Anda di halaman 1dari 33

Case Report

Aspek Medikolegal pada Kematian karena Luka Tusuk


dan Proses Embalming

Oleh:
Kelompok 3
Verdani Leoni Edrin
0910313269
Ivan Maulana Fakh
1010313019
Herik Okta Jonanda
1010313073
Ilvilia Saptahani
1110312087
Chika Aulia Husna
1110312119

Preseptor:
dr. Citra Manela, Sp. F

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
2016

DAFTAR ISI

DAFTAR ISIi
DAFTAR GAMBAR......iii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...................................................2
1.2 Batasan Masalah.... 2
1.3 Tujuan Penulisan2
1.4 Metode Penulisan...2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Luka Tusuk.....3
2.1.1 Definisi 3
2.1.2 Epidemiologi3
2.1.3 Karakteristik Luka....3
2.1.4 Pemeriksaan pada Luka Tusuk 6
2.1.5 Kualifikasi Luka.. 8
2.1.6 Penyebab Kematian... 10
2.2 Embalming...11
2.2.1 Definisi.. 11
2.2.2Klasifikasi ......................................... 11
2.2.3Bahan Kimia yang digunakan.. 13
2.3 Aspek Medikolegal.. 15
2.3.1 Aspek Medikolegal pada Luka Tusuk... 15
2.3.2 Aspek Medikolegal pada Embalming17
BAB III LAPORAN KASUS ... 19
3.1 Visum et repertum... 19

3.2 Dokumentasi Luka pada Korban. 19


BAB IV DISKUSI. 25
DAFTAR PUSTA. 27

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.Luka tusuk yang disebabkan oleh pisau bermata satu .. 4


Gambar 2.Konfigurasi ireguler dari luka tusuk . 4
Gambar 3.Pisau bermata satu yang ditusukan dengan kedalaman berbeda 5
Gambar 4.Gambaran tusukan berbagai jenis obeng .. 5
Gambar 5.Luka multipelyang merupakan tandapercobaan bunuh diri 7
Gambar 6.Ilustrasi terjadinya luka perlawanan. 7
Gambar 7.Luka perlawanan padatangan... 7
Gambar 8.Luka perlawanan padabagian extensor lengan bawah... 8
Gambar 9.Embalming Tradisional di Mesir Kuno... 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Trauma tajam adalah sebuah trauma yang diakibatkan oleh senjata atau
benda-benda yang memiliki tepi yang tajam atau runcing (seperti pisau, gunting,
dan kaca).Putusnya atau rusaknya kontinuitas jaringan karena trauma akibat
alat/senjata yang bermata tajam dan atau berujung runcing pada umumnya mudah
dibedakan dari luka yang disebabkan oleh benda tumpul dan dari luka tembakan
senjata api.1
Suatu komunitas trauma di Jerman, mendapatkan sebanyak 871 pasien
mengalami luka tusuk dan 305 pasien dengan luka tembak.Pada peneletian lain di
Jerman, 376 kematian diakibatkan oleh trauma tajam dan 80% merupakan kasus
pembunuhan, 17% bunuh diri dan 3% diantaranya adalah kecelakaan.1 Pada rumah
sakit di Belgia, korban dengan luka tusuk lebih sering ditemukan pada laki-laki
dewasa muda dan usia pertengahan, dan sekitar 27% dari seluruh pasien dibawah
pengaruh obat-obatan. Di Indonesia, tepatnya di provinsi Jawa Tengah, angka
kejadian luka akibat benda tajam/tumpul menempati posisi ketiga sebanyak 16,7%
setelah cedera akibat jatuh yang menempati posisi puncak (60,4%).2
Di Indonesia, yang beriklim tropis, dalam 24 jam mayat sudah mulai
membusuk, mengeluarkan bau, dan cairan pembusukan yang dapat mencemari
lingkungan sekitarnya, karena itu jika terjadi penundaan penguburan atau kremasi
lebih dari 24 jam, dapat dilakukan proses embalming.3
Masih tingginya angka kematian yang disebabkan oleh luka tusuk, dan
perlunya embalming dalam penundaan penguburan, membuat penulis merasa
tertarik untuk membahas aspek medikolegal pada luka tusuk dan embalming pada
laporan kasus ini.
1.2 Batasan Masalah
Batasan penulisan ini membahas mengenai definisi, epidemiologi,
karakteristik, aspek medikolegal dari luka tusuk, dan embalming.

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan pembaca dan


penulis tentang luka tusuk dan proses embalming serta aspek medikolegalnya.
1.4 Metode Penulisan
Referat ini ditulis dengan menggunakan metode tinjauan pustaka yang
merujuk dari berbagai literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.3.1Luka Tusuk
6

2.1.1 Definisi
Luka tusuk merupakan

trauma yang diakibatkan benda tajam

(trauma tajam).4Luka tusuk ini terjadi akibat tusukan benda tajam dengan
arah kurang lebih tegak lurus terhadap kulit.5 Lebar luka yang ditimbulkan
pada kulit jarang sekali memberikan gambaran dari kedalaman luka tusuk.
Luka tusuk diakibatkan oleh suatu gerakan aktif maju yang cepat atau suatu
dorongan pada tubuh dengan sebuah alat yang ujungnya tajam.6
2.1.2 Epidemiologi
Pada tahun 2009 sampai tahun 2011 di suatu tempat komunitas
trauma di Jerman, didapatkan 871 pasien dengan luka tusuk dan 305 pasien
dengan luka tembak.7Di Jerman 376 kematian akibat trauma tajam yang
terjadi menunjukkan bahwa 80% merupakan kasus pembunuhan, 17%
bunuh diri dan 3% diantaranya adalah kecelakaan.1 Pada rumah sakit di
Belgia, korban dengan luka tusuk lebih sering ditemukan pada laki-laki
dewasa muda dan usia pertengahan, dan sekitar 27% dari seluruh pasien
dibawah pengaruh obat-obatan.8 Di Indonesia, tepatnya di provinsi Jawa
Tengah, angka kejadian luka akibat benda tajam/tumpul sebanyak 16,7%.1
2.1.3 Karakteristik Luka
a) Kedalaman luka
Pada luka tusuk, panjang luka pada kulit dapat sama, lebih kecil
ataupun lebih besar jika dibandingkan dengan lebar pisau. Kebanyakan luka
tusuk akan menganga bukan karena sifat benda yang masuk tetapi sebagai
akibat elastisitas dari kulit.Pemakaian istilah luka penetrasi ditunjukkan
untuk menjelaskan dimana dalaman luka yang diakibatkan oleh benda itu
melebihi lebar luka yang tampak pada permukaan kulit.9,10 Dalamnya luka
sulit ditentukan pada daerah tanpa tulang seperti di daerah abdomen oleh
karena elastisitas dinding perut tersebut.5
Panjang saluran luka atau kedalaman luka dapat mengindikasikan
panjang minimun dari senjata yang digunakan. Umumnya dalam luka lebih
pendek dari panjang senjata, karena jarang ditusukan sampai kepangkal
senjata.4

