Anda di halaman 1dari 15

Saat ini kita telah memasuki era globalisasi, dimana waktu, ruang,

dan jarak bukan lagi menjadi pembatas. Globalisasi dapat berpengaruh


terhadap perubahan nilai-nilai budaya suatu bangsa. mau tidak mau, suka
tidak suka telah datang dan menggeser nilai-nilai yang telah ada. Nilainilai tersebut, ada yang bersifat positif ada pula yang bersifat negatif.
Semua ini merupakan ancaman, tantangan, dan sekaligus sebagai
peluang bagi bangsa ini untuk berkreasi dan berinovasi di segala aspek
kehidupan, khususnya pada generasi muda Indonesia.

Di era globalisasi, pergaulan antarbangsa semakin kental. Batas


antarnegara hampir tidak ada artinya, batas wilayah tidak lagi menjadi
penghalang. Di dalam pergaulan antarbangsa yang semakin kental itu,
akan terjadi proses akulturasi, saling meniru, dan saling mempengaruhi di
antara budaya masing-masing. Adapun yang perlu dicermati dari proses
akulturasi tersebut adalah proses lunturnya nilai budaya suatu bangsa itu
sendiri,

sebagai

contoh

yaitu

munculnya

sikap

individualistis,

konsumerisme, semakin menonjolnya sikap materialistis, dan lunturnya


budaya leluhur dari semulanya. Arus informasi yang semakin pesat
mengakibatkan akses masyarakat terhadap nilai-nilai asing yang negatif
semakin besar. Apabila proses ini tidak segera dibendung, akan berakibat
lebih serius ketika pada puncaknya masyarakat tidak bangga lagi pada
bangsa dan negaranya. Pada genersi muda hal ini merupakan masalah
yang serius karena mereka adalah tunas penerus bangsa, yang jika tidak
dibendung akan mengancam eksistensi dan ciri luhur bangsa ini.

Ideologi

Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu idea


dan logia. Idea berasal dari idein yang berarti melihat. Idea juga diartikan
sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil perumusan sesuatu
pemikiran

atau

rencana.

Kata

logia

mengandung

makna

ilmu

pengetahuan atau teori, sedang kata logis berasal dari kata logos dari

kata

legein

yaitu

berbicara.

Istilah

ideologi

sendiri

pertama

kali

dilontarkan oleh Antoine Destutt de Tracy (1754 1836), ketika


bergejolaknya Revolusi Prancis untuk mendefinisikan sains tentang ide.
Jadi dapat disimpulkan secara bahasa, ideologi adalah pengucapan atau
pengutaraan terhadap sesuatu yang terumus di dalam pikiran. Dalam
tinjauan terminologis, ideologi adalah cara hidup/ tingkah laku atau hasil
pemikiran yang menunjukan sifat-sifat tertentu dari seorang individu atau
suatu kelas. Ideologi adalah watak/ ciri-ciri hasil pemikiran dari pemikiran
suatu kelas di dalam masyarakat atau partai politik atau pun lainnya.
Ideologi ternyata memiliki beberapa sifat, yaitu dia harus merupakan
pemikiran mendasar dan rasional. Kedua, dari pemikiran mendasar ini dia
harus bisa memancarkan sistem untuk mengatur kehidupan. Ketiga,
selain kedua hal tadi, dia juga harus memiliki metode praktis bagaimana
ideologi tersebut bisa diterapkan, dijaga eksistesinya dan disebarkan.
Pancasila dijadikan ideologi dikerenakan, Pancasila memiliki nilai-nilai
falsafah mendasar dan rasional. Pancasila telah teruji kokoh dan kuat
sebagai dasar dalam mengatur kehidupan bernegara. Selain itu, Pancasila
juga merupakan wujud dari konsensus nasional karena negara bangsa
Indonesia ini adalah sebuah desain negara moderen yang disepakati oleh
para pendiri negara Republik Indonesia kemudian nilai yang terkandungan
dalam Pancasila dilestarikan dari generasi ke generasi. Di samping
pengertian formal menurut hukum atau formal yudiris maka Pancasila
juga mempunyai bentuk dan juga mempunyai isi dan arti (unsur-unsur
yang menyusun Pancasila tersebut).
1. Pengamalan Pancasila dalam Rangka Menghargai Perbedaan
Pancasila dirumuskan dalam semangat kebersamaan. Salah satunya
terwujud dalam sikap menghargai perbedaan. Perbedaan pendapat
tidak menjadi hambatan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih
baik. Hal itu merupakan sikap yang harus kita tiru. Pada waktu itu
bangsa Indonesia belum memiliki dasar negara. Tetapi, sikap para
tokoh telah mencerminkan semangat kebersamaan dan jiwa ksatria.
Mereka bersedia menerima perbedaaan apa pun ketika proses

