Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Laatar Belakang


Ilmu tilik ternak merupakan usaha seleksi maupun kontes, mutlak diperlukan
pelaksanaan pengukuran dengan cara, cara tempat, peralatan yang tepat dengan pelaksana
yang professional yaitu yang telah memiliki pengetahuan tentang bagian tubuh
ternak,mengetahui batasan dan standart ideal, melakukan penilaian dan pemilihan dengan
baik ,ketat ,jujur dan sungguh-sungguh.
Pada dasarnya penilaian dilakukan dengan dua sistem ialah secara visual (subyektif)
disini amat diperlukan bakat dan seni dari masing-masing penilai atau juri, bakat disertai
dengan pengalaman akan dapt menghasilkan nilai yang mendekati keadaan yang sebenarnya.
Dalam tahap penilaian ini ternak harus dinilai dari samping ,belakang,depan,saat berjalan dan
perabaan dimana nilainya masing-masing dalam kartu nilai (score card ) yang telah ditetapan.
Sistem kedua adalah penilaian secara obyektif yaitu nilai statistic vital antara lain dengan
pengukuran linier antara lain berat badan, umur,lingkaran,panjang,lebar dan tinggi masingmasing ternak tersebut
1.2 Tujuan
Tujuan dalam praktikum ini adalah untuk mengetahui ukuran-ukuran dimensi tubuh
yang terkait dalam produktifitas ternak potong sapi bali.
1.3 Manfaat
Dengan mengetahui ukuran-ukuran tubuh pada ternak kita dapat mengidentifikasi
bobot badan pada ternak tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Cara Mendekati dan Menggiring Ternak Serta Pemakain Dalam Kandang Jepit
Sebelum kita melakukan tilik terhadap ternak, maka sewajarnya kita harus
mengetahui bagaimana cara mendeketai dan menggiring ternak dengan baik dan benar dan
kemudian kita menggiring ternak itu sampai ke kandang jepit. Dan bagaimana perlakuan
sesudah kita mendeketai ternak dan menggiring sampai ke kandang jepit.
Berikut adalah cara mendekati dan menggiring ternak dengan baik dan benar. Dan
memerlakukan kandang jepit dengan baik dan tepat :
Cara Mendekati Ternak :
a. Datangi ternak dari arah depan
b. Sikap tidak boleh ragu-ragu, namun tetap waspada
c. Diberikan isyrat (tanda), tepukan tangan, siulan dengan maksud agar ternak
menoleh kearah kita.
d. Mendekat dengan membawa bahan makanan
e. Bersama-sama dengan pemilik
Cara Menggiring Ternak :
A. .Buka ikatan tali pengikat hidung (untuk sapi yang sudah ditelusuk, handling lebih
mudah)
B. Tarik tali pengikat hidung sapi dan arahkan ke kandang jepit (sapi akan otomatis
mengikuti dan masuk kekandang jepit)
C. Ikat tali pengikat hidung sapi di bagian depan (pagar depan) dari kandang jepit
Perlakuan Pada Kandang Jepit :
a. Setelah sapi masuk ke kandang jepit segera ikat tali pengikat hidung sapi pada
pagar depan dari kandang jepit
b. Tutup pintu/pagar belakang dari kandang jepit agar posisi sapi diam/tidak bisa
mundur
c. Perhatikan posisi keempat kaki sapi agar simetris sebelum melakukan pengukuran
dan pengamatan
2.2. Cara Menduga Umur dari Gigi Seri
2

