Anda di halaman 1dari 60

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Laporan Tahunan

Pusat Pemetaan Batas Wilayah


TAHUN 2014

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Pengarah
Ir. Tri Patmasari, M.Si

Tim Editor
Lulus Hidayatno, M.Tech
Guritno Bintar, M.Agr
Farid Yuniar, ST, M.Eng
Fahrul Hidayat, ST
Andriyana Lailissaum, ST

Desain & Tata Letak


Agus Setiawan (Coqelat)

ii

| Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Kata
Pengantar

uji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah


SWT yang telah memberikan rahmat dan
kemudahan sehingga buku laporan tahunan
Pusat Pemetaan Batas Wilayah 2015 dapat
disusun. Buku ini menyajikan hasil kegiatan yang
dilaksanakan oleh PPBW BIG selama kurun waktu
anggaran tahun 2014.


PPBW pada tahun 2014 melaksanakan
kegiatan batas Negara dan batas wilayah administrasi sesuai dengan Peraturan
Kepala BIG nomor 3 tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Informasi
Geospasial. Kegiatan pemetaan batas Negara meliputi kegiatan batas maritim dan
batas darat melalui kegiatan-kegiatan delimitasi batas maritim, pemetaan pulau-pulau
terluar, survei demarkasi batas darat, pemasangan Border Sign Post dan serangkaian
perundingan dengan negara-negara tetangga. Kegiatan batas maritim didukung juga
dengan kegiatan kajian batas landas kontinen di luar 200 mil laut.

Sejak diberlakukannya otonomi daerah, batas wilayah berperan penting dalam
perhitungan Dana Alokasi Umum (DAU). Oleh karena itu, pada tahun anggaran 2014
sebagai kelanjutan dari kegiatan yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya,
PPBW juga melakukan kegiatan pemetaan batas wilayah administrasi yang terdiri
dari kegiatan penataan batas dengan pemasangan pilar-pilar batas di beberapa
kecamatan, pemetaan wilayah otonom, provinsi, kabupaten, dan kota. Pada tahun
2014, PPBW melaksanakan kegiatan ajudikasi batas desa untuk Kabupaten Bandung
Barat.
Cibinong, Maret 2015
Kepala Pusat
Pemetaan Batas Wilayah
Ir. Tri Patmasari, M.Si

Badan Informasi Geospasial |

iii

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Badan
Informasi
Geospasial
Visi:
Menjadi Lembaga Penggerak dan Terdepan Dalam Penyelenggaraan Informasi
Geospasial yang Andal, Terintegrasi dan Mudah Dimanfaatkan.

Misi:
Meningkatkan koordinasi dan kapasitas kelembagaan, sumberdaya manusia,
kualitas penelitian dan pengembangan dalam penyelenggaraan informasi geospasial
yang efektif, efisien, dan sistematis serta mendorong pemanfaatan informasi
geospasial.
Membangun data dan informasi geospasial yang berkualitas dan berkelanjutan
dengan multi-resolusi dan multi-skala dalam satu referensi tunggal, serta mudah
dimanfaatkan secara cepat dan dapat dipertanggungjawabkan untuk mendukung
pembangunan nasional.

iv

| Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Pusat Pemetaan
Batas Wilayah
Tugas Pokok
Pusat Pemetaan Batas Wilayah mempunyai tugas melaksanakan penyiapan
penyusunan rencana dan program, perumusan dan pengendalian kebijakan teknis,
pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan penggunaan data dan informasi
geospasial dasar, serta penyiapan pelaksanaan penelitian dan pengembangan, dan
pelaksanaan kerja sama teknis di bidang pemetaan batas wilayah.

Fungsi
1. Penyusunan rencana dan program di bidang pemetaan batas wilayah;
2. Penyiapan perumusan dan pengendalian kebijakan teknis di bidang pemetaan batas
wilayah;
3. Penyusunan norma, pedoman, prosedur, standar, dan spesifikasi di bidang pemetaan
batas wilayah;
4. Pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, dan penggunaan data dan informasi
geospasial dasar di bidang pemetaan batas wilayah;
5. Pemutakhiran data dan informasi geospasial dasar di bidang pemetaan batas
wilayah; dan
6. Pelaksanaan kerja sama teknis dengan badan atau lembaga pemerintah, swasta,
dan masyarakat di dalam dan/atau luar negeri di bidang pemetaan batas wilayah.

Tugas Pokok Tiap Bidang


1. Bidang Pemetaan Batas Negara

Bidang Pemetaan Batas Negara mempunyai tugas melaksanakan penyiapan bahan
penyusunan rencana dan program, perumusan dan pengendalian kebijakan teknis,
penyusunan norma, pedoman, prosedur, standar, dan spesifikasi, pengumpulan,
pengolahan, penyimpanan, penggunaan, dan pemutakhiran data dan informasi
geospasial dasar, serta pelaksanaan kerja sama teknis dengan badan atau lembaga
pemerintah, swasta, dan masyarakat di dalam dan/atau luar negeri di bidang pemetaan
batas negara.

2. Bidang Pemetaan Batas Wilayah Administrasi


Bidang Pemetaan Batas Wilayah Administrasi mempunyai tugas melaksanakan
penyiapan bahan penyusunan rencana dan program, perumusan dan pengendalian
kebijakan teknis, penyusunan norma, pedoman, prosedur, standar, dan spesifikasi,
pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, penggunaan, dan pemutakhiran data dan
informasi geospasial dasar, serta pelaksanaan kerja sama teknis dengan badan atau
lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat di dalam dan/atau luar negeri di bidang
pemetaan batas wilayah administrasi.

Badan Informasi Geospasial |

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Daftar Isi
Kata Pengantar............................................................................................... iii
Badan Informasi Geospasial........................................................................... iv
Pusat Pemtaan Batas Wilayah....................................................................... v
Daftar Isi........................................................................................................ v
1. Pendahuluan ........................................................................................... 1
2. Batas Negara............................................................................................ 3
2.1. Batas Maritim................................................................................... 4
1. Pemetaan Pulau-pulau Terluar........................................................... 4
2. Fasilitasi Perundingan....................................................................... 8
3. Kajian Batas Maritim......................................................................... 12
2.2. Batas Darat....................................................................................... 14
1. Batas antara Indonesia-Malaysia....................................................... 15
2. Batas Darat antara Indonesia Timor Leste..................................... 20
3. Batas Wilayah Administrasi...................................................................... 29
1.1. Pelacakan Batas Desa/Kelurahan..................................................... 30
1.2. Pembuatan Peta Wilayah Kecamatan/Kelurahan dan Ajudikasi di
Lapangan.......................................................................................... 31
1.3. Tata Batas Wilayah Kecamatan......................................................... 32
1.4. Pembuatan Peta Koridor Provinsi, Kabupaten / Kota dan Ajudikasi
di Lapangan...................................................................................... 35
Pemetaan Wilayah Daerah Otonom Provinsi dan Kabupaten/Kota.......... 39
1.5.
1.6. Pemutakhiran dan Integrasi Data Batas Wilayah............................. 42
4. Penutup .................................................................................................... 45

vi

| Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Pendahuluan

ndonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau, dengan


luas daratan 1.910.000 km2, luas lautan 6.279.000 km2. Indonesia juga
berbatasan dengan10 negara, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam,

Filipina, Palau, Papua Nugini, Timor Leste, Australia dan India. Potensi sumber daya
alam yang terkandung pada wilayah Indonesia beragam jenis dan jumlah. Pendataan
kondisi dan potensi tersebut harus dilakukan untuk memajukan pembangunan
dengan mengunakan informasi yang bersifat keruangbumian. Data yang bersifat
keruangbumian disebut juga Informasi Geospasial, dimana sesuai dengan amanat
yang terkandung dalam UU Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial
memiliki makna informasi yang disusun dengan merujuk pada ruang kebumian
dan waktu tertentu.

Gambar 1. Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia

Badan Informasi Geospasial |

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Berdasarkan UU Nomor 4 Tahun 2011 tentang IG, IG dibagi menjadi dua, yaitu

Informasi Geospasial Dasar (IGD) dan Informasi Geospasial Tematik (IGT). IGD
sebagaimana diatur dalam pasal 5 meliputi: jaring kontrol geodesi dan peta dasar.
Peta dasar, dalam pasal 12, terdiri atas: garis pantai, hipsografi, perairan, nama
rupabumi, batas wilayah, transportasi dan utilitas, bangunan dan fasilitas umum,
dan penutup lahan. Informasi batas wilayah pada peta dasar merupakan tanggung
jawab yang diemban oleh Pusat PemetaanBatas Wilayah (PPBW). Dalam pasal
55 Peraturan Kepala (Perka) Badan Informasi Geospasial (BIG) No.3 Tahun 2012,
disebutkan PPBW mempunyai tugas untuk melaksanakan penyiapan penyusunan
rencana program, perumusan dan pengendalian kebijakan teknis, pengumpulan,
pengolahan, penyimpanan, dan penggunaan data dan informasi geospasial dasar,
serta penyiapan pelaksanaan penelitian dan pengembangan, dan pelaksanaan
kerjasama teknis di bidang pemetaan batas wilayah. PPBW BIG terdiri dari dua
bidang, yaitu bidang pemetaan batas Negara dan Bidang pemetaan batas wilayah
administrasi. Laporan tahunan PPBW BIG 2014 ini disusun dengan mendasarkan
pada kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh kedua bidang tersebut.

| Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Batas
Negara

ilayah NKRI di darat mengikuti


prinsip hukum international uti
posideti yuris, yakni wilayah
Indonesia mewarisi wilayah kedaulatan eks
Hindia Belanda yang berbatasan dengan tiga
negara tetangga, yaitu: Malaysia, Papua Nugini,
dan Timor Leste. Penegasan batas antara RIMalaysia mengacu pada traktat tahun 1891
antara Belanda dan Inggris di Pulau Borneo,
antara RI-PNG mengikuti Konvensi tahun 1895
antara Belanda dan Inggris di Pulau Papua,
sedangkan RI-Timor Leste mendasarkan pada
traktat tahun 1904 antara Belanda dan Portugis
di Pulau Timor.
Indonesia mempunyai batas maritim
dengan 10 negara tetangga, yakni: India,
Thailand, Malaysia, Singapura, Viet Nam,
Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia dan
Timor Leste. Sejak diberlakukannya Hukum
Laut International (UNCLOS-1982), Indonesia
mendapatkan pengakuan international sebagai
salah satu negara kepulauan di dunia.

