Anda di halaman 1dari 107

EDISI 2016

BAHASA INDONESIA

MODUL PRAKTIKUM

TEKNIK
TELEKOMUNIKASI
ENEE 600026
untuk Program Sarjana Reguler dan Paralel

LABORATORIUM TELEKOMUNIKASI
Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Kampus UI Depok, Jawa Barat 16424
Telepon : (021) 7270077, 7270078 ext. 131

MODUL PRAKTIKUM

TEKNIK TELEKOMUNIKASI
(ENEE 600026)
Untuk Program Sarjana Reguler dan Paralel

Dipublikasikan oleh Laboratorium Telekomunikasi


Departemen Teknik Elektro
Fakultas Teknik Universitas Indonesia
2016
Penanggung Jawab : Dr. Fitri Yuli Zulkifli, S.T., M.Sc.
Kepala Laboratorium Telekomunikasi DTE FTUI

Penyusun

: Adhitya Satria Pratama, S.T., M.T.


Aisyah, S.T.
Ina Gustiana, S.T.
Budiman Budhiardianto, S.T.
Sayid Hasan, S.T.
Rifqi Ramadhan
Ubay Muhammad Noor
Angga Hilman Hizrian
Muhammad Erfinza
Muhammad Haekal
Rian Gilang Prabowo
Irfan Kurniawan
Fariz Azhar Abdillah
Mursid Abidiarso
Yonathan Raka Pradana

Hanya untuk kalangan internal Universitas Indonesia.


Dilarang mereproduksi atau menggandakan sebagian atau seluruh bagian tanpa izin.

PETUNJUK KESELAMATAN
SETIAP PENGOPERASIAN PERALATAN PRAKTIKUM WAJIB
DIDAMPINGI ASISTEN LABORATORIUM. BACALAH BAIK-BAIK
PETUNJUK KESELAMATAN UMUM INI DAN PETUNJUK
KESELAMATAN PADA SETIAP MODUL SERTA BERDOA SEBELUM
MELAKUKAN PRAKTIKUM.
Praktikan wajib membaca buku
panduan
praktikum
dan
memperhatikan petunjuk keamanan
pada
setiap
modul
sebelum
melakukan
praktikum.Kerusakan
peralatan
akibat
kecerobohan
praktikan
harus
dipertanggungjawabkan.

Harap menyimpan telepon selular atau


perangkat elektronik komunikasi lainnya
agar dapat fokus berpraktikum. Dilarang
bermain telepon selular atau perangkat
elektronik komunikasi lainnya selama
praktikum.

Selalu berhati-hati pada saat


menggunakan perangkat listrik.
Matikan peralatan terlebih dahulu
sebelum mencabut kabel atau
mengubah konfigurasi peralatan
praktikum. Hati-hati bahaya listrik
statis.

Dilarang makan dan minum selama


mengoperasikan peralatan praktikum.

Praktikan wajib mengenakan sepatu


yang memadai (menutupi kaki) agar
terhindar dari bahaya tersengat
listrik dan tertimpa benda-benda
dalam praktikum. Praktikan yang
tidak bersepatu dilarang mengikuti
praktikum, kecuali sakit yang tidak
memungkinkan mengenakan sepatu
dan atas izin asisten.

JIka terjadi kebakaran, tabung pemadam


api terletak di sebelah kiri pintu masuk.
Jika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan,
lakukan prosedur darurat dengan tenang.

Beberapa
peralatan
praktikum
menggunakan frekuensi radio yang
tinggi. Hindari kontak radiasi dengan
tubuh langsung. Dilarang mengintip
waveguide pada praktikum. Selalu
berhati-hati dalam percobaan.

Dilarang merokok di setiap tempat pada


lingkungan Departemen Teknik Elektro.

Dlarang bercanda dan berkelahi di Laboratorium


Telekomunikasi
selama
kegiatan
berlangsung.
Perhatikan langkah dan gerak ketika sedang bergerak
agar tidak menyenggol peralatan.

ASISTEN LABORATORIUM BERHAK MENEGUR ATAU MENINDAK


PRAKTIKAN YANG DIANGGAP MEMBAHAYAKAN ATAU MELAKUKAN HALHAL YANG TIDAK SEPATUTNYA SELAMA PRAKTIKUM.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

KATA PENGANTAR

Modul praktikum ini telah banyak disesuaikan dari tahun ke


tahun untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa, khususnya dalam
mempelajari tentang Teknik Telekomunikasi di Departemen Teknik
Elektro FTUI ini. Maksud dari penyusunan modul ini adalah untuk
menyediakan mahasiswa suatu modul manual yang user-friendly
untuk membantu mahasiswa memahami aspek praktis dari Teknik
Telekomunikasi dengan melakukan kegiatan percobaan di laboratorium.
Setiap modul praktikum berisi petunjuk manual yang lengkap tentang prinsip dan
teknis kegiatan praktikum di laboratorium. Pada modul ini, terdapat sepuluh modul yang akan
dilakukan percobaan pada praktikum Teknik Telekomunikasi untuk Mahasiswa S1 Reguler
dan Paralel Tahun Ajaran 2015/2016. Setiap modul terdiri dari tujuan, teori dasar, peralatan
yang digunakan, dan langkah-langkah percobaan yang diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan mahasiswa dalam memahami praktikum ini.
Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam
penyusunan modul praktikum ini. Saya dan segenap tim asisten juga menerima kritik dan
saran untuk perbaikan modul praktikum ini menuju arah yang lebih baik ke depannya.
Saya berharap agar mahasiswa dapat menggunakan modul praktikum ini dengan
sebaik-baiknya dan dapat membantu mahasiswa dalam memahami lebih jauh tentang Teknik
Telekomunikasi.

Depok, 11 Februari 2016


Kepala Laboratorium Telekomunikasi
Departemen Teknik Elektro FTUI

Dr. Fitri Yuli Zulkifli, S.T., M.Sc.


NIP. 19740719 199802 2 001

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

PERATURAN PRAKTIKUM
1. Praktikan wajib mengikuti seluruh rangkaian Praktikum Teknik Telekomunikasi yang terdiri
atas 10 (sepuluh) Modul Praktikum.
2. Praktikan wajib membaca Petunjuk Keselamatan Umum dan Petunjuk Keselamatan pada
setiap modul praktikum untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
3. Selama rangkaian kegiatan praktikum (termasuk saat Tes Pendahuluan), setiap praktikan
wajib berpakaian sopan, memakai baju berkerah dan sepatu. Apabila praktikan tidak
berpakaian sesuai peraturan, maka tidak boleh mengikuti rangkaian kegiatan praktikum
tersebut.
4. Praktikan wajib melakukan persiapan materi praktikum, melalui modul praktikum, materimateri kuliah, serta sumber lain yang berhubungan.
5. Praktikan harus membawa kartu praktikum dan Tugas pendahuluan dan dikumpulkan
kepada asisten ketika akan praktikum dimulai.
6. Praktikan yang lupa membawa kartu praktikum akan kena pengurangan nilai praktikum
pada modul tersebut sebesar 5 poin.
7. Setiap praktikan wajib mengikuti Tes Pendahuluan. Apabila praktikan tidak mengikuti
Tes Pendahuluan tanpa alasan yang jelas, praktikan bersangkutan diharuskan
mengikuti Tes Remedial dan jika tidak mengikuti tes remedial lagi maka akan diberikan
nilai 0.
8. Apabila Tes Pendahuluan dari anggota kelompok tidak mencapai 55 pada modul tersebut,
kelompok yang bersangkutan diharuskan mengikuti Tes Remedial. Nilai akhir Tes
Pendahuluan diambil dari nilai rata-rata Tes Pendahuluan dan Tes Remedial.
9. Apabila salah seorang praktikan dalam kelompok tidak lulus Tes Remedial, maka
kelompok tersebut dan pasangan kelompoknya tetap dapat mengikuti praktikum pada
modul tersebut.
10. Alasan yang dapat diterima adalah sakit (disertakan Surat Keterangan Dokter/Rumah
Sakit), musibah mendadak, dan force major (banjir, kebakaran, dan lainnya).
11. Setiap praktikan wajib mengerjakan dan mengumpulkan Tugas Pendahuluan
sebelum mengikuti praktikum.
12. Setiap praktikan wajib mengisi daftar kehadiran Tes Pendahuluan, Praktikum, dan
Pengumpulan Tugas Tambahan (optional).

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

13. Toleransi keterlambatan untuk setiap Modul Praktikum adalah 15 menit. Jika lewat waktu
yang telah ditentukan tanpa memberikan alasan yang jelas, maka praktikan masih dapat
mengikuti praktikum pada modul tersebut tetapi tidak memperoleh nilai borang.
14. Praktikan diizinkan bertukar jadwal dengan praktikan kelompok lain pada modul yang
sama (dengan syarat kedua kelompok tersebut telah lulus Tes Pendahuluan), dengan
pemberitahuan paling lambat sebelum H-1 ke koordinator praktikum.
15. Apabila praktikan tidak mengikuti praktikum, maka nilai praktikum modul tersebut adalah
nol.
16. Nilai praktikum ditentukan oleh tingkah laku dan keaktifan praktikan selama mengikuti
praktikum, termasuk saat tes lisan sebelum praktikum dimulai. Tingkah laku yang
dilarang adalah segala bentuk tindakan yang dapat mengganggu jalannya praktikum
dan ketertiban lab seperti bercanda, mengganggu kelompok lain, kerapihan alat
setelah praktikum, dan main gadget.
17. Tugas Tambahan dikerjakan di kertas bebas dan dikumpulkan paling lambat pukul 23.59
keesokan harinya dan diunggah melalui scele.
18. Seluruh perizinan dan pengaduan terkait teknis pelaksanaan modul praktikum harap
disampaikan ke Koordinator Praktikum Ubay Muhammad Noor (087877300496).
19. Pengaduan terkait pelaksanaan praktikum secara umum dapat disampaikan ke Bu Yuli
(081210339810)

Mengetahui,
Kepala Laboratorium Telekomunikasi

Koordinator Praktikum

Dr. Fitri Yuli Zulkifli, S.T., M.Sc.


NIP. 19740719 199802 2 001

Ubay Muhammad Noor


NPM 1206260854

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

ASISTEN LABORATORIUM
PRAKTIKUM TEKNIK TELEKOMUNIKASI
SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015/2016

RIFQI RAMADHAN
Teknik Elektro 2012
Koordinator Asisten
rifqi.ramadhan@gmail.com

087781870722
UBAY MUHAMMAD NOOR
Teknik Elektro 2012
Koordinator Praktikum Kelas Reguler dan Paralel
ubaymnoor@gmail.com

087877300496
ANGGA HILMAN HIZRIAN
Teknik Elektro 2012
Koordinator Praktikum Kelas Khusus Internasional
anggahh@gmail.com

087877926630
MUHAMMAD ERFINZA
Teknik Elektro 2012
Asisten Laboratorium

MUHAMMAD HAEKAL
Teknik Elektro 2012
Asisten Laboratorium

m.erfinza@gmail.com

m.haekal11@rocketmail.com

083898345760

081316106027

FARIZ AZHAR ABDILLAH


Teknik Elektro 2013
Asisten Laboratorium

RIAN GILANG PRABOWO


Teknik Elektro 2013
Asisten Laboratorium

farizazharabdillah@gmail.com

rian.giwo@gmail.com

085692612648

087808052796

MURSID ABIDIARSO
Teknik Elektro 2013
Asisten Laboratorium

IRFAN KURNIAWAN
Teknik Elektro 2013
Asisten Laboratorium

mursid.abidiarso @gmail.com

ipanikur66@gmail.com

085717018241

085695133317

YONATHAN RAKA PRADANA


Teknik Elektro 2013
Asisten Laboratorium
yonathanrk@gmail.com

081329078777

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

DAFTAR ISI
PETUNJUK KESELAMATAN .............................................................................................. 2
KATA PENGANTAR ............................................................................................................ 3
PERATURAN PRAKTIKUM ................................................................................................. 4
ASISTEN LABORATORIUM ................................................................................................ 6
PENGANTAR TEKNIK TELEKOMUNIKASI ...................................................................... 10
Tujuan ............................................................................................................................................... 10
Era Klasik : Jaringan Telekomunikasi Berkabel ................................................................................. 10
Era Baru : Jaringan Telekomunikasi Nirkabel .................................................................................... 12
Ledakan Teknologi : Komunikasi Selular ........................................................................................... 13
Kebutuhan Baru : Komunikasi Multimedia Pita Lebar ...................................................................... 18
SALURAN TRANSMISI ...................................................................................................... 21
Tujuan ............................................................................................................................................... 21
Dasar Teori ........................................................................................................................................ 21
Dasar Saluran Transmisi ................................................................................................................ 21
Parameter Dasar Saluran Transmisi .............................................................................................. 23
Saluran Transmisi yang Diterminasi .............................................................................................. 24
Diagram Smith............................................................................................................................... 28
Peralatan ........................................................................................................................................... 28
Prosedur Percobaan.......................................................................................................................... 32
Pengukuran VSWR ........................................................................................................................ 32
Pengukuran Impedansi Beban Ternormalisasi.............................................................................. 33
MODULASI AMPLITUDO ................................................................................................... 34
Tujuan ............................................................................................................................................... 34
Dasar Teori ........................................................................................................................................ 34
Pengantar Teknik Modulasi .......................................................................................................... 34
Proses Modulasi Amplitudo .......................................................................................................... 35
Balanced Modulator ..................................................................................................................... 41
Proses Demodulasi AM ................................................................................................................. 44
Peralatan ........................................................................................................................................... 45
Prosedur Percobaan.......................................................................................................................... 45
Prosedur Umum ............................................................................................................................ 45
Percobaan AM DSB-FC .................................................................................................................. 46
Percobaan AM DSB-SC .................................................................................................................. 46
MODULASI FREKUENSI ................................................................................................... 47
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

Tujuan ............................................................................................................................................... 47
Dasar Teori ........................................................................................................................................ 47
Pendahuluan ................................................................................................................................. 47
Proses Modulasi FM ...................................................................................................................... 48
Proses Demodulasi FM (Pengayaan)............................................................................................. 52
Peralatan ........................................................................................................................................... 54
Prosedur Percobaan.......................................................................................................................... 54
SISTEM TELEPONI ............................................................................................................ 56
Tujuan ............................................................................................................................................... 56
Dasar Teori ........................................................................................................................................ 56
Pendahuluan ................................................................................................................................. 56
Telepon Persinyalan Putar ............................................................................................................ 57
Telepon Touch Tone Dialling / Dual Tone Multi Frequency (DTMF) ............................................. 59
Rangkaian Hibrid 2-Kawat-4-Kawat .............................................................................................. 60
Alur Sambungan Telepon .............................................................................................................. 61
Peralatan ........................................................................................................................................... 63
Prosedur Percobaan.......................................................................................................................... 63
Prosedur Umum Percobaan .......................................................................................................... 63
Percobaan Sistem Teleponi........................................................................................................... 64
PULSE CODE MODULATION DAN TIME DIVISION MULTIPLEXING ............................. 65
Tujuan ............................................................................................................................................... 65
Dasar Teori ........................................................................................................................................ 65
Pengubahan Sinyal Analog Menjadi Sinyal Digital ........................................................................ 65
Teknik Jalur Jamak ........................................................................................................................ 67
Peralatan ........................................................................................................................................... 69
Prosedur Percobaan.......................................................................................................................... 70
Pencuplikan ................................................................................................................................... 70
Kuantisasi ...................................................................................................................................... 70
Derau Kuantisasi ........................................................................................................................... 70
Teknik Jalur Jamak Berdasarkan Waktu (TDM)............................................................................. 71
MODULASI DIGITAL.......................................................................................................... 72
Tujuan ............................................................................................................................................... 72
Dasar Teori ........................................................................................................................................ 72
Pendahuluan Komunikasi Digital .................................................................................................. 72
Sistem Transmisi Bandpass ........................................................................................................... 74
Peralatan ........................................................................................................................................... 77
Prosedur Percobaan.......................................................................................................................... 77
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

Prosedur Umum Percobaan .......................................................................................................... 77


Digital Line Coding ........................................................................................................... 80
Tujuan ............................................................................................................................................... 80
Dasar Teori ........................................................................................................................................ 80
Gambaran Umum Transmisi Baseband ........................................................................................ 80
Line Coding .................................................................................................................................... 80
Tipe-tipe Line Coding .................................................................................................................... 81
Line Decoding ................................................................................................................................ 82
Peralatan ........................................................................................................................................... 83
Prosedur Percobaan.......................................................................................................................... 83
Line Coding NRZ-L, NRZ-M, NRZ-S, BIO-M .................................................................................... 83
Encoding dan Decoding AMI ......................................................................................................... 84
FILTER FINITE IMPULSE RESPONSE .............................................................................. 85
Tujuan ............................................................................................................................................... 85
Dasar Teori ........................................................................................................................................ 85
Filter Digital ................................................................................................................................... 85
Tahapan Perancangan Filter ......................................................................................................... 87
Spesifikasi Filter............................................................................................................................. 87
Filter FIR dengan DSK TMS320C6713 ............................................................................................ 89
Komponen DSK TMS320C6713 ..................................................................................................... 91
Peralatan ........................................................................................................................................... 92
Prosedur Percobaan.......................................................................................................................... 93
Targeting Simulink ke DSK TMS320C6713 .................................................................................... 93
Perancangan Filter ........................................................................................................................ 94
PARAMETER ANTENA DAN SIMULASI JALUR KOMUNIKASI NIRKABEL
MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK RADIO MOBILE ............................................... 97
Tujuan ............................................................................................................................................... 97
Dasar Teori ........................................................................................................................................ 97
Parameter Antena ......................................................................................................................... 97
Simulasi Jalur Komunikasi Nirkabel Menggunakan Perangkat Lunak Radio Mobile .................. 102
Peralatan ......................................................................................................................................... 103
Prosedur Percobaan........................................................................................................................ 103
Pengukuran Parameter Antena .................................................................................................. 104
Sistem Radio Titik Ke Titik ........................................................................................................... 104
Pengulang (Repeater) pada Sistem Radio Titik ke Titik .............................................................. 105
Referensi

.................................................................................................................... 106

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

1
PENGANTAR TEKNIK
TELEKOMUNIKASI

Tujuan
Dengan mempelajari modul Pendahuluan ini, diharapkan Saudara mampu mengenal
secara umum tentang Teknik Telekomunikasi. Topik yang akan diperkenalkan adalah tentang
Perkembangan Teknologi Telekomunikasi Seluler dan aplikasinya di kehidupan sehari-hari.

Era Klasik : Jaringan Telekomunikasi Berkabel


Saat ini kita melihat bagaimana perkembangan pesat telepon selular yang menjadi
salah satu gadget yang paling popular di dunia. Diperkirakan pada tahun 2008, terdapat 1,4
milyar unit televisi di dunia dan jumlah telepon selular telah mencapai tiga kali lipatnya.
Institute of Engineering and Technology memperkirakan pada akhir tahun 2012 terdapat lebih
banyak jumlah telepon selular dibandingkan populasi manusia di bumi ini.
Telekomunikasi artinya adalah komunikasi jarak jauh dengan menggunakan suatu
media tertentu. Komunikasi dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
1. Komunikasi Satu Arah (simplex). Contohnya : pager, televisi, radio.
2. Komunikasi Dua Arah (duplex). Contohnya : telepon
3. Komunikasi Semi Dua Arah (Half Duplex). Contohnya : handy talkie
Telekomunikasi sendiri mulai berkembang sejak Alexander Graham Bell menemukan
telepon. Telekomunikasi akhirnya terus berkembang sampai memasuki era telekomunikasi
seluler. Teleponi seluler atau teknologi telekomunikasi seluler memungkinkan terjadinya
komunikasi tanpa kabel untuk menerima atau membuat panggilan telepon. Telekomunikasi
seluler menganggap setiap daerah geografis terdiri atas sel-sel kecil yang dapat saling
terhubung. Setiap selnya diselubungi oleh transmitter radio lokal dan receiver yang cukup kuat
untuk berhubungan dengan cellular phone itu sendiri, dalam hal ini dengan menggunakan

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

10

mobile terminal. Kumpulan dari sel-sel tersebut membentuk radio access network dan
frekuensi radio digunakan untuk transmisi panggilan dan data yang digunakan di antara sel
sel tersebut. Suara dan data yang ditukarkan ditransmisikan melalui jaringan mobile yang
terdiri dari radio access network dan core network dari operator selular.
Sistem teleponi mulai berkembang pada tahun 1838 ketika Samuel Morse
menemukan sistem persinyalan titik dan garis untuk alfabet sehingga pesan-pesan yang
kompleks dapat dikirimkan dan diterima dengan lebih mudah. Baru enam tahun kemudian,
sistem tersebut didukung oleh Kongres Amerika Serikat hingga terpasang sistem jalur telegraf
pertama di dunia dengan kabel tembaga antara Washington dan Baltimore sejauh sekitar 40
mil.
Pada titik tersebut, kabel tembaga mulai menghubungkan berbagai kota besar di
Amerika Serikat yang dibangun dan dioperasikan oleh Western Union, yang mana masih aktif
hingga saat ini sebagai agen transfer uang antarnegara. Sistem kabel tembaga tersebut juga
dikembangkan di Eropa dan dimulailah era pertukaran informasi melalui sistem kabel
tembaga.

