Anda di halaman 1dari 61

LAPORAN DISCOVERY LEARNING 2

KEPERAWATAN ANAK I
TUMBUH KEMBANG ANAK

Disusun oleh :
Titik Erawati
(11141040000002)
Luluk Nafisah
(11141040000006)
Arini Nur Indah
(11141040000010)
Sri Utami
(11141040000014)
Fatrichia Nurachma (11141040000018)
Abdul Har
(11141040000022)

Diana Zaen
Eno Permata Sari
Yoyoh Rokayah
Dini Khaerani
Pujiati
Ratih Yulia Ningsih

(11141040000026)
(11141040000030)
(11141040000034)
(11141040000038)
(11141040000042)
(11141040000046)

KELOMPOK 1
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
MARET/2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami mengucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan kuasa-Nya kami mampu menyelesaikan dengan baik laporan discovery learning 2
mengenai Tumbuh Kembang Anak. Makalah ini dibuat agar dapat menambah pengetahuan
pembaca tentang konsep Tumbuh Kembang terutama apabila oleh Anak serta hal- hal
yang terkait dengannya.
Demikianlah makalah ini kami buat, semoga bermanfaat bagi pembaca baik
memperdalam atau menambah wawasan dan pengetahuan tentang Tumbuh Kembang
Anak . Jika terdapat kata maupun penulisan yang salah, kami mohon maaf. Kritik dan
saran yang membangun sangat kami butuhkan agar makalah selanjutnya dapat kami
kerjakan lebih baik lagi.
Tangerang Selatan, Maret 2016

Tim Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................................2
BAB I
1.1

PENDAHULUAN....................................................................................................4
Latar Belakang.........................................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah........................................................................................................4


1.3 Tujuan...........................................................................................................................4
1.4 Metode Penulisan.........................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................6
Tumbuh Kembang Anak.....................................................................................................6
2.1

Konsep Dasar Tumbuh Kembang Anak...................................................................6

2.2

Faktor yang Mempengaruhi Proses Tumbuh Kembang Anak...............................12

2.3

Kebutuhan Dasar Tumbuh Kembang Anak............................................................14

2.4

Gizi yang dibutuhkan dalam Proses Tumbuh Kembang Anak...............................14

2.5

Fase Pertumbuhan Fisik Seorang Anak..................................................................14

2.6

Fase Perkembangan Tumbuh Kembang Anak.......................................................28

2.7

Cara Penilaian atau Deteksi Tumbuh Kembang Anak...........................................38

2.8

Upaya untuk Meningkatkan Kualitas Tumbuh Kembang Anak............................43

2.9

Cara Menstimulasi Proses Tumbuh kembang Anak...............................................43

Peran Perawat (petugas lapangan) dalam Upaya Deteksi Tumbuh Kembang Balita.......46
BAB III.................................................................................................................................50
PENUTUP.............................................................................................................................50
3.1 Kesimpulan.................................................................................................................50
3.2 Saran...........................................................................................................................50
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................51

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu
pertumbuhan

dan

perkembangan.

Banyak

orang

yang

menggunakan

istilah

pertumbuhan dan perkembangan secara bergantian. Kedua proses ini berlangsung


secara interdependensi, artinya saling bergantung satu sama lain.
Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan dalam bentuk-bentuk yang secara pilah
berdiri sendiri-sendiri; akan tetapi bias dibedakan untuk maksud lebih memperjelas
penggunaannya.

Dalam hal ini kedua proses tersebut memiliki tahapan-tahapan

diantaranya tahap secara moral dan spiritual. Karena pertumbuhan dan perkembangan
peserta didik dilihat dari tahapan tersebut memiliki kesinambungan yang begitu erat dan
penting untuk dibahas maka kita meguraikannya dalam bentuk struktur yang jelas baik
dari segi teori sampai kaitannya dengan pengaruh yang ditimbulkan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan konsep dasar tumbuh kembang anak?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi proses tumbuh kembang anak?
3. Apakah saja kebutuhan dasar tumbuh kembang anak?
4. Apa saja gizi yang dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang anak?
5. Bagaimana fase pertumbuhan fisik seorang anak beserta permasalahan yang terkait?
6. Bagaimana fase perkembangan seorang anak beserta permasalahan yang terkait?
7. Bagaimana cara penilaian atau deteksi tumbuh kembang anak?
8. Bagaimana upaya untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak?
9. Bagaimana cara menstimulasi proses tumbuh kembang anak?
10. Bagaimana peran perawat dalam upaya mendeteksi proses tumbuh kembang anak?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan penulisannya adalah sebagai berikut :
1. Memahami konsep dasar tumbuh kembang anak
2. Memahami faktor yang mempengaruhi proses tumbuh kembang anak
3. Memahami kebutuhan dasar tumbuh kembang anak
4. Memahami gizi yang dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang anak
5. Memahami fase pertumbuhan fisik seorang anak beserta permasalahan yang terkait
6. Memahami fase perkembangan seorang anak beserta permasalahan yang terkait
7. Memahami cara penilaian atau deteksi tumbuh kembang anak
8. Memahami upaya untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak
9. Memahami cara menstimulasi proses tumbuh kembang anak
10. Memahami peran perawat dalam upaya mendeteksi proses tumbuh kembang anak

1.4 Metode Penulisan


Pembuatan

makalah

ini

menggunakan

metode

studi

pustaka,

yaitu

mengumpulkan materi-materi dan informasi melalui buku-buku, jurnal, artikel ilmiah ,


dan sebagainya.

BAB II
PEMBAHASAN

Tumbuh Kembang Anak


2.1 Konsep Dasar Tumbuh Kembang Anak

a. Pengertian
Pertumbuhan merupakan suatu peningkatan jumlah dan ukuran, sedangkan
perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari
tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui
proses maturasi dan pembelajaran. Jadi, pertumbuhan berhubungan dengan
perubahan pada kuantitas yang maknanya terjadi perubahan pada jumlah dan
ukuran sel tubuh yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan ukuran dan berat
seluruh bagian tubuh. sedangkan perkembangan berhubungan dengan perubahan
secara kualitas, diantaranya terjadi peningkatan kapasitas individu untuk
berfungsi yang dicapai melalui proses pertumbuhan, pematangan, dan
pembelajaran. Proses pematangan berhubungan dengan peningkatan kematangan
dan adaptasi. Proses tersebut terjadi secara terus menerus dan saling berhubungan
serta ada keterkaitan antara satu komponen dan komponen lain. Jadi, jika tubuh
anak semakin besar dan tinggi, kepribadiannya secara simultan juga semakin
matang.
b. Prinsip
Secara umum pertumbuhan dan perkembangan memiliki beberapa prinsip
dalam prosesnya. Prinsip tersebut dapat menentukan ciri atau pola dari
pertumbuhan dan perkembangan setiap anak. Prinsip-prinsip tersebut antara lain
sebagai berikut:
1. Proses pertumbuhan dan perkembangan sangat bergantung pada aspek
kematangan susunan saraf pada manusia, di mana semakin sempurna atau
kompleks

kematangan

saraf

maka

semakin

sempurna

pula

proses

pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi mulai dari proses konsepsi


sampai dengan dewasa.
2. Proses pertumbuhan dan perkembangan setiap individu adalah sama, yaitu
mencapai proses kematangan, meskipun dalam proses pencapaian tersebut
tidak memiliki kecepatan yang sama antara individu yang satu dengan yang
lain.
3. Proses pertumbuhan dan perkembangan memiliki pola khusus yang dapat
terjadi mulai dari kepala hingga ke seluruh bagian tubuh atau juga mulai dari
kemampuan yang sederhana hingga mencapai kemampuan yang lebih
kompleks sampai mencapai kesempurnaan dari tahap pertumbuhan dan
perkembangan.
c. Pola
Pola pertumbuhan dan perkembangan merupakan peristiwa yang terjadi
selama proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang dapat mengalami
percepatan maupun perlambatan yang saling berhubungan antara satu organ
dengan organ lain. Dalam peristiwa tersebut akan mengalami perubahan pada
pertumbuhan dan perkembangan , diantaranya sebagai berikut:
1. Pola pertumbuhan fisik yang terarah
Pola ini memiliki dua prinsip atau hukum perkembangan, yaitu prisnsip
cephalocaudal dan prinsip proximodistal.
Cephalocaudal atau head to tail direction (dari arah kepala kemudian
ke kaki). Pola pertumbuhan dan perkembangan ini dimulai dari
kepala yang ditandai dengan perubahan ukuran kepala yang lebih
besar, kemudian berkembang kemampuan untuk menggerakkan lebih
cepat dengan menggelengkan kepala dan dilanjutkan ke bagian
ekstermitas bawah lengan, tangan, dan kaki. Hal tersebut merupakan

pola searah dalam pertumbuhan dan perkembangan.


Proximodistal atau near for direction. Pola ini dimulai dengan
menggerakkan anggota gerak yang paling dekat dengan pusat/sumbu
tengah kemudian menggerakkan anggota gerak yang lebih jauh atau
ke arah bagian tepi, seperti menggerakkan bahu terlebih dahulu lalu

jari-jari. Hal tersebut juga dapat dilihat pada perkembangan berbagai


organ yang ada di tengah, seperti jantung, paru, pencernaan, dan yang
lain akan lebih dahulu mencapai kematangan.
2. Pola perkembangan dari umum ke khusus
Pola ini dikenal dengan nama pola mass to specific atau to complex.
Pola pertumbuhan dan perkembangan ini dapat dimulai dengan
menggerakkan daerah yang lebih umum (sederhana) dahulu baru
kemudian daerah yang lebih kompleks (khusus), seperti melambaikan
tangan kemudian baru memainkan jarinya atau menggerakkan badan
atau tubuhnya sebelum mempergunakan kadua tungkainya untuk
menyangga, melangkah, dan atau mampu berjalan.
3. Pola perkembangan berlangsung dalam tahapan perkembangan.
Pola ini mencerminkan ciri khusus dalam setiap tahapan perkembangan
yang dapat digunakan untuk mendeteksi perkembangan selanjutnya,
seperti seorang anak pada usia empat tahun mengalami kesulitan dalam
berbicara

atau

mengemukakan

sesuatu,

atau

terbatas

dalam

perbendaharaan kata, maka dapat diramalkan akan mengalami


kelambatan pada seluruh aspek perkembangan. Pada pola ini tahapan
perkembangan dibagi menjadi lima bagian yang tentunya memiliki
prinsip atau ciri khusus dalam setiap perkembangannya sebagai berikut:
Masa pralahir, terjadi pertumbuhan yang sangat cepat pada alat dan

jaringan tubuh.
Masa neonatus, terjadi proses penyesuaian dengan kehidupan di luar

rahir dan hampir sedikit aspek pertumbuhan fisik dalam perubahan.


Masa bayi, terjadi perkembangan sesuai dengan lingkungan yang
mempengaruhinya serta memiliki kemampuan untuk melindungi dan

menghindar dari hal yang mengancam dirinya.


Masa anak, terjadi perkembangan yang cepat dalam aspek sifat,
sikap, minat, dan penyesuaian dengan lingkungan, dalam hal ini
keluarga dan teman sebaya.

Masa remaja, terjadi perubahan ke arah dewasa sehingga kematangan

ditandai dengan tanda-tanda pubertas.


4. Pola perkembangan dipengaruhi oleh kematangan dan latihan
Proses kematangan dan belajar selalu mempengaruhi perubahan dalam
perkembangan anak. Terdapat saat yang siap untuk menerima sesuatu
dari luar untuk mencapai proses kematangan. Kematangan yang
dicapainya dapat disempurnakan melalui rangsangan yang tepat, masa
itulah sebagai masa kritis yang harus dirangsang agar mengalami
pencapaian perkembangan selanjutnya melalui proses belajar.
d. Ciri ciri
Dalam peristiwa pertumbuhan dan perkembangan anak mmiliki berbagai ciri
khas yang membedakan komponen satu dengan yang lain.
Pertumbuhan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Dalam pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalam hal
bertambahnya ukuran fisik. Seperti, berat badan, tinggi badan,
lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain-lain.
2) Dalam pertumbuhan dapat terjadi perubahan proporsi yang dapat
terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai
dari masa konsepsi hingga dewasa.
3) Pada pertumbuhan dan perkembangan terjadi hilangnya ciri-ciri lama
yang ada selama masa pertumbuhan, seperti hilanganya kelenjar
timus, lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks tertentu.
4) Dalam pertumbuhan terdapat ciri baru yang secara perlahan
mengikuti proses kematangannya, seperti, adanya rambut pada

daerah aksila, pubis, atau dada.


