Anda di halaman 1dari 18

Anatomi dan Fisiologi

SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

Oleh :
D IV Keperawatan Tingkat 1
Kelompok 3

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Ni Ketut Ayu Pratiwi Catur W.


Ni Luh Suci Novi Ariani
I Gede Suyadnya Putra
Putu Jana Yanti Putri
Ni Nyoman Diah Vitri P.
Ayu Putu Eka Tusniati
I Gusti Ayu Ari Dewi

( P07120214019 )
( P07120214021 )
( P07120214023 )
( P07120214028 )
( P07120214029 )
( P07120214032 )
( P07120214037 )

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
TAHUN PELAJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang
Hyang Widhi Wasa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Anatomi
Fisiologi untuk proses pembelajaran di Politeknik Kesehatan Denpasar yaitu
Sistem Reproduksi Manusia tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah ini berkat bantuan dan motivasi berbagai pihak.
Untuk itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada
rekan-rekan yang telah membantu dalam penelitian dan pengumpulan data.
Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan karena
keterbatasan kemampuan penulis. Untuk itu kami mengharapkan saran dan
kritik yang bersifat konstruktif sehingga kami dapat menyempurnakan
makalah ini.
Om Santih, Santih, Santih, Om

Denpasar, 30 September 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar 1
Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penulisan

D. Manfaat Penulisan

E. Metode Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Kebutuhan Nutrisi untuk Lansia


6
Tujuan Pemberian Nutrisi untuk Lansia
6
Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Keadaan Nutrisi 6
Kebutuhan Energi dan Zat Nutrisi pada Usia Lansia 6
Perhitungan BB Ideal 6
Perhitungan Kebutuhan Energi untuk Lansia 6

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan
B. Saran
6

DAFTAR PUSTAKA 6

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sistem
interaksi organ dan

reproduksi adalah
zat

suatu

rangkaian

dan

dalam organisme yang

dipergunakan

untuk

berkembang biak. Sistem reproduksi pada suatu organisme berbeda


antara jantan dan betina.
Pada umumnya reproduksi baru dapat berlangsung setelah
manusia tersebut mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini
diatur oleh kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam
tubuh manusia. Reproduksi juga merupakan bagian dari proses tubuh yang
bertanggung jawab terhadap kelangsungan suatu generasi (Intan, 2009).
Untuk kehidupan makhluk hidup reproduksi tidak bersifat vital
artinya tanpa adanya proses reproduksi makhluk hidup tidak mati. Akan
tetapi bila makhluk tidup tidak dapat bereproduksi maka kelangsungan
generasi makhluk hidup tersebut terancam dan punah, karena tidak dapat
dihasilkan keturunan (anak) yang merupakan sarana untuk melanjutkan
generasi (Intan, 2009).
Pengetahuan tentang system reproduksi bukan hanya terbatas
pada fungsi kerja organ tersebut seperti umum ditketahui melainkan
anatomi, bagian-bagian, dan nama-nama organ reproduksi adalah hal
utama yang perlu dipelajari, karena apabila kita sudah mengetahui
anatomi, bagian-bagian, dan nama-nama organ reproduksi tersebut maka
akan dengan mudah mempelajari fisiologinya lebih lanjut. Maka, kami
selaku kelompok tiga akan membahas mengenai anatomi fisiologi system
reproduksi manusia.
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan Penulisan
1.4. Manfaat Penulisan
Mahasiswa dan pembaca memperoleh tambahan pengetahuan yang
lengkap mengenai system reproduksi secara keseluruhan baik secara
anatomi dan fisiologi.
1.5. Metode Penulisan

Kami menggunakan dua metode penulisan yaitu dengan studi pustaka dan
penelusuran IT. Pada metode studi pustaka, kami membaca dan
menganalisis beberapa literature kemudian kami menggunakan refrensi
tersebut pada tulisan ini. Selanjutnya pada metode penelusuran IT, kami
mencari tambahan refrensi pada dunia rambah internet untuk melengkapi
data-data yang telah kami peroleh pada literature.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Sistem Reproduksi Manusia


Sistem reproduksi adalah suatu rangkaian dan interaksi organ dan zat
dalam organisme yang dipergunakan untuk berkembang biak. Sistem
reproduksi pada suatu organisme berbeda antara jantan dan betina.
Traktus urinarius berkembang menjadi traktus genitalis yaitu apa
yang disebut sebagai organ reproduksi. Sel-sel produksi mengalami
perkembangan di sebelah depan ginjal yang kemudian akan menjadi
kelenjar reproduksi. Organ reproduksi laki-laki maupun wanita sudah ada
sejak lahir namun sifat-sifatnya baru akan berubah ketika berumur 10-14
tahun.
2.2. Anatomi Sistem Reproduksi Manusia
A. Anatomi Sistem Reproduksi Pria

Gambar 2.1. Gambar organ reproduksi pria (tampak samping).

