Anda di halaman 1dari 16

II.

1 Anatomi dan Histologi Paru


II.1.1 Anatomi Paru
Paru manusia terbentuk setelah embrio mempunyai panjang 3 mm. Pembentukan
paru di mulai dari sebuah Groove yang berasal dari Foregut. Selanjutnya pada Groove ini
terbentuk dua kantung yang dilapisi oleh suatu jaringan yang disebut Primary Lung Bud.
Bagian proksimal foregut membagi diri menjadi 2 yaitu esophagus dan trakea.
Pada perkembangan selanjutnya trakea akan bergabung dengan primary lung bud.
Primary lung bud merupakan cikal bakal bronchi dan cabang-cabangnya. Bronchial-tree
terbentuk setelah embrio berumur 16 minggu, sedangkan alveoli baru berkembang
setelah bayi lahir dan jumlahnya terus meningkat hingga anak berumur 8 tahun. Ukuran
alveoli bertambah besar sesuai dengan perkembangan dinding toraks. Jadi, pertumbuhan
dan perkembangan paru berjalan terus menerus tanpa terputus sampai pertumbuhan
somatic berhenti.
Saluran pernafasan terdiri dari rongga hidung, rongga mulut, faring, laring, trakea,
dan paru. Laring membagi saluran pernafasan menjadi 2 bagian, yakni saluran pernafasan
atas dan saluran pernafasan bawah. Pada pernafasan melalui paru-paru atau pernafasan
external, oksigen di pungut melalui hidung dan mulut. Pada waktu bernafas, oksigen
masuk melalui trakea dan pipa bronchial ke alveoli dan dapat erat hubungan dengan
darah didalam kapiler pulmonaris.
Hanya satu lapis membran yaitu membran alveoli, memisahkan oksigen dan darah
oksigen menembus membran ini dan dipungut oleh hemoglobin sel darah merah dan

dibawa ke jantung. Dari sini dipompa didalam arteri kesemua bagian tubuh. Darah
meninggalkan paru-paru pada tekanan oksigen 100 mm hg dan tingkat ini hemoglobinnya
95%. Di dalam paru-paru, karbon dioksida, salah satu hasil buangan. Metabolisme
menembus membran alveoli, kapiler dari kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui
pipa bronchial, trakea, dinafaskan keluar melalui hidung dan mulut.

Bagian-bagian Pulmo
Apeks pulmo
Apeks atau puncak dari pulmo terletak di superior yg merupakan bagian
pulmo yg tumpul dan menjulang hingga collum costae I. Apeks pulmo difiksasi
oleh adanya fascia Sibson, collum costae I, proc. Transverses Vertebrae thoracal I,
cupula pleura dan mm. scaleni
Bassis pulmo
Merupakan dasar dari pulmo yg berbentuk konkaf dan merupakan tempat
menempelnya diafragma.
Facies Pulmo

Facies costalis
Dataran pulmo yang menghadap ke costa berbentuk konveks dan dilapisi
oleh pleura parietalis pars costalis.
Facies medialis
Bagian pulmo yang menghadap ke mediastinum dan dilapisi oleh pleura
parietalis pars mediatinalis. Facies ini terdiri atas 2 pars, yakni pars vertebralis
(menghadap vertebrae) dan pars mediastinalis (menghadap mediastinum). Pd pars
mediastinalis terdapat hilus pulmonis yg merupakan tempat keluar masuknya
radix pulmo/ pediculus pulmonis.
Margo pulmo
Margo anterior
Tepi pulmo yang terjepit antara corpus sterni dengan pericardium. Pada
margo anterior pulmo sinistra terdapat adanya cekungan akibat adanya jantung
yang disebut dengan incisura cardiac pulmonis.
Margo inferior
Merupakan tepi pulmo yang memisahkan basis pulmo dengan facies
costalis pulmo.
Lobus dan fissure
Pulmo dextra
Terdapat 3 lobus (lobus superior, medius et inferior) yang dipisahkan oleh
adanya 2 fissure (fissure horizontalis et obliqua)
Pulmo sinistra
Terdapat 2 lobus (lobus superior, et inferior) yang dipisahkan oleh adanya
2 fissure (fissure obliqua)

