Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ANTENATAL DENGAN

ABORTUS
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi Abortus

Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa


gestasi belum mencapai usia 20 minggu dan beratnya kurang dari 500 gr (Mansjoer,
2010). Pengguguran kandungan atau aborsi atau abortus adalah berakhirnya
kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar, tanpa mempersoalkan
penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia luar bila berat badannya telah
mencapai lebih daripada 500 gram atau umur kehamilan lebih daripada 20 minggu.
(Salmah, 2006). Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil
konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Abortus ditentukan sebagai
pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20
minggu (Prawirohardjo S, 2009).
2. Etiologi/Faktor predisposisi

Menurut Prawirohardjo S (2009) penyebab abortus antara lain adalah :


a. Infeksi akut : virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis. Infeksi bakteri, misalnya
streptokokus. Parasit, misalnya malaria. Infeksi kronis : Sifilis, biasanya
menyebabkan abortus pada trimester kedua. Tuberkulosis paru, aktif, pneumonia.
b. Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah,air raksa, dan lain-lain.
c. Penyakit kronis, misalnya : hipertensi, nephritis, diabetes, anemia berat
penyakit jantung : toxemia gravidarum.
d. Gangguan fisiologis, misalnya syok, ketakutan, dan lain-lain.
e. Trauma fisik. Penyebab yang bersifat lokal: Fibroid, inkompetensia serviks.
Radang pelvis kronis, endometrtis. Retroversi kronis. Hubungan seksual yang
f.
g.
h.
i.

berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus.


Kelainan alat kandungan.
Penyebab dari segi Janin / Plasenta Kematian janin akibat kelainan bawaan.
Kelainan kromosom.
Lingkungan diendometrium disekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga

penberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu.


j. Penyakit plasenta, misalnya inflamasi dan degenerasi.
4. Klasifikasi Abortus

Menurut Nugroho (2011), abortus dibagi menjadi :


a. Abortus Provokatus : Disengaja, digugurkan.

1) Abortus Provokatus artifisial atau abortus therapeutic : Pengguran kehamilan

biasanya

menggunakan

alat-alat

dengan

alasan,

bahwa

kehamilan

membahayakan bagi ibunya sebelum usia kandungan 28 minggu.


2) Abortus provocatus criminalis : Pengguran kehamilan tanpa adanya alasan

medis yang sah dan dilarang oleh hukum.


b. Abortus Spontan : Terjadi dengan sendirinya, keguguran. Biasanya abortus spontan
dikarenakan kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.
1) Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan
tanpa adanya dilatasi serviks.
2) Abortus insipiens : Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil
konsepsi masih dalam uterus.
3) Abortus inkomplet : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
4) Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.
5) Missed Abortion : keadaan dimana janin yang telah mati masih berada di
dalam rahim sebelum berusia 20 minggu tetapi hasil konsepsi masih tertahan
dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih.
5. Manifestasi Klinis

Menurut Mansjoer (2010) tanda dan gejala abortus secara umum yaitu :
a. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu
b. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil,
suhu badan normal atau meningkat.
c. Perdarahan pervaginam kemungkinan disertai dengan keluarnya jaringan hasil
konsepsi.
d. Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat
kontraksi uterus.
6. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Mansjoer (2010) pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada abortus yaitu :
a. Tes kehamilan positif jika janin masih hidup dan negatif bila janin sudah mati
b. pemeriksaan Dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
c. Pemeriksaan fibrinogen dalam darah pada missed abortion Data laboratorium tes
urine, hemoglobin dan hematokrit, menghitung trombosit

d. kultur darah dan urine


e. Pemeriksaan Ginekologi:
1) Inspeksi vulva
a) Perdarahan pervaginam sedikit atau banyak
b) Adakah disertai bekuan darah
c) Adakah jaringan yang keluar utuh atau sebagian
d) Adakah tercium bau busuk dari vulva
2) Pemeriksaan dalam speculum
a) Apakah perdarahan berasal dari cavum uteri
b) Apakah ostium uteri masih tertutup / sudah terbuka
c) Apakah tampak jaringan keluar ostium
d) Adakah cairan/jaringan yang berbau busuk dari ostium.
3) Pemeriksaan dalam/ Colok vagina
a) Apakah portio masih terbuka atau sudah tertutup
b) Apakah teraba jaringan dalam cavum uteri
c) Apakah besar uterus sesuai, lebih besar atau lebih kecil dari usia
d)
e)
f)
g)