Badan Informasi Geospasial |

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Kegiatan pemetaan batas negara meliputi dua kegiatan yaitu batas maritim
dan batas darat. Pada kegiatan batas maritim, terdapat pekerjaan pemetaan
pulau terluar, fasilitasi perundingan, dan kajian batas maritim. Kegiatan batas
darat meliputi kegiatan: Survei Common Border Datum Reference Frame (CBDRF),
Survei demarkasi, Perawatan dan pemasangan Border Sign Post (BSP), Joint
Border Mapping (JBM) dan fasilitasi perundingan batas darat.

Batas Maritim
1. Pemetaan Pulau-Pulau Terluar

Indonesia telah menetapkan 195 Titik Dasar (TD) yang terletak pada pulaupulau terluar beserta dengan garis pangkal yang menghubungkan antar TD
(garis pangkal biasa dan garis pangkal kepulauan). 195 Titik Dasar berikut garis
pangkal tersebut telah disubmisikan ke Sekretariat PBB pada tahun 2009. Untuk
melakukan penataan dan pengelolaan perbatasan khususnya wilayah pulau
terluar diperlukan adanya dukungan data geospasial yang memadai, oleh karena
itu diperlukan pembuatan peta skala besar untuk setiap lokasi pulau-pulau
terluar.
Dalam kurun waktu antara tahun 2003 sampai dengan 2014 Pusat Pemetaan
Batas Wilayah telah menyelesaikan pembuatan peta pulau-pulau terluar sejumlah
127 pulau terluar dengan skala bervariasi mulai dari 1 : 500 sampai dengan skala
1 : 15.000 tergantung pada cakupan wilayah/luas yang dipetakan.
Pelaksanaan pemetaan untuk setiap lokasi pulau-pulau terluar difokuskan
pada wilayah sekitar dimana terdapat TD. Tabel 1 menunjukkan daftar pulau
terluar, lokasi pemetaan disajikan pada gambar 2 dan gambar 3. Gambar 4 sampai
dengan gambar 6 menunjukkan ortofoto, peta ortofoto, dan peta garis dari salah
satu pulau terluar yang dilakukan pemetaan.

| Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Tabel 1. Pemetaan Pulau Terluar tahun 2014


No

Nama Pulau

Jumlah
Lajur

Jumlah
Foto

Skala
Peta

Jumlah
Lembar

Tg. Batur (P. Jawa)

7 run

352 exp.

1 : 1.500

1 nlp

Tg. Ngeres Langu (P. (Jawa)

29 run

1428 exp.

1 : 2.900

1 nlp

Tg Batu Tugur (P. Jawa)

9 run

419 exp.

1 : 1.000

1 nlp

Tg. Legok Jawa (P. Jawa)

10 run

265 exp.

1 : 1.250

1 nlp

Tg. Tawulan (P. Jawa)

13 run

395 exp.

1 : 1.000

1 nlp

Tg. Gedeh (P. Jawa)

14 run

507 exp.

1 : 2.700

1 nlp

Ug. Genteng (P. Jawa)

9 run

466 exp.

1 : 2.000

1 nlp

Tg. Guhakolak (P. Jawa)

8 run

372 exp.

1 : 4.250

1 nlp

Ug. Welor (P. Sumatera)

7 run

342 exp.

1 : 1.450

1 nlp

10

Tg. Batu Monga (P. Pagai Utara)

23 run

2668 exp.

1 : 7.000

1 nlp

Gambar 2. Indeks kegiatan pemetaan pulau terluar

Badan Informasi Geospasial |

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 3. Indeks kegiatan pemetaan pulau terluar

Gambar 4. Ortofoto Tg. Batur Kab. Gunung Kidul Prov. D.I. Yogyakarta

| Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 5. Peta foto Tg. Batur Kab. Gunung Kidul Prov. D.I. Yogyakarta

Gambar 6. Peta garis Tg. Batur Kab. Gunung Kidul Prov. D.I. Yogyakarta
Badan Informasi Geospasial |

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

2. Fasilitasi Perundingan
Pada tahun 2014 intensitas perundingan teknis batas maritim Indonesia
dengan negara tetangga dapat dikatakan lebih intensif tahun lalu. Namun
pada tahun 2014 ada beberapa capaian kesepakatan batas maritim antara
lain ditandatanganinya Perjanjian Batas Laut Teritorial antara Indonesia dan
Singapura di Segmen Timur Selat Singapura pada tanggal 3 September 2013 dan
ditandatanganinya Perjanjian Batas Zona Ekonomi Eksklusif antara Indonesia dan
Filipina pada tanggal 23 Mei 2014.
Tabel 2. Daftar perundingan batas maritim tahun 2014
No

Perundingan

Waktu & Tempat

Keterangan

RI-MALAYSIA
1

Informal Consultation of the Technical Jakarta, 26 Mei 2014 Anggota Delri


Meeting on Maritime Boundaries
Delimitation

Intersessional Technical Meeting on Bandung, 25-26 Juni Anggota Delri


Maritime Boundaries Delimitation 2014
between the Republic of Indonesia and
Malaysia

Informal Consultation of Technical Putrajaya, Malaysia, Anggota Delri


Meeting on Maritime Boundaries 19 September 2014
Delimitation BetweenMalaysia and the
Republic of Indonesia.
RI-SINGAPURA

Technical Discussions on Maritime Medan, Indonesia, Anggota Delri


Boundaries Between The Republic of
Singapore and the Republic of Indonesia 18-19 Agustus 2014
in the Eastern Part of the Strait of
Singapore, Tenth Round
RI- FILIPINA

The Second Preparatory Meeting of the Jakarta, 7 9 Januari Anggota Delri


8th Joint Permanent Working Group on 2014
Maritime and Ocean Concerns (JPWGMOC) between the Republic of Indonesia
and the Republic of the Philippines.

| Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

The Third Preparatory Meeting of the Jakarta, 4 5 April Anggota Delri


8th Joint Permanent Working Group on 2014
Maritime and Ocean Concerns (JPWGMOC) between the Republic of Indonesia
and the Republic of the Philippines.

The Fourth Preparatory Meeting of the Jakarta, 17 Mei 2014 Anggota Delri
8th Joint Permanent Working Group on
Maritime and Ocean Concerns (JPWGMOC) between the Republic of Indonesia
and the Republic of the Philippines.

The 8th Joint Permanent Working Group Jakarta, 18 Mei 2014 Anggota Delri
on Maritime and Ocean Concerns (JPWGMOC) between the Republic of Indonesia
and the Republic of the Philippines

2.1 Hasil Pertemuan Teknis Batas Maritim Indonesia-Malaysia

Gambar 7. Joint Verification Work Tanjung Datu

Pada tahun 2014


pertemuan teknis batas
maritim Indonesia dan
Malaysia hanya berupa
pertemuan informal
dan pertemuan antara.
Pertemuan-pertemuan
tersebut dilaksanakan
untuk membahas masalah
te r ka i t p e m b a n g u n a n
konstruksi rambu suar
navigasi oleh Malaysia.
Dalam pertemuan informal
tersebut dihasilkan record
of discussion yang memuat
keputusan dilaksanakan
Joint Verification Work
sesuai dengan Scope of
Work yang telah disepakati
kedua negara dan diakhiri
dengan keputusan bahwa
Malaysia harus membongkar

konstruksi rambu suar yang paling lambat sampai tanggal 20 Oktober 2014 dan
Malaysia telah membongkar konstruksi rambu suar tersebut pada tanggal 18
Oktober 201

Badan Informasi Geospasial |

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

2.2 Hasil Pertemuan Teknis Batas Maritim Indonesia-Singapura


Delimitasi batas laut teritorial Indonesia-Singapura di segmen Selat
Singapura bagian Timur 1 berjalan sekitar tiga tahun yaitu dimulai pada pertemuan
teknis ke-1 tanggal 13-14 Juni 2011 di Singapura sampai dengan pertemuan teknis
Indonesia-Singapura yang ke-10 pada tanggal 18-19 Agustus 2014 di Medan serta
berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian antara Republik Indonesia dan
Republik Singapura tentang Penetapan Garis Batas Laut Wilayah di Bagian Timur
Selat Singapura pada tanggal 3 September 2014.

Gambar 8. Peta Lampiran Perjanjian antara Republik Indonesia dan Republik Singapura
tentang Penetapan Garis Batas Laut Wilayah di Bagian Timur Selat Singapura

10 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

2.3 Hasil Pertemuan Teknis Batas Maritim Indonesia-Filipina


Selama 2014 kedua negara telah melakukan beberapa kali pertemuan
untuk membahas kelanjutan segmen batas yang belum disepakati. Hingga
akhirnya kedua negara sepakat akan seluruh segmen batas dan kedua kepala
negara menandatangani Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan
Pemerintah Republik Filipina mengenai Penetapan Batas Zona Ekonomi Ekslusif
pada tanggal 23 Mei 2014 di Manila.

