Anda di halaman 1dari 33

KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD SOLOK

Nomor : UM.50/19/12/P-I-10
Tentang
PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN
BARANG/JASA DI LINGKUNGAN BADAN
LAYANAN UMUM DAERAH
RSUD SOLOK
DIREKTUR RSUD SOLOK
Menimbang

a. Bahwa Rumah Sakit Umum Daerah Solok


sebagai
Badan
Layanan
Umum
Daerah
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat perlu
melakukan pengadaan barang/jasa secara
cepat, fleksibel, efisien dan efektif agar tidak
kehilangan momentum bisnis yang dapat
menimbulkan
kerugian,
sehingga
diperlukan
pedoman
pelaksanaan
pengadaan
barang/jasa
yang
dapat
memenuhi kebutuhan bisnis dengan tetap
memperhatikan
prinsip-prinsip
efisien,
efektif,
kompetitif,
transparan,
adil dan
wajar serta akuntabel;
b. bahwa
ketentuan mengenai pengadaan
barang/jasa
dilingkungan Badan Layanan
Umum Daerah telah
ditetapkan
dengan
Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 22
Tahun 2015 tentang Jenjang
Penilaian
Pengadaan Barang/Jasa pada Badan Layanan
Umum Daerah;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan
tersebut
diatas serta untuk mengantisipasi
kondisi
bisnis dimasa mendatang
dipandang perlu
meninjau
dan
menetapkan
kembali
Keputusan
Direksi tentang
Pedoman
Pelaksanaan
Pengadaan
Barang/Jasa di

Lingkugan Badan Layanan Umum daerah RSUD


Solok.
Mengingat

1. Undang-Undang Nomor 17 Tentang Keuangan


Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4355);
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4400);
4. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor
58, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4843);
5. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan
(Tambahan
Lembaran
Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5063);
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintah daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5587), sebagaimana telah diubah beberapa kali
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun
2015 dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun
2015 tentang Perubahan Kedu Atas UndangUndang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2015 Nmor 58, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5679);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2005 Nomor 49, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor


4503);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang
Pengelolaan
Keuangan
Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4578);
9. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010
tentang Pengadaan Barang/jasa Pemerintah,
sebagaimana telah diubah beberapa kali,
terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 4
Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas
Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010
tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
10. Peraturan
Menteri
Kuangan
Nomor
08/PMK.02/2006
tentang
Kewenangan
Pengadaan Barang/Jasa Pada Badan Layanan
Umum;
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah
beberapa kali terakhir dengan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011
tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang
Pedoman
Pengelolaan
Keuangan
Daerah;
12. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61
Tahun
2007
tentang
Pedoman
Teknis
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
Daerah;
13. Keputusan
Menteri
Kesehatan
Nomor
703/MENKES/SK/IX/2006
tentang
Petunjuk
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pada
Instansi Pemerintah Pola Pengelolaan Keuangan
Badan
Layanan
Umum
di
Lingkungan
Departemen Kesehatan;
14. Peraturan daerah Provinsi Sumatera Barat
Nomor 10 Tgahun 2008 tentang Pokok-Pokok
Pengelolaan Kuangan Daerah;
15. Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor
35 Tahun 2009 tentang Pedoman Pola
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
Daerah;

MEMUTUSKAN
Memutuskan

KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD SOLOK TENTANG


PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG
JASA DILINGKUNGAN BLUD RSUD SOLOK

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Pengertian
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :
1. Badan Layanan Umum Daerah yang selanjutnya disingkat BLUD
adalah satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja pada
satuan Kerja Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Daerah
yang dibentuk untuk memberikan layanan kepada masyarakat
berupa penyedian Brang dan/ atau Jasa yang dijual tanpa
mengutamakan keuntungan, dan dalam melakukan kegiatan
didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktifitas.
2. Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah yang
selanjutnya disebut PPK-BLUD adalah pola pengelolaan Keuangan
yang iberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan
praktik-praktik bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan
kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan
umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai
pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada
umumnya.
3. Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut
dengan
Pengdaan
Barang/Jasa
adalah
kegiatan
untuk
memperoleh Barang/Jasa oleh RSUD Solok yang memproses
dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya
seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa.
4. Penyedia barang/jasa adalah badan usaha atau orang
perseorangan yang menyediakan barang/jasa.
5. Pengadaan Barang/Jasa dilaksanakan dengan cara Swakelola,
Pengadaan Langsung, atau Pelelangan/Seleksi.
6. Swakelola adalah Pengadaan Barang/Jasa dimana pekerjaannya
direncanakan, dikerjakan dan/atau diawasi sendiri oleh RSUD
Solok sebagai penanggung jawab anggaran.

7. Pengadaan Langsung adalah Pengadaan Barang/Jasa langsung


kepada Penyedia Barang/Jasa, tanpa melalui Swakelola atau
Pelelangan/Seleksi.
8. Pelelangan/Seleksi
adalah
metode
pemilihan
Penyedia
Barang/Jasa untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh
semua Penyedia Barang/Jasa yang memenuhi syarat.
9. Kelompok Kerja Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya
disebut Pokja ULP adalah unit organisasi pemerintah yang
berfungsi melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa di RSUD Solok
yang bersifat permanen dapat berdiri sendiri atau melekat pada
unit yang sudah ada.
10.
Panitia Pengadaan adalah tim yang dibentuk oleh
Direktur untuk melaksanakan pemilihan penyedia barang/jasa.
11.
Pejabat Pengadaan adalah personil yang memiliki Sertifikat
Keahlian Pengadaan Barang/jasa yang melaksanakan Pengadaan
Barang/Jasa.
12.
Gubernur adalah Gubernur Sumatera Barat.
13.
Direktur adalah Direktur RSUD Solok.
14.
Pengguna
Barang/Jasa
adalah
Pejabat
pemegang
kewenangan penggunaan Barang dan/atau Jasa.
15.
Pengguna Anggaran yang selanjunta disebut PA adalah
pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran RSUD
Solok
16.
Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjunya disebut KPA
adalah pejabat yang ditetapkan oleh PA untuk menggunakan
APBN atau ditetapkan oleh Kepala Daerah untuk menggunakan
APBD.
17.
Pejabat Pembuat Komitmen yangselanjunya disebut PPK
adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan
Pengadaan Barang/Jasa.
18.
Panitia/Pejabat
Penerima
Hasil
Pekerjaan
adalah
Panitia/Pejabat yang ditetapkan oleh PA/KPA yang bertugas
memeriksa dan menerima hasil pekerjaan.
19.
Penyedia Barang/Jasa adalah badan usaha
atau
orang perseorangan
yang
menyediakan
Barang/ Pekerjaan Konstruksi/ Jasa Konsultansi/
Jasa Lainnya.
20.
Pakta Integritas adalah surat pernyataan yang
berisi ikrar untuk mencegah dan tidak melakukan
kolusi, korupsi, dan nepotisme dalam Pengadaan
Barang/Jasa.
21.
Barang adalah setiap benda baik berwujud
maupun tidak berwujud, bergerak maupun tidak
bergerak, yang dapat diperdagangkan, dipakai,

