Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakan
Permasalahan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara umum di
Indonesia masih terabaikan, hal ini ditunjukan dengan angka kecelakaan yang
masih tinggi (http://www.bps.go.id) dan tingkat kepedulian dunia usaha
terhadap keselamatan kerja yang masih rendah. Masalah umum mengenai K3
ini

juga

terjadi

pada

penyelenggaraan

proyek-proyek

(http://www.jamsostek.co.id/info/berita.php?id=188)
Di Indonesia secara historis peraturan keselamatan dan kesehatan kerja
telah ada sejak pemerintahan Hindia Belanda. Pada saat itu peraturan
keselamatan dan kesehatan kerja yang berlaku adalah Veiligheids Reglement.
Setelah kemerdekaan dan diberlakukannya Undang-Undang Dasar 1945, maka
beberapa peraturan termasuk peraturan keselamatan telah dicabut dan diganti.
Peraturan yang mengatur tentang keselamatan dan kesehatan kerja adalah
Undang-Undang Keselamatan Kerja No.1 Tahun 1970.
Ketentuan-ketentuan penerapan K3 yang dijelaskan dalam UndangUndang No. 1 Tahun 1970 adalah (1) tempat kerja yang menggunakan mesin,
pesawat, perkakas, (2) tempat kerja pembangunan perbaikan, perawatan,
pembersihan atau pembongkaran gedung, (3) tempat usaha pertanian,
perkebunan, pekerjaan hutan, (4) pekerjaan usaha pertambangan dan
pengelolahan emas, perak, logam, serta biji logam lainnya, dan (5) tempat
pengangkutan barang, binatang, dan manusia baik di daratan, melalui
terowongan, permukaan air, dalam air dan di udara.
Memasuki dunia industrialisasi yang semakin modern akan diikuti oleh
penerapan teknologi tinggi, penggunaan bahan dan peralatan makin kompleks
dan rumit, yang akan mengakibatkan suatu kemungkinan bahaya yang besar,
berupa kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran lingkungan dan
penyakit akibat kerja, yang diakibatkan oleh kesalahan dalam penggunaan
peralatan, pemahaman dan kemampuan serta ketrampilan tenaga kerja yang

kurang memadai, dan hal inilah yang terjadi pada era industrialisasi
belakangan ini, yaitu adanya penerapan teknologi yang tinggi dan penggunaan
bahan yang beraneka ragam akan tetapi tidak diikuti dengan selaras oleh
ketrampilan dan keahlian tenaga kerjanya yang mengoperasikan peralatan dan
mempergunakan

bahan

dalam

proses

produksi

tersebut,

sehingga

menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.


Kondisi Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia
secara umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia
menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan
Thailand. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya saing Indonesia di
dunia internasional masih sangat rendah. Indonesia akan sulit menghadapi
pasar global karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja
(produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan sebuah negara sangat
ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya. Karena itu disamping perhatian
masyarakat harus menyadari pentingnya Keselamatan, Keamanan, dan
Kesehatan Kerja (K3), pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan
atau aturan perlindungan Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja.
Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat.
Menurut Mangkunegara (2002:163) Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan
kesempurnaan,

baik

jasmaniah

maupun

rohaniah.

Keutuhan

dan

kesempurnaan tersebut ditujukan secara khusus terhadap tenaga kerja dan


manusia pada umumnya, sehingga menghasilkan suatu hasil karya dan budaya
untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur.
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu pemikiran dan upaya
untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani.
Dengan keselamatan dan kesehatan kerja maka para pihak diharapkan dapat
melakukan pekerjaan dengan aman dan nyaman. Pekerjaan dikatakan aman
jika apapun yang dilakukan oleh pekerja tersebut, resiko yang mungkin
muncul dapat dihindari. Pekerjaan dikatakan nyaman jika para pekerja yang
bersangkutan dapat melakukan pekerjaan dengan merasa nyaman dan betah,
sehingga tidak mudah capek.
2

Keselamatan

dan

kesehatan

kerja

merupakan

salah

satu

aspek

perlindungan tenaga kerja yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13


Tahun 2003. Dengan menerapkan teknologi pengendalian keselamatan dan
kesehatan kerja, diharapkan tenaga kerja akan mencapai ketahanan fisik, daya
kerja, dan tingkat kesehatan yang tinggi. Disamping itu keselamatan dan
kesehatan kerja dapat diharapkan untuk menciptakan kenyamanan kerja dan
keselamatan kerja yang tinggi.
Meskipun ketentuan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja telah
diatur sedemikian rupa, tetapi dalam praktiknya tidak seperti yang diharapkan.
Begitu banyak faktor di lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan
keselamatan kerja seperti faktor manusia, lingkungan dan psikologis. Masih
banyak perusahaan yang tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan
kerja.
Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan
bisnis sejak lama. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat
terkait dengan kinerja pekerja dan pada gilirannya pada hasil yang akan
didapatkan pada area garapan kerja. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan
kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.
Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku
tahun 2020 mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu
prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan
jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk
bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan
perlindungan masyarakat pekerja Indonesia; telah ditetapkan Visi Indonesia
Sehat 2015 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang
penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh
pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan
petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam
dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di
beberapa

negara

maju

(dari

beberapa

pengamatan)

menunjukan

kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering


terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan
pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja,
sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia.
Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan
upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja,
keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Tenaga kesehatan yang
perlu kita perhatikan yaitu semua tenaga kesehatan yang merupakan suatu
institusi dengan jumlah petugas kesehatan dan non kesehatan yang cukup
besar. Kegiatan tenaga atau petugas kesehatan mempunyai risiko berasal dari
faktor fisik, kimia, ergonomi dan psikososial. Variasi, ukuran, tipe dan
kelengkapan sarana dan prasarana menentukan kesehatan dan keselamatan
kerja. Seiring dengan kemajuan IPTEK, khususnya kemajuan teknologi sarana
dan prasarana, maka risiko yang dihadapi petugas tenaga kesehatan semakin
meningkat.
Petugas atau tenaga kesehatan merupakan orang pertama yang terpajan
terhadap masalah kesehatan yang merupakan kendala yang dihadapi untuk
setipa tahunnya. Selain itu dalam pekerjaannya menggunakan alat alat
kesehatan, berionisasi dan radiasi serta alat-alat elektronik dengan voltase
yang mematikan, dan melakukan percobaan dengan penyakit yang dimasukan
ke jaringan hewan percobaan. Oleh karena itu penerapan budaya aman dan
sehat dalam bekerja hendaknya dilaksanakan pada semua Institusi di Sektor /
Aspek Kesehatan.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu
bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari
pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian
materi bagi pekerja dan pemilik lahan usaha, tetapi juga dapat mengganggu

proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya


akan berdampak pada masyarakat luas.
Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Dalam bekerja Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja (K3)
merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang
yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada
diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat
meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga
kesehatan

mempunyai

kemampuan

untuk

menangani

korban

dalam

kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk


menyadari pentingnya Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja.
Di sekitar wilayah RW 02 tepatnya di tegal wangi , terdapat
perusahaan hills sepatu Bapak Idam, dimana memiliki pekerja 4 orang sudah
5 tahun beroperasi dan perusahaan tersebut milik pribadi. Berdasarkan hasil
studi pendahuluan melalui wawancara dan observasi didapatkan hasil bahwa
dalam pekerja di pabrik hills sepatu Bapak Idam tidak terlalu memahami
mengenai Keselamatan, Keamanan dan Kesehatan Kerja (K3). karena
menurut mereka, mereka bekerja mengikuti apa yang telah lama dilakukan
para pendahulu mereka. Setelah di wawancara salah satu pekerja mengatakan
bahwa belum ada alat keselamatan, dan selama ini hanya menggunakan alat
pelindung diri seadanya saja. Bila terjadi kecelakaan mereka hanya
melakukan perawatan sendiri, dan bila kecelakaan kerja yang dialami terasa
parah, maka mereka akan pergi ke tempat pelayanan kesehatan. Sedangkan
berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa, para pekerja kebanyakan
mengabaikan keselamatan kesehatan kerja ketika berada di pabrik hills sepatu
Bapak Idam. Hal itu terlihat dari para pekrja yang tidak menggunakan alat
pelindung diri secara lengkap.
Menurut keterangan para pekerja tersebut, pada saat mereka bekerja
sering terkena golok atau gergaji, yang menyebabkan terjadinya perdarahan
yang lumayan banyak. Salah satu pekerja tersebut, mengatakan bahwa ketika
mengalami cedera perdarahan, pekerja membalut luka yang mengalami

perdarahan agar darah berhenti mengalir keluar, dan kadang panik bila
melihat adanya darah yang banyak keluar dan bingung harus berbuat apa.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas tentang kurangnya
pengetahuan terhadap Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja (K3),
maka penulis tertarik untuk melakukan pengelolaan dan pemberian informasi
kepada para pekerja di pabrik hills sepatu Bapak Idam tentang pentingnya
Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja (K3) di wilayah RT 01 RW
02 Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan konsep Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan
Kerja

Berbasis Komunitas (K3BK) di wilayah RW 02 Kelurahan

Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi.


