Anda di halaman 1dari 19

STEP I.

Terminologi Sulit
a.
b.
c.
d.

Anatomi
: Ilmu yang mempelajari struktur tubuh
Rhinorehea
: Discharge bebas berupa cairan dari hidung
Menyumbat jalan nafas : terhalangnya jalan keluar masuknya udara
Bersin : Tindakan reflect untuk mengeluarkan benda asing yang tidak dapat di saring oleh

rambut hidung.
e. Rongga hidung : Ruangan di dalam hidung yang berfungsi sebagai tempat keluar masuknya
udara

STEP II Identifikasi masalah

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Mengapa ingus cair mengenang di rongga hidung Andy?


Mengapa Andy merasa lega saat bersin?
Mengapa penciuman Andy bias berkurang karena adanya ingus mengenang ?
Mengapa hidung Andy tersumbat dan menggangu saluran nafas?
Mengapa dengan beristirahat keadaan Andy bias lebih baik?
Mengapa Andy tak nyaman dengan kondisi yang dia alami dan apa yang menyebabkan hal

tersebut?
7. Mengapa pada saat pagi Andy merasa sangat terganggu?
8. Bagaimana terjadinya bersin?
9. Bagaimana mekanisme pernafasan normal?
STEP III Analisa Masalah
1. Anatomi markos atas
: Hidung,farynx,larynx
Anatomi macros bawah
: Trakea, Bronkus, Bronkiolus, Alveolus,paru-paru
Anatomi Mikros
: Epitel bertingkat Thoraks,sel goblet
2. LO
3. Penciuman dapat berkurang karena ingus mengenang, disebabkan oleh (dipelajari lagi)
4. Hidung tersumbat, karena :
a. Partikel asing
b. Pembekakan, infeksi (pertahanan)
c. Peradangan yang disebabkan karena alergi ( suhu, cuaca,debu,dll)
d. Syaraf (dipelajari kembali)
5. a. Mengembalikan kondisi tubuh
b. Meningkatkan pertahanan tubuh
6. Hidung Andy tersumbat dan menggangu saluran nafas tersumbat karena genangan dihidung
pembekakan dan peradangan.
7. Pagi hari merasa :
- Faktor cuaca (dingin,panas),suhu lingkungan, kelembapan
- Menumpuknya ingus didalam hidung

8. Mekanisme Bersin : (LO)

STEP IV SKEMA

SISTEM PERNAFASAN ATAS

AnaTomY
Menyebabkan : Hidung
BERSIN dan Tersumbat dan
Pembengkakan
Penciuman
MAKROS
GanggUan
MIKROS
NorMAL
BATUK
& Alergi
BerkuRAng
Mikroorganisme
Partikel
Cuaca
DeBu
Mekanisme
MeKanis
Pernafasan PrOdUK
SisteM
: rHINORRHEA
Imun

STEP 5
Learning Objective
1. Mengetahui dan menjelaskan anatomi micros dan macros atas beserta penjelasannya pada
2.
3.
4.
5.

saluran pernafasan atas


Mengetahui dan menjelaskan mekanisme pernafasan normal pada manusia
Mengetahui dan menjelaskan mekanisme penciuman
Mengetahui dan menjelaskan mekanisme pertahanan mekanis
Mengetahui dan menjelaskan mekanisme pertahanan ( imunitas )

STEP 6
Belajar mandiri
Pada step 6 ini kami melakukan proses belajar mandiri untuk mengetahui lebih lanjut materi
yang sedang kami bahas. Adapun pedoman belajar mandiri kami adalah mencari informasi
mengenai jawaban-jawaban terhadap learning objectif atau sasaran pembelajaran yang telah
kami rumuskan bersama-sama. Hasil dari belajar mandiri tersebut disampaikan pada diskusi
kelompok kecil II (DKK II) pada hari Kamis, 29 Oktober 2008

STEP 7
SINTESIS MASALAH
1.