dipergunakan atau dimanfaatkan oleh Pengguna


Barang.
22.
Pekerjaan Konstruksi adalah seluruh pekerjaan
yang berhubungan dengan pelaksanaan konstruksi
bangunan atau pembuatan wujud fisik lainnya.
23.
Jasa
Konsultansi
adalah
jasa
layanan
professional yang membutuhkan keahlian tertentu
diberbagai bidang keilmuan yang mengutamakan
adanya olah pikir (brainware).
24.
Jasa Lainnya adalah jasa yang membutuhkan
kemampuan
tertentu
yang
mengutamakan
keterampilan (skillware) dalam suatu sistem tata
kelola yang telah dikenal luas di dunia usaha
untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau segala
pekerjaan dan/atau penyediaan jasa selain Jasa
Konsultansi, pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi dan
pengadaan Barang.
25.
Sertifikat
Keahlian
Pengadaan
Barang/Jasa
adalah tanda bukti pengakuan dari pemerintah
atas kompetensi dan kemampuan profesi dibidang
Pengadaan Barang/Jasa.
26.
Dokumen Pengadaan adalah dokumen yang
ditetapkan oleh
Kelompok Kerja ULP/Pejabat
Pengadaan yang memuat informasi dan ketentuan
yang harus ditaati oleh para pihak dalam proses
Pengadaan Barang/Jasa.
27.
Kontrak
Pengadaan
Barang/Jasa
yang
selanjutnya disebut Kontrak
adalah perjanjian
tertulis antara PPK dengan Penyedia Barang/Jasa
atau pelaksana Swakelola.
28.
Pelelangan Umum adalah metode pemilihan
Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya
untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh
semua Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa
Lainnya yang memenuhi syarat.
29.
Pelelangan Terbatas adalah metode pemilihan
Penyedia
Barang/Pekerjaan
Konstruksi
dengan
jumlah
Penyedia
yang
mampu
melaksanakan
diyakini terbatas
dan
untuk pekerjaan
yang
kompleks.
30.
Pengadaan
Langsung
adalah
Pengadaan
Barang/Jasa
langsung
kepada
Penyedia
Barang/Jasa,
tanpa
melalui
Pelelangan/
Seleksi/Penunjukan Langsung.

31.
Surat
Jaminan
yang
selanjutnya
disebut
Jaminan, adalah
jaminan tertulis yang bersifat
mudah
dicairkan
dan
tidak
bersyarat
(unconditional),
yang
dikeluarkan
oleh
Bank
Umum/Perusahaan
Penjaminan/Perusahaan
Asuransi
yang
diserahkan
oleh
Penyedia
Barang/Jasa kepada PPK/Kelompok Kerja ULP untuk
menjamin
terpenuhinya
kewajiban
Penyedia
Barang/Jasa
32.
Pengadaan secara elektronik atau E-Procurement
adalah Pengadaan Barang/Jasa yang dilaksanakan
dengan menggunakan
teknologi informasi
dan
transaksi elektronik sesuai
dengan
ketentuan
perundang- undangan.
33.
Layanan
Pengadaan Secara Elektronik yang
selanjutnya disebut LPSE
adalah unit kerja RSUD
SOLOK yang dibentuk untuk
menyelenggarakan
sistem pelayanan Pengadaan Barang/Jasa secara
elektronik.
34.
E-Tendering
adalah
tata
cara
pemilihan
Penyedia Barang/Jasa
yang dilakukan secara
terbuka dan dapat diikuti oleh semua Penyedia
Barang/Jasa
yang
terdaftar
pada
sistem
pengadaan
secara
elektronik dengan
cara
menyampaikan 1
(satu) kali penawaran dalam
waktu yang telah ditentukan.
35.
Katalog elektronik
atau
E-Catalogue adalah
sistem informasi elektronik yang memuat daftar,
jenis, spesifikasi
teknis
dan
harga
barang
tertentu
dari berbagai Penyedia Barang/Jasa
Pemerintah.
36.
E-Purchasing adalah
tata
cara
pembelian
Barang/Jasa melalui sistem katalog elektronik.
37.
Portal
Pengadaan
Nasional
adalah
pintu
gerbang sistem informasi elektronik yang terkait
dengan informasi Pengadaan Barang/Jasa secara
nasional yang dikelola oleh LKPP.
Pasal 2
Maksud dan Tujuan
1. Maksud ditetapkannya pedoman pengadaan barang/jasa ini
adalah untuk mengatur dan menjadi
acuan pelaksanaan

pengadaan barang/jasa di lingkungan PPK-BLUD RSUD Solok


yang seluruhnya dibiayai dari anggaran BLUD RSUD Solok
2. Tujuan pedoman tata cara pengadaan barang/jasa ini agar
pelaksanaan pengadaan barang/jasa dilaksanakan dengan
memperhatikan
prinsip umum pengadaan dan Good
Corporate Governance yaitu tata cara pengadaan dilaksanakan
secara efisien dan menyederhanakan/ mempercepat proses
pengambilan keputusan, efektif dan mendukung penciptaan
nilai tambah bagi RSUD Solok, terbuka, bersaing, transparan,
adil/tidak diskriminatif, akuntabel.
Pasal 3
Prinsip Umum
1.
Penyelenggara/Panitia Pengadaan barang/jasa wajib
menerapkan prinsip-prinsip :
a) Efisien,
berarti
pengadaan
barang/jasa
harus
diusahakan untuk mendapatkan hasil yang optimal dan
terbaik dalam waktu yang cepat dengan menggunakan
dana dan kemampuan seminimal mungkin secara wajar
dan bukan hanya didasarkan pada harga terendah;
b) Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai
dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat
memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai
dengan sasaran yang ditetapkan;
c) Kompetitif, berarti pengadaan barang/jasa harus
terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi
persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang
sehat di antara penyedia barang/jasa yang setara dan
memenuhi
syarat/kriteria
tertentu
berdasarkan
ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan;
d) Transparan,
berarti
semua
ketentuan
dan
informasi
mengenai
pengadaan barang/jasa,
termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata
cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia
barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia
barang/jasa yang berminat;
e) Adil dan wajar, berarti memberikan perlakuan yang
sama bagi semua calon penyedia barang/jasa yang
memenuhi syarat;
f) Akuntabel, berarti harus mencapai sasaran dan
dapat dipertanggungjawabkan sehingga menjauhkan
dari potensi penyalahgunaan dan penyimpangan.

g) Good Corporate Governance.

