Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Sebagai amanat Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah, pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi


kewenangannya. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah tersebut, pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi
dan tugas pembantuan.
Penyelenggaraan desentralisasi mensyaratkan pembagian urusan pemerintahan
antara Pemerintah dengan Pemerintahan Daerah. Urusan pemerintahan terdiri dari
urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah dan urusan
pemerintahan yang dikelola secara bersama antar tingkatan dan susunan pemerintahan.
Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah adalah urusan
dalam bidang politik luar negeri, pertahanan, keamanan, moneter dan fiskal nasional,
yustisi, dan agama. Urusan pemerintahan yang dapat dikelola secara bersama antar
tingkatan dan susunan pemerintahan adalah urusan-urusan pemerintahan selain urusan
pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan Pemerintah.
Urusan yang menjadi kewenangan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan
pilihan. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib
diselenggarakan oleh pemerintahan daerah yang terkait dengan pelayanan dasar (basic
services) bagi masyarakat. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007
Pasal 7 ayat (2) disebutkan bahwa urusan wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi: pendidikan; kesehatan; lingkungan hidup; pekerjaan umum; penataan ruang;
perencanaan pembangunan; perumahan; kepemudaan dan olahraga; penanaman modal;
koperasi

dan

usaha

kecil

dan

menengah;

kependudukan

dan

catatansipil;

ketenagakerjaan; ketahanan pangan; pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak;


keluarga berencana dan keluarga sejahtera; perhubungan; komunikasi dan informatika;
1

pertanahan; kesatuan bangsa dan politik dalam negeri; oronomi daerah, pemerintahan
umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian;
pemberdayaan masyarakat dan desa; sosial; kebudayaan; statistik; kerasipan; dan
perpustakaan.
Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan adalah urusan pemerintahan yang
diprioritaskan oleh pemerintahan daerah untuk diselenggarakan yang terkait dengan
upaya mengembangkan potensi unggulan (core competence) yang menjadi kekhasan
daerah. Urusan pemerintahan di luar urusan wajib dan urusan pilihan yang
diselenggarakan oleh pemerintahan daerah, sepanjang menjadi kewenangan daerah yang
bersangkutan tetap harus diselenggarakan oleh pemerintahan daerah yang bersangkutan.
Dalam Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 disebutkan
bahwa: urusan wajib sebagaimana dimaksud pasal 7 ayat (2) berpedoman pada standar
pelayanan minimal yang ditetapkan Pemerintah dan dilaksanakan secara bertahap.
Penyusunan SPM mengacu pada peraturan perundang-undangan yang mengatur
urusan wajib mencakup jenis pelayanan dasar, indikator SPM dan batas waktu
pencapaian SPM. SPM yang telah ditetapkan Pemerintah menjadi salah satu acuan bagi
Pemerintahan Daerah untuk menyusun perencanaan dan penganggaran penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah. Pemerintahan daerah menyusun rencana pencapaian SPM yang
memuat target tahunan pencapaian SPM dengan mengacu pada batas waktu pencapaian
SPM sesuai dengan Peraturan Menteri, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat
Daerah (Renstra SKPD).

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat diambil rumusan masalah

sebagai berikut:
1.

Bagaimana tingkat pemenuhan standar pelayanan minimal bidang


pekerjaan umum di Kota Salatiga?

2.

Berapa besar anggaran untuk memenuhi persyaratan standar minimal


bidang pekerjaan umum di Kota Salatiga?

3.

Bagaimana kemampuan anggaran Pemerintah Kota Salatiga dalam


pencapaian standar pelayanan minimal bidang pekerjaan umum?

4.

Bagaimana menyusun prioritas pencapaian standar pelayanan minimal


bidang pekerjaan umum?

1.3

Batasan Masalah
Agar penelitian ini tidak meluas dan menyimpang dari permasalahan diatas, maka

batasan masalah dari penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
1.

Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum berdasarkan


Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2010 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.

2.

Harga satuan pekerjaan berdasarkan Peraturan Walikota Salatiga Nomor


38 Tahun 2010 tentang Standarisasi Indeks Biaya Dilingkungan Pemerintah Kota
Salatiga (Buku II).

3.

Perkiraan tebal perkerasan penanganan jalan berdasarkan Tata Cara


Penyusunan Program Pemeliharaan Jalan Kota No. 018/T/BNKT/1990.

1.4

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1.

Mengetahui tingkat pemenuhan standar pelayanan minimal bidang


pekerjaan umum di Kota Salatiga.

2.

Mengetahui besaran anggaran pemenuhan persyaratan standar minimal


bidang pekerjaan umum di Kota Salatiga.

3.

Mengetahui kemampuan anggaran Pemerintah Kota Salatiga dalam


pencapaian standar pelayanan minimal bidang pekerjaan umum.

4.

Menyusun prioritas anggaran pencapaian standar pelayanan minimal


bidang pekerjaan umum.

1.5

Manfaat Penelitian
Kajian studi ini diharapkan menjadi masukan bagi Pemerintah Kota Salatiga,

khususnya Dinas Pekerjaan Umum Kota Salatiga untuk mengambil langkah-langkah

penyusunan program untuk pencapaian standar pelayanan minimal bidang pekerjaan


umum.

BAB I
STUDI PUSTAKA
2.1

Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Salatiga


Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah, dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem


Perencanaan Pembangunan Nasional sebagai pedoman dalam penyusunan RPJM
Daerah yang merupakan penjabaran visi, misi, dan program Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah terpilih, yang penyusunanannya memperhatikan RPJM Nasional.
RPJM Daerah yang diamatkan tersebut memuat arah kebijakan keuangan daerah,
strategi

pembangunan daerah, kebijakan umum dan program Satuan Kerja Perangkat

Daerah (SKPD). Selanjutnya RPJM Daerah yang disusun, akan menjadi acuan untuk
menyusun Rencana Strategis (Renstra) dan Program Kerja Satuan Kerja Perangkat
Daerah dilingkungan Pemerintah Kota Salatiga yang dijabarkan selama 5 (lima) tahun.
2.2.1. Visi dan Misi Kota Salatiga
Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004, visi adalah rumusan umum
mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Visi adalah suatu
gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan oleh instansi
pemerintah. Visi pembangunan Kota Salatiga sebagaimana tertuang dalam RPJM
Daerah Kota Salatiga Tahun 2007 2012, adalah salatiga yang lebih maju dan asri,
dengan tata kelola pemerintahan yang baik.
Misi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang harus dicapai organisasi di masa
mendatang oleh semua pihak yang berkepentingan dalam organisasi untuk mewujudkan
visi. Misi pembangunan Kota Salatiga sebagaimana tertuang dalam RPJM Daerah Kota
Salatiga Tahun 2007 2012, adalah sebagai berikut:
1. Mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih maju dari berpagai aspek Politik,
Sosial Budaya , dan Ekonomi;
2. Mewujudkan prasarana dan sarana Kota yang lebih memadai;

3. Mewujudkan Kota yang bersih, indah dan hijau;


4. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat;
5. Mewujudkan ketertiban dan keamanan, dengan mengutamakan asas kepastian
hukum, keterbukaan, bertanggung jawab, responsip dan partisipatif.
2.2.2. Kebijakan Keuangan Daerah
Seiring dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah, kebijakan
anggaran daerah memainkan peranan yang sangat vital sebagai instrumen manajemen
bagi Pemerintah Daerah.
Berkaitan dengan hal-hal tersebut diatas, maka kebijakan Pengelolaan Keuangan
Daerah Kota Salatiga sesuai

RPJM Daerah Kota Salatiga Tahun 2007 2012

berorientasi kepada program-program :


1.

Peningkatan SDM pengelola Keuangan daerah;

2.