Lingula
Lingula merupakan bagian dari lobus superior pulmo sinistra yang terletak
di anteroinferior yg merupakan rudimentas atau pendesakan dari jantung pada
pulmo sinistra
Hilus Pulmo dan Radix Pulmo/ Pediculus pulmo
Hilus pulmonis berarti pintu masuk ke dalam pulmo yg terletak di facies
medialis pulmo. Dimana hilus pulmo ini merupakan tempat keluar masuknya
radix pulmo. Radix pulmo ini terletak setinggi Vertebrae Thoracal V-VII
Urutan radix pulmo dr ventral ke dorsal utk pulmo sinistra dan dextra
sama, yakni: v. pulmonalis, a. pulmonalis, bronchus, v. bronchialis. Sedangkan
urutan radix pulmo dextra dr cranial ke caudal, yakni : bronchus eparterial, a.
pulmonalis, bronchus hiparterial dan v. pulmonalis. Sedangkan untuk urutan radix
pulmo sinistra dari cranial ke caudal, yakni : a. pulmonalis, bronchus dan v.
pulmonalis.
Segmentasi pulmo
Untuk pembagian segmentasi dari pulmo sama seperti pembagian
segmentasi dari bronchus.

Vaskularisasi Pulmo
Untuk bronchi, jaringan ikat paru dan pleura visceralis divaskularisasi oleh
Aa. Bronchiales. Untuk Aa. Bronchiales sinistra cabang dari aorta thoracalis,
sedangkan Aa. Bronchiales dextra cabang dari a.intercostales atau Aa. Bronchiales
sinistra.
Untuk vena nya melalui Vv. Bronchiales yang terdiri atas vv. Bronchiales
superficial dan profunda. Vv. Bronchiales Superficial mendapatkan aliran darah
dari bronchi extrapulmonar, pleura visceralis, limponodi sekitar hilus pulmo. Vv.
Bronchiales dextra bermuara ke v. azygos, sedangkan Vv. Bronchiales sinistranya
bermuara ke v. hemiazygos accessoria atau v. intercostales supreme.
Sedangkan untuk alveoli mendapatkan vaskularisasi dari ujung terminal
dari a. pulmonales.
Innervasi Pulmo

Pulmo diinnervasi oleh plexus pulmonalis pada radix pulmo dextra dan
sinistra. Dimana plexus ini terdiri atas saraf simpatis oleh truncus sympaticus ->
ganglia sympatis 1-5 dan parasimpatis oleh cabang-cabang dari nervus vagus.

II.1.2 Histologi Paru


Paru-paru pada manusia terdapat sepasang yang menempati sebagian besar dalam
cavum thoracis. Kedua paru-paru dibungkus oleh pleura yang terdiri atas 2 lapisan yang
saling berhubungan sebagai pleura visceralis dan pleura parietalis.
Stuktur Pulmo. Unit fungsional dalam paru-paru disebut lobulus primerius yang
meliputi semua struktur mulai bronchiolus terminalis, bronchiolus respiratorius, ductus
alveolaris, atrium, saccus alveolaris, dan alveoli bersama-sama dengan pembuluh darah,
limfe, serabut syaraf, dan jarinmgan pengikat.
Lobulus di daerah perifer paru-paruberbentuk pyramidal atau kerucut didasar perifer,
sedangkan untuk mengisi celah-celah diantaranya terdapat lobuli berbentuk tidak teratur
dengan dasar menuju ke sentral.
Cabang terakhir bronchiolus dalamlobulus biasanya disebut bronchiolus terminalis.
Kesatuan paru-paru yang diurus oleh bronchiolus terminalis disebut acinus.
Bronchiolus Respiratorius. Memiliki diameter sekitar 0.5mm. saluran ini mulamula dibatasi oleh epitel silindris selapis bercilia tanpa sel piala, kemudian epitelnya
berganti dengan epitel kuboid selapis tanpa cilia. Di bawah sel epitel terdapat jaringan
ikat kolagen yang berisi anyaman sel-sel otot polos dan serbut elastis. Dalam dindingnya
sudah tidak terdapat lagi cartilago. Pada dinding bronchiolus respiratorius tidak
ditemukan kelenjar. Disana-sini terdapat penonjolan dinding sebagai alveolus dengan
sebagian epitelnya melanjutkan diri. Karena adanya alveoli pada dinding bronchiolus
inilah maka saluran tersebut dinamakan bronchiolus respiratorius.
Ductus Alveolaris. Bronchiolus respiratorius bercabang menjadi 2-11 saluran yang
disebut ductus alveolaris. Saluran ini dikelilingi oleh alveoli sekitarnya.

