Anda di halaman 1dari 7

Pemikiran Thomas Aquinas, Ibn Taymiyya, Ibn Khaldun, dan

Max Weber
Sistem ekonomi yang terkait dengan semangat religius, yang menghindarkan
manusia dari keterasingan akibat sekularisme, dapat ditelusuri pada pemikiran
Saint Thomas Aquinas (1225-1274) Max Weber (1905) untuk Kristen. Dan pada
pemikir Islan terdapat di antaranya adalah Syed Nawab Haider Naqwi dan
Masudul Alam Choudury. Secara ringkas akan diuraikan pemikiran-pemikiran Ibn
Taymiyya, Ibn Khaldun, dan Max Weber yang terkaitndengan sistem ekonomi.
Saint Thomas Aquinas. Seorang pendeta yang secara sistematis empresentasikan
teologi, moral, sosiologi, dan prinsip ekonomiyang dipengaruhi pendekatan
ristotelian. Pemikirannya yang komprehensif dengan struktur pemikiran yang
merekonsiliasikan filsafat dan agama dituangkan dalam Summa teologica. Di
dalamnya terdapat doktrin pemikiran ekonomi yang menyangkut kepemilikan
pribadi, the just price, tentang distributive justice, dan larangan rente (usury) atau
mproper gains.
Thomas Aquinas mendukung kepemilikan pribadi dengan dasar pemikiran bahwa
hal tersebut sesuai dengan hukum alam menurut alasan kemanusiaan, untuk
penfaat kehidupan manusia. Dikatakan pula bahwa private production akibat
pengakuan private property memberikan stimulus yang lebih besar untuk aktivitas
ekonomi dibandingkan dengan produksi bersama. Meski demikian, tidak lantas
menjadi kepemilikan yang tidak terbatas seperti hukum Romawi. Aquinas
merefleksikan ide stewarship of wealth. Bahwa yang lain memiliki hak untuk
dibagi. Aquinas memperbolehkan pula pengaturan pemerintah untuk barang
publik. Kemudian Aquinas mengakui pula pentingnya kegiatan komersial dan
tindakan yang realistik dari adanya insentif. Yang dipermasalahkan Aquinas dalam
Summa Teologica adalah tentang just price, dengan pertanyaan, Whether a
man may lawfully sell a thing for more than it is worth?. Profit, dalam hal ini

yang moderat, diperbolehkan jika pedagang mempunyai maksud terhormat, seperti


self support, charity, dan public service. Karena Aquinas tidak memberikan
spesifikasi nilai suatu barang yang katanya tidak bias ditetapkan secara matematis,
maka yang dimaksud dengan just price adalah harga berlaku yang terjadi di
suatu tempat pada saat tertentu, yang ditentukan oleh perkiraan yang wajar (fairminded estimate). Selanjutnya Aquinas melarang apa yang disebut improper gains
yang dianggap sebagai rente.
Ibn Tamiyyah. Beliau merupakan seorang fuqaha, ahli hukum Islam, filosof, dan
juga ekonom. Karya yang mempresentasikan pandangan-pandangan ekonominya
adalah al- Hisha fil Islam. Karyanya ini kemudian banyak diulas oleh pemikir
ekonomi Islam kontemporer. Sebut misalnya Sherwani (1956), Ilyas Ahmad
(1961) Islahi (1980) dan Kahf (1982).
Dengan menggunakan Quran dan Sunnah sebagai sumber yurisprudensi utama,
Ibn Taymiyyah mendiskusikan dan menganalisa peranan al-hisba, market
supervisor (pengawas pasar) dan pengembangan serta ciri kewajiban pemerintah.
Dalam hal ini pemerintah seharusnya berperan dalam mendorong dilaksanakannya
aturan main (code of conduct) yang Islami sehingga produsen, pedagang, dan agen
ekonomi yang lain berlaku jujur dan adil dalam melakukan transaksi. Harus dapat
dipastikan bahwa di pasar terjadi kompetisi yang adil, even playing field, sehingga
bebas dari manipulasi dan eksploitasi. Menjadi kewajiban pemerintah juga untuk
memastikan seluruh kebutuhan masyarakat terpenuhi. Pada pasar yang demikian,
Ibn Taymiyya mengajukan konsep price of eqivalent yang menjadi dasar
reasonable profit. Price of equivalent adalah konsep pragmatis yang
dapatditentukan dengan mempelajari kondisi pasar. Harga ditentukan dalam a
merket free of imperfection (Kahf, 1982) melalui kekuatan supply dan demand
(Siddiqi, 1982). Pandangannya tentang market supervision ini dilatari oleh
kepeduliannya yang sangat besar pada keadilan dan fair play. Pandangannya