Anatomi macros dan micros atas pada Saluran Pernafasan Atas

a. Makros Atas
( Hidung, Faring dan Laring)
Hidung
Hidung terdiri dari bagian luar / pyramid hidung dan rongga hidung
dengan pendarahan serta persyarafan serta fisiologi hidung.
Hidung bagian kuar berbentuk pyramid , bagian-bagiannya dari atas ke bawah :
1. Pangkal hidung (bridge)
2. Dorsum nasi
3. Puncak hidung
4. Ala nasi
5. Kolumela
6. Lubang hidung ( nares anterior)
Hidung bagian luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang
dilapisi oleh kulit, jaringan ikat dan otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan
dan menyempitkan lubang hidung
Rongga hidung/kavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang,
dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya sehingga menjadi kaum nasi
dextra dan kavum nasi sinistra. Pintu atau lubang masuk kavum nasi bagian depan
disebut nares anterior, sedangakan bagian belakangnya disebut dengan nares
posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.
Bagian dari kavum nasi yang letaknya sesuai dengan ala nasi tepat berada di
belakang nares anterior disebut dengan vestibulum. Vestibulum ini dilapisi oleh
kulit yang memiliki banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut panjang yang
disebut dengan vibrise.

Tiap kavum nasi mempunyai 4 buah dindng yaitu dinding medial, lateral,
inferior dan superior
Dinding Medial Hidung -----Septum Nasi
(Dibentuk oleh Tulang dan T. rawan)
Septum yang membungkus tulang = periostium
Septum yang membungkus tulang rawan = Perikardum
Lapisan diluarnya = Mukosa Hidung
B

gi gi
a

Penyusun Hidung Luar


Kerangka Tulang
Kerangka Tulang Rawan
1. Tulang Hidung (os nasalis)
1. Sepasang kartilago nasalis
2. Prosesus frontalis os maksila
lateralis superior
3. Prosesus nasalis os frontal
2. Sepasang kartilago nasalis

ul ul
a

g
R
a
w
a
n
1. 1.
L

2. 2.
V K
3.
K
4.
K
Dinding Lateral Hidung -----Ager NAsi

lateralis inferior
3. Beberapa psg. Kartilago ala minor
4. Tepi anterior kartilago septum

Pada bagian belakang terdiri dari konka-konka . Konka-konka ini mengisi


sebagian besar lateral hidung
Diantara konka-konka dan dinding lateral ada rongga yang sempit disebut dengan
meatus
Meatus terbagi tiga yaitu
1. Meatus Inferior
2. Meatus Medius
3. Meatus Superior
Konka Inferior

Melekat pada os maksila dan labirin

etmoid
Konka Media
Merupakan bagian dari labrin etmoid
Konka Superior
Konka Suprema
Dinding InFerior Hidung ----- Dasar rongga hidung
Dibentuk oleh os maksila dan os palatum
Dinding Superior / Atap hidung sangat sempit .
Dibentuk oleh LAmina Kribiformus yang memisahkan rongga tengkorak dari
rongga Hidung

Faring ---

Berfungsi sebagai saluran bersama untuk proses menelan dan


bernafas serta reflex batuk

Terbagi menjadi 3 yaitu


1. Nesopharynx : terdapat torus tubarius dan tonsilla tubarius
2. Oropharynx : terdapat plika glossoepiglotica medial, lateral vallecule
epiglotica, tonsilla pharinx
3. Laringopharynx : Terdapat aditus laringis, resccessus piriforms.
Laring ---

Organ yang menghubungkan bagian bawah faring denga trakea

Fungsinya yaitu
1. Sebagai katup yang menjaga saluran udara terutama selama proses menelan
makanan
2. Menjaga agar saluran udara tetap tersedia da terbuka
3. Menghasilkan suara
Mm extrinsic larynx
a. Depressor
b. Levator

Mm Intrisik larynx
a. Adductor
b. Abductor

Anatomi Mikros Atas :


1. Hidung :
bangunan berongga terbagi 2 oleh septum nasi.
Fungsi : Organ Pernapasan atas dan organ Pembau
2. Cavum Nasi
Dipisahkan septum nasi, dinding terdiri dari jaringan ikat fibrous, tulang rawan dan otot
bergaris.
Cavum nasi terdiri dari Vestibulum nasi ( Reg. Vestibularis) dengan ciri ciri :
a.