2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian terhadap Keselamatan, Keamanan, dan
Kesehatan Kerja (K3) di satu area binaan
b. Menyusun hasil dari tinjauan teoritis dan konsultasi pakar tentang
resiko kecelakaan kerja yang mungkin terjadi di wilayah binaan
berdasarkan hasil kajian
c. Bersama karyawan pabrik hills sepatu Bapak Idam merumuskan
Planning Of Actions untuk mengantisipasi dan menangani kecelakaan
kerja yang mungkin terjadi di wilayah binaan
d. Melaksanakan program peningkatan kemampuan dasar pertolongan
gawat darurat bagi masyarakat binaan untuk menangani kecelakaan
kerja
e. Melakukan evaluasi terhadap seluruh rangkaian tahap kegiatan
Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja berbasis komunitas
(K3BK)
C. Metoda Penulisan
Metode penulisan dalam penyusunan laporan ini menggunakan:
a. Studi kepustakaan, dengan mencari berbagai literature dari perpustakaan
dan internet.

b. Obsrevasi, dengan mengobservasi area yang akan dijadikan wilayah


binaan.
c. Wawancara, dilakukan

untuk

mengetahui

secara

langsung

karakteristik wilayah daerah binaan. Kegiatan dalam perencanaan ini


antara lain dengan mencari informasi ke berbagai informasi. Sumber
informasi yang digunakan adalah, Ketua RW, Ketua RT, kader, dan tokoh
masyarakat.
d. Pembagian kuesioner, mengumpulkan data secara formal kepada subjek
untuk menjawab pertanyaan secara tertulis dengan menggunakan bentuk
pertanyaan tertutup.
D. Sistematika Penulisan
Laporan keperawatan kesehatan kerja ini ke dalam 5 bab. Yaitu sebagai
berikut :
1. BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini dibahas latar belakang, tujuan penulisan, metoda penulisan,
dan sistematika penulisan.
2. BAB II : TINJAUAN TEORITIS
Dalam bab ini membahas mengenai konsep dasar dan asuhan keperawatan
kesehatan kerja.
3. BAB III : LAPORAN PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN
Dalam bab ini dibahas tentang deskripsi singkat area kajian, tabulasi data,
analisa data, intervensi, implementasi dan evaluasi.
4. BAB IV : PEMBAHASAN
Dalam bab ini dibahas dan dijelaskan mengenai kesenjangan antara teori
dan hasil yang di dapat di lapangan.
5. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini dibahas tentang kesimpulan dan penjelasan masalah
berdasarkan hasil tinjauan dan saran-saran untuk hasil tinjauan kami.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Dasar
1. Keselamatan, Keamanan dan Kesehatan Kerja
a. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Pengertian atau definisi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)
umumnya terbagi menjadi 3 (tjga) versi di antaranya ialah pengertian
dan definisi K3 menurut Filosofi, pengertian dan definisi K3 menurut
Keilmuan serta pengertian dan definisi K3 menurut standar OHSAS
18001:2007. Berikut adalah pengertian dan definisi K3 (Keselamatan
dan Kesehatan Kerja) tersebut :
1) Pengertian K3 Menurut Filosofi (Mangkunegara)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu pemikiran
dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani
maupun rohani tenaga kerja khususnya dan manusia pada
umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil
dan makmur.
2) Pengertian K3 Menurut Keilmuan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua Ilmu dan
Penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja,
penyakit

akibat

kerja

(PAK),

kebakaran,

peledakan

dan

pencemaran lingkungan.
3) Pengertian K3 Menurut OHSAS 18001:2007
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua kondisi
dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan
kerja tenaga kerja maupun orang lain (kontraktor, pemasok,
pengunjung dan tamu) di tempat kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja adalah keselamatan yang
berkaitan dengan hubungan tenaga kerja dengan peralatan kerja, bahan
dan proses pengolahannya, landasan tempat kerja dan cara-cara

melakukan pekerjaan tersebut (Dainur, 1993). Sedangkan pengertian


secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya
dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja.
Menurut Mangkunegara (2002, p.163) Keselamatan dan kesehatan
kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan
kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada
khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya untuk
menuju masyarakat adil dan makmur. Menurut Sumamur (2001,
p.104),

keselamatan

kerja

merupakan

rangkaian

usaha

untuk

menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan
yang

bekerja

di

perusahaan

yang

bersangkutan.

Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi


keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana
kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin,
peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja . Mathis dan Jackson (2002,
p. 245), menyatakan bahwa Keselamatan adalah merujuk pada
perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera
yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi
umum

fisik,

mental

dan

stabilitas

emosi

secara

umum.

Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000,
p.6), mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu
kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi
pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan
sekitar
Jackson

pabrik
(1999,

p.

atau
222),

tempat
menjelaskan

kerja
bahwa

tersebut.

Kesehatan

dan

Keselamatan Kerja menunjukkan kepada kondisi-kondisi fisiologisfisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan
kerja yang disediakan oleh perusahaan.
Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja (K3) tidak dapat
dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri.

Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan


konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula
meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja.
Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih
tinggi dalam mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam
bentuk maupun jenis kecelakaannya. Sejalan dengan itu, perkembangan
pembangunan yang dilaksanakan tersebut maka disusunlah UU No.14
tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang
selanjutnya mengalami perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003
tentang ketenaga kerjaan.
Dalam pasal 86 UU No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap
pekerja atau buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan
atas Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja , moral dan
kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta
nilai-nilai agama.
Untuk
dikeluarkanlah

mengantisipasi
peraturan

permasalahan

tersebut,

perundangan-undangan

Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja

di

maka
bidang

sebagai pengganti

peraturan sebelumnya yaitu Veiligheids Reglement, STBl No.406


tahun 1910 yang dinilai sudah tidak memadai menghadapi kemajuan
dan perkembangan yang ada.
Peraturan tersebut adalah Undang-undang No.1 tahun 1970
tentang keselamatan kerja yang ruang lingkupnya meliputi segala
lingkungan kerja, baik di darat, didalam tanah, permukaan air, di
dalam air maupun udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan
hukum Republik Indonesia.
Undang-undang
keselamatan

kerja

tersebut
dimulai

juga
dari

mengatur

syarat-syarat

perencanaan,

pembuatan,

pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan, pemakaian,


penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang produk

10

tekhnis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan


bahaya kecelakaan.
Walaupun sudah banyak peraturan yang diterbitkan, namun pada
pelaksaannya masih banyak kekurangan dan kelemahannya karena
terbatasnya personil pengawasan, sumber daya manusia K3 serta
sarana yang ada. Oleh karena itu, masih diperlukan upaya untuk
memberdayakan lembaga-lembaga K3 yang ada di masyarakat,
meningkatkan sosialisasi dan kerjasama dengan mitra sosial guna
membantu pelaksanaan pengawasan norma K3 agar terjalan dengan
baik.
b. Unsur dan Prinsip Keselamatan, Keamanan dan Kesehatan Kerja
Untuk dapat menciptakan kondisi yang aman dan sehat dalam
bekerja

diperlukan

adanya

unsur-unsur

dan

prinsip-prinsip

keselamatan dan kesehatan kerja antara lain (Sutrisno dan Kusmawan


Ruswansi, 2007):
1) Adanya alat pelindung diri (APD)
2) Adanya buku petunjuk penggunaan alat dan atau isyarat bahaya.
3) Adanya peraturan pembagian tugas dan tanggungjawab.
4) Adanya tempat kerja yang aman sesuai standar SSLK (Syaratsyarat lingkungan kerja) antara lain tempat kerja steril dari debu,
kotoran, assap rokok, uap gas, radiasi, getaran mesin

dan

peralatan, kebisingan, tempat kerja aman dari arus listrik, lampu


penerangan cukup memadai, ventilasi dan sirkulasi udara
seimbang, adanya aturan kerjja atau aturan keprilakuan.
5) Adanya penunjang kesehatan jasmani dan rohani di tempat kerja.
6) Adanya sarana dan prasarana yang lengkap ditempat kerja.
7) Adanya kesadaran dalam menjaga keselamatan dan kesehatan
kerja.

11

c. Syarat-Syarat Lingkungan Kerja Yang Baik


Menurut Sutrisno dan Kusmawan Ruswandi 2007, syarat-syarat
lingkungan kerja yang baik adalah;
1) Tempat kerja yang steril dari debu, kotoran, asap rokok, uap, gas,
radiasi, peralatan, kebisingan.
2) Tempat kerja aman dari sengatan listrik.
3) Lampu penerangan cukup memadai.
4) Ventilasi dan sirkulasi udara seimbang.
5) Adanya aturan kerja atau aturan keprilakuan.
d. Sebab-Sebab Kecelakaan
Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiri
dari teknik keselamatan. Kecelakaan tidak terjadi begitu saja,
kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau kondisi yang tidak
aman. Ada pepatah yang mengungkapkan tindakan yang lalai seperti
kegagalan dalam melihat atau berjalan mencapai suatu yang jauh diatas
sebuah tangga.
Diantara

tindakan

yang

kurang

aman

salah

satunya

diklasifikasikan seperti latihan sebagai kegagalan menggunakan


peralatan kerja, tidak menggunakan alat pelindung diri yang optimal.
Dari hasil analisa kebanyakan kecelakaan biasanya terjadi karena
mereka lalai ataupun kondisi kerja yang kurang aman, tidak hanya satu
saja. Keselamatan dapat dilaksanakan sedini mungkin, tetapi untuk
tingkat efektivitas maksimum, pekerja harus dilatih, menggunakan
peralatan keselamatan.
e. Faktor - Faktor Kecelakaan
Studi kasus menunjukkan hanya proporsi yang kecil dari pekerja
sebuah industri terdapat kecelakaan yang cukup banyak. Pekerja pada
industri mengatakan itu sebagai kecenderungan kecelakaan. Untuk
mengukur kecenderungan kecelakaan harus menggunakan data dari
situasi yang menunjukkan tingkat resiko yang ekuivalen.

