Anda di halaman 1dari 10

I.

Identitas Laporan
Belerang
II.
Tujuan
1. Menganalisis sifat kimia belerang dan senyawa belerang
2. Mempelajari pembentukan alotropi belerang
III.
Tinjauan Pustaka
III.1 MSDS Bahan Percobaan
III.1.1 MSDS Serbuk Besi
Serbuk besi merupakan serbuk logam padat yang berwarna hitam keabuan.
Serbuk besi memiliki berat molekul 58,55gram/mol dengan titik didih 3000C dan
titik lelehnya 1535C. Serbuk ini tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Serbuk
besi larut dalam air panas, air dingin dan dietil eter. Serbuk besi mudah terbakar
apabila terkena api langsung. Serbuk besi sedikit berbahaya apabila terkena
kontak mata, kulit, tertelan dan inhalasi (Anonim, 2013).
III.1.2 MSDS Serbuk Belerang
Sulfur atau belerang adalah unsur kimia di dalam sistem periodik unsur
yang mempunyai simbol S dan nomor atom 16. Unsur ini adalah unsur bukan
logam multivalen yang berlimpah, tanpa rasa dan tanpa bau. Sulfur dalam bentuk
aslinya adalah satu hablur pepejal yang berwarna kuning. Sulfur dijumpai di alam
dalam bentuk unsur murni atau dalam bentuk mineral sulfida atau sulfat. Ia
merupakan unsur penting untuk kehidupan dan didapati dalam dua asam amino.
Belerang berwarna kuning pucat berbentuk padatan yang rapuh yang tidak larut
dalam air tapi mudah larut dalam CS2 (karbondisulfida). Belerang merupakan
konduktor panas yang buruk dan bukan penghantar listrik yang baik memiliki
berat jenis sebesar 2,05 2,09gram/cm3 bersifat getas atau mudah hancur (brittle)
(Anonim, 2013).
III.1.3 MSDS HCl p.a
Asam klorida merupakan larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl).
Asam klorida merupakan asam kuat sehingga bersifat korosif. Asam klorida
berwujud cairan yang tidak berwarna. Zat ini memiliki nilai titik didih sebesar
53C dan titik leleh -74C dengan kerapatan 1,18gram/cm3. Massa molar asam
klorida yakni 36,46gram/mol. Asam klorida bersifat korosif jika terhirup dapat
mengiritasi saluran pernapasan dan jika tertelan dapat menyebabkan rasa sakit dan
luka bakar langsung dari mulut, tenggorokan, dan dapat menyebabkan mual,
muntah, dan diare (Anonim, 2013).

III.1.4 MSDS H2SO4 p.a


Asam sulfat adalah mineral asam kuat yang larut dalam air pada semua
konsentrasi. Sifat fisik dari asam sulfat adalah berupa zat cair tidak berwarna dan
tidak berbau. Kepadatan sebesar 1,84 gr/cm3 ( cairan ). Asam sulfat membeku
pada suhu 10 oC, memiliki titik didih 534-590C . Larutan Asam Sulfat larut
dalam air. Asam seperti H 2SO4 dengan molekul yang mampu menyumbangkan
lebih dari satu proton disebut asam poliprotik (Anonim, 2013).
III.1.5 MSDS CuSO4
Tembaga sulfida merupakan padatan kristal yang berwarna biru. Zat ini
memiliki berat molekul sebesar 249,69gram/mol. Tembaga sulfida memiliki titik
didih sebesar 150C dengan titik leleh sebesar 110C . Tembaga sulfida larut
dalam air panas, air dingin, metanol dan etanol dengan nilai kelarutan dalam
100mL air sebesar 3,16gram/100mL. Zat ini dapat menyebabkan iritasi apabilater
kena mata dan kulit serta dapat menyebabkan inhalasi apabila tertelan (Anonim,
2013).
III.1.6 MSDS FeS
Besi sulfida merupakan padatan kristal yang memiliki berat molekul sebesar
87,92gram/mol. Senyawa ini memiliki titik leleh sebesar 1194C. Senyawa ini
sedikit larut di dalam air dingin. Besi sulfida reaktif dengan oksidator asam.
Senyawa ini dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit apabila terkena
langsung dan dapat menyebabkan inhalasi apabila tertelan (Anonim, 2013).
III.1.7 MSDS CS2
Karbon disulfida merupakan senyawa yang berbentuk cair dengan berat
molekul sebesar 76,14gram/mol. Karbon disulfida tidak berwarna dengan pH
netral dan memiliki titik didih 46,3C dan titik leleh -111,6C. Senyawa ini sedikit
larut dalam air dingin. Senyawa ini dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit
apabila terkena langsung dan inhalasi apabila tertelan (Anonim, 2013).
III.1.8 MSDS Kloroform
Kloroform mempunyai nama lain triklorometana (CHCl3). Biasanya
kloroform dikenal sebagai bahan pembius. Dalam industri, kloroform digunakan
sebagai pelarut nonpolar. Pada suhu ruang, kloroform berwujud cair dan mudah
menguap atau volatil. Kloroform mempunyai massa molar 119,38 gram/mol
dengan kerapatan 1,48 gram/cm3. Penampilannya dalam fase cairan adalah tidak