Rongga terlebar

b.

Epitel berlapis pipih bertanduk dan Vibrissae

c.

Kelenjar keringat dan lemak.

Bagian Respiratorik :
Regio respiratoria meliputi mukosa respiratoria :
a. Epitel berderet silindris, kinosila sel goblet.
b. Permukaan tipis, tidak ada

Sel penyangga, bentuknya silindris tinggi, basis sempit apex lebar,intinya


ovoid. Terdapat mikrovili dan makros warna kuning coklat.

Sel basal terletak dibagian basal, diantara sel-sel penyangga. Inti kecil, ovoid
dan gelap.fungsinya untuk menggantikan sel penyangga.

Sel pembau, berbentuk spindel,inti bulat,bipoler dan terdapat vesikula


olfaktoria.

c. Tidak terdapat vila olfaktoria


d. Lamina basialis jelas
Epitel Resfirasi terdiri dari 5 jenis sel yaitu :
1. Sel silindris bersilia, memiliki kurang lebih 300 silia pada permukaan
apikal, badan basal, dan banyak mitokondria kecil yang menyediakan ATP
untuk pergerakan silia.
2. Sel Goblet Mukosa
Mengandung droplet mukus yang terdiri atas glikoprotein.
3. Sel Sikat (brush cells), mempunyai ujung saraf aperen pada permukaan
basalnya dan dipandang sebagi reseptor sensorik.
4. Sel Basal (pendek)
Sel bulat kecil terletak diatas lamina basal tapi tidak meluas sampai
permukaan limen epitel.
5. Sel Granul Kecil, granul berdiameter 100-300 nm.

Regio Olfaktoria meliputi mukosa olfaktoria


a. Epitel berderet silindris tebal
b. Tidak ada sel goblet
Sel goblet berfungsi untuk menghasilkan mukus yang juga dapat melembabkan udara.
c. Terdapat sel pembau, sel penyangga, sel basal
d. Lamina basialis tidak jelas
Anatomi Mikros
Mukosa hidung bibagi menjadi 2 :

5. mukosa pernapasan (mukosa respiratori)


mukosa pernapasan terdapat pada rongga hidung, permukaannya dilapisi
oleh epitel silindris bertingkat dan terdapat sel goblet. Sel goblet berfungsi
untuk menghasilkan mukus.epitel ini memiliki silia yang burfungsi
mendorong sekret kearah nasofaring. Dengan demikian mukosa
mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk
mengeluarkan benda asing yang masuk kedalam rongga hidung. Dibawah
epitel terdapat tunika propria yang banyak mengandung pembuluh darah,
kalenjar mukosa dan jaringan limfoid.
Ateriol terdapat pada bagian yang lebih dalam dari tunika proparia dan
tersusun secara paralel dan longitudinal.
Sinusiod berfungsi untuk mengalirkan darah ke pleksus vena yang lebih
dalam laluke venula.
Mukosa hidung dapat mengembang dan mengkerut.
Pharynx

Nasopharynx, oropharynx,laringopharynx.

Terdiri dari Epitel Berderet silindris + kinosilia dan sel goblet


Lamina propria mengandung kelenjar + serabut elastis (banyak)

Tunika Submukosa t.palatina


T. Pharyngica, T.Lingualis,T.Tijbaria

Larynx

Organ pembentuk suara

Kerangka tulang hyalin(besar)

Kerangka tulang elastis (kecil)

Plika ventrikularis ( falls vocal cord)

Epitel berderet silindris

Tidak memiliki Muskulus vokalis

Memiliki Kelenjar

Plika Vocalis (true vocal cord)