perumusan dasar negara berlangsung. Nah, sekarang kita telah


memiliki Pancasila sebagai dasar negara yang kuat. Kekuatan
Pancasila

telah

terbukti

selama

berdirinya

negara

Indonesia.

Pancasila mampu menyatukan seluruh bangsa Indonesia. Pancasila


juga mampu bertahan menghadapi rongrongan pemberontak. Oleh
karena itu, kita harus bangga memiliki dasar negara yang kuat. Kita
harus dapat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
sehari-hari. Salah satunya adalah menghargai perbedaan. Kita harus
memiliki sikap menghargai perbedaan seperti dalam perumusan
Pancasila. Kita harus menyadari bahwa negara kita terdiri atas
beragam suku bangsa. Setiap suku Bangsa memiliki ragam budaya
yang berbeda. Perbedaan suku bangsa dan budaya bukan menjadi
penghalang untuk bersatu. Tetapi, justru perbedaan itu akan
menjadikan persatuan negara kita kuat seperti Pancasila.

2. Pengamalan Pancasila dalam Wujud Sikap Toleransi Mengamalkan


pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (falsafah hidup bangsa)
berarti melaksanakan pancasila dalam kehidupan sehari-hari ,
menggunakan pancasila sebagai petunjuk hidup sehari-hari , agar
hidup kita dapat mencapai kesejahteraan dan kebahagian lahir dan
batin.
Pengamalan pancasila dalam kehidupan sehari-hari ini adalah
sangat penting karena dengan demikian diharapkan adanya tata
kehidupan

yang

serasi

(harmonis).

Bahwa pengamalan pancasila secara utuh (5 sila) tersebut adalah


merupakan menjadi syarat penting bagi terwujudnya cita-cita
kehidupan

berbangsa

dan

bernegara.

Pola Pelaksanaan Pedoman Pelaksanaan Pengamalan Pancasila Pola


pelaksanaan

pedoman

pelaksanaan

pengamalan

pancasila

dilakukan agar Pancasila sungguh-sungguh dihayati dan diamalkan


oleh segenap warga negara, baik dalam kehidupan orang seorang
maupun

dalam

kehidupan

kemasyarakatan.

Oleh

sebab

itu,

diharapkan

lebih

terarah

usaha-usaha

pembinaan

manusia

Indonesia agar menjadi insan Pancasila dan pembangunan bangsa


untuk mewujudkan masyarakat Pancasila.
1. Jalur-jalur yang digunakan
1) Jalur pendidikan
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam
pengamalan Pancasila, baik pendidikan formal (sekolah-sekolah)
mapun

pendidikan

nonformal

(di

keluarga

dan

lingkungan

masyarakat), keduanya sangat erat kaitanya dengan kehidupan


manusia. Dalam pendidikan formal semua tindak-perbuatannya
haruslah mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila. Dalam pendidikan
keluarga

pengamalan

Pancasila

harus

ditanamkan

dan

dikembangkan sejak anak-anak masih kecil, sehingga proses


pendarah-dagingan nilai-nilai Pancasila dengan baik dan menuntut
suasana keluarga yang mendukung. Lingkungan masyarakat juga
turut menentukansehingga harus dibina dengan sungguh-sungguh
supaya menjadi tempat yang subur bagi pelaksanaan pengamalan
Pancasila. Melalui pendidikan inilah anak-anak didik menyerap nilainilai moral Pancasila. Penyerapan nilai-nilai moral Pacasila diarahkan
berjalan melalui pemahaman dari pemikiran dan dan pengamalan
secara

pribadi.

Pancasila

Sasaran

adalah

pelaksanaan

perorangan,

pedomaan

keluarga,

pengamalan

masyarakat,

baik

dilingkungan tempat tinggal masing-masing, maupun di lingkungan


tempat bekerja.

