Anda di halaman 1dari 14

Prinsip Komposisi: Kesatuan

October 14, 2012 by carra in Design, Graphic.


Selama saya melakukan desain, pertama kali yang menjadi pe er atau permasalahan yang harus
dipecahkan lebih dulu adalah komposisi. Apa sih komposisi itu?
Komposisi merupakan cara kita untuk mengatur atau mengorganisasikan elemen-elemen
pembentuk desain, seperti tata letak obyek, warna, tekstur dan lain-lain sehingga mencapai
keharmonisan tertentu baik antar bagian, maupun dengan keseluruhan desain.
Komposisi yang harmonis, sejauh yang saya tau, meliputi kesatuan (unity), keseimbangan
(balance), irama (ritme), kontras, fokus (pusat perhatian) serta proporsi.
Secara bertahap, saya akan membahas satu demi satu prinsip komposisi ini dalam posting ini dan
dalam beberapa posting mendatang.
Dimulai dengan Prinsip Komposisi Kesatuan.
Kesatuan atau unity merupakan salah satu prinsip yang menekankan pada keselarasan dari unsurunsur yang disusun. Biasanya prinsip ini dipakai untuk menyatukan object yang terdiri atas
beberapa elemen. Dengan adanya kesatuan itulah, elemen-elemen yang ada akan saling
mendukung dan bukannya saling membunuh sehingga diperoleh fokus yang dituju.
Ada beberapa cara yang dapat dipakai untuk mencapai kesatuan:

Dominasi pada Ad. Djawa Furni


1. Menentukan dominasi agar diperoleh pengaruh yang tepat. Dominasi yang sesuai dengan
porsinya, sudah pasti akan menyatukan berbagai elemen desain hingga menjadi satu
kesatuan utuh. Beberapa bentuk dominasi yang dapat diterapkan dalam desain :

Dominasi pada ukuran. Ukuran yang besar sudah pasti akan memenuhi prinsip dominasi.
Namun hendaknya hati-hati, karena juga akan mempengaruhi balance atau keseimbangan
desain.

Dominasi warna. Warna sudah pasti akan memberikan arti dam estetika keindahan yang
lebih menonjol dalam desain. Dominasi warna tertentu lebih memudahkan untuk
mengarahkan konsentrasi saat mencerna sebuah desain. Jangan pergunakan warna yang
saling membunuh. Tentukan maksimal 2 warna saja yang dominan.

Dominan pada letak/penempatan. Pertimbangkan tempat peletakan desain yang nantinya


Anda buat, dan lalu perhatikan bahwa posisinya akan berpengaruh dan berperan
menentukan.

2. Ukuran sebagai daya tarik. Untuk memperoleh daya tarik, gunakanlah ukuran sebagai
salah satu faktornya. Sebuah karya publikasi yang berukuran besar akan tampak lebih
menonjol dibandingkan dengan yang berukuran kecil, sehingga akan menarik minat
untuk diketahui, dibaca dan diintip. Ada semacam reaksi berantai oleh si penerima atau
penikmat desain jika minatnya memang sudah tergelitik. Contoh kasus:

