Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan berpikir dan kesadaran manusia akan diri dan dunianya,
telah mendorong terjadinya globalisasi. Situasi global membuat kehidupan
semakin kompetitif dan membuka peluang bagi manusia untuk mencapai
status dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Dampak positif dari kondisi
global telah mendorong manusia untuk terus berfikir, meningkatkan
kernampuan, dan tidak puas terhadap apa yang dicapainya pada saat ini.
Adapun dampak negatif dari globalisasi tersebut adalah (1) keresahan hidup
di kalangan masyarakat yang semakin meningkat karena banyaknya konflik,
stress, kecemasan, dan frustasi; (2) adanya kecenderungan pelanggaran
disiplin, kolusi, dan korupsi, makin sulit diterapkannya ukuran baik-jahat
serta benar-salah secara. lugas; (3) adanya ambisi kelompok yang
dapatmenimbulkan konflik, tidak saja konflik psikis, tetapi juga konflik fisik;
dan (4) pelarian darimasalah melalui jalan pintas yang bersifat sementara juga
adiktif, seperi penggunaan obat-obat terlarang.
Pendekatan Rogers terhadap terapi dan model kepribadian sehat yang
dihasilkan,memberikan suatu gambaran tentang kodrat manusia yang
disanjung-sanjung dan optimis. Tema pokoknya adalah seseorang harus
bersandar pada pengalamanya sendiri tentang dunia karena hanya itulah
kenyataan yang diketahui oleh seorang individu. Carl R. Rogers
mengembangkan terapi person-centered sebagai reaksi terhadap apa yang
disebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Carl R.
Rogers adalah salah seorang peletak dasar dari gerakan potensi manusia, yang
menekankan perkembangan pribadi melalui latihan sensitivitas, kelompok
pertemuan, dan latihan lainnya yang ditujukan untuk membantu orang agar
memiliki pribadi yang sehat. Pada hakikatnya, pendekatan person-centered
adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan
mengalami klien berikutnya dunia subjektif dan fenomenalnya. Terapis
berfungsi terutarna sebagai penunjang pertumbuhan pribadi kliennya dengan

jalan membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupan kesanggupan


untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan person-centered menaruh
kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi
dan menemukan arahnya sendiri. Hubungan terapeutik antara terapis dan
klien merupakan katalisator bagi perubahan; klien menggunakan hubungan
yang unik sebagai alat unuk meningkatkan kesadaran dan untuk menernukan
sumber-sumber terpendam yang bisa digunakan secara konstruktif dalam
pengubahan hidupnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Biografi Carl Rogers
2. Bagaimana pengertian Person Centered Therapy ?
3. Bagaimana konsep dasar teori Person Centered Therapy?
4. Bagaimana teknik dalam Person Centered Therapy ?
5. Bagaimana tujuan Person Centered Therapy?
6. Bagaimana fungsi dan peran Terapis?
7. Bagaimana proses dalam Person Centered Therapy?
8. Bagaimana Langkah-Langkah dalam Person Centered Therapy ?
9. Bagaimana kelebihan dan kekurangan pendekatan Person-Centered
Therapy ?
C. Tujuan
1. Mengetahui Biografi Carl Rogers
2. Mengetahui pengertian Person Centered Therapy ?
3. Mengetahui konsep dasar teori Person Centered Therapy?
4. Mengetahui teknik dalam Person Centered Therapy ?
5. Mengetahui tujuan Person Centered Therapy?
6. Mengetahui fungsi dan peran Terapis?
7. Mengetahui proses dalam Person Centered Therapy?
8. Mengetahui Langkah-Langkah dalam Person Centered Therapy ?
9. Mengetahui kelebihan dan kekurangan pendekatan Person-Centered
Therapy ?

BAB II
ISI
A. Biografi Carl Rogers
Carl Ransom Rogers lahir di Oak Park, Illinois, pada 8 Januari 1902.
Pada umur 12 tahun keluarganya mengusahakan pertanian dan Rogers

menjadi tertarik kepada pertanian secara ilmiah. Pertanian ini membawanya


ke perguruan tinggi, dan pada tahun-tahun pertama Rogers sangat gemar akan
ilmu alam dan ilmu hayat. Setelah menyelesaikan pelajaran di University of
Wisconsin pada 1924 Rogers masuk Union Theological College of Columbia,
disana Rogers mendapat pandangan yang liberal dan filsafat mengenai
agama. Kemudian pindah ke Teachers College of Columbia, disana Rogers
terpengaruh oleh filsafat John Dewey serta mengenal psikologi klinis dengan
bimbingan L. Hollingworth. Rogers mendapat gelar M.A. pada 1928 dan
doctor pada 1931 di Columbia. Pengalaman praktisnya yang pertama-tama
diperolehnya di Institute for Child Guidance. Lembaga tersebut orientasinya
Freudian. Rogers menemukan bahwa pemikiran Freudian yang spekulatif itu
tidak cocok dengan pendidikan yang diterimanya yang mementingkan
statistik dan pemikiran menurut aliran Thorndike.
Setelah mendapat gelar doktor dalam psikologi Rogers menjadi staf
pada Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi pemimpinnya.
Selama masa ini Rogers dipengaruhi oleh Otto Rank, seorang psychoanalyst
yang memisahkan diri dari Freudian yang ortodok. Pada tahun 1940 Rogers
menerima tawaran untuk menjadi guru besar psikologi di Ohio State
University. Perpindahan dari pekerjaan klinis ke suasana akademis ini dirasa
oleh Rogers sendiri sangat tajam. Karena rangsangannya Rogers merasa
terpaksa harus membuat pandangannya dalam psikoterapi itu menjadi jelas.
Dan

ini

dikerjakannya

pada

1942

dalam

buku

Counseling

and

Psychotheraphy. Pada tahun 1945 Rogers menjadi mahaguru psikologi di


Universitas of Chicago, yang dijabatnya hingga kini. Tahun 1946-1957
menjadi presiden the American Psychological Association. Rogers meninggal
dunia tanggal 4 Februari 1987 karena serangan jantung. Meskipun teori yang
dikemukan Rogers adalah salah satu dari teori holistik, namun keunikan teori
adalah sifat humanis yang terkandung didalamnya. Teori humanistik Rogers
pun mempunyai berbagai nama antara lain : teori yang berpusat pada pribadi
(person centered), non-directive, klien (client-centered), teori yang berpusat
pada murid (student-centered), teori yang berpusat pada kelompok (group
centered), dan person to person. Namun istilah person centered yang sering
digunakan untuk teori Rogers. Rogers menyebut teorinya bersifat humanis
3