Gambar 9. Penandatanganan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah


Republik Filipina mengenai Penetapan Batas Zona Ekonomi Ekslusif

Badan Informasi Geospasial | 11

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 10. Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Filipina
mengenai Penetapan Batas Zona Ekonomi Ekslusif dan Lampiran Peta Persetujuan

2.4 Audiensi Tim Teknis Delimitasi Batas Maritim dengan Presiden SBY
Pada tanggal 13 Oktober 2014, telah dilaksanakan audiensi Tim Teknis
Penetapan Batas Maritim Republik Indonesia dengan Presiden Republik
Indonesia.Pada kesempatan ini disampaikan beberapa hasil yang telah dicapai
oleh Indonesia dalam penetapan batas maritim selama periode kepemimpinan
Presiden SBY yaitu periode Kabinet Indonesia Bersatu I (2004-2009) dan Kabinet
Indonesia Bersatu II (2009-2014).

Presiden SBY pada audiensi ini menyerukan Malaysia untuk segera
menyelesaikan sengketa perbatasan yang masih tersisa dengan serius, semangat
tinggi, dan ketulusan. Seperti yang telah berhasil dilakukan dengan Filipina,
Singapura dan Timor-Leste. Dalam kesempatan ini, Presiden SBY memuji kinerja
Tim Teknis Penetapan Batas Maritim Republik Indonesia dan menyebut Tim
negosiator sebagai pahlawan dibalik layar.

3. Kajian Batas Maritim


Pada tahun 2013 dan 2014, tim LKI melakukan survey seismic di utara
Papua untuk mengambil data-data yang diperlukan. Selain data batimetri, data
geologi dan geofisik yang relevan, sangat diperlukan untuk dapat menjadi bukti
ilmiah apakah kondisi fisik untuk klaim perpanjangan atas landas kontinen dapat
dipenuhi. Selain itu juga tim LKI telah melakukan kajian potensi landas kontinen

12 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

ekstensi yang bisa diklaim oleh Indonesia di utara Papua, serta menyiapkan draft
dokumen submisi dan basis data berbasiskan Sistim Informasi Geografis (GIS).
Kegiatan ini pada hakikatnya adalah kelanjutan dari kegiatan kajian LKI
Ekstensi di utara Papua tahun 2013. Pada kegiatan Kajian LKI tahun ini dilaksanakan
pertemuan interkementerian sebanyak 3 kali dengan kementerian terkait. Selain
itu dilaksanakan juga survey seismik dan batimetri di lokasi yang diperkirakan
sebagai foot of slope (FOS) di perairan di utara Papua. Survey dilaksanaakn
pada tanggal 23 Maret 2014 sampai dengan 11 April 2014, menggunakan kapal
Geomarin III milik P3GL.

Gambar 11. Lokasi Kajian LKI >200 NM Tahun 2014

Badan Informasi Geospasial | 13

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 12. Rute Survei LKE di Utara Papua Tahun 2014

Hasil dari kegiatan Dokumen Kajian LKI>200NM adalah:


a. Dokumen Pengolahan Kajian LKI Tahun 2014
b. Draft Dokumen Submisi LKE di Utara Papua

Batas Darat

Indonesia mempunyai batas darat dengan 3 (tiga) negara tetangga yaitu
Malaysia, Papua Nugini, dan Timor-Leste. Kegiatan batas darat untuk tahun
anggaran 2014 meliputi:
Survei Common Border Datum Reference Frame (CBDRF)
Survei demarkasi
Perawatan dan pemasangan Border Sign Post (BSP)
Joint Border Mapping (JBM)
Perundingan Batas Darat

14 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

1. Batas Darat antara Indonesia - Malaysia


Selama tahun 2014, kegiatan Batas Darat Indonesia dan Malaysia di Pulau
Kalimantan terdiri dari kegiatan survei CBDRF, Pemetaan Koridor Batas JBM, dan
Perundingan. Di samping itu PPBW juga ikut aktif dalam kegiatan Joint Working
Group - Outstanding Boundary Problems (JWG-OBP) untuk menyelesaikan
segmen batas yang belum disepakati.
Survei CBDRF
Dalam penataan batas antar negara ada beberapa alasan tentang pentingnya
datum bersama yang direalisasikan di lapangan dengan CBDRF untuk kegiatan
penentuan posisi serta survei pemetaan, yaitu :
1) Untuk memberikan sistem dan kerangka koordinat referensi yang seragam
dan konsisten untuk keperluan pengadaan data dan informasi spasial, baik
berupa koordinat titik-titik batas, peta batas, maupun sistem informasi batas.
2) Untuk meminimalkan konflik batas dengan adanya data dan informasi spasial
batas yang mengacu pada suatu datum bersama yang terdefinisi secara baik
dan akurat.
Untuk mendapatkan koordinat pilar batas RI Malaysia dalam CBDRF, maka
seluruh pilar batas RI Malaysia; yaitu sebanyak 19.328 pilar idealnya diukur
posisinya dengan metoda GPS. Pengukuran GPS pilar batas sebanyak 19.328 pilar
batas bila dilakukan pengukuran sebanyak 35 pilar per tahun, maka diperlukan
waktu selama 600 tahun untuk menyelesaikannya secara keseluruhan. Dengan
demikian, maka secara bertahap dilakukan pengukuran GPS CBDRF pada pilar
batas RI Malaysia yang hasilnya dipakai untuk penelitian perhitungan parameter
transformasi koordinat pilar-pilar batas tersebut yang pada gilirannya apabila
ketelitian hasil hitungan parameter yang dihasilkan memenuhi persyaratan
ketelitian yang disetujui oleh kedua belah pihak, maka tidak perlu dilakukan
pengukuran GPS seluruh pilar batas RI Malaysia sebanyak 19.328 pilar.
Pada tahun anggaran 2014, kegiatan survei CBDRF RI Malaysia dilaksanakan
disepanjang garis batas RI - Malaysia dengan volume keseluruhan sebanyak 35
(tiga puluh lima) pilar batas Negara. Lokasi kegiatan CBDRF RI Malaysia tahun
anggaran 2014 dapat dilihat seperti yang tercantum dalam gambar di bawah ini:

Badan Informasi Geospasial | 15

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 13. Lokasi Kegiatan Survei CBDRF dan Distribusi Titik Sekutu CBDRF RI-Malaysia yang Telah Dibangun

Lokasi kegiatan survei CBDRF RI Malaysia secara keseluruhan dibagi menjadi


2 (dua) sektor, yaitu :
a. Sektor Barat (Kalimantan Barat Sarawak)
b. Sektor Timur (Kalimantan Utara Sabah)

Gambar 14. Lokasi Kegiatan Survei CBDRF RI-Malaysia di Sektor Barat

16 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 15. Lokasi Kegiatan Survei CBDRF RI-Malaysia di Sektor Timur

Joint Border Mapping (JBM)


Peta Joint Border Mapping (JBM) merupakan peta rupabumi yang khusus
menampilakan wilayah sepanjang garis batas dengan koridor tertentu, dan
merupakan peta gabungan antara kedua negara berbatasan, dan melalui
mekanisme perundingan antar kedua negara
Berdasarkan data koordinat UTM yang diukur menggunakan GPS geodetic sesuai
Referensi Datum Geodesi Nasional tahun 1995 (DGN-95) / WGS84 dan data IFSAR
tahun 2008, panjang garis batas RI-PNG yaitu sepanjang 819.4 Km yang terdiri dari
tiga segmen garis batas. Segmen pertama dari utara mengikuti meridian astronomis
1410000 BT sampai dengan pertemuan dengan Sungai Fly bagian utara sepanjang
411 Km, kemudian segmen garis batas di sepanjang Sungai Fly sepanjang 161 Km
dan trakhir setelah Sungai Fly pada meridian astronomis 1410110BT adalah 247
Km. Dalam rangka menyelesaikan demarkasi batas Indonesia (RI) dan Papua New
Guinea (PNG) tersebut diatas, telah dilaksanakan berbagai pertemuan bilateral
secara intensif. Salah satu hasil pertemuan Sub Komite Teknis Bersama (JTSC)
RI-PNG pada bulan Desember 2005 di Port Moresby, PNG adalah mengkaji serta
melengkapi kembali peta-peta perbatasan antara RI-PNG atau disebut dengan Peta
Koridor Perbatasan (Joint Border Mapping/JBM).

Badan Informasi Geospasial | 17

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Untuk merelisasikan kelengkapan peta-peta dan pemutakhiran peta-peta


perbatasan RI-PNG, maka sejak tahun 2007 dilaksanakan pemutakhiran peta
perbatasan dengan volume sebanyak 8 NLP kemudian dilanjutkan pada tahun
2009 dilaksanakan dengan volume sebanyak 14 NLP, dan terakhir pada tahun 2011
sebanyak 5 NLP.
Karena perkembangan waktu dan teknologi, terutama berkaitan dengan
teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dan citra resolusi tinggi yang semakin
bagus kualitasnya, pada tahun 2013 telah dilakukan pemutakhiran Peta JBM RIPNG yang dilengkapi dengan citra resolusi tinggi untuk sheet no 8-15 serta dibuat
dengan menggunakan software SIG dan sudah dilengkapi dengan basis data
spasialnya. Sesuai dengan RPJM, Pada tahun 2014 ini dilanjutkan kegiatan yang
sama sebanyak 5 NLP untuk sheet no. 16-20. Koridor Perbatasan RI-Malaysia di Kab.
Malinau, Provinsi Kalimantan Utara sebanyak 10 NLP mulai dari sheet 26-35.

Gambar 20.
Ilustrasi Lokasi
Pekerjaan
Pemasangan dan
Perawatan BSP
tahun 2013

Gambar 16. Indeks JBM RI-Malaysia Skala 1:50.000

Outstanding Boundary Problem (OBP)


Pelaksanaan demarkasi batas darat Indonesia Malaysia dimulai tahun 1975
sampai tahun 2001; dari Tanjung Datu di Pulau Kalimantan bagian Barat sampai
Sungai Ular di bagian Timur Pulau Kalimantan.

