Anda di halaman 1dari 27

BAGIAN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN
Januari 2016

Case Presentation:
COLELITHIASIS
DISUSUN OLEH :
Nurliana
C111 11 251
RESIDEN PEMBIMBING :
dr. Abdul M Pattiha
SUPERVISOR :
Dr. dr. Ibrahim Labeda, Sp. B - KBD

Nama
: Tn. MK
Umur
: 52 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan
: PNS
Agama
: Islam
No. RM
: 672467
Tanggal masuk : 22 Desember 2015
Perawatan
: Palem Atas B2/4-2

IDENTITAS

Keluhan Utama
Nyeri perut kanan atas
Riwayat Perjalanan Penyakit
Nyeri perut kanan atas dialami sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit,
nyeri hilang timbul, dan memberat sejak 2 minggu terakhir. Nyeri tiba-tiba
muncul dan tidak menghilang dengan perubahan posisi, nyeri seperti
ditusuk-tusuk, dan memberat dengan tarikan napas. Pasien juga selalu mual
dan muntah jika makan, muntah berisi makan dan cairan berwarna jernih,
darah tidak ada. Sehingga nafsu makan pasien menurun. Ada riwayat demam
selama kurang lebih 1 minggu. Paisen mengaku kadang-kadang mengalami
nyeri pada tulang belakang. Pada BAK, warna seperti kuning dan lampias,
tidak terdapat nyeri BAK, BAK merah tidak ada. BAB tidak ada keluhan,
warna kuning kecoklatan, konsistensi lunak, darah tidak ada, kembung tidak
ada, BB tidak ada perubahan. pasien adalah seorang pegawai negeri.
Menurut pasien dirinya jarang berolah raga. Tidak terdapat keluhan kuning
pada mata ataupun kulit pasien

ANAMNESIS

Status Generalis
Sakit sedang/gizi cukup/compos mentis
Status Vitalis
Tekanan Darah : 150/80 mmHg
Nadi
: 89x/menit
Pernapasan
: 20x/menit (tipe : thoracoabdominal)
Suhu
: 36,8oC (Axilla)
Status Lokalis
Status Lokalis
Regio Abdomen
Inspeksi :datar, ikut gerak napas, warna kulit sama sekitarnya, darm contour
tidak ada, darm steifung tidak ada.
Auskultasi
: peristaltik ada, kesan normal.
Palpasi
: nyeri tekan ada di daerah hypochondrium dekstra, murphy sign
negatif, tidak teraba massa tumor, defans muskuler tidak ada.
Perkusi : tympani, ascites tidak ada.

PEMERIKSAAN FISIK

Tanggal
07/01/16

Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

WBC

10,02

4,00-10,0

RBC

4,65

4,00-6,00

HGB

19

12,0-16,0

HCT

36,7

37,0-48,0

PLT

321

150-400

Ureum

30

10-50

Kreatinin

0,9

L(<1,3); P(<1,1)

GOT

24

< 38

GPT

33

< 41

PT

10,9

10-14

APTT

22,8

22,0-30,0

GDS

99

140

Albumin

3,2

4-10

Na

140

136-145

3,9

3,5-5,1

Cl

99

97-111

LABORATORIUM

RADIOLOGI

Scan Abdomen tanpa kontras (21-12-2015)


Telah dilakukan pemeriksaan CT Scan Abdomen tanpa kontras potongan axial reformat
coronal dan sagital dengan hasil sebagai berikut :
Hepar: Ukuran dan densitas parenkim dalam batas normal. Tidak tampak dilatasi
vascular maupun bile duct intra/ekstra hepatic. Tidak tampak mass/cyst/nodul
metastasis.
GB: Dinding tidak menebal, tampak densitas batu multiple dengan ukuran terbesar
2,5x0,7cm.
Pankreas: Ukuran dan densitas dalam batas normal, Tidak tampak mass/cyst/nodul
metastasis.
Lien: Ukuran dan densitas dalam batas normal, Tidak tampak mass/cyst/nodul
metastasis
Kedua Ginjal: Ukuran dan densitas parenkim dalam batas normal. Tidak tampak dilatasi
PCS. Tidak tampak densitas batu/mass/cyst.
VU: Dinding tidak menebal, mukosa regular, tidak tampak densitas batu/mass.
Loop-loop usus yang terscan dalam batas normal
Osteophytes pada lumbal (Spondylosis Lumbalis), tulang lain intak.
Kesan : Cholelith