2) Jalur media massa


Peranan media massa sangat menjanjikan karena pengaruh
media massa dari dahulu sampai sekarang sangat kuat, baik dalam
pembentukan karakter yang positif maupun karakter yang negatif,
sasaran media massa sangat luas mulai dari anak-anak hingga
orang tua. Sosialisasi melalui media massa begitu cepat dan
menarik sehingga semua kalangan bisa menikmati baik melalui

pers, radio, televisi dan internet. Hal itu membuka peluang besar
golongan tertentu menerima sosialisasi yang seharusnya belum
saatnya mereka terima dan juga masuknya sosialisasi yang tidak
bersifat membangun. Media massa adalah jalur pendidikan dalam
arti luas dan peranannya begitu penting sehingga perlu mendapat
penonjolan tersendiri sebagai pola pedoman pengamalan Pancasila.
Sehingga dalam menggunakan media massa tersebut harus dijaga
agar tidak merusak mental bangsa dan harus seoptimal mungkin
penggunaannya untuk sosialisasi pembentukan kepribadian bangsa
yang pancasilais. Jadi, untuk sosialisasi-sosialisasi yang mengancam
penanaman pengamalan Pancasila harus disensor.
3) Jalur organisasi sosial politik
Pengamalan Pacansila harus diterapkan dalam setiap elemen
bangsa dan negara Indonesia. Organisasi sosial politik adalah wadah
pemimpin-pemimpin
sesuai

dengan

bangsa

keahliannya,

dalam

bidangnya

peran

dan

masing-masing

tanggung

jawabnya.

Sehingga segala unsur-unsur dalam organisasi sosial politik seperti


para

pegawai

Republik

Indonesia

harus

mengikuti

pedoman

pengmalan Pancasial agar berkepribadian Pancasila karena mereka


selain warga negara Indonesia, abdi masyarakat juga sebagai abdi
masyarakat, dengan begitu maka segala kendala akan mudah
dihadapi dan tujuan serta cita-cita hidup bangsa Indonesia akan
terwujud.
3. Penciptaan suasana yang menunjang
1) Kebijaksanaan pemerintah dan peraturan perundang-undangan.
Penjabaran kebijaksanaan pemerintah dan perundangundangan merupakan salah satu jalur yang dapat memperlancar
pelaksanaan pedoman pengamalan pancasila dimana aspek
sanksi atau penegakan hukm mendpat penekanan khusus.
2) Aparatur negara Rakyat hendaklah berpartisipasi aktif di dalam
menciptakan suasana dan keadaan yang mendorong pelaksanaan
pedoman pengamalan Pancasila. Dan aparatur pemerintah sebagai
pelaksana dan pengabdi kepentingan rakyat harus memahami dan

mengatasi

permasalahan-permasalahan

yang

ada

di

dalam

masyarakat. Sarana dan prasarana dalam pelaksanaan pengamalan


Pacasila perlu disediakan dan memfungsikan lembaga-lembaga
kenegaraan, khususnya lembaga penegak hukum dalam menjamin
hak-hak warga negaranya dan melindungi dari perbutan-perbuatan
tercela.

3) kepemimpinan dan pemimpin masyarakat


Peranan kepemimpinan dan pemimpin masyarakat, baik
pemimpin

formal

mauoun

pelaksanaanya

dalam

menyampaikan

bagaimana

informal

pedoman
pola

sangat

pengalaman.
dan

penting

dalam

Mereka

pelaksanaan

dapat

pedoman

pengalaman pancasila dan menyuruh bawahan dan umatnya untuk


mengikuti pola pedoman pelaksanaan pancasila.
Sebab Lunturnya Nilai-Nilai Pancasila
Jika dibandingkan pemahaman masyarakat tentang Pancasila
dengan lima belas tahun yang lalu, sudah sangat berbeda, saat ini
sebagian masyarakat cenderung menganggap Pancasila hanya
sebagai suatu simbol negara dan mulai melupakan nilai-nilai filosofis
yang terkandung di dalamnya. Padahal Pancasila yang menjadi
dasar negara dan sumber dari segala hukum dan perundangundangan

adalah

nafas

bagi

eksistensi

bangsa

Indonesia.