Saluran ini tampak seperti pipa kecil yang panjang dan bercabang-cabang dengan dinding
yang terputus-putus karena penonjolan sepanjang dindingnya sebagai saccus alveolaris.
Dinding ductus alveolaris diperkuat dengan adanya serabut kolagen elastis dan otot polos
sehingga merupakan penebalan muara saccus alveolaris.
Saccus alveolaris dan Alveolus. Ruangan yang berada diantara ductus alveolaris
dan saccus alveolaris dinamakan atrium. Alveolus merupakan gelembung berbentuk
polyhedral yang berdinding tipis. Yang menarik, dindingnya penuh dengan anyaman
kapiler darah yang saling beranastomose. Kadang ditemukan lubang yang disebut porus
alveolaris dan terdapat sinus pemisah(septa) antara 2 alveoli. Fungsi lubang tersebut
belum jelas, namun dapat diduga untuk mengalirkan udara apabila terjadi sumbatan pada
salah satu bronchus.
Pelapis Alveolaris. Epitel alveolus dengan endotil kapiler darah dipisahkan oleh
lamina basalis. Pada dinding alveolus dibedakan atas 2 macam sel, yaitu: sel epitel
gepeng (squamous pulmonary epitheal atau sel alveolar kecil atau pneumosit tipe I) dan
sel kuboid yang disebut sel septal atau alveolar besar atau pneumosit tipe II.
Sel alveolar kecil membatasi alveolus secara kontinyu, kadang diselingi oleh
alveolus yang besar. Inti sel alveolus kecil ini gepeng. Bentuk dan ketebalan sel alveolar
kecil tergantung dari derajat perkemangan alveolus dan tegangan sekat antara alveoli.
Sel alveolar besar ialah sel yang tampak sebagai dinding alveolus pada pengamatan
dengan mikroskop cahaya. Sel ini terletak lebar ke dalam daripada pneumosit typeI.
Kompleks golginya sangat besar disertai granular endoplasma reticulu m dengan ribosom
bebas. Kadang-kadang tampak bangunan ini terdapat dipermukaan sel seperti gambaran
sekresi sel kelenjar. Diduga benda-benda ini merupakan cadangan zat yang berguna untuk
menurunkan tegangan permukaan dan mempertahankan bentuk dan besar alveolus.
Secret tersebut dinamakan Surfactant.
Udara di dalam alveolus dan darah dalam kapiler dipisahkan oleh:
- Sitoplasma sel epitel alveolus.
- Membrana basalis epitel alveolus.