Ada seorang desainer grafis. Ketika dia menikah, ia membuat undangannya terbuat dari Art
Paper 100 gr berukuran A0 (ukuran kertas plano utuh) yang dicetak secara grayscale bolak-balik.
Tentu saja ini merupakan ide yang sangat menarik. Ukuran undangan sudah merupakan satu
dominasi yang tak dapat dibantah. Maka akan muncul pertanyaan seperti, Apa ini? Dari siapa
ini? Hajat apa? dan lalu akan ada reaksi selanjutnya seperti Oooo si anu akan menikah.
Tanggal berapa? Mana tanggalnya? Oooo tanggal 5 bulan depan. Dimana nih? Hotel
Bintang? Wahhh jauh juga ya. Tapi kayanya bakalan seru nih. Oke deh.
Nah dengan begini berarti desain Anda berhasil mendapatkan perhatian dan respon seperti yang
diharapkan.
3. Menyatukan arah. Sebuah karya desain sebaiknya mempunyai point of view, artinya
sebagai arah perhatian yang mula-mula harus diberikan oleh respondennya. Arah juga
dapat diartikan sebagai alur untuk mengamati/membaca sebuah karya. Dengan demikian,
elemen arah jelas merupakan sarana kesatuan yang harus diperhitungkan.
4. Menyatukan bentuk. Sebuah karya desain yang berisi bentuk-bentuk yang semrawut
akan lebih sulit dicerna. Bentuk-bentuk yang menyatu memiliki kemungkinan untuk
dicerna lebih cepat.
Sebuah karya lukisan, sebagai contoh, yang memiliki banyak elemen pembentuk seperti warna
dan berbagai bentuk yang sangat bervariasi memerlukan waktu yang lama untuk dicerna oleh
target penikmat. Lukisan yang demikian biasanya akan bertahan lama hingga bertahun-tahun jika
diletakkan di ruang keluarga atau ruang makan, misalnya, untuk dipandangi lagi setiap hari oleh
penghuni rumah baik secara sengaja ataupun sambil lalu.
Berbeda dengan lukisan dekoratif atau yang bersifat stereotip (repro lukisan Bali, lukisan-lukisan
naturalis, pemandangan dsb) yang biasa diletakkan di ruang tamu rumah, hotel, kantor dan
ruang-ruang publik pada umumnya, lukisan tersebut bersifat mudah dicerna karena memiliki
elemen-elemen bentuk dan warna yang tidak terlalu kompleks. Hal ini bertujuan agar si target
penikmat langsung dapat merasakan mood atau feel dari ruangan tersebut.
Demikian juga pada desain visual atau grafis. Karena bertujuan sebagai penyampai pesan, Anda
tak perlu menghasilkan karya yang harus dinikmati bertahun-tahun. Keep it simple and
straightforward. Cukup dengan sekali pandang, orang langsung mengerti pesan yang ingin
disampaikan.

Prinsip Komposisi: Keseimbangan


October 23, 2012 by carra in Design, Graphic.
Melanjutkan pembicaraan tentang komposisi dalam desain, setelah ngebahas komposisi
kesatuan, kali ini saya akan bahas sedikit tentang Prinsip Keseimbangan atau Balance dalam
desain, terutama desain grafis, sejauh yang sudah saya mengerti dan terapkan.
Keseimbangan atau balance merupakan prinsip dalam komposisi yang menghindari kesan berat
sebelah atas suatu bidang atau ruang yang diisi dengan unsur-unsur desain.
Biasanya prinsip komposisi keseimbangan ini saya pake kalo lagi desain leaflet atau brosur.
Karena sebegitu banyaknya informasi yang harus saya sampaikan dalam sebegitu sempit area
yang bisa saya gunakan, maka yang harus benar-benar saya perhatikan adalah keseimbangan.
Jangan sampai satu layout ndak enak dilihat dan dibaca karena ndak seimbang, apalagi kalo
berimbas ke informasi yang tak tersampaikan. Itu satu kesalahan yang sangat fatal di dunia
desain grafis.
Anyway
Pada dasarnya prinsip keseimbangan bisa dibagi menjadi:

Balance simetris dan asimetris

Balance memusat dan menyebar

Keseimbangan yang simetris

Courtesy of Djawa Furni


Prinsip keseimbangan simetris ini cenderung merupakan prinsi keseimbangan yang paling
mudah dicapai. Gampangnya, kalo mo bikin seimbang tanpa mikir, ya bikin layout yang simetris
saja Pasti langsung seimbang deh tapi hati-hati dengan tendensi untuk menjadi
membosankan jika terlalu banyak atau terlalu lebar cenderung tak ada dinamisasi

