Anda di halaman 1dari 4

Revolusi Pengasuhan Anak

21 Desember 2014 pukul 0:35

(repost Smart Parenting : Ibu Elly Risman, M.Psi)


Ada kesadaran dasar yang menurut Elly musti dibangun tentang anak.
Pertama, anak bukan milik ayah ibunya. Dia dititipkan oleh Sang maha Pencipta, untuk jangka waktu
sesuka suka yang punya. Silahkan menikmati! Konsekuensinya, jangan sembarangan
memperlakukannya!
Kedua, sadari juga konsekuensinya: hati-hati! Jangan mendapat anak dalam keadaan bagus, namun
saat dikembalikan, pulang dalam keadaan bonyok /rusak /cedera. Semua akan ditanya oleh Pemilik
sesungguhnya! Maka, rasa sayang pun harus sekedarnya, tidak melebihi yang memilikinya.
Ketiga, oleh sebab itu, ada aturan mengasuhnya, dan hal itu menurut Elly, sudah ada dalam kitab
suci kita masing masing, sebagai panduan dari Pemiliknya! Ikuti saja itu.
Keempat, ikuti kaidah cara otak bekerja dalam mengasuh anak! Anak lelaki, sudah disiapkan secara
fisik, otak kirinya, hormonalnya, psikologinya, untuk kelak menjadi ayah. Anak wanita, dengan otak
kanannya, segenap perangkatnya, akan menjadi ibu. Maka, bersiaplah menjadi orang tua yang
lengkap! Ratusan milyar sel otak anak belum bersambung, dan pengasuhan orang tua lah yang turut
menentukan penyambungan itu.
Kelima, jadilah orang tua yang kokoh. Buatlah rumusan tujuan pengasuhan, untuk menyepakati halhal yang penting antar suami dan istri untuk menentukan hal-hal prinsip dalam pengasuhan anak.
Elly memberi contoh bagaimana ia dengan suaminya merumuskan, misalnya, kesehatan fisik, akhlak
dan kepintaran anak sebagai hal-hal penting dalam pola pengasuhan, sumber rezeki harus yang
halal dan thayyib untuk menjadi asupan anak, rezeki darimana untuk biaya sekolahnya, dan
seterusnya.
Oleh sebab itu, jika telah memiliki anak, Elly mewanti-wanti agar jangan pernah terlintas berpikir
cerai. Carilah titik temu, karena saat punya anak, itu artinya anda sudah dirahmati! tegas Elly.
Jangan sampai terjadi, anak meratapi dirinya gara-gara perceraian. Kalau tahu mau cerai, ngapain
musti kawin! Ngapain punya aku! ungkap Elly menirukan keluhan seorang anak yang ortunya
bercerai.
Setelah menyepakati itu semua, lakukan pengasuhan yang benar, yakni sesuai dengan aturan kitab
suci masing-masing, dan sesuai cara kerja otak. Otak tidak bisa menerima bentakan, maka jangan
membentak. Otak tak suka kalimat negative, maka jangan beri kalimat negative. Jelasnya, Elly
menyarankan pola BBM dalam mengasuh anak. Apa itu? Benar, Baik dan Menyenangkan,
paparnya saat ditanya Alina Mahamel. Mengapa perlu begitu? Karena jika hati senang, otak akan
bekerja lebih baik, sambung Elly lagi.

Mengapa Perlu melakukan Revolusi Pengasuhan?

Masalah ortu pun kini bertambah banyak. Kita perlu sadar bahwa masyarakat kini semakin lebih
beragam. Dari pendidikan nasional, kini masuk pula gaya pendidikan international. Perubahan begitu
cepat, serupa revolusi. Sehingga, diperlukan pula perubahan pola asuh yang revolusioner.
Contohnya, dulu tak dikenal 21st Century Skill, ungkap Elly, Kini hal-hal itu sudah dirumuskan,
tandasnya. Jadi, pola asuh yang lama tak akan mencukupi, saat berhadapan dengan hal-hal itu.
Hal-hal yang menjadi tantangan itu, dapat diringkas sebagai berikut:
Satu, Elly menegaskan bahwa demokrasi dan reformasi telah memasuki rumah-rumah kita.
Akibatnya, anak anak kini minta diberlakukan dengan bijak dan respek. Masyarakat semakin terbuka
terhadap orang-orang suku dan bangsa lain, serta nilai makin beragam dan berubah. Ini harus
diantisipasi.
Kedua, terjadi perubahan besar dalam keluarga. Keluarga besar menjadi keluarga batih atau inti
(ayah, ibu, anak). Semua ada positif dan negatifnya, namun jelas nilai berubah total. Dari nilai ayah
mencari uang dan ibu menjaga anak, kini berubah total. Anak bisa saja tinggal dengan nenek,
pembantu, keluarga tiri atau bahkan dititipkan di TPA.
Ketiga, terjadi perkembangan teknologi yang luar biasa, membuat perubahan nilai dan moral
berubah juga sangat cepat. Tak lupa Elly menyisipkan cerita yang baru dialaminya sebelum on air,
bagaimana seorang ibu menangis tersedu-sedu saat tahu tablet yang digunakan anaknya, ternyata
sudah di install rapi konten pornografi! Banyak hal yang belum pantas dilihat dan dilakukan anak,
bertebaran dengan leluasa! Anak bukan lagi korban, tapi bahkan pelaku itu sendiri.
Akibatnya, anak-anak seolah harus siap berubah terus menerus, dan siap di install dengan
kemampuan menangkal ekses buruk tehnologi. Elly mengingatkan, anak tak lagi cuma bisa dituntut,
tapi harus memiliki karakter menghadapi perubahan yang sedang dan akan terjadi.