Penerapan teknologi informasi dalam pengelolaan Keunagan Daerah, dalam usaha


efisiensi, efektivitas, akuntable;

3.

Penerapan aturan dan prosedur sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

4.

Peningkatan integritas, moral dan profesionalisme pengelola keuangan;

5.

Peningkatan koordinasi secara vertikal dan horisontal serta menjalin hubungan


kerja yang baik guna mengatasi permasalahan

dan hambatan di bidang

pengelolaan keuangan daerah.


2.2.3. Strategi dan Prioritas Pembangunan
Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk
mewujudkan visi dan misi, sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Nomor 25
Tahun 2004. Strategi pembangunan yang akan digunakan untuk mewujudkan misi Kota
Salatiga sesuai RPJM Daerah Kota Salatiga Tahun 2007 2012 adalah sebagai berikut:
1. Strategi pemberdayaan
2. Strategi pemenuhan kebutuhan
3. Stratgei keserasian
4. Stratgei pemerataan pembangunan

5. Strategi demokratisasi
Adapun prioritas pembangunan daerah Kota Salatiga dalam RPJM Daerah
Kota Salatiga Tahun 2007 2012 adalah sebagai berikut :
1.

Peningkatan kualitas pelayanan publik, meliputi peningkatan sistem


pelyanan, srana prasarana, regulasi, partisipasi dan kelembagaan masyarakat, SDM,
dan kelembagaan aparatur;

2.

Peningkatan kapasitas pemerintahan daerah meliputi, peningkatan sistem


pelayanan, sarana prasarana, regulasi, partisipasi dan kelembagaan masyarakat,
SDM, kelembagaan aparatur dan pengawasan;

3.

Pembangunan politik, penegakan hukum, peningkatan keamanan dan


ketertiban masyarakat;

4.

Pembangunan kesejahteraan masyarakat, meliputi penanganan pengangguran


, kemiskinan, dan pelayanan dasar ( kesehatan, pendidikan, insfrastruktur);

5.

Pembangunan pemuda dan olah raga serta peningkatan peranan perempuan


dan perlindungan anak;

6.

Pembangunan ekonomi, melalui penguatan ekonomi masyarakat dan


peningkatan daya saing daerah, meliputi peningkatan ekspor non migas,
peningkatan investasi, revitalisasi pertanian, pariwisata, dan UKM/KM serta
didukung insfrastruktur yang memadai;

7.

Pembangunan sumberdaya alam dan lingkungan yang berkelanjutan,


meliputi pengendalian pencemaran ekosistem.

2.2.4. Kebijakan Umum

2.2

Rencana Strategis (Renstra) Dinas Pekerjaan Umum Kota Salatiga


Renstra-SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima)

tahunan,

disusun dengan berpedoman pada RPJM Daerah dan bersifat indikatif.

Renstra-SKPD memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan
pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD.

2.3

Standar Pelayanan Minimal


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 Pasal 1 angka 6, yang

dimaksud dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan tentang jenis dan
mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang diperoleh setiap warga
secara minimal.
Peraturan perundang-undangan yang menjadi acuan dalam pemnyusunan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) bidang pekerjaan umum untuk kabupaten/kota, sebagai
berikut:
1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 65 Tahun 2005 tentang Pedoman
Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal.
2. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 6 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis
Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal.
3. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 79 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan
Pencapaian Rencana Pencapaian Standar Pelayanan Minimal.
4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 tentang tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010 Pasal 5 ayat (2)
berkaitan dengan pelayanan Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, meliputi
jenis pelayanan berdasarkan indikator kinerja dan target tahun 2010 sampai dengan
tahun 2014:
1. Sumber Daya Air
Prioritas utama penyediaan air untuk kebutuhan masyarakat.
a. Tersedianya air baku untuk memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari.
b. Tersedianya air irigasi untuk pertanian rakyat pada sistem irigasi yang sudah
ada.
2. Jalan
a. Jaringan
1) Aksesibilitas
Tersedianya jalan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan dalam wilayah
kabupaten/kota.

