Anda di halaman 1dari 23

I.

TUJUAN PEMBELAJARAN
Dapat mengetahui definisi epilepsy, gejala dan tanda

epilepsy serta faktor pemicu terjadinya epilepsi dan mengetahui


terapi yang tepat dalam penanganan epilepsi.
II.
DASAR TEORI
II.1 Definisi
Definisi epilepsi menurut Commision on Epidemiology and
Prognosis of Epilepsi, adalah munculnya kejang paling tidak dua
kali tanpa provokasi dengan jarak antar kedua kejang paling
tidak selama 24 jam.
Epilepsi adalah gangguan yang tampak sebagai suatu gejala
akibat

adanya

aktivitas listrik di otak yang ditimbulkan oleh berbagai etiologi.


Epilepsi merupakan kumpulan dari berbagai jenis kejang yang
bervariasi

dalam

keparahan,

penampilan,

hal

penyebab,

konsekuensi,

manajemennya.

dan

Epilepsi

memperlihatkan kekambuhan periodik kejang dengan atau tanpa


konvulsi.

Pasien

menunjukkan

yang

menderita

keterlambatan

epilepsi

perkembangan

mungkin
saraf,

juga

masalah

memori ataupun ingatan serta penurunan nilai kognitif. (Dipiro)


II.2 Epidemiologi
Kejang adalah masalah neurologic yang sering dijumpai.
Diperkirakan bahwa 1 dari 10 orang akan mengalami kejang
suatu saat selama hidup mereka. dua puncak usia untuk
insidensi kejang adalah decade pertama kehidupan dan setelah
usia

60

tahun.

Kejang

terjadi

akibat

lepasnya

muatan

paroksismal yang berlebihan dari suatu populasi neuron yang


sangat mudah terpicu (focus kejang) sehigga mengganggu fungsi
normal otak. Namun, kejang juga terjadi dari jaringan otak
normal dibawah kondisi patologik tertentu, seperti perubahan
keseimbangan asam-basa atau elektrolit.

Diperkirakan bahwa 10% orang akan mengalami paling


sedikit satu kali kejang selama hidup mereka dan sekitar 0,3%
sampai 0,5% akan didiagnosis mengidap epilepsy (didasarkan
pada kriteria dua atau lebih kejang spontan/tanpa pemicu).
Insidensi

berdasarkan

usia

memperlihatkan

pola

konsisten

berupa angka paling tinggi pada tahun pertama kehidupan,


penurunan pesat manuju usia remaja, dan pendataran secara
bertahap selama usia pertengahan untuk kembali memuncak
pada usia setelah 60 tahun.lebih dari 75% pasien dengan
epilepsy mengalami kejang pertama sebelum usia 20 tahun.
Apabila kejang pertama terjadi setelah usia 20 tahun, maka
gangguan kejang tersebut biasanya sekunder. (Price&Wilson,
Hal.1157-1158)
Setiap tahun, terdapat sekitar 125.000 kasus epilepsi baru
terjadi dimana, 30% terjadi pada usia lebih muda dari usia 18
pada saat diagnosis. Terjadinya kejang pertama dapat terjadi
pada

bayi

baru

lahir

dan

anak-anak

dan

yang

kedua

puncak terjadi pada pasien yang lebih tua dari usia 65 tahun.
Paling
10%

sedikit
dari

pasien

di

fasilitas

mengambil

perawatan

jangka

setidaknya

panjang
satu

obat antiepilepsi (AED). (Dipiro, Hal. 1023)


II.3 Klasifikasi
International League Against Epilepsy (ILAE) mengusulkan
dua skema utama untuk klasifikasi dari kejang dan epilepsy yakni
klasifikasi

internasional

dari

kejang

epilepsy

(International

Classification of Epileptic Seizures) dan klasifikasi internasional


dari epilepsi (dan gejala epilepsy (International Classificiation of
the Epilepsies and Epileptic Syndromes).

