Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan sektor industri di Indonesia pada bidang manufaktur dan kontruksi
mengalami perkembangan yang sangat pesat, permintaan pasar dalam komoditi bahan galian
industri khususnya bahan galian batugamping meningkat dari tahun ke tahunya. Peningkatan
tersebut mendorong minat para pemodal untuk mengambil bagian dibidang pertambangan
bahan galian industri khususnya batugamping.
Potensi batugamping salah satunya tedapat di Provinsi Papua yang memiliki cadangan batu
gamping yang sangat besar, diperkirakan cadangannya mencapai lebih dari 13 miliar ton.
Batugamping dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organik, secara mekanik,
atau secara kimia. Sebagian besar batugamping yang terdapat di alam terjadi secara organik,
jenis ini berasal dari pengendapan cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau
ganggang, atau berasal dari kerangka binatang koral/kerang. Batugamping dapat berwarna putih
susu, abu muda, abu tua, coklat bahkan hitam, tergantung keberadaan mineral pengotornya.
Pada umumnya deposit batu gamping ditemukan dalam bentuk bukit. Oleh sebab itu dalam
rangka mengoptimalkan pemanfaatan batugamping teknik penambangan yang digunakan untuk
mengambil bahan galian batugamping tersebut perlu disesuaikan dengan lokasi tersebut, serta
faktor-faktor pendukungnya harus diperhatikan agar mendapatkan hasil maksimal dalam
pelaksanaan penambangannya.
1.1 Perumusan Masalah
Dalam sebuah kegiatan penambangan ada tiga sistem penambangan yang biasa digunakan
dalam pengoperasiannya dan sistem penambangan tersebut masing-masing memiliki metode
yang berbeda yang biasa disesuaikan dengan lokasi, jenis, jumlah dan kadar bahan galian.
Diperlukan pemilihan metode yang tepat dan sesuai serta perencanaan yang baik agar suatu
kegiatan penambangan dapat berjalah sesuai dengan rencana. Berikut adalah perumusan
masalah ada dalam pemilihan penambangan batugamping :
1. Bagaimana memilih sistem dan metode penambangan yang tepat?
2. Bagaimana merencanakan suatu penambangan batugamping dengan memperhatikan factor
teknis?
3. Bagaimana tahapan kegiatan setelah penambangan batugamping selesai dilakukan?
1.2 Tujuan Perencanaan

Agar diperoleh hasil yang diharapkan maka sebelum melakukan penambangan perlu
mengetahui tujuan perencanaan penambangan tersebut diantaranya, yaitu :
1. Mendapatkan sistem dan metoda yang tepat untuk menambang batugamping
2. Memperkirakan factor teknis dalam penambangan batugamping
3. Merencanakan kegiatan reklamasi setelah penambangan selesai dilakukan.
1.3 Metode Penilitian
Metode penelitian yang diguanakan dalam perencanaan penambangan batugamping oleh
PT. Melanesia Limestone ini yaitu metode deskriptif. Metode ini digunakan dengan maksud
untuk mengklasifikasi suatu kejadian atau kenyataan sosial, sifat populasi atau daerah tertentu
serta mendeskripsikan jumlah variable. Metode Penilitian dapat dilihat pada bagan dibawah ini :

Penggambaran peta topografi


Penggambaran sayatan melintang

Perhitungan Cadangan
Penentuan Umur Tambang

Metode penambangan
Perencanaan alat
Perhitungan produksi
alat
Geometri jalan tambang
Jenjang
Penirisan

PERSIAPAN

PENGOLAHAN DATA

PERENCANAAN TEKNIS

HASIL

Gambar 1.1 Diagram Alir Metode Penilitian

BAB II
TINJAUN UMUM
2.1

Geografi

2.1.1

Topografi
Topografi daerah penambangan batugamping merupakan daerah yang berbukit dengan

kemiringan agak miring, ketinggian daerah ini antara 45m diatas permukaan laut sampai 120m
diatas permukaan laut dengan kemiringan secara umum 2 15 %.
2.1.2

Vegetasi
Vegetasi pada daerah penambangan sebgian besar terdiri dari tumbuhan hutan tropis

yang heterogen, lainnya terdiri dari alang-alang dan semak belukar.


2.1.3

Iklim dan Curah Hujan


Daerah penambangan termasuk dalam tipe iklim tropika basah dan dipengaruhi oleh

angin pasang dan angin musim tenggara. Curah hujan yang disajukan pada table 2.1
menunjukan rata-rata jumlah curah hujan minimum terjadi pada bulan September yaitu 80 mm,
sedangkan curah hujan maksimum terjadi pada bulan Mei yaitu 287 mm rata-rata curah hujan
bulanan adalah 202,75 mm perbulan.
Tabel 2.1 Data Curah Hujan Daerah Penambangan Batugamping
Bulan / Parameter
Curah Hujan (mm)
Hari/ Hujan
Januari
219.5
22
Februari
268.1
15
Maret
222.8
14
April
79.2
10
Mei
150.4
10
Juni
251.8
10
Juli
283.3
16
Agustus
183.4
10
September
297.3
18
Oktober
181.7
14
November
184.8
14
Desember
343.4
20
(Sumber : Modul Praktikum Tambang Terbuka, UNIPA)
Keadaan suhu udara dikegiatan penambangan umumnya tidak begitu bervariasi berkisar
antara 21.80C hingga 33.40C. suhu terendah terjadi pada bulan November (28.8 0C) dan suhu
tertinggi terjadi pada bulan Januari (33.4 0C). Kelembapan terjadi pada bulan Januari, Februari
dan September (80%).
2.2

Genesa Batugamping

2.2.1

Teori Pembentukan Batugamping

Batugamping yang terdapat di alam menurut genesanya terjadi akibat dua proses yaitu :
a.

Proses Sedimentasi

Batugamping yang terjadi akibat proses sedimentasi melalui sedimentasi organik dan
sedimentasi kimia serta sedimentasi mekanik, Proses sedimentasi organik terjadi karena adanya
tumbuhan laut (koloni binatang foraminifera, algae dan renik lainnya) yang telah mati dan
diendapkan di dasar laut dengan kondisi laut yang tenang. Batugamping yang terjadi akibat
sedimentasi kimia terjadi akibat proses kimia yang berlangsung secara terus menerus di lautan
luas dengan larutan yang terkandung di dalamnya, sedangkan sedimentasi mekanik yang terjadi
pada batugamping diakibatkan oleh adanya proses akumulasi dari lumpur-lumpur yang
mengandung karbonat. Proses pembentukan batugamping melalui proses sedimentasi secara
terus menerus dan berlangsung cukup lama sehingga terbentuk endapan batugamping yang ada
sekarang ini.
b.

Proses Pelapukan
Pada proses pelapukan ini , sumber unsur karbonatnya adalah karbon dioksida (CO 2)

dari udara dan mineral-mineral yang mengandung unsur-unsur karbonat yang terdapat pada
batuan asal yang tersebar di permukaan bumi .Dalam bentuk yang umum adalah melalui proses
pelapukan pada masa batugamping sehingga membentuk larutan kalsium karbonat (CaCO 3)
yang pada larutannya oleh media air diangkut dan diendapkan di lingkungan laut dangkal.
Klasifikasi Batugamping antara lain :
1. Batugamping Non Klastik
Batugamping ini berwarna putih sampai putih abu-abu, bagian luar biasanya berwarna
coklat kemerahan sampai hitam karena mengalami pelapukan. Banyak mengandung fosil
foraminifera dan dibeberapa tempat mengandung kalsit. Berstuktur masif, kompak (solid) dan
sering kali terdapat rongga-rongga karena proses pelarutan. Proses pelarutan yang intensif akan
menghasilkan aliran sungai bawah tanah dan gua kapur.
2.

Batugamping Klastik
Batugamping ini berwarna putih kekuningan sampai putih kecoklatan. Dalam kondisi
lapuk berwarna coklat kemerahan sampai hitam. Struktur perlapisan, terkadang terdapat sisipan
lempung gampingan. Bagian luar Batugamping ini bersifat hablur dan cenderung rapuh.
Klasifikasi batugamping menurut GRABAU (1904) :

1.

