Anda di halaman 1dari 125

MK MIKROBIOLOGI & PARASITOLOGI

PRODI KESMAS FKIK UIN JAKARTA

ZOONOSIS
Drs. Winarno, MSc
Direktorat PPBB, Ditjen PP & PL, Kemenkes RI

REGARDING THE AGENTS LIFE CYCLE


1.DIRECT ZOONOSES: Transmitted to human from ver- terbrate
animal without any changes in the agent: Rabies, Anthrax,
Brucellosis
2.CYCLO ZOONOSES: Requiring more than one verte- brate host
in order to complete the development cy- cle of the agent:
Taeniasis bovis / cellulosae
3.META ZOONOSES: Besides two vertebrates, non vertebrate animal is needed to transmit the agent: Plague,
Schistosomiasis, Malay filariasis,Simian malaria
4.SAPRO ZOONOSES: Vertebrate host + non develop- mental
site, or reservoir, or organic material, soil, plants: Mycosis,
Larva migrans, Free living amoeba

PENGENDALIAN ZOONOSIS

Sasaran

Kegiatan Pokok

PROGRAM PENGENDALIAN ZOONOSIS


DI INDONESIA

Toxoplasmosis
Rabies
Anthraks
Leptospirosis
Filariasis
Schistosomiasis
Pes
Avian Influenza

Kecacingan lainnya

TOXOPLASMOSIS
Sejarah
Toxoplasma gondii. Pertama kali ditemukan oleh
Nicolle & Manceux th 1908 pada limpa binatang
mengerat sebangsa tikus , Ctenodactylus gundi di
Afrika .
Tahun 1970 secara jelas daur hidupnya baru
diketahui ketika ditemukan bhw daur SEXUAL nya
pada KUCING
Ditemukan secara kosmopolitan diberbagai tempat
terutama daerah beriklim panas dan lembab.

Hospes dan Distribusi

Hospes definitif T gondii : KUCING dan binatang


sejenis (FELIDAE)
Hospes perantara : manusia dan mamalia lain,
burung.
Parasit obligat intraseluler ini menyebabkan
Toxoplasmosis Kongenital dan Akuisita. Penyakit
ini mengakibatkan abortus, kebutaan, gangguncacat mental, dan sebabkan kematian.
Distribusinya ditemukan secara kosmopolitan pd
manusia dan binatang.

TOXOPLASMOSIS

SIKLUS HIDUP TOXOPLASMA GONDII DI MANUSIA MELALUI KUCING DLL

TOXOPLASMOSIS
In 1978, was reported by Cipto Mangunkusumo hospital where
41 cases out of 288 pregnancies were found.
During 1985 to 2010, 63,35 % were reported positive
toxoplasmosis by Macmal Integrated Immunoendokrinology
Division (Faculty of Medicine, University of Indonesia)
The government policy :
1. Toxoplasmosis cases in hospital will be treated
2. Health education would be implemented.
3. Passive surveillance will be carried out in Health Center and
Hospital
HDD D, ZOONOSIS, 2012

Rabies merupakan ensefalomielitis fatal sbgn besar


hospes berdarah panas termasuk Manusia.
Agen penyebab: Genus Lysaavirus, Fam: Rabdovirus:
- virus rabies klasik
- European Bat Lyssavirus (EBL)
- Australian Bat Virus
- African Duvenhage Virus
Merupakan virus RNA untai tunggal,
Infeksi pada manusia bersifat Insidental, disebabkan
oleh gigitan atau cakaran hewan dgn kontak saliva
mengandung virus rabies, transmisi jarang terjadi
melalui mukosa, aerosol atau implantasi.
Mortalitasnya mendekati 100 %

MASA INKUBASI SEKITAR 20-90 HARI


Masa inkubsi dipengaruhi beberapa faktor:
1. Virulensi strain virus
2. Banyak sedikitnya virus
3. Jarak lokasi gigitan dgn kepala (CNS, otak)
4. Jumlah luka gigitan
5. Dalam dan luas nya luka gigitan
6. Jumlah syaraf dan luka gigitan
7. Respon imun penderita