Pasal 4
Etika
Para pihak yang terkait dalam proses pengadaan barang/jasa
harus mematuhi etika sebagai berikut :
1. Melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggungjawab
untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya
tujuan pengadaan barang/jasa.
2. Bekerja secara professional dan mandiri atas dasar kejujuran,
serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan barang dan
jasa yang seharusnya
dirahasiakan
untuk mencegah
terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa.
3. Tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak
langsung untuk mencegah dan menghindari terjadinya
persaingan tidak sehat
4. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang
ditetapkan sesuai dengan kesepakatan para pihak.
5. Menghindari dan mencegah terjadinya benturan kepentingan
(conflict of interest) para pihak
yang
terkait,
langsung
maupun
tidak
langsung
dalam
proses
pengadaan
barang/jasa.
6. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan
kebocoran
keuangan perusahaan dalam pengadaan
barang/jasa.
7. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang
dan/atau kolusi dengan tujuan untuk keuntungan pribadi,
golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak
langsung merugikan perusahaan.
8. Tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan
untuk memberi atau menerima hadiah, imbalan berupa apa
saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga
berkaitan dengan pengadaan barang/jasa.
Pasal 5
Ruang Lingkup

Ruang lingkup berlakunya Keputusan Direktur ini adalah untuk


pengadaan barang/jasa
yang keseluruhan pembiayaannya
bersumber dari Anggaran BLUD RSUD Solok.

Pasal 6
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dalam Keputusan Direktur ini
meliputi:
a.

Barang;

b.

Pekerjaan Konstruksi;

c.

Jasa Konsultansi; dan

d.

Jasa Lainnya.

BAB II
PENGADAAN YANG DILAKSANAKAN PENYEDIA BARANG/JASA
BAGIAN I
TUGAS POKOK DAN PERSYARATAN
Pasal 7
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
1. Pelaksanaan pengadaan barang/jasa dilakukan :
a. Dengan menggunakan penyedia barang/jasa;
b. Dengan cara swakelola.
2. Para pihak
barang/jasa,
integritas.

yang
wajib

terkait dalam pelaksanaan pengadaan


membuat dan menandatangani pakta

3. Semua
biaya
yang
timbul
dalam
proses
pengadaan
barang/jasa,
dibebankan pada anggaran dalam kode rekening
yang berkaitan dengan pengadaan barang/jasa tersebut.

Pasal 8
Pengadaan Barang / Jasa Jangka Panjang
1.

Untuk pekerjaan pengadaan barang/jasa yang memiliki jangka waktu


lebih dari 1 (satu) tahun, dapat dilakukan pengadaan barang/jasa 1
(satu) kali untuk jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun, sepanjang
kualitas, harga, dan tujuannya dapat dipertanggung jawabkan, dengan
terlebih dahulu mendapat izin tertulis dari Direksi.

2.

Untuk pengadaan barang/jasa yang bersifat rutin dan terus menerus


dibutuhkan dalam jangka panjang,
dapat dilakukan pengadaan
barang/jasa 1 (satu) kali untuk jangka waktu lebih dari 1 (satu)
tahun,
sepanjang
kualitas,
harga,
dan
tujuannya
dapat
dipertanggungjawabkan, dengan ketentuan :
a. Kontrak dengan Penyedia barang/jasa dibuat dalam jangka
waktu maksimal 3 (tiga) tahun, dan dapat diperpanjang
maksimal 2 (dua) kali perpanjangan dengan jangka waktu
tiap perpanjangan tidak lebih dari 1 (satu) tahun.
b. Bila perpanjangan kontrak kerja dimaksud huruf a ayat
ini telah berakhir, harus dilakukan pemilihan Penyedia
barang/jasa seperti biasa dan bukan penunjukan langsung
kepada penyedia barang/jasa tersebut.
c. Perpanjangan kontrak kerja dimaksud huruf a ayat ini
harus disertai evaluasi tim, yang secara khusus dibentuk
oleh direktur..
3.

Untuk pelaksanaan pengadaan barang/jasa sebagaimana


tersebut ayat 1 dan ayat 2 Pasal ini, penetapan harga dapat
diberlakukan secara tetap pada awal kontrak atau harganya
dapat ditinjau setiap tahun. Untuk kontrak yang penetapan
harganya dapat ditinjau setiap tahun, harus disertai dengan
penetapan
harga baru berdasarkan
formulasi penetapan
harga di awal kontrak dan penetapan keputusan harga /

atau
kelanjutan
berwenang.
4.

kontrak

ditetapkan

oleh

Pejabat

yang

Bidang-bidang
pekerjaan
pengadaan
barang/jasa
yang
bersifat
rutin
yang
dapat dilakukan
pengadaan
barang/jasanya menurut ayat 2 Pasal ini.

Pasal 9
Pemecahan dan Penggabungan Paket Kegiatan
1.

Pelaksanaan pengadaan barang dan jasa merupakan suatu kesatuan


paket kegiatan dan pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara
pemecahan atau penggabungan.

2.

Pelaksanaan
pemecahan
atau
penggabungan
sebagaimana
dimaksud ayat 1 Pasal ini dilakukan dalam rangka efesiensi maupun
optimalisasi sumber daya perusahaan dalam pengadaan barang/jasa
serta untuk menjaga kelancaran operasional perusahaan dalam
pengadaan barang/jasa.

3.

Pelaksanaan
pemecahan
atau
penggabungan
sebagaimana
dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 Pasal ini, harus mendapatkan
persetujuan dari Pejabat yang berwenang.
Pasal 10
Pejabat yang Berwenang

1.

Pejabat yang dimaksud sebagai Pejabat yang berwenang adalah PA,


KPA, PPTK, Pejabat Pengadaan, Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan
dengan kewenangannya dan batas kewenangan tersebut diatur
dalam Keputusan direktur.

2.

Pejabat yang berwenang dilarang :


a. Memecah paket pengadaan barang/jasa
menjadi beberapa
paket dengan maksud untuk menghindari pelelangan dan atau
batas kewenangan kecuali sebagaimana disebut pada Pasal 11
Keputusan ini;
b. Menentukan kriteria, persyaratan atau prosedur pengadaan
yang diskriminatif.

Pasal 11
Penyedia Barang/jasa
1.