Gambar 1.1. Kabel Trans Atlantik yang dioperasikan oleh Great Eastern.

Pada tahun 1851, kabel tembaga bawah laut mulai beroperasi antara Perancis dan
Inggris kemudian menyusul kabel bawah laut Trans Atlantik pada tahun 1858. Tingkat
kompleksitas kabel bawah laut yang cukup tinggi membuat proyek kerja sama Eropa-Amerika
Serikat ini menjadi salah satu proyek keteknikan utama pada masanya. Diperlukan lima kali
percobaan sampai kabel bawah laut yang kompak diselesaikan. Sayangnya, kabel ini
digunakan oleh para insinyur dengan sangat antusias yang mengirimkan tegangan yang
terlalu tinggi melalui kabel ini hingga terjadi kegagalan sistem hanya tiga minggu setelah
dioperasikan. Pada tahun 1865, pembangunan kabel bawah laut Trans Atlantik yang kedua
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

11

dimulai sejauh 1200 mil, namun tetap mengalami kegagalan. Proyek ketiga pun dimulai pada
1886 oleh Brunels Great Eastern sejauh 1686 mil laut antara Irlandia dan Newfoundland dan
berlangsung tanpa hambatan yang berarti. Setelah itu, Great Eastern mulai mengelola
jaringan ini dan membaginya menjadi dua hingga terdapat dua kabel Trans Atlantik yang
beroperasi.
Perkembangan besar selanjutnya adalah pada tahun 1876, Alexander Graham Bell
melakukan percobaan dengan suatu diafragma yang menggetarkan sebuah jarum pada air
untuk memvariasikan arus pada rangkaian, yang dikenal sebagai transmitter cair. Dengan
divais ini, percakapan suara melalui kabel tembaga terjadi pertama di dunia walaupun hanya
antar dua ruangan yang berdekatan dengan alat bernama telepon. Bell kemudian
memperbaiki penemuannya tersebut selama lima bulan dan akhirnya dapat menghantarkan
percakapan suara sejauh lima mil. Western Union kemudian mengembangkan sistem telegrafi
Morse mereka melalui jaringan telepon ini.

Era Baru : Jaringan Telekomunikasi Nirkabel


Pada tahun 1880, Bell juga membuat komunikasi nirkabel pertama dengan
menggunakan divais fotofon. Fotofon menggunakan pancaran cahaya untuk menghantarkan
sinyal suara antara dua gedung yang berjarak 215 meter. Penggunaan atmosfer sebagai
media propagasi gelombang yang belum banyak dikembangkan saat itu menyebabkan
teknologi komunikasi nirkabel saat itu tidak berkembang hingga dikembangkan teknologi
kabel serat optik pada tahun 1920an oleh militer Amerika Serikat. Teori tentang laser pun baru
dikembangkan oleh Einstein pada tahun 1917 dan membutuhkan waktu yang cukup lama
hingga model laser yang beroperasi dengan baik diproduksi.

Gambar 1.2. Mikrofon Pertama

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

12

Pasca Perang Dunia Kedua, telepon nirkabel mulai dikembangkan oleh AT&T,
Amerika Serikat. Pada awalnya, telepon selular mirip seperti walkie talkie dimana komunikasi
hanya terjadi satu arah bergantian (simpleks). Penggunanya pun harus mencari frekuensi
yang tersedia antara 35 MHz 150 MHz untuk mengadakan suatu percakapan telepon. Untuk
memungkinkan percakapan telepon, pengguna telepon selular tersebut harus membawa
baterai yang sangat besar hingga berbobot 35 kg.
Di Inggris pada tahun 1912, General Post Office merupakan perusahaan pertama
yang membangun dan mengoperasikan infrastruktur telegrafi dan teleponi untuk panggilan
komersial menggunakan kabel tembaga. Pada tahun 1981, General Post Office dipecah
menjadi dua, yaitu Post Office dan British Telecom. British Telecom merupakan perusahaan
induk Cellnet yang memberikannya akses masuk menuju pasar telepon selular yang sangat
menguntungkan. Cellnet sendiri kemudian berubah menjadi O2.

Gambar 1.3. Kabel Serat Optik

Pada tahun 1970, kabel serat optik ditemukan oleh Corning Glass Works dan telah
terbukti dapat menghantarkan sinyal dengan kecepatan 45 Mbps dengan menggunakan
penguat sinyal setiap 10 km. Pada tahun 1981, kabel serat optik single-mode ditemukan dan
memberikan terobosan baru dalam transmisi sinyal kabel serat optik. Pada tahun 1987,
generasi kedua kabel serat optik beroperasi pada kecepatan 1,5 Gbps dengan penguat pada
setiap 50 km. Pada tahun 1988, kabel serat optik Trans Atlantik pun dikembangkan. Teknologi
generasi ketiga kabel serat optik mampu beroperasi pada kecepatan sekitar 2,5 Gbps dengan
penguat pada setiap 100 km.

Ledakan Teknologi : Komunikasi Selular


Telepon genggam pertama kali diluncurkan pada tahun 1985 di Inggris oleh
Vodaphone dan Cellnet, yang kemudian kedua perusahaan bergabung menjadi O2. Namun
demikian, telepon genggam ini sangat tidak praktis karena berbobot 20 kg dengan sistem
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

13

baterai yang sangat besar. Pada masa itu, kita bisa melihat para pengusaha menjinjing dua
tas sekaligus, yaitu tas berkas dan perlengkapan telepon.
Pada tahun 1992, teknologi generasi keempat kabel serat optik dikembangkan dengan
prinsip Wavelength Division Multiplexing yang membuatnya mampu menggandakan
kecepatannya dua kali setiap enam bulan hingga pada tahun 2006 telah mencapai kecepatan
14 Tbps dengan penguat setiap 160 km. Teknologi kabel serat optik ini yang membuat kita
dapat menikmati TV kabel dan layanan pita lebar (broadband) ke berbagai wilayah. Namun
demikian, biaya untuk menggelar teknologi pita lebar berbasis kabel serat optik sangat besar
dan resikonya pun tinggi. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan komunikasi nirkabel pita lebar
sangat tinggi hingga kini.

Gambar 1.4. Perkembangan Teleponi Selular Bergerak (Mobile Cellular Phone)

Pada uraian sebelumnya, kita telah membahas tentang kelahiran dan proses
perkembangan secara singkat komunikasi dengan jaringan kabel sejak penemuan kode
Morse pada tahun 1800an hingga pengembangan sistem komunikasi serat optik yang dimulai
pada akhir abad ke-20. Ketika kabel serat optik mampu menghantarkan percakapan dengan
jumlah sangat besar secara simultan, kita juga perlu melihat langkah-langkah pertama
komunikasi personal secara nirkabel yang kemudian akan menjadi ledakan teknologi yang
sangat pesat hingga kini.
Pada prinsipnya, terdapat perbedaan yang sangat penting antara sistem komunikasi
selular generasi pertama dengan perkembangan berikutnya. Pada generasi pertama (1G),
komunikasi nirkabel masih menggunakan sistem analog. Suara dikirimkan secara langsung
sebagaimana diucapkan oleh manusia. Perkembangan 2G dan generasi berikutnya, jaringan

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

14

bertransformasi menjadi sistem digital, dimana suara dicuplik dan dipecah-pecah menjadi
data sebelum ditransmisikan. Sisi pengirim kemudian akan menyusun ulang paket-paket data
tersebut menjadi suara utuh yang dapat kita dengar. Era ini merupakan awal dari komunikasi
digital yang berkembang sangat pesat ini.
Generasi pertama sistem telekomunikasi nirkabel diluncurkan di Jepang pada tahun
1979 oleh NTT dan mampu mencakup 20 juta penduduk Tokyo dengan 23 Base Transmission
Station (BTS) dan akhirnya pada tahun 1984 telah mampu mencakup seluruh pelosok negeri
Jepang. Jaringan 1G dimulai di Eropa oleh Nordic Mobile Telephone dan pada tahun 1981
telah mencakup wilayan Swedia, Finlandia, dan Denmark. Pada tahun 1983, Motorola
memulai pengembangan jaringan selular di Amerika dan pada 1 Januari 1985, Vodaphone
memulai era telepon selular di Inggris.

Gambar 1.5. Telepon Selular yang Dikembangkan oleh Motorola

Generasi awal 1G berkembang pada tahun 80-an dan masih menggunakan sistem
analog. Sistem analognya menggunakan FDMA (Frequency Division Multiple Access), yang
mana memungkinkan membagikan alokasi penggunaan frekuensi pada masing masing
pelanggan di sel tersebut. Teknologi yang digunakan pada sistem analog ini biasa dikenal
dengan AMPS (Advance Mobile Phone Service) yang dioperasikan pada band 800 MHz.
Kekurangan dari generasi 1G adalah ukurannya yang terlalu besar untuk dipegang,
performa baterai yang kurang baik, kapasitas trafik yang kecil, dan suara tidak jernih. Pada
saat itu handphone yang digunakan masih berukuran cukup besar dan beterainya relatif
boros.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

15

Generasi kedua dari telekomunikasi mobile ini adalah saat memasuki era digital
dimana Eropa mulai menemukan GSM (Global System for Mobile Communication) dan US
mulai mengembangkan CDMAone (Code Division Multiple Access). GSM adalah sistem
TDMA (Time Divison Multiple Access) dengan menggunakan carrier band sebesar 200 KHz.
Dengan GSM, frekuensi radio yang digunakan untuk carrier bands dapat digunakan kembali
selama transmitter radio dengan frekuensi yang sama tidak berada dalam sel yang
berdekatan. Sedangkan CDMAone menggunakan teknologi yang berbeda yaitu spread
spectrum, dimana spektrum radio dibagi menjadi beberapa pembawa yang lebar pitanya
mencapai 1.23MHz. Dalam CDMA, user menggunakan frekuensi yang sama dalam waktu
yang bersamaan sehingga lebih efisien.
Teknologi GSM saat ini adalah yang paling banyak digunakan di dunia karena memiliki
kemampuan roaming yang sangat luas. Keunggulan CDMA dibandingkan dengan GSM
adalah suaranya lebih jernih, kapasitas lebih besar, dan kemampuan akses data yang lebih
tinggi.
Jaringan 2G ini memulai layanan SMS pada tahun 1993 dan dikembangkan menjadi
sistem prabayar mulai akhir tahun 1990an. Nordic Mobile Telepone mulai memperkenalkan
sistem pembayaran melalui telepon selular dengan sistem parkir kendaraan dan mesin
penjual otomatis Coca-Cola sehingga teknologi ini menjanjikan metode pembayaran yang
baru pada tahun 1998. Sistem komersial pertama yang bekerja seperti kartu kredit ini mulai
tahun 1999 di Filipina oleh dua operator, yaitu Globe dan Smart.
Layanan iklan pada telepon selular pertama kali muncul di Finlandia pada tahun 2000
yang memungkinkan pengguna telepon selular menerima kabar terbaru dari suatu merek
yang ingin diikutinya. Layanan ini juga membuka peluang penjualan ringtone untuk konsumen
individual. Ringtone ini pun berkembang dari monoponik hingga menjadi poliponik. Ringtone
poliponik kemudian mulai tergeser dengan teknologi MP3 yang berkembang kemudian. Pada
tahun 1999, NTT DoCoMo Jepang menghadirkan layanan internet mobile pertama di dunia,
namun kecepatan layanan ini masih terbatas karena faktor keterbatasan teknologi 2G.
Karena sangat kecilnya kemampuan akses data GSM yang hanya mencapai 9,6 Kbps,
mulai berkembang GPRS (General Packet Data Radio Services). Kemudian diperkenalkanlah
teknologi Wireless Application Protocol (WAP), namun hasilnya tidak begitu memuaskan.
Sampai akhirnya GPRS dikembangkan sampai mampu mengakses data dengan kecepatan
sampai 115 Kbps dan throughput hanya 20-30 Kbps. GPRS juga memungkinkan akses
internet dimana saja dan real time. GPRS kurang diminati karena harganya yang cukup mahal
saat itu. Teknologi yang berkembang lagi adalah EDGE (Enhanced Data for Global Evolusion)
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

16

yang hanya sempat diimplementasikan sebentar, kecepatannya mencapai 3-4 kali dari
kecepatan GPRS.
Perkembangan layanan 3G, dimulai oleh NTT DoCoMo pada awal tahun 2001 dan
jaringan 3G komersial pertama diluncurkan pada Oktober 2001 dengan teknologi WCDMA
(Wideband Code Division Multiple Access). Pada tahun 2002, jaringan 3G diluncurkan di
Korea Selatan dan di Amerika Serikat yang bernama Monet. Keduanya menggunakan standar
CDMA/EV-DO yang merupakan Betamax dari 3G dan Monet pun telah kolaps. Jaringan kedua
dengan standar WCDMA diluncurkan oleh Vodaphone KK (saat ini dikenal sebagai Softbank)
di Jepang. Pada waktu yang sama di Eropa dikembangkan pula oleh Three/Grup Hutchison
di Italia dan Inggris.
Generasi ketiga ini merupakan kelanjutan dari GSM, GPRS, EDGE, dan CDMA pada
generasi sebelum-sebelumnya. Teknologi lanjutan ini disebut dengan Universal Mobile
Telecommunication Service (UMTS). Tujuannya adalah memberikan kecepatan akses data
yang lebih tinggi mencapai 385 kbps pada frekuensi 5 KHz. Teknik modulasi yang dipilih
UMTS adalah Wide-CDMA. Pada WCDMA digunakan frekuensi radio sebesar 5 MHz pada
band 1900 Mhz. HSDPA (High Speed Packet Downlink Access) merupakan kelanjutan dari
UMTS dimana menggunakan frekuensi radio sebesar 5 MHz dengan mencapai kecepatan 2
Mbps. Untuk mengaplikasikan UMTS dibutuhkan biaya yang lebih besar karena perlu
membayar lisensi ke pemerintah dan vendor 3G, penambahan base station, dan biaya capex
(capital expenditure) dan opex (operational expenditure) lainnya. Penerapan 3G ini antara lain
untuk video call, live streaming, dan layanan multimedia pita lebar lainnya.
Pada tahun 2003, 4 layanan 3G diluncurkan kembali di Eropa, dua di antaranya
menggunakan teknologi WCDMA dan dua lainnya menggunakan CDMA/EV-DO. WCDMA
lebih banyak berkembang dibandingkan CDMA/EV-DO karena hampir dua pertiga pasar
telekomunikasi selular mengadopsi teknologi ini dan telah menjadi standar teknologi industri
untuk layanan 3G. Penemuan teknologi HSDPA (High Speed Downlink Packet Access)
memungkinkan layanan internet mobile yang lebih cepat dengan kecepatan 1,8 Mbps hingga
14,4 Mbps. Layanan HSDPA ini kemudian terus berkembang hingga telah menjadi gaya hidup
tersendiri bagi sebagian orang.
Kemudian generasi ketiga ini diperkaya lagi dengan keluarnya generasi 3.5G.
Kecepatannya mencapai 3,6 Mbps sehingga dapat melayani komunikasi multimedia lebih
cepat, seperti akses internet dan video sharing.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

17

Kebutuhan Baru : Komunikasi Multimedia Pita Lebar


Layanan internet pita lebar dimulai dengan penggunaan dongles atau yang kita kenal
sebagai modem sehingga kita dapat menikmati layanan internet berkecepatan tinggi pada
laptop yang fleksibel. Kemudian perkembangan teknologi membuat telepon selular mampu
menjalankan fungsi sebagai kantor dengan layanan surat elektronik dan organizer. Saat ini,
layanan aliran video waktu nyata pun dapat kita nikmati dalam genggaman tangan dengan
mudah. Bahkan , percakapan video pun sempat berkembang walaupun perkembangannya
kurang diterima dengan baik. Pada masa ini lah, kita akhirnya mengenal telepon selular
sebagai smartphone, telepon pintar.

Gambar 1.6. Telepon Pintar

Saat ini kita mulai beranjak menuju layanan 4G di dekade kedua milenium ini. Standar
4G memiliki kecepatan data yang sangat tinggi hingga 100 Mbps pada kondisi mobilitas tinggi
(di dalam mobil atau kereta api) dan hingga 1 Gbps pada kondisi mobilitas rendah (misalnya
lingkungan

pedestrian

atau

pengguna

stasioner).

Teknologi kecepatan

tinggi

ini

menggunakan prinsip OFDMA (Orthogonal Frequency Division Multiple Access) dengan


berbagai algoritma pengkodean hingga kecepatan tinggi pun tercapai. Beberapa keunggulan
pada teknologi 4G selain kecepatan tinggi antara lain adalah struktur arsitektur yang flat untuk
semua teknologi dan tingkat latensi yang rendah.
Teknologi 4G yang dikenal pertama adalah WiMAX (Worldwide Interoperability for
Microwave Access) pada tahun 2006 yang menawarkan layanan berkecepatan hingga 128
Mbps pada aliran unduh dan 56 Mbps pada aliran unggah. WiMAX perlahan ditinggalkan

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

18

karena ketidakefisienannya serta kurang mendukung layanan dengan mobilitas tinggi. LTE
kemudian hadir pada tahun 2009 yang menawarkan layanan berkecepatan hingga 100 Mbps
pada aliran unduh dan 50 Mbps pada aliran unggah. Dikenal pula teknologi HSPA+ (High
Speed Packet Access) yang beroperasi pada kecepatan hingga 84 Mbps pada aliran unduh
dan 22 Mbps pada aliran unggah. Perkembangan LTE pun semakin ditunjang dengan
berkembangnya sistem antena MIMO (multi input multi output) dan smart antenna yang dapat
meningkatkan performa layanan berkecepatan tinggi.
Di Amerika Serikat, AT&T, Verizon, dan Sprint telah memulai jaringan berbasis LTE
dan beroperasi secara optimal pada tahun 2013. Kemudian terdapat Rencana Lightsquared
yang akan menggunakan satelit untuk menjangkau 92% populasi Amerika Serikat dengan
layanan LTE pada tahun 2015, walaupun dengan teknologi ini kecepatan akan menjadi
konsiderasi tersendiri.
Di Indonesia, layanan 4G komersial dimulai pada tahun 2010 oleh PT. FirstMedia, Tbk
dengan merek dagang Sitra. Sitra WiMAX menyediakan layanan pita lebar kecepatan tinggi
nirkabel pertama di Indonesia di daerah-daerah padat seperti Jabodetabek, Sumatera Utara,
dan Aceh. Sitra sendiri merupakan pemegang izin BWA termahal di wilayah Jabodetabek.
Namun seiring perkembangan teknologi, WiMAX mulai ditinggalkan karena biayanya yang
besar dan kendala teknologi lainnya hingga digantikan oleh LTE.
Telkomsel kemudian menjadi operator pertama yang mengadakan percobaan jaringan
4G LTE pada konferensi APEC di Bali pada Oktober 2013. Jaringan ini dioperasikan pada
frekuensi 1800 MHz dengan lebar pita sekitar 5 MHz.
Di akhir tahun 2013, PT. Internux kemudian meluncurkan layanan 4G LTE komersial
pertama sejak 14 November 2013 pada cakupan wilayah Jabodetabek. Potensi pasar yang
diharapkan dapat mencapai 30 juta orang. Teknologi 4G LTE yang digunakan menggunakan
prinsip TDD-LTE (Time Division Duplex-LTE) pada frekuensi 2300 MHz.
Perkembangan 4G di Indonesia saat itu masih terkesan jalan di tempat saja. Persoalan
utama yang mengganjal adalah masalah regulasi dari pemerintah yang tidak juga kunjung
selesai. Selain itu penempatan frekuensi yang sesuai untuk layanan 4G pada saat itu masih
belum jelas. Pada pita frekuensi di atas 1800 MHz masih perlu dilakukan pengaturan ulang
frekuensi atau frequency refarming, sedangkan pada pita frekuensi 700 MHz masih
terkendala sistem televisi analog yang belum berpindah ke televisi digital.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

19

Pada akhir tahun 2015 merupakan momentum besar bagi dunia pertelekomunikasian
di Indonesia dimana beberapa operator seluler sudah berhasil menghadirkan layanan 4G di
seluruh Indonesia seperti Telkomsel, XL, Indosat Ooredoo, dan Hutchison 3 Indonesia yang
sedang mengomersialisasikan layanan 4G secara bertahap di sejumlah kota. Sebelumnya
sejumlah operator seluler telah melalui rangkaian penataan frekuensi (frequency refarming,)
di 1.800 MHz selama beberapa bulan terakhir. Pemerintah pun mengapresiasi kerja sama
operator seluler yang melakukan refarming (Telkomsel, Indosat Ooredoo, XL, dan Tri) demi
menggelar layanan 4G secara nasional.