Perkembangan mamiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Perkembangan selalu melibatkan proses pertumbuhan yang diikuti
dari perubahan fungsi, seperti perkembangan sistem reproduksi akan
diikuti perubahan pada fungsi alat kelamin.
2) Perkembangan memiliki pola yang konstan dengan hukum tetap,
yaitu perkembangan dapat terjadi dari daerah kepala menuju ke arah
kaudal atau dari bagian proksimal ke bagian distal.

3) Perkembangan memiliki tahapan yang berurutan mulai dari


kemampuan melakukan hal yang sederhana menuju kemampuan
melakukan hal yang sempurna.
4) Perkembangan setiap individu memiliki kecepatan pencapaian
perkembangan yang berbeda.
5) Perkembangan dapat menentukan pertumbuhan tahap selanjutnya,
dimana tahapan perkembangan harus dilewati tahap demi tahap.
e. Faktor faktor yang mempengaruhi
1. Faktor intenal
Genetika
Faktor genetik akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan dan
kematangan tulang, alat seksual, serta saraf, sehingga merupakan modal
dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang, yaitu:
Perbedaan ras, etnis, atau bangsa
Tinggi badan orang Eropa akan berbeda dengan orang Indonesia atau
bangsa lainnya, dengan demikian postur tubuh tiap bangsa berbeda.
Keluarga
Ada keluarga yang cenderung memiliki tubuh gemuk atau perawakan
pendek.
Umur
Masa pranatal, masa bayi, dan masa remaja merupakan tahap yang
mengalami pertumbuhan cepat dibandingkan dengan masa lainnya.
Jenis kelamin
Wanita akan mengalami masa prapubertas lebih dahulu dibandingkan
dengan lelaki.
Kelainan kromosom
Dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, misalnya sindrom

down.
Pengaruh hormon
Pengaruh hormon sudah terjadi sejak masa prenatal , yaitu saat janin
berumur 4 bulan. Pada saat itu terjadi pertumbuhan yang cepat. Hormon
yang berpengaruh terutama adalah hormon pertumbuhan somatotropin
yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitari. Selain itu, kelenjar tiroid juga

menghasilkan kelenjar tiroksin yang berguna untuk metabolisme serta


maturasi tulang, gigi, dan otak.
1. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat berpengaruh dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu pranatal, kelahiran, dan pascanatal.
a. Faktor prenatal
Gizi, nutrisi ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin,

terutama selama trimester akhir kehamilan.


Mekanis. Posisi janin yang abnormal dalam kandungan dapat

menyebabkan kelainan congenital, misalnya club foot.


Toksin, zat kimia, radiasi
Kelainan endokrin
Infeksi TORCH atau penyakit menular seksual
Kelainan imunologi
Psikologis ibu
b. Faktor kelahiran
Riwayat kelahiran dengan vakum ekstraksi atau forceps dapat
menyebabkan trauma kepala pada bayi sehingga beresiko terjadinya
kerusakan jaringan otak.
c. Faktor pascanatal
Seperti halnya pada masa pranatal, faktor yang berpengaruh
terhadap

tumbuh

kembang

anak

adalah

gizi,

penyakit

kronis/kelainan kongenital, lingkungan fisik dan kimia, psikologis,


endokrin, sosioekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi, dan
obat-obatan.
2.2 Faktor yang Mempengaruhi Proses Tumbuh Kembang Anak
Menurut Hidayat (2009) Proses Percepatan dan Perlambatan
Tumbuh kembang anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
1. Faktor Herediter / genetic
Faktor herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan
sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang. Faktor
genetic

mempengaruhi

kecepatan

pertumbuhnan

dan

kematangan

tulang,

alat

seksual,

serta

saraf,

sehingga

merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses


tumbuh kembang, yaitu :
a. Perbedaan ras, etnis, suku bangsa.
Tinggi badan orang eropa akan berbeda dengan orang
Indonesia atau bangsa lainnya, dengan demikian postur
tubuh tiap bangsa berbeda.
b. Keluarga
ada keluarga yang cenderung mempunyai tubuh gemuk atau
perawakan pendek
c. Umur
Masa prenatal, masa bayi, dan masa remaja merupakan
tahap yang mengalami pertumbuhan cepat dibandingkan
dengan masa lainnya
d. Jenis kelamin
Wanita akan mengalami masa prapubertas lebih dahulu
dibandingkan dengan laki-laki
e. Kelainan kromosom
Dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, misalnya
Sindrom Down.
2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan pranatal,
lingkungan kelahiran, dan lingkungan postnatal.
a. Faktor prenatal
merupakan lingkungan dalam kandungan,

mulai

dari

konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu


ibuhamil, posisi janin, pengunaan obat-obatan, alkohol atau
kebiasaan merokok, kelainan endokrin, kelainan imunologi,
dan psikologis ibu.
b. Faktor kelahiran
Riwayat kelahiran dengan vakum ekstraksi atau forceps
dapat menyebabkan trauma kepala pada bayi sehingga
berisiko terjadinya kerusakan jaringan otak.

c. Faktor pasca lahir yang mempengaruhi tumbuh kembang


anak meliputi budaya lingkungan, sosial ekonomi, keluarga.
nutrisi, posisi anak dalam keluarga dan status kesehatan
3. Faktor hormonal
Yang berperan dalam tumbuh kembang anak antara lain.
somatotrofin

(growth

mempengaruhi

Hormon)

pertumbuhan

yang
tinggi

berperan
badan,

alam
dengan

menstimulasi terjadinya poliferasi sel kartigo dan sistem


skeletal.

Hormon

tiroid

menstimulasi

metabolisme

tubuh,

glukokartikoid menstimulasi pertumbuhan sel interstisial dari


testis untuk memproduksi testosteron dan ovarium untuk
memproduksi

esterogen

selanjutnya

hormone

tersebut

menstimulasi perkembangan seks baik pada anak laki-laki


maupun perempuan yang sesuai dengan peran hormonnya
2.3 Kebutuhan Dasar Tumbuh Kembang Anak
Berdasarkan Konvensi Hak-Hak Anak yang disetujui oleh Majelis
Umum Perserikatan Bangsa-bangsapada tanggal 20 Nopember
1989 dan telah diratifikasi Indonesia pada tahun 1990, Bagian 1
Pasal 1,yang dimaksud Anak adalah setiap orang yang berusia
dibawah 18 tahun, kecuali berdasarkanundang-undang yang
berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih
awal.Berdasarkan Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak, pasal 1 ayat 1, Anakadalah seseorang yang
belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang
masih dalamkandungan. Sedangkan menurut WHO, batasan usia
anak antara 0-19 tahun.
Ada 4 prinsip dasar hak anak yang terkandung di dalam Konvensi
Hak-hak Anak yang disetujui olehMajelis Umum Perserikatan

Bangsa-bangsa pada tanggal 20 Nopember 1989 dan telah


diratifikasiIndonesia pada tahun 1990, yaitu: Non-diskriminasi,
Kepentingan

yang

terbaik

bagi

anak,

Hak

untukhidup

kelangsungan hidup; dan perkembangan, serta Penghargaan


terhadap pendapat anak.
Menurut prinsip dasar hak anak yang ke-3, anak mempunyai hak
untuk

bertumbuh

dan

berkembang.Bertumbuh

berarti

bertambahnya ukuran tubuh dan jumlah sel serta jaringan di


antara sel-sel.Indikator untuk mengetahui adanya pertumbuhan
adalah: adanya pertambahan tinggi badan, beratbadan dan lingkar
kepala. Berkembang adalah bertambahnya struktur, fungsi

dan

kemampuananak yang lebih kompleks, meliputi kemampuan


:Pertumbuhan

dan

perkembangan

terjadi

secara

bersamaan

(simultan). Perkembangan merupakanhasil interaksi kematangan


susunan syaraf pusat dengan organ tubuh yang dipengaruhinya.
Misal:kemampuan bicara merupakan hasil dari perkembangan
sistem syaraf yang mengendalikan prosesbicara.
Hal-hal yang menentukan Kualitas Tumbuh Kembang Anak
Kualitas

tumbuh

kembang

anak

ditentukan

oleh:Kebutuhan-

kebutuhan Dasar Anak untuk Tumbuh Kembang yang optimal


meliputi Asuh, Asih, dan Asah yaitu:
1. Kebutuhan Fisik-Biologis (ASUH):
Meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan seperti: nutrisi,
imunisasi,

kebersihan

tubuh

&lingkungan,

pakaian,

pelayanan/pemeriksaan kesehatan dan pengobatan, olahraga,


bermain danberistirahat.
2. Kebutuhan kasih sayang dan emosi (ASIH):

Pada tahun-tahun pertama kehidupannya (bahkan sejak dalam


kandungan), anak mutlakmemerlukanikatan yang erat, serasi
dan

selaras

dengan

ibunya

untuk

menjamin

tumbuh

kembangfisik-mental dan psikososial anak dengan cara:


3. Kebutuhan Stimulasi (ASAH):
Anak perlu distimulasi sejak dini untuk mengembangkan sedini
mungkin kemampuan sensorik,motorik, emosi-sosial, bicara,
kognitif,

kemandirian,

kreativitas,

kepemimpinan,

moral

danspiritualanak. Dasar perlunya stimulasi dini:Orang tua perlu


menganut pola asuh demokratik, mengembangkan kecerdasan
emosional,kemandirian, kreativitas, kerjasama, kepemimpinan
dan moral-spiritual anak. Selain distimulasi,anak juga perlu
mendapatkan kegiatan SDIDTK lain yaitu deteksi dini (skrining)
adanya kelainan/penyimpangan tumbuh kembang, intervensi
dini dan rujukan dini bila diperlukan. (Oleh:dr. Awi Muliadi
Wijaya, MKM)
2.4 Gizi yang dibutuhkan dalam Proses Tumbuh Kembang Anak
Setiap bayi atau anak memiliki suatu potensi genetik untuk pertumbuhan fisik,
mental, dan emosinya. Nutrisi yang optimal tercapai dengan memberikan zat gizi
yang memenuhi semua aspek potensial kebutuhan tersebut. Apabila nutrisi
membatasi pertumbuhan atau menyebabkan terbentuknya massa tubuh yang
berlebihan, baik karena kualitas yang tidak adekuat atau kuantitas yang tidak sesuai,
terjadi keadaan malnutrisi.(Rudolph, 2006)
Semua kebutuhan gizi yang dipublikasikan adalah petunjuk yang dirancang untuk
memastikan bahwa sebagian besar orang akan mendapatkan makanan yang cukup.
Petunjuk-petunjuk tersebut tidak dimaksudkan agar diikuti secara kaku. Kepatuhan
yang ketat atas petunjuk-petunjuk tersebut oleh seseorang tidak menjamin bahwa
orang tersebut cukup mendapat gizi. (Rudolph, 2006)

Nutrisi merupakan salah satu faktor lingkungan yang mendominasi proses tumbuh
kembang anak. Selain itu, nutrisi berfungsi menyuplai kebutuhan energi bagi
aktivitas sehari-hari, menjaga fungsi normal tubuh, serta terapi yang sangat
menguntungkan dalam mencegah juga memulihkan penyakit anak. Kekurangan
asupan nutrisi dapat menyebabkan gizi kurang (marasmus, kwashiorkor, marasmik
kwashiorkor, defisiensi besi, dan sebagainya), sedangkan kelebihan asupan nutrisi
dapat menyebabkan gizi lebih (overweight dan obesitas). Baik gizi kurang maupun
gizi lebih, yang keduanya dikenal dengan istilah malnutrisi, menunjukkan adanya
ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan nutrisi anak. Oleh karena itu,
asupan nutrisi yang cukup sangatlah penting untuk tumbuh kembang anak.
(Damayanti, 2009)
Panduan Diet dan Kelompok Dasar Makanan
Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan nutrisi yang diasup oleh anak. Tidak
ada panduan kaku yang membatasi jenis makanan. Anda dapat mengajak anak untuk
mengatur dietnya sendiri secara fleksibel dan tetap memiliki gizi seimbang.gizi
seimbang di sini, terdapat dalam konsep piramida makanan. Yaitu dengan lemak 2530%, diikuti oleh protein 10-20% dari produk susu, daging, ikan, telur dan lainnya,
kemudian sayur mayur dan buah-buahan. Lalu dengan porsi yang paling besar
adalah karbohidrat.