Gambar 1. Luka tusuk yang disebabkan oleh pisau bermata satu.11


b) Lebar luka
Lebar luka penting diukur dengan cara merapatkan kedua tepi luka
sebab itu akan mewakili lebar alat. Lebar luka di permukaan kulit tampak
lebih kecil dari lebar alat, apalagi bila luka melintang terhadap otot. 4Bila
luka masuk dan keluar melalui alur yang sama maka lebar luka sama dengan
lebar alat. Tetapi sering yang terjadi lebar luka melebihi lebar alat kerena
tarikan ke samping waktu menusuk dan waktu menarik. Demikian juga bila
alat/pisau yang masuk kejaringan dengan posisi yang miring. 4

Gambar 2. Konfigurasi ireguler dari luka tusuk karena pisau berputar atau
pergerakan dari korban ketika pisau dicabut. 11
c) Bentuk luka
Bentuk luka merupakan gambaran yang penting dari luka tusuk karena
karena hal itu akan sangat membantu dalam membedakan berbagai jenis
senjata yang mungkin telah dikumpulkan oleh polisi dan dibawa untuk
diperiksa. Pinggir luka dapat menunjukan bagian yang tajam (sudut lancip)
dan tumpul (sudut tumpul) dari pisau berpinggir tajam satu sisi. Pisau
dengan kedua sisi tajam akan menghasilkan luka dengan dua pinggir tajam.4

Gambar 3. Pisau bermata satu yang ditusukan dengan kedalaman yang


berbeda - beda.7
Perlu diingat bahwa benda lain yang dapat menembus tubuh,
seperti pahat, obeng atau gunting, akan menyebabkan perbedaan bentuk
luka yang kadang-kadang berbentuk segi empat atau, yang lebih jarang,
berbentuk satelit.4

Gambar 4. Gambaran tusukan berbagai jenis obeng.7


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk,
salah satunya adalah reaksi korban saat ditusuk atau saat pisau keluar, hal
tersebut dapat menyebabkan lukanya menjadi tidak begitu khas. Atau
manipulasi yang dilakukan pada saat penusukan juga akan mempengaruhi.
Beberapa pola luka yang dapat ditemukan :
1. Tusukan masuk, yang kemudian dikeluarkan sebagian, dan kemudian
ditusukkan kembali melalui saluran yang berbeda. Pada keadaan
tersebut luka tidak sesuai dengan gambaran biasanya dan lebih dari
satu saluran dapat ditemui pada jaringan yang lebih dalam maupun
pada organ.
2. Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah
satu sudut, sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan
luka pada permukaan kulit seperti ekor.
3. Tusukan masuk kemuadian saat masih di dalam ditusukkan ke arah
lain, sehingga saluran luka menjadi lebih luas. Luka luar yang terlihat
juga lebih luas dibandingkan dengan lebar senjata yang digunakan.
4. Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan
titik terdalam sebagai landasan, sehingga saluran luka sempit pada
9

titik terdalam dan terlebar pada bagian superfisial. Sehingga luka luar
lebih besar dibandingkan lebar senjata yang digunakan.
5. Tusukan diputar saat masuk, keluar, maupun keduanya. Sudut luka
berbentuk ireguler dan besar.
2.1.4 Pemeriksaan Luka Tusuk
Pada pemeriksaan luka ada dua tipe luka oleh karena instrumen
yangtajam yang perlu diperhatikan dengan baik dan memiliki ciri yang
dapat dikenalidari aksi korban yaitu tanda percobaan dan luka perlawanan.
Keduanya

mempunyai

bentuk,

letak

dan

medikolegal.

Tanda

percobaanadalah insisi dangkal, luka tusuk dibuat sebelum luka yang fatal
oleh individu yang berencanabunuh diri. Luka percobaan tersebut seringkali
terletak paralel dan terletak dekatdengan luka dalam di daerah pergelangan
tangan atau leher. Bentuk lainnya antaralain luka tusuk dangkal didekat luka
tusuk dalam dan mematikan. Meskipun jarangsekalidilaporkan.2

Gambar 5.Luka multipelyang merupakan tandapercobaan bunuh diri.5


Bentuk lain dari luka oleh karena instrumen yang tajam adalah
luka perlawanan. Luka jenis ini dapat ditemukan di jari-jari, tangan, dan
lenganbawah (jarang ditempat lain) dari korban sebagaimana ia berusaha
melindungidirinya dari ayunan senjata, contohnya dengan menggenggam
bilah dari instrumentajam.2

10

Gambar 6.Ilustrasi terjadinya luka perlawanan.7

Gambar 7. Luka perlawanan padatangan.5

Gambar 8. Luka perlawanan padabagian extensor lengan bawah.5


Dalam pemeriksaan, interpretasi luka harus berdasarkan penemuan
dan tidak boleh dipengaruhi oleh keterangan pasien atau keluarga.
Pemeriksaan ditujukan untuk menentukan:2,3
a.
b.
c.
d.