dan menolak pesimisme suram dan putus asa dalam psikoanalisis serta
menentang teori behaviorisme yang memandang manusia seperti robot. Teori
humanisme Rogers lebih penuh harapan dan optimis tentang manusia karena
manusia mempunyai potensi-potensi yang sehat untuk maju. Dasar teori ini
sesuai dengan pengertian humanisme pada umumnya, dimana humanisme
adalah doktrin, sikap, dan cara hidup yang menempatkan nilai-nilai manusia
sebagai pusat dan menekankan pada kehormatan, harga diri, dan kapasitas
untuk merealisasikan diri untuk maksud tertentu.
B. Pengertian Person Centered-Therapy
Person Centered Therapy di cetuskan oleh Carl Ransom Rogers
(1902-1987) dengan sebutan nondirective counseling. Rogers (sebagai
terapis) meminimalkan pengarahannya dan membantu kliennya memperjelas
persepsi mereka mengenai diri sendiri. Rogers meneliti tentang persepsi klien
terhadap self-aktual dan self-idealnya. Reflection of feelings adalah teknik
yang dilakukan terapis dalam memposisikan dirinya sebagai cermin bagi
klien, agar klien dapat lebih mengenal dirinya, menerima diri sendiri, dan
kemudian dapat mempersepsikan keadaannya sekarang (Sundberg et al,
2002).
Menurut Prayitno dan Erman Amti terapi person-centered adalah klien
diberi kesempatan mengemukakan persoalan, perasaan dan pikiranpikirannya secara bebas. Pendekatan ini juga mengatakan bahwa seseorang
yang mempunyai masalah pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu
mengatasinya masalah sendiri (Prayitno, 2004).
C. Konsep Teori Kepribadian dalam Person-Centered Therapy
Konsep dasar dari person-centered therapy adalah bahwa inidividu
memiliki

kecenderungan

untuk

mengakutalisasikan

diri

(actualizing

tendencies) yang berfungsi satu sama lain dalam sebuah organisme. Para
terapis lebih terfokus pada potensi apa yang dapat dimanfaatkan. Didalam
terapi, terdapat dua kondisi inti: congruence dan unconditional positive
regard. Congruence merujuk pada bagaimana terapis dapat mengasimilasikan
dan menggiring pengalaman agar klien sadar dan memaknai pengalaman
tersebut. Unconditional positive regard adalah bagaimana terapis dapat
menerima klien apa adanya, di mana terapis membiarkan dan menerima apa
yang klien ucapkan, pikirkan, dan lakukan. Di samping itu , terdapat juga
4

sejumlah konsep dasar dari sisi klien, yakni self-concept, locus of evaluation,
dan experiencing Self concept merujuk pada bagaimana klien memandangmemikirkan-menghargai diri sendiri. Locus of evaluation merujuk dari sudut
pandang mana klien menilai diri. Orang yang bermasalah akan terlalu menilai
diri mereka berdasar persepsi orang lain (eksternal). Experiencing, adalah
proses di mana klien mengubah pola pandangnya, dari yang kaku dan terbatas
menjadi lebih terbuka. Di jantung teori berfokus pribadi terdapat optimisme
mendasar tentang kemampuan dan motivasi primer kita.
a. Memberikan yang terbaik dari diri kita: kecenderungan beraktualisasi
Rogers menegaskan bahwa setiap pribadi itu adalah keseluruhan yang
utuh,

atau

organism,

dengan

kecenderungan

motivasi

dasar,

kecenderungan untuk beraktualisasi. Seperti yang dikatakan Rogers inilah


kecenderungan
mengembangkan

organisme
semua

yang

melekat

kapasitasnya

pada

sedemikian

dirinya

untuk

rupa

untuk

mempertahankan atau memperkuat organisme itu sendiri. Oleh karena itu,


ketika kita bertumbuh dan berkembang, secara alami kita mendekati orang
lain, lingkungan yang lebih luas dan pengalaman diri kita dengan cara
yang mengantarkan kita menuju hal-hal positif dan membantu kita
menghindari hal-hal yang negatif bagi kebaikan kita.
b. Mempelajari siapa diri kita: perkembangan konsep diri
Meskipun teori berfokus pribadi mengkonseptualisasikan individu sebagai
kesatuan utuh, satu aspek keberadaan kita memainkan peran kunci dalam
perkembangan dan pemfungsian. Konsep diri mulai terbentuk pada usia
dini, ketika kita mulai melihat terpisah dari mereka di sekitar kita. Kita
mulai memikirkan diri sendiri dengan istilah aku sebagai subjek dan
aku sebagai objek, sebagai pribadi unik dengan beragam karakteristik.
Pengetahuan dan kesadaran diri ini awalnya tidak diartikulasikan, tapi
ketika kita bertumbuh, terutama ketika kita belajar bicara, secara bertahap
kita mengonsolidasikan ide tentang diri sendiri. Jika perkembangan
pengetahuan diri itu terjadi secara lengkap seirama dengan kecenderungan
beraktualisasi, yaitu jika kita mulai mengenal diri sendiri sebagai pribadi
yang sebenarnya, maka kita terus melangkah di sepanjang jalan kehidupan