a. Tali pengikat hidung ditarik ke atas, sgsr mulut agak terangkat. Tariklah bibbir
bagian bawah kebawah sehingga gigi seri nya tampak.
b. Dapat juga minta bantuan pada pemilik ternak untuk membuka mutul
ternaknya dan mahasiswa segera memperhatikan jumlah gigi serinya.
1. Gigi susu umur 1 tahun
2. I1 umur 1,5 2 tahun
3. I2 umur 2 3 tahun
4. I3 umur 3 3,5 tahun
5. I4 umur 4 tahun
2.3. Menduga Umur Pada Cincin Tanduk
Menduga umur pada cincin tanduk yakni dengan menggunakan rumus :
UI = 1/3 (4N + 5)
UI = Umur Induk
N =Jumlah cincin tanduk
2.4. Penghitungan Berat Badan Ternak dengan Rumus
Kemampuan produksi sapi potong dapat digambarkan dari pertumbuhannya.
Pertambahan bobot badan sebagai refleksi pertumbuhan dapat diketahui dengan menimbang
berat badan. Mengetahui bobot badan ternak merupakan suatu hal yang sangat penting antara
lain untuk menduga produksi daging dan persentase karkas yang dihasilkan, harga jual,
pemilihan bibit, kebutuhan pakan dan pemberian dosis obat yang tepat.
Cara yang paling akurat untuk mengetahui bobot badan ternak dapat dilakukan
dengan menimbang ternak secara langsung, namun dalam praktek penimbangan ternak besar
seperti sapi memerlukan kerja ekstra dan alat timbangan ternak yang cukup mahal dan relatif
sulit terutama di daerah pedesaan dengan keadaan topografi yang sulit dijangkau dengan alat
transportasi.
Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut perlu dicari cara lain yang lebih murah
dan praktis yaitu dengan pendugaan bobot badan ternak melalui pendekatan terhadap
hubungan antara satu atau lebih ukuran bagian tubuh ternak dengan bobot badannya dan
pendugaan bobot karkas berdasarkan bobot hidup ternak. (Trimeldus Tulak Tonbesi et al.)
Rumus yang dapat digunakan sebagai alternative dalam mengukur berat badan ternak
adalah :
a. Djagra ( 1987)

Y=

b. Denmark
Y=
c. School
Y=
d. Jhonson
Y=

2.5. Pengukuran Dimensi Tubuh Tenak


Pengukuran ukuran tubuh ternak sapi selain dipergunakan untuk menduga bobot
badan seekor ternak sapi , juga digunakan sebagai parameter teknis penentuan sapi bibit dan
menentukan umur sapi tersebut.
Berdasarkan ketentuan kontes dan pameran ternak nasional, yang termasuk dalam
statistik vital pada ternak sapi meliputi ukuran tinggi gumba, panjang badan, lingkar dada,
lebar dada, dalam dada, lebar punggung, lebar pinggul, panjang pinggul, panjang kepala,
lebar kepala, berat badan, dan umur.
Ukuran statistik vital dari organ tertentu jika dikaitkan dengan umur akan
menggambarkan keharmonisan perkembangan tubuh dan produktivitas (pertumbuhan).
Karena itu, pertumbuhan organ-organ tertentu berkorelasi dengan berat badan.
Pengukuran dimensi dimaksudkan pelaksanaan dengan mengukur dimensi tubuh luar
ternak atau ukuran statistic meliputi :
Ukuran Tinggi :
A. Tinggi Pundak, tinggi gumba ialah jarak tegak lurus dari titik tertinggi pundak
sampai ketanah atau lantai, alat yang digunakan adalah tongkat ukur.
B. Tinggi punggung ialah jarak tegak lurus dari taju duri ruas tulang punggung
atau processus spinosus vertebrae thoracaleyang terakhir sampai ke tanah .
Titik ini mudah didapat dengan menarik garis tegak lurus tepat diatas pangkal
tulang rusuk terakhir.
4

C. Tinggi pinggang

ialahjarak tegak lurus dari titik antara tulang lumbar

vertebrae 3-4, tepat melalui legok lapar sampai ke tanah ( lantai ).