Jumlah luka
Lokasi luka
Arah luka
Ukuran luka (panjang, lebar dan dalam)
11

e. Memperkirakan luka sebagai penyebab kematian korban atau


bukan
f. Memperkirakan cara terjadinya luka apakah kasus pembunuhan,
bunuhdiri, atau kecelakaan.
Lokasi luka dijelaskan dengan menghubungkan daerahdaerah
yangberdekatan dengan garis anatomi tubuh dan posisi jaringan tertentu,
misalnyagaris tengah tubuh, ketiak, puting susu, pusat, persendian dan lain
lain.3
Bentuk luka sebaiknya dibuat dalam bentuk sketsa atau difoto
untuk menggambarkan kerusakan permukaan kulit, jaringan dibawahnya,
dan bila perluorgan dalam (viseral). Diukur secara tepat (dalam ukuran
millimeter ataucentimeter) tidak boleh dalam ukuran kira kira saja.3
2.1.5 Kualifikasi Luka
Dalam membuat kesimpulan luka sebaiknya dokter juga menentukan
derajat keparahan luka yang dialami korban atau disebut juga derajat
kualifikasi luka. Diharapkan dari dokter untuk dapat membantu kalangan
hukum dalam menilai berat ringannya luka yang dialami korban pada waktu
atau selama perawatan dilakukannya.3
Kualifikasi luka yang dapat dibuat oleh dokter adalah menyatakan
pasien mengalami luka ringan, sedang atau berat. Yang dimaksud dengan
luka ringan adalah luka yang tidak menimbulkan halangan dalam
menjalankan mata pencaharian, tidak mengganggu kegiatan sehari-hari.
Sedangkan luka berat harus disesuaikan dengan ketentuan undang-undang
yaitu yang diatur dalam KUHP pasal 90. Luka sedang adalah keadaan luka
antara luka ringan dan luka berat. KUHP Pasal 90; luka berat berarti:4
a) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan
sembuhsama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut,
b) Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan
c)
d)
e)
f)
g)

ataupekerjaan pencaharian
Kehilangan salah satu panca indera
Mendapat cacat berat
Menderita sakit lumpuh
Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih
Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan.

12

Kualifikasi di atas secara terperinci dapat di bagi dalam empat


kualifikasiderajat luka, yaitu :4
a. Derajat 1: Orang yang bersangkutan tidak menjadi sakit atau tidak
mendapat halangan dalam melakukan pekerjaan atau jabatan.
b. Derajat 2: Orang yang bersangkutan menjadi sakit dan tidak ada
halangan untuk melakukan pekerjaan atau jabatannya
c. Derajat 3: Orang yang bersangkutan menjadi sakit dan berhalangan
untuk melakukanpekerjaan atau jabatannya.
d. Derajat 4: Orang yang bersangkutan mengalami :
Penyakit atau luka yang tidak ada harapan untuk sembuh
Dapat mendatangkan bahaya maut
Tidak dapat menjalankan pekerjaan
Tidak dapat menggunakan salah satu panca indra
Terganggu pikiran lebih dari 4 minggu
Keguguran
Hal ini perlu dipahami oleh dokter karena ini merupakan jembatan
untuk menyampaikan derajat kualifikasi luka dari sudut pandang medik
untuk penegak hukum.2,4
Penerapan penyampaian pendapat dokter dalam VeR tentang luka
yang menimbulkan bahaya maut, misalnya bila seorang korban mendapat
luka di perut yang mengenai hati, yang menyebabkan perdarahan hebat
sehingga dapat mengacam jiwa. Walaupun pasien akhirnya sembuh tetapi di
dalam VeR dokter dapat menggambarkan keadaan ini dalam kata kata,
korban mengalami luka tusuk di perut mengenai jaringan hati yang
menyebabkan perdarahan banyak yang dapat mengancam jiwa pasien.
Ungkapan ini akan mengingatkan para penegak hukum bahwa korban telah
mengalami luka berat.4
2.1.6 Penyebab Kematian
Penyebab kematian dapat terjadi segera atau langsung, tetapi
perlukaandapat juga menyebabkan kematian secara tidak langsung.
Penyebab kematian langsung dapat berupa:1,2
1. Perdarahan luas (syok hipovolemik) dan banyak dapat terjadi di dalam
rongga tubuh atau di luar rongga tubuh. Volume darah ada kira kira 7
-10 % atau 1/13 berat badan. Kehilangan 1/3 bagian dari volume darah

13

tubuh secara tiba- tiba dapat menyebabkan kematian. Kehilangan darah


yang

demikian

tidak dilakukan

ini

mengakibatkan

penanganan

yang

syok
tepat

dan
dan

meninggal
cepat,

bila

sedangkan

kehilangan darah secara perlahan-lahan tidak begitu membahayakan


oleh karena tubuh dapat mengkompensasinya. Perdarahan di dalam
rongga tubuh dapat kita jumpai pada luka tusuk yang mengenai organ
organ dalam seperti jantung, paruparu, hati dan limpa. kalau dijumpai
lebih dari satu luka, maka harus ditentukan yang mana yang
menyebabkan kematian korban.
2. Luka pada organ vital. Bila yang terluka adalah organ vital,
seperti jantung, paru, limpa, hati, ginjal, pembuluh darah besar
akanmenyebabkan kematian lebih cepat. Perdarahan pada kantung
pericardiumsebanyak 300- 400 cc telah dapat menyebabkan kematian
karena terjaditamponade jantung. Demikian juga darah sejumlah 200
300 cc yangmenyumbat saluran pernafasan dapat menyebabkan
kematian karenaasfiksia.
Kematian yang timbul dalam jangka waktu yang lama, yang bukan
primeroleh karena lukanya, disebut penyebab kematian secara tidak
langsung. Yangtermasuk hal-hal ini adalah :1
1. Inflamasi

dari

organorgan

dalam

tubuh,

seperti

meningitis,

encephalotos, pleuritis dan peritonitis.


2. Infeksi sepsis dari luka yang dapat mengakibatkan septicemia dari
lukalama yang tidak sembuh dan luka ini bisa primer ataupun sekunder.
3. Gangren atau nekrosis sebagai akibat kerusakan jaringanjaringan
danpembuluh darah.
4. Trombosis pada pembuluh darah vena dan emboli yang terjadi
akibatimmobilisasi.
2.2 Embalming
2.2.1Definisi
Embalming (pengawetan jenazah) adalah suatu proses dimana
dilakukan pemberian bermacam-macam bahan kimia tertentu pada interior
dan eksterior jaringan orang mati untuk menghambat dekomposisi jaringan,
membuat serta menjaganya tetap mirip dengan kondisi sewaktu hidup sesuai