tentang hak kepemilikan dapat dikatakan menggunakan pendekatan individualism


conscious of mutual responsibilities. Berdasarkan pandanganpandangan tersebut,
beberapa pengulasnya mengatakan bahwa pemikiran Ibn Tamiyya kurang lebih
sejajar dengan konsep modern welfare state.
Ibn Khaldun. Sering dikatakan sebagai ekonom terbesar Islam, selain sebagai
seorang sejarawan dan filosof. Karyanya yang monumental, Muqaddimah, atau
The prologema atau The Introduction dikerjakan selama empat tahun (13751379). Analisisnya yang hatihati memberi kontribusi atas study tentang penyebab
underdevelopment. Ciri khas dalam melakukan pendekatan terhadap persoalan
ekonomi adalah kesediannya untuk menggunakan pertimbangan berbagai faktor
seperti geografis, etnik, politik, dan sosiologis dalam situasinya. Beliau tidak
membatasi pada apa yang disebut faktor ekonomi saja. Dapat dikatakan sebagai
peletak awal analisis yang holistik dan integratif.
Lingkup pemikirannya meliputi teori nilai, hukum supply dan demand, produksi,
distribusi dan konsumsi kekayaan, uang dan modal, division of labor, capital
formation dan pertumbuhan ekonomi, perdagangan internasional, public finance,
dan tanggung jawab ekonomi pemerintah. Rekomendasi kebijakannya didasari
oleh analisisnya atas apa yang terjadi dengan mendasarkan pada the dictates of
reason as well as ethics, menunjukkan pertimbangan positif sekaligus normatif.
Yang diambil di sini adalah terkait dengan sistem ekonomi. Tentang mekanisme
alokasi sumber daya, hak kepemilikan, dan institusi pengaturan. Ibn Khaldun
menekankan pentingnya kepemilikan pribadi dan efisiensi ekonomis. Ibn Khaldun
mendahului pemikiran Adam Smith dalam beberapa hal, yaitu division of labour
dan free market system. Beliau menentang intervensi pemerintah dan mempercayai
efisiensi pasar bebas. Berikut dikutip dari Muqadimah:

Ibn Khaldun mengakui peningnya institusi pengaturan dalam hal pembuatan


kebijakan, pembuatan keuangan publik dan penjaminan dipenuhinya kebutuhan
masyaraka. Berarti tidak untuk intervensi pasar dalam hal penentuan harga yang
ditentukan
Supply dan demand. Karena, God is the controller of the price. Dalam hal
dorongan atau insentif tindakan, seperti telah disebutkan diatas, tidak diragukan
lagi bahwa Ibn Khaldun menekankan baik alasan rasional maupun moral.
Beberapa Pemikiran Filsafat Thomas Aquinas
1.

Thomisme
Thomisme adalah pemikiran filsafat yang dikemukakan oleh Aquinas.
Sebagaimana umumnya ajaran Skolastik, Thomas Aquinas berusaha dengan
sungguh-sungguh untuk mendamaikan pemikiran filsafat yang sekuler dari
Yunani dengan agama Nasrani yang dianutnya. Oleh Thomas dibedakan dua
tingkat pengetahuan manusia. Pengetahuan tentang alam yang dikenal melalui
akal dan pengetahuan tentang rahasia Tuhan yang diterima oleh manusia lewat
wahyu atau kitab suci.
Pengertian-pengertian metafisis sebagian besar dipinjam dari Aristoteles.
Misalnya pengertian materi dan bentuk, potensi dan aktus, bakat dan
perealisasian. Pengertian-pengertian metafisis sebagian besar dipinjamnya dari
Aristoteles, seperti: pengertian materi dan bentuk, potensi dan aktus, bakat dan
perealisasian. Materi adalah asal muasal munculnya sesuatu. Atau dapat juga
disebut subyek pertama sebagai asal munculnya sesuatu. Bentuk terkandung
dalam materi, umpamanya asal muasal buah mangga: Buah Mangga berasal
dari biji mangga, lalu menjadi pohon mangga. Biji mangga adalah materinya
atau potensinya, sedang pohon mangga yang telah tumbuh itu adalah

bentuknya, atau aktusnya. Pada pohon mangga itu kita mengamati bahwa yang
telah terkandung di dalam biji sebagai materi telah direalisasikan sepenuhnya.
Pembedaan antara materi dan bentuk ini hanya terjadi pada benda-benda
dalam kenyataan, tidak pada pengertian tentang Allah. Thomas memakai
pengertian essentia (hakekat) dan existentia (eksistensi) bagi Allah.
2.

Essentia dan Existentia


Ajaran Thomas Aquinas yang terkenal diantaranya tentang essentia dan
existentia, yang dikaitkannya dengan Tuhan. Tuhan adalah aktus yang
palingumum,