- Membrane basalis yang meliputi endotel kapiler darah


- Sitoplasma endotel kapiler darah.
Fagosit Alveolar, Sel Debu (Dust cell). Hampir pada setiap sediaan paru-paru
ditemukan fagosit bebas. Karena mereka mengandung debu maka disebut sel debu. Pada
beberapa penyakit jantung sel-sel tersebut mengandung butir-butir hemosiderin hasil
fagositosis pigmen eritrosit.
Pembuluh Darah. Sebagian besar pulmo menerima darah dari arteri pulmonalis
yang bertripe elastis. Cabang arteri ini masuk melalui hilus pulmonalis dan bercabangcabang mengikuti percabangan bronchus sejauh bronchioli respiratorius.
Dari sini arteri tersebut memberi percabangan menuju ke ductus alveolaris, dan memberi
anyaman kapiler di sekeliling alveolus. Venula menampung darah dari anyaman kapiler
di pleura dan dinding penyekak alveolus. Vena yang menampung darah dari venula tidak
selalu seiring dengan arterinya, tetapi melalui jaringan pengikat di antara lobulus dan
segmen.
Pulmonalis dan vena pulmonalis terutama untuk pertukaran gas dalam alveolus.
Disamping itu terdapat arteri bronchialis yang lebih kecil, sebagai cabang serta mengikuti
bronchus dengan cabang-cabangnya. Arteri ini diperlukan untuk nutrisi dinding bronchus
termasuk kelenjar dan jaringan pengikat sampai di bawah pleura.
Darah akan kembali sebagian besar melalui vena pulmonalis disamping vena bronchialis.
Terdapat anastomosis dengan kapiler dari arteri pulmonalis.
Pembuluh Limfe. Terdapat 2 kelompok besar, sebagian dalam pleura dan
sebagian dalam jaringan paru-paru. Terdapat hubungan antara 2 kelompok tersebut dan
keduanya mengalirkan limfa ke arah nodus limfatikus yang terdapat di hilus.
Pembuluh limfe ada yang mengikuti jaringan pengikat septa interlobularis dan ada pula
yang mengikuti percabangan bronchus untuk mencapai hilus.
Pleura. Seperti juga jantung paru-paru terdapat didalam sebuah kantong yang
berdinding rangkap, masing-masing disebut pleura visceralis dan pleura parietalis. Kedua
pleura ini berhubungan didaerah hilus. Sebelah dalam dilapisi oleh mesotil. Pleura

tersebut terdiri atas jaringan pengikat yang banyak mengandung serabut kolagen, elastis,
fibroblas dan makrofag. Di dalamnya banyak terdapat anyaman kapiler darah dan
pembuluh limfe.
Histogenesis paru
Perkembangan pulmo terdiri dari 3 fase:
Fase glanduler(12-16 minggu)
Mula-mula sebagai tonjolan yang akan menjadi trachea yang kemudian bercabang
menjadi 2 sebagai calon bronchus. Tonjolan ini dengan cepat tumbuh memanjang
dan mencapai kelompok sel-sel mesenkhim sehingga akhirnya menyerupai
kelenjar. Pars conductoria tractus respiratorius telah dilengkapi selama kehidupan
intrauterin bersama pula dengan sistem pembuluh darah.
Fase kanalikuler(bulan ke-4-7)
Terjadi pertumbuhan cepat sel-sel mesenkim di sekitar percabangan bronchus. Selsel tersebut dan serabut jaringan pengikat sangat menonjol disamping anyaman
kapiler darah. Pada tingkat ini belum tumbuh alveolus. Kelenjar-kelenjar timbul
sebagai tonjolan dinding bronchus.
Fase alveolar(6,5 bulan sampai lahir)
Paru-paru kehilangan bentuk kelenjarnya karena sekarang banyak sekali pembuluh
darah. Ujung-ujung bronchus yang mengembang akan tumbuh bercabang-cabang
hingga terbentuk alveoli.
Epitel alveoli menipis sehingga terjadi hubungan yang erat dengan kapiler darah.
Sesudah lahir masih terjadi perkembangan pars respiratoria untuk penyempurnaan
yang meliputi bronchiolus respiratorius sampai alveoli.
Regenerasi Paru-paru
Paru-paru mudah sekali terserang penyakit infeksi sehingga menimbulkan
kerusakan jaringannya. Dalm proses penyembuhan bagian-bagian yang rusak akan