MONITORING & EVALUASI PROGRAM


INDIKATOR PADA HEWAN
Jumlah hewan positif rabies
Cakupan vaksinasi anjing
Cakupan eliminasi anjing

INDIKATOR PADA MANUSIA


Input: jumlah VAR/SAR yang tersedia
Proses: % kasus Gigitan HPR yg ditangani sesuai SOP
Output:% jmlh kasus gigitan yg ditangani
Jumlah rabies center yg tersedia
Outcome: jumlah Lyssa

LEPTOSPIROSIS

WEIL,S DISEASE
CANICOLA FEVER
HAEMORRHAGIC JAUNDICE
TRENCH FEVER
SWINEHERD,S DISEASE
MUD FEVER
RICE FIELD FEVER
FLOOD FEVER

Agent penyebab:
Bakteri genus Leptospira, ordo Spirochaetales ,
famili Trepanometaceae.
Sumber penularan : Tikus, babi, sapi, kambing, domba,
kuda, anjing, kucing, burung, landak, kelelawar, tupai
dan rubah.
Reservoir : tikus.

Bacteriology
Organisme penyebab : Leptospira
Bentuk berpilin spt spiral, tipis, lentur, Aerobic.
Ukuran panjang 6 - 20 m, tebal 0,1 m.
Pathogenic untuk beberapa hewan liar & domestic:
tikus, sapi & anjing.
Genus Leptospira: 2 species
Leptospira interrogans (pathogenic)
Leptospira biflexa (saprophytic)

24 serogroups & > 240 serovars

Faktor risiko
Berjalan di tempat banjir atau air
berhenti/tergenang
Tinggal di daerah banjir.
Personal hygiene
Populasi tikus tinggi
Rekreasi di tempat tertentu (water sports)
Pekerjaan tertentu (petugas pembersih
selokan)

SISTEM KEWASPADAAN DINI :


Daerah endemis, khususnya musim hujan (banjir dan pasca
banjir), tikus2 keluar dari sarangnya berkeliaran urin cemari air
dan lingkungan perlu peningkatan kewaspadaan dan
kebersihan lingkungan serta individu.
Pengamatan intensif didaerah endemis pada musim penghujan di
puskesmas dan RS.
Bila ditemukan kasus leptospirosis di RS/puskesmas segera melaporkan ke Dinas Kes setempat.

PENCEGAHAN:
Peningkatan Kebersihan lingkungan :
- selokan, saluran air, air tergenang
- tempat air dan kolam renang
- tempat-tempat yg dapat menjadi sarang tikus
Health education tentang personal hygiene.
- Menggunakan sepatu boot jika berjalan di daerah banjir
- Cuci tangan dengan sabun
Rodent control, bila kondisi memungkinkan.
Segera berobat ke dokter apabila demam setelah bekerja di
air tergenang atau banjir

PENGOBATAN & PENCEGAHAN


Obat pilihan utama Pinisilin, bisa diganti dgn
tetrasiklin, klorampenikol, eritromisin.
Pengobatan tipe kulit diberikan secara intramuskular,
dengan SKIN TEST terlebih dulu.
Hewan yg dicurigai sakit tdk boleh disembelih.
Daging yg dicurigai sakit antraks tdk boleh dikonsumsi,
Tidak boleh sembarang memandikan orang yg
meninggal karena antraks
Lapor ke Puskesmas/Disnak bila temukan hewan
diduga menderita antraks.
Melakukan vaksinasi antraks pd hewan ternak

AGEN PENYEBAB PES

PENGENDALIAN PES

Surveilans Kasus, Tikus dan Pinjal


Penerapan SKD-KLB Pes (variabel Umum & Teknis)
Pengedalian Pinjal, dengan dusting dan flea catching,
Tindakan khusus dalam menghadapi KLB Pes.
Pengobatan penderita dengan menggunakan antibiotik
(streptomisin, tretrasiklin, kloramfenikol)
Upaya pencegahan dengan rumah sehat dan sanitasi
lingkungan.