Gambar 2.2. Gambar organ reproduksi pria (tampak depan).


Alat reproduksi pria dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian luar
dan bagian dalam. Secara lebih jelas, berikut pembagian organ
reproduksi pada pria :
1. Organ Eksterna
a. Penis

Gambar 2.3. Gambar penis pria.


Penis (dari bahasa latin yang artinya ekor, akar katanya
sama

dengan phallus,

yang

berarti

sama)

adalah alat

kelamin jantan.

Penis

merupakan organ eksternal,

karena

berada di luar ruang tubuh. Pada manusia, penis terdiri atas tiga
bangunan silinder berisi jaringan spons. Dua rongga yang
terletak

di

bagian

atas

berupa

jaringan

spons korpus

kavernosa. Satu rongga lagi berada di bagian bawah yang


berupa jaringan spons korpus spongiosum yang membungkus
uretra. Ujung penis disebut dengan glan penis. Uretra pada
penis dikelilingi oleh jaringan erektil yang rongga-rongganya
banyak mengandung pembuluh darah dan ujung-ujung saraf
perasa. Bila ada suatu rangsangan, rongga tersebut akan terisi
penuh oleh darah sehingga penis menjadi tegang dan
mengembang (ereksi).
b. Scrotum

Gambar 2.4. Gambar skrotum.


Skrotum adalah kantong yang membungkus dari testis,
epididimis, dan ujung bawah funiculus spermatikus. Scrotum
dibentuk oleh cutis scroti pada bagian luar. Bagian tengah dari
scrotum akan membentuk lipatan-lipatan yang disebut raphe
scroti (rugae scroti).
Skrotum terdiri dari kulit dan otot yang membungkus testis
atau buah zakar. Skrotum terletak di antara penis dan anus serta

di depan perineum. Pada wanita, bagian ini serupa dengan labia


mayora. Skrotum berjumlah sepasang, yaitu skrotum kanan dan
skrotum kiri. Di antara skrotum kanan dan skrotum kiri dibatasi
oleh sekat yang berupa jaringan ikat dan otot polos (otot
dartos). Otot dartos berfungsi untuk menggerakan skrotum
sehingga dapat mengerut dan mengendur. Di dalam skrotum
juga tedapat serat-serat otot yang berasal dari penerusan otot
lurik dinding perut yang disebut otot kremaster. Pada skrotum
manusia dan beberapa mamalia bisa terdapat rambut pubis.
Rambut pubis mulai tumbuh sejak masa pubertas.
2. Organ Interna
a. Testis
Testis adalah organ lunak, berbentuk oval (seperti telur),
banyaknya dua buah menghasilkan sel sperma dengan panjang
4 cm sampai 5 cm (1,5 inci sampai 2 inci) dan berdiameter 2,5
cm (1 inci). Testis merupakan kelenjar kelamin jantan pada
hewan dan manusia. Testis berjumlah sepasang (testes =
jamak). Testis dibungkus oleh skrotum (kantong kulit di bawah
perut ) tepatnya menggantung pada urat-urat spermatik di
dalam skortum. Kelenjar yang ukurannya sebesar telur ayam
ini tersimpan di dalam skrotum masing-masing di tunika
albugenia testis. Pada manusia, testis terletak di luar tubuh,
dihubungkan dengan tubulus spermatikus dan terletak di dalam
skrotum.

Ini

sesuai

dengan

fakta

bahwa

proses

spermatogenesis pada mamalia akan lebih efisien dengan suhu


lebih rendah darisuhu tubuh (< 37C).

