Anda di halaman 1dari 24

UNIVERSITAS MULAWARMAN

FAKULTAS TEKNIK
PS S1 TEKNIK PERTAMBANGAN
PROPOSAL
SKRIPSI
Nama

: Indrawijaya

NIM

: 1209055001

Peminatan

: Pemodelan dan Evaluasi Tambang

Judul Skripsi

: Pemodelan dan Perhitungan Nilai Rata-Rata Kualitas dan


Cadangan Batubara dengan Menggunakan Menggunakan Metode
Triangle.Pada Pit XX PT.YY

Pembimbing 1

: Dr. Ir. Harjuni Hasan, M.Si.

Pembimbing 2

: Tommy Trides, S.T, M.T

Dilaksanakan

: Semester Genap 2015/2016

1 Judul Penelitian
Pemodelan dan Perhitungan Nilai Rata-Rata Kualitas dan Cadangan Batubara
dengan Menggunakan Metode Triangle.Pada Pit XX PT.YY

2 Latar Belakang

Investasi di bidang pertambangan memerlukan jumlah dana yang sangat besar.


Agar investasi yang akan dikeluarkan tersebut menguntungkan, maka komoditas
endapan tersebut harus mempunyai kualitas maupun kuantitas yang cukup untuk

dapat mempengaruhi keputusan investasi. Sistem penambangan dan pengolahan


yang digunakan untuk mengolah bahan galian tersebut harus dapat beroperasi
dengan baik untuk memperoleh keuntungan. Disamping itu semua teknologi dan
pembiayaan yang direncanakan dengan matang juga dipertimbangkan terhadap
aset bahan galian yang dimiliki. Dengan demikian perhitungan cadangan bahan
galian harus dapat dilakukan dengan derajad kepercayaan yang dapat diterima dan
dipertanggungjawabkan.
Perhitungan nilai rata-rata kualitas dan cadangan merupakan proses kuantifikasi
formal suatu endapan bahan galian (bijih dan batubara). Perhitungan daat
dilakukan dengan berbagai metode yang didasarkan pada pertimbangan empiris
maupun teoritis. Volume,tonase,kadar,kuantitas dan kualitas bahan galian
merupakan atribut-atribut (Parameter) yang umum diperhitungkan. Perhitungan
atribut tersebut harus optimal dalam arti tak bias dan tingkat kesalahan yang tidak
melebihi kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan.
Seiring dengan perkembangan teknologi maka metode perhitungan cadangan dan
nilai kualitas suatu bahan galian telah sangat berkembang secara komputerisasi
degan menggunakan perangkat lunak komputer yang sudah ada saat ini tanpa
mengubah filosofi perhitungannya. Prinsip perhitungan cadangan adalah
berdasarkan hasil suatu kisaran, sedangkan prinsip perhitungan nilai dari kualitas
adalah berdasarkan nilai pembobotnya. Model cadangan dan model kualitas yang
dibuat adalah hasil pendekatan dari kondisi yang sebenarnya yang dihasilkan dari
kegiatan eksplorasi. Hasil dari perhitungan tersebut masih mengandung
ketidakpastian. Oleh karena itu penelitian ini diharapkan dapat meminimalkan
ketidakpastian tersebut dengan melakukan suatu simulasi pemodelan cadangan
batubara dan perhitungan nilai rata-rata kualitas dan cadangan tertambang dengan
menggunakan metode triangle pada pit XX PT.YY

3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:


a. Melakukan pemodelan endapan batubara di daerah penelitan dengan
metode Inverse Distance Weighted.
b. Melakukan pemodelan kualitas (quality model) dari endapan batubara di
daerah penelitian
c. Menghitung cadangan batubara dengan menggunakan metode triangle dan
volume overburden di daerah penelitian.
d. Menghitung nilai rata-rata dari kualitas batubara di daerah penelitian.

4 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dari penelitian ini adalah:
Pemodelan endapan batubara menggunakan metode Inverse Distance Weighted.
Perhitungan cadangan batubara dilakukan di wilayah IUP PT.YY pada Pit XX
dengan menggunakan metode triangle.
Pemodelan dan perhitungan nilai rata-rata kualitas dan cadangan batubara
dilakukan dengan bantuan software minescape 4.1.1.9

dan Ms.Office Excel

2013.
Data-data geometri lereng seperti tinggi lereng,sudut lereng, dan lain-lain
mengacu pada rekomendasi yang diberikan perusahaan PT.YY.
Batasan nilai nisbah pengupasan (stripping ratio) mengacu pada rekomendasi
yang diberikan perusahaan PT.YY
Tidak membahas masalah ekonomi dari batubara
Cadangan batubara yang dihitung adalah cadangan tertambang
Pembahasan data hanya sampai perhitungan cadangan tertambang dan
perhitungan nilai rata-rata dari kualitas batubara di Pit YY PT.XX, dan tidak
terkait dengan kapasitas produksi dan rencana penambangan.