Berdasarkan
(International

klasifikasi

Classification

of

internasional

dari

epilepsi

Epileptic

Seizures)

secara

patofisiologis kejang dibagi menajdi kejang parsial dan kejang


umum.
Tabel 1: Klasifikasi internasional dari epilepsi (International
Classification of Epileptic Seizures)

3
4

Kejang unclassified (yang tidak digolongkan)


Status Epileptikus

Kejang parsial dengan perubahan kesadaran disebut juga


sebagai parsial kompleks. Dengan kejang parsial kompleks,
pasien mungkin mengalami automatisms (bergerak sendiri),
periode kehilangan memori, atau perubahan tingkah laku. Kejang
parsial

kompleks

dapat

berkembang

menjadi

kejang

GTC

(Generalizd Tonic-Clonic).
Kejang umum memiliki manifestasi klinis yang menunjukkan
keterlibatan kedua belahan otak. Kejang umum terjadi secara

tiba-tiba, sehingga dapat mnganggu kegiatan yang sedang


berlangsung, tatapan kosong, dan mata membelalak ke atas
secara singkat. Umumya terjaipada anak-anak dan remaja.
Tabel 2: Klasifikasi internasional dari epilepsi (dan gejala epilepsy
(International Classificiation of the Epilepsies and Epileptic
Syndromes).

2.4 Gejala dan Tanda


Gejala dan tanda dari epilepsi dibagi berdasarkan klasifikasi
dari epilepsi, yaitu:
1) Kejang parsial
Lesi yang terdapat pada kejang parsial

berasal dari

sebagian kecil dari otak atau satu hemisfer serebrum. Kejang


terjadi pada satu sisi atau satu bagian tubuh dan kesadaran
penderita umumnya masih baik.

Kejang parsial sederhana


Gejala yang timbul berupa kejang motorik fokal, fenomena
halusinatorik, psikoilusi, atau emosional kompleks. Pada

kejang parsial sederhana, kesadaran penderita masih baik.


Kejang parsial kompleks
Gejala bervariasi dan hampir sama dengan kejang parsial
sederhana, tetapi yang paling khas terjadi adalah penurunan

kesadaran dan otomatisme.


2) Kejang umum
Lesi yang terdapat pada kejang umum berasal dari sebagian
besar dari otak atau kedua hemisfer serebrum. Kejang
terjadi pada seluruh bagian tubuh dan kesadaran penderita

umumnya menurun.
Kejang Absans

Hilangnya

kesadaran

mendadak

disertai

sessat

amnesia.

(beberapa
Serangan

detik)

tersebut

dan
tanpa

disertai peringatan seperti aura atau halusinasi, sehingga

sering tidak terdeteksi.


Kejang Atonik
Hilangnya tonus mendadak dan biasanya total pada otot
anggota badan, leher, dan badan. Durasi kejang bisa sangat

singkat atau lebih lama.


Kejang Mioklonik
Ditandai dengan kontraksi otot bilateral simetris yang cepat
dan singkat. Kejang yang terjadi dapat tunggal atau

berulang.
Kejang Tonik-Klonik
Sering disebut dengan kejang grand mal. Kesadaran hilang
dengan cepat dan total disertai kontraksi menetap dan masif
di seluruh otot. Mata mengalami deviasi ke atas. Fase tonik
berlangsung 10 - 20 detik dan diikuti oleh fase klonik yang
berlangsung sekitar 30 detik. Selama fase tonik, tampak
jelas fenomena otonom yang terjadi seperti dilatasi pupil,

pengeluaran air liur, dan peningkatan denyut jantung.