FILARIASIS
(PENYAKIT KAKI GAJAH)

Penyakit menular menahun, disebabkan oleh


cacing filaria & ditularkan melalui nyamuk

Tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota di


Indonesia

Menimbulkan kecacatan menetap, stigma sosial,


hambatan psikologis & kerugian ekonomi

Menurunkan kwalitas SDM

SIKLUS PENULARAN FILARIASIS

L3
L2
L1

PENYEBAB FILARIASIS
3 SPESIES CACING filaria

Microfilaria dari spesies


Wuchereria bancrofti

Microfilaria dari spesies


Brugia malayi

Microfilaria dari spesies Brugia timori

In Kalimantan & Sumatera Island with brugian infection, prior to


sub periodic type (animal reservoir host is available)

NYAMUK PENULAR FILARIASIS

Semua nyamuk dpt jadi vektor penular filariasis !!

TEMPAT NYAMUK BERKEMBANG BIAK

SAWAH

Rawa-rawa

GOT / SALURAN AIR

Tanaman air

GEJALA KLINIS
a) Tahap awal (Akut)
Demam berulang > 1 2 x setiap bulan bila bekerja berat, tapi
dpt sembuh tanpa diobati
Timbul benjolan & terasa nyeri pada lipat paha atau ketiak
tanpa ada luka

GEJALA KLINIS
b) Tahap lanjut (Kronis)
Pembesaran yang hilang timbul pada kaki,
tangan, kantong buah zakar, payudara & alat
kelamin wanita
Lama kelamaan pembesaran tsb menjadi cacat
menetap

PENDERITA LIMFEDEMA
TIDAK HANYA DI KAKI, TETAPI JUGA BISA DI LENGAN

Mengenai Alat Kelamin (Hidrokel)

Filariasis pada Payudara

ELIMINASI FILARIASIS
KOMITMEN INTERNASIONAL

WHA Resolution, 1997


Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public
Health Problem

WHO Global Commitment, 2000


The Global Goal of Elimination of Lymphatic

Filariasis as a Public Health Problem by the year


2020

PROGRAM ELIMINASI FILARIASIS


DI INDONESIA

KOMITMEN NASIONAL

Pencanangan oleh Menteri Kesehatan RI :


8 April 2002 di Sumatera Selatan .
Filariasis sbg program prioritas P2M & PL

Peraturan Presiden RI. No. 7 Tahun 2005, tentang RPJMN Tahun


2004-2009. Bab 28. B. 5. Filariasis sebagai salah satu program
prioritas P2M

Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI. No.443.43/875/SJ. Tgl: 24


April 2007. Tentang Pelaksanaan Pengobatan Massal Filariasis
Dalam Rangka Eliminasi Filariasis di Indonesia.

STRATEGI PROGRAM
1. Memutuskan mata rantai penularan filariasis
Pemberian obat Massal Pencegahan (POMP)
filariasis di daerah endemis.

STRATEGI

2. Mencegah dan membatasi kecacatan

penatalaksanaan kasus filariasis

STRATEGI

3. Memperkuat surveilans

4. Pengendalian Vektor Terpadu

Distribusi Kasus Kronis Filariasis


per Provinsi Tahun 2011

Estimated population at risk : 126,025,645 people


2008

KERUGIAN EKONOMI AKIBAT FILARIASIS


DI INDONESIA

Kerugian ekonomi pada kasus kronis filariasis


(Hasil survey kerugian ekonomi tahun 2000 oleh FKM-UI).

Jenis kerugian

Rp

Biaya utk berobat

Rp.

157,496

21,4

Hilangnya waktu produktif penderita

Rp.

306,000

41,6

Hilangnya waktu produktif orang lain

Rp.

236,792

32,2

Biaya tindakan

Rp.

35,640

TOTAL KERUGIAN PER KASUS PER TAHUN

Rp.