Gambar 1.7. Skenario Layanan 5G

Dewasa ini pula mulai dikembangkan layanan 5G yang jauh lebih canggih. Berbeda
dengan layanan 2G hingga 4G, 5G merupakan teknologi radio akses tunggal yang akan
menggantikan makrosel. Layanan 5G merupakan kombinasi antara teknologi akses yang
terlisensi dan tidak berlisensi ataupun optimasi akses radio. 5G menjanjikan layanan
berkecepatan tinggi dengan latensi hingga nol. Teknologi ini didukung

dengan

berkembangnya teknologi antena MIMO dan penggunakan gelombang milimeter untuk


aplikasi komunikasi.
Ditulis berdasarkan beberapa sumber.
Adhitya Satria Pratama, S.T., M.T.

---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

20

2
SALURAN TRANSMISI

Tujuan
Dalam praktikum pengukuran Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) dari komponen
waveguide dilakukan menggunakan waveguide slotted-line dan probe detector. Voltage
Standing Wave Ratio, atau biasa disingkat VSWR, adalah salah satu parameter dasar yang
digunakan dalam menentukan kinerja komponen. Dalam hal ini VSWR akan mengukur tingkat
ketidakcocokan komponen impedansi input dengan saluran feeder pada waveguide.
Konsep impedansi di waveguide dan penggunaan Smith Chart dalam perhitungan
impedansi dan kondisi matching juga akan ditunjukkan. Pengukuran impedansi dari
komponen waveguide dilakukan dan hasilnya digunakan untuk menentukan posisi probe
kapasitif agar hasilnya matching.
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Memahami konsep Voltage Standing Wave Ratio pada saluran transmisi;
2. Memahami konsep impedansi dan admitansi pada saluran transmisi;
3. Memahami penggunaan Smith Chart pada penentuan nilai impedansi dan admitansi
pada saluran transmisi.

Dasar Teori
Dasar Saluran Transmisi
Tiga jenis saluran transmisi dual-conductor yang jamak ditemui adalah twin lead,
coaxial, dan mikrostrip seperti terlihat pada Gambar 2.1. Saluran transmisi twin lead cukup
familiar digunakan untuk menghubungkan antena aerial dengan televisi, sedangkan coaxial
biasanya digunakan untuk menghubungkan peralatan-peralatan dengan frekuensi tinggi.
Pada saluran coaxial, kabel terdiri dari tiga lapisan, yaitu bagian konduktor terdalam dengan
jejari a, lapisan dielektrik berjejari b, dan lapisan konduktor pada bagian terluarnya. Mikrostrip

21

banyak digunakan pada tingkat papan sirkuit. Pada Gambar 2.1, saluran mikrostrip terdiri dari
tembaga yang melapisi substrat alumina (Al2O3).

Twin Lead

Coaxial

Transmission line examples along with schematic cross sections. A quarter is

Transmission
line examples
along
schematic
cross sections.
A quarterAisquarter is
Transmission
line examples
along
with schematic
cross sections.
shownwith
for
scale.
Mikrostrip
shown for
scale.
shown for scale.
mission line examples along with schematic cross sections. A quarter is
for scale.
Gambar
2.1. Tiga
Jenis ofby
Saluran
Transmisi
Fundamentals
Electromagnetics
With Engineering Applications by Stuart M. Wentworth
Fundamentals of Electromagnetics
With Engineering
Applications
Stuart M. Wentworth
Fundamentals of Electromagnetics With Engineering Applications by Stuart M. Wentworth
Copyright 2005 by John Wiley & Sons. All rights Copyright
reserved. 2005 by John
Copyright 2005 by John Wiley & Sons. All rights
reserved.
Fundamentals of Electromagnetics With Engineering Applications by Stuart M. Wentworth
Copyright 2005 by John Wiley & Sons. All rights reserved.

Wiley & Sons. All rights reserved.

Ketiga saluran transmisi tersebut dapat dimodelkan sebagai suatu konfigurasi dua

kutub sederhana. Pada Gambar 2.2, terlihat parameter saluran transmisi yang terdistribusi
secara seri, yaitu R (resistansi per meter) dan L (induktansi per meter) serta secara paralel,
yaitu G (konduktansi per meter) dan C (kapasitansi per meter). Tanda apostrof menunjukkan
nilai terdistribusi terhadap satuan panjang (meter). Parameter terdistribusi ini semakin berlipat
ganda terhadap panjang segmen diferensial z dalam meter dan menghasilkan nilai elemen
murni R, L, G, dan C.

Gambar 2.2. Parameter Terdistribusi pada Saluran Transmisi dengan Panjang Segmen
Diferensial Tertentu. (a) Saluran Transmisi, (b) Pemodelan Saluran Transmisi
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

22

Ketika suatu sinyal merambat sepanjang suatu konduktor, maka secara alamiah akan
muncul resistansi. Resistansi ini terhubung secara seri dan nilainya sangat kecil untuk
konduktor yang sangat baik. Namun demikian, nilai resistansi ini tetap ada dan patut
diperhitungkan. Selain itu berdasarkan teori hukum Ampere dan Biot-Savart, terdapat
induktansi seri sepanjang saluran transmisi.
Kedua kabel pada pemodelan dua kutub saluran transmisi pada Gambar 2.2.a,
terpisahkan oleh material dielektrik (misalnya udara) yang bertindak sebagai insulator ideal.
Dielektrik yang sebenarnya sesungguhnya mengkonduksikan sejumlah kecil arus shunt.
Parameter yang digunakan untuk mengidentifikasi sejumlah kecil arus shunt ini adalah
konduktansi (kebalikan dari resistansi). Saudara dapat membedakan antara konduktansi ini
muncul akibat sifat dielektrik dan tidak ada hubungannya dengan resistansi seri pada saluran
transmisi. Kemudian pada dua konduktor, terdapat kapasitansi shunt di antara keduanya.
Untuk geometri dan komposisi material tertentu, parameter terdistribusi pada saluran
transmisi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

G'

2 d
ln b a

(2.1)

C'

2
ln b a

(2.2)

ln b a
2

(2.3)

1 1 1 f

2 a b c

(2.4)

L'

R'

Parameter Dasar Saluran Transmisi


Pada Gambar 2.2.b diperhitungkan tegangan dan arus sesaat pada setiap ujung
segmen. Perhatikan bahwa v (z, t) menunjukkan tegangan sebagai fungsi waktu t dan jarak
z. Notasi z menunjukkan perbedaan jarak antara titik awal dan titik akhir. Demikian pula pada
arus.
Persamaan Telegrafis merupakan persamaan dasar pada saluran transmisi yang
memperhitungkan arus dan tegangan sesaat pada segmen saluran transmisi sehingga
saluran transmisi dapat dilihat sebagai model dua kutub. Persamaan ini menggambarkan
karakteristik dasar pada saluran transmisi, yaitu :

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

23

1. Konstanta propagasi, yang menggambarkan karakteristik propagasi gelombang pada


saluran transmisi tersebut.

R' jL'G' jC'

(2.5)

dimana adalah komponen riel, yaitu konstanta atenuasi dan adalah komponen
imajiner, yaitu konstanta fasa.
2. Impedansi karakteristik, yaitu perbandingan antara amplitudo gelombang tegangan
yang merambat pada arah positif terhadap amplitudo gelombang arus yang merambat
pada arah positif.
Z0

R' jL'
G' jC

(2.6)

3. Impedansi karakteristik pada saluran tanpa rugi (lossless line). Suatu saluran dapat
diasumsikan sebagai saluran tanpa rugi jika nilai R jauh lebih kecil daripada L' dan
G jauh lebih kecil daripada C' sehingga nilai R = G = 0.
Z0

L'
C'

(2.7)

Saluran Transmisi yang Diterminasi

Gambar 2.3. Saluran Transmisi yang Diterminasi oleh Sebuah Beban. Arah Positif
Menunjukkan Arah Menuju Sisi Beban. Arah Negatif Menunjukkan Arah yang Berlawanan

Beberapa fenomena menarik muncul ketika suatu saluran transmisi diterminasi


dengan suatu beban yang diletakkan pada z = 0. Impedansi beban adalah perbandingan
antara tegangan terhadap arus pada sisi beban. Hubungan impedansi dan tegangan pada
saluran transmisi adalah :

Z L Z0

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

V0 V0
V0 V0

(2.8)

24

dimana Z0 adalah impedansi karakteristik dari saluran transmisi. Persamaan 2.8 dapat
disusun ulang menjadi :

V0

ZL Z0
V0
ZL Z0

(2.9)

dan dari persamaan 2.9. terlihat bahwa jika nilai impedansi beban ZL sama dengan impedansi
karakteristik saluran Z0, maka tidak ada gelombang yang dipantulkan kembali ke sisi sumber.
Kondisi demikian ini disebut sebagai keadaan bersesuaian (matching).
Pada kasus dimana impedansi beban tidak sama dengan impedansi saluran atau tidak
sesuai (mismatched), terdapat gelombang yang memantul balik ke arah sumber dan ini
dianggap merugikan. Tingkat ketidaksesuaian impedansi terhadap saluran dinyatakan dalam
parameter koefisien pantul (refflection coefficient) pada sisi beban, yaitu :

V0

V0

Z L Z0
Z L Z0

(2.10)

Pada beban terhubung singkat (ZL = 0), beban bersesuaian (ZL = Z0), dan beban hubung
terbuka (ZL = ) nilai koefisien pantul masing-masing adalah 1, 0, dan +1.
Gelombang pantul akan bersuperposisi dengan gelombang datang dan membentuk
suatu pola saling menguatkan pada suatu titik dan saling melemahkan pada titik lainnya di
saluran transmisi. Superposisi gelombang ini membentuk gelombang berdiri (standing wave),
dimana perbandingan antara nilai amplitudo maksimum superposisi gelombang terhadap
amplitudo minimum superposisi gelombang dinyatakan dalam parameter VSWR (Voltage
Standing Wave Ratio).

VSWR

1 L
1 L

(2.11)

yang memiliki rentang 1 sampai tak hingga.


Pada setiap titik sepanjang saluran transmisi, Saudara dapat mengetahui
perbandingan tegangan total terhadap arus total, yang dikenal sebagai impedansi input.

Zin Z0

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

Z L Z0 tanhl
Z0 Z L tanhl

(2.12)

25

Pada kasus saluran tanpa rugi, impedansi input dapat dihitung sebagai :

Zin Z0

Z L jZ 0 tan l
Z0 jZ L tan l

(2.13)

The terminated T-line can be replaced by an equivalent lumped-element input


impedance.

Gambar 2.4. Impedansi Input Saluran Transmisi

Fundamentals of Electromagnetics With Engineering Applications by Stuart M. Wentworth

Copyright 2005
by John Wiley & Sons. All rights reserved.
Terdapat dua cara pada penentuan nilai VSWR,
yaitu:

1. Metode Langsung
Metode langsung dilakukan dengan mengukur nilai arus di sepanjang saluran
transmisi. Hasil pengukuran tersebut akan didapatkan nilai arus pada setiap titik di
saluran transmisi. Grafik VSWR didapatkan dengan memplot setiap nilai arus pada
setiap titik di saluran transmisi.
2. Metode Tidak Langsung (Double minimum method)
Metode tidak langsung digunakan untuk memperbaiki metoda langsung jika nilai
VSWR > 10. Detector mendeteksi sinyal minimum. Kemudian detector digerakkan
pada dua tempat dimana sinyal memiliki ampitudo dua kali amplitudo sinyal minimum.
Jarak kedua tempat tersebut, d, dapat digunakan untuk menentukan VSWR dengan :

VSWR

E max
1
1
2
E min
sin d / g

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

(2.14)

26

Gambar 2.5. Metode Tidak Langsung

Pada percobaan ini, Saudara akan melakukan pengukuran VSWR dengan teknik
slotted coaxial air line, seperti terlihat pada Gambar 2.6. Suatu probe dapat digeser-geser
sepanjang saluran untuk mengukur ampltudo medan listrik yang terjadi. Pada pengukuran
VSWR yang menggunakan slotted line detector, terdapat karakteristik hukum kuadrat yang
dimiliki detector :
i ke 2

imax

imin

2
ke max
2
ke min

VSWR

VSWR 2

imax
imin

(2.15)
(2.16)

(2.17)

dengan i adalah arus keluaran DC, k adalah konstanta, dan e adalah tegangan.

Gambar 2.6. Teknik Slotted Coaxial Air Line

Besar medan elektrik sepanjang pandu gelombang (waveguide) dapat dideteksi


menggunakan slotted-line. Medan listrik ditangkap oleh detektor dioda pada probe. Dengan
menggeser-geser probe sepanjang saluran, nilai medan listrik tercuplik. Kedalaman probe
pada saluran slotted-line perlu diperhatikan, karena semakin dalam probe dimasukkan maka
nilai keluaran yang dihasilkan akan semakin besar. Kedalaman yang baik adalah tidak terlalu
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

27

dalam ataupun tidak terlalu dangkal, karena jika terlalu dalam maka akan menimbulkan
perturbasi (gangguan) yang mengkopling medan dalam saluran sehingga nilainya akan
semakin membesar dan tidak akurat. Pada detektor juga diberikan tahanan stub yang
digunakan untuk meminimalisasi efek pembebanan (kapasitansi dan resistansi shunt) pada
saluran transmisi.

Diagram Smith
Diagram Smith adalah diagram yang biasa digunakan untuk memahami karakteristik
saluran transmisi dan elemen rangkaian microwave. Diagram ini terdiri dari bilangan real dan
imajiner, dimana komponen riel ditunjukkan oleh bentuk lingkaran penuh, sedangkan
komponen imajiner ditunjukkan oleh bentuk lengkung. Beberapa karakteristik saluran
transmisi yang dapat dihitung dengan Diagram Smith antara lain adalah VSWR, impedansi
beban, admitansi beban, dan koefisien refleksi. Berdasarkan Diagram Smith dapat diketahui
kondisi saluran transmisi apakah matching atau tidak.

Peralatan
Praktikum modul ini menggunakan peralatan Microwave Trainer (MWT530) yang
diproduksi Feedback Instruments Ltd. Peralatan yang digunakan terdapat pada Tabel 2.1
berikut ini.
Tabel 2.1. Peralatan yang Digunakan pada Modul Saluran Transmisi

No

Nama Alat

Jumlah

1.

Microwave Trainer Board

2.

Variabel Attenuator

3.

X-band CW Gunn Oscilator Source

4.

Slotted line

5.

Probe diode detector

6.

Terminal hubung singkat

7.

Terminal resistif

8.

Waveguide Antena horn

9.

H-plane tee

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

28

1. Microwave Trainer Board

Gambar 2.7. Microwave Trainer Board

2. Variabel Attenuator
Digunakan untuk mengatur tingkat atenuasi dan mengatur transmisi daya di
waveguide. Atenuasi pengaturan tertinggi adalah 0o atau sekitar 36 dB; terendah di
90 atau kurang dari 1 dB.

Gambar 2.8. Variabel Attenuator

3. X-Band CW Gun Oscilator Source


Frekuensi: (fixed) 10.687 Ghz.
Daya output: 10 mW typical; 5 mW minimum.

Gambar 2.9. X-Band CW Gun Oscilator Source

4. Slotted Line
Waveguide slotted line; untuk sampling pola medan listrik di waveguide;
digunakan dengan probe detector untuk mengukur panjang gelombang, VSWR dan
impedansi.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

29

Gambar 2.10. Slotted Line

5. Probe Diode Detector


Probe detector mempunyai dioda detektor yang dipasang di bagian koaksial
dengan konduktor dalam bertindak sebagai probe, yang dihubungkan dengan slotted
line dan directional coupler untuk mendeteksi sinyal microwave. Dioda detektor sendiri
digunakan untuk memperbaiki sinyal microwave untuk deteksinya; pada tingkat daya
rendah keluaran detektor diode saat ini berbanding lurus dengan kekuatan microwave
yang terdeteksi.

Gambar 2.11. Probe Diode Detector

6. Short Circuit Plate


Plat logam yang digunakan untuk bagian short-circuit waveguide; digunakan
dalam pengukuran impedansi untuk menentukan referensi, juga digunakan untuk
mengukur panjang gelombang.

Gambar 2.12. Short Circuit Plate

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

30

7. Resistive Termination
Adalah bagian waveguide yang mengandung bahan lancip untuk menyerap
sinyal microwave; idealnya harus menyerap sinyal masuk seluruhnya tanpa
pemantulan, hal itu kemudian bertindak sebagai beban matching.

Gambar 2.13. Resistive Termination

8. Waveguide Horn Antenna


Merupakan antena penting microwave yang banyak digunakan sebagai pakan
untuk microwave reflektor parabola di radio, satelit, dan sistem radar, dan juga sebagai
antena dalam dirinya sendiri.

Gambar 2.14. Waveguide Horn Antenna

9. E-Plane Tee
Bertindak sebagai pembagi daya pada bidang yang berisi peristiwa E (medan
listrik).

Gambar 2.15. E-Plane Tee

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

31

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Dilarang melihat/mengintip saluran transmisi dan antena horn yang
digunakan pada saat percobaan ketika generator X-band dalam keadaan menyala! Hal
ini dapat menyebabkan iritasi pada mata, bahkan kebutaan. Selalu perhatikan instruksi
asisten dan berhati-hati dalam percobaan, mengingat percobaan ini menggunakan
frekuensi yang cukup tinggi!

Pengukuran VSWR
Pengukuran VSWR pada praktikum ini menggunakan metode langsung. Berikut ini
adalah prosedur percobaan pengukuran VSWR.
1.

Susun peralatan seperti Gambar 2.16. Set tombol pada posisi "internal keying";

2.

Atur sensitivitas pada posisi tengah. Atur sumber redaman pada posisi 20;

3.

Bila detektor digerakkan sepanjang saluran maka penunjukkan ampere meter akan
berubah-ubah. Atur sensitivitas dan bila perlu atur attenuator untuk mendapatkan
pembacaan yang mendekati skala maksimum;

4.

Secara hati-hati gerakkan probe detector untuk mendapatkan pembacaan arus


minimum yang pertama. Catat sebagai imin1 dan posisinya sebagai x1;

5.

Secara hati-hati gerakkan probe detector untuk mendapatkan pembacaan arus


maksimum yang pertama. Catat sebagai imax2 dan posisinya sebagai x2. Catat juga arus
minimun selanjutnya (imin3) dan posisinya sebagai x3 ;

6.

Gunakan prosedur yang sama untuk beban yang lain.

Resistive termination

Gambar 2.16. Rangkaian Percobaan Pengukuran VSWR

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

32

Pengukuran Impedansi Beban Ternormalisasi


Berikut ini adalah cara menentukan impedansi beban dengan menggunakan Diagram Smith :
1.

Tentukan besarnya VSWR dengan metode langsung;

2.

Gambar lingkaran VSWR tersebut pada Smith Chart;

3.

Titik Q dimana r = 1/VSWR merepresentasikan impedansi masukan beban pada


medan listrik minimum;

4.

Hitung panjang gelombang waveguide (g) dengan rumus :

g 2x3SC x1SC
5.

(2.18)

Jarak beban terhadap sumber ditentukan dengan :


d x1 x1SC x 3 x 3SC

(2.19)

6. Dengan menggunakan Smith chart, temukan nilai impedansi beban ternormalisasi


yang letaknya sebesar

toward the load

---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

33

3
MODULASI AMPLITUDO

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Memahami jenis dan proses modulasi analog AM
2. Memahami proses demodulasi sinyal AM

Dasar Teori
Pengantar Teknik Modulasi
Modulasi adalah proses modifikasi sinyal pembawa terhadap sinyal informasi
sedemikian sehingga sinyal informasi dapat ditransmisikan dengan baik. Secara umum,
modulasi melibatkan proses modifikasi sinyal pembawa yang memiliki frekuensi yang lebih
tinggi (bandpass signal) terhadap perubahan-perubahan karakteristik sinyal pesan dari
sumber informasi (baseband signal), Sinyal pembawa disebut sebagai sinyal termodulasi
(modulated signal), sedangkan sinyal pesan disebut sebagai sinyal pemodulasi (modulating
signal). Demodulasi merupakan proses kebalikan dari modulasi, yaitu proses ekstraksi sinyal
informasi baseband dari sinyal pembawa sedemikian sehingga informasi dapat diterima,
diproses, dan diinterpretasikan pada sisi penerima (disebut juga sebagai sink).