RADIOLOGI

Seorang laki-laki, 52 tahun, masuk RS dengan keluhan nyeri perut


kanan atas dialami sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit, nyeri
hilang timbul, dan memberat sejak 2 minggu terakhir. Nyeri tiba-tiba
muncul dan tidak menghilang dengan perubahan posisi, nyeri seperti
ditusuk-tusuk, dan memberat dengan tarikan napas. Pasien juga selalu
mual dan muntah jika makan, muntah berisi makan dan cairan berwarna
jernih, darah tidak ada. Sehingga nafsu makan pasien menurun.
Ada riwayat demam selama kurang lebih 1 minggu. Paisen mengaku
kadang-kadang mengalami nyeri pada tulang belakang. BAK kuning
dan lancar kesan normal, BAB biasa kuning kecoklatan, kesan normal.
Pasien adalah seorang pegawai negeri. Menurut pasien dirinya jarang
berolah raga. Tidak terdapat keluhan kuning pada mata ataupun kulit
pasien.

RESUME

Pasien telah dirawat di RS Papua selama 14 hari dengan diagnose


dyspepsia funggsional. Riwayat hipertensi ada, Riwayat diabetes mellitus
dan penyakit jantung disangkal. Riwayat dirawat di Rumah Sakit Papua
dengan keluhan yang sama ada.
Pada pemeriksaan fisis didapatkan pasien sakit sedang, gizi cukup, serta
komposmentis. Pada pemeriksaan abdomen, terlihat perut cembung, dan
tidak distended. Murphys sign (-) pada palpasi abdomen. Abdomen
Timpany pada perkusi abdomen, serta peristaltic kesan normal terdengar
pada pemeriksaan auskultasi abdomen. Hasil pemeriksaan CT Scan
Abdomen tanpa kontras, Dinding gall gblader tidak menebal, tampak
densitas batu multiple dengan ukuran terbesar 2,5x0,7cm. Berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang lainnya, maka
pasien ini didiagnosa dengan Cholelithiasis.

RESUME

Terapi sesuai TS Interna


-IVFD Nacl 0,9% 20 tpm
-Omeprazole 40mg/24jam/iv
-Metoklopramide 1 amp/12jam/iv
-Amlodipin 10 mg/24jam/oral
-ketorolac 40mg/12jam/iv k.p
Rencana laparoskopi cholecistectomi

PENATALAKSANAAN AWAL

CHOLELITIASIS

Dikenal dengan istilah batu empedu, gallstones, biliary calculus.


Kolelitiasis merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya batu
empedu di dalam kandung empedu (vesica fellea) yang memiliki
ukuran, bentuk dan komposisi yang bervariasi.

DEFINISI

Anatomi

Ada tiga fungsi terpenting dari empedu yaitu :

1. Pencernaan dan absorbsi lemak


2. Penyimpanan dan pemekatan empedu
3. Pengosongan kandung empedu

FISIOLOGI

Gambar 4a. Kontraksi sfingter Oddi dan pengisian


empedu ke kandung empedu. 4b. Relaksasi sfingter Oddi
dan pengosongan kandung empedu.

- Wanita : Pria = 3:1


- Sering dijumpai pada wanita dengan 4 F: female (wanita), fertile
(subur), khususnya selama kehamilan, fat (gemuk), dan forty (empat
puluh tahun).
- Penelitian menunjukkan 54% pasien datang dengan mengeluh nyeri
perut kanan atas, 37% pasien mengeluh nyeri ulu hati dan sisanya 9%
mengeluh perut melilit, nyeri seluruh permukaan perut, dada berdebardebar, mual muntah dan nyeri punggung

EPIDEMIOLOGI

Etiologi batu empedu dan saluran empedu masih belum


diketahui dengan sempurna, akan tetapi faktor predisposisi yang
paling penting adalah:
1.

gangguan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan


empedu

2.

Stasis empedu

3.

Infeksi kandung empedu

ETIOLOGI

1. Perubahan komposisi empedu


Hati memproduksi empedu yang sangat jenuh dengan kolesterol, mengendap
di kandung empedu dan menjadi batu empedu. High

heme turnover dapat

menghasilkan batu pigmen. Karena bilirubin yang diproduksi berlebih.


2. Stasis Empedu
Dapat terjadi karena spasme sfingter Oddi, dan gangguan hormonal.
3. Infeksi Kandung empedu
Mukus meningkatkan viskositas empedu , unsur dan sel bakteri dapat pula
berperan sebagai pusat pengendapan.