5 Landasan Teori
5.1.

Penaksiran Cadangan Batubara

Sulistyana (2010) berargumen bahwa suatu taksiran cadangan harus mencerminkan


secara tepat kondisi geologis dan karakter/sifat mineralisasi, serta sesuai dengan tujuan
evaluasi. Suatu model cadangan yang akan digunakan untuk perancangan tambang harus
konsisten dengan metode penambangan dan teknik perencanaan tambang yang
diterapkan. Taksiran yang baik harus didasarkan pada data faktual yang diolah secara
obyektif. Keputusan dipakai atau tidaknya suatu data permodelan harus diambil dengan
pedoman yang jelas dan konsisten. Pembobotan data yang berbeda harus dilakukan
dengan dasar yang kuat. Metode permodelan yang digunakan harus memberikan hasil
yang dapat di uji ulang atau verifikasi.
Menurut Suyono dan Winanto (2010) sebelum dilakukan penaksiran maka diperlukan
beberapa pemahaman untuk menentukan metode penaksirannya, hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah :
1. Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel harus memperhatikan empat komponen yaitu statistik, geologi,
fisik dan kimia. Komponen statistik berkaitan dengan beberapa kali pengambilan
sampel dan berapa berat setiap pengambilan sampel. Komponen geologi terkait
dengan lokasi pengambilannya. Komponen fisik terkait dengan increment dan
proses pengambilan sampel. Komponen kimia terkait pengaruh kimia yang
mungkin terjadi dalam pengambilan sampel. Setiap pengambilan sampel, lokasi
harus diketahui untuk kepentingan korelasi antar lubang bor atau test pit.
2. Penentuan Daerah Pengaruh
Untuk sampel yang digambarkan dalam bentuk titik digunakan prinsip garis berat,
sedangkan sampel yang digambarkan dalam bentuk garis digunakan prinsip garis
bagi. Pelaksanaan eksplorasi pendahuluan dilakukan dengan memetakan daerah
penyelidikan, baik dengan pemetaan topografi maupun dengan foto udara, dengan
tujuan mendapatkan peta yang benar dan baik sebagai dasar penyelidikan
selanjutnya.
3. Interpretasi Daerah Pengaruh
Ada tiga macam interpretasi yang perlu diperhatikan yaitu interpretasi analitis (rule

of gradual change ataukah rule of nearest point), interpretasi natural atau intrinsic
(terkait dengan kondisi geologi, teknologi dan ekonomi increment), dan interpretasi
empirik (kebiasaan).
4. Ekstrapolasi Daerah Pengaruh
Daerah pengaruh yang diterapkan untuk titik yang terpisah. Luasannya disamakan
dengan luas daerah pengaruh titik yang mengelompok.
5. Ketebalan Semu dan Ketebalan Sebenarnya.
Pengukuran ketebalan harus tegak lurus dari sumbu terpanjang dari endapan bahan
galiannya.
6. Korelasi Lubang Bor / Test Pit
Dilakukan setelah dilakukan plotting posisi pengambilan sampel, baik dengan cara
pemboran ataupun test pit. Korelasi harus memperhatikan ketinggian permukaan,
ketebalan dan kualitas endapan. Untuk kualitas atau jenis yang sama dari setiap
ketebalan dapat dihubungkan.
7. Perhitungan Luas.
Berbagai macam metode perhitungan luas masing-masing mempunyai kelemahan
dan kelebihannya.
8. Perhitungan Volume
Pada dasarnya pendekatannya dapat menggunakan rumus kerucut, frustum, ataupun
mean area tergantung dari perbedaan antara satu luasan dengan luasan lainnya.
9. Perataan dan Pembobotan Kadar.
Diperlukan dalam penaksiran untuk mempermudah perhitungan.
10. Cut Of Grade
Merupakan batasan ekonomi antara sumberdaya dan cadangan sekaligus berkaitan
dengan batas perhitungan.
11. Ultimate Pit Slope
Digunakan sebagai pembatas geometri pit untuk penaksiran cadangan tertambang.
Menurut Suyono dan Winanto (2010) beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan
dalam metode penaksiran adalah :
1. Tujuan penaksiran untuk inventarisasi, konstruksi atau rencana
2.
3.
4.
5.

penambangan.
Tahapan dan metode eksplorasinya.
Jenis dan klasifikasi bahan galiannya
Kondisi geologi terkait dengan pengambilan sampel.
Waktu dan biaya yang tersedia.

Kelima pertimbangan tersebut diatas dan metode penaksiran yang dipilih berkaitan
dengan akurasi penaksiran yang diinginkan.