735,380

ASUMSI TOTAL KERUGIAN EKONOMI PER


KASUS TAHUN 2012, BERDASARKAN UMR

Rp. 2.438.244

4,8
100,0

KEBUTUHAN DANA POMP FILARIASIS


DI KABUPATEN SAROLANGUN

Unit cost biaya pengobatan massal : Rp. 2.200


Total biaya pengobatan per tahun (obat+opr)
= Rp 2.200 x 206.982 (80% dr penduduk
beresiko )
= Rp. 455.360.400
Biaya Obat: Rp. 182.144.160 (Kemenkes)
Biaya Operasional: Rp. 273.216.240 (Pemda)
Asumsi kerugian ekonomi akibat filariasis

Rp. 27.127.902.744 :

Total biaya POMP filariasis

Rp. 455.360.400

SCHISTOSOMIASIS
Penyakit menular menahun,
dapat menyebabkan kematian
Penyebab : cacing
TREMATODA
Pada manusia 3 spesies:
- Schistosoma mansoni
(Hepatic/intestinal)
- Schistosoma haematobium (Urinary)
- Schistosoma japanicum
(Hepatic/intestinalIndonesia)

Scistosoma japonicum

Cacing Schistosoma japonicum


Hidup dalam tubuh manusia:
di dlm pembuluh darah vena system
peredaran drh hati (Vena Porta,
Vena mesenterika)
Hospes perantara (vektor):
keong (Oncomelania hupensis
lindoensis)
Hospes reservoar: Mamalia
tikus,musang, babi,
rusa, sapi, kerbau, kuda, anjing

SCHISTOSOMIASIS
Penyebaran :
China, Jepang , Taiwan, Thailan, Malaysia,
Philipine
Indonesia
Prop.Sulteng
- Danau Lindu, Kab.Sigi
- Lembah Napu-Besoa, Kab.Poso
- Lembah Bada

Daerah Endemis Schistosomiasis

PETA ENDEMISITAS SCHISTOSOMIASIS

SIKLUS HIDUP

CACING SCHISTOSOMA JAPONICUM

S. JAPONICUM

TIKUS
KUCING
ANJING
RUSA
BABI
LEMBU
DLL

MANUSIA

EGG

2-5 Tahun

2 Hari
CERCARIA

MIRACIDIUM

SPOROCYST

4 Minggu
2 Hari
ONCOMELANIA HUPENSIS
LINDOENSIS

Gejala klinis akut:

Urtikaria/dermatitis
Demam
Malaise
Mual/muntah
diare

Gejala klinis lanjut:

Sindroma disentri
Ikterus
Udema
Ascites
Hematemesis
Anemia
Hepatomegali
Splenomegali
meninggal o/k kerusakan
hepar irreversibel
/kerusakan organ-organ
vital