Gambar 3.1. Ilustrasi Proses Modulasi dan Demodulasi Sinyal Informasi

34

Modulasi merupakan proses yang sangat penting pada suatu sistem komunikasi,
khususnya komunikasi nirkabel. Modulasi memegang kunci penting di antaranya karena :
1. Modulasi memungkinkan ukuran antena menjadi lebih kecil, karena frekuensi
sinyal menjadi lebih tinggi. Untuk radiasi yang efisien, ukuran antena sebaiknya
berukuran /10 atau lebih (idealnya /4), dimana adalah panjang gelombang dari
sinyal yang akan diradiasikan.
2. Modulasi memungkinkan adanya teknik jalur jamak atau multipleks sehingga dapat
menghemat sumber daya frekuensi yang ada.
3. Modulasi memungkinkan adanya channel assignment, misalnya pada radio FM
yang memisahkan kanal-kanal siaran radio berdasarkan frekuensi sinyal
pembawa. Sebagai contoh untuk RTC UI pada 107,9 MHz, Prambors pada 102,2
MHz, Elshinta 90,0 MHz, dan lainnya.
Suatu sinyal pembawa (carrier) secara umum dapat dinyatakan sebagai :
c(t ) Ac cos Ac cos2fc t

(3.1)

dimana c(t) adalah fungsi sesaat dari gelombang (instantaneous value), AC adalah nilai
amplitudo maksimum [Volt], dan cos adalah sudut yang terbagi menjadi komponen
frekuensi, yaitu fc [Hertz] dan komponen fasa, yaitu [derajat].
Berdasarkan jenis sinyal informasinya, modulasi dibagi menjadi modulasi analog
dimana sinyal informasi berupa sinyal analog dan modulasi digital dimana sinyal informasi
berupa bit-bit digital. Sinyal carrier selalu bersifat analog, karena secara alamiah sinyal yang
dapat ditransmisikan di udara adalah sinyal analog. Berdasarkan komponen persamaannya,
modulasi dibagi menjadi modulasi amplitudo (Amplitude Modulation, AM) dan modulasi sudut
(Angle Modulation). Modulasi sudut itu sendiri dibagi lagi berdasarkan komponenkomponennya, yaitu modulasi frekuensi (Frequency Modulation, FM) dan modulasi fasa
(phase modulation, PM). Modulasi AM kemudian dikembangkan lagi menjadi AM double side
band full carrier (DSB-FC), double side band suppressed carrier (DSB-SC), single side band
(SSB), dan vestigial side band (VSB). Modulasi FM dan PM dibagi berdasarkan lebar
spektrum frekuensi yang dimiliki menjadi narrowband (NB) dan wideband (WB).

Proses Modulasi Amplitudo


Pada modulasi AM DSB-FC, sinyal pembawa adalah :
vc(t ) Vc cos 2fct

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

(3.2)

35

Sedangkan sinyal informasinya adalah :


vm(t ) Vm cos 2fmt

(3.3)

Sinyal termodulasi AM dibangkitkan oleh persamaan :


Vam(t ) Vc Vm cos 2fmt cos 2fct

(3.4)

dimana Vc Vm cos 2fmt merupakan persamaan fungsi envelope dan cos 2fct adalah
persamaan gelombang sinusoidal. Jika nilai VC dikeluarkan, maka Persamaan 3.4 dapat
dituliskan ulang menjadi :
v Vam(t ) Vc1 mAM cos 2fmt cos 2fct

(3.5)

dimana mAM disebut sebagai indeks modulasi atau mAM = Vm/VC. Indeks modulasi akan
menentukan kualitas dari sinyal termodulasi AM. Dengan menggunakan identitas
trigonometri :
v (cos X )(cosY )

1
1
cos( X Y ) cos( X Y )
2
2

(3.6)

maka sinyal termodulasi AM dapat dituliskan sebagai :


v Vam(t ) Vc cos 2fct VcmAM cos 2fct cos 2fmt

(3.7)

atau jika menggunakan indeks modulasi :


v Vam(t ) Vc cos 2fct

VcmAM
cos 2 ( fc fm)t cos 2 ( fc fm)t
2

(3.8)

Diagram blok alur proses pembangkitan sinyal termodulasi AM terlihat pada Gambar 3.2.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

36

Gambar 3.2. Diagram Blok Proses Modulasi AM

Gambar 3.3. Proses Modulasi AM dalam Domain Waktu secara Proporsional dan Jelas

Gambar 3.4. Bentuk Gelombang Sinyal Termodulasi AM secara Proporsional dan Jelas

Kualitas dari sinyal hasil modulasi AM dapat dilihat dari indikator indeks modulasi. Nilai
indeks modulasi mAM berkisar antara 0 1 atau 0% - 100 %, yaitu :
1. mAM < 1 yang disebut kondisi under-modulated.
2. mAM = 1 yang disebut kondisi fully-modulated.
3. mAM > 1 yang disebut kondisi over-modulated.
Pada kondisi over-modulated, terjadi tumpang tindih fasa pada envelope sehingga
penerima tidak dapat mengekstraksi sinyal informasi dari sinyal pembawa akibat distorsi

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

37

sinyal. Bentuk gelombang sinyal termodulasi AM untuk nilai indeks modulasi yang berbeda
terlihat pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5. Bentuk Gelombang Sinyal Termodulasi AM dengan Nilai Indeks Modulasi yang
Berbeda-beda

Kualitas dari sinyal termodulasi AM juga dapat dilihat dari sisi daya yang mana harus
dilihat dari domain frekuensi. Untuk mengubah sinyal dari domain waktu ke domain frekuensi,
seperti telah Saudara ketahui pada perkuliahan sebelumnya, digunakan metode Transformasi
Fourier. Transformasi Fourier digunakan karena sinyal termodulasi AM dianggap sebagai
sinyal yang kontinu dan memiliki periode tertentu.
Persamaan gelombang pada Persamaan 3.5. dapat dinyatakan dalam ekspresi
bilangan kompleks (eksponensial) menjadi :

j 2fct
Reg (t ) exp j2fc t
v v AM (t ) Re g (t )e

(3.9)

dimana g (t) adalah persamaan fungsi envelope kompleks, yaitu :


v g(t ) Vc1 mAM cos 2fmt

(3.10)

Kemudian dengan transformasi Fourier, spektrum frekuensi sinyal AM adalah :


v S AM ( f )

1
Ac f fc M f fc f fc M f fc
2

(3.11)

dimana (f + fc) adalah fungsi unit impuls dan M (f) adalah spektrum sinyal pesan. Gambar
3.6. menunjukkan spektrum sinyal termodulasi AM dimana magnitudo spektrum merupakan
fungsi segitiga. Seperti yang terlihat, spektrum sinyal AM terdiri dari sebuah impuls pada
frekuensi sinyal carrier dengan dua sideband yang menggandakan spektrum sinyal pesan.
Sideband pada frekuensi yang lebih rendah disebut sebagai lower sideband (LSB) dan pada

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

38

frekuensi yang lebih tinggi disebut upper sideband (USB). Panjang pita bandwidth (BW) dari
sinyal AM adalah :
v B AM 2fm

(3.12)

Gambar 3.6. Bentuk Spektrum Sinyal Termodulasi AM. (a) Spektrum Sinyal Pesan, (b)
Spektrum Ainyal AM

Total daya pada sinyal AM dapat dihitung dengan menggunakan prinsip penjumlahan
rata-rata kuadrat dan berdasarkan Teorema Parseval. Total daya pada sinyal AM adalah :
v PAM

1 2
Ac 1 2 m(t ) m 2 (t )
2

(3.13)

dimana notasi menunjukkan nilai rata-rata. Jika sinyal pemodulasi m (t) = k cos (2fmt),
maka persamaan 3.13. dapat ditulis ulang menjadi :

v PAM

dimana Pc

k2
1 2
Ac 1 Pm Pc 1

2
2

(3.14)

1 2
Ac adalah daya sinyal carrier, Pm adalah daya sinyal pemodulasi m (t), dan
2

k adalah indeks modulasi.


Total daya pada sinyal AM dapat dihitung pula dengan pendekatan daya yang
terdisipasi pada tahanan beban R. Daya yang terdisipasi pada sinyal pembawa adalah :

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

39

v Pc

2
cRMS

2V V
2

2
c

(3.15)

2R

Daya pada masing-masing sideband dengan amplitudo maksimum V LSB VUSB

v PLSB PUSB

m AM Vc

2
2
V

2R
2R

m AM Vc
:
2

2
2
m AM Vc m AM P
c
8R
4

(3.16)

Daya keseluruhan pada sinyal AM DSB-FC adalah


2

v PTotal Pc PLSB PUSB

m
m
m
Pc AM Pc AM Pc Pc AM Pc
4
4
2

PTotal

m AM 2
Pc 1
2

(3.17)

(3.18)

Pada persamaan 3.8, terlihat ada 3 komponen frekuensi yang berbeda, yaitu :
1. Vc cos 2fct sebagai carrier yang tidak membawa sinyal informasi apapun.
2.

Vcm AM
cos 2 ( fc fm)t sebagai lower sideband yang membawa sinyal informasi.
2

3.

Vcm AM
cos 2 ( fc fm)t sebagai upper sideband yang tidak membawa sinyal
2
informasi.

Adanya tiga komponen frekuensi tersebut memotivasi adanya evolusi pada teknik
modulasi AM. Sinyal carrier yang tidak membawa sinyal informasi apapun memiliki daya yang
paling besar berdasarkan persamaan 3.14. dan 3.18 sehingga keberadaannya dapat ditekan.
Hal ini memunculkan adanya teknik DSB Suppressed Carrier (DSB-SC) untuk mengurangi
daya yang terbuang percuma. Kedua komponen sideband membawa sinyal informasi yang
sama, namun keduanya menempati bandwidth yang lebar. Hal ini memotivasi munculnya
teknik SSB, dimana hanya salah satu sideband yang mentransmisikan informasi sehingga
dapat mengurangi daya yang terbuang percuma dan juga mengurangi penggunaan
bandwidhth yang terlalu lebar. SSB memunculkan masalah baru tatkala sideband yang
tunggal tersebut diserang noise atau distorsi sepanjang perjalanan transmisinya. Tidak ada
back-up atas informasi yang ditransmisikan oleh SSB sehingga munculah teknik VSB, dimana
salah satu singleband memiliki daya penuh dan yang lainnya memiliki daya yang lebih rendah
sebagai back-up informasi.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

40

Gambar 3.7. Pembangkitan Sinyal AM SSB Menggunakan (a) Filter SSB dan (b)
Modulator Terseimbangkan (Balanced Modulator) yang Merupakan Rangkaian Center-Tapped
Transformers.

Balanced Modulator
Sebuah modulator terseimbangkan digunakan untuk menghasilkan sinyal DSBSC
dengan menekan carrier dan hanya menyisakan upper dan lower sidebands yang merupakan
penjumlahan dan pengurangan dari sinyal modulasi dan sinyal termodulasi. Bentuk paling
sederhana dari modulator terseimbangkan adalah diode ring atau lattice modulator seperti
yang ditunjukkan gambar dibawah. Perlu diperhatikan bahwa gambar 3.8 kedua koneksi (a)
dan (b) adalah identik.

Gambar 3.8 Sebuah Balanced Modulator- diode ring or lattice modulator

Pengoperasian modulator cincin cukup sederhana. Modulating signal diterapkan pada


transformator input, T1, sedangkan pembawa gelombang sinus diterapkan pada cemter taps
pada input dan output trafo. Pembawa berfungsi sebagai sumber forward bias dan reverse
bias untuk dioda yang berfungsi seperti switch untuk menghubungkan modulating signal untuk

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

41

output transformator, T2. Hasilnya adalah bahwa sinyal DSBSC akan dihasilkan pada
transformator output.
Untuk memudahkan dalam pemahaman, mari kita urutkan operasinya melalu sebuah
siklus dari gelombang pembawa sinus. Ketika polaritas pembawa seperti pada gambar 3.10
(a) dioda D1 dan D2 akan forward bias, sedangkan dioda D3 dan D4 reverse bias. Dioda
forward bias mengalirkan arus sedangkan dioda reverse bias bertindak seperti sirkuit terbuka.
Rangkaian dapat divisualisasikan sebagai yang pada gambar 3.10 (b). Dengan mengabaikan
modulating signal untuk saat ini dan jika posisi center tap dari osilator pembawanya tepat,
maka arus yang mengalir di bagian atas lilitan primer transformator di T2 dan arus yang
mengalir di bagian bawah trafo adalah

sama besar namun arah medan magnet yang

berlawanan akan membatalkan satu sama lain dan oleh karena itu tidak ada arus yang
diinduksi dalam lilitan sekunder di T2, sehingga ada outputnya adalah 0. Ini adalah bagaimana
sinyal pembawa ditekan dalam balanced modulator. Sekarang dengan mempertimbangkan
kehadiran sinyal modulasi. Modulating signal akan muncul di lilitan sekunder dari
transformator T1 dan dikonduksikan oleh dioda D1 dan D2 ke lilitan primer dari transformator
T2 yang pada gilirannya menginduksi output di T2.

Gambar 3.9 Rangkaian Ekuivalen saat first half cycle dari carrier sine wave

Ketika polaritas pembawa berubah seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.10(a),
dioda D3 dan D4 akan forward bias sedangkan dioda D1 dan D2 reverse bias. Rangkaian
ekuivalen ditunjukkan pada gambar 3.10(b). Demikian pula, modulating signal dikonduksikan
ke lilitan primer transformator T2, tapi kali ini dalam arah sebaliknya sesuai koneksi dioda D3
dan D4. Oleh karena itu output yang diinduksi di T2 terbalik. Sinyal pembawa tetap ditekan
pada output.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

42

Gambar 3.10 Rangkaian Ekuivalen saat second half cycle dari carrier sine wave

Proses yang dijelaskan di atas terjadi berulang kali melalu berbagai osilasi sinyal
carrier. Hasilnya adalah sinyal DSBSC seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.11, Dapat
diamati bahwa sinyal DSBSC
Berosilasi pada frekuensi carrier
Envelopenya bukan merupakan bentuk dari modulating signal
Pembalikan fasa terjadi pada saat di mana modulating signal melintasi garis nol

Gambar 3.11 DSBSC waveform yang dihasilkan ring modulator

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

43

Proses Demodulasi AM
Proses demodulasi AM dapat dibagi menjadi :
1. Demodulasi Envelope atau Non-Koheren
Pada demodulasi non-koheren, digunakan detektor selubung (envelope).
Detektor selubung terdiri dari transformator step-up untuk menaikkan level
tegangan, dioda untuk menyearahkan sinyal, dan filter RC.

Gambar 3.12. Detektor Selubung

Sinyal yang akan didemodulasikan harus sinyal dengan nilai indeks modulasi m <
1. Berikut ini adalah proses demodulasinya.

Gambar 3.13. Proses Demodulasi Non-Koheren dengan m < 1.

Jika m > 1, maka akan terjadi pertukaran fasa pada selubung dan menyebabkan
sinyal terdistorsi dan tidak bisa diinterpretasikan pada sisi penerima.

Gambar 3.14. Proses Demodulasi Non-Koheren dengan m > 1.

2. Demodulasi Sinkron atau Koheren


Pada demodulasi sinkron, digunakan rangkaian phase-locked loop (PLL)
sebagai local oscillator (LO). Sinyal termodulasi AM masuk ke rangkaian
demodulator, kemudian dibangkitkan sinyal dari LO yang sesuai dengan frekuensi
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

44

carrier yang diinginkan. Jika frekuensi carrier tersebut sesuai dengan frekuensi LO,
maka sinyal akan keluar dan difilter kemudian diinterpretasikan sebagai sinyal
informasi. Prinsip ini digunakan pada radio konvensional, dimana Saudara perlu
melakukan tuning atau mencari frekuensi carrier yang sesuai dengan memutarmutar knob LO pada radio.

Gambar 3.15. Proses Demodulasi Koheren dengan PLL

Peralatan
Pada praktikum modul ini digunakan perangkat keras dan perangkat lunak produksi
Feedback Teknikit. Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 2.1 berikut
ini.
Tabel 2.1. Peralatan yang digunakan pada Modul Modulasi dan Demodulasi AM.

No

Nama Alat

Jumlah

1.

53-100 RAT Measuring system

2.

Amplitude Modulation Workboard 53-130

3.

Perangkat komputer

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan RAT
Measurement System jika ingin mengganti board. Gambarlah terlebih dahulu
seluruh bentuk gelombang atau spektrum sinyal dan berikan tanda-tanda
seperlunya. Pengisian borang akan diberikan waktu tersendiri. Lakukan seluruh
prosedur percobaan dengan waktu yang se-efisien mungkin.

Prosedur Umum
Prosedur kerja umum dilakukan pada saat mulai menggunakan Feedback Software.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

45

1. Dari menu utama untuk mengetahui tugas yang akan dilakukan, klik icon perangkat
lunak pada desktop;
2. Pilih System;
3. Pilih Index;
4. Klik assignment sesuai dengan praktikum Saudara;
5. Klik toolbar Practical sesuai dengan practical yang sedang Saudara lakukan.
Jika akan melanjutkan ke Practical selanjutnya :
1. Klik toolbar System, lalu klik End practical;
2. Kemudian memulai kembali dengan mengklik toolbar Practical selanjutnya;
3. Untuk berhenti, klik toolbar System, lalu klik Quit.

Percobaan AM DSB-FC
1. Set carrier level maksimum, dan Modulation level minimum;
2. Amati sinyal di setiap titik menggunakan oscilloscope dan spectrum analyzer dan
catat hasil pengamatan;
3. Perbesar Modulation level sedikit demi sedikit hingga amplitudo carrier mendekati
nol;
4. Amati sinyal di setiap titik menggunakan oscilloscope dan spectrum analyzer dan
catat.

Percobaan AM DSB-SC
1. Ikuti petunjuk umum. Setelah mengklik toolbar Practical, lalu klik Amplitude
Modulation with No Carrier;
2. Amati sinyal di setiap titik dengan menggunakan oscilloscope dan spectrum
analyzer dan catat hasil pengamatan;
3. Set Carrier balance ke skala posisi tengah;
4. Amati sinyal di titik 6 dan catat hasil pengamatan;
5. Tingkatkan level Carrier Balance;
6. Tingkatkan level Modulation Level dan Carrier Level;
7. Amati sinyal dan tingkatkan level IIFO frequency, sehingga BFO berada pada fasa
yang sama (in phase) dengan carrier. Perhatikan bahwa hasil dari detector output
adalah sama dengan modulating signal.
---o0o--Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

46

4
MODULASI FREKUENSI

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Memahami jenis dan proses modulasi analog FM
2. Membedakan antara modulasi analog secara AM dan FM

Dasar Teori
Pendahuluan
Modulasi FM adalah teknik modulasi analog yang paling populer dibandingkan AM,
khususnya pada aplikasi sistem radio. Pada modulasi FM, amplitudo sinyal carrier dibuat
konstan, sedangkan frekuensi sinyal carrier divariasikan terhadap perubahan amplitudo sinyal
informasi. Dengan demikian, informasi pada modulasi FM dikandung pada komponen sudut
sinyal. Hal ini menyebabkan FM memiliki banyak keuntungan dibandingan AM, di antaranya
adalah :
1. Imunitas terhadap noise pada modulasi FM lebih baik daripada AM. Hal ini
disebabkan oleh sinyal informasi pada modulasi AM terdapat pada amplitudo dan
kualitas sinyal sangat dipengaruhi oleh level amplitudo. Amplitudo seperti diketahui
sangat rentan terhadap noise, sehingga sinyal kita terserang noise dan amplitudo
mengalami penurunan, maka bukan tidak mungkin sinyal informasi yang
ditransmisikan menjadi terdistorsi ataupun hilang sama sekali. Sinyal FM yang tidak
terpengaruh oleh variasi amplitudo hanya menggunakan threshold sebagai petunjuk
amplitudo sehingga FM lebih tahan terhadap noise atmosferik ataupun impuls yang
dapat menyebabkan fluktuasi yang besar pada amplitudo sinyal. Threshold sinyal FM
juga menyebabkan FM lebih tahan terhadap burst noise.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

47

2. FM memungkinkan nilai kualitas sinyal yang diukur sebagai signal-to-noise ratio


(SNR) menjadi lebih baik, walaupun FM menempati bandwidth yang lebih lebar
daripada AM.
3. Sinyal FM memiliki envelope yang konstan sehingga daya yang ditransmisikan lebih
efisien.
4. FM memiliki sifat capture effect, dimana jika ada dua atau lebih sinyal dengan
frekuensi yang sama masuk ke dalam receiver FM, maka hanya sinyal yang paling
kuat yang akan diterima dan sinyal lainnya akan ditolak. Hal ini menyebabkan FM
lebih tahan terhadap co-channel interference dibandingkan AM yang akan selalu
menerima semua sinyal termasuk sinyal interferensi yang lemah.
Dibandingkan dengan AM, sinyal FM juga memiliki kelemahan di antaranya :
1. Modulasi FM membutuhkan bandwidth yang lebih besar daripada AM untuk
menghasilkan capture effect dan mengurangi noise.
2. Peralatan pengirim dan penerima FM jauh lebih kompleks daripada AM.
3. Jangkauan sinyal FM lebih dekat daripada AM, karena frekuensi yang digunakan
oleh FM lebih tinggi sehingga panjang gelombangnya lebih pendek daripada sinyal
AM yang lebih panjang sehingga bisa dipantulkan melalui ionosfer ke tempat yang
lebih jauh.

