Anda di halaman 1dari 72

ISU TERKINI

PERPAJAKAN
SEKTOR
PUBLIK
TERAPAN
MAKALAH
Proses Bisnis dan Aspek
Perpajakan:
PERUSAHAAN MINYAK DAN
GAS BUMI
DI INDONESIA

Ginrey Shandy Algam


(146020306111003)
Hendra Triantoro
(146020306111004)

PROGRAM MAGISTER
AKUNTANSI
STAR BPKP BATCH 3

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN...................................................................................1
GAMBARAN UMUM INDUSTRI MIGAS....................................................2
Landasan Hukum Industri Migas......................................................................2
Taksonomi Industri Migas Indonesia................................................................4
Cakupan Komoditas......................................................................................... 6
Statistik Industri Migas Indonesia....................................................................7
ASPEK PERPAJAKAN: HULU MIGAS.....................................................10
Jenis Pertambangan Hulu Migas....................................................................12
Sejarah Kontrak Hulu Migas...........................................................................13
Peran SKK Migas............................................................................................ 16
Prinsip-Prinsip Kerja Sama PSC......................................................................16
Cost Recovery................................................................................................ 20
Aspek Perpajakan Hulu Migas........................................................................21
Prinsip Pengenaan Pajak..........................................................................21
Aspek Perpajakan Berdasarkan Periodisasi Migas Indonesia...................22
Kewajiban Perpajakan Kontraktor Migas..................................................25
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010..........................................27
ASPEK PERPAJAKAN: DRILLING..........................................................34
Proses Bisnis Jasa Drilling.............................................................................. 34
Bentuk Kerjasama NDC Dengan FDC.......................................................35
Aspek Perpajakan.......................................................................................... 36
ASPEK PERPAJAKAN: JASA PENUNJANG (KONSTRUKSI)........................44
Kegiatan Usaha Jasa Konstruksi Minyak dan Gas Bumi..................................44
Aspek Perpajakan.......................................................................................... 50
Hal-Hal Yang Perlu Menjadi Perhatian Khusus................................................54
Kesimpulan.................................................................................................... 56
ASPEK PERPAJAKAN DALAM LAPORAN KEUANGAN: MEDCO ENERGI......57
Laporan Keuangan Medco Energi 2014.........................................................58
Laporan Posisi Keuangan (Konsolidasian)................................................58
Laporan Laba Rugi Komprehensif (Konsolidasi).......................................60
Laporan Arus Kas (Konsolidasi)................................................................62
Aspek Perpajakan.......................................................................................... 63
Pajak dibayar di muka............................................................................. 63
Aset Pajak Tangguhan Neto...................................................................64
Utang Pajak............................................................................................. 64
Liabilitas Pajak Tangguhan.......................................................................65
REFERENSI.......................................................................................65

ISU TERKINI PERPAJAKAN SEKTOR PUBLIK TERAPAN

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

PROSES BISNIS DAN ASPEK PERPAJAKAN


PERUSAHAAN MINYAK DAN GAS BUMI DI INDONESIA
PENDAHULUAN

Indonesia selalu diindentikkan dengan kekayaan alam yang melimpah,


baik dari segi sumber daya alam hayati maupun sumber daya alam tambang.
Besarnya potensi kekayaan alam tambang yang dimiliki oleh Indonesia tersebut,
membuatnya disebut-sebut sebagai negara dengan peringkat keenam yang
memiliki kekayaan sumber daya tambang. Hal inilah yang membuat investorinvestor, baik lokal maupun asing, tertarik untuk terjun dalam industri bisnis
pertambangan.
Secara umum, industri pertambangan di Indonesia dibagi menjadi dua
bagian besar, yaitu industri minyak dan gas bumi (migas), dan industri mineral
dan batubara (minerba). Meski banyak pihak yang memprediksi bahwa industri
pertambangan di Indonesia tidak akan bertahan selamanya mengingat kondisi
cadangan hasil tambang terutama migas yang semakin menipis, namun tidak
dapat dipungkiri bahwa keduanya memiliki peran penting dalam pembangunan
dan perekonomian nasional, yaitu antara lain sebagai penjamin sumber pasokan
energi dan bahan baku bagi pengembangan industri dalam negeri, dan menjadi
sumber penerimaan negara.
Industri minyak dan gas bumi (migas), sebagai primadona dalam industri
pertambangan, memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan industri lain
pada umumnya, terutama terkait dengan konsep industri hulu migasnya. Bisnis
hulu migas memiliki empat karakter utama (SKK Migas, 2013). Pertama,
pendapatan baru diterima bertahun-tahun setelah pengeluaran direalisasikan.
Kedua, bisnis ini memiliki risiko dan ketidakpastian tinggi serta melibatkan
teknologi canggih. Ketiga, usaha hulu migas memerlukan investasi yang sangat
besar. Namun, di balik semua risiko tersebut, industri ini memiliki karakter
keempat, yaitu menjanjikan keuntungan yang sangat besar.
Dalam konteks kontribusi kepada negara, industri migas setidaknya
menyumbang secara langsung kepada negara melalui Penerimaan Negara Bukan
Pajak (PNBP) sumber daya alam (SDA) dan pajak, baik Pajak Penghasilan (PPh)
migas dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor migas. Dilihat dari
kontribusinya, peranan migas dalam PNBP SDA sangat dominan dibandingkan
dengan peranan penerimaan SDA yang lain. Dari data Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP), pada tahun 2013 PNBP migas berkontribusi sebesar
203 triliun rupiah atau 89% dari keseluruhan penerimaan sumber daya alam,
sedangkan pada tahun 2014, jumlah tersebut meningkat menjadi 216 triliun

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

rupiah atau 90% dari keseluruhan penerimaan sumber daya alam. Apabila dilihat
dari kontribusi PPh migas terhadap penerimaan pajak dalam negeri secara
keseluruhan, peranan PPh migas juga tidak kalah penting. Industri ini mampu
menyumbang 88 triliun rupiah pada tahun 2013 atau sebesar 8,55% dari total
penerimaan pajak dalam negeri dan 87 triliun rupiah atau sebesar 7,88% pada
tahun 2014. Jumlah ini hanya kalah dari penerimaan PPh non migas dan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), yang
memang menjadi andalan penerimaan pajak.
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) menyadari bahwa industri migas memiliki
keunikan karakteristik dan keistimewaan tersendiri, yang tentunya akan sangat
berpengaruh terhadap penerimaan pajak dari sektor industri migas itu sendiri.
Oleh karena itu, pada tahun 2012 DJP membentuk satu Kantor Pelayanan Pajak
(KPP) yang secara khusus bertugas mengadministrasikan para Wajib Pajak yang
bergerak pada sektor industri migas, yaitu Kantor Pelayanan Pajak Minyak dan
Gas Bumi (KPP Migas). Selain bertujuan untuk memberikan pelayanan
perpajakan yang lebih optimal terhadap Wajib Pajak industri migas,
pembentukan KPP Migas ini juga bertujuan untuk mempermudah pengawasan
penyetoran pajak dari para Wajib Pajak industri migas yang terkenal cukup rumit
proses bisnisnya.
Melihat keunikan karakteristik dan peranan pajak dari industri migas,
maka dibutuhkan suatu pembahasan tersendiri dalam rangka memahami
bagaimana proses bisnis dalam industri migas dan aspek-aspek perpajakan yang
terkait dengan industri migas. Oleh karena itu, makalah ini secara khusus
disusun dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
GAMBARAN UMUM INDUSTRI MIGAS
Sebagaimana disebutkan sebelumnya dalam bagian pendahuluan, bahwa
industri migas adalah industri yang unik dan memilik karakteristik yang berbeda
dengan industri pada umumnya. Dalam industri migas ada berbagai kegiatan
yang terkait, yaitu meliputi usaha pencarian (exploration), pengembangan
(development), serta produksi cadangan migas, usaha pengolahan migas
(refinery); dan usaha angkutan dengan kapal laut (tanker) serta usaha
pemasaran migas serta produk-produk hasil pengolahan yang lain. Pencarian
(exploration) minyak dan gas bumi merupakan kegiatan untung-untungan
(gambling), karena meskipun telah dipersiapkan secara cermat dengan biaya
yang besar, tidak ada jaminan bahwa kegiatan tersebut akan berakhir dengan
penemuan cadangan minyak (PSAK 29, 1991). Sedangkan kegiatan lain tidak

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

jauh berbeda dengan kegiatan pada industri lain, seperti refinery yang tidak
banyak berbeda dengan kegiatan pengolahan pada industri lain dan usaha
tanker yang merupakan bagian dari usaha perkapalan, serta usaha lainnya.
Landasan Hukum Industri Migas
Pada era sebelum tahun 1960, industri migas di Indonesia menganut

aturan dari Indische Mijn Wet Tahun 1899. Aturan ini mengatur industri migas
dalam bentuk kerja sama konsesi, dimana pemerintah menyerahkan suatu
daerah tertentu kepada perusahaan swasta dalam rangka penguasaan dan
pemilikan sumber daya alam yang terkandung di daerah tersebut. Seluruh hasil
migas yang diperoleh menjadi milik perusahaan swasta tersebut, sedangkan
pemerintah hanya mendapatkan sejumlah royalti tertentu sesuai perjanjian.
Pada masa tahun 1960-1966, dikeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas
Bumi. Peraturan ini ditetapkan dalam rangka mengatasi kelemahan pada aturan
sebelumnya yang dianggap bertentengan dengan Undang-Undang Dasar 1945.
Dalam peraturan ini, industri migas menganut konsep kerja sama kontrak karya,
dimana pemegang kuasa pertambangan adalah perusahaan milik Negara
(Pertamina), sedangkan perusahaan swasta (baik asing maupun dalam negeri)
hanya bertindak sebagai kontraktor (mining right dan economic right).
Kerja sama kontrak karya memiliki kelemahan yang utama, yaitu
keberadaan mining right dan economic right pada pihak kontraktor, sedangkan
Perusahaan Negara belum diberikan wewenang manajemen untuk mengarahkan
dan menentukan kegiatan kontraktor. Oleh sebab itu, pada tahun 1966-2001
diperkenalkan konsep kerja sama kontrak bagi hasil atau Production Sharing
Contract (PSC) melalui pemberlakuan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1971
tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara. Dalam kontrak
bagi hasil, ditetapkan bahwa wewenang berada di tangan Pemerintah Republik
Indonesia (dalam hal ini diwakili oleh Pertamina). Peranan kontraktor hanya
sebagai penyandang dana dan pelaksana kegiatan operasi perminyakan. Model
kerja sama ini pun memiliki kelemahan yang utama, dimana regulator,
supervisor dan pelaku hanya dipegang oleh satu institusi yaitu Pertamina.
Tahun 2001 diterbitkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang
Minyak dan Gas Bumi, yang menandai perubahan mendasar dalam industri
Migas nasional. Melalui UU Migas ini penguasaan dan pengusahaan Migas yang
sebelumnya dipegang Pertamina (berdasarkan UU No. 8 Tahun 1971) dicabut.
Penguasaan minyak dan gas bumi kembali diserahkan ke pemerintah sebagai
pemegang Kuasa Pertambangan (Pasal 4 Ayat 2), di mana kemudian pemerintah

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

membentuk Badan Pelaksana (BP Migas) untuk menyelenggarakan Kegiatan

Usaha Hulu. Kegiatan Usaha Hulu (eksplorasi dan eksploitasi) ini dilaksanakan
dan dikendalikan oleh Badan Pelaksana melalui Kontrak Kerja Sama. Sedangkan
pengusahaan Kegiatan Usaha Hilir dilaksanakan melalui pemberian Izin Usaha
yang terbuka bagi Badan Usaha. Dengan demikian, melalui UU Migas,
pengusahaan Migas menjadi terbuka. Badan Usaha (semacam BUMN, BUMD,
Koperasi, Usaha Kecil, dan Badan Usaha Swasta) dan Bentuk Usaha Tetap
(perusahaan multinasional/asing) berkesempatan terlibat bisnis Migas.
Lebih khusus lagi, pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah
sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001, yaitu Peraturan
Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas
Bumi (sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 34
Tahun 2005) yang mengatur pelaksanaan dan pengawasan Kegiatan Usaha Hulu
Migas, dan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha
Hilir Minyak dan Gas Bumi yang mengatur pelaksanaan dan pengawasan
Kegiatan Usaha Hilir Migas agar prinsip-prinsip persaingan usaha yang wajar,
sehat dan transparan terlaksana.
Taksonomi Industri Migas Indonesia
Secara kategoris terdapat dua jenis kegiatan usaha di industri migas,
yakni Usaha Inti (core business) dan Usaha Penunjang (non-core business).
Usaha Inti terdiri atas Kegiatan Usaha Hulu dan Kegiatan Usaha Hilir, sementara
Usaha Penunjang meliputi Jasa Penunjang (services) dan Industri Penunjang
(supporting industries).
Gambar Taksonomi Industri Migas Indonesia
INDUSTRI MIGAS

USAHA INTI

USAHA PENUNJANG MIGAS

Industri Penunjang
Usaha Hulu

Usaha hulu

Jasa Penunjang

Industri Material dan


Pabrikasi Peralatan

Jasa Konstruksi

Jasa Non Konstruksi

Migas
Eksplorasi
Eksploitasi

Pengolahan
Pengangkutan
Penyimpanan
Niaga

Industri Material
Industri Peralatan
Industri
Pemanfaatan
Migas

Perencanaan
Pelaksanaan
Pengawasan

Survei Seismik;
Survei Non Seismik;
Geologi dan
Geofisika;
Pemboran; Operasi
Sumur Pemboran;

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS


Pekerjaan Bawah
Air; Pengelolaan
Bahan Peledak;
Radioaktif, dan
Bahan Berbahaya;
Offshore Base
Logistic;
Pengoperasian dan
Pemeliharaan;
Inspeksi Teknis;
Pengujian Teknis;
Dekommissioning;
Penelitian dan
Pengembangan;
Pendidikan dan
Pelatihan;
Pengelolaan Limbah
Pemboran
dan Produksi; Jasa
Lainnya

A. Usaha Inti (core business)


1. Kegiatan Usaha Hulu Migas
Kegiatan usaha hulu migas terdiri atas kegiatan usaha eksplorasi dan
eksploitasi. Kegiatan eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan
memperoleh informasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan
memperoleh perkiraan cadangan migas di Wilayah Kerja yang ditentukan,
sedangkan kegiatan eksploitasi merupakan rangkaian kegiatan yang
bertujuan untuk memproduksi migas yang terdiri atas pengeboran dan
penyelesaian sumur, pembangunan sarana pengangkutan, penyimpanan,
dan pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian Minyak dan Gas Bumi di
lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya.
2. Kegiatan Usaha Hilir Migas
Kegiatan usaha hilir terdiri atas kegiatan usaha Pengolahan,
Pengangkutan, Penyimpanan dan/atau Niaga.
a. Pengolahan
Pengolahan adalah kegiatan memurnikan, memperoleh bagianbagian, mempertinggi mutu dan mempertinggi nilai tambah minyak bumi
dan/atau gas bumi, tapi tidak termasuk pengolahan lapangan.
Pengolahan minyak mentah dilakukan pada kilang minyak bumi
sebagai sistem peralatan untuk mengolah minyak mentah (minyak bumi)
menjadi berbagai produk kilang. Produk hasil pengolahan minyak bumi
berupa berbagai jenis BBM dan produk-produk non-BBM.
b. Pengangkutan
Kegiatan pengangkutan migas adalah kegiatan pemindahan Minyak
Bumi, Gas Bumi, dan/atau hasil olahannya dari Wilayah Kerja atau dari

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

tempat penampungan dan Pengolahan, termasuk pengangkutan Gas


Bumi melalui pipa transmisi dan distribusi.
c. Penyimpanan
Kegiatan penyimpanan migas adalah kegiatan penerimaan,

pengumpulan, penampungan, dan pengeluaran Minyak Bumi dan/atau


Gas Bumi, Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas, dan atau hasil olahan
pada lokasi diatas/dibawah tanah untuk tujuan komersial, misalnya depot
dan tanki timbun terapung (floating storage).
d. Niaga
Kegiatan Niaga meliputi kegiatan pembelian, penjualan, ekspor,
impor Minyak Bumi, Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Gas dan/atau
Hasil Olahan, termasuk gas melalui pipa.Untuk Kegiatan Usaha Niaga
dibagi menjadi 2 macam yaitu:
(1) Usaha Niaga Umum (Wholesale) yaitu suatu kegiatan usaha
pembelian, penjualan, ekspor dan impor Bahan Bakar Minyak (BBM),
Bahan Bakar Gas (BBG), Bahan Bakar Lain (BBL) dan Hasil Olahan
dalam skala besar yang menguasai atau memiliki fasilitas dan sarana
niaga dan berhak menyalurkannya kepada semua pengguna akhir
dengan menggunakan merk tertentu.
(2) Usaha Niaga Terbatas (Trading) merupakan usaha penjualan (Trading)
produk-produk niaga migas dalam hal ini adalah Minyak Bumi, BBM,
BBG, BBL, Hasil Olahan, Niaga gas bumi yang tidak memiliki fasilitas
dan Niaga terbatas LNG.
B. Usaha Penunjang (non-core business)
Usaha Penunjang Migas adalah kegiatan usaha yang menunjang
kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi, terdiri dari:
Usaha Jasa Penunjang
Adalah kegiatan usaha jasa layanan dalam kegiatan usaha hulu dan
kegiatan usaha usaha hilir. Kegiatan Jasa Penunjang meliputi Jasa
Konstruksi Migas dan Jasa Non-Konstruksi Migas. Pada Jasa Konstruksi
Migas terdiri dari Jasa Perencanaan (design engineering), Pelaksanaan
(EPC, Instalasi dan Komisioning) dan Pengawasan Konstruksi. Sedangkan
Jasa Non-Konstruksi Migas adalah usaha jasa layanan pekerjaan selain
jasa kontruksi dalam menunjang kegiatan migas seperti: survei seismik &

non seismik, pemboran, inspeksi dan jasa lainnya.


Industri Penunjang
Adalah kegiatan usaha industri yang menghasilkan barang, material
dan/atau peralatan yang digunakan terkait sebagai penunjang langsung
dalam kegiatan usaha Migas. Kegiatan Industri Penunjang meliputi
Industri Material, Peralatan Migas dan Industri Pemanfaat Migas.