berwarna. Titik leleh dan titik didih dari kloroform adalah -63,5 oC dan 61,2oC
dengan kelarutan dalam air 0,8 gram/100 mL air pada suhu 20 oC. Bentuk molekul
dari CHCl3 adalah tetrahedral.
Kloroform merupakan bahan yang tidak mudah terbakar dan meledak
namun jika terbakar menibulkan asap beracun. Jika terjadi kebakaran maka
langkah yang harus dilakukan adalah memadamkan dengan segera misalnya
dengan penyemprotan air. Ketika masuk ke saluran inhalasi akan menyebabkan
mual, batuk, dan kantuk. Umtuk mencegahnya dapat dilakukan dengan membuat
ventilasi atau saluran pembuangan lokal dan penggunaan alat perlindungan
pernapasan (Anonim, 2013).
III.2

Dasar Teori
Belerang ditemukan dalam meteorit. R.W. Wood mengusulkan bahwa

terdapat simpanan belerang pada daerah gelap di kawah Aristarchus. Belerang


terjadi secara alamiah di sekitar daerah pegunungan dan hutan tropis. Belerang
dikenal di zaman kuno dan disebut dalam Kejadian dalam Alkitab (Taurat disebut
dalam Yudaisme). Sulfur juga dikenal ke Cina pada abad ke-6 dalam bentuk
alami. Pada abad ke-3 Cina menemukan cara untuk mengisolasi belerang dari
mineral pirit setelah isolasi, orang Cina mulai memanfaatkan belerang dalam
bidang kedokteran. Pada lewat 1770-an, Antoine Lavoisier membantu
meyakinkan golongan sains bahwa sulfur merupakan sejenis unsur dan bukannya
satu senyawa. Pada tahun 1867, sulfur ditemui di dalam endapan-endapan bawah
tanah di Louisiana dan Texas (Cotton, 1989).
Sulfur (Sanskrit: sulvere; Latin: sulpur) dikenal sejak jaman purbakala, dan
pernah dirujuk dalam kitab Injil Pentateuch (Kejadian) dalam bab itu juga ada
yang mengatakan dengan tersiratnya bahawa neraka "berbau seperti belerang",
walaupun belerang sebenarnya tidak berbau. "Bau belerang atau sulfur" biasanya
merujuk kepada bau hidrogen sulfida, berbau telur busuk. Unsur sulfur dapat di
peroleh dari mata air panas dan kawasan gunung berapi di berbagai belahan dunia,
terutama di sepanjang lingkaran api pasifik. Sulfur di alam terdapat dalam