Kejang Klonik
Gejala yang terjadi hampir sama dengan kejang mioklonik,
tetapi kejang yang terjadi berlangsung lebih lama, biasanya

sampai 2 menit.
Kejang Tonik
Ditandai dengan kaku dan tegang pada otot. Penderita
sering mengalami jatuh akibat hilangnya keseimbangan,

2.5 Etiologi
Apa pun yang mengganggu homeostasis normal neuron dan mengganggu
stabilitas dapat memicu aktivitas abnormal dan kejang. Pasien dengan
keterbelakangan mental dan cerebral palsy dapat meningkatkan resiko terjadinya
kejang. Penyebab kejang pada orang tua (lansia) kemungkinan multifaktorial dan
termasuk penyakit serebrovaskular (iskemik dan stroke hemoragik), gangguan

neurodegenerative, tumor, trauma kepala, gangguan metabolisme, dan infeksi


SSP.
Banyak faktor yang dapat memicu terjadinya kejang, diantaranya kurang
tidur, adanya rangsangan sensorik, dan stress. Perubahan hormone ketika
menstruasi, masa pubertas dan masa kehamilan pun dapat menyebabkan
meningkatnya frekuensi kejang. Penggunaan teofilin, alcohol, fenotiazin dalam
dosis tinggi, antidepresan (terutama maprotilin atau buproprion), dan penggunaan
narkoba juga dapat memprovokasi kejang.
Etiologi dari epilepsi adalah multifaktorial, tetapi sekitar 60
% dari kasus epilepsi tidak dapat ditemukan penyebab yang pasti
atau yang lebih sering kita sebut sebagai kelainan idiopatik.
Terdapat dua kategori kejang epilepsi yaitu kejang fokal dan
kejang umum. Secara garis besar, etiologi epilepsi dibagi menjadi
dua, yaitu :

2.6 Prognosis
Prognosis epilepsi

tergantung

pada

beberapa

hal,

diantaranya jenis epilepsi, faktor penyebab, saat pengobatan


dimulai, dan ketaatan minum obat. Prognosis epilepsi cukup
menggembirakan. Pada 50-70% penderita epilepsi serangan
dapat dicegah dengan obat-obat, sedangkan sekitar 50% pada
suatu waktu akan dapat berhenti minum obat.

10

Prognosis epilepsi dihubungkan dengan terjadinya remisi


serangan baik dengan pengobatan maupun status psikososial,
dan status neurologis penderita. Batasan remisi epilepsi yang
sering dipakai adalah 2 tahun bebas serangan (kejang) dengan
terapi. Pada pasien yang telah mengalami remisi 2 tahun harus
dipertimbangkan untuk penurunan dosis dan penghentian obat
secara berkala.
2.7 Patofisiologi
Aktivitas kejang ditandai dengan pelepasan paroksismal
terjadi
serempak dalam populasi besar kortikal neurons.
Kejang terjadi akibat muatan paroksismal yang berlebihan
dari sebuah fokus kejang atau dari jaringan normal yang
terganggu akibat suatu keadaan patologik. Aktivitas kejang
sebagian tergantung pada lokasi lepas muatan yang berlebihan
tersebut. Lesi di otak tengah, thalamus, dan korteks serebrum
kemungkinan besar bersifat epileptogenic, sedangkan lesi di
serebelum dan batang otak umumnya tidak memicu kejang.
Di tingkat membran sel, fokus kejang memperlihakan
beberapa fenomena kimiawi, diantaranya:
Instabilitas membran sel saraf, sehingga sel lebih mudah

mengalami pengaktifan.
Neuron-neuron
hipersensitif

dengan

ambang

untuk

melepaskan muatan menurun dan apabila terpicu akan

melepaskan muataan secara berlebihan.


Kelainan polarisasi (polarissi berlebihan, hipopolarisasi, atau
selang waktu dalam repolarisasi) yang disebabkan oleh
kelebihan

asetilkolin

aminobutirat (GABA).
Ketidakseimbangan ion

atau
yang

defisiensi

asam

gama-

mengubah

keseimbangan

asam-basa atau eletrolit, yang mengganggu homeostatis


kimiawi neuron sehingga terjadi kelainan pada depolarisasi

11

neuron.