Kecukupan makanan yang Dianjurkan


Berikut merupakan tabel angka kecukupan gizi menurut depkes, 2010
Kebutuhan Nutrisi Spesifik

Nutrien biasanya dibagi menjadi 8 kategori utama: (a) air, (b) energi, (c) protein, (d)
karbohidrat, (e) lemak, (f) vitamin, (g) mineral utama dan (h) elemen renik.
a. Air
Air membentuk sekitar 50% sampai 60 % berat tubuh pada orang dewasa muda
dan 70% sampai 75% berat tubuh pada bayi (Rudolph,2006). Keseimbangan
cairan dan elektrolit ditentukanoleh intake atau masukan cairan dan pengeluaran
cairan. Pemasukan cairan berasal dari minuman dan makanan(Tarwoto,2006).
Kebutuhan pemeliharan cairan untuk bayi berdasarkan berat badan 1-10 kg
dibutuhkan cairan sebanyak 100mL/kg (Rudolph,2006). Menurut usia,
kebutuhan cairan sehari-hari berdasarkan usia 3 bulan membutuhkan cairan
sebanyak 140-160 ml/kg/hari, Pemberian nutrisi dalam jumlah memadai tanpa
cairan yang cukup akan menyebabkan dehidrasi. Bayi sangat rentan terhadap
dehidrasi. Kebutuhan mereka akan air jauh lebih besar karena besarnya luas

permukaan tubuh insensible water loss. Mereka juga memiliki presentasi air
tubuh totalyang lebih besar dengan kapasitas ginjal untuk menangani beban zat
telarut terbatas dan keterbatasan dalam mengemukakan rasa haus (Rudolph,
2006). Bagi bayi, ASI atau susu formula merupakan sumber utama untuk
memenuhi kebutuhan cairan. ASI dan susu formula dengan densitas energi
standar (20 Kkal/oz atau 0,66 Kkal/mL), mengandung air sekitar 89%.
Tambahan air yang dihasilkan dari oksidasi susu yang dikomsumsi tersedia
dalam bentuk air bebas. Apabila konsentrasi susu formula melebihi 24 kkal/oz
terdapat resiko bahwa walaupun kalori dikomsumsi adekuat, bayi kurang
mendapat air bebas sehingga terjadi peningkatan beban zat terlarut pada ginjal
dan dehidrasi (Rudolph, 2006).
b. Energi
Untuk bayi, RDA mengajurkan rata-rata 108 kkal/kg/hari sampai usia 6 bulan,
dengan 98 kkal/kg/hari untuk bayi berusia 6 sampai 12 bulan. Walaupun angkaangka tersebut didasarkan pada penelitian terhadap asupan normal, tetapi 5
asupan energi yang sebenarnya bervariasi dalam rentang ini. Sebagian besar
peneliti melaporkan asupan bayi sehat rata-rata 107 kkal/kg/hari pada usia 1
bulan tetapi kemudian turun menjadi 85 kkal/kg/hari pada usia 6 bulan
(Rudolph, 2006). Kategori anak bayi usia 0,0 sampai 0,5 tahun rata-rata
normalnya memiliki berat badan 6 kg dengan tinggi 60 cm, maka kecukupan
energi rata-rata per kilogram adalah 108 kkal dan perhari 650 kkal
(Rudolph,2006)
c. Protein
ASI memiliki kandungan protein rata-rata 9 g/L. Sebagian dari protein ini tidak
disediakan untuk tujuan nutrisional. Tiga perempat IgA dalam ASI disekresikan
utuh melalui tinja. Selain itu, baik laktoferin maupun lisozim mungkin tidak
dicerna atau diserap. Ketiga protein ini mungkin membentuk sampai 30% dari
semua protein didalam ASI, sehingga jumlah protein ASI yang tersedia untuk
nutrisi mungkin serendah 7,2 g/L atau 1,3 g/kg/hari. RDA untuk bayi didasarkan
pada jumlah protein total yang tersedia dalam ASI. Angka tersebut diperkirakan

adalah 2,0 sampai 2,4 g/kg/hari selama bulan pertama kehidupan dan secara
bertahap turun menjadi sekitar 1,5 g/kg/hari pada usia 6 bulan untuk kemudian
menetap sepanjang tahun pertama kehidupan. Susu formula saat ini diizinkan
oleh peraturan federal untuk mengandung antara 1,8 sampai 4,5 g protein per
100 kkal, yang akan menyediakan rata-rata asupan protein antara 2,0 dan 5,4
g/kg.hari. Sebagian besar ahli gizi menganjurkan asupan kurang dari 3,5
g/kg/hari pada bayi sehat (Rudolph, 2006).
d. Karbohidrat
ASI menyediakan sekitar 40% dari kalorinya dalam bentuk laktosa yang
mengalami hidrolisis menjadi glukosa dan galaktosa. Buah dan sayuran
mengandung gula sederhana, termaksud glukosa dan fruktosa. Sukrosa (gula
pasir) adalah kombinasi glukosa dan fruktosa. Pada anak dan dewasa, sebagian
besar karbohidrat makanan dikomsumsi dalam bentuk polisakarida. Makanan
Amerika rata-rata mengandung karbohidrat 35 sampai 60%. Asupan karbohidrat
murni (refined) yang berlebihan meningkatkan resiko karies gigi (Rudolph,
2006).
e. Lemak
Istilah lipid kadang-kadang diartikan sama dengan lemak, dan yang dikenal
sebagai bahan makanan adalah mentega, margarine, minyam tumbuhan, minyak
daging sapi, kulit ayam, lemak yang terdapat dalam susu, kuning telur, daging,
kacang-kacangan dan lain-lain. (Poedjiadi, 2006)
Sumber energy utama dari lemak adalah asam-asam lemaknya. Di dalam tubuh
lemak digunakan sebagai cadangan energy yang disimpan pada jaringan
adiposa. Dari metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein tampak adanya
interelasi metabolik di antara sumber-sumber energy tersebut. Oleh karenanya
seseorang dapat menjadi gemuk apabila makan banyak sumber karbohidrat atau
protein, meskipun hanya sedikit sekali makan sumber lemak. (Poedjiadi, 2006)
f. Vitamin
Vitamin merupakan substansi organik dalam jumlah kecil pada makan yang
esensial untuk metabolisme normal (Potter dan Perry, 2005). Vitamin berfungsi
sebagai kofaktor dalam berbagai reaksi metabolik penting (Rudolph, 2006).

Berikut dijelaskan tabel mengenai kerja biokimia vitamin, efek defisiensi,


toksisitas dan sumber makanan :

g. Mineral Utama
ASI atau susu formula memasok mineral-mineral pada bayi dan anak. Namun
demikian, bayi yang banyak minum susu apapun alasannya beresiko tinggi
mengidap defisiensi mineral (Rudolph, 2006). Berikut adalah tabel mengenai
mineral utama yang dibutuhkan tubuh, kerja biokimiawi, efek defisiensi,
toksisitas dan sumber makanan :
h. Elemen Renik
Elemen renik hanya membentuk kurang dari satu persepuluh ribu berat tubuh
total, tetapi banyak yang dianggap esensial untuk kehidupan, kesehatan, dan
reproduksi. Elemen renik berfungsi sebagai kofaktor dalam reaksi enzim,
komponen cairan tubuh, tempat untuk mengikat oksigen, dan sebagai komponen
struktural untuk makromolekul nonenzimatik. Tabel dibawah meringkaskan
kerja biokimiawi efek defisiensi toksisitas dan sumber elemen renik dalam
makanan.

2.5 Fase Pertumbuhan Fisik Seorang Anak


Pertumbuhan ada 2 yaitu dari sebelum lahir dan setelah lahir
a. Pertumbuhan sebelum lahir
Terbentuknya manusia dimulai dari suatu proses pembuahan (pertemuan
seltelur dan sperma) yang membentuk suatu sel kehidupan yang disebut
Embrio. Embriomanusia yang telah berumur satu bulan, berukuran sekitar
setengah sentimeter. Padaumur dua bulan, ukuran embrio itu sebesar dua
setengah sentimeter, yang disebut janinatau fetus. Setelah tiga bulan, setelah
tiga bulan, fetus terus bertumbuh menjadi bayidalam ukuran kecil.Masa
sebelum lahir merupakan pertumbuhan dan perkembangan manusiayang
sangat kompleks, karena merupakan awal terbentuknya organ-organ tubuh
dantersusunnya jaringan syaraf yang lebih lengkap. Pertumbuhan dan
perkembangan janin(fetus) diakhiri saat kelahiran. Kelahiran merupakan
kematangan biologis dan jaringansyaraf setiap komponen biologis telah
mampu berfungsi secara mandiri. tahapan sebelum lahir adalah tiga bulan:
1. Trimester Pertama
Pada tiga bulan pertama ini, embrio akan berkembang hingga menjadi
janin dengan panjang kira-kira kurang/lebih 5,5 cm. Janin ini sudah
mulai berbentuk seperti manusia meskipun ukuran dari kepalanya cukup
besar. Di akhir masa tiga bulan pertama ini, janin tersebut sudah mulai
bisa menggerak-gerakkan bagian tangan serta kakinya.
2. Trimester Kedua
Masa tiga bulan kedua, janin biasanya sudah semakin berkembang
dengan panjang yang kira-kira mencapai ukuran kurang/lebih 19 cm.
Bagian tangan serta kakinya telah mengalami perkembangan. Bagian
dari jari-jari tangan serta kaki sudah mulai terbentuk, begitu juga muka si
janin akan tumbuh memanjang. Saat masa tiga bulan kedua ini, gerakan
detak dari jantung janin ini juga sudah bisa dideteksi.
3. Trimester Ketiga