14

dengan waktu yang diperlukan.12 Orang yang melakukan tindakan


embalming disebut embalmer. Embalmer adalah seorang individu yang
memenuhi syarat untuk disinfeksi atau memelihara jenazah dengan suntikan
atau aplikasi eksternal antiseptik, disinfektan atau cairan pengawet,
mempersiapkan jenazah untuk transportasi dalam kasus dimana kematian
disebabkan oleh penyakit menular atau infeksi.13
2.2.2 Klasifikasi
Embalming berdasarkan perubahan zaman, tebagi atas dua:
1. Embalming Tradisional
Metode yang digunakan di zaman Mesir sejak 3200 tahun sebelum
masehi sampai 600 tahun sesudah masehi meliputi penggaraman,
penjemuran, penyucian, pemberian rempah-rempah (embalming), dan
pembungkusan jenazah dengan menambahkan resin dan lemak sebelum
jenazah ditempatkan dalam peti.14

Gambar 9. Embalming Tradisional di Mesir Kuno. 14


Proses embalming tradisional mencakup tiga hal yaitu disinfeksi,
pengawetan (preservasi), dan presentasi. Disinfeksi adalah proses
pembasmian atau pengurangan jumlah mikroorganisme sampai pada
tingkatan yang dianggap tidak berbahaya bila terjadi kontak dengan
orang lain. Disinfeksi merupakan tujuan utama dari embalming.
Preservasi adalah proses yang bertujuan untuk mencegah sementara
kerusakan yang terjadi pada tubuh jenazah. Preservasi merupakan
tujuan sekunder dari embalming. Presentasi adalah proses yang
dilakukan untuk memperbaiki penampilan jenazah.14
2. Embalming Modern
Metode modern embalming didefinisikan sebagai disinfeksi dan
pelestarian tubuh yang sudah mati. Proses embalming modern
15

dirancang untuk menghambat dekomposisi jaringan untuk periode


waktu yang diperlukan sesuai yang diinginkan oleh keluarga agar
jenazah berada dalam kondisi yang baik. Embalming modern telah
terbukti mampu mmenjaga tubuh untuk beberapa dekade.5
Embalming modern dilakukan dengan menggunakan cairan
embalming yang bersifat disinfektan dan pengawet. Cairan embalming
disuntikkan ke dalam sistem peredaran darah tubuh dengan pompa
listrik, sementara darah dikeluarkan dari tubuh dan dibuang. Sehingga
posisi darah ditubuh digantikan dengan disinfektan dan cairan
pengawet.15

Tahapan langkah pelaksanaan embalming:14


a.

Pre-Embalming
Pertama buka semua pakaian dan perhiasan yang dikenakan
jenazah. Lalu bersihkan kulit, mata, mulut, dan seluruh orificium
pada tubuh jenazah dengan menggunakan desinfektan yang kuat.
Jika sudah terjadi rigor mortis, maka lemaskan otot dengan cara
memijat perlahan pada otot yang kaku. Kemudian cukur bulubulu di wajah dan badan. Selain itu dilakukan juga pengeluaran
darah dari tubuh jenazah.

b.

Penyesuaian Fitur
Penyesuaian fitur ini bertujuan untuk memposisikan tubuh
dan wajah sedekat mungkin dengan kondisi aslinya. Misalnya
melakukan perawatan mata, perawatan rahang, dan perawatan
bibir.

c.

Arterial Embalming
Perlakuan yang utama pada tahap ini ialah menyuntikkan
cairan pembalseman melalui arteri-arteri besar. Langkah ini
terutama untuk mengawetkan kulit, otot, dan organ-organ.

d.

Cavity Embalming

16

Pada langkah ini dilakukan penyedotan cairan pada ronggarongga

tubuh,

kemudian

memasukkan

cairan

pengawet

kedalamnya. Hal ini lebih bertujuan untuk meminimalkan proses


pembusukan.
e.

Post-Embalming
Setelah dilakukan proses di atas, jenazah dibersihkan untuk
menghilangkan noda darah dan bahan kimia yang menempel, lalu
dirias dan disisir.

2.2.3Bahan Kimia yang Digunakan


Berikut

adalah

bahan-bahan

kimia

yang

dapat

digunakan

untuk

embalming:16,17
1. Formaldehida
Senyawa kimia formaldehida (metanal), merupakan aldehida
berbentuk gas dengan rumus kimia H2CO. Formaldehida dihasilkan dari
pembakaran bahan yang mengandung karbon. Formaldehida dalam kadar
kecil sekali juga dihasilkan sebagai metabolit kebanyakan organisme,
termasuk manusia.
Formaldehida dapat digunakan untuk membasmi sebagian bakteri,
sehingga sering digunakan sebagai desinfektan dan juga sebagai bahan
pengawet. Sebagai desinfektan, formaldehida dikenal juga dengan nama
formalin dan dimanfaatkan sebagai pembersih lantai, pembersih kapal,
gudang, dan pakaian.16Dalam bidang medis, larutan formaldehida
digunakan untuk embalming untuk mematikan bakteri serta untuk
mengawetkan mayat.16Formaldehida diabsorbsi di jaringan dengan baik,
tetapi relatif lambat. Formalin adalah pengawet yang banyak digunakan
dan tidak ada jaringan yang dirusaknya. Bau formalin yang menusuk
hidung membuat formalin sangat dikenal banyak pihak, sehingga cukup
berhati-hati dalam menggunakannya.16
2. Etil alkohol dan Polietilen Glikol
Alternatif formaldehida dalam embalming dikenal oleh Boon dkk.
Kryofix dikembangkan di Belanda, merupakan gabungan antara etil