D. Tinggi pinggul ialah jarak tegak lurus dari titik tertinggi pada os sacrum
pertama sampai ke tanah.
E. Tinggi kemudi, jarak tegak lurus dari os sacrum ( sacrale ), tepat melalui
tengah- tengah tulang ilium sampai ke tanah.
F. Tinggi pangkal ekor ialah jarak tegak lurus dari titik pangkal ekor, sampai ke
tanah.
G. Alat yang dipakai untuk mengukur tinggi bagian- bagian tubuh diatas adalah
tongkat ukur.
Ukuran Panjang :
A. Panjang kepala jarak dari puncak kepala sampai ujung moncong.
B. Panjang badan ; diukur secara lurus dengan tongkat ukur dari siku ( humerus )
sampai benjolan tulang tapis ( tuber ischii ).
C. Panjang menyilang badan, jarak yang diukur antara tulang benjolan bahu
sampai tulang duduk disisi lainnya. Diukur dengan memakai pita ukur.
D. Panjang kemudi; panjang kelangkang; panjang pelvis, jarak antara tuber coxae
dan tuber ischii pada sisi sama.
E. Panjang telinga, jarak antara ujung telinga sampai pangkal telinga bagian
dalam. Dapat diukur dengan penggaris atau pita ukur.
F. Panjnag tanduk, diukur dengan pita ukur. Jarak antara ujung tanduk sampai
kedasar tanduk.
G. Selain yang telah disebutkan alat- alatnya, dapat juga digunakan tongkat ukur,
jangka sorong atau caliper.
Ukuran Lebar :
A. Lebar dada, jarak terbesar pada yang diukur tepat dibelakang antara kedua
benjolan siku luar, yaitu tepat pada tempat mengukur lingkar dada.
B. Lebar pinggang, jarak diukur antara taju horizontal yaitu pada tulang lumbale
3-4.
C. Lebar pinggul, jarak antara tuber coxae pada sisi kiri dan kanan.Panjang
kemudi; panjang kelangkang; panjang pelvis, jarak antara tuber coxae dan
tuber ischii pada sisi sama.
D. Lebar kemudi, jarak terlebar antara sisi luar kiri dan kanan tulnag pelbis atau
os illium melalui os sacrum 3-4.
E. Lebar pantat, lebar tulang tapis atau lebar tulang duduk, jarak antara kedua
benjolan tuber ischii kiri dan kanan.

F. Lebar kepala, jarak terbesar antara kedua lengkungan tulang mata sebelah atas
luar kiri dan kanan.
Ukuran Dalam :
Dalam dada. Jarak titik tertinggi pundak ( gumba ) sampai tulang dada dan
diukur melalui serta merta dibelakang siku.

Ukuran Lingkar :
A. Lingkar perut . lingkaran yang diukur di daerah perut.yang memliki lingkaran
besar, melalui serta merta di belakang tulang rusuk terakhir dan tegak lurus
dengan sumbu tubuh.
B. Lingkar perut . lingkaran yang diukur di daerah perut.yang memliki lingkaran
besar, melalui serta merta di belakang tulang rusuk terakhir dan tegak lurus
dengan sumbu tubuh.
C. Lingkar flank. Lingkaran yang diukur di daerah flank, melalui tuber coxae
serta merta depan ambing atau skrotum..
D. Lingkar pantat, lingkar round. Lingkaran yang diukur pada pantat, dari tulang
patella kiri sampai tulang patella kanan, kearah belakang serta membentuk
penampang sejajar dengan lantai.Lebar pantat, lebar tulang tapis atau lebar
tulang duduk, jarak antara kedua benjolan tuber ischii kiri dan kanan.
E. Lingkar tulang pipa. Lingkaran yang diukur ditengah- tengah tulang pipa,
yaitu pada bagian yang terkecil dan terbulat.
F. Lingkar skrotum. Lingkaran yang diukur pada bagian terbesar skrotum;
terlebih dulu skrotum telah ditarik kearah bawah sehingga terdapat kedua
testesnya.
G. Lingkar tubuh.
H. Lingkar mulut, lingkar moncong. Lingkaran yang diukur tepat pada akhir
sudut bibir, ialah pada batas antara kepala dan moncong.
2.6. Sistem Penilaian
6