Cakupan Komoditas

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Komoditas yang diusahakan, diproduksi dan diniagakan di industri migas


dapat dilihat sebagai berikut.
A. Minyak Bumi
Minyak Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam
kondisi tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa cair atau padat,
termasuk aspal, lilin mineral atau ozokerit, dan bitumen yang diperoleh dari
proses penambangan, tetapi tidak termasuk batubara atau endapan
hidrokarbon lain yang berbentuk padat yang diperoleh dari kegiatan yang
tidak berkaitan dengan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi.
B. Gas Bumi
Gas Bumi adalah hasil proses alami berupa hidrokarbon yang dalam kondisi
tekanan dan temperatur atmosfer berupa fasa gas yang diperoleh dari
proses penambangan Minyak dan Gas Bumi.
C. Gas Metana Batubara (Coal Bed Methane)
Gas Metana Batubara (Coal Bed Methane) adalah gas bumi (hidrokarbon) di
mana gas metana merupakan komponen utamanya yang terjadi secara
alamiah dalam proses pembentukan batubara dalam kondisi terperangkap
dan terserap (terabsorbsi) di dalam batubara dan/atau lapisan batubara.
D. Bahan Bakar Minyak
Bahan Bakar Minyak adalah bahan bakar yang berasal dan/atau diolah dari
minyak bumi. Bahan Bakar Gas Bahan Bakar Gas adalah bahan bakar untuk
digunakan dalam kegiatan transportasi yang berasal dari Gas Bumi dan/atau
hasil olahan dari Minyak dan Gas Bumi.
E. Bahan Bakar Lain
Bahan Bakar Lain adalah bahan bakar yang berbentuk cair atau gas yang
berasal dari selain minyak bumi, gas bumi, dan hasil olahan.
F. LPG (Liquified Petroleum Gas)
LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan untuk
memudahkan penyimpanan, pengangkutan, dan penanganannya yang pada
dasarnya terdiri atas propana, butana, atau campuran keduanya.
G. LNG (Liquified Natural Gas)
LNG adalah Gas Bumi terutama terdiri dari metana yang dicairkan pada suhu
sangat rendah (sekitar minus 160o C) dan dipertahankan dalam keadaan cair
untuk mempermudah transportasi dan penyimpanan.
H. Hasil Olahan Lainnya
Hasil Olahan adalah hasil dan/atau produk selain Bahan Bakar Minyak
dan/atau Bahan Bakar Gas yang diperoleh dari kegiatan usaha Pengolahan
Minyak dan Gas Bumi baik berupa produk akhir atau produk antara kecuali
pelumas dan produk petrokimia.

Statistik Industri Migas Indonesia

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Berdasarkan Statistik Minyak dan Gas Bumi Tahun 2013 yang dirilis oleh
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM), cadangan minyak bumi (crude oil reserve) Indonesia terbesar
terletak pada wilayah Sumatera Tengah dengan jumlah 3.386,67 MMSTB (Million
Stock Tank Barrels atau juta tangki barrel), dan disusul oleh wilayah Jawa Timur
(1.312,03 MMSTB) dan Sumatera Selatan (1005,34 MMSTB). Sisanya tersebar
mulai dari Aceh, Kalimantan hingga Papua.
Sedangkan cadangan gas bumi (gas reserves) Indonesia terbesar berada
di wilayah Natuna dengan jumlah 50,48 TSCF (Trillion Standard Cubic Feet atau
triliun standar kaki kubik). Berikutnya secara berurutan ada di Papua (23,90
TSCF), Sumatera Selatan (18,30 TSCF), Maluku (15,21 TSCF), Kalimantan (14,63
TSCF) dan daerah lainnya.

Gambar Peta Cadangan Minyak Bumi Indonesia 2013

Gambar Peta Cadangan Gas Bumi Indonesia 2013

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Jika diperbandingkan antara komposisi produksi minyak dan gas bumi, dari
tahun ke tahun dominasi produksi minyak bumi semakin menurun, sedangkan di
sisi lain produksi gas semakin meningkat dan menggeser dominasi minyak bumi.
Hal ini dapat terlihat pada grafik yang disusun oleh Kantor Akuntan Publik
Pricewaterhouse Cooper (PwC) dalam rilisan mereka Oil and Gas in Indonesia
2014 sebagai berikut:
Grafik Produksi Minyak dan Gas Bumi

Sebagian besar produksi migas di Indonesia dilakukan oleh kontraktor


asing dalam skema kontrak bagi hasil atau PSC. Grafik berikut ini menunjukkan

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

para kontraktor besar yang memproduksi minyak mentah dan gas alam di
Indonesia (PwC, 2014):

Produsen Minyak Bumi Terbesar Indonesia (per Januari 2013)

Produsen Gas Bumi Terbesar Indonesia (per Januari 2013)

ASPEK PERPAJAKAN: HULU MIGAS


Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak
dan Gas Bumi (UU Migas) menyebutkan bahwa Kegiatan Usaha Hulu adalah
kegiatan usaha yang berintikan atau bertumpu pada kegiatan usaha Eksplorasi

10

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

dan Eksploitasi. Eksplorasi adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh

informasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh


perkiraan cadangan minyak dan gas bumi di wilayah kerja yang ditentukan.
Sedangkan Eksploitasi adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
menghasilkan minyak dan gas bumi dari wilayah kerja yang ditentukan, yang
terdiri atas pengeboran dan penyelesaian sumur, pembangunan sarana
pengangkutan, penyimpanan, dan pengolahan untuk pemisahan dan pemurnian
minyak dan gas bumi di lapangan serta kegiatan lain yang mendukungnya (Pasal
1 angka 8 dan 9 UU Migas).
Kegiatan eksplorasi meliputi kegiatan-kegiatan antara lain:
a. Mengusahakan ijin untuk memulai kegiatan eksplorasi di daerah tertentu.
b. Melakukan berbagai kegiatan penyelidikan geologis dan geofisika di
lapangan.
c. Menginterpretasikan data yang dihasilkan dalam penyelidikan ini.
d. Melakukan pengeboran sumur, termasuk sumur uji stratigrafi di daerah yang
belum terbukti mengandung cadangan.
e. Memperoleh dan membangun aktiva tetap yang berhubungan dengan
f.

kegiatan di atas.
Menggunakan jasa yang diperlukan sehubungan dengan kegiatan di atas.
Setelah proses eksplorasi, kegiatan berikutnya adalah pengembangan.

Pengembangan merupakan setiap kegiatan yang dilakukan dalam rangka


mengembangkan cadangan terbukti minyak dan gas bumi sampai siap
berproduksi. Pengembangan cadangan meliputi kegiatan-kegiatan sebagai
berikut:
a. Penyediaan peralatan dan persediaan, yang meliputi: penyediaan angkutan
alat-alat berat, pembuatan jalan dan lokasi pengeboran, dan pengadaan alat
dan fasilitas pengeboran yang antara lain terdiri dari rig unit, mud logging
unit, wireline logging unit, cementing unit, platform, dan base camp.
b. Penambangan, pengaliran, pengumpulan, dan penyimpanan minyak dan gas
bumi.
c. Penyediaan sistem pengurusan yang telah diperbaiki.
Proses berikutnya adalah eksploitasi atau produksi. Produksi adalah semua
kegiatan dalam rangka pengangkatan minyak dan gas bumi ke permukaan bumi
dari cadangan terbukti serta pengakutannya ke stasiun pengumpul yang antara
lain meliputi kegiatan sebagai berikut:
a. Pengangkatan minyak dan gas bumi ke permukaan bumi.
Pengangkatan minyak dan gas bumi ke permukaan (lifting) merupakan
kegiatan yang berhubungan dengan pengangkatan minyak dan gas dari

11

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

cadangan terbukti sampai batas kepala sumur. Kegiatan ini dapat dilakukan
melalui tiga tahap pengurasan.
1) Pengurasan tahap pertama dapat terjadi melalui tekanan alamiah

(natural lift), sembur buatan (artificial lift) dengan bantuan gas alam (gas
lift), dan penyedotan dengan pompa. Tekanan alamiah terjadi kalau di
dalam cadangan terdapat kandungan air atau gas tekanan tinggi dengan
tenaga untuk mendorong minyak ke permukaan bumi melalui lubang
sumur. Kalau tekanan alamiah tersebut tidak cukup kuat untuk
mendorong minyak ke permukaan bumi, maka digunakan sumur buatan
dengan bantuan gas alam (gas lift) atau dengan pompa (pumping lift).
2) Pengurasan tahap kedua dilakukan setelah produksi minyak dan gas
bumi dengan melalui pengurasan tahap pertama menjadi kurang
ekonomis. Pengurasan pada tahap ini dilakukan dengan menginduksikan
suatu dorongan (tenaga) buatan ke dalam formasi. Metode peluapan air
adalah metode paling umum digunakan yaitu dengan mengalirkan air
bertekanan tinggi ke dalam sumur injeksi untuk mendorong minyak dan
di dalam lapisan permukaan bumi.
3) Pengurasan tahap ketiga dilakukan dengan metode enhanced oil
recovery, yakni dengan menambah energy pada cadangan cara
penginjeksian bahan kimia atau energi ke dalam sumur untuk mendorong
minyak di dalam lapisan ke permukaan bumi sehingga sumur yang tidak
berproduksi dapat berproduksi kembali.
b. Proses pemisahan antara minyak, gas bumi, dan endapan dasar & air (Basic
Seiliment & Water/BS&W).
Proses pemisahan minyak meliputi pemisahan gas dan cairan separator dan
pemisahan minyak mentah, endapan dasar dan air melalui dehydrator.
c. Pengangkutan minyak dan gas dari permukaan bumi ke stasiun pengumpul
atau pusat pengumpul produksi dan selanjutnya ke lokasi distribusi.
Proses pengangkutan meliputi kegiatan mengangkut minyak dari permukaan
sumur ke tempat penimbunan sementara kemudian ke instalasi pemisahan,
dan selanjutnya ke tempat penimbunan di lapangan produksi dan yang
akhirnya ke lokasi distribusi.
d. Pengumpulan minyak mentah di tangki penimbunan.
Proses pengumpulan meliputi:
1) Pengumpulan sementara minyak dan gas bumi dari sumur ke tempat
penimbunan sementara sebelum proses pemisahan minyak, gas bumi
dan BS&W di instalasi pemisahan.
2) Pengumpulan minyak dari instalasi pemisahan ke lokasi stasiun
pengumpul dan/atau pusat pengumpulan produksi di lapangan.

12

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Fungsi produksi pada umumnya dianggap berakhir pada saat minyak dan
gas bumi ke luar melalui katup saluran di pusat pengumpulan produksi. Dalam
keadaan dimana secara fisik atau operasional tidak seperti biasanya, fungsi
produksi berakhir pada saat minyak, gas bumi atau kondensat untuk pertama
kali dialirkan ke pipa utama, kendaraan pengangkut, pengilangan atau ke
terminal laut.
Jenis Pertambangan Hulu Migas
Secara umum, kegiatan pertambangan hulu migas dibagi menjadi dua
bagian, yaitu:
A. Onshore
Onshore adalah kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi mulai
dari eksplorasi, pengembangan, dan eksploitasi dimana wilayah kerja
pertambangan berada di daratan. Mobilitas piranti pertambangan onshore

baik crew, peralatan pengeboran, dan logistik sangat mudah dan tinggi. Juga
storage area yang luas sehingga menekan operational cost. Crew juga lebih
nyaman bila bekerja di onshore karena interaksi antar crew lebih intensif dan
lebih luas, serta komunikasi antar crew lebih mudah baik di dalam maupun di
luar area.
Kebutuhan rig (alat pengebor) di onshore adalah untuk drilling
menembus reservoir minyak dan gas. Dalam produksi, selain mengandalkan
aliran alami dari sumur (umumnya untuk sumur baru), perusahaan minyak
juga mengandalkan pompa angguk untuk meningkatkan tekanan keluar dari
reservoir.
B. Offshore
Offshore adalah kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi mulai
dari eksplorasi, pengembangan, dan eksploitasi/produksi dimana wilayah
kerja pertambangannya terletak di lautan atau perairan baik itu dangkal
maupun dalam. Karena wilayah kerja pertambangan berbeda di perairan,
maka kegiatan pengeboran dilakukan dengan menggunakan rig yang khusus
untuk perairan. Begitu deposit hidrokarbon ditemukan, maka tahap
berikutnya adalah membangun platform untuk aktivitas pengeboran dan
eksploitasi.
Sejarah Kontrak Hulu Migas
Saat ini, kegiatan usaha hulu migas di Indonesia dijalankan berdasarkan
Kontrak Bagi Hasil atau Production Sharing Contract (PSC). Skema ini
mengoptimalkan penerimaan negara sekaligus melindungi dari paparan risiko
tinggi terutama pada fase eksplorasi. Yang paling utama tentunya skema inilah
yang dianggap paling sesuai dengan jiwa Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

13

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

PSC dapat diibaratkan dengan model usaha petani penggarap yang

banyak dipraktikkan di nusantara. Pemerintah adalah pemilik sawah yang


mengamanatkan pengelolaan lahan kepada petani penggarap. Dalam bisnis
hulu migas, petani penggarap ini adalah perusahaan migas baik nasional
maupun asing. Penggarap ini menyediakan semua modal dan alat yang
dibutuhkan.
Semua pengeluaran ini tentunya harus disetujui pemilik sawah, karena
modal tersebut akan dikembalikan kelak saat panen. Penggantian ini, yang
dalam dunia migas dikenal dengan istilah cost recovery, hanya dilakukan jika
panen tersebut berhasil atau ada temuan cadangan yang komersial untuk
dikembangkan.
Jika tidak, semua biaya ditanggung sepenuhnya oleh penggarap
(kontraktor migas). Saat panen tiba, produksi akan dikurangkan terlebih dahulu
dengan modal yang harus dikembalikan, baru kemudian dibagi antara pemilik
sawah dengan penggarap sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak.
Sebelum skema PSC ini diterapkan, Indonesia sempat menganut beberapa
skema kerja sama dalam pengusahaan hulu migas, sebagaimana dijelaskan
berikut ini (KPP Migas, 2012):
1. Kerja sama Konsesi (sampai tahun 1960)
Konsesi mempunyai pengertian sebagai penyerahan daerah tertentu
oleh pemerintah Indonesia kepada perusahaan swasta (baik asing maupun
dalam negeri) dalam rangka pengusaan dan pemilikan sumber daya alam
yang terkandung di daerah tersebut. Kerja sama konsesi ini diatur dalam
peraturan Indische Mijn Wet Tahun 1899. Dalam kerja sama ini, seluruh
minyak dan gas bumi serta panas bumi yang dihasilkan akan menjadi milik
perusahaan tersebut (Mineral Right, Mining Right dan Economic Right
dikuasai oleh investor). Perusahaan hanya berkewajiban memberikan
sejumlah royalti yang besarnya ditentukan dalam perjanjian dengan
Pemerintah Republik Indonesia.
Skema ini memiliki beberapa kelemahan, yaitu:
a. Bertentangan dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan
bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh Negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat; dan
b. Dapat diartikan sebagai penyerahan kedaulatan atas sebagian wilayah
Republik Indonesia kepada pihak asing (jika kontraktor atau investor
adalah perusahaan asing) dan Negara hanya memperoleh imbalan dalam
bentuk royalti.
2. Kerja sama Kontrak Karya (tahun 1960 sampai tahun 1966)

14

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Dalam rangka mengatasi kelemahan dalam kontrak kerja sama konsesi


maka dikeluarkanlah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 44 Tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, yang
mengatur tentang:
a. Bahan galian minyak dan gas bumi merupakan kekayaan nasional yang
harus dikuasai oleh Negara.
b. Pengusahaannya hanya oleh Negara yang dilaksanakan oleh perusahaan
Negara.
c. Kontraktor hanyalah pihak yang bekerja untuk membantu perusahaan
Negara dan menerima imbalan untuk hasil kerjanya tersebut.
Dalam kerja sama ini, pemegang kuasa pertambangan adalah
perusahaan milik Negara (Pertamina), sedangkan perusahaan swasta (baik
asing maupun dalam negeri) hanya bertindak sebagai kontraktor (mining
right dan economic right). Dalam Kontrak Karya ini terdapat beberapa hal
yang bersifat unik yaitu:
a. Perusahaan milik Negara sebagai pemegang kuasa pertambangan
sedangkan perusahaan swasta bertindak sebagai kontraktor (minieral
right).
b. Manajemen dilaksanakan sepenuhnya oleh kontraktor dan semua
kerugian yang mungkin terjadi akan ditanggung oleh kontraktor (mining
right).
c. Pembagian hasil dalam bentuk uang atas dasar perbandingan 60% untuk
perusahaan Negara dan 40% bagi kontraktor, tetapi penghasilan
pemerintah tidak boleh kurang dari 20% dari hasil kotor minyak bumi.
d. Jangka waktu kontrak adalah 30 tahun untuk daerah baru dan 20 tahun
untuk daerah lama.
e. Penyisihan wilayah dilakukan dua atau tiga kali setelah jangka waktu
f.

tertentu.
Kontraktor wajib ikut serta menyediakan minyak untuk keperluan dalam
negari atas dasar proporsional dan tidak melebihi 25% dari produksi
areal dan atas dasar cost + fee USD 0.2/bbl.
Kelemahan kontrak karya adalah keberadaan Mining Right dan

Economic Right pada pihak kontraktor, sedangkan Perusahaan Negara belum


diberikan wewenang manajemen untuk mengarahkan dan menentukan
kegiatan kontraktor.
3. Kerja sama Kontrak Bagi Hasil (tahun 1966 sampai tahun 2001)
Skema ini mulai dikenal sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor
8 Tahun 1971 tentang Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
Negara (UU 8/1971). Bentuk kerjsama ini merupakan modifikasi dari kontrak
karya, dalam rangka meningkatkan investasi bidang migas. Dalam Pasal 12
ayat (1) UU 8/1971 dinyatakan bahwa dalam melaksanakan kegiatannya,

15

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Pertamina dibolehkan untuk bekerja sama dengan pihak lain dalam bentuk
kontrak bagi hasil atau PSC. Dalam kontrak bagi hasil, ditetapkan bahwa
wewenang berada di tangan Pemerintah Republik Indonesia (dalam hal ini
diwakili oleh Pertamina). Peranan kontraktor hanya sebagai penyandang

dana dan pelaksana kegiatan operasi perminyakan.