Pelaksanaan demarkasi di sepanjang garis batas negara tersebut yang telah

18 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

dilaksanakan selama 26 tahun, menghasilkan 19.328 pilar batas negara dan


menyisakan 9 segmen batas yang bermasalah (OBP) dan 1 diusulkan Indonesia
menjadi segmen OBP yang kesepuluh. Segmen OBP tersebut, 5 (lima) segmen
berada di sektor Barat dan 5 (lima) segmen di sektor Timur.
Sejalan dengan berkembangnya hubungan antar bangsa khususnya Indonesia
dan Malaysia, dirasa pentingnya untuk segera menyelesiakan permasalahan
batas (OBP) tersebut secepatnya, melalui JWG - OBP. Pihak Malaysia mengusulkan
untuk menyelesaikan masalah OBP ini dibagi dalam 2 tahapan penyelesaian, yang
pertama untuk menyelesaikan OBP sektor Timur terlebih dahulu, kemudian
setelah sektor Timur selesai, dilanjutkan untuk menyelesaikan OBP Sektor
Barat.
JWG-OBP merupakan organisasi yang dibentuk oleh pemerintah RI dan
Malaysia khusus untuk menyelesaikan sengketa batas kedua Negara. Guna
mendukung JWG-OBP Indonesia dalam merumuskan strategi alternatif
penyelesaian OBP Sektor Timur, selain dengan mempelajari semua referensireferensi dan data pendukung tentang OBP Sektor Timur yang ada, perlu
dilakukan penelitian terhadap aspek-aspek batas yang bermasalah dengan cara
melaksanakan peninjauan dan survei lapangan. Dimana hasil dari kegiatan ini
nantinya dapat memperkaya data yang Indonesia miliki guna mendukung tugas
JWG-OBP Indonesia dalam merumuskan penyelesaian OBP Sektor Timur.
Survei OBP tahun 2014 mengukur 24 titik yang menjadi permasalahan OBP
dan mengeplotnya ke NLP Sungai Sinapad, Simantipal dan NLP Pulau Sebatik
dengan lokasi pekerjaan berada di Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau
Provinsi Kalimantan Utara.

Gambar 17. Indeks Lokasi Survei OBP

Badan Informasi Geospasial | 19

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

2. Batas Darat antara Indonesia Timor Leste


Survei Demarkasi dan Delineasi
Kegiatan survei demarkasi ini dilaksanakan di wilayah Provinsi NTT, di sepanjang
garis batas RI-RDTL di sektor timur, yaitu Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka.
Kegiatan survei delineasi ini dilaksanakan di wilayah Provinsi NTT, di sepanjang
garis batas RI-RDTL di sektor barat, yaitu Kabupaten Timor Tengah Utara.

Gambar18. Survei Demarkasi dan Delineasi

Pekerjaan Survei Demarkasi dan Survei Delineasi Batas Negara RI-RDTL


tahun 2014 terdiri dari beberapa sub-kegiatan diantaranya :
1. Meeting for Operations Planning of Joint Demarcation and Delineation
Survey RDTL and RI,
2. Joint Field Identification of Demarcation Survey for 160 Markers,
3. Joint Field Identification of Delineation Survey,
4. Joint Construction of 160 Demarcation Markers,
5. Joint GPS Survey of 160 Demarcation Markers,
6. Informal Meeting on The Joint Field Survey.
Jumlah pilar yang dipasang dalam survei demarkasi adalah sebanyak 160 buah
dengan komposisi 80 buah dipasang oleh RI dan 80 buah oleh RDTL. Sedangkan
panjang garis yang akan disurvei dan penetapan titik-titik yang ditargetkan dalam
survei delineasi adalah sejauh +/- 18 km.
20 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 19. Foto Tim Survei Delineasi RI- RDTL

Gambar 20. Proses Pengukuran GPS Survei Demarkasi

Badan Informasi Geospasial | 21

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Perawatan dan pemasangan Border Sign Post (BSP)


Volume pekerjaan pembuatan dan pemasangan BSP yang harus dikerjakan
adalah sebanyak 80 buah BSP dengan lokasi pemasangan BSP meliputi dua tempat,
yaitu segmen sebelah barat sebanyak 56 buah BSP di desa Naikake B dan Naikake B
dekat Pos Pamtas Oepoli Sungai serta di segmen sebelah timur sebanyak 24 buah
BSP di antara Pos Wini sampai Pos Napan Bawah. Sedangkan BSP yang dirawat
sebanyak 50 buah BSP yang tersebar di antara Pos Wini sampai Pos Napan Bawah.

Gambar 21.
Indeks Lokasi
Pembuatan dan
Pemasangan BSP

Gambar 22.
Indeks Lokasi
Perawatan BSP

22 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

a. Batas Darat Indonesia Papua Nugini


Lokasi Pemetaan Koridor Perbatasan RI-PNG sebanyak 5 NLP mulai dari RI-PNG
16 sd. RI-PNG 20 Lokasi di Kab. Bovendigoel dan Kab. Merauke, Provinsi Papua

Gambar 2.3. Indeks Lokasi Pemetaan JBM RI-PNG

Survei CBDRF Indonesia Papua Nugini


Pekerjaan Common Border Datum and Reference Frame (CBDRF) dimulai
sejak tahun 2004 sampai sekarang menggunakan metode survei GPS, hasilnya
tahun 2004 sebanyak 11 titik koordinat, tahun 2005 hasilnya 14 titik koordinat,
tahun 2006 hasilnya 3 titik koordinat . Pada tahun 2007 hasilnya 5 titik koordinat
sedangkan pekerjaan tahun 2009 hasilnya 5 titik koordinat. Pada tahun 2011
berhasil melaksanakan pengukuran sebanyak 5 MM, yaitu tepatnya pengukuran
pada MM7.3, MM7.4, MM7.5, MM10, MM11a. sedangkan pada tahun 2012 ,
pelaksanaan pengukuran dilakukan di MM5.1 pada titik MM6A , MM6.2 rusak/
hilang tergerus oleh arus sungai
stacking out dan pengukuran pilar CBDRF batas negara antara RI-PNG sebanyak
5 pilar MM. Tujuannya untuk mendapatkan data ukuran koordinat pilar batas dalam
sistem global (WGS-84) guna memperkuat landasan perundingan batas negara
darat.

Badan Informasi Geospasial | 23

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 2.4 Lokasi Pengukuan Monumen Batas RI-PNG

pengukuran pilar batas RI-PNG terdiri dari 5 titik, yaitu 2 titik memasang dan
mengukur monumen sebagai pengganti monumen yang hilang yaitu MM11.1 dan
MM11.2 dan 3 titik pengukuran yaitu MM7.0, MM7.1 dan MM7.2
Rekapitulasi Perundingan Teknis Batas Darat 2014
No

Perundingan

Waktu & Tempat

Keterangan

RI-MALAYSIA
1

Special Discussion for Jakarta, Indonesia, 18-20 P e l a k s a n a /


Ketua Delri
the Joint Border Mapping Maret 2014
(JBM) Project between
Indonesia (Kalimantan Timur
& Kalimantan Barat) and
Malaysia (Sabah & Sarawak)

Special Discussion for the Langkawi, Malaysia,


Joint Border Mapping (JBM)
Project between Malaysia 9 11 September 2014
(Sabah & Sarawak)and
Indonesia (Kalimantan Timur
& Kalimantan Barat)

24 | Badan Informasi Geospasial

Ketua Delri

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Special Discussion of Jakarta, Indonesia, 18-20 P e l a k s a n a /


Ketua Delri
Common Border Datum Maret 2014
Reference Frame (CBDRF)
Project between Indonesia
(Kalimantan Timur &
Kalimantan Barat) and
Malaysia (Sabah & Sarawak)

Special Discussion of Langkawi, Malaysia,


Common Border Datum
Reference Frame (CBDRF) 9 11 September 2014
Project between Malaysia
(Sabah & Sarawak) and
Indonesia (Kalimantan Timur
& Kalimantan Barat)

Ketua Delri

Eleventh Meeting of the Joint Bandung, Indonesia,


Working Group (JWG) for
the Common Border Datum 28 30 Oktober 2014
Reference Frame (CBDRF)
and Joint Border Mapping
(JBM) between Indonesia
(Kalimantan Timur &
Kalimantan Barat) and
Malaysia (Sabah & Sarawak)

Anggota Delri

Sixth Meeting of the Joint K u c h i n g , S a r a w a k , Anggota Delri


Working Group on the Malaysia, 23 - 24 Januari
Outstanding Boundary 2014
Problems on the Joint
Demarcation and Survey of
the International Boundary
Between Malaysia (Sabah)
and Indonesia (Kalimantan
Timur)

Seventh Meeting of the Medan, Sumatera Utara, Anggota Delri


Joint Working Group on Indonesia, 19 - 21 Agustus
the Outstanding Boundary 2014
Problems on the Joint
Demarcation and Survey of
the International Boundary
Between Indonesia
(Kalimantan Timur) and
Malaysia (Sabah)

Badan Informasi Geospasial | 25

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Fifth Meeting of the Joint Bali, Indonesia


Working Group on the
Outstanding Boundary 25 - 26 November 2013
Problems on the Joint
Demarcation and Survey of
the International Boundary
Between Malaysia (Sabah)
and Indonesia (Kalimantan
Timur)

Anggota Delri

The Forty Fourth Meeting Melaka, Malaysia,


of the Joint Indonesia
- M a l a y s i a B o u n d a r y 4 - 6 November 2014
Technical Committee on the
Demarcation and Survey of
the International Boundary
between Malaysia (Sabah
& Sarawak)and Indonesia
(Kalimantan Timur &
Kalimantan Barat)

Anggota Delri

10

The Thirty Nineth Meeting of Kota Bharu, Malaysia, 26-29 Anggota Delri
the Joint Indonesia - Malaysia November 2014
Boundary Committee on the
Demarcation and Survey of
the International Boundary
between Indonesia
(Kalimantan Timur &
Kalimantan Barat) and
Malaysia (Sabah & Sarawak)

11

The Fiftieth Meeting of the Kota Kinabalu, Sabah, Anggota Delri


Co-Project Directors for Malaysia, 2 4 September
Sarawak and Kalimantan 2014
Barat on the Demarcation
and Survey of the
International Boundary
between Malaysia (Sarawak)
and Indonesia (Kalimantan
Barat)

RI-PAPUA NEW GUINEA


12

The 31 th Joint Border Port Moresby, Papua New Anggota Delri


Committee Meeting between Guinea, 14 Agustus 2014
the Independent State of
Papua New Guinea and the
Republic of Indonesia

RI-TIMOR LESTE

26 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

13

The 27th Technical Sub- S u r a b a y a , 2 6 - 2 7


C o m m i t t e e o n B o r d e r Februari 2014
Demarcation and Regulation
(TSCBDR) Between the
Republic of Indonesia and
the Democratic Republic of
Timor-Leste

Pelaksana/
Ketua Delri

i. Pertemuan Teknis Batas Darat Indonesia-Malaysia


Beberapa hasil nyata pelaksanaan pertemuan teknis batas darat Indonesia
dengan Malaysia pada tahun 2014 antara lain:

JBM
1. Publikasi lembar peta nomor 2-13 dan lembar peta no. 41-43.
2. Diselesaikan Final Hardcopy Proofs untuk peta nomor 14-16 dan 36-37
3. Diselesaikan Final Verification Plots unttuk peta nomor 17-21.

