Anda di halaman 1dari 71

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG PRAKTEK KERJA LAPANGAN
Mempersiapkan

Mahasiswa

sesuai

dengan Tujuan

Pendidikan

Nasional merupakan tugas dan tanggung jawab pergurungan tinggi dimana


Perguruan Tinggi sebagai salah satu lembaga pendidikan secara formal.
Sebagaimana tercantum dalam pasal 2 Peraturan Pemerintah No. Tahun 1990
yaitu menyiapkan peserta didika menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademik dan atau menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Disamping itu juga mengembangkan dan memperluas ilmu pengetahuan salah
satunya dalam bidang kesehatan serta mengupayakan penggunaannya untuk
meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.
Program

Akademik

Keperawatan

Kusuma

Husada

Surakarta

mewajibkan setiap mahasiswa untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan


yang bertujuan untuk mendidik calon-calon tenaga kesehatan yang terampil,
cakap dan profesional sesuai dengan bidang minat masing-masing.
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan
nasional yang diarahkan untuk tercapainya kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat terwujud derajat
kesehatan yang optimal.
Seperti kita ketahui bahwa pembangunan kesehatan memegang
peranan yang amat penting dalam meningkatkan kesejahteraan manusia, juga
dalam pembangunan dan sebagai sumber daya pembangunan. Derajat
kesehatan yang tinggi akan meningkatkan produktivitas dan mempertajam
daya saing bangsa dalam ketatnya persaingan dunia.
Guna terwujudnya derajat kesehatan secara optimal pada masyarakat
maka pemerintah menyelenggarakan upaya kesehatan dengan menggunakan
pendekatan pemeliharaan, peringatan kesehatan (promotif), pencegahan
penyakit

(preventif),

penyembuhan

(kuratif),

pemulihan

kesehatan

(rehabilitatif) yang diselenggarakan dengan menyeluruh, terpadu dan


berkesinambungan.
Akademi

Keperawatan

Kusuma

Husada

merupakan

lembaga

pendidikan tenaga kesehatan yang menjadi bagian integral dari pembangunan


nasional bidang kesehatan, yang diarahkan untuk mendukung upaya
pencapaian kesehatan masyarakat secara optimal. Berkaitan dengan itulah
diselenggarakan pendidikan kesehatan guna memperoleh tanaga kesehatan
bermutu yang mampu mengemban tugas untuk mewujudkan perubahan,
pertumbuhan dan pembaharuan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan
kesehatan kepada seluruh masyarakat baik pada tingkat atas maupun kalangan
bawah.
Tenaga kesehatan yang profesional sangat diperlukan, untuk itu
dibentuklah lembaga pendidikan, terutama proses belajar mengajar perlu
ditingkatkan secara terus-menerus baik kualitas maupun kuantitasnya agar
upaya yang telah dilakukan dari pengalaman kerja mahasiswa melalui
program latihan kerja yaitu Praktek Kerja Lapangan.
Diharapkan bagi mahasiswa dan mahasiswi yang telah melaksanakan
Praktek Kerja Lapangan dapat melihat, mengetahui, menerima dan meyerap
teknologi kesehatan yang berkembang pada masyarakat. Praktek Kerja
Lapangan merupakan masa orientasi bagi mahasiswa sebelum langsung
bekerja di masyarakat. Selain itu mahasiswa yang dilatih untuk bekerja sama
dengan tenaga kesehatan dan memecahkan masalah yang terjadi di lapangan,
juga untuk menerapkan pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh selama
mengikuti pendidikan.

B. SEJARAH PERKEMBANGAN
Sejarah perkembangannya konsep Puskesmas yang didirikan pada
tahun 1968 ketika dilangsungkan Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakernas)
I di Jakarta. Rakernas I membahas upaya mengorganisir sistem pelayanan
kesehatan di tanah air untuk pelayanan kesehatan tingkat pertama dirasakan
kurang menguntungkan.
Rakernas I menimbulkan gagasan untuk menyatukan semua pelayanan
kesehatan tingkat pertama didalam satu pengorganisasian. Organisasi ini
diberi nama Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang kemudian pada
Rakernas Pertama ini dibedakan menjadi empat macam yaitu Puskesmas
Tingkat

Desa,

Puskesmas

Tingkat

Kecamatan,

Puskesmas

Tingkat

Kawedanan, Puskesmas Tingkat Kabupaten.


Rakernas II dilangsungkan tahun 1969 untuk memperbaharui
pembagian Puskesmas menjadi tiga macam Puskesmas yaitu Puskesmas Type
A yaitu Puskesmas yang dipimpin oleh seorang dokter, Puskesmas Type B
yaitu Puskesmas yang dipimpin oleh seorang dokter tidak penuh dan
Puskesmas Type C yaitu Puskesmas yang dipimpin oleh tenaga paramedik.
Pada Rakernas III dilangsungkan pada tahun 1970 yang menetapkan
hanya ada satu macam Puskesmas dengan wilayah kerja Tingkat Kecamatan
atau pada suatu daerah dengan jumlah penduduk antara 30.000 sampai dengan
50.000 jiwa.
Sebelum tahun 1968 sebenarnya sudah ada balai-balai pengobatan
namun satu sama lain tidak ada kerjasama dan pelayanan belum dapat
dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Dan pada tahun 1968 pernerintah
merencanakan untuk mendirikan Pusat Kesehatan Masyarakat atau disingkat
Puskesmas yang merupakan balai pengobatan, sebagai wadah pelayanan
kesehatan untuk masyarakat khususnya golongan menengah ke bawah. Pada
waktu itu pelaksanaannya seorang perawat.
Pada tahun 1974 pemerintah meresmikan berdirinya Puskesmas
sebagai unit terdepan bagi pelayanan kesehatan masyarakat dan dibawah
3

seorang dokter. Dengan berdirinya Puskesmas Purwodiningratan ini,


diharapkan dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan sebaik-baiknya.
C. PUSKESMAS PURWODININGRATAN
1. Geografi
a. Letak Wilayah Puskesmas Purwodiningratan
Puskesmas Purwodiningratan terletak di wilayah Jebres Kota Surakarta.
dan Puskesmas Purwodiningratan merupakan Puskesmas induk ke II
setelah Puskesmas Ngoresan dan Sibela.
b. Batas Daerah Puskesmas Purwodiningratan
-

Sebelah Timur : Wilayah kerja Puskesmas Gilingan Kecamatan


Banjarsari

Sebelah Barat : Wilayah kerja Puskesmas Ngoresan Kecamatan


Jebres

Sebelah Selatan : Wilayah kerja Puskesmas Sangkrah Kecamatan


Jebres

Sebelah Utara : Wilayah kerja Puskesmas Sibela Kecamatan


Jebres

c. Wilayah Kerja Puskesmas Purwodiningratan


Luas wilayah kerja seluas 18.325 KM dan 100 % terdiri daratan.
d. Pembagian Wilayah Kerja Puskesmas
Wilayah kerja Puskesmas Purwodiningratan terdiri dari 5 Kelurahan, 45
RW dan 187 RT, antara lain:
-

Kelurahan Sudiroprajan

: 9 RW dan 35 RT

Kelurahan Gandekan

: 9 RW dan 25 RT

Kelurahan J a g a I a n

: 15 RW dan 63 RT

Kelurahan Purwodiningratan : 10 RW dan 36 RT

Kelurahan Kepatihan Wetan : 2 RW dan 18 RT

2. Fasifitas Penunjang
a. Puskesmas Pembantu (Pustu)
Puskesmas Pembantu adalah unit pelayanan kesehatan yang
sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan
kegiatan-kegiatan yang dilakukan Puskesmas dalam ruang lingkup
wilayah yang lebih kecil. Puskesmas Purwodiningratan sebagai
Puskesmas Induk mempunyai 2 Puskesmas Pembantu yaitu :
1) Puskesmas Pembantu Sorogenen di Kelurahan Jagalan
2) Puskesmas Pembantu Gandekan di Kelurahan Gandekan
b. Puskesmas Keliling (Pusling)
Puskesmas Keliling merupakan unit pelayanan keliling yang
dilengkapi dengan kendaraan roda empat maupun roda dua, peralatan
komunikasi, juga tenaga yang berasal dari Puskesmas. Puskesmas
Keliling berfungsi sebagai penunjang dan membantu melaksanakan
kegiatan-kegiatan Puskesmas dalam wilayah kerjanya yang belum
terjangkau oleh pelayanan kesehatan.
Adapun kegiatan Puskesmas Keliling adalah :
1) Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di daerah
yang tidak terjangkau oleh pelayanan Puskesmas atau Puskesmas
Pembantu dengan waktu pelayanan setiap hari sama dengan
Puskesmas induk.
2) Dapat dipergunakan sebagai alat transport penderita dalam rangka
rujukan bagi kasus darurat gawat.
3) Melakukan penyelidikan tentang kejadian luar biasa.
4) Melakukan penyuluhan kesehatan dengan menggunakan alat audio
visual.
Dan tempat kegiatan Puskesmas Keliling adalah :
1) Kelurahan Jagalan
2) Kelurahan Sudiroprajan
3) Pasar Besar
4) Kelurahan Kepatihan Wetan
5

3. Visi Puskesmas Purwodiningratan


Mewujudkan unit pelayanan kesehatan Puskesmas Purwodiningratan
dengan kualitas prima yang mampu menjadikan masyarakat sehat menuju
Solo Sehat 2010.
4. Misi Puskesmas Purwodiningratan
a. Meningkatkan sumber daya manusia dalam bidang kesehatan.
b. Memberikan pelayanan masyarakat yang bermutu dengan tenaga yang
berkualitas.
c. Menyediakan tempat pelayanan yang memadai sehingga baik pasien
maupun karyawan merasa nyaman.
d. Melengkapi kebutuhan sarana dan prasarana.
e. Menggalang kerjasama dengan lintas program dan lintas sektoral.
5. Demografi
Jumlah penduduk wilayah kerja binaan Puskesmas Purwodiningratan
sebesar 35.291 jiwa dengan perincian sebagai berikut :
Laki-laki

: 17.011

Perempuan

: 18.280

Kepadatan Penduduk : 18,169/Km2

Tabel 1
Data Penduduk Puskesmas Purwodiningratan menurut Kelompok Umur
Kal. S.
Prajan

Kal.
Gand.

Kal.
Jagal.

Kal.
Purwo.

04
59
10 14
15 19
20 24
25 29
30 39
40 49
50 59
60 +

401
396
530
650
505
501
395
573
595
133

1.729
683
975
947
990
675
680
487
839
1.610

1.641
1.557
1.488
1.471
1.493
1.442
1.391
1.003
711
220

1.282
606
523
342
506
482
509
429
388
349

255
318
343
349
320
248
468
380
295
190

5.308
3.560
3.859
3.759
3.814
3.348
3.443
2.872
2.828
2.502

Jumlah

4.679

9.165

12.417

5.416

3.164

35.291

No.

Kel. Umur

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Kal. K.
Wet.

Jumlah

Tabel 2
Data Penduduk Puskesmas Purwodiningratan menurut Mata Pencahariaan
No.

Mata
Pencahariaan

Kal. S.
Prajan

Kal.
Gand.

Kal.
Jagal.

Kal.
Purwo.

Kal. K.
Wet.

Jumlah

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pengusaha
Buruh Indust.
Buruh Bang.
Pedagang
Pengangkut
PNS/ABRI
Pensiun
Lain-lain

83
98
90
33
2
23
24
3.107

129
1.639
1.642
923
114
389
65
2.430

66
296
106
35
20
169
86
8.475

31
436
276
430
56
67
132
2.122

20
490
460
377
182
192
94
3.353

323
2.943
2.513
1.803
372
841
2.771
15.431

Jumlah

3.460

7.331

9.253

3.550

5.168

26.997

Tabel 3
Data Penduduk Puskesmas Purwodiningratan menurut Pendidikan
Kal. S.
Prajan

Kal.
Gand.

Kal.
Jagal.

Kal.
Purwo.

Tamat PT
Tamat SLTA
Tamat SLTP
Tamat SD
Tdk Tamat SD
Blm Tamat SD
Tidak Sekolah

48
122
760
1.139
1.399
352
688

512
1.625
1.593
2.375
1.233
332
796

116
1.348
3.220
5.216
339
540
138

50
616
992
1.694
244
465
145

177
607
575
701
20
480
400

903
4.318
7.140
11.128
3.235
2.169
2.167

Jumlah

4.508

8.466

10.967

4.206

2.960

310.060

No. Pendidikan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kal. K.
Wet.

Jumlah

Tabel 4
Data Sarana Pendidikan Puskesmas Purwodiningratan
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Sarana
Pendidikan

Kal. S.
Prajan

Kal.
Gand.

Kal.
Jagal.

Kal.
Purwo.

Kal. K.
Wet.

Jumlah

TK
SD
SLTP
SLTA
PT/Akademi

1
2
-

2
5
1
-

4
7
2
-

4
3
1
2
-

2
3
1
1
-

16
20
4
4
-

Jumlah

13

10

44

Tabel 5
Data Saraba Kesehatan Puskesmas Purwodiningratan
No.
1.
2.
3.
4.

Sarana
Kesehatan
dr/drg
Bidan
Perawat
RB/BP
Jumlah

Kal. S.
Prajan

Kal.
Gand.

Kal.
Jagal.

Kal.
Purwo.

Kal. K.
Wet.

Jumlah

1/-

1/-/1

1/1
-/1

1/1
3
1
1/-

-/1

3/1
6
3
2/2

1/-

1/1

1/2

6/1

-/1

14/3

Tabel 6
Data Posyandu Puskesmas Purwodiningratan
No.
1.
2.
3.
4.

Sarana
Kesehatan

Kal. S.
Prajan

Kal.
Gand.

Kal.
Jagal.

Kal.
Purwo.

Kal. K.
Wet.

Jumlah

2
3
-

2
3
2
2

2
6
4
4

1
2
3
2

2
3
1

5
16
14
9

16

44

Pratama
Madya
Purnama
Mandiri
Jumlah

Tabel 7
Data Sarana Air PDAM dan Penduduk Terlayani
SR
No.

Desa

JS

1.
2.
3.
4.
5.