2) Mobilitas
Tersedianya jalan yang memudahkan masyarakat perindividu melakukan
perjalanan.
3) Keselamatan
Tersedianya jalan yang menjamin pengguna jalan berkendara dengan
selamat.
b. Ruas
1) Kondisi Jalan
Tersedianya jalan yang menjamin kendaraan dapat berjalan dengan selamat
dan nyaman.
2) Kecepatan
Tersedianya jalan yang menjamin perjalanan dapat dilakukan sesuai dengan
kecepatan rencana.
3. Air Minum
Tersedinya akses air minum yang aman melalui system penyediaan Air Minum
dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi dengan
kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/hari.
4. Penyehatan Lingkungan Permukiman (Sanitasi Lingkungan dan Persampahan)
a. Air Limbah Permukiman
1) Tersedianya sistem air limbah setempat yang memadai.
2) Tersedianya sistem air limbah skala komunitas/kawasan/kota.
b. Pengelolaan Sampah
1) Tersedianya fasilitas pengurangan sampah di perkotaan.
2) Tersedianya sistem penanganan sampah di perkotaan.
c. Drainase
Tersedianya sistem jaringan drainase skala kawasan dan skala kota sehingga
tidak terjadi genangan (lebih dari 30 cm, selama 2 jam) dan tidak lebih dari 2
kali setahun.
5. Penanganan Permukiman Kumuh Perkotaan
Berkurangnya luasan permukiman kumuh di kawasan perkotaan.
6. Penataan Bangunan dan Lingkungan
a. Izin Mendirikan Bangunan (IMB)

10

Terlayaninya masyarakat dalam pengurusan IMB di kabupaten/kota.


b. Harga Standar Bangunan Gedung Negara (HSBGN)
Tersedianya

pedoman

Harga

Standar

Bangunan

Gedung

Negara

di

kabupaten/kota.
7. Jasa Konstruksi
a. Ijin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK)
Penerbitan IUJK dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja setelah persyaratan
lengkap.
b. Sistem Informasi Jasa Konstruksi
Tersedianya Sistem Informasi Jasa Konstruksi setiap tahun.
8. Penataan Ruang
a. Informasi Penataan Ruang
Tersedianya informasi mengenai Rencana Tata Ruang (RTR) wilayah
kabupaten/kota beserta rencana rincinya melalui peta analog dan peta digital.
b. Pelibatan Peran Masyarakat dalam Proses Penyusunan RTR
Terlaksananya penjaringan aspirasi masyarakat melalui forum konsultasi publik
yang memenuhi syarat inklusif dalam proses penyusunan RTR dan program
pemanfaatan ruang, yang dilakukan minimal 2 (dua) kali setiap disusunnya RTR
dan program pemanfaatan ruang.
c. Izin Pemanfaatan Ruang
Terlayaninya masyarakat dalam pengurusan izin pemanfaatan ruang sesuai
dengan Peraturan Daerah tentang RTR wilayah kabupaten/kota beserta rencana
rincinya.
d. Pelayanan Pengaduan Pelanggaran Tata Ruang
Terlaksanakannya tindakan awal terhadap pengaduan masyarakat tentang
pelanggaran di bidang penataan ruang dalam waktu 5 (lima) hari kerja.
e. Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik
Tersedianya luasan RTH publik sebesar 20% dari luas wilayah kota/kawasan
perkotaan.