Epitel berlapis pipih

Memiliki Muskulus vokalis

Tidak memiliki Kelenjar

3. Mekanisme Pertahanan Mekanis :

A. Penyaringan

Proses penyaringan dilaksanakan pada hidung . Penyaringan berfungsi untuk membersihkan


udara inspirasi dari berbagai partikel asing , debu , dan bakteri. Proses penyaringan ini
dilaksanakan oleh :

1. Rambut Hidung
Rambut-Rambut padda pintu masuk lubang hidung sangat penting untuk
menyaring partikel-partikel besar . Ukuran partikel yang dapat disaring oleh rambut hidung
adalah partikel berukuran >6 mikrometer . Sehingga hamper tidak ada partikel dengan
ukuran yang lebih besar dari 6 mikrometer yang dapat masuk ke paru-paru melalui hidung .

2. Silia
Silia terdapat pada seluruh permukaan saluran pernafasan. Silia dapat menyaring
partikel yang ukurannya lebih kecil daripada 6 mikrometer. Selain menyaring, gerakan silia
yang mirip cambuk menyebabkan lapisan mukus bergerak dengan cepat kira-kira 1 cm/
menit menuju faring. Dengan cara ini , saluran nafas akan dibersihkan secara terus-menerus
dari mukus dan pertikel yang ada dalam mukus.

3. Mukus
Mukus juga sangat membantu dalam proses penyaringan . Mukus dapat menjerat
partikel-partikel yang tidak dapat disaring oleh rambut hidung dan silia seperti : partikel debu
dan partikel asap rokok yang ukurannya sekitar 0,3 mikrometer.

B. Bersin
Refleks bersin berlangsung pada saluran hidung. Refleks Bersin dipicu oleh iritasi
pada dinding nasal cavity akibat partikel yang dianggap toksik, iritan kimia, atau stimulasi
mekanik. Impuls aferen berjalan dalam Nervus kelima menuju medulla, tempat refleks ini
dicetuskan. Terjadi serangkaian reaksi sebagai berikut : pertama, sekitar 2,5 L udara
diinspirasi secara cepat. Kedua, epiglotis dan pita suara menutup erat-erat untuk menjerat
udara dalam paru. Ketiga, Otot perut dan otot internal interkostal berkontraksi mendadak,
menciptakan tekanan dalam paru meningkat secara cepat. Ketika epiglotis dan pita suara
terbuka tiba-tiba terbuka dan uvula ditekan , sehingga sejumlah besar udara dalam paru
keluar dengan cepat melalui hidung. Udara yang keluar dari laring berkecepatan 160 km/jam
membawa mukus, partikel asing, dan gas iritan keluar dari saluran pernapasan.
5. Mekanisme Pertahanan Imun
Sistem imun adalah serangkaian molekul, sel dan organ yang bekerja sama dalam
mempertahankan tubuh dari serangan luar yang dapat mengakibatkan penyakit, seperti
bakteri,jamur dan virus. Kesehatan tubuh bergantung pada kemampuan sistem imun untuk
mengenali dan menghancurkankan serangan ini.
Komponen Sistem Imun
Komponen utama adalah sel darah putih. Sistem kekebalan tubuh berkaitan dengan sel
darah putih atau leukosit. Berdasarkan adanya bintik-bintik atau granular, Leukosit terbagi atas :

Granular, memiliki bintik-bintik. Leukosit granular yaitu Basofil, Acidofil/Eosinofil dan


Neutrofil.

Agranular, tidak memiliki bintik-bintik . Leukosit Agranular yaitu Monosit dan Limfosit.