5.2 Metode Penaksiran


Menurut Suyono dan Winanto (2010) metode penaksiran yang dapat diterapkan untuk
bahan galian industri cukup banyak diantaranya adalah:
1. Metode Luas dan Faktor rata-rata
Merupakan metode rata-rata perhitungan ketebalan dan kadar dengan rata-rata
hitung dan rata-rata pembobotan.
2. Metode Penampang.
Beberapa contoh metode penampang adalah metode penampang tegak dan metode
penampang mendatar (kontur).
3. Metode Analitik
Beberapa contoh metode analitik yaitu metode segitiga atau metode poligon.
4. Metode Blok Reguler
Dapat dipilih blok berdasarkan titik sampel ataukah blok ukuran tetap yang dapat
diselesaikan dengan inverse distance.
Hasil penaksiran sumberdaya dan cadangan memiliki nilai yang berbeda-beda, hal ini
tergantung dari metode yang digunakan dan juga tidak terlepas tujuan pelaksanaannya.
Untuk mendapatkan hasil yang akurat maka paling tidak penaksiran dilakukan dengan
satu metode tetapi dengan dua cara perhitungan. Metode yang sering digunakan pada
penaksiran sumberdaya dan cadangan adalah metode penampang (cross section), metode
NNP (nearest neighbor polygon), metode inverse distance weighting (IDW) dan kriging.
(Waterman Sulistyana.2010)

5.2.1 Metode Seperjarak (Inverse Distance)


Menurut Suyono dan Winanto (2010) Metode seperjarak adalah salah satu cara
penaksiran berdasarkan kerangka model blok. Kadar suatu blok merupakan kombinasi
linear atau harga rata-rata tertimbang dari komposit lubang bor disekitar blok tersebut

dan komposit yang berada didekat dengan blok memiliki kemiripan nilai yang relatif
baik dibandingkan dengan yang lebih jauh.

Gambar 5.1 Metode interpolasi inverse distance weighted ( Mitas, L. & Mitasova, H. 1999)

Sulistyana (2010) berargumen bahwa prinsip dasar metode seperjarak adalah


menentukan bobot contoh (w-) sebagai fungsi dari jarak contoh terhadap blok yang
ditaksir. Metode seperjarak merupakan kombinasi linier atau harga rerata tertimbang
(weigted average) dari kadar komposit sekitar blok. Metode ini diformulasikan sebagai
berikut:

Kadar rata-rata , Z =

w i . Zi
i =1

.......................................................................... (5.1)

Keterangan :

w i : bobot ke-i =

1
d1k
n

i=1

i
d ki

.................................................................................... (5.2)

: pangkat (power) yang dipilih

di

: jarak antara titik yang ditaksir dengan contoh ke-i

Zi

: kadar rata-rata tiap contoh-i (komposit lubang bor)

Bobot seperjarak dapat dijelaskan sebagai berikut (berlaku untuk n>0):


a) Seperjarak pangkat satu memiliki persamaan sebagai berikut:
1
d
w=
............................................................................................. (5.3)
1
d
b) Seperjarak kuadrat (inverse distance squared, IDS). Pada pembobotan ini contoh
dengan jarak paling dekat memiliki nilai pembobotan paling besar. Penyelesaian
IDS menggunakan persamaan sebagai berikut:
1
d2
w=
........................................................................................... (5.4)
d12
c) Seperjarak kubik (inverse distance cubed, ID3), mempunyai persamaan sebagai
berikut:

1
d3
w=
d13

.............................................................................................. (5.5)

Maka didapat rumus umum Inverse Distance yaitu sebagai berikut:


1
1
1
1
z 1+ Z 2+ Z 3+ + Z n
d
d2
d3
dn
Z0= 1
...................................................................... (5.6)
1 1 1
1
+ + ++
d1 d2 d 3
dn

5.3 Korelasi Stratigrafi

Noor (2009) berargumen bahwa korelasi stratigrafi pada dasarmya adalah mencari
persamaan waktu dari tiap lapisan-lapisan stratigrafi dengan merujuk kepada waktu
pembentukan lapisan tersebut. Maksud dan tujuan dari statigrafi adalah untuk
mengetahui persebaran lapisan batuan atau satuannya secara lateral, sehingga dengan
demikian dapat diperoleh permodelan atau gambaran yang menyeluruh dalam bentuk
dua atau tiga dimensinya.
5.3.1 Litokorelasi (Lithocorrelation)
Boggs

(1995)

berargumen

bahwa

litokorelasi

(lithocorrelation)

merupakan

pengungkapan kemiripan litologi dan posisi stratigrafi. Litologi ialah pembelajaran dan
deskripsi dari karakteristik fisik batuan khususnya pada batuan sampel dan di singkapan,
sedangkan stratigrafi adalah ilmu yang mempelajari tentang lapisan batuan dan
hubungan lapisan batuan satu dengan lainnya, yang bertujuan untuk mendapatkan
pengetahuan tentang sejarah bumi. Penelusuran langsung satuan litostratigrafi dari satu
lokasi ke lokasi lain merupakan satu-satunya metoda yang dapat memberikan informasi
yang sangat meyakinkan mengenai ekivalensi satuan tersebut. Metoda korelasi ini hanya
dapat diterapkan apabila strata yang diteliti tersingkap secara menerus atau hampir
menerus.