yang utuh dan memuaskan. Namun, mengenal diri kita tidak terjadi dalam
isolasi dan aspek relasional keberadaan kita lah yang menyebabkan
masalah.
c. Pengakuan positif
Pemahaman diri kita berkembang pada suatu waktu ketika kita sangat
tergantung pada orang lain untuk kebaikan fisik dan emosi kita. Hal itu
menimbulkan konflik potensial antara pertumbuhan kita dan kepuasan
orang-orang di sekitar kita. Memberi dan menerima kasih sayang,
penerimaan dan cinta adalah positif, karena perasaan seperti itu memang
memuaskan, namun kebutuhan untuk di senangi dan mendapatkan
kehangatan dari orang lain bisa berkonflik dengan yang kita pandang
sebagai hal yang baik bagi diri kita. Pada tahap tertentu, kita bisa
menahami diri melalui pesan yang diterima dari orang lain dan respon
emosional mereka kepada kita. Pengakuan positif yang tak bersyarat ini
diterima dimana di mungkinkan ada pesan dan bahkan cocok dengan
pengalaman kita.
d. Harga mempertahankan diri
Terkadang, konsep diri kita terancam terbuka kesenjangan antara yang kita
perlukan untuk mempertahankan pemahaman kita tentang dunia dan diri
kita, dan kasus apa yang sebenarnya kita rasakan. Tantangan radikal bisa
terasa benar-benar seperti mengancam hidup kita, karena beberapa
pengalaman menimbulkan pukulan yang sangat kuat dalam cara kita
memandang diri, kita tak lagi mengenali siapa kita dan keterasingan diri
seperti

itu

sangat

mengerikan.

Untuk

melindungi

terhadap

ketidaknyamanan dan konflik internal, kita menyaring pengalaman internal


dan eksternal dengan dua proses yang dikenal sebagai distorsi dan
penyangkalan. Dalam mendistorsi pengalaman kita secara selektif
mengambil yang sedang terjadi dan meninggalkan lainnya, atau kita
memahami sesuatu dengan cara tertentu ketimbang cara lain. Mendistorsi
dan menyangkal pengalaman berarti bahwa kita terus menopang
keterpecahan internal. Tekanan mental dan emosional adalah harga yang
harus kita bayar. Bagi beberapa orang, sejauh mana kondisi berharga yang

di proyeksikan itu di serap membuat kehidupan menjadi sumber ketakutan


yang menetap. Selain itu, kedataran dan kekosongan yang menjadi bagian
dari depresi menunjukkan harga yang harus di bayar karena meredam
perasaan, ketidakpuasan, kesepian, kebingungan, kecemasan, kelelahan,
kematian emosional, semuanya bisa berasal dari upaya kita memisahkan
apa yang secara sadar kita tanggung dari pengetahuan terdalam kita.
e. Pribadi yang utuh
Tujuan terapi berfokus pribadi adalah menawarkan kondisi yang akan
memampukan terjadinya penyembuhan keterpecahan nurani dan memulai
proses untuk menghubungkan kembali secara utuh dengan pengalaman
dan proses penghargaan yang ada sejak lahir. Bertumpu pada alasan
tunggal, namun sulit dijangkau bahwa menawarkan rasa hormat,
pemahaman mendalam dan kehadiran yang tulus dan terbuka kepada klien
akan menciptakan iklim keamanan dan kepercayaan tak bersyarat. Secara
bertahap, klien akan semakin membutuhkan perlindungan terhadap
pengalaman yang mengancam lapisan pelindung yang di bangunnya.
Perasaan, pikiran dan persepsi yang sebelumnya telah di transformasikan
atau di buang jauh-jauh dapat di pegang dalam kesadaran dan di nilai
ulang, mengizinkan penyerapan pengalaman yang lebih memuaskan ke
dalam diri (Palmer, 2011).
D. Teknik Person-Centered Therapy
Dalam pendekatan-pendekatan Person Centered Therapy, prinsipprinsip dasar dalam terapi menurut Rogers bahwa manusia berpotensi
menemukan masalah-masalahnya sendiri, hubungan antar individu lebih
penting daripada masalah itu sendiri, dan individu lebih penting daripada
solusi atas masalahnya (Corey, 2009).
Tidak ada metode atau teknik yang spesifik dalam Person Centered
Therapy. Dalam Therapi ini, antara terapis dan klien harus memiliki
hubungan yang dapat mendorong klien lebih terbuka mengungkapkan
permasalahanya dan mempercayai terapis sepenuhnya. Karena itu disebut
Person-Centered Theraphy yang tehniknya menitik beratkan pada sikap-sikap
terapis. Namun ada beberapa teknik dasar yang harus dimiliki terapis yaitu :

a. Mengalami dan Memperlihatkan Kongruen


Antara Terapis dan Klien harus memiliki hubungan yang kongruen,
yaitu tercipta kecocokan dan kesesuaian. Terapis menunjukan tindakan
yang apa adanya kepada klien seperti sikap hangat dan sabar dari terapis
saat klien tertekan, kemarahan terapis saat klien menyerang dengan
paksaan-paksaan yang kuat. Akan tetapi sikap terapis tetap menunjukkan
keprofesionalannya

dihadapan

klien

sehingga

klien

semakin

menumbuhkan rasa percayanya kepada terapis. Tanpa kepercayaan ini,


klien tidak akan merasa bebas dalam mengungkapkan masalahmasalahnya (Palmer, 2011).
b. Mengalami dan Menunjukkan Penerimaan Positif tanpa Syarat
Untuk membantu keberhasilan terapi, terapis harus memiliki
sejenis rasa suka dan hormat kepada klien. Sehingga hubungan hangat
yang terjalin antara terapis dan klien menumbuhkan minat yang dalam dari
klien untuk melanjutkan terapi. Dalam menunjukan sikap penerimaan
tanpa syarat ini harus didahului sikap kongruen, agar sikap terapis terkesan
serius dan apa adanya. Sikap hormat berarti menghargai orang lain sebagai
manusia yang mampu menemukan solusi-solusi atas permasalahannya
sendiri dan memandang positif kepada klien bahwa terlepas dari apa yang
dilakukannya dia telah berbuat yang terbaik sesuai dengan kemampuannya
(Coret, 2009).
c. Mengalami dan Menunjukkan Rasa Empati.
Dengan berempati, seseorang masuk dalam diri orang lain dan
menjadi orang lain agar bisa menghayati dan merasakan orang lain. Jadi,
seseorang dimungkinkan untuk bisa memahami orang lain karena
seseorang masuk dan menjadi sama dengan orang lain sehingga empati
merupakan cara yang efektif untuk mengenali, memahami, dan
mengevaluasi orang lain. Menurut Rogers, empati bukan hanya bersifat
kognitif saja, namun berupa emosi dan pengalaman.
Merespon pernyataan klien adalah proses mendengarkan dan
mengamati, meresonansikan, mendiskriminasikan, mengomunikasikan,
dan memeriksa pemahaman.