17

alkohol dan polietilen glikol tanpa aldehid. Efek kryofix pada fiksasi
jaringan elah dibandingkan dengan formaldehida dilabor patologi. Waktu
fiksasi kryofix lebih pendek dan lebih baik dibandingkan formaldehida.
Hal ini berbeda dengan uji di laboraturium. Dengan demikian, penggunaan
kryofix pada jaringan yang besar diperlukan untuk menentukan
keberhasilan kryofix dalam proses embalming. Menurut definisi toksisitas
OSHA, etil alkohol dan polietin glikol tidak termasuk bahan kimia
berbahaya.16
3. Glutaraldehid
Glutaraldehid dapat digunakan sebagai alternatif formaldehid untuk
embalming. Produk komersial glutaraldehid adalah 25% larut dalam air,
memiliki bau ringan, dan berwarna terang. Glutaraldehid menyebabkan
deformasi struktur helix-alfa protein dan mengawetkan jaringan dengan
sangat cepat. Glutaraldehid menyebabkan konsentrasi tinggi meningkatkan
fiksasi protein dalam tubuh mayat. Konsentrasi optimum untuk embalming
ialah 1-1,5% (cairan). Larutan glutaraldehid 2% sering digunakan sebagai
persiapan embalming.16Ikatan protein dengan glutaraldehid lebih kuat dan
menghasilkan protein aldehid yang stabil. Gabungan protein jaringan dan
glutaraldehid tidak disukai oleh bakteri. Glutaraldehid berdifusi menembus
jaringan lebih merata dibandingkan formaldehid. Ketika dicampur dengan
zat pewarna pada proses embalming akan menghasilkan warna yang lebih
alami. Glutaraldehid merupakan desinfektan yang lebih efisien dan efektif
dibandingkan formaldehid, namun harga glutaraldehid lebih mahal 4-5 kali
lipat.17 Formaldehid dan glutaraldehid dapat mengiritasi kulit, mata, dan
pernapasan, tetapi efek yang disebabkan lebih ringan. Glutaraldehid tidak
memiliki bau seperti formal dehid. Sampai saat ini, belum ada data yang
menyebutkan efek paparan kronis dari glutaraldehid pada manusia.18
2.3 Aspek Medikolegal
2.3.1 Aspek Medikolegal pada Luka Tusuk

18

Dalam melakukan pemeriksaan terhadap korban hidup atau


meninggalyang menderita luka akibat kekerasan, pada hakikatnya dokter
diwajibkanuntuk dapat memberikan kejelasan mengenai jenis luka yang
terjadi, jeniskekerasan/senjata yang menyebabkan luka, dan derajat luka.
Pada penentuan luka secara medikolegal seperti pada tindakan
bunuh diri,pembunuhan

atau

kecelakaan

dapat

ditentukan

dengan

mengumpulkan semua datapemeriksaan korban. Aspek yang harus


diperhatikan dalam kasus bunuh diri dan pembunuhan:
a. Bunuh diri. Pada pemeriksaan luka dengan teliti sering didapatkan
satu atau lebih luka lebih dangkal dan berjalan sejajar disekitar luka
utama, luka tersebut adalah luka percobaan. Selain dada dalam hal
ini daerah jantung maka pada daerah perut yang biasanya di daerah
lambung, adalah merupakan daerahdaerah yang sering dipilih korban
untuk kasuskasus bunuh diri. Dengan adanya senjata yang
tergenggam erat cadaveric spasm hampir dapat ditentukan dengan
pastikan bahwa korban telah melakukan bunuh diri.
b. Pembunuhan. Jumlah luka umumnya lebih dari satu, tidak mempunyai
lokasi atau tempat khusus, seringkali didapati luka-luka yang didapat
sewaktu korban mengadakan perlawanan.
Sesuai dengan pengertian ilmu kedokteran forensik, yang hanya baru
dipahami setelah mempelajari pasal-pasal dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana, yang bersangkutan dengan penganiayaan, terutama pasal
315 dan pasal 352 dan tentang arti beberapa istilah yang dipakai dalam kitab
undang-undang dalam pasal 901.
Salah satu yang harus diungkapkan dalam kesimpulan sebuah VeR
perlukaan adalah derajat luka atau kualifikasi luka. Dari aspek hukum, VeR
dikatakan baik apabila substansi yang terdapat dalam VeR tersebut dapat
memenuhi delik rumusan dalam KUHP. Penentuan derajat luka sangat
tergantung pada latar belakang individual dokter seperti pengalaman,
keterampilan, keikutsertaan dalam pendidikan kedokteran berkelanjutan dan
sebagainya. Suatu perlukaan dapat menimbulkan dampak padakorban dari
segi fisik, psikis, sosial dan pekerjaan, yang dapat timbul segera, dalam

19

jangka pendek, ataupun jangka panjang. Dampak perlukaan tersebut


memegang peranan penting bagi hakim dalam menentukan beratnya sanksi
pidana yang harus dijatuhkan sesuai dengan rasa keadilan. Hukum pidana
Indonesia mengenal delik penganiayaan yang terdiri dari tiga tingkatan
dengan hukuman yang berbedayaitu penganiayaan ringan (pidana
maksimum 3 bulan penjara), penganiayaan (pidana maksimum 2 tahun 8
bulan), dan penganiayaan yang menimbulkan luka berat (pidanamaksimum
5 tahun). Ketiga tingkatan penganiayaan tersebut diatur dalam pasal 352 (1)
KUHP untuk penganiayaan ringan, pasal 351 (1) KUHP untuk
penganiayaan, dan pasal 352 (2) KUHP untuk penganiayaan yang
menimbulkan luka berat. Setiap kecederaan harus dikaitkan dengan ketiga
pasal tersebut. Untuk hal tersebut seorang dokter yang memeriksa cedera
harus menyimpulkan dengan menggunakan bahasa awam, termasuk pasal
mana kecederaan korban yang bersangkutan. Rumusan hukum tentang
penganiayaan ringan sebagaimana diatur dalam pasal 352 (1) KUHP
menyatakan bahwa penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakitatau
halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam,
sebagai penganiayaan ringan. Jadi bila luka pada seorang korban
diharapkan dapat sembuh sempurna dan tidak menimbulkan penyakit atau
komplikasinya, maka luka tersebut dimasukkan ke dalam kategori tersebut.
Selanjutnya rumusan hukum tentang penganiayaan (sedang) sebagaimana
diatur dalam pasal 351 (1) KUHP tidak menyatakan apapun tentang
penyakit. Sehingga bila kitamemeriksa seorang korban dan didapati
penyakit akibat kekerasan tersebut, maka korban dimasukkan ke dalam
kategori tersebut1,2.
Akhirnya, rumusan hukum tentang penganiayaan yang menimbulkan
luka berat diatur dalam pasal 351 (2) KUHP yang menyatakan bahwa Jika
perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun. Luka berat itu sendiri telah diatur
dalam pasal 90 KUHP secara limitatif. Sehingga bila kita memeriksa
seorang korban dan didapati salah satu luka sebagaimana dicantumkan
dalam pasal 90 KUHP, maka korban tersebut dimasukkan dalam kategori
tersebut. Luka berat menurut pasal 90 KUHP adalah : jatuh sakit atau
20

mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau
yang menimbulkan bahaya maut; tidak mampu terus-menerus untuk
menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian; kehilangan salah satu
panca indera, mendapat cacat berat (verminking); menderita sakit lumpuh;
terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih; atau gugur atau
matinya kandungan seorang perempuan2.
Sebagai seorang dokter, ia tidak mengenal istilah penganiayaan. Jadi
istilah tersebut tidak boleh dicantumkan dalam Visum et Repertum. Akan
tetapi dokter tidak boleh mengabaikan luka sekecil apa pun. Sebagai
misalnya luka lecet yang akan sembuh sendiri dalam satu-dua hari secara
sempurna dan tidak mempunyai arti medis, tetapi sebaliknya sangat berarti
dari kacamata hukum2.
2.3.2 Aspek Medikolegal pada Embalming
Embalming berfungsi untuk menghambat pembusukan, membunuh
kuman, serta mempertahankan bentuk mayat. Prinsipnya embalming hanya
boleh dilakukan oleh dokter pada kematian yang wajar (natural death),
sedangkan pada kematian yang tidak wajar embalming baru dapat dilakukan
setelah proses pemeriksaan forensik dilakukan. Embalming sebelum
pemeriksaan forensik dapat menyebabkan perubahan serta hilangnya atau
berubahnya beberapa fakta forensik. Dokter yang melakukan hal tersebut
dapat diancam hukuman karena melakukan tindak pidana menghilangkan
barang bukti berdasarkan pasal 233 KUHP. Bunyi pasal 233 KUHP adalah
Barang siapa dengan sengaja menghancurkan, merusak, membikin tak
dapat dipakai, menghilangkan barang-barang yang digunakan untuk
meyakinkan atau membuktikan seusatu dimuka penguasa yang berwenang,
akta-akta, surat-surat atau daftar-daftar yang atas perintah penguasa umum,
terus menerus atau untuk sementara waktu disimpan, atau diserahkan
kepada orang lain untuk kepentingan umum, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun.19,20
Di Indonesia, embalming sebaiknya dilakukan oleh orang yang
mempunyai keahlian dan kewenangan yaitu dokter spesialis forensik.
Adapun alasannya adalah sebagai berikut:8

21

1. Indonesia tidak menganut sistem koroner atau medical examiner yang


bertugas memilah kasus kematian wajar dan kematian tidak wajar.
2. Embalmer di Indonesia, yang secara sengaja maupun tidak sengaja
melakukan embalming pada kasus kematian tidak wajar sebelum
dilakukan

autopsi,

dapat

menyebabkan

terjadinya

kesulitan

penyelidikan karena adanya bukti-bukti tindak pidana yang hilang


atau berubah dan karenanya dapat dikenakan sanksi pidana
penghilangan benda bukti berdasarkan pasal 233 KUHP. Jika pada
kasus ini dilakukan juga gugatan perdata, maka pihak rumah duka
juga dapat dilibatkan sebagai pihak tergugat.
3. Kewenangan dan keahlian untuk melakukan embalming ada pada
dokter spesialis forensik, berdasarkan pendidikannya.
Dalam hal telah dilakukan embalming tanpa sertifikat dan hasilnya
merugikan keluarga, maka pihak rumah duka sebagai pihak yang
memfasilitasi embalming tersebut juga dapat digugat secara perdata
berdasarkan pasal 1365 KUHPer.18 Pasal 1365 KUHPer berbunyi Tiap
perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang
lain,

mewajibkan

orang

yang

menimbulkan

kerugian

itu

karena

kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.11

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1 Visum et Repertum
Nomor :
22

Perihal : Pemeriksaan Luar Jenazah


An

: Rita Mulyap

PROJUSTITIA

Padang, 19 Januari

2016
VISUM ET REPERTUM
Yang bertanda tangan dibawah ini, Rika Susanti, Doktor, dokter spesialis forensik
pada Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang, menerangkan bahwa atas
permintaan tertulis dari Kepolisian NegaraRepublik Indonesia daerah Sumatera
Barat Resor Kota Padang Sektor Padang Barat, tertanggal sembilan belas Januari
dua ribu enam belas, dengan Nomor VER/09/I/K/2016 pada tanggal sembilan
belas Januari tahun dua ribu enam belas pukul dua puluh Waktu Indonesia Bagian
Barat, bertempat di bagian forensik Rumah Sakit Umum Pusat Dr.M.Djamil
Padang, telah dilakukan pemeriksaan luar atas jenazah dengan keterangan sebagai
berikut:---------Nama

Rita

Mulyap---------------------------------------------------------Jenis Kelamin

Perempuan-----------------------------------------------------------Umur

26

Tahun

------------------------------------------------------------Suku

Tionghoa-------------------------------------------------------------Pekerjaan

Karyawan

Swasta

--------------------------------------------------Alamat

: Jalan Pemuda No. 20,

Kelurahan Olo,

Kecamatan

Padang
Barat,
Padang--------------------------------------------------------

23

HASIL PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN
LUAR:--------------------------------------------------------------------1. Label

mayat

tidak

ada.-------------------------------------------------------------2. Tutup/bungkus mayat :


a) Satu helai kain panjang bahan katun motif batik warna ungu, merah,
hijau,
biru,
putih.
-----------------------------------------------------------------------------------3. Perhiasan

mayat

tidak

ada----------------------------------------------------------4. Pakaian mayat :


a) Satu helai baju kaos lengan pendek warna putih, terdapat tiga buah
kancing pada bagian tengah atas depan merk evon tanpa ukuran,
terdapat robekan pada bagian kiri atas sebanyak empat buah masingmasing sepanjang dua sentimeter, empat koma lima sentimeter, tiga
sentimeter, dan dua koma lima sentimeter. Baju kaos dalam keadaan
terpotong

dan

keadaan

basah

dan

terdapat

noda

warna

kemerahan-------------------------b) Satu helai bra warna putih merk walcoat ukuran B delapan puluh,
dalam keadaan terpotong dan keadaan basah serta terdapat noda
warna
kemerahan.------------------------------------------------------------------------c) Satu helai celana jeans warna hitam, terdapat dua buah saku pada
bagian atas depan kiri kanan tanpa isi, terdapat dua buah saku pada
bagian belakang atas kiri kanan tanpa isi merk peneLope ukuran dua
puluh
enam.------------------------------------------------------------------------------d) Satu helai celana dalam bahan kaos warna ungu merk pierre cardin.