ETIOLOGI

Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan


jarang pada saluran empedu lainnya dan diklasifikasikan berdasarkan
bahan pembentuknya. Etiologi batu empedu masih belum diketahui
dengan sempurna, akan tetapi, faktor predisposisi yang paling penting
tampaknya adalah gangguan metabolisme yang disebabkan oleh
perubahan susunan empedu, stasis empedu dan infeksi kandung empedu.
Patogenesis dari batu kandung empedu ditentukan klasifikasinya

Patogenesis

KLASIFIKASI BATU EMPEDU :


1. Batu kolesterol
Pembentukan batu ada tiga fase yaitu :
a. Fase supersaturasi yang dipengaruhi oleh 3 zat yaitu kolesterol,
lecitin, dan garam empedu
b. Fase pembentukan inti batu
c. Fase pertumbuhan batu menjadi besar
2. Batu Bilirubin/ batu pigmen
Dibedakan menjadi dua yaitu:
d. Batu Calcium bilirubinat (Batu Coklat / Batu infeksi)
e. Batu Pigmen murni (Batu hitam/ batu non infeksi)
Ada 2 fase yaitu :
- Saturasi Bilirubin
- Pembentukan Inti Batu

1. Asimptomatik
Hampir

50% penderita kolelitiasis asimptomatik, nyeri akut

abdomen, disertai mual, dispepsia, nyeri bilier, nyeri abdomen


kronik berulang.
2. simptomatik
Nyeri epigastrium kuadran kanan atas, kolik bilier kurang lebih 30
menit, hilang beberapa jam kemudian.

Manifestasi
Klinis

Batu empedu dicurigai pada pasien dengan kolik bilier. USG abdomen
adalah metode pilihan untuk medeteksi batu empedu, sensitifitas dan
spesifikasinya 95%. USG juga akurat mendeteksi kotoran. CT scan, MRI
dan kolesistografi oral (meskipun akurat, tapi jarang dilakukan sekarang).
USG endoskopi akurat mendeteksi batu empedu yang kecil (< 3 mm) dan
dapat digunakan untuk tes-tes lain yang hampir sama. Tes laboratorium
biasanya tidak membantu, secara khusus, hasil yang tidak normal
menunjukkan adanya komplikasi.

Pemeriksaan penunjang

1. Terapi interventif
dengan Asam Ursodeoxycholic (ursodiol) untuk mencegah pembentukan batu
empedu. Batu kolesterol dengan dosis 12-15 mg/kgBB/hari dapat mengikis batu
kolesterol ini secara berangsur-angsur. Intervensi memerlukan 6-18 bulan.
2. Terapi operatif
a. Kolesistektomi laparoskopi adalah pilihan pertama pada penanganan batu

empedu dengan kontraindikasi minimal. Namun bisa berubah menjadi


kolesistektomi laparotomi untuk alasan keselamatan
b. Kolesistektomi laparotomi

Penatalaksanaan

Batu empedu asimptomatik yang berubah menjadi simptomatik yaitu rata-rata 2%


per tahun. Gejalanya pada umumnya kolik bilier kemudian menjadi komplikasi
biliar mayor. Bila gejala bilier dimulai, keluhan nyeri muncul pada 20-40%
pasien per tahun, 1-2% pasien per tahun terjadi komplikasi berupa kolesistitis,
koledokolitiasis, kolangitis, dan pankreatitis batu empedu. Setiap tahun di
Amerika Serikat sekitar 500.000 orang dengan perkembangan gejala atau
komplikasi batu empedu memerlukan cholecystectomy. Penyakit batu empedu
menyebabkan 10.000 kematian tiap tahun. Sekitar 7.000 kematian diakibatkan
oleh komplikasi batu empedu akut seperti pankreatitis akut. Sekitar 2.000 sampai
3.000 kematian disebabkan oleh kanker batu empedu (80 % terjadi pada penyakit

Prognosis

batu empedu dengan kolesistisis kronik).

-Kolesistitis ; Peradangan kandung empedu, saluran kandung empedu tersumbat oleh batu

empedu, menyebabkan infeksi dan peradangan kandung empedu.


-Kolangitis; kolangitis adalah peradangan pada saluran empedu, terjadi karena infeksi yang

menyebar melalui saluran-saluran dari usus kecil setelah saluran-saluran menjadi terhalang
oleh sebuah batu empedu.
- Hidrops; Obstruksi kronis dari kandung empedu dapat menimbulkan hidrops kandung

empedu. Dalam keadaan ini, tidak ada peradangan akut dan sindrom yang berkaitan
dengannya. Hidrops biasanya disebabkan oleh obstruksi duktus sistikus sehingga tidak dapat
diisilagi empedu pada kandung empedu yang normal.
- Empiema; keadaan dimana kandung empedu berisi nanah.

komplikasi

TERIMA KASIH