PREVALENSI SCHISTOSOMIASIS DI SULAWESI


TENGAH TAHUN 1982 - 1999
18
16
16

PROSENTASE

14
12
10
8
6

5,8
3,8

4
2
2

2,3

1,7
0,9

1,1

1,6

2,6

2,1
1,2

1,6

1,6

1,9
1

0,7

1,2

0
1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999
TAHUN

Prevalensi Schistosomiasis pada manusia,


Tahun 2000 - 2011
7

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

Lindu, Kab. Sigi

0,58

0,36

0,75

0,64

0,17

0,66

0,52

1,36

2,19

2,5

4,66

0,89

Napu-Besoa, Kab. Poso

1,22

1,02

0,76

0,7

0,71

1,02

1,55

1,21

2,44

3,8

4,78

0,31

Lore Barat, Kab. Poso

5,93

Prevalensi Schistosomiasis pada Tikus,


Tahun2002 - 2011
30

25

20

15

10

0
Lindu, Kab. Sigi
Napu-Besoa, Kab. Poso

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

13,36

4,6

11,63

1,03

0,94

7,3

25,4

20,8

9,8

12,5

2,4

4,3

10,64

4,33

4,04

5,1

10,4

18,2

7,92

6,67

Prevalensi Schistosomiasis pada Keong,


Tahun2002 - 2011
18

16

14

12

10

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

Lindu, Kab. Sigi

3,42

1,18

2,91

1,09

7,3

10,5

1,7

3,3

3,56

Napu-Besoa, Kab. Poso

1,4

0,97

16,3

1,32

1,41

5,1

2,2

9,7

1,88

PERMASALAHAN
Prevalensi pd manusia, keong dan tikus dari tahun ke tahun
cenderung meningkat walaupun pada akhir tahun 2011
menurun setelah dilakukan pengobatan massal kepada
penduduk di Lindu dan Napu-Besoa.
Fokus-fokus keong perantara belum dapat diberantas
seluruhnya
Pengolahan sawah atau ladang tidak atau kurang intensif
Banyaknya lahan tidur yang dapat merupakan tempat
berkembang biak keong perantara
Luasnya daerah menyebabkan belum semua
fokus keong terdeteksi

METODOLOGI PEMBERANTASAN

TIKUS
KUCING
ANJING
RUSA
BABI
LEMBU
DLL

OBAT
PRAZIQUANTEL

S. JAPONICUM

MANUSIA

EGG
JAMBAN
AIR BERSIH
CERCARIA
MIRACIDIUM

SPOROCYST

MANAJEMEN
LINGKUNGAN

MANAJEMEN
LINGKUNGAN

ONCOMELANIA HUPENSIS LINDOENSIS

KEGIATAN POKOK
1. Penguatan program kegiatan eliminasi
schistosomiasis
2. Peningkatan manajemen SDM
3. Peningkatan promosi kesehatan
4. Survei prevalensi schistosomiasis
5. Survei lingkungan
6. Pengobatan
7. Penguatan manajemen program
8. Pengendalian keong penular
9. Evaluasi program eliminasi schistosomiasis

PERAN LINTAS SEKTOR


1.

INSTANSI PEMERINTAH
Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA)
Dinas Pekerjaan Umum
Penyediaan air bersih, penataan pemukiman, pengaliran saluran air,
pengeringan lahan, memperbaiki irigasi, pengaliran saluran air

Dinas Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perkebunan

2.

Intensifikasi pertanian, pembuatan sawah / kebun,


pemarasan

Dinas Pariwisata
Dinas Pendidikan
Badan Pertanahan Nasional
Dll

MASYARAKAT

Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Adat


Tokoh Perempuan dan Tokoh Pemuda

3.

LSM

AVIAN INFLUENZA (AI)


VIRUS AVIAN INFLUENZA

Famili
Orthomyxoviridae
3 genera A, B,C
(hanya influenza A yg
menginfeksi unggas)
Segmented genome (8
segment)
Single strand RNA
16 subtipe HA (H1-H16)
dan 9 subtipe NA (N1N9)

VIRUS INFLUENZA
Tipe
Genome
Suibtipe

Induk
Semang

Penyakit

A
8 gen
10 protein
16 HA
9 NA
Unggas
Mamalia
(Babi)
Manusia

Parah

8 gen
7 gen
10 protein 9 protein
1 HA
1 HEF
1 NA

Manusia

Manusia

SUBTIPE YANG PATOGEN


Patogenitas: (1). LPAI dan (2). HPAI
Antigen permukaan:
Antigen HA: 16 (H1 s/d H16)
Antigen NA: 9 (N1 s/d N9 )
Subtipe virus Influenza A ada: 16 X 9 = 144

(H1N1, H3N1, H5N3 H5N1, H7N7..dst)

Yang patogen pada Unggas: H5 atau H7

dan tidak sebaliknya.

PANDEMI YG AKAN DATANG ?