12

Begitupun, pelatihan yang diberikan kepada pekerja harus


dianalisa,

untuk

seseorang

yang

berada

di

kelas

pelatihan

kecenderungan kecelakaan mungkin hanya sedikit yang diketahuinya.


Satu lagi pertanyaan yang tak terjawab ialah apakah ada hubungan
yang signifikan antara kecenderungan terhadap kecelakaan yang kecil
atau salah satu kecelakaan yang besar. Pendekatan yang sering
dilakukan untuk seorang manager untuk salah satu faktor kecelakaan
terhadap

pekerja

adalah

dengan

tidak

membayar

upahnya.

Bagaimanapun jika banyak pelaku usaha yang melakukan hal diatas


akan menyebabkan berkurangnya rata-rata pendapatan, dan tidak
membayar upah pekerja akan membuat pekerja malas melakukan
pekerjaannya dan terus membahayakan diri mereka ataupun pekerja
yang lain.
f. Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja
Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan
merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu
kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat
merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ketiga komponen
tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang
optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila terdapat
ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa
penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan
menurunkan produktivitas kerja.
1) Kapasitas Kerja
Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada
umumnya belum memuaskan. Dari beberapa hasil penelitian
didapat gambaran bahwa 30-40% masyarakat pekerja kurang kalori
protein, 30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi
tanpa anemia. Kondisi kesehatan seperti ini tidak memungkinkan
bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang optimal.
Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja

13

yang ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan
non kesehatan yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga
untuk dalam melakukan tugasnya mungkin sering mendapat
kendala terutama menyangkut masalah kecelakaan kerja.
2) Beban Kerja
Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang
bersifat teknis beroperasi 8 - 24 jam sehari, dengan demikian
kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya
pola kerja bergilir dan tugas/jaga malam.
Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan
yang meningkat, akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama
tubuh). Faktor lain yang turut memperberat beban kerja antara lain
tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja yang masih relatif
rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja
tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu
lama dapat menimbulkan stres.
3) Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat
mempengaruhi kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan
Kerja (Occupational Accident), Penyakit Akibat Kerja dan
Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational Disease & Work
Related Diseases).
4) Tinjauan Tentang Tenaga Kesehatan
a) Pengertian Tenaga Kesehatan
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan
diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan
atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan
upaya kesehatan, baik berupa pendidikan gelar-D3, S1, S2 dan
S3-; pendidikan non gelar; sampai dengan pelatihan khusus
kejuruan khusus seperti Juru Imunisasi, Malaria, dsb., dan

14

keahlian. Hal inilah yang membedakan jenis tenaga ini dengan


tenaga lainnya. Hanya mereka yang mempunyai pendidikan
atau keahlian khusus-lah yang boleh melakukan pekerjaan
tertentu yang berhubungan dengan jiwa dan fisik manusia, serta
lingkungannya.
Tenaga kesehatan berperan sebagai perencana, penggerak
dan sekaligus pelaksana pembangunan kesehatan sehingga
tanpa tersedianya tenaga dalam jumlah dan jenis yang sesuai,
maka pembangunan kesehatan tidak akan dapat berjalan secara
optimal. Kebijakan tentang pendayagunaan tenaga kesehatan
sangat dipengaruhi oleh kebijakan kebijakan sektor lain,
seperti:

kebijakan

sektor

pendidikan,

kebijakan

sektor

ketenagakerjaan, sektor keuangan dan peraturan kepegawaian.


Kebijakan sektor kesehatan yang berpengaruh terhadap
pendayagunaan tenaga kesehatan antara lain: kebijakan tentang
arah dan strategi pembangunan kesehatan, kebijakan tentang
pelayanan kesehatan, kebijakan tentang pendidikan dan
pelatihan tenaga kesehatan, dan kebijakan tentang pembiayaan
kesehatan.
b) Peran

Tenaga

Kesehatan

Dalam

Menangani

Korban

Kecelakaan Kerja
Pekerja yang menderita gangguan kesehatan atau penyakit
akibat kerja cenderung lebih mudah mengalami kecelakaan kerja.
Di negara maju banyak pakar tentang kesehatan dan keselamatan
kerja dan banyak buku serta hasil penelitian yang berkaitan dengan
kesehatan tenaga kerja yang telah diterbitkan. Di era globalisasi ini
kita harus mengikuti trend yang ada di negara maju. Dalam hal
penanganan kesehatan pekerja, kitapun harus mengikuti standar
internasional agar industri kita tetap dapat ikut bersaing di pasar
global. Dengan berbagai alasan tersebut rumah sakit pekerja
merupakan hal yang sangat strategis. Ditinjau dari segi apapun

15

niscaya akan menguntungkan baik bagi perkembangan ilmu, bagi


tenaga kerja, dan bagi kepentingan (ekonomi) nasional serta untuk
menghadapi persaingan global.
Bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah ada, rumah
sakit pekerja akan menjadi pelengkap dan akan menjadi pusat
rujukan khususnya untuk kasus-kasus kecelakaan dan penyakit
akibat kerja. Diharapkan di setiap kawasan industri akan berdiri
rumah sakit pekerja sehingga hampir semua pekerja mempunyai
akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif.
Setelah itu perlu adanya rumah sakit pekerja sebagai pusat rujukan
nasional. Sudah barang tentu hal ini juga harus didukung dengan
meluluskan spesialis kedokteran okupasi yang lebih banyak lagi.
Kelemahan dan kekurangan dalam pendirian rumah sakit pekerja
dapat diperbaiki kemudian dan jika ada penyimpangan dari misi
utama berdirinya rumah sakit tersebut harus kita kritisi bersama.
Kecelakaan kerja adalah salah satu dari sekian banyak
masalah di bidang Keselamatan, Keamanan, dan Kesehatan Kerja
yang dapat menyebabkan kerugian jiwa dan materi. Salah satu
upaya dalam perlindungan tenaga kerja adalah menyelenggarakan
P3K di perusahaan sesuai dengan UU dan peraturan Pemerintah
yang berlaku. Penyelenggaraan P3K untuk menanggulangi
kecelakaan yang terjadi di tempat kerja. P3K yang dimaksud harus
dikelola oleh tenaga kesehatan yang professional.
Yang menjadi dasar pengadaan P3K di tempat kerja adalah
UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja; kewajiban
manajemen dalam pemberian P3K, UU No.13 Tahun 2000 tentang
ketenagakerjaan, Peraturan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
No.03/Men/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Kerja ; tugas pokok
meliputi P3K dan Peraturan Mentri Tenaga Kerja No. 05/Men/1995
tentang

Sistem

Manajemen

Kesehatan Kerja .

16

Keselamatan,

Keamanan,

dan

c) Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control)


Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control)
Yaitu upaya untuk menemukan gangguan sedini mungkin dengan
cara mengenal (Recognition) kecelakaan dan penyakit akibat kerja
yang dapat tumbuh pada setiap jenis pekerjaan di unit pelayanan
kesehatan dan pencegahan meluasnya gangguan yang sudah ada
baik terhadap pekerja itu sendiri maupun terhadap orang
disekitarnya. Dengan deteksi dini, maka penatalaksanaan kasus
menjadi lebih cepat, mengurangi penderitaan dan mempercepat
pemulihan kemampuan produktivitas masyarakat pekerja. Disini
diperlukan system rujukan untuk menegakkan diagnosa penyakit
akibat kerja secara cepat dan tepat (prompt-treatment). Pencegahan
sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja
yang meliputi :
1) Pemeriksaan Awal
Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum
seseorang calon/pekerja (petugas kesehatan dan non kesehatan)
mulai melaksanakan pekerjaannya. Pemeriksaan ini bertujuan
untuk memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon
pekerja dan mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau
dari segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan
ditugaskan kepadanya.

Anamnese umum Pemerikasaan

kesehatan awal ini meliputi:


a) Anamnese pekerjaan
b) Penyakit yang pernah diderita
c) Alergi
d) Imunisasi yang pernah didapat
e) Pemeriksaan badan
f) Pemeriksaan laboratorium rutin Pemeriksaan tertentu :
(1) Tuberkulin test
(2) Psiko test

17

2) Pemeriksaan Berkala
Adalah pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara
berkala dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan
besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. Makin besar resiko
kerja, makin kecil jarak waktu antar pemeriksaan berkala.
Ruang lingkup pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan umum
dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan
bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya, sesuai
dengan resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan.
3) Pemeriksaan Khusus
Yaitu pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus
diluar waktu pemeriksaan berkala, yaitu pada keadaan dimana
ada atau diduga ada keadaan yang dapat mengganggu
kesehatan

pekerja.