Gambar 2.5. Gambar testis


1) Turnika albuginca adalah kapsul jaringan ikat yang
membungkus testis dan merentang ke arah dalam untuk
membaginya menjadi sekitar 250 lobulus.
2) Tubulus seminiferus adalah tempat berlangsungnya
spermatogenesis, terlilit dalam lobulus. epitelium
germinal khusus yang melapisi tubulus seminiferus
mengandung sel-sel batang (spermatogonia) yang
kemudian menjadi sperma : sel-sel Sertoli yang
menompang dan memberi nutrisi sperma yang sedang
berkembang dan sel-sel interstisial (leydig), yang
memiliki fungsi endokrin.
Pada tubulus spermatikus terdapat otot kremaster yang
apabila berkontraksi akan mengangkat testis mendekat ke
tubuh. Bila suhu testis akan diturunkan, otot kremaster akan
berelaksasi dan testis akan menjauhi tubuh. Fenomena ini
dikenal dengan refleks kremaster.
Selama masa pubertas, testis berkembang untuk memulai
spermatogenesis. Ukuran testis bergantung pada produksi
sperma (banyaknya spermatogenesis), cairan intersisial, dan
produksi cairan dari sel Sertoli.
Pada umumnya, kedua testis tidak sama besar. Dapat saja
salah satu terletak lebih rendah dari yang lainnya. Hal ini

diakibatkan perbedaan struktur anatomis pembuluh darah pada


testis kiri dan kanan.
b. Saluran Reproduksi
Saluran pengeluaran pada organ reproduksi dalam pria
terdiri dari epididimis, vas deferens, saluran ejakulasi dan
uretra.
1) Epididimis (tempat pematangan sperma)
Epididimis merupakan saluran berkelok-kelok di
dalam skrotum yang keluar dari testis. Epididimis
berjumlah sepasang di sebelah kanan dan kiri. Epididimis
berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara sperma
sampai sperma menjadi matang dan bergerak menuju vas
deferens
2) Vas deferens (saluran sperma dari testis ke kantong
sperma)
Vas deferens atau saluran sperma (duktus deferens)
merupakan saluran lurus yang mengarah ke atas dan
merupakan lanjutan dari epididimis. Vas deferens tidak
menempel pada testis dan ujung salurannya terdapat di
dalam kelenjar prostat. Vas deferens berfungsi sebagai
saluran tempat jalannya sperma dari epididimis menuju
kantung semen atau kantung mani (vesikula seminalis).
3) Saluran ejakulasi
Saluran ejakulasi merupakan saluran pendek yang
menghubungkan kantung semen dengan uretra. Saluran ini
berfungsi untuk mengeluarkan sperma agar masuk ke
dalam uretra
4) Uretra
Uretra merupakan saluran akhir reproduksi yang
terdapat di dalam penis. Uretra berfungsi sebagai saluran
kelamin yang berasal dari kantung semen dan saluran untuk
membuang urin dari kantung kemih.
c. Kelenjar Kelamin
Kumpulan kelenjar aksesoris terdiri dari vesikula seminalis,
prostate, dan kelenjar bulbouretralis. Sebelum ejakulasi,

kelenjar

tersebut

mensekresikan

mukus

bening

yang

menetralkan setiap urine asam yang masih tersisa dalam uretra.


Sel-sel sperma dapat bergerak dan mungkin aktif
mengadakan metabolisme setelah mengadakan kontak dengan
plasma semen. Plasma semen mempunyai dua fungsi utama
yaitu : berfungsi sebagai media pelarut dan sebagai pengaktif
bagi sperma yang mula-mula tidak dapat bergerak serta
melengkapi sel-sel dengan substrat yang kaya akan elektrolit
(natrium dan kalium klorida), nitrogen, asam sitrat, fruktosa,
asam askorbat, inositol, fosfatase sera ergonin, dan sedikit
vitamin-vitamin serta enzim-enzim. Kelenjar aksesoris terdiri
dari :
1) Vesikula seminalis (tempat penampungan sperma)
Vesikula seminalis atau kantung semen (kantung
mani) merupakan kelenjar berlekuk-lekuk yang terletak di
belakang kantung kemih. Dinding vesikula seminalis
menghasilkan zat makanan yang merupakan sumber
makanan bagi sperma.
Vesikula seminalis menyumbangkan sekitar 60 %
total volume semen. Cairan tersebut mengandung mukus,
gula fruktosa (yang menyediakan sebagian besar energi
yang digunakan oleh sperma), enzim pengkoagulasi, asam
askorbat, dan prostaglandin.

Gambar 2.6. Vesikula seminalis


2) Kelenjar prostat (penghasil cairan basa untuk melindungi
sperma).
Kelenjar prostat melingkari bagian atas uretra dan
terletak di bagian bawah kantung kemih. Kelenjar prostat

adalah kelenjar pensekresi terbesar. Cairan prostat bersifat


encer dan seperti susu, mengandung enzim antikoagulan,
sitrat (nutrient bagi sperma), sedikit asam, kolesterol, garam
dan fosfolipid yang berperan untuk kelangsungan hidup
sperma.