Gambar

5.2
Litokorelasi ( Mial, D. Andrew. 1997)

5.4 Cadangan Batubara (Coal Reserve)

Cadangan batubara (coal reserves) adalah bagian dari sumberdaya terunjuk dan terukur
yang dapat ditambang secara ekonomis. Estimasi cadangan batubara harus memasukkan
perhitungan dilution dan losses yang muncul pada saat batubara ditambang. Penentuan
cadangan secara tepat dapat menjadi bagian dari studi kelayakan. Penentuan tersebut
harus telah mempertimbangkan semua faktor-faktor yang berkaitan seperti metode
penambangan, ekonomi, pemasaran, legal, lingkungan, sosial dan peraturan pemerintah.
Atau bagian dari sumberdaya batubara yang telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas,
dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan dinyatakan layak untuk
ditambang dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang berlangsung pada saat ini.
(SNI 5015:2011)
Kondisi-kondisi yang menjadi pertimbangan tersebut antara lain:
1. Teknologi
Berhubungan

dengan

luas

area

penambangan,

tingkat

kesulitan

dalam

pengambilan batubara dan topografi dimana batubara tersebut ditemukan.


Teknologi menyangkut macam alat yang akan digunakan, jumlah dan kapasitas
masing-masing alat tersebut, sehingga dapat dihitung perkiraan biaya yang akan
dikeluarkan oleh perusahaan.
2. Keadaan Lingkungan
Berhubungan dengan lokasi pemukiman, pertanian, hutan lindung, jalan raya dan
sarana lainnya yang sangat tidak memungkinkan lagi untuk dijadikan lahan
tambang, sehingga perhitungan cadangan harus diluar lokasi ini, dan perlu
dipertimbangkan

juga

untuk

penentuan

disposal,

jalan

tambang,

jalan

pengangkutan dan lokasi penumpukan batubara dan juga penentuan spesifikasi


kualitas batubara yang dijual.
3. Peraturan Pemerintah
Berhubungan dengan perijinan penambangan, undang-undang lingkungan dan
reklamasi serta peraturan lainnya yang bersifat mengikat kepada perusahaan
pertambangan yang akhirnya akan berpengaruh pada nisbah pengupasan.

5.4.1

Klasifikasi Cadangan Batubara (Coal Reserves)

Klasifikasi cadangan batubara merupakan pengelompokkan batubara yang didasarkan


atas tingkat keyakinan geologi dan kelayakan ekonomi, sehingga dapat dibagi menjadi
dua kategori (SNI 5015 : 2011) yaitu:
1. Cadangan Terkira (Probable Reserve)
Sumberdaya batubara terunjuk dan sebagian sumberdaya batubara terukur yang
tingkat keyakinan geologinya masih lebih rendah, yang berdasarkan studi
kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga
penambangan dapat dilakukan secara ekonomis.
2. Cadangan Terbukti (Proved Reserve)
Sumberdaya batubara terukur yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua
faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara
ekonomis.
5.5 Permodelan Cadangan Batubara
Sulistyana (2010) berargumen bahwa penggunaan komputer sangat membantu
permodelan cadangan dalam pengolahan, klasifikasi, dan interpretasi data. Data
umumnya diperoleh dari populasi cebakan bijjih ddengan cara pengeboran, surface/
grab sampling, tunnel sampling, stope sampling, dan lain-lalin. Tahapan pertama
permodelan adalah menyiapkan bassis data komputer yang bersih. Pembuatan basis data
komputer memerlukan waktu yang cukup lama. Pengecekan data komputer memerlukan
waktu yang cukup lama. Pengecekan data dimulai setelah semua data dimasukkan ke
dalam komputer. Selain data assay dan data geologi dari setiap lubang bor, perlu dicek
pula koordinat collar dan data survey lubang bor. Permodelan cadangan mineral
menggunakan komputer umumnya menggunakan model seperti: model blok teratur,
gridded seam model, model blok tak teratur.

5.5.1 Model Blok Teratur


Pada saat sekarang blok model teratur adalah model komputer yang paling umum
dipakai untuk tambang-tambang bijih yang memiliki batuan keras. Cebakan bijih dan
daerah sekitarnya dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil atau blok-blok yang
memiliki ukuran panjang, lebar dan tinggi tertentu. Tinggi blok biasanya disesuaikan
dengan tinggi jenjang penambangan. Tiap-tiap blok memiliki atribut seperti jenis batuan,
jenis alterasi, jenis mineralisasi, kadar, kode topografi, dan lain-lain.
5.5.2 Gridded Seam Model
Griddded seam model biasanya digunakan untuk permodelan batubara dan cebakan
berlapis lainnya. Cebakan batubara dan daerah sekitarnya dibagi menjadi sel-sel yang
teratur dengan lebar dan panjang tertentu. Dimensi vertikalnya tidak dikaitkan dengan
tinggi jenjang tertentu, tetapi dengan unit stratigrafi dari cebakan tersebut. Permodelan
dilakukan dalam bentuk puncak, dasar dan ketebalan dari unit stratigrafi (misal lapisan
batubara dan lain-lain). Kualitas atau kadar berbagai mineral dimodelkan untuk setiap
lapisan.
5.5.3 Model Blok Tak Teratur
Beberapa paket perangkat lunak memungkinkan struktur data yang lebih canggih
sehingga ukuran blok dalam model tidak perlu memiliki ukuran yang sama. Blok-blok
berukuran sangat besar dapat digunakan pada bagian-bagian tepi yang tidak
termineralisasi, sehingga informasi detail tidak diperlukan. Sedangkan blok-blok
berukuran kecil dapat diterapkan didaerah-daerah detail yang penting yaitu daerah
endapan bijih.