Penyedia barang/jasa yang dapat mengikuti pelaksanaan


pengadaan barang/jasa di lingkungan RSUD Solok adalah yang
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan
untuk
menjalankan usaha/kegiatan sebagai penyedia barang/jasa dan
menandatangani Pakta Integritas.
b. Memiliki surat izin usaha pada bidang usahanya yang dikeluarkan
oleh instansi pemerintah yang berwenang yang masih berlaku,
seperti SIUP untuk jasa perdagangan, SIUJK untuk jasa konstruksi,
dan sebagainya.
c. Memiliki
keahlian,
pengalaman,
kemampuan
manajerial untuk menyediakan barang/jasa.
d. Secara hukum mempunyai
kontrak pengadaan.

kapasitas

untuk

teknis

dan

menandatangani

e. Sebagai wajib pajak sudah memenuhi kewajiban perpajakan.

f. Memiliki
sumber
daya
manusia,
modal,
peralatan
dan
fasilitas lain yang diperlukan dalam pengadaan barang/jasa.
g. Tidak masuk dalam daftar hitam.
h. Memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan pos.
2.

Tenaga ahli yang akan ditugaskan dalam melaksanakan


pekerjaan jasa konsultansi harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut :
a. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan bukti penyelesaian
kewajiban pajak;
b. b.
Lulusan Perguruan Tinggi Negeri atau Perguruan Tinggi
Swasta yang telah diakreditasi oleh instansi yang berwenang
atau yang lulus ujian negara, atau perguruan tinggi luar negeri
yang ijazahnya telah disahkan atau diakui oleh instansi
pemerintah yang berwenang di bidang pendidikan tinggi;
c. Mempunyai pengalaman di bidangnya.

3.

Dilarang ikut sebagai Penyedia barang/jasa di lingkungan RSUD


Solok atau sebagai penjamin dalam penawaran :
a. Direksi beserta keluarga dalam hubungan keluarga sedarah dan
semenda;
b. Pegawai RSUD Solok;
c. Keluarga sedarah dan semenda dari anggota
Penyelenggara/Panitia Pengadaan dan PPK;
d. Penyedia barang/jasa yang keikutsertaannya akan menimbulkan
pertentangan kepentingan (conflict of interest).

4.

Larangan bagi penyedia barang/jasa untuk mengikuti pelelangan


pada RSUD Solok:
a. Pribadi/perseorangan atau direksi suatu perusahaan penyedia
barang/jasa menggunakan surat kuasa pimpinan perusahaan
penyedia barang/jasa yang tidak berwenang;

b. Apabila salah satu penyedia barang/jasa telah ikut pelelangan


atas suatu pekerjaan maka perusahaan lain dalam satu group
tidak dibenarkan mengajukan penawaran atas pekerjaan yang
dimaksud;
c. Direksi suatu perusahaan barang/jasa yang telah ikut
mengajukan penawaran tidak dibenarkan memasukkan surat
penawaran atas nama perusahaan lain baik perusahaan
dibawah kendalinya maupun yang kepengurusan/kepemilikan
adalah orang lain.
5.

Terpenuhinya persyaratan penyedia barang/jasa dinilai melalui


proses prakualifikasi atau pascakualifikasi oleh Penyelenggara/Panitia
Pengadaan.

BAGIAN II PERSIAPAN PENGADAAN


Pasal 12
Dokumen Pengadaan Barang/Jasa
Dokumen pengadaan barang/jasa terdiri dari Kerangka Acuan Kerja
(KAK), Gambar-gambar (apabila ada), Perhitungan volume (apabila
ada), HPS (Harga Perhitungan Sendiri) dengan uraian sebagai berikut :
1. Dokumen persyaratan administrasi disusun oleh
Penyelenggara/Panitia Pengadaan dan disesuaikan
dengan tingkat kebutuhan berdasarkan antara lain
: metode pengadaan dan atau metode evaluasi
yang akan dipilih atau jenis barang dan atau jasa
yang akan dibeli ataupun persyaratan lain yang
ditetapkan dalam pelaksanaan pengadaan.

2. Dokumen Teknis :
a. Syarat-syarat teknis dan atau spesifikasi teknis serta
gambar-gambar, termasuk rencana jadwal penyerahan
barang/pekerjaan
(untuk
keperluan
pekerjaan
pengadaan barang);
b. Syarat-syarat teknis dan atau detail desain serta gambargambar detail, termasuk rencana jadwal pekerjaan (untuk
pekerjaan jasa pemborongan);
c. Kerangka Acuan Kerja
(KAK)
untuk pekerjaan jasa konsultansi;

dan

gambar-gambar

d. Perkiraan waktu penyelesaian pelaksanaan pengadaan


barang/jasa;
e. Perhitungan volume pekerjaan;
f. Dokumen teknis lainnya yang dianggap perlu.
3.

4.

Dokumen Harga :
a.

Daftar kuantitas harga;

b.

Analisis harga satuan, upah, harga bahan, dan harga jadi;

c.

Dokumen-dokumen pendukung harga.

Apabila diperlukan dokumen pengadaan barang/jasa yang telah


disiapkan oleh Penyelenggara/Panitia
Pengadaan,
dapat
dilakukan
pembahasan
dengan
pihak lain seperti Bidang
Hukum dan atau Keuangan dan atau Konsultan dan atau
Counterpart sebelum
diteruskan
kepada
calon penyedia
barang/jasa.
Pasal 13
Syarat-Syarat Teknis/Spesifikasi Teknis

1. Spesifikasi teknis dibuat dan dilengkapi


barang/jasa sesuai yang dibutuhkan.

untuk

memperoleh

2. Spesifikasi teknis sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 Pasal ini


adalah :
a.

Pengadaan Barang, antara lain :

Jenis barang, kualitas/mutu barang, volume barang, tipe barang


dan waktu pelaksanaan.
b.

Jasa Pemborongan, antara lain :

Persyaratan keselamatan umum, konstruksi bangunan, mutu


hasil
pekerjaan, waktu pelaksanaan, mutu bahan dan atau
komponen bangunan dan jenis peralatan sesuai dengan standar
atau norma yang berlaku.
c.

Jasa Konsultansi, antara lain :

Syarat-syarat keahlian, pengalaman tenaga ahli, jumlah


tenaga ahli, waktu pelaksanaan.
3.

Pada prinsipnya penyebutan merek tidak dapat dilakukan,


kecuali :
a. Apabila pengadaan barang yang spesifikasi peralatan/barang
tersebut harus sama dengan yang sudah ada dan atau
guna
pencapaian
efisiensi,
kemudahan/ ketersediaan
spare parts; atau
b. Apabila barang tertentu yang jenis dan kualitasnya relatif
sama tetapi memiliki perbedaan harga yang bervariasi atau
barang dengan merek khusus, yang sesuai dengan yang
dibutuhkan; atau
c. Ada rekomendasi dari hasil penelitian yang dilakukan oleh
lembaga penelitian yang independen atau pemerintah atau
Direksi dengan pertimbangan tertentu yang menguntungkan
perusahaan/Rumah Sakit.