Kelemahan dari pola ini adalah peran regulator, supervisor dan pelaku
dipegang oleh satu institusi yaitu Pertamina.
Tabel Generasi PSC Indonesia
(UU 44 PRP TH 1960 dan UU 8 TH 1971)

Bagi Hasil
Migas

GENERASI 1
(1966 1976)
65% (Pemerintah) :
35% (Kontraktor)

GENERASI 2
(1976 1988)
85% (Pemerintah) :
15% (Kontraktor)

GENERASI 3
(1988 2001)

Cost
Recovery
(biaya
capital dan
non-kapital)

DMO fee

40% (cap/tahun)

US$ 0.2/barrel
(tanpa grace period)

100% (non cap)


Declaration of
Commerciality
49% penerimaan
negara
Berlaku
Investment
Credit
pengembangan
lapangan = 20%
(dari capital)
5 tahun pertama
harga ekspor
(setelah 5 tahun =
US$ 0.2 / barrel)

berlaku Paket
Insentif (1988,
1989, 1992,
1993)
Berlaku First
Tranche
Petroleum (FTP)
100% (non cap)
Declaration of
Commerciality
ditiadakan,
diganti
persetujuan Plan
of Development
(POD)
Berlaku
Investment
Credit

5 tahun pertama
harga ekspor
(setelah 5 tahun =
10-25% harga
ekspor / barrel)

4. Kontrak Kerja Sama (PSC & bentuk lain) (mulai tahun 2001)
Perbedaan antara kontrak kerja sama sebelum dan sesudah
berlakunya UU No 22 tahun 2001 adalah adanya pemisahan peran regulator,
supervisor dan pelaku industri migas. Prinsip-prinsip utama KKKS adalah:
a. Kegiatan usaha hulu sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 angka 1
dilaksanakan dan dikendalikan melalui kontrak kerja sama sebagaimana
dimaksud dalam pasal 1 angka 19;
b. Kontrak Kerja Sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling sedikit
memuat persyaratan:
1) Kepemilikan sumber daya alam tetapi di tangan Pemerintah sampai
pada titik penyerahan;
2) Pengendalian manajemen operasi berada pada Badan Pelaksana;

16

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

3) Modal dan risiko seluruhnya ditanggung bahan usaha atau bentuk


usaha tetap
4) Pengendalian Manajemen Operasi adalah:

a) Pemberian persetujuan atas rencana kerja dan anggaran rencana


pengembangan lapangan
b) Pengawasan terhadap realisasi dari rencana tersebut.
Peran SKK Migas
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi
(SKK Migas) adalah institusi yang dibentuk oleh pemerintah Republik Indonesia
melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 9 Tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Pengelolaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. Badan
khusus ini dibentuk untuk menggantikan BPMIGAS (Badan Pelaksana Kegiatan
Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi) yang dibubarkan Mahkamah Konstitusi pada
13 November 2012 karena dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Tugas
utama SKK Migas adalah melaksanakan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak
dan gas bumi berdasarkan Kontrak Kerja Sama. Pembentukan lembaga ini
dimaksudkan supaya pengambilan sumber daya alam minyak dan gas bumi milik
negara dapat memberikan manfaat dan penerimaan yang maksimal bagi negara
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, SKK Migas menyelenggarakan fungsi
(SKK Migas, 2013):

memberikan pertimbangan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral


atas kebijaksanaannya dalam hal penyiapan dan penawaran Wilayah Kerja

serta Kontrak Kerja Sama;


melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja Sama;
mengkaji dan menyampaikan rencana pengembangan lapangan yang
pertama kali akan diproduksikan dalam suatu Wilayah Kerja kepada Menteri

Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mendapatkan persetujuan;


memberikan persetujuan rencana pengembangan selain sebagaimana

dimaksud dalam poin sebelumnya;


memberikan persetujuan rencana kerja dan anggaran;
melaksanakan monitoring dan melaporkan kepada Menteri Energi dan

Sumber Daya Mineral mengenai pelaksanaan Kontrak Kerja Sama; dan


menunjuk penjual minyak bumi dan/atau gas bumi bagian negara yang
dapat memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi negara.

Prinsip-Prinsip Kerja Sama PSC


Pernyataan bersama dari kontrak kerjasama migas memuat lima pokok
yang harus dipahami oleh perusahaan yang ingin beroperasi di Indonesia. Pokok

17

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

pernyataan ini sebenarnya merupakan pokok-pokok kebijakan pengusahaan

minyak dan gas bumi di Indonesia. Konsep ini sudah berlaku sejak PSC pertama
kali sejak berlakunya UU Nomor 8 Tahun 1971. Oleh karena itu, pokok kebijakan
ini disyaratkan dalam perjanjian kontrak kerjasama.
1. Pernyataan Mengenai Kuasa Mineral (Mineral Right)
All mineral Oil and Gas are National rich controlled by the
State.
Pernyataan ini menegaskan bahwa semua mineral minyak dan gas
bumi yang terkandung di wilayah Republik Indonesia, adalah kekayaan
nasional yang dikuasai oleh Negara, sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945.
Dengan penegasan ini harus disadari oleh siapapun yang melakukan
kerjasama kontrak kerjasama, bahwa mereka tidak dimungkinkan untuk
dapat memiliki atau menguasai cadangan minyak dan gas bumi. Kontraktor
harus menyadari bahwa dalam pelaksanaannya nanti, Pemerintah Republik
Indonesia sebagai pemegang mineral right akan banyak ikut campur dalam
pengaturan.
Semua bantuk pengusahaan mineral di Indonesia harus berpegang
pada landasan pokok konstitusi ini. Sesuai dengan peraturan pemerintah
tentang penggolongan bahan-bahan galian, minyak dan gas bumi termasuk
golongan bahgan galian vital dan strategis. Penggolongan bahan galian ini
yang menentukan kadar keikutsertaan Pemerintah dalam pengaturan
aktivitas operasi perminyakan.
2. Pernyataan Mengenai Kuasa Pertambangan (Mining Right)
BHMN has an exclusive authority to mine.
Pernyataan kedua mendelegasikan kuasa mineral oleh Negara
sebagaimana dimaksud pernyataan pertama diselenggarakan oleh
Pemerintah oleh pemegang Kuasa Pertambangan. Dalam rangka
melaksanakan fungsi kuasa pertambangan, Pemerintah Republik Indonesia
membentuk BPMIGAS, yang sekarang menjadi SKK Migas, yang diberikan
wewenang eklusif pelaksanaan penambangan. Wewenang eklusif diberikan
terhadap mineral minyak dan gas bumi di dalam wilayah kerja yang disebut
dalam kontrak.
Oleh karena aktivitas penambangan ini sebagai suatu usaha maka
yang diberikan oleh Negara kepada SKK Migas adalah suatu hak kuasa usaha
penambangan (economic right). Pengertian aktivitas usaha penambangan

18

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

meliputi semua kegiatan eksplorasi, pengembangan, ekstraksi, produksi,


transportasi dan pemasaran yang dikuasakan dalam kontrak. Pemasaran
yang dikuasakan dalam kontrak terbatas pada minyak mentah. Investor

tidak dimungkinkan memiliki kuasa mineral dan kuasa pertambangan, maka


statusnya ditegaskan hanya sebagai kontraktor SKK Migas. Walaupun
statusnya sebagai kontraktor, namun secara hukum mempunyai kedudukan
yang sama selaku pihak (party) untuk melaksanakan hak dan kewajiban
dalam kontrak production sharing. Berdasarkan ketentuan ini tidak mungkin
ada penyerahan hak mineral kepada investor. Oleh karena itu untuk
melengkapi dasar pembagian atas produksi secara natura, maka diperlukan
pengaturan mengenai titip penyerahan hak minyak mentah atau gas bumi
(transfer right of crude oil/gas).
3. Pernyataan mengenai Pembuktian Economic Right
BHMN wishes to promote the development of . , and
Contractor desire to joint and assist in accelerating the
exploration and development.
Pernyataan ketiga menegaskan bahwa yang berkeinginan untuk
mempercepat pengembangan potensi sumber daya di suatu wilayah kerja
kontrak production sharing adalah SKK Migas. Hal ini tercermin pengertian
bahwa inisiatif aktif atas usaha penambangan atau eksplorasi dan
pengembangan sumber daya adalah BPMIGAS. Peranan investor adalah
untuk membantu percepatan inisiatif dari BPMIGAS.
Pernyataan ini merupakan penjabaran dari hak ekslusif SKK Migas
sebagai kuasa usaha pertambangan. Inisiatif ini merupakan pencerminan
aktif dari aktivitas usaha pertambangan. Selain itu, efektifitas hak ekonomi
yang dilimpahkan juga harus dibuktikan. Sehingga diperlukan kondisi
tertentu terhadap hak ekonomi investor.
Dalam hubungan ini, akan timbul masalah status biaya pembuktian
apabila tidak menemukan cadangan komersial. Kontradiksi prinsip efektivitas
hak economic interest dan prinsip akuntansi biaya merupakan masalah yang
menarik dalam kontrak production sharing. Kontradiksi dari kedua prinsip ini
diatur dalam pernyataan ketika dengan menggunakan kata puitis, desire to.
Usaha investor atau perusahaan minyak asing untuk membantu SKK Migas
adalah bersifat desire to. Kata ini tidak umum dalam suatu perjanjian bisnis
(business agreement), karena melemahkan posisi di pihak yang
berkewajiban sebagai pihak yang harus melaksanakan desire to.

19

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Kontrak production sharing merupakan suatu perjanjian bisnis,

sehingga harus disadari bahwa pengertian desire to tetap dilandasi motif


ekonomi. Walaupun desire to melemahkan investor, namun motif bisnis
sendiri yang secara operasional dapat memperkuat posisi investor. Apabila
investasi ini tidak dapat memenuhi kriteria motif ekonomi, investor
mempnyai hak untuk tidak melanjutkan atau melaksanakan operasi
perminyakan.
Desire to merupakan penegasan bahwa investor tidak mempunyai
hak usaha penambangan. Hal ini juga mencerminkan bahwa investor
memang tidak da maksud untuk menginginkan hak usaha penambangan.
Dengan ketentuan ini pengertian hak kuasa penambangan eksklusif bagi SKK
Migas menjadi kuat.
Dari segi akuntansi kalimat desire to mempunyai arti penting
sehubungan dengan efektivitas hak economic interest. Desire to berarti
apabila kontraktor atau investor gagal menemukan cadangan komersial
semua biaya yang dikeluarkan tidak menjadi beban. Dengan kata lain, biayabiaya ini sepenuhnya dan secara sukarela merupakan resiko investor sendiri.
Agar prinsip ini mempunyai arti demikian, maka perlu dilengkapi dengan
ketentuan syarat pengakuan biaya (cost recognizing). Syarat pengakuan
biaya ini nanti akan dikaitkan dengan produksi komersial.
4. Pernyataan Mengenai Syarat Perolehan Economic Right
Contractor has the financial ability, technical competence, and
professional skills.
Kontrak production sharing bersifat desire to dan dilandasi oleh
motif ekonomi. Untuk dapat melakukan desire to, kontraktor harus
mempunyai tiga syarat. Ketiga syarat ini merupakan kondisi yang diperlukan
untuk membantu operasi perminyakan. Ketiga syarat ini meliputi financial
ability, technical competence dan professional skill.
Untuk dapat memenuhi kebutuhan dana yang besar dengan resiko
tinggi, kontraktor disyaratkan harus mempunyai financial ability, tetapi
bukan financial arrangement. Financial ability berarti pembiayaan bersifat
internal. Oleh karena itu, dalam pembiayaan ini tidak dibenarkan adanya
cost of capital. Sehingga berapapun besarnya kebutuhan pembiayaan,
kontraktor harus selalu siap dana dari seumber internal tanpa adanya beban
cost of capital atau biaya bunga. Syarat ini mempertagas bahwa upaya
investor untuk membantu SKK Migas itu secara sukarela tanpa adanya
paksaan atau bersifat desire to. Dalam perjanjian bisnis, pengertian ini

20

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

tercermin dengan tidak adanya cost of capital atau tanpa harus

menimbulkan beban utang bagi SKK Migas.


Syarat penyediaan technical competence ini berarti kontraktor harus
selalu siap dengan segala kemungkinan perkembangan teknologi operasi
perminyakan. Sehingga investor tidak dibenarkan terbentur masalah
teknologi dalam memenuhi kewajiban desire to joint and assist.
Syarat penyediaan professional skill berarti kontraktor harus
memperkerjakan tenaga siap pakai secara professional. Tidak dibenarkan
bahwa operasi di Indonesia hanya digunakan untuk tujuan pelatihan. Oleh
karena itu, pengaturan pengembangan professional skill melalui pelatihran
dimaksudkan untuk tenaga kerja Indonesia dari seluruh tingkat kepangkatan.
5. Pernyataan Mengenai Ketentuan Perundang-undangan
Pernyataan kelima merupakan penegasan bahwa dalam pelaksanaan
kontrak kerjasama harus tetap memperhatikan ketentuan yang ada dalam:
a. UU Nomor 8 Tahun 1971 untuk kontrak yang ditandatangani sebelum
tahun 2001;
b. UU nomor 22 Tahun 2001 untuk kontrak yang ditandatangani setelah
2001.
Demikian penting pernyataan satu, dua dan tiga, maka pernyataan ini
diulang kembali sebagai ketentuan pada pasal Lingkup dan Definisi (Section
Scope and Definition).
Prinsip hak kuasa mineral digunakan sebagai dasar ketentuan
mengenai prinsip production sharing. Prinsip kuasa dan kuasa usaha
pertambangan digunakan sebagai dasar wewenang manajemen di tangan
SKK Migas. Prinsip desire to, digunakan sebagai dasar pengaturan resiko
pembiayaan operasi (operating cost) baru dapat diperhitungkan dari
keberhasilan menemukan cadangan yang dapat diproduksi secara komersial.
Dalam kewajiban persiapan operasi perminyakan secara nyata setiap
tahun harus diajukan rencana kerja dan anggaran pengeluaran tahunan dan
setiap tahunnya dinyatakan sebagai komitmen minimum pengeluaran. Dasar
penyusunan rencana kerja dan anggaran tahunan berdasarkan kewajaran
pelaksanaan metode secara ilmiah.
Dapat disimpulkan bahwa pengaturan hukum pertambangan minyak
dan gas bumi ada tiga unsur materi yaitu:
a. Mineral Right : Hak menguasai dan memiliki sumberdaya minyak dan gas
bumi
b. Mining Right : Hak untuk mengelola, memanfatkan, mengatur dan
menentukan sumber daya minyak dan gas bumi

21

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

c. Economic Right : Hak untuk menerima dari setiap aliran pendapatan atau
capital seluruh kekayaan sumber daya minyak dan gas bumi
Hal ini sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945, tatanan Ekonomi Nasional
sebagai Negara Kepulauan berdasar pada geo-sosial (usaha bersama azas
kekeluargaan). Geo-politik (produksi hajat hidup orang banyak dikuasai
Negara) dan geo-ekonomi (potensi ekonomi bumi dan air dikuasai oleh
Negara).
Cost Recovery
Cost recovery adalah pengembalian biaya operasi dari Pemerintah kepada
Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas, dibayarkan dalam bentuk produksi
migas, yang dinilai dengan Weighted Average Price (WAP), yaitu harga rata-rata
tertimbang dihitung berdasarkan nilai lifting selama satu tahun dibagi dengan
jumlah satuan lifting selama periode yang sama (Abdul Nasir dalam Shobah et al,
2015). Dapat juga dikatakan bahwa cost recovery adalah biaya yang dibayarkan
Pemerintah kepada kontraktor sebagai penggantian biaya produksi dan investasi
selama proses eksplorasi, ekspoitasi dan pengembangan blok migas yang
tengah dikerjakan di wilayah suatu negara. Jadi, setelah setelah produksi minyak
mulai berjalan, sebagian hasilnya menjadi jatah kontraktor sebagai ganti biaya
yang telah dikeluarkan selama proses eksplorasi.
Pelaksanaan cost recovery dijamin oleh Pemerintah, sebagaimana
dituangkan dalam pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2004 tentang
Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (sebagaimana diubah terakhir dengan PP
34/2005). Pasal tersebut menyatakan bahwa:
(1) Pengeluaran biaya investasi dan operasi dari kontrak bagi hasil wajib
mendapatkan persetujuan Badan Pelaksana.
(2) Kontraktor mendapatkan kembali biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk
melakukan eksplorasi dan eksploitasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
sesuai dengan rencana kerja dan anggaran serta otorisasi pembelanjaan
finansial (Authorization Financial Expenditure) yang telah disetujui oleh
Badan Pelaksana setelah menghasilkan produksi komersial.
Selain itu, secara spesifik tentang biaya operasi yang dapat dikembalikan
dan perlakuan pajak penghasilan untuk usaha hulu migas, diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang Dapat
Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu Minyak dan
Gas Bumi (PP 79/2010). Penjelasan tentang aturan ini akan dibahas dalam
pembahasan aspek perpajakan hulu migas dibawah ini.

