Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Biografi singkat
Al-Kindi bernama lengkap Abdul Yusuf Yaqub bin Ishaq bin Ash-Shabah bin Imran
bin Ismail bin Muhammad bin al-Asyats bin Qais al-Kindi. Beliau dilahirkan di Kufah,
sekitar tahun 185 H (801 M) dari keluarga kaya dan terhormat. Ia berasal dari kabilah kindah,
termasuk kabilah terpandang di kalangan masyarakat Arab dan bermukim di daerah Yaman
dan Hijaz. Ayahnya Ishaq As-Shabbah adalah gubernur Kuffah pada masa pemerintahan alMahdi dan Harunar-Rasyid dari bani Abbas. Ayahnya meninggal beberapa tahun setelah alKindi lahir.
Al-Kindi menganut paham Mutazilah dan kemudian belajar filsafat. Selain belajar
filsafat, ia juga menekuni dan ahli dalam bidang astronomi, ilmu ukur, ilmu astrologi, ilmu
manthiq (logika), ilmu seni musik, meteorologi, optika, kedokteran, politik, dan matematika.
Penguasaannya terhadap filsafat dan disiplin ilmu lainnya telah menempatkan ia menjadi
orang Islam pertama yang berkebangsaan Arab dalam jajaran para filsuf terkemuka. Karena
itu pula, ia dinilai pantas dalam menyandang gelar Failasuf al-Arab (filsuf berkebangsaan
Arab) (Khudori, 2013).
Menurut keterangan Ibnu al-Nazim, al-Kindi mengarang lebih kurang berjumlah 241
kitab dalam berbagai disiplin ilmu. Corak filsafat al-Kindi tidak banyak diketahui karena
buku-buku mengenai filsafatnya banyak yang hilang. Baru pada zaman belakangan ini,
orang-orang menemukan kurang lebih 20 risalah al-Kindi dalam tulisan tangan. Beberapa
karya tulis di bidang filsafat antara lain: Fi al-Falsafah al-Ula, kitab al-Hassi ala Taallum
al-Falsafah, Risalat ila al-Mamun fi al-illat wa Malul, Risalat fi Talif al-Adad, kitab alFalsafah ad-Dakhilat wa al-Masail al-Mamtaiqiyyat wa al-Mutashah wa ma Fauqa alTabiyyat, Kammiyat Kutub Aristoteles. Karya tulisnya di bidang keilmuan di antaranya: Fi
asy-Syuat (bidang astronomi), Risalah fi al-Bard al-Musamma Bard al-Ajuz (bidang
meteorologi), Risalah fi Adhat al-Kalb al-Kalib (bidang kedokteran), Ikhtisar Kitab Isaghuji
li Farfuris (bidang logika), dll.

Karangan-karang

al-Kindi

mengenai

filsafat

menunjukkan

ketelitian

dan

kecermatannya dalam memberikan batsasan-batasan makna istilah-istilah yang digunakan


dalam terminologi ilmu filsafat. Ilmu-ilmu filsafat yang ia bahas mencakup epistemologi,

metafisika, etika dan sebagainya. Sebagaimana halnya para penganut Phytagoras, al-Kindi
juga mengatakan bahwa dengan matematika orang tidak bias berfilsafat dengan baik. Ia wafat
di Baghdad pada tahun 259 H/ 873 M di usia 72 tahun (Sirajuddin, 2004).
B. Aliran Mutazilah
Secara harfiah, kata Mutazilah berasal dari kata itazala yang berarti berpisah atau
memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri. Secara teknis, istilah
Mutazilah menunjuk pada dua golonga. Golongan pertama muncul sebagai respon politik
murni. Golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap
lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawan-lawannya,
terutama Muawiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Zubair. Golongan kedua muncul sebagai
respon persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Murjiah akibat
adanya peristiwa Tahkim (arbitrase) (Abdul Rozak dan Rosihon Anwar, 2001).
Al-Kindi adalah salah satu Musim yang menganut aliran ini, terutama menggunakan
corak khas pemikiran aliran ini dalam metode hermeneutiknya. Tafsir alegoris Al-Kindi
didasarkan atas prinsip-prinsip linguistik dan tata bahasa sehingga berbeda dengan model
penafsiran kaum Stoik sebelumnya. Model tafsir Al-Kindi ini lebih dekat dengan retorika
teologi Muktazilah daripada filsafat. Pada fase-fase berikutnya, dalam sejarah filsafat Islam,
penyelesaian dengan takwil ketika terjadi perbedaan antara teks agama dan pemahaman
filsafat ini diikuti oleh Ibn Rusyd.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Metafisika