Di masa tiga bulan ketiga, proses pertumbuhan dari ukuran janin akan
berkembang sangat cepat. Biasanya di masa ini, ukuran tubuh janin
sudah proporsional seperti tubuh bayi pada umumnya. Dikarenakan
bentuk ukuran dari tubuhnya yang semakin besar, maka gerakkan janin
tidak terlalu leluasa di dalam rahim. Saat saat menjelang kelahiran dari
bayi, ukuran tubuhnya pada umumnya sudah mencapai panjang sekitar
50 cm. Selanjutnya di bulan ke sembilan inilah bayi akan lahir di dunia.
b. Pertumbuhan setelah lahir
Pertumbuhan ini merupakan kelanjutan sampai masa dewasa. Selama tahun
pertama, ukuran panjang badannya akan bertambah sekitar sepertiga dari
panjang badan semula dan berat badannya akan bertambah 3 kalinya. Sejak
lahir sampai umur 25 tahun, perbandingan ukuran badan individu, dari
pertumbuhan yang kurang proporsional pada awal terbentuknya manusia
sampai dengan proporsi yang ideal dimasa dewasa.
A. Tahap Usia lahir hingga 12 bulan
1. Bayi usia 1 bulan, umumnya sudah bisa:
Menggerakkan bagian kepala dari sisi ke sisi di saat posisi
tengkurap
Cengkraman tangan yang kuat
Menatap tangan dan jari-jari
Mengikuti gerakan dengan mata
2. Bayi usia 2 bulan, umumnya sudah bisa:
Menahan kepala dan leher sebentar di saat telungkup
Membuka dan menutup tangan, pukulan diarahkan tanpa arah
Mulai bermain dengan jari-jari, membuat asosiasi (menangis
berarti digendong atau diberi makan)
Tersenyum dengan responsif, mengadakan kontak mata
3. Bayi usia 3 bulan, umumnya sudah bisa:
Meraih dan mengambil objek, kepala tegak saat digendong,

mulai merasakan beban di kaki


Mengenggam objek dengan tangan, mengisap ibu jari dan

meninju
Berguman, memekik

Menirukan anda saat anda menjulurkan lidah, mulai tertawa


4. Bayi usia 4 bulan, umumnya sudah bisa:
Mendorong badan ke atas dengan tangan pada posisi

telungkup, duduk bertumpu pada lengan


Mengambil objek, menggenggam seperti menggunakan

sarung tangan
Tertawa keras, mengamati dengan akurat,Menikmati bermain
dan mungkin menangis ketika dihentikan, mengangkat lengan

sebagai isyaratgendonglah aku


5. Bayi usia 5 bulan, umumnya sudah bisa:
Mulai berguling ke salah satu sisi badan
Belajar memindahkan objek dari tangan yang satu ke tangan
yang lain
Meniup raspberry (menyemburkan busa)
Menjangkau mama atau papa dan menangis kalau ditinggal
6. Bayi usia 6 bulan, umumnya sudah bisa:
Berguling ke sisi kiri dan kanan
Memakai tangan untuk menyambar objek kecil
Berceloteh
Mengenali wajah pengasuh, keluarga dan teman yang sudah
akrab
7. Bayi usia 7 bulan, umumnya sudah bisa:
Bergerak sedikit mulai merangkak
Belajar menggunakan ibu jari & jari tangan lainnya
Berceloteh dengan cara yang lebih kompleks
Merespon ekspresi emosi orang lain
8. Bayi usia 8 bulan, umumnya sudah bisa:
Duduk tanpa dibantu
Mulai bertepuk tangan
Merespon kata-kata yang sudah akrab, melihat ketika
dipanggil
Bermain permainan interaktif seperti cilukba
9. Bayi usia 9 bulan, umumnya sudah bisa:
Mungkin mencoba naik/merangkak ke atas tangga
Menguasai genggaman cubit

Belajar keberadaan objek bahwa sesuatu ada bahkan kalau

mereka tidak dapat melihatnya


Sedang takut-takutnya sama orang asing
10. Bayi usia 10 bulan, umumnya sudah bisa:
Menarik diri untuk berdiri
Menyusun & mengurutkan mainan
Melambaikan bye-bye & mengangkat

tangan

untuk

mengatakan naik
Belajar memahami sebab akibat. Contoh: saya menangis,

mama dating
11. Bayi usia 11 bulan, umumnya sudah bisa:
Menjelajah menggunakan perabotan
Membalik halaman saat anda membaca
Memanggil mama atau papa dengan mama atau dada
12. Bayi usia 12 bulan, umumnya sudah bisa:
Berdiri tanpa dibantu & mungkin memulai langkah pertama
Membantu pada saat dipakaikan baju (memasukkan tangan ke

lengan baju)
Mengucapkan kira-kira 2 sampai 3 kata (biasanya mama &

dada)
Bermain permainan meniru seperti pura-pura sedang nelpon
B. Tahap Kanak-Kanak Awal (Early Childhood): 2-9 tahun
Setelah usia 2 5 tahun disebut masa kanak-kanak manusia atau balita.
Pada usia ini anak sudah mampu berbicara & mengenal lingkungannya.
Setelah usia 5 tahun, anak sudah mampu bersosialisasi dan mulai
sekolah. Masa ini merupakan masa anak-anak, yaitu masa anak
mengalami perkembangan yang luar biasa. Anak dapat berbicara &
berkomunikasi dengan sesamanya. Kerja otaknya makin baik sehingga
anak mulai dapat berpikir & bersikap.
a) Anak Usia 5 Tahun
Mampu melompat dan menari
Menggambarkan orang yang terdiri dari kepala, lengan

dan badan
Dapat menghitung jari jarinya

Mendengar dan mengulang hal hal penting dan mampu

bercerita
Mempunyai minat terhadap kata-kata baru beserta artinya
Memprotes bila dilarang apa yang menjadi keinginannya
Mampu membedakan besar dan kecil
b) Anak Usia 6 Tahun
Ketangkasan meningkat
Melompat tali
Bermain sepeda
Mengetahui kanan dan kiri
Mungkin bertindak menentang dan tidak sopan
Mampu menguraikan objek-objek dengan gambar
c) Anak Usia 7 Tahun
Mulai membaca dengan lancer
Cemas terhadap kegagalan
Peningkatan minat pada bidang spiritual
Kadang Malu atau sedih
d) Anak Usia 8 9 Tahun
Kecepatan dan kehalusan aktivitas motorik meningkat
Mampu menggunakan peralatan rumah tangga
Ketrampilan lebih individual
Ingin terlibat dalam sesuatu
Menyukai kelompok dan mode
Mencari teman secara aktif.
C. Pertumbuhan Manusia Masa Remaja
Setelah mengalami masa anak-anak, manusia mengalami masa remaja.
Saat masa remaja, manusia berusia belasan tahun. Saat masa peralihan
manusia dari anak-anak menuju manusia remaja, manusia mengalami
pertumbuhan serta pekembangan penting menyangkut organ reproduksi
(alat perkembangbiakan). Masa ini sering disebut masa pubertas
manusia atau akil balig.Pada anak perempuan, pubertas berlangsung
antara usia 9 13 tahun. Di masa tersebut anak perempuan mengalami
perubahan fisik dan psikologis yang berkaitan dengan perkembangan
organ-organ reproduksinya.
a) Anak Usia 10 12 Tahun

Perubahan sifat berkaitan dengan berubahnya postur tubuh

yang berhubungan dengan pubertas mulai tampak


Mampu melakukan aktivitas rumah tangga, seperti mencuci,

menjemur pakaian sendiri , dll.


Adanya keinginan anak unuk menyenangkan dan membantu

orang lain
Mulai tertarik dengan lawan jenis.
b) Remaja awal (11-13 tahun)
Perkembangan fisik
Beberapapertumbuhan fisik yang terjadi pada periode ini adalah
pertumbuhan rambut pada beberapa area tubuh, meningkatnya
produksi dan pengeluaran keringat serta minyak pada rambut
dan kulit, kejadian ini biasa juga disebut dengan istilah tandatanda pubertas pada seseorang.
Pada remaja perempuan, payudara mulai mengalami pembesaran
serta mulai mengalami menstruasi, sedangkan pada remaja lakilaki, alat kelamin mulai mengalami pertumbuhan, mimpi basah
serta perubahan suara. Periode ini juga merupakan periode
dimana berat badan dan tinggi badan mengalami perkembangan
yang luar biasa.
Perkembangan Kognitif
Pada tahapan ini, kemampuan berfikir mulai tumbuh dan pada
umumnya sudah mulai berfikir tentang masa depan meskipun
dalam taraf terbatas dan aspek moral selalu menjadi perhatian.
Perkembangan Sosial-Emosional
Remaja pada tahapan ini mulai berusaha menunjukkan identitas
dirinya, muncul perasaan canggung saat bertemu dengan
seseorang, konflik dengan orang tua meningkat, pengaruh teman
sebaya sangat besar, memiliki perasaan bebas dan tidak mau
diatur, memiliki kecenderungan berperilaku kekanak-kanakan
khususnya jika mereka mengalami stress, sifat moodi meningkat,
ketertarikan kepada lawan jenis juga meningkat.

c) Remaja pertengahan (14-18 tahun)


Perkembangan fisik
Pertumbuhan pubertas pada tahapan ini sudah sempurna, disisi
lain pertumbuhan fisik pada perempuan mulai melambat akan
tetapi pada remaja laki-laki terus berlanjut.
Perkembangan Kognitif
Kemampuan berfikir terus meningkat, sudah mulai mampu
menetapkan sebuah tujuan, tertarik pada hal-hal yang lebih
rasional dan mulai berfikir tentang makna sebuah kehidupan
Perkembangan Sosial-Emosional
Pada periode ini, remaja mulai melibatkan diri secara intens
dalam sebuah kegiatan yang ia senangi, mengalami perubahan
dari harapan yang tinggi tetapi dengan konsep diri yang kurang.
Body Image terus berlanjut, kecenderungan untuk jauh dari
orang tua semakin meningkat dan semakin ingin bebas dari
orang tua, pengaruh teman sebaya juga masih sangat kuat, issu
popularitas bisa mejadi sangat penting dalam periode ini,
perasaan cinta dan gairah pada lawan jenis semakin meningkat.
d) Remaja akhir (19-24 tahun)
Perkembangan fisik
Pertumbuhan fisik pada remaja putri biasanya sudah mencapai
pada puncaknya atau sudah sempurna, sedangkan pada remaja
putra, masih terus berlanjut khususnya pada peningkatan berat,
tinggi, massa otot dan rambut pada tubuh.
Perkembangan Kognitif
Mereka sudah mulai memiliki kemampuan untuk memikirkan
sebuah ide mulai dari awal sampai akhir, kemampuan untuk
menunda kepuasan atau kegembiraan, mulai peduli pada masa
depan dan berpikir rasional.
Perkembangan Sosial-Emosional
Identitas diri semakin kuat, termasuk identitas seksual, stabilitas
emosi dan kepedulian terhadap orang lain semakin meningkat,
semakin mandiri, hubungan antar teman sebaya tetap menjadi

issu yang penting dan hubungan dengan lawan jenis semakin


serius
Pada anak laki-laki, pubertas berlangsung antara usia 10 14
tahun. Pada masa tersebut anak laki-laki juga mengalami
perubahan fisik. Pada masa remaja ini manusia mengalami
pertumbuhan serta perkembangan yang sangat pesat.
Ada beberapa ciri dari pubertas di masa pertumbuhan serta
perkembangan saat remaja ini. Ciri tersebut adalah:
Ciri pertumbuhan serta perkembangan fisik:
Ciri organ reproduksi primer manusia
Di masa ini, organ kelamin manusia remaja telah mampu
memproduksi sel-sel kelamin. Pada pria akan menghasilkan
sperma pada organ testis, sedangkan pada wanita biasanya akan
menghasilkan

sel

telur

pada

indung

telur

(ovarium).

Perkembangan dari organ reproduksi ini mulai berfungsi. Pada


masa manusia remaja pria, biasanya akan ditandai dengan
pertama kali mengalami mimpi basah atau proses dimana
sperma/air mani keluar di saat tidur. Sedangkan pada wanita
umumnya ditandai dengan proses menstruasi untuk yang
pertamakali.
Ciri organ reproduksi sekunder manusia
Pada masa manusia remaja pria, pubertas ini biasanya ditandai
oleh ciri-ciri dari kelamin/reproduksi sekunder seperti berikut
ini:

Munculnya jakun.
Terjadi perubahan suara yang biasanya menjadi lebih

besar serta berat.


Tumbuhnya kumis maupun jenggot.
Tumbuhnya rambut pada dada, kaki, ketiak, serta sekitar

organ kelamin.
Mulai terlihat otot-otot yang berkembang menjadi lebih
besar serta menonjol.

Bahu atau pundak melebar melebihi bagian pinggul.


Perubahan pada jaringan kulit menjadi lebih kasar serta

bagian pori-pori tampak membesar.


Munculnya jerawat pada area wajah.

Pada masa manusia masa remaja wanita, masa pubertas ini


juga ditandai oleh ciri reproduksi sekunder berikut ini:

Ukuran organ payudara mulai besar dan bagian

puting dari susu mulai timbul.


Bagian pinggul mulai melebar.
Tumbuhnya rambut di ketiak serta sekitar organ

kelamin.
Suara akan lebih nyaring.
Munculnya jerawat di area wajah

Ciri pertumbuhan serta perkembangan secara psikis


manusia:
Selain adanya perubahan yang terjadi secara fisik, pada
saat masa pubertas ini manusia remaja juga akan
mengalami perubahan secara hormonal yang bisa
mempengaruhi kondisi dari psikologis serta tingkah laku.
Ciri manusia remaja saat masa pubertas dari segi psikis
adalah:
-

Pencarian identitas diri


Dalam usaha untuk mencari identitas diri ini, manusia
masa remaja sering sekali menentang kemapanan
dikarenakan

merasa

terbelenggu

kebebasannya.