kehamilan
Adakah nyeri pada saat porsio digoyang
Adakah rasa nyeri pada perabaan adneksa
Adakah terasa tumor atau tidak
Apakah cavum douglasi menonjol, nyeri atau tidak

7. Penatalaksanaan Medis

Menurut Rukiyah (2010), penatalaksanaan pada abortus :


a. Abortus iminens
1) Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang mekanik
berkurang.
2) Periksa denyut nadi dan suhu badan 2 kali sehari bila pasien tidak panas dan
tiap 4 jam bila pasien panas.
3) Tes kehamilan dapat dilakukan, bila hasil negatif mungkin jaringan sudah
mati.
4) Tentang pemberian hormon progesteron pada abortus imminens belum pada
persesuaian faham. Sebagian besar ahli tidak menyetujuinya, dan mereka yang
menyetujui bahwa harus ditentukan dahulu adanya kekurangan hormone
progesteron. Apabila difikirkan bahwa sebagian besar abortus didahului oleh
kematian hasil konsepsi dan kematian ini dapat disebabkan oleh banyak factor,
maka pemberian hormon progesteron memang tidak banyak manfaatnya.
5) Pemeriksaan ultrasonografi penting di lakukan untuk menentukan apakah
masih janin hidup.
6) Berikan obat penenang, biasanya Fenobarbital 3 x 30 mg. Berikan preprat
hematinik misalnya, sulfas ferosus 600-1000 mg.
7) Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.

8) Membersihkan vulva minimal 2 kali sehari dengan cairan antiseptik.


b.

Abortus insipiens
1) Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa
pertolongan selama 36 jam dengan diberikan morfin.
2) Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai perdarahan,
ditangani dengan penosongan uterus memakai kuret vacum atau cunam
abortus disusul kerokan memakai kuret tajam. Suntikan ergometrin 0,5 mg IM.
3) Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU dalam
dekstrose 5%, 500ml dimulai 8 per menit dan naikan sesuai kontraksi uterus
sampai terjadi abortus komplit.
4) Bila janin sudah keluar, tapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran
plasenta secara manual.

c. Abortus incomplit
1) Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus NaCl fisiologis atau Ringer
Laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah.
2) Setelah syok diatasi, dikerok dengan kuret tajam lalu suntikkan ergometrin 0,2
mg IM.
3) Bila janin sudah keluar, tapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran
plasenta secara manual.
4) Berikan antibiotic.
d. Abortus komplit
1) Bila pasien baik, berikan ergometri 3 x 1 tablet selama 3-5 hari.
2) Pasien anemi, berikan sufas ferosus atau transfusi darah.
3) Berikan antibiotik.
4) Diet tinggi protein, vitamin, dan mineral.
e. Abortus terapeutik
Menurut Sastrawinata (2005), abortus terapeutik dapat dilakukan dengan cara:
1) Kimiawi : pemberian secara ekstrauterin atau intrauterin obat abortus, seperti
prostaglandin, antiprogesteron, atau oksitosin.
2) Mekanis :
- Pemasangan batang laminaria atau dilapan akan membuat serviks terbuka
secara perlahan dan tidak traumatis sebelum kemudian dilakukan evakuasi
-

dengan kuret tajam atau vakum.


Dilatasi serviks dilanjutkan dengan evakuasi, dipakai dilator Hegar

dilanjutkan dengan kuretase.


Histerektomi/histerotomi.