S. Prajan
Gandekan
Jagalan
Purwo.
Kep. Wetan
Jumlah

HU
JS

PDDK %

Jumlah

Jumlah
pend.
%
terlayani

PDDK

417
383
495
434
336

2.550
3.519
5.812
3.341
2.071

53
37
47
61
65

12
11
15
17
8

20
110
150
170
80

3
1
1
3
3

429
394
510
451
344

2.670
3.629
5.962
3.511
2.097

56
38
48
64
66

2.065

17.239

49

63

630 13

2.128

17.869

38

Tabel 8
Data Sarana Air Bersih SPTDK dan Sumur Gali
SPTDK
No.

Desa

JS

1.
2.
3.
4.
5.

S. Prajan
Gandekan
Jagalan
Purwo.
Kep. Wetan
Jumlah

SGL
JS

Jumlah
pend.
%
terlayani

PDDK

229
325
913
239
158

1.415
3.375
4.870
1.445
716

29
35
39
26
26

128
184
374
124
63

721 15
1.656 18
1.599 12
537 9
358 11

357
509
1.187
363
221

2.136
5.033
6.449
1.982
1.074

44
52
52
36
34

1.762

11.821

33

873

4.871 14

2.637

16.674

47

Keterangan :
JS : Jenis Sarana
SR : Sambungan Rumah

PDDK %

Jumlah

HU : Hidran Umum

Tabel 9
Data Lingkungan Pemukiman Puskesmas Purwodiningratan
No.

Desa

1.
2.
3.
4.
5.

S. Prajan
Gandekan
Jagalan
Purwo.
Kep. Wetan

Jumlah
Penduduk

Jumlah

Jumlah Rumah

Kepadatan
Penduduk

4.806
9.621
12.431
5.493
3.171

929
1.376
1.887
1.208
485

2.233
2.694
2.081
1.635
1.497

35.522

5.887

10.014

Tabel 10
Cakupan Sarana Jamban yang Berfungsi per Desa
Jenis, Jumlah, Cakupan Jamban

Jmlh
pendk.

Desa

CLA
PD

JS

1876
2820
3401
2144
1001

39
29
27
39
31

101 662
285 2613
340 2961
173 707
50 384

14
27
24
13
12

35.639 1716 1242 32

949 7327

21 2689 16820 47 5334

JS
S. Prajan
Gandekan
Jagalan
Purwo.
Kep. Wetan
Jumlah

4.840
9.595
12.444
5.544
3.216

306
489
404
368
149

STNLA
PD %

Jamban Jamak
JS
PD %
447
553
631
741
317

2261
4031
3034
2685
1775

48 854
42 1327
49 1375
48 1262
55 516

Tabel 11
Jumlah dan Cakupan Sarana Pembuangan Puskesmas Purwodiningratan
No.

Desa

1.
2.
3.
4.
5.

S. Prajan
Gandekan
Jagalan
Purwo.
Kep. Wetan
Jumlah

Jumlah Rumah Jumlah Sarana Prosentase (%)


929
1.376
1.887
1.208
485

723
1.115
1.365
895
382

78
81
72
74
79

5.887

4.475

76

Jml

Tabel 12
10

Lokasi Kegiatan TTU Puskesmas Purwodiningratan


Tempat-tempat Umum
No.

Desa

1.
2.
3.
4.
5.

S. Prajan
Gandekan
Jagalan
Purwo.
Kep. Wetan

7
13
10
7
6

Jumlah

45

Tempat
Panti
Kolam
Hotel Pasar Bioskop
Stasiun Salon
Ibadah
Pijat
Renang

2
6
7
4
5

1
1
1

27

Tabel 13
Lokasi Kegiatan TPM dan TPS Puskesmas Purwodiningratan
No.

Desa

1.
2.
3.
4.
5.

TPM
Ins. mak

Ins. min

RM

PKL

J. Boga

TPS

S. Prajan
Gandekan
Jagalan
Purwo.
Kep. Wetan

3
6
7
5
3

0
1
1
0
0

4
2
2
3
5

16
3
3
21
8

0
0
0
1
1

2
2
3
2
2

Jumlah

26

16

41

11

Tabel 14
Ratio KK per Jumlah Rumah Puskesmas Purwodiningratan
Jenis Rumah
No.

Desa

1.
2.
3.
4.
5.

S. Prajan
Gandekan
Jagalan
Purwo.
Kep. Wetan
Jumlah

Permanen

Semi Per.

Tdk
Permanen

Jumlah

KK

680
652
453
436
386

95
145
394
519
212

69
119
478
201
112

44
1.410
1.325
1.216
710

1.141
2.834
2.789
1.179
790

2.807

8.425

979

5.505

8.727

Ratio

Tabel 15

11

Lembaga Kesehatan Kampung atau RW


No.
1.
2.
3.
4.
5.

Desa

Dana Sehat

UKK

S. Prajan
Gandekan
Jagalan
Purwo.
Kep. Wetan

1
3
3
3
3

1
1
1
1

Jumlah

13

D. UPAYA KESEHATAN PUSKESMAS PURWODININGRATAN


Upaya Kesehatan Wajib (Basic Six) yang harus dilaksanakan Puskesmas
Purwodiningratan meliputi :
1. Upaya Promosi Kesehatan
Penyuluhan kesehatan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari tiap-tiap program Puskesmas. Kegiatan penyuluhan kesehatan
dilakukan pada setiap kesempatan oleh petugas apakah di klinik, rumah
dan kelompok masyarakat. Di Tingkat Puskesmas tidak ada petugas
penyuluhan tersendiri, tetapi di Tingkat Kabupaten diadakan tenaga-tenaga
koordinator penyuluhan kesehatan. Koordinator membantu para petugas
Puskesmas dalam mengembangkan teknik dan materi penyuluhan di
Puskesmas.
Tujuan :
Merubah perilaku individu, kelompok dan masyarakat dalam membina dan
memelihara perilaku dan lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam
upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Sasaran :
a. Masyarakat baik di desa dan di kota
b. Masyarakat di daerah terpencil
c. Masyarakat di pemukiman baru (transmigrasi perbatasan)
d. Masyarakat di berbagai industri atau forum
e. Masyarakat yang mempunyai pengaruh pemuka masyarakat

12

f. Kelompok

yang

mempunyai

potensi

dalam

kegiatan-kegiatan

penyuluhan (PKK, KNPI, Karang Taruna dan sebagainya)


Kegiatan-kegiatan yang dilakukan :
a. Memberikan penyuluhan di ruang tunggu pasien
b. Memberikan penyuluhan dengan menggunakan kendaraan roda empat
dan pengeras suara berkeliling desa di wilayah kerja Puskesmas
c. Memberikan penyuluhan di daerah-daerah yang sulit dijangkau
kendaraan umum oleh petugas kesehatan dari Puskesmas
d. Memberikan penyuluhan-penyuluhan di Posyandu
e. Menempelkan poster-poster di tempat-tempat strategis yang berisi
pesan tentang kesehatan
f. Menyebar brosur-brosur yang berisi pesan kesehatan kepada
masyarakat.
2. Upaya Kesehatan Lingkungan
Hygiene dan sanitasi lingkungan adalah pengawasan lingkungan
fisik, biologis, sosial dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan
manusia, dimana lingkungan berguna untuk ditingkatkan dan diperbanyak,
sedang yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan.
Lingkungan yang sehat sangat penting, hal ini dibuktikan oleh
Badan Kesehatan Internasional (WHO) dimana di daerah yang
lingkungannya jelek/buruk kematiannya cukup tinggi dibandingkan
dengan yang lingkungannya bersih. Dari hal tersebut maka perlu
dilaksanakan usaha-usaha sebagai berikut :
a. Menyediakan air untuk rumah tangga yang baik, cukup kualitas
maupun kuantitas
Air merupakan kebutuhan pokok kehidupan, tanpa air tanpa
kehidupan. Manusia sebagian besar tubuhnya terdiri dari 50-70 %
berat badan adalah air. Jika menusia kehilangan air 30 % saja dari
tubuhnya akan berakibat fatal yaitu kematian. Oleh karena itu

13

persediaan air harus selalu diperhatikan dan air harus memenuhi syarat
kuantitas maupun syarat kualitas.
1) Syarat kuantitas : Jumlah air untuk rumah tangga per hari harus
cukup,

di

Indonesia

diperkirakan

100

l/hari/kapita.
2) Syarat kualitas

: Harus memenuhi syarat fisik, khemis dan


bactiorologis

b. Mengatur pembuangan sampah, kotoran dan limbah


1) Pembuangan sampah
Sampah adalah semua zat/benda yang sudah tidak dipakai lagi baik
berasal dari rumah tangga maupun sisa-sisa proses industri.
Pengaturan pembuangan sampah ini memang harus diperhatikan,
karena

dengan

pembuangan

sampah

yang

tidak

teratur

mengakibatkan :
-

Mengotori air tanah dan permukaan.

Menimbulkan bau tidak sedap

Tempat berkernbang biak lalat dan serangga lain

Mudah timbul bahaya kebakaran dan kebanjiran

Terbawa angin kemana-mana mengurangi keindahan

Agar sampah ini tidak membahayakan kesehatan manusia, maka


perlu pengaturan pembuangan, yaitu penyimpanan, pengumpulan,
pembuangan.
2) Pembuangan kotoran manusia
Syarat-syarat pembuangan kotoran manusia
-

Tidak boleh mengotori tanah permukaan

Tidak boleh menimbulkan bau

Tidak boleh mengotori air permukaan dan air tanah

Tidak boleh menjadi tempat berkembangbiak serangga

Pintu kakus membuka ke dalam

3) Pembuangan air limbah

14

Yang dimaksud air limbah adalah kotoran manusia, kotoran dari


dapur, kamar mandi, perusahaan, air hujan yang mengalir di tanah
(air yang habis digunakan untuk keperluan manusia).
Maksud pengaturan pembuangan air limbah :
-

Mencegah pengotoran sumber air rumah tangga

Menjaga makanan kita misalnya yang hidup dalam kolam


maupun sungai

Menghindari pengotoran tanah permukaan

Perlindungan air untuk tanah

Menghilangkan tempat berkembangbiakan bibit-bibit penyakit


dan bakteri penyebab penyakit

Menghilangkan adanya bau-bauan dan pemandangan yang


tidak sedap

c. Perumahan
Rumah merupakan tempat peristirahatan, maka keadaan rumah harus
sehat. Rumah yang sehat harus memenuhi syarat dibawah ini :
1) Memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikologis
2) Dapat menghindarkan terjadinya kecelakaan dan penyakit
d. Sanitasi Makanan dan Lingkungan
Untuk dapat hidup sehat, maka perlu diberikan pengarahan
terhadap pernbuatan dan penyediaan makanan dan minuman. Untuk
menghindarkan adanya hal lain tidak akan dikehendaki maka
dilakukan usaha-usaha : pendidikan kesehatan, pengawasan terhadap
pembuatan makanan dan minuman.
3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Pengertian
Upaya kesehatan ibu dan anak adalah upaya di bidang kesehatan yang
menyangkut pemeliharaan dan pelayanan ibu hamil, ibu menyusui, bayi
dan balita serta anak sekolah.
Tujuan Umum :
15

Tercapainya kemampuan hidup sehat melalui derajat kesehatan yang


optimal bagi ibu dan keluarganya menuju NKKBS.
Tujuan Khusus :
a. Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, melahirkan dan menyusui, serta
bayi, anak balita dan anak pra sekolah.
b. Memberikan nasehat tentang makanan guna mencegah gizi buruk
karena kekurangan protein dan kalori dan lain-lain kekurangan serta
bila ada pemberian makanan tambahan, vitamin dan mineral.
c. Pemberian nasehat tentang perkembang anak dan stimulasinya
d. Imunisasi TT 2 x pada ibu hamil dan BCG, DPT 3 x, Polio 4 x,
Campak 1 x dan Hepatitis B 3 x pada bayi.
e. Pelayanan keluarga berencana kepada pasangan usia subur dengan
perhatian khusus kepada mereka yang dalam keadaan bahaya karena
melahirkan anak berkali-kali dan golongan ibu berisiko tinggi.
f. Penyuluhan kesehatan meliputi berbagai aspek dalam mencapai tujuan
program KIA
g. Pengobatan bagi bayi, ibu bayi, anak balita dan anak pra sekolah untuk
macam-macarn penyakit ringan.
h. Kunjungan rumah untuk mencari ibu dan anak yang memerlukan
pemeliharaan, memberikan penerangan dan pendidikan tentang
kesehatan, dan untuk mengadakan pemantauan kepada mereka yang
lalai mengunjungi Puskesmas dan meminta mereka untuk datang ke
Puskesmas lagi.
i. Pengawasan dan bimbingan kepada Taman Kanak-kanak dan dukun
bayi.
Kegiatan yang dilakukan KIA
Usaha yang ditujukan pada ibu
Kesehatan ibu hamil perlu diperhatikan dengan tujuan supaya dapat
memantau kesehatan ibu hamil dan kenormalan janin yang dikandungnya.
Sehingga pada saat melahirkan bayi dalam keadaan yang sehat dan
selamat.
16

Usaha-usaha ibu hamil meliputi


a. Perawatan Antepartum
1) Setiap ibu hamil harus diperiksa kehamilannya sejak bulan
pertama, minimal 4 kali selama kehamilan
2) Yang diperiksa antara lain :
-

Tensi, untuk ibu hamil yang normal tidak lebih dari 150
termasuk faktor resiko tinggi.

Berat badan, yang termasuk tidak normal dari 40 kg pada


trisemester 3 atau pada kehamilan 6 - 9 bulan.

Letak bayi pada kandungan

Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui posisi bayi yang


sebenarnya. Sehingga dapat menghindari terjadinya posisi
sungsang pada waktu akan melahirkan.