CBDRF
Capaian yang didapat, sejak tahun 2009 2014, kedua negara sudah menyelesaikan
kompilasi data sebanyak 14.606 pillar, atau 74.7% dari total pilar keseluruhan.

Badan Informasi Geospasial | 27

ii. Hasil Pertemuan Teknis Batas Darat Indonesia-Timor-Leste


Pertemuan teknis batas darat dengan Timor-Leste pada tahun 2014 bersifat
melanjutkan kegiatan di tahun 2013. Pada tahun 2014 pertemuan teknis batas
darat RI-RDTL terselenggara sebanyak satu kali pertemuan Sehingga pada tahun
ini terdapat satu records of discussion sebagai hasil pertemuan teknis batas darat
Indonesia dengan RDTL dan juga telah selesainya kegiatan pemetaan JBM project
yang menghasilkan peta JBM kedua negara.

iii. Hasil Pertemuan Teknis Batas Darat Indonesia-PNG


Pertemuan teknis batas darat antara Indonesia dengan PNG pada tahun 2014
telah terlaksana sebanyak satu pertemuan yaitu pertemuan JBC. Pada pertemuan
tersebut telah dihasilkan beberapa keputusan yang dapat dijadikan referensi bagi
pelaksanaan kegiatan dan pertemuan teknis batas darat antara Indonesia dan
PNG pada tahun 2015.

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Batas Wilayah
Administrasi

ejak diberlakukannya otonomi daerah,


batas wilayah berperan penting dalam
perhitungan Dana Alokasi Umum (DAU),
perijinan pertambangan dan bagi hasil migas.
Oleh karena itu, belum ditegaskannya batas
daerah dapat menyebabkan konflik baik di
tingkat masyarakat, pengusaha, ataupun antar
pemerintah daerah yang berbatasan. Terkait
dengan batas wilayah, Undang-undang nomor
32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
menyebutkan:
Daerah Otonom adalah kesatuan masyarakat
hukum yang mempunyai batas-batas wilayah
yang berwenang mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa
sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat
dalam sistem NKRI,

Undang-Undang pembentukan daerah antara


lain mencakup nama, cakupan wilayah, batas,
ibukota, kewenangan penyelenggaraan
urusan pemerintahan, penunjukan pejabat
kepala daerah, pengisian keanggotaan DPRD,
pengalihan kepegawaian, pendanaan, dan
dokumen serta perangkat daerah.

Badan Informasi Geospasial | 29

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014


Selanjutnya pedoman penegasan batas daerah diatur dalam Permendagri
nomor 1 tahun 2006 yang kemudian diganti dengan permendagri nomor 76 tahun
2012 sebagai upaya untuk mempercepat penyelesaian permasalahan batas daerah
dengan dimungkinkannya metode kartometrik.
1.1 Pelacakan Batas Desa/Kelurahan

Kerangka berpikir dari kegiatan pelacakan batas desa/kelurahan ini adalah
mempercepat penegasan garis batas wilayah administrasi sehingga kebutuhan
data geospasial khusunya layer batas wilayah hingga unit terkecil desa/kelurahan
yang memiliki kekuatan hukum/definitif segera terpenuhi. Pelacakan batas desa/
kelurahan yang dilakukan pada tahun 2014 menjadikan Kabupaten Bandung Barat
sebagai lokasi pelaksanaan sekaligus percontohan pelacakan seluruh batas desa
dalam satu kabupaten.

Tujuan kegiatan pelacakan batas desa/kelurahan di Kabupaten Bandung Barat
adalah menyediakan data geospasial berupa koordinat titik batas dan deliniasi garis
batas kecamatan/kelurahan/desa secara kartometrik dengan menyajikannya pada
peta citra. Pelacakan desa/kelurahan di Kabupaten Bandung Barat ini mencakup
16 kecamatan dan 165 desa/kelurahan.

Tahun 2014
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kecamatan Lembang
Kecamatan Parongpong
Kecamatan Cisarua
Kecamatan Ngamprah
Kecamatan Cikalong Wetan
Kecamatan Padalarang
Kecamatan Cipatat
Kecamatan Cipeundeuy

30 | Badan Informasi Geospasial

9. Kecamatan Batujajar
10. Kecamatan Cihampelas
11. Kecamatan Cililin
12. Kecamatan Sindangkerta
13. Kecamatan Gununghalu
14. Kecamatan Rongga
15. Kecamatan Cipongkor
16. Kecamatan Saguling

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

1.2 Pembuatan Peta Wilayah Kecamatan/Kelurahan dan Ajudikasi di Lapangan



Kegiatan Pembuatan Peta Wilayah Kecamatan/Kelurahan dan Ajudikasi di
Lapangan ini adalah untuk penetapan batas kecamatan/kelurahan/desa (KKD)
dalam rangka percepatan implementasi dari permendagri nomor 27 tahun 2006,
dan tujuannya adalah menyediakan data geospasial berupa koordinat titik batas
dan deliniasi garis batas kecamatan/kelurahan/desa dengan metode kartometris1
dan ajudikasi di lapangan. Selanjutnya, hasil tersebut disajikan pada peta wilayah
administrasi kecamatan/kelurahan/desa. Metode tersebut dengan menggunakan
data batas indikatif dari KKD pada peta rupabumi skala 1:25.000 dan dilengkapi
citra resolusi tinggi dan Digital Elevation Model (DEM) yang tersedia.

Ajudikasi batas KKD ini dimaksudkan untuk penetapan batas KKD dalam
rangka percepatan implementasi dari UU no 6 tahun 2014 tentang desa dan usaha
percepatan penetapan dan penegasan batas sesuai Permendagri nomor 27 tahun
2006 dengan memasukkan unsur kartometrik yang mengacu pada permendagri
76 tahun 2012. Kegiatan ini bertujuan untuk menyediakan data geospasial berupa
koordinat titik batas dan deliniasi garis batas KKD secara kartometrik dengan
memanfaatkan data terbaik yang tersedia.

Kegiatan ajudikasi batas KKD ini merupakan kegiatan baru, yang mulai
dilaksanakan pada tahun anggaran 2013 di 4 kabupaten/kota, meliputi 7 kecamatan
dan 47 kelurahan/desa. Sedangkan pada tahun 2014, kegiatan ajudikasi ini mencakup
4 kabupaten/kota meliputi 4 kecamatan dan 33 desa/kelurahan. Berikut adalah
lokasi kegiatan ajudikasi batas KKD tahun 2013 dan 2014:
Tahun 2013
1. Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor
2. Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul
3. Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten
Bantul
4. Kecamatan Tandes, Kota Surabaya
5. Kecamatan Benowo, Kota Surabaya
6. Kecamatan Tembalang, Kota Semarang
7. Kecamatan Candisari, Kota Semarang

Tahun 2014
1. Kecamatan Rajapolah, Kabupaten
Tasikmalaya
2. Kecamatan Karangmojo, Kabupaten
Gunungkidul
3. Kecamatan Pekalongan Barat, Kota
Pekalongan
4. Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik


Lokasi kegiatan ajudikasi batas KKD tahun 2013 di Kabupaten Bogor (Kecamatan
Cibinong), di Kabupaten Bantul (Kecamatan Bantul dan Bambanglipuro), di Kota
Surabaya (Kecamatan Tandes dan Benowo) di Kota Semarang (Kecamatan Tembalang
dan Candisari).

1 Sesuai dengan Permendagri 76 tahun 2012 tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah. Metode

kartometrik dicoba diterapkan untuk batas wilayah administrasi desa/kelurahan, sebagai bagian
usaha untuk percepatan batas wilayah administrasi yang aktual dan cukup akurat.
Badan Informasi Geospasial | 31

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 26. Lokasi kegiatan ajudikasi batas Kecamatan dan Kelurahan

Gambar 27. Contoh Peta Citra Ortho hasil ajudikasi batas Kecamatan/Kelurahan

1.3 Tata Batas Wilayah Kecamatan



Penataan batas kecamatan dimaksudkan untuk memfasilitasi percepatan
penanganan batas dalam lingkup kecamatan di daerah otonom, dengan mengunakan
32 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

data geospasial yang akurat. Output penataan batas kecamatan adalah terpasangnya
pilar batas antar kecamatan dalam lingkup daerah otonom kota/kabupaten dan
tersedianya peta wilayah kecamatan skala 1:25.000.

Kegiatan Tata Batas Kecamatan mulai dilaksanakan pada tahun anggaran
2012, 2013, dan dilanjutkan pada tahun 2014. Kegiatan ini juga dimaksudkan
untuk menstimulasi daerah agar mempercepat penegasan batas kecamatannya,
dan diharapkan berlanjut ke batas kabupaten/kota.