2.2.1 Cara Visual (Subyektif)


Suksesnya sistem ini amat ditentukan oleh bakat dan seni para juri. Bakat disertai
dengan pengalaman akan dapat menghasilkan nilai yang mendekati keadaan yang sebenarnya
atau dengan kata lain akan terjadi penyimpangan yang amat kecil atau bahkan tidak ada.
Bagian yang dinilai pada sistem ini antara lain : keadaan atau penampilan umum, bentuk
tubuh, ciri-ciri khas ternak, kapasitas tubuh, keadaan alat-alat reproduksi, keadaan ambing
serta sikap berjalan.

2.2.2 Cara Pengukuran (Obyektif)


Sistem ini didasarkan dengan pengukuran ststistik vital ialah ukuran-ukuran tubuh
luar atau ukuran linier. Dimensi yang diukur antara lain : panjang lebar, tinggi dalam dan
lingkaran misalnya panjang badan (cm), lebar dada (cm), tinggi gumba (cm), dalam dada
(cm) dan lingkar dada (cm) dan bila perlu ditambah dengan berat badan (kg) dan umur
(tahun).
2.2.3 Kartu Nilai Skor (NS)
Untuk penilaian visual ini perlu dipersiapkan kartu untuk masing-masing ternak (sapi)
yang akan dinilai, dimana dalam kartu telah dipersiapkan : jenis ternak, nomor ternak, namanama bagian tubuh, nilai maksimal, nilai bobot, nilai yang diperoleh dan nilai akhir.
Ada tiga jenis kartu tergantung tujuannya antara lain :
1. kartu untuk pejantan,
2. kartu untuk induk dan
3. kartu untuk bakalan atau hasil penggemukan
Pada kartu (1) dan (2) bagian tubuh yang paling ditekankan adalah bagian-bagian
yang berkaitkan dengan produksi dan reproduksi, sedangkan pada kartu (3) adalah bagian
produksi termasuk nilai karkasnya.

BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 25 Novemeber 2015 pulul 09.00 s/d selesai
di farm fakultas peternakan universitas udayana.
B. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis menulis sedangkan bahan
dalam praktikum ini adalah 2 ekor sapi bali betina yang berada di farm fakultas peternakan
universitas udayana.
C. Cara Kerja
Mengamati ternak sapi bali betina berdasarkan panjang badan, tinggi gumba, tinggi
punggung/ kemudi, tinggi pinggul, lingkar dada, dalam dada, serta lebar dada pada ternak
tersebut dan kemudian menghitung berat badan pada sapi bali menggunakan rumus djagra
(1987).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Praktikum
4.1.1. Menduga Umur Dari Gigi Seri
Dalam praktikum kali ini gigi seri pada ternak sapi berupa i3 yaitu 33,5 tahun atau lebih.
4.1.2. Menduga Umur Dari Cincin Tanduk
Sesuai dengan pengelihatan dalam menghitung cincin tanduk, tanduk
pada sapi 1 ada 3 cincin tanduk dan sapi 2 ada 3 cincin tanduk. Berarti sapi 1
dan 2 sudah pernah melahirkan sebanyak 3 kali. Dengan rumus : UI = 1/3 (4N
+ 5)
- Sapi 1 = UI