Calcirudite
Yaitu batugamping yang ukuran butirnya lebih besar dari pada pasir.

2.

Calcarenite
Yaitu batugamping yang ukuran butirnya sama dengan pasir.

3. Calcilutite
Yaitu batugamping yang ukuran butirnya lebih kecil dari pada pasir.
4. Calcipulverite
Yaitu batugamping hasil presifikasi kimia.
5. Batugamping organik
Yaitu batugamping hasil pertumbuhan organisme secara insitu seperti terumbu.
2.2.2

Litologi

Litologi daerah penambangan secara garis besar dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
a. Kelompok Endapan Lempung
Merupakan kelompok endapan sedimen lempung yang umumnya terdapat pada lapisan
penutup (top soil), dengan kondisi keras, kaku dan kering akibat terkena langsung sinar
matahari. Kelompok ini tersebar merata didaerah lapisan penutup dan ketebalannya berkisar
1.5m dalam jumlah yang sedikit.
b. Kelompok Karbonat
Merupakan kelompok penyebaran batuan yang sangan didominasi oleh endapan
karbonat hasil sedimentasi yaitu batugamping (limestone). Kelompok ini ditemukan disemua
daerah penambangan yang letaknya dibawah lapisan penutup (top soil).

Lempung 1,5 m

Batugamping 105,85 m

Gambar 2.1 Penampang Stratigrafi Lokasi Penambangan

BAB III
ASPEK PERTIMBANGAN RENCANA PENAMBANGAN

3.1

Gamabran Umum Daerah Penambangan

3.1.1

Lokasi dan Bentuk Permukaan


Secara administrasi lokasi penambangan batugamping terletak pada wilayah Distrik

Aimas Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat. Lokasi penambangan dapat ditempuh dari
pusat kota Aimas Kabupaten Sorong dengan kendaraan roda dua atau roda empat dalam waktu
tempuh 10 menit. Luas daerah penambangan 115.269,000 m 2, titik ketinggian dari permukaan
laut 120 m dan terendah 45m.
3.2

Aspek Tenaga Kerja

3.2.1

Analisa Tenaga Kerja


Dalam kegiatan penambangan tenaga kerja yang di rekrut berdasarkan kebutuhan tiap

departemen di perusahaan kami. Kebutuhan tenaga kerja di tiap departemen sebagai berikut :
1.

Departemen Produksi

= 20 5 tenaga ahli

2.

Departemen Enginer

= 20 5 tenaga ahli

3.

Departemen HRD

= 10 2 tenaga ahli

4.

Departemen Administrasi

= 10 3 tenaga ahli

5.

Departemen CSR

= 5 2 tenaga ahli

6.

Departemen Enviroment

= 5 2 tenaga ahli

7.

Dan beberapa tenaga yang membantu proses kegiatan penambangan


dari masyarakat sekitar daerah penambangan sebesar 20 orang.

8.

Keamanan

= 10 orang.

9.

Pengawasan

= 10 orang.

10.

Pengendara kendaraan proyek

= 10 orang.

Jadi banyaknya karyawan yang dibutuhkan perusahaan kami sebanyak 120 karyawan
dalam PT. Melanesia Lomestone. Dan tenaga kerja tersebut akan di rekrut oleh departemen
HRD melalui beberapa tahap yaitu :
1) Penjaringan (tahapan awal berupa pengumpulan tenaga kerja)
2) Seleksi (tahapan setelah penjaringan berupa penseleksian atau pemilihan tenaga kerja
sesuai departemen-departemen yang ada)
3) Rekrutment (tahapan selanjutnya setelah penjaringan dan seleksi, yaitu berupa
penerimaan tenaga kerja sesuai departemen masing-masing)
4) Training (tahapan terakhir setelah penjaringan, seleksi, dan rekrutmen, yaitu berupa
pemberian pelatihan kepada tenaga kerja).

Dengan diadakannya tahapan ini maka perusahaan dapat menerima para karyawan yang
berpotensi dan ahli dalam bidangnya masing-masing sehingga dalam pembagian tugasnya tidak
perlu repot menentukan karyawan yang bekerja sesuai dengan bidangnya.

3.2.2

Struktur organisasi

President Director
Wahyu Obelom

Manager Production
Wirnata Adiyatma

Manager Enginer
Semuel A. D Latuperisa

Kichen Head

Manager CSR
Vidalia E. Liliefna

Manager HRD
Citcy Tiurmida
Manulang

Manager
Administration
Jimlin Yihanes Wanma

Gambar 3.1 Struktur Organisasi PT Melanesia Limeston

3.3

Aspek Geoteknik

3.3.1

Faktor Densiti
Densiti merupakan perbandingan antara berat benda dengan volume benda. Faktor

densiti untuk tambang dihutung dari percobaan laboratorium terhadap contoh tanah asli. Nilai
rata-rata densiti batugamping yang akan ditambang pada PT. Melanesia Limestone adalah 2.6
ton/m3.
3.3.2

Stabilitas Tambang
Faktor yang mempengaruhi kegiatan penambangan terutama dalam stabilitas tambang

adalah :
1. Ground Water (Air Tanah) dan juga curah hujan yang sangat berpengaruh pada kegiatan
penambangan.
2. Topografi juga sangat penting dimana kita dapat melihat apaka areal penambangan tiu
berupa bukit, pegunungan, ataupun endapan yang tersingkap.
3. Kemiringan lereng dimana sangat berpengaruh dalam kegiatan penambangan dikarenakan
kemantapan lereng merupakan factor yang sangat penting dalam sebuah penambangan
berkenan dengan keselamatan kerja sekaligus semakin curamnya lereng maka cadangan
yang ada ditempat itu sangat banyak dan harus mempertimbangkan factor K3 (Kesehaan
dan Keselamatan Kerja).
4. Waktu kerja dimana disini meliputi waktu kerja perbulan, waktu kerja pertahun, serta
waktu produksi atau umur tambang dan lamanya kerja selama sehari.
5. Sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan penambangan berlangsung seperti
perkantoran, mash karyawan, gudang, bengkel, tempat penampungan endapan bahan
galian, disposal dan juga penerangan.
3.3.3

Kemantapan Lereng
Kemantapan (stabilitas) lereng merupakan suatu faktor yang sangat penting dalam

pekerjaan yang berhubungan dengan penggalian dan penimbunan tanah, batuan dan bahan
galian, karena menyangkut persoalan keselamatan manusia (pekerja), keamanan peralatan serta
kelancaran produksi. Keadaan ini berhubungan dengan terdapat dalam bermacam-macam jenis
pekerjaan, misalnya pada pembuatan jalan, bendungan, penggalian kanal, penggalian untuk
konstruksi, penambangan dan lain-lain.
Dalam operasi penambangan masalah kemantapan lereng ini akan diketemukan pada
penggalian tambang terbuka, bendungan untuk cadangan air kerja, tempat penimbunan limbah
buangan (tailing disposal) dan penimbunan bijih (stockyard). Apabila lereng-lereng yang
terbentuk sebagai akibat dari proses penambangan (pit slope) maupun yang merupakan sarana