Keseimbangan yang asimetris


Courtesy of Rumah Tropika
Komposisi keseimbangan asimetris bisa dicapai dengan agak mengacak susunan simetris. Seperti
contoh di atas. Pada dasarnya sisi kanan dan kiri terdiri atas elemen yang sama, yaitu foto besar,
foto kecil dan sedikit teks. Supaya menjadi seimbang secara asimetris dan menambahkan
dinamisasi, besaran foto saya mainkan. Sisi kiri dengan 3 foto, tapi ukurannya saya perkecil. Sisi
kanan 2 foto, dengan ukuran yang agak lebih besar

Keseimbangan yang Memusat


Courtesy of Nicefine dot net

Prinsip keseimbangan memusat pada dasarnya hampir sama dengan prinsip komposisi
dominasi Arahkan perhatian target ke satu titik, bisa dengan warna yang berbeda atau ukuran
yang berbeda, atau bentuk yang berbeda

Keseimbangan yang menyebar


Courtesy of Rumah Tropika
Prinsip komposisi keseimbangan ini juga cenderung lebih mudah dicapai tempatkan semua
elemen pada bidang, atur besar kecilnya jangan sampai ada yang mendominasi. Selesai.
Sebagaimana contoh-contoh di atas, dapat dilihat bahwa Prinsip Keseimbangan itu dapat dicapai
dengan beberapa cara:

Keseimbangan bentuk dan ukuran

Keseimbangan warna

Keseimbangan yang diperoleh dari tekstur

Dan yang paling cepat terasa adalah keseimbangan yang terbentuk dari komposisi.

Jadi bisa diambil kesimpulan, bahwa komposisi beberapa bentuk yang ditata secara seimbang
sehingga tercapai kesatuan antara unsur-unsur desain komposisi dengan menyatukan faktor yang
sejenis, antara lain:

Faktor formal, seperti bentuk-bentuk

Ukuran

Posisi (Direction, Internal, Attitude)

Tone

Kromatik akromatik

Warna dingin/panas

Value, Hue

Intensitas warna

Faktor ide

Representation (Cara menggambarkan)

Association (Asosiasi/ikatan/hubungan)

Symbolism

Jadi gimana, udah ngerti dong apa saja unsur komposisi keseimbangan?
Yang selanjutnya, komposisi irama.

Prinsip Komposisi: Keseimbangan


October 23, 2012 by carra in Design, Graphic.
Melanjutkan pembicaraan tentang komposisi dalam desain, setelah ngebahas komposisi
kesatuan, kali ini saya akan bahas sedikit tentang Prinsip Keseimbangan atau Balance dalam
desain, terutama desain grafis, sejauh yang sudah saya mengerti dan terapkan.
Keseimbangan atau balance merupakan prinsip dalam komposisi yang menghindari kesan berat
sebelah atas suatu bidang atau ruang yang diisi dengan unsur-unsur desain.
Biasanya prinsip komposisi keseimbangan ini saya pake kalo lagi desain leaflet atau brosur.
Karena sebegitu banyaknya informasi yang harus saya sampaikan dalam sebegitu sempit area
yang bisa saya gunakan, maka yang harus benar-benar saya perhatikan adalah keseimbangan.

Jangan sampai satu layout ndak enak dilihat dan dibaca karena ndak seimbang, apalagi kalo
berimbas ke informasi yang tak tersampaikan. Itu satu kesalahan yang sangat fatal di dunia
desain grafis.
Anyway
Pada dasarnya prinsip keseimbangan bisa dibagi menjadi:

Balance simetris dan asimetris

Balance memusat dan menyebar

Keseimbangan yang simetris


Courtesy of Djawa Furni
Prinsip keseimbangan simetris ini cenderung merupakan prinsi keseimbangan yang paling
mudah dicapai. Gampangnya, kalo mo bikin seimbang tanpa mikir, ya bikin layout yang simetris
saja Pasti langsung seimbang deh tapi hati-hati dengan tendensi untuk menjadi
membosankan jika terlalu banyak atau terlalu lebar cenderung tak ada dinamisasi