keadaan bebas maupun sebagai bijih sulfida, FeS2, PbS, ZnS, dan sebagai sulfat
CaSO4.2H2O dan MgSO4.7H2O (Wikipedia, 2013).
Belerang terdapat dalam dua bentuk alotrof (polimorf). Kedua alotrof ini
adalah belerang rombik, berwarna kuning yang di sebut belerang (titik leleh
112,8C). Pada suhu 95,6C, belerang rombik berubah menjadi belerang
monokolin yang disebut belerang (titik leleh 119,25C). Satuan struktur kedua
bentuk alotrof dalam keadaan cair mengerut menjadi lingkar S8. Atom S
mempunyai satu ikatan tunggal kovalen dengan jari- jari S= 104 pm.
Elektronegativitasnya 2,58. Belerang stabil dalam udara pada suhu kamar tetapi
akan terbakar dalam pemanasan dengan memberikan nyala biru, belerang terbakar
dari hasil belerang oksida (Petrucci, 1985).
Belerang dihasilkan secara komersial dari sumber mata air hingga endapan
garam yang melengkung sepanjang Lembah

Gulf di Amerika Serikat.

Menggunakan proses Frasch, air yang dipanaskan masuk ke dalam sumber mata
air untuk mencairkan belerang, yang kemudian terbawa ke permukaan. Belerang
juga terdapat pada gas alam dan minyak mentah, namun belerang harus
dihilangkan dari keduanya. Awalnya hal ini dilakukan secara kimiawi, yang
akhinya membuang belerang. Namun sekarang, proses yang baru memungkinkan
untuk mengambil kembali belerang yang terbuang. Sejumlah besar belerang
diambil dari ladang gas Alberta.
Belerang digunakan besar-besaran dalam pembuatan pupuk fosfat. Bertonton belerang digunakan untuk menghasilkan asam sulfat, bahan kimia yang sangat
penting. Belerang juga digunakan untuk pembuatan kertas sulfit dan kertas
lainnya, untuk mensterilkan alat pengasap, dan untuk memutihkan buah kering.
Belerang adalah penyusun lemak, cairan tubuh dan mineral tulang, dalam kadar
yang sedikit. Belerang cepat menghilangkan bau. Belerang dapat diperoleh
dengan cara frasch. Cara frasch adalah mengambil belerang dari deposit belerang
di bawah tanah. Kemurnian belerang yang keluar mencapai 99,5% (Cotton, 1989).
IV.
Alat dan Bahan
IV.1 Alat :
- Cawan porselin
- Pembakar spirtus
- Kasa dan kaki tiga

- Tabung reaksi
- Penjepit kayu
- Pipet tetes
- Botol semprot
- Gabus penutup tabung reaksi
- Kaca arloji
- Beaker glas
- Pipa lancip
- Pipa bengkok
IV.2 Bahan :
- Serbuk besi
- Serbuk belerang
- HCl p.a
- H2SO4 p.a
- CuSO4
- FeS
- CS2
- Kloroform

V.

Skema Kerja
V.1 Analisis Sifat Belerang
-

dicampur di dalam cawan porselin dengan


perbandingan 1:1
Serbuk besi & belerang
- dipanaskan sehingga keduanya bereaksi
- diambil beberapa butir FeS
- dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- ditambahkan larutan HCl p.a
- ditutup gabus yang sudah diberi pipa lancip
- dipanaskan tabung reaksi
- dinyalakan gas yang terjadi
- diarahkan ke kaca arloji nyala gas yang terjadi
- diamati apa yang terjadi
- diambil beberapa keping FeS
- dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- ditambahkan HCl p.a
- ditutup dengan gabus yang sudah diberi pipa
bengkok
- dipanaskan
- dialirkan gas yang terjadi dengan larutan H2SO4 p.a
dan larutan CuSO4
- diamati semua peristiwa yang terjadi
- ditulis semua reaksi yang terjadi pada langkah no.9

Hasil
V.2 Sifat Alotropi Belerang
Serbuk belerang
-

VI.

Hasil Pengamatan
6.1 Hasil

Perc Perlakuan
Hasil
1.