10

penunjang operasi penambangan (seperti bendungan dan jalan) tidak stabil, maka akan
mengganggu kegiatan produksi.
Dari keterangan diatas, dapat dipahami bahwa analisis kemantapan lereng merupakan
suatu bagian yang penting untuk mencegah terjadinya gangguan terhadap kelancaran produksi
maupun terjadinya bencana yang fatal.
Dalam keadaan tidak terganggu (alamiah), tanah atau batuan umumnya berada dalam
keadaan seimbang terhadap gaya-gaya yang timbul dari dalam. Kalau misalnya karena sesuatu
sebab mengalami perubahan keseimbangan akibat pengangkatan, penurunan, penggalian,
penimbunan, erosi atau aktivitas lain, maka tanah atau batuan itu akan berusaha untuk mencapai
keadaaan yang baru secara alamiah. Cara ini biasanya berupa proses degradasi atau
pengurangan beban, terutama dalam bentuk longsoran-longsoran atau gerakan-gerakan lain
sampai tercapai keadaaan keseimbangan yang baru.
Pada tanah atau batuan dalam keadaan tidak terganggu (alamiah) telah bekerja
tegangan-tegangan vertikal, horisontal dan tekanan air dari pori. Ketiga hal di atas mempunyai
peranan penting dalam membentuk kestabilan lereng.
Sedangkan tanah atau batuan sendiri mempunyai sifat-sifat fisik asli tertentu, seperti
sudut geser dalam (angle of internal friction), gaya kohesi dan bobot isi yang juga sangat
berperan dalam menentukan kekuatan tanah dan yang juga mempengaruhi kemantapan lereng.
Oleh karena itu dalam usaha untuk melakukan analisis kemantapan lereng harus
diketahui dengan pasti sistem tegangan yang bekerja pada tanah atau batuan dan juga sifat-sifat
fisik aslinya. Dengan pengetahuan dan data tersebut kemudian dapat dilakukan analisis
kelakuan tanah atau batuan tersebut jika digali atau diganggu. Setelah itu, bisa ditentukan
geometri lereng yang diperbolehkan atau mengaplikasi cara-cara lain yang dapat membantu
lereng tersebut menjadi stabil dan mantap.
Dalam menentukan kestabilan atau kemantapan lereng dikenal istilah faktor keamanan
(safety factor) yang merupakan perbandingan antara gaya-gaya yang menahan gerakan terhadap
gaya-gaya yang menggerakkan tanah tersebut dianggap stabil, bila dirumuskan sebagai berikut :
Faktor Kemanan (F) = gaya penahan / gaya
Dimana untuk keadaan :

F > 1,0 : lereng dalam keadaan mantap


F = 1,0 : lereng dalam keadaan seimbnag, dan siap untuk longsor
F < 1,0 : lereng tidak mantap
Kemantapan lereng suatu batuan dapat dianalisis dengan metode grafis (stereografis),

analisis vector dan metode Hoek dan Bray.

12

Dalam menganalisi kemantapan lereng PT. Melanesia Limestone menggunakan metode


Hoek dan Bray karena dengan metode ini dapat menganalisis longsoran busur yang
kemungkinan dapat terjadi pada daerah penambangan PT. Melanesia Limeston. Untuk
keperluan praktis Hoek dan Bray telah menuangkan cara perhitungan yang dapat dipertanggung
jawabkan dengan asumsi yang digunakan :
1. Jenis tanah yang digunakan dalam hal ini adalah tanah yang dianggap homogeny dan
kontinyu
2. Longsoran yang terjadi menghasilkan bidang luncur berupa busur lingkaran
3. Menggunakan diagram tinggi air tanah pada lereng.
Berdasarkan asumsi tersebut yang dianggap sama dengan keadaan lapangan yang berada pada
daerah penambangan, PT.Melanesia Limestone menggunakan circular failure chart nomor 3
dalam menghitung kemantapan lereng.
Berdasarkan hasil perhitungan PT. Melanesia Limestone menggunakan kemiringan
lereng sebesar 600 dengan faktor keamanan 1.05 > 1 dimana lereng dalam keadaan mantap
untuk pembuatan jenjang.
3.3.4

Kemampuan Berpindah
Kemampuan suatu alat mekanis untuk berpindah dipengaruhi oleh beberapa fakor

seperti berikut :
A. Rimpull (RP)
Rimpull adalah besarnya kekuatan tarik yang dapat diberikan oleh mesin suatu alat
Kepada permukaan roda penggeraknya yang menyentuh permukaan jalan.
Tabel 3.1 Nilai Rimpul
Gear
1
2
3
4
5

Speed (mph)
3.25
7.10
12.48
21.54
33.86

RP (lb)
13.730
6.285
3.576
2.027
1.319

Rimpull dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

375 x HP x Efficiency
Speed (mph)
B. Tahanan Gali/ Digging Resistance (DR)
RP=

Tahanan gali merupakan tahanan yang dialami oleh alat gali saat melakukan
penggalian tanah. Tahanan gali desebabkan oleh :
1. Gesekan antara alat gali dengan tanah
2. Kekerasan tanah
3. Kekerasan dan ukuran butiran tanah
4. Adhesi antara tanah dan alat gali, kohesi antara butiran-butiran tanah itu sendiri
5. Berat jenis tanah

14

C. Tahanan Gulir/ Rolling Resistance (RR)


Tahanan gulir adalah sejumlah gaya-gaya luar yang berlawanan dengan arah gerak
kendaraan yang berjalan diatas jalur jalan/ permukaan tanah. Tahanan guling
tergantung pada :
1. Keadaan jalan
2. Keadaan bagian kendaraan yang berhubungan dengan permukaan jalur jalan
D. Tahanan Kemiringan/ Grade Resistance (GR)
Tahanan kemiringan yaitu gaya berat yang melawan atau membant gerak kendaraan
karena kemiringan jalan yang dilaluainya.Tanah kemiringan tergantung pada :
1. Besarnya kemiringan jalur jalan (100%)
2. Berat kendaraan (ton)
E. Percepatan/ Asseleration
Percepatan adala waktu ang diperlukan untuk mempercepat kendaraan dengan
memakai kelebihan RP yang tidak digunakan menggerakan kendaraan pada
keadaan jalur tertentu. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mempercepat
kendaraan tergantung pada :
1. Berat Kendaraan
2. Kelebihan RP
3.3.5

Perkerasan
Perkerasan jalan adalah campuran antara agregat dan bahan ikat yangdigunakan untuk

melayani beban lalu lintas. Agregat yang biasanya dipakai dalamperkerasan jalan adalah batu
pecah, batu belah, batu kali dan hasil sampingpeleburan baja. Sedangkan bahan ikat yang
dipakai antara lain semen, aspal dantanah liat.
Lapisan

pekerasan

jalan

berfungsi

untuk

menerima

beban

lalulintas

dan

menyebarkannya ke lapsan dibawahnya terus ketanah dasar. Berikut adalah lapisam-lapisan


pembentuk perkerasan jalan beserta dengan fungsinya :
1. Lapisan Permukaan (Surface Course)
Lapisan permukaan terletak paling atas pada suatu jalan raya. Lapisan yang biasanya kita
pijak, atau lapisan yang bersentuhan langsung dengan ban kendaraan. Lapisan ini berfungsi
sebagai penahan beban roda. Lapisan ini memiliki stabilitas yang tinggi, kedap air untuk
melindungi lapisan dibawahnya sehingga air mengalir ke saluran di samping jalan, tahan
terhadap keausan akibat gesekan rem kendaraan, dan diperuntukkan untuk meneruskan
beban kendaraan ke lapisan dibawahnya.
2. Lapisan Pondasi Atas (Base Course)
Lapisan ini terletak dilapisan dibawah lapisan permukaan. Lapisan ini terutama berfungsi
untuk menahan gaya lintang akibat beban roda dan menerus beban ke lapisan dibawahnya,
sebagai bantalan untuk lapisan permukaan dan lapisan peresapan untuk lapisan pondasi

16

bawah. Material yang digunakan untuk lapisan ini diharus material dengan kualitas yang
tinggi sehingga kuat menahan beban yang direncanakan.
3. Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)
Lapisan ini berada dibawah lapisan pondasi atas dan diatas lapisan tanah dasar. Lapisan ini
berfungsi untuk menyebarkan beban dari lapisan pondasi bawah ke lapisan tanah dasar,
untuk menghemat penggunaan material yang digunakan pada lapisan pondasi atas, karena
biasanya menggunakan material yang lebih murah. Selain itu lapisan pondasi bawah juga
berfungsi untuk mencegah partikel halus nah masuk kedalam material perkerasan jalan dan
melindungi air agar tidak masuk kelapisan dibawahnya.
4. Lapisan Tanah dasar (Subgrade)
Lapisan tanah dasar adalah bagian terbawah dari perkerasan jalan raya. Apabila kondisi
tanah pada lokasi pembangunan jalan mempunyai spesifikasi yang direncanakan makan
tanah tersebut akan langsung dipadatkan dan digunakan. Tebalnya berkisar antara 50 100
cm. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat perletakan jalan raya.
Bahan yang hendak dipakai untuk perkerasan jalan pada PT. Melanesia Limestone adalah
material berukuran kecil dari batugamping.
3.3.6