Mengamati

dan

mendengarkan

mengamati

dan

mendengarkan

komunikasi verbal, vocal, dan tubuh klien.


Meresonansikan : merasakan sebagian emosi yangdialami klien
Mendiskriminasikan : mendiskriminasikan apa yang benar-benar penting
bagi klien dan memformulasikannya menjadi sebuah respons.
Mengomunikasikan

mengomunikasikan

respons

yang

berusaha

menunjukkan pemahaman tentang pikiran, perasaan, dan makna personal


klien menyertakan komunikasi verbal dengan komunikasi vokal dan tubuh
yang baik.
Memeriksa

: menunggu dan membiarkan klien untuk merespons atau

bertanya apakah responsnya akurat. Memeriksa pemahaman klien untuk


menangkap dengan tepat apa yang ingin dikatakan. Pernyataannya
biasanya diikuti dengan diam, di mana klien menerima sepenuhnya empati
pemahaman terapi.
Mengenai

Empati

ini,

George

&

Cristiani

(1981)

mengemukakannya sebagai kemampuan untuk mengambil kerangka


berpikir klient sehingga memahami dengan tepat kehidupan dunia dalam
dan makna-maknanya dan bisa dikomunikasikaan dengan jelas terhadap
klien. Menurut beberapa tokoh, perasaan empati ini dapat menyebabkan
terapis ikut larut dalam kesedihan klien. Hal ini berdampak pada hilangnya
identitas diri pada klien, dan hilang pula fungsinya sebagai terapis. Evey,
at al (1987) mengutip Rogers yang mengingatkan jika terapis bisa
menangkap

dunia

pribadi

klien,

sebagaiman

klien

melihat

dan

merasakannya tanpa kehilngan identitasnya sendiri, perubahan konstruktif


niscaya terjadi (Gunarsa, 1992).
E. Tujuan Person-Centered Therapy
Tujuan dasar Person Centered Therapy adalah menciptakan iklim
yang kondusif bagi usaha membatu klien untuk menjadi seorang pribadi yang
berfungsi penuh. Guna mencapai tujuan terapi tersebut perlu mengusahakan
agar klien bisa memahami hal- hal yang ada di balik topeng yang
dikenakannya (Corey, 2009). Tujuan dasar dari layanan person-centered yaitu
sebagai berikut:

1. Keterbukaan kepada pengalaman


Keterbukaan pada pengalaman perlu memandang kenyataan tanpa
mengubah empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami
kerangka acuan internal klien, terapis memberikan perhatian terutama pada
persepsi diri klien dan persepsinya terhadap dunia.
2. Kepercayaan terhadap organisme sendiri
Salah satu tujuan terapi adalah membantu klien dalam membangun rasa
percaya terhadap diri sendiri. Pada tahap permulaan terapi, kepercayaan
klien terhadap diri sendiri dan terhadap putusan- putusannya sendiri sangat
kecil. Mereka secara khas mencari saran dan jawaban- jawaban dari luar
karena pada dasarnya mereka tidak mempercayai kemampuan dirinya
untuk mengarahkan hidupnya sendiri.
3. Tempat evaluasi internal
Tempat evaluasi internal yang berkaitan dengan kepercayaan diri, berrati
lebih banyak mencari jawaban- jawaban pada diri sendiri bagi masalahmasalah keberadaannya. Dia menetapkan standar- standar tingkah laku dan
melihat ke dalam dirinya sendiri dalam membuat putusan- putusan dan
pilihan- pilihan bagi hidupnya.
4. Kesediaan untuk menjadi suatu proses
Konsep tentang diri dalam proses pemenjadian, yang merupakan lawan
dari konsep tentang diri sebagai produk, sangat penting. Meskipun klien
boleh jadi menjalani terapi untuk sejenis formula untuk membangun
keadaan berhasi dan berbahagia, mereka menjadi sadar bahwa
pertumbuhan adalah suatu proses yang berkesinambungan (Corey, 2009).
F. Fungsi dan Peran Terapis
Peran terapis dalam pertemuan terapi person-centered tidak pasif
atau laiser faire sebagaimana dipikirkan oleh banyak orang. Peran terapis
yang pasif mungkin akan dirasakan oleh klien bahwa terapis tidak memiliki
perhatian terhadap klien. Terapis yang berperan laiser-faire dapat ditafsirkan
oleh klien bahwa terapis tidak menganggap klien sebagai orang yang
berharga. Rogers juga memperingatkan bahwa jika merumuskan peran terapis
sebagai orang yang menjelaskan dan mengungkapkan secara objektif
perasaan-perasaan klien, maka perannya sangat intelektualistis. Kalau
dikatakan secara harfiah, mengungkapkan perasaan-perasaan klien secara
10

objektif akan berarti bahwa hanya terapis sendiri yang mengetahui perasaanperasaan tersebut dan akan ditafsirkan oleh klien bahwa dirinya tidak dihargai
(Subandi, 2002). Adapun peran Terapis pada proses terapi yaitu:
1. Terapis

tidak

memimpin,

mengatur

atau

menentukan

perkembangan terapi tetapi itu dilakukan oleh klien sendiri.


2. Terapis merefleksikan perasaan-perasaan klien sedangkan

proses
arah

pembicaraan ditentukan oleh klien.