Serbuk
belerang +

ditimbang 0,5gram sebanyak 2 kali


dimaukkan masing masing ke dalam tabung
reaksi
ditambahkan larutan CS2 pada tabung A
ditambahkan larutan CHCl3 pada tabung B
dipanaskan semua larutan sampai semua larut
diuapkan semua pelarutnya
diamati bentuk kristalnya
dibandingkan bentuk kristal yang terjadi
Hasil Pengamatan

Keteranga
Terbentuk pirit
(FeS)

Serbuk besi

2.

Gas hasil FeS

Terbentuk

gas

+ HCl p.a

berwarna putih

(dipanaskan)

yang menempel

dialirkan ke

pada

H2SO4 p.a

tabung

dinding

3.

Gas hasil FeS

Terbentuk gas

+ HCl p.a

berwarna merah

(dipanaskan)

yang menempel

dialirkan ke

pada dinding

CuSO4

tabung

Belerang +

Terbentuk

CS2

kristal

kuning

yang berbentuk
seperti karang

4.

Belerang +

Terbentuk

kloroform

kristal

kuning

yang

masih

menggumpal

6.2 Reaksi
- Fe(s) + S(s)
- FeS(aq) + 2HCl(
aq)
- H2S(g) + H2SO4(aq)
- H2S(g) + CuSO4(aq)
VII.

FeS(s)

H2S(g) + FeCl2(aq)
SO2(g) + 2H2O(aq) + S
CuS(s) + H2SO4(aq)

Hasil Analisis
Belerang merupakan unsur pada golongan VI A dengan nomor atom 16.
Belerang ditemukan di meteorit dan terjadi secara alamiah di daerah pegunungan
dan hutan hujan tropis. Belerang dikenal bau yang tidak sedap seperti bau telur
busuk, namun bau itu adalah bau hidrogen sulfida (H2S). Unsur belerang aslinya

tidak memiliki bau. Belerang di alam terdapat dalam keadaan bebas dan juga
sebagai bijih sulfida, FeS2, PbS, ZnS, dan sebagai sulfat CaSO 4.2H2O dan
MgSO4.7H2O. Belerang memiliki 2 alotrop yakni rombik dan monoklin.
Percobaan kali ini bertujuan menganalisis sifat kimia belerang dan senyawa
belerang serta mempelajari pembentukan alotropi belerang. Percobaan yang
pertama yakni menganalisis sifat kimia belerang dan senawanya. Langkah yang
pertama yaitu mencampurkan serbuk belerang dan serbuk besi dengan
perbandingan 1:1 yakni 1gram : 1gram ke dalam cawan porselin. Kemudian
campuran zat dipanaskan agar keduanya bereaksi membentuk pirit (FeS) yang
berwarna hitam. Reaksinya sebagai berikut :
Fe(s) + S(s)
FeS(s)
Kemudian pirit yang dihasilkan
diambil secukupnya untuk diuji dengan HCl p.a,

H2SO4 p.a dan CuSO4. Pertama tama dimasukkan beberapa butir pirit ke dalam
tabung reaksi, kemudian ditambahkan HCl p.a dan ditutup dengan gabus yang
telah terhubung dengan pipa lancip. Tabung reaksi kemudian dipanaskan dan gas
yang dihasilkan dibakar dan nyala api diarahkan ke kaca arloji. Berdasarkan hasil
pengamatan, saat pirit direaksikan dengan HCl p.a terbentuk gas H2S yang
ditandai dengan bau gas yang tidak enak seperti bau telur bususk. Saat nyala api
diarahkan ke kaca arloji terbentuk bintik bintik kuning, hal ini menunjukkan
bahwa terdapat belerang di gas yang dihasilkan.
Langkah selanjutnya yakni dimasukkan pirit secukupnya ke dalam 2 tabung
reaksi dan masing masing ditambahkan larutan HCl p.a. Kemudian ditutup
dengan gabus yang sudah diberi pipa bengkok dan terhubung dengan larutan
H2SO4 p.a untuk tabung reaksi I dan terhubung dengan larutan CuSO4 untuk
tabung reaksi II. Berdasarkan hasil pengamatan, saat gas H2S dialirkan ke tabung
reaksi yang terhubung dengan H2SO4 p.a terbentuk gas putih yang menempel pada
diding tabung dan sedikit keruh. H2SO4 berperan sebagai oksidator sehingga
membentuk SO2. Hal ini menunjukkan dihasilkannya gas SO2 pada reaksi
tersebut. Berikut adalah reaksinya :
H2S(g) + H2SO4(aq)

