyeri ( akut ) berhubungan dengan
iritasi mukosa buli buli, distensi
kandung kemih, kolik ginjal, infeksi
urinaria.
Resiko tinggi kekurangan cairan
berhubungan dengan pasca obstruksi
diuresis..
Ansietas berhubungan dengan
perubahan status kesehatan atau
menghadapi prosedur bedah
Kurang pengetahuan tentang
kondisi ,prognosis dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan
kurangnya informasi

Post Operasi :
Nyeri berhubungan dengan spasmus
kandung kemih dan insisi sekunder
pada TUR-P
Resiko tinggi infeksi berhubungan
dengan prosedur invasif: alat selama
pembedahan, kateter, irigasi
kandung kemih sering.
Resiko tinggi cidera: perdarahan
berhubungan dengan tindakan
pembedahan
Resiko tinggi disfungsi seksual
berhubungan dengan ketakutan
akan impoten akibat dari TUR-P.
Kurang pengetahuan: tentang TUR-P
berhubungan dengan kurang
informasi
Gangguan pola tidur berhubungan
dengan nyeri sebagai efek
pembedahan

Klasifikasi Data

Kriteria
Sebelum Operasi

Data Subjektif
Data Objektif
Nyeri atau terasa panas saat Ekspresi wajah tampak
berkemih

menahan nyeri

Pancaran urine melemah

Merasa tidak puas sehabis miksi,


kandung kemih tidak kosong
dengan baik

Kalau

mau

miksi

harus

menunggu lama

Jumlah urin menurun dan harus


mengedan saat berkemih

Aliran

urine

lancar/terputus-putus

tidak

Terpasang kateter

Urin

terus

menetes

setelah

berkemih

Merasa letih, tidak nafsu makan,


mual dan muntah.

Klien

merasa

cemas

dengan

pengobatan yang akan dilakukan.

Sesudah Operasi

Klien mengatakan nyeri pada

Ekspresi wajah tampak

luka post operasi

menahan nyeri

Klien mengatakan tidak tahu

Ada luka post operasi

tentang

tertutup balutan

diet

setelah operasi

dan

pengobatan

Tampak lemah

Terpasang selang irigasi,


kateter infus.

Perencanaan Sebelum Operasi


No

Masalah Keperawatan

(1)
1

(2)
Obstruksi akut/kronis berhubungan
dengan obstruksi mekanik,
pembesaran prostat, dekompensasi
otot detrusor dan ketidakmampuan
kandung kemih untuk secara
adekuat.

Tujuan

Perencanaan

Kriteria hasil

(3)
(4)
Tidak terjadi obstruksi Berkemih dalam jumlah yang 1.
cukup, tidak teraba distensi
kandung kemih
2.

3.
4.
5.

Intervensi
(5)
Dorong pasien untuk berkemih tiap
2-4 jamdan bila tiba-tiba dirasakan.
Observasi aliran urin
perhatianukuran dan kekuatan
pancaran urine.
Awasi dan catat waktu serta jumlah
setiap kali berkemih.
Berikan cairan sampai300mlper hari
dalam toleransi jantung.
Beri obat sesuai indikasi

1.
2.
3.

4.

5.

Nyeri (akut) berhubungan dengan


iritasi mukosa buli-buli, distensi
kandung kemih, kolik ginjal, infeksi
urinaria.

Nyeri
hilang/terkontrol

Klien melaporkan nyeri


hilang/terkontrol,menunjukan
ketrampilan relaksasi dan
aktivitas teraupetik sesuai
indikasi untuk situasi
individu. Tampak rileks,
tidur atau istirahat dengan
tepat.

1.
2.

3.
4.

5.
6.

Kaji nyeri,perhatikan lokasi,


intensitas (0-10).
Pertahankan paatensi kateter dan
sistem drainase. Pertahankanselang
bebas dari lekukan dan bekuan.
Pertahankan tirah baring bila
diindikasikan.
Berikan tindakan
kenyamanan(sentuhan teraupetik,
pengubahan posisi, pijatan
punggung) dan aktivitas teraupetik.
Berikan rendam duduk atau lampu
penghangat bila diindikasikan.
Kolaborasi dalam pemberian
antispasmodik.

1.

2.

3.
4.

5.

6.