Perangkat lunak untuk gridded seam model misalnya Minescape, untuk model blok
misalnya Vulcan, Micromine, Minesight, Surpac, Minex, dan lain-lain.
5.6 Metode Perhitungan Cadangan
Dewasa ini terdapat berbagai macam metode perhitungan cadangan yang merupakan
proses kuantifikasi formal suatu endapan bahan galian (bijih dan batubara). Perhitungan
dapat dilakukan dengan berbagai metode yang didasarkan pada pertimbangan empiris
maupun teoritis. Volume, tonase, kadar dan kuantitas mineral merupakan atribut-atribut
(variable/parameter) yang umum diperhitungkan.
Seiring dengan perkembangan teknologi, maka metode perhitungancadangan telah
sangat berkembang secara komputerisasi dengan menggunakansoftware yang sudah ada
sekarang ini tanpa mengubah filosofi perhitungannya. Prinsip perhitungan cadangan
adalah berdasarkan hasil suatu kisaran. Model cadangan yang dibuat adalah hasil
pendekatan dari kondisi yangsebenarnya yang dihasilkan dari kegiatan eksplorasi.
5.6.1 Metode Triangle
Triangle merupakan pekerjaan pengukuran dengan pola rangkaian rangkaian segitiga
yang diterapkan pada sebidang tanah (area) dan dihitung secara trigonometri. Dapat
dikatakan pula triangulasi merupakan deretan segitiga yang digunakan di dalam
pemetaan. Metode Triangulasi biasanya digunakan untuk mengetahui ketinggian suatu
tempat tertentu.
Balfas (2014) menyebutkan bahwa metode segitiga akan memodelkan daerah estimasi
sumberdaya dalam bentuk segitiga yang berasal dari titik data (gambar 2.3). Nilai setiap
segitiga didasarkan pada nilai rata-rata di setiap sudut segitiga,baik kadar (g) maupun
ketebalan (t). Tahapan perhitungan dimulai dengan mengukur luas (A) masing-masing

segitiga bijih (biasanya dengan planimeter). Luas segitiga dikalikan dengan ketebalan
bijih rata-ratanya untuk mendapatkan volume masing-masing segitiga:
_

Vbijih =i=l Ai x ti dimana ti =

t 1+ t 2+t 3
3

(5.7)

2.7 Batas Penambangan (Pit Limit)


Gambar 5.3 Perhitungan sumberdaya dengan metode segitiga (Balfas,2014)

Penentuan batas penambangan (pit limit) ini diperlukan untuk memprediksikan suatu
areal penambangan yang potensial untuk nantinya akan dikembangkan menjadi suatu
lokasi pit penambangan. Dengan mengetahui pit limit maka optimasi cadangan batubara
dapat dilakukan pada areal yang terbatas, yaitu areal yang telah dapat diprioritaskan
sebagai nilai ekonomis (Hustrulid & Kuchta, 2013).

150

150

S. Lawai

100

100

50

50

Gambar 2.8 Sketsa Konstruksi Penentuan Pit Limit (Batas Akhir Penambangan)

Untuk menentukan batas penambangan (pit limit) ini dilakukan dengan merekonstruksi
jenjang penambangan yang dimulai dari dasar endapan hingga batas ketinggian
topografi daerah setempat sesuai dengan rekomendasi dari data geotek dari keadaan
perlapisan daerah penambangan. Untuk mendapatkan batas penambangan (pit limit)
dilakukan berulang-ulang hingga mendapatkan nisbah pengupasan (stripping ratio) yang
diinginkan.

Gambar 2.9 Pit limit (Hustrulid & Kuchta, 2013)


5.7 Nisbah Pengupasan (Stripping Ratio)

Nisbah pengupasan (stripping ratio) menunjukkan perbandingan antara volume/tonase


tanah penutup dengan volume/tonase batubara pada areal yang akan ditambang.
Rumusan umum yang sering digunakan untuk menyatakan perbandingan ini dapat
dilihat pada persamaan berikut (Hustrulid.W. & M. Kuchta. 1995) :

Stripping Ratio=

Lapisan tanah penutup(BCM )


Batubara(Ton)