Sebagai

unit

di

sektor

kesehatan

pengembangan K3 tidak hanya untuk intern laboratorium


kesehatan, dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga
harus merambah dan memberi panutan pada masyarakat
pekerja di sekitarnya, utamanya pelayanan promotif dan
preventif. Misalnya untuk mengamankan limbah agar tidak
berdampak

kesehatan

bagi

pekerja

atau

masyarakat

disekitarnya, meningkatkan kepekaan dalam mengenali unsafe


act dan unsafe condition agar tidak terjadi kecelakaan dan
sebagainya.
4) Fungsi / Tugas Perawat dalam Hyperkes
a) Mengkaji Masalah Kesehatan Pekerja
b) Mengumpulkan data para pekerja, mencakup biodata,
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)

riwayat peny yang lalu, masl kes pekerja saat ini.


Menganalisa masalah kes pekerja.
Menentukan kesehatan pekerja.
Menyusun prioritas masalah.
Menyusun Rencana Askep Pekerja
Merumuskan tujuan
Menyusun rencana tindakan
Menyusun kriteria keberhasilan
18

j) Melaksanakan Pelayanan Kesehatan & perawatan terhadap


Pekerja
(1) Memberikan askep di klinik sesuai dengan perencanaan
(2) Kolaborasi dengan dokter dalam melakukan tindakan
medic
(3) Melakukan P3K
(4) Melakukan rujukan
k) Penilaian
(1) Menilai hasil askep berpedoman pd tujuan
(2) Membandingkan hasil dg tujuan yg dirumuskan
(3) Sasaran pembinaan upaya kesehatan kerja oleh puskesmas
ditujukan kepada:
(1) Kelompok tani
(2) Kelompok nelayan
(3) Kelompok industri kecil/pengrajin
2. Alat Pelindung Diri
a. pengertian
Alat pelindung diri merupakan peralatan keselamatan yang harus
digunakan oleh tenaga kerja apabila berada dalam lingkungan kerja
yang berbahaya. (Cahyono,2004).
b. Tujuan Penggunaan APD
Tujuan dari penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) adalah untuk
melindungi tenaga kerja dan resiko cedera dengan menciptakan
penghalang dari bahaya ditempat kerja, alat pelindung diri (APD).

c. Manfaat Menggunakan APD


untuk melindungi seluruh / sebagian tubuhnya terhadap
kemungkinan

adanya

potensi

bahaya

kecelakaan

kerja,

mengurangi resiko akibat kecelakaan.


d. Jenis Jenis APD
1) Safety Helmet : Berfungsi sebagai pelindung kepala dari benda yang
bisa mengenai kepala secara langsung.

19

2) Sepatu Karet (sepatu boot) : Berfungsi sebagai alat pengaman saat


bekerja di tempat yang becek ataupun berlumpur. Kebanyakan di
lapisi dengan metal untuk melindungi kaki dari benda tajam atau
berat, benda panas, cairan kimia, dsb.
3) Sarung Tangan : Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat
bekerja di tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera
tangan. Bahan dan bentuk sarung tangan di sesuaikan dengan fungsi
masing-masing pekerjaan.
4) Kaca Mata Pengaman (Safety Glasses) : Berfungsi sebagai
pelindung mata ketika bekerja,misalnya menghindari mata terkena
debu.
5) Masker (Respirator) : Berfungsi sebagai penyaring udara yang
dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas udara buruk (misal
berdebu, beracun, dsb).
6) Pakaian Kerja (Work clothing) : Berfungsi sebagai pelindung diri
agar badan operator saat bekerja tidak panas dan badan tidak terkena
debu.

3. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)


a. Pengertian
Tindakan yang dapat diberikan atau dilakukan oleh orang yang
tahu, memahami, atau bahkan terlatih mengenai seluk-beluk anatomikesehatan dasar.Kemampuan dasar ini dapat diperoleh melalui
pendidikan umum formal, pelatihan atau pun pengalaman dalam
kehidupan sehari-hari.
b. Tujuan P3K
Tujuan utama pertolongan pertama pada kecelakaan adalah untuk
mempertahankan korban kecelakaan atau penderita tetap hidup,
membuat keadaan korban tetap stabil, dan menghindarkan kecacatan

20

yang lebih parah, mengurangi rasa nyeri, ketidak nyamanan dan rasa
cemas.
c. Prinsip Dasar Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
1) Bersikap tenang dan tidak bole panik.
2) Gunakan mata dengan jeli,
3) Pastikan anda bukan menjadi korban berikutnya,
4) Pakailah metode atau cara pertolongan yang cepat, mudah dan
efesien.
5) Perhatikan keadaan sekitar kecelakaan cara terjadinya kecelakaan,
cuaca dan sebagainya.
6) Perhatikan keadaan penderita apakah pingsan, ada perdarahan dan
luka, patah tulang, merasa sangat kesakitan.
7) Periksa pernafasan korban.
8) Periksa nadi/ denyut jantung korban.
9) Setelah keadaannya mulai stabil, periksa ulang cedera penyebab
atau penyerta.
10) Biasakan membuat cataan tentang usaha-usaha pertolongan yang
telah Anda lakukan, identitas korban, tempat dan waktu kejadian,
dan sebagainya. Catatan ini berguna bila penderita mendapat
rujukan atau pertolongan tambahan oleh pihak lain.
11) Sementara memberikan pertolongan, anda juga harus menghubungi
petugas medis atau rumah sakit rujukan.
d. Pedoman yang harus dipegang oleh pelaku P3K
1) P : Penolong mengamankan diri sebelum bertindak
2) A : Amankan korban dari gangguan ditempat kejadian sehingga
bebas dari bahaya
3) T : Tandai tempat kejadian sehingga orang lain tahu bahwa
ditempat itu ada kecelakaan
4) U : Usahakan mengubungi ambulans, rumah sakit atau yang
berwajib
5) T : Tindakan pertolongan terhadap korban dalam urutan yang
paling tepat
e. Peralatan P3K
Bahan yang minimal harus tersedia :
1) Bahan yang membersihkan tangan misalnya sabun,alcohol

21

2) Obat untuk mencuci luka misalnya air bersih, boorwater, povidione


iodine
3) Obat untuk mengurangi rasa nyeri dan panas misalnya
parasetamole
4) Bahan untuk menyadarkan misalnya moniak, eun decologne
Alat minimal yang disediakan :
1) 10 pembalut cepat
2) Pembalut gulung
3) Pembalut segitiga
4) Kapas
5) Plester
6) Kasa steril
7) Gunting
8) Pinset
f. Sistematika Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
1) Berlakulah cekatan tetapi tetap tenang.
2) Jauhkan atau hindarkan korban dari kecelakaan berikutnya.
3) Bila pernafasan penderita berhenti segera kerjakan pernafasan
bantuan.
4) Segera amati bila terjadi pendarahan, karena jika yang keluar dari
pembuluh darah besar dapat membawa kematian dalam waktu 3-5
menit.
5) Korban ditelentangkan dengan bagian kepala lebih rendah dari
letak anggota tubuh yang lain
6) Jangan memindahkan korban secara terburu-buru,
7) Segera transportasikan korban ke sentral pengobatan.
g. Kasus-Kasus Kecelakaan dan Langkah-Langkah Pertolongannya
1) Pingsan (Syncope/collapse)
a) Gejala: Perasaan limbung, pandangan berkunang-kunang,
telinga berdenging, nafas tidak teratur, muka pucat, biji mata
melebar, lemas, keringat dingin, menguap berlebihan, tak
respon (beberapa menit), denyut nadi lambat.
b) Penanganan
(2) Baringkan korban dalam posisi terlentang
(3) Tinggikan tungkai melebihi tinggi jantung
(4) Longgarkan pakaian yang mengikat dan hilangkan barang
yang menghambat pernafasan
(5) Beri udara segar
(6) Periksa kemungkinan cedera lain

22

(7) Selimuti korban


(8) Korban diistirahatkan beberapa saat
(9) Bila tak segera sadar >> periksa nafas dan nadi >> posisi
stabil >> Rujuk ke instansi kesehatan.\
2) Dehidrasi
a) Gejala dan tanda dehidrasi
(1) Dehidrasi ringan: Defisit cairan 5% dari berat badan,
penderita

merasa

haus,

denyut

nadi

lebih

dari

90x/menit.Dehidrasi sedang: Defisit cairan antara 5-10%


dari berat badan, nadi lebih dari 90x/menit, nadi lemah,
sangat haus.
(2) Dehidrasi berat: Defisit cairan lebih dari 10% dari berat
badan, hipotensi, mata cekung, nadi sangat lemah, sampai
tak terasa, kejang-kejang.
b) Penanganan
(1) Mengganti cairan yang hilang dan mengatasi shock.
(2) mengganti elektrolit yang lemah.
(3) Mengenal dan mengatasi komplikasi yang ada.
(4) Memberantas penyebabnya.
(5) Rutinlah minum jangan tunggu haus.
3) Atsma
a) Gejala: sukar bicara tanpa berhenti, untuk menarik nafas,
terdengar suara nafas tambahan, otot bantu nafas terlihat
menonjol (dileher), irama nafas tidak teratur, terjadinya
perubahan

warna

kulit

(merah/pucat/kebiruan/sianosis),

kesadaran menurun (gelisah/meracau).