Creatio Ex Nihilo
Teori penciptaan semesta mempunyai sejarah yang panjang dalam pemikiran manusia.
Para filsuf Yunani secara keseluruhan; mulai dari Plato, Aristoteles, sampai Plotinos,
berpandangan bahwa semesta tercipta dari yang ada. Sebab, bagi mereka apa yang disebut
sebagai mencipta adalah membuat sesuatu yang baru berdasarkan apa yang ada sebelumnya
(creatio ex materia), baik lewat gerakan atau emanasi. Artinya, dalam pandangan filsafat
Yunani, Tuhan bukanlah pencipta dalam makna yang sesungguhnya, melainkan hanya
sebagai penggerak atau pewujud realitas, dari alam potensialitas kepada alam aktualitas.
Konsekuensinya, alam menjadi qadim, tidak terbatas dan abadi karena gerak atau emanasi
Tuhan adalah qadim, tidak terbatas dan abadi; suatu teori penciptaan yang tidak dapat
diterima oleh kaum teolog Muslim mana pun.
Al-Kindi juga menolak teori tersebut dan sebagai gantinya memunculkan gagasan
bahwa alam tercipta dari yang tiada (creatio ex nihilo), sebagaimana yang diyakini dalam
teologi Islam. Menurutnya, semesta ini terbatas, tidak abadi, dan tercipta dari yang tiada. Ada
dua prinsip Aristoteles yang digunakan oleh Al-Kindi. Pertama, bahwa sesuatu yang tidak
terbatas tidak dapat berubah menjadi terbatas yang berwujud dalam bentuk yang aktual.
Kedua, bahwa materi, waktu, dan gerak muncul secara serentak, bersamaan. Dua prinsip ini
oleh Al-Kindi kemudian dikembangkan menjadi sembilan pernyataan:
1. Dua besaran yang sama, jika salah satunya tidak lebih besar dari yang lainnya,
berarti adalah sama
2. Jika satu besaran ditambahkan pada salah satu dari dua besaran yang sama
tersebut, keduanya menjadi tidak sama
3. Jika sebuah besaran dikurangi, sisanya adalah lebih kecil dari besaran semula
4. Jika suatu besaran diambil sebagiannya, kemudian sebagiannya tersebut
dikembalikan lagi, hasil besarannya adalah sama seperti sebelumnya
5. Besaran yang terbatas tidak dapat berubah menjadi tidak terbatas, begitu juga
sebaliknya
6. Jumlah dua besaran yang sama, jika masing-masing bersifat terbatas, adalah
terbatas
7. Besaran alam aktualitas adalah sama dengan besaran alam potensialitas
8. Dua besaran yang tidak terbatas tidak mungkin salah satunya menjadi lebih kecil
daripada lainnya
9. Apa yang dimaksud sebagai lebih besar adalah dalam hubungannya dengan bagian
yang lebih kecil, dan yang disebut sebagai lebih kecil adalah dalam hubungannya
dengan yang lebih besar