Rasional
(6)
Meinimalkan retensi urin distensi
berlebihan pada kandung kemih.
Untuk mengevaluasi obstruksi dan pilihan
intervensi.
Retensi urin meningkatkan tekanan dalam
saluran perkemihan yang dapat
mempengaruhi fungsi ginjal.
Peningkatan aliran cairan meningkatkan
perfusi ginjal serta membersihkan ginjal ,
kandung kemih dari pertumbuhan bakteri.
Mengurangi spasme kandung kemih dan
mempercepat penyembuhan

Nyeri tajam ,intermitten dengan dorongan


berkemih/masase urin sekitar kateter
menujukan spasme buli-buli, yang
cenderung lebih berat pada pendekatan
TURP(biasanya menurun dalam 48 jam).
Mempertahankan fungsi kateter dan
drainase sistem,menurunkan resiko
distensi/spasmebuli-buli.
Diperlukan selama fase awal selama fase
akut.
Menurunkan tegangan otot, memfokuskan
kembali perhatian dan dapat meningkatkan
kemampuan koping.
Menigkatkan perfusi jaringan dan
perbaikan edema serta meningkatkan
penyembuhan(pendekatan perineal)
Menghilangkan spasme

N
o
(1
)
3

Perencanaan

Masalah
Keperawatan

Tujuan

Kriteria hasil

(2)

(3)

(4)

Resiko tinggi
kekurangan cairan
yang berhubungan
dengan pasca
obstruksi diuresis.

Keseimbangan cairan
tubuh tetap terpelihara

Mempertahankan
hidrasi adekuat
dibuktikan
dengan :tandatanda vital
stabil,nadi perifer
teraba, pengisian
perifer baik,
membran mukosa
lembab dan
keluaran urin tepat.

1.

Ansietas
Pasien tampak rileks
berhubungan dengan
perubahan status
kesehatan atau
menghadapi
prosedur bedah

Menyatakan
pengetahuan yang
akurat tentang
situasi,
menunjukkan
rentang yang yang
tepat tentang
perasaan dan
penurunan rasa
takut

1.

Kurang pengetahuan Menyatakan pemahaman


tentang kondisi
tentang proses penyakit
,prognosis dan
dan prognosisnya
kebutuhan
pengobatan
berhubungan dengan
kurangnya informasi

Melakukan
1.
perubahan pola
hidup atau prilasku 2.
ysng perlu,
berpartisipasi
dalam program
pengobatan

Intervensi

Rasional

(5)

(6)

Awasi keluaran tiap jam bila


diindikasikan. Perhatikankeluaran
100-200 ml.
2.
Pantau masukan dan haluaran urin.
3.
Awasi tanda-tanda vital, perhatikan
peningkatan nadi dan pernapasan,
penurunan tekanan darah,
diaforesis, pucat.
4.
Tingkatkan tirah baring dengan
kepala lebih tinggi.
Kolaborasi dalam memantau
pemeriksan laboratorium sesui
indikasi,contoh: Hb/Ht, jumlah sel
darah merah. Pemeriksaan koagulasi,
jumlah trombosit

2.

3.

1.

2.
3.
4.
5.

Diuresis yang cepat dapat mengurngkan


volume total karena ketidakcukupan
jumlah natrium diabsorbsi tubulus
ginjal.
Indikator keseimbangan cairan dan
kebutuhan penggantian.
Deteksi dini terhadap hipovolemik
sistemik
Menurunkan kerja jantung
memudahkan homeostasis sirkulasi.
Berguna dalam evaluasi kehilangan
darah /kebutuhan penggantian. Serta
dapat mengindikasikan terjadinya
komplikasi misalnya penurunan faktor
pembekuan darah.

Dampingi klien dan bina hubungan 1.


saling percaya
Memberikan informasi tentang
2.
prosedur tindakan yang akan
dilakukan.
3.
Dorong pasien atau orang terdekat
untuk menyatakan masalah atau
perasaan

Menunjukka perhatian dan keinginan


untuk membantu
Membantu pasien dalam memahami
tujuan dari suatu tindakan
Memberikan kesempatan pada pasien
dan konsep solusi pemecahan masala

Dorong pasien menyatakan rasa


takut persaan dan perhatian.
Kaji ulang proses
penyakit,pengalaman pasien

Membantu pasien dalam mengalami


perasaan
Memberikan dasar pengetahuan dimana
pasien dapat membuat pilihan informasi
terapi

1.
2.

