Anda di halaman 1dari 23

TEKNOLOGI FORMULASI SEDIAAN STERIL

BATCH SHEET II
INJEKSI ANEURIN HYDROCHLORIDUM
BAB I
NAMA ZAT AKTIF DAN BENTUK YANG DIGUNAKAN
1.1

Nama Zat Aktif


Acidum folicum, Vitamin B9

1.2

Bentuk Yang Digunakan


Injeksi intramuscular

BAB II

MONOGRAFI ZAT AKTIF


2.1

Acidum Folicum, Vitamin B9

Gambar 2.1 Struktur Acidum Folicum


Nama lain

: Asam N-[p-(2-amino-4-hidroksipteridin-in-6-il)-metil]amino-benzoil-glutamat

Pemerian

: Serbuk hablur, kuning, kuning kecoklatan atau jingga


kekuningan, tidak berbau

Rumus kimia

: C19H19N7O6

Kelarutan

: Sangat sukar larut dalam air, tidak larut dalam etanol,


aseton, kloroform, dan dalam eter, segera larut dalam
alkali karbonat encer, larut dalam aseton klorida 3N panas
dan dalam asam sulfat 2N panas. Larut dalam asam
klorida dan dalam asam sulfat menghasilkan larutan
berwarna kuning pucat.

PH

: 8-11

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik, terindung dari cahaya

Indikasi

: Anemia megaloblastic yang disebabkan defisiensi asam


folat.

Titik leleh/Lebur : 2500C


Dosis lazim

: Sehari 15 mg intramuscular.

OTT

: Terhadap oksidator, reduktor, logam berat.

Mekanisme kerja : Folat eksogen dibutuhkan untuk sintesis nucleoprotein


dan pemeliharaan eritropoiesis normal. Asam folat
menstimulasi produksi sel darah merah, sel darah putih,
dan platelet pada anemia megaloblastik.

(Sumber: Farmakope Indonesia edisi V, hal.153, Martindale, hal 1647)

BAB III
FORMULA DAN METODA PEMBUATAN

3.1

3.2

3.3

Formula
Natrium Folicum

25 mg/mL

Obat suntik dalam ampul

1 mL no. IV

Formula Lengkap
Acidum Folicum

0,5%

Natrium Chloridum

0,8283%

Dinatrii Edetas

0,05%

Natrium Hydroxydum

ad larut

Aqua pro injectionum

ad 1 mL

Metode Pembuatan
Metode yang digunakan dalam pembuatan larutan injeksi asam folat adalah

pelarutan melalui proses penggaraman dengan penambahan Natrii Hydroxydum


0,1 N dan melalui proses sterilisasi akhir (Terminal Sterilisasi). Pada proses
pengisian ke ampul 1 mL digunakan bakteri filter untuk menyaring partikel yang
mungkin terdapat dalam larutan injeksi yang dilakukan dalam LAF. Sterilisasi
dilakukan pada proses akhir menggunakan otoklaf pada suhu 121C selama 15
menit.

BAB IV
MONOGRAFI ZAT TAMBAHAN

4.1

Natrium Hidroksida (NaOH)


Berat molekul

: 40,00 g/mol

Densitas

: 2,1 g/cm3

Titik lebur

: 318C

Titik didih

: 1390C

Pemerian

: Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping,


kering, rapuh dan mudah meleleh basah. Sangat
alkalis dan korosif. Segera menyerap CO2

Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%)

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik

Kandungan

: Mengandung tidak kurang dari 97,5% alkali jumlah


dihitung sebagai NaOH dan tidak lebih dari 2,5%
Na2CO3

Kegunaan

: Sebagai zat tambahan.


(Sumber: Farmakope Indonesia edisi III, 1979, halaman 412)

4.2

Dinatrii Edetas
Berat Molekul
Pemerian
Kelarutan
pH
Konsentrasi

: 372,24
: Serbuk hablur, putih
: Larut dalam air
: 4,3-4,7 dalam larutan 1% air bebas CO2
: 0,005-0,1% w/w sebagai chelating agent

Stabilitas

: Sangat higroskopis dan harus dilindungi dari


kelembaban

OTT

: Dengan pengoksidasi kuat, dan ion logam


polifalen seperti tembaga, nikel, NaEDTA
merupakan asam lemah dan bereaksi dengan
logam membentuk hidrogen.