Sementara itu, lunturnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan


bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, akibat tidak satunya kata
dan perbuatan para pemimpin bangsa, Pancasila hanya dijadikan
slogan

di

bibir

para

pemimpin,

tetapi

berbagai

tindak

dan

perilakunya justru jauh dari nilai-nilai luhur Pancasila. Contoh yang


tidak baik dari para pemimpin bangsa dalam pengamalan Pancasila
telah menjalar pada lunturnya nilai-nilai Pancasila di masyarakat.

Kurangnya komitmen dan tanggung jawab para pemimpin


bangsa

melaksanakan

nilai-nilai

Pancasila

tersebut,

telah

mendorong munculnya kekuatan baru yang tidak melihat Pancasila


sebagai falsafah dan pegangan hidup bangsa Indonesia. Akibatnya,
terjadilah kekacauan dalam tatanan kehidupan berbangsa, di mana
kelompok tertentu menganggap nilai-nilainya yang paling bagus.
Lunturnya nilai-nilai Pancasila pada sebagian masyarakat dapat
berarti awal sebuah malapetaka bagi bangsa dan negara kita.
Fenomena itu sudah bisa kita saksikan dengan mulai terjadinya
kemerosotan moral, mental dan etika dalam bermasyarakat dan
berbangsa terutama pada generasi muda. Timbulnya persepsi yang
dangkal, wawasan yang sempit, perbedaan pendapat yang berujung
bermusuhan

dan

bukan

mencari

solusi

untuk

memperkokoh

persatuan dan kesatuan bangsa, anti terhadap kritik serta sulit


menerima perubahan yang pada akhirnya cenderung mengundang
tindak anarkhi
Efek Globalisasi pada kaum Muda
Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan
Generasi Muda. Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam
masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi
terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut
telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri
sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala
yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.
Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang
berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat.
Mereka

menggunakan

pakaian

yang

minim

bahan

yang

memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan.


Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan
kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat
beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang
lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang

mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian


yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Teknologi internet
merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan
dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet
sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara
semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi
jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak
pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal
untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada
lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap
masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk
dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya
tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli
terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan
keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka.
Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan
tindakan

kekerasan

yang

menganggu

ketentraman

dan

kenyamanan masyarakat. Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan,


mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa
menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda.
Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena
tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli
terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa
depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki
rasa

nasionalisme?

Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi


lebih banyak
diperlukan

daripada pengaruh positifnya. Oleh karena

langkah

untuk

mengantisipasi

pengaruh

globalisasi terhadap nilai nasionalisme.

Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme

itu

negatif

Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi


terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :
1. Menumbuhkan

semangat

nasionalisme

yang

tangguh,

misal

semangat mencintai produk dalam negeri.


2. Menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai pancasila dengan sebaik
baiknya.
3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik
baiknya.
4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan
hukum dalam arti sebener-benernya dan seadil-adilnya.
Selektif

terhadap

pengaruh

globalisasi

dibidang

ekonomi,politik,sosial budaya bangsa dengan adanya langkah-langkah


antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi
yang dapat menubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita
tidak kehilangan kepribadian bangsa.

Efek Globalisasi bagi Identitas Nasional


Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara
satu negara dengan negara lain menjadi semakin tinggi. Dengan
demikian,

kecenderungan

munculnya

kejahatan

yang

bersifat

transnasional semakin sering terjadi. Kejahatan-kejahatan tersebut, antara


lain terkait dengan masalah narkotika, money laundering, keimigrasian,
human trafficking, penebangan hutan secara ilegal, pencurian laut,
pengakuan

hak

cipta,

dan

terorisme.

