Anda di halaman 1dari 6

Pembelajaran

EKSTRAKSI INFORMASI METRIK DARI FOTO UDARA-Bagian

Praktikum

2 : PENYUSUNAN PETA KONTUR DAN PENGUKURAN

Nama
NIM
Kelompok

KEMIRINGAN LERENG
Rifka Noviaris Yogyantoro
13/348087/GE/07566
Rabu, 29 Oktober 2014

Praktikum
Asisten

11.00-13.00
1. Azzadiva Rafi S

Nilai

Total

Laporan:

2. Yohanes Seffan
Komponen

Laporan Praktikum dikumpul pada

Penilaian
A : Pretest
A:
B
:
Kegiatan B :

Tanggal:
Praktikan

Praktikum
C
:
Laporan C :
Praktikum
D : Tugas

Jam:
Asisten

(Rifka Noviaris Y)

D:

MEDIA PEMBELAJARAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Sepasang Fotogram Bertampalan


Stereoskop Cermin
Mistar/Penggaris
Alat tulis
OHP
Transparansi
Slopemeter.
Nila
i

LANGKAH KERJA
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Menyiapkan alat dan bahan..


Membuat titik prinsipal foto udara.
Membuat koordinat berdasarkan jalur terbang dan titik prinsipal.
Menentukan objek/ titik pengamatan yang akan dijadikan sebagai titik tinggi.
Mencari titik referensi dan ketinggiannya.
Menghitung nilai konstanta foto udara
Menghitung nilai paralak dengan paralaks bar dan menghitung beda paralak masing-

masing objek.
8) Menghitung beda tinggi dan ketinggian objek.
9) Menghubunngkan titik-titik tinggi yang berdekatan dengan garis interpolasi.
10) Mengiterpolasi kontur berdasarkan jarak antar titik tinggi dan beda tinggi.
11) Menghubungkan titik yang mempunyai ketinggian yang sama.
12) Membuat garis transek.
13) Melakukan profiling.

14) Mengukur kemiringan lereng.


15) Membandingkan hasil perhitungan kemiringan lererng dengan pengukuran slopemeter
untuk kemirinngan lereng pada foto udara.
16) Melakukan pembahasan dan menarik kesimpulan.
Nila
i

HASIL PEMBELAJARAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Perhitungan Ketinggian Tempat (Terlampir).


Perhitungan Interpolasi Kontur (Terlampir).
Perhitungan Kemiringan Lereng (Terlampir).
Tabel Pengukuran Ketinggian Tempat (Terlampir).
Tabel Perbandingan Pengukuran Kemiringan Lereng (Terlampir).
Peta Kontur (Terlampir).
Profil Melintang (Terlampir).
Nila
i

PEMBAHASAN
Peta kontur disusun diatas titik-titik ketinggian, dengan mengetahui ketinggian suatu
tempat kita dapat membuat interpolasi garis sehingga dapat mengetahui titik-titik ketinggian
yang lain sehingga dapat untuk menyusun garis-garis kontur. Pembuatan peta kontur dari foto
udara dilakukan dengan menentukan titik-titik yang itu kemungkinan adalah sebuah titik
tinggi. Pengukuran ketinggian dari tiik-titik tersebut diinterpretasi dengan menggunakan
prinsip beda paralaks dan titik referensi. Hasil dari pengukuran ketinggian inilah yang
menjadi dasar bagi penyusunan peta kontur secara kartografis.
20 titik pada foto udara besskala 1 : 6000 dipilih sebagai penyusunan peta kontur. Titiktitik tersebut diukur ketinggiannya dengan mengamati beda paralaks pada foto udara yang
bertampalan dan diukur menggunakan paralaks bar. Titik referensi pada foto udara memiliki
ketinggian 85 m dan untuk mengukur tiap ketinggian dibangun sebuah koordinat foto udara
kiri dan kanan. Konstanta dari paralaks bar adalah 4,325 dan digunakan sebagai menentukan
nilai paralaks dan beda paralaks. Diketahuinya beda paralaks objek, paralaks titik referensi
dan ketinggian dari titik referensi maka dimungkinnya untuk mengukur ketinggian setap titik.
Setiap titik yang telah di ketahui ketinggiannya dibuat garis interpolasi terhadap titik-titik
terdekat sehingga dapat disusun peta kontur. Perhitungan antar titik tinggi agar dapat dibuat