Berikut adalah lokasi kegiatan Tata Batas Kecamatan dan distribusi pemasangan
pilar batas kecamatan yang telah dilaksanakan dari tahun 2012 sampai 2014:

Tahun 2012
1. Kecamatan
Pamulang,
Kabupaten
Tangerang
2. Kecamatan Soreang,
Kabupaten Bandung
3. Kecamatan
Binangun, Kabupaten
Cilacap
4. Kecamatan
Rembang, Kabupaten
Rembang
5. Kecamatan Ngaglik,
Kabupaten Sleman
6. Kecamatan Buduran,
Kabupaten Sidoarjo
7. Kecamatan
Lumajang,
Kabupaten Lumajang

Tahun 2013

Tahun 2014

1. Kecamatan Pataruman,
Kota Banjar

1. Kecamatan Pekalongan
Utara, Kota Pekalongan

2. Kecamatan Pedurungan, 2. Kecamatan Pekalongan


Barat, Kota Pekalongan
Kota Semarang
3. Kecamatan Pekalongan
3. Kecamatan Jebres, Kota
Selatan, Kota Pekalongan
Surakarta
4. Kecamatan Pekalongan
4. Kecamatan Banjarsari,
Timur, Kota Pekalongan
Kota Surakarta
5. Kecamatan
5. Kecamatan Jetis,
Duduksampeyan,
Kabupaten Bantul
Kabupaten Gresik
6. Kecamatan Pleret,
Kabupaten Bantul

6. Kecamatan Karangmojo,
Kabupaten Gunungkidul

7. Kecamatan, Kabupaten
Jember Umbulsari

7. Kecamatan Ponjong,
Kabupaten Gunungkidul

8. Balung, Kabupaten
Jember

8. Kecamatan Rajapolah,
Kabupaten Tasikmalaya

Badan Informasi Geospasial | 33

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 23. Peta Lokasi Kegiatan Tata Batas 2014

Gambar 24. Pilar Penataan Batas

34 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 25. Contoh Peta Wilayah Administrasi Kecamatan

1.4 Pembuatan Peta Koridor Provinsi, Kabupaten / Kota dan Ajudikasi di Lapangan

Pada era otonomi daerah, penentuan batas wilayah administrasi dan batas
kewenangan pengelolaan wilayah laut daerah merupakan kegiatan yang sangat
penting untuk referensi berbagai macam keperluan, antara lain: tata kelola
pemerintahan yang baik, perhitungan luas sebagai parameter DAU, pembuatan peta
Tata Ruang, penerbitan ijin pertambangan, penyajian data statistik dan lain-lain.
Kegiatan ini menjadi sangat strategis, dan harus dilaksanakan dengan kualitas yang
memadai sesuai aspek teknis pemetaan. Terbitnya Permendagri no. 76 tahun 2012
mengenai pedoman penegasan batas daerah memberikan perubahan mendasar
dalam metode pelaksanaan penetapan dan penegasan batas daerah yaitu dengan
dimungkinkannya metode kartometrik disamping metode pelacakan langsung di
lapangan. Penentuan koordinat titik dan garis batas secara kartometrik, tidak berarti
mengabaikan kualitas hasilnya dengan peta seadanya, namun metode kartometrik
ini harus juga ditunjang ditunjang data dan verifikasinya oleh pemerintah daerah,
termasuk dengan menyertakan data tambahan berupa peta digital tiga dimensi,
DEM, foto udara dan citra satelit dan data toponim yang memadai. Kegiatan ajudikasi
Badan Informasi Geospasial | 35

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

batas ini ditujukan menyediakan data batas yang lebih baik dari yang ditampilkan
di peta rupabumi untuk dapat dipakai dalam proses penegasan batas daerah yang
disajikan dalam bentuk peta koridor batas. Meskipun penengasan batas dianggap
demikian penting, namun progres penegasan batas masih terhitung kurang cepat.
Saat ini baru sekitar 27% dari total seluruh segmen batas daerah yang sudah berhasil
ditegaskan.

Pembuatan Peta Koridor Kabupaten / Kota dan Ajudikasi Di Lapangan bertujuan
untuk mendapatkan data batas wilayah administrasi Kabupaten / Kota yang memiliki
akurasi tinggi guna mempercepat kegiatan penegasan batas daerah.

Pada tahun 2014, kegiatan ajudikasi batas provinsi ini dilaksanakan di 5
segmen provinsi di Pulau Sulawesi. Sedangkan ajudikasi batas kabupaten/kota
dilaksanakan di provinsi Sulawesi Selatan untuk memetakan peta koridor batas
kabupaten/kota sebanyak 13 NLP.
Ajudikasi Provinsi (Tahun 2014)

Ajudikasi Kabupaten/Kota (Tahun 2014)

Administrasi 1

Administrasi 2

Administrasi 1

Administrasi 2

Provinsi Gorontalo

Provinsi Sulawesi
Utara

Kota Makasar

Kab. Gowa

Provinsi Sulawesi
Tengah

Provinsi Sulawesi
Selatan

Provinsi Sulawesi
Selatan

Provinsi Sulawesi
Barat

Provinsi Gorontalo

Provinsi Sulawesi
Tenggara

Provinsi Sulawesi
Barat

Provinsi Sulawesi
Tengah

36 | Badan Informasi Geospasial

Kab. Bone

Kab. Sinjai

Kab. Bone

Kab. Maros

Kab. Bulukumba

Kab. Sinjai

Kab. Bone

Kab. Soppeng

Kab. Barru

Kab. Bone

Kab. Barru

Kab. Sidrap-Parepare

Kab. Barru

Kab. Sopeng

Kab. Bone

Kab. Wajo

Kab. Bantaeng

Kab. Jeneponto

Kab. Gowa

Kab. Sinjai

Kab. Gowa

Kab. Bone

Kab. Barru

Kab. Pangkep

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 28. Lokasi kegiatan ajudikasi batas provinsi dan kabupaten/kota

Gambar 29. Koridor batas Provinsi Gorontalo Sulawesi Tengah

Badan Informasi Geospasial | 37

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 30. Koridor batas kabupaten/kota yang telah disepakati di atas peta

Gambar 31. Koridor batas kabupaten/kota yang belum disepakati di atas peta

38 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

1.5 Pemetaan Wilayah Daerah Otonom Provinsi dan Kabupaten/Kota



Sampai saat ini wilayah NKRI terbagi menjadi 34 provinsi dan 512 kabupaten/
kota, dengan pemekaran daerah-daerah otonom baru terus diusulkan dengan
tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan
kualitas pelayan masyarakat serta pengembangan demokrasi di daerah.
Di tahun anggaran 2014 Pusat Pemetaan Batas Wilayah melakukan kegiatan
pemetaan wilayah provinsi sejumlah 20 NLP (lihat Gambar 32 dan 33), pemetaan
wilayah kabupaten sejumlah 60 NLP dan pemetaan wilayah kota sejumlah 27 NLP
(lihat Gambar 34 dan 35).

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyiapkan peta wilayah daerah Otonom
Provinsi, Kabupaten dan Kota dengan mengunakan peta dasar dan data kewilayahan
dari pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan PP 78 tahun 2007. Ketersediaan
Peta Daerah Otonom Baru diharapkan dapat mempercepat penyediaan peta DOB
sebagai syarat dalam proses pemekaran daerah yang diusulkan oleh Pemerintah
Pusat atau DPR RI.

Gambar 32. Indeks pemetaan derah otonom provinsi tahun 2002-2014

Badan Informasi Geospasial | 39

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 33. Indeks Status pemetaan derah otonom provinsi tahun 2002-2014

Gambar 34. Indeks pemetaan daerah otonom kabupaten/kota tahun 2014

40 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 35. Indeks Status pemetaan daerah otonom provinsi tahun 2002-2014

Gambar 36. Contoh produk pemetaan wilayah daerah otonom Provinsi Papua

Badan Informasi Geospasial | 41

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 37. Contoh produk pemetaan wilayah daerah otonom Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi

1.6 Pemutakhiran dan Integrasi Data Batas Wilayah



Pemutakhiran dan Integrasi Data Batas Wilayah memiliki lingkup kegiatan
di antaranya yaitu Pemutakhiran data spasial wilayah pengelolaan laut daerah
provinsi/kabupaten/kota, Pemutakhiran data geospasial seluruh Indonesia, dan
pemenuhan sarana maupun prasarana yang terdapat di PPBW.

Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan geodatabase batas
wilayah seluruh Indonesia yang terintegrasi dengan data center yang terdapat di
PPIG. Hasil pemutakhiran data spasial wilayah pengelolaan laut daerah provinsi/

42 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

kabupaten/kota nantinya diperlukan dalam menunjang data luas pengelolaan laut


untuk digunakan sebagai salah satu parameter penghitungan Dana Perimbangan
Pemerintah Pusat Daerah (DAU, DAK, dan DBH).

Gambar 38. Skema Alur Pemutakhiran dan Integrasi Data Batas Wilayah

Badan Informasi Geospasial | 43

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Gambar 39. Contoh Template Layout Peta Pengelolaan Laut Kab/Kota

44 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Penutup

egiatan survei, pemetaan, dan fasilitasi perundingan sampai tahun kegiatan


2013, baik yang terkait dengan batas negara (batas darat dan batas maritim),
maupun terkait dengan batas wilayah administrasi, yakni batas daerah
provinsi, kabupaten/kota, dan wilayah administrasi kecamatan, kelurahn/desa
telah diintegrasikan dalam ke dalam Ina-Geoportal sebagai bagian pelaksanaan
One Map Policy melalui penyediaan data batas wilayah yang teraktual. Adapun
kumpulan data dan informasi terkait tema batas wilayah, baik yang bersifat grafikal,
tekstual, tabel dalam berbagai format merupakan aset dasar dalam penanganan
dan penyelesaian permasalahan perbatasan.

