Anda di halaman 1dari 6

Hasil Terapi

Hasil yang diharapkan


Secara keseluruhan tujuan terapi hipertensi adalah untuk menurunkan terjadinya
penyakit kerusakan organ akibat hipertensi. Penurunan resiko CV adalah tujuan
utama dari terapi hipertensi dan merupakan pilihan dari terapi obat yang secara
signifikan dapat mempengaruhi penurunan resiko terjadinya CV.
Merawat pasien hipertensi untuk mendapatkan target yang diharapkan adalah tujuan
terapi pengganti. Penurunan tekanan darah sesuai yang diharapkan belum menjamin
tidak terjadinya penyakit kerusakan organ akibat hipertensi, tetapi penurunan tekanan
darah berkaitan dengan penurunan kemungkinan terjadinya penyakit kerusakan
organ. Menargetkan nilai tekanan darah adalah alat yang dipakai oleh ahli klinis
untuk mengevaluasi respon terapi. Ini adalah metode utama yang digunakan untuk
menentukan kebutuhan peningkatan dosis obat dan modifikasi cara hidup. (Dipiro,
2011)
Goal Blood Pressure Value by JNC and AHA
Goal BP Values yang direkomendasikan oleh JNC pada tahun 2003 dan AHA tahun 2007
JNC 7
AHA
Pencegahan secara umum
<140/90 mmHg
<140/90 mmHg
Pasien dengan diabetes dan
<130/80 mmHg
<130/80 mmHg
penyakit ginjal kronis

Pasien

yang

mempunyai Tidak

ada

rekomendasi <130/80 mm Hg

penyakit jantung koroner (MI, spesifik yang lebih baik.


angina stabil, angina tidak
stabil).
Penyakit

Arterosklerosis

vaskular nonkoroner (ischemic


stroke,

transient

attack,

peripheral

disease,

abdominal

ischemic
arterial
aortic

aneurysm).
Framingham risk sebesar 10%
Pasien

dengan

disfungsi Tidak

ventrikular kiri (gagal jantung)

ada

rekomendasi 120/80 mm Hg

spesifik

Gagal ginjal kronis moderate sampai severe, glomerular filtration rate (GFR) <60 mL/menit/1.73 m2
(dengan serum kreatin >1.3 mg/dL pada wanita atau >1.5 pada pria ); atau albuminuria (>300 mg/hari
atau >200 mg/g kreatin).
Sumber : Dipiro, 2011.

Hasil Terapi <140/90 mm Hg pada Sebagian Besar Pasien.


Saat melakukan evaluasi hubungan antara nilai tekanan darah dan resiko CV,
terjadi penurunan resiko CV untuk pasien dengan tekanan darah 139/83mgHg
dan penurunan resiko stroke untuk pasien dengan tekanan darah 142/80 mmHg.
Standar hasil terapi tekanan darah pasien kurang dari 140/90mmHg
direkomendasikan oleh JNC 7 dan AHA guidelines untuk sebagaian besar pasien,
dan kurang dari 130/80 mmHg direkomendasikan untuk pasien yang resikonya
lebih tinggi (diabetes, penyakit ginjal kronis, penyakit arteri koroner, stroke
iskemik) . Para ahli klinis percaya bahwa hasil terapi yang lebih rendah lebih
baik untuk pasien meskipun pasien tidak mempunyai resiko yang tadi telah

disebutkan.
Hasil terapi <130/80 mm Hg pada Penyakit Diabetes

Hasil terapi tekanan darah kurang dari 130/80 mmHg direkomendasikan untuk
pasien dengan diabetes. Sebenarnya penurunan tekanan darah kurang dari 140/90
mmHg tidak terlalu berpengaruh pada pasien diabetes, Jika ada manfaat klinis
dari penurunan tekanan darah hanya untuk mencegah terjadinya stoke. Para ahli
harus mengakui bahwa menyarankan penurunan tekanan darah kurang dari
130/80 mmHg mungkin sedikit lebih baik dari hasil standar yang kurang dari
140/90 mmHg untuk pasien dengan diabetes. (Dipiro, 2011)

Evaluasi Hasil Terapi

Pemantauan Rencana Farmakoterapi


Rutin melakukan pemantauan untuk mengetahui perkembangan penyakit, efek
terapi antihipertensi (efikasi, termasuk pencapaian tujuan BP) dan efek samping
obat yang tidak diinginkan (toksik) untuk semua pasien yang diterapi dengan obat

anti hipertensi.
Perkembangan Penyakit
Pemantauan pasien untuk tanda-tanda dan gejala dari hipertensi progresif yang
berkaitan dengan penyakit organ. Hati-hati untuk riwayat pasien sakit dada karena
iskemik atau tekanan, palpitasi, pusing, kesulitan bernafas, orthopnea, sakit
kepala, penglihatan tiba-tiba terganggu, pengucapan tidak jelas, kehilangan
keseimbangan sebaiknya diperiksa karena kemungkinan terjadi komplikasi
hipertensi dengan serebrovaskular. Pemantauan klinis lainnya pada perubahan
mata, hipertropi ventrikular kiri pada elektrokardiogram, proteinuria, dan
perubahan fungsi ginjal. Parameter ini seharusnya dipantau secara berkala karena
setiap gejala memerlukan penanganan yang cepat dan penindaklanjutan.