4.

Spesifikasi barang-barang dan perbedaan harga sebagaimana


dimaksud pada ayat 3 Pasal ini dituangkan dalam analisa
anggaran biaya secara rinci dalam HPS oleh PPK sebagai bahan
acuan oleh Penyelenggara/Panitia Pengadaan dalam melakukan
evaluasi terhadap dokumen penawaran.

5.

Dalam hal spesifikasi teknis harus dijelaskan melalui gambar


teknis, maka harus jelas identitas perencana, penggambar, dan
penanggungjawabnya baik perencanaan tersebut dilakukan oleh
PPK maupun konsultan perencana.

6.

Dalam hal pelaksanaan teknis pekerjaan pemborongan


harus dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa tertentu terkait
dengan jaminan purna jual material dan sistem pelaksanaannya
yang sangat mempengaruhi terhadap kualitas hasil pekerjaan
dimaksud, maka ketetapan untuk kerjasama dengan penyedia
barang/jasa tertentu tersebut dapat ditegaskan dalam RKS.

7. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan tidak dapat dihindari untuk


mengubah spesifikasi dan atau gambar rencana, maka perubahan
spesifikasi tersebut dapat dilaksanakan atas persetujuan PPK dan
atau konsultan perencana.
Pasal 14
Kerangka Acuan Kerja
Kerangka Acuan Kerja dibuat dan ditandatangani oleh P P K , yang
memuat sekurang-kurangnya hal-hal sebagai berikut :
1. Uraian pendahuluan berupa gambaran secara garis besar
mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan, antara lain latar
belakang, maksud dan tujuan, lokasi, asal sumber pendanaan;
2. Data penunjang berupa data yang berkaitan dengan pelaksanaan
pekerjaan, antara lain data dasar, standar teknis, studi - studi
terdahulu yang pernah dilaksanakan, dan peraturan perundangundangan yang harus digunakan;
3. Tujuan dan ruang lingkup pekerjaan yang memberikan gambaran
mengenai tujuan yang ingin dicapai, keluaran yang akan dihasilkan,
keterkaitan antara suatu keluaran dengan keluaran lain, lingkup
kewenangan
yang dilimpahkan kepada konsultan, perkiraan
jangka waktu penyelesaian pekerjaan jasa konsultansi, kualifikasi
dan jumlah tenaga ahli yang harus disediakan oleh konsultan,
perkiraan keseluruhan tenaga ahli/tenaga pendukung yang
diperlukan (jumlah person- months) dan jadwal setiap tahapan
pelaksanaan pekerjaan;
4. Jenis dan jumlah laporan yang disyaratkan (antara lain laporan
pendahuluan, laporan bulanan, laporan antara dan laporan akhir);

5. Ketentuan bahwa kegiatan jasa konsultansi harus dilaksanakan


di Indonesia, kecuali untuk kegiatan tertentu yang belum mampu
dilaksanakan di Indonesia;
Pasal 15
Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri
1.

HPS/OE dibuat/disusun oleh PPK dan ditetapkan oleh PPK.

2.

HPS/OE
digunakan
sebagai alat untuk menilai
kewajaran harga penawaran termasuk rinciannya dan
untuk menetapkan besaran tambahan nilai jaminan
pelaksanaan bagi penawaran yang dinilai terlalu rendah.

3.

Untuk pekerjaan Jasa Konsultansi, KAK dan HPS


digunakan sebagai acuan dalam evaluasi penawaran,
klarifikasi, dan atau negosiasi dengan calon konsultan
terpilih. Dimungkinkan adanya perbedaan hasil negosiasi
terhadap KAK dan HPS seperti kualifikasi, jumlah
penggunaan tenaga ahli (person-month), satuan biaya
personil sepanjang tidak mengubah sasaran, tujuan, dan
keluaran/output yang dihasilkan serta tidak melampaui
HPS yang dipertanggungjawabkan secara keahlian
(profesional).

4.

Rincian HPS/OE tidak boleh dibuka dan bersifat rahasia,


akan tetapi Nilai total HPS dapat dibuka pada saat
pelaksanaan aanwijzing dan disampaikan kepada seluruh
peserta lelang, kecuali dalam pelelangan dengan PHP,
yang disampaikan hanya kisaran nilai total HPS.

5.

Besaran
kisaran
nilai
total
HPS
pada
PHP
sebagaimana dimaksud ayat 4 Pasal ini ditetapkan
rentang kisarannya
sebesar 10% HPS dan tidak
melebihi perkiraan nilai pekerjaan yang diumumkan.

BAGIAN III
KLASIFIKASI DAN KUALIFIKASI PENYEDIA BARANG/JASA
Pasal 16
Klasifikasi Penyedia Barang/Jasa
Yang dapat diklasifikasikan menjadi Penyedia
lingkungan RSUD Solokadalah :
1.

barang/jasa

di

Klasifikasi Penyedia barang/jasa Umum

Penyedia barang/jasa yang memiliki Surat Izin Usaha sesuai


bidangnya.
2.

Klasifikasi Penyedia barang/jasa Khusus :


a.
b.

Pabrikan, Agen Tunggal, Distributor, Pemilik Merk, Grosir.


Instansi/Lembaga
Pemerintah,
Perguruan
Tinggi,
Lembaga/Yayasan
Penelitian/Ilmiah,
Lembaga/Yayasan
Pendidikan dan Pelatihan, Advokat/ Konsultan Hukum, Jasa
Pemeriksaan Keuangan, Notaris/PPAT dan Perseorangan.

Pasal 17
Kualifikasi Penyedia Barang/Jasa
1.