Berdasarkan atas dua prinsip dan sembilan pernyataan di atas, Al-Kindi kemudian
membuktikan kebenaran pandangannya. Pertama, jika kita menyatakan bahwa wujud aktual
dari semesta ini tidak terbatas, kita juga harus menyatakan bahwa wujud aktual dari semesta
ini juga tidak terbatas. Kedua, jika wujud semesta yang diasumsikan tidak terbatas ini kita
ambil sebagiannya, sisanya dapat berupa wujud tidak terbatas sebagaimana keseluruhannya,
atau menjadi wujud terbatas. Namun, jika dikatakan tidak terbatas, berarti ada dua hal yang
sama-sama tidak terbatas, dan itu mengimplikasikan bahwa keseluruhan adalah sama dengan
bagiannya dan itu tidak masuk akal; jika dikatakan menjadi wujud terbatas, hal itu
bertentangan dengan pernyataan bahwa yang tidak terbatas tidak mungkin melahirkan yang
terbatas. Ketika, jika sebagiannya yang diambil tadi kita dikembalikan lagi, hasilnya adalah
sebagaimana yang ada sebelumnya. Namun, ini mengimplikasikan ada sesuatu yang tidak
terbatas (keseluruhan) yang lebih besar dari sesuatu yang tidak terbatas lainnya (bagian);
sesuatu yang tidak masuk akal (Khudori, 2013).
B. Epistemologi
Meskipun telah mengadopsi ilmu-ilmu filsafat dari pemikiran tokoh filsafat Yunani, alKindi tetap mempertahankan kepribadiannya sebagai seorang Muslim sejati yang tak tergoda
dan teguh mempertahankan prinsip-prinsip dalam Islam. Al-Kindi mempunyai pandangan
tersendiri tentang pengetahuan. Menurutnya pengetahuan manusia itu pada dasarnya terbagi
menjadi tiga bagian besar, yaitu:
1. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan indera, disebut pengetahuan
inderawi.
2. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan akal, disebut pengetahuan
rasional.
3. Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan, disebut dengan pengetahuan
isyraqi atau iluminatif (Mustofa, 2004).
Pengetahuan Inderawi
Pengetahuan ini terjadi secara spontan ketika seseorang mengamati objek-objek
material melalui indera manusia. Objek yang telah ditangkap oleh indera tersebut berpindah
ke imajinasi (musyawwiroh). Setelah itu objek diteruskan ke tempat penampungan yang
disebut hafizhah (recolection). Pengetahuan yang diperoleh lewat jalan inderawi dinamis
(tidak tetap) dan akan senantiasa berubah., karena objek yang diamati pun tidak tetap, selalu

dalam keadaan menjadi, berubah setiap saat, bergerak, berlebih-kurang kuantitasnya, dan
berubah-ubah pula kualitasnya.
Pengetahuan Rasional
Pengetahuan yang diperoleh lewat jalan akal bersifat universal, tidak parsial, dan
bersifat immaterial. Objek pengetahuan rasional bukan individu, tetapi genus dan spesies.
Orang mengamati manusia berbadan tegak, dengan dua kaki, pendek, jangkung, berkulit
putih atau sawo matang, yang semua ini akan menghasilkan pengetahuan inderawi. Tetapi,
orang yang mengamati manusia menyelidiki hakikatnya sehingga sampai pada kesimpulan
bahwa manusia adalah makhluk berpikir (rational animal=hayawan nathiq), telah
memperoleh pengetahuan rasional yang abstrak universal, mencakup semua individu
manusia. Manusia yang telah di tajrid (dipisahkan) dari hal-hal inderawi tidak mempunyai
gambar terlukis dalam perasaan.
Al-Kindi memperingatkan agar orang tidak mengacaukan metode yang ditempuh untuk
memperoleh pengetahuan, karena setiap ilmu pengetahuan mempunyai metodenya sendiri
yang sesuai dengan wataknya. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan suatu metode
suatu ilmu untuk mendekati ilmu lain yang mempunyai metode tersendiri.
Pengetahuan Isyraqi
Banyak filsuf yang membatasi jalan memperoleh pengetahuan pada dua jalan di atas.
Al-Kindi, sebagaimana halnya banyak filsuf isyraqi, mengingatkan adanya jalan lain untuk
memperoleh pengetahuan, yaitu melalui jalan isyraqi (iluminasi), atau pengetahuan yang
langsung diperoleh dari pancaran Nur Ilahi. Kata kuncinya ialah kasab, yang berarti
pengetahuan yang berasal dari Tuhan secara konstan tanpa bersusah payah untuk
memperolehnya (Mustofa, 2004).