8. Komplikasi

Ada pun komplikasi medis yang dapat timbul pada ibu : (Prawirohardjo, 2009)
a. Perforasi

Dilatasi dan kerokan yang dilakukan menyebabkan kemungkinan terjadinya


perforasi dinding uterus, yang dapat menjurus ke rongga peritoneum, ke
ligamentum latum, atau ke kandung kencing. Bahaya perforasi ialah perdarahan
dan peritonitis.
b. Luka pada serviks uteri
Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka dapat timbul
sobekan pada serviks uteri yang perlu dijahit. Apabila terjadi luka pada ostium
uteri internum, maka akibat yang segera timbul ialah perdarahan yang
memerlukan pemasangan tampon pada serviks dan vagina. Akibat jangka panjang
ialah kemungkinan timbulnya incompetent cerviks.
c. Pelekatan pada kavum uteri
Sisa-sisa hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan miometrium jangan
sampai terkerok, karena hal itu dapat mengakibatkan terjadinya perlekatan
dinding kavum uteri di beberapa tempat. Sebaiknya kerokan dihentikan pada
suatu tempat apabila pada suatu tempat tersebut dirasakan bahwa jaringan tidak
begitu lembut lagi.
d. Perdarahan

Kerokan pada kehamilan yang sudah agak tua atau pada mola hidatidosa terdapat
bahaya perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya dilakukan transfusi
darah dan sesudah itu, dimasukkan tampon kasa ke dalam uterus dan vagina.
e. Infeksi

Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan, maka bahaya infeksi
sangat besar. Infeksi kandungan yang terjadi dapat menyebar ke seluruh
peredaran darah, sehingga menyebabkan kematian. Bahaya lain yang ditimbulkan
abortus kriminalis antara lain infeksi pada saluran telur. Akibatnya, sangat
mungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- ,
lamanya perkawinan dan alamat
b. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan
pervaginam berulang

c. Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :


1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah
Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus
haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
a) Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh
klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut
berlangsung.
b) Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah
dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah
ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.
c) Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan
dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan
dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
d) Riwayat

kesehatan

reproduksi :

Kaji

tentang

mennorhoe,

siklus

menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya


dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan
yang menyertainya
e) Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak
klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan
kesehatan anaknya.
f) Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi
yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
g) Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi
oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
d. Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi
(BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat
sakit.
e. Pemeriksaan fisik, meliputi :
1) Inspeksi
Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap
drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh,

pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan


seterusnya
2) Palpasi
Merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan
tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus, menentukan karakter
nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit
untuk mengamati turgor, melakukan pemeriksaan dalam : menentukan
tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal.
3) Perkusi
Memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak.
4) Auskultasi
Mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi
jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.
f. Pemeriksaan laboratorium :
1) Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap
smear.
2) Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah
klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB
jenis apa.
g. Data lain-lain :
1) Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat
di RS.
2) Data psikososial : Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola
komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan
mekanisme koping yang digunakan.
3) Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
4) Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan
kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.
2. Diagnosa Keperwatan
Menurut Herdman (2014), kemungkinan diagnosa yang muncul pada pasien dengan
abortus yaitu :
a. Ansietas berhubungan dengan kurang terpajannya informasi mengenai abortus.

b. Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus.


c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
d. Risiko syok hipovolemik.
e. Risiko infeksi.

3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa

Rencana keperawatan

Keperawatan/

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Masalah
Kolaborasi
Ansietas

NOC :

berhubungan

dengan
terpajannya

kurang -

NIC :

Kontrol kecemasan

Setelah

dilakukan

informasi mengenai selama


abortus

Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)

Koping
asuhan

Gunakan pendekatan yang menenangkan

klien

Nyatakan dengan jelas harapan terhadap

kecemasan

teratasi

dgn

kriteria hasil:
Klien

mampu

mengidentifikasi

dan

mengungkapkan

gejala

cemas

menunjukkan

dan
tehnik

untuk mengontol cemas


Vital sign dalam batas
normal
Postur tubuh, ekspresi

Jelaskan semua prosedur dan apa yang


dirasakan selama prosedur

Temani

pasien

untuk

memberikan

keamanan dan mengurangi takut

Mengidentifikasi,
mengungkapkan

pelaku pasien

Berikan

informasi

faktual

mengenai

diagnosis, tindakan prognosis

Libatkan keluarga untuk mendampingi


klien

Instruksikan

pada

pasien

menggunakan tehnik relaksasi

Dengarkan dengan penuh perhatian

untuk

wajah, bahasa tubuh dan

Identifikasi tingkat kecemasan

tingkat

Bantu pasien mengenal situasi yang

aktivitas

menunjukkan

menimbulkan kecemasan

berkurangnya kecemasan

Dorong pasien untuk mengungkapkan


perasaan, ketakutan, persepsi

Nyeri

akut NOC :

berhubungan
dengan
uterus.