Persyaratan kualifikasi penyedia barang/jasa baik dengan cara


prakualifikasi maupun pascakualifikasi adalah sama, yaitu :

a. Memiliki surat izin usaha pada bidang usahanya yang


dikeluarkan oleh instansi pemerintah yang berwenang
yang masih berlaku, seperti SIUP untuk jasa perdagangan,
SIUJK untuk jasa konstruksi, dan sebagainya;
b. Secara hukum mempunyai kapasitas untuk
menandatangani kontrak pengadaan;
c. Tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak bangkrut
(pailit), kegiatan usahanya tidak sedang dihentikan dan
atau sedang dalam menjalani sanksi pidana;
d. Dalam hal penyedia barang/jasa akan melakukan
kemitraan, penyedia barang/jasa wajib
mempunyai
perjanjian kerjasama operasi/kemitraan yang memuat
persentase kemitraan dan perusahaan yang mewakili
kemitraan tersebut;
e. Telah melunasi kewajiban pajak tahun terakhir (SPT/PPh)
serta memiliki laporan bulanan PPh Pasal 25 atau Pasal
21/Pasal 23 atau PPN sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan
yang lalu;
f. Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir pernah memperoleh
pekerjaan menyediakan barang/jasa baik di lingkungan
pemerintah maupun swasta termasuk pengalaman
subkontrak yang dibuktikan dengan foto copy perjanjian
kerja (kontrak)
yang autentik
kecuali
penyedia
barang/jasa yang baru berdiri kurang dari 3 (tiga)
tahun;
g. Memiliki kinerja baik dan tidak masuk dalam daftar sanksi
atau daftar hitam di suatu instansi;
2. Persyaratan
prakualifikasi/pascakualifikasi
yang
ditetapkan
harus
merupakan persyaratan minimal yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan
kegiatan agar terwujud
persaingan yang sehat secara luas.
3. Penyedia barang/jasa wajib menandatangani surat pernyataan
diatas materai bahwa semua informasi yang disampaikan dalam

formulir isian kualifikasi adalah benar, dan apabila ditemukan


penipuan/pemalsuan atas informasi yang disampaikan, terhadap
yang bersangkutan dikenakan sanksi pembatalan sebagai calon
pemenang, dimasukkan dalam daftar hitam sekurang-kurangnya
2 (dua) tahun dan tidak boleh mengikuti pengadaan untuk 2
(dua) tahun berikutnya, serta diancam dituntut secara perdata
dan pidana.
4. Terhadap penyedia barang/jasa yang akan diusulkan sebagai
pemenang dan pemenang cadangan,
dapat
dilakukan
verifikasi terhadap semua data dan informasi yang ada
dalam formulir isian kualifikasi dengan meminta rekaman atau
asli dokumen yang sah dan bila diperlukan dapat dilakukan
konfirmasi dengan instansi terkait.

BAGIAN IV
SISTEM PEMILIHAN PENYEDIA BARANG/JASA
Pasal 18
Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa
Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa dilaksankan berdasarkan Jenjang
nilai sebagai berikut:
1. Pengadaan Barang/Jasa dengan cara swakelola dilaksanakan
sesuai ketentuan yang diatur tersendiri dalan Keputusan ini.
2. Pengadaan Barang/Jasa dengan nilai sampai dengan Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dapat dilaksanakan
dengan cara Pengadaan Langsung kepada penyedia
barang/jasa oleh Pejabat Pengadaan yang ditunjuk tanpa
membedakan golongan dengan pertanggungjawaban berupa
kuitansi.
3. Pengadaan Barang/Jasa dengan nilai diatas Rp. 500.000.000,00
(lima ratus juta rupiah) sampai dengan Rp. 1.500.000.000,00
(satu milyar lima ratus juta rupiah) dapat dilaksanakan dengan
cara Pengadaan Langsung kepada penyedia barang/jasa oleh
Pejabat Pengadaan atau Pokja ULP yang ditunjuk tanpa
membedakan golongan dengan pertanggungjawaban berupa
Kontrak.

4. Pengadaan Barang/Jasa dengan nilai diatas Rp. 500.000.000,00


(lima
ratus
juta
rupiah)
dilaksanakan
dengan
cara
Pelelangan/Seleksi kepada penyedia barang/jasa oleh Pokja
ULP yang ditunjuk dengan pertanggungjawaban berupa
kontrak.

BAGIAN V
KONTRAK
Pasal 19
Perubahan, Penghentian dan Pemutusan Kontrak
1. Perubahan kontrak dilakukan sesuai kesepakatan
Pelabuhan I dan penyedia barang/jasa (para pihak)
apabila terjadi perubahan lingkup pekerjaan,
metoda kerja, atau waktu pelaksanaan, sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
2. Penghentian kontrak dilakukan bilamana terjadi
hal-hal di luar kekuasaan para pihak untuk
melaksanakan kewajiban yang ditentukan dalam
kontrak, yang disebabkan oleh timbulnya keadaan
kahar yang dinyatakan resmi oleh pemerintah,
atau keadaan yang ditetapkan dalam kontrak.
3. Pemutusan kontrak dapat dilakukan bilamana
para pihak cidera janji dan atau tidak memenuhi
kewajiban dan tanggung jawabnya sebagaimana
diatur di dalam kontrak.
4. Pemutusan
kontrak
yang
disebabkan
oleh
kelalaian penyedia barang/jasa dikenakan sanksi
sesuai yang ditetapkan dalam kontrak berupa :
a.

Jaminan pelaksanaan menjadi milik Pelabuhan I;

b.

Sisa uang muka harus dilunasi oleh penyedia barang/jasa;

c.

Membayar denda dan ganti rugi kepada Pelabuhan I;

d.
Dimasukkan dalam daftar hitam dan daftar waspada
sesuai ketentuan yang berlaku

5.

Pelabuhan I dapat memutuskan kontrak secara


sepihak
apabila
denda
keterlambatan
pelaksanaan
pekerjaan
akibat
kesalahan
penyedia
barang/jasa
sudah
melampaui
besarnya jaminan pelaksanaan.

6. Kontrak batal demi hukum apabila isi kontrak


melanggar ketentuan perundang- undangan yang
berlaku.
Pasal 20
Serah Terima Pekerjaan
1. Setelah pekerjaan selesai 100% (seratus persen) sesuai
dengan yang tertuang dalam kontrak, penyedia barang/jasa
mengajukan permintaan secara tertulis kepada Pelabuhan I
untuk penyerahan pekerjaan.
2. Pelabuhan I melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan yang
telah diselesaikan, baik secara sebagian atau seluruh
pekerjaan, dan menugaskan penyedia barang/jasa untuk
memperbaiki dan atau melengkapi kekurangan pekerjaan
sebagaimana yang disyaratkan dalam kontrak.
3. Pelabuhan
I
menerima
penyerahan
pekerjaan
setelah
seluruh
hasil
pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan kontrak.
4. Penyedia barang/jasa wajib melakukan pemeliharaan atas hasil
pekerjaan selama masa yang ditetapkan dalam kontrak,
sehingga kondisinya tetap seperti pada saat penyerahan
pekerjaan.
5. Masa pemeliharaan minimal 3 (tiga) bulan untuk pekerjaan
konstruksi yang permanen dan 1 (satu) bulan untuk pekerjaan
konstruksi semi permanen dan masa pemeliharaan dapat
melampaui tahun anggaran.