Efikasi
Strategi yang paling penting untuk mencegah morbiditas dan mortalitas CV pada
hipertensi adalah mengontrol tekanan darah untuk mencapai hasil terapi. Hasil
terapi tekanan darah sebaiknya selalu tercapai terutama untuk pasien usia lanjut
dan hipertensi sistolik terisolasi, tetapi pada nyatanya penurunan tekanan darah

dapat terjadi perlahan secara bertahap dalam waktu beberapa bulan untuk
menghindari terjadinya hipotensi ortostatik. Memodifikasi faktor resiko CV yang
lain (merokok, dislipidemia, dan diabetes) juga penting. Pemantauan tekanan
darah secara klinis adalah cara paling umum untuk perawatan hipertensi. Respon
tekanan darah harus dievaluasi 2 sampai 4 minggu setelah memulai atau membuat
perubahan terapi. Dengan pemakaian perantara, pemantauan BP 4 sampai 6
minggu mungkin lebih mewakili nilai tekanan darah pada keadaan steady state
(thiazide-golongan diuretik, reserpin). Sekali hasil terapi tekanan darah tercapai
termasuk tidak ada tanda atau gejala dari organ target. Pemantauan tekanan darah
dapat selesai selama 3 sampai 6 bulan. Sebagian besar evaluasi disarankan untuk
pasien dengan riwayat pemakaian obat tidak terkontrol, ketidakpatuhan,

peningkatan kerusakan organ atau gejala dari efek samping obat.


Toksisitas
Pasien harus dipantau secara rutin untuk efek samping obat yang mungkin terjadi.
Efek samping yang paling umum untuk setiap kelas antihipertensi. Pemeriksaan
laboratorium seharusnya 2 sampai 4 minggu setelah memulai obat yang baru atau
peningkatan dosis, kemudian setiap 6 sampai 12 minggu setelah stabil.
Penambahan pemantauan mungkin diperlukan untuk pasien yang mempunyai
komplikasi (diabetes, dislipidemia, gout). Pasien yang diterapi dengan antagonis
aldosteron (eplerenon atau spironolakton) harus mendapatkan potasium dan
pemeriksaan fungsi ginjal selama 3 hari dimulai dari pertama pemakaian sampai 1
minggu untuk memeriksa potensi hiperkalemia. Terjadinya efek samping obat
memerlukan penurunan dosis atau substitusi dengan golongan hipertensi lain.
(Dipiro, 2011)

Pemantauan Farmakoterapi Antihipertensi


Klasifikasi
Diuretik

Kelas
Tekanan darah; BUN/serum creatinine;

serum

electrolytes

(potassium,

magnesium, sodium); asam urat(untuk


Aldosteron

tiazid)
antagonists Blood pressure; BUN/serum

ACE inhibitors

creatinine; serum potassium


Tekanan darah; BUN/serum creatinine;

ARBs

serum potassium
Tekanan Darah; BUN/serum creatinine;

Calcium channel blockers

serum potassium
Tekanan Darah; denyut jantung

- blocker

Tekanan Darah; denyut jantung

Sumber : Dipiro, 2011

Kepatuhan
Hipertensi biasanya merupakan penyakit asimptomatik, dalam pemakaian obat
biasanya pasien kurang patuh khususunya pada pasien yang baru pertama kali
diterapi. Diperkirakan hampir 50% pasien yang baru didiagnosis hipertensi
melanjutkan terapi selama 1 tahun. Terjadi penurunan resiko CV saat pasien yang
baru didiagnosis hipertensi mengikuti terapi obat antihipertensi. identifikasi dari
ketidakpatuhan harus ditindaklanjuti dengan memberikan edukasi kepada pasien
dan konseling. Penggunaan sehari sekali lebih disukai sebagian besar pasien
untuk meningkatkan kepatuhan. Pasien dengan terapi antihipertensi harus
ditanyakan secara berkala tentang perubahan persepsi tentang kesehatan secara
umum, tingkat energi, fungsi fisik, dan kepuasan secara keseluruhan dengan
terapi obat. Perubahan gaya hidup seharusnya selalu direkomendasikan untuk

menurunkan tekanan darah.


Terapi Kombinasi
Terapi dengan kombinasi 2 obat sangat dianjurkan untuk pasien dengan hipertensi
stage 2 dan merupakan pilihan untuk terapi pasien stage 1 dimana goal terapinya

mungkin lebih sulit (tekanan darah dengan goal terapi kurang dari 130/80mmHg).
Penggunaan kombinasi obat merupakan pilihan untuk tipe pasien ini dan telah
dibuktikan dapat meningkatkan kepatuhan. Terapi kombinasi lebih diperlukan
untuk mengontrol tekanan darah pasien yang sudah menggunakan terapi obat dan
pasien yang memerlukan 2 atau lebih agen. (Dipiro, 2011)

Daftar Pustaka
Dipiro, Talbert, Yee, Matzke, Wells, Posey. 2011. Pharmacotheraphy :
Pathophysiologic Approach 8th Ed. USA : The McGraw-Hill Companies.
pp 679-682, 727-729.