Anda di halaman 1dari 2

I.

Geologi Regional Pangandaran dan Paleotsunami


Endapan pasir tsunami memiliki ciri-ciri yang khas sehingga dapat dibedakan dari

endapan pasir lainnya. Endapan ini sering kali ditemukan menutupi lapisan tanah purba. Secara
umum endapan pasir tsunami memperlihatkan kenampakan struktur ukuran butiran menghalus
ke bagian atas secara berangsur. Dalam satu endapan tsunami, struktur ini dapat terlihat lebih
dari satu buah.
Struktur ini merupakan petunjuk bagi banyaknya gelombang yang melanda ketika
tsunami terjadi. Endapan tsunami Aceh 2004 misalnya memperlihatkan paling banyak 6 buah
struktur tersebut. Hal ini berarti bahwa paling sedikit ada enam buah gelombang datang pada saat
tsunami melanda Aceh, Desember 2004. Di dalam pasir tersebut sering kali didapatkan
cangkang-cangkang binatang renik yang berasal dari kedalaman laut. Bongkah-bongkah tanah
juga acap kali terdapat di dalam pasir tsunami itu sebagai hasil gerusan gelombang tsunami.
I.1 Endapan tsunami purba di Pangandaran
Secara umum pantai selatan Pulau Jawa juga rawan terhadap bencana tsunami. Hal ini
karena kedua wilayah itu sama-sama berada di zona rawan gempa bumi sebagai hasil tumbukan
(subduksi) antara lempeng samudra Indo-Australia dengan lempeng benua Eurasia. Interaksi
kedua lempeng itu berlangsung terus dari dahulu hingga sekarang dan di masa-masa datang.
Dengan demikian, gempa bumi pun masih dapat terjadi kembali setiap saat, begitu juga dengan
tsunami.
Penelitian endapan tsunami purba di daerah Pangandaran berhasil mendapatkan paling
tidak dua buah lapisan endapan tsunami purba. Endapan pertama yang berada pada kedalaman
10 hingga 20 cm dari permukaan tanah diduga merupakan endapan tsunami 1921. Tebal endapan
ini mencapai hingga 4 cm. Sebagai perbandingan, tebal endapan pasir tsunami Juli 2006 di
daerah Pangandaran mencapai hingga 11 cm. Selain ketebalannya, secara sepintas endapan
tsunami ini mirip sekali dengan endapan tsunami Juli 2006 yaitu hanya terdiri dari satu lapis
pasir berwarna kehitaman.

Pasir ini menyerupai pasir pantai yang ada di daerah Pangandaran. Ukuran butiran
pasirnya seragam dari bawah ke atas dan mengandung kuarsa, biji besi, dan pecahan-pecahan
cangkang berukuran pasir. Lapisan ini tidak dapat ditemui di setiap tempat mungkin karena
sebagian telah hilang digerus erosi setelah diendapkan.
Lapisan endapan tsunami kedua berada pada kedalaman 2 meter di bawah permukaan.
Ketebalan lapisan ini mencapai 15 cm, berwarna hitam agak kecokelatan. Di dalam pasir
mengandung bongkahan-bongkahan tanah. Bongkahan-bongkahan ini kemungkinan merupakan
hasil gerusan oleh gelombang tsunami yang kemudian diendapkan bersama pasir yang
dibawanya. Lapisan ini meskipun cukup tebal, namun terlihat tidak menerus.
Yang menarik dari lapisan endapan tsunami yang kedua ini adalah bahwa lapisan ini
diapit oleh lapisan endapan lempung hijau di bagian bawah dan lapisan lempung cokelat di
bagian atasnya. Batas lapisan endapan tsunami dengan kedua lapisan lempung itu sangat tegas.
Lempung hijau di bagian bawah kemungkinan diendapkan di lingkungan laguna, sementara
lempung cokelat di atasnya yang mengandung sedikit pasir kemungkinan diendapkan di daratan.
Perubahan lingkungan dari laguna sebelum tsunami menjadi daratan setelah pasir tsunami
diendapkan menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi pada saat itu di samping
menimbulkan gelombang tsunami, juga dibarengi dengan pengangkatan daratan. Hal ini
menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi pada saat itu kemungkinan merupakan gempa
kuat.

Sumber : Dr. EKO YULIANTO, staf peneliti di Puslit Geoteknologi LIPI dan anggota
Kelompok Riset Cekungan Bandung.