6. Masa pemeliharaan untuk pekerjaan pengadaan barang/jasa


selain sebagaimana diatur dalam ayat 5 Pasal ini, ditentukan
oleh PJP.
7. Setelah
masa
mengembalikan
barang/jasa.

pemeliharaan
berakhir,
Pelabuhan
I
jaminan
pelaksanaan
kepada
penyedia

Pasal 21
Pekerjaan Tambah/Kurang
1. Apabila berdasarkan kajian tertulis yang dilakukan memang benar
didapati bertambah/berkurangnya
volume dan jenis pekerjan
tertentu, maka Penyedia barang dan jasa dapat melaksanakan
pekerjaan tambah/kurang, setelah menerima surat persetujuan
pekerjaan tambah/kurang dari Pejabat yang berwenang.
2. Pekerjaan tambah/kurang ditetapkan untuk kriteria :
a.
b.

Pekerjaan yang diakibatkan bertambah atau berkurangnya


volume di luar rencana teknik yang tidak dapat dielakkan.
Tidak melebihi 10% (sepuluh persen) dari nilai kontrak.

3. Surat persetujuan pekerjaan tambah/kurang


memuat :
a.
Uraian pekerjaan tambah/kurang.
b. Perkiraan biaya pekerjaan tambah/kurang.
4. Adanya
pekerjaan
tambah/kurang
amandemen/addendum kontrak.

tersebut

harus

5. Pejabat yang menandatangani amandemen/addendum


adalah pejabat yang menandatangani kontrak induk.

minimal

dibuatkan
kontrak

BAB III
PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG/JASA DENGAN
SWAKELOLA
Pasal 22

Kriteria Swakelola
1. Swakelola adalah pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan
dan dilaksanakan
sendiri oleh pelaksana swakelola dengan
menggunakan tenaga sendiri dan atau tenaga dari luar baik
tenaga ahli maupun tenaga upah borongan.
2. Swakelola dapat dilakukan untuk kepentingan dalam lingkungan
RSUD Solok.
3. Apabila dalam pelaksanaan swakelola
harus melakukan
pengadaan
barang/jasa,
maka pengadaan
barang/jasa
tersebut harus menggunakan ketentuan sebagaimana diatur
dalam keputusan ini.
4. Penanggungjawab
berikut:

Anggaran

dengan

ketentuan

sebagai

1) direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri oleh


Penanggung Jawab Anggaran; dan
2) mempergunakan pegawai sendiri, atau dapat menggunakan
tenaga ahli.
3) Jenis pekerjaan yang dapat dilakukan dengan cara
Swakelola adalah pekerjaan yang bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan dan/atau memanfaatkan
kemampuan teknis sumber daya manusia serta sesuai dengan
tugas pokok Instansi;

Pasal 23
Pengadaan Swakelola
PENGADAAN SWAKELOLA
ANGGARAN

OLEH

PENANGGUNG

JAWAB

1. PERENCANAAN
Sebelum pekerjaan
sebagai berikut:

dilaksanakan,

dilakukan

persiapan-persiapan

a. PA menyusun daftar kebutuhan dan kegiatan yang akan

dilaksanakan dengan cara Swakelola;


b. pembentukan Tim Swakelola dengan ketentuan:
1)

Tim Swakelola dapat terdiri dari Tim Perencana, Tim


Pelaksana, danTim
Pengawas,
serta
diangkat
oleh
PA/KPA/PPK sesuai dengan struktur organisasi Swakelola;

2) tugas dan tanggung jawab Tim Swakelola adalah sebagai berikut:


a) Tim
Perencana
mempunyai
tugas
dan
bertanggung
jawab dalam
menyusun
KAK,
membuat
gambar
rencana kerja dan/atau spesifikasi teknis;
b) Tim
Pelaksana
mempunyai
tugas
dan
bertanggung
jawab
dalam
melaksanakan
pekerjaan
sesuai
yang
direncanakan, membuat gambar
pelaksanaan
serta
membuat laporan
pelaksanaan pekerjaan; dan
c) Tim
Pengawas
mempunyai
tugas
dan
bertanggung
jawab
dalam
melaksanakan
pengawasan
terhadap
pelaksanaan dan pelaporan,
baik
fisik
maupun
administrasi pekerjaan Swakelola.
c. Penyusunan KAK memuat:
1) uraian kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi latar belakang,
maksud dan tujuan, sasaran serta sumber pendanaan;
2) waktu pelaksanaan pekerjaan yang diperlukan;
3) keperluan bahan, Jasa Lainnya, peralatan/suku cadang dan/atau
tenaga ahli perseorangan secara rinci yang dijabarkan dalam
rencana kerja bulanan, rencana kerja mingguan, dan rencana
kerja harian;
4) rincian biaya pekerjaan yang dijabarkan dalam rencana biaya
bulanan dan biaya mingguan;
5) produk yang dihasilkan;
(6) gambar rencana kerja dan spesifikasi teknis (apabila diperlukan).
d. Jadwal Rencana Pelaksanaan Pekerjaan
1) Tim Perencana membuat jadwal rencana pelaksanaan pekerjaan
berdasarkan kebutuhan waktu pelaksanaan pekerjaan dalam KAK,

termasuk jadwal pengadaan bahan, Jasa Lainnya, peralatan/suku


cadang dan/atau tenaga ahli perseorangan yang diperlukan.
2) Jadwal pelaksanaan pekerjaan
pelaksanaan pekerjaan
hingga
pekerjaan.

adalah waktu dimulainya


berakhirnya
pelaksanaan

3) Pembuatan jadwal rencana pelaksanaan pekerjaan disusun


dengan mempertimbangkan
waktu
yang
cukup
bagi
pelaksanaan/penyelesaian pekerjaan.
e. Rincian Biaya Pekerjaan
Tim Perencana membuat rincian biaya pekerjaan dengan tidak
melampaui pagu anggaran yang telah ditetapkan dalam dokumen
anggaran dan dituangkan dalam Rencana Anggaran Belanja (RAB),
meliputi:
1) gaji tenaga ahli perseorangan, upah tenaga kerja dan honor
Tim Swakelola;
2) pengadaan bahan;
3) pengadaan dan penggunaan peralatan/suku cadang; dan
4) proses pengadaan dan pengeluaran lainnya yang dibutuhkan
f. Gambar Rencana Kerja dan Spesifikasi Teknis
1) Gambar
rencana
kerja
memuat
lay-out,
potongan memanjang dan potongan melintang.