Proses Modulasi FM
Misalkan sinyal carrier :
vc t = Vc cosct

(4.1)

Persamaan sinyal FM dasar adalah :


vs t = Vc cos2fc + deviasi frekuensi t

(4.2)

dimana deviasi frekuensi bergantung pada m (t). Frekuensi sinyal carrier akan berubah-ubah,
sehingga persamaan sinyal carrier sesaat dapat dituliskan sebagai :
vs t = Vc cosi t = Vc cos2fi t = Vc cosi

(4.3)

dimana i adalah sudut sesaat it = 2fit dan fi adalah frekuensi sesaat.


Karena i = 2fit , maka :

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

48

di
= 2fi
dt

atau

fi =

1 di
2 dt

(4.4)

Berdasarkan Persamaan 4.4 tersebut dapat dilihat bahwa frekuensi sebanding dengan laju
perubahan sudut. Jika fc adalah frekuensi sinyal carrier dan fm adalah frekuensi sinyal pesan,
maka dapat diambil :
fi = fc + f c cosmt =

1 di
2 dt

(4.5)

dimana fc adalah deviasi puncak frekuensi carrier, yaitu f c k f Vm dengan kf adalah


konstanta sensitivitas deviasi frekuensi (Hz/volt) dan Vm adalah amplitudo maksimum sinyal
pesan. Oleh karena itu, diperoleh :

1 di
= fc + fc cosmt
2 dt

(4.6)

di
= 2fc + 2fc cosmt
dt

(4.7)

sehingga

Untuk memperoleh nilai sudut, maka dilakukan integrasi :

+ 2fc cosmt dt

(4.8)

Diperoleh :

i = ct +

2fcsin mt
m

i = ct +

fc
sin mt
fm

(4.9)

(4.10)

Dengan mensubstitusikan Persamaan 4.9 ke Persamaan 4.3, diperoleh persamaan


sinyal termodulasi FM :

f
vs t = Vc cos ct + c sin mt
fm

Perbandingan

(4.11)

fc
disebut sebagai indeks modulasi FM, yaitu :
fm

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

49

Deviasi puncak frekuensi sinyal pembawa f c

frekuensi sinyal pesan


fm

(4.12)

Bentuk gelombang sinyal termodulasi FM dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Bentuk Gelombang Sinyal FM dalam Domain Waktu

Persamaan 4.11. dapat dinyatakan dalam deret fungsi Bessel :


vs t = Vc

J cos
n

+ nm t

n=

(4.13)

Gambar 4.2. Fungsi Bessel untuk Orde Tertentu terhadap Nilai .

dimana Jn () adalah fungsi Bessel jenis pertama. Dengan melakukan ekspansi, diperoleh :

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

50

vs (t ) Vc J 0 ( ) cos(c )t Vc J1 ( ) cos(c m )t Vc J 1 ( ) cos(c m )t


Amp

fc

Amp

fc fm

Amp

fc fm

Vc J 2 ( ) cos(c 2m )t Vc J 2 ( ) cos(c 2m )t

Amp

fc 2 fm

Amp

(4.14)

fc 2 fm

Dengan menggunakan ekspansi fungsi Bessel, spektrum frekuensi dari sinyal FM


dapat diperoleh. Pada Gambar 4.3 terlihat ilustrasi spektrum frekuensi sinyal FM dan terlihat
bahwa sinyal FM menempati bandwidth yang cukup lebar dibandingkan dengan sinyal AM.

Gambar 4.3. Ilustrasi Spektrum Sinyal FM

Nilai magnitudo setiap sideband dapat dilihat pada tabel fungsi Bessel untuk tiap nilai
indeks modulasi tertentu seperti pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4. Tabel Fungsi Bessel untuk Setiap Nilai Indeks Modulasi Tertentu

Lebar bandwidth sinyal FM dapat dihitung dengan pendekatan Aturan Carson, yaitu :
BW 2fc fm

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

(4.15)

51

Dimana pendekatan ini dilakukan karena panjang bandwidth dari sinyal FM adalah tak
hingga. Pada FM lebih dikenal istilah pasangan sideband daripada LSB dan USB dan
bandwidth tidak dihitung dari LSB hingga ke USB.
Sinyal FM dengan nilai indeks modulasi yang cukup kecil ( < 0,3) disebut sebagai
narrowband FM yang hanya memiliki 2 significant sideband pairs. Sementara itu sinyal FM
dengan > 0,3 akan memiliki lebih dari 2 significant sideband pairs dan disebut sebagai
wideband FM.
Proses-proses pada FM bersifat non linier sehingga prinsip superposisi tidak dapat
digunakan. Ketika sinyal pesan merupakan sinyal dengan banyak frekuensi seperti suara
manusia atau musik, analisanya menjadi sangat rumit. Dalam kalkulasi sinyal FM, selalu
diasumsikan sinyal pesan merupakan single tone dengan frekuensi yang digunakan adalah
frekuensi maksimum dari sinyal pesan.
Berdasarkan persamaan 4.13., dapat dilihat bahwa nilai maksimum dari seluruh
komponen adalah VcJn() untuk sejumlah n komponen. Perhatikan bahwa untuk sinyal

V
periodik sinusoidal, nilai daya rata-rata ternormalisasi atau RMS adalah max
2

(VRMS )2 ,

sehingga daya untuk sejumlah n komponen adalah :

Vc J n ( )
V J ( )

c n
2
2

(4.16)

Dengan demikian, total daya pada spektrum sinyal FM adalah :


PT

(Vc J n ( ))2
2
n

(4.17)

Proses Demodulasi FM (Pengayaan)


Proses demodulasi FM pada prinsipnya sama dengan pada proses demodulasi AM.
Beberapa metode demodulasi adalah rangkaian tertala (tuned circuit), Foster-Seeley
Discriminator, dan PLL.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

52

Gambar 4.5. Rangkaian Tertala

Gambar 4.6. Rangkaian Foster-Seeley Discriminator

Gambar 4.7. Rangkaian PLL (Phase-Locked Loop)

Gambar 4.8. Modulator FM Armstrong


Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

53

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1. Peralatan yang digunakan pada Modul Proses Modulasi FM.
No

Nama Alat

Jumlah

1.

Arbitrary function generator AFG 3081

2.

Digital Storage Oscilloscope GDS-820C

3.

Spectrum Analyzer GSP827

Spectrum Analyzer adalah alat untuk meyelidiki distribusi energi sepanjang spektrum
frekuensi dari suatu sinyal listrik yang diketahui. Dari penyelidikan ini, diperoleh informasi yang
sangat berharga mengenai lebar bidang frekuensi (bandwidth), rapat daya sinyal, efek
berbagai jenis modulasi, pembangkitan sinyal interferensi dan begitu juga pada semua
manfaatnya dalam perencanaan dan pengujian rangkaian RF dan pulsa. Alat yang
ditampilkan dalam domain frekuensi ini biasa dipergunakan untuk analisis sinyal
elektromagnetik pada rentang frekuensi tertentu apabila ada sumber gangguan pada
perangkat nirkabel, seperti Wi-Fi dan wireless router.

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan peralatan
jika ingin mengganti kabel. Jangan memaksakan kabel jika konektor tidak sesuai
atau tidak mau masuk! Perhatikan instruksi dan label pada peralatan agar tidak
terjadi bahaya tersengat listrik.

1. Buat sinyal carrier dengan cara : menekan tombol MOD, kemudian pilih FM. Tekan
tombol waveform, dan pilih bentuk sinyal sinusoidal.
2. Tentukan besar frekuensi carrier dengan menekan tombol FREQ/Rate dan masukkan
besar sinyal yang diinginkan.
3. Atur amplitudo sinyal dengan menekan AMPL.
4. Buat sinyal informasi dengan cara : menekan tombol MOD, kemudian pilih FM, dan
pilih FM freq dan masukkan besar sinyal informasi yang diinginkan. Kemudian klik
return. (Sinyal informasi besarnya 2 mHz 20 kHz, default: 100 Hz)
5. Atur besarnya Deviasi dengan cara : Pilih Freq Dev dan masukkan besarnya sesuai
yang diinginkan. (default: 100 Hz). Frekuensi deviasi adalah deviasi frekuensi puncak
dari gelombang pembawa dan gelombang termodulasi.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

54

6. Lihat tampilan sinyal informasi dan sinyal hasil modulasi pada osiloskop dengan
menghubungkan terminal MOD dan MAIN ke osiloskop.
7. Lihat tampilan sinyal hasil modulasi pada spectrum analyzer dengan menghubungkan
terminal MAIN ke spectrum analyzer.
---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

55

5
SISTEM TELEPONI

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Memahami sistem kerja telepon analog
2. Memahami prinsip kerja transduser

Dasar Teori
Pendahuluan
Ilmu telekomunikasi selalu berusaha untuk menyediakan layanan komunikasi jarak
jauh. Layanan ini dapat bersifat privat ataupun terbuka untuk akses publik. Layanan
telekomunikasi modern yang paling tua dan sangat umum digunakan adalah layanan telepon.
Layanan telepon dua kawat analog yang paling tua adalah public switched telephone network
(PSTN) atau plain old telephone service (POTS).
Sistem teleponi secara umum dibagi menjadi tiga elemen, yaitu telepon, handset dan
saluran yang terhubung ke switching center. Pada Gambar 5.1 ditampilkan sistem teleponi
secara umum.

Gambar 5.1. Diagram Blok Sistem Telepon Secara Umum

Untuk membangun sistem komunikasi yang berhasil, selain didukung topologi sentral
dan saluran transmisi yang baik, juga harus terdapat prosedur untuk mengendalikan

56

panggilan yang disebut sebagai persinyalan. Pada telepon terdapat bagian yang mengatur
fungsi persinyalan, yaitu switch hook, keypad dan allerter. Proses persinyalan pada switch
hook dimulai saat pertama kali gagang telepon diangkat. Fungsi rangkaian switch hook, yaitu:
1. Melakukan pensinyalan antara sentral dengan pesawat telepon yang digunakan;
2. Memutuskan alerter dan menyambungkan ke rangkaian telepon lainnya.

Gambar 5.2. Rangkaian pada Sistem Telepon

Telepon Persinyalan Putar

Gambar 5.3. Rangkaian pada Sistem Telepon Rotary Dial

Hook switch berfungsi menyambung dan memutuskan telepon dari jaringan. Pada
gagang telepon terdapat transduser audio, yaitu perangkat elektronik yang berfungsi untuk
mengubah energi suara menjadi energi listrik atau sebaliknya. Perangkat transduser audio
adalah mikrofon dan pelantang suara.
Mikrofon berfungsi mengubah sinyal suara akustik menjadi sinyal listrik melalui
diafragma yang terdapat padanya. Jenis mikrofon di antaranya adalah mikfofon dinamik,

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

57

electric condenser, ribbon, dan mikrofon kristal piezoelektrik. Berikut ini adalah konstruksi dari
mikrofon dinamik.

Gambar 5.4. Konstruksi Mikrofon Dinamik

Koil yang bergerak pada mikrofon menggunakan prinsip induksi elektromagnet yang
mengkonversikan gelombang suara menjadi sinyal elektrik. Ketika gelombang suara
menabrak diafragma fleksibel, diafragma akan mundur ke belakang dan berespon sesuai
dengan tekanan suara yang terjadi. Tekanan ini menyebabkan koil yang bergerak di dalam
medan magnet dari magnet permanen. Pergerakan koil dalam medan magnet ini
menyebabkan adanya induksi tegangan berdasarkan hukum Faraday. Nilai tegangan yang
keluar dari koil sebanding dengan tekanan gelombang suara yang menekan diafragma. Pada
prakteknya juga diletakkan amplifier untuk memperbesar level sinyal yang masuk sehingga
lebih mudah diproses. Impedansi koil yang umum digunakan adalah sekitar 8 16 ohm.

Gambar 5.5. Konstruksi Pelantang Suara

Prinsip kerja pelantang suara berkebalikan dari prinsip kerja mikrofon. Pelantang
suara digunakan untuk mengubah sinyal elektrik menjadi gelombang suara.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

58

Pada telepon jenis persinyalan putar (rotary dial) digunakan persinyalan dengan pulse
dialling. Pada persinyalan pulse dialling, hook switch ditekan untuk men-dial nomor telepon
yang dituju. Jika tombol 9 ditekan, maka hook switch akan membuka-tutup sebanyak 9 kali
serta mengirimkan sinyal pulsa. Keuntungan dari persinyalan ini adalah sistemnya yang
sederhana dan murah. Namun demikian, Saudara akan merasakan adanya sidetone (suara
sendiri melalui speaker ketika berbicara) dan echo (jeda waktu antara sinyal suara yang
dikirim dari mikrofon dengan suara pantulan yang masuk ke speaker, sehingga muncul seperti
gaung).

Gambar 5.6. Grafik persinyalan pulse dialling, dimana jumlah pulsa yang dikirimkan adalah
seperti angka tombol yang ditekan. Pada setiap pergantian angka, disisipkan IDP (Inter-Dial
Pulse) untuk membatasi antar angka.

Telepon Touch Tone Dialling / Dual Tone Multi Frequency (DTMF)


Pada prinsipnya telepon jenis ini tidak terlalu berbeda pada rangkaian telepon rotary
dial, dengan perbedaan hanya pada sistem persinyalan yang digunakan. Pada sistem telepon
touch tone, digunakan persinyalan dengan dual tone multi-frequency (DTMF) dimana nomor
telepon yang ditekan akan dikirimkan sebagai gabungan dua frekuensi yang berbeda.

(a)

(b)

Gambar 5.7. Sistem DTMF (a). Pengirim dan (b) Detektor DTMF pada penerima.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

59

Sinyal-sinyal pertama diamplifikasi dan dipisahkan berdasarkan kelompok frekuensi


tinggi dan rendah menggunakan filter lowpass (LP) dan filter highpass (HP). Pembatas (L)
digunakan untuk mengkonversikan tone yang terpisahkan tersebut menjadi gelombang kotakkotak. Tone individual diidentifikasikan menggunakan 7 filter bandpass(BP), dimana setiap
filter melewatkan satu tone dan menolak tone yang lain. Setiap filter diikuti dengan sebuah
detektor yang akan bekerja ketika tegangan input telah mencapai level tertentu. Output
detektor akan menghasilkan sinyal DC yang dibutuhkan oleh switching centre untuk
menghubungkan Saudara dengan pihak yang ditelepon.

Rangkaian Hibrid 2-Kawat-4-Kawat


Rangkaian hibrid telepon adalah komponen pada sisi pelanggan dari suatu sistem
PSTN yang berfungsi untuk mengkonversi antara sistem dua kawat dengan sistem empat
kawat sehingga membentuk jalur sinyal audio bidireksional. Pada hakikatnya, sifat alami dari
saluran telepon adalah dua sinyal audio bergerak pada dua arah yang berlawanan, yaitu suara
dari pengirim dan penerima yang bergerak secara bersama-sama. Dua sinyal yang bergerak
ini kemudian diproses secara terpisah pada sistem switching dan transmisi telepon yang
menggunakan sistem 4 kawat. Untuk mengubah sinyal telepon pada sistem dua kawat
menjadi empat kawat digunakanlah rangkaian hibrid ini untuk mencegah bercampurnya dua
sinyal suara yang berbeda. Saat ini, pada sistem telepon modern, digunakan line card untuk
melakukan antarmuka antar saluran analog sehingga konversi berlangsung lebih efisien.
Rangkaian hibrid ini juga berfungsi untuk mengamplifikasi sinyal dan sebagai echo cancelers.

Gambar 5.8. Rangkaian Hibrid pada Telepon

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

60

Alur Sambungan Telepon


Pada sambungan telepon dikenal beberapa jenis sinyal yang dapat dilihat pada Tabel
5.1. berikut ini.
Tabel 5.1. Jenis-jenis Sinyal pada Telepon
No.

Nama Sinyal

Kegunaan
Perangkat telepon pada pengguna A memberikan informasi kepada

1.

Off-hook

central office bahwa pengguna saat ini sedang stand by ingin


melakukan panggilan.

2.

Dial tone

Central office memberikan informasi kepada pengguna A bahwa


saluran telepon sudah siap melayani hubungan telepon.
Central office memberitahu pengguna bahwa telepon yang dituju

3.

Ringback tone

sedang dihubungi dan saat ini sedang berdering menunggu diangkat


oleh pengguna B.

4.

Ringing Voltage

Tegangan arus bolak balik yang dikirimkan oleh central office kepada
pengguna B agar telepon berdering.
Central office akan memberitahukan kepada pengguna lain yang

5.

Busy tone

menelepon ke salah satu pengguna A atau B ketika pengguna A dan


B melakukan percakapan telepon bahwa pengguna A dan B sedang
melakukan percakapan telepon dan saat ini tidak dapat dihubungi.
Salah satu pengguna A atau B menyudahi percakapan dan perangkat

6.

On-hook

teleponnya memberitahukan kepada Central Office bahwa gagang


telepon telah ditutup dan sambungan diputus. Central office akan
memutus sambungan antara A dan B serta saluran terbebaskan.

7.

Flash

Kombinasi antara on-hook dan off-hook.

Langkah percakapan melalui telepon adalah :


1. Setiap pelanggan terhubung ke central office melalui sepasang kabel local loop,
yang disebut tip (T) dan ring (R). Jika telepon sedang dalam keadaan on-hook,
switch hook pada cradle dalam kondisi hubung terbuka sehingga tidak ada arus
yang mengalir dari central office melalui T dan R ke perangkat telepon. Sebaliknya,
ketika perangkat dalam keadaan off-hook, maka ada aliran arus DC dari central
office ke pesawat pelanggan.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

61

Gambar 5.9. Keadaan Telepon saat On-Hook dan Off-Hook

2. Setelah pemanggil mendapatkan loop arus dari CO, maka CO akan mengirimkan
dial tone yang menyatakan bahwa CO telah siap menerima urutan nomor telepon.
3. Pelanggan akan mengirimkan nomor telepon yang dituju dengan memutar dial pada
sistem telepon rotary dial atau menekan tombol pada sistem touch tone. Sinyal
nomor telepon ini berupa sinyal AC.
4. CO akan merespon nomor telepon yang dikirimkan kemudian mengadakan jalur
sambungan ke nomor yang dituju. Jika nomor yang dituju sedang off-hook, maka
CO akan mengirimkan nada sibuk ke pemanggil. Jika nomor yang dipanggil sedang
on-hook, CO akan mengirim ringtone ke pelanggan yang dipanggil dan mengirim
ringback tone ke pemanggil.
5. Saat pelanggan yang dipanggil mengangkat gagang telepon, maka arus dari
pemanggil akan langsung diarahkan ke pelanggan yang dipanggil. CO akan
mematikan ringtone dan ringback tone. Pada saat ini saluran telepon antara
pemanggil dan yang dipanggil dikatakan sedang diduduki, sehingga pelanggan
lain yang berupaya menelepon keduanya akan menerima busy tone dari CO.
Saluran ini akan terus diduduki dan dipertahankan sampai salah satu pelanggan

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

62

meletakkan gagang telepon. Sistem persinyalan ini disebut sebagai circuit


switching, karena persinyalan diatur oleh rangkaian elektronik dan sifat circuit
switching ini adalah dedicated, yang berarti saluran antara penelepon dan yang
ditelepon hanya diperuntukkan untuk kedua belah pihak dan tidak ada pihak lain
yang dapat menyerobot saluran ini.
6. Ketika salah satu pelanggan meletakkan gagang telepon, sinyal on-hook dikirimkan
dari pelanggan ke CO. CO kemudian akan melepaskan saluran yang diduduki
tersebut dan aliran arus antara pemanggil dan yang dipanggil akan terputus. Kedua
belah pihak telah siap kembali menerima sambungan telepon.

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 5.2 berikut ini.
Tabel 5.2. Peralatan yang digunakan pada Modul Sistem Teleponi

No

Nama Alat

Jumlah

1.

Telephone & Interface Workboard 58-110

2.

53-100 RAT Measuring system

3.

Perangkat komputer

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan peralatan
jika ingin mengganti kabel. Jangan memaksakan kabel jika konektor tidak sesuai
atau tidak mau masuk! Perhatikan instruksi dan label pada peralatan agar tidak
terjadi bahaya tersengat listrik.

Prosedur Umum Percobaan


Prosedur kerja umum dilakukan pada saat mulai menggunakan software Feedback.
1. Dari menu utama untuk mengetahui tugas yang akan dilakukan, klik icon
perangkat lunak pada desktop;
2. Pilih System;
3. Pilih Index;
4. Klik assignment sesuai dengan praktikum Saudara;
5. Klik toolbar Practical sesuai dengan practical yang sedang Saudara lakukan.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

63

Jika akan melanjutkan ke Practical selanjutnya :


1. Klik toolbar System, lalu klik End practical;
2. Kemudian memulai kembali dengan mengklik toolbar Practical selanjutnya;
3. Untuk berhenti, klik toolbar System, lalu klik Quit.