Jaringan

Tersedianya air baku untuk memenuhi


kebutuhan pokok minimal sehari-hari

Prioritas utama penyediaan


air untuk kebutuhan
masyarakat

Tersedianya jalan yang menghubungkan


pusat-pusat kegiatan dalam wilayah
kabupaten/ kota
Tersedianya jalan yang memudahkan
masyarakat per individu melakukan
perjalanan
Tersedianya jalan yang menjamin pengguna
jalan berkendara dengan selamat

Aksesibilitas

Mobilitas

Keselamatan

Tersedianya air irigasi untuk pertanian rakyat


pada sistem irigasi yang sudah ada

INDIKATOR

STANDAR PELAYANAN MINIMAL

JENIS PELAYANAN
DASAR

60%

100%

100%

70%

100%

NILAI
4

KET

Dilaksanakan oleh pemerintah


daerah kabupaten/kota

Dilaksanakan oleh pemerintah


daerah kabupaten/kota

Dilaksanakan oleh pemerintah


daerah kabupaten/kota

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010

2014

2014

2014

2014

Berdasarkan atas target minimal


kebutuhan air bersih di tiap
2014
kabupaten/kota

BATAS WAKTU
PENCAPAIAN

Tabel 2.16 SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

11

2014

60%

100%

80%

70%

50%

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

Dilaksanakan oleh pemerintah


daerah kabupaten/kota

Dilaksanakan oleh pemerintah


daerah kabupaten/kota

KET

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010

2014

2014

60%

40%

NILAI

BATAS WAKTU
PENCAPAIAN

2.

1.

NO

JALAN

SUMBER DAYA
AIR

12

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

Dinas yang membidangi


Pekerjaan Umum

KET

3.

NO

AIR MINUM

dilakukan sesuai dengan kecepatan rencana

Kecepatan Tersedianya jalan yang menjamin perjalanan dapat

berjalan dengan selamat

Kondisi jalan Tersedianya jalan yang menjamin kendaraan dapat

INDIKATOR

STANDAR PELAYANAN MINIMAL

Sangat baik

Baik

Sedang

Cluster Pelayanan Tersedianya akses air minum yang aman melalui Sistem
Penyediaan Air Minum dengan jaringan perpipaan dan
Sangat buruk bukan jaringan perpipaan terlindungi dengan kebutuhan
pokok minimal 60 ltr/org/hr
Buruk

Ruas

JENIS PELAYANAN DASAR

Tabel 2.16 SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (lanjutan)

13

4.

NO

INDIKATOR
2

50%

2014

2014

2014

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010

Tersedianya system jaringan


drainase skala kawasan dan skala
kota sehingga tidak terjadi
genangan (lebih dari 30 cm,
selama 2 jam) dan tidka lebih dari
2 kali setahun

70%

Tersedinya system penanganan


sampah di perkotaan
Drainase

20%

Pengelolaan Sampah Tersedianya fasilitas pengurangan


sampah di perkotaan

2014

5%

4
2014

BATAS WAKTU
PENCAPAIAN

60%

NILAI

STANDAR PELAYANAN MINIMAL

PENYEHATAN
Air Limbah Permukiman Tersedianya system air limbah
LINGKUNGAN
setempat yang memadai
PERMUKIMAN
(SANITASI
LINGKUNGAN
Teredianya system air lmbah
DAN
skala komunitas/kawasan/kota
PERSAMPAHAN)

JENIS PELAYANAN DASAR

Tabel 2.16 SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (lanjutan)

14

15

Target pencapaian SPM


adalah sebesar 70% pada
Tahun 2014

Target pencapaian SPM


adalah sebesar 100% pada
Tahun 2014

TINGKAT PELAYANAN

KUANTITAS

KET

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010

SPM keandalan
ketersediaan air
irigasi =
Ketersediaan air
irigasi (lt/dtk) pada
setiap musim
tanam/Kebutuhan air
irigasi (lt/dtk)
berdasarkan rencana
tata tanan

SPM keandalan
ketersediaan air baku
= Ketersediaan air
baku (m3/thn) dari
instalasi pengolahan
air/Kebutuhan air
baku (m3/thn)
berdasarkan target
MDGs

SUMBER DAYA AIR

Indeks Kinerja Sistem Irigasi


Jelek: < 55Kurang: 55 69 Baik: 70 79Sangat baik: 80 100

KUALITAS

STANDAR PELAYANAN MINIMAL

Tabel 2.16 SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

16

SPM Mobilitas =
Angka mobilitas
yang ditargetkan
pada akhir waktu
pencapaian
SPM/Angka
Mobilitas yang
ditentukan

2.