22

Aspek Perpajakan Hulu Migas

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Prinsip Pengenaan Pajak


a. Block Basis
Penghitungan bagi hasil dan Pajak Penghasilan (PPh) Migas dihitung
berdasarkan kegiatan usaha pada suatu wilayah kerja (blok) pertambangan
migas.
b. Ring Fence Policy
Ring fence policy adalah kebijakan yang membatasi hak dan kewajiban
suatu KKKS di satu wilayah kerja pertambangan (WKP) tidak bisa
dikonsolidasikan ke WKP lainnya yang dimiliki oleh KKKS yang sama.
Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1994
tentang Syarat-Syarat dan Pedoman Kerjasama Kontrak Bagi Hasil Minyak
dan Gas Bumi, yang menyatakan kepada setiap kontraktor diberikan satu
wilayah kerja pertambangan (WKP). Tujuan dari kebijakan ini adalah agar
KKKS yang dimiliki satu perusahaan induk dan beroperasi di beberapa
wilayah kerja tidak dapat melakukan konsolidasi biaya dari beberapa wilayah
tersebut, baik untuk tujuan cost recovery maupun untuk tujuan perhitungan
PPh Badan (tax consolidation). Sesuai prinsip ini, maka setiap block (wilayah
kerja) harus diusahakan oleh satu entity san setiap entity baik operator
maupun partner yang mempunyai penyertaan di suatu block wajib memiliki
NPWP sendiri. Dalam hal Wajib Pajak mengelola beberapa block, maka Wajib
Pajak tersebut harus membentuk badan hukum yang terpisah untuk setiap
WKP dan wajib memiliki NPWP sendiri untuk tiap-tiap WKP.
Dalam PSC dimungkinkan terjadinya pengalihan interest atas
pengelolaan suatu WKP yang biasa dikenal dengan istilah Farm in Farm out.
Apabila terjadi pengalihan interest atas WKP, pemilik interest yang baru
harus membentuk badan tersendiri untuk penyertaan di WKP tersebut dan
wajib mempunyai NPWP sendiri.
c. Uniformity Principle
Sesuai dengan surat Menteri Keuangan nomor S-443a/MK.012/1982
tentang interpretasi dari Keputusan Menteri Keuangan nomor
267/KMK.012/1978, yaitu biaya-biaya dalam menghitung Penghasilan Kena
Pajak harus diartikan sama dengan biaya yang dihitung berdasarkan PSC
(biaya yang diatur dalam Exhibit C Kontrak Bagi Hasil). Dengan demikian
cost of oil harus sama dengan cost of tax artinya bahwa biaya-biaya operasi
yang boleh dibebankan (cost recoverable) menurut PSC harus sama dengan
biaya-biaya yang boleh dibebankan menurut UU PPh (tax deductible) dengan
beberapa pengecualian.
d. Assume and discharge

23

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Pemerintah menanggung dan membebaskan kontraktor dari pajak-

pajak Indonesia lainnya termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN), pungutan


ekspor dan impor terhadap barang-barang, peralatan dan barang-barang
persediaan yang dibawa ke Indonesia oleh kontraktor. Dengan diterbitkannya
PP 79/2010, kontrak-kontrak yang ditandatangani setelah berlakunya PP
79/2010 tersebut, kontraktor berkewajiban membayar sendiri pajak-pajak
tidak langsung tersebut di atas (assume and discharge tidak diberlakukan
lagi).
e. Kompensasi Kerugian
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan (UU
PPh) yang merupakan perubahan keempat Undang-Undang No. 7 Tahun
1983, menyatakan bahwa kerugian yang diderita dalam satu tahun pajak
dapat dikompensasikan ke penghasilan tahun pajak berikutnya selama lima
tahun berturut-turut (Pasal 6 ayat (2)). Pembatasan jangka waktu kerugian
yang dapat dikompensasikan tidak dikenal dalam PSC sesuai dengan PP 79
Tahun 2010. Atas biaya operasi yang belum di-recover pada tahun-tahun
sebelumnya (Prior Years Unrecovered Operating Cost) diizinkan untuk
dilakukan recovery setiap tahun berjalan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
Aspek Perpajakan Berdasarkan Periodisasi Migas Indonesia
Aspek perpajakan dalam migas dibagi dalam beberapa periode, yaitu:
a. Periode Pra-1984
Pada periode ini UU pajak yang berlaku adalah Ordonansi Pajak
perseroan tahun 1925. Periode ini dibagi dalam :
1) Periode sebelum berlakunya Kep. Menteri Keuangan No.
267/KMK.012/1978
Pada periode ini setiap KPS berkewajiban untuk menghitung
besarnya Net Operating Income (NOI) dari produksi migas yang
dihasilkan setiap tahun buku yang besarnya dihitung dari Equity to be
split (ETS) yang merupakan sisa dari total production dikurangi cost
oil/recovery sebesar maksimum 40%. Selanjutnya dari NOI tersebut
ditetapkan besarnya bagian Pertamina/Pemerintah dan bagian
kontraktor, umumnya sebesar 85% : 15% untuk minyak. Dalam jumlah
85% NOI tersebut dianggap bahwa semua kewajiban pajak dan pungutan
kepada pemerintah termasuk di dalamnya dan pembayaran dianggap
telah dilakukan melaui pemerintah. Dengan demikian bagian kontraktor
senesar 15% dianggap merupakan penghasilan bersih setelah pajak (net
income after tax).

24

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

2) Periode sebelum berlakunya Kep. Menteri Keuangan No.

267/KMK.012/1978
Ketentuan ini mengatur :
a) Besarnya bagian Pertamina/Pemerintah dan bagian kontraktor adalah
65,91% dan 34, 09%. Penetapan ini diperoleh berdasarkan
Ordonansi 1925, besarnya tarif pajak perseroan sebesar 45% dan
tarif efektif Pajak atas Bunga, Dividen dan Royalti (PBDR) adalah 11%
yang diperoleh dari 20% x (100% - 45%), total pajak menjadi 56%.
Penghasilan setelah pajak adalah 44% (100% - 56%). Berdasarkan
kontrak perjanjian bagi hasil antara pemerintah dengan kontraktor
disepakati pembagian prosentase 85% : 15%. Jumlah 15%
merupakan neto bagian kontraktor.
b) Ketentuan mengenai pembatasan cost recovery maksimum sebesar
49% dihapuskan.
c) Perhitungan depresiasi atas assets didasarkan pada metode double
declining balance.
d) Penetapan investment credit sebesar 20%
e) Penetapan Domestic Market Obligation (DMO) dengan harga pasar
untuk 5 tahun. DMO adalah kewajiban Badan Usaha atau Bentuk
Usaha Tetap untuk menyerahkan sebagian minyak dan gas bumi dari
bagiannya kepada negara melalui Badan Pelaksana dalam rangka
penyediaan minyak dan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan dalam
negeri yang besarnya diatur didalam Kontrak Kerja Sama.
f) Perhitungan biaya oleh kontraktor mengikuti general accepted
accounting principles (GAAP)
b. Periode 1984 sampai dengan 1994
Dengan berlakunya Undang-undang No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan, sejak 1 Januari 1984 tarif PPh berubah menjadi 35% dan pajak
deviden tetap 20%. Dengan adanya penurunan tarif tersebut, maka
penetapan besarnya bagian kontraktor melalui cara gross-up sebagai dasar
penghitungan Penghasilan Kena Pajak harus disesuaikan lagi agar hak
Pertamina/Pemerintah tidak berkurang sebagai akibat penurunan
pendapatan pajak.
Dalam Keputusan Menteri Keuangan No. 458/KMK.012/1984 tentang
Tata Cara Perhitungan dan Pembayaran Pajak Penghasilan yang Terutang oleh
Kontraktor yang Mengadakan Kontrak Production Sharing dalam Eksplorasi
dan Eksploitasi Minyak dan Gas Bumi dengan Perusahaan Pertambangan
Minyak dan Gas Bumi Negara (PERTAMINA) diatur mengenai besarnya PPh
yang terutang oleh Kontraktor sebesar 35% dari Penghasilan Kena Pajak dan
20% dari keuntungan sesudah dikurangi Pajak Penghasilan.

25

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Dalam Pasal 33 UU No 7 Tahun 1983 diatur bahwa, Penghasilan kena

pajak yang diterima atau diperoleh dalam bidang penambangan minyak dan
gas bumi sehubungan dengan Kontrak Bagi Hasil, yang masih berlaku pada
saat berlakunya Undang-undang ini, dikenakan pajak berdasarkan ketentuanketentuan Ordonansi Pajak Perseroan 1925 dan Undang-undang Pajak atas
Bunga, Dividen dan Royalti 1970 beserta semua peraturan pelaksanaannya.
Dengan demikian, ketentuan dalam Undang-undang ini baru berlaku
terhadap penghasilan kena pajak yang diterima atau diperoleh dalam bidang
penambangan minyak dan gas bumi yang dilakukan dalam Kontrak Bagi
Hasil, apabila perjanjian tersebut dibuat setelah berlakunya undang-undang
ini.
First Trance Petroleum (FTP) diberlakukan atas kontrak yang
ditandatangani mulai tahun 1988, sebesar 20% dari produksi (gross). Tujuan
pengenaan FTP ini adalah untuk menjamin pemerintah menerima bagian
hasil produksi. FTP ini nantinya akan dibagi antara kontraktor dam
pemerintah. Kewajiban DMO oleh kontraktor ditentukan bervariasi antara
harga ekspor. Sesuai dengan perkembangan Undang-Undang perpajakan
serta peraturan pelaksanaannya, maka timbul kewajiban kontraktor selaku
wajib pungut, yaitu :
PPh Pasal 21 atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan;
PPh Pasal 23 atas penghasilan yang dibayarkan kepada atau terutang
oleh Wajib Pajak dalam negeri, berupa deviden, bunga, sewa, royalty,

imbalan jasa teknik dan jasa manajemen yang dilakukan di Indonesia


PPh Pasal 26 atas penghasilan yang dibayarkan kepada atau terutang
oleh Wajib Pajak luar negeri, berupa deviden, bunga, sewa, royalti,
imbalan jasa teknik, jasa manajemen dan jasa lainnya yang dilakukan di
Indonesia dan keuntungan setelah dikurangi pajak dari suatu Badan

Usaha Tetap (BUT) di Indonesia.


c. Periode Pasca 1994
Dengan berlakunya Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994 tentang
Pajak Penghasilan sejak 1 Januari 1995 maka tarif PPh berubah menjadi 30%
dan pajak deviden tetap 20%. Dengan adanya penurunan tarif tersebut,
maka penetapan besarnya bagian kontraktor melalui cara gross-up sebagai
dasar perhitungan Penghasilan Kena Pajak harus disesuaikan lagi agar hak
Pertamina/Pemerintah tidak berkurang sebagai akibat penurunan
pendapatan pajak. Besarnya bagian hasil Pertamina/Pemerintah sebesar
73,22% diperoleh dari berdasarkan UU No. 10/1994, besarnya tarif PPh 30%
dan berdasarkan tarif efektif besarnya PBDR adalah 14%.

26

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Dalam Pasal 33 A UU Nomor 10 Tahun 1994 diatur bahwa Wajib Pajak


yang menjalankan usaha di bidang pertambangan minyak dan gas bumi
berdasarkan Kontrak Bagi Hasil yang masih berlaku pada saat berlakunya

Undang-undang ini, pajaknya dihitung berdasarkan ketentuan dalam Kontrak


Bagi Hasil sampai dengan berakhirnya kontrak atau perjanjian kerjasama
dimaksud. Dengan demikian, ketentuan Undang-undang ini baru
diberlakukan untuk pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak di bidang pengusahaan pertambangan minyak dan gas
bumi yang dilakukan dalam bentuk kontrak bagi hasil yang ditanda tangani
setelah berlakunya Undang-undang ini.
Untuk kewajiban kontraktor selaku Wapu diperluas untuk PPh Pasal 23
dengan menambahkan hadiah dan jasa-jasa lain di luar jasa teknik, jasa
manajemen, jas konstruksi dan jasa konsultan. Dan untuk PPh Pasal 26
diperluas dengan menambahkan jasa-jasa lain seperti imbalan sehubungan
dengan pekerjaan dan kegiatan, hadiah dan penghargaan, serta pension dan
pembayaran berkala lainnya.
d. Periode Pasca UU No. 36 Tahun 2008
Dengan berlakunya Undang-undang No. 36 Tahun 2008, tarif PPh
berubah menjadi 25% dan pajak deviden tetap 20%. Dengan adanya
penurunan tarif tersebut, maka penetapan besarnya bagian kontraktor
melalui cara gross-up sebagai dasar perhitungan Penghasilan Kena Pajak
harus disesuaikan lagi agar hak Pemerintah tidak berkurang sebagai akibat
penurunan pendapatan pajak. Besarnya bagian hasil Pemerintah sebesar
71.16%, besarnya tarif PPh 28% dan berdasarkan tarif efektif besarnya PBDR
adalah 40%.
Resume Tabel Perubahan Tarif PPh Badan dan Tarif Efektif

Tarif efektif
Bagian Kontraktor
sebelum Pajak
Bagian Pajak

Sebelum

1984 s.d

Setelah

Setelah

1984
56%

1995
48%

1995
44%

2010
40%

34.0909%

28.8462%

26.7857%

25%

19.0909%

13.8462%

11.7857%

10%

Kewajiban Perpajakan Kontraktor Migas


Berdasarkan Section V butir 5.3.2 PSC antara lain diatur bahwa Pemerintah
(d/h. Pertamina) akan menanggung, kecuali kewajiban kontraktor untuk
membayar PPh Badan dan PPh final atas laba setelah pajak, semua pajak-pajak
Indonesia lainnya atas kontraktor, termasuk PPN, transfer tax, pajak-pajak atas
impor dan ekspor bahan baku, peralatan dan perlengkapan dan lain-lain.

27

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Berdasarkan Section V butir 5.3.2 PSC tersebut maka kewajiban perpajakan

kontraktor hanyalah terbatas pada PPh Badan dan PPh final atas laba setelah
pajak dan PPh pemotongan dan pemungutan, sedangkan pajak lainnya akan
ditanggung oleh pemerintah, yaitu pajak-pajak tersebut apabila sudah dibayar
oleh kontraktor akan dikembalikan oleh pemerintah kepada kontraktor.
Kewajiban perpajakan kontraktor migas meliputi kewajiban formal dan kewajiban
material.
a.

Kewajiban Formal
Kewajiban formal perpajakan yang diatur dalam Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU
KUP) sebagaimana diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun
2009, berlaku sama terhadap Wajib Pajak KKKS maupun Wajib Pajak non
migas lainnya, sebagai berikut:
Mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP
Setiap blok (wilayah kerja pertambangan) harus diusahakan oleh satu
entitas dan di suatu blok wajib memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP).
Menyelenggarakan pembukuan dan wajib menyimpan pembukuan
tersebut selam 10 tahun di Indonesia
Melakukan pembayaran dan pelaporan pajak sesuai dengan ketentuan

b.

yang berlaku.
Kewajiban Material
Kewajiban material Wajib Pajak KKKS meliputi kewajiban:
1) PPh Badan
a) Kontraktor harus membayar PPh Badan dan pajak final atas laba
setelah pajak (Branch Profit Tax/BPT).
b) Untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak, Penghasilan bruto
dikurangi dengan biaya-biaya untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan serta penyusutan sebagaimana dimaksud
dalam UU PPh dan PP Nomor 79 Tahun 2010.
2) Pasal 21/22/23/26/4(2) Final
Ketentuan mengenai pemotongan dan pemungutan untuk kontraktor
secara umum mengikuti ketentuan perpajakan yang berlaku.
3) PPN, PBB, dan Pajak Lainnya
a) Pemerintah menanggung dan membebaskan pajak lainnya (PPN, PBB,
Bea Masuk) untuk kontrak yang ditandatangani sebelum PP 79/2010;
b) Sesuai dengan ketentuan UU PPN serta peraturan pelaksanaannya,
crude oil, gas bumi bukan merupakan Barang Kena Pajak (BKP).
c) Untuk kontrak-kontrak yang ditangani sebelum Undang-undang Migas
No. 22 Tahun 2001 diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan No.

28

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

20/PMK.03/2005 bahwa PPN tidak dipungut atas impor barang

modal untuk kegiatannya eksplorasi migas.


d) Untuk kontrak-kontrak yang ditangani setelah Undang-undang Migas
No. 22 Tahun 2001, atas impor barang modal untuk kegiatan
eksplorasi sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No.
27/PMK.011/2012 diatur bahwa atas impor barang modal untuk
kegiatannya eksplorasi migas dibebaskan dari pengenaan PPN.
e) Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.03/2010,
Kontaktor migas ditunjuk sebagai pemungut PPN dengan tarif umum
10% dikalikan Dasar Pengenaan Pajak. Pengecualian atas ketentuan
tersebut dituangkan dalam Pasal 5 ayat (1), dimana PPN dan PPh BM
tidak dipungut oleh kontraktor dalam hal :
Pembayaran yang jumlahnya paling banyak Rp10.000.000,(sepuluh juta rupiah) dan tidak merupakan pembayaran yang

terpecah-pecah;
Pembayaran atas penyerahan BKP/JKP yang menurut ketentuan
perundang-undangan yang berlaku, mendapat fasilitas PPN tidak

dipungut dan/atau dibebaskan dari pengenaan PPN;


Pembayaran atas penyerahan Bahan Bakar Minyak dan bukan

Bahan Bakar Minyak oleh PT.PERTAMINA (Persero);


Pembayaran atas rekening telepon;
Pembayaran atas jasa angkutan udara yang diserahkan oleh

perusahaan penerbangan; atau


Pembayaran lainnya untuk penyerahan barang dan/atau jasa
yang menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku tidak

dikenakan PPN.
f) Sama halnya dengan PPN, maka kontraktor tidak akan dibebani
dengan PBB, Pajak daerah, dan Retribusi daerah untuk kontrakkontrak yang ditandatangani sebelum PP Nomor 79 Tahun 2010.
g) Pemerintah akan membayar pajak-pajak tersebut yang diambil dari
bagian pemerintah (government share) sesuai dengan tagihan yang
diterima oleh Kontraktor.
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010
Peraturan Pemerintah (PP) ini berisi ketentuan khusus di bidang
pertambangan minyak dan gas bumi, utamanya tentang cost recovery untuk
menghitung bagi hasil dan sekaligus untuk perpajakan yang wajib dijadikan
dasar dalam kontrak di bidang pertambangan minyak dan gas bumi. Adapun
pokok-pokok ketentuan yang diatur dalam perturan pemerintah ini adalah
sebagai berikut:

29

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

A. Prinsip Biaya
1) Berdasarkan prinsip bagi hasil, investor diundang untuk membawa

modal, teknologi dan menanggung risiko operasi. Dengan demikian,


biaya modal tidak dapat dibebankan.
2) Seluruh barang dan peralatan yang dibeli oleh Kontraktor dalam rangka
Operasi Perminyakan menjadi milik/kekayaan Negara yang
pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah dan dikelola oleh Badan
Pelaksana.
3) Atas barang dan peralatan dalam rangka cost recovery tidak dapat
dilakukan penilaian kembali (revaluasi).
4) Kontraktor mendapatkan kembali Biaya Operasi sesuai dengan Rencana
Kerja dan Anggaran dan Otorisasi Pengeluaran Finansial (AFE) yang telah
disetujui oleh Badan Pelaksana, setelah Wilayah Kerja menghasilkan
produksi komersial.
5) Saat mulai produksi komersial suatu Wilayah Kerja ditetapkan oleh
Menteri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi Kegiatan
Usaha Minyak dan Gas Bumi (Menteri ESDM) melalui persetujuan rencana
pengembangan lapangan pertama (Plan of Development I).
6) Pengembalian Biaya Operasi dilakukan dengan memperhitungkan hasil
produksi minyak dan/atau gas bumi untuk masing-masing persetujuan
pengembangan lapangan dari Wilayah Kerja yang bersangkutan.
7) Jenis, norma, dan batasan biaya dalam PP ini mengikuti konsep best
business practices, arms length principle dan good engineering practice
sebagai dasar penyusunan dan pelaksanaan kontrak, termasuk kontrak
yang berjalan.
8) Persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran (Work Program &
Budget/WP&B) dan Authorization for Expenditure (AFE) oleh BPMIGAS
mengacu pada prinsip tersebut di atas.
9) Pajak Tidak Langsung, PBB serta Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
merupakan komponen dari cost recovery.
10)
Pemerintah menetapkan besarnya biaya pada tahapan Eksplorasi
setiap tahunnya di bidang usaha hulu migas.
11)
Biaya-biaya yang terjadi selama masa Eksplorasi di suatu wilayah
kerja, pengembalian biayanya ditangguhkan sampai dengan adanya
lapangan yang berproduksi secara komersial di wilayah kerja tersebut.
12)
Biaya-biaya selanjutnya dalam rangka melaksanakan kegiatan
Eksplorasi di lapangan lain pada wilayah kerja yang sama (di luar
rencana pengembangan yang telah disetujui/Plan of Development I - PoD
I), pengembalian biayanya ditangguhkan sampai dengan lapangan
tersebut berproduksi komersial.