Sterilisasi

: Autoklaf

Kegunaan

: Untuk mencegah kontaminasi dengan logam

Penyimpanan

: Harus disimpan di wadah bebas alkali, tertutup


rapat dan ditempat sejuk dan kering.
(Sumber: Farmakope Indonesia edisi V, 2014, halaman 343 ,

HOPE hal 178)


4.3

Aqua Pro Injectionum (API)

Air untuk injeksi adalah air suling segar yang disuling kembali, disterilkan
dengan cara sterilisasi A atau C.
Pemerian

: cairan jernih, tidak berasa, tidak berbau dan tidak


berwarna.

Kelarutan

: dapat bercampur dengan pelarut polar dan elektrolit.

OTT

: dalam sediaan farmasi, air dapat bereaksi dengan obat


dan zat tambahan lainnya yang mudah terhidrolisis
(mudah terurai dengan adanya air atau kelembaban).

Stabilitas

: air stabil dalam setiap keadaan (padat, cairan, uap panas).

Penyimpanan

: dalam wadah tertutup kedap. Jika disimpan dalam wadah


bertutup kapas berlemak harus digunakandalam waktu 3
hari setelah pembuatan.

Khasiat dan penggunaan

: untuk pembuatan injeksi.


(Sumber: Farmakope Indonesia edisi III, hal.97)

4.4

NaCl (Natrium klorida)


Berat molekul

: 58,44

Pemerian

: Kristal tidak berbau tidak berwarna atau serbuk kristal


putih, tiap 1 g setara dengan 17,1 mmol NaCl. 2,54g NaCl
ekivalen dengan 1 g Na

Kelarutan

: 1 bagian larut dalam 3 bagian air, 10 bagian gliserol

Sterilisasi

: Autoklaf atau filtrasi (Martindale 28 hal: 635)

Stabilitas

: Stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat

pH
OTT
Titik lebur
Titik didih
Konsentrasi
Khasiat

menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas


: 6,7-7,3
: Logam Ag, Hg, Fe
: 801oC
: 1439oC
: lebih dari 0,9%
: Pengganti ion Na+, Cl- dalam tubuh
(Sumber: Farmakope Indonesia edisi IV,1995, halaman 584,
Martindale,635,HOPE hal 440)

BAB V
PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN
5.1

Perhitungan Bahan
5.1.1 Konsentrasi Asam Folat
Diketahui

: BM Na Folat

= 464,4

: BM As Folat

= 441,4

C asam folat diperoleh dari perhitungan:

BM Na folat
x C asam folat
BM As . folat

464,4
x 0,5
441,4

= 0,526%
5.1.2 Perhitungan tonisitas
a. Penurunan titik beku
tb Natrium folat

= 0,069

tb Dinatrii edetas

= 0,132

0,52a
b

0,52 Tb . C
0,576

0,52( 0,069 x 0,526 )+(0,132 x 0,05)


0,576

0,477106
0,576

= 0,8283

g
100 ml

= 8,283

mg
ml

b. Ekivalen NaCl
Ekivalensi

=Exm
= (0,14 x 0,526) + (0,24 x 0,05)
= 0,0856

Dalam NaCl Fisiologis

g
100 ml

= 0,9 0,0856
= 0,81436
= 8,1436

5.1.3 Volume yang dibuat

g
100 ml
mg
ml

= (n + 2) c + 6 mL
= (4 + 2) 1,1 + 6 mL = 12,6 mL

5.2

Penimbangan Bahan
Bahan
Acidum Folicum
Dinatrii Edtas
NaCl

Satuan Dasar
1 ml
5 mg
0,5 mg
8,283 mg

BAB VI

Volume Produksi
4 Ampul
63 mg
6,3 mg
104,3 mg

PROSEDUR
6.1

Sterilisasi
6.1.1 Alat-alat
Alat
Beaker glass
Corong & kertas saring
Ampul
Kaca arloji
Spatel logam
Batang pengaduk

Sterilisasi
Oven 170oC
Otoklaf 115-116oC
Oven 170oC
Api Langsung
Api Langsung
Api Langsung

Waktu
30
30
30
20
20
20

6.1.2 Sediaan obat


A.