Bagaimana Menyiapkan Potensi Internal Menghadapi Itu Semua?


Dengan kedua orang tua yang bekerja, bagaimana menyiapkan sejumlah pihak asing di rumah
agar menghadapi hal-hal di atas? Menurut Elly, idealnya kita memilih dengan cermat siapa yang
akan menjadi pengganti peran kita di rumah. Memang tidak mudah, sehingga ketika tidak didapati,
ada resiko yang kita bayarkan. Jadi, ketika melatih, katakanlah, baby sitter, anggap mereka bukan
sebagai orang bayaran kita, namun sebagai pengganti peran kita.
Diskusi berlanjut dengan menerima penelpon. Pak Sofyan dari Balikpapan bertanya perihal pola
pendidikan yang terlanjur salah dan bagaimana upaya memperbaikinya. Jawaban Elly, pak Sofyan
tidak sendiri, namun selalu ada harapan. Yang penting, saat sudah muncul kesadaran, 50%
persoalan sudah selesai.
Saran Elly, ambil kertas lalu bagi dua. Baik suami mau pun istri, tulislah hal-hal positif di sisi kanan
dan sisi negative di sisi kiri dari masing-masing anak. Jumlahkan dan dari sana kita tahu berapa
banyak hal positif dan berapa banyak hal negative. Jadi, saat tahu hal positif pada anak, cari dua hal

yang paling signifikan dan masih bisa ditingkatkan. Syukuri itu, pesan Elly. Saat melihat daftar
negative, diskusikan dengan pasangan kita mengapa segini banyak hal negatif ya?
Lebih jauh, cocokkan daftar kita dengan daftar yang dibuat oleh pasangan kita. Lalu, dalam situasi
yang enak (baca: nyaman), bahas apa yang menyebabkan hal negative itu dapat terjadi. Dari,
misalnya, 13 daftar negatif, ambil dua saja yang perlu diperbaiki dalam 3 bulan ke depan. Lalu, ajak
anak membahas daftar itu dan langkah pertama adalah ortu meminta maaf! Ya, hal ini mengingat
selama ini orang tua cenderung merasa cukup dalam memenuhi berbagai keperluan anak.
Sementara, kriteria cukup tidaknya waktu kita bagi anak, misalnya, selayaknya dilihat dari kriteria
apakah kita ada saat anak membutuhkan kita.
Lalu katakan bahwa kita bangga dengan anak kita sambil menyebutkan hal-hal positif yang ada
dalam daftar. Jadi kamu banyak positifnya, nak. Menurut kamu, mana yang perlu kamu
tingkatkan? Lebih jauh ketika ingin bicara soal hal negatif yang ingin diperbaiki, katakan, begini
sayang/cinta/nak. Kenapa papa sama mama merasa perlu perbaiki hal yang kamu anggap kurang,
ini semua, karena kamu adalah hadiah terindah dari Allah bagi kami. Nggak tahu nak, siapa yang
duluan. Ayah atau kamu, karena kita masing-masing tidak memiliki diri kita sendiri. Kamu dulu lucu
sekali. (Sambil bilang begitu, kalau perlu siapkan foto-foto masa kecilnya yang lucu-lucu itu). Kamu
sempurna, dan ayah sama ibu tak ingin kamu kelak kembali pada Allah dalam keadaan lebih buruk.
Jadi bisa nak, kita bekerja sama?
Jadi, tegas Elly, harus ada kata-kata yang terasa di hati anak. Ini hanya sedikit saja koq nak,
sambung Elly sambil menambahkan, meski sebenarnya kesalahan anak kita, besar sekali! Intinya,
sentuh hati anak kita, karena dalam pengasuhan, diperlukan adanya cinta dan kondisi jiwa kita yang
matang untuk melakukan nurturing atau pengasuhan.
Telepon selanjutnya datang dari bu Mona di Tangerang. Memiliki 3 anak, ia bertanya soal kapan
memberi peringatan dan hukuman, serta peringatan seperti apa yang perlu dilakukan terhadap
anak-anak tersebut jika bertengkar.
Elly menerangkan bahwa tadi telah diungkap soal pengasuhan haruslah BENAR, dan perlu
diterapkan dalam bentuk, ada cara bicara benar, tidak boleh keras, sesuai usia anak, tidak
kepanjangan, dan semua ada kaidahnya di kitab suci. Jelas tertulis disana, ada perintah. Kedua,
perlu disadari bahwa sewaktu kita lahir, ada ratusan milyar sel yang belum berhubungan. Mengutip
pendapat ahli, Elly mengungkapkan bahwa gizi yang baik dan rangsangan yang diterima bayi, akan
membuat pusat-pusat pendengaran, penglihatan dan pemikiran, akan saling terkoneksi sejak usia 7
tahun. Hanya saja, sambungannya belum cukup kuat. Itu sebabnya, misalnya, dalam ajaran Islam,
anak diperintah untuk sholat saat umur 7 tahun dan boleh dipukul saat usia 10 tahun belum mau
sholat.
Tapi, memukul seperti apa? Ada aturannya, ujar Elly, Antara lain hanya boleh di kaki, dan melapisi
kain pada bagian yang akan dipukul. Kepala dan wajah, tidak boleh. Ini semua, ada kaitannya
dengan menjawab pertanyaan bu Mona tadi. Jadi, saat menjawab mana yang musti dibela saat anak