30

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

B. Standar dan Pembatasan Biaya


1) Biaya operasi yang dapat dikembalikan dalam penghitungan bagi hasil
dan pajak penghasilan harus memenuhi persyaratan:
a) dikeluarkan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan dan terkait langsung dengan kegiatan operasi
perminyakan di wilayah kerja kontraktor yang bersangkutan di
Indonesia;
b) menggunakan harga wajar yang tidak dipengaruhi hubungan
istimewa sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Pajak
c)

Penghasilan;
pelaksanaan operasi perminyakan sesuai dengan kaidah praktek
bisnis (best business practice) dan keteknikan yang baik (good

d)

engineering practice);
kegiatan operasi perminyakan sesuai dengan rencana kerja dan
anggaran yang telah mendapatkan persetujuan Kepala Badan

Pelaksana sebagaimana.
2) Audit dilakukan berdasarkan standar atau norma, jenis, kategori dan
besaran biaya yang diterbitkan oleh Badan Pelaksana.
3) Biaya-biaya tertentu harus memenuhi persyaratan tambahan sebagai
berikut:
a) untuk biaya penyusutan hanya atas barang dan peralatan yang
digunakan untuk operasi perminyakan yang menjadi milik negara
b) untuk biaya langsung kantor pusat yang dibebankan ke proyek di
Indonesia yang berasal dari luar negeri hanya untuk kegiatan yang:
tidak dapat dikerjakan oleh institusi/lembaga di dalam negeri;
tidak dapat dikerjakan oleh tenaga kerja Indonesia; dan
tidak rutin.
c) untuk pemberian imbalan sehubungan dengan pekerjaan kepada
karyawan/pekerja dalam bentuk natura/kenikmatan dilakukan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
perpajakan;
d) untuk pemberian sumbangan bencana alam atas nama Pemerintah
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
di bidang perpajakan;
e) untuk pengeluaran biaya pengembangan masyarakat dan lingkungan
yang dikeluarkan hanya pada masa eksplorasi;
f) untuk pengeluaran alokasi biaya tidak langsung kantor pusat dengan
syarat:
digunakan untuk menunjang usaha atau kegiatan di Indonesia;
kontraktor menyerahkan laporan keuangan konsolidasi kantor
pusat yang telah diaudit dan dasar pengalokasiannya; dan

31

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

besarannya tidak melampaui batasan yang ditetapkan dengan


Peraturan Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan

Menteri ESDM.
g) Batasan maksimum biaya yang berkaitan dengan remunerasi tenaga
kerja asing ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah
mendapatkan pertimbangan dari Menteri ESDM.
Batasan maksimum remunerasi tenaga kerja asing ini telah diatur
lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor
258/PMK.03/2011 tentang Batasan Maksimum Tenaga Kerja Asing
untuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi. Adapun
batasan maksimum Remunerasi yang dapat dikembalikan dalam
penghitungan bagi hasil dan menjadi pengurang penghasilan bruto
dalam penghitungan Pajak Penghasilan Kontraktor adalah sebagai
berikut :
(dalam US$/tahun)

Golongan
Jabatan

EKSEKUTIF
TERTINGGI

Tarif untuk tenaga kerja asing yang


memiliki paspor dari
Kawasan
Kawasan
Eropa,
Kawasan
Asia, Afrika
Australia
Amerika
dan Timur
dan Amerika
Utara
Tengah
Selatan
562,200
1,054,150
1,546,100

EKSEKUTIF

449,700

843,200

1,236,700

MANAJERIAL

359,700

674,450

989,200

PROFESIONAL

287,700

539,450

791,200

Keterangan

Posisi Tingkat-1 di
KKKS (President,
Country Head, General
Manager)
Posisi Tingkat-2 di
KKKS (Senior Vice
President, Vice
President)
Posisi Tingkat-3 di
KKKS (Senior Manager,
Manager)
Posisi Tingkat-4 di
KKKS (Specialist)

4) Penyusutan

Dimulai pada bulan harta tersebut digunakan (Placed Into Service).


Menggunakan metode Declining balance.
Aktiva yang tidak dapat digunakan lagi tetap disusutkan sesuai masa

manfaat awal.
Kelompok aktiva diatur dalam lampiran PP ini.
5) Gas Cost
a) Biaya langsung minyak bumi dibebankan pada produksi minyak
bumi, sedangkan biaya langsung gas bumi dibebankan pada produksi
gas bumi.
b) Dalam hal terdapat biaya bersama minyak dan gas bumi, maka
diatur sebagai berikut:

32

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Biaya bersama dialokasikan sesuai proporsi nilai relatif hasil

produksi.
Apabila dalam suatu lapangan atau Wilayah Kerja diperoleh baru
satu jenis produksi, minyak bumi atau gas bumi, sementara jenis
produksi yang lainnya belum diperoleh, maka biaya bersama
dialokasikan secara adil dan setimbang (equitable manner)
berdasarkan kesepakatan antara Badan Pelaksana dan

Kontraktor.
c) Pengembalian Biaya Operasi untuk minyak bumi dilakukan hanya
terhadap Lifting minyak bumi, sedangkan Pengembalian Biaya
Operasi untuk gas bumi dilakukan hanya terhadap nilai penjualan gas
bumi.
d) Dalam hal pengembalian Biaya Operasi minyak bumi atau gas bumi
tidak mencukupi dari hasil produksinya atau nilai penjualannya,
diatur sebagai berikut:
Apabila Biaya Operasi gas bumi melebihi nilai produksinya, maka

selisih tersebut dibebankan pada hasil produksi minyak bumi.


Apabila Biaya Operasi minyak bumi melebihi nilai produksinya,

maka selisih tersebut dibebankan pada nilai penjualan gas bumi.


6) Inventory Accounting
a) Persediaan dibiayakan pada saat digunakan.
b) Pembebanan penggunaan persediaan dilakukan dengan
mendahulukan persediaan yang diperoleh terdahulu (First-In FirstOut/FIFO) atau dengan cara rata-rata.
7) Abandonment & Site Restoration
a) Besarnya cadangan biaya penutupan dan pemulihan tambang
(abandonment and site restoration) yang dibebankan untuk 1 (satu)
Tahun Pajak dihitung berdasarkan estimasi biaya penutupan dan
pemulihan tambang berdasarkan masa manfaat ekonomis.
b) Cadangan tersebut wajib disimpan dalam rekening bersama (escrow
account) Badan Pelaksana dan Kontraktor di bank umum Pemerintah
Indonesia di Indonesia.
c) Dalam hal total realisasi biaya penutupan dan pemulihan tambang
(abandonment and site restoration) lebih kecil atau lebih besar dari
jumlah yang dicadangkan, selisih tersebut menjadi pengurang atau
penambah Biaya Operasi yang dapat dikembalikan dari masingmasing Wilayah Kerja atau Lapangan yang bersangkutan sesuai
dengan persetujuan Badan Pelaksana.
C. Negative List
Jenis biaya operasi yang tidak dapat dikembalikan dalam penghitungan bagi
hasil dan pajak penghasilan meliputi:

33

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

1) biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi


dan/atau keluarga dari pekerja, pengurus, pemegang participating

interest, dan pemegang saham;


2) pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali biaya penutupan
dan pemulihan tambang yang disimpan pada rekening bersama Badan
Pelaksana dan kontraktor dalam rekening bank umum Pemerintah
Indonesia yang berada di Indonesia;
3) harta yang dihibahkan;
4) sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi
pidana berupa denda yang berkaitan dengan pelaksanaan peraturan
perundang-undangan di bidang perpajakan serta tagihan atau denda
yang timbul akibat kesalahan kontraktor karena kesengajaan atau
kealpaan;
5) biaya penyusutan atas barang dan peralatan yang digunakan yang bukan
milik negara;
6) insentif, pembayaran iuran pensiun, dan premi asuransi untuk
kepentingan pribadi dan/atau keluarga dari tenaga kerja asing, pengurus,
dan pemegang saham;
7) biaya tenaga kerja asing yang tidak memenuhi prosedur rencana
penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA) atau tidak memiliki izin kerja
tenaga asing (IKTA);
8) biaya konsultan hukum yang tidak terkait langsung dengan operasi
perminyakan dalam rangka kontrak kerja sama;
9) biaya konsultan pajak;
10)
biaya pemasaran minyak dan/atau gas bumi bagian kontraktor,
kecuali biaya pemasaran gas bumi yang telah disetujui Kepala Badan
Pelaksana;
11)
biaya representasi, termasuk biaya jamuan dengan nama dan
dalam bentuk apapun, kecuali disertai dengan daftar nominatif penerima
manfaat dan nomor pokok wajib pajak (NPWP) penerima manfaat;
12)
biaya bunga atas pinjaman;
13)
pajak penghasilan karyawan yang ditanggung pajak kontraktor
maupun dibayarkan sebagai tunjangan pajak dan pajak penghasilan yang
wajib dipotong atau dipungut atas penghasilan pihak ketiga yang
ditanggung kontraktor atau di-gross up;
14)
pengadaan barang dan jasa serta kegiatan lainnya yang tidak
sesuai dengan prinsip kewajaran dan kaidah keteknikan yang baik, atau
yang melampaui nilai persetujuan otorisasi pengeluaran di atas 10%
(sepuluh persen) dari nilai otorisasi pengeluaran;
15)
surplus material yang berlebihan akibat kesalahan perencanaan dan
pembelian;

34

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

16)

nilai buku dan biaya pengoperasian aset yang telah digunakan yang

tidak dapat beroperasi lagi akibat kelalaian kontraktor;


17)
transaksi yang:
a) merugikan negara;
b) tidak melalui proses tender sesuai ketentuan peraturan perundangundangan kecuali dalam ha1 tertentu; atau
c) bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
18)
bonus yang dibayarkan kepada Pemerintah;
19)
biaya yang terjadi sebelum penandatanganan kontrak;
20)
insentif interest recovery; dan
21)
biaya audit komersial.
22)
biaya pengembangan lingkungan dan masyarakat setempat pada
masa eksploitasi;
23)
biaya pelatihan teknis untuk tenaga kerja asing;
24)
biaya terkait merger, participating interest; akuisisi, atau biaya
pengalihan.
D. Penghitungan Pajak Terutang
Perhitungan pajak terutang bersumber dari perhitungan bagi hasil
(uniformity principle). Penghasilan bruto Kontraktor dalam rangka
penghitungan Pajak Penghasilan, adalah:
1) nilai realisasi penjualan atas:
minyak dan/atau gas bagian Kontraktor dari Equity Share dan FTP

Share;
minyak dan/atau gas yang berasal dari Pengembalian Biaya Operasi;
minyak dan/atau gas tambahan yang berasal dari pemberian insentif

atau karena hal lain;


2) dikurangi nilai realisasi penyerahan DMO minyak dan/atau gas bumi
ditambah DMO fee;
3) ditambah Varian Harga atas Lifting (lifting price variance).
Dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak untuk 1 (satu) Tahun Pajak
bagi Kontraktor dalam rangka Kontrak Bagi Hasil, penghasilan bruto
tersebut dikurangi:
(a) Biaya Bukan Modal tahun berjalan;
(b) Penyusutan Biaya Capital tahun berjalan;
(c) Biaya Operasi yang Belum Dapat Dikembalikan dari tahun-tahun
sebelumnya.
Dalam hal jumlah pengurang tersebut lebih besar dari penghasilan
bruto, sisa kurangnya diperhitungkan pada tahun pajak berikutnya
sampai dengan berakhirnya kontrak.
Penghitungan besarnya Pajak Penghasilan yang terutang bagi
Kontraktor adalah Penghasilan Kena Pajak dikalikan dengan tarif
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan.
Besarnya pajak penghasilan yang terutang bagi kontraktor yang
kontraknya ditandatangani sebelum berlakunya peraturan pemerintah

35

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

ini, di hitung berdasarkan tarif pajak perseroan atau pajak penghasilan


pada saat kontrak ditandatangani.
Atas Penghasilan Kena Pajak dimaksud setelah dikurangi Pajak
Penghasilan Badan terutang Pajak Penghasilan sesuai ketentuan yang
berlaku. Dalam hal Kontraktor berbentuk badan hukum Indonesia,
Penghasilan Kena Pajak tersebut diatas setelah dikurangi Pajak

Penghasilan Badan diperlakukan sebagai dividen yang disediakan untuk


dibayarkan dan terutang Pajak Penghasilan sesuai ketentuan yang
berlaku.
E. Audit
Untuk perhitungan pajak, Direktorat Jenderal Pajak menetapkan
besarnya biaya pada tahapan eksplorasi setiap tahunnya di bidang usaha
hulu minyak bumi dan gas bumi setelah mendapat rekomendasi dari Badan
Pelaksana. Sebelum menetapkan besarnya biaya yang dimaksud, auditor
Pemerintah atas nama Direktorat Jenderal Pajak melakukan pemeriksaan.
Dalam hal besaran biaya yang direkomendasikan Badan Pelaksana berbeda
dengan besaran biaya hasil pemeriksaan auditor Pemerintah, auditor
Pemerintah dan Badan Pelaksana wajib menyelesaikan perbedaan tersebut.
Mulai Tahun Pajak 2010, audit dilakukan oleh tim bersama yang terdiri dari
DJP, BPKP, dan BP Migas sebagaimana dituangkan dalam MoU.
Atas pemenuhan kewajiban Pajak Penghasilan pada masa eksploitasi
akan diterbitkan Surat Ketetapan Pembayaran Pajak Penghasilan Minyak dan
Gas Bumi setelah dilakukan pemeriksaan pajak. Sebelum Surat Ketetapan
Pembayaran Pajak Penghasilan Minyak dan Gas Bumi diterbitkan, dapat
diterbitkan Surat Ketetapan Pembayaran Pajak Penghasilan Minyak dan Gas
Bumi Sementara. Ketentuan mengenai penerbitan Surat Ketetapan
Pembayaran Pajak Penghasilan Minyak dan Gas Bumi akan diatur dengan
Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-29/PJ/2011.
F. Keterkaitan dengan Tax Treaty
Apabila Kontraktor akan menerapkan tarif branch profit tax yang lebih
rendah dari 20% sesuai dengan tarif P3B, maka Kontraktor wajib
menyediakan Surat Keterangan Domisili dari negara tempat perusahaan
tersebut didirikan sesuai dengan format yang diatur dalam PER-61/PJ./2009
sebagaimana telah diubah dengan PER-24/PJ/2010. Namun demikian, sesuai
dengan Pasal 37 PP79/2010, disebutkan bahwa dalam hal terjadi perubahan
bentuk hukum dan/atau perubahan status domisili dan/atau pengalihan
participating interest atau kepemilikan saham dan/atau hal lain dari

36

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

kontraktor yang mengakibatkan perubahan perhitungan pajak penghasilan,


besaran bagian penerimaan negara harus tetap.
ASPEK PERPAJAKAN: DRILLING
Proses Bisnis Jasa Drilling
Industri Migas merupakan industri yang padat modal (high cost), padat
teknologi (high technology), padat risiko (high risk). Namun, yang tidak kalah
pentingnya, pemerintah Indonesia sejak awal telah menyadari bahwa migas
merupakan industri strategis sehingga bentuk-bentuk kontrak kerja sama yang
dirancang selalu mengutamakan kepentingan negara.
Di sisi lain kegiatan eksplorasi Migas membutuhkan berbagai jenis jasa
dan salah satunya adalah jasa pengeboran (drilling). Perusahaan jasa
pengeboran adalah perusahaan yang jasanya dimanfaatkan oleh kontraktor
migas untuk melakukan pengeboran di ladang yang menjadi wilayah
pengelolaan kontraktor Migas.
Pada mulanya jasa drilling didominasi oleh perusahaan asing (foreign
drilling company). Tapi semenjak dikeluarkannya Pedoman Tata Kerja Nomor:
07/PTK/VI/2004 tentang Pengelolaan Rantai Suplai Kontrak Kerja Sama oleh BP
Migas, perusahaan lokal (national drilling company) mulai bermunculan.
Sesuai dengan pedoman tersebut, foreign drilling company penyediaan
jasa dengan nilai lebih besar dari Rp. 50 miliar hanya dapat dilakukan oleh
perusahaan asing (foreign drilling company) jika menjalin kemitraan dengan
perusahaan nasional/domestik (national drilling company). Tujuannya agar
foreign drilling company melakukan alih teknologi kepada national drilling
company.
Kegiatan usaha di bidang pengeboran minyak dan gas bumi pada
umumnya melibatkan beberapa pihak sebagai berikut:
1. Pertamina, Kontraktor Bagi Hasil (KBH) atau Kontraktor Kontrak Karya (KK),
melakukan kontrak pengeboran dengan Perusahaan Pengeboran Nasional
(National Drilling Company/ NDC) untuk melaksanakan suatu kegiatan
pengeboran minyak dan gas bumi pada suatu lokasi tertentu. Perusahaan
Pengeboran Nasional (NDC) yang dimaksud dapat berupa Badan Hukum
yang didirikan di Indonesia yang seluruh sahamnya dimiliki pemodal dalam
negeri (PMDN atau non-PMDN) ataupun yang sebagian sahamnya dimiliki
oleh pemodal luar negeri (PMA).
2. NDC dapat melaksanakan sendiri kontrak tersebut pada butir 1, atau dapat

melaksanakan dengan bekerja sama dengan suatu Perusahaan Pengeboran


Asing (Foreign Drilling Company /FDC). Oleh karena melaksanakan

37

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

pengeboran minyak dan gas bumi tersebut, perusahaan asing yang

dimaksud mempunyai Bentuk Usaha Tetap (BUT) di Indonesia.