Meskipun dari cara berpikir yang belum dewasa,


perkembangan pada seorang manusia di masa remaja
ini tidak mau lagi dikatakan sebagai anak-anak.

Remaja merupakan masa dimana manusia sering


melakukan suatu hal yang sifatnya coba-coba karena
rasa keingin tahuan yang sangat besar.
Sebagai contoh yaitu seprti yang sering kita lihat di
berita tv, dimana banyak terjadi tawuran antar pelajar.
Hal ini merupakan pencarian jati diri yang salah arah
meskipun mereka tau bahwa tawuran atau berduel
tidak akan di gunakan pada saat dewasa nanti untuk
mencari pekerjaan. Semuanya hanya bersifat mencari
kebanggaan diri yang semu.
Akan tetapi ada juga yang dalam perkembangan
mencari jati diri diarahkan dengan benar, misalnya
remaja

yang

gemar

berkreativitas

baik

itu

menciptakan suatu penemuan alat sampai dengan


remaja yang gemar menulis novel sehingga bisa
-

membangun potensi mereka ke arah yang benar.


Ketertarikan pada lawan jenis
Masa remaja adalah masa perkembangan yang terjadi
pada masa manusia menuju dewasa. Pada masa ini,
seorang manusia remaja akan mulai merasakan
ketertarikan dengan lawan jenisnya. Akan tetapi perlu
dilihat kembali norma norma yang berlaku pada
masyarakat Indonesia ini agar tidak kebablasan.
Begitu juga dengan pernikahan di usia remaja tidak
diperbolehkan oleh hukum kita dikarena secara
mental psikis dianggap belum siap. Kehamilan pada
usia remaja juga bisa berpengaruh buruk, baik pada
remaja tersebut maupun pada bayi yang sedang
dikandungnya. Begitu juga dengan kemapanan dalam
mencari nafkah bagi keluarga.

D. Tahap Dewasa Awal (Young Adulthood): Usia 18 hingga 35 Tahun


Setelah akhir masa remaja, manusia mengalami masa dewasa. Pada
masa ini pertumbuhan manusia sudah sampai pada puncaknya. Pada
manusia dewasa, kerja otaknya berfungsi amat baik sehingga dapat
memutuskan & melaksanakan pilihan terbaik dalam hidupnya.
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan fisik remaja
adalah sebagai berikut:
Pengaruh keluarga
Pengaruh keluarga meliputi faktor keturunan maupun faktor
lingkungan. Karena faktor keturunan, seorang anak dapat lebih tinggi
atau panjang daripada anak lainnya, jika ayah dan ibu atau kakeknya
tinggi dan panjang. Faktor lingkungan akan membantu menentukan
tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa anak.
Pada setiap tahapan usia, lingkungan lebih banyak pengaruhnya
terhadap berat tubuh daripada tinggi tubuh.
Pengaruh gizi
Anak-anak yang memperoleh gizi yang cukup biasanya akan lebih
tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai masa remaja
dibanding dengan mereka yang memperoleh gizi buruk. Lingkungan
dapat memberikan pengaruh bagi remaja sedemikian rupa, sehingga
menghambat atau mempercepat potensi untuk pertumbuhan di masa
remaja.
Gangguan emosional
Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan mengalami
terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan, dan ini akan membawa
akibat berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar
pituitari. Bila terjadi hal demikian, pertumbuhan awal remajanya
akan terhambat dan tidak tercapai berat tubuh yang seharusnya.
Jenis kelamin
Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada anak
perempuan, kecuali pada usia antara 12 dan 15 tahun. Anak
perempuan biasanya akan sedikit lebih tinggi dan lebih berat

daripada anak laki-laki. Terjadi perbedaan berat dan tinggi tubuh ini
karena bentuk tulang dan otot pada anak laki-laki memang berbeda
dari anak perempuan.
Status sosial ekonomi
Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi rendah,
cenderung lebih kecil daripada anak yang berasal dari keluarga yang
status sosial ekonominya tinggi. Keluarga yang kaya akan dapat
memenuhi kebutuhan primer anak-anaknya. Sebaliknya, keluarga
miskin tidak akan dapat memenuhi sembilan kebutuhan primernya
secara memadai.
Kesehatan
Anak-anak sehat dan jarang sakit biasanya akan memiliki tubuh yang
lebih berat daripada anak yang sakit-sakitan. Kurangnya perawatan
kesehatan akan menyebabkan anak mudah terserang penyakit. Cara
makan yang salah dalam arti makan tanpa memerhatikan
keseimbangan gizi dan vitamin juga dapat menyebabkan tubuh
menjadi sakit.
Pengaruh bentuk tubuh
Bentuk tubuh mesamorf,

ektomorf,

atau

endomorf

akan

memengaruhi besar kecilnya tubuh anak. Misalnya, anak yang


bentuk tubuhnya mesomorf akan lebih besar daripada yang endomorf
atau eksomorf, karena memang mereka lebih gemuk dan berat.
Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap
tumbuh kembang anak, yaitu :
Faktor Genetik
Faktor Lingkungan
Faktor yang memepengaruhi anak pada waktu masih di dalam

kandungan (faktor pranatal)


Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang
anak setelah lahir (faktor postnatal)
Faktor Lingkungan Pranatal
- Gizi ibu pada waktu hamil
- Mekanis

Toksin/zat kimia
Endokrin
Radiasi
Infeksi
Stres
Imunitas

2.6 Fase Perkembangan Tumbuh Kembang Anak


A. Perkembangan Masa Anak-anak Awal
Masa anak- anak awal (p1rasekolah) berlangsung dari umur 2 tahun sampai
6 tahun, beberapa ciri perkembangan pada masa ini adalah :
Perkembangan fisik
Selama masa anak-anak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lambat di
bandingkan dengan tingkat pertumbuhan selama masa bayi. Pertumbuhan
fisik yang lambat ini berlangsung sampai mulai munculnya tanda-tanda
pubertas, yakni kira-kira 2 tahun menjelang anak matang secara seksual dan
pertumbuhan fisik kembali berkembang pesat.
Tinggi dan berat
Selama masa anak-anak awal, tinggi rata-rata anak bertumbuh 2,5
inci dan berat bertambah antara 2,5 hingga 3,5 Kg setiap tahunnya.
Pada usia 3 tahun, tinggi anak sekitar 38 inci dan beratnya sekitar
16,5 Kg. Pada usia 5 tahun, tinggi anak mencapai 43,6 inci dan

beratnya 21,5 Kg (Mussen, Conger & kagan, 1969).


Perkembangan otak
Di antara perkembangan fisik yang sangat penting selama masa
anak-anak awal ialah perkembangan otak dan sistem saraf yang
berkelanjutan. Meskipun otak terus bertumbuh pada masa awal anakanak, namun pertumbuhannya tidak sepesat pada masa bayi. Pada
saat bayi mencapai usia 2 tahun, ukuran otaknya rata-rata 75% dari
otak orang dewasa, dan pada usia 5 tahun, ukuran otaknya telah
mencapai sekitar 90% otak orang dewasa (Yeterian & Pandya, 1988).

Pertumbuhan otak selama awal masa anak-anak disebabkan oleh


pertambahan jumlah dan ukuran urat saraf yang berujung di dalam
dan di antara daerah-daerah otak. Ujung-ujung urat saraf itu terus
bertumbuh

setidak-tidaknya

hingga

masa

remaja.

Beberapa

pertambahan ukuran otak juga disebabkan oleh pertambahan


myelination, yaitu suatu proses dimana sel-sel urat saraf ditutup dan
disekat dengan suatu lapisan sel-sel lemak. Proses ini berdampak
terhadap peningkatan kecepatan informasi yang berjalan melalui

sistem urat saraf. ( Desmita, 2012 : 127-128)


Perkembangan motoric
Dengan bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur
sistem syaraf-otot (neuromuskuler) memungkinkan anak-anak usia
ini lebih lincah dan aktif bergerak. Dengan meningkatnya usia
nampak perubahan dari gerakan kasar mengarah kearah gerakan
yang lebih halus yang memerlukan kecermatan dan kontrol otot-otot
yang lebih halus serta koordinasi. Keterampilan dan koordinasi
gerakan harus dilatih dalam hal kecepatannya dan keluwesannya.
Beberapa permainan dan alat bermain yang sederhana seperti kertas
koran, kubus-kubus, bola, balok titian, tongkat dapat digunakan
untuk membantu memperkembangakan aspek motorik ini. Beberapa
keterampilan motorik yang perlu dilatih dalam hal keluwesan,
kecepatan dan ketepatannya antara lain ialah: keterampilan
koordinasi anggota gerak seperti tubuh untuk berjalan, berlari,
melompat, keterampilan tangan, jari-jemari dalam hal makan,
mandi, berpakaian, melempar, menangkap, merangkai dan lain-lain,
keterampilan kaki misalnya meniti, berjingkat, menari, menendang

dan lain-lain. ( Gunarsa, 2008 : 11).


B. Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif menurut teori Piaget

Secara garis besar, piaget mengelompokan tahap-tahap perkembangan


kognitif seorang anak menjadi empat tahap: tahap sensorimotor, tahap
praoperasi, tahap opera konkret, dan tahap operasi formal. Tahap
sensorimotor lebih ditandai dengan pemikiran anak berdasarkan tindakan
indrawinya.Tahap praoperasi diwarnai dengan mulai digunakannya simbolsimbol untuk menghadirkan suatu benda atau pemikiran, khususnya
penggunaan bahasa. Tahap operasi konkret di tandai dengan penggunaan
aturan logis yang jelas. Tahap operasi formal dicirikan dengan pemikiran
abstrak, hipotesis, deduktif, serta induktif.
Tahap-tahap diatas saling berkaitan. Urutan tahap-tahap tidak dapat ditukar
atau dibalik, karena tahap sesudahnya mengandaikan terbentuknya tahap
sebelumnya. Tetapi, tahun terbentuknya tahap tersebut dapat berubah-ubah
menurut situasi seseorang. Seseorang dapat mulai tahap operasi formal pada
umur 11 tahun, sedangkan orang lain baru mulai tahap yang sama pada umur
15 tahun. Perbedaan antara tahap sangat besar karena ada perbedaan kualitas
pemikiran yang lain. Meskipun demikian, unsur dari perkembangan
sebelumnya tetap tidak dibuang. Jadi, ada kesinambungan dari tahap ke
tahap, walaupun ada juga perbedaan yang sangat mencolok.
Tabel I, skema empat tahap perkembangan kognitif piaget
Tahap

Umur

Sensorimotor

0-2 tahun

Praoperasi

2-7 tahun

Operasi konkret

8-11 tahun

Operasi formal

11 tahun ke atas

(Suparno, : 24-25)
Persepsi visual

Ciri pokok perkembangan


Berdasarkan tindakan
Langkah demilangkah
Penggunaan simbol/bahasa tanda
Konsep intutif
Pakai aturan jelas/logis
Reversibel dan kekekalan
Hipotetis
Abstrak
Deduktif dan induktif
Logis dan probabilitas

Kematangan penglihatan juga meningkat pada usia prasekolah dan otot-otot


mata sudah berkembang di akhir usia prasekolah. Hal ini memungkinkan anak
menggerakan matanya untuk melihat sederetan huruf-huruf, memusatkan
penglihatan dan mempertahankan perhatiannya untuk jangka waktu cukup
lama.
Perkembangan Memori
Dibandingkan dengan bayi, mengukur memori anak-anak jauh lebih mudah,
karena anak-anak telah dapat memberikan reaksi secara verbal. Berikut ini
akan diuraikan beberapa komponen penting dari memori anak-anak usia pra
sekolah, terutama memori jangka pendek dan jangka panjang.