- Sapi 2 = UI

= 1/3 (4N + 5)
= 1/3 (4.3 + 5)
= 1/3 (17)
= 5,6
= 1/3 (4N + 5)
= 1/3 (4.3 + 5)
= 1/3 (17)
= 5,6

4.1.3. Pengukuran Dimensi Tubuh Ternak Sapi Bali


Keterangan : sapi yang di hitung merupakan sapi 1 saja

Ukuran Tinggi Sapi

a. Tinggi pundak (Tinggi gumba) : 113 cm


b. Tinggi pinggul : 114 cm
Ukuran Panjang Sapi
a. Panjang kepala : 42 cm
b. Panjang badan : 121 cm
Ukuran Lebar Sapi
a. Lebar Pinggul : 36 cm
b. Lebar Kepala : 15 cm
Ukuran Dalam Sapi
a. Dalam dada : 57 cm
Ukuran Lingkar Sapi
a. Lingkar dada : 148 cm
4.1.4 Pengukuran Minggu praktikum K-3
Maksud dari pengukuran ini adalah mengukur ulang dan memastikaan
kembali apakah pengukuran bobot sapi pada praktikum ke-2 dan ke-3 memiliki
ukuran yang sama, dan setelah di lakukan pengukuran kembali, di dapat hasil sebagai
berikut :

Pengukuran sapi betina 1


Lingkar dada = 145 cm
Tinggi Gumba = 114 cm
Panjang Badan = 109 cm
Panjang Badan satandar 2 = 124

Pengukuran sapi betina 2


Lingkar Dada = 147
Tinggi Gumba = 112
Panjang badan = 108
Panjang badan standar 2 = 123 cm

10

4.1.5. Menduga Berat Badan Badan Ternak (Sapi Bali)


1. Sapi 1 lingkar dada 145, panjang badan 109 dan tinggi gumba 114
a. Djagra ( 1987 )
Y=
Y=
b. Denmark
Y=
c. School
Y=
d. Jhonson (1940)
Y=
Y=
2. Sapi 2 lingkar dada 147, panjang badan 98 dan tinggi gumba 112
a. Djagra ( 1987 )
Y=
Y=
b. Denmark
Y=
c. School
Y=
d. Jhonson (1940)
Y=
Y=

11

4.1.3. Penjurian Menggunakan Kartu Skor


Ada dua ekor ternak Sapi Bali Betina yang digunakan dalam praktikum, lakukan
simiulasi penilaian dengan menggunkan kartu skor di bawah ini dan menurut anda
ternak yang mana yang menang dalam penjurian atau penilaian ini.
Sapi No I
No.

Bagian Tubuh

Nilai
Maks

Nilai
Bobot

Nilai
Diperoleh

Nilai
Akhir

1.

Kepala dan leher

10

2.

Warna kulit atau bulu

10

3.

Paha dan kaki

10

10

4.

Tanda-tanda
ambing

10

5.

Kapasitas tubuh

10

6.

Pertumbuhan
keharmonisan tubuh

10

dan

besar

dan

Jumlah

46

Sapi No II
No.

Bagian Tubuh

Nilai
Maks

Nilai
Bobot

Nilai
Diperoleh

Nilai
Akhir

1.

Kepala dan leher

10

2.

Warna kulit atau bulu

10

3.

Paha dan kaki

10

10

4.

Tanda-tanda
ambing

10

10

5.

Kapasitas tubuh

10

6.

Pertumbuhan
keharmonisan tubuh

10

10

dan

besar

dan

12

Jumlah

52

1) Konversi Dimensi Tubuh


Diketahui :
No.

Sapi I

Sapi II

Rata-rata

1. Lingkar dada

145

147

146

2. Tinggi Gumba

114

112

113

3. Panjang Badan

94

98

96

4. Berat badan, kg

178,85

191,64

185,24

Sapi No I
(1) Konversi nilai lingkar dada

(2) Konversi nilai tinggi gumba

(3) Konversi nilai panjang badan

(4) Konversi nilai berat badan (kg)

13

Sapi No II
(1) Konversi niali lingkar dada

(2) Konversi nilai tinggi gumba

(3) Konversi nilai panjang badan

(4) Konversi nilai berat badan

Tabel. Hasil Perhitungan Konversi Sapi I dan Sapi II


Variable yang Diukur

Sapi I

Sapi II

46

52

a. Lingkar dada

98,63

101,37

b. Tinggi gumba

101,78

98,24

c. Panjang badan

95,91

104,25

NS visual
Dimensi Tubuh

14

d. Berat badan (kg)