1.

I.

JALAN
SPM Aksesibilitas =
Panjang jalan
penghubung Pusat
Kegiatan/Panjang
jalan penghubung
Pusat Kegiatan

NO

KET

INDIKATOR

Kebutuhan
minimal setiap
orang akan air
bersih 60 ltr/hari
atau 0,06 m3/hari

CAKUPAN

pertanian rakyat
pada sistem
irigasi yang
sudah ada

IRIGASI Tersedianya air Seluruh jaringan


irigasi
irigasi untuk

baku untuk
memenuhi
kebutuhan
pokok minimal
sehari-hari

AIR BAKU Tersedianya air

BIDANG
PELAYANAN

17

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010

(km/1.000 jiwa)Angka Mobilitas

2,003,005,00 11,0018,50

PELAYANAN JARINGAN JALAN

KUALITAS

STANDAR PELAYANAN MINIMAL

Tabel 2.16 SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

18

(jiwa/km2)Kerapatan Penduduk

Target
pencapaian SPM adalah sebesar 100% pada Tahun 2014
5.0001.000 < KP 5.000500 < KP < 1.000 100 < KP < 500< 100

Target pencapaian SPM adalah sebesar 100% pada Tahun 2014

TINGKAT PELAYANAN

KUANTITAS

19

SPM Mobilitas =
Angka mobilitas
yang ditargetkan
pada akhir waktu
pencapaian
SPM/Angka
Mobilitas yang
ditentukan

SPM Aksesibilitas =
Panjang jalan
penghubung Pusat
Kegiatan/Panjang
jalan penghubung
Pusat Kegiatan

II.

JALAN

B.

A.

1.

NO

KET

INDIKATOR

Aspek Mobilitas

Seluruh jaringan
jalan

CAKUPAN

Tersedianya Seluruh jaringan


irigasi
jalan yang
memudahkan
masyarakat per
individu
melakukan
perjalanan

menghubungkan
pusat-pusat
kegiatan dalam
wilayah
kabupaten/ kota

Aspek
Tersedianya
Aksesibilitas jalan yang

BIDANG
PELAYANAN

20

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2010

(km/1.000 jiwa)Angka Mobilitas

2,003,005,00 11,0018,50

PELAYANAN JARINGAN JALAN

KUALITAS

STANDAR PELAYANAN MINIMAL

Tabel 2.16 SPM Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang

21

(jiwa/km2)Kerapatan Penduduk

Target
pencapaian SPM adalah sebesar 100% pada Tahun 2014
5.0001.000 < KP 5.000500 < KP < 1.000 100 < KP < 500< 100

Target pencapaian SPM adalah sebesar 100% pada Tahun 2014

TINGKAT PELAYANAN

KUANTITAS

22

1.

B.

A.

II.