Masalah-masalah

tersebut

berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa yang selama ini dijunjung


tinggi.
Efek lainnya adalah globalisasi dapat memberikan efek negatif bagi
budaya-budaya leluhur di Indonesia. Dengan adanya globalisasi waktu,
jarak, wilayah bukan lagi menjadi halangan, khususnya pada dunia
hiburan. Pada dunia hiburan, efek globalisasi sangat jelas dapat dirasakan,
sebagai contoh: lunturnya musik-musik tradisional, lunturnya budaya
Indonesia

dalam

film-film

lokal,

minimnya

pentas

seni

lokal

jika

dibandingkan dengan pentas seni kontemporer moderen. Hal tersebut


mencerminkan bahwa, globalisasi dapat dengan mudah mengubah nilainilai budaya yang sudah ada sebelumnya. Pada masyarakat, hal ini tentu
sangat membahayakan. Hal tersebut didasarkan pada mulai mutimbulnya
sifat individualistis di masyarakat, minimnya tenggang rasa dan semangat
gotong royong. Yang sudah jelas banyak negara lain mengenal budaya
masyarakat Indonesia sangat ramah tamah sebelumnya. Belum lagi aksi
teror,

yang

baru-baru

ini

marak

terjadi.

Ada

sebagian

kelompok

masyarakat bangsa ini yang menganut pandangan ekstim dan radikal,


yang menolak landasan bangsa ini yaitu Pancasila sebagai pedoman
hidupnya, yang tentu sangat berbahaya bagi integritas bangsa ini
kedepan. Hal-hal ini tentunya dapat mengubah identitas bangsa ini, yang
sebelumnya populer dengan bangsa yang menjunjung tinggi nilai
multikultur yang Bhenika Tunggal Ika yang memiliki kesatuan sangat erat
serta masyarakatnya yang sangat berjiwa ketimuran.

Indikator Perubahan/Dampak Globalisasi

1. Politik
Penyebaran nilai-nilai politik barat baik secara langsung ataupun
secara tidak langsung dalam bentuk unjuk rasa, demontrasi yang
semakin berani dan terkadang mengabaikan kepentingan umum
dengan cara membuat kerusuhan dan kadang anarkis. Semakin
lunturnya nilai politik yang berdasarkan semangat kekeluargaan,
masyarakat mufakat dan gotong royong.
Semakin menguatnya nilai politik berdasarkan semangat individual,
kelompok, oposisi, diktator mayoritas atau tirani minoritas.
2. Ekonomi
Berlakunya the survival oe the fittest sehingga siapa yang memiliki
modal yang besar akan semakin kuat dan yang lemah tersingkir.
Pemerintah hanya sebagai regulasi dalam pengaturan ekonomi yang
mekanismenya akan ditentukan oleh pasar.Sektor-sektor ekonomi

rakyat yang diberikan subsidi semakin berkurang, koperasi semakin


sulit berkembang, dan penyerapan tenaga kerja dengan pola padat
karya sudah semakin ditinggalkan.
3. Sosial Dan Budaya
Mudahnya nilai-nilai barat yang masuk baik milalui internet, antene
parabola, media televisi, maupun media cetak yang kadang-kadang
ditiru habis-habisan.
Semakin
lunturnya

semangat

gotong

royong,

solidaritas,

kepedulian, dan kesetiakawanan sosial sehingga dalam keadaan


tertentu hanya ditangani oleh segelintir orang.
Semakin memudarnya nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara karna dianggap tidak ada
hubungannya (sekularisme).
4. Ledakan Informasi
Kemajuan iptek dan arus komunikasi global yang makin canggih,
cepat,

dan

berkapasitas

tinggi.

Laju pertumbuhan dan akumulasi pengetahuan serta informasi


meningkat sangat cepat secara tajam (eksponensial)
5. Hukum, Pertahanan dan Keamanan
Semakin menguatnya supremasi hukum,
tuntutan

terhadap

dilaksanakannya

demokratisasi,

hak-hak

asasi

dan

manusia.

Menguatnya regulasi hukum dan pembuatan peraturan perundangundangan yang memihak dan bermanfaat untuk kepentingan
rakyat.
Semakin menguatnya tuntutan terhadap tugas-tugas penegak
hukum (polisi, jaksa, dan hakim) yang lebih profesional, transparan
dan akuntabel.