Kelola pemberian obat anti cemas:........


NIC :

Pain Level,

Lakukan

kontraksi pain control,

pengkajian

durasi,

Setelah dilakukan tinfakan

presipitasi

Pasien

kualitas

reaksi
. Observasi
mengalami ketidaknyamanan

tidak

Mampu mengontrol nyeri


penyebab

mampu
tehnik

frekuensi,

selama

nyeri, dengan kriteria hasil:

(tahu

secara

komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,

comfort level
keperawatan

nyeri

nonfarmakologi

faktor

nonverbal

dari

Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan


menemukan dukungan

nyeri, Kontrol

menggunakan

dan

lingkungan

yang

dapat

mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,


pencahayaan dan kebisingan

untuk mengurangi nyeri, Kurangi faktor presipitasi nyeri


Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan

mencari bantuan)
Melaporkan bahwa nyeri
berkurang
menggunakan

intervensi

dengan Ajarkan tentang teknik non farmakologi:


manajemen

nyeri

napas dala, relaksasi, distraksi, kompres


hangat/ dingin

Mampu mengenali nyeri Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri:


(skala, intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri)

...
Tingkatkan istirahat

Menyatakan rasa nyaman Berikan informasi tentang nyeri seperti


setelah nyeri berkurang
Tanda vital dalam rentang
normal

penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan


berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan
dari prosedur

Tidak mengalami gangguan Monitor vital sign sebelum dan sesudah


tidur

pemberian analgesik pertama kali

Kekurangan volume NOC:

NIC :

cairan berhubungan Fluid balance


dengan perdarahan Hydration
pervaginam.

yang akurat

Nutritional Status : Food

Monitor status hidrasi ( kelembaban


membran mukosa, nadi adekuat, tekanan

and Fluid Intake

darah ortostatik ), jika diperlukan

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan

Pertahankan catatan intake dan output

selama..

Monitor hasil lab yang sesuai dengan

defisit volume cairan teratasi

retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas

dengan kriteria hasil:

urin, albumin, total protein )


urine

Monitor vital sign setiap 15menit 1 jam

output sesuai dengan usia

Kolaborasi pemberian cairan IV

dan BB, BJ urine normal,

Monitor status nutrisi

Tekanan darah, nadi, suhu

Berikan cairan oral

tubuh dalam batas normal

Berikan penggantian nasogatrik sesuai

Mempertahankan

output (50 100cc/jam)

Tidak ada tanda tanda


dehidrasi,
turgor

Elastisitas
kulit

membran

makan

baik,
mukosa

Orientasi terhadap waktu


dan tempat baik
Jumlah

dan

irama

pernapasan dalam batas


normal

Kolaborasi

dokter

jika

tanda

cairan

berlebih muncul meburuk

lembab, tidak ada rasa


haus yang berlebihan

Dorong keluarga untuk membantu pasien

Atur kemungkinan tranfusi

Persiapan untuk tranfusi

Pasang kateter jika perlu

Monitor intake dan urin output setiap 8


jam

Elektrolit, Hb, Hmt dalam


batas normal
pH

urin

dalam

batas

normal
Intake oral dan intravena
adekuat

Risiko syok

NOC

NIC

Syok prevention
Syok management

Syok Prevention

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan

selama

kriteria hasil:
Nadi dalam batas yang
normal
Irama jantung dalam batas
yang normal
Frekuensi nafas

batas yang normal


Natrium serum dbn
Kalium serum dbn
Klorida serum dbn
Kalsium serum dbn
Magnesium serum dbn
PH darah serum dbn
Hidrasi, indikator:
cekung

nadi, perifer, dan kapiler refill.