Perencanaan Sesudah Operasi


No
(1)
1

Masalah
Keperawatan
(2)
Nyeri berhubungan
dengan spasmus
kandung kemih dan
insisi sekunder pada
TUR-P

Perencanaan
Tujuan
(3)
Nyeri
berkurang
atau hilang

Kriteria hasil
(4)
o Klien mengatakan
nyeri berkurang /
hilang.
o Ekspresi wajah
klien tenang.
o Klien akan
menunjukkan
ketrampilan
relaksasi.
o Klien akan tidur /
istirahat dengan
tepat.
o Tanda tanda
vital dalam batas
normal.

Intervensi
1.
2.

3.

4.
5.

6.

7.

8.
9.

(5)
Jelaskan pada klien tentang gejala
dini spasmus kandung kemih
Pemantauan klien pada interval
yang teratur selama 48 jam, untuk
mengenal gejala gejala dini dari
spasmus kandung kemih
Jelaskan pada klien bahwa
intensitas dan frekuensi akan
berkurang dalam 24 sampai 48 jam
Beri penyuluhan pada klien agar
tidak berkemih ke seputar kateter
Anjurkan pada klien untuk tidak
duduk dalam waktu yang lama
sesudah tindakan TUR-P
Ajarkan penggunaan teknik
relaksasi, termasuk latihan nafas
dalam, visualisasi
Jagalah selang drainase urine tetap
aman dipaha untuk mencegah
peningkatan tekanan pada kandung
kemih. Irigasi kateter jika terlihat
bekuan pada selang
Observasi tanda tanda vital.
Kolaborasi dengan dokter untuk
memberi obat obatan (analgesik
atau anti spasmodik ).

Rasional
1.
2.

3.
4.
5.
6.

7.

8.
9.

(6)
Kien dapat mendeteksi gajala dini
spasmus kandung kemih.
Menentukan terdapatnya spasmus
sehingga obat obatan bisa
diberikan
Memberitahu klien bahwa
ketidaknyamanan hanya temporer
Mengurang kemungkinan
spasmus
Mengurangi tekanan pada luka
insisi
Menurunkan tegangan otot,
memfokuskan kembali perhatian
dan dapat meningkatkan
kemampuan koping
Sumbatan pada selang kateter
oleh bekuan darah dapat
menyebabkan distensi kandung
kemih dengan peningkatan
spasme
Mengetahui perkembangan lebih
lanjut.
Menghilangkan nyeri dan
mencegah spasmus kandung
kemih

Resiko tinggi
infeksi
berhubungan
dengan prosedur
invasif: alat selama
pembedahan,
kateter, irigasi
kandung kemih
sering.

Klien tidak
menunjukkan tanda
tanda infeksi

Klien tidak
mengalami
infeksi.
Dapat mencapai
waktu
penyembuhan.
Tanda tanda
vital dalam batas
normal dan tidak
ada tanda
tanda shock

1.

2.

3.
4.

5.
6.

Resiko tinggi
cidera: perdarahan
berhubungan
dengan tindakan
pembedahan

Tidak terjadi
perdarahan

Klien tidak
menunjukkan
tanda tanda
perdarahan .
Tanda tanda
vital dalam batas
normal .
Urine lancar
lewat kateter

1.

2.
3.

4.

5.

6.

Pertahankan sistem kateter steril,


berikan perawatan kateter dengan
steril
Anjurkan intake cairan yang cukup
( 2500 3000 ) sehingga dapat
menurunkan potensial infeksi
Pertahankan posisi urobag dibawah
Observasi tanda tanda vital,
laporkan tanda tanda shock dan
demam
Observasi urine: warna, jumlah,
bau
Kolaborasi dengan dokter untuk
memberi obat antibiotik

1.

Jelaskan pada klien tentang sebab


terjadi perdarahan setelah
pembedahan dan tanda tanda
perdarahan
Irigasi aliran kateter jika terdeteksi
gumpalan dalm saluran kateter
Sediakan diet makanan tinggi serat
dan memberi obat untuk
memudahkan defekasi
Mencegah pemakaian termometer
rektal, pemeriksaan rektal atau
huknah, untuk sekurang
kurangnya satu minggu
Pantau traksi kateter: catat waktu
traksi di pasang dan kapan traksi
dilepas
Observasi: Tanda tanda vital tiap
4 jam,masukan dan haluaran dan
warna urine

1.

2.

3.

4.
5.
6.

2.

3.

4.
5.

6.