Pemanasan dalam otoklaf (Sterilisasi A)


Sediaan yang akan disterilkan diisikan ke dalam wadah yang

cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah yang
tidak lebih dari 100 ml. Sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh
pada suhu 115C sampai 116C selama 30 menit.
Jika volume dalam tiap wadah lebih dari 100 ml, waktu
sterilisasi diperpanjang hingga seluruh isi tiap wadah berada pada
suhu 115C sampai 116C selama 30 menit.
B.

Penyaringan (Sterilisasi C)
Larutan disaring melalui penyaring bakteri steril, diisikan ke

dalam wadah akhir yang steril, kemudian ditutup kedap menurut


Teknik aseptic.
6.2

Prosedur Pembuatan
Didihkan 25 ml aqua pro injeksi (a.p.i) dalam beaker glass selama 10 menit,

kemudian asam folat disuspensikan dalam sebagian aqua pro injeksi, dan
ditambahkan larutan NaOH 0,1 N ke dalam suspensi asam folat sampai larut.
Diperlukan 55 tetes NaOH sampai larutan larut (bening).
Dilarutkan NaCl dalam sebagian aqua pro injeksi yang telah di didihkan
tadi, lalu kedua campuran tersebut dicampur dan ditambahkan larutan dinatrii
edetas kemudian diambahkan aqua pro injeksi ad 12,6 ml. Larutan disaring
dengan kertas saring dan filtrat pertama dibuang. Setelah itu larutan diisikan

kedalam 4 ml @ 1,1 ml pengisisan ampul dilakukan di dalam laminar air flow


(LAF).
Ampul ditutup dengan cara dilas, lalu ampul disterilisasi dengan keadaan
terbalik, untuk mengetahui apakah ampul tersebut bocor atau tidak. Kemudian
disterilisasi dalam autoklaf 115-116oC selama 30 menit, lalu sediaan yang sudah
disterilisasi dikeluarkan dari autoklaf dan dikemas.

BAB VII
EVALUASI SEDIAAN

7.1

Evaluasi Sediaan
7.1.1 Uji pH (Farmakope Indonesia edisi IV, hal.1039-1040)
Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter atau kertas indikator

universal. Dengan pH meter: Sebelum digunakan, periksa elektroda dan


jembatan garam. Kalibrasi pH meter. Pembakuan pH meter: Bilas elektroda dan
sel beberapa kali dengan larutan uji dan isi sel dengan sedikit larutan uji. Baca
harga pH. Gunakan air bebas CO2 untuk pelarutan dengan pengenceran larutan
uji.
7.1.2 Uji kejernihan (Lachman, hal.1355)
Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh seseorang
yang memeriksa wadah bersih dari luar di bawah penerangan cahaya yang baik,
terhalang terhadap refleksi ke dalam matanya, dan berlatar belakang hitam dan
putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi memutar, harus benarbenar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat dengan mata.
7.1.3 Uji keseragaman volume (Farmakope Indonesia, hal.1044)
Diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu dilihat
keseragaman volume secara visual.
7.1.4 Uji kebocoran (Lachman edisi III, hal.1354)
Letakkan ampul di dalam zat warna (biru metilen 0,5 1% ) dalam ruangan
vakum. Tekanan atmosfer berikutnya kemudian menyebabkan zat warna
berpenetrasi ke dalam lubang, dapt dilihat setelah bagian luar ampul dicuci untuk
membersihkan zat warnanya. Catatan: Tidak dilakukan untuk vial dan botol
karena tutup karetnya tidak kaku.
JENIS EVALUASI
1. EVALUASI FISIKA
a) Penetapan pH (FI IV,1039-

HASIL EVALUASI
Tidak dilakukan

1040)
b) Bahan partikulat dalam injeksi
(FI IV,981-984)
c) Penetapan volume injeksi dalam
wadah (FI IV,1044)
d) Uji keseragaman sediaan

Tidak ada
Tidak dilakukan

(FI IV,990-1001)
e) Uji kejernihan (FI IV,998)
f) Uji kebocoran

Tidak dilakukan
Jernih
1 ampul bocor

2. EVALUASI BIOLOGI
a) Uji Efektivitas Sterilitas
b)
c)
d)
e)

Antimikroba (FI IV,858-855)


Uji Sterilitas (FI IV,855-863)
Uji Endotoksin Bakteri
(FI IV,905-907)
Uji pirogen (FI IV,908-909)
Uji kandungan zat antimikroba