Penirisan Tambang
Sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang diterapkan pada daerah

penambangan untuk mencegah, mengeringkan, atau mengeluarkan air yang masuk ke daerah
penambangan. Upaya ini dimaksudkan untuk mencegah terganggunya aktivitas penambangan
akibat adanya air dalam jumlah yang berlebihan, terutama pada musim hujan. Selain itu, sistem
penyaliran tambang ini juga dimaksudkan untuk memperlambat kerusakan alat serta
mempertahankan kondisi kerja yang aman, sehingga alat-alat mekanis yang digunakan pada
daerah tersebut mempunyai umur yang lama.
Secara garis besar, sistem penyaliran dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu sistem
penyaliran langsung/ konvesional dan system penyaliran tak langsung/ inkonvesional)#.
A. Sistem Penyaliran Langsung (Konvesioanal)
Adalah sistem penyaliran dengan cara mengeluarkan (memompa) air yang sudah masuk
kedalam tambang. Sistem ini terbagi kedalam dua bagian, yaitu :
1. Penyaliran Dengan Tunnel atau Adit
Cara penyaliran ini biasa diterapkan pada tambang yang terletak di daerah pegunungan
atau berbentuk bukit. Air yang masuk kedalam tambang dikeluarkan dengan cara mengalirkan
air dari dasar tambang melalui terowongan keluar tambang.

18

Gambar 3.2 Sketsa Penyaliran Dengan Terowongan


2. Penyaliran Dengan Sumuran
Cara penyaliran ini sangat umum diterapkan ditambang terbuka. Air yang masuk
kedalam tambang dikumpulkan kesuatu sumuran yang biasa dibuat didasar tambang dan dari
sumuran tersebut air dipompa keluar melalui tambang.
B. Sistem Penyaliran Tidak Langsung (Inkonvesional)
Adalah sistem penyaliran dengan cara mencegah masuknya air kedalam tambang.
Adapun cara yang dapat dilakukan pada preventive drainage system ini adalah dengan membuat
beberapa lubang bor dibagian luar daerah penambangan atau di jenjang-jenjang, kemudian dari
lubang-lubang tersebut air dpompa keluar tambang. Penyaliran tak langsung ini dapat dilakukan
dengan beberapa cara, antara lain :
1. Siemens Methods
Kedalam lubang bor dimasukan casing yang bertjuan agar air mudah masuk kedalam
pipa. Kerugian cara ini adalah banyak pipa yang digunakan dan kedalaman lubang bor harus
melebihi tinggi bench. Jadi biaya akan lebih besar karena disamping biaya pipa juga ada biaya
pemboran.

Gambar 3.3 Siemens Methods


2. Small Pipe With Vacuum Pump
Cara ini diterapkan pada lapisan batuan yang inpermiabel (jumlah air sedikit) dengan
membuat lubang bor. Dalam metode ini dibuat lubang bor dibuat dengan diameter 6 8 inch,
lubang tidak diberi casing, tetapi dimasukan dengan pipa berdiameter 2 2.5 inch. Pasir

20

dimasukan sebagai saringan sehingga yang masuk adalah material yang larut dalam air. Melalui
smallpipe ini lubang bor dibuat vakum dengan menggunakan pompa.

Gambar 3.4 Small Pipe With Vacuum Pump


3. Deep Well Pump Method
Metode ini digunakan untuk material yang mempunyai permeabilitas rendah dan
jenjang tinggi. Lubang bor dibuat dengandiameter 6 inch, kemudian dipasang casing. Pompa
dimasukan ke dalam lubang bor (submercible pump) yang digerakan dengan lsitrik. Pompa ini
ada yang otomatis, jika tercelup kedalam air, maka mesin pompa akan hidup sendirinya.

Gambar 3.5 Deep Well Pump Method


4. Electro Osmosis Method
Merupakan cara terbaru dan biasanya digunakan pada daerah yang mempunyai
permeabilitas sangat kecil. Lubang bor dibuat dengan diamaeter 3 5 inch dan 1 3 inch,
kemudian masukan casing pipe. Prinsip yang digunakan adalah prinsip elektrolista. H + akan
mengalir menuju katoda sehingga terjadi netralisasi H + dengan OH- dan membentuk H2O (air).
Kemudian air yang telah terkumpul ini akan dipompa keluar dimana sebelumnya tidak terdapa
air.

22

Gambar 3.6 Electro Osmosis Method


PT. Melanesia Limestone akan menggunakan sistem penyaliran dengan sumuran
dimana air yang masuk kedalam tambang dikumpulkan kesuatu sumuran yang biasa dibuat
didasar tambang dan dari sumuran tersebut air dipompa keluar melalui tambang.

3.4

Aspek Produksi

3.4.1

Jumlah Cadangan Batu Gamping


Cadangan (reserve) merupakan sebagian dari sumber daya (resource) yang memenuhi

persyaratan minimum (secara fisik maupun kimiawi) yang relevan dengan praktek
penambangan dan ekstrasi (ketebalan, kadar/ kualitas dan kedalaman), dimana dapat memenuhi
persyaratan hukum ekonomis yang dibutuhkan saat perhitungan dilakukan (sehingga bersifat
mekanis).
Metode perhitungan cadangan yang digunakan PT. Melanesia Limestone dalam
menghitung besarnja jumlah cadangan batugamping adalah metode penampang (cross section)
dengan menggunakan rumus mean area. Rumus ini digunakan dalam perhitungan luas rata-rata
dan dipakai untuk endapan yang mempunyai penampang uniform. Rumus mean area adalah
sebagai berikut :

V =L

(S 1+ S 2)
2

Dimana :
S1

: luas penampang 1 (m2)

S2

: luas penampang 2 (m2)

: jarak antar penampang (m)

24

: volume cadangan (m3)


Berdasarkan hasil perhitungan, maka besar cadangan batugamping PT. Melanesia

Limestone adalah sebesar 15.092.048,888 ton, yang tersebar disemua area penambangan dan
terletak dibawah lapisan penutup (overburden).
3.4.2

Faktor Kehilangan dan Pengotor


Faktor kehilangan dan pengotor yang PT. Melanesia Limestone perkirakan ketika waktu

memuat sebesar 1%, waktu pengangkutan sebesar 1%, dan waktu pengupasan overburden (OB)
sebesar 2%, serta kemungkinan cadangan yang tidak akan tertambang sebesar 30%, jadi total
kehilangan dan pengotor sebesar 34%.
Sehingga besarnya cadangan yang hilang

adalah (15.092.048,888 x 34%) =

5.131.296,622 ton batugamping.

3.4.3

Cadangan Tertambang
Berdasarkan hasil perhitungan cadangan, maka didapat besarnya cadangan batugamping

yang tertambang adalah sebesar 9.969.752,266 ton, dengan target produksi batugamping sebesar
464.587 ton/jam.
3.4.5

Umur Penambangan
Dari hasil perhitungan, umur tambang dapat diperoleh dari jumlah cadangan

batugamping tertambang sebesar 9.969.752,266 ton dibagi dengan target produksi untuk
perjamnya adalah 464.587 ton/jam atau 3716.699 ton/hari, maka :

tonage
Umur tambang = produksi

9.969.752,266 ton
464.587 ton / jam

= 21.459 jam

1 tahun
2.144 jam
Umur tambang = 21.459 jam x

= 10 tahun.

26

Jadi umur tambang diperkirakan 10 tahun.