digantikan oleh jaringan pengikat. Jaringan paru-paru sendiri tidak mrngalami


regenerasi.
II.2 Tumor/Karsinoma Paru
II.2.1 Definisi
Pada orang normal, pertumbuhan dan kematian sel diatur sedemikian rupa
sehingga selalu dalam keadaan seimbang. Bila mekanisme ini terganggu maka sel akan
tumbuh dengan semena-mena sehinggal sel tersebut membesar dengan tidak terkontrol
yang kemudian dikenal dengan nama tumor.
Berdasarkan pertumbuhannya, tumor dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
Tumor Jinak
Tumor jinak umumnya terlokalisir dan tidak menyebar ke bagian tubuh
yang lain. Tumor jenis ini mudah untuk dihilangkan atau disembuhkan
dengan tuntas.
Tumor Ganas (Kanker)
Tumor ganas (kanker) dapat tumbuh dan membesar dengan cepat, bersifat
merusak organ di sekitarnya serta dapat mengalami metastase atau
menyebar ke organ tubuh yang lain. (Price, 2005)
Sedangkan yang dimaksud dengan karsinoma adalah bentuk neoplasma ganas
yang berasal dari sel epitel. Perlu diingat bahwa epitel tubuh berasal dari ketiga lapisan
sel germinativum; neoplasma ganas yang muncul di epitel tubulus ginjal (mesoderm)
adalah karsinoma, demikian juga kanker yang tumbuh di kulit (ectoderm) dan epitel yang
melapisi usus (endoderm). Karsinoma dibagi-bagi menajdi lebih lanjut. Karsinoma sel
skuamosa menandakan suatu kanker yang sel tumornya mirip dengan epitel skuamosa
berlapis, dan adenokarsinoma berarti lesi yang sel epitel neoplastiknya tumbuh dalam

pola kelenjar. Kadang-kadang tumor tumbuh dalam pola tidak berdiferensiasi dan harus
disebut karsinoma berdiferensiasi buruk. (Robbins, 2012)
II.2.2 Macam-macam Tumor dan Karsinoma Paru
II.2.2.1 Jenis Tumor Paru
Pembagian praktis untuk tujuan pengobatan: a) small cell lung cancer (SCLC), b).
NSCLC (non small cell lung cancer/ Karsinoma skuamosa, adeno karsinoma, karsinoma
sel besar)
Klasifikasi histologis WHO 1999 untuk tumor paru dan tumor pleura:
Epithelial tumors

Benign : papilloma, adenoma.


Preinvasive lesions : Squamous dysplasia/carcinoma in situ, Atypical
adenomatous hyperplasia, Diffuse idiopathic pulmonary neuroendocrine cell

hyperplasia.
Malignant:
Squamous cell carcinoma: papillary, clear cell, basaloid
Small cell carcinoma: combined small cell carcinoma
Adenocarcinoma:
Acinar
Papilary
Bronchoalveolar: nonmucinous, mucinous, mixed mucinous and nonmucinous or

indeterminate cell type

Large cell carcinoma: Large cell neuroendocrine carcinoma, Basaloid


carcinoma, Lymphoepithelioma-like carcinoma, Clear cell carcinoma, Large cell
carcinoma with rhabdoidphenotype

Adenosquamous carcinoma

Carcinoma with pleomorphic sarcomatoid or sarcomatous elements

Carcinoid tumor: typical carcinoid, atypical carcinoid

Carcinomas of salicary gland type: mucoepidermoid carcinoma, adenoid cystic


carcinoma
Others : Soft tissue tumors
Mesothelial tumors : Benign, Malignant mesothelioma
Miscellanous tumors