b) Penanganan
(1) Tenangkan korban
(2) Bawa ketempat yang luas dan sejuk
(3) Posisikan duduk
(4) Atur nafas
(5) Beri oksigen (bantu) bila diperlukan
4) Pusing/Vertigo/Nyeri Kepala
a) Gejala:
kepala
terasa
nyeri/berdenyut,
keseimbangan tubuh, lemas
b) Penanganan
(1) Istirahatkan korban
(2) Beri minuman hangat
(3) beri obat bila perlu
23

kehilangan

(4) Tangani sesuai penyebab


5) Maag Atau Mual
a) Gejala: perut terasa nyeri/mual, berkeringat dingin, lemas
b) Penanganan
(1) Istirahatkan korban dalam posisi duduk ataupun berbaring
sesuai kondisi korban
(2) Beri minuman hangat (teh/kopi)
(3) Jangan beri makan terlalu cepat
6) Mimisan
a) Gejala: dari lubang hidung keluar darah dan terasa nyeri,
korban sulit bernafas dengan hidung karena lubang hidung
tersumbat oleh darah, kadang disertai pusing
b) Penanganan
(1) Bawa korban ke tempat sejuk/nyaman
(2) Tenangkan korban
(3) Korban diminta menunduk sambil menekan cuping hidung
(4) Diminta bernafas lewat mulut
(5) Bersihkan hidung luar dari darah
(6) Buka setiap 5/10 menit. Jika masih keluar ulangi tindakan
Pertolongan Pertama.
7) Kram
a) Gejala: Nyeri pada otot, kadang disertai bengkak
b) Penanganan
(1) Istirahatkan
(2) Posisi nyaman
(3) Relaksasi
(4) Pijat berlawanan arah dengan kontraksi
8) Memar
a) Gejala: warna kebiruan/merah pada kulit, nyeri jika di tekan,
kadang disertai bengkak
b) Penanganan
(1) Kompres dingin
(2) Balut tekan
(3) Tinggikan bagian luka
9) Keseleo
a) Gejala: bengkak, nyeri bila tekan, kebiruan/merah pada derah
luka, sendi terkunci, ada perubahan bentuk pada sendi.
b) Penanganan
(1) Korban diposisikan nyaman
(2) Kompres es/dingin
(3) Balut tekan dengan ikatan 8 untuk mengurangi pergerakan
(4) Tinggikan bagian tubuh yang luka
10) Luka

24

a) Gejala: terbukanya kulit, pendarahan, rasa nyeri


b) Penanganan
(1) Bersihkan luka dengan antiseptic (alcohol/boorwater)
(2) Tutup luka dengan kasa steril/plester
(3) Balut tekan (jika pendarahannya besar)
(4) Jika hanya lecet, biarkan terbuka untuk proses pengeringan
luka
c) Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menangani luka:
(1) Ketika memeriksa luka: adakah benda asing, bila ada:
(2) Keluarkan tanpa menyinggung luka
(3) Kasa/balut steril (jangan dengan kapas atau kain berbulu)
(4) Evakuasi korban ke pusat kesehatan
(5) Bekuan darah: bila sudah ada bekuan darah pada suatu luka
ini berarti luka mulai menutup. Bekuan tidak boleh
dibuang, jika luka akan berdarah lagi.
11) Pendarahan
a) Tenaga/mekanik, misal menekan, mengikat, menjahit dll
b) Fisika:
(1) Bila dikompres dingin akan mengecil dan mengurangi
pendarahan
(2) Bila dengan panas akan terjadinya penjedalan dan
mengurangi
c) Kimia: Obat-obatan
d) Biokimia: vitamin K
e) Elektrik: diahermik
12) Patah Tulang atau fraktur
a) Gejala: perubahan bentuk, nyeri bila ditekan dan kaku,
bengkak,

terdengar/terasa(korban)

derikan

tulang

yang

retak/patah, ada memar (jika tertutup), terjadi pendarahan (jika


terbuka)
b) Jenisnya
(1) Terbuka (terlihat jaringan luka)
(2) Tertutup
c) Penanganan
d) Tenangkan korban jika sadar
e) Untuk patah tulang tertutup
f) Periksa Gerakan (apakah bagian tubuh yang luka bias
g)
h)
i)
j)

digerakan/diangkat)
Sensasi (respon nyeri)
Sirkulasi (peredaran darah)
Ukur bidai disisi yang sehat
Pasang kain pengikat bidai melalui sela-sela tubuh bawah
25

k) Pasang bantalan didaerah patah tulang


l) Pasang bidai meliputi 2 sendi disamping luka
m) Ikat bidai
13) Luka Bakar
a) Matikan api dengan memutuskan suplai oksigen
b) Perhatikan keadaan umum penderita
c) Pendinginan
d) Membuka pakaian penderita/korban
e) Merendam dalam air atau air mengalir selama 20 atau 30
menit. Untuk daerah wajah,cukup dikompres air
Mencegah infeksi
a) Luka ditutup dengan perban atau kain bersih kering yang tak
dapat melekat pada luka.
b) Penderita dikerudungi kain putih
c) Luka jangan diberi zat yang tak larut dalam air seperti mentega,
kecap dll
(1) Pemberian sedative/morfin 10 mg im diberikan dalam 24
jam sampai 48 jam pertama
(2) Bila luka bakar luas penderita diKuasakan
(3) Transportasi kefasilitasan yang lebih lengkap sebaiknya
dilakukan dalam satu jam bilatidak memungkinkan masih
bisa

dilakukan

dalam

24-48

jam

pertama

dengan

pengawasan ketat selama perjalanan.Khusus untuk luka


bakar daerah wajah, posisi kepala harus lebih tinggi dari
tubuh.
14) Keracunan makanan atau minuman
a) Gejala: mual, muntah, keringat dingin, wajah pucat/kebiruan
b) Penanganan
c) Bawa ke tempat teduh dan segar
d) Korban diminta muntah
e) Diberi norit
f) Istirahatkan
g) Jangan diberi air minum sampai kondisinya lebih baik
15) Gigitan binatang dan sengatan binatang
a) Pertolongan Pertamanya adalah:
(1) Cucilah bagian yang tergigit dengan air hangat dengan
sedikit antiseptik
(2) Bila pendarahan, segera dirawat dan kemudian dibalut

26

(3) Ada beberapa jenis binatang yang sering menimbulkan


ganguan saat melakukan kegiatan di alam terbuka,
diantaranya: lebah, nyamuk, ulat, dll.
16) Pembalutan
a) Guna pembalutan :
b) Menutup luka
c) Melakukan penekanan misalnya pada bagian tubuh yang sakit
d) Membatasi pergerakan
e) Mengikat bidai
f) Menghentikan/mengurangi perdarahan
4. Resiko Cedera Muskuloskeletal
a. Pengertian
Menurut OSHA 2000 : MSDs atau gangguan muskuloskeletal,
yaitu cedera dan gangguan pada jaringan lunak (otot, tendon, ligamen,
sendi, dan tulang rawan) dan sistem saraf.
Dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja MSDs disebut
juga dengan istilah : gangguan trauma kumulatif (cumulative trauma
disorders/CTDs), trauma berulang (repeated trauma), cedera stres
yang berulang (repetitive stress), dan sindrom kelelahan kerja
(occupational overextertion syndrom).
MSDs terjadi dalam kurun waktu yang panjang; mingguan,
bulanan, dan tahunan. MSDs biasanya dihasilkan dari paparan
berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan atau memperburuk
gangguan, bukan dari satu aktivitas atau trauma seperti terjatuh,
terkena benturan atau terkilir. MSDs dapat menyebabkan sejumlah
kondisi, termasuk nyeri, mati rasa, kesemutan, sendi kaku, sulit
bergerak, kehilangan otot, dan kadang-kadang kelumpuhan. Seringkali,
pekerja harus kehilangan waktu kerja untuk pulih,

bahkan beberapa

pekerja tidak pernah mendapatkan kembali kesehatan penuh.


Gangguan ini termasuk carpal tunnel syndrome, tendinitis, linu
panggul, penonjolan tulang, dan nyeri pinggang. MSDs tidak termasuk
cedera akibat slip, perjalanan, jatuh, atau kecelakaan serupa. (OSHA
3125, 2000; Sanders, Martha. J, 2004).