3.4.6

Waktu Kerja
Waktu kerja efektif adalah waktu dimana suatu kegiatan penambangan sedang

berlangsung. Dalam penambangan batugamping ini dalam sehari dibagi menjadi II waktu kerja,
secara lebih rinci dapat dilihat pada (tabel 3.3) dibawah ini :
Tabel 3.3 Jam Kerja Efektif dalam sehari PT. Melanesia Limestone
No
Waktu (Jam)
Jam Kerja Efektif (jam)
Keterangan
08.00 -12.00

Waktu Kerja I

Istirahat

Waktu Kerja II

1
2
12.00-13.00
3
13.00-17.00
Total

3.4.7

Waktu Tersedia Perbulan


Berdasarkan data hari hujan per bulan dan hari libur pada tahun 2015 maka waktu yang

tersedia tiap bulan untuk kegiatan penambangan batugamping adalah :


Tabel 3.4 Jam Kerja Efektif Dalam Satu Tahun PT. Melanesia Limestone
Bulan

Hari/

Hari Libur

Hari Hujan

Hari Hujan Pada

Hari kerja

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

Bulan
31
28
31
30
31
30
31
31
30
31
30
31
365

6
6
6
5
8
5
9
6
5
5
5
6
72

22
15
14
10
10
10
16
10
18
14
14
20
173

Hari Kerja
3
2
1
2
3
2
2
1
3
2
1
3
25

Efektif
22
20
24
23
20
23
20
24
22
24
24
22
268

28

Waktu kerja efektif = 365 hari 97 hari = 268 hari kerja. Atau 268 hari x 8 jam kerja =
2.144 jam kerja efektif dalam satu tahun. Jika penambangan dilakukan diperkirakan selama 10
tahun maka : 2.144 jam/tahun x 10 = 21.440 jam dalam 10 tahun.
3.4.8

Produksi Alat Berat

A.

Bulldozer
Produksi bulldozer digunakan pada PT. Melanesia Limestone untuk mendorong tanah

dengan gerakan-gerakan yang teratur, misalnya pada penggupasan tanah bucuk, penggalian
selokan, pembuatan jalan raya, penimbunan kembali dan penumpukan atau penimbunan.
Produksi bulldozer dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Q=

q x 60 x E
Ct

Dimana:
Q

: produksi bulldozer (m3/jam)

: produksi persiklus

: efisiensi alat

Ct

: cycle time (menit)

Berdasarkan hasil perhitungan produksi bulldozer adalah 6490.8 m2/jam.


Tabel 3.5 Efisiensi Kerja Bulldozer
Kondisi Alat
Baik Sekali
Baik
Normal
Buruk
Buruk Sekali
B.

Efisiensi Kerja
0.83
0.78
0.72
0.63
0.52

Motor Grader
Produksi motor grader digunakan pada PT. Melanesia Limestone untuk meratakan tanah

guan pembuatan jalan tambang dan pemeliharaanya. Produksi motor grader dapat dihitung
secara matematis dengan menggunakan rumus :
Q = V x (Le x Lo) x 1000 x E
Dimana:
Q

: produksi operasi area perjam (m2/jam)

: kecepatan kerja (km/jam)

Le

: blade leght evectife (m)

Lo

: width of overlap (m3)

: efisiensi alat

30

Berdasarkan hasil perhitungan produksi motor grader adalah 5630.7 m 2/jam.


C.

Backhoe
Produksi backhoe dapat dihitung secara matematis dengan menggunakan rumus seperti

dibawah ini :

P=

ExIx H
Ct

Dimana:
P

: produksi bachoe (m3/jam)

: efisiensi alat (%)

: swell factor (%)

: kapasitas bucket (m3)

Ct

:cycle time (menit)

Tabel 3.6 Efisiensi Kerja Bachoe


Kondisi Alat
Baik
Normal
Kurang Baik
Buruk

Efisiensi Kerja
0.83
0.75
0.67
0.58

Berdasarkan hasil perhitungan produksi backhoe adalah 617.76 ton/jam atau 4942.08
ton/hari.
D.

Dump Truck
Produksi dumptruck dapat dihitung secara matematis dengan menggunakan rumus

seperti dibawah ini :

P=

ExIx H
Ct

Dimana:
P

: produksi dumptruck (m3/jam)

: Efisiensi alat

: swell factor (%)

: kapasitas bucket (m3)

Ct

: cycle time (menit)

32

Berdasarkan hasil perhitungan produksi dump truck adalah 77.064 ton/jam sehingga
digunakan 8 unit dump truck untuk memenuhi target produksi perjam atau perharinya.
3.5

Aspek Penambangan

3.5.1

Urutan Daerah Penambangan


Dalam kegiatan penambangan penentuan urutan penambangan dilakukan dengan

mempertimbangkan segala jenis aspek yang berpengaruh pada jalannya kegiatan penambangan
selanjutnya pertimbangan ini didasarkan pada koefisien dan keefektifan dari kegiatan tersebut.
Penentuan daerah yang akan dikerjakan terlebih dahulu harus mempertimbangkan pekerjaanpekerjaan yang akan dilakukan selanjutnya.
Pada PT. Melanesia Limestone urutan daerah penambangan ditentukan dengan
mempertimbangkan kegiatan yang berhubungan dengan pengangkutan serta pembuangan
lapisan penutup, urutan daerah penambangan pada PT.Melanesia Limestone dimulai dari daerah
dengan ketinggian tertinggi hingga ketinggian terendah.
3.6

Metode Penambangan

3.6.1

Dasar Pemilihan Sistem Penambangan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode penambangan :


1. Karakteristik Spasial Endapan
a. Ukuran (tinggi dan tebal)
b. Bentuk (tabular, vesikuler, masif, reguler)
c. Altitude (inklinasi/dip)
d. Kedalaman (misbah pengupasan)
2. Kondisi Geologi Dan Hidrologi
a. Mineralogi dan petrologi
b. Komposisi kimia
c. Struktur endapan (lipatan, patahan, discontinunitas)
d. Bidang lemah (kekar, sesar, fracture, cleat)
e. Keseragaman, alterasi, erosi
f.

Air tanah dan hidrologi

3. Sifat-Sifat Geoteknik
a. Sifat elastis dan perilaku plastis
b. Keadaan tegangan

34

c. Konsulidasi, kompaksi
d. Sifat fisik lainnya (permaebilitas)
4. Konsiderasi Ekonomi Yang Perlu Ditinjau
a. Cadangan (tonage dan kadar)
b. Produksi
c. Umur tambang
d. Produktivitas
e. Ongkos penambangan
5. Faktor Teknologi
a. Mining recovery
b. Delusi
c. Konfleksibilitas metode
d. Selektivitas metode
e. Dispersi pekerjaan
f.

Modal, pekerja, intensitas mekanisasi

g. Faktor lingkungan
6.

Faktor Lingkungan
a. Controlisasi bawah tanah
b. Subsidence
c. Kontrol atmosfer
d. Kekuatan kerja

3.6.2.

Design Penambangan
Dengan melihat topografi daerah penambangan PT. Melanesia Limestone dan jenis

bahan galian yang ditambang berupa batugamping dimana bahan galian ini menurut UU No.4
tahun 2009 digolongkan kedalam bahan galian batuan, maka sistem penambangan yang
digunakan atau diterapkan pada PT.Melanesia Limestone adalah tambang terbuka dalam hal ini
digunakan metode Quarry tipe sisi bukit (side hill type) dan tipe pit.
Dimana tipe sisi bukit ini penerapannya pertama kali dilakukan mulai dari ketinggian
120 meter diatas permukaan laut sampai pada ketinggian 45 meter diatas permukaan laut.
Sedangkan tipe pit digunakan untuk menambang batu gamping pada ketinggian 45 meter
sampai 0 meter diatas permukaan laut.

36

3.6.3.

Tahap Kegiatan Penambangan

1.