3. Kerja sama tersebut pada butir 2 dilaksanakan atas dasar perjanjian tertulis
antara kedua belah pihak di mana disepakati hak dan kewajiban antara
pihak, termasuk penghasilan yang menjadi hak dari masing-masing pihak.
Bentuk kerja sama tersebut bervariasi tergantung kemampuan teknologi
NDC, namun kenyataan sampai sekarang ini sebagian besar pekerjaan
pengeboran masih ditangani oleh FDC.
Bentuk Kerjasama NDC Dengan FDC
Kerja sama antara FDC dengan NDC terdapat 2 (dua) bentuk, yaitu:
1. Kerja sama operasi (joint operation)
NDC dan FDC membagi penerimaan berdasarkan pekerjaan yang dilakukan
masing-masing:
a. NDC hanya memegang peranan kecil saja dalam pelaksanaan
pengeboran dan oleh karena itu hanya memperoleh penghasilan berupa
fee atau komisi dari BUT-FDC
b. NDC dan BUT-FDC mempunyai peranan yang hampir seimbang dalam
pelaksanaan pengeboran.

2. Kerja sama bantuan teknis (technical assistance agreement).


Bentuk kerja sama ini merupakan kerja sama antara NDC sebagai kontraktor
pengeboran dan BUT-FDC sebagai sub kontraktor.

38

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Aspek Perpajakan
Mengingat untuk menghitung penghasilan neto dari Bentuk Usaha Tetap
yang melakukan kegiatan usaha di bidang pengeboran minyak dan gas bumi
secara internasional, sukar dilaksanakan dengan seksama karena adanya
kesulitan untuk menghitung besarnya penyusutan atas peralatan pengeboran
(drilling rings) dan biaya operasional lainnya, maka diperlukan perlakuan khusus
mengenai perpajakan, hal ini terutama sekali ditujukan kepada perusahaan
pengeboran minyak asing (Foreign Drilling Company/FDC).
Perlakuan perpajakan khusus untuk Jasa Pengeboran (terutama ditujukan
untuk Foreign Drilling Company/FDC) diatur di dalam berbagai ketentuan yang
saling berkaitan, yaitu:
1. FDC sebagai BUT, sebuah entitas yang diakui hak dan kewajiban
perpajakannya Dasar hukum:
Undang-Undang Nomor 7 tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir
dengan undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.
Pasal 2
(1) Yang menjadi subjek pajak adalah:
a. 1. orang pribadi;
2. warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan
yang berhak;
b. badan; dan
c. bentuk usaha tetap.
(2) Bentuk usaha tetap merupakan subjek pajak yang perlakuan
perpajakannya dipersamakan dengan subjek pajak badan.
2. Pajak Penghasilan Badan dan Pajak Keuntungan Cabang
2.1Penghitungan Penghasilan Neto dengan Norma Penghitungan Khusus
(Deem Profit) Dasar Hukum:
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
628/KMK.04/1991 tanggal 26 Juni 1991 tentang Norma Penghitungan

39

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Badan Yang Melakukan

Kegiatan Usaha Di Bidang Pengeboran Minyak Dan Gas Bumi Serta


Angsuran Pajak Penghasilan Dalam Tahun Berjalan Oleh Wajib Pajak
Sendiri
a. Pasal 1 ayat (1)
Penghasilan neto Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap dari kegiatan
Usaha pengeboran minyak dan gas bumi dihitung dengan
menggunakan Norma Penghitungan Khusus sebesar 15% (lima belas
persen) dari penghasilan bruto.
b. Pasal 1 ayat (2)
Penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah
penghasilan bruto dari jenis-jenis penghasilan yang tercantum dalam
kontrak pengeboran minyak dan gas bumi yang bersangkutan.
Atas penghasilan neto tersebut, Foreign Drilling Company (FDC)
dikenakan pajak penghasilan sesuai dengan Undang-undang Nomor 36
Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.
Hal ini juga menegaskan bahwa penghasilan dari kegiatan
pengeboran yang dilakukan oleh FDC adalah penghasilan Jasa Drilling
bukan sebagai penghasilan dari royalti ataupun sewa.
Dengan demikian kontrak drilling secara keseluruhan dianggap
sebagai kegiatan jasa drilling dengan alasan bahwa kegiatan tersebut
merupakan satu kesatuan yang nilai kontraknya tidak dapat dipisah dan
dirinci antara nilai penggunaan rig dengan jasa, dan kewajiban pajak
dihitung sesuai dengan KMK-628/KMK.04/1991 .
2.2Pengakuan penggantian biaya (reimbursable costs) dan handling charge
(Biaya RCHC)
Dasar Hukum:
Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-21/PJ.31/1991 tanggal 31 Desember
1991 Butir 3.
Dalam menghitung penghasilan bruto untuk menerapkan Norma
Penghitungan khusus tersebut hendaklah diperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
Butir 3.1. Yang dimaksud dengan penghasilan bruto meliputi penghasilan
bruto (gross revenue) dari jenis-jenis penghasilan yang tercantum dalam
kontrak pengeboran minyak dan gas bumi yang bersangkutan, yang
penghitungannya didasarkan pada tarif harian (daily rates) yang menjadi
hak dari BUT-FDC, dengan mengingat hal-hal sebagai berikut:
a. Biaya reimbursable :
Wajib Pajak BUT-FDC tersebut dapat pula menerima dari Pertamina,
Kontraktor Bagi Hasil (KBH) atau Kontraktor Kontrak Karya (KK)
berupa penggantian biaya (reimbursable costs), yang pada umumnya

40

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh BUT-FDC untuk

pekerjaan-pekerjaan yang tidak tercakup dalam kontrak tetapi


diperlukan agar pekerjaan dalam kontrak dapat dilaksanakan. Pada
hakikatnya, bentuk penghasilan tersebut diterima atau diperoleh
BUT-FDC untuk melaksanakan suatu kegiatan tertentu, misalnya
penambahan atau perubahan peralatan yang diperlukan sesuai
kondisi pengeboran, yang tidak tercantum dalam kontrak.
Seluruh pengeluaran untuk melaksanakan kegiatan tersebut diganti
oleh pihak yang bersangkutan (Pertamina, Kontraktor KBH/KK) tanpa
penambahan suatu margin keuntungan, dan dengan demikian dalam
penggantian biaya dimaksud tidak terdapat unsur laba bagi BUT-FDC.
Penerimaan penggantian biaya tersebut bukan merupakan unsur
penghasilan bruto yang diterapkan Norma Penghitungan Khusus
(non-taxable revenue).
b. Handling Charge:
Untuk melaksanakan kegiatan tambahan tersebut pada huruf a ada
kemungkinan BUT-FDC memerlukan biaya handling, sehingga
dimungkinkan adanya pembebanan "handling charge" kepada
PERTAMINA atau Kontraktor KBH/KK. Biaya mobilisasi dan
demobilisasi serta biaya bongkar muat rig memasuki atau keluar
perairan Indonesia adalah termasuk dalam pengertian Handling
Charge. Handling charge merupakan non-taxable revenue pula,
sepanjang Wajib Pajak dapat menunjukkan bukti dari pihak ketiga
atas pengeluaran tersebut. Jika Wajib Pajak tidak dapat
menunjukkannya, maka handling charge merupakan taxable revenue
dan dimasukkan ke dalam penghasilan bruto sebagai dasar
penerapan Norma.
Reimbursable Cost dan Handling Charge tersebut diperlakukan
sebagai non taxable revenue hanya sepanjang jumlah seluruhnya
tidak melebihi 10% dari penghasilan bruto yang berupa Drilling Fee.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menghitung
penghasilan bruto berkaitan dengan RCHC, adalah :
a. Biaya reimburseable merupakan biaya yang harus dikeluarkan
oleh BUT-FDC untuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak tercakup
dalam kontrak tetapi diperlukan agar pekerjaan dalam kontrak
dapat dilaksanakan, dan tanpa penambahan margin.

41

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

b. Handling charge, untuk menunjang kegiatan di atas (co. bongkar


muat rig, mobilisasi rig dsb) sepanjang WP dapat menunjukkan
bukti dari pihak ketiga atas pengeluaran tsb.
c. Reimburse cost & handling charge diperlakukan sebagai non-

taxable income bila tidak lebih dari 10% drilling fee. Pengecualian
harus diberikan untuk biaya penggantian dan biaya penanganan
jika mereka tidak melebihi 10% dari biaya pengeboran.
2.3Penghitungan PPh Pasal 21 Bagi Para Tenaga Kerja Asing melalui Hal-hal
penting dalam penerapan Norma/Deem Salary
Dasar Hukum :
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
433/KMK.04/1994 tanggal 26 Agustus 1994 dan butir 1 Surat Edaran
Dirjen Pajak No. SE-17/PJ.43/1994 tanggal 16 September 1991, mengatur:
Norma Penghitungan khusus penghasilan kena pajak sebagai dasar
penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 ditetapkan sebagai berikut :
1. Untuk Kelompok General Manager
:
US$ 11.275 per
bulan
2. Untuk Kelompok Manager

US$ 9.350 per

bulan
3. a. Untuk Kelompok Rig Supervisor/Rig
Superintendent atau Tool Pusher

US$ 5.830 per

bulan
b. Untuk Kelompok Assistant Rig Supervisor/
Assistant Rig Superintendent atau
Assistant Tool Pusher
:

US$ 4.510 per

bulan
4. Untuk Kelompok Crew lainnya

US$ 3.245 per

bulan
Ketentuan Deem Salary ini berdasarkan juga pada hal-hal di bawah ini:
1. Berlaku bagi tenaga asing/expatriate baik NDC maupun FDC.
2. Penghasilan Kena Pajak tersebut telah meliputi seluruh jenis
penghasilan yang diterima expatriate termasuk pemberian dalam
bentuk natura (fringe benefit).
3. Dalam menerapkan tarif tidak boleh dikurangi lagi dengan PTKP.
4. Fiskal LN oleh expatriate hanya dapat dikreditkan atas PPh Pasal 21
karyawan yang bersangkutan sepanjang telah ditambahkan terlebih
dahulu sebagai tunjangan pajak di atas norma.
Dalam meneliti laporan pemotongan PPh Pasal 21 baik NDC
maupun FDC agar diperhatikan jumlah rig yang beroperasi, kelompok
kerja/shift dalam suatu unit kerja dan sistem penggiliran kerja masingmasing unit dan lain-lain yang mempengaruhi jumlah expatriate yang
dipekerjakan.
Catatan :

42

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Sesuai hasil penelitian penggajian pada perusahaan drilling, saat ini gaji
sudah di atas ketentuan Deem Salary yang berlaku.
2.4Penghitungan PPh Pemungutan dan Pemotongan (Withholding Tax)
Aspek Pajak Penghasilan withholding tax seperti PPh Pasal 21, 22, 23,

dan 26.
Dalam kaitannya dengan pembayaran PPh Pasal 26 atas laba yang
diberikan kepada pihak Head Office, pihak BUT Foreign Drilling Company
diwajibkan membayar pajak final atas laba setelah pajak (Branch Profit
Tax), sebagaimana yang diatur di dalam Pasal 26 (4) UU PPh .
Pemotongan pajak penghasilan seperti pembayaran/akrual
dividen, bunga, royalti, biaya teknis & manajemen untuk jasa yang
dilakukan di Indonesia dan oleh badan usaha Indonesia maka dikenakan
pajak pemotongan dan pemungutan sebagaimana yang diatur di dalam
UU PPh.
Tarif Pajak/Tarif Pajak Efektif
Pemotongan pajak yang meliputi PPh Pasal 4 (2), 15, 22, 23, 26
dikenakan tarif yang tarif beragam, tergantung pada jenis obyek pajak
dan atau lawan transaksi. Tarif yang diterapkan pada pembayaran WPDN
ataupun BUT bervariasi dari 1,5% sampai 15%.
Pemotongan pajak yang bersifat final (misalnya dalam hal
pembayaran sewa untuk sewa tanah dan bangunan) atau non-final
(pembayaran misalnya untuk manajemen, administrasi atau biaya atas
jasa-jasa yang diperlukan dalam operasional). Tarif yang lebih tinggi
sebesar 20 % akan dikenakan kepada lawan transaksi yang tidak
mempunyai NPWP.
Periode pemotongan pajak
Pajak-pajak harus dipungut pada tanggal pembayaran biaya atau
pada tanggal tersebut biaya terutang, mana yang lebih dulu.
Karena tanggal Pembayaran & mengisi Surat Pemberitahuan FDC
harus membayarkan pajak penghasilan yang dipotong ke Kas Negara
(Kas Negara) dengan tanggal 10 bulan berikutnya setelah pemotongan
pajak dan menyerahkan SPT ke kantor pajak dengan 20 bulan berikutnya.
Denda bunga atas keterlambatan pembayaran adalah 2% per bulan
untuk 24 bulan, dan adanya denda atas keterlambatan penyampaian
SPT.
Perlakuan penghasilan Jasa Drilling
Ketika KPS/PSC melakukan pembayaran ke pihak BUT FDC maupun NDC :
1. Tidak dipotong PPh Pasal 23 atas Jasa Pengeboran yang dilakukan
BUT. (PER-70/ PJ/2007)

43

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

2. Dipotong PPh Pasal 23 atas jasa keagenan yang diberikan oleh NDC.
(PER-70/ PJ/2007). Dasar Pengenaan pajaknya adalah 30% dari

jumlah imbalan jasa tidak termasuk PPN.


3. PPN dan PPNBM
Dasar Hukum :
a. S-1136/PJ.531/1998 tanggal 14 Mei 1998 Perihal PPn atas Penyerahan
Jasa Pengeboran;
b. S-3473/PJ.51/1997 tanggal 15/12/1997;
c. S-1288/PJ.531/2000 tanggal 14/8/2000 perihal PPN atas penyerahan
Jasa Katering sebagai bagian dari Penyerahan Jasa Drilling kepada
PSC;
d. S-252/PJ.532/2000 tanggal 18/2/2000 perihal PPN atas penyerahan
jasa katering sebagai bagian dari penyerahan jasa pengeboran
minyak;
e. S-488/PJ.312/2003 tanggal 24/7/03 perihal Perlakuan Perpajakan atas
Jasa Drilling yang Dilakukan oleh BUT.
Atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Masukan yang harus dibayar oleh
Kontraktor
Production Sharing akan dikembalikan (di-reimburse) oleh
Pertamina / BP Migas. Hal ini memiliki dasar Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor 64/Pmk.02/2005 Tentang Tata Cara
Pembayaran Kembali Pajak Pertambahan Nilai Dan Pajak Penjualan Atas
Barang Mewah Atas Perolehan Barang Kena Pajak Dan Atau Jasa Kena
Pajak Yang Digunakan Oleh Badan Usaha Atau Bentuk Usaha Tetap Dalam
Pengusahaan Minyak Dan Gas Bumi.
Demikian juga halnya dengan impor barang modal oleh Kontraktor
Production Sharing tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) impor.
Mengingat barang modal tersebut adalah milik Pemerintah (Pasal 15d UU
8/1971). Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia
Nomor 97/Pmk.010/2006 Tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor
Barang Untuk Kegiatan Usaha Hulu Minyak Dan Gas Bumi, bahwa atas
barang modal yang diimpor oleh Kontraktor Production Sharing
dikenakan tarif Bea Masuk sebesar 0% (nol per seratus). PBB dan Pajak /
Retribusi Daerah sama halnya dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN),
maka Kontraktor Production Sharing tidak akan dibebani dengan Pajak
Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Daerah, Retribusi Daerah, dan
sebagainya. Pertamina atau BP Migas akan membayar pajak-pajak
tersebut yang diambil dari bagian pemerintah (Government share) sesuai
dengan tagihan yang diterima oleh Kontraktor Production Sharing.
Ketika KPS/PSC melakukan pembayaran ke pihak BUT:

44

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

1. KPS/PSC memungut PPN atas Jasa Pengeboran tersebut. (SE09/PJ.531/2000).


2. NDC wajib memungut PPN dan membuat Faktur Pajak atas

penyerahan jasa keagenan sebesar 10% dari komisi yang diterima,


dan menyetorkan serta melaporkannya sesuai dengan ketentuan
yang berlaku (mekanisme biasa). (SE-09/PJ.531/2000)
3. Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh Kontraktor Utama (NDC)
selaku agen hanya yang berhubungan langsung dengan jasa
keagenan.
4. Lain-lain.
a. Pembukuan dan Pencatatan
WP tidak Melampirkan Pembukuan dalam SPT Tahunan Badan
Berikut adalah aturan yang dijadikan dasar oleh WP BUT
yang bergerak dalam bidang pengeboran minyak asing (Foreign
Drilling Company/FDC) tidak melampirkan laporan keuangan
dalam SPT Tahunan Badannya.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik
Indonesia Nomor 628/KMK.04/1991 tanggal 26 Juni 1991 tentang
Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak
Badan Yang Melakukan Kegiatan Usaha Di Bidang Pengeboran
Minyak Dan Gas Bumi Serta Angsuran Pajak Penghasilan Dalam
Tahun Berjalan Oleh Wajib Pajak Sendiri disebutkan bahwa :
1) Pasal 1 ayat (1)
Penghasilan neto Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap dari
kegiatan Usaha pengeboran minyak dan gas bumi dihitung
dengan menggunakan Norma Penghitungan Khusus
sebesar 15% (lima belas persen) dari penghasilan bruto.
2) Pasal 1 ayat (2)
Penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
adalah penghasilan bruto dari jenis-jenis penghasilan yang
tercantum dalam kontrak pengeboran minyak dan gas bumi
yang bersangkutan.
3) Pasal 3 ayat (1)
Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1 diwajibkan untuk menyelenggarakan
pencatatan penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 1 ayat (2) dan pengeluaran-pengeluaran yang wajib