27

Banyak cara bekerja - seperti mengangkat, mencapai benda


ditempat yang tinggi, atau mengulangi gerakan yang sama - dapat
menyebabkan ketegangan pada tubuh, keausan otot, jaringan, ligamen
dan sendi. Dapat melukai leher, bahu, lengan, pergelangan tangan, kaki
dan punggung. Cedera ini adalah disebut cedera muskuloskeletal.
Gangguan sistem muskuloskeletal merupakan penyebab utama
ketidak hadiran kerja pada pekerja dan biaya yang cukup besar untuk
sistem kesehatan mayarakat. Gangguan dari sistem muskuloskeletal
tertentu mungkin berhubungan dengan bagian tubuh yang berbeda
sesuai jenis pekerjaan. Misalnya gangguan di punggung bawah sering
dihubungkan dengan kegiatan mengangkat dan membawa

beban

disertai adanya getaran. Gangguan anggota badan bagian atas pada jari
tangan, pergelangan tangan, lengan, siku, bahu, leher) mungkin akibat
dari pengerahan tenaga yang berulang atau statis dalam waktu yang
lama atau kegiatan yang intensif. Tingkat keparahan gangguan ini
dapat bervariasi antara nyeri sesekali atau rasa sakit untuk penyakit
tertentu

seperti

hasil diagnosis. Terjadinya

nyeri

diakibatkan

overloading atau reversibel atau mungkin gejala awal untuk penyakit


serius.
Faktor

resiko

untuk

terjadinya

muskuloskeletal

disorder

diantaranya: pekerjaan yang berlebihan, frekuensi/pengulangan, waktu


paparan, postur kerja, kecelakaan, jumlah beban mekanis, kualitas
resiko (intensitas kekuatan yang tinggi, pengulangan pengerahan
tenaga besar, peregangan otot, kondisi lingkungan dan psikososial
yang tidak baik).
b. Penyebab MSDs
Banyak

pekerjaan

yang

mempunyai

hazard

MDSs,

baik

pekerjaannya itu sendiri atau cara kerja yang dilakukan yang dapat
meningkatkan risiko MSDs pada seorang pekerja. Penyebab utama
MSDs yang berhubungan dengan kerja adalah beban, postur statis atau
janggal dan repetisi/pengulangan (Sander, Martha J(2004).

28

1) Beban/kekuatan (force)
Beban mengacu pada jumlah usaha yang dilakukan oleh otot,
dan jumlah tekanan pada bagian tubuh sebagai akibat dari tuntutan
pekerjaan yang berbeda. Semua tugas pekerjaan memerlukan
pekerja untuk menggunakan otot, namun, ketika pekerjaan
mengharuskan mereka mengerahkan tingkat kekuatan yang terlalu
tinggi untuk setiap otot tertentu, hal itu dapat merusak otot atau
tendon, sendi dan jaringan lunak lainnya pada organ yang
digunakan.
Kerusakan ini dapat terjadi dari gerakan atau tindakan
tunggal yang memerlukan otot untuk mengangkat beban yang
sangat berat. Namun, pada umumnya, kerusakan dihasilkan ketika
otot menghasilkan tingkat beban sedang sampai tinggi secara
berulang kali, untuk durasi yang panjang, dan / atau saat tubuh
dalam

postur

yang

canggung.

Beberapa

task

pekerjaan

membutuhkan kekuatan yang tinggi pada beberapa bagian tubuh


yang berbeda. Misalnya, mengangkat beban berat yang jauh dari
tubuh meningkatkan tekanan (gaya tekan) pada cakram spinal dan
tulang belakang pada punggung bagian bawah. Hal ini berpotensi
dapat

merusak

cakram

dan

vertebra.

Sumber

lain

dari

beban/kekuatan pada tubuh yang berpotensi dapat menyebabkan


kerusakan berasal dari pekerjaan dengan alat-alat tangan yang
memiliki tepi keras atau tajam, meletakkan lengan bawah di tepi
meja yang keras, dan lain-lain. Hal ini dapat memampatkan tendon,
otot, pembuluh darah dan saraf di bawah kulit, yang dapat merusak
jaringan jaringan. Dengan force, penting untuk mempertimbangkan
tidak hanya berapa banyak kekuatan yang terlibat tetapi juga:
a) Berapa lama pekerja harus tetap mengerahkan kekuatan
b) Berapa kali gaya adalah yang diberikan dalam periode waktu
tertentu, dan
c) Postur digunakan ketika mengerahkan gaya.

29

2) Postur tetap (statis) atau janggal


Postur

adalah

posisi

berbagai

bagian

tubuh

selama

beraktivitas. Untuk sebagian besar sendi, postur netral atau baik


berarti bahwa sendi yang digunakan dekat dengan pusat berbagai
gerak. Semakin jauh bergerak menuju kedua ujung rangkaian
gerak, atau lebih jauh dari sikap netral, maka postur akan semakin
janggal sehingga akan terjadi ketegangan di otot, tendon dan
ligamen di sekitar sendi. Yang harus dipertimbangkan pada saat
bekerja dengan postur tetap atau canggung:
a) Berapa lama pekerja berada pada postur tetap
b) Berapa kali postur canggung digunakan dalam jangka waktu
tertentu, dan
c) Jumlah gaya yang diberikan ketika bekerja pada postur
canggung.
3) Repetisi/pengulangan
Risiko MSDs akan meningkat ketika bagian yang sama dari
tubuh digunakan berulang kali, dengan jeda sedikit atau
kesempatan untuk beristirahat. Tugas yang sangat berulang dapat
menyebabkan kelelahan, kerusakan jaringan, dan, akhirnya, nyeri
dan ketidaknyamanan. Hal ini dapat terjadi bahkan jika force
rendah dan posstur kerja yang tidak terlalu canggung. Dengan
tugas

yang

berulang,

tidak

hanya

penting

untuk

mempertimbangkan bagaimana repetitif tugas tersebut tetapi juga:


a) Bagaimana para pekerja selama melakukan tugas
b) Postur diperlukan, dan
c) Jumlah gaya yang digunakan.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian

30

Pengkajian status kesehatan pekerja dan kebutuhan pelayanan


kesehatan berdasarkan perspektif epidemiologi meliputi berbagai dimensi
antara lain :
a. Dimensi Biofisikal
b. Dimensi Psikologi
c. Dimensi Fisik
d. Dimensi Sosial
e. Dimensi Tingkah Laku
f. Dimensi Sistem Kesehatan
Perawat komunitas harus memperhatikan kelima dimensi tersebut
karena akan sangat mempengaruhi derajat kesehatan masing-masing
individu.
a. Dimensi Biofisikal
Faktor biologi manusia yang perlu dikaji pada status kesehatan
pekerja termasuk di dalamnya adalah kematangan dan usia, warisan
genetik dan fungsi fisiologis.
b. Dimensi Psikologis
Pada

pengkajian

dimensi

psikologis

perawat

komunitas

mengidentifikasi masalah psikologi pada lingkungan kerja dan


mengkaji faktor yang berkontribusi terhadap masalah psikologinya.
Masalah

psikologi

dapat

dimanifestasikan

dengan

adanya

penyalahgunaan obat, kekerasan, gangguan kejiwaan, neurosis, dan


kelemahan. Beberapa indikasi adanya masalah psikologi yang perlu
dikaji :
1) Sering tidak masuk kerja
2)
3)
4)
5)
6)
7)

Perubahan mood, perubahan dalam berhubungan dengan orang lain


Peningkatan insidensi kecelakaan
Kelemahan, kelelahan, penurunan energi
Penurunan atau peningkatan berat badan
Peningkatan tekanan darah
Penyakit yang berhubungan dengan stress (gastritis, ulkus

peptikum).
c. Dimensi Fisik

31

Lingkungan fisik merupakan faktor yang turut mempengaruhi


derajat kesehatan dalam lingkungan kerja. Kategori lingkungan fisik
yang berisiko menyebabkan gangguan kesehatan seperti :
1) Terpapar panas dan dingin
2) Aliran listrik, api dan lantai
d. Dimensi Sosial
Lingkungan

sosial

dalam

lingkungan

kerja

yang

dapat

mempengaruhi status kesehatan dapat bersifat positif dan negatif. Yang


termasuk lingkungan sosial diantaranya : kualitas interaksi sosial
diantara pekerja, nilai terhadap pekerjaan dan kesehatan, ada tidaknya
diskriminasi,

jenis

kelamin

atau

tekanan

lain

yang

mempengaruhi produktifitas pekerja.


e. Dimensi Tingkah Laku
Faktor gaya hidup yang dipertimbangkan di sini termasuk :
1) Jenis pekerjaan
2) Istirahat dan latihan
3) Penggunaan alat pengaman
f. Tahap Pengkajian
1) Lingkungan
2) Pemeriksaan kesehatan (awal,berkala,khusus)
3) Jaminan kesehatan
4) Pemakaian APD
5) Proses kerja
6) Keluhan pekerja
7) Kecelakaan yg sering terjadi
8) P3K
9) Jam kerja
2. Analisa Data :
Analisa masalah berdasarkan data fokus Misalkan :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kecelakaan kerja yg sering terjadi


Perilaku yg tidak sehat
Lingkungan yg tidak sehat
Penyakit akibat kerja
Pengetahuan yang kurang
Kurangnya fasilitas pendukung

32

dapat

3. Perumusan Diagnosa
Resiko peningkatan penyakit akibat kerja b/d kurang pengetahuan
pekerja & perusahaan ttg standar keselamatan dan kesehatan kerja
penggunaan APD, posisi kerja yg benar, Fasilitas kerja.
4. Rencana keperawatan
Prioritas masalah menggunakan skoring
Intervensi :
a. Pendidikan kesehatan
b. Skrining
c. Pembekalan kader P3K

BAB III
LAPORAN HASIL PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN
A. Deskripsi Singkat Area Kajian
Wilayah RW 02 kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota
Sukabumi dengan batas wilayah sebelah barat yaitu RW 01 sebelah Selatan
yaitu RW 04 sebelah Timur yaitu RW 08, sebelah utara RW 03 dan RW 13.
Jumlah kepala keluarga di wilayah RW 02 adalah 379 KK, dengan jumlah
warga .. jiwa.
B. Tabulasi Data dan Analisa Data
1. Tabulasi Data
a. Karakteristik Responden

33

1) Jenis Kelamin
Tabel 3.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Jenis Kelamin di Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW
02 Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota
Sukabumi
No
1
2

Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan

Frekuensi
4
0

Persentase (%)
100
0

100

Jumlah

Berdasarkan data tabel 3.1 dapat dilihat bahwa seluruh


pekerja berjenis kelamin laki laki yaitu 100% atau sebesar 4
orang.