Jumlah haemoglobin darah

Pada ibu hamil sering kali mengalami anemi maka penting


sekali dilakukan usaha untuk menambah darah yaitu dengan
pemberian tablet tambah darah sebanyak 90 tablet yang terdiri
dari tablet Fe I (30 tablet pada kehamilan 5 bulan), Fe II (30
tablet pada kehamilan 6 bulan), dan Fe III (30 tablet pada
kehamilan 7 bulan)

Ukuran panggul
Adapun tujuan pengukuran panggul adalah
Untuk mengukur besarnya uterus sehingga dapat diketahui
sudah berapa lama/umur kehamilan
Untuk mengetahui kenormalan kehamilan

Tetanus Toxoid (TT)


TT diberikan pada ibu hamil 2 kali yaitu TT I dan TT 2
TT ini dapat berfungsi selama 3 tahun

b. Perawatan intraportium (waktu melahirkan)


Dilakukan pertolongan persalinan diluar rumah sakit.
c. Perawatan Posiparium (setelah melahirkan)
17

1) Perneriksaan masa nifas (masa 40 hari setelah melahirkan)


2) Pemeriksaan jumlah ASI
3) Pemberian nasehat tentang merawat bayi, kapan saat menyusui
bayi, nasehat untuk menjarangkan kehamilan.
Usaha yang ditujukan pada bayi
a. Pengawasan pertumbuhan
Penimbangan tiap bulan, hasil timbangan ditulis pada KMS, jika 3
bulan berturut-turut tetap pada garis merah berarti bayi kurang gizi.
b. Pengawasan terhadap makanan gizi
c. Pemberian vaksinasi
d. Usaha ditujukan pada usia prasekojah
e. Pengawasan pertumbuhan dan perkembangannya
f. Pemberian vaksinasi ulang (revaksinasi)
g. Pendidikan sekolah melalui guru
Agar pelaksanaan program KIA dapat merata disemua lapisan
masyarakat maka di setiap desa didirikan Posyandu (Pos Pelayanan
Terpadu) yang pelaksanaannya dibantu oleh warga masyarakat setempat.
4. Upaya Keluarga Berencana (KB)
Pengertian :
Kehamilan perlu direncanakan sehingga kehamilan itu terjadi tepat pada
waktu yang diinginkan, jarak antara kelahiran diperpanjang untuk
membina kesehatan yang sebaik-baiknya bagi seluruh keluarga dan
kelahiran selanjutnya (dicegah apabila jumlah anggota keluarga telah
mencapai jumlah seperti yang dikehendaki.
Tujuan umum
Meningkatkan kesejahteraan ibu, anak serta keluarga dalam rangka
menuju NKKBS.
Tujuan Khusus :
a. Meningkatkan kesadaran penduduk untuk penggunaan alat kontrasepsi
b. Menurunkan jumlah kelahiran
18

c. Meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan cara menjarangkan


kelahiran
Manfaat Keluarga Berencana
a. Untuk ibu
1) Perbaikan kesehatan badan karena mencegah kehamilan yang
berulangkali dalam waktu yang pendek.
2) Meningkatkan kesehatan mental dan sosial sehingga memperoleh
waktu yang cukup untuk mengasuh anak, istirahat dan aktivitas
lain.
b. Untuk Anak
1) Anak yang dilahirkan dalam kondisi normal
2) Anak akan mendapatkan perhatian, pemeliharaan yang cukup
3) Perkembangan fisiknya lebih baik
4) Perkembangan mental dan sosialnya lebih sempurna
5) Kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih baik
c. Untuk Ayah
1) Memperbaiki kesehatan fisik
2) Memperbaiki kesehatan mental dan sosial
Kegiatan Keluarga Berencana :
a. Mengadakan kursus keluarga berencana untuk para ibu dan calon ibu
yang mengunjungi KIA
b. Mengadakan kursus KB kepada dukun yang kemudian akan bekerja
sebagai penggerak calon peserta KB
c. Mengadakan pembicaraan-pembicaraan tentang KB kapan saja ada
kesempatan, baik di Puskesmas maupun sewaktu mengadakan
kunjungan rumah
d. Memasang IUD, cara-cara penggunaan pil, kondom dan cara-cara lain
dengan memberi sarananya
e. Melanjutkan dan rnengamati mereka yang menggunakan sarana
pencegahan kehamilan
Alat-alat Kontrasepsi
19

Dalam pelaksanaan program KB nasional sekarang telah tersedia


cara-cara kontrasepsi sebagai berikut : pil, spiral, kondom. Di Puskesmas
Purwodiningratan bagian KB dan pil KB melayani alat-alat kontrasepsi
berupa suntik, susuk, spiral, tissue KB dan pil KB. Cara alat-alat
kontrasepsi bermacam-macam pada umumnya mempunyai fungsi :
a. Mengusahakan agar tidak terjadi evolusi
b. Melumpuhkan sperma
c. Menghalangi pertemuan antara sel telur dan sperma
Pembagian cara kontrasepsi
Pada umumnya metode kontrasepsi dapat dibagi menjadi
a. Metode sederhana
1) Tanpa alat/obat, senggama terputus dari pantang berkala
2) Dengan alat, kondom, diafragma atau kap, kream, jelly, cairan
berbusa, tablet berbusa (vagina tablet), infraveg (tissue KB).
b. Metode efektif
1) Pil KB
Adalah suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk tablet
strip yang berisi gabungan, hormon estrogen dan hormon
progesteron atau hanya terdiri hormon progesteron saja.
Jenis-jenis pil
-

Pil kombinasi isi : estrogen dan progesteron

Pil mini isi : progesteron (dosis kecil)

Morning after pil isi estrogen dosis tinggi (aetinyloestradiol 3 - 5


mg)

2) Suntikan KB
Hanya berisi hormon progesteron dosis tinggi. Pemakaian 3 bulan I
kall per injeksi. Contoh: Depoprovera 150 mg
3) Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK)
Dapat juga disebut implant adalah kontrasepsi yang disusupkan
dibawah kulit. Contoh : Norplant
4) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
20

Adalah kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim dan


bentuknya bermacam-macam. Jenis-jenis AKDR :
-

IUD Generasi I

: Bentuk spiral atau huruf s ganda

IUD Generasi II : Cu T200B, Cu 7, MiCu 250

IUD Generasi III : Cu T380A, Nava T, Medussa Passar

Faktor yang mempengaruhi keamanan pil


1) Lupa menelan
2) Gangguan saluran cerna
3) Interaksi dengan obat lain
Misalnya: Fenobarbital, Rifampicin, Fenitoun dan sebagainya.
5. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
Pengertian :
Kegiatan masyarakat untuk melembagakan, upaya perbaikan gizi dalam
keluarga di Indonesia.
Tujuan Umum :
Meningkatnya dan terbinanya keadaan gizi seluruh masyarakat.
Tujuan Khusus :
a. Timbulnya partisipasi dan pemerataan kegiatan
b. Terwujudnya perilaku yang mendukung perbaikan gizi
c. Perbaikan gizi balita
Kegiatan :
a. Mengenali penderita-penderita kekurangan gizi dan rnengobati mereka
b. Mempelajari keadaan gizi masyarakat dan mengembangkan program
perbaikan gizi
c. Memberikan

pendidikan

gizi

kepada

masyarakat

dan

secara

perseorangan kepada meraka yang membutuhkan, terutama dalam


rangka program KIA
d. Melaksanakan program perbaikan gizi keluarga
e. Memberikan makanan yang mengandung protein, kalori yang cukup
kepada anak dibawah lima tahun dan kepada ibu yang menyusui
f. Memberikan vitamin A kepada anak-anak dibawah umur 5 tahun

21

Gangguan kesehatan karena kekurangan gizi yang terpenting meliputi :


kekurangan kalori, vitamin A, iodium dan zat besi.
a. Kekurangan vitamin A
Penyebab pada balita : kurang makan sayuran dan buah-buahan yang
banyak mengandung vitamin A. Akibatnya buta senja, kebutaan,
anemia dan menurunkan daya tahan tubuh.
Cara pencegahan kekurangan vitamin A :
1) Tiap hari makan makanan yang mengandung banyak sumber
vitamin A seperti : hati, minyak ikan, lemak binatang dan buahbuahan yang berwarna merah, jingga dan kuning.
2) Setiap Pebruari dan Agustus diberi 1 kapsul vitamin A takaran
tinggi 200.000 SI pada anak 1-5 tahun.
Tujuan pencegahan untuk menurunkan angka kasus kekurangan vitamin
A. Sasaran balita sehat, balita yang terkena xerophthalmia, balita yang
sakit campak panas dan diare, ibu yang nifas.
b. Kekurangan protein
Protein banyak terdapat pada hewani dan nabati. Kebutuhan protein
setiap hari pada anak-anak 3 gr/kg berat badan dan pada dewasa 1
gr/kg berat badan.
Akibat kekurangan protein :
1) Pada orang dewasa menyebabkan Honger Oedema (busung lapar).
2) Pada anak-anak terjadi Kwasiokor.
Gejala-gejala kekurangan protein :
1) Berat badan dibawah normal.
2) Rambut merah, mudah dicabut.
3) Lemah, cengeng, apatis
4) Terjadi kelainan pada alat dalam jantung (jantung, hati, ginjal,
otak)
c. Kekurangan Iodium
Penyebabnya adalah makanan dan air yang tiap hari dikonsumsi tidak
mengandung iodium. Akibat kekurangan iodium :
22

1) Perkembangan kemampuan anak dan tingkat kecerdasan anak


terhambat
2) Pertumbuhan jasmani terhambat
3) Penderita mengalami pembesaran kelenjar gondok pada leher
4) Jika ibu kekurangan iodium dapat mengalami keguguran atau
bayinya akan mati saat melahirkan. Pencegahannya :
5) Penyuluhan penyakit gondok
6) Mengkonsumsi garam yang mengandung iodium
7) Untuk daerah gondok yang berat : anak-anak 1 - 5 tahun diberi
kapsul iodium selama 1 tahun.
d. Anemia
Adalah keadaan dimana kadar Hb tubuh rendah akibat kekurangan zat
besi yang diperlukan untuk pembentukan tubuh.
Penyebab kekurangan zat besi
1) Menu sehari-hari kurang mengandung gizi
2) Penyerapan zat besi dalam usus tidak baik
3) Infeksi parasit
4) Perdarahan akibat sering melahirkan
5) Jarak kelahiran anak terlalu dekat
6) Ibu hamil bekerja terlalu berat
Akibat kekurangan zat besi
1) Ibu tidak kuat bekerja
2) Bayi yang akan dilahirkan biasanya kecil dan lemah
3) Waktu melahirkan kemungkinan ibu anaknya dapat meninggal
Gejala kekurangan zat besi : lemah, badan lesu, cepat lelah, lidah,
bibir, kuku pucat sekali, wajah atau muka pucat, mata berkunangkunanang.
Cara pencegahan dan menanggulangi
1) Pencegahan dan penanggulangan anemia
2) Penggalakan penggunaan bahan pangan sumber zat besi
23

3) Setiap hari ibu hamil minum 1 Pil atau tablet tambah darah sampai
masa nifas
Cara pencegahan dan menanggulangi :
1) FeS04 tablet untuk ibu hamil dan menyusui
2) Vitamin A dosis tinggi untuk balita
6. Upaya Pencegahan dan pemberantasn Penyakit Menular
Kegiatan :
a. Mengumpulkan dan menganalisa data penyakit
b. Melaporkan kasus penyakit menular
c. Menyembuhkan penderita hingga ia tidak lagi menjadi sumber infeksi
d. Menyelidiki di lapangan untuk melihat benar atau tidaknya laporan
yang masuk untuk menemukan kasus-kasus baru dan untuk
mengetahui sumber penularan
e. Pemberian imunisasi
f. Pemberantasan vektor
g. Pendidikan kesehatan pada masyarakat
Beberapa penyakit menular yang menjadi perhatian untuk ditangani di
Puskesmas Purwodiningratan beberapa diantaranya adalah diare, cholera,
DHF (Dengue Haemothangie Fever), penyakit pest, polio, difteri, campak.
a. Pelaksanaan
Untuk rnengatasi penyakit tersebut, Puskesmas lebih mengutamakan
tindakan-tindakan pencegahan (preventif) dari pada pengobatan.
Beberapa usaha tersebut di antaranya
1) Diare dan Kholera
Adalah suatu penyakit usus/pecut yang menular melalui makanan,
minuman dengan gejala berak-berak terus menerus dalam waktu
singkat sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.
-

Usaha pencegahan

24

Promosi tentang teknis sanitasi pada masyarakat. Misalnya


usaha desinfeksi berupa pemberian kaporit pada sumur-sumur
masyarakat.
-

Usaha pengobatan
Dengan pemberian oralit atau tablet pencegah diare AG
pada penderita
Jika terjadi wabah, dilakukan kegiatan penyelidikan
epidemiologi yaitu terjun langsung ke lapangan. Suatu
keadaan dinyatakan wabah Jika 80 rumah dalam wilayah
satu RW positif terinfeksi.

2) DHF (Dengue Haemorhangie Fever)


Adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang
ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.. Dengan gejala-gejala
demam berkala (2-7 hari).
-

Usaha pencegahan
Mengadakan kegiatan PJB (Pemberantasan Jentik Berkala)
yang meliputi :
PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk)
Contoh : Menguras tandon air
Abatesasi (pemberian abate) dilakukan secara selektif yaitu
pada tandon air yang positif terdapat jentik-jentik nyamuk
yaitu dengan dosis : 10 1/gram dan 1 gentong/1 sendok
makan.
Fogging dengan menggunakan alat Swing Fog. Bahan-bahan
Malation dan solar 1 : 20
ICON dan solar 1 : 125, tapi jarang digunakan karenia
mahal harganya.