Implementasi

Nilai-Nilai

Pancasila

Dalam

Menumbuhkan

Nasionalisme Bangsa
Survei yang dilakukan Pusat Studi Pancasila menyebutkan, mata
pelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah-sekolah sekarang ini seolah

hanya pelengkap kurikulum, dan tidak dipelajari secara serius oleh


peserta didik.Pelajar dan guru hanya mengejar mata pelajaran-mata
pelajaran yang menentukan kelulusan saja. Temuan ini menegaskan, hasil
survei lembaga-lembaga lain yang dilakukan sekitar tahun 2006 dan 2007
menunjukkan

bahwa

pengetahuan

masyarakat

mengenai

Pancasila

merosot tajam. Bagi kalangan tertentu, keprihatinan tersebut mungkin


dipandang sebagai sikap konservatif.Namun, dalam konteks berbangsa, ini
adalah sebuah fakta bahwa kredibilitas Pancasila sedang merosot, dan
pendidikan kewarganegaraan tidak lagi populer. Penyebabnya bisa
macam-macam, satu hal yang patut kita beri perhatian, yakni fenomena
ini mengindikasikan bahwa masa depan berbangsa kita sedang terancam.

Sebagai dasar negara, Pancasila adalah barometer moral di mana


kerangka

kewarganegaraan

harus

didasarkan.Pancasila

secara

fundamental merupakan kerangka yang kuat untuk pendefinisian konsep


kewarganegaraan yang inklusif, sebab didalamnya memiliki komitmen
yang kuat terhadap pluralisme dan toleransi.Komitmen inilah yang
mampu mempersatukan dan menjaga keutuhan bangsa yang terdiri 400
lebih kelompok etnis dan bahasa. Inilah pentingnya kita kembali peduli
kepada

Pancasila,

melaksanakan

komitmen-komitmennya

dan

menegakkan prinsip-prinsip kewarganegaraan. Sebagai warga negara,


kita juga memiliki tanggung jawab mengawasi pelaksanaan komitmenkomitmen tersebut, agar tidak melenceng dari garisnya. Sebenarnya
banyak cara menumbuhkembangkan rasa nasionalisme masyarakat
Indonesia di tengah wacana mengenai kekhawatiran akan semakin
tajamnya kemerosotan nasionalisme.

Nasionalisme dapat dipupuk kembali dalam momentum-momentum


yang tepat seperti pada saat peringatan hari sumpah pemuda, hari
kemerdekaan, hari pahlawan dan hari besar nasional lainnya, guru
maupun dosen yang tulus mengajar dengan baik dan dengan ikhlas
menuntun para siswa hingga mampu mengukir prestasi yang gemilang,

pelajar

yang

belajar

dengan

sungguh-sungguh

dengan

segenap

kemampuannya demi nama baik bangsa dan Negara, cinta serta bangga
tanpa

malu-malu

menggunakan

produk-produk

dalam

negeri

demi

kemajuan ekonomi Negara. Bukan itu saja nasionalisme juga dapat


dibangun

melalui

karya

seni

seperti

menciptakan

lagu-lagu

yang

berslogan cinta tanah air, melukis, seni peran yang bertajuk semangat
juang

untuk

negara

dan

karya-karya

seni

lainnya.Menumbuhkan

semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk


dalam negeri.Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan
sebaik- baiknya. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan
sebaik-

baiknya.Mewujudkan

menegakkan

hukum

dalam

supremasi
arti

hukum,

sebenar-

menerapkan

benarnya

dan

dan

seadil-

adilnya.Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi,


ekonomi, sosial budaya bangsa.
Dalam pandangan hidup terkandung konsep mengenai dasar
kehidupan yang dicita-citakan suatu bangsa.Juga terkandung pikiranpikiran terdalam dan gagasan suatu bangsa mengenai wujud kehidupan
yang dicita-citakan.
Pada akhirnya pandangan hidup bisa diterjemahkan sebagai sebuah
kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa yang diyakini
kebenarannya serta menimbulkan tekad bagi bangsa yang bersangkutan
untuk mewujudkannya.
Karena itu, dalam pergaulan kehidupan berbangsa dan bernegara,
bangsa Indonesia tidak bisa begitu saja mencontoh atau meniru model
yang dilakukan bangsa lain, tanpa menyesuaikan dengan pandangan
hidup dan kebutuhan bangsa Indonesia sendiri. Bangsa dan rakyat
Indonesia

sangat

patut

bersyukur

bahwa

founding

fathers

telah

merumuskan dengan jelas pandangan hidup bagi bangsa dan rakyat


Indonesia yang dikenal dengan nama Pancasila. 11 Bahwa Pancasila telah
dirumuskan sebagai jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bangsa
Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, dan dasar negara
Indonesia. Juga sekaligus menjadi tujuan hidup bangsa Indonesia. Karena
itu, Pancasila tak bisa terlepas dari tata kehidupan rakyat sehari-hari