Selain itu, makrofag, yang biasanya berasal dari monosit. Makrofag ditemukan di semua organ
dan jaringan ikat yang diberi nama khusus sesuai tempat, seperti pada paru, yaitu alveoli
makrofag. Makrofag bersifat fagositosis, menghancurkan sel lain dengan cara memakannya.
Kemudian, pada semua limfosit dewasa, permukaannya tertempel reseptor antigen yang hanya
dapat mengenali satu antigen. Saat antigen memasuki memasuki sel tubuh, molekul tertentu
mengikatkan diri pada antigen dan memunculkannya di hadapan limfosit. Molekul ini dibuat
oleh gen yang disebut Major Histocompability Complex (MHC) dan dikenal sebagai molekul
MHC. MHC 1 menghadirkan antigen di hadapan Limfosit T pembunuh dan MHC II
menghadirkan antigen ke hadapan Limfosit T Pembantu.
Limfosit berperan utama dalam respon imun diperantarai sel. Limfosit terbagi atas 2 jenis yaitu
Limfosit B dan Limfosit T. Berikut adalah perbedaan antara Limfosit T dan Limfosit B.
Limfosit B
Limfosit T
Dibuat di sumsum tulang yaitu sel batang Dibuat di sumsum tulang dari sel batang yang
yang sifatnya pluripotensi(pluripotent stem pluripotensi(pluripotent
cells)

dan

dimatangkan

di

stem

cells)

dan

sumsum dimatangkan di Timus

tulang(Bone Marrow)
Berperan dalam imunitas humoral
Berperan dalam imunitas selular
Menyerang antigen yang ada di cairan antar Menyerang antigen yang berada di dalam sel
sel
Terdapat 3 jenis sel Limfosit B yaitu :
Limfosit B plasma, memproduksi
antibodi

Terdapat 3 jenis Limfosit T yaitu:


Limfosit T pempantu (Helper T cells),
berfungsi mengantur sistem imun dan
mengontrol kualitas sistem imun

Limfosit B pembelah, menghasilkan


Limfosit B dalam jumlah banyak dan
cepat

Limfosit T pembunuh(Killer T cells) atau


Limfosit T Sitotoksik, menyerang sel
tubuh yang terinfeksi oleh patogen

Limfosit
mengingat

memori,
antigen

masuk ke dalam tubuh

menyimpan
yang

pernah

Limfosit T surpressor (Surpressor T cells),


berfungsi

menurunkan

dan

menghentikan respon imun jika infeksi

berhasil diatasi

a. Proses Pertahanan Non Spesifik Tahap Pertama


Proses pertahanan tahap pertama ini bisa juga disebut kekebalan tubuh alami. Tubuh
memberikan perlawanan atau penghalang bagi masuknya patogen/antigen. Kulit menjadi
penghalan bagi masuknya patogen karena lapisan luar kulit mengandung keratin dan sedikit air
sehingga pertumbuhan mikroorganisme terhambat. Air mata memberikan perlawanan terhadap
senyawa asing dengan cara mencuci dan melarutkan mikroorganisme tersebut. Minyak yang
dihasilkan oleh Glandula Sebaceae mempunyai aksi antimikrobial. Mukus atau lendir digunakan
untuk memerangkap patogen yang masuk ke dalam hidung atau bronkus dan akan dikeluarkjan
oleh paru-paru. Rambut hidung juga memiliki pengaruh karenan bertugas menyaring udara dari
partikel-partikel berbahaya. Semua zat cair yang dihasilkan oleh tubuh (air mata, mukus, saliva)
mengandung enzimm yang disebut lisozim. Lisozim adalah enzim yang dapat meng-hidrolisis
membran dinding sel bakteri atau patogen lainnya sehingga sel kemudian pecah dan mati. Bila
patogen berhasil melewati pertahan tahap pertama, maka pertahanan kedia akan aktif.
b. Proses Pertahanan Non Spesifik Tahap Kedua
Inflamasi merupakan salah satu proses pertahanan non spesifik, dimana jika ada patogen
atau antigen yang masuk ke dalam tubuh dan menyerang suatu sel, maka sel yang rusak itu akan
melepaskan signal kimiawi yaitu histamin. Signal kimiawi berdampak pada dilatasi(pelebaran)
pembuluh darah dan akhirnya pecah. Sel darah putih jenis neutrofil,acidofil dan monosit keluar
dari pembuluh darah akibat gerak yang dipicu oleh senyawa kimia(kemokinesis dan kemotaksis).
Karena sifatnya fagosit,sel-sel darah putih ini akan langsung memakan sel-sel asing tersebut.
Peristiwa ini disebut fagositosis karena memakan benda padat, jika yang dimakan adalah benda
cair, maka disebut pinositosis. Makrofag atau monosit bekerja membunuh patogen dengan cara
menyelubungi patogen tersebut dengan pseudopodianya dan membunuh patogen dengan bantuan
lisosom. Pembunuh dengan bantuan lisosom bisa melalui 2 cara yaitu lisosom menghasilkan
senyawa racun bagi si patogen atau lisosom menghasilkan enzim lisosomal yang mencerna
bagian tubuh mikroba. Pada bagian tubuh tertentu terdapat makrofag yang tidak berpindahpindah ke bagian tubuh lain, antara lain : paru-paru(alveolar macrophage), hati(sel-sel Kupffer),
ginjal(sel-sel mesangial), otak(selsel microgial), jaringan penghubung(histiocyte) dan pada