Gangguan

keseimbangan

ini

menyebabkan

peningkatan berlebihan neurotransmitter eksitatorik atau


deplesi neurotransmitter inhibitorik.
Perubahan-perubahan metabolik yang terjadi selama dan
segera setelah kejang sebagian disebabkan oleh meningkatanya
kebutuhan energi akibat hiperaktivitas neuron. Selama kejang,
kebutuhan metabolic scara drastis meningkat, lepas muatan
listrik sel-sel saraf motoric dapat meningkat menjadi 1000 per
detik. Aliran darah otak meningkat, demikian juga respirasi dan
glikolisis jaringan. Asetilkolin mucul di cairan serebrospinal (CSS)
selama dan setelah kejang. Asam glutamate mungkin mengalami
deplesi selama akitifitas kejang.
Secara umum, tidak dijumpai kelainan lain yang nyata pada
autopsy. Bukti histopatologik menunjang hipotesis bahwa lesi
lebih bersifat neurokimiawi bukan structural. Belum ada faktor
patologik yang secara konsisten ditemukan. Kelainan fokal pada
metabolism kalium dan asetilkolin dijumpai diantara kejang.
Focus kejang tampaknya sangat peka terhadap asetilkolin, suatu
neurotransmitter

fasilitatorik,

focus-fokus

tersebut

lama

mengontrol

atau

mengikat dan menyingkirkan asetilkolin.

2.8 Tatalaksana Terapi


Tujuan terapi epilepsi

adalah

untuk

mengurangi frekuensi kejang dan memastikan kepatuhan pasien


terhadap pengobatan, dan memungkinkan pasien dapat hidup
dengan normal. Khusus untuk status epileptikus, terapi sangat
penting untuk menghindarkan pasien dari keparahan akibat
serangan kejang yang berlangsung lama.
2..8.1Terapi Non-Farmakologi
Terapi nonfarmakologis untuk epilepsi meliputi diet, operasi,
dan

vagal

12

stimulasi saraf (VNS), yang merupakan implantasi dari saraf


vagal
stimulator. Sebuah stimulator saraf vagus adalah perangkat
medis

implan

disetujui untuk digunakan pada epilepsi. System NCP (Neuro


Cybernetic prosthesis) diindikasikan untuk digunakan sebagai
terapi tambahan dalam mengurangifrekuensi kejang pada orang
dewasa dan remaja yang lebih tua dari 12 tahun usia dengan
kejang parsial onset yang tahan untuk AED.
a. Pembedahan
Merupakan opsi pada pasien yang tetap mengalami kejang
meskipun sudah mendapat lebih dari 3 agen antikonvulsan,
adanya abnormalitas fokal, lesi epileptik yang menjadi pusat
abnormalitas epilepsi. Berikut ini merupakan jenis bedah epilepsi
berdasarkan letak fokus infeksi :
Lobektomi temporal
Eksisi korteks ekstratemporal
Hemisferektomi
Callostomi
Terapi nutrisi
b. Diet Ketogenik
Diet ketogenik adalah diet tinggi lemak, cukup protein, dan
rendah karbohidrat, yang akan menyediakan cukup protein untuk
pertumbuhan,

terapi

kurang

karbohidrat

untuk

kebutuhan

metabolisme tubuh. Dengan demikian tubuh akan menggunakan


lemak sebagai sumber

energi, yang pada gilirannya akan

menghasilkan senyawa keton. Mekanisme diet ketogenik sebagai


antiepilepsi masih belum diketahui secara pasti, namun senyawa
keton

ini

diperkirakan

berkontribusi

kejang.
2.7.2 Terapi Farmakologi

13

terhadap pengontrolan

Terapi farmakologi untuk epilepsi dapat menggunakan obatobat antiepilepsi yaitu:


Tabel 3: Obat Pilihan untuk Epilepsi

14

15

16

17

III.

DESKRIPSI KASUS
An. Manis berusia 8 tahun, berat badan 40 kg, tiba-tiba

terjatuh,

kehilangan

kesadaran

dan

mengalami

kejang

disekolahnya. Kejang terjadi kurang lebih 5 menit setelah An.