C. Filsafat Ketuhanan
Filsafat menurut Al-Kindi adalah batas mengetahui hakikat sesuatu. Tujuan filsuf dalam
teori

adalah

mengetahui

kebenaran,

dan

dalam

praktek

adalah

mengamalkan

kebenaran/kebajikan. Filsafat yang paling luhur dan mulia, menurutnya, ialah filsafat pertama
(Tuhan), yang merupakan illah atau sebab bagi setiap kebenaran atau realitas. Oleh karena
itu, tujuan filsuf yang paling sempurna dan mulia harus mampu mencapai pengetahuan yang

mulia itu. Mengetahui illah itu lebih mulia dari mengetahui mamul/akibatnya, karena kita
hanya mengetahui sesuatu dengan sempurna bila mengetahui illah-nya. Maka pengetahuan
tentang illah Pertama itu pengetahuan yang tersimpul semua aspek lain dari filsafat.
Tuhan adalah paling mulia, awal dari jenis, awal dalam tertib ilmiah, dan mendahului
zaman, karena Dia adalah illah bagi zaman. Tuhan bagi Al-Kindi adalah Al-Wahid AlHaqiqah (Esa Yang Sejati), sedang esa-esa yang lain terdapat di alam ini, adalah Al-Wahid bi
Al-Majaz (Esa Yang Relatif atau Majazy). Keesaan Tuhan tidak mengandung kejamakan,
sedangkan esa-esa yang lain tiada sunyi dari kejamakan. Apabila setiap benda mempunyai
dua hakikat, yaitu hakikat juzi yang disebut al-aniyah, dan hakikat sebagai kulliy yang
disebut al-Mahiyah, yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk genus dan spesies,
maka tidak demikian dengan Tuhan. Tuhan tidak mempunyai hakikat dalam arti aniyah atau
mahiyah. Ia tidak mempunyai aniyah karena Ia tidak tersusun dari materi (hayula) dan
bentuk (shurah). Ia tidak mempunyai mahiyah karena Ia tidak merupakan al-jins (genus) atau
al-naul (spesies) (Al-Yazijy, 1963).
D. Filsafat tentang Jiwa
Menurut Al-Kindi, jiwa itu sederhana. Tidak tersusun (basithah), mulia, sempurna, dan
penting. Jauhar (esensinya) berasal dari esensi Tuhan, seperti cahaya berasal dari matahari.
Jiwa mempunyai wujud tersendiri dan lain dari badan. Sebagai bukti ini, Al-Kindi
mengemukakan bahwa kenyataan jiwa menentang keinginan nafsu yang berorientasi
kepentingan badan. Marah mendorong manusia untuk berbuat sesuatu, maka jiwa akan
melarang dan mengontrolnya. Jika nafsu syahwat muncul ke permukaan, maka jika berpikir
bahwa ajakan syahwat itu salah dan membawa pada kerendahan, pada saat itu jiwa akan
menentang dan melarangnya (Al-Yazijy, 1963).
Kemudian menurutnya, jiwa manusia itu mempunyai tiga daya. Yang pertama ialah alquwwah al-aqliyyah (daya berpikir), al-quwwah al-gadhabiyah (daya marah), dan alquwwah al-syahwaniyah (daya syahwat). Akal terdiri dari tiga tingkat: (1) akal yang masih
bersifat potensial (al-quwwah), (2) akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual
(al-fil), (3) dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas, yakni akal kedua
(al-aql al-tsany) (Harun Nasution, 1978).