Memori jangka pendek


Dalam memori jangka pendek, individu menyimpan informasi
selama 15 hingga 30 detik, dengan asumsi tidak ada latihan atau
pengulangan. Memori jangka pendek ini sering di ukur dalam
rentang memori, yaitu jumlah item yang dapat diulang kembli
dengan tepat sesudah satu penyajian tunggal. Materi yang dipakai
merupakan rangkaian urutan yang tidak berhubungan satu sama lain
berupa angaka, huruf, atau simbol. Tes rentang memori pada
umumnya dimasukan kedalam tes intelegensi yang dibakukan itemitemnya. Dengan menggunakan tes ini, terbukti bahwa rentang
memori meningkat bersamaan dengan tumbuhnya anak menjadi

lebih besar.
Memori jangka panjang
Dalam studi yang dilakukan oleh Brown dan Scout, terlihat bahwa
anak usia 4 tahun mencapai ketepatan 75% dari waktunya dalam
merekognisi gambar-gambar yang telah diperlihatkan satu minggu
sebelumnya. Beberapa studi juga menunjukan bahwa anak-anak
memiliki memori rekognisi yang baik sekalipun telah mengalami
penundaan untuk jangka waktu yang lama. Untuk mengungkapkan

perbedaan antara memori anak-anak dengan memori orang dewasa


pada umumnya yang dilakukan adalah mengukur recall dari pada
mengukur

recognition,

sebab

recall

membutuhkan

strategi

pengulangan yang relatif aktif dan pencarian yang berlangsung terus

menurus dalam memori kita.


Perkembangan bahasa
Dalam pembahasan tentang perkembangan kognitif diatas telah
disinggung dalam fase prakonseptual, seiring dengan kemunculan
simbolis, anak-anak mengalami perkembangan bahasa yang pesat.
Perkembangan bahasa yang cepat ini dianggap sebagai hasil
perkembangan simbolisasi. Dengan demikian pada masa ini anakanak telah mengalami sejumlah nama-nama dan hubungan antara
simbol-simbol. Ia juga dapat membedakan berbagai benda
disekitarnya serta melihat hubungan fungsional antara benda-benda
tersebut.
Disamping itu pada masa ini penguasaan kosa kata anak juga
meningkat pesat. Anak menguncapkan kalimat yang makin panjang
dan makin bagus, menunjukan panjang pengucapan rata-rata anak
telah mulai menyatakan pendapatnya dengan kalimat majemuk.
Sesekali ia menggunakan kata perangkai akhirnya timbul anak
kalimat. Schaerlaekens (1977), membedakan perkembangan bahasa
pada masa awal anak-anak ini atas tiga, yaitu priode pra-lingual
(kalimat satu kata), periode lingual- awal ( kalimat dua kata) dari 1
hingga 2,5 tahun, dan periode differensiasi ( kalimat tiga kata dengan
bertambahnya diferensiasi pada kelompok kata dan kecapan verbal).

( Desmita, 2012: 134-139)


C. Perkembangan Psikososial
Disamping perkembangan fisik dan kognitif sebagaimana telah di bicarakan
di atas, masa awal anak-anak juga ditandai dengan perkembangan
psikososial yang cukup pesat. Perkembangan psikososial yang terjadi pada

masa awal anak-anak, diantaranya hubungan dengan orang lain (orang tua
& teman sebaya), bermain dan perkembangan moral.
Hubungan dengan orang tua
Sejumlah ahli mempercayai bahwa kasih sayang orang tua atau pengasuhnya
selama beberapa tahun pertama kehidupan merupakan kunci utama
perkembangan sosial anak, meningkatkan kemungkinan anak memiliki
kompetensi secara sosial dan penyesuaian diri yang baik pada tahun-tahun
prasekolah dan sesudahnya.
Salah satu aspek penting dalam hubungan orang tua dan anak adalah gaya
pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua. Studi klasik tentang hubungan
orang tua dan anak yang dilakukan oleh Diana Baumrind, 1972 ( dalam
Lerner & Hultsch, 1983) merekomendasikan tiga tipe pengasuhan yang
dikaitkan dengan aspek-aspek yang berbeda dalam tingkah laku sosial anak,
yaitu otoritatif, otoriter dan permisif. ( Desmita, 2012: 144).
Hubungan dengan teman sebaya
Salah satu fungsi terpenting teman sebaya adalah sebagai sumber informasi
dan bahan pembanding di luar lingkungan keluarga.Melalui teman anak
memperoleh umpan balik tentang kemampuan yang dimilikinya.
Bermain
Bermain merupakan hal yang essensial bagi kesehatan anak. Adapun
manfaat bermain adalah :
Meningkatkan kerjasama, tanggung jawab.
Menghilangkan ketegangan
Meningkatkan perkembangan kognitif
Meningkatkan eksplorasi
Memperluas kesempatan bagi anak untuk

mengobrol

dan

berinteraksi dengan teman sebaya.


Perkembangan Moral
Perkembangan moral adalah berkaitan dengan aturan atau konvensi tentang
apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan
orang lain. Seseorang ketika dilahirkan tidak memiliki moral, tetapi dalam
dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Karena itu,

melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain, individu belajar


memahami tentang perilaku mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan
tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.
Teori belajar sosial melihat tingkah laku moral sebagai respon atas stimulus.
Dalam hal ini, proses-proses penguatan, penghukuman, dan peniruan
digunakan untuk menjelaskan perilaku moral.Perkembangan moral pada
anak dapat berlangsung melalui beberapa cara yaitu, Pendidikan langsung,
baik oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya. Identifikasi, dengan
cara meniru tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya. Proses
coba-coba (trial dan error), yaitu mengembangkan tingkah laku moral secara
coba-coba.
D. Perkembangan Masa Pertengahan dan Akhir Anak-anak
Periode ini mulai sejak anak-anak berusia 6 tahun sampai dengan seksualnya
matang, Kematangan seksual ini sangat bervariasi baik antar jenis kelamin
maupun antar budaya yang berbeda.Masa ini disebut juga masa anak
sekolah. Anak-anak sudah lebih mandiri. Pada masa inilah anak paling peka
dan paling siap untuk belajar. Mereka haus akan pengetahuan dan ingin
selalu mengetahui dan memahami.
Pertumbuhan fisik anak tetap berlangsung, anak menjadi lebih tinggi, lebih
berat, lebih kuat, dan lebih banyak belajar berbagai keterampilan.
Proses kognitif mereka sudah lebih logis dan tidak egosentris lagi. Anak
sudah lebih mampu berfikir, belajar, mengingat, dan berkomunikasi. Mereka
juga sudah dapat memperhitungkan berbagai aspek yang ada sebelum
mengambil suatu kesimpulan.Salah satu kemampuan kognitif yang
berkembang pada saat ini adalah kemampuan melakukan konservasi (konsep
bolak-balik ; mampu memahami sesuatu ; misalnya air, banyak air akan
tetap sama, walaupun tempatnya berbeda-beda). Anak juga sudah
memperlihatkan kemajuan dalam konsep waktu, dan jarak, walaupun
pemahaman mereka mengenai angka masih terbatas.

Pada masa ini kosa kata anak sangat meningkat dan mereka dapat menguasai
tata bahasa. Mereka juga sudah dapat belajar menguasai lebih dari satu
bahasa (multilingualisme). Secara formal mereka sudah dapat diajarkan
membaca dan menulis.
Perkembangan sosial anak mulai meningkat yang ditandai dengan adanya
pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai kebutuhan ketentuan
maupun peraturan-peraturan. Selain itu hubungan-hubungan antara anak
dengan keluarga, teman sebaya dan sekolah sangat mewarnai perkembangan
sosialnya.
Perkembangan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial
dan kognitifnya. Hal ini akan membentuk persepsi anak mengenai dirinya
sendiri, dalam kompetensi sosialnya, dalam peran jenis kelaminnya, dan
dalam menegakan pendapatnya mengenai apa yang benar dan salah.
E. Permasalahan pada Perkembangan
Gangguan Perkembangan motorik
Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh hal-hal tertentu
seperti faktor keturunan dan faktor lingkungan. Faktor keturunan dimana
pada keluarganya rata-rata perkembangan motorik lambat dan faktor
lingkungan pula seperti anak tidak kesempatan untuk belajar karena terlalu
dimanjakan, selalu digendong atau diletakkan di babywalker terlalu lama
dan juga anak yang mengalami deprivasi maternal. Disamping itu, faktor
kepribadian anak misalnya anak sangat penakut, gangguan retardasi mental
juga adalah penyebab perkembangan motorik yang lambat. Selain itu,
kelainan tonus otot, obesitas, penyakit neuromuskular seperti penyakit
duchenne muscular dystrophy dan buta juga merupakan antara gangguan
perkembangan motorik (Soetjiningsih, 2002).
Gangguan Perkembangan bahasa
Gangguan perkembangan bahasa dapat diakibatkan oleh berbagai faktor
termasuk faktor genetik, gangguan pendengaran, intelegensi yang rendah,

kurang pergaulan dan kurang interaksi dengan lingkungan sekitarnya,


maturasi yang lambat, gangguan lateralisasi dan juga masalah yang dialami
oleh disleksia dan afasia.
Gagap atau strutter mungkin disebabkan oleh tekanan dari orang tua supaya
anak berbicara dengan jelas, ada juga kemungkinan disebabkan sang anak
meniru seseorang dikeluarganya yang gagap, rasa tidak aman dan juga bisa
oleh kepribadian anak. Penyebab lain yang dapat menganggu perkembangan
sang anak dalam berbicara adalah kelainan kongenital seperti bibir sumbing
atau cleft palate lip (Soetjiningsih, 2002).
Gangguan Emosi dan Perilaku
Selama tahap perkembangan, anak juga dapat mengalami berbagai gangguan yang terkait
dengan psikiatri. Kecemasan adalah salah satu gangguan yang muncul pada anak dan
memerlukan suatu intervensi khusus apabila mempengaruh interaksi
sosialdan perkembangan anak. Contoh kecemasan yang dapat dialami anak
adalah fobia sekolah, kecemasan berpisah, fobia sosial, dan kecemasan
setelah mengalami trauma.Gangguan perkembangan pervasif pada anak meliputi
autisme serta gangguan perilaku dan interaksi sosial. Menurut Widyastuti (2008)
autism

adalah

kelainan

neurobiologisyang

menunjukkan

gangguan

komunikasi, interaksi, dan perilaku. Autisme ditandaidengan terhambatnya


perkembangan bahasa, munculnya gerakan-gerakan aneh seperti berputar-putar,
melompat-lompat, atau mengamuk tanpa sebab.
Retardasi Mental
Retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh intelegensia yang
rendah (IQ< 70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk belajar
dan beradaptasi terhadap tuntunan masyarakat atas kemampuan yang
dianggap normal (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005).
Cerebral Palsy
Cerebral Palsy adalah suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak
progresif, dan disebabkan oleh karena kerusakan atau gangguan di sel-sel

motorik pada susunan saraf pusat yang sedang dalam proses pertumbuhan
(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005).
Sindrom Down
Anak dengan sindrom down adalah individu yang dapat dikenal dari
fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi akibat
jumlah kromosom 21 yang berlebihan. Perkembangan pada anak anak
dengan sindrom down biasanya lebih lambat dari anak yang normal. Anak
dengan sindrom down biasanya juga menderita kelainan seperti kelainan
jantung kongenital, hipotonia yang berat dan juga masalah biologis lainya
yang dapat berperan dalam menyebabkan keterlambatan perkembangan
motorik dan keterampilan menolong diri sendiri (Departemen Kesehatan
Republik Indonesia 2005).