24

5. Benda

disamping

mayat

tidak

ada

------------------------------------------------6. Kaku

mayattidak

ada

----------------------------------------------------------------Lebam mayat terdapat pada punggung berwarna merah keunguan, hilang


pada

penekanan

-----------------------------------------------------------------------7.

Mayat adalah mayat seorang perempuan, ras mongoloid, berumur lebih


kurang dua puluh enam tahun, kulit berwarna kuning langsat, gizi baik,
panjang tubuh seratusseratus lima puluh tujuh sentimeter, berat tubuh
tidak
ditimbang.-----------------------------------------------------------------------------

8.

Identifikasi

khusus:

tidak

ada

-------------------------------------------------------9.

Rambut kepala berwarna hitam coklat, tumbuhnya lurus, panjang tiga


puluh

dua

sentimeter

-------------------------------------------------------------------------Alis
mata
berwarna
hitam,
tumbuhnya

sedang

-----------------------------------Bulu mata berwarna hitam, tumbuhnya lurus, panjang enam milimeter


------Kumis

tidak

ada

-----------------------------------------------------------------------Jenggot
tidak

ada

---------------------------------------------------------------------10. a. Mata kanan terbuka dua milimeter, selaput bening mata jernih, teleng
mata bulat, diameter lima milimeter, warna tirai mata cokelat, selaput
bola

mata

putih,

selaput

kelopak

mata

pucat----------------------------------b. Mata kiri terbuka dua milimeter, selaput bening mata jernih, teleng
mata bulat, diameter lima milimeter, warna tirai mata coklat, selaput
bola

mata

putih,

selaput

kelopak

mata

pucat

-----------------------------------------------25

11.

Hidung

sedang,

tidak

ada

kelainan-------------------------------------------------Kedua

daun

telinga

oval,

tidak

ada

kelainan--------------------------------------Mulut terbuka sepuluh milimeter, lidah tidak terjulur dan tidak tergigit
-----12.

Gigi

Geligi

Jumlah

gigi

dua

puluh

tujuh

buah----------------------------------a) Rahang kanan atas jumlah gigi tujuh buah, gigi delapan tidak
ada--------b) Rahang kiri atas jumlah gigi tujuh buah, gigi deapan tidak ada
-----------c) Rahang kanan bawah jumlah gigi enam buah, gigi tujuh dan delapan
tidak
ada---------------------------------------------------------------------------d) Rahang kiri bawah jumlah gigi tujuh buah, gigi delapan tidak ada
-------13. Dari

lubang-lubang

------------------------------------------------------------------a) Dari

lubang

mulut

keluar

tidakada

-------------------------------------------b) Dari lubang hidung keluar : cairan berwarna kuning kehijauan


-----------c) Dari lubang telinga kanan keluar : tidak ada, dari lubang telinga kiri
keluar

tidak

ada

-----------------------------------------------------------------d) Dari

lubang

kemaluan

keluar

cairan

kemerahan

----------------------------e) Dari

lubang

pelepasan

keluar

tidak

ada

--------------------------------------14. Pada

tubuh

terdapat

luka

luka

sebagai

berikut :-------------------------------26

1) Pada dada kiri atas enam sentimeter dari garis pertengahan depan tiga
sentimeter dari puncak bahu seratus tiga puluh tiga sentimeter dari
tumit terdapat luka terbuka tepi rata, satu sudut lancip dan satu sudut
tumpul, dasar rongga dada, bila dirapatkan berbentuk garis sepanjang
tiga

sentimeter.

--------------------------------------------------------------------------2) Pada dada kiri atas tujuh belas sentimeter dari garis pertengahan depan
enam sentimeter dari lipat ketiak depan seratus dua puluh tiga
sentimeter dari tumit terdapat luka terbuka tepi rata, satu sudut lancip
dan satu sudut tumpul, dasar otot, bila dirapatkan berbentuk garis
sepanjang

tiga

koma

dua

sentimeter.

--------------------------------------------------------------------3) Pada lengan atas kiri sisi dalam sembilan koma lima sentimeter dari
lipat ketiak depan terdapat luka terbuka tepi rata, satu sudut lancip dan
satu sudut tumpul, dasar otot, bila dirapatkan membentuk garis
sepanjang

tiga

koma

lima

sentimeter.

------------------------------------------------------------4) Pada lengan atas kiri sisi luar tiga koma lima sentimeter dari siku
terdapat luka terbuka tepi rata, satu sudut lancip dan satu sudut tumpul,
dasar otot, bila dirapatkan membentuk garis sepanjang delapan koma
dua
sentimeter.-------------------------------------------------------------------------5) Pada pangkal jari telunjuk telapak tangan kanan sembilan sentimeter
dari pergelangan tangan terdapat luka terbuka tepi rata, dengan kedua
sudut lancip, dasar jaringan di bawah kulit, bila dirapatkan membentuk
garis

sepanjang

satu

koma

lima

sentimeter.

------------------------------------------6) Pada pangkal jari telunjuk punggung tangan kanan enam sentimeter
dari pergelangan tangan terdapat luka lecet gores berwarna kemerahan

27

berukuran satu koma dua sentimeter kali nol koma satu sentimeter.
------7) Pada punggung tangan kanan tiga koma enam sentimeter dari
pergelangan tangan terdapat luka lecet gores berwarna kemerahan
berukuran dua koma dua sentimeter kali nol koma satu sentimeter.
-------15.

Patah

Tulang:tidak

ada

--------------------------------------------------------------16.

Lain-lain

------------------------------------------------------------------------------a) Pada mayat terpasang pembalut wanita bermotif hello kitty.