3. Terapis menerima individu dengan sepenuhnya dalam keadaan atau
kenyataan yang bagaimanapun.
4. Terapis memberi kebebasan kepada klien untuk mengekspresikan
perasaan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya (Nanda, 2013).
Rogers merumuskan terapis dalam kata-kata berikut : Fungsi terapis
adalah menerima sedapat mungkin kerangka acuan internal klien,
mempersepsikan dunia sebagaimana dilihat klien, mempersepsikan klien
sendiri sebagaimana dia dilihat oleh dirinya sendiri, dan dengan berbuat
demikian dia menyisihkan semua persepsi dari kerangka acuan internal, dan
mengkomunikasikan sesuatu dari pemahaman empatik ini kepada klien.
Fungsi terapis adalah membangun suatu iklim terapeutik yang menunjang
pertumbuhan klien. Jadi, terapis person-centered membangun hubungan yang
membantu dimana klien akan mengalami kebebasan yang diperlukan untuk
mengeksplorasi

area-area

hidupnya

yang

sekarang

diingkari

atau

didistorsinya. Klien menjadi kurang defensif dan menjadi lebih terbuka


terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada dalam dirinya maupun dalam
dunia. Yang pertama dan terutama, terapis harus bersedia menjadi nyata
dalam hubungan dengan klien. Terapis menghadapi klien berlandasakan
pengalaman dari saat ke saat dan membantu klien dengan jalan memasuki
dunianya

alih-alih

menurut

kategori-kategori

diagnostic

yang

telah

dipersiapkan. Melalui perhatian yang tulus, respek, penerimaan, dan


pengertian terapis, klien bisa menghilangkan pertahanan-pertahanan dan
persepsi-persepsinya yang kaku serta menuju taraf fungsi pribadi yang lebih
tinggi (Corey, 2009).
Hobbs (1955) mengemukakan kegiatan-kegiatan terapis personcentered yang digunakan dalam terapi sebagai berikut

11

1.

Terapis berusaha memahami apa yang dikatakan klien yang mengacu


kepada isi dan perasaan, serta memasukkan dan mengkomunikasikan
pemahaman ini kepada klien.

2.

Terapis menafsirkan apa yang telah dikatakan klien dengan memberikan


ringkasan (rangkuman) atau sintesis atas perasaan-perasaan yang telah
diungkapkan.

3.

Terapis hanya menerima apa yang telah telah dikatakan klien dengan
pengertian bahwa apa yang telah dikatakannya telah dipahami.

4.

Sewaktu-waktu nilai persoalan itu berkaitan dengan segi pandangan


klien, maka terapis menjelaskan kepada klien sifat dari hubungan
terapeutik, harapan-harapan dari situasi itu dan batas-batas hubungan
antara terapis dan klien.

5.

Terapis berusaha menyampaikan kepada klien lewat gerak isyarat, sikap


badan, dan ekpresi wajah serta lewat kata-kata, suatu perasaan menerima
serta keyakinan bahwa klien mampu menangani masalah-masalahnya.

6.

Terapis menjawab pertanyaan-pertanyaan dan memberikan informasi


apabila respons-respons tersebut relevan bagi treatment, tetapi dia tidak
boleh memberikan informasi bila masalah ketergantungan kelihatan
dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut

7.

Terapis berpartisipasi secara aktif dalam situasi terapi, selalu bersikap


waspada, dan berusaha menangkap nuansa-nuansa perasaan, bila perlu
menginterupsi klien untuk memastikan bahwa terapis memahami apa
yang sedang dikatakan dan dirasakan klien.
Diagnosis dianggap tidak perlu dan tidak bijaksana. Penggunaan data

tes dan pendapat-pendapat yang dikemukakan terapis tentang masalahmasalah klien dianggap membantu mengembangkan ketergantungan karena
terapis dianggap sebagai orang

yang

ahli. Terapi person-centered

menempatkan tanggung jawab bukan pada terapis, melainkan pada klien.


Meskipun sikap-sikap transferensi mungkin kelihatan dalam proses tersebut,
tetapi Rogers percaya bahwa sikap-sikap itu tidak akan berkembang menjadi
neurosis transferensi karena pemhaman dan penerimaan terapis menyebabkan

12

klien mengakui bahwa perasaan-perasaan ini bukan perasaan-perasaan terapis


(Subandi, 2002).
G. Proses dalam Person-Centered Therapy
Arti dasar dari konsep-konsep struktural, yakni organisme dan self,
untuk teori Rogers menjadi jelas ketika dia berbicara mengenai keselarasan
(congruence) dan ketidakselarasan (incongruence) antara self sebagaimana
dipersepsikan dan pengalaman aktual organisme. Apabila pengalamanpengalaman yang dilambangkan yang menyebabkan self mencerminkan
pengalaman-pengalaman organisme, maka orang itu dikatakan menyesuaikan
diri, matang, dan berfungsi sepenuhnya. Orang itu menerima seluruh
pengalaman organisme tanpa ancaman atau kecemasan. Dia mampu berfikir
secara realistik. Ketidak selarasan antara self dan organisme menyebabkan
individu merasa terancam dan cemas. Dia bertingkah laku defensif dan
pikirannya mengerut dan tegar. Ketidakselarasan atau disosiasi merupakan
suatu masalah yang mempelajari dinamika tingkah laku manusia (Subandi,
2002).
Contoh ketidakselarasan yang jelas adalah seorang siswa yang secara
sadar ingin supaya berhasil di sekolah tetapi ia terus menerus melakukan
tingkah laku yang bertentangan dengan usahanya untuk berhasil dan dia
sendiri yakin bahwa dia gagal. Pada umumnya Rogers menjawab masalah ini
dengan berkata bahwa ada suatu ketidakselarasan atau keretakan antara self
concept individu tersebut dan pengalaman organisme karena cinta dari orang
tuanya dan orang-orang lain yang berpengaruh dalam hidupnya dijadikan
syarat untuk mengintroyeksikan gagasan-gagasan dan nilai-nilai itu menjadi
miliknya sendiri. Gagasan-gagasan dan nilai-nilai yang diinkorporasikan
dengan self-concept nya seringkali tegar dan statis serta menghambat proses
normal anak itu menilai pengalamn-pengalamannya. Oleh karena itu anak
tersebut mengembangkan dan berusaha mengaktalisasikan suatu self (diri)
yang bertentangan atau tidak selaras dengan proses organismik yang
berdasarkan tendensi aktualisasi. Hal ini akan diuraikan secara terperinci
dalam pokok-pokok yang berikut (Subandi, 2002).

13

Teori Rogers mengenai terapi dan perubahan kepribadian mengikuti


model jika-maka terdiri dari tiga bagian : syarat-syarat, proses, dan hasil.
Jika syarat-syarat itu dipenuhi, maka proses akan terjadi. Jika proses terjadi,
maka hasil-hasilnya pun akan muncul. Supaya terapi dapat berhasil, maka
syarat-syarat berikut harus dipenuhi, yaitu:
1.