Keseimbangan yang asimetris


Courtesy of Rumah Tropika
Komposisi keseimbangan asimetris bisa dicapai dengan agak mengacak susunan simetris. Seperti
contoh di atas. Pada dasarnya sisi kanan dan kiri terdiri atas elemen yang sama, yaitu foto besar,
foto kecil dan sedikit teks. Supaya menjadi seimbang secara asimetris dan menambahkan
dinamisasi, besaran foto saya mainkan. Sisi kiri dengan 3 foto, tapi ukurannya saya perkecil. Sisi
kanan 2 foto, dengan ukuran yang agak lebih besar

Keseimbangan yang Memusat


Courtesy of Nicefine dot net
Prinsip keseimbangan memusat pada dasarnya hampir sama dengan prinsip komposisi
dominasi Arahkan perhatian target ke satu titik, bisa dengan warna yang berbeda atau ukuran
yang berbeda, atau bentuk yang berbeda

Keseimbangan yang menyebar


Courtesy of Rumah Tropika
Prinsip komposisi keseimbangan ini juga cenderung lebih mudah dicapai tempatkan semua
elemen pada bidang, atur besar kecilnya jangan sampai ada yang mendominasi. Selesai.
Sebagaimana contoh-contoh di atas, dapat dilihat bahwa Prinsip Keseimbangan itu dapat dicapai
dengan beberapa cara:

Keseimbangan bentuk dan ukuran

Keseimbangan warna

Keseimbangan yang diperoleh dari tekstur

Dan yang paling cepat terasa adalah keseimbangan yang terbentuk dari komposisi.

Jadi bisa diambil kesimpulan, bahwa komposisi beberapa bentuk yang ditata secara seimbang
sehingga tercapai kesatuan antara unsur-unsur desain komposisi dengan menyatukan faktor yang
sejenis, antara lain:

Faktor formal, seperti bentuk-bentuk

Ukuran

Posisi (Direction, Internal, Attitude)

Tone

Kromatik akromatik

Warna dingin/panas

Value, Hue

Intensitas warna

Faktor ide

Representation (Cara menggambarkan)

Association (Asosiasi/ikatan/hubungan)

Symbolism

Jadi gimana, udah ngerti dong apa saja unsur komposisi keseimbangan?
Yang selanjutnya, komposisi irama.

Prinsip Komposisi: Irama


October 30, 2012 by carra in Design, Graphic.
Irama diartikan sebagai pengulangan garis, bentuk, wujud, atau warna secara teratur atau
harmonis.
Di dalam desain Arsitektur, misalnya, hampir semua jenis bangunan memasukkan unsur-unsur
yang sifatnya berulang. Yang paling gampang dilihat adalah pada kolom (tiang) yang disusun
berulang untuk membentuk bentang dan modul struktural. Di bangunan hotel misalnya, jendela
ditata secara berulang melubangi permukaan bangunan untuk memungkinkan cahaya, udara, dan
pemandangan untuk memasuki ruang di dalamnya.
Pada dasarnya, tanpa sadar, manusia akan cenderung untuk mengelompokkan unsur-unsur di
dalam suatu komposisi acak menurut kedekatan atau keterhubungan satu sama lain, dan
karakteristik visual yang dimiliki bersama. Prinsip pengulangan memanfaatkan kedua konsep
persepsi ini untuk menyusun unsur-unsur yang berulang kali hadir di dalam sebuah komposisi.
Secara personal, saya sering memakai irama sebagai benang merah antara satu desain dengan
yang lain ketika harus mendesain sesuatu yang berjumlah banyak tapi berkonsep atau bertema
sama.
Kalo mau lihat lebih jelas sih ada nih beberapa desain yang pake prinsip komposisi irama ini