Lymphoproliferative diseases
Secondary tumors
Unclassified tumors
Tumor-like lesions
PATOLOGI
Small Cell Lung Cancer (SCLC)
Gambaran histologinya yang khas adalah dominasi sel-sel kecil yang
hampir semuanya diisi oleh mucus dengan sebaran kromatin yang sedikit sekali
tanpa nukeloli. Disebut juga oat cell carcinoma karena bentuknya mirip dengan
bentuk biji gandum, sel kecil ini cenderung berkumpul sekeliling pembuluh darah
halus menyerupai pseudoreset. Sel-sel yang bermitosis banyak sekali ditemukan
begitu juga gambaran nekrosis. DNA yang terlepas menyebabkan warna gelap
sekitar pembuluh darah.
Non Small Cell Carcinoma (NSCLC)
Karsinoma sel skuamosa/karsinoma bronkogenik.
Karsinoma sel skuamosa berciri khas proses keratinisasi dan pembentukan
bridge intraseluler, studi sitologi memperlihatkan perubahan yang nyata dari
dysplasia skuamosa ke karsinoma insitu.
Adenokarsinoma.
Khas dengan bentuk formasi glandular dan kecenderungan ke arah
pembentukan konfigurasi papilari. Biasanya membentuk musin, sering tumbuh
dari bekas kerusakan jaringan paru (scar). Dengan penanda tumor CEA
(Carcinoma Embrionic Antigen) karsinoma ini bisa dibedakan dari mesothelioma.
Karsinoma Bronkoalveolar.
Merupakan subtype dari adenokarsinoma, dia mengikuti/meliputi
permukaan alveolar tanpa menginvasi atau merusak jaringan paru.
Karsinoma Sel Besar.
Ini suatu subtype yang gambaran histologisnya dibuat secara ekslusi. Dia
termasuk NSCLC tapi tak ada gambaran diferensiasi skuamosa atau glandular, sel
bersifat anaplastic, tak berdiferensiasi, biasanya disetai oleh infiltrasi sel netrofil.
(Sudoyo, 2011)

II.2.2.2 Morfologi

Karsinoma bronkogenik berawal sebagai lesi mukosa kecil yang biasanya padat
dan berwarna abu-abu putih. Lesi dapat membentuk massa intralumen, menginvasi
mukosa bronkus, atau membentuk massa besar yang mendorong parenkimm paru di
dekatnya. Beberapa lumen besar mengalami kavitasi akibat nekrosis sentral atau
terbentuknya focus perdarahan. Akhirnya, tumor ini dapat meluas ke pleura, menginvasi
rongga pleura dan dinding dada, dan menyebar ke struktur intratoraks di dekatnya.
Penyebaran yang lebih jauh dapat terjadi melalui limfatik atau darah.
Karsinoma sel skuamosa lebih sering pada laki-laki daripada peremupuan;
tumor ini cenderung timbul di bagian tengah bronkus utama dan akhirnya menyebar ke
kelenjar hilus local, tetapi tumor ini lebih lambat menyebar keluar toraks dibandingkan
dengan tipe histologic lain. Lesi besar mungkin mengalami nekrosis sentral dan
menyebabkan terbentukanya kavitas. Lesi praneoplastik yang mendahului, dan biasanya
menyertai, karsinoma sel skuamosa telah diketahui dengan baik. Karsinoma sel skuamosa
sering didahului selama bertahun-tahun oleh metaplasia atau dysplasia skuamosa di epitel
bronkus, yang kemudian berubah menjadi karsinoma in situ, suatu fase yang mungkin
berlangsung selama beberapa tahun. Pada saat ini, sel atipikal dapat diidentifikasi dengan
apusan stiologik sputum atau penyikatan (brushing) atau cairan lavase bronkus, meskipun
lesi asimtomatik dan terdeteksi dengan radiografi. Akhrinya, neoplasma kecil tersebut
mencapai stadium simtomatik, saat massa tumor mulai menyumbat lumen bronkus
utama, sering menyebabkan atelectasis distal dan infeksi. Secara bersamaan, lesi
menginvasi parenkim paru di sekitarnya.
Secara histologis, tumor ini berkisar dari neoplasma sel skuamosa berdiferensiasi
baik yang memperlihatkan pearls keratin dan jembatan antarsel hingga neoplasma
berdiferensiasi buruk yang hanya sedikit memperlihatkan gambaran sel skuamosa.
Adenokarsinoma dapat bermanifestasi sebagai suatu lesi sentral seperti varian
sel skuamosa, tetapi biasanya terletak lebih perifer dan banyak di antaranya timbul pada
jaringan parut paru perifer (scar carcinoma). Penyebab keterkaitan dengan jaringan
parut paru ini masih belum jelas, tetapi pendapat saat ini adalah bahwa jaringan parut
terjadi setelah tumor (yaitu desmoplasia) dan bukan factor penyebab. Di antara keempat
subtype utama karsinoma bronkogenik, adenokarsinoma memiliki keterkaitan paling