Dua orang berada dalam hubungan psikologis

2.

Orang pertama, yang disebut klien, berada dalam hubungan yang tidak
selaras, peka, dan cemas

3.

Orang kedua yang disebut terapis, berada dalam keadaan selaras atau
terintegrassi dalam berhubungan

4.

Terapis mengalami unconditional positive regard terhadap klien.

5.

Terapis memperlihatkan pemahaman yang akurat dan empatik terhadap


kerangka acuan internal (internal frame of reference) klien dan berusaha
mengkomunikasikan pemahamannya itu kepada klien.

6.

Setidak-tidaknya klien dapat mempersepsikan keselarasan atau kesejatian


(congruence/genuineness) unconditional positive regard, dan pemahaman empatik
(emphatic understanding) (Subandi, 2002).
Jika keenam syarat di atas dipenuhi, maka akan terjadi suatu poses
dengan ciri-ciri khasnya sebagai berikut :
1. Klien mulai bebas mengungkapkan perasaan-perasaannya melalui saluransaluran verbal dan motorik
2. Perasaan-perasaan yang diungkapkan klien semakin mengacu kepada diri
(self) dan bukan kepada yang bukan diri (non-self)
3. Klien semakin dapat membedakan dan memisahkan objek-objek dari
perasaan-perasaan dan persepsi-persepsinya. Pengalamn-pengalamannya
dapat dilambangkannya dengan baik.
4. Perasaan-perasaan yang diungkapkan klien semakin mengacu kepada
ketidakselarasan antara beberapa dari pengalaman-pengalamannya dengan
self-concept nya.
5. Klien mulai mengalami dalam kesadaran adanya ancaman dari
ketidakselarasan itu.
6. Klien mengungkapkan perasaan sepenuhnya dalam kesadaran yang pada
masa lampau perasaan tersebut tidak dibiarkan masuk ke dalam kesadaran
atau didistorsikan dalam kesadaran.

14

7. Self-concept klien mulai direorganisasi untuk mengasimilasikan dan


memasukkan pengalaman-pengalamannya.
8. Karena klien terus-menerus mereorganisasi struktur dirinya, selfconceptnya mulai semakin selaras dengan pengalaman-pengalamannya.
9. Klien semakin mampu mengalami unconditional positive regard dari
terapis
10. Klien semakin bisa merasakan unconditional positive self-regard
11. Klien mulai menyadari dirinya sebagai fokus dari penilaian (evaluasi)
12. Klien mulai kurang mengalami dirinya menurut syarat-syarat
penghargaan, dan semakin mengalami dirinya menurut proses penilaian
organismik (Subandi, 2002).
H. Langkah-Langkah Person Centered Therapy
Rogers mengemukakan beberapa langkah-langkah dalam metode
person centered ini. Langkah-langkah ini tidak mempunyai ciri tersendiri.
Langkah-langkah tersebut bercampur baur dan tumpang tindih serta perlu
disusun secara berurut. Rogers menyebut 12 langkah dalam proses terapi,
yakni :
1. Individu datang meminta bantuan
2. Situasi bantuan biasanya dijelaskan (ditetapkan)
3. Terapis mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan-perasaanya
dengan bebas berkenaan dengan masalah yang dihadapinya.
4. Terapis menerima, mengakui, dan menjelaskan perasaan-perasaan negatif
klien.
5. Apabila perasaan-perasaan negatif klien telah diungkapkan sepenuhnya,
maka perasaan-perasaan itu disusul oleh ungkapan samar-samar dan
ragu-ragu

dari

perasaan-perasaan

positif

yang

mendatangkan

pertumbuhan
6. Terapis menerima dan mengakui perasaan-perasaan positif yang
diungkapkan itu seperti halnya dia menerima dan mengakui perasaan
negatif
7. Pemahaman tentang diri dan penerimaan diri merupakan aspek berikutnya
yang penting dari seluruh proses
8. Bercampur-baur dengan proses pemahaman ini (harus ditekankan lagi
bahwa langkah-langkah yang dikemukakan sama sekali tidak eksklusif

15

antara yang satu dengan yang lainnya, dan juga langkah-langkah tersebut
tidak berlangsung secara kaku) merupakan suatu proses penjelasan
mengenai keputuan-keputusan dan rangkaian tindakan yang mungkin
diambil.
9. Kemudian, muncullah salah satu aspek terapi yang sangat menarik, yakni
permulaan tindakan-tindakan positif yang meskipun kecil namun sangat
penting
10. Terjadilah suatu perkembangan lebih lanjut (pemahaman diri yang lebih
lengkap dan akurat karena individu mulai berani menyelidiki tindakantindakannya sendiri secara lebih mendalam
11. Tindakan positif yang integratif dari klien semakin meningkat. Ketakutan
dalam dirinya semakin berkurang khususnya untuk mengadakan pilihan
dan menjadikannya lebih yakin akan tindakan yang terarah kepada
dirinya sendirinya (self-directed action)
12. Perasaan untuk membutuhkan bantuan berkurang dan pengakuan dari
pihak klien bahwa hubungan itu harus berakhir.
Proses perubahan kepribadian yang konstruktif dapat diletakkan
dalam sebuah kontinum dari sikap yang paling defensive sampai yang paling
terintegrasi. Rogers membagi kontinum ini menjadi tujuh tahap.
Tahap 1, dicirikan oleh ketidakrelaan klien untuk mengomunikasikan
apapun tentang dirinya. Klien tidak mengakui adanya masalah yang
menimpanya dan menolak untuk mengungkapkan perasaan atau emosinya.
Tahap 2, klien mulai membahas peristiwa-peristiwa eksternal dengan
orang lain, tetapi masih tidak mengakui atau gagal memahami perasaanperasaan mereka sendiri.
Tahap 3, klien sudah lebih bebas untuk membicarakan diri mereka,
meskipun masih sebagai objek. Klien membicarakan perasaan-perasaannya
menggunakan model kalimat past tense dan future tense, menghindari
pembicaraan perasaan dan emosi pada saat ini.
Tahap 4, mulai membicarakan perasaan-perasaan lebih dalam namun
tak satupun mengenai yang dirasakan sekarang. Mereka mulai melihat