Sejalan dengan tugas BIG selaku penyelenggara data infrastruktur spasial,
semua data kewilayahan dikonstruksi untuk berbasiskan geospasial sehingga
sudah dapat diintegrasikan dengan peta dasar dan peta tema lain yang bereferensi
nasional.

Sejalan dengan dinamika permasalahan perbatasan BIG selaku penyelenggara
data infrastruktur dasar, cq. Pusat Pemetaan Batas Wilayah sebagai unit yang aktif
dalam penanganan permasalahan batas, diharapkan selalu dilakukan pemutakhiran
terhadap data kewilayahan dan perangkat pendukung pengelolaan data dan
informasi kewilayahan.
Tabel 4. Daftar Segmen pada Permendagri/Kepmendagri hingga tahun 2013.
Batas Antara Kota/Kabupaten

Permen/Kepmendagri

No

Data
Spasial

Lima Puluh Kota

Sijunjung

Permen. No 67 Tahun 2013

Lima Puluh Kota

Tanah Datar

Permen. No 67 Tahun 2013

Agam

Lima Puluh Kota

Permen. No 66 Tahun 2013

Hulu Sungai
Utara

Tabalong

Permen. No 65 Tahun 2013

Bengkulu Utara

Mukomuko

Permen. No 63 Tahun 2013

Rejang Lebong

Lebong

Permen. No 62 Tahun 2013

Rejang Lebong

Bengkulu Utara

Permen. No 61 Tahun 2013

Badan Informasi Geospasial | 45

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Rejang Lebong

Bengkulu Tengah

Permen. No 61 Tahun 2013

Brebes

Kabupaten Tegal

Permen. No 59 Tahun 2013

10

Banyumas

Kebumen

Permen. No 58 Tahun 2013

11

Banyumas

Purbalingga

Permen. No 57 Tahun 2013

12

Banyumas

Pemalang

Permen. No 57 Tahun 2013

13

Banyumas

Kabupaten Tegal

Permen. No 57 Tahun 2013

14

Lombok Timur

Lombok Utara

Permen. No 56 Tahun 2013

15

Kota Mataram

Lombok Barat

Permen. No 55 Tahun 2013

16

Lombok Tengah

Lombok Utara

Permen. No 54 Tahun 2013

17

Minahasa

Minahasa Utara

Permen. No 53 Tahun 2013

18

Badung

Gianyar

Permen. No 29 Tahun 2013

19

Magelang

Purworejo

Permen. No 15 Tahun 2013

20

Jepara

Demak

Permen. No 14 Tahun 2013

21

Karanganyar

Kota Surakarta

Permen. No 13 Tahun 2013

22

Jepara

Pati

Permen. No 12 Tahun 2013

23

Boyolali

Sragen

Permen. No 11 Tahun 2013

24

Blora

Rembang

Permen. No 10 Tahun 2013

25

Boyolali

Kalaten

Permen. No 9 Tahun 2013

26

Magelang

Wonosobo

Permen. No 8 Tahun 2013

27

Karanganyar

Sragen

Permen. No 7 Tahun 2013

28

Boyolali

Kota Surakarta

Permen. No 6 Tahun 2013

29

Boyolali

Karanganyar

Permen. No 5 Tahun 2013

30

Kebumen

Wonosobo

Permen. No 9 Tahun 2012

31

Pati

Rembang

Permen. No 8 Tahun 2012

32

Kaur

Lampung Barat

Permen. No 73 Tahun 2012

33

Purworejo

Wonosobo

Permen. No 7 Tahun 2012

34

Jombang

Mojokerto

Permen. No 6 Tahun 2012

35

Kota Tasikmalaya

Tasikmalaya

Permen. No 58 Tahun 2012

36

Lebak

Sukabumi

Permen. No 57 Tahun 2012

37

Ciamis

Kota Tasikmalaya

Permen. No 56 Tahun 2012

38

Bogor

Lebak

Permen. No 55 Tahun 2012

39

Ciamis

Majalengka

Permen. No 54 Tahun 2012

Tangerang

Kota Tangerang
Selatan

Permen. No 5 Tahun 2012

40

46 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

41
42

Kota Balikpapan

Penajam Paser
Utara

Permen. No 48 Tahun 2012

Jember

Lumajang

Permen. No 46 Tahun 2012

43

Lumajang

Probolinggo

Permen. No 45 Tahun 2012

44

Banjarnegara

Kebumen

Permen. No 44 Tahun 2012

45

Lebak

Serang

Permen. No 43 Tahun 2012

46

Bombana

Buton

Permen. No 42 Tahun 2012

47

Badung

Bangli

Permen. No 4 Tahun 2012

48

Tanahbumbu

Tanahlaut

Permen. No 31 Tahun 2012

49

Gianyar

Klungkung

Permen. No 3 Tahun 2012

50

Jepara

Kudus

Permen. No 25 Tahun 2012

51

Kota Salatiga

Semarang

Permen. No 24 Tahun 2012

52

Batang

Kendal

Permen. No 23 Tahun 2012

53

Kudus

Pati

Permen. No 22 Tahun 2012

54

Kota Malang

Malang

Permen. No 17 Tahun 2012

55

Kota Batu

Malang

Permen. No 16 Tahun 2012

56

Bantul

Kota Yogyakarta

Permen. No 15 Tahun 2012

57

Bombana

Kolaka

Permen. No 12 Tahun 2012

58

Bombana

Konawe Selatan

Permen. No 12 Tahun 2012

Kota Tangerang

Kota Tangerang
Selatan

Permen. No 11 Tahun 2012

60

Batang

Wonosobo

Permen. No 10 Tahun 2012

61

Kendal

Wonosobo

Permen. No 10 Tahun 2012

59

62

Demak

Grobogan

Permen. No 65 Tahun 2011

63

Balangan

Hulusungai Utara

Permen. No 63 Tahun 2011

64

Minahasa
Selatan

Minahasa Tenggara

Permen. No 60 Tahun 2011

65

Ciamis

Kota Banjar

Permen. No 59 Tahun 2011

Ada

66

Ciamis

Tasikmalaya

Permen. No 58 Tahun 2011

Ada

67

Banjar

Kota Banjarmasin

Permen. No 12 Tahun 2011

68

Baritokuala

Kota Banjarmasin

Permen. No 12 Tahun 2011

69

Grobogan

Kudus

Permen. No 9 Tahun 2010

70

Grobogan

Sragen

Permen. No 8 Tahun 2010

71

Brebes

Kota Tegal

Permen. No 7 Tahun 2010

72

Kota Tegal

Tegal

Permen. No 7 Tahun 2010

Badan Informasi Geospasial | 47

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

73

Kota Madiun

Madiun

Permen. No 62 Tahun 2010

74

Madiun

Magetan

Permen. No 62 Tahun 2010

75

Magelang

Temanggung

Permen. No 6 Tahun 2010

76

Semarang

Temanggung

Permen. No 5 Tahun 2010

77

Konawe Utara

Morowali

Permen. No 45 Tahun 2010

78

Konawe

Morowali

Permen. No 45 Tahun 2010

79

Maluku Tengah

Seram Bagian Barat

Permen. No 29 Tahun 2010

80

Banjar

Tanahbumbu

Permen. No 14 Tahun 2010

81

Boyolali

Grobogan

Permen. No 10 Tahun 2010

82

Banjarnegara

Purbalingga

Permen. No 78 Tahun 2009

83

Banjarnegara

Batang

Permen. No 77 Tahun 2009

84

Banjarnegara

Banyumas

Permen. No 76 Tahun 2009

85

Banjarnegara

Pekalongan

Permen. No 75 Tahun 2009

86

Demak

Semarang

Permen. No 67 Tahun 2009

87

Pemalang

Tegal

Permen. No 66 Tahun 2009

88

Pemalang

Purbalingga

Permen. No 65 Tahun 2009

89

Kota Pekalongan Pekalongan

Permen. No 64 Tahun 2009

90

Gresik

Permen. No 63 Tahun 2009

91

Kota Probolinggo Probolinggo

Lamongan

Permen. No 62 Tahun 2009

92

Kulonprogo

Permen. No 61 Tahun 2009

Sleman

93

Kota Batu

Mojokerto

Permen. No 60 Tahun 2009

94

Gresik

Mojokerto

Permen. No 59 Tahun 2009

95

Lamongan

Mojokerto

Permen. No 58 Tahun 2009

96

Grobogan

Semarang

Permen. No 5 Tahun 2009

97

Gunungkidul

Sleman

Permen. No 4 Tahun 2009

98

Bangka

Bangka Barat

Permen. No 3 Tahun 2009

99

Brebes

Cirebon

Permen. No 2 Tahun 2009

100

Brebes

Kuningan

Permen. No 2 Tahun 2009

101

Ciamis

Cilacap

Permen. No 2 Tahun 2009

102

Cilacap

Kota Banjar

Permen. No 2 Tahun 2009

103

Cilacap

Kuningan

Permen. No 2 Tahun 2009

104

Ciamis

Kuningan

Permen. No 14 Tahun 2009

105

Kuningan

Majalengka

Permen. No 14 Tahun 2009

106

Karangasem

Klungkung

Permen. No 58 Tahun 2008

107

Kota Mojokerto

Mojokerto

Permen. No 57 Tahun 2008

48 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

108

Gresik

Sidoarjo

Permen. No 56 Tahun 2008

109

Bangka

Bangka Tengah

Permen. No 48 Tahun 2008

110

Karanganyar

Wonogiri

Permen. No 43 Tahun 2008

111

Boyolali

Magelang

Permen. No 42 Tahun 2008

112

Magelang

Semarang

Permen. No 41 Tahun 2008

113

Bangka Selatan

Bangka Tengah

Permen. No 17 Tahun 2008

114

Belitung

Belitung Timur

Permen. No 16 Tahun 2008

115

Bangli

Karangasem

Permen. No 14 Tahun 2008

116

Bandung

Sumedang