Manis bermain kejar-kejaran denga teman sekelasnya. Ibu guru
langsung membawa An. Manis ke Ruang Kesehatan. 15 menit
kemudian An. Manis kembali kejang dan segera An. Manis
dilarikan ke RS. Berdasarkan informasi dari orang tua An. Manis,

18

kejang yang dialamai An. Manis sudah terjadi sejak 2 tahun yang
lalu akibat demam tinggi. Tetapi kejang terjadi hanya beberapa
detik saja. hampir 3 bulan terakhir kejang sudah tidak lagi terjadi
sehingga ornag tua An. Manis tidak memerikan obat yang biasa
diminumnya

(DilantinTM

300

mg/hari)

untuk

mengontrol

kejangnya.
IV.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN KASUS DENGAN METODE


SOAP
1. SUBJEKTIF
Nama Pasien
Umur
Berat Badan
Keluhan
Tiba-tiba

: An. Manis
: 8 tahun
: 40 kg
:
terjatuh, hilang kesadaran, dan mengalami

kejang disekolahnya kurang lebih 5 menit. dan kejang


kembali setelah 15 menit.
Riwayat penyakit:
2 tahun yang lalu sudah mengalami kejang akibat
demam tinggi selama beberapa detik saja.
Riwayat pengobatan: DilantinTM 300 mg/hari
2. OBJEKTIF
3. ASSESMENT
Berdasarkan keluhan pasien, diduga pasien bernama An.
Manis menderita status epileptikus. Hal ini dapat dilihat dari
keadaan An. manis yang tiba-tiba terjatuh lalu kehilangan
kesadaran dan mengalami kejang lebih kurang 5 menit, dimana
15 menit kemudian An. Manis kembali mengalami kejang. Hal ini
dapat menunjukkan bahwa pasien terkena bangkitan status
epileptikus, karena adanya dua rangkaian kejang tanpa adanya
pemulihan kesadaran diantara kejang, dan kesadarannya belum
pulih setelah 5 menit.
Status epileptikus yang dialami An. Manis dapat disebabkan
oleh faktor pencetus yang diduga disebabkan oleh pengobatan
yang tiba-tiba dihentikan 3 bulan terakhir dan kejang akibat

19

demam tinggi. Hal ini dapat menimbulkan bangkitan epilepsi


yang lama bahkan bisa menjadi buruk.
4. PLAN
a. Terapi non-farmakologi
Pembedahan
Diet ketogenik
b. Terapi farmakologi
Prehospital :
Pada kasus diatas, dapat diberikan diazepam rectal 10
mg yang merupakan terapi utama dan pertahankan patensi
jalan napas, berikan oksigen, periksa fungsi kardiorespirasi.
In hospital :
Lorazepam 0,1 mg/kg intravena diberikan 4 mg bolus,
diulang satu kali setelah 10-20 menit jika tidak ada dapat
diberikan diazepam intravena 0,5 mg/kg. Berikan obat
antiepilepsi yang biasa digunakan bila pasien sudah pernah
mendapat terapi obat antiepilepsi. Terapi obat darurat
tambahan mungkin tidak diperlukan jika kejang berhenti dan
penyebab status epileptikus cepat diperbaiki.
Obat obat diatas diberikan dengan alasan

dimana

mekanisme kerjanya meningkatkan hambatan dari GABA oleh


ikatan pada benzodiazepine GABA dan kompleks reseptor
barbiturate. Sehingga kejang berhenti.
Ketika kejang sudah tidak kambuh lagi dapat diberikan obat
antiepilepsi yang biasa digunakan untuk mengontrol epilepsinya
dan mengatasi serangan primer maupun sekunder, yaitu fenitoin
Na dosis 300 mg/hari 3 kali sehari dalam dosis terbagi.
Jika sudah bebas kejang selama 2 tahun pengobatan yang
bisa dibuktikan secara klinis melalui EEG dengan hasil baik.
Penghentian dilakukan secara bertahap, setidaknya selama 3
bulan dengan cara menurunkan dosisnya. Tidak boleh dihentikan
secara mendadak karena akan menyebabkan terjadinya kejang
hebat pada pasien.
V.
PEMILIHAN OBAT RASIONAL