(FI IV,939-942)
f) UJI potensi antibiotik (FI
IV,891-899)
7.2

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Evaluasi Lain
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Jenis Evaluasi
Penampilan fisik wadah
Jumlah sediaan
Kejernihan
Brosur
Kemasan
Kebocoran ampul
Etiket
Keseragaman volume

Penilaian
Kurang Baik
4 ampul
Baik
Terlampir
Terlampir
Tidak ada yang bocor
Terlampir
Volume seragam

BAB VIII
ASPEK FARMAKOLOGI
8.1

Indikasi
Untuk memproduksi sel darah merah dan berfungsi dalam pertumbuhan

janin yang normal serta membantu memelihara kesehatan tubuh.


8.2

Kontra Indikasi

Pengobatan anemia pernisiosa dan anemia megaloblastik lainnya dimana


vitamin B12 tidak cukup (tidak efektif).
8.3

Dosis
Dewasa dan anak-anak usia 4 tahun atau lebih : 0,4 mg/hari.
Kehamilan dan menyusui

: 0,8 mg/hari

Anak-anak dibawah 4 tahun

: 0,3 mg/hari.

Bayi

: 0,1 mg/hari.

Dosis terapi pada penderita anemia megaloblastik adalah 250-4000 g/hari.


Dosis lazim intramuscular
8.4

: 15 mg/hari.

Efek Samping
Perubahan pola tidur, sulit berkonsentrasi, iritabilitas, aktivitas berlebih,

depresi mental, anoreksia, mual, didtensi abdominal dan flatulensi.


8.5

Interaksi Obat
Konsentrasi plasma fenitoin, primidone, dan barbiturate menurun karena

adanya asam folat. Sedangkan absorpsi asam folat menurun karena adanya
sulfasalazin.
8.6

Cara Pengunaan Dan Penyimpanan


8.6.1 Cara penggunaan
Injeksi intramuscular
8.6.2 Penyimpanan
Simpan di tempat yang sejuk dan terhindar dari cahaya matahari.

8.7

ADME
8.7.1 Absorpsi
Pada pemberian oral, absorpsi asam folat baik sekali, terutama dibagian 1/3

proksimal usus halus. Dengan dosis oral yang kecil, absorpsi memerlukan energi
(Transpor aktif). Sedangkan pada kadar tinggi absorpsi dapat berlangsung secara
difusi (Transpor pasif). Walaupun terdapat gangguan pada usus halus, absorpsi
folat biasanya masih mencukupi kebutuhan terutama sebagai PmGA. Asam folat

muncul di plasma darah 15-30 menit setelah pemberian peroral dan Tmax tercapai
setelah 1 jam.
8.7.2 Distribusi
2

/3 dari asam folat yang terdapat dalam plasma darah terikat kuat pada

protein plasma yang tidak difiltrasi oleh ginjal. Distribusinya merata kesemua sel
dan terjadi penumpukan dalam cairan serebrospinal. Asam folat disimpan oleh
tubuh terutama di hepar. Normal total asam folat di serum adalah 5-15 g/mL,
dicairan serebrospinal adalah 16-21 g/mL, dan di eritrosit adalah 175-316
g/mL.
8.7.3 Metabolisme
Asam

folat

dimetabolisme

di

hepar

oleh

enzim

catechol

O-

methyltransferase (COMT) dan Methylenetetrahydrofolate reductase menjadi 7,8dihydrofolic acid dan 5,6,7,8-tetrahydrofolic acid.
8.7.4 Ekskresi
Lebih dari 90% asam folat diekskresikan di urine dalam bentuk metabolit
dan sejumlah kecil diekskresikan di feses. Sebagian besar metabolit muncul di
urine setelah 6 jam dan ekskresi lengkap dalam 24 jam. Asam folat juga
diekskresikan melalui air susu ibu.

BAB IX
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dibuat larutan injeksi intramuscular dengan zat
berkhasiat Acidum folicum. Acidum folicum adalah serbuk coklat kekuningan
yang tidak larut dalam air. Pada proses penimbangan bahan, bahan yang akan

digunakan ditimbang diatas kaca arloji, hal ini bertujuan untuk mencegah
hilangnya volume bahan pada saat pembuatan dan juga untuk tidak adanya
penempelan atau sisa bahan bila ditimbang selain diatas kaca arloji.
Untuk membuat larutan injeksi intramuscular, pertama-tama larutkan
acidum folicum dengan aquadest pro injeksi (a.p.i). aquadest pro injeksi (a.p.i)
telah steril dan bebas pirogen sehingga menjadi pelarut yang paling banyak
digunakan dalam sediaan injeksi serta sifatnya yang dapat bercampur dengan
cairan fisiologis tubuh.