Permen. No 13 Tahun 2008

117

Garut

Sumedang

Permen. No 13 Tahun 2008

118

Indramayu

Sumedang

Permen. No 13 Tahun 2008

119

Majalengka

Sumedang

Permen. No 13 Tahun 2008

120

Subang

Sumedang

Permen. No 13 Tahun 2008

121

Balangan

Hulusungai Tengah

Permen. No 75 Tahun 2007

122

Blora

Ngawi

Permen. No 73 Tahun 2007

123

Blora

Tuban

Permen. No 73 Tahun 2007

124

Grobogan

Ngawi

Permen. No 73 Tahun 2007

125

Karanganyar

Magetan

Permen. No 73 Tahun 2007

126

Karanganyar

Ngawi

Permen. No 73 Tahun 2007

127

Magetan

Wonogiri

Permen. No 73 Tahun 2007

128

Ngawi

Sragen

Permen. No 73 Tahun 2007

129

Pacitan

Wonogiri

Permen. No 73 Tahun 2007

130

Ponorogo

Wonogiri

Permen.No 73 Tahun 2007

131

Rembang

Tuban

Permen. No 73 Tahun 2007

132

Blora

Bojonegoro

Permen. No 73 Tahun 2007

133

Kota Yogyakarta

Sleman

Permen. No 72 Tahun 2007

134

Bantul

Gunungkidul

Permen. No 71 Tahun 2007

135

Bantul

Kulonprogo

Permen. No 70 Tahun 2007

136

Batang

Kota Pekalongan

Permen. No 55 Tahun 2007

137

Kendal

Semarang

Permen. No 48 Tahun 2007

138

Kota Batu

Pasuruan

Permen. No 47 Tahun 2007

139

Kota Pasuruan

Pasuruan

Permen. No 47 Tahun 2007

140

Malang

Pasuruan

Permen. No 47 Tahun 2007

141

Mojokerto

Pasuruan

Permen. No 47 Tahun 2007

142

Pasuruan

Probolinggo

Permen. No 47 Tahun 2007

Badan Informasi Geospasial | 49

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

143

Pasuruan

Sidoarjo

Permen. No 47 Tahun 2007

144

Deliserdang

Serdang Bedagai

Permen. No 29 Tahun 2007

145

Banyumas

Cilacap

Permen. No 14 Tahun 2007

146

Pamekasan

Sumenep

Permen. No 37 Tahun 2006

147

Buleleng

Karangasem

Permen. No 36 Tahun 2006

148

Gunungkidul

Klaten

Permen. No 19 Tahun 2006

149

Gunungkidul

Sukoharjo

Permen. No 19 Tahun 2006

150

Gunungkidul

Wonogiri

Permen. No 19 Tahun 2006

151

Klaten

Sleman

Permen. No 19 Tahun 2006

152

Kulonprogo

Magelang

Permen. No 19 Tahun 2006

153

Kulonprogo

Purworejo

Permen. No 19 Tahun 2006

154

Magelang

Sleman

Permen. No 19 Tahun 2006

155

Brebes

Cilacap

Permen. No 18 Tahun 2006

156

Cilacap

Kebumen

Permen. No 7 Tahun 2005

157

Bojonegoro

Jombang

Permen. No 6 Tahun 2005

158

Bojonegoro

Lamongan

Permen. No 6 Tahun 2005

159

Bojonegoro

Madiun

Permen. No 6 Tahun 2005

160

Bojonegoro

Nganjuk

Permen. No 6 Tahun 2005

161

Bojonegoro

Ngawi

Permen. No 6 Tahun 2005

162

Bojonegoro

Tuban

Permen. No 6 Tahun 2005

163

Kota Bontang

Kutai Kartanegara

Permen. No 25 Tahun 2005

164

Kota Bontang

Kutai Timur

Permen. No 25 Tahun 2005

165

Majene

Mamasa

Permen. No 15 Tahun 2005

166

Mamasa

Mamuju

Permen. No 15 Tahun 2005

167

Mamasa

Polewali Mandar

Permen. No 15 Tahun 2005

168

Cirebon

Indramayu

Kepmen. No 246 Tahun 2004

169

Cirebon

Kuningan

Kepmen. No 246 Tahun 2004

170

Cirebon

Majalengka

Kepmen. No 246 Tahun 2004

171

Mimika

Puncakjaya

Kepmen. No 163 Tahun 2004

172

Mimika

Paniai

Kepmen. No 163 Tahun 2004

173

Kota
Palangkaraya

Katingan

Permendagri No 73 Tahun 2013

174

Kota
Palangkaraya

Pulang Pisau

Permendagri No 74 Tahun 2013

175

Kota
Palangkaraya

Gunung Mas

Permendagri No 75 Tahun 2013

50 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

176

Kab. Kapuas

Gunung Mas

Permendagri No 76 Tahun 2013

177

Kapuas

Pulang Pisau

Permendagri No 77 Tahun 2013

178

Kota Pekalongan

Batang

Permendagri No 78 Tahun 2013

179

Banjarnegara

Wonosobo

Permendagri No 79 Tahun 2013

180

Temanggung

Wonosobo

Permendagri No 80 Tahun 2013

181

Kebumen

Purworejo

Permendagri No 81 Tahun 2013

182

Tabanan

Badung

Permendagri No 82 Tahun 2013

183

Bantul

Sleman

Permendagri No 83 Tahun 2013

184

Malang

Jombang

Permendagri No 84 Tahun 2013

185

Sampang

Pamekasan

Permendagri No 85 Tahun 2013

186

Malang

Lumajang

Permendagri No 86 Tahun 2013

187

Sampang

Bangkalan

Permendagri No 87 Tahun 2013

188

Bireuen

Permendagri No 4 Tahun 2014

189

Aceh Selatan

Singkil

Permendagri No 5 Tahun 2014

190

Aceh Selatan

Kota Subulussalam

Permendagri No 6 Tahun 2014

191

Musi Rawas

Musi Banyuasin

Permendagri No 13 Tahun 2014

192

Subang

Bandung Barat

Permendagri No 18 Tahun 2014

193

Subang

Bandung

Permendagri No 18 Tahun 2014

194

Wonogiri

Sukoharjo

Permendagri No 19 Tahun 2014

195

Pekalongan

Pemalang

Permendagri No 20 Tahun 2014

196

Pekalongan

Purbalingga

Permendagri No 20 Tahun 2014

197

Kota Semarang

Kendal

Permendagri No 21 Tahun 2014

198

Purwakarta

Subang

Permendagri No 22 Tahun 2014

199

Karawang

Subang

Permendagri No 23 Tahun 2014

200

Indramayu

Subang

Permendagri No 24 Tahun 2014

201

Karawang

Bekasi

Permendagri No 25 Tahun 2014

202

Malang

Mojokerto

Permendagri No 29 Tahun 2014

203

Cianjur

Garut

Permendagri No 30 Tahun 2014

204

Cianjur

Bogor

Permendagri No 31 Tahun 2014

205

Cianjur

Purwakarta

Permendagri No 31 Tahun 2014

206

Malang

Probolinggo

Permendagri No 32 Tahun 2014

207

Cianjur

Sukabumi

Permendagri No 33 Tahun 2014

208

Asahan

Labuhanbatu Utara

Permendagri No 42 Tahun 2014

209

Pinrang

Polewali Mandar

Permendagri No 43 Tahun 2014

210

Asahan

Toba Samosir

Permendagri No 44 Tahun 2014

Pidie Jaya

Badan Informasi Geospasial | 51

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

211

Asahan

Batu Bara

Permendagri No 45 Tahun 2014

Balangan

Permendagri No 46 Tahun 2014

213

Paser

Tabalong

Permendagri No 46 Tahun 2014

214

Kota Binjai

Langkat

Permendagri No 47 Tahun 2014

215

Kota Binjai

Deli Serdang

Permendagri No 47 Tahun 2014

216

Lima Puluh Kota

Pasaman

Permendagri No 48 Tahun 2014

217

Langkat

Deli Serdang

Permendagri No 49 Tahun 2014

Bolaang
Mongondow
Selatan

Bolaang Mongondow Utara

Permendagri No 57 Tahun 2014

218
219

Kota Manado

Minahasa

Permendagri No 59 Tahun 2014

220

Bolaang
Mongondow

Bolaang Mongondow Timur

Permendagri No 60 Tahun 2014

221

Tanjung Jabung
Barat

Tebo

Permendagri No 62 Tahun 2014

222

Banjar

Barito Kuala

Permendagri No 63 Tahun 2014

223

Hulu Sungai
Selatan

Banjar

Permendagri No 64 Tahun 2014

224

Hulu Sungai
Selatan

Kotabaru

Permendagri No 64 Tahun 2014

225

Hulu Sungai
Utara

Barito Kuala

Permendagri No 65 Tahun 2014

226

Hulu Sungai
Utara

Tapin

Permendagri No 65 Tahun 2014

227

Tabalong

Balangan

Permendagri No 66 Tahun 2014

228

Kota Semarang

Demak

Permendagri No 71 Tahun 2014

229

Pacitan

Trenggalek

Permendagri No 72 Tahun 2014

230

Kediri

Kota Kediri

Permendagri No 73 Tahun 2014

231

Kudus

Demak

Permendagri No 74 Tahun 2014

232

Semarang

Boyolali

Permendagri No 75 Tahun 2014

212

Paser

Keterangan:
A : Data Spasial dalam format GIS
B : Data Spasial dalam format *FH, *CDR dll
C : Belum/Tidak ada data spasial, masih dikoordinasikan dengan PUM-Kemdagri

52 | Badan Informasi Geospasial

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

Personil
Pusat Pemetaan Batas Wilayah

Badan Informasi Geospasial | 53

Laporan Tahunan Pusat PBW 2014

54 | Badan Informasi Geospasial