Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

TB PARU

Disusun Oleh:
ARI SETIANA
J 200080012

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


KEPERAWATAN DIII
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2009

TB PARU

A. Definisi
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang
disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan pembentukan
granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium tuberculosis merupakan
kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya
yang bertekanan parsial tinggi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru
tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal,
tulang, nodus limfe. Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan.
Individu kemudian dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau
ketidakefektifan respon imun.
B. Etiologi
TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan
batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitive terhadap panas dan
sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M.
Bovis dan M. Avium.
C. Tanda Dan Gejala
1. Tanda. Penurunan berat badanb. Anoreksiac. Dispneud. Sputum purulen/hijau,
mukoid/kuning.
2. Gejala. DemamBiasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat
dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya infeksi
kuman TBC yang masuk.b. BatukTerjadi karena adanya infeksi pada bronkus.
Sifat batuk dimulai dari batuk kering kemudian setelah timbul peradangan
menjadi batuk produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa
batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk
darah pada ulkus dinding bronkus.c.Sesak nafas.Sesak nafas akan ditemukan
pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian

paru.d. Nyeri dadaTimbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura


(menimbulkan pleuritis)e.MalaiseDapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu
makan, berat badan turun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.
D. Patofisiologi
Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan
yang aneh di dalam paru-paru meliputi : penyerbuan daerah terinfeksi oleh
makrofag, pembentukan dinding di sekitar lesi oleh jaringan fibrosa untuk
membentuk apa yang disebut dengan tuberkel. Banyaknya area fibrosis
menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan untuk ventilasi paru dan oleh
karena itu menurunkan kapasitas vital, berkurangnya luas total permukaan
membrane respirasi yang menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru secara
progresif, dan rasio ventilasi-perfusi yang abnormal di dalam paru-paru dapat
mengurangi oksigenasi darah.
E. Pemeriksaan Penunjang
Pembacaan hasil tuberkulin dilakukan setelah 48 72 jam; dengan hasil
positif bila terdapat indurasi diameter lebih dari 10 mm, meragukan bila 5-9 mm.
Uji tuberkulin bisa diulang setelah 1-2 minggu. Pada anak yang telah mendapt
BCG, diameter indurasi 15 mm ke atas baru dinyatakan positif, sedangkan pada
anak kontrak erat dengan penderita TBC aktif, diameter indurasi 5 mm harus
dinilai positif. Alergi disebabkan oleh keadaan infeksi berat, pemberian
immunosupreson, penyakit keganasan (leukemia), dapat pula oleh gizi buruk,
morbili, varicella dan penyakit infeksi lain.Gambaran radiologis yang dicurigai
TB adalah pembesaran kelenjar nilus, paratrakeal, dan mediastinum, atelektasis,
konsolidasi, efusipieura, kavitas dan gambaran milier. Bakteriologis, bahan biakan
kuman TB diambil dari bilasan lambung, namun memerlukan waktu cukup lama.
Serodiagnosis, beberapa diantaranya dengan cara ELISA (enzyime linked
immunoabserben assay) untuk mendeteksi antibody atau uji peroxidase anti
peroxidase (PAP) untuk menentukan Ig G spesifik. Teknik bromolekuler,
merupakan pemeriksaan sensitif dengan mendeteksi DNA spesifik yang dilakukan

dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Uji serodiagnosis maupun


biomolekular belum dapat membedakan TB aktif atau tidak. Tes tuberkulin
positif, mempunyai arti :1. Pernah mendapat infeksi basil tuberkulosis yang tidak
berkembang menjadi penyakit.2. Menderita tuberkulosis yang masih aktif3.
Menderita TBC yang sudah sembuh4. Pernah mendapatkan vaksinasi BCG5.
Adanya reaksi silang (cross reaction) karena infeksi mikobakterium atipik.
F. Epidemiologi Dan Penularan TBC
Dalam penularan infeksi Mycobacterium tuberculosis hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah :
1. Reservour, sumber dan penularanManusia adalah reservoar paling umum,
sekret saluran pernafasan dari orang dengan lesi aktif terbuka memindahkan
infeksi langsung melalui droplet.
2. Masa inkubasiYaitu sejak masuknya sampai timbulnya lesi primer umumnya
memerlukan waktu empat sampai enam minggu, interfal antara infeksi primer
dengan reinfeksi bisa beberapa tahun.
3. Masa dapat menularSelama yang bersangkutan mengeluarkan bacil Turbekel
terutama yang dibatukkan atau dibersinkan.
4. ImmunitasAnak dibawah tiga tahun paling rentan, karena sejak lahir sampai
satu bulan bayi diberi vaksinasi BCG yang meningkatkan tubuh terhadap
TBC.
G. Stadium TBC
1. Kelas 0Tidak ada jangkitan tuberkulosis, tidak terinfeksi (tidak ada riwayat
terpapar, reaksi terhadap tes kulit tuberkulin tidak bermakna).
2. Kelas 1Terpapar tuberkulosis, tidak ada bukti terinfeksi (riwayat pemaparan,
reaksi tes tuberkulosis tidak bermakna)
3. Kelas 2Ada infeksi tuberkulosis, tidak timbul penyakit (reaksi tes kulit
tuberkulin bermakna, pemeriksa bakteri negatif, tidak bukti klinik maupun
radiografik). Status kemoterapi (pencegahan) :

Tidak ada

Dalam pengobatan kemoterapi

Komplit (seri pengobatan dalam memakai resep dokter)

Tidak komplit4. Kelas 3Tuberkuosis saat ini sedang sakit (Mycobacterium


tuberculosis ada dalam biakan, selain itu reaksi kulit tuberkulin bermakna
dan atau bukti radiografik tentang adanya penyakit). Lokasi penyakit :
paru, pleura, limfatik, tulang dan/atau sendi, kemih kelamin, diseminata
(milier), menigeal, peritoneal dan lain-lain.Status bakteriologis : a. Positif
dengan :

Mikroskop saja

Biakan saja

Mikroskop dan biakanb. Negatif dengan :

Tidak dikerjakanStatus kemoterapi : Dalam pengobatan kemoterapi


sejak kemoterapi diakhiri, tidak lengkap reaksi tes kulit tuberkulin:
a. Bermakna
b. Tidak bermakna. Kelas 4Tuberkulosis saat ini tidak sedang
menderita penyakit (ada riwayat mendapat pengobatan
pencegahan tuberkulosis atau adanya temuan radiografik yang
stabil pada orang yang reaksi tes kulit tuberkulinya bermakna,
pemeriksaan bakteriologis, bila dilakukan negatif. Tidak ada
bukti klinik tentang adanya penyakit pada saat ini).Status
kemoterapi

:a.

Tidak

mendapat

kemoterapib.

Dalam

pengobatan kemoterapi
c. Komplitd.
mendapatkan

Tidak

komplit6.

tuberkulosis

Kelas

5Orang

(diagnosis

dicurigai

ditunda)Kasus

kemoterapi : a. Tidak ada kemoterapib. Sedang dalam


pengobatan kemoterapi.
H. Penanganan

a. Promotif1. Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC2. Pemberitahuan baik


melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara pencegahan,
faktor resiko3. Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.
b. Preventif1. Vaksinasi BCG2. Menggunakan isoniazid (INH)3. Membersihkan
lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.4. Bila ada gejala-gejala TBC
segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini.
c. Kuratif Pengobatan tuberkulosis terutama pada pemberian obat antimikroba
dalam jangka waktu yang lama. Obat-obat dapat juga digunakan untuk
mencegah timbulnya penyakit klinis pada seseorang yang sudah terjangkit
infeksi. Penderita tuberkulosis dengan gejala klinis harus mendapat minuman
dua obat untuk mencegah timbulnya strain yang resisten terhadap obat.
Kombinasi obat-obat pilihan adalah isoniazid (hidrazid asam isonikkotinat =
INH) dengan etambutol (EMB) atau rifamsipin (RIF). Dosis lazim INH untuk
orang dewasa biasanya 5-10 mg/kg atau sekitar 300 mg/hari, EMB, 25 mg/kg
selama 60 hari, kemudian 15 mg/kg, RIF 600 mg sekali sehari. Efek samping
etambutol adalah Neuritis retrobulbar disertai penurunan ketajaman
penglihatan. Uji ketajaman penglihatan dianjurkan setiap bulan agar keadaan
tersebut dapat diketahui. Efek samping INH yang berat jarang terjadi.
Komplikasi yang paling berat adalah hepatitis. Resiko hepatitis sangat rendah
pada penderita dibawah usia 20 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 60
tahun keatas. Disfungsi hati, seperti terbukti dengan peningkatan aktivitas
serum aminotransferase, ditemukan pada 10-20% yang mendapat INH. Waktu
minimal terapi kombinasi 18 bulan sesudah konversi biakan sputum menjadi
negatif. Sesudah itu masuk harus dianjurkan terapi dengan INH saja selama
satu tahun.Baru-baru ini CDC dan American Thoracis Societty (ATS)
mengeluarkan pernyataan mengenai rekomendasi kemoterapi jangka pendek
bagi penderita tuberkulosis dengan riwayat tuberkulosis paru pengobatan 6
atau 9 bulan berkaitan dengan resimen yang terdiri dari INH dan RIF (tanpa
atau dengan obat-obat lainnya), dan hanya diberikan pada pasien tuberkulosis
paru tanpa komplikasi, misalnya : pasien tanpa penyakit lain seperti diabetes,

silikosis atau kanker didiagnosis TBC setelah batuk darah, padahal mengalami
batu dan mengeluarkan keringat malam sekitar 3 minggu.

I. Nursing Care Plan


1.

Pengkajiana. Riwayat keperawatan : riwayat kontak dengan penderitab.


Manifestasi klinis seperti demam, anoreksia, penurunan berat badan,
berkeringat malam, keletihan, batuk dan pembentukan sputum, fungsi
pernafasan, nyeri dada, bunyi nafas, kesiapan emosional, persepsi dan
pengertian tuberkulosis dan pengobatannya, evaluasi fisik dan laboratorium.

2.

Diagnosa keperawatana. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan


penurunan permukaan parenkim paruIntervensi1. Kaji dispnea, takipnea, tak
normal/menurunnya bunyi nafas, peningkatan upaya pernafasan, terbatasnya
ekspansi dinding dada, dan kelemahan2. Evaluasi perubahan pada tingkat
kesadaran, catat perubahan pada warna kulit, termasuk membran mukosa dan
kuku.

3.

Dorong bernafas bibir selama ekshalasi, khususnya untuk pasien dengan


fibrosis atau kerusakan parenkim.

4.

Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri


sesuai keperluan.

5.

Kolaborasi periksaan AGD dan pemberian oksigen tambahan yang sesuai.b.


Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan
sputumIntervensi :
1. Kaji fungsi pernafasan, bunyi nafas, kecepatan, irama dan kedalaman dan
penggunaan otot aksesori.
2. Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukus/batuk efektif, catat
karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
3. Berikan pasien posisi semi fowler atau fowler tinggi. Bantu pasien untuk
batuk dan latihan nafas dalam.
4. Pertahankan

masukan

cairan

kontraindikasi.

sedikitnya

2500

ml/hari

kecuali

5. Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (agen mukolitik,


bronkodilator, kortikosteroid).c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan anoreksiaIntervensi :1. Catat status nutrisi
pasien pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan, integritas mukosa
oral, riwayat mual/muntah atau diare.2. Pastikan pola diit biasa pasien,
yang disukai/tidak disukai.3. Awasi masukan/pengeluaran dan berat badan
secara periodik.4. Dorong dan berikan periode istirahat sering.5. Berikan
perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan.6. Dorong
makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan
karbohidrat.7. Kolaborasi ahli gizi untuk menentukan komposisi diit.

DAFTAR PUSTAKA

Barbara, C.L., 1996, Perawatan Medikal Bedah (suatu pendekatan proses


keperawatan), Bandung- Smeltzer and Bare, 2002, Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah, EGC, Jakarta- Doengoes, M.E, Rencana Asuhan
Keperawatan, edisi 3, EGC, Jakarta.