----------------KESIMPULAN :------------------------------------------------------------------------------Telah diperiksa mayat seorang perempuan berumur dua puluh enam tahun. Pada
pemeriksaan luar ditemukan luka terbuka tepi rata pada dada kiri atas, lengan atas
kiri sisi dalam, lengan atas kiri sisi luar, pangkal jari telunjuk telapak tangan
kanan akibat kekerasan tajam dan luka lecet pada pangkal jari telunjuk punggung
tangan kanan, punggung tangan kanan akibat kekerasan tumpul. Sebab kematian
tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan dalam (autopsi).
-----------------------Demikianlah Visum et Repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan
keilmuan saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab UndangUndang

Hukum

Acara

Pidana.--------------------------------------------------------------------------Padang, 08 Januari 2016,


An. DIRUT RSUP dr M Djamil Padang.
Dokter yang memeriksa,

28

Dr. dr. Rika Susanti,Sp.F


NIP 197607312002122002

3.2 Dokumentasi Luka pada Korban

29

BAB IV
DISKUSI
Seorang korban berumur 26 tahun pada tanggal 19 Januari 2016 datang
diantar oleh suaminya dalam keadaan meninggal (Death On Arrival) ke IGD
RSUP Dr. M. Djamil Padaang. Berdasarkan pengakuan suami korban, korban
ditusuk oleh karyawan yang bekerja diperusahaan korban. Sebelumnya korban
dibawa ke RS.Selaguri dan kemudian dirujuk ke IGD RSUP. Dr. M. Djamil
Padang. Kemudian korban langsung dibawak ke Bagian Forensik RSUP Dr. M.
Djamil Padang dan dilakukan pemeriksaan luar. Kesimpulan dari pemeriksaan
luar adalah ditemukan luka terbuka tepi rata pada dada kiri atas, lengan atas kiri
sisi dalam, lengan atas kiri sisi luar, pangkal jari telunjuk telapak tangan kanan
akibat kekerasan tajam dan luka lecet pada pangkal jari telunjuk punggung tangan
kanan, punggung tangan kanan akibat kekerasan tumpul. Sebab kematian tidak
dapat ditentukan karena tidak dilakukan pemeriksaan dalam (autopsi).
Dalam kasus ini yang bersalah (pelaku) dapat dikenakan pasal 351 ayat 2
KUHP dan pasal 90 KUHP. Dimana pasal 351 ayat 2 KUHP menyatakan bahwa
Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun.Dan luka berat menurut pasal 90 KUHP
adalah luka yang menimbulkan bahaya maut.
Pada hari yang sama, dilakukan embalming pada korban di bagian Forensik
oleh dokter Spesialis Forensik. Korban dilakukan embalming karena korban
adalah penganut agama kristen dan akan adanya penundaan kremasi. Penundaan
kremasi dilakukan karena akan korban akan dibawa ke rumah duka terlebih
dahulu dan menungu keluarga yang lain untuk datang. Pasien harus dilakukan
embalming sesuai dengan waktu dan permintaan keluarga dengan tujuan agar
terjadi penundaan pembusukan dan penampilan pasien sama antara saat hidup dan

30

saat kematian. Bahan yang digunakan untuk embalming pada pasien ini adalah
Formaldehid
Embalming merupakan proses pengawetan mayat untuk mempertahankan
penampilan mayat dalam waktu yang singkat, tetap dalam kondisi yang baik
untuk jangka waktu yang lama. Pada korban ini proses embalming dilakukan
setelah proses pemeriksaan forensik. Hal tersebut dilakukan karena korban
meninggal secara tidak wajar (akibat pembunuhan). Dengan dilakukannya
embalming, terjadi penghambatan dekomposisi jaringan untuk periode waktu
yang diperlukan sebagaimana yang diinginkan oleh keluarga agar jenazah berada
dalam kondisi yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Bagian Kedokteran Forensik FKUI, Ilmu kedokteran forensik,1997.
2. Triono. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) provinsi Jawa
Tengah Tahun 2007. 2008.
3. Atmadja DS. Tatacara dan pelayanan pemeriksaan serta pengawetan
jenazah pada kematian wajar. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik dan
MedikolegalFKUI / RSUPN Cipto Mangunkosumo. 2002.

31

4. Shkrum MJ, Ramsay DA. Penetrating Trauma, Sharp-Force Injuries In


Forensic Pathology of Trauma Common Proplems for Pathologist. Humana
Press. 2007 p 357 - 397
5. Amir, Amri. Traumatologi. Dalam. Ilmu Kapita Selekta Ilmu Kedokteran
Forensik. Medan:. 2000; 107 109.
6. Anonim. Assessing Stab Wounds - Type of Weapon Involved. Available
from : URL:http://www. forensicmed.co.uk. Diakses pada tanggal 29 Januari
2016. Pukul 20.00 WIB.
7. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa
Aksara, 1997; 85-129.
8. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta: Binarupa
9.

Aksara, 1997; 85-129


James-payne J, Vanezis P. Sharp and cutting Edge Wounds. Encyclopedia of

Forensic and Legal Medicine; Elsevier academic Press. 2005: p 123 129.
10. Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik. Pedoman Bagi Dokter dan Penegak
Hukum.Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang, 2004. Hal 14955.
11. Munim Idris, Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses Penyidikan
Edisi Revisi Cetakan I 2008 CV. Sagung Seto 181-177.
12. Rivers RL. Embalming Artifacts. J Forensic Sci, 1978, 23:531-5.
13. Embalming Process. Diakses melalui http://www.amsocembalmers.org pada
tanggal 30 Januari 2016 pukul 17.00 WIB.
14. Australian Funeral Direction Association. So You want To Be Embalmers.
Diakses melalui http://www.afda.org.au. Pada tanggal 27 Januari 2016 pukul
17.16 WIB.
15. Nasution GB. Kompetensi Embalming di Indonesia. Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal FK-USU Medan. 2010.
16. Bajracharya S, Magar A. Embalming: An Art of Preserving Human Body.
Kathmandu University Medical Journal, 2006;4(16):155-7.
17. Bedino HJ. Embalming Chemistry: Glutaraldehyde versus Formaldehyde.
Champion: Expanding Encyclopedia of Mortuary Practices, 2003;649:261432
18. Scott

TJ.

What

is

Embalming.

Diakses

melalui

http://www.tjscottandson.com.au /files/6embalming.pdf pada tanggal 30


Januari 2016pukul 18.21 WIB.
19. Atmadja SD. Tata Cara dan Pelayanan Pemeriksaan serta Pengawetan
Jenazah

pada

Kematian

Wajar.

Diakses

melalui

32

http://tatacaraembalming.blogspot.com/ pada tanggal 30 Januari 2016 pukul


15.35 WIB.
20. Atmadja SD. Pengawetan Jenazah dan Aspek Medikolegal. Diakses melalui:
http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php pada tanggal 30 Januari 2016 pukul 18.35
WIB.
21. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Buku Kedua. Diakses melalui
http://id.wikisource.org/wiki/Kitab_Undang-Undang_Hukum_Pidana/Buku_
Kedua pada tanggal 29 Januari 2016 pukul 18.49 WIB.

33