20

Pemilihan obat rasional dilakukan dengan menganalisis


obat-obat yang digunakan dengan lima kategori yaitu tepat
indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat dosis dan waspada
terhadap efek samping obat (4H 1W).
Tepat indikasi
Nama
Obat
Diazepam

Indikasi

Mekanisme Aksi

Status

meningkatkan

Fenitoin

epileptikus

hambatan dari GABA

Epilepsi semua oleh


jenis

Keterangan
Tepat indikasi

ikatan

pada

kecuali benzodiazepine

petit mal dan GABA dan kompleks


status

reseptor barbiturate.

epileptikus

Sehingga

kejang

berhenti.
Inaktivasi kanal Na
sehingga
menurunkan
kemampuan

syaraf

untuk
menghantarkan
muatan listrik

Tepat Obat

Nama Obat
Diazepam

Alasan sebagai drug of choice


Dapat mengobati serangan status epileptikus

Fenitoin

dan banyak digunakan dalam pengobatan


Merupakan OAE yang pernah digunakan
oleh pasien dan digunakan untuk terapi
pemeliharaan dan pengontrolan

Tepat Pasien

21

Keterangan
Tepat obat

Nama Obat

Kontra Indikasi

Diazepam

Hipersensitif

Fenitoin

dan fenitoin

dengan diazepam Tepat pasien tidak ada


riwayat alergi

Tepat Dosis

Nama Obat

Dosis Standar

Dosis yang diberikan

Diazepam

0,3-0,5 mg/kg i.v

0,5 mg/kg i.v

Fenitoin

200-300 mg/hari

300 mg/hari

Keterangan

Keterangan
Tepat dosis

Waspada Efek Samping Obat

Nama Obat
Diazepam

Efek Samping Obat


Menimbulkan rasa kantuk, konsentrasi

Saran
Beristirahat yang cukup dan

Fenitoin

berkurang, mual, edema.

jangan melakukan aktivitas

Nyeri kepala, insomnia, ruam, akne

diluar

demam efek hematologic

mengatasi demam yang bila


timbul

rumah.
dapat

Untuk
diberikan

ibuprofen syrup. Dan berikan


vit B complex jika efek
samping

fenitoin

anemia

terjadi.

VI.

EVALUASI OBAT
Diazepam rectal 10 mg (Stesolid)

1 suppos

25.500
Diazepam i.v 0,5 mg/kg (valium) 1 ampul injeksi

Rp.
Rp.

10.250
Terapi pemeliharaan / pengontrolan untuk 1 bulan :
Fenitoin Na kapsul 100 mg (Dilantin) 1 botol
Rp. 287.775
Jumlah

Rp.

323.025
VII.

MONITORING DAN FOLLOW UP


Monitoring efek samping obat
Monitoring fungsi hati

22

Monitoring tekanan darah


Monitoring EEG
Monitoring
konsentrasi

perkembangan dari bangkitan epilepsy


Analisis darah lengkap, kadar elektrolit dan urea, kalsium,

obat

dalam

darah

dan

glukosa pembekuan darah, dan jika mungkin kadar obat


epilepsi dalam darah.
VIII. KOMUNIKASI, INFORMASI, DAN EDUKASI PASIEN
Beritahu orangtua agar dapat memberikan makanan yang
tidak menyebabkan kenaikan berat badan pada anak,

seperti makanan yang banyak mengandung lemak.


Sarankan kepada orangtua agar anaknya tidak terlalu

kecapean, dan tidur yang cukup.


Penggunaan obat harus sehemat mungkin dan sedapat

mungking dalam jangka waktu pendek.


Jika terjadi kambuhan SE segera hubungi dokter.
Berikan informasi kepada orang tua pasien seputar ESO

yang potensial terjadi.


Jangan berikan obat melebihi dosis yang ditentukan.
Jangan mengganti sediaan obat ataupun dosis

IX.
X.

sepengetahuan dokter.
PERTA NYAAN DAN JAWABAN PERTANYAAN
KESIMPULAN

23

tanpa