Percobaan Sistem Teleponi


Switch Hook
1. Tekan tombol pada bagian handset
2. Lihat perubahan yang terjadi pada bagian switch dan baca nilai yang tertera pada
ammeter.
Operasi Papan Tombol
1. Set telepon pada posisi TONE
2. Jaga posisi off hook pada telepon, pastikan posisi line current control berada pada
tengah-tengah atau dalam posisi normal
3. Tekan tombol pada keypad. Perhatikan sinyal pada saluran yang tertera pada
osiloskop.
Pengkodean Papan Tombol
1. Tekan tombol keypad
2. Amati sinyal pada saluran
3. Amati frekuensi sinyal pada output masing-masing filter.
---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

64

PULSE CODE MODULATION DAN


TIME DIVISION MULTIPLEXING

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Mengenal prinsip pengkodean digital dan transmisi pada sistem audio digital.
2. Mengenal prinsip-prinsip pengubahan sinyal analog menjadi digital dalam PCM.
3. Mengenal teknik jalur jamak berdasarkan waktu (TDM).

Dasar Teori
Pengubahan Sinyal Analog Menjadi Sinyal Digital
Sinyal yang ditransmisikan akan mengalami penurunan kualitas. Penurunan kualitas
ini disebabkan oleh adanya hal-hal, antara lain redaman, derau (noise), dan interferensi.
Dampak penurunan kualitas sinyal dapat dikurangi dengan merubah sinyal analog ke bentuk
digital karena lebih tahan terhadap noise dan redaman. Pengubahan bentuk sinyal analog
menjadi digital dilakukan melalui tiga tahapan proses yaitu pencuplikan (sampling), kuantisasi,
dan pengkodean (coding).
Sampling adalah metode untuk mencacah/mencuplik gelombang analog dengan
menggunakan pulsa diskrit sebagai pencupliknya. Sampling merupakan metode yang
digunakan dalam mentransmisi sinyal analog dalam bentuk sinyal digital.
Frekuensi sampling yang biasanya digunakan pada proses digitalisasi sinyal suara
adalah 8 KHz untuk teleponi digital. Secara matematis sampling dapat dianalogikan sebagai
suatu hasil perkalian sinyal yang dicuplik dengan sinyal yang mencuplik. Pulse Amplitude
Modulation mengkonversi sinyal analog menjadi sekumpulan pulsa yang memiliki amplitudo
yang berbeda. Pada sistem transmisi telepon modern, amplitudo pulsa tersebut dikonversi
menjadi kode biner. Proses pengubahan tersebut dinamakan Pulse Code Modulation (PCM).

65

Setelah dilakukan sampling, sinyal kemudian dilakukan kuantisasi dan coding.


Kuantisasi adalah proses memetakan level amplitudo dari hasil sampling yang masih kontinu
ke dalam level amplitudo yang diskrit. Setelah melalui proses kuantisasi, maka sinyal
keluarannya merupakan sinyal yang memiliki waktu diskrit dan level amplitudo diskrit. Coding
adalah proses pengubahan amplitudo sinyal diskrit hasil kuantisasi ke dalam bit-bit biner
sehingga sinyal hasil PCM hanya diwakili oleh nilai 1 dan 0. Pada Gambar 6.1 sampai 6.3 di
bawah ini masing-masing ditampilkan contoh proses pencuplikan sinyal analog, hasil
pencuplikan sinyal analog, ukuran step quantization, dan hasil pengkodean.

(a)

(b)

Gambar 6.1. (a) Proses Pencuplikan Sinyal Analog, dan (b) Hasil Pencuplikan Sinyal Analog

Gambar 6.2. Ukuran Step Quantization

Gambar 6.3. Hasil Pengkodean PCM

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

66

Teknik Jalur Jamak

Gambar 6.4. Contoh Aplikasi Jalur Jamak Menggunakan Serat Optik

Teknik jalur jamak atau multiplexing adalah metode penggunaan suatu resource
komunikasi secara bersama. Multiplexing bertujuan untuk menghemat resource dari kanal
komunikasi. Pada teknik jalur jamak dikenal terminologi timeslot, yaitu sekumpulan bit-bit (8
bit) yang ditransmisikan pada waktu yang bersamaan dan frame yaitu sekumpulan timeslot
yang biasanya berjumlah 32 timeslot untuk sistem E-1.

Gambar 6.5. Konsep Dasar Teknik Jalur Jamak

Gambar 6.6. Konsep tentang Frame dan Timeslot pada Sistem Komunikasi GSM-TDMA

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

67

Teknik jalur jamak dapat dikategorikan menjadi :


1. Frequency Division Multiplexing (FDM). Teknik ini merupakan teknik yang paling
popular dan biasanya digunakan pada transmisi radio dan TV. Spektrum frekuensi
dibagi menjadi beberapa kanal berdasarkan frekuensi-frekuensi yang dimilikinya.

Gambar 6.7. Teknik FDM, (a). Sinyal dengan Frekuensi yang Berbeda-beda, (b) Sinyal
Ditumpangkan pada Sinyal Pembawa dengan Frekuensi yang Lebih Tinggi, dan (c) Sinyal H asil
Multiplexing

2. Time Division Multiplexing (TDM). Pada teknik ini, sinyal ditransmisikan pada suatu
medium yang sama dengan frekuensi yang sama, namun pewaktuannya yang
berbeda-beda pada masing-masing timeslot.

Gambar 6.8. Teknik TDM

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

68

3. Code Division Multiplexing (CDM). Teknik ini membagi timeslot berdasarkan kodekode yang berbeda. Biasanya berupa kode Walsh.

Gambar 6.9. Teknik CDM

4. Wavelength Divison Multiplexing. Teknik ini digunakan pada komunikasi serat optik,
dimana setiap slot pengguna dipisahkan oleh panjang gelombang yang berbedabeda.

Gambar 6.10. Teknik WDM

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 6.1 berikut ini.
Tabel 6.1. Peralatan yang digunakan pada Modul Pengkodean Digital dan Teknik Jalur Jamak
Berdasarkan Waktu

No

Nama Alat

Jumlah

1.

TDM & PCM Principle Board

2.

53-100 RAT Measuring system

3.

Perangkat komputer

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

69

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan peralatan
jika ingin mengganti kabel. Jangan memaksakan kabel jika konektor tidak sesuai
atau tidak mau masuk! Perhatikan instruksi dan label pada peralatan agar tidak
terjadi bahaya tersengat listrik.

Pencuplikan
1. Ikuti petunjuk umum. Setelah mengklik toolbar practical, klik basic sampling;
2. Atur frekuensi osiloskop 1 menjadi sekitar 800 Hz dengan output VPP adalah 2 Volt.
Ukuran tampilan dan osiloskop dapat diubah dengan menggunakan menu Option;
3. Amati bentuk gelombang pada osiloskop 1, clock, gelombang sampel, dan keluaran
pada low pass filter;
4. Ubah waktu sample dengan menggunakan menu option ke . Amati bentuk gelombang
yang terjadi;
5. Ulangi langkah 3 dengan mengubah waktu sample menjadi 1/8;
6. Ulangi langkah 1-3 untuk frekuensi 500 dan 2 kHz.

Kuantisasi
1. lkuti petunjuk umum. Setelah mengklik toolbar Practical, klik Quantization;
2. Atur tegangan sehingga menjadi 0 (nol) menggunakan pengendali DC Test Linear pada
workboard dan kalibrasi kembali untuk mendapatkan hasil yang akurat;
3. Atur tegangan masukan menjadi 1 V, amati keluaran digitalnya;
4. Ulangi untuk nilai masukan sebesar 2 V dan tegangan maksimum hingga tampilan
digital tidak berubah. Amati keluaran digitalnya;
5. Ulangi untuk 1 V dan 2 V dan untuk minimum.
6. Amati perubahan kode pada tegangan nol.

Derau Kuantisasi
1. Ikuti petunjuk umum. Setelah mengklik toolbar Practical, lalu klik Quantisation noise;
2. Set frekuensi pada 300 Hz dan amplitudo tegangan (peak) 0.2 Volt dengan
menggunakan pengendali Fine control;
3. Set resolusi pada 4 bit , lewat menu Option;
4. Amati keluaran digitalnya (tespoint 7) serta hasil filter keluarannya (testpoint 8);
5. Ulangi untuk resolusi bit-bit yang berbeda;

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

70

6. Gunakan spectrum analyzer untuk melihat output.

Teknik Jalur Jamak Berdasarkan Waktu (TDM)


1. Ikuti petunjuk umum. Setelah mengklik toolbar Practical, lalu klik Introduction to
multiplexing;
2. Amati keluaran pada osilator 4 yang merupakan bentuk hasil demultiplexing dan output
filter;
3. Bandingkan bentuk gelombangnya dengan menggunakan tampilan yang besar;
4. Set Osilator 1 menjadi 0 (zero) dan variasikan amplitudo untuk menentukan slot waktu
yang digunakan pada setiap sinyal;
5. Tingkatkan nilai output Osilator 1;
6. Bandingkan bentuk gelombang masukan untuk tiap osilator dengan gelombang
keluarannya dengan menggunakan menu Option untuk memilih time slot.
---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

71

7
MODULASI DIGITAL

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Mengetahui tipe dari teknik modulasi digital
2. Mengerti tentang demodulasi digital
3. Mengerti tentang modulasi ASK, FSK, dan PSK

Dasar Teori
Pendahuluan Komunikasi Digital
Modulasi adalah proses penumpangan informasi ke sinyal carrier yang mempunyai
frekuensi lebih tinggi, sehingga menyebabkan perubahan karakteristik tertentu pada sinyal
carrier. Pada umumnya, sinyal informasi berbentuk analog. Adapun pada modulasi digital,
bentuk sinyal informasi adalah digital. Modulasi digital bisa diartikan dengan proses
memvariasikan karakteristik sinyal carrier sesuai dengan karakteristik dari bit (0 atau 1) sinyal
informasi yang dibawanya.
Ada masalah yang dapat timbul pada transmisi informasi ketika pengirim (transmitter)
dan penerima (receiver) dipisahkan oleh free space, yaitu sinyal dapat terganggu oleh distorsi
dan noise sehingga sinyal informasi pada receiver menjadi error. Sistem komunikasi digital
digunakan untuk meminimalisir efek error yang dapat terjadi pada kanal transmisi tersebut.
Fungsi lain dari komunikasi digital adalah memaksimalkan laju transfer (transfer rate) dan
keakuratan sinyal informasi yang ditransmisikan.
Keuntungan sistem komunikasi digital yaitu:
1. Terjadinya interferensi yang sangat kecil;
2. Tahan terhadap noise;
3. Dapat mengoreksi terjadinya error;
4. Mudah untuk memanipulasi;

72

5. Mudah untuk diproses dan multipleksing.


Sementara kerugian sistem komunikasi digital yaitu:
1. Membutuhkan permintaan sistem yang lebih tinggi;
2. Membutuhkan biaya tambahan untuk mengkonversi sistem analog ke digital.
PENGIRIM
Antena
Transmitter (Tx)
i re
W

Carrier Transmission

le
ss

Analog
Waveform

Source
Encoder

Encryption
and
Scrambling

Channel
Encoder

Digital
Modulation

Baseband Transmission
Line
Coder

Wireline

Antena
Receiver (Rx)

PENERIMA
SINYAL INFORMASI
(ANALOG)

Digital-toAnalog
Analog
Waveform Converter

Source
Decoder

Baseband
Processing

Channel
Decoder

Line
Decoder

Digital Data

W
i re

le

ss

Digital Data

CHANNEL

SUMBER
SINYAL INFORMASI
(ANALOG)

Analog-toDigital
Converter

Demodulator

Signal
Regeneration

Wireline

PENERIMA

Gambar 7.1. Blok Diagram Komunikasi Digital.

1. Information Source
Sumber informasi dapat berbentuk diskrit atau kontinu. Informasi yang dihasilkannya
juga dapat berupa analog ataupun digital. Pada sistem komunikasi digital, sinyal
analog yang dihasilkan sumber yang kontinu harus diubah menjadi bentuk digital
dengan menggunakan Analog to Digital Converter (ADC).
2. Source Encoder dan Decoder
Source coding digunakan untuk mengkodekan sumber informasi menjadi bentuk yang
lebih sesuai untuk transmisi. Dengan demikian, source encoder mencoba mengurangi
jumlah bit yang dibutuhkan untuk mengirimkan informasi tertentu, sehingga bandwidth
yang didapatkan lebih kecil. Sedangkan source decoder (receiver) digunakan untuk
memasukkan kembali konten informasi yang hilang melalui suatu proses filtering.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

73

3. Line Coding dan Decoding


Line coding digunakan untuk pemformatan data digital tanpa adanya modulasi.
Informasi dalam sistem transmisi berupa sekuensial data digital (0 atau 1) yang
panjang. Transmisi data digital (0 atau 1) yang panjang ini dapat menyebabkan
hilangnya sinkronisasi pada sistem. Oleh karena itu, line coding dapat mencegah
hilangnya sinkronisasi pada sistem.
4. Encryption dan Scrambling
Pada sistem komunikasi digital informasi dapat dimanipulasi untuk tujuan security. Hal
ini dapat dilakukan dengan encryption dan scrambling. Encryption berguna untuk
confidentiality dan authentication yang mencegah orang yang tidak berhak mengambil
atau memasukkan informasi dari/ke channel. Scrambling digunakan mengacak-acak
informasi agar tidak dapat dimengerti oleh pihak lain.
5. Channel Coding dan Decoding
Channel

coding

berguna

untuk

memproses

aliran

data

untuk

menjamin

kompatibilitasnya dengan channel yang digunakan. Channel coding dapat mengontrol


jumlah eror pada aliran data dengan menambah bit ekstra pada data yang sudah disource code secara sistematis
6. Digital Modulator dan Demodulator
Modulasi digital adalah proses dimana simbol-simbol digital diubah menjadi
gelombang yang kompatibel dengan karakteristik channel.
7. Communication Channel
Channel merupakan jalur elektris antara sumber dan tujuan. Channel dapat berupa
kawat, link radio, link telepon dan lain sebagainya. Tidak ada channel yang ideal.
Semua channel mempunyai bandwidth yang terbatas dan sinyal informasi sering
mengalami distorsi amplitudo dan fasa saat melewatinya. Selain itu terdapat distorsi,
noise serta interferensi yang sulit dihindari sehingga menyebabkan error pada sinyal
digital yang diterima.

Sistem Transmisi Bandpass


Sistem transmisi bandpass merupakan sistem transmisi yang sudah mengalami
modulasi, yaitu sinyal informasi (diskrit) memodulasi sinyal pembawa (kontinu). Sebelum
dimodulasi menggunakan teknik modulasi digital maka sinyal informasi harus berbentuk data
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

74

digital. Oleh karena itu, sinyal informasi yang masih berupa analog harus dikonversi dulu
dengan menggunakan ADC (Analog to Digital Converter). Terdapat berbagai macam teknik
modulasi digital diantaranya ASK (Amplitude Shifted Keying), FSK (Frequency Shifted Keying)
dan PSK (Phase Shifted Keying). Dikenal juga teknik modulasi QAM (Quadrature Amplitude
Modulation) yang merupakan kombinasi antara ASK dan PSK.
Amplitude Shift Keying (ASK) merupakan modulasi digital berdasarkan pergeseran
amplitudo. Pada ASK, dua nilai biner diwakili oleh dua amplitudo sinyal pembawa, pada
umumnya salah satu amplitudo adalah nol untuk mewakili biner 0, sedangkan biner 1
diwakili oleh adanya sinyal pembawa dengan amplitudo yang konstan.
A cos 2ft ; Biner 0
s(t )
0
; Biner 1

(7.1)

Pada Gambar 7.2 ditampilkan bentuk sinyal digital setelah melalui modulasi ASK.

Gambar 7.2. Bentuk Sinyal Digital setelah Melalui Modulasi ASK

Keuntungan metode ASK adalah bit rate yang dihasilkan lebih besar. Kekurangannya
adalah untuk menentukan level acuan yang dimilikinya, setiap sinyal yang terdapat pada
saluran transmisi jarak jauh selalu dipengaruhi oleh noise dan distorsi lainnya. Oleh karena
itu, metode ASK hanya menguntungkan bila dipakai untuk transmisi jarak dekat saja. Dalam
hal ini faktor noise atau gangguan juga harus diperhitungkan dengan teliti.
Frequency Shift Keying (FSK) merupakan modulasi sinyal digital dengan
menggunakan penggeseran frekuensi sesuai dengan nilai sinyal digital. FSK mewakili dua
nilai biner dengan dua buah frekuensi yang letaknya berdekatan dengan frekuensi tengah,
seperti persamaan berikut :

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

75

A cos 2f1t ; Biner 0


s(t )
A cos 2f2t ; Biner 1

(7.2)

dengan f1 dan f2 diperoleh dari pengurangan dan/atau penjumlahan frekuensi carrier, fc,
dengan suatu selisih frekuensi tertentu. Pada proses ini frekuensi gelombang carrier berubahubah sesuai perubahan biner sinyal informasi digital. Pada Gambar 7.3 ditampilkan bentuk
sinyal digital setelah melalui modulasi FSK.

Gambar 7.3. Bentuk Sinyal Digital setelah Melalui Modulasi FSK

Keuntungan modulasi FSK adalah hanya ada sedikit kesalahan pada saat transmisi
karena informasinya terkandung pada frekuensi diskrit, serta sistem modulasi digital relatif
sederhana. Karena tidak terpengaruh oleh besarnya amplitudo sinyal. Kekurangannya adalah
modulasi FSK memiliki bandwith yang lebar. Modulasi FSK banyak diaplikasikan untuk
frekuensi tinggi.
Phase Shift Keying (PSK) merupakan teknik modulasi sinyal digital melalui pergeseran
fasa. Pada PSK fasa gelombang carrier akan berubah sesuai dengan perubahan nilai biner
sinyal informasi digital. Pada Gambar 7.4. ditampilkan bentuk sinyal digital setelah melalui
modulasi FSK.

Gambar 7.4. Bentuk Sinyal Digital setelah Melalui Modulasi PSK

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

76

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 7.1 berikut ini.
Tabel 7.1. Peralatan yang digunakan pada Modul Modulasi Digital

No
1.
2.
3.

Komponen
DCS-B VLSI Based Digital Communication Training System
Oscilloscope
Passive Probe Detector

Jumlah
1
1
1

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan peralatan
jika ingin mengganti kabel. Jangan memaksakan kabel jika konektor tidak sesuai
atau tidak mau masuk! Perhatikan instruksi dan label pada peralatan agar tidak
terjadi bahaya tersengat listrik.

Prosedur Umum Percobaan


Amplitude Shift Keying (ASK)
1. Pilih clock group 4 (GP4) pada bagian Clock Generation dengan bantuan switch
S1 dan perhatikan indikasi LED yang sesuai.
2. Atur pola data S4 menggunakan switch sesuai dengan worksheet yang diberikan
dan perhatikan pola data 8-bit pada bagian SDATA.
3. Hubungkan pos SIN3 ke pos IN2, dan pos IN3 ke Ground pada bagian Carrier
Modulation.
4. Hubungkan SDATA ke pos IN16, dan TXCLK ke pos CLK2 pada bagian Encoded
Data.
5. Pilih data NRZ-L dengan bantuan switch S3 dan perhatikan indikasi LED yang
sesuai pada bagian Encoded Data.
6. Hubungkan pos OUT10 pada bagian Encoded Data ke pos IN4 sebagai pengatur
input pada bagian Carrier Modulator.
7. Perhatikan sinyal modulasi ASK pada pos OUT2 di bagian Carrier Modulation.
8. Untuk demodulasi, hubungkan pos OUT2 pada bagian Carrier Modulator ke pos
IN24 pada bagian ASK Demodulator.
9. Perhatikan data demodulasi ASK pada pos OUT20 di bagian Carrier ASK
Demodulator.
10. Periksa data hasil modulasi dengan data awal pada SDATA.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

77

Frequency Shift Keying (FSK)


1. Pilih clock group 4 (GP4) pada bagian Clock Generation dengan bantuan switch
S1 dan perhatikan indikasi LED yang sesuai.
2. Atur pola data S4 menggunakan switch sesuai dengan worksheet yang diberikan
dan perhatikan pola data 8-bit pada bagian SDATA.
3. Hubungkan pos SIN1 ke pos IN3, dan pos SIN2 ke IN2 pada bagian Carrier
Modulation.
4. Hubungkan SDATA ke pos IN16, dan TXCLK ke pos CLK2 pada bagian Encoded
Data.
5. Pilih data NRZ-L dengan bantuan switch S3 dan perhatikan indikasi LED yang
sesuai pada bagian Encoded Data.
6. Hubungkan pos OUT10

pada bagian Encoded Data ke pos IN4

sebagai

pengatur input pada bagian Carrier Modulator.