5.8 Kriteria Kualitas Batubara


Kriteria batubara khususnya di dalam peruntukannya sebagai sumber energi dan bahan
bakar dapat dilihat dari analisis proximate, ultimate dan calorivic value ( nilai kalor).
Analisis ini dapat dilakukan mengikuti prosedur ASTM standar
5.8.1 Analisis Proximate
Jenis analisis proximate batubara didasarkan komposisi besaran (%) :
1. Moisture (M), yaitu kandungan air dalam batubara
2. Volatile matter (VM), yaitu kandungan bahan mudah menguap dalam batubara
3. Ash, yaitu kandungan abu dalam batubara
4. Fixed carbon (FC), yaitu karbon tetap dalam batubara, dihitung setelah ketiga
parameter diatas diketahui, dengan persamaan sebagai berikut :
FC (%) = 100 - [ M+VM+Ash ]...................................................................................(5.8)
5.8.2 Analisis Ultimate
Jenis analisis ultimate batubara didasarkan pada analisis komposisi unsur-unsur meliputi
C, H, O, N dan sulfur (S) total serta logam-logam. Nilai kalor dapat diperkirakan
berdasarkan analisis proximate, yaitu komposisi karbon tetap (fixed carbon) dan zat
mudah menguap (volatile matter) dengan persamaan empirik yang dituliskan oleh peele
and chrush (1941), berikut :

14544

FC

27000

VM

1
FC
+ 0.5
VM

] ......................................................................(5.9)
Dimana Q adalah faktor dalam satuan Btu/lb, FC adalah karbon tetap (%) dan VM
adalah zat mudah menguap (%). Nilai kalor (Btu/lb) batubara dapat juga
diperkirakhrushan berdasarkan analisis ultimate yaitu komposisi (%) karbon (C),
hidrogen (H), oksigen (O) dan sulfur (S) dengan persamaan empirik sebagai berikut
(peele and crush,1941):
O
Q = 14600 C + 62000 [ H 8 + 4000 s ] ..................................................................
(5.10)
Kreveelen (1993) menyajikan tujuh jenis persamaan empirik (Dulong, Seyler,
Mottspooner, Boie, Given dan Neavel) yang menghubungkan nilai kalor Q (kal/g)
sebagai fungsi komposisi (%) kandungan karbon, oksigen, nitrogen, sulfur, dan ash. Dua
diantara cukup akurat, yaitu persamaan neavel (5) dan given (6)
Q = 881,05 C + 316,4 H 29,9 O +23,9 S -3.5 Ash ..................................................(5.11)
Q = 78.3 C + 339,1 H 33 O +22,1 S + 152.................................................................
(5.12)

6 Metodologi Penelitian
6.1 Tahapan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dibagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap pendahuluan, tahap
pengumpulan data serta tahap pengolahan dan analisis data.
6.1.1

Tahap Pendahuluan

Tahap pendahuluan yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Studi literatur
Bertujuan untuk mencari literatur yang berhubungan dengan Pemodelan Endapan
Batubara dengan pendekatan Inverse Distance Weighted dan Perhitungan
Cadangan Batubara dengan triangle serta pemodelan dan perhitungan nilai ratarata kualitas dari batubara.
2. Pengamatan lapangan
Pengamatan lapangan yang dilakukan disini adalah pengamatan terhadap lokasi
yang akan dihitung cadangan batubaranya, pengamatan terhadap kondisi topografi
dan geologi di daerah tersebut.

6.1.2

Tahap Pengumpulan Data

Pada tahap ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang dipergunakan untuk
permodelan kualitas dan endapan batubara serta perhitungan cadangan tertambang
disertai dengan perhitungan nilai rata-rata kualitas. Data-data yang akan digunakan pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Data Topografi
Peta topografi diperlukan untuk mengetahui bentuk morfologi permukaan tanah.
Peta ini digunakan untuk ploting posisi lubang bor agar sesuai dengan kondisi
yang sebenarnya. Di samping itu, peta ini juga berguna dalam perhitungan
cadangan batubara. Data peta topografi ini diperoleh dari kegiatan survei.
Pengambilan data topografi yang dilakukan di PT. ZZ Tambang Harmonis
dilakukan dengan menggunakan alat XXX,

dimana dari kegiatan tersebut

diperoleh data dalam bentuk koordinat XYZ (easthing, northing, elevation) sesuai

dengan kondisi yang diukur di lapangan.


2. Data Bor Eksplorasi
Data-data hasil pemboran eksplorasi diperlukan untuk mengetahui letak dan
keadaan endapan batubara. Dari data bor tersebut dapat diketahui elevasi roof dan
floor batubara serta ketebalan batubara itu sendiri. Dalam melakukan kegiatan
pemboran eksplorasi PT. ZZZ menggunakan mesin bor jenis XXX dengan
kedalaman pemboran maksimum XX meter dengan mata bor jenis XX. Metode
pemborannya adalah pemboran XXX. Selain data-data tersebut, juga diperoleh
data-data posisi titik-titik bor di lapangan dalam bentuk koordinat yang diperoleh
dari kegiatan survei setelah dilakukannya pemboran.
3.

Data kualitas
Data-data kualitas dari hasil pemboran endapan batubara yang telah melalui uji
laboratorium, diperlukan untuk mengetahui nilai dari tiap-tiap parameter kualitas
batubara , yang kemudian akan digunakan untuk membuat model kualitas
batubaranya sehingga nantinya dapat dihitung nilai rata-rata kualitasnya.