2.7 Cara Penilaian atau Deteksi Tumbuh Kembang Anak


Penilaian pertumbuhan dimulai dengan cara pengukuran dan menggunakan alat
yang baku (standard) merupakan dasar utama yang harus dilakukan. Pengukuran
dengan alat memerlukan perhatian yang teliti dan rinci untuk menjamin
ketetapannya dan meminimalkan kesalahan yang terjadi. Pengukuran dilakukan
berulang dalam kurung waktu tertentu akan sangat membantu ketetapan penilaian
kecepatan tumbuh.
Ukuran Antropometrik
Terdapat parameter ukuran antropometrik yang dipakai pada penilaian pertumbuhan
fisik yaitu tinggi badan, berat badan, lingkaran kepala, lipatan kulit, lingkaran
lengan atas, panjang lengan (arm span), proposi tubih/perawakan (somato type),
panjang tungkai. Cara-cara pengukuran antropometrik secara rinci dapat dibaca di
dalam buku The Measurement of Human Growth yang ditulis oleh Noel Cameron.
Tinggi Badan

Pengukuran anak pada sampai usia 2 tahun dengan berbaring menggunakan


infantometerdeperlukan bantuan ibu untung memegang kepala anak agar alat tetap
menempel pada bun-ubun, kesulitan biasanya pada saat meluruskan tungkainya
dengan telapak kaki menempel pada pengukur, karena bayi tidak suka dipegang
agar diam beberapa waktu.
Anak diatas usia 2 tahun dengan berdiri menggunakan alat stadiometer, microtoise,
tinggi duduk. Tujuan pengukuran dalah mendapatkan catatan jarak tinggi dari
permungkaan puncak kepala hingga telapak kaki, atau hingga ujung tulang sacrum
pada tinggi duduk.
Posisi standard pada kepala secara rutin dipakai pada bidang horizontal
(FrankrutPlane) melewati bagian eksternal meatus telinga. Disarankan pada posisi
berdiri menggunakan pemberat pada kepala kurang lebih 0,5 kg., untuk menekan
rambut agar datr dan mencegah perbedaan pada pergerakan alat keatas dan kebawah
disaat mengukur. Pada posisi yang benar subyek diinstruksikan untuk menarik nafas
dalam-dalam dan berdiri tegak, untuk meluruskan terhadap kyfosis atau lordosis.
Pada saat yang sama pengukur menekn pada tulang mastoid yang menonjol untuk
menahan pada posisi saat menarik nafas dalam tadi, kemudian diinstruksikan untuk
menghembuskan nafas dan relaksasi menurunkan bahunya.
Apabila pengukuran dilapangan tidak mungkin menggunakan stadiometer yang
ditempelkan pada dinding, para pengukur antropometri dapat memilih alternatif lain
yaitu 1). Menggunakan stadiometer yang

portable; 2). Alat pengukur panjang

(infantometer) yang portable , 3). Anthropometer; 4). Alat dengan desain sendiri.
Diperlukn dua orang untuk mengukur tinggi badan, seorang mengantur posisi dan
memberi instruksi pada subyek, yang lain memegang, mencek posisi dan mengatur
alat pengukur.
Berat Bedan

Pengukaran dapat dilakukan dengan tepat menggunakan timbangan elektronik, bayi


dalam keadaan telanjang, atau pada anak dengan menggunakan baju dalam saja.
Timbangan lain yang dapat digunakan dengan tepat adalah timbanagan yang
menggunakan dacin, atau timbangan injak yang secara teratur ditera untuk menjaga
ketetapannya. Usahakan agar jarum selalu pada angka 0 setiap akan dilakukan
penimbangan.
Lingkaran Kepala
Pengukuran pada lingkaran occipitofrontal merupakan ukuran pertumbuhan kepala
dan otak. Ukuran ini penting sekali pada keadaan keterlambatan perkembangan dan
kecurigaan adanya hydrocephalus. Pengukuran dilakukan dengan mengukur
lingkaran yang terbesar.
Lingkaran Tangan
Pengukuran lingkaran tangan sama seperti posisi pada mengukur lingkaran kepala,
dari samping dengan lengan kiri menggantung bebas disampingnya. Btas
pengukuran adalah pertengahan antara acromion dan olecranon pada lengan
dibengkokkan 90 drajad.
Lingkaran Dada
Pada pengukuran lingkaran dada sangat dipengaruhi oleh tingkat pengukuran dan
status pernafasan. Pada umumnya tehnik pengukuran dilakukan dengan subyek
berdiri tegak dengan lengat diangkat dan diturunkan setelah pita pengukur diletakan
pada tempatnya.
Pita pengukur ditahan ditempat yang telah ditetapkan (melingkari puting susu pada
lingkaran dada terbesar, atau 2 ukuran diatas/dibawah payudara). Menurut Montagu
(1960) dikutip oleh Nol Cameron (1984) tinggi pengukuran pada lingkaran
melewati ketiak (axillary chest girth).

Lipatan Kulit (skinfold)


Tebal lipatan kulit untuk menilai tebalnya lemak subkutan menggunakan
Harpenden skinfold caliper yang dilakukan pada daerah biceps, triceps, subscapula,
dan daerah panggul.
Indeks Pertumbuhan Lainnya
Terdapat 2 cara untuk menentukan umur tulang yaitu pertama dengan mengunakan
Atlas of SkeletalDevelopment dari Greulich Pyle (1959), pada cara ini tiap pusat
perkembangan tulang dibandingkan dengan gambar-gambar standard untuk anak
perempuan dan laki-lakiberturutan menurut umur yang berbeda. Dengan
prbandingan epifisis pada tulang radius dengan standard dan mencatat pada usia
mana yang paling mirip, diikuti dengan episifis tulang-tulang ulna metacarpal
pertama dan selanjutnya hingga semua tulang tangan dan pergelangannya, rata-rata
umur tulang dapat dikalkulasi. Cara kedua dengan menggunakan metode Tanner
dkk (1975) yaitu membandingkan dengan skor standard menurut umur dan akan
didapatkan pembacaac yang tepat.
Status Pubertas
Penilaian pubertas dengan menggunakan kriteria menurut Tanner (1962), pada anak
laki-laki perkembangan penis, anak perempuan perkembangan payudara, rambut
pubis dan axilla untuk keduanya.
Perkembangan Gigi
Perkembangan gigi meliputi mineralisasi, erupsi, dan eksfoliasi. Perkiraan adanya
keterlambatan dalam perkembangan gigi apabila dalam usia 13 bulan (mean + 3SD)
yang disebabkan oleh hipotiroid, hipoparatiroid, keturunan, dan idiopatik.
Penilaian Pertumbuhan

Penilaian pertumbuhan merupakan komponen yang esensial dalam survailans


kesehatan dibidang pediatri karena hampir setiap masalah dalam fisiologi,
interpersonal dan sosial dapat memberikan dampak yang buruk pada pertumbuhan.
Penilaian Perkembangan
Perkembanagn anak pada fase awal dibagi menjadi 4 aspek kemampuan fungsional:

Motorik kasar
Motorik halus dan penglihatan
Berbicara, bahasa dan pendengaran
Sosial emosi dan perilaku

Adanya kekurangan pada salah satu aspek kemampuan tersebut diatas dapat
mempengaruhi aspek yang lain misalnya gangguan pendengaran dapat
mempengaruhi perkembangan sosial dan perilaku anak. Pada pertumbuhan
selanjutnya kemampuan-kemampuan seperti perhatian, kemampuan konsentrasi
dan sejauh mana kemampuan individual anak terintegrasi, menjadi sangat penting
artinya.
Kemajuan perkembangan pada anak yang ditentukan oleh pencapaian kemampuan
fungsional dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

Terdapat pola kemajuan perkembangannya yang nyata dan konsisten yang


dapat digambarakan dalam patokan kemampuan perkembangan (milestones)

berjenjang yang penting.


Kemajuan perkembangan untuk tiap kemampuan selalu dipertimbangkan

dalam jangka panjang terhadap waktu.


Terdapat skala waktu yang lebar dalam rentang yang normal.
Angka median umur untuk kemampuan menunjukan bahwa 50% populasi
standard akan mencapai tingkatan kemampuan tersebut, akan tetapi tidak
menunjukan apakah seseorang berada diluar rentang normal.

Batasan usia menunjukan bahwa suatu patokan kemampuan sudah harus


dicapai, batas ini penting untuk memonitor perkembangan, bila gagal
mencapainya memberikan petunjuk untuk segera malakukan penilaian yang
lebih rinci, pemeriksaan dan intervensi.

Penilaian untuk Diagnostik


Setelah identifikasi adanya kemungkinan masalah pada anak maka selanjutnya
dilakukan penilaian diagnostik.
Tanda-tanda adanya keterlambatan perkembangan adalah:

anak tetap mengalami kemajuan yang lambat, tetapi menyimpang dari


rentang normal menurut usianya, dan kemungkinan perkembangannya

mendatar atau mundur.


Perbedaan antara perkembangan normal dan abnormal menjadi semakin

besar dan makin jelas dengan meningkatnya usia.


Dapat dikategorisasi menjadi ringan, sedang dan berat.
Keterlambatan dapat
mengenai keterampilan

khusus

(specific

developmental) atau memepengaruhi seluruh kemampuan anak (global


developmental delay).
Pendengaran (hearing)
Pada akhir kehamilan janin dapat memberikan respon terhadap suara, saat lahir
bayipun memberikan respon terhadap suara-suara, dan kemampuan menentukan
lokasi suarapun berkembang pada tahun pertama.
Penilaian pendengaran sangat penting karena apabila terdapat ketulian yang
diberikan anak akan mengalami gangguan bicara, belajar dan kecenderungan
terjadi masalah perilaku yang disebabkan karena kesukaran berkomunikasi. Oleh
karena itu pemeriksaan pendengaran harus dilakukan pada setia anak dengan

keterlambatan atau kesukaran bicara/bahasa. Skrining pendengaran pada


neonatus secara universal telah diperkenalkan di Inggris.
Pada bayi baru lahir gangguan pendengaran dapat diidentifikasikan dengan
menggunakan auditory evoked potentials yang mendeteksi respon batang otak
terhadap suara atau auditory response cradle yang mendeteksi respon perilaku
yang bervariasi terhadap suara (kepala menoleh dan perubahan respirasi). Akhirakhir ini disebutkan adanya otoacustic emissi test untuk skrining yang konon
diakukan.
Penglihatan (Vision)
Penilaian penglihatan perlu dilakukan pada bayi baru lahir walaupun
penglihatannya masih terbatas (visus acuity sekitar 6/200), kebanyakan bayi baru
lahir dapat mengikuti secara horizontal pada hal-hal tertentu misalnya muka
orang walaupun sesaat.
Mula-mula gerakan mata tidak terarah dan kadang-kadang seperti juling apabila
bayi mencoba melihat obyek yang dekat. Pada usia 6 minggu kedua mata
bergerak bersama-bersama apabila mengikuti sumber cahaya dan tidak juling.
Ketajaman penglihatan selanjutnya berkembang hingga mencapai tingkat
ketajaman pada orang dewasa pada usia 3 tahun.
Gangguan penglihatan terdapat pada bayi apabila didapatkan hal-hal berikut ini:

Hilangnya kontak mata dengan orang tua


Tidak ada perhatian visual
Gerakan mata sewaktu-sewaktu
Pada usia 6 minggu belum dapat tersenyum terhadap seesorang
Adanya nystagmus, juling, fotofobi, hilangnya refleks kemerahan pada
catarac, dan adanya refleks putih pada pupil pada karena retinoblastoma,
catarac atau retinopati pada prematuritas.

Penilaian Psikologi
Pada penanganan kasus tumbuh kembang anak sering didapatkan gangguan
perilaku dan kesukaran belajar sebagai manifestasi gangguannya, untuk itu
diperlukan penilaian osikologi yang meliputi analisa perilaku, IQ (Inteligence
Quoetient), SQ (Social Quotient).
EQ (Emotional Quotient). Akhir-akhir ini willatts P (1998) meneliti
perkembangan kognitif pada bayi dengan menilai visual recognition memory
(VRM) dan kemampuan pemecahan masalah (means- end problem solving) yang
sudah mulai berkembang pada bayi berusia 7 dan 8 bulan dan ada korelasi
dengan IQ pada masa kanak-kanak.
2.8 Upaya untuk Meningkatkan Kualitas Tumbuh Kembang Anak

2.9 Cara Menstimulasi Proses Tumbuh kembang Anak


A. Stimulasi pada Tumbuh Kembang Anak
Stimulasi adalah perangsangan (penglihatan, bicara, pendengaran, perabaan)
yang datang dari lingkungan anak. Anak yang mendapat stimulasi yang terarah
akan lebih cepat berkembang dibandingkan anak yang kurang bahkan tidak
mendapat stimulasi.