Tekstur background berulang

Prinsip Perancangan: Proporsi, Keseimbangan (balance),


Irama (rhythm)
Proporsi adalah suatu prinsip, tidak hanya dari arsitek tetapi dari kehidupan seharihari, misalnya: hukum proporsi alam bahwa bintang bersinar di malam hari, air
sungai mengalir ke laut, dan sebagainya.
Dari kenyataan ini bahwa arsitektur adalah sesuatu yang berkualitas baik seni dan
proporsi. Dalam arsitektur, proporsi dijelaskan sebagai berikut:[12]
1. Menurut Vitruvius (1486), proporsi adalah sesuatu yang berhubungan dengan
ukuran dengan ukuran dari seluruh aspek pekerjaan dan bagian tertentu yang
dijadikan standar.
2. Menurut Alberti, proporsi berasal dari kata concinnities, yang artinya suatu
keberhasilan kombinasi dari angka dan ukuran.
Jadi proporsi merupakan hubungan antar bagian dari suatu desain atau hubungan
antara bagian dengan keseluruhan. Oleh karena itu suatu perbandingan akan
merupakan dasar dari setiap sistem proporsi yaitu suatu nilai yang memiliki harga
tetap, dapat digunakan sebagai pembanding yang lain. Bahwa, suatu proporsi yang
baik terletak pada hubungan antara bagian-bagian suatu bangunan atau antara
bagian bangunan dengan bangunan secara keseluruhan. Hal ini menumbuhkan satu
sistem proporsi yang menarik untuk dikembangkan yaitu golden section. Dalam
sistem ini mempunyai dua arti, secara matematis dan geometris. Secara
matematis, golden section merupakan sistem proporsi yang berasal dari konsep
Pythagoras dimana semua ukuran adalah angka. Dan merupakan kepercayaan
keharmonisan bagi seluruh struktur bangunan. Secara geometris, golden
section dapat diartikan sebagai sebuah garis yang dibagi-bagi sedemikian rupa
sehingga bagian yang lebih pendek dibanding dengan bagian yang panjang adalah
sama dengan bagian yang panjang berbanding dengan panjang keseluruhan atau
dapat dijabarkan dalam persamaan A : B = B : (A + B)[13]
.
b. Keseimbangan (balance)

Menggambarkan keharmonisan atau kesesuaian dalam pengaturan atau proporsi


dari bagian suatu elemen di dalam desain atau komposisi suatu situasi, atau
keadaan yang seimbang diantara bagian-bagian yang berlainan.
Keseimbangan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu keseimbangan formal
(simetris) dan keseimbangan informal. Contoh keseimbangan formal misalnya
peletakan bangunan dengan bobot dan jarak visual sama terhadap titik pusat
imajiner. Dengan keseimbangan formal, ruangan berkesan luas atau suasana resmi,
dan tenang. Agar kesan monoton dan kaku dapat dihilangkan, dapat digunakan
perbedaan warna, bentuk, atau ukuran pada benda yang disimetriskan. Contoh
keseimbangan informal misalnya peletakan benda yang berbeda bobot visualnya di
sekitar titik pusat atau sumbu. Perimbangan benda berat, dengan meletakkan
benda ringan dengan jarak jauh dari sumbu (tekstur kasar, warna hangat, ukuran
besar dan motif ramai akan berkesan berat). Dalam kondisi tertentu, yang tidak
bisa dihindarkan, keseimbangan dapat dibuat dengan cara perabot berat
dikombinasi dengan warna dan tekstur ringan, atau perabot ringan dikombinasi
dengan warna dan tekstur berat.
.
c. Irama (rhythm)
Sesuatu pergerakan yang ditampakkan/diakibatkan oleh adanya elemen-elemen
lain misalnya: garis bentuk dan pola, arus pergerakan yang diperlihatkan melalui
bayangan-bayangan sinar yang terjadi, dan penekanan yang ada, mirip seperti
irama musik yang diulang-ulang.
Irama dapat dibentuk atau diciptakan dengan cara:
1. Perulangan
Pemakaian 2 elemen atau lebih dengan tujuan untuk mengarahkan mata bergerak
menuju arah tertentu. Misalnya: Hitam Putih (n n ), Besar Kecil (OoOoOo)
2. Gradasi
Efek pemakaian gradasi akan terasa lebih dinamis dari pada pemakaian perulangan
sehingga mengarahkan pandangan menuju pada satu titik tertentu. Misalnya:
Gradasi dari warna gelap terang