45

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

dilakukan pemotongan pajak sebagaimana diatur dalam Pasal


23 dan Pasal 26 Undang-undang Pajak Penghasilan 1984.
4) Pasal 3 ayat (2)
Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
Bentuk Usaha Tetap dari Usaha lain selain usaha pengeboran
minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
ayat (3) wajib diselenggarakan pembukuan yang terpisah.
Atas dasar aturan tersebut WP tidak melampirkan
pembukuannya dalam laporan SPT Tahunan Badannya.
Sementara untuk National Drilling Company/NDC berlaku
ketentuan Pasal 28 UU KUP, yaitu kewajiban membuat
pembukuan dan menyampaikan Laporan Keuangan.
b. Jenis-jenis Penghasilan Lain
1) Sewa dari harta yang dimiliki baik digunakan di Indonesia
maupun di luar.
2) Bunga dari penggunaan uang/dana baik yang ditempatkan di
Indonesia maupun di luar.
3) Kegiatan usaha (business income) selain drilling, penghasilan
dari modal (investment income) ataupun penghasilan lain.
Atas penghasilan tersebut di atas ataupun penghasilan
yang tidak tercantum dalam kontrak jasa drilling, maka perlakuan
pajak berdasarkan pada ketentuan yang terdapat pada UU PPh.
NATIONAL DRILLING

FOREIGN DRILLING

Tax Status
Taxable Income

COMPANY
Resident Taxpayer
Accounting Based

COMPANY
Non-Resident Taxpayer
Gross Revenue From Drilling

Component

Income +/- Fiscal

Contract, Consist Of:


Daily Rates
Reimbursable Costs
Handling Charges (Mob &

NO

DESCRIPTION

1
2

Adjustments As Per
Tax Regulation

Demob)
Note:
Rc & Hc Is Taxable If Only
3

Bookkeeping

Compulsory

Obligation

Exceed 10% Of Drilling Fees


Recording For Gross Revenue &
Expenses Subject To
Withholding Tax Bookkeeping
For Income Other Than Drilling

Corporate Income

Normal Calculation

Tax Calculation

(Actual Taxable
Income & Progressive
Tax Rate)

Fee
Deemed Taxable Profit For
Income From Drilling Activities
(15% Of The Gross Revenue)
Normal Calculation For Income

46

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS


NATIONAL DRILLING FOREIGN DRILLING

NO

DESCRIPTION

Additional Tax

Dividend Tax If

COMPANY
Other Than Drilling Fee
Branch Profit Tax At 20% Or

Obligation

Distributed To

Reduced Rate Under Tax Treaty

COMPANY

Shareholders (Wht
6

23/26)
Deemed Salaries

Deemed Salaries

Indonesia
Monthly Corporate

One-Twelfth Of The

One-Twelfth Of The Income Tax

Tax Installment

Income Tax Based On

Computed On The Annualized

The Previous

Monthly Deemed Profit

Basis For
Calculating Article
21 Income Tax Of
The Expatriates
Working In The
Oil And Gas Drilling
Business In

Corporate Tax Return

ASPEK PERPAJAKAN: JASA PENUNJANG (KONSTRUKSI)


Kegiatan Usaha Jasa Konstruksi Minyak dan Gas Bumi
1. Umum
Pelaksanaan kegiatan usaha jasa konstruksi minyak dan gas bumi
dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang jasa
konstruksi. Pengertian-pengertian yang diatur dalam Undang-undang Nomor
18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi meliputi:
a. Jasa konstruksi adalah layanan jasa konsultasi perencanaan pekerjaan
konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan
jasa konsultasi pengawasan pekerjaan konstruksi;
b. Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian
kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang
mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata
lingkungan masing-masing beserta kelengkapannya untuk mewujudkan
suatu bangunan atau bentuk fisik lain;
c. Pengguna jasa adalah orang perseorangan atau badan sebagai pemberi
tugas atau pemilik pekerjaan/proyek yang memerlukan layanan jasa
konstruksi;

47

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

d. Penyedia jasa adalah orang perseorangan atau badan,yang kegiatan

usahanya menyediakan layanan jasa konstruksi;


e. Kontrak kerja konstruksi adalah keseluruhan dokumen yang mengatur
hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam
f.

penyelenggaraan pekerjaan konstruksi;


Registrasi adalah suatu kegiatan untuk menentukan kompetensi profesi
keahlian dan keterampilan tertentu, orang perseorangan dan badan;
usaha untuk menentukan izin usaha sesuai klasifikasi dan kualifikasi yang

diwujudkan dalam sertifikat;


g. Perencana konstruksi adalah penyedia jasa orang perseorangan atau
badan usaha. Yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang
perencanaan jasa konstruksi yang mampu mewujudkan pekerjaan dalam
bentuk dokumen perencanaan bangunan fisik lain;
h. Pelaksana konstruksi adalah penyedia jasa orang perseorangan atau
badan usaha yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang
pelaksanaan jasa konstruksi yang mampu menyelenggarakan
kegiatannya untuk mewujudkan suatu hasil perencanaan menjadi bentuk
i.

bangunan atau bentuk fisik lain;


Pengawas konstruksi adalah penyedia jasa orang perseorangan atau
badan usaha yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang
pengawasan jasa konstruksi yang mampu melaksanakan pekerjaan
pengawasan sejak awal pelaksanaan pekerjaan konstruksi sampai selesai

dan di serah terimakan.


2. Usaha Jasa Pelaksana Konstruksi
Bentuk usaha jasa pelaksana konstruksi meliputi usaha orang
perseorangan, serta badan usaha nasional dan badan usaha asing. Setiap
usaha orang perseorangan yang melakukan usaha jasa pelaksana konstruksi
harus memiliki Tanda Daftar Usaha Orang Perseorangan (TDUP), sedangkan
setiap badan usaha baik nasional dan asing yang melakukan usaha jasa
pelaksana konstruksi harus memiliki Sertifikat Badan Usaha (SBU).
Penggolongan kualifikasi usaha jasa pelaksana konstruksi didasarkan
pada kriteria tingkat/kedalaman kompetensi dan potensi kemampuan usaha,
yang selanjutnya dibagi menurut kemampuan melaksanakan pekerjaan
berdasarkan kriteria risiko, dan/atau kriteria penggunaan teknologi, dan/atau
kriteria besaran biaya, dapat dibagi jenjang kompetensinya dalam Gred
sebagai berikut :
a. kualifikasi usaha besar (usaha non kecil) berupa :
1) Gred 7
2) Gred 6
3) Gred 5

48

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

b. kualifikasi usaha kecil, berupa :


1) Gred 4
2) Gred 3
3) Gred 2
4) Gred 1 (usaha orang perseorangan)

Batas Nilai Satu Pekerjaan Kualifikasi Usaha Jasa Pelaksana


Konstruksi
No

Golongan

Kualifika

.
1
2

Usaha
Perorangan
Kecil

Besar

si
Gred
Gred
Gred
Gred
Gred
Gred
Gred

1
2
3
4
5
6
7

Batas Nilai satu Pekerjaan (Rp)


0 s.d. 50.000.000,00
0 s.d. 300.000.000,00
0 s.d. 600.000.000,00
0 s.d. 1.000.000.000,00
>1.000.000.000,00 s.d.
10.000.000.000,00
>1.000.000.000,00 s.d.
25.000.000.000,00
>1.000.000.000,00 s.d. tidak terbatas

Klasifikasi Bidang/Subbidang Pekerjaan Usaha Jasa Pelaksana


Konstruksi Terkait Jasa Penunjang Minyak dan Gas Bumi
BAGIA
KODE

BIDAN

SUB

N SUB

BIDANG

BIDAN

URAIAN

KET.

Jasa instalasi pipa

*Perseoranga

pipa gas

untuk gas,

dalam

oksigen di rumah

n
diperbolehka

bangunan

sakit dan peralat-

G
23000
23003

MEKANIKAL
Instalasi

an pengoperasian
gas lainnya
Termasuk
23007

Instalasi

perawatannya
Instalasi anjungan

thermal,

lepas pantai

bertekan
an,

(platform)
Instalasi fasilitas

minyak,

produksi,

gas,

penyimpanan

geotherm

minyak dan gas

al

lainnya

(Pekerjaa

Termasuk perawatan-

nya

49

BAGIA
KODE

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

BIDAN

SUB

N SUB

BIDANG

BIDAN

URAIAN

G
Rekayasa
23008

)
Konstruks

i Alat

untuk konstruksi

angkut

alat angkut dan

dan alat
angkat

n
Rekayasa

angkat
Jasa pemasangan
conveyor

(Pekerjaa

23009

Jasa pelaksana

Termasuk perawatannya

)
Konstruks

Konstruksi perpipaan

Jasa pelaksana

perpipaa

instalasi pipa

n minyak,

minyak, gas dan

gas,
energi

energi di darat
Jasa pelaksana

(Pekerjaa

instalasi pipa

minyak, gas dan

Rekayasa

energi di bawah

laut
Termasuk perawatan-

23010

Fasilitas

nya
Jasa pelaksana

produksi,
penyimpa

instalasi fabrikasi
fasilitas produksi,

nan

penyimpanan

minyak

minyak dan gas di

dan gas

darat dan lepas

(Pekerjaa
n
Rekayasa

pantai
Jasa pelaksana
instalasi fabrikasi

bejana tekan
(pressure vessel)

dan tangki
Jasa pelaksana
instalasi fabrikasi
broiler

KET.

50

BAGIA
KODE

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

BIDAN

SUB

N SUB

BIDANG

BIDAN

URAIAN

Jasa pelaksana
instalasi fabrikasi
module

Termasuk perawatannya
25000
25001

TATA LINGKUNGAN
Perpipaan

minyak

Jasa pelaksana
pipa untuk
distribusi minyak
dan gas di atas
permukaan tanah,
di bawah tanah,
atau di bawah
lautan termasuk
konstruksi untuk

pompa
Jasa pelaksana
pipa untuk
distribusi bukan
air, minyak dan
gas di atas
permukaan tanah
atau di bawah
lautan termasuk
konstruksi untuk
pompa

Termasuk perawatan25002

Perpipaan
gas

nya
Jasa pelaksana
perpipaan gas
untuk distribusi di
perkotaan
termasuk
konstruksi untuk
pompa
Termasuk perawatannya

KET.

51

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

3. Usaha Jasa Perencana dan Pengawas Konstruksi


Bentuk usaha jasa perencana konstruksi dan jasa pengawas konstruksi
meliputi usaha orang perseorangan; dan badan usaha nasional dan badan
usaha asing. Setiap usaha orang perseorangan yang melakukan usaha jasa
perencana konstruksi dan jasa pengawas konstruksi harus memiliki Tanda
Daftar Usaha Orang Perseorangan (TDUP), sedangkan setiap badan usaha
yang melakukan usaha jasa perencana konstruksi dan jasa pengawas
konstruksi memiliki Sertifikat Badan Usaha (SBU).
Penggolongan kualifikasi usaha jasa perencana konstruksi dan usaha
jasa pengawas konstruksi didasarkan pada kriteria tingkat/kedalaman
kompetensi dan potensi kemampuan usaha, serta kemampuan melakukan
perencanaan dan pengawasan pekerjaan berdasarkan kriteria risiko dan/atau
kriteria penggunaan teknologi dan/atau kriteria besaran biaya. Penggolongan
kualifikasi usaha jasa perencana konstruksi dan jasa pengawas konstruksi
tersebut, jenjang kompetensinya dalam Gred, dapat dibagi dalam golongan :
a. kualifikasi usaha besar (usaha non kecil) berupa Gred 4.
b. kualifikasi usaha kecil (usaha kecil), berupa:
1) Gred 3
2) Gred 2
3) Gred 1 (usaha orang perseorangan)

Batas Nilai Satu Pekerjaan Kualifikasi Usaha Jasa Perencana


Konstruksi Dan
Usaha Jasa Pengawas Konstruksi
No Golongan
Kualifika
Batas Nilai Satu Pekerjaan
.
1
2

Usaha
Perorangan
Kecil

Besar

si
Gred 1
Gred 2
Gred 3

0 s.d. 50.000.000,00
0 s.d. 400.000.000,00
>400.000.000,00 s.d.

Gred 4

1.000.000.000,00
>400.000.000,00 s.d. tidak terbatas

Klasifikasi Bidang/Subbidang Dan Layanan/Sublayanan Jasa


Perencana Konstruksi Dan Jasa Pengawas Konstruksi Terkait Jasa
Penunjang Minyak Dan Gas Bumi
KODE

LAYANA

SUB-

N
LAYANAN
PERENCANAAN
1600 JASA SURVEI
0

URAIAN

52

KODE
1600
1

LAYANA

SUB-

LAYANAN
Jasa Survei
Permukaan

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS


URAIAN
Jasa survei permukaan ini meliputi :

jasa pengumpulan informasi dalam


bentuk, posisi dan/atau batas bagian
permukaan bumi dengan berbagai
metode termasuk transit, fotogrametri
dan survei hidrografi, untuk keperluan

membuat peta
koleksi data dengan satelit
jasa survei lapangan (land surveying)
(misal, membuat tanda hak milik,

1600

Jasa Geologi,

Geofisik dan

penandaan batas)
Jasa ini meliputi:

jasa geologi, geofisik, geokimia dan

konsultasi saintifik lainnya.


terkait dengan lokasi deposit mineral,

Prospek
Lainnya

minyak dan gas dan air bawah tanah


dengan mempelajari sifat-sifat bumi dan
1700

pembentukan batuan dan strukturnya.


JASA ANALISIS & ENJINIRING LAINNYA

0
1700

Jasa

Enjiniring

Jasa ini meliputi:

Lainnya

jasa enjiniring geoteknik yang


menyediakan informasi bawah tanah
(subsurface) bagi para insinyur dan
arsitek yang diperlukan untuk disain

berbagai proyek
jasa enjiniring air bawah tanah,
termasuk pengkajian sumber air bawah

tanah
studi kontaminasi dan manajemen

kualitas
jasa enjiniring korosi, termasuk inspeksi,
deteksi dan program kontrol korosi
investigasi kegagalan

PENGAWASAN
3100 LAYANAN JASA INSPEKSI TEKNIS
0

53

LAYANA

SUB-

3100

LAYANAN
Jasa

Enjiniring

KODE

Fase
Konstruksi
dan Instalasi
Industrial
Plant dan
3200

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS


URAIAN
Jasa ini meliputi pekerjaan inspeksi teknis
selama fase konstruksi untuk :

konstruksi pertambangan
konstruksi pembangkit tenaga (power

plant)
fasilitas kimia dan yang terkait
konstruksi untuk pabrik (manufaktur)
otomatisasi proses industri

Proses
LAYANAN JASA MANAJEMEN PROYEK

0
3200

Jasa

Manajemen

Jasa ini meliputi :

jasa dalam pertanggungjawaban

Proyek

menyeluruh atas keberhasilan

Terkait

penyelesaian proyek konstruksi atas

Konstruksi

nama klien, termasuk pengorganisasian

Industrial

pembiayaan dan disain, undangan

Plant dan

tender, dan pelaksanaan manajemen

Proses

dan fungsi-fungsi kontrol;


pertambangan, konstruksi pembangkit
tenaga (power plant), kimia dan fasilitas
terkait, konstruksi untuk manufaktur,

3300

dan otomatisasi untuk proses industri.


LAYANAN JASA ENJINIRING TERPADU

0
Jasa
Enjiniring

Jasa ini terdiri atas :

jasa manajemen proyek yang terkait

dengan konstruksi,
jasa nasihat enjiniring dan jasa pra-

desain,
jasa desain enjiniring,
jasa enjiniring selama konstruksi dan

fase instalasi; dan


jasa enjiniring lainnya

Terpadu

Dapat mencakup sebagian atau seluruh


pekerjaan :

konstruksi bangunan hunian dan


bangunan bukan hunian seperti
bangunan industri, komersial atau

pertanian;
konstruksi pekerjaan teknik sipil :
- jalan bebas hambatan (highways),

54

KODE

LAYANA

SUB-

LAYANAN

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS


URAIAN
jalan raya (streets), jalan (roads), jalan
-

kereta api, landas pacu pesawat;


jembatan, jalan layang, terowongan

dan jalan bawah tanah;


pelabuhan, saluran air, bendungan,

irigasi dan pekerjaan air lainnya;


pemipaan, kabel komunikasi dan jalur

tenaga (Power lines) jarak jauh;


pemipaan lokal dan kabel dan

pekerjaan yang terkait


olah raga outdoor dan fasilitas rekreasi
konstruksi industrial plant dan proses :
- konstruksi pertambangan
- konstruksi pembangkit tenaga (power
-

plant)
kimia dan fasilitas terkait
konstruksi untuk manufaktur
otomatisasi untuk proses industri
konstruksi sistem kontrol lalu lintas

Aspek Perpajakan
1. Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) Wajib Pajak
Klasifikasi Lapangan Usaha Wajib Pajak yang terkait dengan kegiatan
jasa penunjang minyak dan gas bumi adalah sebagai berikut:
GP G
SG
KEL
KATEGORI F: KONSTRUKSI
45
4524
45249

URAIAN KLASIFIKASI LAPANGAN USAHA


KONSTRUKSI
KONSTRUKSI KHUSUS
Konstruksi khusus lainnya Kelompok ini mencakup
kegiatan khusus yang belum terliput dalam kegiatan

4522
45226

konstruksi kelompok 45241 s.d. 45246.


KONSTRUKSI BANGUNAN SIPIL
Bangunan pengolahan, penyaluran, dan penampungan
barang minyak dan gas. Kelompok ini mencakup usaha
pembangun-an, pemeliharaan, dan perbaikan
bangunan pengolahan minyak dan gas, termasuk
bangunan dan transmisi penyadap minyak/gas,
bangunan pengolahan (refinery), reservoir minyak/gas,
jaringan penyaluran, dan tangki minyak/gas.
INSTALASI GEDUNG DAN BANGUNAN SIPIL

45
3
4531
45314

INSTALASI GEDUNG
Instalasi gas Kelompok ini mencakup kegiatan
pemasangan instalasi gas pada bangunan gedung baik

45

untuk tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal.


INSTALASI GEDUNG DAN BANGUNAN SIPIL

55

GP

G
3

SG

KEL

4531
45328

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS


URAIAN KLASIFIKASI LAPANGAN USAHA
INSTALASI BANGUNAN SIPIL
Instalasi jaringan pipa Kelompok ini mencakup kegiatan
pemasangan, pemeliharaan, dan perbaikan instalasi
jaringan pipa seperti: jaringan pipa gas, air, dan
minyak.