4.

Data Batas Wilayah


Merupakan data koordinat batas-batas wilayah daerah penelitian yang bertujuan
agar daerah penelitian tidak melebihi batas dengan wilayah lainnya.

5.

Data Rekomendasi
Data rekomendasi meliputi data stripping ratio yang telah mengacu pada break
event stripping ratio yang digunakan oleh perusahaan dan geometri lereng yang
dianggap aman dan menjadi pit optimal serta ekonomis untuk di tambang. Datadata ini digunakan sebagai batas penambangan (pit limit) yang digunakan untuk
perhitungan cadangan

6.1.3

Tahap Pengolahan dan Analisis Data

Tahap pengolahan dan analisis data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Pembuatan Kontur dan Permodelan Solid Topografi


Merupakan data awal dari keadaan dan bentuk permukaan bumi pada daerah
penelitian. Kontur topografi dibuat untuk pengikat posisi tiap-tiap lubang bor, dan
juga sebagai surface awal dalam pembuatan permodelan solid topografi.
Permodelan dilakukan berdasarkan data kontur topografi yang merupakan hasil
pengolahan data dari kegiatan survei didaerah penelitian dimana permodelan solid
ini pengolahannya dibantu oleh software.
2. Korelasi Batuan
Korelasi merupakan bagian fundamental dari stratigrafi dan banyak usaha telah
dilakukan oleh para ahli untuk menciptakan satuan-satuan stratigrafi resmi yang
pada gilirannya memungkinkan ditemukannya metoda-metoda praktis dan handal
untuk mengkorelasikan satuan-satuan tersebut. Penelusuran langsung satuan
litostratigrafi dari satu lokasi ke lokasi lain merupakan satu-satunya metoda yang
dapat memberikan informasi yang sangat meyakinkan mengenai ekivalensi satuan
tersebut. Metoda korelasi ini hanya dapat diterapkan apabila strata yang diteliti
tersingkap secara menerus atau hampir menerus.
3. Pembuatan schema
Schmea merupakan suatu set aturan-aturan yang digunakan stratamodel di dalam
software minescape untuk membuat dan memeriksa suatu model. Definisi aturan
dalam schema dapat dirubah setiap saat atau dibuat dalam berbagai rancangan
yang berbeda-beda. Dengan demikian schema memberikan keleluasaan kepada
anda untuk membuat lebih dari satu macam rancangan model sesuai kebutuhan.
Aturan-aturan yang didefinisikan dalam schema digunakan bukan hanya pada saat
pembuatan model stratigrafi saja, tetapi juga pada saat semua pemeriksaan yang
dilakukan terhadap model tersebut
4. Pengolahan data pemboran dan pembuatan database drillhole
Data-data yang didapatkan dari hasil kegitan pemboran kemudian akan
dikelompokkan menjadi 3 jenis data yang akan digunakan untuk memodelkan
endapan batubara beserta parameter kualitasnya,namun di dalam pembuatan
database drillhole data yang digunakan hanya data lithology dan data survey.
Adapun ketiga data tersebut meliputi:

a) Data lithologi
Data ini berisi hole id, seam id, depth from, depth to, dan lithology code.
b) Data Survey
Data ini berisi hole id, easting, northing, elevation, total depth.
c) Data Quality
Data ini berisi hole id,depth from, depth to, relative density, total moisture,
inherent moisture, ash content, volatile matter, fix carbon, total sulfur,dan
calorific value
5. Permodelan Batubara Berdasarkan Estimasi Inverse Distance Weighted
Dalam permodelan batubara diantaranya dilakukan pembuatan kontur struktur dan
penampang stratigrafi batubara. Kontur struktur dibuat untuk mengetahui elevasi
yang sama dari batubara ditiap lapisannya. Kontur ini juga digunakan untuk
perhitungan cadangan batubara karena roof dan floor batubara terbentuk dari
kontur ini.
6. Pembuatan Konstruksi Permodelan Endapan Batubara.
Konstruksi permodelan endapan batubara ini meliputi :
a) Permodelan Kontur Struktur Batubara
Permodelan kontur struktur dibuat untuk mengetahui elevasi yang sama
dari batubara ditiap lapisannya. Kontur ini juga digunakan untuk
perhitungan cadangan batubara karena roof dan floor batubara terbentuk
dari kontur ini.
b) Pembuatan Cropline Seam Batubara
Cropline seam adalah garis semu yang menghubungkan titik-titik
perpotongan antara kontur topografi dengan kontur struktur batubara.
Cropline seam digunakan untuk menggambarkan posisi penyebaran
batubara yang berada pada satu seam dan juga digunakan sebagai
pembatas dalam perhitungan cadangan.
7. Pembutan Model kualitas batubara (coal quality model)
Data hasil analisis laboratorium baik proximate, ultimate dan sebagainya dapat
dimasukkan ke dalam Stramodel kemudian dibuat modelnya.Hal ini diperlukan
untuk mengetahui nilai dari dari kualitas batubara di tiap blok penambangannya.
8. Perancangan Geometri Design Pit Penambangan