Usaha pengobatan
25

Pengobatan penderita dengan obat demam berdarah di


Puskesmas.
3) Penyakit Lain
Pest, polio, difteri, campak, karena jarang terjadi maka dilakukan
pencegahan melalui penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat.
7. Upaya Pengobatan
Tujuan dari kegiatan ini adalah :
a. Melaksanakan diagnosa sedini mungkin melalui :
1) Mendapatkan riwayat penyakit
2) Mengadakan pemeriksaan fisik
3) Mengadakan pemeriksaan laboratorium
4) Membuat diagnosa
b. Melaksanakan tindakan pengobatan
c. Melakukan upaya rujukan bila dipandang perlu, rujukan tersebut :
1) Rujukan diagnostik
2) Rujukan pengobatan/rehabilitasi
3) Rujukan lain
Upaya Kesehatan Pengembangan adalah upaya dilaksanakan berdasarkan
permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang
disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas Puskesmas Purwodiningratan
meliputi :
8. Usaha Kesehatan Sekolah
Pengertian :
Kesehatan sekolah adalah upaya kesehatan masyarakat yang dilaksanakan
dalam rangka pembinaan kesehatan anak usia sekolah, sesuai UndangUndang No. 14 tahun 1979 tentang kesejahteraan dinyatakan anak adalah
orang yang berusia 6-12 tahun dan belum menikah. Pembinaan kesehatan
anak dibagi atas 2 bagian dasar yaitu :

26

a. Pembinaan kesehatan bayi, balita serta anak prasekolah (kelompok 0 6 tahun)


b. Pembinaan, kesehatan anak usia sekolah (kelompok 7 - 21 tahun)
UKS merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan kemampuan
hidup sehat dan selanjutnya membentuk perilaku hidup sehat, yang
pada gilirannya menghasilkan derajat kesehatan yang optimal.
UKS mempunyai tiga kegiatan utama yang disebut TRIAS UKS
1) Pendidikan kesehatan
2) Pelayanan kesehatan
3) Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sejati
Tujuan UKS :
a. Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta
didik serta menciptakan lingkungan sehat, sehingga pertumbuhan dan
perkembangan anak yang harmonis dan optimal dalam rangka
pembentukan manusia seutuhnya.
b. Tujuan Khusus
Untuk memupuk kebiasaan hidup sehat dan mempertinggi derajat
kesehatan peserta didik yang di dalamnya mencakup :
1) Memiliki pengetahuan sikap dan ketrampilan untuk melaksanakan
prinsip hidup sehat berpartisipasi aktif dalam usaha peningkatan
kesehatan baik di sekolah dan di Perguruan Tinggi.
2) Sehat baik dalam arti fisik, mental maupun moril
3) Memiliki daya tangkal narkotik, obat-obatan, dan bahan berbabaya,
alkohol, rokok dan sebagainya.
Sasaran :
a. Sasaran pelayanan kesehatan adalah peserta didik di sekolah dasar
dengan sekolah menengah, termasuk perguruan agama, sekolah
kejuruan dan sekolah luar biasa.
b. Sasaran pembinaan
1) Pelayanan kesehatan di sekolah
27

2) Lingkungan, khususnya lingkungan sekolah dan rumah tangga


Kegiatan :
a. Membina sarana keteladanan di sekolah, berupa sarana keteladanan
gizi berupa kantin dan sarana keteladanan kebersihan lingkungan
b. Membina kebersihan perseorangan peserta didik
c. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berperan aktif dalam
pelayanan kesehatan melalui kegiatan dokter kecil
d. Penjaringan kesehatan peserta didik Kelas I
e. Pemeriksaan kesehatan periodik sekali setahun untuk Kelas II sampai
VI dan guru berupa pemeriksaan kesehatan sederhana
f. Imunisasi peserta didik Kelas I dan VI
g. Pengawasan terhadap keadaan air
h. Pengobatan ringan pertolongan pertama
i. Rujukan medik
j. Penanganan kasus anemia gizi
k. Pembinaan teknis dan pengawasan di sekolah
l. Pencatatan dan pelaporan
9. Usaha Kesehotan Olah Raga
Pengertian :
Arti sehat adalah keadaan sejahtera badan, mental, sosial yang
menungkinkan seseorang hidup produktif' sosial dan ekonomi.
Manfaat olah raga adalah
a. Memperbaiki fungsi paru-paru
b. Penurunan kolesterol, trigliserinida dan kadar gula darah penderita
diabetes mellitus maupun penurunan berat badan
c. Meningkatkan kesegaran jasmani dan rohani
Tujuan dan Sasaran :
a. Tujuan :
1) Menunjang upaya peningkatan derajat kesehatan dan kualitas hidup
melalui latihan fisik
2) Membantu peningkatan upaya olah raga produktifitas, olah raga
prestasi, olah raga masyarakat dan olah raga tradisional
28

b. Sasaran :
1) Seluruh golongan usia produktif terutama di kota besar
2) Seluruh kelompok masyarakat usia sekolah melalui upaya
pelaksanaan kurikulum dan program ekstrakurikuler
3) Seluruh

kelompok

olah

raga

masyarakat

dalam

bentuk

perkumpulan, klub dan lain-lain


4) Pusat-pusat pelayanan kesehatan kesegaran jasmani lain
5) Tenaga pemberi pelayanan dalam bidang kesehatan, baik medis
maupun non medis
6) Puskesmas sebagai ujung tombak pemberian pelayanan kesehatan
olah raga dengan seluruh sistem rujukan
7) Organisasi olah raga prestasi (KONI) dan BAPOPI
8) Golongan penderita penyakit denegratif (Radiovaskuler)
Pelayanan kesehatan olah raga :
Pelayanan kesehatan olah raga dalam bentuk sederhana diberikan di
Puskesrnas, mengingat sarana yang ada pada saat ini sangat terbatas.
Sarana pelayanan kesehatan olah raga dapat dibagi dalam dua golongan
yaitu : masyarakat umum peserta olah raga dan atlet.
10. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
Keperawatan kesehatan masyarakat merupakan sub sistem dari pelayanan
kesehatan

masyarakat.

Sasaran

kegiatan

keperawatan

kesehatan

masyarakat adalah individu, kelompok khusus serta masyarakat dalam


wilayah kerja Puskesmas.
Pengertian :
Upaya keperawatan kesehatan masyarakat adalah upaya yang merupakan
perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan
dukungan peran serta masyarakat secara aktif dan mengutamakan
pelayanan, peningkatan dan pencegahan. Secara berkesinambungan tanpa
mengakibatkan pelayanan pengobatan dan pemilihan secara menyeluruh
dan terpadu, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok serta
29

masyarakat sebagai suatu kesatuan untuk melalui proses keperawatan


untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal
sehingga mampu dalam, upaya kegiatannya.
Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara
optimal dan menyeluruh dalam memelihara kesehatan, untuk mencapai
derajat kesehatan yang optimal secara mandiri.
Tujuan Khusus
a. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit o1eh masyarakat
b. Meningkatkan kemampuan individu, keluarga, khusus dan masyarakat
untuk melaksanakan upaya keperawatan dasar dalam rangka mengatasi
masalah kesehatan Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang
memerlukan pembinaan dan asuhan keperawatan dasar. BAB III.
c. Terlayaninya kasus-kasus yang memerlukan penanganan lebih lanjut
dan asuhan keperawatan di rumah
d. Terlayaninya kasus-kasus tertentu, termasuk kelompok resiko tinggi
yang memerlukan penanganan asuhan keperawatan di Puskesmas dan
di rumah.
Ruang Lingkup :
a. Pelayanan yang diberikan kepada individu baik di Puskesmas
b. Pelayanan yang diberikan kepada keluarga
1) Keluarga dengan status sosial ekonomi
2) Keluarga yang mempunyai anggola keluarhga yang sedang sakit
3) Keluarga yang menghadapi masalah kesehatan yang dapat dibantu
oleh tenaga keperawatan
c. Pelayanan kepada kelompok khusus
1) Ibu hamil, bayi lahir, usia sekolah, usia lanjut
2) Penderita penyakit menular (TBC, lepra, penyakit kelainin) dan
penyakit lain yang tidak menular (jantung, cacat fisik)
3) Kelornpok yang mempunyai resiko terserang penyakit

30

4) Lembaga sosial, misalnya : Panti Wedra, Panti Asuhan, Pusat


Rehabilitasi dan lain-lain
d. Pelayanan pada tingkat masyarakat
Metodologis
Pelaksanaan perawatan kesehatan masyarakat menggunakan metode
pendekatan keperawatan sesuai dengan tahapnya.
a. Tahap pengkajian :
1) Pengumpulan data
2) Analisa untuk identifikasi
b. Tahap perencanaan
Langkah-langkah dalam perencanaan tujuan dan sasaran serta Rencana
Perawatan (Repra). Hal-hal yang pertu diperhatikan dalam menyusun
Repra :
1) Mencantumkan waktu dan nama/kode tenaga keperawatan yang
menyusun Repra tersebut
2) Meliputi aspek-aspek preventif, promotif, kuratif dan rehabilitasi
untuk mengatasi masalah
3) Disusun dengan pertimbangan masalah dan sumber daya
4) Memperhatikan. atau berfokus pada kepentingan penderita
c. Pelaksanaan
Pola langkah pelaksanaan petugas harus mempertimbangkan aspek
hukum dan etika dan berusaha mencegah komplikasi yang mungkin
timbul dalam asuhan keperawatan yang diberikan.
d. Penilaian
Dalam tahap ini petugas harus membuat pencatatan dan pelaporan
serta identifikasi masalah sebagai bahan pengkajian berikutnya.
11. Upaya Kesehatan Kerja
Merupakan kegiatan pokok Puskesmas yang ditujukan terutama
pada masyarakat pekerja informal di wilayah kerja Puskesmas dalam

31

rangka upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kecelakaan


yang berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan kerja.
Tujuan :
a. Tujuan Umum
Meningkatkan kemampuan tenaga kerja untuk menolong dirinya
sendiri, sehingga terjadi peningkatan status kesehatan dan akhirnya
peningkatan produktifitas kerja melalui upaya kesehatan kerja.
b. Tujuan Khusus
1) Meningkatkan

kemampuan

masyarakat

kerja

dalam

upaya

pencegahan dan pemberantasan penyakit dan kecelakaan yang


berkaitan dengan pekerjaan dan lingkungan
2) Meningkatkan pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja informal dan
keluarganya yang belum terjangkau selama ini (underserved)
3) Meningkatkan keselamatan kerja dengan mencegah penggunaan
bahan-bahan yang dapat membahayakan lingkungan kerja dan
masyarakat serta penerapan prinsip ergonomik.
Sasaran:
Diarahkan pada tenaga kerja yang mempunyai dampak besar dalam
menunjang pertumbuhan ekonomi, tetapi kurang memperoleh pelayanan
kesehatan yang memadai.
a. Identifikasi masalah
1) Pemeriksaan kasus terhadap pekerja yang datang berobat ke
Puskesmas
2) Pemeriksaan kesehatan awal dan berkala untuk para pekerja
3) Peninjauan tempat kerja untuk menentukan bahaya akibat kerja
b. Kegiatan peningkatan (promotif)
1) Perbaikan gizi
2) Perbaikan lingkungan kerja
3) Peningkatan kesejahteraan
c. Kegiatan pencegahan (preventif)
1) Penyuluhan/latihan kerja
32

2) Kegiatan ergonomik, yaitu kegiatan untuk mencapai kesesuaian


antara alat kerja agar tidak terjadi stres fisik terhadap pekerja
3) Kegiatan monitoring bahaya akibat kerja
4) Perbaikan mesin/alat kerja
5) Pemakaian alat pelindung
d. Kegiatan pengobatan
Pengobatan medis umumnya menggunakan dua pendekatan
1) Pendekatan sistem alat tubuh (organ system)
2) Pendekatan jenis pemampatan (exposure)
e. Kegiatan pemulihan
Untuk memulihkan fungsi tubuh yang cedera akibat kecelakaan
atau penyakit. Fungsi Puskesmas dalam hal ini ialah mengidentifikasi
kasus yang membutuhkan rehabilitasi dan merujuknya ke rumah sakit
atau pusat rehabilitasi untuk mendapatkan petunjuk teknis dan
melakukan hal-hal teknis yang mampu dikerjakan di Puskesmas.
f. Kegiatan rujukan
Pada dasarnya meliputi kegiatan rujukan medik dan kesehatan.
Rujukan medik adalah keperluan pengobatan dan rehabilitasi. Rujukan
kesehatan misalnya bila ada pencemaran lingkungan dapat dirujuk ke
Balai Teknis Kesehatan Lingkungan (BTKL), Pusat Laboratorium
Kesehatan, Departemen Kesehatan atau Balai Hyperkes Departemen
Tenaga Kerja.
12. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
Pengertian :
Upaya kesehatan gigi ensesial yang terbanyak dibutuhkan oleh masyarakat
meliputi upaya peningkatan, pencegahan yang dilakukan kepada Individu,
keluarga dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas dengan prioritas
masyarakat berpenghasilan rendah, khususnya yang rawan terhadap
penyakit gigi dan mulut.
33

Tujuan :
a. Tujuan umum
Tercapainya derajat kesehatan gigi masyarakat yang optimal.
b. Tujuan khusus
1) Terhindamya/berkurangnya gangguan fungsi kunyah.
2) Meningkatkan kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat dalam
kemampuan pemeliharaan dirl di bidang kesehatan gigi dan mulut,
serta mencari pengobalan sedini mungkin.
3) Menurunkan prevalensi penyakit gigi dan mulut yang banyak
diderita masyarakat (karries dan paridan tities)
c. Kegiatan :
1) Pembinaan/pengembangan
2) Pelayanan asuhan pada kelompok rawan
3) Pelayanan medik dasar gigi
d. Sasaran :
1) Membina peran serta masyarakat dalam pemeliharaan dini
2) Peran serta masyarakat dalam penyuluhan pengobatan sederhana,
rujukan mencakup 20 % penduduk desa binaan.
3) Frekuensi pembinaan petugas kesehatan di desa dilaksanakan
minimal 3 x dalam setahun
4) Upaya

peningkatan/pencegahan

pada

anak

sekolah/kegiatan

menyikat gigi.
5) Upaya. pelayanan pengobatan komperhensif pada anak sekolah
mencakup 80 % dari murid kelas selektif yang memerlukan
perawatan.
6) Upaya pelayanan pengobatan mencakup 4 % dari penduduk
wilayah.Puskesmas.
7) Frekuensi pembinaan petugas kesehatan dalam bidang kesehatan
gigl dan mulut ke SD dilaksanakan minimal 2 x pertahun per SD.
13. Upaya Kesehatan Jiwa
34