garis interpolasi digunakan rumus

jarak antar titik x


=
beda tinggi
Ci

dimana x adalah jarak antar titik

tinggi pada rentang Contour interval(Ci). Garis interpolasi yang telah dibuat jika kita
mempunyai nilai x maka kita dapat mengetahui posisi titik-titik ketinggian sehingga dapat
dihubungkannya titik-titik tersebut menjadi garis kontur.
Peta kontur dihasilkan dari interpolasi titik-titik ketinggian tersebut. Informasi relief tidak
hanya dapat diekstraksi melalui informasi topografi oleh peta kontur saja, namun foto udara
yang dijadikan sebagai basis sumber pembuatan peta kontur dapat secara langsung diekstrak
informasi reliefnya yaitu dengan mengukur titik-titik ketinggian yang berada pada garis
transek atau melalui profiling dan mengukur kemiringan lereng menggunakan slope meter.
Tiga lereng yaitu A-B, B-C, dan C-D digunakan untuk membandingkan cara pengukuran
dengan garis transek dengan pengukuran menggunakan slopemetar. Pengukuran kemiringan

lereng dari garis transek pada foto udara menggunakan rumus

lereng dan

tan=

BT
JH

BT
100
JH

untuk persen

untuk mencari sudut kemiringan lereng. Lereng A-B mempunyai

jarak horisontal 69 m dan beda tinggi sebesar 3,695 m menghasilkan kemilirngan lereng
bernilai sebesar 5,33% atau sebesar 3o ; Lereng B-C memiliki jarak horisontal 159 m dan
beda tinggi 1,879 m menghasilkan kemiringan lereng sebesar 1,18% atau 0,67 o ; dan lereng
C-D memiliki jarak horisontal 54 m dan 2,84 m menghasilkan kemiringan lereng sebesar
5,26% atau 3,01o. Pengukuran kemiringan lereng menggunakan slope meter didasarkan pada
besaran derajat dan besar sudut yang dibentuk lereng terhadap bidang datar slope meter
merupakan besar kemiringan lereng tersebut. Lereng A-B mempunyai besar 73 o, lereng B-C
mempunyai besar 63o, dan lereng C-D mempunyai besar 26o berdasarkan pengukuran dengan
slope meter. Perbedaan perolehan ini disebabkan metode pengukuran yang berbeda,
pengukuran pada paralaks bar yang digunakan terhadap foto udara memiliki kemungkinan
error karena hasil tingkat kemiringan lereng jika dibandingkan dengan hasil pengamatan
stereoskopis menunjukan lereng yang terjal namun hasil pengukuran paralaks bar tidak
menunjukan lereng yang relatif landai seperti apa yang digambarkan oleh profil.
Nila
i

KESIMPULAN
1. Peta kontur yang dibangun melalui foto udara dibuat dengan mengukur ketinggian
berdasarkan beda paralaks titik-titik ketinggian.

2. Menghitung kemiringan lereng pada peta kontur dapat diukur dengan cara membuat
profil lereng menurut data ketinggian dan jarak horisontal.
3. Mengukur kemiringan lereng menggunakan slope meter didasarkan pada besar sudut
yang dihasilkan antara lereng dengan bidang datar slope meter.
Nila
i

DAFTAR PUSTAKA
Lillesand. (2003). Remote Sensing and Image Interpretastion 5th ed.Amerika Serikat:
John Wiley and Sons
Wolf, P. R., & Dewitt, B. A. (2004). Elements of Photogametry with Applications in GIS
3rd ed. Boston: McGraw-Hill.
Nila
i

Tabel Pengukuran Ketinggian Tempat


Titik
B
A
C
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Paralaks Pref
8,47
8,875
8,664
8,59
8,697
8,667
8,349
8,57
8,765
8,561
8,51
8,616
8,371
8,592

Pa
0,411
0,816
0,605
0,531
0,638
0,608
0,29
0,511
0,706
0,502
0,451
0,557
0,312
0,533

BT
4,124557
7,815211
5,93548
5,254366
6,235484
5,962848
2,952449
5,068261
6,846549
4,984231
4,5047
5,495009
3,16808
5,272928

Ketinggian href
89,12456
92,81521
90,93548
90,25437
91,23548
90,96285
87,95245
90,06826
91,84655
89,98423
89,5047
90,49501
88,16808
90,27293

12
13
14
15
16
17
D1
D2

8,265
8,589
8,46
8,612
8,796
8,429
8,035
8,52

0,206
0,53
0,401
0,553
0,737
0,37
-0,024
0,461

2,118572
5,245081
4,02896
5,458082
7,121987
3,731166
-0,25389
4,599178

87,11857
90,24508
89,02896
90,45808
92,12199
88,73117
84,74611
89,59918

Tabel Perbandingan Pengukuran Kemiringan Lereng

Titik

Perhitungan Kemiringan

Perhitungan Kemiringan

Pegukuran Kemiringan

Lereng(%)

Lereng(Derajat)

Lereng(Slope meter)

A-B

5,355378649

3,065477576

73

B-B

1,18222083

0,677331086

63

B-C

5,269407681

3,016358464

26