7. Perhatikan sinyal modulasi FSK pada pos OUT2 di bagian Carrier Modulation.
8. Untuk demodulasi, hubungkan pos OUT2 pada bagian Carrier Modulator ke pos
IN28 pada bagian FSK Demodulator.
9. Perhatikan data demodulasi FSK pada pos OUT24 di bagian Carrier FSK
Demodulator.
10. Periksa data hasil modulasi dengan data awal pada SDATA.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

78

Phase Shift Keying (PSK)


1. Pilih clock group 4 (GP4) pada bagian Clock Generation dengan bantuan switch
S1 dan perhatikan indikasi LED yang sesuai.
2. Atur pola data S4 menggunakan switch sesuai dengan worksheet yang diberikan
dan perhatikan pola data 8-bit pada bagian SDATA.
3. Hubungkan pos SIN2 ke pos IN2, dan pos SIN3 ke IN3 pada bagian Carrier
Modulation.
4. Hubungkan SDATA ke pos IN16, dan TXCLK ke pos CLK2 pada bagian Encoded
Data.
5. Pilih data NRZ-L dengan bantuan switch S3 dan perhatikan indikasi LED yang
sesuai pada bagian Encoded Data.
6. Hubungkan pos OUT10

pada bagian Encoded Data ke pos IN4

sebagai

pengatur input pada bagian Carrier Modulator.


7. Perhatikan sinyal modulasi PSK pada pos OUT2 di bagian Carrier Modulation.
8. Untuk demodulasi, hubungkan pos OUT2 pada bagian Carrier Modulator ke pos
IN30 pada bagian PSK Demodulator.
9. Perhatikan data demodulasi PSK pada pos OUT27 di bagian Carrier PSK
Demodulator.
10. Periksa data hasil modulasi dengan data awal pada SDATA.

---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

79

DIGITAL LINE CODING


Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Mengerti mengenai Transmisi Baseband
2. Mengerti mengenai Encoding dan Decoding NRZ dan AMI

Dasar Teori
Gambaran Umum Transmisi Baseband
Baseband adalah sinyal yang ditransmisikan tanpa melalui proses modulasi, sehingga
tidak ada pergeseran rentang frekuensi sinyal. Hampir semua sumber informasi menghasilkan
sinyal baseband. Sinyal baseband mempunyai rentang frekuensi yang sempit.

Gambar 8.1. Sistem Transmisi Baseband

Line Coding
Line code didefinisikan sebagai hubungan antara sinyal biner pada sumber dan urutan
elemen simbol yang ditransmisikan pada kanal. Line code memberikan urutan simbol yang
ditransmisikan sesuai dengan properti yang dibutuhkan sehingga melancarkan transmisi

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

80

baseband pada kanal dan sisi penerima (receiver) dapat mengoreksi error. Untuk
mencapainya, beberapa karakteristik yang menjadi pertimbangan adalah:

Spektrum pada frekuensi rendah

Bandwidth transimisi yang dibutuhkan

Kesesuaian timing

Pemantauan error

Efisiensi kode

Tipe-tipe Line Coding


a.

Non-Return-to-Zero (NRZ)
NRZ merupakan format sinyal yang paling mudah dibuat. Nilai sinyal tidak kembali ke
nilai 0 seiring dengan clock. Dengan NRZ, bit 1 ditransimisikan sebagai nilai amplitudo
tinggi sementara bit 0 sebagai nilai amplitudo rendah. NRZ dapat dibagi menjadi
beberapa jenis, yaitu:

Non-Return to zero LEVEL (NRZ-L)

Non-Return to zero MARK (NRZ-M)

Non-Return to zero SPACE (NRZ-S)

Gambar 8.2. Non-Return to Zero (NRZ)

b.

Return-to-Zero (RZ)
Dengan kode RZ, bit 1 direpresentasikan oleh sinyal yang memiliki amplitudo pada
setengah interval awal T, dan amplitudo sinyal kembali pada nilai referensi 0 saat
setengah interval sisanya. Bit 0 diindikasikan oleh amplitudo yang nilainya selalu pada
titik referensi 0.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

81

c.

Biphase Level Coding (Biphase-L)


Biasa dikenal dengan Manchester Coding. Dengan Biphase-L, bit 1 direpresentasikan
dengan pulsa yang memiliki amplitudo positif pada setengah interval pertama,
sementara bit 0 direpresentasikan dengan amplitudo positif pada setengah interval
terakhir.

d.

Alternate Mark Inversion (AMI)


Pada AMI, data biner dikodekan dengan tiga jenis level amplitudo, 0 dan A. Bit 0
dikodekan oleh sinyal dengan amplitudo 0, sementara bit 1 dikodekan oleh nilai
amplitudo +A (positif) dan A (negatif) secara bergantian.

Gambar 8.3. Berbagai Macam Skema Line Decoding

Line Decoding
Skema dekoding dari line coding dapat dijelaskan sebagai berikut:

Hasil line coding yang digambarkan oleh bentuk gelombang A seperti pada Gambar
8.4.

Setelah melewati kabel, bentuk asli gelombang A dilemahkan (atenuasi) dan bentuk
gelombang menjadi kurang jelas seperti terlihat pada bentuk gelombang B di bawah.

Untuk mengatasi distorsi pada gelombang B, maka ditambahkan equalizer pada


sistem yang menajamkan bentuk sinyal seperti bentuk gelombang C di bawah.

Sinyal hasil ekualisasi diteruskan ke threshold detector (gelombang D) dan


menghasilkan bentuk sinyal biner seperti sinyal awal.

Retiming dibutuhkkan untuk mencegah penyimpangan (jitter) pada gelombang D.


Clock yang dihasilkan (gelombang E) diproses dengan output D pada rangkaian

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

82

retiming menghasilkan sinyal baru (gelombang E) yang sangat mirip seperti sinyal
awal.

Gambar 8.4. Line Decoding

Peralatan
No
1.
2.
3.

Komponen
DCS-B VLSI Based Digital Communication Training System
Oscilloscope
Passive Probe Detector

Jumlah
1
1
1

Prosedur Percobaan
PERHATIAN !!! Ikuti petunjuk asisten dalam setiap percobaan. Matikan peralatan jika ingin
mengganti kabel. Jangan memaksakan kabel jika konektor tidak sesuai atau tidak mau
masuk! Perhatikan instruksi dan label pada peralatan agar tidak terjadi bahaya tersengat
listrik.

Line Coding NRZ-L, NRZ-M, NRZ-S, BIO-M


1. Pilih clock group 4 (GP4) pada bagian Clock Generation dengan bantuan switch
S1 dan perhatikan indikasi LED yang sesuai.
2. Atur pola data S4 menggunakan switch sesuai dengan worksheet yang diberikan
dan perhatikan pola data 8-bit pada bagian SDATA.
3. Hubungkan SDATA ke pos IN16, dan TXCLK ke pos CLK2 pada bagian Encoded
Data.
4. Pilih encoded data yang berbeda dengan bantuan switch S3 dan perhatikan
indikasi LED yang sesuai.
5. Hubungkan pos OUT10 pada bagian Encoded Data dengan pos IN27 pada
bagian Decoded Data.
Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

83

Encoding dan Decoding AMI


1. Pilih clock group 4 (GP4) pada bagian Clock Generation dengan bantuan switch
S1 dan perhatikan indikasi LED yang sesuai.
2. Atur pola data S4 menggunakan switch sesuai dengan worksheet yang diberikan
dan perhatikan pola data 8-bit pada bagian SDATA.
3. Hubungkan SDATA ke pos IN7, dan TXCLK ke pos CLK2 pada bagian Encoded
Data.
4. Perhatikan AMI Encoded Data pada pos OUT11 di bagian Encoded Data.
5. Hubungkan pos OUT11 pada bagian Encoded Data ke pos IN26 pada bagian
Decoded Data, dan pos OUT10 pada bagian Encoded Data ke pos IN27 pada
bagian Decoded Data.
6. Pilih data BIO-M menggunakan Switch S3 dan perhatikan indikasi LED yang
sesuai.
7. Perhatikan data dekode AMI pada pos OUT22 di bagian Decoded Data.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

84

---o0o---

FILTER FINITE IMPULSE

RESPONSE

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Mengerti tentang pemrosesan sinyal digital dan aplikasinya
2. Mengerti konsep filter
3. Merancang filter FIR sederhana

Dasar Teori
Filter Digital
Salah satu proses penting dalam pengolahan sinyal adalah terkait dengan
penyeleksian informasi melalui proses pemfilteran. Berdasarkan tipe sinyalnya, filter dibagi
menjadi filter analog dan filter digital. Filter analog dibangun berdasarkan sifat-sifat listrik dari
komponen-komponen elektronika, seperti tahanan, induktor, kapasitor, dan lainnya.
Filter digital adalah suatu prosedur matematika atau algoritma yang mengolah sinyal
masukan digital dan menghasilkan isyarat keluaran digital yang memiliki sifat tertentu sesuai
dengan tujuan filter. Penggunaan filter ini banyak dan luas sekali. Sebagian besar aplikasi
pemrosesan sinyal menggunakan filter.
Beberapa keunggulan filter digital dibandingkan filter analog adalah :
1. Filter digital memiliki respon fasa yang linier.
2. Karena dibangun berdasarkan prosedur matematika menggunakan perangkat lunak,
maka kinerja filter digital tidak mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan.
3. Respon filter digital mudah disesuaikan dengan kebutuhan dengan cara mengubah
prosedur matematikanya saja.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

85

4. Filter digital dapat memproses banyak sinyal yang berbeda dengan satu algoritma saja
sehingga lebih efisien.
5. Filter digital dapat digunakan untuk frekuensi yang sangat rendah.
Sementara kelemahan filter digital dibandingkan dengan filter analog adalah :
1. Kecepatan kinerja filter sangat bergantung pada sistem operasi dan prosesor yang
digunakan serta tingkat kesulitan algoritma.
2. Dalam aplikasi pada sinyal analog, sebelum dimasukkan ke filter digital, sinyal
informasi harus diubah terlebih dahulu menjadi sinyal digital yang menggunakan
perangkat

tambahan

berupa

ADC

sehingga

akan

menambah

biaya

dan

mempengaruhi kinerja filter.


3. Perancangan filter digital membutuhkan kemampuan khusus dalam pemrograman dan
lainnya.
Pada pengolahan sinyal digital, filter yang didesain adalah filter digital. Filter digital
dapat dibagi menjadi dua yaitu Filter Digital IIR (infinite impulse response) dan FIR (finite
impulse response). Pembagian ini berdasarkan pada tanggapan impuls filter tersebut. FIR
memiliki tanggapan impuls yang panjangnya terbatas, sedangkan IIR tidak terbatas. FIR tidak
memiliki pole, maka kestabilan dapat dijamin sedangkan IIR memiliki pole-pole sehingga lebih
tidak stabil. Pada filter digital orde tinggi, kesalahan akibat pembulatan koefisien filter dapat
mengakibatkan ketidakstabilan.
Secara umum filter digital dibagi menjadi :
1. Finite Impulse Response (FIR)
Formula FIR dapat dilihat sebagai berikut :
y(n )

N 1

h(k)x(n k)
k 0

(9.1)

Karena h [n] adalah koefisien filter, yaitu :


hn b0 , b1 , bq

(9.2)

maka persamaan 9.1. dapat dituliskan ulang menjadi :


yn

b x n m
m

m 0

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

(9.3)

86

Gambar 9.1. Diagram Blok Filter

2. Infinite Impulse Response (IIR)


Formula IIR dapat dilihat sebagai berikut :
y(n )

h(k)x(n k)

(9.4)

k 0

Tahapan Perancangan Filter


Tahapan perancangan filter dapat dilihat pada diagram alir berikut.

Menentukan
Spesifikasi
Filter

Implementasi
Program ke
Perangkat

Realisasi
Filter

Menghitung
Koefisien
Filter

Analisis
Wordlength

Gambar 9. 2. Diagram Alir Perancangan Filter

Spesifikasi Filter

Gambar 9.3. Spesifikasi Filter

Passband adalah daerah dimana frekuensi yang diinginkan dilewatkan, sedangkan


stopband adalah daerah dimana frekuensi yang tidak diinginkan diatenuasi (dilemahkan
dayanya hingga hampir tidak ada magnitudonya). Pada kedua daerah ini biasanya terdapat

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

87

ripple dengan p deviasi ripple pada passband dan s deviasi ripple pada stopband. Transition
region adalah daerah dimana terjadi pergantian dari rentang frekuensi yang ingin dilewatkan
dan yang akan diatenuasi. Pada perancangan filter selalu digunakan normalisasi frekuensi,
sehingga memudahkan dalam perancangan.
Perhitungan koefisien filter dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu metode
windowing, metode optimal, dan metode pencacahan frekuensi. Pada modul ini hanya
dibahas metode windowing untuk menghitung koefisien filter.
Pada prinsip metode windowing, dinyatakan bahwa jika suatu fungsi memiliki fungsi
yang terbatas (non-periodik) dalam domain frekuensi, maka fungsi tersebut akan tidak
terbatas (periodik) pada domain waktu dan demikian sebaliknya. Karena filter bersifat terbatas
pada frekuensi tertentu saja, maka dalam domain waktu fungsi filter adalah tak terbatas. Hal
ini tentunya bertentangan dengan keinginan kita untuk merancang filter dengan panjang h [n]
yang terbatas. Untuk membatasi panjang filter dalam domain waktu dengan suatu batasan
yang disebut window. Namun demikian, efeknya adalah dengan membatasi filter pada domain
waktu, maka pada domain frekuensi panjang filter menjadi tak terbatas.

Gambar 9.4. Fungsi Window Hamming dan Transformasinya

Metode windowing yang terkenal adalah metode rektangular, Hanning, Hamming,


Blackman, dan Kaiser. Pada modul ini hanya akan dibahas metode windowing dengan
Hamming. Fungsi window Hamming adalah :

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

88

N 1
N 1

2
2 ; N ganjil
wn 0,54 0,46 cos

N
N
; N genap
N

n
2
2

(9.5)

Untuk melihat respon frekuensi perlu dilakukan discrete time fourier transform (DTFT)
dan Gambar 9.4 menunjukkan fungsi window Hamming pada domain waktu dan
transformasinya dengan DTFT pada domain frekuensi. Terlihat window Hamming
menggunakan fungsi raised cosine.
Pada teknik windowing Hamming, lebar transisi ternormalisasi adalah 3,3/N dalam
Hertz. Nilai atenuasi maksimum yang diperoleh adalah 53 dB. Dalam domain waktu, window
ini terlihat turun dengan baik pada kedua sisinya dan mempunyai lebar main lobe sebesar

8
. Tingkat side lobe relatifnya adalah sekitar 40-42 dB. Perlu diperhatikan, bahwa
2 M 1
lebar transisi suatu filter dipengaruhi oleh lebar main lobe. Ripple pada passband dan
stopband sebesar 0,0194 dB yang dipengaruhi oleh side lobe.
Metode windowing

Hamming

ini banyak diaplikasikan untuk

sistem

yang

membutuhkan akurasi misalnya sistem pemrosesan sinyal audio 8 bit karena side lobe nya
sekitar 40-42 dB. Hal ini diperlukan karena side lobe-nya terletak jauh di bawah noise floor
kuantisasi sinya. Window Hamming ini juga banyak digunakan pada pemrosesan sinyal dalam
komunikasi telepon dimana CODEC 8 bit digunakan. Untuk kualitas audio yang lebih baik,
dapat digunakan metode window lainnya khususnya teknik window yang juga bertindak
sebagai filter low-pass.

Filter FIR dengan DSK TMS320C6713


Operasi dasar yang digunakan pada pemrosesan sinyal hanya berupa perkalian dan
penjumlahan sederhana saja. Namun demikian, kedua operasi yang dilakukan ini sangat
banyak jumlahnya, sehingga untuk menerapkannya dalam aplikasi diperlukan suatu prosesor
yang sangat cepat dalam melakukan perhitungan matematis. Untuk itulah didesain suatu
mikroprosesor yang bekerja khusus untuk memproses sinyal digital yang disebut Digital
Signal Processor (DSP).
FIR filter berfungsi untuk mengoperasikan real-time digital filter pada DSP. Dinamakan
finite atau terbatas dikarenakan tidak ada feedback pada jenis filter ini. Tidak ada feedback
dikarenakan nilai sampel suatu sinyal dibatasi sampai nilai N 1 sehingga banyaknya sampel
tergantung dari banyaknya nilai koefisien N. Pada DSK TMS320C6713, penggunaan FIR filter

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

89

meliputi penggunaan dari ADC dan DAC yang terintegrasi dengan DSP board. ADC berfungsi
untuk menangkap dan merubah sinyal menjadi bentuk diskrit, sedangkan DAC berfungsi
merubah kembali sinyal menjadi analog.
Salah satu alat yang dapat mensimulasikan pemrosesan sinyal digital adalah
menggunakan DSK TMS320C6713. DSK TMS320C6713 adalah salah satu tipe C6000 yang
dapat bekerja pada fixed-point maupun floating-point. Akan tetapi, DSP ini masih berupa
starter kit, yaitu suatu platform yang dapat mensimulasikan DSP C6713 yang sebenarnya.
DSK tipe ini lebih ditujukan untuk keperluan edukasi, penelitian, serta evaluasi. Namun, hasil
dari aplikasi yang kita buat di DSK tipe ini sangat mungkin untuk diterapkan pada DSP C6713
yang sebenarnya.
Texas Instruments mengeluarkan beberapa seri DSP board untuk pengaplikasian
procesor DSP dengan biaya yang murah, salah satunya adalah DSP board seri DSK
TMS320C6713. Pada dasarnya board ini dikembangkan sebagai low-cost platform yang
memiliki high performance, untuk lebih memudahkan pembelajaran pemrosesan sinyal digital
bagi semua orang. Pada DSP board ini sudah diintegrasikan komponen-komponen yang
berhubungan dengan pemrosesan sinyal dengan menggunakan DSP (Digital Signal
Processor). Komponen yang ada dalam board sifatnya statis secara hardware, namun dapat
diprogram dengan menggunakan software Code Composer Studio. Pada Gambar 8.5. dan
Gambar 8.6. ditampilkan tampilan dan blok diagram DSK TMS320C6713.

Gambar 9.5. Tampilan DSK TMS320C6713.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

90

Gambar 9.6. Blok Diagram DSK TMS320C6713

Komponen DSK TMS320C6713


Komponen utama serta pendukung dari DSK TMS320C6713 antara lain:
1. Prosesor TMS320C6713
Merupakan prosesor dengan kecepatan clock 225 Hz yang mendukung operasi fixedpoint dan floating-point. Kecepatan operasinya dapat mencapai 1350 juta operasi
floating-point per detik (MFLOPS) dan 1800 juta instruksi per detik (MIPS). Selain itu,
prosesor ini dapat melakukan 450 juta operasi multiply-accumulate per detik.
2. CPLD (Complex Programmable Logic Device)
CPLD berisi register-register yang berfungsi untuk mengatur fitur-fitur yang ada pada
board. Pada DSK C6713, terdapat 4 jenis register CPLD, yaitu :
a. USER_REG Register untuk mengatur switch dan LED sesuai yang diinginkan
user.
b. DC_REG Register untuk memonitor dan mengontrol daughter card.
c. VERSION Register untuk indikasi yang berhubungan dengan versi board dan
CPLD.
d. MISC Register untuk mengatur fungsi lainnya pada board.
3. Flash Memory
DSK menggunakan memori flash untuk booting. Pada flash berisi sebuah program
kecil yang disebut POST (Power On Self Test). Program ini berjalan saat DSK pertama
kali dinyalakan. Program POST akan memeriksa fungsi-fungsi dasar board seperti
koneksi USB, audio codec, LED, switches, dan sebagainya.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

91

4. SDRAM
Memori utama yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan instruksi maupun data.
5. AIC23 Codec
Berfungsi sebagai ADC maupun DAC bagi sinyal yang masuk ke board.
6. Daughter card interface
Konektor-konektor tambahan yang berguna untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi
pada board. Terdapat tiga konektor, yaitu memory expansion, peripheral expansion,
dan Host Port Interface.
7. LED dan Switches
LED dan switches ini merupakan fitur yang dapat membantu dalam membangun
aplikasi karena dapat deprogram sesuai keinginan user.
8. JTAG (Joint Test Action Group)
Merupakan konektor yang dapat melakukan transfer data dengan kecepatan yang
sangat tinggi. Hal ini akan berguna dalam aplikasi real-time.
DSK dapat digunakan untuk banyak hal, mulai dari simulasi komunikasi, sistem kendali
hingga pengolahan gambar dan suara. DSP umumnya digunakan pada aplikasi komunikasi
(seluler). Embedded DSP dapat ditemukan pada cellular phones, fax/modems, disk drives,
radio, printers, hearing aids (alat bantu pendengaran), MP3 player, high-definition television
(HDTV), kamera digital, dan lain-lain. Penggunaan DSP pada alat-alat tersebut dapat
menurunkan harga produksi, karena DSP dapat diprogram sesuai dengan kebutuhan,
memiliki softaware yang murah dan dukungan hardware yang cukup.

Peralatan
Peralatan yang digunakan pada modul ini terdapat pada Tabel 7.1 berikut ini.
Tabel 7.1. Peralatan yang Digunakan pada Modul Filter FIR

No

Nama Alat

Jumlah

1.