Pengertian :
Adalah Upaya Kesehatan jiwa yang dilaksanakan di Tingkat Puskesmas
secara khusus atau terintegrasi dengan kegiatan pokok. Puskesmas lainnya,
yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan Puskesmas dengan dukungan
peran serta masyarakat baik didalam maupun di luar gedung Puskesmas,
yang ditujukan pada individu, keluarga, masyarakat dan diutamakan pada
masyarakat yang berpengahsilan rendah, khususnya kelompok rawan
tanpa mengabaikan kelompok lainnya dengan menggunakan teknologi
tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat
setempat. Kegiatan ini dilaksanakan melalui :
a. Pengenalan diri ganguan jiwa (early detection)
b. Memberikan upaya pertolongan pertama pada pasien-pasien dengan
gangguan jiwa (primary trestment)
c. Kegiatan rujukan yang memadai (adegvarte refferral)
Tujuan :
Tercapainya derajat kesehatan jiwa yang optimal seluruh masyarakat.
Kegiatan :
a. Pelayanan kesehatan jiwa
1) Kegiatan terintegrasi
2) Kegiatan khusus
-

Anamnesia/pengambilan kisa : autonamness, alloanamnessis

Pemeriksaan fisik secara umum, pemeriksaan neurologis

Pemeriksaan laboratorium dan pengobatan

b. Peran serta masyarakat


c. Pengembangan
d. Sistem pencatatan dan pelaporan
14. Upaya Kesehatan Mata/Pencegahan Kebutaaan (UKTA/PK)
Pengertian :

35

Upaya kesehatan mata/pencegahan kebutaaan dasar adalah upaya


kesehatan dasar dibidang UKTA/PK yang dilaksanakan di tingkat
Puskesmas, diselenggarakan secara khusus atau terpadu.
Tujuan
a. Tujuan umum
Meningkatkan derajat kesehatan mata masyarakat secara optimal.
b. Tujuan khusus
1) Meningkatkan kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat dalam
pemeliharaan kesehatan mata dan pencegahan kebutaan
2) Penurunan prevalensi kesakitan mata dan kebutaan sehingga tidak
menjadi masalah kesehatan masyarakat
3) Meningkatkan jangkauan pelayanan reflaksi sehingga masyarakat
yang mengalami gangguan fungsi penglihatan dapat terlayani.
Kegiatan :
a. Anamnesa
b. Pemeriksaan virus dan mata luar, tes buta warna, tes tekanan bola
mata, tes saluran air mata, tes lapangan pandang, funduskopi dan
pemeriksaan laboratorium.
c. Pengobatan dan pemberian kaca mata
d. Operasi katarak dan glukoma akut yang dilakukan oleh tim rujukan
rumah sakit
e. Perawatan post operasi katarak dan glukoma akut
f. Merujuk kasus yang tidak dapat diatasi
g. Pencatatan dan pelaporan
Penjelasan
Teknologi tepat guna dalam UKTA/PK adalah teknologi yang mengacu
pada :
a. Masalah kesehatan masyarakat setempat
b. Sumber daya yang tersedia di masyarakat
c. Terjangkaunya oleh masyarakat
d. Diterima oleh masyarakat baik pemberi mapun penerima layanan
36

e. Sesuai dengan asas manfaat secara budaya guna dan berhasil guna.
Tenaga yang terlibat :
a. Tenaga profesional. : dokter, perawat, asisten apoteker, analis dan
sebagainya
b. Tenaga non profesional : kader, pramuka, pemuka masyarakat, dokter
kecil dan lain-lain.
15. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
Pengertian
Adalah upaya kesehatan paripurna di bidang kesehatan usia lanjut, yang
dilaksanakan dan diselenggarakan secara khusus maupun umum yang
terintegrasi dengan kegiatan pokok Puskesmas yang lainnya.
Tujuan :
a. Tujuan umum
Meningkatkan derajat kesehatan usia lanjut untuk mencapai masa tua
yang bahagia dan berdaya guna dalam kehidupan keluarga dan
masyarakat sesuai eksistensinya dalam strata kemasyarakatan dalam
mencapai mutu kehidupan usia lanjut yang optimal.
b. Tujuan khusus
1) Meningkatkan kesadaran untuk membina kesehatan usia lanjut
2) Meningkatkan kemampuan dari peran serta masyarakat dalam
menghayati dan mengatasi masalah kesehatan usia lanjut secara
optimal.
3) Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut.
4) Meningkatkan jenis dan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut.
c. Sasaran :
1) Kelompok usia lanjut dalam masa prasium (55 - 61 tahun)
2) Kelompok usia dalam masa virilitas (45 54 tahun)
d. Kegiatan kesehatan usia lanjut
1) Layanan kesehatan usia lanjut
37

Meliputi

upaya

peningkatan,

pencegahan,

pengobatan

dan

pemulihan
2) Peningkatan peran serta masyarakat
3) Pengembaligan upaya kesehatan usia lanjut
4) Pencatatan dan pelaporan.
16. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional
Tujuan :
a. Tujuan Umum
Meningkatkan pendayagunaan obat dan pengobatan tradisional yang
terbukti efektif sebagai bentuk kegiatan perawatan/pertolongan diri di
tingkat keluarga.
b. Tujuan Khusus
1) Teridentifikasinya potensi dan efektifitas obat dan pengobatan
tradisional yang ada di wilayah Puskesmas setempat
2) Terseleksinya dan terbinanya pendayagunaan obat dan pengobatan
tradisional yang terbukti efektif untuk pemeliharaan kesehatan di
tingkat keluarga.
Sasaran :
a. Pengobatan tradisional dan pembuatan obat tradisional.
b. Masyarakat khusus keluarganya dan kelompok dasa wisma.
Kegiatan :
a. Melestarikan bahan-bahan tanaman yang dapat digunakan untuk
pengobatan tradisional.
b. Melakukan pembinaan terhadap cara-cara pengobatan tradisional.
17. Laboratorium Kesehatan
Kadang-kadang diadakan keliling di Sekolah Dasar (SD), Taman Kanakkanak (TK) untuk memeriksa :
a. Golongan darah

38

b. Pemeriksaan Haemoglobin menggunaken Paper Skala Haemoglobin


normalnya diatas 70.
c. Pemeriksaan malaria, dengan lapisan tipis darah.
d. Pemeriksaan urine
Dengan menggunakan alat tabung sentrifuga diukur dengan alat
urimeter dan gelas ukur termometer
e. Pemeriksaan Mycobacteriurn TBC (Tuberculosis)
Caranya dahak dimasukkan dalam wadah tertentu pada pagi hari
f. Pemeriksaan Mycobacterium leprae
Dengan lapisan tipis jaringan kulit di tiga tempat yaitu telinga kanan
dan kiri dan juga pada bercak yang paling efektif.
g. Pemeriksaan Mierofolaria
h. Pemeriksaan jamur permukaan
i. Pemeriksaan tinja
Untuk melihat adanya penyakit seperti cacingan dan penyakitpenyakit lain. Serta pemeriksaan-peimeriksaan lain untuk mengetahui
adanya penyakit yang sedang menjangkit masyarakat dan juga penyakit
yang sering terdapat pada masyarakat, misal : ISPA
Laboratorium sederhana Puskesmas
Kegiatan laboratorium antara lain :
a. Pemeriksaan golongan darah
b. Sasarannya anak-anak yang masih duduk dibangku SD (Kelas I)
c. Pemeriksaan TBC paru
d. Pemeriksaan HB ibu hamil dan test kehamilan.
18. Upaya Pencatatan dan Pelaporan
Adalah sistem pencatatan dan pelaporan terpadu Puskesmas. Laporan
Bulanan (LB) Terdiri dari :
a. LB I

: Laporan data kesakitan

b. LB II : Laporan data kematian


c. LB III : Laporan data gizi, KIA./KB, P2M dan imunisasi
39

d. LB IV : Laporan management obat


e. TP I

: Penyakit yang diamati

f. 10 besar penyakit yang ada di Puskesmas


g. Petugas sampah yang berobat di Puskesmas
Laporan diserahkan jangka waktu 3 bulan, karena sekarang SP2TP menjadi
SP3 (Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas). Laporan diserahkan
tiap bulan.
Laporan Tri Bulanan terdiri dari :
a. Kunjungan Puskesmas
b. Kegiatan rujukan
c. Kegiatan perawatan kesehatan masyarakat
d. Kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat
e. Kegiatan peningkatan kemampuan potensi
f. Kegiatan usaha kesehatan sekolah
g. Pelayanan medik dasar
h. Kesehatan gigi
i. Kesehatan lingkungan
j. Kunjungan pelayanan PHB (kunjungan ASKES)
k. Laboratorium
l. Kesehatan mata dasar
Laporan Tahunan LSD (Laporan Semester Dasar) merupakan rekapitulasi
satu tahunan dari tabulasi bulanan dan data dasar Puskesmas
a. LSD I

: Laporan data keterangan Puskesmas (tiap tahun)

b. LSD II : Laporan barang inventaris Puskesmas (tiap tahun)


Laporan paling lambat tanggal 5 diserahkan ke Dinas Kesehatan
Kota. Untuk 10 macam penyakit yang sering ditangani Puskesmas
dilaporkan juga setiap tahun. Ini juga digunakan untuk arsip Puskesmas.
Pembuatan stratifikasi (dibuat tiap, tahun pada bulan Januari)
dimaksudkan, untuk mengetahui keadaan di Puskesmas. Stratifikasi
Puskesmas adalah suatu kegiatan untuk mengukur tingkat penampilan

40

fungsi Puskesmas, sehingga pengukuran itu Puskesmas dikelompokkan


menjadi 3 strata menurut penampilan fungsinya, yaitu :
a. Strata I

: Puskesmas dengan penampilan kerja sangat baik

b. Strata II : Puskesmas dengan penampilan kerja standart


c. Strata III : Puskesmas dengan penampilan kerja kurang baik
E. LAPORAN KEGIATAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN
Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) selama 2 minggu di Dinas
Kesehatan kota Surakarta dan Puskesmas yaitu dilaksanakan 11 22 April
2005
Hari tanggal : 22 Maret 2006
Kegiatan :
Serah terima mahasiswa Akademi Keperawatan Kusuma Husada Surakarta,
kepada Kepala Dinas Kesehatan kota Surakarta, dilanjutkan dengan
pembekalan dan pengarahan dari bimbingan Sinas Kesehatan kota Surakarta.
Di dalamnya mencakup reaksi di Sub Dinas Kesehatan kota Surakarta. Juga
tatacara Praktek Kerja Lapangan di Puskesmas. Tatacara pembuatan laporan
kegiatan selama praktek. Adapun pembekalannya ada tersebut dibawah ini :
1. Struktur Organisasi Dinas Kesehatan kota Surakarta (Dra. Yanti Winoh)
Derajat

kesehatan

masyarakat

dipengaruhi

oleh

faktor

perilaku,

lingkungan, pelayanan kesehatan. Visi Dinas Kesehatan kota terwujud


budaya perilaku hidup bersih dan sehat serta mutu pelayanan uintuk
menyongsong SOLO SEHAT 2010.
a. Misi Dinas Kesehatan Kota :
b. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup bersih dan sehat.
c. Mendorong kontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat.
d. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan bermutu, merata,
terjangkau.
e. Memelihara

dan

meningkatkan

kesehatan

individu,

keluarga,

masyarakat serta lingkungan.


Visi Kota Surakarta
41

Terwujudnya kota Surakarta sebagai kota budaya yang bertumpu pada


potensi perdagangan, jasa, pendidikan, pariwisata dan olah raga.
Misi kota Suarakarta
a. Revitalisasi kemitraan dan partisipasi seluruh komponen masyarakat
dalam semua bidang pembangunan, serta perekatan kehidupan
bermasyarakat dengan komitmen cinta kota yang berlandaskan pada
nilai-nilai Sala Kota Budaya.
b. Meningkatkan kualitas

sumber

daya

manusia

yang

memiliki

kemampuan dalam penguasaan dan pendayagunaan ilmu pengetahuan,


teknologi dan seni guna mewujudkan inovasi dan integritas masyarakat
madani yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa.
c. Mengembangkan seluruh kekuatan ekonomi daerah, sebagai pemicu
tumbuh dan berkembangnya ekonomi rakyat yang berdaya saing
tinggi, serta mendayagunakan potensi pariwisata dan teknologi terapan
yang akrab lingkungan.
d. Membudayakan peran dan fungsi hukum, pelaksanaan hak asasi
manusia dan demokrasi bagi seluruh elemen masyarakat, terutama para
penyelenggara pemerintahan.
2. Kepegawaian Dinas Kesehatan kota Surakarta (Bagus Heru Doyo, SH.)
Seksi Kepegawaian, berada dibawah Sub Dinas Tata Usaha yang
kesemuanya memiliki 3 seksi yaitu :
a. Seksi Umum
Melakukan pengawasan terhadap segala inventaris Dinas Kesehatan
baik besar maupun kecil. Setiap investasi diberi kode-kode tertentu
untuk memudahkan pendataan. Tugas lainnya menyangkut segala hal
yang berkaitan dengan kegiatan Dinas Kesehatan berkenaan dengan
sarana dan prasarana.
b. Seksi Keuangan
Melakukan tugas mengatur alur keuangan Dinas Kesehatan termasuk
didalamnya masalah gaji dan insentif pegawai Dinas Kesehatan serta
para dokter yang berada dalam lingkup wilayah Dinas Kesehatan.
42

c. Seksi Kepegawaian
Melakukan tugas mengatur keperluan administrasi para pegawai yang
bekerja didain ungkup dinas kesehatan termasuk para dokter baru yang
ditugaskan sebagai dokter PTT dalam wilayah kota surakarta.
Kepegawaian
kelengkapan

hanya

melaksanakan

adininistrasi

dokter

tugas
PTT

dalam

seteiah

membantu
mendapatkan

rekomendasi dari kadinas dan ketua idi surakarta. ruang ungkungnya


hanya untuk dokter PTT yang ditugaskan di 15 puskesmas kota
surakarta.
3. Perilaku Hidup dan Bersih (Harimurti, S.Sos, MM)
Untuk mengetahui bagaimana perilaku hidup bersih dan sehat itu
terwujud maka harus diketahui tentang definisi sehat itu sendiri. secara
umum sehat berarti tidak hanya terbebas dari kecacatan fisik dan
fungsinya secara optimal seluruh bagian fisiologis tubuh tetapi juga
mencakup mental (rohani) yang terbebas dari segala bentuk kendala yang
dapat menganggu aktifitas hidup sehari-hari.
Pembangunan kesehatan harus mencakup segala macam aspek yang
kesemuanya dicoba untuk dituangkan dalam bentuk sebuah lembaran kartu
PHBS. Pelaksanaan gerakan PHBS meliputi :
a. Tiap kepala keluarga bukan tiap rumah
b. Penyebarannya dilakukan oleh kader kesehatan yang bekerja secara
sukarela dengan Supervisi dari puskesmas (UPTD kesehatan)
setempat.
c. Setiap kader memiuki tanggung jawab untuk melakukan survei secara
berkala terhadap poin-poin yang terdapat dalam kartu Phbs.
d. Melaporkan hasil survei kepada supervisor
e. Hasil laporan rekapitulasi setiap RT untuk kemudian dipetakan
menjadi peta wilayah tingkat PHBS dari tiap-tiap puskesmas.
Pedoman pertanyaan PHBS tatanan rumah tangga
Kelompok KIA