Clearing (pembersihan lahan)


Dalam pembabatan atau clearing tanah, bongkahan batu, pepohonan, kami memilih

Bulldozer sebagai alat bantu makanis yang tepat. Alasan atau dasar dari pemilihan Bulldozer
sebagai alat untuk clearing karena vegetasi di daerah penambangan berupa hutan tropis yang
heterogen, alang-alang dan semak belukar, pada kegiatan ini PT.Melanesia Limestone
menggunakan Bulldozer merek Caterpillar tipe 825H.
2.

Stripping (pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup/ overburden)


Setelah tahap pembersihan lahan selesai maka kegiatan selanjutnya adalah kegiatan

pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup. Pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup
dimaksudkan untuk membuang tanah pucuk dan tanah penutup agar endapan bahan galiannya
terkupas dan mudah untuk ditambang. Cara atau metode pengupasan tanah pucuk yaitu, dengan
metode jenjang. Pada pengupasan tanah dengan sistem jenjang ini pada waktu mengupas tanah
penutup sekaligus sambil membuat jenjang.
Dalam pengupasan tanah penutup alat mekanis yang digunakan adalah Backhoe merek
Caterpillar tipe 336 D sebagai alat gali sekaligus alat muat.
3.

Mining (penambangan)
Kegiatan penambangan batugamping terbagi atas tiga kegiatan, yaitu pembongkaran,

pemuatan dan pengangkutan. Adapun rincian dari ketiga kegiatan tersebut adalah:
a.

Pembongkaran
Pembongkaran merupakan kegiatan untuk memisahkan antara endapan bahan galian

dengan batuan induk yang dilakukan setelah pengupasan lapisan tanah penutup endapan
batugamping tersebut selesai. Pembongkaran dapat dilakukan dengan menggunakan peledakan,
peralatan mekanis maupun peralatan non mekanis.
Untuk kegiatan pembongkaran batugamping menggunakan peralatan mekanis yaitu
backhoe, setelah batuan terangkat ke permukaan kemudian batugamping digusur menggunakan
alat Bulldozer, yang kemudian dikumpulkan di tepi batas penambangan atau tepi jalan tambang
tiap blok.
b.

Pemuatan
Pemuatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan atau mengisikan material

atau endapan bahan galian hasil pembongkaran ke dalam alat angkut. Kegiatan pemuatan
dilakukan setelah kegiatan penggusuran, pemuatan dilakukan dengan menggunakan alat muat
back hoe dan diisikan ke dalam alat angkut.
Kegiatan pemuatan bertujuan untuk memindahkan batugamping hasil pembongkaran
kedalam alat angkut. Pengangkutan dilakukan dengan sistem siklus, artinya truck yang telah

38

dimuati langsung berangkat tanpa harus menunggu truck yang lain dan setelah membongkar
muatan langsung kembali ke lokasi penambangan untuk dimuati kembali
c.

Pengangkutan
Pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengangkut atau membawa

material atau endapan bahan galian dari front penambangan dibawa ke stockfile maupun ke
tempat pengolahan untuk proses lebih lanjut.
Kegiatan pengangkutan menggunakan Dumptruck yang kemudian dibawa ke tempat
penampungan batugamping (stockfile) , jumlah truk yang akan digunakan tergantung dari
banyaknya material batugamping hasil pembongkaran yang akan diangkut.
Dalam kegitan penambangan ini PT. Melanesia Limestone menggunakan Backhoe

merek Caterpillar tipe 336D sebagai alat gali/pembongkaran serta alat muat, Dumptruck
Mitsubishi Fuso tipe 527 MS sebagai alat pengankutan dan Motor Grader merek
Caterpillar tipe 120H sebagai alat pemeliharaan jalan tambang.
BAB IV
PERENCANAAN TEKNIS PENAMBANGAN

4.1

PERENCANAAN PENAMBANGAN BULANAN


Perencanaan yang dapat dilakukan PT. Melanesia Limestone untuk

penambangan

batugamping setiap bulannya sebesar :


Tabel 4.1 Produksi Bulanan PT. Melanesia Limestone
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

Hari Kerja
22
20
24
23
20
23
20
24
22
24
24
22
268

Produksi Per Bulan (ton/bulan)


81.841,320
74.401,200
89.281,440
85.561,380
74.401,200
85.561,380
74.401,140
89.281,440
81.841,320
89.281,440
89.281,440
81.841,320
996.976,080 ton/tahun

40

4.2

PERENCANAAN PERALATAN

4.4.1

RENCANA PENGGUNAAN ALAT GALI


Perencanaan penggunaan alat mekanis yang di gunakan dalam kegiatan penggalian

adalah backhoe 1 buah dengan merek Caterpilar 336 D L dengan kapasitas bucket 2 m3 yang
masih baru.
4.4.2

RENCANA PENGGUNAAN ALAT MUAT


Perencanaan penggunaan alat mekanis yang digunakan dalam kegiatan pemuatan adalah

backhoe 1 buah dengan merek Caterpilar 336 D L dengan kapasitas bucket 2 m3 yang masih
baru. Jadi dapat disimpulkan bahwa perusahaan menggunakan backhoe 1 unit dengan merek
Caterpilar 336 D L dengan kapasitas bucket 2 m3 yang masih baru sebagai alat gali sekaligus
alat muat.

4.4.3

RENCANA PENGGUNAAN ALAT ANGKUT


Perencanaan penggunaan alat mekanis yang digunakan dalam kegiatan pengangkutan

adalah truck merek Caterpilar artikulasi 745 C dengan kapasitas muatan 26 m3 sebanyak 5
buah truck sehingga mencapai target produksi perharinya sebesar 4.492 ton/hari.

4.4.4

RENCANAPENGGUNAAN ALAT GUSUR


Perencanaan penggunaan alat mekanis yang digunakan dalam kegiatan land clearing

(pembersihan lahan) seperti : pembabatan, pembersihan tanah, bongkahan batu dan pepohonan
adalah bulldozer sebanyak 1 unit dengan merek Caterpilar 825H Soil Compactor tipe UBlade.

4.4.5

RENCANA PENGGUNAAN ALAT UNTUK PEMELIHARAAN JALAN


Perencanaan penggunaan alat mekanis yang digunakan dalam kegiatan pemeliharaan

jalan adalah motor grader 1 unit dengan merek Caterpilar 120 H yang masih baru, alat ini akan
digunakan pada saat jalan rusak karena dipengaruhi oleh hujan serta kendaraan seperti truck
yang mengangkut muatan dan juga keadaan tanah setempat.

4.3

JENJANG

42

Elemen-elemen suatu jenjang terdiri dari tinggi, lebar dan kemiringan


yang penentuan dimensinya dipengaruhi oleh:
Alat-alat

1.

berat

yang

dipakai

(terutama alat gali dan angkut)


Kondisi geologi
Sifat fisik batuan
Selektifitas
pemisahan

2.
3.
4.
5.
6.

yang

diharapkan antara bijih dan buangan


Laju produksi
Iklim
Tinggi jenjang adalah jarak vertikal diantara level horisontal pada pit,

lebar jenjang adalah jarak horisontal lantai tempat di mana seluruh aktifitas
penggalian,

pemuatan

dan

pengeboran-peledakan

dilaksanakan

dan

kemiringan jenjang adalah sudut lereng jenjang.


4.3.1

KESTABILAN LERENG
Dalam menganalisi kemantapan lereng PT. Melanesia Limestone menggunakan metode

Hoek dan Bray karena dengan metode ini dapat menganalisis longsoran busur yang
kemungkinan dapat terjadi pada daerah penambangan PT. Melanesia Limeston. Untuk
keperluan praktis Hoek dan Bray telah menuangkan cara perhitungan yang dapat dipertanggung
jawabkan dengan asumsi yang digunakan :
1. Jenis tanah yang digunakan dalam hal ini adalah tanah yang dianggap homogeny dan
kontinyu
2. Longsoran yang terjadi menghasilkan bidang luncur berupa busur lingkaran
3. Menggunakan diagram tinggi air tanah pada lereng.
Berdasarkan asumsi tersebut yang dianggap sama dengan keadaan lapangan yang berada pada
daerah penambangan, PT.Melanesia Limestone menggunakan circular failure chart nomor 3
dalam menghitung kemantapan lereng.
Berdasarkan hasil perhitungan PT. Melanesia Limestone menggunakan kemiringan
lereng sebesar 600 dengan faktor keamanan 1.05 > 1 dimana lereng dalam keadaan mantap
untuk pembuatan jenjang.