Memberikan perhatian dan kasih sayang merupakan

stimulasi yang penting pada awal perkembangan anak, misalnya dengan


bercakap-cakap, membelai, mencium, bermain dll. Buku bacaan anak akan
menambah kemampuan berbahasa, berkomunikasi, serta menambah wawasan
terhadap lingkungannya. Bermain dan olah raga (melempar/menangkap bola,
melompat, naik sepeda dll)

baik untuk perkembangan motorik dan

pertumbuhan otot-otot tubuh.


Stimulasi merupakan upaya orang tua atau keluarga untuk mengajak anak
bermain dalam suasana penuh gembira dan kasih sayang. Aktivitas bermain dan
suasana cinta ini penting guna merangsang seluruh sistem indera, melatih

kemampuan motorik halus dan kasar, kemampuan berkomunikasi serta


perasaan dan pikiran anak. Rangsangan atau stimulasi sejak dini adalah salah
satu faktor eksternal yang sangat penting dalam menentukan kecerdasan anak.
Stimulasi merupakan faktor eksternal lain yang ikut mempengaruhi kecerdasan
seorang anak yakni kualitas asupan gizi, pola pengasuhan yang tepat dan kasih
sayangterhadap anak(Soedjatmiko,2008).
Stimulasi pada anak dapat dimulai sejak calon bayi berwujud janin, sebab janin
bukan merupakan makhluk yang pasif. Di dalam kandungan, janin sudah dapat
bernafas, menendang, menggeliat, bergerak, menelan, mengisap jempol, dan
lainnya. Sedangkan stimulasi utama diberikan khusus untuk anak usia 0 - 7
tahun (Siswono, 2004).
Demikian juga halnya dengan perkembangan motorik anak akan lebih
teroptimalkan jika lingkungan tempat tumbuh kembang anak mendukung
mereka untuk bergerak bebas. Kegiatan di luar ruangan bisa menjadi pilihan
yang terbaik karena dapat menstimulasi perkembangan otot (IDAI, 2005).
Perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu (1) system syaraf
yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi; (2) otot-otot
yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik; (3)
kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru,
seperti pada remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu
kegiatan yang sebagian anggotanya terdiri atas lawan jenis; dan (4) struktur
fisik atau tubuh yang meliputi tinggi, berat dan proporsi (Yusuf, 2002).
Dalam menstimulasi perkembangan dan pertumbuhan yang dirangsang adalah:
sensorik, motorik, kecerdasan, bahasa, emosi, kemandirian, kreativitas,
kerjasama & kepemimpinan, moral-spiritual adapun cara merangsangnya
dengan Cara: rangsang suara, musik, gerakan, perabaan, bicara, menyanyi,
bermain, memecahkan masalah, mencoret, menggambar dapat dilakukan setiap
kali interaksi dengan anak, memandikan, ganti baju, di jalan, bermain, sebelum
tidur, dll. Prisnsip dari stimulasi itu sendiri adalah: Setiap hari, setiap interaksi,
Suasana nyaman, timbulkan rasa aman, suasana bermain, gembira, kasih

sayang, tidak tergesa-gesa, tidak memaksa, beri contoh, dorong untuk mencoba,
bervariasi, sesuai dengan minat &

kemampuan, beri pujian bila berhasil,

koreksi bila belum bisa bukan hukuman.


Stimulasi pada umur 0-3 bulan
Ciptakan rasa nyaman, aman, senang
Peluk, gendong, Cium, gulingkan
Tatap mata
ajak bicara
Bunyi, suara, musik
Gantungan benda berwarna berbunyi
Gulingkan kanan-kiri, tengkurap terlentang
Meraih dan pegang mainan
Stimulasi pada umur 3-6 bulan

ciluk ba, melihat wajah dicermin


dirangsang tengkurap-terlentang,bolak balik

Stimulasi pada umur 6-9 bulan

panggil namanya, ajak bersalaman


ajak tepuk tangan, bacakan dongeng
rangsang duduk, berdiri berpegangan

Stimulasi pada umur 9 12 bulan

mengulang : mama, papa, kakak


masukkan mainan ke dalam wadah
minum dari gelas, gelindingkan bola
latih berdiri,berjalan berpegangan

Stimulasi pada umur 12-18 bulan

Mencoret-coret
Menyusun kubus, puzzle sederhana
Masuk keluarkan benda dari wadah
Main boneka, sendok, piring, gelas

Latih berjalan tanpa berpegangan


Jalan mundur, panjat tangga, tendang bola
Lepas celana, lakukan perintah sederhana
Menunjuk benda yang desebutkan
Menyebutkan nama yang ditunjuk

Stimulasi pada umur 18-24 bulan

tanya, sebut, tunjuk: bagian tubuh


Tanya + sebut nama gambar, benda
Ajak bicara tentang kegiatan sehari-hari (makan, minum, mandi, main,dll)
Gambar garis
Cuci tangan, pakai celana baju
Lempar bola, lompat

Stimulasi pada umur 2 3 tahun

Sebutkan warna yang ditunjuk


Kata sifat (besar-kecil, banyak-sedikit, tinggi- rendah, panas-dingin)
Sebutkan nama teman, saudara
Hitung jumlah benda
Pakai baju, sikat gigi,buang air di kakus
Main kartu, boneka, masak-masakan
Gambar garis, lingkaran, manusia
Berdiri 1 kaki

Stimulasi pada umur > 3 tahun

Pegang pensil dengan baik


Mengenal huruf + angka sambil bermain
Berhitung sederhana
Buang air kecil/besar di kakus
Mandiri (ditinggal di sekolah)
Berbagi dengan teman

Peran Perawat (petugas lapangan) dalam Upaya Deteksi Tumbuh Kembang Balita
Dalam upaya mewujudkan pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal,
khususnya pada masa balita, diperlukan persiapan-persiapan baik dari orangtua maupun
petugas kesehatan. Petugas kesehatan diharapkan dapat memberikan penjelasan kepada
orangtua mengenai upaya yang dapat dilakukan untuk memberikan stimulus kepada
anaknya , sehingga anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara baik. Di lapangan,
petugas yang mempunyai peran cukup penting dalam upaya tersebut adalah perawat.
Peran perawat dimulai ketika anak tersebut dalam kandungan, yaitu dengan melakukan
pemeriksaan kehamilan secara berkala dan deteksi resiko tinggi saat kehamilan, kemudian
menolong persalinan. Sesuai dengan siklus kehidupan, peran perawat pada masing-masing
tahap adalah sebagai berikut:
1. Dalam kandungan (Masa Pranatal)
Agar pada masa ini janin dapat tumbuh dan berkembang secara sehat, maka
diperlukan tindakan-tindahan sebagai berikut:
a. Memantau perubahan fisik yang normal baik dari ibu maupun janinnya. Hal ini
sesuai kewenangan perawat untuk memberikan asuhan kehamilan fisiologis
b. Deteksi awal riisiko tinggi selama kehamilan. Apabila ditemukan adanya tanda
tanda resiko tinggi maka harus segera dilakukan rujukan
c. Menganjurkan untuk memenuhi kebutuhan gizi secara baik selama hamil. Orang
tua perlu mengetahui bahwa saat hamil kebutuhan gizi meningkat karena untuk
keehatan anak dan ibu
d. Anjurkan untuk menghindari penggunaa obat bebas. Apabila ibu sakit, segera
periksa ke dokter danjangan gunakan obat obatan bebas tanpa sepengetahuan
dokter. Ada beberapa obat yang bila dinimiun selama hamil dapat menimbulkan
kecacatan atau gangguan pada janin.
e. Anjurkan untuk menghidari penyakit infeksi. Ada beberapa penyakit infeksi
yang dapat menimbulkan gangguan fisik atau mental pada janin, sehingga janin
beresiko mengalami gangguan tumbuh kembang. Kelompok penyakit tersebut
adalah TORCH yaitu Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes

f. Anjurkan untuk menghindari stress psikologis. Perasaan tertekan, tidak tenang


atau gangguan psikoogis lainnya dapat mempengaruhi perkembangan janin.
g. Memberikan stimulus pada janin yang dikandung. Dengan mengajak untuk
berkomunikasi, mendengarkan suara musik atau ceramah-ceramah agama dapat
merangsang pendengaran janin
2. Saat kelahiran ( Masa Natal)
Adanya gangguan dan penanganan persalinan yang tidak benar juga dapat
mempengaruhi tumbuh kembang anak. Sesuai dengan buku acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan dan Neonatal (2000), peran petugas pada masa persalinan
adalah memantau persalinan untuk melakukan deteksi dini terhadap adanya
komplikasi dan bersama-sama dengan keluarga memberikan bantuan serta
dukungan pada ibu bersalin baik secara fisik maupun psikologis. Untuk
meminimalkan dampak pada kelahiran bayi, hal-hal yang perlu diperhatikan
adalah :
1. Apabila ada tanda-tanda resiko tinggi pada proses kelahiran , segera lakukan
rujukan sehingga ibu dan anak dapat diselamatkan
2. Apabila saat bayi lahir mengalami gangguan , segera berikan pertolongan
pertama dan selanjutnya dirujuk
3. Apabila bayi lahir normal. Maka bayi tersebut harus dijaga kestabilan
kesehatannya. Sering karena kelalaian petugas bayi yang normal dan sehat
memburuk keadaannya.
4. Hindari untuk menunda rujukan pada kasus resiko tinggi dengan harapan dapat
menolong kelahiran anaknya sevara normal. Hal ini dapat berakibat fatal
3. Setelah kelahiran (Masa Pascanatal)
Setelah bayi lahir hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah memulihkan kondisi
ibu dan memelihara kesehatan bayi. Setelah masa-masa transisi bayi baru lahir
lewat, hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. Memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Segera setelah lahir, ASI dapat mulai
diberikan. Selain untuk memenuhi nutrisi, ASI juga merupakan upaya unutk
memberikan stimulus sensori motor
b. Memberikan stimulus untuk pertumbuhan dan perkembangan
c. Memenuhi kebutuhan dasar yang meliputi asah, asih dan asuh

d. Memnatau pertumbuhan dan perkembangan sesaui dengan Pedoman Deteksi


Tumbuh Kembang Balita

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan (growth)
merupakan peningkatan jumlah dan besar sel diseluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut
membelah diri dan menyintesis protein-protein baru. Menghasilkan penambahan jumlah
berat secara keseluruhan atau sebagian. Dan Perkembangan (development), adalah
perubahan secara berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh,
meningkat dan meluasnya kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, kematangan, atau
kedewasaan, dan pembelajaran. (wong, 2000).
3.2 Saran
Dengan makalah ini diharapkan pembaca khususnya mahasiswa keperawatan dapat
mengerti, memahami, menambah wawasan serta menerapkan ilmu yang telah diterima
tentang konsep tumbuh kembang anak.

DAFTAR PUSTAKA
Abraham, M. Rudolph.. 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph. Edisi 20. Volume 1. Jakarta:
EGC.
Ahmadi, Abu. 2005. Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Akyas Azhari. 2004. Psikologi Umum dan Perkembangan. Bandung: Teraju Mizan Publika.
Anonym. 2007. Prinsip dan Praktek Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Direktorat
PAUD.
DepKes RI & IDAI. 2005. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini
Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta : DepKes
RI&IDAI.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Moersintowati. 2010. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta: IDI.
Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta : Salemba
Medika.
Nursalam & Utami, Sri. 2008. Asuhan keperawatan bayi dan Anak (untk keperawatan dan
bidan. Jakarta: Salemba Medika.
Papalia, Diane E, Etc. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan, terjemahan
A. K. Anwar). Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Poedjiadi, A. 2006. Dasar Dasar Biokimia.Edisi Revisi. Jakarta: UI Press.
Ranuh IGN, Soeyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasamita C. 2001. Buku imunisasi di
Indonesia. Edisi ke-1. Jakarta: Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Saomah, Aas. 2004. Permasalahan-permasalahan Anak dan Upaya Penyelesaiannya.
Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
Soedjtmiko. 2008. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.
Supartini, Yupi. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.

Tony Buzan. 2005. Brain Child: Cara Pintar Membuat Anak Jadi Pintar, Terj. Marselita
Harapan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Yusuf. 2002. Psikologi Perkembangan Balita. Jakarta: EGC.