16

ketidakkongruenan

antara

diri

yang

dipahami

dan

pengahayatan

organismiknya.
Tahap 5, klien mulai menjalani perubahan dan pertumbuhan yang
signifikan. Mereka dapat mengekspresikan perasaan-perasaan saat ini,
meskipun tidak menyimbolkan secara akurat perasaan-perasaan ini. Mereka
mulai membuat keputusan-keputusan untuk diri mereka sendiri dan menerima
tanggung jawab bagi pilihan-pilihan mereka.
Tahap 6, klien menjadi lebih kongruen dan sanggup mencocokkan
pengalaman saat ini dengan kesadaran dan dapat mengekspresikannya secara
terbuka. Klien juga dapat mengalami seluruh diri-organismik mereka dan
kehilangan simtom-simtom fisik.
Tahap 7, klien berfungsi seutuhnya menjadi pribadi hari esok. Mereka
sanggup menggeneralisasikan pengalaman-pengalaman terapi ke luar dunia
terapi (Ferst, 2008).
Hasil paling dasar dari terapi person-center yang berhasil adalah klien
menjadi kongruen, tidak lagi defensive, dan lebih terbuka terhadap
pengalaman. Sehingga klien memiliki gambaran yang lebih jelas tentang
dirinya, dan memiliki pandangan yang lebih akurat tentang potensi mereka,
mereka dapat mengembangkan pandangan tentang siapa diri mereka
sesungguhnya. Anggapan-diri positif yang sejati dan pemahaman empatik
mereka akan terus berkembang di luar terapi, dan mereka menjadi lebih
sanggup berpartisipasi dalam hubungan lain yang mendorong pertumbuhan.
Pada tahun 1951, Rogers merumuskan untuk pertama kali cirri
kepribadian

yang

lain

(altered

personality),

kemudian

dia

mengembangkannya menjadi konsep pribadi yang berfungsi seutuhnya


(fully functioning person). Berikutnya dia mulai mendeskripsikan dunia hari
esok (world of tomorrow) dan pribadi hari esok (person of tomorrow). Rogers
mendata sejumlah karakteristik yang memungkinkan untuk muncul jika tiga
kondisi terapi yang dibutuhkan cukup terpenuhi.
Pertama, pribadi yang sehat secara psikologis lebih mudah
beradaptasi. Mereka tidak hanya menyesuaikan diri dengan lingkungan statis,
tetapi juga menyadari bahwa konformitas dan penyesuaian dengan kondisi

17

yang ada memiliki nilai pertahanan hidup yang lebih lama. Maka muncullah
istilah pribadi hari esok.
Kedua, pribadi hari esok terbuka kepada pengalaman, menyimbolkan
pengalaman secara akurat dalam kesadarannya, bukan menyangkal atau
mendistorsinya. Pribadi ini akan mendengarkan diri sendiri sehingga dapat
mendengarkan rasa gembira, marah, semangat yang patah, rasa takut dan
kelembutannya, serta bersikap lebih mandiri. Mereka juga memahami dengan
jelas hak dan perasaan orang lain, yang akan mereka pertimbangkan ketika
membuat keputusan.
Ketiga, pribadi ini cenderung untuk hidup sepenuhnya di setiap
momen. Rogers menyebut kecenderungan untuk hidup dalam momen saat ini
sebagai hidup eksistensial. Mereka akan menemukan apa yang dimaui
pengalaman bagi mereka dengan menghidupi pengalaman tersebut tanpa
prasangka terhadap ekspektasi sebelumnya.
Keempat, pribadi hari esok yakin dengan kemampuan mereka sendiri
untuk mengalami hubungan yang harmonis dengan orang lain. Mereka akan
memerhatikan orang lain tanpa menghakimi. Mereka akan mencari makna di
balik dirinya dan akan menggali kehidupan spiritual dan kedamaian batin
lebih dalam.
Kelima, pribadi hari esok menjadi lebih terintegrasi, lebih
menyeluruh, tanpa pembatasan antifisial antara proses-proses yang disadari
atau tidak. Mereka akan melihat dengan jelas apa yang ada dan yang
semestinya ada, mereka juga dapat mengekspresikan secara terbuka perasaan
yang mereka alami.
Keenam, pribadi ini memiliki kepercayaan mendasar terhadap hakikat
manusia. Mereka tidak akan menyakiti orang lain demi pencapaian pribadi.
Mereka akan menikmati kekayaan hidup lebih besar, dan akan merasakan
sesuatu secara lebih mendalam. Mereka hidup pada masa kini dan
berparisipasi dengan cara yang lebih kaya untuk momen yang tengah
berlangsung.
I. Kelebihan dan Kekurangan Person-Centered Therapy
a. Kelebihan Person-Centered Therapy
1. Pemusatan pada klien dan bukan pada terapist

18

2. Identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam


mengubah kepribadian
3. Lebih menekankan pada sikap terapi daripada teknik.
4. Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan
kuantitatif.
5. Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi.
6. Menawarkan perspektif yang lebih up-to-date dan optimis.
7. Klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus
dalam menyelesaiakan masalahnya
8. Klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika
mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi
b. Kekurangan Pekdekatan Person Centered
1. Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana.
2. Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan.
3. Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas
dan umum sehingga sulit untuk menilai individu.
4. Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan
klien yang kecil tanggungjawabnya.
5. Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan
interpersonal.
6. Terapi menjadi tidak efektif ketika terapis terlalu non-direktif dan
pasif, mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup.
7. Tidak bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah.
8. Minim teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya.