Monitor tanda inadekuat oksigenasi

jaringan.
Monitor suhu dan pernafasan.
Monitor input dan output.
Pantau nilai laboratorium: HB, HT,

AGD, dan elektrolit.


Monitor hemodinamik invasi yang

sesuai.
Monitor tanda dan gejala asites.
Monitor tanda awal syok
Tempatkan pasien pada posisi supine,

dalam

batas yang normal


Irama pernafasan dalam

1. Mata

suhu kulit, denyut jantung, HR, dan ritme,

Syok tidak terjadi dengan

tidak

ditemukan
2. Demam tidak ditemukan
3. TD dbn

monitor status sirkulasi BP, warna kulit,

kaki elevasi untuk peningkatan preload

dengan tepat
Lihat dan pelihara kepatenan jalan

nafas
Berikan cairan iv atau oral yang tepat
Berikan vasodilator yang tepat
Ajarkan keluarga dan pasien tentang

tanda dan gejala adanya syok


Ajarkan keluarga dan pasien tentang
langkah untuk mengatasi gejala syok

Syok Management
1. Monitor fungsi neurologis
2. Monitor fungsi renal (e.g. BUN dan Cr

level)
3. Monitor tekanan nadi
4. Monitor status cairan input output
5. Catat gas darah arteri dan oksigen di
jaringan
6. Monitor EKG
7. Memanfaatkan pemantauan jalur arteri
untuk meningkatkan akurasi pembacaan
tekanan darah
8. Menggambar

gas

darah

arteri

memonitor jaringan oksigenasi


9. Memantau
tren
dalam

dan

parameter

hemodinamik
10. Memantau faktor penentu pengiriman jalur
oksigen
11. Memantau

tingkat

karbon

dioksida

sublingual dan/atau tonometri lambung


12. Memonitor gejala gagal pernafasan
13. Monitor nilai laboratorium
14. Masukkan dan memelihara besarnya
Risiko infeksi

kobosanan akses IV
NIC :

NOC :
Immune Status

Pertahankan teknik aseptif

Knowledge : Infection

Batasi pengunjung bila perlu


Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah

control

tindakan keperawatan

Risk control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan
pasien

tidak

selama
mengalami

infeksi dengan kriteria hasil:


Klien bebas dari tanda

Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai

dengan petunjuk umum


Gunakan

kateter

intermiten

untuk

Tingkatkan intake nutrisi

Menunjukkan
mencegah

pelindung

menurunkan infeksi kandung kencing

dan gejala infeksi


kemampuan

Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat

untuk
timbulnya

infeksi
Jumlah leukosit dalam

Berikan

terapi

antibiotik:.................................
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik
dan lokal

Pertahankan teknik isolasi k/p

batas normal
Menunjukkan

perilaku

hidup sehat
Status

batas normal

kulit

dan

membran

mukosa

terhadap kemerahan, panas, drainase


imun,

gastrointestinal,
genitourinaria

Inspeksi

Monitor adanya luka


Dorong masukan cairan

dalam

Dorong istirahat
Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan
gejala infeksi
Kaji suhu badan pada pasien neutropenia
setiap 4 jam

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, Lowdermilk, & Jensen. 2006. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, alih bahasa
Maria A. Wijayarini, Peter I. Anugrah (Edisi 4). Jakarta: EGC.
Herdman,T.H. & Kamitsuru.S. 2014. NANDA International Nursing Diagnoses Definitions
and Classification 2015-2017. Oxford : Willey Blackwell
Mansjoer, Arif. 2010.Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
Nurarif & Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: MediAction
Nugroho, Taufan. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah dan Penyakit Dalam.
Yogyakarta : Nuha Medika
Prawirohardjo, S. 2009. Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Rukiyah, Ai Yeyeh, Lia Yulianti. 2010. Asuhan Kebidanan 4: Patologi. Jakarta: Trans Info
Media.
Salmah. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta : EGC.

Anda mungkin juga menyukai