Gambar 2.7. Kelenjar prostat


3) Kelenjar bulbouretra / cowper (penghasil lendir untuk
melumasi saluran sperma)
Kelenjar bulbouretralis adalah sepasang kelenjar
kecil yang terletak disepanjang uretra, dibawah prostat.
Kelenjar Cowper (kelenjar bulbouretra) merupakan kelenjar
yang salurannya langsung menuju uretra. Kelenjar Cowper
menghasilkan getah yang bersifat alkali (basa).

B. Anatomi Sistem Reproduksi Wanita

C.
D. Gambar 2.8. Anatomi organ reproduksi wanita (tampak depan).

E.
F. Gambar 2.9. Anatomi organ reproduksi wanita (tampak samping dan
tampak bawah).
Organ pelvis terletak dibawah, berhubungan dengan rongga
abdomen, dibentuk oleh os iski dan os pubis pada sisi samping dan
depan. Os sacrum dan os koksigis membentuk batas belakang dan
pinggiran pelvis dibentuk oleh promontorium sacrum dibelakang
iliopektinal sebelah sisi samping dan depan dari tulang sacrum.
Pintu keluar pelvis ( pintu bawah )dibatasi oleh os koksigis
dibelakang sismpisis pubis, di depan lengkung os pubis, os iski, serta
ligamentum yang berjalan dari os iski dan os sacrum disetiap sis, pintu
keluar ini membentuk dasar pelvis. Dasar pelvis dibentuk oleh dua

berkas otot m. levator ani dan m. koksigis yang bekerja sebagai


diagfragma pelvis.
Perineum merupakan bagian terendah dari badan, berupa sebuah
garis yang menyambung kedua tuberositas iski, daerah depan segitiga
kongigenital dan bagian belakang segitiga anal. Titik tengahnya
disebut badan perineum terdiri dari otot fibrus yang kuat disebelah
depan anus.
Didalam rongga pelvis terdapat kandung kemih dan dua buah
ureter yang terletak dibelakang simpisis, kolon sigmoid sebelah kiri
fosa iliaka, dan rectum terletak disebelah belakang limfe, serabut saraf
fleksusu lumbosakralis untuk anggota gerak bawah, cabang pembuluh
darah arteri iliaka internal dan vena iliaka internal melengkapi rongga
pelvis. Genitalia pada wanita terpisah dari uretra yang mempunyai
saluran tersendiri.
2.3. Fisiologi Sistem Reproduksi Manusia
A. Fisiologi Sistem Reproduksi Pria
1. Fungsi alat-alat Reproduksi Pria
2. Spermatogenesis
3. Hormon pada Sistem Reproduksi Pria
B. Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita
1. Oogenesis
2. Hormon pada Sistem Reproduksi Wanita
3. Pubertas
4. Ovulasi
5. Menstruasi
a. Pengertian Menstruasi
b. Gejala Menstruasi
c. Siklus Menstruasi
d. Menopause
6. Siklus Ovarium
7. Fertilisasi
a. Pengertian Fertilisasi
b. Macam-macam Fertilisasi
c. Proses Fertilisasi
(sampai kehamilan)
- Genetika (persilangan kromosom XX atau XY)
- Hal-hal yang terjadi saat kehamilan
- Trimester 1
- Trimester 2
- Trimester 3
d. Fenomena Bayi Kembar

1) Kembar Monozigotik
2) Kembar Dizigotik
8. Proses Melahirkan
2.4. Patologi Sistem Reproduksi Manusia
A. Patologi Sistem Reproduksi Pria
B. Patologi Sistem Reproduksi Wanita

BAB III
PENUTUP
3.1.
3.2.

Kesimpulan
Saran

DAFTAR PUSTAKA
http://intanriani.wordpress.com/organ-reproduksi-jantan/ (Diakses : Selasa, 30
September 2014. Pukul 15.43 WITA).
http://anfisdeny.blogspot.com/p/anatomi-sistem-reproduksi-pria.html (Diakses :
Selasa, 30 September 2014. Pukul 15.50 WITA).
Drs. H. Syaifuddin, AMK. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa
Keperawatan Edisi 3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Sylvia A. Price. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 6.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC).