Anda di halaman 1dari 6

BAGAIMANA DOKTER HARUS

BERSIKAP?

Kita sering mendengar Orang tua menasehati anak anaknya:


orang sabar disayang Tuhan. Atau orang bule bilang : silence is
golden. Kita percaya nasehat2 tersebut mengandung makna yang
baik dan mulia dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari.
Pertanyaan yang mengemuka saat ini adalah: APAKAH SIKAP
TERSEBUT LAYAK DITERAPKAN OLEH PARA DOKTER DI INDONESIA?
Menyikapi gelombang regulasi bidang kesehatan yang sedang
digelontorkan pemerintah dalam beberapa tahun belakangan ini.
Berawal dari NIAT MULIA pemerintah bersama DPR untuk
melindungi masyarakat dari dampak negative malpraktek bidang
kesehatan, pemerintah menelorkan UU no 29 th 2004 tentang praktek
kedokteran dimana salah satu pasalnya menijinkan peradilan DUGAAN
MALPRAKTEK TENAGA MEDIS tanpa melalui peradilan profesi lebih
dahulu. Barangkali pemerintah mencoba mengacu apa yang telah
banyak diterapkan di Negara maju dimana tuntutan kehati hatian
profesi kedokteran sangatlah tinggi dan denda serta hukuman atas
malpraktek tindakan medis sangatlah berat. Di Negara maju tuntutan
standard profesianalisme medis sangatlah tinggi. Tapi hal tersebut
didukung oleh system peradilan yg sangat fair, professional dan tidak
dapat diintervensi oleh opini public. Kemajuan dunia medis di Negara
maju menjadikan mereka mampu melakukan intervensi medis yang
mendekati sempurna, jauh berbeda dengan kondisi pelayanan medis di
Indonesia yang masih terbelakang(terutama di puskesmas dan daerah
2 terpencil). Peralatan medis, sarana pendukung diagnostic,
persediaan obat serta pembiayaan yang sangat minimal menjadikan
tututan pelayanan medis yang prima dan professional menjadi sesuatu
yang nyaris mustahil untuk diwujudkan. Di Negara maju biaya
pengobatan sangat mahal bahkan pada pasien yang dibiayai oleh dana
social pemerintah, hal tersebut memungkinkan seorang tenaga medis
mampu menyisihkan dana untuk membiayai asuransi perlindungan

hukum, penegakan diagnostic yang akurat, terapi yang komprehensif


dan berkwalitas.
Dengan hadirnya BPJS dan berbagai regulasi, aturan perundang
undangan yang gencar digelontorkan pemerintah dan DPR belakangan
ini, tenaga medis di Indonesia disudutkan pada posisi yang dilematis,
seperti makan buah simalakama , MENOLONG SALAH, TIDAK
MENOLONGPUN SALAH.. BPJS didesain dengan keberpihakan yang
AMAT SANGAT kepada masyarakat sebagai pengguna layanan
kesehatan, tanpa mempertimbangkan PENDERITAAN dari tenaga
medis sebagai PEMBERI PELAYANAN MEDIS. Perhitungan tarif yang
seminimal mungkin karena pertimbangan penghematan anggaran
Negara(kapitasi utk PBI yang dibiayai pemerintah) serta meminimalisir
beban pembayaran premi oleh masyarakat (peserta BPJS mandiri) dan
ketidak fleksibelan dalam pemberian pengobatan menurunkan secara
signifikan kwalitas terapi yang diterima masyarakat yang pada
gilirannya justru merugikan masyarakat itu sendiri.
Pemerintah mentargetkan pada thn 2019 seluruh masyarakat
Indonesia akan terkover dalam program JKN. Sehingga semua orang
sakit akan terkonsentrasi berobat di tempat layanan kesehatan dimana
dia terdaftar baik itu di puskesmas maupun dokter layanan primer
mandiri. Hal ini wajar mengingat ditempat tersebut mereka tidak
dibebankan biaya berobat lagi alias gratis( atau bagi peserta JKN
mandiri mereka sudah membayar preminya setiap bulan). Pernahkah
pemerintah memikirkan nasib para dokter lain (yang sedari awal
tidak kebagian potongan kue porsi JKN) dan puluhan ribu dokter2
lulusan baru yang membanjiri pasaran medis setiap tahunnya,
bagaimana nasib mereka kelak jika seluruh masyarakat telah
terkapling2 ke dokter layanan primer yang ada serta ke puskesmas di
seluruh indonesia. Mereka hanya bisa menegadah menunggu tetesan
pasien yang kebetulan tidak sembuh berobat di layanan primer
mereka( itupun jika mereka tidak minta dirujuk ke berbagai dokter
spesialis yang ada di layanan kesehatan PPK sekunder dan tersier). Di
tahun 2015 dan 2016 ini diprediksi seluruh pekerja formal akan habis
tercover di layanan primer yang sudah ada, dan seluruhnya akan
terdistribusi ke berbagai dokter praktek mandiri BPJS yang telah ada.
Di tahun 2017-2019 pekerja informal dan masyarakat umum
seluruhnya akan terkover JKN dan secara alami juga akan terdistribusi
pada dokter2 yang telah ada. Lalu bagaimana nasib dokter2 yang tidak
memperoleh jatah JKN ?, dokter yang tidak terkoneksi kerjassama dgn