43

a. Apabila saat pendataan dilakukan dalam keluarga ada ibu hamil, maka
pertanyaannya adalah : apakah kehamilannya sudah diperiksa oleh
tenaga kesehatan (bidan, dokter) selama masa kehamilan pemeriksaan
dilakukan minimal 4x (ada aturan / intervalnya dalam pemeriksaan
kehamilan).
b. Apabila tidak ada ibu hamil, maka pertanyaannya ditujukan kepada
keikutsertaan dalam KB yaitu minum alkon pil, spiral, bukan alkon
sederhana seperti kondom, tissue dan foam.
c. Penimbangan bayi
d. Apabila ada balita, apakah sudah ditimbang secara teratur ke
Posyandu.
Kelompok Gaya Hidup
a. Kepemilikan sikat gigi, jumlah kepemilikan sikat gigi sama dengan
jumlah jiwa wajib sikat gigi di keluarga tersebut.
b. Minuman keras, anggota keluarga tidak minum minuman keras
seperti : bir, beras kencur / minuman tradisional yang mengandung
alkohol.
c. Rokok. Anggota keluarga tidak ada yang merokok.
d. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN), tidak dijumpai atau bebas jentik
nyamuk aedes aegepty pada tandon air dan barang-barang bekas baik
di dalam maupun di luar rumah.
e. Gizi, anggota keluarga makan dengan gizi seimbang
Kolompok Kesehatan Lingkungan
a. Air bersih, apakah keluarga menggunakan air bersih (pam, sumur)
untuk keperluan sehari-hari seperti memasak, mencuci dan mandi.
b. Jaminan keluarga, apakah anggota keluarga buang air bersih (BAB) di
jamban (WC)
Kelompok PSM
a. Dana sehat / JPKM, apakah kewarga ikut menjadi anggota kelompok
dana sehat / JPKM.

44

b. Obat sederhana, apakah keluarga memiliki obat sederhana minimal 3


jenis untuk menjaga kesehatan keluarga.
c. Toga, apakah keluarga menanam dan menggunakan toga minimal 3
jenis untuk menjaga kesehatan keluarga.
Interprestasi hasil dihitung total jumlah nilanya kemudian dikonversikan
menurut :
<

= kategori pratama

5 7 = kategori madya
8 9 = kategori utama
> 10 = kategori paripurna
Hasil pendataannya direkapitulasi menurut RW masing-masing kemudian
dipetakan.
Sasaran PHBS
a. Tatanan rumah tangga
b. Sekolah dan kantor
c. Tempat-tempat umum
Definisi sehat menurut sistem kesehatan nasional (SKN) terbatas dari
kecacatan fisik dan fungsinya secara optimal seluruh bagian fisiologis
tubuh juga mencakup mental (rohani) dan sosial yang terbebas dari segala
bentuk hendaknya yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Tujuan PHBS
a. Umum
Memotivasi masyarakat agar hidup secara sehat.
b. Khusus
1) Masyarakat mampu menggunakan tolak ukur.
2) Mengetahui kondisi masyarakat dan kekurangannya.
3) Mampu menggunakan data untuk perencanaan wilayah.
Langkah-langkah dalam PHBS
Pendataan pengolahan data tingkatan PHBS pemetaan.
Penentuan strata PHBS tingkat kelurahan
45

a. Sehat PRATAMA : KK yang mencapai strata sehat utama dan


paripurba 1 39 %.
b. Sehat MADYA : KK yang mencapai strata sehat utama dan paripurna
40 79 %.
c. Sehat UTAMA : KK yang mencapai strata sehat utama dan paripurna
80 - 89 %.
d. Sehat PARIPUMA : KK yang mencapai strata sehat utama dan
paripuma lebih dari 90 %.
Faktor yang mempengaruhi perbedaan strata PHBS :
a. Manusia / tenaga kesehatan pendataan
b. Geografis luas wilayah
c. Sosial budaya perilaku
4. Kesehatan Ibu dan Anak (Endang Rustiati)
Pada tahun 1994 di Jawa Tengah kematian maternal 540/100.000
kelahiran hidup. Hal ini disebabkan salah satunya karena masih banyak
persalinan yang masih ditolong oleh dukun. Sedangkan untuk di Solo
angka kematian maternal lebih rendah dibanding di daerah lain di Jawa
Tengah karena salah satunya jumlah dukun bayi yang ada di Solo hanya
tinggal 16 orang dan jumlah persalinan yang ditolong oleh dukun juga
sedikit.
Untuk mengantisipasi resiko persalinan akibat pertolongan yang
kurang memperhatikan faktor sepsis dan antisepsis yung dilakukan oleh
dukun maka dilakukanlah pelatihan asuhan persalinan normal bagi para
dukun oleh bidan atau dokter setempat yang ada di kota Solo khususnya
dan Jawa Tengah pada umumnya. Dengan adanya pelatihan ini maka
diharapkan terjadi penurunan angka kematian maternal. Kematian ibu
melahirkan biasanya terjadi akibat perdarahan, infeksi maupun karena pre
eklamsi atau eklamsi saat kehamilan.
Pada tahun 2000 pemerintah berusaha untuk menurunkan tingkat
kematian maternal hingga mencapai 50 % dari angka semula yaitu menjadi
46

225/100.000 kelahiran hidup. Namun karena adanya krisis moneter yang


teirjadi di Indonesia maka angka tersebut tidak dapat tercapai dan
diharapkan pada tahun 2005 target itu bisa dipenuhi.
Kematian bayi dan balita mencapai 325 % dimana kematian
terbanyak karena asfiksia, BBLR, diare, ISPA dan penyakit yang
sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi. diharapkan tahun 2006 hanya
tinggal 220 % saja.
Karena angka kematian ibu dan anak masih tinggi, maka di
Puskesmas digunakan sistem pencatatan kohort yang dibedakan atas
kohort ibu, kohort bayi (0- 1 tahun), dan kohort anak (1 -5 tahun).
a. Kohort Ibu
Pada kohort ibu dicatat keadaan pasien sejak konsepsi sampai partus
sehingga bila ada kelainan dapat segera diketahui dan dapat dilakukan
perawatan yang lebih intensif.
Faktor resiko pada ibu hamil meliputi :
1) Jumlah anak lebih dari 4
2) Jarak kelahiran kurang dari 2 tahun
3) Tinggi ibu kurang dari 145 cm dan BB kurang dari 38 kg
4) LILA kurang dari 23,5 cm
5) Umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Faktor resiko tinggi ibu hamil adalah :
1) Riwayat obstetri jelek
2) Penyakit tertentu misalnya eklamsi, penyakit jantung
3) Perdarahan
4) Infeksi
5) Hb kurang dari 8 gr %
Pemantaua wailayah setempat (PWS)
K1 : Kunjungan ibu hamil yang pertama kali secara berkualitas, terdiri
dari K1 murbi dan akses.

47

K4 : Ibu hamil yang selama kehamilannya periksa hamil secara


berkualitas sebanyak 4 kali (1 kali trisemester 1 : 1 kali
trisemester II dan 2 kali trisemester III). Selama masa
kunjungannya tersebut ibu hamil akan mendapat suntikan TT
sebanyak 5 kali seumur hidup.
ANC dulu melipurti 5 T, sekarang sudah menggunakan 14 T yaitu :
1) Tensi
2) TT
3) Tinggi badan dan berat badan
4) Tinggi fundus uteri
5) Tablet tambah darah
6) Test VDRI
7) Test Hb
8) Test urine protein
9) Test urine glukosa
10) Temu wicara
11) Tablet anti malaria (DEM)
12) Tablet yodium (DEG)
13) Tekan pijat payudara / breast care
14) Tekan pijat kebugaran
b. Kohort Bayi
Kunjungan petugas setelah bayi dilahirkan minimal 2 kali
KN1 : Kunjungan petugas saat bayi berusia 0 - 7 hari minimal 1 kali
untuk merawat tali pusat guna menekan angka kematian bayi
akibat tetanus neonatorum.
KN2 : Kunjungan petugas saat bayi berusia 8 hari sampai 1 bulan
minimal 1 kali. kegiatan yang dilakukan diantaranya pemberian
ASI eksklusif (sampai dengan umur 4 tahun), vitamin A dosis
tinggi (6 bulan), imunisasi dasar dan pencatatan anak dengan
kartu data tumbuh kembang anak.
c. Kohort Balita
48

Pada kohort balita dicatat status gizi, perkembangan anak dan


pemberian vitamin A dosis tinggi (bulan Pebruari dan Agustus).
Setelah pencatatan dalam kohort ibu, bayi dan balita maka dapat
disusun :
1) Peta ibu hamil dan balita
2) Kantong persalinan
3) Kartu perkiraan persalinan : normal (putih), faktor resiko (biru),
dan faktor resiko tinggi (merah)
Indikator keberhasilan program KIA
1) Kunjungan K1 100 %
2) Kunjungan K4 90 %
3) Penjaringan resiko tinggi kehamilan oleh tenaga kesehatan 10 %.
4) Penjaringan resiko tinggi oleh masyarakat 20 %
5) KN 2 100 %
6) Persalinan ditolong tenaga kesehatan 90 %
Selain program di atas diharapkan peran serta masyarakat dapat
membantu suksesnya gerakan sayang ibu dan dapat mencegah 3 terlambat
(Terlambat menentukan, terlambat transportasi, terlambat pelayanan).
Deteksi faktor resiko ibu hamil adalah tenaga kesehatan dan masyarakat.
Kantor persalinan terdiri atas 12 kantong (12 bulan) yang tiap kantong
berisi data HPL. Ibu hamil beserta tingkat resiko ibu hamil, kartu putih
(normal), kartu biru (dengan faktor resiko), kartu merah (resiko tinggi).
Kegiatan Gerakan Sayang Ibu
Tersedianya sarana dan prasarana di suatu wilayah antara lain : Ambulans
desa, donor darah dan tabungan bersalin (Tabulin Dasolin).
5. Pencegahan Penyakit (Djoko Slamet Hariyadi, SKM)
Visi
Pencegahan penyakit dan wabah pada ruang lingkup wilayah kota
Surakarta.
Misi

49

Melindungi masyarakat Surakarta melaiui usaha-usaha pengamatan


(surveillance) dan imunisasi ataupun usaha-usaha preventif lainnya
terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah.
Tujuan
a. Menurunkan Incidence Rate dan Case Fatality Rate
b. Mencegah perluasan penyakit
c. Mencegah munculnya kejadian luar biasa
Pengamatan Penyakit (Surveillance)
a. Melakukan pengelolaan data-data yang ada pada masyarakat menurut
rentang waktu tertentu mulai mingguan, bulanan, tahunan.
b. Data yang telah terkumpul kemudian dilakukan analisa data dengan
metode tertentu.
c. Dari hasil analisa data dilakukan penyebaran informasi atas hasil
surveillance yang telah dilakukan secara lintas program / sektoral.
d. Aktivitas lainnya yang dapat dilakukan adalah mengadakan upaya
eradikasi penyakit pada penyakit-penyakit seperti polio, TT.
e. Selain eradikasi juga dilakukan upaya reduksi atas penyakit yang dapat
menimbulkan wabah yakni campak.
f. Aktifitas lain berupa penanggulangan terhadap munculnya kejadian
luar biasa untuk wilayah kota Surakarta adalah penyakit demam
berdarah dengue.
Pencegahan Penyakit Menular Langsung
a. TB paru
b. Kusta / Morbus Hansen
c. Kelamin / penyakit menular seksual
d. Frambusia
Pemberantasan Vektor Penyakit
a. Demam berdarah dengue
b. Malaria
c. Rabies