bertengkar, memang tidak perlu ada yang dibela, tukas Elly, bagaimana mau membela jika
persoalannya tidak jelas? lanjutnya. Maka saran Elly, orang tua perlu membuat aturan di rumah
sejelas mungkin. Dengan anak usia 7 dan 11 tahun, orang tua perlu duduk bersama membuat
aturan, disepakati bersama, dan tentukan konsekuensinya. Konsekuensinya, belum tentu hukuman,
belum tentu pukulan. Jadi, kalau bisa ajak anak menentukan juga konsekuensinya sendiri. jadi,
mereka rela. Tentu saja, ada aturan yang bisa diatur tanpa kesepakatan bersama (bangun pagi,
bereskan tempat tidur, sholat Subuh, pergi pamit, pulang bilang, dan seterusnya).
Jadi, Elly mencontohkan saat anak berlari-lari di rumah. Maka, sesuai aturan yang sudah disepakati,
teguran bisa lebih elegan tanpa harus tarik urat. Adin, janjinya gimana nak?. Bagaimana dengan
anak yang bertengkar? Saran Elly bagi para ibu, matikan kompor, matikan HP, dudukkan kedua
anak, ujarnya. Tanyakan siapa yang memulai, minta mereka ceritakan kronologi, satu per satu. Dari
sana sebagai orang tua, kita sudah bisa menentukan siapa yang salah. Yang penting, tegas Elly,
jangan minta anak meminta maaf saat itu juga! Bagaimana mungkin meminta maaf dengan tulus,
sementara hati masih panas? Jadi, bagaimana?
Alih-alih menyalahkan, Elly menganjurkan untuk bertanya seperti ini, Jadi sekarang bagaimana
baiknya? Anak-anak dijamin akan terdiam. Lanjutkan dengan Apa yang harus dilakukan? Kalau
adek salah, adek harus apa dek? Jadi, jangan gunakan kalimat perintah, dan biarkan anak berfikir,
sambil Elly menambahkan bahwa tehnik tehnik penggunaan kalimat bertanya itu akan dibahas pada
edisi minggu yang akan datang.
Program Smart Parenting malam itu ditutup dengan pernyataan berupa summary dari Elly
Risman. Sebagai Orang tua, kita perlu bersikukuh pada pola dasar-dasar pengasuhan, bahwa anak
bukan milik kita, dan kita sudah dilengkapi dengan perlengkapan ke arah itu. Gunakan perlengkapan
itu dengan sebaik-baiknya, jika kurang tajam, maka asahlah. Ada aturan itu semua dalam kitab suci
masing-masing, maka buka dan bacalah. Cari itu karena kita harus mengasuh dengan benar, jelas
patokannya. Dan mengasuh dengan baik, yaitu mengikuti kaidah otaknya. Otak tak suka kalimat
negative, tak suka didikte, sehingga jalan fikiran otak jadi tak aktif, padahal anak kita akan hidup
dalam perubahan yang terus menerus dan harus beradaptasi untuk itu.
Jadilah orang tua yang kokoh, dan menerapkan pola pengasuhan yang benar, baik dan
menyenangkan spy menghasilkan anak-anak yang tangguh cerdas, dan serentetan harapan lainnya,
yang ujungnya adalah, BAHAGIA. Syarat utamanya? Saya dan Anda, siap berubah, tukas Elly.