BAB III

KESIMPULAN
Metafisika: Al-Kindi kemudian membuktikan kebenaran pandangannya. Pertama, jika
kita menyatakan bahwa wujud aktual dari semesta ini tidak terbatas, kita juga harus
menyatakan bahwa wujud aktual dari semesta ini juga tidak terbatas. Kedua, jika wujud
semesta yang diasumsikan tidak terbatas ini kita ambil sebagiannya, sisanya dapat berupa
wujud tidak terbatas sebagaimana keseluruhannya, atau menjadi wujud terbatas.
Epitemologi: Pandangan Al-Kindi mengenai pengetahuan. Al-Kindi membagi
pengetahuan dasar manusia menjadi tiga bagian besar: Pengetahuan yang diperoleh dengan
mengguna-kan indera, disebut pengetahuan inderawi. Pengetahuan yang diperoleh dengan
mengguna-kan akal, disebut pengetahuan rasional. Pengetahuan yang diperoleh langsung dari
Tuhan, disebut dengan pengetahuan isyraqi atau iluminatif.
Filsafat Ketuhanan: Filsafat menurut Al-Kindi adalah batas mengetahui hakikat sesuatu.
Tujuan filsuf dalam teori adalah mengetahui kebenaran, dan dalam praktek adalah
mengamalkan kebenaran/kebajikan. Filsafat yang paling luhur dan mulia, menurutnya, ialah
filsafat pertama (Tuhan), yang merupakan illah atau sebab bagi setiap kebenaran atau realitas.
Filsafat tentang Jiwa: Menurut Al-Kindi, jiwa itu sederhana. Tidak tersusun (basithah),
mulia, sempurna, dan penting. Jauhar (esensinya) berasal dari esensi Tuhan, seperti cahaya
berasal dari matahari.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Yazijy, Kamal. Al-Nushus Al-Falsafiyah Al-Muyassarah. Beirut: Dar Al-Ilm li AlMalayin


Mustofa, Ahmad. Filsafat Islam. Bandung: Penerbit Pustaka Setia. 2004
Nasution, Harun. Filsafat Dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: NV. Bulan Bintang. 1978
Rozak, Abdul dan Rosihon Anwar. Ilmu Kalam. Bandung: Penerbit Pustaka setia. 2001
Soleh, A. Khudori. Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media. 2013
Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam: Filosof Dan Filsafatnya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
2004

PRAKATA
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat-Nya
kami dapat menyelesaikan tugas kelompok Filsafat Islam Modern-Kontemporer. Dan juga
terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah ini, karena atas pendahuluan
pembelajarannya kami mendapatkan pengetahuan dalam penulisan makalah ini.
Juga kami ucapkan terima kasih atas para pekerja perpustakaan Filsafat UGM dalam
melayani kami untuk menyelesaikan tugas kelompok ini. Dan teman-teman kelompok kami
atas kerja samanya, waktunya, dan masukan-masukan yang mendukung sehingga
terselesaikan makalah ini dengan maksimal mungkin.
Kurang lebihnya, kami meminta maaf bila kurang berkenan dalam proses pembuatan
makalah ini, atas lisan, perbuatan atau pun dalam isi makalah ini. Terimakasih.

Penulis

PEMIKIRAN Al-KINDI (801-873 M)

DISUSUN SEBAGAI TUGAS MATA KULIAH


FILSAFAT ISLAM MODERN-KONTEMPORER
Dosen Pengampu:
Dr. Hj. Widyastini, M.Hum
Disusun oleh:
Tiro Gaben (13/349528/FI/03818)
Riemas Ginong Pratidina (13/349748/FI/03832)
Cendana (12/

/FI/

Festi (12/335670/FI/03688)

FAKULTAS FILSAFAT
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2015