50

Imunisasi, dilakukan terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegah


dengan imunisasi :
Parameter-parameter surveillance
a. Fost indeks, merupakan prosentase dari rumah yang positif ditemukan
jentik nyamuk dari keseluruhan rumah yang diperiksa.
Fost lndeks dikategorikan baik jika jumlahnya kurang dari 5 %
b. Angka bebas jentik, merupakan prosentase dari rumah yang tidak
ditemukan jentik nyamuknya dari keseluruhan rumah yang diperiksa,
ABJ juga merupakan kebalikan dari Host indeks.
c. Incidence rate, merupakan rata-rata angka kejadian baru dari penyakitpenyakit yang ada di masyarakat. Dikategorikan baik jika kurang dari
2 per 10.000 penduduk
d. Case fatallity rate, merupakan rata-rata angka kejadian luar biasa dari
penyakit-penyakit yang mewabah. Dikategorikan baik jika kurang dari
25 %.
6. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (dr. Agus Susanto)
Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir atau model
pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, melihat masalah yang
dipengaruhi oleh banyak faktor, yang bersifat lintas sektoral dan upayanya
yang lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan
kesehatan, bukan hanya penyembuhan orang sakit atau pemulihan
kesehatan.
Prinsip kesehatan, kesehatan adalah hak setiap warga negara dan
kesehatan adalah sebuah investasi jangka panjang.
Untuk mewujudkan prinsip kesehatan yang optimal dalam
kehidupan masyarakat pada umumnya di wilayah kota Surakarta maka
perlu dipikirkan upaya peran serta masyarkat dengan memberdayakan
dana masyakarat untuk dikembalikan kepada masyarakat dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan yang optimal.
Upaya merintis penggalangan dana masyarakat telah dimulai
dengan bentuk asuransi sejak tahun 1992 dengan landasan UU No. 22
51

tahun 1992. Dalam perjalanannya dirasakan bahwa model yang telah


dikelola tersebut tanpa mereka memperoleh hak untuk menuntut ganti rugi
atas mutu pelayanan yang tidak optimal.
JPKM dikemukakan sebagai sebuah solusi dari kekurangankekurangan model lama tersebut dengan prinsip bahwa :
a. Peserta/konsumen menanam investasi untuk pelayanan kepada
kesehatan yang optimal yang berupa premi yang diatur setiap tahun
kepada Badan Pelaksana.
b. Badan Pelaksana dengan proporsi tertentu melakukan pembayaran di
muka sebelum pemberian layanan kesehatan kepada lembaga penyedia
layanan kesehatan.
c. Penyedia layanan kesehatan memiliki kewajiban untuk memberikan
layanan yang optimal kepada konsumen atas pembayaran yang telah
dilakukan oleh Badan Pelaksana.
d. Pelanggaran terhadap aturan-aturan tersebut mendapatkan saksi yang
ditentukan menurut Undang-undang.
e. Sesuai UU Anti Monopoli maka diupayakan adanya beberapa wadah
badan Pelaksana dan Lembaga Penyedia Layanan Kesehatan.
Masalah JPKM
a. Belum berkembang jumlahnya baru sekitar 31 juta peserta atau 16 %
penduduk (15 juta ASKES, 1 juta Jamsostek, 14 juta Dana Sehat, 1 juta
JPKM Swasta).
b. Penyebab adalah komitmen pemerintah rendah, aparat pemerintah
tidak siap, PKK tidak siap, Bapel belum pengalaman, minat
masyarakat rendah dan konsep kurang mendukung.
Langkah Persiapan Pengambangan JPKM
a. Mempersiapkan RUU JPKM sesuai kebijakan baru.
b. Mempersiapkan aparat pemerintah sehingga mendukung JPKM.
c. Membantu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan Bapel tentang
JPKM.
52

d. Membantu mengembangkan jaringan PKK (RS, Puskesmas, Dokter


keluarga dan sebagainya).
e. Membantu berbagai kemudahan dalam pengambangan JPKM.
f. Menciptakan suasanan yang mendukung pengembangan JPKM.
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)
Adalah jaminan kesehatan paripurna yang diperoleh masyarakat/peserta
setelah melakukan kontribusi prabayar ke suatu badan penyelanggara yang
mengontrak dan membayar pra upaya jaringan pelayanan kesehatan
berjenjang dengan tingkat pertama sebagai ujung tombak.
Yang terkait dengan JPKM adalah :
a. Peserta/masyarakat yang membiayai dirinya dengan iuran prabayar.
b. Badan Pembina (Bapim) : pemerintah (Dinkes dan sektor terkait).
c. Badan penyelenggara (Bapel).
d. PPK (Dokter / Puskesmas / RS) untuk memberi pelayanan bermutu,
efisien dan Paripurna Yang Saling Menguntungkan.
Manfaat jaminan pemeliharaa kesehatan masyarakat
a. Masyarakat mendapat pelayanan kesehatan dengan biaya ringan.
b. PKK diuntungkan dengan terpeliharanya kesehatan konsumen dan
PKK dapat mengembangkan mutu.
c. Perusahaan mempunyai karyawan yang terjamin kesehatannya dengan
biaya efisien.
d. Pemda mempunyai warga masyarakat yang sehat dengan biaya sendiri.
7. Metode, Media, dan Alat Peraga (Endah Wisnu Wardani, B.Sc)
Alasan perubahan perilaku adalah terpaksa, takut, ingin meniru dan
mengerti manfaatnya.
Perubahan perilaku dapat terjadi melalui proses belajar yang dipengaruhi
faktor-faktor : motivasi, partisipasi, sesuai kebutuhan yang diinginkan,
pengulangan yang variatif dan panca indera.
Sarana proses belajar dapat dilakukan dengan memanfaatkan :
a. Metode : Dialog, Konferensi, Seminar, Studi kasus, Eksperimen,
Diskusi, Panel, Lokakarya, Semiloka, Wawancara.
53

b. Media : sifat media ini dapat berupa audio (hanya mengandalkan


indera pendengaran). Jenis media yang dipakai adalah :
1) Audial, contohnya radio berupa spot, dialog, narasi.
2) Visual, contohnya spanduk, baliho, poster, pamflet, leaflet,
billboard, flipehart, media cetak, pameran, dan lain-lain.
3) Audiovisual, contohnya televisi.
4) Visual, mengandalkan indera penglihatan.
5) Audiovisual, mengandalkan kompleksitas panca indera.
c. Alat peraga : Efektivitasnya tergantung pada situasi, kondisi dan waktu
tertentu serta jumlah alat peraga yang dipergunakan.
Alat peraga yang digunakan seperti gambar, OHP, Whiteboard,
powerpoint,

manekin,

dan

lain-lain.

Untuk

kefektivifan

dan

mengurangi kejenuhan alat peraga dapat dikombinasi lebih dari satu


macam. Sebenarnya alat peraga yang paling baik dan efektif adalah
alat peraga yang nyata.
8. Kesehatan Keproduksi Remaja (dr. Erna Harnani)
Batasan remaja menurut kelompok umur berada pada rentang 10
19 tahun, hanya batasan ini dipersempit menurut kondisi seksualitas
masing-masing dengan kenyataan untuk wanita ditandai dengan menarche
yang muncul antara usia 10 16 tahun dan untuk pria ditandai dengan
spermache yang muncul antara 12 16 tahun.
Sasaran penyuluhan tentang kesehatan reproduksi remaja :
a. Anak sekolah mulai usia SMP sampai SMA.
b. Remaja resiko tinggi yang dapat ditemui melalui wadah di masyarakat
seperti Karang Taruna.
c. Pekerja seks komersial yang berusia kurang dari 18 tahun.
Pemberdayaan masyarakat dalam hal kesehatan reproduksi remaja dapat
dilakukan melalui :
a. Penyuluhan yang dikoordinir oleh Sub Dinas Pemeberdayaan peran
seta Masyarakat.
b. Screening yang dikoordinir oleh Sub Dinas Pencegahan Penyakit.
54

Kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara menyeluruh,


mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat,
fungsi serta proses reproduksi. Dengan demikian kesehatan reproduksi
bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit, melainkan bagaimana
seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan
sebelum menikah dan sesudah menikah.
Perilaku seksual remaja timbul bersamaan dengan kematangan
seksualnya. Timbulnya dorongan seksual, yaitu tertarik dengan lawan
jenis, sering disebut nafsu birahi. Nafsu birahi ini dialami oleh remaja
yang sehat. Yang perlu dijaga kalau remaja mengalami nafsu birahi adalah
jangan sampai melakukan hubungan seksual, sebab kita di Indonesia
mempunyai pegangan bahwa seseorang boleh berhubungan seksual setelah
menikah.
9. Pengelolaan Obat (dra. Murdiyahni, Apt)
Sumber dana pengadaan obat berasal dari ASKES, DAU, APBD I,
APBD II.
Alur pengelolaan obat
Perencanaan : dilakukan dengan metode konsumsi (melihat pola
pemberian obat) dan metode epidemiologi (menurut
kondisi

penyakit

di

masyarakat).

Diperhitungkan

kebutuhan dalam satu bulan kemudian diakumulasikan


satu tahun ditambah cadangan buffer untuk antisipasi
peningkatan jumlah kebutuhan dalam besaran tertentu,
juga buffer stok untuk antisipasi kelangkaan obat,
ditambah waktu tunggu yang kisarannya antara 6-9
bulan, dikurangi sisa yang saat ini dimiliki. (12 N + 0,1
(12N) + 3N +

(6 smp 9) N) sisa yang ada (N =

kebutuhan satu bulan).


Draft kebutuhan obat disesuaikan menurut sistem
PARETO ABC dengan mempertimbangkan obat-obat
golongan V (very esensial), E (esensial) dan N (non
55

esensial) dikombinasikan dengan kebutuhan dana


golongan A (70 %); B (80 %); C (100 %).

AV

BV

CV

Jumlah terbanyak

AE

BE

CE

Jumlah secukupnya

AN

BN

CN

Jumlah minimal

Pengadaan
Penerimaan :

Diberikan menurut Puskesmas Induk, sedangkan


Puskemsas

Pembantu

mengacu

pada

keadaan

Puskesmas Induk.
Penerimaan :
Distribusi
Penyimpangan : memperlihatkan tingkat kelembaban, pengurutan
FIFO.
Penggunaan :

Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu.

Pencatatan dan pelaporan


Evaluasi :

sebagai bahan perbaikan dalam perancanaan

10. Usia Lanjut (dr. Siti Wahyuningsih)


a. Yang termasuk usia lanjut adalah usia di atas 60 tahun.
b. Usia lanjut resiko tinggi jika didapatkan penyakit DM, Osteoporosis,
Hipertensi, Anemia serta penyakit kronis meupun degeneratif lainnya.
c. Dasar terjangkitnya penyakit pada usia lanjut terutama karena fungsi
yang mulai berkurang.

56

d. Screening Diabetes Melitus dilakukan dengan reduksi urine yang


dievaluasi setiap bulannya.
e. Osteoporosis biasanya dialami oleh wanita resiko tinggi dengan
kriteria : kurus, menopause dini, tidak mengalami menarche, alkoholik
dan perokok.
Batasan osteoporosis ditentukan jika Bone Mass Density besarnya
kurang dari 2,5. Resiko osteoporosis lebih besar pada wanita karena
penyerapan dan pembentukan tulang dipengaruhi oleh hormon
gonadotropin yakni estrogen pada wanita testosteron pada pria yang
pada kenyataannya bahwa wanita akan mencapai kadar 0 % setelah
masa menopause.
f. Pencegahan dapat dilakukan dengan memperhatikan asupan kalsium,
vitamin D yang dipengaruhi oleh pancaran sinar matahari, dan olah
raga yang membantu deposit kalsium pada sumsum tulang.
g. Posyandu Usila, kegiatannya berupa deteksi dini anemia, KEK, dan
penyakit degeneratif. Tujuannya agar usila tetap produktif, mandiri dan
bahagia.
11. Upaya Kesehatan (dr. Sri Rahayu, Mars)
Tujuan upaya kesehatan adalah menyelenggarakan pembinaan dan
bimbingan tentang pelayanan kesehatan, farmasi, makanan/minuman, obat
tradisional, dan registrasi.akreditasi.
Kegiatan berupa :
a. Menjelaskan aturan main toko obat.
b. Pembinaan makanan dan minuman pada industri rumah tangga yang
berusaha dengan modal sebanyak-banyaknya 10 juta rupiah.
c. Pembinaan obat tradisional pada industri rumah tangga.
d. Memberi ijin pada 29 profesi maupun badan yang berhubungan dengan
pelayanan kesehatan.
e. Kegiatan akreditasi saat ini hanya berupa koordinasi dengan daerah
Propinsi Jawa tengah.

57

Sub Din upaya kesehatan adalah pelayanan kesehatan, kefarmasian,


makanan dan minuman, obat tradisional, registrasi dan kareditasi.
12. Farmasi, Makanan, Minuman dan Obat Tradisional (dra. Styowati, Apt)
Menangani :
a. Obat/bahan kimia.
b. Obat tradisional/bahan alamiah saat ini dikenal istilah OAI (Obat Asli
Indonesia) yang bahan bakunya murni berasal dari Indonesia sendiri
serta diolah oleh dan untuk masyarakat Indonesia sendiri.
c. Alat kesehatan, kosmetik, makanan dan minuman.
Sie Farmasi, makanan dan minuman serta obat tradisional mengadakan
pemantauan terhadap persediaan obat, produksi obat, peredaran,
pemakaian obat dan penyimpanan obat.
Dokter boleh langsung memberikan obat kepada pasien dalam keadaan
darurat, berupa suntikan, dokter di daerah terpencil dan pengadaan dari
apotek.
Penggunaan narkotika yang banyak digunakan di Kota Surakarta adalah
berupa injeksi Pethidin, tablet Codelin dan Dover serta Codipront.
Diatur UU No. 22 tahun 1997.
Perijinan obat dan makanan dikeluarkan oleh badan POM.
Kode perijinan untuk :
a. Registrasi obat : G (generik), D (dagang), B (bebas), K (keras), P
(psikotropik), N (narkotik), T (terbatas), L (lokal), I (internasional).
b. Makanan : SP (lokal daerah), MD (lingkup nasional), ML (lingkup luar
negeri), BMD, BML.
c. Tradisional : TR (dalam negeri), TL (lingkup luar negeri), BTR, BTL.
Penggunaan psikotropika diatur menurut UU No. 5 tahun 1997 :
Yang termasuk dalam golongan obat ini adalah Diazepam, Valium, Vaiidex
dan Nitrozepam.
Pelaporan penggunaan obat dilaporkan tiap tahun. Efek obat ini
meningkatkan ambang nyeri dan menekan susunan saraf pusat.
13. Akreditasi dan Registrasi (Lusino, SE)
58

Menangani pemberian ijin untuk 29 macam tenaga kesehatan


maupun sarana pelayanan kesehatan antara lain : dokter, dokter gigi,
bidan, refraksionis optisien, perawat, asisten apoteker, apotek, pengobatan
tradisional, industri rumah tangga, rumah sakit (sebagai rekomendasi
untuk dilanjutkan ke Tingkat Propinsi).
Perijinan untuk dokter / dokter gigi sifatnya perorangan dengan
kelengkapan antara lain :
a. SP (Surat Penegasan) dari Kantor Dinas Kesehatan Propinsi.
b. SIP (Surat Melaksanakan Tugas) dari Dinas Kesehatan Kota.
c. Rekomendasi IDI.
d. Surat Pengantar IDI.
e. Surat Permohonan.
Acuan : SK Menkes No. 916/Menkes/Per/VIII/Tahun 1997
Perijinan untuk jenis makanan dan minuman daerah Surakarta sangat
murah, karena itu produsen makanan dan minuman justru cenderung tidak
memenuhi syarat perijinan sehingga yang dirugikan adalah konsumen.
Untuk itu bagian perijinan bekerjasama dengan Puskesmas dalam bentuk
penyuluhan makanan sehat.
Tim turun ke lapangan untuk meninjau lokasi dibagi 2 yaitu teknis ditinjau
kesehatan

lingkungan

dan

tim

administrasi

ditinjau

persyaratan

(demontrasi dan tempat/lokasi). Registrasi dan akreditasi dilakukan pada


tenaga kesehatan dan sarana kesehatan.
Bagi dokter/dokter gigi perijinan didapatkan melalui IDI/PDGI dengan
persetujuan DKK, dibagi 2 : ijin praktek (SIP) dan ijin tempat (SPTP).
Persyaratan tempat praktek harus memenuhi syarat kesehatan dan menarik,
antara lain :
a. Terdapat ruang tunggu pasien.
b. Ventilasi dan sanitasi yang baik.
c. Terdapat tempat parkir.
d. Terdapat lampu penerangan yang cukup.
e. Petugas administrasi.
59