PANDEMI INFLUENZA (1)

Pandemi Influenza adalah suatu keadaan di


mana hampir semua negara terjangkit
Influenza

Merupakan perluasan dari Epidemi atau


wabah

Tiga pandemi Influenza pada abad ke 20 :


- 1918 Flu Spanyol (20 - 40 juta )
- 1957 Flu Asia (1 - 4 juta)
- 1967 Flu Hong Kong (1- 4 juta )

PANDEMI INFLUENZA
(2)
Kapan dan di mana pandemi yad muncul, tidak
ada yg bisa meramalkan. Sama sulitnya seperti

meramal gempa.
Perlu peningkatan kesiapsiagaan yg

berkesinambungan.
Dituangkan dalam dokumen Kesiapan
Menghadapi Pandemi Influenza yg terus
disempurnakan sesuai dengan perkembangan
penyakit AI dan teknologi penanggulangan

FASE
PANDEMI (berlaku global)
INTERPANDEMI
Fase 1 dan 2: virus AI masih terbatas pada unggas
WASPADA PANDEMI
Fase 3, saat ini, virus AI melompat dari unggas ke
manusia. Kemungkinan ada penularan yg sangat terbatas
antar manusia
Fase 4 dan 5 penularan antar manusia yg masih terbatas
di suatu negara

PANDEMI
Fase 6: pandemi, banyak negara terjangkit dalam 3-6
bulan

VIRUS
PENYEBAB PANDEMI
Belum diketahui

Hampir pasti virus baru hasil mutasi atau


reassortment
Perlu monitoring ketat secara global untuk
mendeteksi sedini mungkin
Deteksi dini : sinyal epidemiologis dan sinyal
virologis
Virus ini akan digunakan untuk membuat
vaksin. Butuh waktu sekitar 6 bln

FASCIOLOPSIASIS
Infeksi trematoda usus yang
hidup di usus halus manusia,
biasanya doudenum
Penyebab : Fasciolopsis buski

Panjangnya mencapai 80 mm
trematode paling besar
yang ditemukan pada
manusia.

Penyebaran F. Buski
Dunia :
- Thailand
- China Selatan
- China Tengah
- Malaysia
- Taiwan
- Sebagian India
- Bangladesh
Indonesia :
- Hulu Sungai Utara (Kalsel)
- Barito Selatan (Kalteng)

Siklus Hidup F. buski


Telur dikeluarkan melalui tinja
Menetas dan berkembang
dalam air

Miracidia (3 7 minggu)
Masuk dalam tubuh keong
(hospes perantara)

Serkaria
Membentuk kista yg melekat
pada tumbuhan air
Metaserkaria infektif

Cara Penularan
Manusia terinfeksi karena mengkonsumsi
tumbuhan air mentah yang mengandung
metaserkaria F. buski

Gejala Fasciolopsiasis
Ringan : Jarang menimbulkan gejala (asymptomatic)
Berat :
- Diarrhea
- Sakit abdominal
- Demam
- Ascites
- Muka terlihat bengka
- Oedema pada kaki
- Gangguan pencernaan
- Anemia mempengaruhi produkstivitas
- Dalam jumlah besar dapat menyebabkan
penyumbatan usus akut

Penegakan Diagnosa
Penemuan telur cacing
pada tinja host
(pemeriksaan mikroskopis)
Penemuan cacing dewasa
pada tinja host
Cacing kadang-kadang
dimuntahkan

Pencegahan
Penyuluhan kepada penduduk beresiko di
daerah endemis tentang cara penularan dan
siklus hidup dari F. buski
Untuk membasmi telur buang tinja di
jamban
Tidak mengkonsumsi tumbuhan air mentah.
Keringkan tumbuhan air yang diduga
mengandung metaserkaria.

Pengobatan
Obat terpilih : Prazikuantel
Dosis
: 15 mg/kg bb dosis tunggal

Prevalensi F. Buski pada Manusia


di Kab. Hulu Sungai Utara

Kegiatan Pengendalian fasciolopsiasis di Kabupaten Hulu


Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan:
Penyuluhan kesehatan masyarakat tentang fasciolopsiasis di
daerah endemis
Assessment F. buski melalui survey tinja penduduk di daerah
endemis.
Pengobatan penderita fasciolopsiasis dengan prazikuantel
Monitoring dan evaluasi program pengendalian fasciolopsiasis

Rumah penduduk di daerah endemis F.


buski, HSU

Anak-anak sekolah menggunakan


jukung ke sekolah