Anda di halaman 1dari 2

Radiografi Intra Oral Periapical (IOPA) tetap menjadi tolak ukur dalam

penilaian diagnostik patologi dento-facial. Tetapi, dalam beberapa situasi klinis


seperti pada perkembangan individu yang masih berkembang memiliki refleks
muntah yang berlebih karena hal itu jadi memiliki hasil diagnostik yang kurang
baik. Dalam situasi seperti itu, radiografi periapikal ekstra oral sangat digunakan.
Memperolehnya dengan menempatkan sensor di luar rongga mulut dan kemudian
membuat eksposur radiografi menggunakan radiografi digital sinar-X untuk intra
oral dan dosis radiasi dalam teknik ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan
radiografi panoramik.
Radiografi Intra Oral Periapical (IOPA) merupakan alat penting dalam diagnosis
berbagai patologi gigi-gigi. Penggunaan radiografi awalnya disarankan untuk
memfoto gigi dan periodontium. Sebagian besar pasien tidak dapat mentolerir
film/sensor intraoral karena individu yang memiliki kecacatan memiliki refleks
muntah yang berlebihan. Untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi oleh dokter
dalam situasi ini, Michael Newman dan Seymour Friedman (2003)
mengembangkan teknik alternatif yang menggunakan fim/sensor ekstraoral dan
hasilnya lebih memilih teknik ekstraoral ke IOPA radiografi konvensional.
Sebelumnya pada tahun 1974, Fisher mengusulkan teknik radiografi ekstraoral
untuk mendapatkan gambar molar ketiga menggunakan oklusal film. Meskipun
teknik ini menggunakan kVp tinggi (setinggi 90 kVp) dan karenanya ditemukan
memiliki keterbatasan dalam aplikasi klinis sehari-hari dan Chia-Hui et al (2007),
merancang perangkat penyempurnaan film / sensor balok dengan tujuan teknik
radiografi Extra Oral Periapical (EOPA) untuk menyelaraskan sinar-X langsung
di film / sensor dibawah tempat locator ring supaya tidak jatuh di kerucut
cuts4 .Kumar et al telah mempekerjakan teknik radiografi EOPA dalam berbagai
situasi klinis dan menemukan radiografi EOPA memberikan informasi diagnostik
yang penting.
Teknik yang digunakan untuk memperoleh gambar dapat diperoleh dengan
menggunakan Digital Imaging System dan sensor intraoral. Sebuah IOPA mesin
X-ray dapat digunakan untuk mengambil radiografi ketika diatur di 60kv-7mA
untuk 0,45-0,55 detik.
Untuk gigi rahang atas:
Pasien harus duduk tegak dengan mulutnya terbuka lebar. Hal ini memungkinkan
sinar X-ray untuk lolos ke film/sensor terhalang dari sisi berlawanan dari mulut.
Film/sensor ditempatkan pada permukaan luar pipi dan bukal pada gigi. Kapas
gulungan dapat ditempatkan di antara film/sensor dan pipi untuk paralel
film/sensor dengan permukaan bukal gigi. Cone X-ray mempunyai sudut sekitar
-25 -5 dari bidang horizontal. Selain itu, sinar X-ray sejalan tegak lurus
terhadap sensor sehingga dapat memberikan gambar yang akurat.
Untuk gigi mandibular:

Pasien duduk tegak dengan mengangkat dagu dan film/sensor ditempatkan pada
permukaan luar pipi dan bukal pada gigi. Cone X-ray miring sekitar -15 -5
dari bidang horizontal. Sinar X-ray sejajar tegak lurus terhadap film/sensor untuk
memberikan gambar yang akurat.nn
Radiografi EOPA merupakan teknik yang sensitif dengan lingkungan sekitar
karena memiliki kontras sedikit lebih rendah pada resolusi gambar serta tidak
mampu untuk mendapatkan radiografi gigi anterior akibat kelengkungan
lengkungan dan kesulitan dalam posisi Cone X-ray.

1.

Whaites E. Periapical radiography. In: Parkinson M, editor. Essentials of


Dental Radiography and Radiology. 3 rd ed. Philadelphia: Churchill Livingstone,
An imprint of Elsevier Science Limited;2002. Pg. 161-76.

2.

Newman ME, Friedman S. Extraoral radiographic technique: An


alternative approach. J Endod. 2003;29(6):419-21.

3.

Chen CH, Lin SH, Chiu HL, Lin YJ, Chen YK, Lin LM. An aiming device
for an extra oral radiographic technique. J Endod. 2007;33(6): 758-60.

4.

Kumar R, Khambete N, Priya E. Extraoral periapical radiography: an


alternative approach to intraoral periapical radiography. Imaging Sci Dent.
2011;41(4):161-5.

5.

Fisher D. Extraoral radiographic technique for third molars. Aust Dent J.


1974;19(5):306-7.