Rancangan ini digunakan sebagai batas untuk melakukan perhitungan cadangan,


dimana rancangan pit penambangan dibuat dengan mengacu pada data
rekomendasi geoteknik dan stripping ratio, target produksi yang telah ditentukan

perusahaan
PemodelanCadangan
dan perhitungan
nilai rata-rata
9. Perhitungan
dan nilai kualitas
Batubarakualitas dan cadangan batubara dengan men
Perhitungan cadangan batubara dilakukan dengan menggunakan metode triangle
dengan bantuan software minescape, dimana pada tahap ini nilai dari parameterStudy Literatur
parameter kualitas batubara juga ikut di kalkulasikan
10. Perhitungan nilai stripping ratio dan nilai rata-rata kualitas
Untuk mengetahui nilai stripping ratio dan nilai rata-rata kualitas dari batubara di

pit penambangan yang telah dirancang, maka data-data hasil perhitungan cadangan
dan nilai kualitas dari batubara harus di kalkulasikan secara terpisah. Dengan

Pengamatan Lapangan

bantuan perangkat lunak Ms Office.Excel


Pengumpulan
Data

6.1.4

Tahap Penyusunan Skripsi

Data-data
Eksplorasi
Tahap ini merupakan tahap akhir
dari penelitian
yang berupa pelaporan hasil
Data Topografi
Data Pemboran ,Geologi dan Quality

penelitian.

Da
Ge
Str
Tar

6.1.5 Flow Chart Penelitian


Korelasi Batuan
(Lithostartigrafi)

Adapun flow chart penelitian sebagai berikut:


Schema (sratamodel)

Pemodelan Batubara Pembuatan Model kualitas

Kontur Struktur
cropline

Pembuatan Desain Pit


Perhitungan Cadangan Batubara
(Metode Triangle ) Dan Verifikasi Nilai SR

Perhitungan Nilai Rata-Rata Kualitas Batuba

Gambar 6.1 Diagram Alir Penelitian

Tidak
sesua
Kesimpulan
dan Saran
i
sesua

Relevansi

Dalam melaksanakan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan hasil :


1. Didapatkan desain pit penambangan dengan jumlah cadangan tertambang
yang selaras dengan SR dan target produksi yang diinginkan.
2. Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan kepada
mahasiswa pertambangan khususnya mengenai

Pemodelan dan evaluasi

tambang.

Jadwal Kegiatan

Adapun jadwal kegiatan penelitian yaitu :

Minggu

Kegiatan

Pelaksanaan

di

lapangan

Perencanaan
penelitian
Penelitian

Keterangan

disesuaikan dengan
dan

pengambilan data
Pengolahan data

kondisi

tempat

penelitian

Penyusunan skripsi
Tabel 8.1 Jadwal kegiatan

Daftar Pustaka

1. Hustrulid, W., & Kuchta, M., 1998, Open Pit Mine Planning & Design Volume 1
Fundamentals, A.A. Balkema, Rotterdam, Brookfield.

2. Hustrulid, W., Kuchta, M., & Martin, R., 2013, Open Pit Mine Planning &
Design Volume 1 Fundamentals 3rd Edition, CRC Press/Balkema, Rotterdam,
Brookfield.
3. Mitas, L., and H. Mitasova, 1999, Spatial Interpolation, In: Longley, P., K. F.
Goodchild, D. J. Maguire, D. W. Rhind (Eds.), Geographical Information
System: Principles, Management and Application. Wiley, New York, pp.481-492
4. Noor Djauhari. 2009. Pengantar Geologi. CV. Graha Ilmu : Bogor
5. Pasaribu, MJ., & Haryani, NS., 2012, Perbandingan Teknik Interpolasi DEM
SRTM dengan Metode Inverse Distance Weighted (IDW), Natural Neighbour
dan Spline, Jurnal Penginderaan Jauh, vol. 9, no. 2, hh. 126-139.
6. Rachman, Tino A A., 1995, Open Pit Optimization : A Comparative Study On
The Application Of Moving Cone and Lerchs-Grossmann Methods (ER4466),
Colorado School Of Mine : Golden, Colorado.
7. Standar Nasional Indonesia, 2011, Pedoman Pelaporan, Sumberdaya, dan
Cadangan Batubara, Badan Standardisasi Nasional, Indonesia.
8. Sulistyana, Waterman., 2010. Perencanaan Tambang. Yogyakarta. Anugrah
Print.
9. Suyono, MS., & Winanto, A., 2010 Buku Panduan Praktek Tambang Terbuka
2010, Jurusan Teknik Pertambangan UPN Veteran Jogjakarta : Jogjakarta
10. Thompson, R.J. 2005. Surface Strip Coal Mining Handbook. South Africa,
South African Colliery Manager Assosiation.
11. Wood, GH., Kehn, JTM., Carter, MD., & Culberstson, WC., 1983, Coal
Resources Classification System of the U.S. Geological Survey, United States
Government Printing Office, U.S.A.