BPJS? dan adik2 dokter kita yang baru lulus sesudah th 2019? DAPAT
APA MEREKA? Kalaupun kemudian mereka menempuh pendidikan
dokter layanan primer, pangsa pasarnya tokh sudah tersita habis,
kalaupun tersisa jumlahnya sangat kecil dan diperebutkan oleh begitu
banyak dokter termasuk yang senior2. Hal ini seperti bom waktu
yang siap meledak setiap saat. Tidakkah kementerian
kesehatan sudah memprediksikan potensi terebut? Apakah
mereka hanya sibuk dengan slogan BERPIHAK PADA RAKYAT KECIL
saja?
Jika dimasa lalu, orang sakit memilih dokter atas dasar
kecocokan, kesembuhan, pelayanan yang disukai, pertimbangan
kemampuan membayar tarif dokter serta jarak tempuh dari rumah ke
tempat pelayanan kesehatan, maka kelak paradigm tersebut bergeser
menjadi PIULIHAN KEPERSERTAAN. Di tahun 2019 hanya dokter BPJS
yang memperoleh kepastian mendapatkan pasien sementara dokter
non BPJS hanya pasrah menunggu cipratan pasien yang kebetulan
tidak sembuh di pelayanan dokter BPJS, itupun jika mereka tidak malas
dirujuk ke rumah sakit tempat pelayanan spesialistik PPK 2. Adalah
tidak mungkin BPJS bekerja sama dengan semua dokter praktek
swasta yang ada, karena jumlahnya sangatlah banyak.dan tiap tahun
jumlahnya terus bertambah secara spektakuler. Kalaupun sebagian
kecil dari mereka direkrut untuk membantu di klinik2 BPJS yang telah
ada, mungkinkah mereka mendapat imbalan yang berkeadilan.
Jika hanya memikirkan diri sendiri, bagi dokter2 senior yang
telah memiliki pangsa pasar tersendiri serta klien2 yang loyal,
fenomen JKN mungkin hanya sedikit berpengaruh terhadap prakter
mandiri mereka, akan tetapi bukankah kita harus tetap
memikirkan nasib adik2 dokter kita yang baru lulus?
Marilah kita renungkan tulisan teman kita yang disharekan lewat
whatapp dibawah ini:
6 Oktober 2004. Lahir UUPK NOMOR 29 TAHUN 2004 TENTANG PRAKTIK
KEDOKTERAN.
UUPK ini juga berisi pasal 66 (33) dimana kesalahan dokter dalam melakukan
praktek bisa langsung diproses pidana tanpa melewati peradilan profesi. Maka
malpraktek akan diproses seperti mengusut kasus pencurian, pembunuhan,
pemerkosaan. Polisi dan Jaksa akan menyidik kasus yang sama sekali tidak