Aquadest pro injeksi (a.p.i) mempunyai konstanta

dielektrik yang tinggi sehingga dapat melarutkan senyawa anorganik seperti


elektrolit. Selain itu, a.p.i mempunyai kemampuan untuk membentuk ikatan
hidrogen sehingga dapat pula melarutkan sejumlah senyawa organik seperti
alkohol, aldehid, keton, amin dan lain-lain. A.p.i yang digunakan untuk
melarutkan acidum folicum harus dididihkan terlebih dahulu selama 10 menit, hal
ini bertujuan untuk menghilangkan CO2 dari a.p.i tersebut karena CO2 dalam
suatu sediaan dapat bereaksi dengan salah satu zat dan dapat membentuk endapan.
Hal inilah pula yang dapat menjelaskan kenapa beberapa sediaan yang dibuat
terdapat endapan. Karena pada waktu pembuatan sediaan, a.p.i yang digunakan
terlalu lama kontak dengan udara sehingga CO2 dalam a.p.i akan bereaksi dengan
bahan aktif sediaan.
Selanjutnya, dilakukan penambahan larutan NaOH 0,1 N yang berfungsi
sebagai pembentuk garam, untuk mengubah asam folat menjadi bentuk garamnya
atau sering disebut proses penggaraman. Pada proses pembuatan injeksi asam
folat ini yang digunakan adalah bentuk garamnya yaitu natrium folat, karena asam
folat sendiri tidak larut dalam air sedangkan sediaan injeksi yang berupa larutan
harus jernih dan tidak boleh mengandung partikulat sehingga digunakan bentuk
garamnya. NaOH yang ditambahkan untuk melarutkan asam folat adalah
sebanyak 55 tetes (2 ml). Hal ini sesuai dengan literature penambahan NaOH
maksimal yang ditambahkan adalah 2-3 ml, penambahan berlebih NaOH ini akan
mempengaruhi kadar pH pada larutan yang dibuat menjadi lebih basa.
Kemudian larutan ditambahkan dengan larutan NaCl, NaCl digunakan untuk
membuat larutan menjadi isotonis, Isotonis adalah kondisi dimana suatu larutan
tekanan osmotiknya sama besar dengan tekanan osmotik cairan tubuh, sehingga

tidak akan terjadi pertukaran cairan diantara keduanya yang dapat menyebabkan
haemolisis atau plasmolisis. Larutan ini bersifat hipotonis maka ditambahkan
NaCl sebanyak 0,8283 g %/100 ml untuk membuat larutan menjadi isotonis.
Larutan injeksi yang bersifat hipotonis bila masuk kedalam peredaran darah akan
menyebabkan sel darah merah mengalami hemolysis (pecahnya sel darah merah).
Kemudian, larutan injeksi ditambahkan larutan dinatrii edetas kedalam
campuran larutan injeksi , dinatrii edetat digunakan sebagai agen pengkelat untuk
mengikat ion logam-logam yang berasal dari wadah gelas yang dapat
mengkatalisis reaksi oksidasi. Selain itu fungsi penambahan Na2EDTA juga untuk
mempertahankan pH larutan injeksi. Setelah itu, ditambahkan a.p.i ad 12,6 ml.
Larutan yang telah tercampur harus jernih, karena bila larutan tidak jernih maka
dikhawatirkan ketika obat dinjeksikan kedalam tubuh akan terbentuk emboli dan
terjadi rasa nyeri, sehingga sebelum larutan dimasukkan kedalam harus disaring
terlebih dahulu dengan menggunakan kertas saring. Proses selanjutnya adalah
memasukan larutan kedalam ampul dengan syringe yang telah dilengkapi bakteri
filter ukuran 0,6 m, yang berfungsi untuk menyaring zat atau bahan asing atau
partikular yang terdapat pada larutan. Seharusnya, setelah ampul terisi, larutan
dialirkan gas inert pada bagian permukaan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah
interaksi natrium folat dengan CO2 yang dapat menimbulkan reaksi dan
menghilangkan O2 yang ada di dalam ampul agar tidak terjadi proses oksidasi.
Pada proses selanjutnya adalah menutup ampul dengan menggunakan las hingga
ampul tertutup dan tidak bocor.
Setelah itu, sediaan injeksi yang sudah jadi harus disterilisasi akhir. Tujuan
sterilisasi adalah menjamin sterilitas produk maupun karakteristik kualitasnya,
termasuk stabilitas produk. Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan uap air
bertekanan yaitu otoklaf pada suhu 115- 116C selama 30 menit untuk membunuh
mikroorganisme yang mungkin terdapat dalam larutan injeksi. Proses pemusnahan
mikroba menggunakan otoklaf yaitu melalui proses pendidihan air yang akan
menghasilkan uap air kemudian terkondenasasi dan melepaskan panas 400 kkal.
Panas tersebut menembus wadah (ampul), membuat larutan injeksi mendidih,
menghasilkan uap air, melepaskan panas 400 kkal dan akhirnya membunuh
mikroba yang mungkin terkandung dalam sediaan. Proses sterilisasi ini dapat pula