Mencegah pemasukan bakteri dan


infeksi
Meningkatkan output urine sehingga
resiko terjadi ISK dikurangi dan
mempertahankan fungsi ginjal.
Menghindari refleks balik urine yang
dapat memasukkan bakteri ke
kandung kemih
Mencegah sebelum terjadi shock
Mengidentifikasi adanya infeksi
Untuk mencegah infeksi dan
membantu proses penyembuhan

Menurunkan kecemasan klien dan


mengetahui tanda tanda perdarahan
Gumpalan dapat menyumbat kateter,
menyebabkan peregangan dan
perdarahan kandung kemih.
Dengan peningkatan tekanan pada
fosa prostatik yang akan
mengendapkan perdarahan .
Dapat menimbulkan perdarahan
prostat
Traksi kateter menyebabkan
pengembangan balon ke sisi fosa
prostatik, menurunkan perdarahan.
Umumnya dilepas 3 6 jam setelah
pembedahan
Deteksi awal terhadap komplikasi,
dengan intervensi yang tepat
mencegah kerusakan jaringan yang
permanen.

o
Resiko tinggi Fungsi seksual
disfungsi
dapat dipertahankan
seksual
o
berhubungan
dengan
ketakutan
o
akan impoten
akibat dari
TUR-P
o

Kurang
pengetahuan:
tentang TURP
berhubungan
dengan

Klien dapat
menguraikan
pantangan kegiatan
serta kebutuhan
berobat lanjutan

o
o
o

kurang
Kebutuhan tidur dan o
informasi
istirahat terpenuhi
Gangguan
o
pola tidur
berhubungan
o
dengan
nyeri / efek
pembedahan

Klien tampak rileks dan


melaporkan kecemasan
menurun .
Klien menyatakan
pemahaman situasi
individual .
Klien menunjukkan
keterampilan pemecahan
masalah .
Klien mengerti tentang
pengaruh TUR P pada
seksual.

1.

Klien akan melakukan


perubahan perilaku.
Klien berpartisipasi dalam
program pengobatan.
Klien akan mengatakan
pemahaman pada pantangan
kegiatan dan kebutuhan
berobat lanjutan

1.

Klien mampu beristirahat /


tidur dalam waktu yang
cukup.
Klien mengungkapan sudah
bisa tidur .
Klien mampu menjelaskan
faktor penghambat tidur

2.

3.
4.

2.

3.
4.
5.

1.

2.
3.
4.

Beri kesempatan pada klien untuk


memperbincangkan tentang pengaruh TUR P
terhadap seksual
Jelaskan tentang : kemungkinan kembali
ketingkat tinggi seperti semula dan kejadian
ejakulasi retrograd (air kemih seperti susu)
Mencegah hubungan seksual 3-4 minggu
setelah operasi
Dorong klien untuk menanyakan kedokter
salama di rawat di rumah sakit dan kunjungan
lanjutan

1.
2.

Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat


selama 3-4 minggu
Beri penjelasan untuk mencegah mengedan
waktu BAB selama 4-6 minggu; dan memakai
pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan
Pemasukan cairan sekurangkurangnya 25003000 ml/hari
Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter
Kosongkan kandung kemih apabila kandung
kemih sudah penuh

1.
2.

Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab


gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk
menghindari
Ciptakan suasana yang mendukung, suasana
tenang dengan mengurangi kebisingan
Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan
penyebab gangguan tidur
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian
obat yang dapat mengurangi nyeri
( analgesik ).

1.

3.
4.

3.
4.
5.

2.
3.
4.

Untuk mengetahui masalah klien


Kurang pengetahuan dapat
membangkitkan cemas dan
berdampak disfungsi seksual
Bisa terjadi perdarahan dan
ketidaknyamanan.
Untuk mengklarifikasi kekhatiran
dan memberikan akses kepada
penjelasan yang spesifik.

Dapat menimbulkan perdarahan


Mengedan bisa menimbulkan
perdarahan, pelunak tinja bisa
mengurangi kebutuhan mengedan
pada waktu BAB
Mengurangi potensial infeksi dan
gumpalan darah
Untuk menjamin tidak ada
komplikasi
Untuk membantu proses
penyembuhan
meningkatkan pengetahuan klien
sehingga mau kooperatif dalam
tindakan perawatan
Suasana tenang akan mendukung
istirahat
Menentukan rencana mengatasi
gangguan
Mengurangi nyeri sehingga klien
bisa istirahat dengan cukup

Terima Kasih