difahaminya. Dokter diadili oleh majelis yang bukan profesinya. Mulailah saat ini
profesi kedokteran dalam ancaman ketakutan.
UUPK mewajibkan sertifikasi, Pemerintah dan publik menuntut standar pelayanan
dan profesi setara dokter luar negeri. Negara bisanya menuntut, namun tak pernah
hadir membantu. Semenjak mahasiswa FK, internship , kewajiban SKP dan CME,
training2, pendidikan spesialis , sehingga menjadi tenaga ahli setara dokter luar
negeri, para dokter membiayai dirinya sendiri, dari usaha dan kantongnya sendiri.
Sementara sponsor farmasi utk pengembangan profesi dituduh gratifikasi ! Dokter
diminta tuntutan tinggi, tapi ketidaksengajaan tindakan profesi menjadi
kriminalisasi, dan pengembangan profesi bisa dicap korupsi.
Tanggal 20-4-2015. Dokter Indonesia Bersatu (DIB), mengajukan judicial review ke
MK terhadap kriminalisasi profesi. Namun ditolak oleh Mahkamah Konstitusi (MK).
Maka lengkaplah pekerjaan yang mulia ini semakin menakutkan, satu kaki di sorga,
satu kaki di jeruji penjara

1 Januari 2014. Berlaku JKN. Munculah BPJS. Berlaku pula INA CBGs, tarif
berdasarkan paket atau kapitasi. Maka fee for service yang menghargai keringat
dokter sesuai pekerjaaannya diganti dengan keuntungan yang tidak pasti. Sebab
dengan INA CBGs jasa dokter malah bisa buntung bila severity pasien melebihi
jangkauan tarif INA CBGs. Semakin kritis kondisi pasien, semakin intensif dokter
merawat, tarif yang diterima tidak semakin besar, karena tarif telah disepakati
dimuka (prospektif payment). Maka berlakulah rezim BPJS dan rezim Rumah sakit,
sebagai pengendali biaya dan mutu . BPJS dan RS tidak akan mau rugi, sedangkan
severity kasus tidak semudah hitungan INA CBGs. Maka jasa dokter tergantung
keuntungan rumah sakit. Dokter dipaksa berhitung, manut manajemen atau
ditinggalkan, menomor duakan standar mutu dan keselamatan pasien. Maka
disparitas jasa yang diterima dokter akan bervariasi besar antar RS, bahkan antara
rugi dan untung .Kesejahteraan dokter semakin pudar . Dokter Spesialis Penyakit
Dalam dipaksa melayani jumlah pasien yang meningkat 5-6 kali dengan
pendapatan naik hanya dua kali lipat, dokter bedah dipaksa melakukan operasi
lebih banyak dengan tarif dibawah standar, jauh dibawah kelayakan sesuai
keringat yang dikucurkan.

6 Agustus 2013 . Semoga bukan awal hari yang kelam. Pagi itu berlakulah UU
Pendidikan kedokteran. Masa pendidikan dokter lebih panjang, akademik 4 tahun,
pendidikan klinik 2 tahun, lalu ujian UKDI, mengurus STR, lalu internship 1 tahun.
Dengan prosedur birokratis, untuk sampai selesai internship bisa membutuhkan 7.58 tahun ! Setara dengan level S3 untuk kesarjanaaan. Lalu UU pendidikan
kedokteran pasal 8 ayat 3, menambahkan profesi baru Dokter Layanan Primer
(DLP), pendidikan setelah dokter umum, yang disetarakan dengan dokter spesialis.