SO2(g) + 2H2O(aq) + S

Kemudian saat gas H2S yang dialirkan ke larutan CuSO 4 terlihat gas warna merah
seperti api yang menempel di dinding tabung reaksi serta terbentuk endapan
coklat kehitaman yang menunjukkan terbentuknya CuS. Berikut adalah reaksinya:
H2S(g) + CuSO4(aq)

CuS(s) + H2SO4(aq)

Percobaan yang terakhir yakni mempelajari pembentukan alotropi belerang


dengan cara membandingkan kedua alotrop yang berbeda perlakuannya. Alotrop
adalah modifikasi struktural dari suatu unsur. Langkah pertama yang dilakukan
yaitu disiapkan 2 tabung reaksi yang masing masing telah diisi dengan belerang
sebesar 0,5gram. Tabung reaksi I ditambahkan CS 2 sedangkan tabung reaksi II
ditambahkan CHCl3. Perlakuan selanjutnya yaitu dipanaskan sampai pelarutnya
habis. Fungsinya yaitu agar molekul molekul S 8 saling berinteraksi dan lebih
rapat. Berdasarkan hasil pengamatan saat belerang direaksikan dengan CS2
terbentuk kristal kuning yang berbentuk karang dan menyerupai jarum jarum
yang disebut rombik. Rombik merupakan alotrop belerang yang terbentuk
dibawah suhu 95C. Berikut reaksinya :
S(s)

+ CS2(aq)

S8(s)

Langkah yang kedua belerang direaksikan dengan CHCl3 dengan perlakuan yang
sama yaitu diuapkan sampai pelarutnya habis. Berdasarkan hasil pengamatan
terbentuk kristal berwarna kuning pucat yang sedikit menggumpal. Kristal
tersebut disebut monoklin. Monoklin yaitu alotrop belerang yang terbentuk pada
suhu di atas 95C. berikut rekasinya :
S(s) + CHCl3 (aq)

S8(s)

VIII. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Campuran serbuk belerang dan serbuk besi menghasilkan pirit
2. Pirit bereaksi dengan HCl menghasilkan gas H2S yang berbau seperti telur
busuk
3. Belerang mempunyai 2 alotrop yakni rombik dan monoklin. Rombik
terbentuk saat S bereaksi dengan CS2 pada suhu kurang dari 95C dan

monoklin terbentuk saat S bereaksi dengan kloroform pada suhu lebih dari
IX.

95C.
Daftar Pustaka
Anonim.2013.MSDSClorform. (http://www.scienelab.com/msds/php? msdsld=
993475) [14 November 2013].
Anonim.2013.MSDSCS2. http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927125.
[14 November 2013].
Anonim.2013.MSDSCuSO4.chemlab.snu.ac.kr/zbxe/?
document_srl=42383&mid=MSDS. [15 November 2013].
Anonim.2013.MSDSFeS. http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9924058.
[16 November 2013].
Anonim.2013.MSDSHCl.https://www.sciencelab.com/msds.php?
msdsId=9924285.[14 November 2013].
Anonim.2013.MSDSH2SO4. (http://www.scienelab.com/msds/php? msdsld=
991220) [14 November 2013].
Anonim.2013.MSDSSulfur. www.hovensa.com/pdf/sulfur.pdf.[14 November
2013].
Anonim. 2013. Belerang .http://www.wikipedia.com.[14 November 2013].
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : UI-Press.
Petrucci, Ralph H. 1985. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 2.
Jakarta: Erlangga.
Svehla. 1979. VOGEL Bagian I. Jakarta : PT. Kalman Media Pusaka.
Tim Penyusun. 2013. Petunjuk Melaksanakan Percobaan Praktikum Kimia
Anorganik. Jember : Laboratorium Kimia Anorganik FMIPA UNEJ.