digunakan untuk menguji kebocoran sediaan karena suhu yang tinggi dapat
mendidihkan larutan dan menghasilkan uap air, jika wadah (ampul) tidak tertutup
dengan baik maka larutan injeksi yang menguap akan keluar dan menyebabkan
semua isi sediaan habis.
Tujuan suatu sediaan dibuat steril, karena berhubungan langsung dengan
darah atau cairan tubuh dan jaringan tubuh lain yang pertahanannya terhadap zat
asing tidak selengkap pada saluran cerna atau gastrointestinal. Diharapkan dengan
kondisi steril dapat dihindari adanya infeksi sekunder. Dalam hal ini tidak berlaku
relatif steril atau setengah steril, hanya ada dua pilihan yaitu steril dan tidak steril.
Dan obat injeksi merupakan sediaan yang perlu disterilkan sehingga semua
peralatan yang akan digunakan harus disterilkan terlebih dahulu sebelum
digunakan sesuai dengan prosedur.
Kemudian kami melakukan evaluasi terhadap sediaan injeksi asam folat
yang diperoleh dan didapatkan data sebagai berikut :
1.

Penampilan
Larutan berwarna kuning muda dan bening. Larutan injeksi jernih, tidak

mengandung partikel yang tidak terlarut (mengendap). Hal ini dikarenakan


setiap proses yang dilakukan sesuai dengan literature dan yang tertera pada
diktat, sehingga menghasilkan hasil yang baik.
2.

Kebocoran
Pada uji ini, terdapat 1 ampul yang bocor.

3.

Uji Kejernihan
Pada uji kejernihan, hasil yang didapat selama 7 hari atau 1 minggu

menghasilkan larutan yang masih jernih dan tidak ada partikular.

BAB X
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
formula sediaan injeksi asam folat yang dibuat masih hipotonis sehingga perlu

penambahan NaCl sebagai zat pengisotonis sebanyak 0,8283 gram/100ml. Metode


sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi terminal (sterilisasi dilakukan diakhir)
menggunakan otoklaf pada suhu 115-116C selama 30 menit. Dan jumlah ampul
yang dihasilkan pada pembuatan injeksi asam folat ini yaitu sebanyak 4 ampul
yang telah memenuhi syarat kejernihan, keseragaman volume, dan kebocoran.

BAB XI
ETIKET DAN LABEL
11.1 Etiket

11.2 Label

BAB XII
KEMASAN DAN BROSUR
12.1 Kemasan

12.2 Brosur

BAB XIII

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. 2007. Farmakologi dan
Terapi edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FK UI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia
Edisi kelima. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia
Edisi kelima. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia
Edisi kelima. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Lachman, dkk. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri, diterjemahkan
oleh Siti Suyatmi, edisi III. Jakarta: UI press
Rowe, R.C., Sheckey, P.J., and Quinn, M.E. 2009. Handbook of
Pharmaceutical Excipient, 6th Ied, 2009. USA: Pharmaceutical
Press and American Pharmacists Association. London
Reynold, James EF. 1982. Martindale the extra pharmacopeia, 28th edition.
London: The pharmaceutical press