Seakan pendidikan 7 tahun belum cukup untuk mengintegrasikan konsep layanan


primer. Padahal Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) dari pendidikan dokter
itu sendiri, versi buku putih Konsil Kedokteran Indonesia adalah untuk pelayanan
primer. Jadi dokter umum sendiri sebenarnya adalah Dokter Layanan Primer ! Tujuh
tahun mereka sekolah yang ditelan ya kasus-kasus primer, community based
medicine, ilmu-ilmu public health. Lalu ketika dianggap tidak mumpuni memberikan
pelayan primer, lantas dibentuk profesi baru Dokter Layanan Primer.Maka yang
disalahkan siapa ? bukankah pengelola FK itu sendiri yang salah ? ini analog dengan
gagal mendidik istri lalu minta kawin lagi, buruk muka cermin dibelah ! Kemudian
Kemenkes bersama sejumlah FK membuat kesepakatan bersama mendirikan prodi
spesialis layanan primer, tanpa ada naskah akademik yang jelas, dan menabrak
aturan organisasi bahwa program studi spesialis baru harus disetujui di muktamar
IDI, lalu didiskusikan di Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia, kemudian
terbentuklah kolegium baru yang akan menyusun kompetensi. Kita semua tahu
muktamar IDI di Medan 21 Nopember 2015 jelas-jelas menolak pendidikan Spesialis
LP (SpLP) . Baru kali inilah dalam sejarah RI, pendidikan profesi dari Kemenkes
yang ditolak secara masif oleh para korpsnya sendiri, para perhimpunan dokter.
Dengan bekerja di layanan primer (PPK 1), maka DLP akan melemahkan ratusan
ribu dokter umum yang pendidikannya sudah lama sekali dan mahal, yang orientasi
pendidikannya adalah layanan primer. Bila ditempatkan di PPK 2, maka DLP akan
bentrok dengan spesialis lainnya.
Pembentukan SpLP hanya akan memboroskan biaya besar, waktu dan tenaga,
menghasilkan konflik horisontal dan vertikal. Anehnya Kemenkes sibuk
menggerakan pendidikan SpLP, alih-alih mengurusi pendidikan internship yang saat
ini carut marut berantakan ! Kemenkes dan Dikbud gagal mengurusi internship,
dokter muda diberi bayaran murah,lebih murah dari gaji satpam kantor, tanpa
perlindungan kesehatan dan keselamatan yang layak. Program internship dijadikan
perbudakan profesional untuk pemerataan tenaga dokter ke daerah-daerah
terpencil. Dengan waktu tunggu 6-12 bulan, membuat dokter muda terpaksa
memilih wahana dimana saja agar mereka segera mendapatkan STR.
Senen, 7 desember 2015, ternyata adalah hari yang kelam. Kembali hakim MK
menolak judicial review PUDI terhadap UU pendidikan kedokteran untuk
menghapus DLP . Ternyata permohonan keadilan tidaklah bisa diserahkan ke majelis
hakim yang citranya saat ini sarat dengan suap dan korupsi. Keadilan, perubahan
nasib, mengangkat harkat martabat profesi, hanya bisa dengan perjuangan oleh diri
sendiri, oleh IDI dan perhimpunan profesi, oleh para dokter sendiri. Allah tidak akan
merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubahnya sendiri. QS Ar-ra'd ayat
11.
Dokter Sun Yat Sen adalah pendiri Republik China,Dokter Soetomo adalah pelopor
kemerdekaan Indonesia, Dokter Mahathir Mohamad adalah pemimpin terkenal
Malaysia. Nama dokter dikaitkan dengan sejarah harum menegakan keadilan dan

kemajuan bangsa . Adakah dokter-dokter kita berkesadaran untuk membela, meski


nasib kaumnya sendiri agar bisa bekerja mulia dengan tenang dan dihargai dengan
layak ? Saudaraku, pintu harapan belumlah tertutup. Jalan masih banyak dan
terbentang. Kalian bisa boikot nasional terhadap program DLP yang dipaksakan,
kalian bisa semua tanda tangan petisi masal untuk amandemen ke DPR bila dirasa
disana ada hati nurani, bahkan kalian bisa bersatu turun ke jalan mengulang demo
nasional 27 November 2011 ketika teman-teman sejawat kalian di borgol karena
tuduhan malpraktek operasi sectio caesar. Asal kalian solid bersatu, bukankah IDI
hanya satu ? bukankah kalian jumlahnya hanya 150 ribu ?

Salam Sejawat