nodus dan spleen. Acidofil/Eosinofil berperan dalam menghadapi parasit-parasit besar. Sel ini
akan menempatkan diri pada dinding luar parasit dan melepaskan enzim penghancur dari granulgranul sitoplasma yang dimiliki. Selain leukosit, protein antimikroba juga berperan dalam
menghancurkan patogen. Protein antimikroba yang paling penting dalam darah dan jaringan
adalah protein dari sistem komplemen yang berperan penting dalam proses pertahan non spesifik
dan spesifik serta interferon. Interferon dihasilkan oleh sel-sel yang terinfeksi oleh virus yang
berfungsi menghambat produksi virus pada sel-sel tetangga. Bila patogen berhasil melewati
seluruh pertahanan non spesifik, maka patogen tersebut akan segera berhadapan dengan
pertahanan spesifik yang diperantarai oleh limfosit.
c. Pertahanan Spesifik: Imunitas Diperantarai Antibodi
Untuk respon imun yang diperantarai antibodi, limfosit B berperan dalam proses ini,
dimana limfosit B akan melalui 2 proses yaitu respon imun primer dan respon imun sekunder.
Jika sel limfosit B bertemu dengan antigen dan cocok, maka limfosit B membelah secara mitosis
dan menghasilkan beberapa sel limfosit B. Semua Limfosit b segera melepaskan antibodi yang
mereka punya dan merangsang sel Mast untuk menghancurkan antigen atau sel yang sudah
terserang antigen untuk mengeluarkan histamin. 1 sel limfosit B dibiarkan tetap hidup untuk
menyimpan antibodi yang sama sebelum penyerang terjadi. Limfosit B yang tersisa ini disebut
limfosit B memori. Inilah proses respon imun primer. Jika suatu saat, antigen yang sama
menyerang kembali, Limfosit B dengan cepat menghasilkan lebih banyak sel Limfosit B
daripada sebelumnya. Semuanya melepaskan antibodi dan merangsang sel Mast mengeluarkan
histamin untuk membunuh antigen tersebut. Kemudian, 1 limfosit B dibiarkan hidup untuk
menyimpan antibodi yang ada dari sebelumnya. Hal ini menyebabkan kenapa respon imun
sekunder jauh lebih cepat daripada respon imun primer. Suatu saat, jika suatu individu lama tidak
terkena antigen yang sama dengan yang menyerang sebelumnya, maka bisa saja ia akan sakit
yang disebabkan oleh antigen yang sama karena limfosit B yang mengingat antigen tersebut
sudah mati. Limfosit B memori biasanya berumur panjang dan tidak memproduksi antibodi
kecuali dikenai antigen spesifik. Jika tidak ada antigen yang sama yang menyerang dalam waktu
yang sangat lama, maka Limfosit b bisa saja mati, dan individu yang seharusnya bisa resisten
terhadap antigen tersebut bisa sakit lagi jika antogen itu menyerang, maka seluruh proses respon
imun harus diulang dari awal.
d. Pertahanan Spesifik: Imnunitas Diperantarai Sel