19

BAB III
KASUS DAN RANCANGAN INTERVENSI
A. Kasus
Mawar adalah siswa SMA Negeri favorit di kabupaten Pringsewu. Dia
anak yang cerdas dengan kelebihan pada mata pelajaran eksakta yang diatas
rata-rata, namun Mawar memiliki keterbatasan secara fisik, yakni kakinya
tidak sempurna atau pincang. Kepincangan kaki mawar akibat kecelakaan
motor yang terjadi pada saat mawar mengambil ijazah SMP nya. Hal ini yang
mengusik cita-citanya untuk menjadi dokter di kemudian hari. Di lingkungan
yang baru ini (SMA), Mawar seringkali mendapatkan perlakuan tidak
menyenangkan dari teman-temannya, diolok-olok pincang, disakiti dan
dijauhi. Dengan kondisi seperti ini, Mawar hanya mau bergaul dengan orang
yang dianggapnya nyaman untuk dirinya dan dengan orang-orang yang mau
mendekatinya. Dari aspek kehidupan Mawar, keluarganya memiliki kondisi
ekonomi yang pas-pasan. Ibunya penjual makanan tradisional dari ketela
pohon atau sering disebut Kelanting, ayahnya seorang buruh penggilingan
padi. Mawar merupakan anak pertama dari dua bersaudara, adiknya sekarang
kelas VII SMP dan memiliki tubuh yang normal. Kondisi yang dialami
Mawar dilingkungan sekolah menimbulkan rasa putus asa terhadap
kehidupannya, sehingga memberikan penilaian negatif terhadap takdir
Rabbnya.

Dengan

berbagai

permasalahan

tersebut

tentu

sangat

20

mempengaruhi keadaan psikologis Mawar yang sempat berencana untuk


berhenti sekolah.
B. Rancangan Intervensi
Target Perilaku
-

Kondisi Awal

pincang
Hanya

Dapat bergaul temantemannya.


Percaya Diri
terhadap
Kemampuan
yang

Ia

Kondisi Akhir

Intervensi
Mawar anak Sesi 1 :
-Terapis
yang cerdas
menerima
dalam mata
Mawar dan
pelajaran
membiarkan
eksakta
Kakinya
Mawar

dengan

Proses

mengungkap
kan

bergaul

Miliki.

yang
dianggapnya
nyaman
dikarenakan
sering diolokolok, disakiti
-

dan dijauhi
Putus
asa

yang

ia

dan
memberikan
empati
terhadap apa

karena

yang dialami

keadaannya

Mawar, agar

yang

tidak

Mawar dapat

sempurna dan

menceritakan

kondisi

semua

ekonomi serta
sempat
berencana
untuk
berhenti

kekurangan
fisik

bukan

hal

yang

membuat
dan putus asa.
Dapat
berprestasi

alami.
Sesi 2 :
-Terapis
memahami

bahwa

dunia berakhir

segala

perasaan

dengan orang

Menyadari

dengan
kemampuanny
-

a
Percaya
bahwa

Diri
Ia

dapat
mencapai citacitanya

masalahnya
Sesi 3 :
-Mawar mulai
menemukan
solusi
terhadap

sekolah.
21

masalahnya
dan

mulai

dapat
berpikir apa
yang harus ia
lakukan agar
ia

lebih

percaya diri.
-Terapis
merangkum
dan
menyimpulk
an

atas

masalah dan
solusi

yang

akan Mawar
lakukan
dalam

minggu dan
dicatat dalam
buku catatan
harian
Mawar.
Sesi 4:
-Setelah

minggu
dicek
dan

lagi
dilihat

segala
perubahan,
jika

ada

perubahan
dilakukan ke
22

tingkat yang
lebih tinggi,
jika

tidak

maka
diulangi lagi
saat sesi 3.
-Jika
berhasil
akan

terus

ditingkatkan
agar Mawar
percaya diri
dan
putus

tidak
asa

hingga sesisesi
selesai

terapi
dan

Mawar tidak
bergantung
pada terapis.

23

BAB IV
KESIMPULAN
Person Centered Therapy di cetuskan oleh Carl Ransom Rogers
(1902-1987) dengan sebutan nondirective counseling. Rogers (sebagai
terapis) meminimalkan pengarahannya dan membantu kliennya memperjelas
persepsi mereka mengenai diri sendiri dimana dalam terapi person-centered
klien diberi kesempatan mengemukakan persoalan, perasaan dan pikiranpikirannya secara bebas. Konsep dasar dari person-centered therapy adalah
bahwa inidividu memiliki kecenderungan untuk mengakutalisasikan diri,
Congruence, Unconditional positive regard dan terdapat juga sejumlah
konsep dasar dari sisi klien, yakni self-concept, locus of evaluation, dan
experiencing.
Tidak ada metode atau teknik yang spesifik dalam Person Centered
Therapy. Dalam Therapi ini, antara terapis dan klien harus memiliki
hubungan yang dapat mendorong klien lebih terbuka mengungkapkan
permasalahanya dan mempercayai terapis sepenuhnya. Karena itu disebut
Person-Centered Theraphy yang tehniknya menitik beratkan pada sikap-sikap
terapis. Namun ada beberapa teknik dasar yang harus dimiliki terapis yaitu :
mengalami dan memperlihatkan kongruen, mengalami dan menunjukkan
penerimaan positif tanpa syarat serta mengalami dan menunjukkan rasa
empati.
Tujuan dasar person centered therapy adalah menciptakan iklim
yang kondusif bagi usaha membatu klien untuk menjadi seorang pribadi yang
berfungsi penuh, keterbukaan kepada pengalaman, kepercayaan terhadap
organisme sendiri, dan tempat evaluasi internal, kesediaan untuk menjadi
suatu proses. Peran dan fungsi terapis person-centered membangun hubungan

24

yang membantu dimana klien akan mengalami kebebasan yang diperlukan


untuk mengeksplorasi area-area hidupnya yang sekarang diingkari atau
didistorsinya. Klien menjadi kurang defensif dan menjadi lebih terbuka
terhadap kemungkinan-kemungkina yang ada dalam dirinya maupun dalam
dunia.
Rogers menyebut 12 langkah dalam proses terapi dan hasil paling
dasar dari terapi person-centered yang berhasil adalah klien menjadi
kongruen, tidak lagi defensive, dan lebih terbuka terhadap pengalaman.
Sehingga klien memiliki gambaran yang lebih jelas tentang dirinya, dan
memiliki pandangan yang lebih akurat tentang potensi mereka, mereka dapat
mengembangkan pandangan tentang siapa diri mereka sesungguhnya.
Anggapan-diri positif yang sejati dan pemahaman empatik mereka akan terus
berkembang di luar terapi, dan mereka menjadi lebih sanggup berpartisipasi
dalam hubungan lain yang mendorong pertumbuhan.

25