mengingat Pancasila merupakan pandangan hidup, kesadaran, dan citacita moral yang meliputi seluruh jiwa dan watak yang telah beruratberakar dalam kebudayaan bangsa Indonesia. Kebudayaan bangsa
Indonesia sejak dahulu kala telah menegaskan bahwa hidup dan
kehidupan manusia bisa mencapai kebahagiaan jika dikembangkan secara
selaras dan seimbang baik dalam pergaulan antar anggota masyarakat
selaku pribadi, hubungan manusia dengan komunitas, hubungan dengan
alam, maupun hubungan dengan Sang Khalik. Maka, guna meredam
pengaruh

dari

luar

perlu

dilakukan

akulturasi

kebudayaan

akibat

globalisasi. Artinya, budaya dari luar disaring oleh budaya nasional


sehingga output yang dikeluarkan seusai dengan nilai dan norma bangsa
dan rakyat Indonesia. Memang masuknya pengaruh negatif budaya asing
tidak dapat lagi dihindari, karena dalam era globalisasi tidak ada negara
yang bisa menutup diri dari dunia luar.Oleh sebab itu, bangsa Indonesia
harus mempunyai akar-budaya dan mengikat diri dengan nilai-nilai
agama, adat istiadat, serta tradisi yang tumbuh dalam masyarakat.
Pancasila dapat ditetapkan sebagai dasar negara karena sistem nilainya
mengakomodasi semua pandangan hidup dunia internasional tanpa
mengorbankan kepribadian Indonesia. Hal ini akan menjaga nilai-nilai
luhur bangsa dan semangat untuk ber-nasionalisme. Nasionalisme bangs
Indonesia

dapat

terus

dipertahankan

dan

dilestarikan

dengan

mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Pancasila dalam keseluruhan


kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang sesuai dengan pengamalan
nilai-nilai Pancasila pada sila ke-3 yakni Persatuan Indonesia yang
bermakna Menjaga Persatuan dan Kesatuan Negara Kesatuan Republik
Indonesia, Rela berkorban demi bangsa dan negara. Cinta akan Tanah Air,
Berbangga sebagai bagian dari Indonesia dan Memajukan pergaulan demi
persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika merujuk
pada semangat Nasionalisme bangsa.

Kasus
Yang terlihat saat ini nilai-nilai pancasila telah luntur. Entah
dikalangan penjabat, elit politik, mahasiswa, pelajar bahkan masyarakat.

Betapa menyedihkannya, bangsa Indonesia sendiri tidak lagi mengenal


nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Ironisnya kadar semangat
kebangsaan dalam seluruh aspek kehidupan sangat menurun. Pancasila
sebagai ideologi dalam kehidupan berbangsa terabaikan, pelaksanaan
demokrasi

kebablasan,

terjadinya

kesenjangan

kehidupan

ekonomi

teramat luas, berkembangnya budaya korupsi dan stabilitas keamanan


pun terganggu.
Akibat tidak satunya kata dan perbuatan para pemimpin bangsa,
Pancasila hanya dijadikan slogan di bibir para pemimpin, tetapi berbagai
tindak dan perilakunya justru jauh dari nilai-nilai luhur Pancasila.
Kurangnya komitmen dan tanggung jawab para pemimpin bangsa
melaksanakan nilai-nilai Pancasila tersebut, telah mendorong munculnya
kekuatan baru yang tidak melihat Pancasila sebagai falsafah dan
pegangan hidup bangsa Indonesia. Akibatnya, terjadilah kekacauan dalam
tatanan kehidupan berbangsa, di mana kelompok tertentu menganggap
nilai-nilainya yang paling bagus. Lunturnya nilai-nilai Pancasila pada
generasi muda yaitu kemerosotan moral, mental dan etika dalam
bermasyarakat

dan

berbangsa

Timbulnya

persepsi

yang

dangkal,

wawasan yang sempit, perbedaan pendapat yang berujung bermusuhan


dan bukan mencari solusi untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan
bangsa, anti terhadap kritik serta sulit menerima perubahan yang pada
akhirnya cenderung mengundang tindak anarkhis.