4.3.2

DIMENSI JENJANG
Jenjang didefinisikan sebagai undakan diantara level tunggal dimana bahan galian dan

pengotornya ditambang pada muka jenjang, jenjang yang terbentuk saat proses penambangan
masih berjalan, bersifat temporer dimana saat proses penambangan berikut kemingkinan akan
terpotong lagi oleh aktivitas penambangan itu.

44

Dimensi jenjang juga sangat tergantung pada produksi yang diinginkan dan alat-alat
yang digunakan. Dimensi jenjang harus mampu menjamin kelancaran aktivitas alat mekanis dan
faktor keamanan. Dimensi jenjang ini meliputi tinggi, lebar, dan panjang jenjang.
Jenjang yang dibuat pada lokasi penambangan PT.Melanesia Limestone adalah jenjang
sebagai medan kerja dan sekaligus menahan longsoran dari lereng bekas penambangan dimana
lebar Jenjang adalah 10 m, tinggi jenjang adalah 10 m dengan kemiringan sebesar 600.

Gambar 4.1 Dimensi Jenjang

4.4

JALAN TAMBANG

4.4.1

LEBAR JALAN TAMBANG

4.4.1.1 LEBAR JALAN LURUS


Lebar jalan angkut pada jalan tambang biasanya dibuat untuk jallur ganda dengan
lalulintas satu arah atau dua arah. Dalam kenyataannya, semakin lebar jalan angkut maka akan
semakin baik dan lalu lintas pengangkutan akan semakin aman dan lancar. Akan tetapi semakin
lebar jalan angkut, biaya yang dibutuhkan untuk prmbuatan dan perawatan juga semakin besar.
Untuk itu perlu dilakukan kuduanya agar keduanya bisa optimal.
Lebar jalan angkut minimum yang dipakai sebagai jalur dapat dilihat pada gambar 4.2
berikut ini :

46

Gambar 4.2 Lebar Jalan Lurus

Sedangkan lebar jalan lurus dapat dihitung menggunakan persamaan dibawah


ini :
Lmin

= ( n x Wt) + ( n + 1 ) x ( x Wt )

Dimana :
Lmin

= lebar jalan angkut minimum (m)

= jumlah lajur

Wt

= lebar alat angkut (m)

Jadi lebar jalan angkut pada jalan lurus PT. Melanesia Limestone adalah :
Lmin

= ( n x Wt) + ( n + 1 ) x ( x Wt )
= (2 x 4.2m) + ((2+1) ( x 4.2m))
= 8.4 m + (3 + 2.1m)
= 8.4m + 5.1m
= 13.5 m

4.4.1.2 LEBAR JALAN PADA TIKUNGAN


Lebar jalan angkut pada tikungan selalu dibuat lebih besar daripada jalan lurus. Hal ini
dimaksudkan untuk mengantisipasi danya penyimpangan lebar alat angkut yang disebabkan
oleh sudut yang dibentuk oleh roda depan dengan badan truck saat melintasi tikungan (lihat
gambar 4.3). Untuk jalur ganda, lebar jalan minimum pada tikungan dapat dihitung dengan
mendasarkan :
a. Lebar jejak roda
b. Lebar juntai (overhang) alat angkut bagian depan dan bagian belakang pada saat
membelok

48

c. Jarak antara alat angkut saat bersimpangan


d. Jarak alat angkut terhadap tepi jalan

Gambar 4.3 Lebar Jalan Tikungan


Sedangkan lebar jalan tikungan dapat dihitung menggunakan persamaan
dibawah ini :
Wmin = C ( U + Fa + Fb + Z )
Dimana :
Wmin = lebar jalan angkut minimum pada belokan, m
U

= lebar jejak roda (m)

Fa

= lebar juntai depan (m)

Fb

= lebar juntai belakang (m)

= lebar bagian tepi jalan (m)

= jarak antar kendaraan (m)

Jadi lebar jalan angkut pada belokan adalah :


Wmin = 2 (3.43m + 0.843m + 1.479m + 2.876m) + 2.876m
= 2 (11.504m)
= 23 m

4.4.2 KEMIRINGAN JALAN TAMBANG


4.4.2.1 KEMIRINGAN JALAN LURUS
Kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut dalam
pengereman atau mengatasi tanjakan/ biasanya kemiringan jalan dinyatakan dalam (%) persen,
kemiringan jalan angkut dapat dihitung dengan rumus :

50

Grade ( ) =

Beda Tinggi
x 10
Jarak

Kemiringan jalan angkut maksimum yang dapat dilalui dengan dump truck berkisar
10% - 15%. Kemiringan jalan tambang pada PT. Melanesia Limestone adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kemiringan jalan lurus untuk jalur A B sebesar 11.6%


Kemiringan jalan lurus untuk jalur B C sebesar 6.1%
Kemiringan jalan lurus untuk jalur C D sebesar 8.3%
Kemiringan jalan lurus untuk jalur D E sebesar 0%
Kemiringan jalan lurus untuk jalur E F sebesar 0%
Kemiringan jalan lurus untuk jalur F G sebesar 7.4%
Kemiringan jalan lurus untuk jalur G H sebesar 0%
Kemiringan jalan lurus untuk jalur H I sebesar 0%
Kemiringan jalan lurus untuk jalur I J sebesar 12.5%

4.4.2.2 KEMIRINGAN JALAN PADA TIKUNGAN


Kemiringan jalan tikungan pada PT. Melanesia Limestone adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
4.5

Kemiringan jalan tikungan untuk jalur B C sebesar 7.1%


Kemiringan jalan tikungan untuk jalur D E sebesar 0%
Kemiringan jalan tikungan untuk jalur E F sebesar 0%
Kemiringan jalan tikungan untuk jalur F G sebesar 9.8%
Kemiringan jalan tikungan untuk jalur G H sebesar 0%
Kemiringan jalan lurus untuk jalur H I sebesar 0%
Kemiringan jalan lurus untuk jalur I J sebesar 9.5%
PENAMBANGAN

4.5.1

PEMBERSIHAN LAHAN
Sebelum kegiatan penambangan dimulai terlebih dahulu dilakukan kegiatan

penggusuran atau pembersihan semak belukar dilokasi/ area yang akan ditambang, kegiatan
penggusuran direncanakan dilakukan dengan menggunakan alat mekanis yaitu

Buldozer

dengan cara medorong pepohonan maupun semak bagian atas bukit ke lembah yang akan
direncanakan. Alat ini juga digunakan untuk merintis jalan masuk ke lokasi penambangan guna
kelancaran pekerjaan selanjutnya
4.5.2

PENANGANAN TANAH PUCUK DAN OVERBURDEN

Lapisan penutup dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu :


1.
2.

Lapisan tanah atas/tanah puncuk (Top Soil)


Lapisan tanah penutup (Overburden)
Lapisan ini terdiri dari : lempung biasa, lempung karbonat dan lempung. Pengupasan

lapisan ini dilakukan dengan menggunakan alat mekanis seperti backhoe, bulldozer dan alat
angkut menggunakan truck.
4.5.3

PENGGALIAN

52

Batuan yang akan ditambang dibongkar /digali dengan menggunakan alat bongkar/gali
seperti bulldozer, dimana rencana pengupasan tanah penutup dan penggalian batugamping
direncanakan berdasarkan umur tambang. operasi penggalian dibuat berdasarkan pada rencana
produksi dan kemampuan alat yang ada. Alat gali yang dapat dipakai adalah backhoe sebagai
alat gali sekaligus alat muat batugamping keatas alat angkut truck.
4.5.4

PEMUATAN

Alat muat yang dipakai pada setiap permkaan kerja antara lain sebagai berikut:
1.