NO

INDIKATOR

Aspek Mobilitas

Seluruh jaringan
jalan

CAKUPAN

Tersedianya Seluruh jaringan


irigasi
jalan yang
memudahkan
masyarakat per
individu
melakukan
perjalanan

menghubungkan
pusat-pusat
kegiatan dalam
wilayah
kabupaten/ kota

Aspek
Tersedianya
Aksesibilitas jalan yang

BIDANG
PELAYANAN

23

24

2.4

Pemograman dan Penganggaran


Konsep dasar yang dikembangkan Pemerintah dalam pemograman dan

penganggaran dengan konsep Anggaran Berbasis Kinerja (ABK). Konsep ABK


merupakan amanat Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 Pasal
19 ayat (2), bahwa rencana kerja satuan kerja perangkat daerah disusun dengan
pendekatan berdasarkan prestasi kerja yang akan dicapai, dan Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 167 ayat (1) dan ayat (2), bahwa belanja daerah
diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat
dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan
pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas sosial
dan fasilitas umum yang layak, serta mengembangkan sistem jaminan sosial.
Konsep Anggaran Berbasis Kinerja (ABK) adalah Suatu perencanaan anggaran
yang berorientasi pada prestasi kinerja yang ditetapkan berdasarkan Standar Pelayanan
Minimal, sebagaimana Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005
Pasal 39 ayat (2), bahwa penyusunan angaran berdasarkan prestasi kerja dilakukan
berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar harga
satuan, dan standar pelayanan minimal. Konsep ABK merupakan antisipasi Pemerintah

25

terhadap keterbatasan anggaran baik dalam penyusunan APBN maupun APBD Provinsi
dan APBD Kabupaten/Kota.
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 Pasal
150 ayat (3), bahwa perencanaan pembangunan daerah disusun secara berjangka
meliputi:
1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJP Daerah) untuk jangka waktu
20 tahun,
2. Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah (RPJM Daerah) untuk jangka
waktu 5 tahun,
3. Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) untuk jangka waktu 1 tahun.
Perencanaan pembangunan daerah yang telah disusun tersebut, dijabarkan lebih
lanjut oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan menyusun Rencana Strategis Satuan
Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) sebagaimana Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 32 tahun 2004 Pasal 151 ayat (1). Renstra SKPD dirumuskan dalam
bentuk rencana kerja satuan kerja perangkat daerah yang memuat kebijakan, program,
dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah
maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Alur perencanaan
program dan penganggaran dapat dilihat dalam Gambar 2.3.

26

Gambar 2.3 Alur perencanaan program dan penganggaran


Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai
dari dan atas beban anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). APBD
merupakan wujud pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan setiap tahun anggaran
dengan Peraturan Daerah. Tahun anggaran meliputi masa satu tahun, mulai dari tanggal
1 Januari sampai dengan 31 Desember. Struktur APBD sesuai Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara Pasal 16 ayat (2),
terdiri atas anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan pembiayaan.
Tabel 2.18 memperlihatkan sumber pendapatan daerah. Sebagaimana Undangundang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 157, disebutkan
bahwa sumber pendapatan daerah terdiri atas pendapatan asli daerah (PAD), dana
perimbangan, dan lain-lain pendapatan daerah yang sah.

PENDAPATAN

PAD
Dana perimbangan
Lain-lain pendapatan yang syah

BELANJA

Belanja langsung
Belanja tak langsung

PEMBIAYAAN

Penerimaan pembiayaan
Pengeluaran pembiayaan

Gambar 2.4 Struktur APBD


Pendapatan asli daerah (PAD) dapat berupa hasil pajak daerah, hasil retribusi
daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang
sah. Yang dimaksud dengan hasil pengelolaan daerah yang dipisahkan antara lain bagian
laba dari BUMD, hasil kerjasama dengan pihak ketiga. Sedangkan yang dimaksud
dengan lain-lain PAD yang sah antara lain penerimaan daerah di luar pajak dan retribusi
daerah seperti jasa giro, hasil penjualan aset daerah.
Tabel 2.18 Sumber pendapatan daerah kabupaten/kota
Sumber Pendapatan Daerah
Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Macam
Hasil pajak daerah
Hasil retribusi daerah
Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan

27

Dana Perimbangan
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

Lain-lain PAD yang sah


Dana Bagi Hasil
Dana Alokasi Umum (DAU)
Dana Alokasi Khusus (DAK)
Hibah
Dana darurat
Lain-lain pendapatan yang ditetapkan Pemerintah

Sumber: Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004

Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan
kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi.
Dalam Pasal 159 Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, dana perimbangan terdiri atas
dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus. Lain-lain pendapatan
daerah yang sah dapat berupa hibah atau dana darurat dari pemerintah.