Dokter umum diperkenankan praktek maksimum di 3 tempat sedangkan


dokter spesialis maksimum 5 tempat untuk bidang spesialisasi.
14. Program Gizi (dr. Siti Wahyuningsih)
Masalah gizi di Indonesia :
a. KEP pada balita, Bumil dan ibu nifas
Yang mendapat prioritas sebanyak 2.680 balita dari keluarga miskin di
wilayah kota Surakarta dengan memberikan makanan tambahan.
Pengadaannya melalui dana dari APBD I, APBD II, UNICEF dan
pendamping UNICEF.
b. Anemia : diderita oleh 60 % balita dan 53 bumil di wilayah Surakarta.
GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium) dengan melakukan
pemantauan penggunaan garam yodium anak SD dengan kadar 80-90
ppm serta melakukan pemantauan pengadaan garam yodium di pasar
tradisional.
c. Kekurangan vitamin A, diantisipasi dengan pemberian vitamin A gratis
pada balita setiap bulan Pebruari dan Agustus dengan pembagian
menurut usia :
1 5 tahun mendapat kapsul merah mengandung 200.000 iu
6 11 bulan mendapat kapsul biru mengandung 100.000 iu

60

JADWAL KEGIATAN HARIAN SELAMA DI PUSKESMAS


PURWODININGRATAN
Hari dan tanggal : Selasa, 11 April 2006
Tempat dan kegiatan :
Puskesmas Purwodiningratan :
a. Perkenalan
b. Orientasi
c. Membantu kegiatan balai pengobatan
d. Membantu kegiatan Apotik
e. Membantu kegiatan loket
f. Membantu kegiatan Posyandu lansia
Hari dan tanggal :Rabu, 12 April 2006
Tempat dan kegiatan :
Puskesmas Purwodiningratan :
a. Apel pagi
b. Membantu kegiatan di pos PIN
c. Membantu kegiatan loket
Hari dan tanggal : Kamis, 13 Apil 2006
Tempat dan kegiatan :
1. Puskesmas Purwodiningratan :
a. Apel pagi
b. Membantu kegiatan balai pengobatan
c. Membantu kegiatan loket
d. Apel siang
2. Puskesmas Pembantu Sorogenen:
a. Membantu kegiatan KIA
b. Membantu kegiatan Apotik
c. Membantu kegiatan loket
61

3. Puskesmas Pembantu Gandekan :


a. Membantu kegiatan balai pengobatan
b. Membantu kegiatan Apotik
c. Membantu kegiatan loket
d. Membantu kegiatan balai pengobatan
Hari dan tanggal :Sabtu, 15 April 2006
Tempat dan kegiatan:
1. Puskesmas Purwodiningratan :
a. Membantu kegiatan balai pengobatan
b. Membantu kegiatan loket
2. Puskesmas Pembantu Sorogenen:
a. Membantu kegiatan Apotik
b. Membantu kegiatan loket
3. Puskesmas pembantu Gandekan:
a. Membantu kegiatan Apotik
b. Membantu kegiatan loket

Hari dan tamggal : Senin, 17 April 2006


Tempat dan kegiatan :
1. Puskesmas Purwodiningratan :
a. Apel pagi
b. Penkes TBC
c. Membantu kegiatan balai pengobatan
d. Membantu kegiatan loket
e. Membatu kegiatan puskesmas keliling
f. Membantu kegiatan Apotik
g. Apel siang
2. Puskesmas Pembantu Sorogenen:
a. Membantu kegiatan Apotik
62

b. Membantu kegiatan loket


c. Membantu balai pengobatan
3. Puskesmas pembantu Gandekan :
a. Membantu kegiatan Apotik
b. Membantu kegiatan loket
c. Membantu balai pengobatan
Hari dan tanggal : Selasa, 18 April 2006
Tempat dan tanggal :
1. Puskesmas Purwodiningratan :
a. Apel pagi
b. Penkes Demam Berdarah
c. Membantu balai pengobatan
d. Membantu kegiatan posyandu lansia
e. Apel siang
2. Puskesmas Pembantu Sorogenen:
a. Membantu kegiatan Apotik
b. Membantu kegiatan loket
c. Membantu balai pengobatan
d. Membantu kegiatan KIA
3. Puskesmas pembantu Gandekan :
a. Membantu kegiatan Apotik
b. Membantu kegiatan loket
c. Membantu balai pengobatan
Hari dan tanggal: Rabu, 19 April 2006
Tempat dan kegiatan :
1. Puskesmas Purwodiningratan :
a. Apel pagi
b. Membantu balai pengobatan
c. Membantu kegiatan Apotik
63

2. Puskesmas Sorogenen :
a. Membantu kegiatan Apotik
b. Membantu kegiatan loket
c. Membantu balai pengobatan
d. Membantu kegiatan KIA
3. Puskesmas pembantu Gandekan :
a. Membantu kegiatan Apotik
b. Membantu kegiatan loket
c. Membantu balai pengobatan
Hari dan tanggal : Kamis, 20 April 2006
Tempat dan kegiatan :
1. Puskesmas Purwodiningratan :
a. Apel pagi
b. Membantu balai pengobatan
c. Membantu kegiatan Apotik
2. Puskesmas Sorogenen :
a. Membantu kegiatan Apotik
b. Membantu kegiatan loket
c. Membantu balai pengobatan
d. Membantu kegiatan KIA
e. Membantu kegiatan posyandu balita
3. Puskesmas pembantu Gandekan :
a. Membantu kegiatan Apotik
b. Membantu kegiatan loket
c. Membantu balai pengobatan
Hari dan tanggal : Jumat, 21 April 2006
Tempat dan kegiatan :
1. Puskesmas Purwodiningratan :
64

a. Senam pagi
b. Membantu balai pengobatan
c. Membantu kegiatan Apotik
2. Puskesmas Sorogenen :
a. Membantu kegiatan Apotik
b. Membantu kegiatan loket
c. Membantu balai pengobatan
3. Puskesmas pembantu Gandekan :
a. Membantu balai pengobatan
b. Membantu kegiatan loket
Hari dan tanggal : Sabtu, 22 April 2006
Tempat dan kegiatan :
Puskesmas Purwodiningratan :
Pamitan dan perpisahan

65

BAB II
PROGRAM PRIORITAS UTAMA PUSKESMAS
PURWODININGRATAN
A. Latar Belakang Masalah.
Di Surakarta banyak terdapat Lansia yang terdiri dari Lansia muda dan
Lansia tua data yang kami peroleh dari Puskesmas Purwodiningratan pada
tahun 2006, jumlah lansia yang kami dapatkan meningkat bila dibandingkan
dengan tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2005 jumlah lansia sebanyak
29%, yaitu 8202 orang, jumlah penduduk di Puskesmas Purwodiningratan
35291 orang.
Berbagai upaya untuk menurunkan tingkat kesakitan pada lansia telah
dilakukan, namun hasil yang dicapai masih belum sesuai dengan yang
diharapkan. Salah satu upaya penaggulangan pada lansia adalah melaksanakan
Posyandu Lansia, yang berisi kegiatan penyuluhan, mengukur tekanan darah,
menimbnag berat badan, mengukur tinggi badan, pemeriksaan Lab darah,
pemberian obat dan vitamin. Untuk mengatasi tingginya angka kesakitan pada
lansia yang belum ditemukan serta belum mendapatkan pelayanan kesehatan
di Puskesmas Purwodiningratan, maka sangat penting dicari faktor-faktor
penyebabnya, sehingga dapat dipecahkan masalahnya.
B. Subyek Masalah.
Puskesmas
Stratifikasi

Hasil Kegiatan

Penatalaksanaan

Sarana

Lingkungan

18 program kegiatan Puskesmas

66

18 program kegiatan Puskesmas meliputi :


1. KIA
2. KB
3. Usaha peningkatan gizi
4. Kesehatan lingkungan
5. P2M
6. Pengobatan.
7. Penyuluhan
8. Kesehatan masyarakat.
9. UKS
10. Kesehatan kerja
11. Kesehatan gigi dan mulut
12. Kesehatan jiwa.
13. Kesehatan mata.
14. Laboratorium sederhana.
15. Pelaporan dan pencatatan.
16. Kesehatan usia lanjut
17. Pembinaan.
18. Pengobatan tradisional.
Angka kecakupan penemuan tingkat kesakitan lansia
Y = Pencapaian : 29%
X = Target

: 50%

X-y = Belum tercapai : 50%-29% = 21%


C. Perumusan Masalah.
Dari latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :
Mengapa tingkat kesakitan pada lansia masih belum ditemukan, serta
belum terjangkaunya pelayanan kesehatan di Puskesmas Purwodiningratan?

67

D. Rencana Tindakan.
Untuk

menentukan

rencana

tindakan

dilakukan

dengan

cara

penjaringan yang dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke unit


pelayanan kesehatan. Penemuan tersebut didukung dengan penyuluhan secara
aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat.
Selain itu tidak kalah pentingnya adalah dengan kunjungan ke Posyanduposyandu lansia untuk :
1. Meyakinkan dan melihat kebenaran dalam suatu rumah tangga.
2. Melihat keadaan sanitasi rumah.
3. Melakukan pengobatan pada keluhan-keluhan yang di dapat pada
lansia.
Adapun

rencana

tindakan

yang

dapat

dilakukan

di

Puskesmas

Purwodiningratan adalah :
1.

Penyuluhan kesehatan pada lansia tentang penyakit-penyakit pada


lansia dan penanggulangannya.

2.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan adalah menagnjurkan untuk


pemberian adekuat, istirahat, pemberian vitamin, latihan gerak dan
perbaikan gizi.

68

BAB III.
ANALISA PRIORITAS PROGRAM PUSKESMAS
PURWODININGRATAN.
Untuk

melakukan

analisa

prioritas

program

di

Puskesmas

Purwodiningratan dengan menggunakan analisa SWOT. Analisa SWOT ini untuk


mengetahui berbagai faktor penopang atau penghambat yang dihadapi dalam
kegiatan problem solving (pemecahan masalah). Analisa SWOT terdiri dari
Strenght-Weaknesses-Opportunity-Threat.
SW

S (kekuatan)

W (kelemahan)

SO

WO

(kesempatan)
T

(kekuatan-kesempatan)
ST

(kelemahan-kesempatan)
WT

(ancaman)

(kekuatan-ancaman)

(kelemahan-ancaman)

OT

1. Strenght (Kekuatan).
Yang dimaksud dengan kekuatan atau Strenght disini adalah berbagai
kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila
dapat dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar
berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam
mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi.
Kekuatan yang dimiliki oleh Puskesmas Purwodiningratan adalah ;
a. Semua petugas diharapkan bersumberdaya manusia yang handal, sehingga
diharapkan Puskesmas Purwodiningratan dapat melaksanakan program
KIA (Kesehatan Ibu dan Anak).
b. Sumberdaya manusia yang ada 31 orang yang terdiri dari :
1. Dokter umum

: 3 orang

2. Dokter gigi

: 1 orang

3. Perawat

: 4 orang

4. Bidan

: 5 orang
69

5. Pelaksana sanitasi

: 1 orang

6. Bagian apotik

: 6 orang

7. Bagian Laboratorium

: 1 orang

8. Pelaksana Gizi

: 1 orang

9. Perawat gigi

: 2 orang

10. Pelaksana TU/SP2TP

: 4 orang

11. Pelaksana PPTI

: 1 orang

12. Pelaksana umum

: 1 orang

13. Administrasi

: 1 orang

c. Posyandu lansia yang digunakan dalam peningkatan kesehatan dan


harapan hidup lansia
d. Sudah ada laboratorium sederhana untuk pemeriksaan gula darah.
2. Weaknesses (Kelemahan)
Yang dimaksud dengan kelemahan (Weaknesses) disini adalah
berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi,
yang apabila berhasil diatasi akan berperan besar tidak hanya dalam
memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi,
tetapi juga dalam mencapai tujuan yang telah dimiliki oleh organisasi.
Kelemahan yang dimiliki oleh Puskesmas Purwodiningratan adalah :
a.

Kurangnya pengetahuan

lansia tentang pentingnya kesehatan.

Puskesmas Purwodiningratan
b.

Kesadaran masyarakat masih kurang, usahanya misalnya kesadaran


lansia untuk datang ke posyandu lansia.

3. Opportunity (Kesempatan)
Yang dimaksud dengan kesempatan (Opportunity) ialah peluang yang
bersifat positif yang dihadapi oleh suatu organisasi, apabila dapat
dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

Kesempatan yang dimiliki oleh Puskesmas Purwodiningratan adalah :


70

a. Sudah banyak lansia yang kontrol di Puskesmas Purwodiningratan.


b. Sebagian besar masyarakat sudah berperilaku baik dalam Posyandu
Lansia, contohnya sudah banyak masyarakat yang menjadi kader.
4. Threat (hambatan).
Yang dimaksud dengan hambatan (Threat) ialah kendala yang bersifat
negatif yang dihadapi oleh suatu organisasi, apabila berhasil diatasi akan besar
peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.
Yang dirasakan sebagai ancaman di wilayah kerja Puskesmas
Purwodiningratan adalah :
a. Kurangnya prasarana yang memadai terutama pada Posyandu lansia,
contohnya alat belum lengkap, belum ada KMS Lansia.
b. Kurangnya dana pengembangan kesehatan Lansia, terutama dana
dalam setiap Posyandu Lansia.

71