Untuk respon imun yang diperantarai sel, Limfosit yang berperan penting adalah limfosit
T. Jika suatu saat ada patogen yang berhasil masuk dalam tubuh kemudian dimakan oleh suatu
sel yang tidak bersalah(biasanya neutrofil), maka patogen itu dicerna dan materialnya ditempel
pada permukaan sel yang tidak bersalah tersebut. Materi yang tertempel itu disebut antigen.
Respon imun akan dimulai jika kebetulan sel tidak bersalah ini bertemu dengan limfosit T yang
sedang berpatroli, yaitu sel tadi mengeluarkan interleukin 1 sehingga limfosit T terangsang untuk
mencocokkan antibodi dengan antigennya. Permukaan Limfosit T memiliki antibodi yang hanya
cocok pada salah satu antigen saja. Jadi, jika antibodi dan antigennya cocok, Limfosit T ini, yang
disebut Limfosit T pembantu mengetahui bahwa sel ini sudah terkena antigen dan mempunyai 2
pilihan untuk menghancurkan sel tersebut dengan patogennya. Pertama, Limfosit T pembantu
akan lepas dari sel yang diserang dan menghasilkan senyawa baru disebut interleukin 2, yang
berfungsi untuk mengaktifkan dan memanggil Limfosit T Sitotoksik. Kemudian, Limfosit T
Sitotoksik akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel yang terkena penyakit tersebut.
Kedua, Limfosit T pembantu bisa saja mengeluarkan senyawa bernama perforin untuk
membocorkan sel tersebut sehingga isinya keluar dan mati.

JENIS-JENIS ANTIBODI
Antibodi adalah protein berbentuk Y dan disebut Immunoglobulin(Ig), hanya dibuat oleh
Limfosit B. Antibodi berikatan dengan antigen pada akhir lengan huruf Y. Bentuk lengan ini akan
menentukkan beberapa macam IG yang ada, yaitu IgM, IgG, IgA,IgE dan IgD. Saat respon imun
humoral, IgM adalah antibodi yang pertama kali muncul. Jenis lainya akan muncul beberapa hari
kemudian. Limfosit B akan membuat Ig yang sesuai saat interleukin dikeluarkan untuk
mengaktifkan Limfosit T saat antigen menyerang.
Antibodi juga dpat menghentikan aktivitas antigen yang merusak dengan cara mengikatkan
antibodi pada antigen dan menjauhkan antigen tersebut dari sel yang ingin dirusak. Proses ini
dinamakan neuralisasi. Semua Ig mempunyai kemampuan ini. Antibodi juga mempersiapkan
antigen untuk dimakan oleh makrofag. Antobodi mengikatkan diri pada antigen sehingga
permukaannya menjadi lebih mudah menempel pada makrofag. Proses ini disebut opsonisasi.

IgM dan IgG memicu sistem komplemen, suatu kelompok protein yang mempunyai kemampuan
unutk memecah membran sel. IgMdan IgG bekerja paling maksimal dalam sistem sirkulasi,IgA
dapat keluar dari peredaran darah dan memasuki cairan tubuh lainnya. IgA berperan penting
untuk menghindarkan infeksi pada permukaan mukosa. IgA juga berperan dalam resistensi
terhadap banyak penyakit. IgA dapat ditemukan pada ASI dan membantu pertahanan tubuh
bayi.IgD merupakan antibodi yang muncul untuk dilibatkan dalam inisiasi respon imun. IgE
merupakan antibodi yang terlibat dalam reaksi alergi dan kemungkinan besar merespon infeksi
dari protozoa dan parasit.
Antibodi tidak menghancurkan antigen secara langsung, akan tetapi menetralkannya atau
menyebabkan antigen ini menjadi target bagi proses penghancutan oleh mekanisme opsonosasi,
aglutinasi,presipitasi

atau

fiksasi

komplemen.