lemah dengan riwayat merokok. Secara umum, tumor ini tumbuh lambat dan membentuk
massa yang lebih kecil daripada massa subtype lainnya, tetapi tumor ini cenderung
bermetastasis luas pada stadium awal. Secara histologis, tumor ini memiliki beragam
bentuk, terutama tipe asinar (membentuk kelenjar), papilar, dan padat. Varian terakhir
sering memerlukan pembuktian adanya pembentukan musin intrasel dengan pewarna
khusus untuk memastikan keterkaitannya dengan adenokarsinoma. Meskipun focus
metaplasia dan dysplasia skuamosa mungkin ditemukan di epitel yang terletak proksimal
dan adenokarsinoma, keduanya bukan precursor tumor ini. Yang diperkirakan merupakan
precursor untuk adenokarsinoma perifer adalah hyperplasia adenomatosa atipikal
(HAA). Secara mikroskopis, HAA ditandai dengan focus proliferasi epitel yang berbatas
tegas dan terdiri atas sel kuboid hingga kolumnar rendah yang mirip dengan sel Clara
atau pneumosit alveolus tipe 2, yang memperlihatkan berbagai tingkatan atipia sel
(hiperkromasia nucleus, pleomorfisme, nukeolus mencolok), tetapi tidak sampai seperti
yang terlihat pada adenokarsinoma. HAA dapat bersifat multifokus dan terutama
ditemukan di paru pasien yang sudah mengidap adenokarsinoma atau karsinoma
bronkoalveolus (lihat selanjutnya). Analisis genetic telah memperlihatkan bahwa lesi
HAA bersifat monoclonal, dan lesi ini memperlihatkan penyimpangan molecular yang
sama dengan karsinoma bronkogenik secara umum (delesi 3p) dan dengan
adenokarsinoma secara khusus (mutasi K-RAS).
Karsinoma

bronkioalveolus

(BAC)

dimasukkan

sebagai

subtype

adenokarsinoma dalam klasifikasi terbaru tumor paru dari World Health Organization.
Tumor ini mengenai bagian perifer paru, baik sebagai nodus tunggal atau, yang lebih
sering, sebagai nodus difus multiple yang mungkin menyatu untuK menghasiman
konsolidasi mirip-pneumonia. Gambaran kunci pada BAC adalah pertumbuhannya
di sepanjang struktur yang ada dan dipertahankannya arsitektur alveolus. Sel tumor
tumbuh dalam satu lapisan di atas septum alveolus, vang berfungsi sebagai perancah
(ini disebut sebagai pola pertumbuhan "lepidic", suatu pengandaian sel neoplastik
sebagai kupu-kupu yang hinggap di pagar). Sel neoplastik yang melapisi alveolus mirip
dengan yang terdapat pada HAA, tetapi memperlihatkan pleomorfisme nukleus yang
derajatnya lebih tinggi dan pola pertumbuhan kompleks, termasuk pembentukan papil
(kadang-kadang). Berdasarkan definisi, BAC tidak menyebabkan destruksi arsitektur

