Anda di halaman 1dari 15

DIAN

YANA
HERLISTA
HESTA
INDAH
RIFKI

Kelompok 3 PBSI 5 A

Asas kebersamaan dan kekeluargaan PGRI adalah


organisasi yang menumbuhkan sikap saling
menghargai, memahami, menghormati, tenggang
rasa, asah asih asuh, dan konsekuen dalam
menegakkan kebenaran dan keluhuran moral.

PGRI adalah organisasi yang mempunyai ciri unitarisme yaitu semua


guru dapat menjadi anggota dengan tidak membedakan latar belakang,
tingkat dan jenis kelamin, status, asal-usul, serta adat istiadat.

Selain itu PGRI juga mempunyai ciri jatidiri kekeluargaan.

PGRI sebagai organisasi profesi guru dipandang dari segi profesi


mempunyai jatidiri yang terpancar pada empat ranah profesi, salah
satunya kesejawatan (Jiwa Korsa). Ranah ini merupakan wujud dan
rasa kebersamaan (togetherness) antar sesama anggota terhadap misi
keguruan yang diemban.

Tentunya agar berhasil mewujudkan visi dan misi PGRI dibutuhkan


hubungan yang harmonis baik antar sesama anggota maupun dengan
pihak di luar organisasi PGRI sehingga dapat tercipta sinergi kerjasama
yang baik.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka lahirlah asas kebersamaan
dan kekeluargaan PGRI.

Bagaimana?

Agar terbentuk kebersamaan


dan kekeluargaan maka kita
harus menumbuhkan sikap
saling menghargai, saling
memahami,
saling
menghormati,
tenggang
rasa, asah asih asuh, dan
sikap
konsekuen
dalam
menegakkan kebenaran dan
keluhuran moral.

Kompetensi sosial adalah kemampuan


guru
untuk
berkomunikasi
dan
berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sekolah dan di luar
lingkungan sekolah. Guru profesional
berusaha
untuk
mengembangkan
komunikasi dengan orang tua siswa,
sehingga terjalin komunikasi dua arah
yang berkelanjutan antara sekolah
dan orang tua, serta masyarakat pada
umumnya.

Karakteristik dan ciri kompetensi sosial guru yang baik tercermin dari
perilakunya, yang dapat diketahui melalui indikator yang berdasarkan
pada sub-kompetensi sosial guru, yaitu mampu:
1.

Memahami dan menghargai perbedaan

2.

Melaksanakan kerjasama secara harmonis dengan kawan sejawat

3.

Membangun kerja tim (teamwork) yang kompak cerdas, dinamis, dan


lincah .

4.

Melaksanakan komunikasi (oral, tertulis, tergambar) secara efektif dan


menyenangkan.

5.

Memiliki kemampuan memahami dan menginternalisasikan perubahan


lingkungan yang berpengaruh terhadap tugasnya.

6.

Memiliki kemampuan mendudukkan dirinya dalam sistem nilai yang


berlaku di masyarakat sekitarnya.

7.

Melaksanakan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (misalnya


partisipasi, transparansi, akuntabilitas, penegakan hukum, dan
profesionalisme)

(Slamet PH dalam Sagala, 2009:38)

Dengan memiliki kompetensi sosial, seorang guru


diharapakan mampu bergaul secara santun dengan pihakpihak lain seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.
Tujuannya agar terjalin hubungan yang baik dan erat.
Hubungan tersebut pastinya akan memberikan banyak
manfaat dari seluruh pihak. Guru yang baik hendaknya
selalu bersikap ramah, akrab, dan hangat terutama kepada
anak didiknya agar selalu nyaman di dekat kita, dan bagi
pihak lain akan memberikan kepercayaan penuh kepada
kita untuk mendidik anak-anaknya.

Bagaimana?

Melalui buku, seminar,


penyuluhan, dll.
melalui
pengalaman
langsung berorganisasi
dan bersosialisasi dalam
kehidupan sehari-hari.

Menurut Mulyasa(dalam Arifin, 2012: 173-174) kompetensi sosial


guru itu meliputi:
1.Pengetahuan tentang adat istiadat, baik sosial maupun agama.
2.Pengetahuan tentang budaya dan tradisi.
3.Pengetahuan tentang inti demokrasi.
4.Pengetahuan tentang estetika.
5.Memiliki apresiasi dan kesadaran sosial.
6.Memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan.
7.Setia terhadap harkat dan martabat manusia.

Bergaul secara efektif


bagi guru, mencakup mengembangkan
hubungan secara efektif dengan anak didik, sejawat, orang tua/wali,
dan masyarakat dengan beberapa ciri, yaitu:
(1) mengembangkan
menghormati,

hubungan

atas

dasar

prinsip

saling

(2) mengembangkan hubungan atas dasar prinsip keterbukaan, dan


mengembangkan hubungan berdasarkan asas, asih, asuh,
(3) bekerja sama secara efektif dengan anak didik, sejawat, orang
tua/wali dan masyarakat dengan ciri: a) bekerja sama atas dasar
prinsip saling menghormati b) bekerja sama atas dasar prinsip
keterbukaan, dan c) bekerja sama atas dasar prinsip saling memberi
dan menerima (Musaheri dalam Wibowo, 2012:124).