actus

purus

(aktus

murni),

artinya

Tuhan

sempurna

keberadaannya, tidak berkembang, karena pada Tuhan tiada potensi. Di dalam


Tuhan segala sesuatu telah sampai pada perealisasiannya yang sempurna.
Tuhan adalah aktualitas semata-mata, oleh karena itu pada Tuhan hakikat
(essentia) dan keberadaann(existentia) ada sama dan satu (identik). Hal ini
tidak berlaku bagi makhluk. Keberadaan makhluk adalah sesuatu yang
ditambahkan pada hakikatnya
Filsafat Thomas erat kaitannya dengan teologia. Sekalipun demikian pada
dasarnya filsafatnya dapat dipandang sebagai suatu filsafat kodrati yang urni.,
sebab ia tahu benar akan tuntuan penelitian kebenaran, dan secara jujur
mengakui bahwa pengetahuan insani dapat diandalkan juga. Dia membela hakhak akal dan mempertahankan kebebasan akal dalam bidangnya sendiri.
Wahyu menurutnya berwibawa juga dalam bidangnya sendiri. Disamping
memberi kebenaran alamiah, wahyu juga memberi kebenaran yang adikodrati,
memberi misteri atau hal-hal yang bersifat rahasia, seperti: kebenaran tentang
trinitas, inkarnasi, sakramen dll. Untuk ini diperlukan iman. Iman adalah suatu
cara tertentu guna mencapai pengetahuan, yaitu pengetahuan yang mengatasi

akal, pengetahuan yang tidak dapat ditembus akal. Iman adalah suatu
penerimaan atas dasar wibawa Allah. Sekalipun misteri mengatasi akal, namun
tidak bertentangan dengan akal, tidak anti akal. Sekalipun akal tidak dapat
menemukan misteri, akan tetapi akal dapat meratakan jalan menuju kepada
misteri

(prae

ambula

fidei).

Dengan

demikian,

Thomas

Aquinas

menyimpulkan bahwa ada dua macam pengetahuan yang tidak saling


bertentangan, tetapi berdiri sendiri-sendiri secara berdampingan, yaitu:
pengetahuan alamiah, yang berpangkal pada akal yang terang serta memiliki
hal-hal yang bersifat insani umum sebagai sasarannya, dan pengetahuan iman,
yang berpangkal dari wahyu dan memiliki kebenaran ilahi, yang ada di dalam
Kitab Suci, sebagai sasarannya.
Perbedaan antara pengetahuan yang diperoleh melalui akal dan
pengetahuan iman itu menentukan hubungan antara filsafat dan teologia.
Filsafat bekerja atas dasar terang yang bersifat alamiah semata-mata, yang
datang dari
akal manusia. Oleh karena itu filsafat adalah ilmu pengetahuan insani yang
bersifat umum, yang hasil pemikirannya diterima oleh tiap orang yang berakal.
Akal membimbing manusia untuk mengenal kebenaran di kawasan alamiah,
sehingga manusia dapat naik dari hal-hal yang bersifat inderawi ke hal-hal
yang bersifat non-inderawi, naik dari hal-hal yang bersifat rohani, dari hal-hal
yang serba terbatas ke hal-hal yang tidak terbatas. Teologia sebaliknya
memerlukan wahyu, yang memberikan kebenaran-kebenaran yang mengatasi
segala yang bersifat alamiah karena teologia memiliki kebenaran-kebenaran
ilahi sebagai sasarannya. Kebenaran-kebenaran ilahi hanya bisa diperoleh
melalui wahyu, yang ditulis di dalam Kitab suci.

Sekalipun demikian, ada bidang-bidang yang dimiliki bersama, baik oleh


filsafat maupun oleh teologia. Umpamanya pengetahuan tentang Allah dan
iwa. Baik filsafat maupun teologia keduanya dapat mengadakan penelitian
sesuai dengan kecakapan masing-masing. Sebaliknya, ada bidang-bidang yang
samasekali berada di luar jangkauan masing-masing, umpamanya: filsafat
anyadapat menjangkau hal-hal di kawasan alam, sedangkan misteri berada di
luar jangkauannya, karena misteri hanya dapat di dekati dengan iman. Dengan
demikian, hubungan antara filsafat dan teologia menurut Thomas, filsafat dan
teologia adalah laksana dua lingkaran, meskipun yang satu berada di luar yang
lain, namun bagian tepinya ada yang bersentuhan. Disini terlihat bahwa homas
Aquinas mempersatukan unsur-unsur pemikiran Augustinus-Neoplatonisme
dengan unsur-unsur pemikiran Aristoteles, sedemikian rupa sehingga menjadi
suatu sintesa yang belum pernah ada.
Menurut Thomas, Allah adalah aktus yang paling umum, aktus purus (aktus
urni), artinya keberadaan Allah sempurna, tidak ada perkembangan pada-ya,
karena pada-Nya tidak ada potensi. Di dalam Allah segala sesuatu telah sampai
kepada perealisasiannya yang sempurna. Allah itu mutlak, bukan yang
mungkin. Allah adalah aktualitas semata-mata. Oleh karena itu, pada Allah
terdapat hakekat (essentia) dan eksistensi (existentia), eksistensi Allah tidak
ditambahka pada hakekat, karena pada Allah hakikat dan eksistensi itu identik,
tidak terpisah. Hal ini tidak terjadi pada makhluk. Eksistensi atau keberadaan
makhluk adalah sesuatu yang ditambahkan kepada hakekatnya (essentia). Pada
makhluk hubungan antara hakekat dan eksistensi seperti materi dan bentuk,
atau seperti potensi dan aktus, atau seperti bakat dan perealisasiannya. Pada
Allah tiada sesuatu pun yang berada sebagai potensi yang belum menjadi
aktus.