Opsonisasi,

aglutinasi

dan

presipitasi

meningkatkan proses fagositosis dari komplek antigen-antibodi sementara fiksasi komplemen


memicu proses lisis dati protein komplemen pada bakteri atau virus.

Mekanisme Respirasi pada manusia :


Respirasi pada manusia dimulai dari ketika udara masuk melalui hidung, kemudian di hidung
udara mengalami beberapa proses:
1. Penyaringan udara oleh silia, mukus dan rambut hidung.
2. Penyesuaian suhu ( dihangatkan) oleh permukaan konka dan septum yang luas dengan total
area kira kira 160cm2. Biasanya suhu udara inspirasi meningkatsamapi 10F melebihi suhu
tubuh.
3. Udara dilembabkan sebelum meninggalkan hidung masuk ke saluran berikutnya. Hal ini
dilakukan agar udara menjadi lebih lembab dengan kejenuhan uap air 2-3% sebelum udara
mencapai trakea. Apabila udara kering, efek pengeringan di bawah dapat menimbulkan
kerusakan dan infeksi paru yang serius.
Di dalam hidung, udara dibelokkan oleh konka agar masuk ke dalam faring. Setelah itu udara
masuk meuju laring tracea broncus bronciolus alveoli

Proses Inspirasi
Terjadi saat adanya kontraksi otot diafragma sehingga diafragma mendatar , kontraksi otot
interkostalis eksternal juga mengakibatkan tulang rusuk terangkat sehingga ruang rongga dada
menjadi lebih besar dan memperkecil diameter antero-posterior rongga dada. Hal ini
menyebabkan tekanan udara didalam paru-paru menjadi lebih kecil daripada tekanan di atmosfer
sehingga udara diatmosfer masuk ke dalam paru-paru.

Proses Ekspirasi
Relaksasi otot diafragma menyebabkan diaframa melengkung keatas kearah paru-paru dan
relaksasi otot antartulang rusuk menyebabkan depresi rangka iga . kedua hal ini mengakibatkan
tekanan yang besar didalam rongga dada sehingga udara didalam paru-paru terdesak keluar.
4. Mekanisme Penciuman
Penciuman adalah indera yang paling aktif dimengerti. Keadaan ini disebabkan
sebagian lokasi membrane olfaktori yang tinggi pada hidung.
Membran Oklfaktorius
Membran Olfaktorius terletak di bagian superior setiap lubang hidung. Di setiap medial,
membrane terlipat ke bawah di atas permukaan septum dan di sebelah lateral terlipat di
atas turbinate superior dan bahkan di atas sebagian kecil dari permukaan atas turbinate
medial.
Sel sel reseptor untuk sensasi penciuman adalah sel olfaktoris, yang pada dasarnya
merupakan sel saraf bipolar yang berasal dari system saraf pusat.
Ransangan dari sel sel Olfaktoris
Rangsangan yang diperlukan untuk penciuman meliputi :
1. Substansi harus mudah menguap
2. Harus sekurang kurangnya sedikit larut dalam air sehingga dapat dilewatkan
melalui mucus ke sel-sel olfaktoris.

3. Harus larut dalam lemak.


Tanpa tergantung pada mekanisme dasar dalam ransangan sel sel olfaktoris, sudah
diketahui bahwa sel akan teransang hanya apabila udara melintas ke atas ke daerah
superior hidung. Oleh karena itu, bau akan terbentuk dalam siklus- siklus bersama
dengan inspirasi, yang menunjukkan bahwa reseptor olfaktoris memberi respon
terhadap substansi. Karena intensitas bau diperbesar oleh udara yang melintas melalui
bagian atas hidung, kepekaan dari bau sangat ditingkatkan dengan melalui teknik
penghirupan yang sudah kita kenal.
Mekanisme Penciuman secara umum :
Vesicula olfactoria (juluran sitoplasma ramping, ujung dendrite membulat) kemudian substansi
diterima oleh Olfactoria Hairs menuju ke Nerve Olfact di area cibrosa Os. Ethmoid yang akan
dilanjutkan ke Bulbus Olfactoria cerebrum.