2) Umur
Tabel 3.2
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan
Umur di di Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02
Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota
Sukabumi
No
1
2
3

Umur
20-25
26-35
>35
Jumlah

Frekuensi
0
0
4
4

Persentase %
0
0
100
100

Berdasarkan data tabel 3.2 dapat dilihat bahwa sebagian


besar pekerja berusia > 35 tahun yaitu 100 % atau 4 orang.
3) Pendidikan
Tabel 3.3

34

Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan


Pendidikan di Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02
Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota
Sukabumi
No
1
2
3
4

Pendidikan
SD
SMP
Madrasah
Pesantren
Jumlah

Frekuensi
1
1
1
1
4

Persentase %
25
25
25
25
100

Berdasarkan data tabel 3.3 diketahui bahwa pendidikan


terakhir para pegawai yaitu SD, SMP, Madrasah dan Pesantren
yaitu masing-masing dengan persentase 25% atau masingmasing berjumlah 1 orang.
b. Lama Jam Kerja
Tabel 3.4
Distribusi Frekuensi Lama Jam Kerja di Pabrik Hills Sepatu
Bapak Idam RT 01 RW 02 Kelurahan Sukakarya
Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi
No
1
2

Lama Jam Kerja

Frekuensi

Persentase

4
0
4

%
100
0
100

<8 jam
>8 jam
Jumlah

Berdasarkan data tabel 3.4 dapat dilihat bahwa seluruh


pekerja lama jam kerjanya tidak lebih dari 8 jam yaitu 100%
atau 4 orang.
c. Jaminan Kesehatan Ditempat Kerja
Tabel 3.5
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jaminan Kesehatan
Ditempat Kerja di Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW
02 Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota
Sukabumi

35

No

Mempunyai Jaminan
Kesehatan

1
2

Frekuensi

Ya
Tidak
Jumlah

0
4
4

Persentase
%
0
100
100

Berdasarkan data tabel 3.5 dapat dilihat bahwa seluruh


pekerja

tidak mempunyai jaminan kesehatan ditempat

kerjannya yaitu 100% atau sebanyak 4 orang.


d.

Pengolahan Limbah
Tabel 3.6
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengolahan Limbah
Ditempat Kerja di Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW
02 Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong
Kota Sukabumi
No

Pengolahan Limbah
Frekuensi

1
2

Ya
Tidak
Jumlah

4
0
4

Persentase
%
100
0
100

Berdasarkan data tabel 3. dapat dilihat bahwa seluruh


pekerja

tidak mempunyai jaminan kesehatan ditempat

kerjannya yaitu 100% atau sebanyak 4 orang.


e.

Konstruksi Bangunan
Tabel 3.7
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Konstruksi Bangunan Di
Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02 Kelurahan
Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi

No
1
2

Konstruksi

Frekuensi

bangunan
Aman
Tidak aman

4
0
36

Persentase
%
100
0

Jumlah

100

Berdasarkan data tabel 3.6 dapat dilihat bahwa seluruh


pekerja mengatakan konstruksi bangunan di Pabrik Hills
Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02 aman yaitu dengan
persentase 100%.
f.

Hari Libur
Tabel 3.8
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Hari Libur Di Pabrik Hills
Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02 Kelurahan Sukakarya
Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi
No
1
2

Hari libur

Frekuensi

Ada libur
4
Tidak libur
0
Jumlah
4
Berdasarkan data tabel 3.7 dapat

Persentase

%
100
0
100
dilihat bahwa seluruh

pekerja mengatakan terdapat hari libur di Pabrik Hills Sepatu


Bapak Idam RT 01 RW 02 yaitu dengan persentase 100%.
g.

Pemeriksaan alat kerja


Tabel 3.9
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pemeriksaan Alat Kerja Di
Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02 Kelurahan
Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi
No
1
2

Pemeriksaan Alat

Frekuensi

Persentase

Kerja
%
Tidak ada
0
0
Ada
4
4
Jumlah
4
100
Berdasarkan data tabel 3.8 dapat dilihat bahwa seluruh

pekerja mengatakan terdapat pemeriksaan alat kerja setiap


sebulan sekali di Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02
yaitu dengan persentase 100%.
h.

Pengetahuan Alat Pelindung Diri

37

Tabel 3.10
Distribusi Frekuensi Berdasarkan Pengetahuan Alat Pelindung
Diri Di Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02
Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota
Sukabumi
No
1
2
3

Pengetahuan

Frekuensi

Persentase

%
Baik
4
4
Cukup
0
0
Kurang
0
0
Jumlah
4
100
Berdasarkan data tabel 3.9 dapat dilihat bahwa seluruh

pekerja di Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02 yaitu


termasuk

kedalam

kategori

pengetahuan

baik

dengan

persentase 100%.
i. Penggunaan Alat Pelindung Diri
Tabel 3.11
Distribusi Frekuensi Penggunaan Alat Pelindung Diri Di
Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02 Kelurahan
Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi
No

Penggunaan Alat

Frekuensi

Persentase %

Pelindung Diri
1
Baik
0
0
2
Cukup
0
0
3
Kurang
4
100
Jumlah
4
100
Berdasarkan data tabel 3.10 dapat dilihat bahwa penggunaan
alat pelindung diri di Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW
02 Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi
termasuk dalam kategori Kurang yaitu dengan persentase 100%.
j. Kesehatan Keselamatan Kerja
Tabel 3.12
Distribusi Frekuensi Kesehatan Keselamatan Kerja Di Pabrik
Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02 Kelurahan Sukakarya
Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi
38

No

Kesehatan

Frekuensi

Keselamatan Kerja
1
Baik
2
Cukup
3
Kurang
Jumlah
Berdasarkan data tabel 3.11 dapat

Persentase %

0
0
0
0
4
100
4
100
dilihat bahwa kesehatan

Keselamatan Kerja di Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW


02 Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi
termasuk dalam kategori Kurang yaitu dengan persentase 100%.
2. Analisa Data
DS :

Kategori Data

Diagnosa Keperawatan
Resiko tinggi kecelakaan

1. Pekerja di pabrik

kerja di pabrik hills

penyuluhan tentang

hills sepatu Bapa

sepatu akibat

keselamatan,

Idam mengatakan

ketidaksesuaian pekerja

keamanan, dan

jarang menggunakan

dalam penggunaan APD

kesehatan kerja (K3)

alat bantu bila

dengan karakteristik :

sedang bekerja

1. Pekerja di pabrik hills

DO :

sepatu mengatakan

1. Sebanyak 100%

seluruhnya atau dari

pekerja pabrik hills

100 % pekerja tidak

sepatu berjenis

menggunakan alat

kelamin laki-laki.

bantu pelindung diri

2. Sebanyak 100%

(APD)

pekerja pabrik hills


sepatu berusia
antara 45-52 tahun
3. Sebagian besar
pekerja pabrik hills
sepatu berlatar
belakang pendidikan
SMP sebanyak 25%,
39

Alternatif Solusi
1. Melakukan

2. Melakukan
penyuluhan tentang
APD

SD 25%, Pesantren
25% dan Madrasah
25%.
4. Seluruah pekerja
pabrik hills sepatu
memiliki lama jam
kerja 8 jam/hari
3. Diagnosa Keperawatan Prioritas
1. Resiko tinggi kecelakaan kerja dipabrik tahu akibat ketidaksesuaian
pekerja dalam penggunaan APD dengan karakteristik : Pekerja di pabrik
hills sepatu mengatakan seluruhnya atau dari 100 % pekerja tidak
menggunakan alat pelindung diri (APD).

40

4. Intervensi Keperawatan
No
1

Dx

Tujuan

Resiko

tinggi Tupan :

Strategi
1. Penyulu

Rencana
Kegiatan
1. Mempersiapka

Indikator
1. Acara

Kriteria Hasil
1. Peserta

Waktu

PJ

selasa,

Mahasiswa

kecelakaan kerja Setelah

han

n bahan

berlangsung

menghadiri

22

di pabrik tahu dilakukan

khusus

penyuluhan

sesuai dengan

penyuluhan

Septem

akibat

tindakan

kepada

yaitu power

pada waktu

ber

ketidaksesuaian

keperawatan

pegawai

point dan

yang

2015

pabrik

leaflet

pekerja

dalam selama 1

penggunaan APD minggu Resiko


dengan

terjadinya

karakteristik

: kecelakaan

Pekerja di pabrik berulang tidak


tahu mengatakan terjadi.

hills
sepatu.

2. Menyampaikan
izin untuk
melaksanakan
penyuluhan
3. Mengundang

seluruhnya atau Tupen :

pegawai untuk

dari

mengikuti

pekerja

100

% Setelah
tidak dilakukan

menggunakan

penyuluhan.

tindakan

rencana
2. pekerja
mengerti
tentang

ditentukan
2.Peserta

keselamatan,

antusias

keamanan dan

terhadap

kesehatan

kegiatan

kerja (K3)
3. Tidak ada

penyuluhan
3.Peserta dapat

hambatan saat

menjelaskan

pelaksaanaan

kembali

penyuluhan

tentang materi
yang

41

Pukul
16.00
WIB

alat

bantu keperawatan

(APD).

dijelaskan

selama 1

ketika ditanya

minggu,
diharapkan :
1. Kesadaran
pegawai
terhadap
pentingnya
APD

5. Implementasi dan Evaluasi


NO
1

Diagnosa

Tanggal/

Keperawatan
Resiko
tinggi

Waktu
22

kecelakaan kerja di

September

pabrik

hills

sepatu

Bapak

Idam

akibat Pukul 16.00

ketidaksesuaian
pekerja

2015
WIB

dalam

Implementasi

Evaluasi

Paraf
Mahasiswa

1. Memberikan
penyuluhan
tentang

22 September 2015 Pukul 17.30 WIB


tentang S: 100% (4 orang) pekerja pabrik hills

keselamatan,

keamanan

dan

kesehatan kerja (K3)

42

sepatu
mengerti

Bapak

Idam

mengatakan

mengenai

pentingnya

penggunaan APD.

penggunaan

APD

menggunakan

APD O: 100% (4 orang) pekerja pabrik hills

dengan karakteristik :

pada kelompok pekerja

sepatu Bapak Idam pada saat ditanya

Pekerja di pabrik hills

pabrik hills sepatu di

dapat

sepatu Bapak Idam

RW

Kelurahan

pengertian APD, tujuan dan manfaat

mengatakan

Sukakarya Kecamatan

penggunaan APD, dan jenis-jenis

seluruhnya atau dari

Warudoyong

APD.

100 % pekerja tidak

Sukabumi.

menggunakan

02

Kota

menyebutkan

A: Masalah teratasi

alat

P: Intervensi dihentikan

bantu (APD).

43

kembali

BAB IV
PEMBAHASAN
Salah satu kegiatan pokok dari keperawatan komunitas adalah melaksanakan
asuhan kesehatan kerja, melalui pengenalan masalah kesehatan masyarakat,
perencanaan kesehatan, pelaksanaan dan penilaian kesehatan menggunakan proses
keperawatan sebagai suatu pendekatan ilmiah keperawatan. Pengenalan masalah
merupakan salah satu tahap yang penting dalam keperawatan kesehatan kerja .
Dengan ditemukannya masalah kesehatan yang ada melalui pengkajian yang
komprehensif, diharapkan upaya-upaya yang dilakukan untuk

memecahkan

masalah kesehatan tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan pemecahan


masalah (problem solving approach), yang dituangkan dalam proses keperawatan
dengan memanfaatkan pendekatan epidemiologi yang dikaitkan dengan upaya
kesehatan dasar (PHC).
Adapun dalam pelaksanaan asuhan keperawatan kesehatan ada beberapa
kesenjangan diantaranya sebagai berikut:
1. Resiko tinggi kecelakaan kerja di pabrik tahu akibat ketidak sesuaian pekerja
dalam penggunaan APD dengan karakteristik : Pekerja di pabrik hills sepatu
Bapak Idam mengatakan seluruhnya atau dari 100 % pekerja tidak
menggunakan alat bantu (APD).
Alat pelindung diri adalah peralatan yang harus disediakan oleh instansi,
pengusaha untuk setiap pekerjanya (karyawan). Alat pelindung diri merupakan
peralatan keselamatan yang harus digunakan oleh tenaga kerja apabila berada
dalam lingkungan kerja yang berbahaya. (Cahyono,2004).

44

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil kuisioner Sebanyak 100%


pekerja pabrik hills sepatu Bapak Idam yang berada di Kp. Tegal Wangi RW 02
Kelurahan Sukakarya tidak menggunakan APD. Menurut (Cahyono, 2004)
Tujuan dari penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) adalah untuk melindungi
tenaga kerja dan resiko cedera dengan menciptakan penghalang dari bahaya
ditempat kerja.
Seluruh pekerja pabrik hills sepatu Bapak Idam yang berada di RW 02
berlatar belakang pendidikan SD, SMP, Madrasah dan Pesantren. Menurut
Suyanto, (2009) pengetahuan dan pengalaman cukup dapat mengatasi masalah
secara efektif. Pendidikan SMP dikatakan pendidikan yang cukup

maksimal

sehingga pengetahun tentang pencegahan resiko cedera cukup.


Sebanyak 100% pekerja pabrik hills sepatu Bapak Idam di Kp. Tegal Wangi
RW 02 memiliki lama jam kerja 8 jam/hari. Menurut Undang-Undang No.13
tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan, khususnya pasal 77 sampai dengan pasal 85.
Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk
melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini telah di atur dalam 2
sistem seperti yang telah disebutkan yaitu: 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam
kerja dalam seminggu. Berdasarkan data lama kerja >8 jam/hari merupakan waktu
yang lama dalam bekerja sehingga semakin lama bekerja semakin rentan terhadap
resiko terjadi cedera.
Menurut Sutrisno dan Kusmawan Ruswansi (2007) Faktor faktor yg
mempengaruhi kesehatan tenaga kerja Beban Kerja : fisik, mental, Lingkungan
kerja : fisik, kimia, biologi, ergonomi, psikologi, Kapasitas kerja : ketrampilan,
kesegaran jasmani, status kesehatan, usia.
Berdasarkan data yang diperoleh dari kuesioner sebanyak 100% pekerja
pabrik hills sepatu Bapak Idam yang berada di Kp. Tegal Wangi RW 02 tidak
pernah melakukan pemeriksaan peralatan yang akan digunakan bekerja. Menurut
Assauri (2004) preventive maintenance adalah kegiatan dan perawatan yang
dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan- kerusakan yang tidak terduga
dan menentukan kondisi atau keadaan yang menyebabkan fasilitas produksi
mengalami kerusakan pada waktu digunakan dalam proses produksi. Berdasarkan

45

data di RW 02 tidak pernah melakukan pengecekan alat, pengecekan alat penting


untuk menghindari kecelakaan dalam bekerja.
Sebanyak 100% pekerja pabrik hills sepatu Bapak Idam di Kp. Tegal Wangi
RW 02 tidak pernah menggunakan alat bantu (APD) secara lengkap saat bekerja
melakukan pengelasan. Menurut Sutrisno dan Kusmawan Ruswansi (2007) Untuk
dapat menciptakan kondisi yang aman dan sehat dalam bekerja diperlukan adanya
unsur-unsur dan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja antara lain
Adanya alat pelindung diri (APD). Berdasarkan data pekerja pabrik tahu tidak
menggunakan APD, APD sangat penting digunakan untuk menghindari
kecelakaan dalam bekerja.
Kebiasaan menggunakan APD yang baik merupakan cara aman bagi pekerja
yang berada di lingkungan kerja berdebu atau percikan api untuk melindungi
kesehatan (Budiono, 2002).

BAB V
46

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu unsur yang
penting dalam ketenaga kerjaan. Oleh karena itulah sangat banyak berbagai
peraturan perundang-undangan yang dibuat untuk mengatur masalah
kesehatan dan keselamatan kerja. Meskipun banyak ketentuan yang mengatur
mengenai kesehatan dan keselamatan kerja, tetapi masih banyak faktor di
lapangan yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja yang disebut
sebagai bahaya kerja dan bahaya nyata. Masih banyak pula perusahaan yang
tidak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan kerja sehingga banyak
terjadi kecelakaan kerja.
Di RW 02 Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong kota
Sukabumi mahasiswa profesi STIKES Kota Sukabumi menemukan prioritas
masalah kesehatan yaitu : Resiko tinggi kecelakaan kerja di pabrik hills sepatu
Bapak Idam akibat ketidak sesuaian pekerja dalam penggunaan APD dengan
karakteristik : Pekerja di pabrik hills sepatu Bapak Idam mengatakan
seluruhnya atau dari 100 % pekerja tidak menggunakan alat bantu (APD).
B. Rekomendasi
Untuk Karyawan Pabrik Hills Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02
Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi Diharapkan
setelah diadakannya praktik keperawataan kesehatan kerja yang dilakukan
Mahasiswa profesi Ners STIKES Kota Sukabumi karyawan pabrik Hills
Sepatu Bapak Idam RT 01 RW 02 Kelurahan Sukakarya Kecamatan
Warudoyong Kota Sukabumi mampu mengaplikasikan pengetahuan tentang
keamanan dan keselamatan kerja dalam bekerja sehari- hari.

1. Untuk Kedepannya

47

Diharapkan kedepannya dari pihak perusahaan untuk dapat


mengutamakan keselamatan para pekerja sehingga dalam praktik kerja
mengupayakan penggunaan Alat Pelindung Diri guna meminimalisir
kecelakaan yang mungkin terjadi di masa yang akan datang serta
diharapkan semua pekerja di perusahaan memiliki jaminan kesehatan yang
teregistrasi pada BPJS.

48