Bulldozer

2.

Backhoe
Jumlah alat muat untuk masing-masing permukaan kerja, hal ini tergantung keadaan

medan kerja, sasaran produksi yang diinginkan dan material yang dimuat, umumnya alat muat
yang digunakan adalah backhoe.
4.5.4

PENGANGKUTAN
Seluruh batugamping yang ditumpuk akan diangkut memakai truck, kemudian akan

dibawa ke tempat penampungan stockpile dan kemudian siap untuk dijual ke konsumen.

4.5.6

REKLAMASI
Reklamasi adalah kegiatan-kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan

lahan yang terganggu akibat kegiatan usaha pertambangan umum, agar dapat berfungsi dan
berdaya guna sesuai dengan peruntukanya. Usaha ini harus dilakukan setiap pengusaha
(pengusaha pertambangan) sesuai peraturan pemerintah yang berlaku.
Dalam pelaksanaannya ada beberapa kesulitan untuk reklamasi daerah bekas tambang
apabila tanpa perencanaan pengelolaan yang baik. Kesulitan tersebut antara lain :
1. Tidak dilakukannya pengamatan terhadap tanah humus sehingga dalam pelaksanaannya
banyak tanah humus yang terbuang.
2. Tidak dilakukannya dengan tuntas sehingga terdapat bekas daerah tambang yang
dibiarkan terbuka untuk beberapa lama karena ada sebagian tanah galian masih tersisa.
3. Kesulitan penentuan lokasi penimbunan tanah penutup.
Beberapa faktor penting yang saling mempengaruhi lingkungan dari kegiatan
pertambangan antara lain penerapan teknologi pertambangan. Kegiatan faktor ini saling
berpengaruh bukan hanya pada lingkungan diluar pertambangan dimana daya dukung menjadi
berkurang, akan tetapi kegiatan penambangan akan mengalami hambatan dalam kelancaran
operasinya.

54

Reklamasi didaerah bekas tambang dilakukan dengan cara pengambilan kembali tanah
penutup (top soil) ke bekas daerah penambangan kemudian dilakukan pemupukan tanah untuk
mengembalikan kestabilan dan kesuburan tanah. Sehingga dapat ditanami tanaman yang lebih
produktif bagi penduduk setempat, agar tata lingkungan tidak jauh berbeda dengan lingkungan
sebelumnya maka dipilih bibit mahoni sebagai tanaman reklamasi.
Adapun tahapan atau kegiatan yang akan dilakukan dalam reklamasi lahan
pertambangan PT.Melanesia Limestone ialah :
1.

Melakukan penimbunan lahan kemudian menempelkan lapisan tanah yang subur (top
soil) dilahan yang akan direklamasi, hal ini bertujuan untuk memberikan lapisa
penyubur sehingga memudahkan tanamah untuk tumbuh dan memberikan kekuatan
pentangga tanah karena lahan bekas tambang umumnya kurang unsure hara, memiliki

2.

porositas tinggi dan penyerapan air rendah.


Tahap persiapan lahan yaitu, dengan perataan lahan. Tahapan ini adalah kegiatan
meratakan sehingga nentinya memudahkan penimbunan top soil menguatkan porositas
dalam penyerapan air. Setelah tanah dipadatkan maka selanjutnya perlu dibuat saluran

3.

drainase untuk mengatur penyaliran.


Nydroseding adalah kegiatan penyebaran lahan reklamasi dengan bibit tanaman perintis
yang sebelumnya telah dicampur dengan fertilizer dan aditif lainnya. Penyebaran
dilakukan denga truck hydro siede. Nydroseding ini bertujuan untuk meningkatkan

4.

kualitas tanah sehingga tanaman akan mendapatkan lingkungan yang bail.


Tahap selanjutnya akan dilakukan penanaman dengan tanaman yang cocok dengan
daerah penambangan PT.Melanesia Limestone, yaitu tanaman Kaliandra Bunga Merah
(Caliandra colothrysus) tanaman ini dipilih karena Kaliandra merupakan jenis tanaman
yang dapat mudah tumbuh disemua jenis tanah asam, menempati area vegetasi yang
terganggu dan memiliki kemampuan bertunas yang tinggi. Selain itu tanaman ini juga
dapat dimanfaatkan sebagai energi bahan bakar, konservasi lahan marginal, hijauan
makanan ternak, penghasil madu, perbaikan tanah dan penghias jalan.

BAB V
PENUTUP

5. 1

Kesimpulan

56

Kesimpulan yang didapat dari praktikum dan pembuatan laporan simulasi Tambang
Terbuka ini adalah sebagai berikut :
1. Dari hasil perhitungan cadangan diperoleh jumlah cadangan batugamping sebesar
15.092.048,888 ton dan jumlah overburden sebesar 2.418,750 m3.
2. Batugamping yang akan ditambang secara tambang terbuka dengan menggunakan metode
Quarry tipe sisi bukit (side hill type) dengan jalan masuk langsung dimana penambangan
dimulai dari ketinggian 120m100m ditahun pertama, 100m90m ditahun kedua, 90m75m ditahun ketiga, 75m 65m ditahun keempat, 65m-55m ditahun keenam, 55m-45m
ditahun ketujuh, 45m-30m ditahun kedelapan, 30m-18m ditahun kesembilan dan 18m-0m
ditahun kesepuluh atau tahun terakhir penambangan.
3. Pembabatan semak belukar dan pembuatan jalan tambang yang ada pada daerah
penambangan dengan menggunakan bulldozer dan motor grader kemudian dilanjutkan
dengan pembongkaran dan pemuatan yang mana keduanya menggunakan alat mekanis
yaitu backhoe, pekerjaan selanjutnya adalah pengangkutan dengan menggunakan truck.
4. Direncanakan menggunakan backhoe Caterpillar 336 D L sebagai alat gali sekaligus
sebagai alat muat, bulldozer Caterpillar 825H Soil Compactor tipe U-Blade, sebagai alat
gali, truck Caterpillar Artikulasi 745 C digunakan sebagai alat angkut dan motor grader
Caterpillar 120 H sebagai alat perawatan jalan tambang.
5.

Reklamasi didaerah bekas tambang dilakukan dengan cara pengambilan kembali tanah
penutup (top soil) ke bekas daerah penambangan kemudian dilakukan pemupukan tanah
untuk mengembalikan kestabilan dan kesuburan tanah. Sehingga dapat ditanami tanaman
yang lebih produktif bagi penduduk setempat, agar tata lingkungan tidak jauh berbeda
dengan lingkungan sebelumnya maka dipilih bibit mahoni sebagai tanaman reklamasi.

5. 2.

Saran
Adapun saran setelah melakukan praktikum simulasi Tambang Terbuka ini adalah

sebagai berikut :
1. Pada saat kegiatan penambangan batugamping perlu dilakukan pengontrolan
sehingga dapat memberi batas-batas penambangan
2. Memperhatikan dampak pencemaran lingkungan di daerah sekitar penambangan
3. Dalam perencanaan Tambang Terbuka perlu pertimbangan dan perhitungan yang
benar-benar teliti dalam segala aspek yang mendukung dalam perencanaan
tambang terbuka, sehingga tidak terjadi kesalahan yang dapat berakibat vatal bagi
perusahaan

58

4. Diharapkan pada praktikum selanjutnya dapat melihat kesalahan pada praktikum


kali ini dan memperbaiki kesalahan serta kekurangannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pradjosumarto partanto, ir, 1993. pemindahan tanah mekanis. Institut Teknologi


Bandung

60

2. Arif Irwand, ir, 1993. pengantar teknologi mineral. Institut Teknologi Bandung
3. Machmud, Nawawi, Ir. Dkk. 1997. Tambang Terbuka. Universitas Sriwijaya
4. Prodjosumarto, Partanto. 1984. Pengantar Teknologi Mineral. ITB
5. Rizqon, Arif. Ir. 2004. Reklamasi Tambang. Diklat Perencanaan Tambang
Terbuka.UNISBA

62