alveolus atau melakukan invasi ke stroma disertai desmoplasia, yaitu gambaran yang
menunjuk-kan adanya adenokarsinoma.
Saat ini, konsep evolusi sekuensial adenokarsinoma perifer dianggap setara
dengan sekuensi ade-noma-karsinoma di kolon, yang HAA-nya dianggap
mencerminkan lesi prekursor paling dini ("adenoma"nya), dan lesi ini dapat
berkembang menjadi karsinoma bronkoalveolus ("adenokarsinoma in situ") dan,
akhirnya, adenokarsinoma invasif, yang menyebabkan kerusakan membran basal dan
invasi stroma. Namun, masih belum jelas apakah semua adenokarsinoma paru
berkembang melalui jalur ini dan gambaran akhir mungkin terbukti lebih rumit daripada
yang dipahami saat ini.
Karsinoma sel besar merupakan satu kelompok neoplasma yang tidak
memperlihatkan diferensiasi sitologik dan mungkin mencerminkan neoplasma sel
skuamosa atau glandular yang sangat tidak berdiferen-siasi sehingga sulit digolongkan.
Sel besar, biasanya anaplastik, dan memiliki nukleus vesikular dengan nukleolus
mencolok. Kadang-kadang, tumor memperlihatkan komponen sel raksasa, yang banyak
di antara-nya berinti banyak ("karsinoma sel raksasa"), sementara yang lain terdiri atas sel
berbentuk gelondong mirip sarkoma ("karsinoma sel gelondong"); sebagian terdiri atas
campuran keduanya ("karsinoma sel gelondong dan sel raksasa"). Karsinoma sel besar
memiliki prognosis buruk karena kecenderungannya menyebar ke tempat jauh pada
awal perjalanan penyakit.
Karsinoma paru sel kecil umumnya tampak sebagai massa abu-abu pucat yang
terletak di sentral dengan perluasan ke dalam parenkim paru dan ke-terlibatan dini
kelenjar getah bening hilus dan mediastinum. Kanker ini terdiri atas sel tumor dengan
bentuk bulat hingga lonjong, sedikit sitoplasma, dan kromatin granular. Gambaran mitotik
sering ditemukan. Meskipun disebut "kecil", sel neoplastik umumnya berukuran dua kali
lipat dibandingkan dengan limfosit biasa. Biasanya ditemukan nekrosis dan mungkin
luas. Sel tumor sangat rapuh dan sering memperlihatkan fragmentasi dan "crush
artifact' pada sediaan biopsi. Gambaran lain pada karsinoma sel kecil, yang paling jelas
pada pemeriksaan sitologik, adalah berlipatnya nukleus akibat letak sel tumor dengan
sedikit sitoplasma yang saling berdekatan. Tumor ini berasal dari sel neuroendokrin paru

sehingga memperlihatkan beragam penanda neuroendokrin selain sejumlah hormon


polipeptida yang mungkin menyebabkan sindrom paraneoplastik.
Pola kombinasi tidak memerlukan komentar lebih lanjut, tetapi perlu dicatat
bahwa sejumlah kecil karsinoma bronkogenik memperlihatkan lebih dari satu garis
diferensiasi, kadang-kadang yang mengisyaratkan bahwa semua berasal dari satu sel
progenitor multipotensial.
Pada semua neoplasma ini, kita dapat menelusuri keterlibatan rangkaian
kelenjar getah bening di sekitar karina, mediastinum dan leher (nodus skalenus) serta
regio klavikula dan, cepat atau lambat, metastasis jauh. Keterlibatan kelenjar getah
bening supraklavikula (nodus Virchow) merupakan gambaran khas dan kadangkadang memberi petunjuk adanya tumor primer tersembunyi. Kanker ini, jika sudah
berada pada tahap lanjut, sering meluas ke dalam rongga pericardium atau pleura
yang menyebabkan peradangan dan efusi. Tumor dapat menekan atau menginfiltrasi
vena cava superior dan menyebabkan bendungan vena atau sindrom vena kava
superior. Neoplasma di apeks mungkin menginvasi pleksus simpatikus servikalis atau
brakialis dan menyebabkan nyeri hebat dalam distribusi saraf ulnaris atau menyebabkan
sindrom Horner (enoftalmos ipsilateral, ptosis, meiosis dan anhidrosis). Neoplasma
di apeks semacam ini kadang-kadang disebut tumor Pancoast, dan kombinasi
temuan klinis di atas dikenal sebagai sindrom Pancoast. Tumor Pancoast sering
disertai kerusakan iga pertama dan kedua dan kadang-kadang vertebra torakalis.
Seperti pada kanker lain, telah dibuat kategori berdasarkan tumor-kelenjar-metastasis
(TNM) untuk menunjukan ukuran dan penyebaran neoplasma primer.

Anda mungkin juga menyukai