93,32

107,15

TOTAL

435,64

463,01

4.2 Pembahasan
Tilik ternak digunakan salah satunya untuk mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan tubuh dan untuk menentukan pekiraan bobot (berat) badan suatu ternak
tersebut. dalam hal ini tilik ternak pada sapi dilakukan dengan cara mengukur bagian
bagian tertentu pada tubuh sapi tersebut.
Dalam pengukuran, disarankan berdiri dengan jarak 2 meter dari sapi yang akan
diukur. Selanjutnya, memulai pengukuran dari depan kemudian mengitari sisi sebelah kiri
dan kanan mengelilingi seluruh tubuh hewan. Pengukuran ternak sapi yang kami lakukan
adalah pada anatomi tertentu saja seperti panjang badan, panjang kepala, tinggi gumba, tinggi
punggung, tinggi pinggul, tinggi pinggang, tinggi kemudi, lebar dada, lebar pinggang, lebar
pinggul, lingkar dada, lingkar perut, lingkar canon, dan dalam dada. Pada perhitungan
selanjutnya dilakukan pendugaan umur sapi dengan perhitungan jumlah gigi seri dan cincin
tanduk serta di lanjutkan dengan perhitungan bobot badan sapi dengan menggunakan rumus
Djagra (1987).
Dalam pengambilan data praktikum, di gunakan sapi bali betina. Pada pendugaan
umur kedua sapi tersebut, mengalami ketidak cocokan antara menggunakan metode jumlah
gigi seri serta metode cincin tanduk. Pada cincin tanduk di dapatkan berkisar umur 5 tahun 6
bulan, sedangkan pada metode gigi seri di dapatkan umur berkisar 2 tahun 5 bulan hingga 3
tahun atau lebih. Namun menurut para ahli serta artikel artikel yang mendukung, cara
pendugaan dengan metode gigi seri lebih akurat daripada metode cincin tanduk.
Adapun di kemukakan metode cincin tanduk kurang akurat daripada mtode gigi seri,
karenacara pendugaan ini didasarkan dari pengaruh pakan atau musim. Pada musim hujan
pakan akan melimpah sehingga sapi mendapatkan pakan dalam jumlah yang cukup dan
bergizi, dengan demikian pertumbuhan tanduknya akan berlangsung optimal, sedangkan pada
musim kemarau sapi akan mendapatkan pakan dengan jumlah yang sedikit dan kurang
bergizi, sehingga pertumbuhan tanduk juga akan terhambat yang ditandai dengan

15

mengecilnya diameter tanduk. Pengecilan diameter tanduk ini akan membentuk cincin pada
tanduk, dengan demikian tiap tahun akan terbentuk satu cincin pada tanduk.
Adanya cincin pada tanduk juga bisa di indikasikan dengan kebuntingan. Sapi betina
yg sedang bunting akan membutuhkan zat pakan yang lebih tinggi, sementara pada saat
kemarau kebutuhan nutrisi yang tinggi tersebut tidak sepenuhnya bisa diperoleh. Untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi bagi janinnya, induk sapi akan membongkar cadangan lemak
dan protein tubuh, padahal protein tersebut juga dipergunakan untuk pertumbuhan tanduk,
sehingga pertumbuhan tanduk akan terhambat sehingga terbentuklah "cincin" pada tanduk.
Pada perhitungan bobot badan dilakukan 2 pengukuran panjang badan untuk
perbandingan yang mana yang mendekati bobot asli. Pengukuran panjang tubuh yang
pertama di ukur dari scapula hingga ischium pengukuran kedua dari scapula hingga tulang
duduk (pangkal ischium) di dapatkan hasil yang cukup mencolok perbedaanya. Sapi 1 dengan
pengukuran pertama di dapatkan hasil 178,85 kg dan dengan perhitungan kedua di dapatkan
hasil 207,39 kg sedangkan Sapi 2 dengan perhitungan pertama didapatkan hasil 191,64 dan
perhitungan yang kedua mendapatkan hasil 220,97 kg. Pada pengukuran bobot asli
( ditimbang) sapi 1 memiliki bobot