Sumber: Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor KEP-34/PJ/2003


tentang Klasifikasi Lapangan Usaha Wajib Pajak.
2. PPh Pasal 4 ayat (2)
Objek Penghasilan atas kegiatan usaha jasa konstruksi sebagai usaha
jasa penunjang minyak dan gas bumi adalah Pajak Penghasilan yang bersifat
final. Tarif Pajak Penghasilan untuk usaha Jasa Konstruksi adalah sebagai
berikut:
a. 2% (dua persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh
Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha kecil;
b. 4% (empat persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh
Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha;
c. 3% (tiga persen) untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh
Penyedia Jasa selain Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a
dan huruf b;
d. 4% (empat persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan
Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi
usaha; dan
e. 6% (enam persen) untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan
Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki
kualifikasi usaha.
Dalam hal Penyedia Jasa adalah bentuk usaha tetap, tarif Pajak
Penghasilan tersebut, tidak termasuk Pajak Penghasilan atas sisa laba bentuk
usaha tetap setelah Pajak Penghasilan yang bersifat final. Yang dimaksud
dengan "Kualifikasi usaha" adalah stratifikasi yang ditentukan berdasarkan
sertifikasi yang dikeluarkan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi.
Ketentuan kualifikasi usaha pada Pajak Penghasilan untuk usaha Jasa
Konstruksi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2009 tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi mengamanatkan
Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi yang mengeluarkan sertifikasi
sesuai dengan Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nomor 02
Tahun 2011 dan Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nomor
03 Tahun 2011.

56

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Skema tarif dan dasar pengenaan PPh yang bersifat final untuk Jasa
Konstruksi

Dalam hal Penyedia Jasa adalah Bentuk Usaha Tetap, tarif Pajak
Penghasilan Pasal 4 ayat (2) Final tersebut di atas tidak termasuk Pajak
Penghasilan Pasal 26 ayat (4) Undang-Undang PPh. Dasar Pengenaan Pajak
Pasal 26 ayat (4) Undang-Undang PPh adalah Penghasilan Kena Pajak yang
dihitung berdasarkan pembukuan yang sudah dikoreksi fiskal dikurangi
dengan Pajak Penghasilan termasuk Pajak Penghasilan yang bersifat final.
Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang sistematika penghitungan
Pajak Penghasilan Pasal 26 ayat (4) bagi Bentuk Usaha Tetap, berikut ini
disajikan bagannya:

Pelunasan Pajak Penghasilan yang bersifat final atas penghasilan dari


usaha jasa konstruksi melalui cara:

57

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

a. Dipotong oleh Pengguna Jasa pada saat pembayaran, dalam hal

Pengguna Jasa merupakan pemotong pajak; atau


b. Disetor sendiri oleh Penyedia Jasa, dalam hal Pengguna Jasa bukan
merupakan pemotong pajak;
c. Dalam hal:
1) Pemotongan oleh Pengguna Jasa terdapat selisih kekurangan PPh
yang terutang berdasarkan Nilai Kontrak Jasa Konstruksi dengan PPh
berdasarkan pembayaran yang telah dipotong atau disetor sendiri,
selisih kekurangan tersebut disetor sendiri oleh Penyedia Jasa;
2) Nilai Kontrak Jasa Konstruksi tidak dibayar sepenuhnya oleh
Pengguna Jasa, atas Nilai Kontrak Jasa Konstruksi yang tidak dibayar
tersebut tidak terutang PPh yang bersifat final, dengan syarat Nilai
Kontrak Jasa Konstruksi yang tidak dibayar tersebut dicatat sebagai
piutang yang tidak dapat ditagih;
a) Piutang yang tidak dapat ditagih merupakan piutang yang nyatanyata tidak dapat ditagih.
b) Dalam hal piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat
ditagih kembali, tetap dikenakan PPh yang bersifat final.
Batas waktu penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) atas kegiatan usaha jasa
konstruksi adalah sebagai berikut:
a. PPh Pasal 4 ayat (2) yang dipotong oleh Pemotong Pajak Penghasilan
harus disetor paling lama tanggal 10 (sepuluh) bulan berikutnya setelah
Masa Pajak berakhir kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
b. PPh Pasal 4 ayat (2) yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak harus
disetor paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah
Masa Pajak berakhir kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.
Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak
bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur
nasional, pembayaran atau penyetoran pajak dapat dilakukan pada hari
kerja berikutnya. Hari libur nasional tersebut termasuk hari yang
diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh
Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh
Pemerintah.
Batas waktu pelaporan SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) atas kegiatan
usaha jasa konstruksi adalah Wajib Pajak orang pribadi atau badan, baik yang
melakukan pembayaran pajak tersendiri maupun yang ditunjuk sebagai
Pemotong PPh wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa paling lama
20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir. Dalam hal batas akhir
pelaporan tersebut bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau
hari libur nasional, pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.

58

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Hari libur nasional tersebut termasuk hari yang diliburkan untuk

penyelenggaraan Pemilihan Umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti


bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.
Bentuk formulir surat pemberitahuan masa pajak penghasilan final
pasal 4 ayat (2) sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER53/PJ/2009 tentang Bentuk Formulir Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Penghasilan Final Pasal 4 Ayat (2), Surat Pemberitahuan Masa Pajak
Penghasilan Pasal 15, Pasal 22, Pasal 23 dan/atau Pasal 26 serta Bukti
Pemotongan/Pemungutannya.
Penyampaian SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) atas kegiatan usaha jasa
konstruksi pada Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus wajib menyampaikan SPT dalam
bentuk elektronik (e-SPT) sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
nomor PER-6/PJ/2009 Tentang Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan
Dalam Bentuk Elektronik. Penyampaian e-SPT oleh Wajib Pajak ke KPP tempat
Wajib Pajak terdaftar dapat dilakukan secara langsung atau melalui
pos/perusahaan jasa ekspedisi/kurir dengan bukti pengiriman surat dengan
membawa atau mengirimkan formulir Induk SPT Masa PPh hasil cetakan eSPT yang telah ditandatangani dan file data SPT yang tersimpan dalam
bentuk elektronik serta dokumen lain yang wajib dilampirkan.
Hal-Hal Yang Perlu Menjadi Perhatian Khusus
Dalam pemberian penjelasan tentang Jasa Konstruksi sebagai Jasa
Penunjang Bidang Minyak dan Gas Bumi, ada beberapa hal yang perlu menjadi
perhatian khusus adalah sebagai berikut:
1. Usaha Jasa Pelaksanaan Konstruksi termasuk Engineering, Procurement, and
Construction (EPC) di bidang Minyak dan Gas Bumi menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan dijelaskan sebagai berikut:
a. Dasar Pengenaan Pajak (DPP) untuk PPh Pasal 4 ayat (2) Final
Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2009 tentang Perubahan
atas Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi.
1) Pasal 1 angka 5, Pelaksanaan Konstruksi adalah pemberian jasa oleh
orang pribadi atau badan yang dinyatakan ahli yang profesional di
bidang pelaksanaan jasa konstruksi yang mampu menyelenggarakan
kegiatannya untuk mewujudkan suatu hasil perencanaan menjadi
bentuk bangunan atau bentuk fisik lain, termasuk di dalamnya
pekerjaan konstruksi terintegrasi yaitu penggabungan fungsi layanan
dalam model penggabungan perencanaan, pengadaan, dan

59

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

pembangunan (engineering, procurement and construction) serta

model penggabungan perencanaan dan pembangunan (design and


build).
2) Pasal 1 angka 5, Nilai Kontrak Jasa Konstruksi adalah nilai yang
tercantum dalam satu kontrak jasa konstruksi secara keseluruhan.
3) Pasal 5 ayat (2), Besarnya, Pajak Penghasilan yang dipotong atau
disetor sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
- jumlah pembayaran, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai,
dikalikan tarif Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam
-

Pasal 3 ayat (1); atau


jumlah penerimaan pembayaran, tidak termasuk Pajak
Pertambahan Nilai, dikalikan tarif Pajak Penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dalam hal Pajak Penghasilan

disetor sendiri oleh Penyedia Jasa.


4) Pasal 5 ayat (3), Jumlah pembayaran atau jumlah penerimaan
pembayaran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan
bagian dari Nilai Kontrak Jasa Konstruksi.
5) Sesuai dengan butir 1 s.d. 4, dapat disimpulkan bahwa pekerjaan
konstruksi terintegrasi tersebut merupakan Jasa Pelaksana Konstruksi
yang Dasar Pengenaan Pajaknya adalah Nilai Kontrak Jasa Konstruksi
sebagai Jasa Pelaksana Konstruksi.
Contoh:
Nilai Kontrak Jasa Konstruksi terdiri atas:
Engineering
: Rp
11 M (termasuk PPN)
Procurement : Rp
22 M (termasuk PPN)
Construction : Rp 990 M (termasuk PPN)
Total
: Rp1.023 M (termasuk PPN)
DPP
: Rp 930 M
b. Dasar Pengenaan Pajak (DPP) untuk PPN Jasa Konstruksi
1) Surat Direktur Jenderal Pajak nomor S-815/PJ.53/2005 tanggal 5
September 2005 tentang Perlakuan PPN atas Engineering
Procurement and Construction (EPC) Contract (Turnkey Project).
Kesimpulan:
a) Atas penyerahan jasa konstruksi yang dilakukan oleh PT. CBA
(Penyedia Jasa Konstruksi) kepada BUT ABC sebagai KKKS
(Pengguna Jasa Konstruksi) dikenakan Pajak Pertambahan Nilai
dengan Dasar Pengenaan Pajak sebesar penggantian yang
diminta atau seharusnya diminta oleh PT. CBA sebagai pemberi
jasa konstruksi. Besarnya Dasar Pengenaan Pajak atas jasa
konstruksi adalah sebesar penggantian yaitu nilai berupa uang

60

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

termasuk semua biaya yang diminta oleh pemberi jasa

konstruksi.
b) Apabila dalam kontrak tersebut terdapat biaya-biaya yang
dokumennya (Faktur Pajak, Invoice dan lain-lain) langsung atas
nama BUT ABC maka biaya-biaya tersebut tidak termasuk bagian
dari Dasar Pengenaan Pajak.
c) Atas impor peralatan, sepanjang peralatan yang diimpor tersebut
atas nama dan Pajak Pertambahan Nilainya merupakan kewajiban
dari BUT ABC maka Dasar Pengenaan Pajak atas penyerahan jasa
konstruksi adalah sebesar nilai kontrak dikurangi dengan nilai
impor peralatan yang dokumen impornya atas nama BUT ABC.
2) Surat Direktur Jenderal Pajak nomor S-1945/PJ.531/1998 tanggal 2
September 1998 tentang PPN atas EPC Contract (Turnkey Project).
Kesimpulan:
Memperhatikan hal-hal tersebut diatas, dengan ini diberikan
penegasan bahwa atas kontrak No. CCB-0061 tanggal 22 April 1997
antara PT XYZ dengan Atlantic Richfield Bali North Inc. dengan nilai
kontrak sebesar US$ 23,627,852.00 (dua puluh tiga juta enam ratus
dua puluh tujuh ribu delapan ratus lima puluh dua Dolar Amerika
Serikat), apabila di dalamnya mengandung barang impor yang
diimpor atas nama Atlantic Ricfield Bali North Inc., maka Dasar
Pengenaan Pajak dalam Faktur Pajak yang diajukan oleh PT. XYZ
kepada Atlantic Richfield Bali North Inc. adalah nilai kontrak dikurangi
dengan nilai impor yang PIB-nya sudah atas nama Atlantic Richfield
Bali North Inc.
2. Bentuk Usaha Tetap yang mendapatkan tarif Jasa Pelaksana Konstruksi
sebesar 3% adalah wajib memiliki Sertifikasi Badan Usaha (SBU) dengan
Kualifikasi Usaha Besar Jasa Pelaksana Konstruksi dari Lembaga
Pengembangan Jasa Konstruksi dan Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi dari
Menteri Pekerjaan Umum. Apabila Bentuk Usaha Tetap tidak memiliki
Sertifikasi Badan Usaha (SBU), maka tarifnya menjadi 4%.
3. Kewajiban Perpajakan Badan bagi Bentuk Usaha Tetap atas kegiatan Jasa
Konstruksi adalah Pajak Penghasilan Pasal 26 ayat (4) Undang-undang Pajak
Penghasilan.
4. Wajib Pajak yang melaksanakan Jasa Konstruksi Penunjang Bidang Minyak
dan Gas Bumi wajib memiliki Surat Keterangan Terdaftar dari Direktur Teknik
dan Lingkungan Minyak dan Gas Bumi.

61

Kesimpulan

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Prinsip dasar aspek perpajakan kegiatan usaha jasa konstruksi sebagai


kegiatan jasa penunjang minyak dan gas bumi adalah sama dengan kegiatan
usaha jasa konstruksi pada umumnya yaitu, Pajak Penghasilan yang bersifat
final. Mekanisme pelunasan Pajak Penghasilan yang bersifat final tersebut
melalui pemotongan dan pembayaran sendiri. Penyampaiannya dapat berbentuk
SPT manual maupun SPT dalam bentuk elektronik (e-SPT).
Kegiatan usaha jasa konstruksi sebagai kegiatan jasa penunjang minyak
dan gas bumi yang diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral Nomor 27 Tahun 2008 mengamanatkan bahwa pelaksanaan usaha jasa
konstruksi dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
jasa konstruksi.
Ketentuan kualifikasi usaha pada Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun
2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008
tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha Jasa Konstruksi
mengamanatkan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi yang mengeluarkan
sertifikasi sesuai dengan Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi
Nomor 02 Tahun 2011 dan Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi
Nomor 03 Tahun 2011.
Pemberian izin usaha jasa konstruksi nasional dan perwakilan badan usaha
jasa konstruksi asing berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor
04/PRT/M/2011 dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 05/PRT/M/2011.
Kegiatan usaha jasa konstruksi sebagai kegiatan jasa penunjang minyak dan gas
bumi diwajibkan mempunyai Surat Keterangan Terdaftar dari Direktorat Teknik
dan Lingkungan Minyak dan Gas Bumi, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi,
Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral berdasarkan Keputusan Direktur
Jenderal Minyak Dan Gas Bumi Nomor 15784.K/10/Djm.S/2010 Tahun 2010
Pedoman Pemberian Surat Keterangan Terdaftar.
ASPEK PERPAJAKAN DALAM LAPORAN KEUANGAN: MEDCO ENERGI
PT Medco Energi Internasional Tbk atau biasa dikenal dengan Medco
Energi adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang eksploitasi dan
pengeboran minyak dan gas pertama di Indonesia. Perusahaan ini merupakan
salah satu unit bisnis dari Medco Group yang membawahi bidang energi. Medco
Group sendiri merupakan perusahaan yang menaungi beberapa unit usaha
yakni bidang agribisnis, konstruksi, keuangan serta energi lewat PT Medco
Energi Internasional Tbk.

62

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Didirikan pada 9 Juni 1980 oleh pengusaha muda bernama Arifin Panigoro,
perusahaan pun aktif menggeluti bidang industri minyak dan gas. Eksplorasi
serta produksi minyak dan gas mulai dilakukan ketika perusahaan mengakuisisi
Blok Tesoro yang berbasis di Kalimantan Timur pada tahun 1992. Tiga tahun
berikutnya perusahaan juga mengakuisisi 100% saham PT Stanvac Indonesia
dari Exxon dan Mobil Oil.
Saat ini, kepemilikan saham dimiliki oleh Encore Energy sebesar 50,7%,
dimana Encore Energy dikendalikan oleh keluarga Panigoro. Sedangkan sisanya
sebesar 49,3% dimiliki oleh publik.
Gambar Struktur Kepemilikan Saham Medco Energi

Medco Energi beroperasi di berbagai wilayah Indonesia, sebagaimana


terlihat dalam gambar berikut:

Laporan Keuangan Medco Energi 2014


Laporan Keuangan Medco Energi tahun 2014 telah diaudit oleh Kantor
Akuntan Publik Purwantono, Suherman dan Surja (afiliasi dengan Ernst &
Young/EY), dan telah dinyatakan disajikan secara wajar.

63

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Laporan Posisi Keuangan (Konsolidasian)


(disajikan dalam US Dollar)

64

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Laporan Laba Rugi Komprehensif (Konsolidasi)


(disajikan dalam US Dollar)

65

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Laporan Arus Kas (Konsolidasi)


(disajikan dalam US Dollar)

66

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

67

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Aspek Perpajakan
Pajak dibayar di muka
ASET
ASET LANCAR
Pajak dibayar dimuka

2s, 9

10.608.117

11.413.219

2s, 34

31.071.315

42.600.507

Keterangan dalam CaLK:

Aset Pajak Tangguhan Neto


ASET
ASET TIDAK LANCAR
Aset Pajak Tangguhan - Neto

Keterangan dalam CaLK:

68

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Utang Pajak
LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PENDEK
Utang Pajak

2s, 21

23.904.636

23.348.897

2s, 34

112.887.298

99.150.300

Keterangan dalam CaLK:

Liabilitas Pajak Tangguhan


LIABILITAS
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas Pajak Tangguhan - Neto

Keterangan dalam CaLK:

69

REFERENSI

ASPEK PERPAJAKAN PERUSAHAAN MIGAS

Ditjen Migas. 2014. Statistik Minyak dan Gas Bumi 2013. Jakarta: Direktorat
Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral.
IAI. 1994. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 29 Akuntansi
Minyak dan Gas Bumi. Jakarta: Pengurus Pusat Ikatan Akuntansi Indonesia.
Kementerian ESDM. 2011. Buku Peluang Investasi Sektor ESDM. Jakarta:
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
KPP Migas. 2012. Buku Panduan Kantor Pelayanan Minyak dan Gas Bumi. Jakarta:
KPP Minyak dan Gas Bumi.
Medco Energi. 2015. Laporan Keuangan Konsolidasian Tanggal 31 Desember
2014 dan Untuk Tahun yang Berakhir Pada Tanggal Tersebut Beserta
Laporan Auditor Independen. Jakarta: PT Medco Energi Internasional Tbk.
Medco Energi. 2015. Laporan Tahunan 2014. Jakarta: PT Medco Energi
Internasional Tbk.
Pemerintah RI. 2015. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2014 (Audited).
Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Pusdatin ESDM. 2014. Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia.
Jakarta: Ministry of Energy and Mineral Resources.
PWC. 2014. Oil and Gas in Indonesia: Investment and Taxation Guide 6 th Edition
May 2014. Jakarta: PT Pricewaterhouse Coopers Consulting Indonesia.
SKK Migas. 2013. Mengenal Kontrak Hulu Migas Indonesia. Jakarta: Satuan Kerja
Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi.
Shobah, S., Widhiyanti, H.N., Audrey, P. 2015. Cost Recovery Dalam Kontrak
Kerjasama Minyak Dan Gas Bumi Di Indonesia Ditinjau Dari Hukum
Kontrak Internasional. Jurnal Hukum UB. Malang: Fakultas Hukum
Universitas Brawijaya Malang.

70