DSK TMS320C6713

2.

Perangkat lunak MATLAB

3.

Perangkat lunak Code Composer Studio

4.

Mikrofon

5.

Audio Speaker

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

92

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Selalu ikuti petunjuk asisten dalam melakukan praktikum!!
Jangan menyimpan set-up yang Saudara lakukan karena akan menghapus data
default!!! Hati-hati dalam melakukan targetting karena jika mengalami kegagalan,
akan merusak sistem keseluruhan. Kecilkan suara speaker karena frekuensi
yang digunakan cukup bising. Hati-hati dalam mengoperasikan peralatan board
dan tekanlah dengan halus tombol-tombol yang diminta. Kerusakan pada board
akibat kesalahan praktikan harus dipertanggungjawabkan.

Secara umum percobaan ini menggunakan perangkat MATLAB Simulink dan CCS
Studio yang diintegrasikan sehingga dapat diprogramkan pada DSK TMS320C6713. Proses
tersebut dinamakan sebagai proses targeting. Untuk perancangan filter digital sendiri
dilakukan pada Simulink dengan bantuan FDA Tool.

Targeting Simulink ke DSK TMS320C6713


Secara sederhana, pada proses targeting digunakan SIMULINK dan CCS. Untuk
menghubungkan SIMULINK dengan DSK dibutuhkan Real Time Workshop, Embedded
Target for TI C6000 DSP, dan Link for CCS. Ketiga hal tersebut dapat ditemukan di
SIMULINK dan harus dilakukan pengaturan konfigurasi. Hubungan ketiga hal tersebut dapat
dilihat pada Gambar 9.7. di bawah ini.

Gambar 9.7. Diagram Alir Targetting ke C6000 DSP

Pada Gambar 9.7. di atas menunjukkan proses debugging dan verifikasi dilakukan
oleh software CCS. Penggunaan CCS memungkinkan untuk menghasilkan code-code yang

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

93

akan digunakan dalam C6000 DSP sehingga tidak diperlukan lagi pembuatan program
dengan manual karena sudah dilakukan oleh CCS.

Perancangan Filter
Perancangan filter dilakukan dengan menggunakan bantuan Filter Design and
Analysis (FDA) Tool yang terdapat pada software MATLAB. Hasil yang dari penggunaan tool
ini akan didapatkan koefisien FIR filter dari spesifikasi yang diinginkan. Pada perancangan ini,
digunakan Metode Hamming.
Pada percobaan ini, Saudara diminta untuk mendesain sebuah filter dengan
spesifikasi sebagai berikut :
1. Low Pass Filter
2. Sampling Frequency (fs) = 16000 Hz
3. Cut off Frequency (fc) = 3000 Hz
4. Transition Width = 1000 Hz
Pada perancangan ini digunakan metode Hamming :

transition width
1000Hz

0,0625
frekuensi cuplikan 16000 Hz

(8.4)

Banyaknya koefisien (N) dengan menggunakan metode Hamming :

3,3
3,3
1
normalisas i

52,8 53
f
0,0625 10

(8.5)

Selanjutnya jumlah koefisien tersebut akan dimasukan ke dalam FDA tool.


Dengan menggunakan spesifikasi filter seperti contoh di atas, maka langkah-langkah
untuk membuat filter adalah sebagai berikut :
1. Buka file Simulink FIR.mdl. Selanjutnya hubungkan DSK dengan komputer, Lakukan
diagnostik dan aktifkan program CCS studio apabila tidak ada alarm;
2. Selanjutnya buka blok FDA Tool pada FIR.mdl (tersedia 3 blok FDA Tool dimana
setiap FDA tool akan dikendalikan oleh satu tombol pada DSK). Pada Gambar 9.8.
di bawah ini ditampilkan tampilan simulasi FIR filter;

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

94

Gambar 9.8. Tampilan Simulasi Filter FIR

3. Isi spesifikasi filter yang diinginkan pada tampilan simulasi seperti terdapat pada
Gambar 9.9.
4. Lakukan targetting dari Simulink ke DSK TMS320C6713 dengan menekan tombol
incremental build seperti terdapat pada Gambar 9.9. di bawah ini. Ingat JANGAN DI
SAVE!!!

Gambar 9.9. Tampilan Pengisian Parameter Simulasi

Gambar 9.10. Tampilan icon untuk melakukan targetting

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

95

5. Hubungkan Line in DSK dengan output pada komputer, dan Line Out DSK pada input
microphone komputer. Hubungkan juga headphone pada DSK dengan Loudspeaker;
6. Buka file 44100.wav yang akan berfungsi sebagai inputan sinyal audio. File ini
merupakan sinyal yang dihasilkan pada frekuensi 100-7000 Hz;
7. Buka file spectrumliat.mdl dan jalankan.;
8. Tekan tombol DIP Switch pada DSK untuk melihat hasil filter;
9. Isi borang pengamatan dan lakukan langkah-langkah di atas untuk mendesain filter
dengan spesifikasi yang diberikan oleh asisten kemudian.

---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

96

10
PARAMETER ANTENA DAN SIMULASI
JALUR KOMUNIKASI NIRKABEL
MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK
RADIO MOBILE

Tujuan
Setelah mengikuti praktikum ini, Saudara diharapkan dapat :
1. Memahami parameter S11 antena
2. Memahami konsep komunikasi nirkabel.
3. Mempelajari membuat simulasi satu atau lebih jalur radio dengan parameter yang
diubah-ubah dengan perangkat lunak Radio Mobile.

Dasar Teori
Parameter Antena
Antena didefinisikan oleh IEEE sebagai a means for radiating or receiving radio
waves. Kinerja dan daya guna suatu antena dapat dilihat dari nilai parameter-parameter
antena tersebut. Beberapa dari parameter tersebut saling berhubungan satu sama lain.
Parameter-parameter antena yang biasanya digunakan untuk menganalisis suatu antena
adalah return loss, Voltage Wave Standing Ratio (VSWR), Impedance bandwidth,
keterarahan (directivity), penguatan (gain), pola radiasi dan polarisasi.
Energi berpindah di sepanjang saluran transmisi dalam bentuk gelombang
elektromagnetik. Gelombang yang ditimbulkan oleh sumber sinyal dan mengalir pada saluran
transmisi menuju suatu beban disebut sebagai gelombang datang (incident wave). Jika nilai
impedansi beban, ZL, sama dengan nilai impedansi karakteristik saluran, Z0, maka seluruh
energi yang berasal dari sumber akan diserap beban. Dengan kata lain, jika saluran transmisi
dengan panjang terbatas diterminasi dengan beban yang bernilai ZL = Z0, maka bagi incident
wave saluran akan tampak sebagai saluran dengan panjang tak hingga karena pada semua
titik, termasuk pada terminal beban, perbandingan antara tegangan dan arus akan sama
dengan Z0.

97

Jika impedansi beban tidak sama dengan impedansi karakterisitik saluran, maka akan
terdapat energi yang dipantulkan kembali menuju sumber dalam bentuk gelombang pantul
(reflected wave). Pada Gambar 10.1 ditunjukan gambar suatu saluran transmisi yang
diterminasi oleh beban yang memiliki impedansi berbeda dengan impedansi saluran.

Gambar 10.1. Saluran Transmisi yang Diterminasi oleh Beban


Gelombang pantul akan bersuperposisi dengan gelombang datang dan membentuk
suatu pola saling menguatkan pada suatu titik dan saling melemahkan pada titik lainnya di
saluran transmisi. Superposisi tersebut disebut gelombang berdiri (standing wave). Pada
saluran transmisi ada dua komponen gelombang tegangan, yaitu tegangan yang dikirimkan
(V0+) dan tegangan yang direfleksikan (V0-). Perbandingan antara tegangan yang direfleksikan
dengan tegangan yang dikirimkan disebut dengan koefisien refleksi (), yaitu:

V0

V0

Z L Z0
Z L Z0

Rumus untuk mencari VSWR adalah:


VSWR

1 L
1 L

Contoh pola gelombang berdiri pada saluran transmisi terdapat pada Gambar 10.2.

Gambar 10.2. Contoh Pola Gelombang Berdiri

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

98

Terjadinya gelombang pantul menunjukan bahwa impedansi beban tidak sesuai


dengan impedansi saluran. Hal tersebut menyebabkan perhitungan besaran transmisi
menjadi rumit. Untuk mempermudah perhitungan digunakan Diagram Smith (Smith Chart).
Diagram Smith adalah diagram yang digunakan untuk memahami karakteristik saluran
transmisi dan elemen rangkaian microwave. Diagram ini terdiri dari bilangan riel dan imajiner,
dimana komponen riel ditunjukan oleh bentuk lingkaran penuh, sedangkan komponen imajiner
ditunjukan oleh bentuk lengkung. Beberapa karakteristik saluran transmisi yang dapat dihitung
dengan Diagram Smith antara lain VSWR, impedansi beban, admitansi beban, dan koefisien
refleksi. Berdasarkan Diagram Smith dapat diketahui kondisi saluran transmisi apakah
matching atau tidak. Gambar 10.3 memperlihatkan gambar Diagram Smith.

Gambar 10.3. Diagram Smith.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

99

Return loss adalah perbandingan antara amplitudo dari gelombang yang direfleksikan
terhadap amplitudo gelombang yang dikirimkan, atau dapat juga diartikan sebagai koefisien
refleksi yang dinyatakan dalam bentuk logaritmik yang menunjukan adanya daya yang hilang
akibat tidak matchingnya antena dengan saluran transmisi. Besarnya return loss dirumuskan
dengan:
Return Loss = -20 10log
Bandwidth suatu antena didefinisikan sebagai rentang frekuesnsi di mana kinerja
antena yang berhubungan dengan beberapa karakteristik (seperti impedansi masukan,
polarisasi, beamwidth, polarisasi, gain, efisiensi, VSWR, return loss) memenuhi spesifikasi
standar. Contoh mendapatkan bandwidth dari hasil pengukuran return loss (impedance
bandwidth) dapat dilihat pada Gambar 10.4.

Gambar 10.4. Impedance Bandwidth


Pola radiasi dapat didefinisikan sebagai fungsi matematis atau representasi grafis
daripada sifat-sifat radiasi sebuah antena yang direprensetasikan dalam koordinat ruang.
Sifat-sifat radiasi ini terdiri dari kerapatan fluks, intensitas radiasi, medan radiasi, directivity,
dan polarisasi. Berdasarkan pola radiasinya, radiator pada antena dibedakan menjadi tiga,
antara lain: Isotropic, Directional, dan Omnidirectional.
Radiator Isotropic merupakan radiator pada antena yang secara hipotesis merupakan
jenis antena yang efisiensinya seratus persen atau yang disebut dengan lossless. Pada
kenyataannya, tidak ada antena yang benar-benar memiliki efisiensi sama dengan satu.
Selain itu, karakteristik lain dari antena ini adalah memiliki pola radiasi dimana besar
radiasinya sama besar pada ke semua arah. Radiator directional adalah jenis antena yang
radiasinya pada satu arah tertentu lebih efisien dibanding dengan radiasinya di arah yang lain.
Radiator Omnidirectional merupakan jenis spesifik daripada radiator directional dimana
radiasinya pada segala arah.

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

100

Polarisasi antena pada suatu arah tertentu didefinisikan sebgai polarisasi gelombang
yang ditransmisikan oleh antena. Polarisasi dari gelombang yang diradiasikan pada antena
ini merupakan properti daripada gelombang elektromagnetik yang menggambarkan arah
terhadap perubahan waktu dan nilai relatif daripada vektor medan listrik.
Polarisasi pada antena dibedakan berdasarkan polarisasinya, antara lain: polarisasi
linier, sirkular, dan elips. Polarisasi linier menggambarkan medan listrik sebagai fungsi waktu
yang selalu diarahkan sepanjang garis (dua dimensi). Sementara itu polarisasi sirkular
merupakan jenis polarisasi yang menggambarkan medan listrik sebagai fungsi waktu yang
diarahkan secara melingkar. Ada yang unik daripada polarisasi linier dan sirkular ini, diamana
keduanya merupakan bentuk daripada polarisasi elips. Pada kenyataannya, medan listrik
yang terbentuk pada antena meninggalkan jejak elips (elliptical polarized). Ketika polarisasi
elips ini menjadi sebuah garis lurus, maka yang terjadi adalah polarisasi linier, sementara
ketika bentuk elips ini diarahkan secara melingkar, maka yang terjadi adalah polarisasi
sirkular.Secara umum, karakteristik polarisasi antena dapat direpresentasikan dalam pola
polarisasi yang didefinisikan sebagai distribusi spasial daripada polarisasi medan listrik yang
diradiasikan oleh antena . Polarisasi dapat dibagi menjadi:

Polarisasi Linier

Polarisasi Sirkular

Polarisasi Elips

Gambar 10.5 Polarisasi Linear, Circular dan Eliptical


Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

101

Simulasi Jalur Komunikasi Nirkabel Menggunakan Perangkat Lunak


Radio Mobile
Gelombang radio yang berpropagasi di udara akan mengalami beberapa fenomena
fisik yang berbeda, misalnya refleksi, transmisi, difraksi, dan scattering. Lingkungan propagasi
adalah lingkungan geografis di mana gelombang radio merambat dari transmitter ke receiver.
Lingkungan propagasi sangat dipengaruhi oleh parameter-parameter fisik medium, seperti
tekanan, temperatur, kelembapan, indeks refraksi, dan dari database area geografis tertentu
seperti topografi, persebaran vegetasi, jalan, dan gedung. Propagasi gelombang radio dapat
ditentukan dengan pemodelan berbagai mekanisme fisik yang berbeda, seperti redaman
ruang hampa, redaman atmosfer, redaman akibat vegetasi, dan lain-lain.
Mode propagasi gelombang radio yang paling sederhana adalah propagasi radio pada
jalur line-of-sight karena sinyal gelombang mikro tidak dapat diblok oleh gedung atau lembah.
Untuk melakukan transmisi harus dihindari adanya penghalang atau kemiringan bumi,
sehingga jika posisi antar gedung terhalang, maka diperlukan menara untuk menempatkan
antena lebih tinggi lagi, agar tetap dalam posisi saling melihat (line of sight).
Secara umum, propagasi dikatakan line-of-sight jika tidak terdapat akibat-akibat
difraksi gelombang, hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat obstacle daerah first Fresnel
ellipsoid. Pada Gambar 10.6 di bawah ini ditunjukkan model sederhana analisa jalur propagasi
radio line-of-sight.

Gambar 10.6 Model jalur propagasi radio sederhana.

Pada Gambar 10.6, rugi daya propagasi ruang hampa (free space loss) dapat
dihitung dengan Persamaan 10.1 di bawah ini.
v FSPL dB

32,45 20 log Dkm 20 log FMHz

(10.1)

Jika rugi saluran transmisi, LT dan LR, pada Gambar 10.6 diabaikkan, maka daya yang
diterima receiver adalah :

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

102

GR
v PR PT GT

L
4r

(10.2)

Langkah pertama untuk membuat sistem nirkabel adalah membuat rancangan dan
simulasi kerja sistem. Salah satu alat untuk merancang dan menyimulasi sistem nirkabel
adalah perangkat lunak Radio Mobile.
Radio Mobile adalah sebuah perangkat lunak yang dikembangkan oleh Roger Coud
untuk para pelaku radio amatir. Radio Mobile menggunakan model digital daerah ketinggian
untuk perhitungan cakupan dan kekuatan sinyal yang diterima di berbagai tempat di
sepanjang jalur radio. Radio Mobile secara otomatis membangun profil antara dua titik di peta
digital yang menunjukkan cakupan wilayah dan zona Fresnel pertama. Pada saat simulasi,
perangkat lunak ini akan memeriksa line-of-sight dan menghitung path loss. Dengan
menggunakan Radio Mobile, sangat mungkin untuk dibuat jaringan dari beberapa topologi
yang berbeda, termasuk jaringan master/slave, point-to-point, dan point-to-multipoint.
Perangkat lunak ini dapat digunakan untuk menghitung wilayah cakupan dari base stasion
pada sebuah sistem point-to-multipoint, bekerja untuk sistem yang memiliki frekuensi dari 100
kHz sampai 200 GHz.

Peralatan
Pengukuran ini menggunakan peralatan yang terdapat pada Tabel 10.1.
Tabel 10.1. Peralatan yang Digunakan pada Praktikum Parameter Antena

No.
1
2
3
4
5

Nama Alat
Network Analyzer
Mechanical Calibration Kit
Antena
Perangkat Komputer
Software Radiomobile

Jumlah
1
1
2
1
1

Prosedur Percobaan
PERHATIAN!!! Selalu ikuti petunjuk asisten dalam melakukan praktikum!!
Jangan menyimpan set-up yang Saudara lakukan karena akan menghapus data
default!!!

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

103

Pengukuran Parameter Antena


Kalibrasi Alat
Sebelum melakukan pengukuran, kalibrasi alat harus dilakukan agar kondisi alat
ukur kembali sesuai sehingga data pengukuran yang diambil lebih akurat.
1. Tekan CAL pada Network Analyzer
2. Pilih Full 1-Port
3. Pasang alat kalibarasi pada Port-1 sesuai dengan urutan yang tertera pada
Network Analyzer, yaitu kondisi Open, Short, dan Load
Pengukuran Parameter S11
1. Pilih MEAS
2. Pasang antena dipole pada Port-1
3. Pilih jenis parameter yang ingin diukur, yaitu VSWR, Return Loss, dan Koefisen
Refleksi

Sistem Radio Titik Ke Titik


1. Buka perangkat lunak Radio Mobile (rmweng.exe);
2. Buka Map properties (F8), pilih nama kota dengan Select a city name atau
masukkan posisi (lattitude dan longitude) kota tersebut dan pilih berapa ukuran
pengambilan gambar (Size height);
3. Buka Network properties (ctrl N), lalu buka System. Buat sistem yang diinginkan.
Atur parameter-parameter dari sistem tersebut;
4. Buka Unit properties (ctrl U), tempatkan unit sesuai lokasi yang diinginkan;
5. Buka Network properties, lalu buka Membership, tentukan sistem yang digunakan
untuk masing-masing unit;
6. Untuk menampilkan semua unit pada peta, klik View, lalu klik Show networks, lalu
klik All;
7. Hitung link budget untuk link tersebut dengan cara klik Tools, lalu klik Radio link
(F2). Dapat juga menampilkan detail keluaran dari simulasi. (Tools Radio link
view details);
8. Ubah parameter-parameternya, misal tinggi antena, unit yang menjadi TX/RX.
Silakan Saudara analisa!

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

104

Pengulang (Repeater) pada Sistem Radio Titik ke Titik


1. Buka perangkat lunak Radio Mobile (rmweng.exe);
2. Buka Map properties (F8), pilih nama kota dengan Select a city name atau
masukkan posisi (lattitude dan longitude) kota tersebut dan pilih berapa ukuran
pengambilan gambar (Size height);
3. Buka Network properties (ctrl N), lalu buka Parameters. Buat paramater yang
diinginkan. Atur parameter-parameter dari parameter tersebut;
4. Pilih System. Buat dua sistem (repeater dan hand held) yang diinginkan. Atur
parameter-parameter dari parameter tersebut;
5. Pilih Membership.
Untuk repeater :

Pilih Command pada tabel Role of Repeater;

Repeater pada System.

Untuk hand held :

Pilih Subordinate pada tabel Role of Repeater;

Hand held pada System.

6. Klik Tools, pilih Coverage, pilih Find best site;


7. Silakan Saudara analisis.

---o0o---

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

105

REFERENSI

Akademika Digital Communication Training System Experiment and Service Manual

Balanis, Constantine A. 1982. Antena Theory: Analysis and Design, 2nd Edition.
John Wiley and Sons, Inc

Christopher Haslett, Essentials of radio wave propagation, Cambridge University


Press, 2008 052187565X pages 119-120

Demetrius T Paris and F. Kenneth Hurd, Basic Electromagnetic Theory, McGraw Hill,
New York 1969 ISBN -0 048470-8, Chapter 8

George W. Hutchson, John K.H. Leong, Lim Choon Kwee, Nah Cherng Kai.
Communication Principles and Systems. School pof Engineering, Temasek
Polytechnic, Singapore.

H. P. Westman et al., (ed), Reference Data for Radio Engineers, Fifth Edition, 1968,
Howard W. Sams and Co., no ISBN, Library of Congress Card No. 43-14665 page
26-1

Manual Feedback Microwave Trainer MWT530

Shanmugam, Sam. Digital Analog Communication Systems. John Wiley & Sons,
Inc. Canada. 1979.

Stuart M. Wentworth. Fundamentals of Electromagnetics with Engineering


Aplications.Wiley.2005

TEKNIKIT Telephony Training System Students Workbook 58-001WB

William H.Hyat and John A.Buck. Elektromagnetika, 7th ed. Erlangga. 2006

Modul Praktikum Teknik Telekomunikasi

106