235,5 kg sapi 2 memilili bobot

259 kg. Dengan

demikian maka penghitungan berat badan secara manual dengan menggunakan timbangan
memiliki selisih , ini bisa disebabkan karna timbangan yang di gunakan adalah timbangan
yang di design untuk sapi berpostur tubuh besar.
Penilaian ternak pada kartu skor maka sapi 1 mendapatkan score 435,64 dan sapi 2
mendapatkan score 463,01. Maka dari hasil penilaian tersebut jika di adakan kontes yang
menjadi pemenang adalah sapi ke 2 yang memperoleh hasil score lebih besar dari sapi 1.

16

BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
` Ilmu tilik ternak adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk tubuh bagian luar
ternak untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan ternak sesuai dengan umur.
Dengan ilmu tilik ini juga dapat memperkirakan bobot badan ternak sapi. Dalam ilmu tilik
ternak ini juga mempelajari cara pengukuran badan ternak tersebut yang meliputi ukuran
tinggi tubuh ternak, ukuran panjang tubuh ternak, ukuran lebar tubuh ternak, ukuran dalam
tubuh ternak dan ukuran lingkar tubuh ternak.
Dalam ilmu tilik ternak ini juga di ajarkan bagaimana pemilihan ternak yang
berkualitas. termasuk faktor faktor yang mempengaruhinya. Banyak faktor yang
mempengaruhi tumbuh kembang ternak. Faktor factor tersebut antara lain genetic, umur,
pakan, lingkungan, umun dan jenis kelamin serta manajemen pemeliharaan . Perbedaan hasil
yang didapat pada dari kedua sapi betina ini lebih disebabkan oleh perbedaan umur dari
kedua ternak tersebut di mana secara kebetulan dikarenakan kedua ternak sapi ini bergenetik
sama yaitu yang satu indukannya yang satu anakannya. Sedangkan faktor yang lain mungkin
tidak begitu terlihat di karenakan kedau ternak tersbut sama - sama hidup di satu lingkungan
yang sama dan manajemen pemeliharaan baik dari segi pakan, iklim, perkandangan yang
sama, yang berbeda hanya faktor umurnya saja.Pada hasil akhir dari penilaian skor, di
dapatkan hasil yaitu Sapi 2 di nyatakan sebagai yang terbaik dengan nilai skor 463,01
sedangkan Sapi 1 mendapatkan skor 435,64.
5.2. Saran
Dalam ilmu tilik ternak teori memang mudah, tapi sulit di praktikan, maka dari itu
mahasiswa harus sering belajar dari memperaktikan teori tersebut dalam arti terjun ke
lapangan. Agar mahasiswa mempunyai pengalaman dan skill yang sesuai dengan ilmu teori
tersebut. Pada kenyataan praktiknya tak semudah teorinya.

17

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2010. Penilaian Eksterior Tubuh.. From http://webcache.googleusercontent.


wordpress.com/2008/01/10/penilaian-eksterior-tubuh

ternak/TILIK+TERNAK&

&gl=id, 5 desember 2015


Anonimous.

2010. Tilik

Ternak. From

http://dodee88.wordpress.com/2008/10/14/tilik-

ternak/, 4 desember 2015


Djagra, I.B. 2009. Diktat Ilmu Tilik Sapi Potong. Fakultas Peternakan Universitas Udayana,
Denpasar. 5 desember 2015
Nguntoronadi, (2010). Tilik Ternak. From http://dodee88.wordpress.com/2008/10/14/tilikternak/, 4 desember 2015
Kartasudjana Ruhyat. 2001. Teknik Produksi Ternak Ruminansia. Jakarta: Modul Program
Keahlian Budaya Ternak.
Anonimous. 2010. Tilik Ternak. http://dodee88.wordpress.com/2008/10/14/tilik-ternak/. 24
desember 2014
Buku Panduan Praktikum Tilik Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana.

18