denah,

2) Spesifikasi teknis disusun mengikuti pedoman/standar


yang sesuai dengan yang diperlukan untuk pelaksanaan
pekerjaan.
g. Rencana Pengadaan dan Kebutuhan Tenaga Kerja
1) Dalam hal diperlukan bahan, Jasa Lainnya, peralatan/suku
cadang
dan/atau tenaga ahli perseorangan, dapat
dilakukan Kontrak/sewa tersendiri dengan Penyedia. Sebelum
dilakukan Kontrak/sewa, proses pengadaannya dilaksanakan
sesuai dengan yang ditentukan dalam Dokumen Pengadaan.
2) Jumlah tenaga ahli perseorangan tidak boleh melebihi 50% (lima
puluh perseratus) dari jumlah keseluruhan pegawai K/L/D/I yang
terlibat dalam kegiatan Swakelola.
3) Penyusunan jadwal rencana pengadaan dilaksanakan dengan
memperhatikan batas akhir tahun anggaran/batas akhir efektif

tahun anggaran.
4) Swakelola tertentu
tahun anggaran.

dapat

dilaksanakan

melebihi

(satu)

5) Rencana pengadaan harus mempertimbangkan syarat teknis dan


metode pelaksanaan pekerjaan yang tercantum dalam Dokumen
Pengadaan.
6) Rencana kebutuhan tenaga kerja harian disusun berdasarkan
rencana pelaksanaan pekerjaan.
2. PELAKSANAAN
Tim Pelaksana Swakelola melaksanakan pekerjaan yang telah
disusun perencanaannya, yaitu:
1. mengajukan
kebutuhan
bahan,
Jasa
Lainnya,
peralatan/suku cadang dan/atau tenaga ahli perseorangan
kepada PPK untuk diproses oleh Kelompok Kerja
ULP/Pejabat Pengadaan;
2. menyusun laporan tentang penerimaan dan penggunaan
bahan, Jasa
Lainnya,
peralatan/suku
cadang
dan/atau tenaga ahli perseorangan.
3. Pengadaan Bahan, Jasa Lainnya, Peralatan/Suku Cadang
dan/atau Tenaga Ahli Perseorangan.
3. PEMBAYARAN
??????
4. PELAPORAN
Pelaporan Penggunaan bahan, Jasa Lainnya, peralatan/suku
cadang dan/atau tenaga ahli perseorangan dicatat setiap hari
dalam laporan harian, laporan mingguan, laporan bulanan.
5. PENGAWASAN
Pengawasan pekerjaan Swakelola dilakukan oleh Tim Pengawas
untuk mengawasi pekerjaan mulai dari persiapan sampai akhir
pelaksanaan pekerjaan Swakelola meliputi:
1)
pengawasan
administrasi
yang
dilakukan
terhadap
dokumentasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan;
2) pengawasan teknis terhadap hasil pelaksanaan pekerjaan
untuk mengetahui realisasi fisik pekerjaan lapangan meliputi:
a) pengawasan terhadap bahan meliputi pengadaan,
pemakaian dan sisa bahan;
b) pengawasan
terhadap
penggunaan
peralatan/suku
cadang untuk menghindari tumpang tindih pemakaian
di lapangan; dan
c) pengawasan terhadap penggunaan tenaga kerja/ahli

agar pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan yang


direncanakan.
3) pengawasan Keuangan yang mencakup cara pembayaran
serta efisiensi dan efektifitas penggunaan keuangan; dan
4) apabila dari hasil pengawasan ditemukan penyimpangan,
PPK harus segera mengambil tindakan.
6. EVALUASI
1) Tim
Pengawas
melakukan
evaluasi
terhadap pelaksanaan pekerjaan yang meliputi:
a) pengadaan dan penggunaan bahan;

setiap

minggu

b) pengadaan dan penggunaan tenaga kerja/ahli;


c) pengadaan dan penggunaan peralatan/suku cadang;
d) realisasi keuangan dan biaya yang diperlukan;
e) pelaksanaan fisik; dan/atau
f) hasil kerja setiap jenis pekerjaan.
2) Dari hasil evaluasi tersebut, Tim Pengawas memberikan
masukan dan rekomendasi
untuk
memperbaiki
dan
meningkatkan pelaksanaan pekerjaan Swakelola selanjutnya.
BAB V PENGAWASAN
Pasal 24
Pengawasan
1.

Pengawasan dilakukan oleh setiap atasan secara struktural dan


fungsional atas aspek teknis maupun administrasi sesuai sasaran
kerja, kewenangan dan tanggungjawab berdasarkan peraturan
yang berlaku sejak tahap perencanaan, pelaksanaan sampai
penyelesaiannya baik secara fisik maupun kewajaran harga.

2.

Kepada para pihak yang ternyata terbukti melanggar ketentuan


dan prosedur pengadaan barang/jasa, maka :
a.

Dikenakan sanksi administrasi;

b.

Dituntut ganti rugi/digugat secara perdata;

c.

Dilaporkan untuk diproses secara pidana.

3.

Perbuatan atau tindakan penyedia barang/jasa yang dapat


dikenakan sanksi adalah :
a.

Berusaha
mempengaruhi
Penyelenggara/Panitia
Pengadaan/Pejabat
yang berwenang dalam bentuk dan cara
apapun, baik langsung maupun tidak langsung guna
memenuhi
keinginannya
yang
bertentangan
dengan
ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam
dokumen pengadaan/kontrak dan atau ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;

b.

Melakukan persekongkolan dengan penyedia barang/jasa


lain untuk mengatur harga penawaran di luar prosedur
pelaksanaan
pengadaan
barang/jasa
sehingga
mengurangi/menghambat/memperkecil
dan
atau
meniadakan persaingan
yang sehat dan atau merugikan
pihak lain;

c.

Membuat dan atau menyampaikan dokumen dan atau


keterangan lain yang tidak benar untuk memenuhi
persyaratan pengadaan barang/jasa yang ditentukan dalam
dokumen pengadaan;

d.

Mengundurkan diri dengan berbagai alasan yang tidak


dapat
dipertanggung- jawabkan dan atau tidak dapat
diterima oleh Penyelenggara/Panitia Pengadaan;

e.

Tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan


kontrak secara bertanggungjawab atau kriteria teknis lainnya
yang tidak dapat dipenuhi.

4.

Penyelenggara/Panitia Pengadaan atau PPK membuat evaluasi


hal-hal yang terkait.

5.

Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat 3 Pasal ini dilaporkan


kepada Pejabat yang berwenang untuk ditetapkan sanksi kepada
penyedia barang/jasa.

BAB VI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 25
Perjanjian kontrak yang ditandatangani sebelum berlakunya Keputusan
Direktur ini, tetap berlaku sampai berakhirnya perjanjian/kontrak
Pasal 26
Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan diperbaiki
jika dikemudian hari diperlukan.

Ditetapkan di

: Solok

Pada tanggal
Januari 2016

Direktur RSUD Solok

ERNOVIANA

Tembusan :
1.

Biro Hukum Sekretariat Daerah Prop. Sumbar.

2.

Arsip.